P. 1
Tomi Eriawan, Deko Krismawardana, Penataan Kawasan Sempadan Sungai s

Tomi Eriawan, Deko Krismawardana, Penataan Kawasan Sempadan Sungai s

|Views: 443|Likes:
Dipublikasikan oleh Tomi Eriawan
Jurnal PWK, Vol 2 Nomor 4 Tahun 2012
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Bung Hatta, Padang
Jurnal PWK, Vol 2 Nomor 4 Tahun 2012
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Bung Hatta, Padang

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Tomi Eriawan on Oct 24, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2015

pdf

text

original

Tomi Eriawan, Deko Krismawardana, Penataan Kawasan Sempadan Sungai sebagai Pertimbangan dalam Penyusunan Panduan Perancangan (Design

Guidenlines) Di Kota Teluk Kuantan, Jurnal Skala Vol.2, No.4, 2012, hlm 24-39

PENATAAN KAWASAN SEMPADAN SUNGAI SEBAGAI PERTIMBANGAN DALAM PENYUSUNAN PANDUAN PERANCANGAN (DESIGN GUIDLINE) DI KOTA TELUK KUANTAN Tomi Eriawan, Deko Krismawardana Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Bung Hatta Padang Abstrak Kawasan yang dekat dengan pusat kota (CBD) sebagian besar merupakan kawasan transisi yang merupakan kawasan yang mengalami penurunan kualitas lingkungan sebagai akibat desakan aktifitas dan perubahan guna lahan yang cepat. Kawasan permukiman yang terdapat si sepanjang Sungai Batang Kuantan di Kota Teluk Kuantan dan berbatasan langsung dengan kawasan pusat kota, sebagian besar mengalami fenomena ini dan ditambah dengan aktifitas pertambangan pasir (tambang galian C) disepanjang sungai memperparah kondisi lingkungan dan tata ruang kawasan. Studi ini dilakukan untuk mencari alternatif solusi penataan ruang yang sesuai dengan pendekatan Zoning Regulation melalui identifikasi factor yang mempengaruhi aktiftas dan perubahan guna lahan sehingga diperoleh konsep penataan ruang yang baik. Keywords: zoning regulation, kualitas lingkungan, galian tambang PENDAHULUAN Dari sejarahnya, kota bermula dari kawasan yang dekat dengan sumber air, sehingga kawasan pinggir sungai merupakan kawasan awal tempat penduduk bermukim. Tapi belum adanya peraturan yang membatasi jarak minimal rumah dari sungai (garis sempada sungai) menyebabkan permukiman yang ada terlalu dekat dengan sungai dan bangunan-bangunan yang telah ada dan berdiri di sempadan sungai hingga sekarang tidak mungkin di lenyapkan begitu saja walaupun telah menyalahi aturan. Kota Teluk Kuantan yang merupakan Ibukota Kabupaten Kuantan Singingi dialiri oleh sebuah sungai yang dikenal dengan Batang Kuantan, kawasan permukiman pada awalnya tumbuh di kawasan tepi kuantan karena tanahnya yang subur sehingga bisa mendukung mata pencaharian masyarakat yang dulu didominasi sebagai petani

24

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

Koridor jalan K.H Usmar Usman Desa Sawah terdapat di sepanjang sungai dengan kondisi permukiman yang tidak tertata dengan baik terutama di kawasan sempadan sungai, lemahnya regulasi dari pemerintah menyebabkan rumah tumbuh dan berkembang dengan orientasi menghadap jalan sehingga banyak rumah yang dibangun dengan membelakangi sungai, akibatnya sungai yang merupakan sumber air menjadi tempat pembuangan sampah dan akhirnya menurunkan kualitas air sungai. Kondisi ini diperburuk lagi dengan adanya pertambangan pasir yang menggunakan mesin sehingga produktivitasnya menjadi lebih tinggi dan akibatnya polusi semakin besar dan kenyamanan masyarakat terganggu akibat kebisingan yang dihasilkan oleh mesin untuk penambangan pasir tersebut. Berdasarkan permasalahan dan teori yang telah dijelaskan diatas, maka perlu di susun sebuah panduan perancangan (Design Guideline) untuk Koridor K.H Usmar Usman Desa Sawah ini agar kualitas lingkungan tetap terjaga dan kawasan ini dapat berkembang dengan baik dimasa yang akan datang METODE PENELITIAN Metoda analisa merupakan suatu cara pengolahan data yang telah didapat dari survey primer dan survey

sekunder. Adapun analisis yang dilakukan dalam studi ini adalah : a. Regulasi Analisis ini dilakukan untuk melihat peruntukkan kawasan berdasarkan rencana tata ruang yang levelnya lebih tinggi dari studi yang akan dibahas yaitu RDTR Kota Teluk Kuantan, b. Analisa Fungsi Jalan Analisa ini dilakukan untuk melihat fungsi jalan pada kawasan studi, karena fungsi jalan akan menentukan jenis kegiatan yang mungkin dikembangkan dan sebagai dasar menentukan intensitas bangunan terutama garis sempadan muka bangunan c. Analisa Guna Lahan Eksisting Analisa ini dilakukan dengan melihat fungsi tiap bangunan yang ada sehingga dapat dilihat dari peruntukkannya yang sebagai kawasan permukiman apakah telah berubah menjadi fungsi yang lain d. Analisis Bentuk dan Masa Bangunan Analisa bentuk dan masa bangunan eksisting dilakukan untuk meilhat tata letak bangunan dan Intensitas bangunan yang terdiri dari : 1. GSB (garis sempadan bangunan) 2. KDB (koefisien dasar bangunan) 3. KLB (Koefisien lantai bangunan) dan Ketinggian Bangunan 4. GSS (garis sempadan sungai) e. Analisa Sirkulasi dan Parkir Analisa ini dilakukan dengan melihat lebar jaringan jalan yang ada dan

25

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

sistem parkir yang diterapkan pada kawasan studi, selain itu akan dilihat juga pola pergerakan kendaraan pada kawasan studi dan moda apa saja yang melalui kawasan studi. f. Analisis dampak kegiatan pertambangan Dalam analisis ini yang pertama dilihat adalah proses pertambangan, hal ini akan berhubungan dengan kapasitas produksi pertambangan setiap harinya dan kapasitas produksi yang dibatasi oleh pemerintah setempat melalui dinas pertambangan dan energi (jika ada). Pada tahap ini akan dilihat lamanya proses produksi setiap hari karena akan berhubungan dengan pengaturan aktifitas nantinya. g. Cheklist Kriteria Setelah melihat intensitas dan dampak dari pertambangan pasir, maka akan ditentukan kriteria kawasan, yang akan dilakukan dalam analisis ini adalah membandingkan kriteria kawasan permukiman yang baik (ideal) dengan kriteria kawasan permukiman pada lokasi study. Sehingga hasil dari analisa ini merupakan masukan untuk konsep pengembangan nantinya HASIL DAN PEMBAHASAN Dengan menggunakan metoda analisa dan melihat kondisi elemen perancangan (Pamanfaatan Ruang, Bentuk dan Masa Bangunan serta Sirkulasi dan Parkir) yang ada pada

kawasan studi maka di dapat kondisi kawasan studi adalah sebagai berikut. 1. Regulasi Dari analisa kebijakan tata ruang yang ada untuk Kota Teluk Kuantan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Rencana umum tata ruang tidak sesuai karena tidak membahas pengembangan kawasan pariwisata sedangkan dalam RDTR pada kawasan sempadan sungai yang memiliki potensi wisata bisa dikembangkan menjadi kawasan waterfront city. b. Muncul kegiatan yang tidak di atur dalam rencana tata ruang yaitu perdagangan dan jasa serta pertambangan pasir sehingga fungsi kawaasn yang diharapkan dalam rencana tidak bisa diwujudkan dan perlu perubahan fungsi kawasan. 2. Fungsi Jalan Dengan melihat kondisi dan fungsi jalan eksisting dan membandingkan dengan standar kelas jalan serta dimensi jalan untuk tiap kelas jalan maka dapat diketaui : a. Kondisi jaringan jalan tidak sesuai dengan standar minimum jalan kolektor sekunder menurut UU No.13 Tahun 1980 dan PP No.26 Tahun 1985 Perlu dilakukan pelebaran jalan sebesar 5,5 meter agar jalan yang ada sesuai dengan lebar minimum jalan

26

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

kolektor sekunder agar dapat menampung kegiatan di masa yang akan datang.

3. Pola Pemanfaatan Ruang Dengan melihat fungsi dari tiap bangunan maka Koridor KH. Usmar Usman ini dapat dibagi menjadi tiga zona yang dapat dilihat pada table 1. 4. Sirkulasi dan Parkir a. Pola Sirkulasi Jumlah moda yang melewati jalan ini tidak terlalu banyak sehingga tidak terjadi kemacetan, namun dengan dibangunnya jembatan dan pengembangan kawasan sebagai kawasan wisata maka lebar jalan harus sesuai dengan fungsi jalan tersebut. b. Pola Parkir Pola pemanfaatan ruang dilakukan dengan menghitung kebutuhan parkir

minimum untuk kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum adapaun perhitungan luas kebutuan parkir ini didasari pertimbangan : 1. Perbandingan jumlah kendaraan yang masuk pada kawasan studi yaitu 40% kendaraan sedang dan 60% sepeda motor 2. Luas lahan efektif adalah luas lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum dikalikan dengan koefisien dasar bangunan yaitu 75% 3. Kebutuhan Ruang Parkir untuk satu unit Sepeda Motor adalah 1,5m² ( 0,75m x 2m) dan kebutuhan ruang parkir untuk satu unit mobil adalah 11,5 m² (2,3m x 5m) Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.

27

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

Tabel 1 Pembagian Zona Koridor KH. Usmar Usman Kota Teluk Kuantan
No Zona Fungsi Jumlah Bangunan (Unit) 27 5 3 35 10 5 5 15 2 6 Alasan Pembentukan Zona Merupakan kawasan dengan fungsi beragam, serta ada issue dikembangkan menjadi kawasan waterfront Merupakan kawasan dengan fungsi beragam, dan terdapat aktifitas penambangan, Merupakan kawasan dengan fungsi utama permukiman dan pertambangan Luas (ha) 1,51

1

Zona 1

Rumah Perdagangan Fasilitas Umum Rumah Perdagangan Fasilitas Umum Penambangan Pasir Rumah Perdagangan (aksesoris) Fasilitas Umum Penambangan Pasir
787 000

2

Zona 2

3.76

3

Zona 3

3,77

Sumber : Analisa
786 500 787 500

MAN

PETA POLA PEMANFAATAN RUANG KORIDOR KH USMAR USMAN
Gambar 4.2

Skala 1 : 5.000

ua nta n

0

1 cm 50 m

3 cm 150 m

6 cm 300 m

ga iB ata n

gK

Dusun Bungur Jaya

Legenda :
Batas Kawasan Studi Jalan Aspal Jala n Desa/ Semenisasi

Su n

9 942 000

9 942 000

Sungai Drainase/ Irigasi Batas Kawasan Permukima n Eksisting Campura n 1 (Zona 1) Campura n 2 (Zona 2) Penambanga n Pasir (Zona 3)

Desa Beringin
Desa Seberang Taluk
B engk el
Jal an Abd ulR auf

Zona 3

Bangunan

H ot el S i t na

Dusun Suka Maju

S D 00 5

K ebun

Ben

gkel

Dusun Lahan Mulia
K ebun K ebun Jala nA bdul Rauf

Zona 2
9 943 500
a De s Be r g n i i n l u Pu a o K ma ng a l a Pu g ma n u Ko De s s De a

a n Syar J al m a si i fQ
T ow er GS M

9 941 500

K ant or K e pa l D esa a

S w h a a
g n ta Ku t an an

9 943 000

g n Su

ai

Ba

so n

Musha

la
la h an

9 941 500

Sumber : Analisis 2010

M asj i Mu t aq i d n

Zona 1

9 942 500

M A N

n

t na

a u

ta n

Ba

i a

9 942 000

Kel. Pasar

a D es

Be r

g nn i i

k M u s n Du u S u a a j

r

9 941 500

K

l. e

Pa

sa

a a M i u u L Ds n a h n u l

r mt s n Du u K e a a

9 941 000 786 500 78 70 00 787 500 788 000 788 500

S

n u

a g

iB

t a

n a

g

u K

an

a tn

Su

ng

D

es a

S

eb

D usun B ung ur Ja ya

gK

r ea

ng

a T

lu k

ko

g

Syar an J al a i fQ m si

nc Re a an n ta ba m Je

Desa Sawah

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS BUNG HATTA PADANG 2010

786 500

787 000

787 500

Gambar 1. Pembagian Zona Koridor

28

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

Tabel 2 Kebutuhan Ruang Parkir Untuk berbagai aktifitas Koridor KH.Usmar Usman
Luas lantai efektif (m²) 6.500 Kebutuhan Ruang Parkir (m²) Motor (60%) 93 Mobil (60%) 474 Total Kebutuha n Ruang Parkir Minimum (m²) 567

No

Lokasi

Standar

Kebutuhan SRP

1

2

3

Ruang Terbuka (Rekreasi) pada Zona 1 Perdagangan dan jasa Zona 1 Zona 2 Fasilitas Umum Zona 1 Zona 2

103 SRP /5000 m²

103

3.000 7.088

3,5-7 SRP/ 100 m²

210 248

189 223

966 1.141

1.155 1.364

1.125 2.100

1,5-3,5 SRP/ 100 m²

79 74

71 66

362 338

433 404

Sumber : analisa

5.

Analisis Intensitas Bangunan dan Tata Masa Bangunan

a. Garis Sempadan Bangunan (GSB) Untuk kawasan studi rencana GSB yang terdapat dalam RDTR yaitu dua meter sesuai digunakan untuk kawasan permukiman saja karena : 1. Sebagai kawasan perumahan maka harus menyediakan ruang parkir sendiri 2. Kawasan Diperuntukkan Untuk KDB 50-75%, Jika KDB lebih dari dua meter maka KDB yang diharapkan tidak bisa dicapai. Dengan mempertimbangkan dua hal di atas maka kondisi GSB pada kawasan studi dapat dilihat pada table 3.

Tabel 3 Garis Sempadan Muka Bangunan Eksisting dan Rencana Koridor KH.Usmar Usman Kota Teluk Kuantan
Zona 1 2 3 Zona 1 Zona 2 Zona 3 GSB Eksisting M S B 2-6 1-3 1-5 2-10 4-8 1-4 8-30 1-7 115 GSB Rencana M S B 2 1,5 2 2 2 1,5 1,5 2 2

Sumber :Analisa Keterangan : M : Muka S : Samping B : Belakang

Melihat perkembangan kawasan maka GSB rencana tidak bisa diterapkan untuk kegiatan perdagangan dan jasa karena: 1) Kegiatan perdagangan dan

29

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

jasa harus menyediakan ruang parkir bagi pengunjung 2) Minimal panjang ruang parkir yang dibutuhkan untuk sebuah mobil penumpang adalah enam meter maka GSB untuk kegiatan perdagangan dan jasa minimal adalah enam meter. Dengan pertimbangan dua hal di atas maka dapat diketahui GSB untuk kegiatan diluar permukiman yang dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini. Tabel 4 Perbandingan Garis Sempadan Bangunan Kegiatan Perdagangan dan Jasa serta Fasilitas Umum
Kegiatan 1 Perdangan gan dan Jasa 2 Fasilitas Umum Sumber : Analisa Jumlah (Unit) 10 GSB Eksisting (m) 2-5 GSB Ideal (m) 6

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5. Koefisien Dasar Bangunan Kegiatan Perdagangan dan Jasa Serta Fasilitas umum dipengaruhi oleh luas kavling dan kebutuhan ruang parkir. Luas kawasan yang maksimal dapat di bangun untuk kegiatan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum adalah ≥75% saja sehingga KDB maksimum untuk kegiatan perdagangan dan jasa ini adalah ≥75% dari luas kavling. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tebel 6. Pada Tabel 6 terlihat bahwa kegiatan perdagangan dan jasa serta failitas umum yang ada sudah memiliki koefisien dasar bangunan yang sesuai dengan kondisi ideal, sehingga kawasan studi memang sesuai dikembangkan sebagai kawasan perdagangan dan jasa terutama untuk zona satu dan zona dua c. Koefisiem Lantai Bangunan dan Ketinggian Bangunan Untuk mengetahui Koefisienen Lantai Bangunan dan jumlah lantai bangunan yang sesuai untuk kawasan perencanaan perlu diketehui terlebih dahulu kepadatan kawasan studi, dalam rencana tata ruang kawasan studi termasuk dalam kepadatan rendah yang mana KLB Maksimumnya adalah tiga dan jumlah lantai maksimum juga tiga, dengan melihat kondisi bangunan maka

7

2-10

6

b. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Kawasan koridor KH usmar Usman merupaka Koridor yang melintasi kawasan permukiman penduduk tergolong dan tergolong jalan kolektor yang dalam tata ruang diperuntukkan untuk 50-75%. Dengan kedalaman rencana untuk panduan perancangan, maka yang menjadi acuan untuk rencana nantinya adalah arahan KDB berdasarkan kelas jalan

30

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

kawasan studi sudah sesuai dengan kondisi ideal (lihat Tabel 7). Dari analisa perbandingan pada tabel 7, diketahui bahwa kawasan studi masih memiliki nilai KLB di bawah batas maksimum yaitu 2.25 dengan jumlah lantai maksimum tiga lantai. Koefisien Lantai Bangunan akan mempengaruhi luas kawasan yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen bagi kegiatan perdagangan dan jasa dan pengunjung bagi fasilitas umum yang ada. Semakin tinggi nilai koefisien lantai bangunan maka akan semakin tinggi pula kebutuhan ruang parkir, Adapun Koefisien lantai bangunan ideal untuk berbagai kegiatan adalah sebagai berikut 1. Perdagangan adalah 0,75 (1,6 x KDB) dengan jumlah lantai dua. 2. Fasilitas Umum adalah 1,5 (3 x KDB) dengan jumlah lantai tiga Adapun perbandingan kondisi eksiting dengan kondisi ideal adalah seperti terlihat dalam tabel 8. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kegiatan perdagangan dan jasa memiliki Koefisien Lantai bangunan yang belum sesuai dengan kondisi ideal, hal ini dikarenaka belum adanya aturan yang jelas dalam menentukan intensitas minimum bangunan perdagangan dan jasa maupun fasilitas umum pada kawasan studi.

d. Garis Sempadan Sungai Untuk garis sempadan sungai akan digunakan garis sempadan sungai ideal menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 63/PRT/1993 karena dalam rencana tata ruang yang ada tidak membatasi garis sempadan yang bisa dibudidayakan dan garis sempadan yang menjadi kawan konservasi sesuai dengan PP no 11 tentang Ruang Terbuka hijau. Untuk mengetahui seberapa besar pemanfaatan kawasan sempadan sungai dapat dilihat pada tabel 9. e. Analisa Kegiatan Pertambangan Pasir Kegiatan pertambangan bahan galian C pada kawasan studi menghasilkan beberapa dampak terhadap lingkungan, baik pada proses produksi maupun pada proses distribusi berupa kebisingan, kekeruhan air sungai dan polusi udara, seperti dijelaskan pada tabel 10. f. Analisa Perbandingan Kriteria Analisa perbandingan kriteria ini merupakan analisa untuk membandingkan setiap zona yang ada apakah sudah sesuai sebagai kawasan permukiman atau belum, sehingga bisa diketahui penataan dan pengembangan masing-masing zona. Hasil dari analisis pada sub bab sebelumnya akan dibandingakan dengan kriteria kawasan permukiman

31

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

dalam SNI 03-1733-2004. Untuk lebih jelasnya dapat dilhat pada tabel 11. Tabel 5 Analisa Perbandingan KDB Eksisting, Rencana Koridor KH. Usmar Usman Kota Teluk Kuantan
Kategori Kawasan Kawasan permukiman di Sepanjang Jalan Fungsi Sekunder yang dekat dengan pusat kota Zona Zona 1 Zona 2 Zona 3 KDB Eksisting (%) 75-80 KDB Rencana (%) 50-75% Penilaian KDB eksisting tergolong sangat tinggi sehingga tidak sesuai dengan rencana tata ruang KDB eksisting tergolong tinggi hingga sangat tinggi sehingga tidak sesuai dengan rencana tata ruang 1. Sebagian besar KDB masih tergolong sedang dan rendah,sehingga sesuai dengan rencana tata ruang. 2. dengan masih banyak kawasan non terbangun pada kawsan ini maka bisa dikembangkanmenjadi kawasan permukiman.

60-80

50-75%

40-80

50-75%

Sumber : Hasil Analisis

Tabel 6 Perbandingan Koefisien Dasar Bangunan Kegiatan Perdagangan dan Jasa serta Fasilitas Umum Eksisting Koridor KH. USmar Usman Kota Teluk Kuantan
No 1 Kegiatan Perdangangan dan Jasa Fasilitas Umum Jumlah (Unit) 10 KDB Eksisting (m) 60-80 KDB Ideal (m) ≥75 Analisa Kegiatan perdagangan dan jasa perlu dilakukan penataan KDB kembali Faslitas umum yang ada perlu dilakukan penataan KDB kembali

2

7

60-80

≥75

Sumber : Analisa 2010

Tabel 7 Analisa Perbandingan KLB Eksisting dan Rencana

32

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

No 1 2 3

Zona Zona 1 Zona 2 Zona 3

Jumlah lantai max. Eksisting 2 2 1

Jumlah lantai max. Rencana 3 3 3

KLB Eksisting max. 1,5 1,6 0,8

KLB Rencana max. 2,25 2,25 2,25

Sumber : Analisa

Tabel 8 Perbandingan Koefisien Lantai Bangunan Kegiatan Perdagangan dan Jasa serta Fasilitas Umum Eksisting dan Kondisi Ideal
Kegiatan Perdangangan dan Jasa Jumlah (Unit) 10 KLB Eksisting (m) 0,6-1,6 Jumlah Lantai Eksisting Max 2 KLB Ideal (m) 0,75 Jumlah Lantai Ideal Max 2 Analisa Kegiatan perdagangan dan jasa perlu dilakukan penataan KDB kembali Fasilitas umum yang ada perlu dilakukan penataan KDB kembali

Fasilitas Umum Sumber : Analisa

7

0.8

1

1,5

3

Tabel 9 Analisa Garis Sempadan Sungai Koridor KH.Usmar Usman Kota Teluk Kuantan
No 1 Zona Zona Satu GSS Eksisting 0-15 GSS Rencana Jalan Koridor GSS Ideal 15 Kesimpulan Tidak Sesuai dengan rencana sehingga perlu dilakukan penataan ulang agar tidak terjadi penurunan kualitas lingkungan karena pemanfaatan kawasan sempadan sungai. Merupakan daerah hulu dan dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan pada daerah hilirnya. Sebagian kawasan tidak sesuai dengan garis sempadan rencana, tapi sesuai dengan kondisi ideal.

2 3

Zona Dua Zona Tiga

9-20 12-45

Jalan Koridor Jalan Koridor

15 15

Sumber : Hasil Analisa

33

No 1

Zona Zona Satu

2

Zona Dua

3

Zona Tiga

Tabel 10 Dampak Aktifitas Penambangan Pasir Tiap Zona Pada Koridor KH. Usmar Usman Dampak Proses Produksi Distribusi Tidak ada 1. Potensi Kemacetan pada jam sibuk 2. Polusi dari pasir yang berserakan Kebisingan 1. Potensi Kemacetan pada Kekeruhan jam sibuk Polusi udara dari pasir yang 2. Polusi dari pasir yang berterbangan berserakan Kebisingan 1. Potensi Kemacetan pada Kekeruhan jam sibuk Polusi udara dari pasir yang 2. Polusi dari pasir yang berterbangan berserakan Tabel 11 Analisa Perbandingan Kriteria Koridor KH. Usman Usmar Kota Teluk Kuantan

Sumber : Analisa 2010

No 1

Kriteria Regulasi

Indikator Sesuai dengan tata ruang

Zona I Belum sesuai karena kawasan sempadan dimanfaatkan untuk permukiman

2

Keamanan

Bukan Kawasan Lindung

Sebagaian besar kawasan sempadan sungai telah dimanfaatkan

3.

Kesehatan

bukan daerah yang mempunyai pencemaran udara di atas ambang batas, pencemaran air permukaan dan air tanah dalam

Tidak terjadi pencemaran udara maupun polusi suara

Zona II Belum sesuai karena kawasan sempadan dimanfaatkan untuk permukiman dan pertambangan pasir Kawasan sempadan dimanfaatkan untuk permukiman dan pertambangan pasir maupun aktifitas perdagangan Terjadi polusi suara

Zona III Belum sesuai karena kawasan sempadan dimanfaatkan untuk pertambangan pasir Kawasan sempadan dimanfaatkan untuk pertambangan pasir

Terjadi polusi suara

34

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012

No

Kriteria

Indikator maupun pencemaran udara dicapai dengan penghijauan, mempertahankan karakteristik topografi dan lingkungan yang ada, misalnya tidak meratakan bukit, mengurug seluruh rawa atau danau/ setu/ sungai/ kali dan sebagainya lahan yang jelas status kepemilikannya

Zona I

Zona II

Zona III

4

kompatibilitas

Karakterisitik sungai tidak berubah (masih alami)

Terjadi perubahan kondisi sungai yaitu kekeruhan dan permukaan yang semakin dalam

Terjadi perubhan kondisi sungai yaitu kekeruhan dan permukaan yang semakin dalam

5

Kejelasan Lahan

Status lahan adalah hak miliki tapi pada kawasan sempadan tidak diizinkan membangun Tidak memenuhi kriteria keamanan.

Kesimpulan

Status lahan adalah hak miliki tapi pada kawasan sempadan tidak diizinkan membangun Tidak memenuhi kriteria keamanan, kesehatan, kompatibilitas dan kejelasan lahan

Status lahan adalah hak miliki tapi pada kawasan sempadan tidak diizinkan membangun Tidak memenuhi kriteria keamanan, kesehatan, kompatibilitas dan kejelasan lahan

Sumber : Analisa 2010

Dari tabel analisa di atas dapat dilihat jika kriteria eksisting kawasan jika dibandingkaan dengan kriteria untuk kawasan permukiman ideal masih belum sesuai, terutama untuk zona dua yang merupakan kawasan campuran antara permukiman dan pertambangan dan zona tiga yang merupakan kawasan yang penggunaan lahannya didominasi untuk kegiatan pertambangan pasir.

6. Penyusunan Peta Zonasi (Zoning Map) Kawasan koridor KH. Usmar Usman Kota Teluk Kuantan ini dibagi menjadi tiga zona dan tiap zona akan dijadikan dua blok, hal ini dikarenakan setiap zona memiliki kawasan semapadan yang merupakan kawasan non terbangun sehingga pemanfaatan ruangnya akan berbeda.

35

786 500

787 000

787 500

MAN

BLOK III-1
III1 III2 OK OK BL BL

PETA PEMBAGIAN ZONA KORIDOR KH USMAR USMAN
Gambar

Skala 1 : 5.000

Ba ta

ng K

BLOK II-1
Dusun Bungur Jaya

ua nta n

0

1 cm 50 m

3 cm 150 m

6 cm 300 m

BLOK III-2
9 942 000

Legenda :
Bata s Kawa san Studi Bata s Blok Batas Ka wasan Permukiman E ksisting Jalan Aspal Jalan Desa/ Semenisasi Sungai Drainase/ Irigasi Bangunan

9 942 000

Desa Beringin

Su ng ai

BLOK I-2
Dusun Suka Maju

Zona 1

Desa Seberang Taluk

Zona 2 Zona 3

B engke l
H t l S nt a oe i
Jal an A bdul

Rau f

BLOK II-2
S D 00 5
Kebu n

OK BL

Dusun Lahan Mulia
Ke bun Keb un Jala n Abdu l Rauf

To w G M er S

BL

OK

II-2

Beng kel

II-1
Jal an asi ifQ Sya r m

9943 500

9 941 500

a D es n i Be r n gi

K u a P l u

n oma

g s P De a a ul u K o ma g n

s De a

9943 000
Su

g na

iB

t n aa

gK

a un

n a t

9 941 500

Sumber : Analisis 2010

9942 500

BL

i Ba

9942 000

Kel. Pasar

De s

n r i a Be

i gn

u u S k M j D s n u a a u

a i s n a a M D u u L h n u l

9941 500

K

e l.

a P

a sr

a u u K r a D s n e m t

9941 000 786 500 787000 787500 788000 788 500

S

n u

g

a

i

Ba

t

a

n

g

Ku

a

n

t

a

n

Su

ng a

D

s ea

OK

an

n at

1OK BL

2

g n

un D usun B gur J aya

Ku

a t

e S

be

ra n

gT

a lu

1-1

M A N

k

l a h

an

k

s oo

ng

Jal an asi ifQ Sya r m

R en ca na Je mb at an

Desa Sawah

BLOK I-2
786 500 787 500

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS BUNG HATTA PADANG 2010

Gambar 2. Pembagian Zona Koridor
Tabel 12 Pembagian Zona Koridor KH Usmar Usman Kota Teluk Kuantan Zona Blok Luas Defenisi (m²) Komersil Blok 1-1 8.458 Kawasan dengan fungsi utama perdagangan (I) dan jasa yang dijadikan sebagai kawasan campuran antara permukiman dan perdagangan Blok I-2 6.597 Kawasan dengan fungsi utama perdagangan dan jasa yang dijadikan sebagai kawasan ruang terbuka publik Komersial Blok II-1 14.977 Merupakan kawasan dengan fungsi utama (II) komersil dijadikan sebagai kawasan campuran antara perdagangan dan jasa serta pemukiman Blok II-2 22.655 Merupakan kawasan dengan fungsi utama sebagai kawasan non terbangun yang dijadikan sebagai kawasan tambang pasir dan batu PermuBlok III-1 12.063 Merupakan kawasan dengan fungsi sebagai kiman (III) kawasan pemukiman Blok III-2 25.673 Merupakan kawasan dengan fungsi sebagai non terbangun yang kawasan pertambangan pasir dan batu

1

2

3

Sumber : Analisa

36

7. Peraturan Zonasi (Zoning Text) Dalam zoning text ini jenis aturan secara garis besar akan dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Aturan Umum, yaitu aturan yang berlaku sama untuk semua bangunan dalam satu zona maupun sub zona 2. Aturan Khusus, yaitu aturan diterapkan untuk kegiatan yang termasuk dalam klasifikasi bersyarat 8. Ketentuan Teknis Zonasi Peruntukan zona dan blok yang ada terdapat kesamaan fungsi untuk beberapa

blok, adapun blok yang memiliki kesamaan tersebut adalah : 1. Blok I-1 dan Blok II-1 yaitu sebagai kawasan komersil 2. Blok II-2 dan III-2 yaitu sebagai kawasan non terbangun yang berfungsi sebagai kawasan penambangan pasir Selain itu terdapat dua blok kawasan dengan fungsi yang berbeda yaitu : 1. Blok I-2 yang berfungsi sebagai ruang terbuka Publik 2. Blok III-1 yang berfungsi sebagai kawasan permukiman

Tabel 13 Ketentuan Teknis Zonasi Koridor KH. Usmar Usman
Blok No 1 I-2 KDB (%) Intensitas KLB max Jumlah Lantai Tata Masa Bangunan GSB GSB GSB Muka Samping Belakang (m) (m) (m) Peraturan Tambahan 1. Parkir on street dilarang 2. Perkerasan kawasan ruang terbuka publik dari Pavling Blok 3. Kawasan sempadan akan dibanguan tanggul yang bisa dimanfaatakan untuk areal menonton festival pacu jalur dan memancing. 4. sejauh 5,5 meter dari tepi jalan merupakan lahan cadangan untuk pengembangan jaringan jalan 1. Garis sempadan muka bangunan dijadikan kawasan hijau dengan menanam vegetasi berdaun lebat (Sebagai sabuk hijau)

2

II - 1 Permukiman

50-75

Perdagangan dan jasa

≥75

2,25 (3 x KDB) 0,75

3

2

1.5

2

2

6

1.5

2

37

Jurnal Skala, Vol. 2, No. 4, April 2012 Blok No Fasilitas Umum KDB (%) ≥75 Intensitas KLB max 1,5 Jumlah Lantai 3 Tata Masa Bangunan GSB GSB GSB Muka Samping Belakang (m) (m) (m) 6 1.5 2

Peraturan Tambahan 2. Parkir on street dilarang 3. Kelengkapan jalan yaitu drainase dan trotoar tetap dipertahankan 1. Parkir on street dilarang 2. Vegetasi yang terdapat pada 15m dari tepi sungai tetap dijaga (sebagai buffer) 3. Ruang terbuka yang tidak dimanfaatkan pada kawasan sempadan dijadikan tempat untuk sarana olah raga dan pemasangan papan reklame 4. sejauh 5,5 meter dari tepi jalan merupakan lahan cadangan untuk pengembangan jaringan jalan
Zoning MAP ZONA II-2a

3

II-2

-

-

-

-

-

-

Ke bu n

TB-3

Skala 1 : 1.000
10m 30m Sumber : Rencana 2010 45m

Legenda :
Batas Kawasan Studi Batas lahan cadangan Pengembangan Jalan Batas Kawasan Tambang Eksisting Jalan Aspal Jalan Desa/ Semenisasi

786 500

787 000

787 500

Sungai Kawasan Tambang (TB-3)

M AN

an

D usun Bun gur Jaya

9 942 000

Sun

gai

Ba

a t ng

Open Space (RTH) Kawasan Perlindungan Setempat (KL-2)

i i De s a Be rn g n

aj u D sunS uka M u

ul a usu nLa han M i D

994 1500

Ke . Pa a l s r

Kua nt

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DN PERENCANAAN INIVERSI TAS BUNG HATTA PADANG 2010

e R a c n t a n m e b a n J

RTH KL-2b
Ja lan Ke bu n Ab du lR Ke bu n au f

Kawasan Tambang (TB-3)
1. Penggunaan Ruang Kawasan Sempadan Sungai yang diamnfaatkan sebagai kawasan budidaya untuk penumpukkan bahan tambang galian c, yaitu pasir dan batu. Jenis Penggunaan Ruang Ruang terbuka untuk penumpukkan pasir dan tambang Persyaratan Penggunaan Ruang  Parkir on street dilarang pada siang hari  Kegiatan pengangkutan pasir diwajibkan memiliki ruang bongkar muat sendiri  Kegiatan Pertambangan Pasir wajib menyediakan dinding pembatas dengan jarak minimal dinding sama dengan garis sempadan muka bangunan  Kegiatan Pertambangan boleh dilakukan pukul 08:00-12:00 dan dilanjutkan 13:00 - 17:00 agar tidak terjadi kemacetan pada saat proses distribusi  Luas Areal Penambangan eksisting tidak boleh diperluas  Jika terjadi penumpukkan pasir melebihi daya tampung kawasan tambang maka penimbunan pasir boleh dilakukan di zona III-2

Open Space (RTH)
1. Penggunaan Ruang Ruang terbuka sebagai kawasan sempadan budidaya yang berfungsi untuk membatassi penggunaan lahan untuk pertambagan. Jenis Penggunaan Ruang Kawasan non terbangun yang berfungsi untuk :  papan penyuluhan dan peringatan, serta rambu-rambu pekerjaan;  pemasangan rentangan kabel listrik, kabel telpon, dan pipa air minum  Parkir kendaraan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. Persyaratan Penggunaan Ruang  Parkir on street dilarang  Pemasangan Rambu maupun papan reklame minimal 5,5 meter dari jalan atau sama dengan jarak garis sempadan bangunan.

Kawasan Pelindung Setempat (KL-2)
1. Penggunaan Ruang RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan dengan fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. Persyaratan Penggunaan Ruang  Merupakan kawasan non terbangun dengan lebar minimal 15 meter dari tepi sungai  Mempertahnakn Vegetasi yang telah ada

2.

2.

2.

3.

3.

TB-3

RTH
Aturan Umum
1.

KL-2b
2.

Sirkulasi dan Parkir  Kendaraan roda dua hingga truck sedang boleh melewati zona ini  Parkir pada badan jalan tidak boleh dilakukan. Kelengkapan Jalan  Garis Sempadan bangunan yang tidak dimanfaatkan dijadikan lahan cadangan untuk pelebaran jalan ataupun pembangunan padestrian way.

Contoh Pengaturan Zoning Regulation Pada Salah Satu Kawasan (Zona II 2-a)

38

KESIMPULAN Pengaturan zonasi (zoning regulation) merupakan salah satu produk penaatan ruang dalam rangka mengatur fungsi aktifitas yang akan dikembangkan dan yang diperkirakan akan berkembang. Keberhasilan pengaturan zonasi ruang sangat tergantung pada karakteristik

kawasan dan karakteristik aktifitas yang berkembang. Pada prinsipnya, pengaturan zonasi merupakan dasar dalam mengimplementasikan poduk tata ruang lainnya seperti Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) serta Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

DAFTAR PUSTAKA Departemen PU.2006.Konsep Dasar Panduan Penyusunan Peraturan Zonasi Kawasan Perkotaan. Dirjen Penataan Ruang Departemen PU : Jakarta. Departemen PU. 2007. Pedoman Rencana Detail Tata Ruang Kota. Dirjen Penataan Ruang Departemen PU : Jakarta. Sabari Yunus. Hadi,. 2001. Struktur Tata Ruang Kota, Jakarta : Pustaka Pelajar Shirvani, Hamid. 1985. The Urban Design Process. New York : Van Nostrand Reinhold. Rencana Detail Tata Ruang Kota Teluk Kuantan Tahun 2008-2028 Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2007 .

39

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->