Anda di halaman 1dari 23

Teori Ekonomi Klasik : Revolusi KetergantunganInternasional Kontrarevolusi Neoklasik

Ayu Sefryna Sari (01111402059)

Model ketergantungan Neokolonial


model ketegantungan neokolonian (neokolonian dependence

model), secara tidak langsung mengembangkan pemikiran kaum Marxis. Model ini menghubungkan keberadaan dan kelanggengan negara-negara terbelakang terhadap evolusi sejarah hubungan internasional yang sama sekali tidak seimbang antara negaranegara kaya dengan negara-negara miskin dalam suatu sistem kapitalis internasional. Terlepas dari sengaja atau tidaknya sikap dan praktik eksploitatif negara-negara kaya terhadap negara-negara berkembang, koeksistensi itu digambarkan sebagai hubungan kekuasaan yang sangat tidak berimbang antara pusat (center, core) yang terdiri dari negara-negara maju, serta pinggiran (periphery), yakni kelompok yang sedang berkembang. Neo-Marxis atau dalam hal ini pandangan terbelakang neokolonial, mencoba menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut dan semakin parah disebagian besar negara-negara Dunia ketiga dengan keberadaan dan kebijakan kelompok negara-negara industri kapitalis dari belahan bumi Utara yang dapat menyebar luas melalui kelompok-kelompok domestik kecil elit dunia yang berkuasa, yang mereka sebut kelompok

Model Paradigma Palsu


Cabang atau aliran yang kedua dari teori ketergantungan

internasional terhadap topik pembangunan ini relatif tidak begitu radikal. Aliran ini biasa disebut sebagai model paradigma palsu (false- paradigm model), yang mencoba menghubungkan keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga dengan kesalahan dan ketidak tepatan saran yang diberikan oleh para pengamat atau "pakar" internasional. Faktor-faktor kelembagaan di negara-negara Dunia Ketiga, seperti masih pentingnya struktur sosiol tradisional (yakni, kesukuan, kasta, kelas, dan sebagaina); sangat tidak meratanya hak kepemilikan tanah dan kekayaan lainnya. Karena hanya melayani kepentingan sepihak kelompok-kelompok domestik maupun internasional yang sedang berkuasa. Akibat ketiadaan atau terbatasnya pengetahuan yang tepat guna untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan, maka kalangan elit tersebut justru cenderung menjadi pembela keyakinan asing yang melakukan atau mengabaikan adanya sistem kebijakan elitis serta struktur kelembagaan yang khas negara-negara berkembang. Sebagai contoh, dalam kuliahkuliah ilmu ekonomi di berbagai universitas, yang paling banyak diajarkan adalah konsep-konsep dan model-model barat yang sepenuhnya asing, atau sekurang-kurangnya tidak relevan untuk

Tesis Pembangunan-Dualistik
Dualisme (dualism) adalah konsep yang menunjukkan adanya

1.

2.

3.

4.

jurang pemisah yang kian lama terus melebar antara negaranegara kaya dan miskin, serta di antara orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara. Pada dasarnya, konsep dualisme ini terdiri dari empat elemen kunci sebagai berikut: Beberapa kondisi yang berneda, yang terdiri dari elemen "superior" dan "inferior", hadir secara bersamaan dalam waktu dan tempat yang sama. Koeksistensi ini bukan merupakan fenomena sesaat yang akan mengikis kesenjangan antara elemen superior dan inferior seiring dengan berlalunya waktu. Kadar superioritas serta inferioritas dari masing-masing elemen tersebut bukan hanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, melainkan cenderung meningkat. Hubungan saling-keterkaitan antara elemen-elemen yang superior dengan elemen-elemen inferior tersebut terbentuk dan berlangsung sedemikian rupa sehingga keberadaan elemen-elemen superior sangat sedikit atau sama sekali tidak membawa manfaat untuk meningkatkan kedudukan elemenelemen inferior.

Tantangan bagi Model Statis: pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan Pendekatan Ramah-Pasar
Memasuki dekade 1980-an, pengaruh politik dari pemerintah konservatif di

Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Jerman Barat menghadirkan kembali Kontrarevolusi Neoklasik (neoclassical counterrevolution) dalam teori dan kebijakan ekonomi.
Bagi negara-negara maju, kontrarevolusi merupakan aliran kebijakan

makroekonomi yang lebih mementingkan sisi penawaran (supply-side macroeconomics), teori ekspektasi rasional, dan gelombang swastanisasi perusahaan-perusahaan milik negara.
Sedangkan bagi negara-negara berkembang, kontrarevolusi berarti pasar yang

lebih bebas dan ditinggalkannya berbagai bentuk campur tangan pemerintah dalam perekonomian nasional, yang berupa kepemilikan perusahaanperusahaan oleh pihak pemerintah, perencanaan statis atas perekonomian nasional dan regulasi pemerintah terhadap aneka kegiatan ekonomi. Ini antara lain dikarenakan para pendukung teori neoklasik memiliki pengaruh besar dalam dua lembaga keuangan internasional yang paling penting, serta merosotnya pamor berbagai organisasi internasional lainnya yang seringkali lebih lantang dalam menyuarakan kepentingan negara-negara Dunia Ketiga, , seperti Labor Organization (ILO), United Nations Development Program

Tantangan bagi Model Statis: pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan Pendekatan Ramah-Pasar
Para tokoh kontra-revolusi neoklasik, seperti Lord Peter Bauer, Deepak Lal, Ian

Little, Harry Johnson, Bela Balassa, Jagdish Bhagwati, dan Anne Krueger, menyatakan bahwa campur tangan pemerintah yang berlebihan dalam kegiatan ekonomi, tidak diragukan lagi, merupakan sumber utama terjadinya penurunan laju pertumbuhan di banyak negara berkembang. Menurut tokoh-tokoh neoliberal tersebut, dengan membiarkan pasar bebas (free markets) hadir dan beroperasi secara penuh, melaksanakan swastanisasi perusahaan milik pemerintah, mempromosikan perdagangan bebas dan pengembangan ekspor, menarik investasi asing (misalnya, investor dari negara maju), serta menghapuskan regulasi pemerintah yang berlebihan dan distorsi harga pada pasar input, pasar output maupun pasar keuangan, maka efisiensi pertumbuhan ekonomi akan terpacu lebih optimal. Selain itu, bertentangan dengan argumen para teoretasi ketergantungan, para penganjur kontrarevolusi neoklasik menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga berada dalam kondisi keterbelakangan bukan dikarenakan oleh sifat predator negara-negara Dunia Pertama maupun badan-badan Internasional yang memang dikuasai oleh negara-negara Dunia Pertama tersebut, melainkan karena korupsi dan campur tangan pemerintah yang kelewat batas, infisiensi di berbagai sektor, serta terbatasnya insentif ekonomi yang berpengaruh secara meluas di dalam perekonomian negara-negara berkembang itu sendiri.

Tantangan bagi Model Statis: pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan Pendekatan Ramah-Pasar
Tantangan neoklasik terhadap pembangunan

yang ortodoks dapat dipilah menjadi tiga komponen, yakni: pendekatan pasar-bebas pendekatan pilihan publik (atau "ekonomi politik baru"), serta pendekatan "ramah terhadap pasar".

Tradisional
Model pertumbuhan neoklasik Solow (Solow neoclassical growth model)

merupakan pilar yang sangat memberi kontribusi terhadap teori pertumbuhan neoklasik. Pada intinya, model ini merupakan pengembangan dari formulasi Harrod-Domar dengan menambahkan faktor kedua, yakni tenaga kerja, serta memperkenalkan variabel independen ketiga, yakni teknologi kedalam persamaan pertumbuhan (growth equation).
Namun, berbeda dengan Harrod-Domar yang mengasumsikan skala hasil tetap

(constant return to scale) dengan koefisien baku, model pertumbuhan neoklasik Solow berpegang pada konsep skala hasil yang terus berkurang (diminishing returns) dari input tenaga kerja dan modal jika keduanya dianalisis secara terpisah; jika keduanya dianalisis secara bersamaan atau sekaligus, Solow juga memakai asumsi skala hasil tetap tersebut.
Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional (traditional neoclassical growth

theory), pertumbuhan output selalu bersumber dari satu atau lebih dari tiga faktor: kenaikan kuantitas dan kualitas tenaga kerja (melalui pertumbuhan jumlah penduduk dan perbaikan pendidikan), penambahan modal (melalui tabungan dan investasi), serta penyempurnaan tekhnologi.
Di lain pihak, perekonomian terbuka (open economy), yakni yang mengadakan

hubungan perdagangan, investasi, dan sebagainya dengan negara atau pihakpihak luar, pasti akan mengalami suatu konvergensi peningkatan pendapatan perkapita, karena arus permodalan akan mengalir deras dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin dimana rasio modal-tenaga kerjanya masih rendah

Usaha Mempertemukan Berbagai Perbedaan


Dari model perubahan struktural dua sektor rumusan

Lewis, kita bisa mengetahui betapa pentingnya upaya-upaya untuk menganalisis keterkaitan tertentu yang terdapat di antara sektor pertanian tradisional dengan sektor industri modern. Pemikiran para teoretisi ketergantungan internasional juga bermanfaat karena telah berhasil menonjolkan pentingnya struktur dan fungsi perekonomian dunia, dan keputusan yang diambil oleh negara maju ternyata sedemikian rupa sehingga selalu memberi pengaruh terhadap kehidupan jutaan penduduk di negara berkembang.

Studi kasus Beberapa Aliran Pemikiran dan Penerapannya

Korea Selatan dan Argentina

Korea Selatan dan Argentina


Pengamatan yang seksama terhadap dua negara ini

menghasilkan kesimpulan bahwa masing-masing dari empat pendekatan utama dalam pembangunan, yaitu: 1. tahapan pertumbuhan, 2. pola struktural pembangunan, 3. ketergantungan, dan 4. neoklasik memberikan wawasan yang penting mengenai proses dan kebijakan pembangunan. Kedua negara tersebut termasuk negara berpendudukan sedang (38 juta di Argentina dan 48 juta di Korea selatan pada tahun 2002), dan hingga tahun 2007 keduanya di golongkan sebagai negara berpendapatan menengah. Namun sekarang korea selatan digolongkan oleh Bank dunia sebagai negara berpendapatan tinggi, dimana pendapatan perkapitanya dua kali Argentina, yang 30 tahun silam yang terjadi malah kebalikannya.

Tahapan Pertumbuhan
Tahapan Pertumbuhan Korea Selatan menegaskan beberapa

pandangan mengenai tahapan linear, meskipun dengan cara yang terbatas. Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa investasi dalam pendapatan nasionalnya adalah yang tertinggi di dunia. Korea Selatan kini masih dipandang dalam teori Rostow sebagai negara yang ekonominya tengah "menuju kematangan," tetapi dengan tingkat penguasaan teknologinya yang seperti sekarang, pada tahun 2000-an nampaknya Korea Selatan akan memasuki tahap "age of mass consumption" atau era konsumsi massal. Rostow berpendapat bahwa kematangan (maturity) dapat dicapai kira-kira 60 tahun setelah era tinggal landas (take off) dimulai, tetapi ia tidak menyangkal pengalaman unik dari setiap negara, dan bahwa kesenjangan antara teknomogi tradisional dan modern dapat dengan lebih cepat diatasi pada tahapan pembangunan selanjutnya. Korea Selatan hampir pasti memenuhi kriteria "kematangan" setelah terintegrasi dengan perekonomian dunia melalui jenis ekspor dan impor yang baru.

Pola Struktural
Kasus korea selatan juga menunjukkan beberapa

pola dari model perubahan struktural pembangunan. Secara khusus, pertumbuhan Korea Selatan selama beberapa generasi yang silam ditandai dengan peningkatan produktivitas sektor pertanian secara cepat, pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan stok modal dan pendidikan serta ketrampilan yang stabil, dan transisi demografi dari tingkat fertilitas yang tinggi menjadi rendah. Pada akhir tahun 1940-an dan 1950-an, Korea Selatan mencanangkan land reform secara menyeluruh, sehingga sektor pertanian tidak terabaikan; namun sebaliknya pertumbuhan presentase angkatan kerja di bidang industri yang cepat dan terus-menerus ini sesuai dengan model

Revolusi ketergantungan
Namun Korea Selatan adalah sebuah tantangan yang

serius bagi model revolusi ketergantungan (depence revolution). Karena Korea Selatan adalah sebuah negara miskin yang tergantung pada perekonomian internasional. Korea dahulu adalah koloni jepang hingga tahun 1945 dan setelah itu sangan tergantung hubungan baik dengan Amerika Serikat demi mempertahankan wilayahnya terhadap invasi dari Korea Utara. Namun Korea Selatan sekarang ini telah dipandang sebagai salah satu kandidat untuk memperoleh status negara maju (tingkat pendapatannya saat ini sudah sebanding dengan Yunani dan Portugal). Selain itu, pemerintah Korea juga mengeluarkan beberapa kebijakan khusus yang disambut gembira oleh para penganut aliran teori ketergantungan, seperti kebijakan yang sangat aktif mendukung peningkatan sektor industri. Korea Selatan juga merupakan salah satu negara yang menerapkan program land reform yang paling ambisius di antara negara-negara berkembang,

Kontrarevolusi Neoklasik
Korea Selatan merupakan sebuah tantangan yang

serius bagi model kontrarevolusi neoklasik. Hingga sekarang, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa negara ini sangat mendukung intervensi baik di pasar dalam negeri maupun dalam perdagangan internasionalnya, dimana pemerintahannya aktif membuat perencanaan pembangunan yang ekstensif, menggunakan instrumen seperti pengurangan pajak dan pemberian intensif untuk mendorong perusahaan-perusahaan menerima intervensi dan arahan dari pemerintah, menetapkan target ekspor peruhasaan individu, mengatur usaha dari berbagai industi untuk menaikkan tingkat rata-rata penguasaan teknologinya.

Sebaliknya dalam kasus Argentina, teori tahapan dan pola pembangunan hanya menjelaskan sebagian kecil dari sejarah perekonomian, sementara teori revolusi ketergantungan dan kontrarevolusi neoklasik sama-sama menawarkan wawasan yang penting.

Tahapan Pertumbuhan
Sejarah Argentina menjadi tantangan yang berat bagi

pendekatan tahapan linear. Rostow mendefinisikan tinggal landas sebagai "interval ketika hambatan-hambatan lama dan resistensi terhadap pertumbuhan yang stabil akhirnya bisa diatasi. . . Pertumbuhan menjadi hal yang wajar baginya Pada tahun 1870, Argentina menduduki peringkat ke-11 di dunia dari segi pendapatan perkapita (melebihi Jerman); sekarang Argentina bahkan tidak termasuk dalam 50 besar. Namun sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Argentina semenjak Rostow mengedepankan negara tersebut sebagai contoh teorinya. Menurut data Bank Dunia, Argentina mengalami tingkat pertumbuhan yang negatif selama periode 1965-1990, dan pada tahun 1980an, investasi menyusut hingga -8,3%, sehingga investasi juga turun hingga tepat di bawah tingkat yang diasumsikan Rostwo untuk tinggal landas.

Pola Struktural
Argentina memiliki banyak pola-pola struktural

pembangunan yang umum seperti kenaikan produktivitas sektor pertanian, tumbuhnya kesempatan kerja di sektor industri (meskipun lambat), terjadinya urbanisasi, turunnya tingkat fertilitas, dan sebagainya.

Revolusi ketergantungan
Berlawanan dengan Korea Selatan, Kasus Argentina

menawarkan beberapa pembuktian bagi teori ketergantungan bahwa negara tersebut sangat tergantung pada ekspor barang-barang primer. Perusahan-perusahan multinasional memainkan peranan yang besar, dan Argentina tidak mampu menciptakan industri manufaktir berorientasi ekspor sendiri yang mampu bersaing.

Kontrarevolusi Neoklasik
Namun Argentina juga menawarkan beberapa

pembelaan bagi teori kontrarevolusi neoklasik bahwa intervensi dan pembatasan yang salah oleh pemerintah, perusahaan yang tidak efisien, biar terhadap produksi untuk ekspor, dan "pita merah" yang tidak dibutuhkan akan menyengsarakan industri dan kewirausahaan. Kebijakan pemerintah secara konsisten nampaknya lebih mengakomodasi kepentingan beberapa kelompok daripada tujuan pembangunan yang lebih luas, dan kegagalan pemerintah biasanya lebih buruk dampaknya dari pada kegagalan pasar di dalam negeri.