Anda di halaman 1dari 6

CARA-CARA PENYEDIAAN AIR BERSIH UNTUK MENGATASI MASALAH KEKURANGAN AIR BERSIH

Abstrak Masalah air bersih telah menjadi ancaman di seluruh dunia. Bencana ini menyebar luas dan akan terus menjalar. Beberapa ahli percaya bahwa pengendalian sumber daya air akan menjadi lebih penting dalam tahun-tahun mendatang, terutama jika perubahan iklim terus menyebabkan pemanasan di beberapa bagian dunia dan pola-pola cuaca yang tak menentu. Beberapa bahkan menyebut air sebagai minyak di masa mendatang. Rawan air bersih dan kekeringan merupakan masalah yang biasa dihadapi oleh masyarakat dunia. Penyebabnya bisa berasal dari berbagai faktor, mulai dari pemakaian berlebih, industri yang berupa pencemaran, eksploitasi sumber daya air berlebih sampai faktor rusaknya lingkungan dan pengaruh iklim. Oleh sebab itu, diperlukan solusi solusi yang efektif seperti sistem Reverse Osmosis (IPA RO), Teknik Self Purification , Zeolit Water Treatment, Advanced Oxidation Processes (AOP) dan rehabilitasi DAS penambahan jumlah resapan air sehingga masalah kekurangan air dapat teratasi dengan baik. Kata Kunci: Air bersih,Sistem Reverse Osmosis (IPA RO), Teknik Self Purification, Zeolit Water Treatment, Advanced Oxidation Processes (AOP), rehabilitasi, DAS PENDAHULUAN Bagi manusia, air bersih adalah salah satu kebutuhan utama. Tanpa air tidak akan ada kehidupan di bumi ini. Tanpa air dunia akan menjadi sebuah planet yang tidak bernyawa atau gersang. Sekitar 71% atau komposisi bumi terdiri dari air. Manusia membutuhkan air dalam kehidupan sehari hari seperti mandi, mencuci, minum dsb. Namun tidak setiap wilayah memiliki sumber daya air yang memenuhi kriteria kualitas,kontinuitas maupun kuantitas. Kriteria yang dimaksud yaitu kualitas air harus memenuhi persyaratan fisik, kimia, biologi dan radioaktif agar berfungsi dengan baik. Secara kuantitas jumlah air harus memadahi, sedangkan secara kontinuitas air harus selalu tersedia setiap waktu, siklusnya teratur. Beberapa wilayah di dunia mengalami permasalahan dalam ketersediaan air yang layak. Penyebabnya adalah kuantitas perladangan yang berlebihan, pertambahan penduduk, penyalahgunaan hutan maupun faktor iklim dan pencemaran lingkungan. Hal ini mendorong perlunya dilakukan riset atau penelitian untuk menanggulangi dan mencari solusi dari permasalahan permasalahan tersebut agar masalah kekekurangan air dapat teratasi. METODE Penelitian ini dilakukan dengan observasi, dengan cara mencari data-data yang ada di internet. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyebab Kekurangan Air Bersih Kekurangan air dapat disebabkan oleh beberapa hal. Berikut ini beberapa hal yang dapat menyebabkan kekeringan : 1. Pemakaian air yang berlebihan. Contohnya dalam bidang pertanian. Penghamburan air akibat ketiadaannya penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang akhirnya dapat

menyebabkan hilangnya produktivitas air dan tanah. 2. Industrialisasi. Walaupun industri menggunakan air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan irigasi pertanian, namun penggunaan air oleh bidang industri mungkin membawa dampaknya yang lebih parah dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan pencemaran bagi air permukaan atau air bawah tanah, sehingga menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi. Air buangan industri sering dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemarinya, dan pada akhirnya juga mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah tanpa melalui proses pengolahan apapun. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus. 3. Eksploitasi sumber-sumber air secara masal oleh rumah tangga. Di negara berkembang seperti negara bagian Tamil Nadu di India bagian selatan yang tidak memiliki hukum yang mengatur pemasangan penyedotan sumur pipa atau yang membatasi penyedotan air tanah, permukaan air tanah anjlok 24 hingga 30 meter selama tahun 1970-an sebagai akibat dari tak terkendalikannya pemompaan atau pengairan. Pada

sebuah konferensi air di tahun 2006 wakil dari suatu negara yang kering melaporkan bahwa 240.000 sumur pribadi yang dibor tanpa mengindahkan kapasitas jaringan sumber air mengakibatkan kekeringan dan peningkatan kadar garam.

Di negara maju seperti Amerika Serikat seperlima dari seluruh tanah irigasi di AS tergantung hanya pada jaringan sumber air (Aquifer) Agallala yang hampir tak pernah menerima pasok secara alami. Selama 4 dasawarsa terakhir terhitung dari tahun 2006, sistem jaringan yang tergantung pada sumber ini meluas dari 2 juta hektar menjadi 8 juta, dan kira-kira 500 kilometer kubik air telah tersedot. Jaringan sumber ini sekarang sudah setengah kering kerontang di bawah sejumlah negara bagian. Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu, di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, seperti pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Misalnya, di bagian barat AS, sungai Colorado bagian bawah sekarang ini demikian tinggi kadar garamnya sebagai akibat dari dampak arus balik irigasi sehingga di Meksiko sudah tidak bermanfaat lagi, dan sekarang AS terpaksa membangun suatu proyek besar untuk memurnikan air garam di Yuma, Arizona, guna meningkatkan mutu sungainya. Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber dimana rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya

dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Hal ini tidak saja mengakibatkan masalah bagi penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan karena limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan. 4. Perubahan kawasan hutan di hulu-hilir air yang sebelumnya merupakan daerah resapan air menjadi lahan permukiman, industri, dan pertambangan. Bahkan menjadi hutan yang gundul. Akibatnya, air hujan yang jatuh langsung Mengalir ke sungai bukan masuk ke dalam tanah. Berkurangnya daerah resapan air mengakibatkan pada musim kemarau aliran air dalam tanah berkurang, sehingga memengaruhi sistem sungai. 5. Intrusi air laut. Di wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di muara sungai atau di tengah lautan lepas, kualitas air tanahnya sangat bergantung dari curah hujan. Pada musim kemarau, air tawar yang berasal dari air hujan sudah tidak tersedia lagi, sehingga air tanah dengan mudah akan terkontaminasi oleh air laut. Ciri adanya intrusi air laut adalah air tanah yang terasa payau atau mengandung kadar garam khlorida dan TDS (Total Dissolved Solid) yang tinggi. Metode Penyediaan Air Bersih Pengelolaan dan pemanfaatan air bersih diatur pemerintah dalam Undang-Undang RI No 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Pada pasal 26 ayat 1, 2 ,dan 6 yang isinya mengatur pentatagunaan,pemanfaatan dan kewajiban penghematan air. Pasal 4 ayat 1 , pasal 7 ayat 1, pasal 29 ayat 1 dan 3 dan pasal 40 ayat 1 mengatur pemenuhan kebutuhan air sesuai peryaratan kualitas dan kuantitas dalam

kehidupan sehari hari. Langkah langkah yang dapat dilakukan untuk mendapatkan air bersih: 1. Pengelolaan air limbah secara tepat. Dengan cara konvesional melalui metode penjernihan, pelunakan dan desinfeksi. Sedangkan cara modern seperti teknik Self Purification. Teknik Self Purification merupakan penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air. Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime yang berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil. Disamping itu, solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. 2. Pengolahan Air Payau dengan sistem Reverse Osmosis (IPA RO). Sistem Reverse Osmosis atau RO adalah perpindahan air melalui satu tahap ke tahap berikutnya yakni bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Kelebihan air hasil dari sistem reverse osmosis adalah bebas dari semua bahan pencemar air seperti virus, bakteri, bahan kimia dan logam berat.

Non koloidal dapat terendapkan (settleable) tetapi tidak stabil. 4. Zeolit Water Treatment Proses pertama penampungan air hujan dalam bak penampungan air yang bertujuan sebagai tolak ukur dari debit air bersih yang dibutuhkan. Ukuran bak penampungan disesuaikan dengan kebutuhan (debit air) yang mana ukuran bak 2 kali dari kebutuhan

Gambar 1.1 Instalasi Pengolahan Air dengan Sistem Reverse Osmosis

Proses reverse osmosis menggunakan tekanan tinggi agar air bisa melewati membran, di mana kerapatan membran reverse osmosis (membran semipermeable dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut) ini adalah 0,0001 mikron (satu helai rambut dibagi 500.000 bagian). Jika air mampu melewati membran reverse osmosis, maka air inilah yang akan kita pakai, tapi jika air tidak bisa melewati membran semipermeable maka akan terbuang pada saluran khusus. Sebelum melewati membran, proses kerja sistem reverse osmosis melalui beberapa tahap penyaringan antara lain cartridge (sediment), karbon blok, karbon granular. Perbedaan yang paling jelas sistem reverse osmosis dengan pengolahan air yang lain adalah sistem reverse osmosis ada 2 hasil karena air yang memiliki kepekatan di atas 15 ppm akan terbuang menjadi limbah, sedangkan pengolahan air yang lain hanya satu hasil. Sistem reverse osmosis Indonesia kebanyakan mengadopsi sistem reverse osmosis dari berbagai negara seperi Amerika Serikat (USA), Taiwan, Jepang dan Korea 3. Penjernihan air Karakteristik tipikal air permukaan di indonesia adalah masalah kekeruhan, yang berfluktuasi tergantung musim. Sehingga sasaran utama adalah jernih. Rangkaian proses penjernihan tergatung dari: Suspensi koloidal: Stabil sehingga sulit diendapkan dengan Ukuran 10-3 10-6 mm, memiliki kecepatan mengendap sekitar 1 mm/jam sampai 1 mm/tahun.

Gambar 1.2 Zeolit Proses kedua oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air agar kadar-kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya yang terkandung dalam air mudah terurai. Dalam proses ini ada beberapa perlakuan yang bisa dilakukan seperti dengan penambahan oksigen dengan sistem aerasi (dengan menggunakan alat aerator) dan juga dapat dilakukan dengan menggunakan katalisator bahan kimia untuk mempercepat proses terurainya kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya (dengan menggunakan clorine, kaporite, kapur dll. Proses ketiga pengendapan atau koagulasi, proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti bahan koagulan (Hipoklorite/PAC) dengan rumus kimia juga proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik lamela plate. Proses keempat filtrasi (carbon actived), proses ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran kotoran yang masih terkandung dalam air dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas air agar air yang

dihasilkan tidak mengandung bakteri (sterile) dan rasa serta aroma air. Biasanya proses ini menggunakan bahan sand filter yang disesuaikan dengan kebutuhan baik debit maupun kualitas air dengan media filter (silica sand/quarsa, zeolite, dll). Proses terakhir adalah proses pembunuhan bakteri, virus, jamur, makroba dan bakteri lainnya yang tujuannya mengurangi patogen yang ada, proses ini menggunakan proses chlorinator atau sterilisasi dengan menggunakan kaporit. 5. Advanced Oxidation Processes (AOP). AOP adalah satu atau kombinasi dari beberapa proses seperti ozone, hydrogen peroxide, ultraviolet light, titanium oxide, photo catalyst, sonolysis, electron beam, electrical discharges (plasma) serta beberapa proses lainnya untuk menghasilkan hidroksil radikal. Hidroksil radikal adalah spesies aktif yang dikenal memiliki oksidasi potensial tinggi 2.8 V melebihi ozone yang memiliki oksidasi potensial hanya 2.07 V. Hal ini membuat hidroksil radikal sangat mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain yang ada di sekitarnya. Hidroksil radikal sesuai dengan namanya adalah spesies aktif yang memiliki sifat radikal, di mana mudah bereaksi dengan senyawa organik apa saja tanpa terkecuali, terutama senyawa-senyawa organik yang selama ini sulit atau tidak dapat diuraikan dengan metode mikrobiologi atau membran filtrasi. AOP akan sangat tepat untuk diaplikasikan dalam pengolahan limbah cair dari industi tekstil yang banyak mengandung senyawa-senyawa organik sebagai zat pewarna (dye). Salah satu dari AOP yang banyak diaplikasikan pada perindustrian tekstil di Jepang adalah kombinasi dari ozon dan ultraviolet (Sugitomo, 2000). Kombinasi ini banyak dipergunakan mengingat selama ini baik teknologi ozon maupun lampu ultraviolet bukan merupakan hal yang baru dalam proses pengolahan air, terutama dalam proses pengolahan air bersih/minum,

sehingga kombinasi dari keduanya menjadi mudah untuk diaplikasikan. Kombinasi ozon dan ultraviolet sangat potensial untuk mengoksidasi berbagai senyawa organik, minyak, dan bakteri yang mungkin terkandung di dalam limbah cair. Secara individu pada industri tekstil, ozon dapat dipergunakan untuk menghilangkan warna dan bau. Demikian juga halnya dengan ultraviolet yang memiliki kemampuan dalam menghilangkan warna. Namun demikian saat ini banyak dipergunakan senyawa kimia organik yang lebih kompleks, dan sulit untuk diuraikan dengan menggunakan ozon atau ultraviolet secara sendirian. Untuk itulah kombinasi ozon dan ultraviolet dengan hidroksil radikalnya akan sangat efektif dalam menghilangkan warna, dan bau yang terkandung dalam limbah cair. 6. Penambahan jumlah daerah resapan air dan pelestarian DAS. Untuk solusi jangka panjang, kelestarian lingkungan perlu diperhatikan seperti di daerah aliran sungai, daerah resapan air maupun hutan hutan yang berfungsi sebagai penyedia air tanah. Serta hutan bakau di daerah pantai agar tidak terjadi abrasi dan intrusi air laut. Sehingga kualitas air tanah tidak terganggu. Serta manajemen penggunaan air secara efektif. PASAL-PASAL MENGENAI PENGELOLAAN AIR BERSIH Pasal 26 Ayat 1: Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Ayat 2 : Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan

mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Ayat 6: Setiap orang berkewajiban menggunakan air sehemat mungkin. Pasal 29 Ayat 1:Penyediaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air serta memenuhi berbagai keperluan sesuai dengan kualitas dan kuantitas. Ayat 3: Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air di atas semua kebutuhan. Pasal 40 Ayat 1: Pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum Ayat 3: Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air di atas semua kebutuhan.

3. Rehabilitasi DAS dan hutan serta penambahan jumlah resapan air Berdasarkan jangka waktu, maka dapat dibagi menjadi 3 kategori : a. Jangka pendek yaitu dengan memanfaatkan sumber air yg ada secara efektif. b. Jangka menengah dengan pengolahan limbah dan pengembangan teknologi pengolahan air bersih. c. Jangka panjang dengan rehabilitasi DAS, hutan, penambahan jumlah resapan air serta kampanye pelestarian lingkungan. REFERENSI
http://osmosisreverse.blogspot.com/2009/12/pengertiansistem-reverse-osmosis.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Self Purification http://id.wikipedia.org/wiki/Advanced Oxidation Processes http://id.wikipedia.org/wiki/ZeolitWater Treatment http://id.wikipedia.org/wiki/Reverse Osmosis http://INILAH.COM http://id.wikipedia.org/wiki/Air_bersih

SIMPULAN Air bersih adalah salah satu kebutuhan utama setiap makhluk hidup. Seiring dengan perkembangan zaman kualitas dan kantitas air semakin menurun. Dari permasalahan yang diangkat diperoleh beberapa solusi untuk menyelesaikannya seperti: 1. Penghematan penggunaan air 2. Pengolahan air limbah dengab cara sistem Reverse Osmosis (IPA RO), Teknik Self Purification , Zeolit Water Treatment, Advanced Oxidation Processes (AOP).

http://ANTARA.com/News/Unicef http://bataviase.co.id/home http://mediaindonesia.com/home