Anda di halaman 1dari 8

FLORA NORMAL DI ORAL CAVITY Flora normal adalah kumpulan mikroorganisme yang secara alami terdapat pada tubuh

manusia normal dan sehat. Flora normal tubuh manusia berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu : Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous) dan Mikroorganisme sementara (transient flora). PENYEBARAN DAN TERJADINYA MIKROBIOTA DI ORAL CAVITY Kelembapan yang tinggi, adalanya makanan terlarut secara konstan dan juga partikel-partikel kecil makanan membuat mulut merupakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Mikrobiota mulut atau ronnga mulut sangat beragam : anyak bergantung pada kesehatan pribadi masing-masing individu. Diperolehnya mikrobiota mulut. Pada waktu lahir, rongga mulut pada hakikatnya merupakan suatu indikator yang steril, hangat, dan lembab yang mengandung berbagai substansi nutrisi. Air liur terdiri dari air, asam amino, protein, lipid, karbohidrat, dan senyawa-senyawa anorganik. Jadi, air liur merupakan medium yang kaya serta kompleks yang dapat dipergunakan sebagai sumber nutrien bagi mikrobe pada berbagai situs di dalam mulut. (Air liur itu sendiri pada umumnya mengandung jasad-jasad renik transien, artinya hanya singgah sebentar yang datang dari situssitus lain dari ronnga mulut, terutama dari permukaan lidah bagian atas). Beberapa jam sesudah lahir, terdapat peningkatan jumlah mikroorganisme

sedemikian sehingga di dalam waktu beberapa hari spesies bakteri yang khas bagi rongga mulut menjadi menetap. Jasad-jasad renik ini tergolong ke dalam genus Sterptococcus, Neisseria, Veillonella, Actinomyces dan Lactobacillus. Jumlah dan macam spesies ada hubungannya dengan nutrisi bayi serta hubungan antara bayi tersebut dengan ibunya, pengasuhnya, dan benda-benda seperti handuk serta botol-botol susunya. Spesies satu-satunya yang selalu diperoleh dari ronnga mulut, bahkan sedini hari kedua setelah lahir ialah Streptococcus salivarius. Bakteri ini mempunyai afinitas terhadap jaringan epiteal dan karena itu terdapat dalam jumlah besar pada permukaan lidah.

Sampai munculnya gigi, kebanyakan mikroorganisme di dalam mulut adalah aerob atau anaerob fakultatif. Ketika gigi yang pertama muncul. Anaerob oligat seperti Bacteroides dan bakteri fusiform (Fusobacterium sp.) menjadi lebih jelas karena jaringan di sekitar gigi menyediakan lingkungan anaerobik. Gigi itu sendiri merupakan tempat bagi menempelya mikrobe. Ada dua jenis spesies bakteri yang dijumpai berasosiasi dengan permukaan gigi : Streptococcus sanguis dan Streptococcus mutans. Yang disebutkan terakhir ini diduga merupakan unsur etiologis (penyebab) utama kerusakan gigi, atau pembusuk gigi. Tertahannya kedua spesies ini pada permukaan gigi merupakan akibat sifat adhesif baik dari glikoprotein liur maupun polisakaride bakteri. Sifat menempel ini sangat penting bagi kolonisasi bakteri di dalam mulut. Glikoprotein liur dapat menyatukan bakteri-bakteri tertentu dan mengikatkan mereka pada permukaan gigi. Baik S. sanguis maupun S. mutans menghasilkan polisakaride ekstra seluler yang disebut dekstran yang bekerja sebagai perkat, pengikat sel-sel bakteri menjadi satu dan juga melekatkan mereka pada permukaan gigi. Tertahannya bakteri dapat terjadi pula karena tertangkapnya secara mekanus di dalam celahcelah gusi, atau di dalam lubang dan retakan gigi. Agregasi bakteri semacam itu serta bahan organik pada permukaan gigi disebut plak (plague). Air liur terus-menerus dihasilkan dan ditelan dan oleh sebab itu bekerja sebagai pembersih. Bakteri-bakteri seperti Streptococcus mutans dan Streptococcus sanguine yang pada keadaan normal memang berada di dalam rongga mulut ternyata juga dapat menimbulkan persoalan. Ketika gerombolan bakteri itu bertemu dengan sisa makanan (khususnya yang mengandung gula sukrosa) berikut enzim dari saliva, akan terjadi reaksi fermentasi yang menghasilkan asam. Bila asam itu terus-menerus diproduksi, akan terjadi proses demineralisasi atau pelunakan lapisan email gigi terdekat (email bagian terluar dan terkeras dari gigi). Karena email melunak, timbullah karies atau gigi berlubang. Table. bakteri yang sering dijumpai di mulut BACTERIUM Mout h BACTERIUM Mouth

Staphylococcus epidermidis Staphylococcus aureus* Streptococcus mitis Streptococcus salivarius Streptococcus mutans* Enterococcus faecalis* Streptococcus pneumoniae* Streptococcus pyogenes* Neisseria sp. Neisseria meningitidis* Enterobacteriaceae*(Esche richia coli) ++ = nearly 100 percent percent) +/- = rare (less than 5%)

++ + ++ ++ ++ + + + + + +

Proteus sp. Pseudomonas aeruginosa* Haemophilus influenzae* Bacteroides sp.* Lactobacillus sp. Clostridium sp.* Corynebacteria Actinomycetes Spirochetes Mycoplasmas

+ +/+ + ++ +/+ + ++ +

+ = common (about 25 * = potential pathogen

Tabel. Spesies mikrobe predominan yang dijumpai di Mulut. (Sumber: G.P. Youmans, P.Y Peterson, and H.M. Sommers, The Biologic and Clinical Basis of . Infectious Disease)

Tabel. Mikroorganisme penyebab infeksi odontogenik. (Sumber: G.P. Youmans, P.Y Peterson, and H.M. Sommers, The Biologic and Clinical Basis of Infectious . Disease) Organisme Aerob Gram (+) Coccus Streptococcus spp. Streptococcus (grup D) spp. Staphylococcus spp. Eikenella spp. Persenta se 25% 85 90 2 6 2 2 3 6 4 Organisme Anaerob Gram (+) Coccus Streptococcus spp. Peptococcus spp. Peptostreptococcus spp. Persenta se 75% 30 33 33 33 4 14

Gram (-) Coccus (Neisseria spp.) Gram (+) Batang (Corynebacterium spp.) Gram (-) Batang (Haemophilus spp.)

Gram (-) Coccus (Viellonella spp) Gram (+) Batang Eubacterium spp. Lactobacillus spp.

Miscelianeous dan lain-lain

Actinomyces spp. Clostridia spp. 50 75 25 6

Gram (-) Batang Bacteroides spp. Fusobacterium spp

Miscellenous

S. epidermidis.

S. aureus. Gram stain.

Ente Streptococcus mutans. Gram stain. rococcus faecalis.

Streptococcus pneumoniae.

Streptococcus pyogenes. Gram stain.

Nei sseria meningitidis. Gram stain.

E. coli.

Koloni Pseudomonas aeruginosa tumbuh pada cawan agar.

Haemophilus influenzae. Gram stain.

Bacteroides fragilis. Gram stain.

Lactobacillus sp.

Cl

ostridium perfringens. Gram stain.

DAFTAR PUSTAKA

Jawetz, Melnick and Adelbergs, 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology). Jakarta: Salemba Medika. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UI. 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Michael J. Pelczar and E.C.S Chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UI-Press