Anda di halaman 1dari 9

1. Keuntungan kerugian dan efek samping akupuntur a.

Alami karena tidak menggunakan bahan kimia yg dapat merusak tubuh b. Membantu system kekebalan tubuh c. Minim efek samping d. Membantu penyembuhan suatu penyakit e. Harganya relative lebih murah jika dibandingkan dengan pengobatan modern lain f. Cukup Efektif Indikasi utama akupunktur adalah meliputi semua bidang, yaitu penyakit infeksi, penyakit fisik, khemis, biologis, nutrisi, dan alergi, neuropsikopati, bedah, genekologi, penyakit anakanak, osteoarthropati, penyakit kulit, THT, penyakit mata, penyakit mulut, dan anastesi. Menurut WHO (1979), penyakit yang dapat diobati dengan akupunktur dan mennunjukkan hasil yang baik, dapat dilihat dalam daftar di bawah ini, pengamatan ini adalah berdasarkan pengalaman klinik. a. Saluran pernafasan atas Sinusitis akut Rhinitis akut Flu Tonsilitas akut b. Sistem respirasi Bronchitis akut Asma bronchiale (paling efektif pada anak-anak dan penderita tanpa komplikasi) c. Gangguan pada mata Konjunktivis akut Retinitis sentralis Miopia (pada anak) Katarak (tanpa komplikasi) d. gangguan pada mulut Sakit gigi, nyeri post ekstraksi gigi Ginggivitis Pharingitis akut dan kronis e. Gangguan gastrointestinal Spasme oesophagus dan cardia Cegukan Gastroptosis Gastritis akut dan kronis Kelebihan asam lambung Ulcus duodeni khronik (meredakan nyeri) Ulcus duodeni akut (tanpa komplikasi) Kolitis akut dan kronik Disentri basiler akut Konstipasi Diare Ileus paralitikus f. Ganggun neurologik dan muskuloskeletal Sakit Kepala dan migrain

Neuralgia trigeminus Facial palsy (stadium awal, dalam 3 sampai 6 bulan) Perese karena stroke Neuropati perifer Sequele dari poliomielitis (stadium awal, dalam jangka 6 bulan) Penyakit minere Disfungsi kandung kencing neurogenik Enuresis nokturnal Neuralgia intercostal Sindroma cervicobranchial Frouzen shouder, tennis elbow Sciatica Nyeri pinggang bawah Osteoarthritis 2. Ekonomis Untuk melakukan pengobatan dengan akupunktur, tidak dibutuhkan peralatan rumit dan mahal. 3. Tidak Menimbulkan Efek Samping Pengobatan dengan akupunktur tidak menimbulkan efek sampingan, yang pada pengobatan menggunakan obat-obatan sering dijumpai efek sampingan. Pengobatan dengan akupunktur didapatkan manfaat pengaturan fungsi tubuh secara keseluruhan, sedangkan pengobatan dengan obat-obatan ditujukan hanya pada proses penyakit atau gejalanya. Akupunktur dapat mempengaruhi banyak reseptor dan bekerja pada meridian dan kolateral, dengan demikian akupunktur dapat mengobati berbagai macam penyakit. Kerugian: a. Jika tidak ditangani oleh akunpuntur yg benar, maka bias jadi salah tusuk. Bias saja sampai mengenai organ dalam b. Resiko terkena penyakit infeksi atau tertular penyakit apabila jarum yg digunakan secara bersamaan lebih dari 1 orang Efek samping akupuntur: a. hematom (bengkak ringan) terjadi hanya dibawah 5% b. nyeri di tempat penusukan (tergantung dari sensitifitas seseorang). c. pneumotorak, rasa baal, jarum patah atau bengkok, syok kontraindikasi akupunktur adalah keadaan fisik yang terlalu lemah, tumor, infeksi sistemik, luka di tempat penusukan. 2. Izin mendirikan tempat akupunktur 1. Dasar Hukum: Keputusan Menteri Kesehatan RI NO: 1076/MENKES/SK/VII/2003 2. Sasaran: Perorangan. 3. Persyaratan:
o

Biodata pengobat tradisional sebagaimana contoh Formulir B.

o o o o o o o

Fotokopi KTP Surat Keterangan kepala desa/lurah tempat melakukan pekerjaan sebagai pengobat tradisioanal. Rekomendasi dari asosiasi/organisasi profesi dibidang pengobatan tradisional yang bersangkutan. Fotokopi sertifikat/ijazah pengobatan tradisional yang dimiliki. Surat pengantar Puskesmas setempat. Pas foto ukuran 4x6 2 lembar. Rekomendasi kejaksaan kabupaten/kota bagi pengobat tradisional klasifikasi supra natural dan Kantor Departemen Agama/kota bagi pengobat tradisional klasifikasi pendekatan agama.

4. Prosedur:
o o

Setiap pengobat tradisional mengikuti pendekatan, pelatihan atau kursus untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan keilmuan. Pelatihan atau kursus pengobatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan, Puskesmas, organisasi profesi di bidang kesehatan, asosasi/organisasi profesi di bidang pengobatan tradisional, dan/atau instansi yang berwenang. Sentra P3K dan atau instansi dan atau instansi yang berwenang berperan mengembangkan modal/bentuk intervensi, pendidikan dan pelatihan sebelum diterapkan secara luas di masyarakat. Tarif berdasarkan Perda Kabupaten Lampung Tengah.

5. Masa Berlaku Izin: 5 tahun. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Permohonan Kepada Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Tasikmalaya; Biodata Pengobat Tradisional; Fotocopy KTP (Kartu Tanda Penduduk); Pas Foto Berwarna Terbaru Ukuran 4x6 Sebanyak 2 (dua) Lembar Dan 3x4 cm Sebanyak 2 (Dua) Lembar; Daftar Obat, Alat, Jenis Pelayanan dan Pola Tarif; Surat Keterangan Lingkungan&RT&RW&/Lurah/Camat setempat; Surat Rekomendasi Asosiasi/Organisasi Profesi Di Wilayah Tempat Praktek; Fotocopy Ijazah Pengobatan Tradisional Yang Dimiliki; Surat Pengantar Dari Kepala Puskesmas Setempat; Surat Rekomendasi Kejaksaan Kab/Kota bagi Pengobat Tradisional Klasifikasi Supranatural.dan Kantor Departemen Agama Bagi Pengobat Klasifikasi Pendekatan Agama; Selain Persyaratan di atas ditambah Peta Lokasi Usaha dan Denah Ruangan;

4. Pemeriksaan neurologis 2.1 Fungsi Cerebral Keadaan umum, tingkat kesadaran yang umumnya dikembangkan dengan Glasgow Coma Scala (GCS).GCS digunakan untuk menentukan tingkat perkembangan kesadaranuntuk memperhatikan respon penderita terhadap rangsangan dan memberikan nilai pada respon tersebut. Cara menghitung GCS adalah : Refleks membuka mata (E) 4 : Membuka secara spontan 3 : Membuka dengan rangsangan suara

2 : Membuka dengan rangsangan nyeri 1 : Tidak ada respon Refleks verbal (V) 5 : Orientasi baik 4 : Kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan. 3 : Kata-kata baik tapi kalimat tidak baik 2 : Kata-kata tidak dapat dimengerti, hanya mengerang 1 : Tidak keluar suara Refleks motorik (M) 6 : Melakukan perintah dengan benar 5 : Mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukaan perintah dengan benar 4 : Dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi 3 : Hanya dapat melakukan fleksi 2 : Hanya dapat melakukan ekstensi 1 : Tidak ada gerakan Derajat kesadaran adalah : Sadar : Dapat berorientasi dan berkomunikasi Somnolens : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara motorik / verbal kemudian terlenan lagi. Gelisah atau tenang. Stupor : gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal denganmenggunakan kepala. Semi koma : tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar (contoh mnghindri tusukan) Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus Kualitas kesadaran : Compos mentis : bereaksi secara adekuat Abstensia drowsy/kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak begitu waspada. Perhatian terhadap sekeliling berkurang. Cenderung mengantuk. Bingung/confused:disorientasi terhadap tempat, orang dan waktu Delerium :mental dan motorik kacau, ada halusinasi dn bergerak sesuai dengan kekacauan fikirannya. Apatis : tidak tidur, acuh tak acuh, tidak bicara dan pandangan hampa Gangguan fungsi cerebral meliputi : Gangguan komunikasi, gangguan intelektual, gangguan perilaku dan gangguan emosi Pengkajian status mental / kesadaran meliputi :GCS, orientasi (orang, tempat dan waktu), memori, interpretasi dan komunikasi. 2.2 Fungsi Nervus Cranialis Cara pemeriksaan nervus cranialis : a. N.I : Olfaktorius (daya penciuman) :Pasiem memejamkan mata, disuruh membedakaan bau yang dirasakaan (kopi,tembakau, alkohol,dll). b. N.II : Optikus (Tajam penglihatan):Dengan snelen card, funduscope, dan periksa lapang pandang. c. N.III : Okulomorius (gerakam kelopak mata ke atas, kontriksi pupil, gerakan otot mata) :Tes putaran bola mata, menggerkan konjungtiva, palpebra, refleks pupil dan inspeksi kelopak mata. d. N.IV : Trochlearis (gerakan mata ke bawah dan ke dalam):sama seperti N.III. e. N.V : Trigeminal (gerakan mengunyah, sensasi wajah, lidah dan gigi, refleks kornea dan refleks kedip): menggerakan rahang ke semua sisi, psien memejamkan mata, sentuh dengan kapas pada dahi dan pipi. Reaksi nyeri dilakukan dengan benda tumpul. Reaksi suhu

dilakukan dengan air panas dan dingin, menyentuh permukaan kornea dengan kapas. f. N.VI : Abducend (deviasi mata ke lateral) : sama sperti N.III. g. N.VII : Facialis (gerakan otot wajah, sensasi rasa 2/3 anterior lidah ): senyum, bersiul, mengerutkan dahi, mengangkat alis mata, menutup kelopak mata dengan tahanan. Menjulurkan lidah untuk membedakan gula dengan garam. h. N.VIII : Vestibulocochlearis (pendengaran dan keseimbangan ) :test Webber dan Rinne. i. N.IX : Glosofaringeus (sensasi rsa 1/3 posterio lidah ):membedakan rasaa mani dan asam (gula dan garam) j. N.X : Vagus (refleks muntah dan menelan) :menyentuh pharing posterior, pasien menelan ludah/air, disuruh mengucap ah! k. N.XI : Accesorius (gerakan otot trapezius dan sternocleidomastoideus): palpasi dan catat kekuatan otot trapezius, suruh pasien mengangkat bahu dan lakukan tahanan sambil pasien melawan tahanan tersebut. Palpasi dan catat kekuatan otot sternocleidomastoideus, suruh pasien meutar kepala dan lakukan tahanan dan suruh pasien melawan tahan. l. N.XII : Hipoglosus (gerakan lidah) : pasien suruh menjulurkan lidah dan menggrakan dari sisi ke sisi. Suruh pasien menekan pipi bagian dalam lalu tekan dari luar, dan perintahkan pasien melawan tekanan tadi. 2.3 Fungsi Motorik a. Otot Ukuran : atropi / hipertropi. Tonus : kekejangan, kekakuan, kelemahan. Kekuatan : fleksi, ekstensi, melawan gerakan, gerakan sendi. Derajat kekuatan motorik : 5 : Kekuatan penuh untuk dapat melakukan aktifitas 4 : Ada gerakan tapi tidak penuh 3 : Ada kekuatan bergerak untuk melawan gravitas bumi 2 : Ada kemampuan bergerak tapi tidak dapat melawan gravitasi bumi. 1 : Hanya ada kontraksi 0 : Tidak ada kontraksi sama sekali b. Gait (keseimbangan) : dengan Rombergs test 2.4 Fungsi Sensorik Test : Nyeri, Suhu,Raba halus, Gerak,Getar, Sikap,Tekan, Refered pain. 2.5 Reflek a. Refleks superficial Refleks dinding perut : Cara : goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal dari lateral ke medial Respon : kontraksi dinding perut Refleks cremaster Cara : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah Respon : elevasi testes ipsilateral Refleks gluteal Cara : goresan atau tusukan pada daerah gluteal Respon : gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral b. Refleks tendon / periosteum Refleks Biceps (BPR): Cara : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah diketuk pada sendi siku.

Respon : fleksi lengan pada sendi siku Refleks Triceps (TPR) Cara : ketukan pada tendon otot triceps, posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku Refleks Periosto radialis Cara : ketukan pada periosteum ujung distal os radial, posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi Respon : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi krena kontraksi m.brachiradialis Refleks Periostoulnaris Cara : ketukan pada periosteum prosesus styloid ilna, posisi lengan setengah fleksi dan antara pronasi supinasi. Respon : pronasi tangan akibat kontraksi m.pronator quadratus Refleks Patela (KPR) Cara : ketukan pada tendon patella Respon : plantar fleksi kaki karena kontraksi m.quadrisep femoris Refleks Achilles (APR) Cara : ketukan pada tendon achilles Respon : plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius Refleks Klonus lutut Cara : pegang dan dorong os patella ke arah distal Respon : kontraksi reflektorik m.quadrisep femoris selama stimulus berlangsung Refleks Klonus kaki Cara : dorsofleksikan kki secara maksimal, posisi tungkai fleksi di sendi lutut. Respon : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsun c. Refleks patologis Babinsky Cara : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior Respon : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan jari kaki lainnya Chadock Cara : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari posterior ke anterior Respon : seperti babinsky Oppenheim Cara : pengurutan krista anterior tibia dari proksiml ke distal Respon : seperti babinsky Gordon Cara : penekanan betis secara keras Respon : seperti babinsky Schaefer Cara : memencet tendon achilles secara keras Respon : seperti babinsky Gonda Cara : penekukan (plantar fleksi) maksimal jari kaki ke-4 Respon : seperti babinsky Stransky Cara : penekukan (lateral) jari kaki ke-5 Respon : seperti babinsky Rossolimo Cara : pengetukan pada telapak kaki

Respon : fleksi jari-jari kaki pada sendi interfalangeal Mendel-Beckhterew Cara : pengetukan dorsum pedis pada daerah os coboideum Respon : seperti rossolimo Hoffman Cara : goresan pada kuku jari tengah pasien Respon : ibu jari, telunjuk dan jari lainnya fleksi Trommer Cara : colekan pada ujung jari tengah pasien Respon : seperti hoffman Leri Cara : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan, sikap lengen diluruskan dengan bgian ventral menghadap ke atas Respon : tidak terjadi fleksi di sendi siku Mayer Cara : fleksi maksimal jari tengah pasien ke arah telapk tangan Respon : tidak terjadi oposisi ibu jari d. Refleks primitif Sucking refleks Cara : sentuhan pada bibir Respon : gerakan bibir, lidah dn rahang bawah seolah-olah menyusu Snout refleks Cara : ketukan pada bibir atas Respon : kontrksi otot-otot disekitar bibir / di bawah hidung Grasps refleks Cara : penekanan / penekanan jari pemeriksa pada telapak tangan pasien Respon : tangan pasien mengepal Palmo-mental refleks Cara : goresan ujung pena terhadap kulit telapak tangan bagian thenar Respon : kontaksi otot mentalis dan orbikularis oris (ipsi lateral) Selain pemeriksaan tersebut di atas juga ada beberapa pemeriksaan lain seperti : Pemeriksaan fungsi luhur: 1. Apraxia : hilangnya kemampuan untuk melakukan gerakan volunter atas perintah 2. Alexia : ketidakmampuan mengenal bahasa tertulis 3. Agraphia : ketidakmampuan untuk menulis kata-kata 4. Fingeragnosia: kesukaran dalam mengenal, menyebut, memilih dan membedakan jari-jari, baik punya sendiri maupun orang lain terutama jari tengah. 5. Disorientasi kiri-kanan: ketidakmampuan mengenal sisi tubuh baik tubuh sendiri maupun orang lain. 6. Acalculia : kesukaran dalam melakukan penghitungan aritmatika sederhana. MEKANISME AKUPUNKTUR Efek Neurofisiologik Studi neurofisiologi membuktikan bahwa penusukan jarum akupunktur memberikan satu atau beberapa yang disebut poli signal sebagai stimulus yang berefek terhadap percepatan proses perbaikan metabolisme sel yang dikatakan sebagai proses penyembuhan. Proses penyembuhan ini diakibatkan oleh sekresi biokimiawi atau neurotransmiter akibat penusukan akupunktur melalui stimulasi sistem jaringan saraf. Sekresi biokimiawi dan neurotransmiter ini merupakan stimulan atau inhibisi terhadap gangguan metabolisme sel atau neuron melalui

perubahan dari K+, Na+, dan Ca+ di neuron5. Dari berbagai penelitian ditemukan bahwa stimulasi terhadap sistem saraf akan melibatkan lebih dari 30 jenis neuropeptida yang berperan dalam sistem penghubung signal melalui sistem hormonal yang berarti akan melibatkan seluruh komponen organ tubuh6. Stimulus nyeri mengakibatkan sekresi 5-HT dari nukleus rafe dorsalis magnus dan berakhir di kornu dorsalis di medulla spinalis. Selain itu juga terjadi sekresi enkefalin oleh neuron di medula spinalis mengakibatkan inhibisi glutamat di sinspsis sehingga menginhibisi penyampaian stimulus oleh jaringan saraf tipe C dan A delta ke otak7. Efek Terhadap Sistem Imun Penusukan jaringan didefinisikan sebagai stres biologis yang berefek terhadap neurotransmiter tertentu. Spesifik pada titik akupuktur mempunyai efek tertentu. Dipastikan bahwa efek akupunktur dalam fungsi sistem imun berkaitan dengan efek -endorfin, metionin enkefalin, dan leukin enkefalin terhadap sistem ini. Sejauh ini sudah dibuktikan bahwa leukosit mengandung proopiomelanokortin mRNA. Dengan demikian leukosit sebenarnya dapat mensintesa ACTH, -endorfin dari komposisi promolekul dari ACTH. Reseptor opioid endogen juga ditemukan di limfosit B, limfosit T, dan natural killer, granulosit, monosit, platelets, dan kompleman8. Efek terhadap sistem pencernaan dan metabolisme Dari berbagai penelitian membuktikan bahwa peran akupunktur terhadap masalah gangguan pencernaan pengaturan sistem saraf otonom dalam hal menginhibisi sekresi asam lambung begitu juga sekresi opioid. Dari penelitian pada hewan percobaan ditemukan bahwa penusukan akupunktur juga berefek pada aktivitas lifolitik endorfin yang kemudian ternyata dengan efek sama pada manusia9,10. Peningkatan -endorfin di plasma diakibatkan oleh peningkatan insulin pada diabetic mice11. APLIKASI KLINIK Penyakit dengan keluhan nyeri. Statistik di klinik nyeri di USA mencatat bahwa sekitar satu juta orang penderita nyeri diterapi dengan akupunktur per tahun12. Beberapa peneliti juga menemukan bahwa penggunaan terapi akupunktur sangat efektif untuk penanggulangan nyeri kepala akibat stres (nyeri kepala tegang) dan penderita migren13,14,15. Selain itu juga efektif dalam terapi sindroma nyeri yang lain seperti dismenorrhea, osteoartritis, fibromiositis, trigeminal neuralgia, dan nyeri post-operatif16, 17, 18. Efek terhadap gangguan psikologik. Seperti disebutkan bahwa terapi akupunktur akan meningkatkan sekresi 5-HT dan enkefalin di susunan saraf pusat dan plasma darah. Hal inilah yang berperan terhadap terapi gangguan mood.dan ansietas dan depresi19. Efek terhadap obesitas. Efek terapi akupunktur terhadap obesitas adalah melalui cara kerja menekan pusat lapar di hipotalamus oleh neurotransmiter yang tersekresi akibat penusukan jarun akupunktur, Selain itu juga tentu berperan dalam aktivitas metabolisme sel melalui aksis hypothalamic pituitary adrenal (HPA) dan n. vagus20,21. 1. Efek lokal. Penusukan jarum akan menimbulkan perlukaan mikro pada jaringan. Hal ini menyebabkan pelepasan hormon jaringan (mediator) dan menimbulkan reaksi rantai biokimiawi. Efek yang terjadi secara lokal meliputi dilatasi kapiler, peningkatan permeabilitas kapiler, perubahan

lingkungan interstisial, stimulasi nosiseptor, aktivasi respons imun nonspesifik, dan penarikan leukosit dan sel Langerhans. Reaksi lokal ini dapat dilihat sebagai kemerahan pada daerah penusukan. 2. Efek segmental / regional. Tindakan akupunktur akan merangsang serabut saraf A dan rangsangan itu akan diteruskan ke segmen medula spinalis bersangkutan dan ke sel saraf lainnya, dengan demikian mempengaruhi segmen medula spinalis yang berdekatan. 3. Efek sentral. Rangsang yang sampai pada medula spinalis diteruskan pula ke susunan saraf pusat melalui jalur batang otak, substansia grisea, hipotalamus, talamus dan cerebrum. Dengan demikian maka penusukan akupunktur yang merupakan tindakan invasif mikro akan dapat menghilangkan gejala nyeri yang ada, mengaktivasi mekanisme pertahanan tubuh, sehingga memulihkan homeostasis. Dasar Hukum dan Peraturan Akupunktur Indonesia Pendekatan dasar dalam pembinaan pengobatan tradisional mengacu pada Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1992 Pasal 47, yaitu pada hakikatnya menuju upaya mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan pengobatan tradisional sebagai komplementer dan alternatif yang dapat dipertanggung jawabkan (Saputra, 2007). Dasar hukum dan perundangan Indonesia yang terkait dengan akupunktur adalah sebagai berikut : Surat Keputusan Mentri Kesehatan RI. 037/BIRHUB/1973 tentang Wajib Daftar Akupunktur Surat Keputusan Mentri Kesehatan RI. 0854/PERMENKES/VIII/1994 tentang sentra Pengembangan dan Penerapan Pongobatan Tradisional Peraturan Menteri Kesehatan yang dituangkan dalam Permenkes No.1186/MENKES/PER/XI/1996 tentang Pemanfaatan Akupunktur di Sarana Pelayanan Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1277/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Tenaga Akupunktur. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1192/MENKES/PER/X/2004 tentang Pendirian Diploma Bidang Kesehatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.