Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN HASIL KEGIATAN TUTORIAL BLOK 2.5 Aduh... Tersiksa Rasanya...

Kelompok 5 : Rizky Junitasari Rizky Indriyani Dian Ambar Kusuma Ika Indar Wati Masmur Kristi Pamuji Nita Herdianti Trilis Widianingrum Suratun Almaidah Adistya A. Kusumaningtyas Mariana Ulfa Sonia Mahrudin Luluk Azizah 13818 13819 13821 13824 13830 13833 13989 13994 13997 14002 14009 14010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

AGENDA TUTORIAL Pertemuan I Hari Tanggal Agenda Kehadiran Tidak Hadir Pertemuan II Hari Tanggal Agenda Kehadiran Tidak Hadir Ketua Sekretaris Scriber Anggota

: Selasa : 3 April 2012 : Step 1 5 : 12 orang :-

: Senin : 9 April 2012 : Step 7 : 12 orang :-

: 13821 Dian Ambar Kusuma : 13818 Rizky Junitasari : 13819 Rizky Indriyani : Ika Indar Wati Masmur Kristi Pamuji Nita Herdianti Trilis Widianingrum Suratun Almaidah Adistya A. Kusumaningtyas Mariana Ulfa Sonia Mahrudin Luluk Azizah 13824 13830 13833 13989 13994 13997 14002 14009 14010

Skenario : Nn. Ani 21 tahun datang ke RS karena mengalami flu berat selama 3 hari, kepala terasa berat, badan terasa meriang, bersin-bersin, hidung tersumbat sehingga penciumannya terganggu, tenggorokan kering dan sakit menelan. Semua makanan yang dimakan terasa pahit dan telingan terasa gatal. Nn. Ani merasa mengalami gangguan fungsi alat indera. Ners Manda menyarankan agar Nn. Ani istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi dan minum obat secara teratur. Step 1 (istilah sulit) : Step 2 (mengajukan pertanyaan) : 1. Apa saja macam-macam gangguan alat indera? 2. Apa yang menyebabkan gangguan alat indera? 3. Apa gangguan alat indera yang umum diderita? 4. Jika ada salah satu alat indera yang mengalami gangguan, apakah akan menimbulkan komplikasi? 5. Bagaimana pencegahan gangguan alat indera? 6. Bagaimana pengobatan farmako dan nonfarmako dari gangguan alat indera? 7. Siapa saja yang rentan terhadap gangguan alat indera? 8. Bagaimana mekanisme flu berat dapat menimbulkan gejala-gejala seperti pada kasus? 9. Apakah tes untuk penderita gangguan alat indera? 10. Apa saja diagnosa yang dapat muncul pada gangguan alat indera? 11. Bagaimana pengkajian untuk pemeriksaan gangguan alat indera? 12. Apakah makanan yang bergizi untuk kesehatan alat indera? 13. Bagaimana tanda dan gejala gangguan alat indera? 14. Apa saja komplikasi yang bisa timbul saat terjadi gangguan alat indera? 15. Apa saja promkes yang bisa dilakukan pada kelompok rentan gangguan alat indera? Step 3 (brainstorming) : 1. Mata : miopi, hipermetropi, astikmatisme, juling, katarak, buta warna, konjungtivitis, rabun senja, presbiopi, glaukoma (mata menonjol keluar karena adanya cairan yang berlebih dibelakang lensa mata), silindris (mata tidak bisa fokus), keratomalasi (kekurangan vitamin A yang sangat parah). Telinga : tuli syaraf, tuli konduktif, tuli campuran, otitis (radang di bagian telinga tengah, diakibatkan virus/bakteri masuk dari hidung). Hidung : polip, saat flu tidak bisa membau (conca mengalami edema), anosmia (tidak bisa membau), hiposmia (penurunan sensitifitas untuk membau), diposmia (semua dirasa bau). Lidah : sariawan. Kulit : dermatitis atopi. 2. Juling kelemahan pada otot mata (musculus recto medial dan lateral) Bintitan ada sumbatan pada kelenjar minyak dibawah bulu mata. Buta senja kekurangan vitamin A. Glaukoma komplikasi kebutaan jika menghimpit retina.

3.

4. 5.

6.

7.

8.

9.

Gangguan-gangguan alat indera bisa terjadi juga karena faktor genetik dan kecelakaan. Miopi lensa terlalu cekung sehingga bayangan jatuh di depan retina. Hipermetropi lensa terlalu cembung sehingga bayangan jatuh di belakang retina. Juga ada dimana keadaan bayangan jatuh pada bintik buta (blank spot) sehingga penderita tidak dapat melihat. Presbiopi terjadi pada lansia, karena adanya penurunan akomodasi mata. Penuaan juga berakibat pada penurunan fungsi pendengaran. Kemudian flu, berhubungan dengan fungsi indera pembau dan pengecap. Penghidung+pengecap dibawahi oleh nervus olvaktusius dan nervus trigenimus yang saling berjalan beriringan. Mata : membaca pada jarak +- 30 cm, makan makanan yang kaya vitamin A. Telinga : dibersihkan rutin tapi jangan terlalu kering, jangan mendengarkan suara terlalu keras. Lidah : hindari makan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Kulit : menggunakan lotion. Farmako : operasi pembedahan, cangkok organ, makan makanan yang mengandung vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Nonfarmako : minum air hangat, memakai kacamata yang sesuai, , untuk gangguan pendengaran bisa menggunakan alat bantu pendengaran. Yang berisiko mengalami gangguan alat indera : Pekerja dalam kebisingan gangguan telinga. Beradaptasi dengan lingkungan yang ekstreem gangguan kulit (peraba). Usia lansia dan bayi, balita. Menderita sakit atau sedang tidak sehat pasien DM biasanya mengalami gangguan mata (rabun). Rentan gangguan mata jika tidak membaca di ruangan terang. Nutrisi kekurangan vitamin A. Ini berkaitan juga dengan faktor ekonomi. Mekanisme flu berat dapat menimbulkan gejala-gejala seperti pada kasus : - Hidung berhubungan dengan telinga dan mulut. Maka jika terdapat masalah pada hidung (hidung tersumbat) akan mengakibatkan lidah jadi berkurang kemampuannya untuk merasakan rasa, juga akan mengakibatkan telinga menjadi gatal dan tenggorokanpun kering dan sakit untuk menelan. - Tonsil palatina membengkak, merupakan salah satu upaya agar bakteri tidak masuk, tapi akan menimbulkan sakit saat menelan. - Kalau orang sedang flu biasanya akan pilek, telinga bisa kurang sensitif itu adalah salah satu akibat dari cairan pilek yang ada pada tuba auditiva. - Biasanya terjadi peningkatan suhu tubuh, sahingga menjadi salah satu alarm dari adanya infeksi. Tes untuk penderita gangguan alat indera : - Mendengarkan detak jarum jam, normalnya akan tidak terdengar dalam jarak lebih dari 30 cm. - Test gelombang suara (desible).

- Untuk periksa mata bisa dengan menggunakan poster E. - Buta warna : dengan bagan warna. - Membaca tulisan dengan huruf yang kecil dalam jarak yang berbeda. - Test mata elektronik. - Percobaan garputala (gangguan pendengaran) - Sensitifitas kulit : menusukkan jarum pentul ke kulit. 10. Dx : - Nyeri berhubungan dengan glaukoma. - Resiko injury berhubungan dengan miopi, hipermetropi. - Nutrisi berhubungan dengan tidak mampu makan makanan mengandung vitamin yang cukup untuk kebutuhan tubuh. - Hipertermi berhubungan dengan radang pendengaran. - Komunikasi verbal berkurang. - Konjungtivitis - Kerusakan integritas kulit. - Kurang pengetahuan - Ineffective airway cleaner - Ineffective breathing pathway 11. Kaji : - TTV - Riwayat kesehatan keluarga, berhubungan dengan penyakit genetik. - Obat yang baru saja dikonsumsi. - Test sebelumnya dan bagaimana hasilnya. - Riwayat sakit terdahulu. 12. Mata : vitamin A (wortel,pepaya), mencegah makan makanan pencetus diabetes melitus. Kulit : vitamin E (kacang-kacanga, biji-bijian) Secara keseluruhan : vitamin C, hindari makanan pencetus alergi, makan makanan yang mengandung asam folat yang tinggi saat hamil sehingga organ-organ indera janin berkembang secara maksimal. 13. Rabun jauh/dekat : tidak dapat melihat benda dengan jelas pada jarak yang jauh/dekat. Untuk gangguan telinga : mendengar suara mendenging, otitis media (mengeluarkan nanah dan cairan kuning), dan terasa nyeri. Kulit : kurang sensitif. Pada mata : merah, nyeri. Secara umum biasanya terasa gatal dan mengeluarjkan cairan tertentu. 14. (belum terjawab pada step 3) 15. Pemberian vitamin A, vitamin C. Sesuai pada umur si penerima. Mengajarkan pola hidup sehat. Memberitahu tentang tanda dan gejala yang spesifik tentang gangguan alat indera. Deteksi dini Memberi arahan kepada orang yang perpergian ke lingkungan yang ekstreem.

Step 4 (main mapping)


Orang yang rentan Pencegahan Promkes Sasaran Metode Macam Gangguan Alat Indera ASKEP

Telinga

Mata

Kulit

Hidung

Lidah

Faktor Penyebab

Penanganan

Step 5 (Learning Objektive) No : 1, 2, 6, 9, 10, 14, 15 Step 6 (Pencarian Literature)

Step 7 (Menjawab LO dengan Literature) 1. Macam-macam gangguan alat indera, beserta tanda dan gejala : Mata : - Astigmatisma : suatu kondisi dimana kornea memiliki kelengkungan yang abnormal, sehingga menyebabkan gangguan penglihatan. Kornea yang normal berbentuk bulat tetapi pada astigmatisma kornea berbentuk oval, sehingga menyebabkan ketidakfokusan pada cahaya yang masuk ke mata. Umum diderita dan sering terjadi bersamaan dengan miopia (rabun jauh) atau hiperopia (rabun dekat). - Radang kelopak mata (Blefaritis) : kondisi inflamasi kronik pada kelopak mata. Kondisi ini tidak menular. Faktor resiko diantaranya ketombe, kulit kering, jerawat, diabetes atau kurang bersih. - Katarak : kondisi dimana lensa mata yang seharusnya bersih menjadi keruh, sehingga menghalangi cukupnya cahaya memasuki mata dan mengganggu penglihatan. - Korioretinopati serosa sentralis (CSCR) : kondisi yang mempengaruhi bagian tengah retina sensitif cahaya pada mata. Daerah tengah ini, dikenal sebagai makula, paling peka terhadap cahaya. CSCR terjadi katika lapisan-lapisan retina terpisah satu dari yang lainnya karena adanya kumpulan cairan diantara lapisan tersebut, seperti pada lecet yang melepuh. Ini dapat menyebabkan kerusakan penglihatan sementara atau permanen. - Miopi kanak-kanak : bentuk rabun jauh (miopia)yang mulai dan berkembang semasa kana-kanan. Anak yang menderita miopia mungkin mengeluh kesulitan untuk melihat jauh, misalnya nomer urut bis yang datang, papan tulis di kelas atau televisi. Kadang mereka mungkin memiringkan atau memutar kepala, atau memicingkan mata untuk melihat lebih baik. Kondisi ini dapat mudah diperbaiki dengan pemakaian kacamata. Namun, kerena miopia biasanya meningkat kurang lebih 1,00D setiap tahun hingga anak mencapai usia remaja, penglihatan mereka perlu dicek sedikitnya sekali setahun, karena ukuran kacamata mungkin perlu diubah. - Infeksi kornea : peradangan pada kornea. - Diabetes retinopati : gangguan pembuluh darah di retina pada pasien yang mengidap diabetes melitus. - Diplopia : gejala dimana pasien melihat dua tampilan dari satu objek. Hal ini dapat terjadi ketika satu mata ditutup (diplopia monokuler), atau hanya ketika kedua mata terbuka (diplopia binokuler). - Enteropion : kondisi dimana pinggiran kelopak mata melipat kedalam mata. Sebagai akibatnya, bulu mata ter menerus begesekan dengan kornea dan konjungtiva, kadang merusak struktur bagian tersebut. Pada umumnya terjadi pada kelopak mata bagian bawah. - Epiblefaron : kondisi dimana bulu mata melipat kedalam meskipun posisi mata normal. - Floaters : bintik seperti lalat yang berterbangan dalam daerah pandangan, sebagi suatu ilusi cahaya terang atau kilat, terlihat jelas ketika berada di luar saat

matahari cerah atau melihat pada latar belakang putih. Sedangakan flashes : mungkin terlihat sesekali dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Glaukoma : penyakit mata dimana tekanan cairan bola mata menjadi terlalu tinggi, sehingga merusak serat lembut saraf optik yang membawa sinyal penglihatan ke otak.kerusakan ini tidak dapat disembuhkan dan dapat menyebabkan kebutaan pada tahapan yang parah. Hiperopia (rabum dekat) : kondisi dimana seseorang dapat melihat jarak jauh tetapi bermasalah ketika melihat jarak dekat. Optik neuropati iskemik : kondisi dimana asupan darah ke saraf optik bermasalah, mengakibatkan hilangnaya penglihatan. Merupakan penyebab utama kebutaan atau cacat penglihatan parah diantara populasi usia menengah dan manula. Terkait dengan faktor-faktor resiko diabetes, tekanan darah tinggi, kelosterol tinggi atau kebiasaan merokok. Ambliopia (lazy eye) : kemampuan pengliahtan yang buruk pada salah satu ataupun kedua mata yang disebabkan oleh cacat pada perkembangan penglihatan normal semasa kanak-kanak dapat menyebabkan kondisi seumur hidup. Miopi : kondisi dimana seseorang dapat melihat jarak dekat tetapi bermasalah ketika melihat jarak jauh. Inflamasi okuler : inflamasi atau peradangan pada uvea, lapisan tengah mata. Vitreoretinoterapi proliferatif : terjadi ketika luka terbentuk di bawah lapisan atau pad retina setelah pelepasan retina, mencegah retina untuk menempel pada posisi semula. Emetropia : cahaya sejajar dari objek jauh difokuskan di retina pada keadaan otot selaris relaksasi total. Emetropia dapat melihat semua objek jauh secara jelas dengan otot siliaris yang relaksasi, tapi untuk melihat objek dekat, otot silaris haris berkontraksi agar mata dapat berakomodasi dengan baik. Rabun senja : penyakit mata pada orang dengan defisiensi berat vitamin A, maka jumlah pembentukan rhodopsin berkurang. Stabismus (juling/crosseyedness) : kurangnya fusi dari mata dalam 1 atau lebih koordinasi. Tipenya ada 4 : strabismus horizontal, s.vertika, s.forsional, kombinasi dari 2 atau 3 tipe. Pterygium : pertumbuhan jaringan fibrovaskuler bebentuk segitiga yang tumbuh dari arah kanjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Kasus pterygium banyak terjadi pada daerah beriklim panas dan kering. Daerah yang berdebu dan kering, juga daerah dekat ekuator. Faktor resikonya adalah terpapar radiasi ultraviolet, yang kemudian akan diabsorbsi kornea dan kanjungtiva menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel; - faktor genetik, kemungkinan diturunkan autosom dominan; - faktor lain seperti, iritasi kronik dan inflamsi terjadi pada area limbus atau perifer kornea, menurut Wong juga ada yang menunjukkan adanya pterygium angiogenesis dan penggunaan pharmacotheraphy antiangiogenesis sebagai terapinya, penyebab lainnya seperti debu, kelembaban yang rendah dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu, dry eye dan virus papiloma juga. Pterygium dibagi menjadi 2 tipe, yaitu ;

o Progresif pterygium : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di depan kepala pterygium (di sebut cap pterygium). o Regresif pterygium : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi membentuk membran tetapi tidak pernah hilang. Pada fase awal pterygium tanpa gejala, hanya keluhan kosmetik. Gangguan terjadi ketika pterygium mencapai daerah pupil atau menyebabkan astigatisme karena pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi. Kadang terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan mata. Pebagian lain pterygium : a. Tipe I : meluas kurang 2 mm dari kornea. Stokers line atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterygium. Lesi sering asimptomatis meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Pasien dengan pemakaian lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat. b. Tipe II : menutupi kornea sampai 4 mm, bisa primer atau rekuren setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisma. c. Tipe III : mengenai kornea lebih 4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi yang luas terutama yang rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke fornik dan biasanya gangguan pergerakan bola mata. Pterygium dapat dibagi menjadi 4 derajat: 1. Derajat 1 : jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea. 2. Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih 2 mm melewati kornea. 3. Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 34 mm) 4. Derajat 4 : pertumbuhan pterygium melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan Lidah : - Luka : luka berat adalah hal yang paling sering menyebabkan ketidaknyamanan lidah. Lidah mempunyai banyak ujung syaraf untuk rasa sakit dan peraba dan lebih peka terhadap rasa sakit dibandingkan kebanyakan bagian lain pada tubuh. Lidah sering tiba-tiba tergigit tetapi cepat sembuh. Gigi yang tajam atau rusak bisa sangat merusak jaringan yang mudah rusak tersebut. - Berbulu : pertumbuhan terlalu cepat dari proyeksi normal di atas lidah (vili) bisa membuat lidah tampak bebulu. Lidah tersebut bisa juga tampak berbulu setelah demam, setelah pengobatan antibiotik, atau ketika pencuci mulut peroxide digunakan terlalu sering. Bulu ini pada ujung lidah tidak perlu dibingungkan dengan leukoplakia berbulu. Leukoplakia berbulu terbentuk di sisi lidah dan merupakan karakteristik AIDS. - Perubahan warna : vili lidah bisa menjadi berubah warna jika seseorang merokok atau mengunyah tembakau, makan makanan tertentu, ataumemiliki bakteri bewarna yang berkembang pada lidah. Ujung lidah bisa terlihat bewarna hitam jika seseorang menggunakan sediaan bismuth untuk gangguan perut.

Penyikatan lidah dengan sikat gigi atau kikisan dengan pengikis lidah bisa menghilangkan beberapa perubahan warna. Anemia pernicious, yang disebabkan oleh kekurangan zat besi bisa membuat lidah terlihat pucat dan lembut. - Luka dan benjolan : luka pada lidah bisa disebabkan karena reaksi alergi, infeksi virus herpes simplex mulut, luka sariawan, tuberculosis, infeksi bakteri, atau sifilis tahap awal, juga bisa karena gangguan sistem kekebalan tubuh. Beda dengan benjolan, mungkin akan menjadi tanda bahaya jika menjadi salah satu tanda dari kanker mulut. Yaitu jika terdapat luka atau bengkak (menjadi keras) pada lidah tetapi tidak merasakan sakit, kemungkinan tanda kanker dan harus diteliti oleh dokter atau dentist. - Rasa tidak nyaman : lidah tidak nyaman bisa dihasilkan dari iritasi oleh makanan tertentu, khususnya yang asam (misal nanas) atau rasa tertentu di dalam pasta gigi, pencuci mulut, permen atau permen karet. Beberapa obat-obatan juga dapat menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada lidah. - Oral candidosis : lidak akan tampak tertutup lapisan putih yang dapat dikerok. Ini disebabkan oleh jamur candida albicans. - Atropic glossitis : penyakit ini juga sering ditemukan. Lidah akan terlihat licin dan mengkilat baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian kecil. Penyebab yang paling sering biasanya adalah kekurangan zat besi. Jadi banyak didapatkan pada penderita anemia. - Geografic tongue : lidah seperti peta, berpulau-pulau. Baik banyak maupun sedikit. Pulau itu bewarna merah dan lebih licin dan bila parah akan dikelilingi pita putih tebal. - Fissured tongue : lidah akan terlihat pecah-pecah. Kadang garis hanya satu ditengah, kadang juga bercabang-cabang. - Glossophyrosis : kelainan ini berupa keluhan pada lidah dimana lidah terasa sakit dan panas dan terbakar tetapi tidak ditemukan gejala apapun dalam pemeriksaan. Hal ini kebanyakan karena psikosomatis dibandingkan dengan kelainan pada syaraf. - Burning mouth syndrome : (disebut juga oral dysesthesia) terjadi sangat sering pada wanita setelah menopause. Bagian yang paling sering terkena adalah lidah. Rasa terbakar menyakitkan bisa mempengaruhi seluruh mulut (terutama lidah, bibir dan atap mulut (palatum)) atau hanya lidah. Telinga : - Tuli : tuli saraf karena kerusakan koklea / nervus auditorius. Tuli konduksi kerena kerusakan mekanisme untuk menjalarkan suara ke dalam koklea. Derajat ketulian (ISO) jika melebihi ambang dengar antara : a. 0 - <25 dB (normal) b. 26 40 dB (tuli ringan) c. 41 60 dB (tuli sedang) d. 61 90 dB (tuli berat) e. >90 (tuli sangat berat)

Radang telinga : bisa terjadi baik diluar maupun tengah bagian telinga. Di luar karena bakteri, jamur dan virus. Sedangkan di tengah karena bakteri dan virus contohnya influenza dari rongga mulut. - Bising : Bising yang mengganggu (irritating noise) intensitas yang tidak terlal keras (mendengkur) Bising yang menutupi (masking noise) bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung membahayakan kesehatan karena terikan/isyarat tanda banyak tenggelam dalam bising suara lain. Bising yang menular (damaging/injurious noise) bunyi yang intensitasnya melampaui NAB. Akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran. - Tinitus : gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar bunyi tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Keluhan ini bisa berupa bunyi mendengung, mendenging, menderu atau mendesis. Biasanya di derita oleh pekerja di tempat-tempat bising, seperti ahli mesin, para pekerja industri, di lapangan terbang dll. Pada tinitus rendah akan terdengar bunyi bergemuruh. Biasanya tinitus jenis ini diderita karena adanya gangguan konduktif. Seperti sumbatan kotoran telinga (serumen), tumor, radang telinga tengah dan otosklerosis. Jika disertai radang, tinitus akan berasa berdenyut (pulsasi). Pada tinitus nada tinggi akan terdengar suara berdenging. Hidung : - Mimisan : keadaan perdarahan dari hidung yang kelur melalui lubang hidung. - Anosmia : kehilangan kemampuan untuk membau karena cidera atau infeksi di dasar kepala, keracuanan timbal, merokok, tumor otak bagian depan. - Hiposmia : daya penghidung berkurang. - Parosmia : sensasi penghidung berkurang. - Kakosmia : halusinasi bau. - Rhinitis alergik : sistem imun bereaksi berlebihan terhadap partikel yang ada diudara yang dihirup. - Polip hidung : masa yang lunak-putih/kebiruan dalam rongga hidung. Bertangkai, tersusun seperti anggur, umumnya multiple dan bilateral. Mengakibatkan sumbatan pada hidung. Pembengkakan mukosa hidung yang banyak cairan intraseluler terdorong ke rongga hidung oleh gaya berat. Dapat timbul dari tiap mukosa hidung/sinus paranasal. Polip dari sinus maksila dapat keluar melalui ostium sinus maksilaris ke rongga hidung. Dapat membesar ke konka dan nasofaring disebut polip koanal/antrokoanal. Banyak terjadi pada dewasa. - Corpus alienum : benda asing dalam rongga hidung, umunya pada anak-anak. - Rhinolit : suatu masa calcareous di hidung orang dewasa akibat endapan garam kalsium/megnesium dari sekret hidung. Kulit : - Kutu air / kaki atlit : infeksi jamur pada kulit karena jamur parasit.

Kusta / lepra : infeksi kronis oleh mycobacterium leprae. Lesi pada kulit yang bisa menyebabkan kerusakan saraf anggota gerak. Panu : disebabkan jamur malassezia furfur. Barcak dan gatal pada kulit. Jerawat/acne : disebabkan leh pertumbuhan kotoran dan sel kulit mati yang mengakibatkan folikel dan pertumbuhan sebum terhambat. Komedo : pori-pori kulit tersumbat. Sumbata lemak yang asalnya dari produksi lemak tubuh. Berupa gumpalan massa/sebum yang tersumbat di dalam saluran pilosebaseus. Ada 2 macam komedo : a. Komedo terbuka (black head) Tanda : gumpalan sebum terlihat seperti titik-titik hitam di permukaan kulit, permukaan tidak tertutup oleh epitel kulit, berhubungan langsung dengan udara di luar sehingga terjadi oksidasi dan pigmentasi. b. Komedo tertutup (white head) Tanda : massa sebum terlihat seperti tonjolan-tonjolan putih kekuningkuningan di bawah permukaan kulit, permukaannya tertutup oleh epitel kulit, tidak berhubungan langsung dengan udara luar. Tumbuhan pada kulit (tumor) : a. Siringoma/siringokistoma : tumbuhan jinak yang terjadi karena pelebaran saluran kelenjar keringat, sering dijumpai pada wanita usia dewasa di sekitar mata mungkin meluas di sekitar dahi, pipi, dada dan perut. Tanda : bintikbintik kecil dengan diameter 2-3 mm dan mengkilat. b. Kutil/verucca vulgaris : sejenis tumbuhan epidermal yang disebabkan virus dan dapat menular, banyak dijumpai pada anak-anak terutama jari-jari tangan, lengan, tungkai dan kaki. Kutil mulai tumbuh kecil dan membesar dalam beberapa minggu/bulan. Tanda : permukaan tudak rata, warna coklat, kelabu/kehitam-hitaman. c. Katimumul : penebalan kulit ditelapak kaki yang kadang-kadang tumbuh kedalam sampai ke lapisan dermis, yang disebabkan sering mendapat tekanan, misal sepatu yang sempit. Jika tekanan dihilangkan maka katimumul dapat menghilang sendiri. d. Xantoma : sejenis penyakit yang ditandai dengan terjadinya lempeng-lempeng pipih/benjolan bewarna kuning jingga. Terjadi karena timbunan sejenis zat lemak dalam sel-sel yang akan berperangai seperti busa, serta bertambahnya jaringan ikat. Benjolan ini biasanya terletak di kelopak mata, tidak terasa gatal/sakit dan bersifat diturunkan/familier karena berhubungan dengan kadar kolesterol dara yang tinggi. e. Keratosis seboroik : tumbuhan epidermal jinak yang disebabkan oleh penebalan lapisan tanduk, bentuknya dari sebesar kepala jarum pentul sebesar biji jagung/lebih besar lagi. Bewarna coklat-hitam, tidak menular dan hanya timbul sedikit di atas permukaan kulit, berbentuk pipih dengan permukaan yang licin/kasar seperti pada kutil. Umumnya pada usia 30 th ke atas dan timbul di daerah kulit wajah, kulit kepala, dada dan punggung.

f. Naevus pigmentosus/ tahi lalat : tahi lalat yang sering muncul pada kulit manusia berupa tonjolan kecil hingga besar berwarna coklat hingga hitam adalah sejenis tumbuhan jinak. Bewarna coklat sampai hitam yang ciasanya ada sejak lahir dan membesar sejalan dengan meningkatnya usia. Tahi lalat yang membesar dengan cepat apalagi disertai rasa gatal, mudah berdarah dan warnanya bertambah gelap/menghitam, kemungkinan berubah menjadi ganas dan berbahaya. - Gangguan pigmentasi : a. Melanosis : salah satu penyakit melanosis adalah melasma (choasma), yaitu adanya bercak bewarna coklat kehitaman (hiperpigmentasi) di kulit muka yang sangat khas seperti di daerha pipi, dagu dan bibir atas. b. Lentigo : sejenis naevus pigmentosus yang terlihat menyerupai epfirlides, lilin bewarna coklat tua. c. Vitiligo : gangguan pigmentasi kulit yang ditandai dengan terjadinya bercak putih karena hilangnya melanin. Bercak ini berukuran besar/kecil, berbentuk bulat/tidak menentu tetapi bila bersatu bisa menjadi besar, dan sensitif terhadapu sinar matahari. - Perasaan eksteroseptif atau perasaan protopatik : a. Perasaan raba : hilangnya perasaann raba disebut anastesia. Berkurangnya perasaan raba dikenal sebagai hipestesia. Terasanya perasaan raba yang secara berlebihan dinamakan hiperestesia. b. Perasaan nyeri : hilangnya perasaann nyeri disebut analgesia. Berkurangnya perasaan nyeri dikenal sebagai hipalgesia. Terasanya perasaan raba yang secara berlebihan dinamakan hiperalgesia. c. Perasaan suhu : hilangnya perasaann suhu disebut termoanastesia. Berkurangnya perasaan raba dikenal sebagai termohipestesia. Terasanya perasaan raba yang secara berlebihan dinamakan termohiperestesia. d. Perabaan abnormal di permukaan tubuh : kesemutan disebut parastesia. Nyeri-nyeri dingin yang tidak karuan dekenal sebagai disestesia-hiperpatia. 2. Penyebab gangguan alat indera : Mata : - Penyebab astigmatisma : seringkali tidak diketahui, biasanya bawaan sejak lahir. Tahap astigmatisma yang kecil dianggap normal dan biasanya tidak memerlukan koreksi apapun. - Radang kelopak mata disebabkan oleh infeksi bakteri. - Katarak : terjadi pada manula karena proses penuaan. Studi Tanjong Pagar yang baru saja di lakukan menemukan lebih dari 80% orang berusia 60 tahun ke atas mengalami suatu bentuk katarak. Kemudian paparan sinar ultra-violet yang berkepanjangan, penggunaan obatobatan seperti steroid dalam jangka panjang dan penyakit tertentu seperti diabetes juga merupakan faktor-faktor resiko perkembangan katarak. Pada kanak-kanak, katarak dapat terjadi karena sejak lahir atau berkembang akibat cidera. - Penyebab CSCR tidak diketahui sampai saat ini tetapi kondisi ini biasanya diasosiasikan dengan stress, gangguan hormon atau endokrin tertentu dan

penggunaan obat steroid. Beberapa obat tradisional Cina dan obat herbal, khususnya mengandung ginseng, dapat memperburuk keadaan. Perkembangan miopia pada kanak-kanak disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Anak yang orang tuanya miopik juga lebih mungkin menjadi miopik, dan anak yang meluangkan sebagian besar waktu di dalam rumah (membaca, menonton televisi dan bermain komputer) cenderung lebih beresikodaripada yang meluangkan waktu di luar rumah. Infeksi kornea disebabkan oleh mokro-organisme seperti bakteri, jamur, parasit akanthamoeba dan mokrosporidia, dan virus seperti herpes simpleks. Pada kasus tertentu menyebabkan perubahan mata menjadi merah dan bengkak, dan ada juga yang kemudian dapat mengarah ke kondisi astigmatisma, kekeruhan kornea karena luka atau kombinasi keduanya. Diabetes retinopeti pertama kelihatan setelah berkembang secara perlahan-lahan selama beberapa tahun sebagai retinopati background, yang merupaka tahap awal diabetic retinopati. Pada tahap awal ini, bintik darah kecil atau kumpulan lemak tampak pada retina. Kemudian berkembang menjadi retinopati priliferatif merupakan penyebab dari sebagian besar kebutaan pada diabetes. Pada kondisi ini, pembuluh darah baru tumbuh pada permukaan retina dan saraf optik. Pembuluh darah baru ini cenderung untuk pecah dan darah mengalir ke dalam rongga mata. Luka pada jaringan pembuluh darah yang pecah dapat juga berkontraksi dan menarik retina, menyababkan terbentuknya glaukoma, yang juga mengakibakkan kebutaan. Diplopia monokuler, kemungkinan penyebabnya adalah kesalah refraksi tidak terkoreksi, gangguan kornea, katarak dan gangguan retina. Diplopia binokuler, terjadi karena ketidak sejajaran mata, yang mungkin disebbakan oleh gangguan pada saraf, otot, persimpangan otot saraf dan tulang sekitar mata. Entropion terjadi paling umum disebabkan oleh penuaan usia-jaringan yang menopang kelopak mata bagian bawah menjadi lemah. Mengakibatkan pinggiran kelopak mata menggulung kedalam. Kadang kala, kondisi ini juga disebabkan oleh luka pada permukaan kelopak mata bagian dalam, karena peradangan, infeksi kronis atau cidera. Epiblefaron : kelainan bawaan pada lipatan kulit horizontal di dekat kelopak mata atas dan bawah. Floaters : gumpalan gel kecil atau serbuk selular dalam vitreouse yang mengisi rongga mata. Walaupun floaters tampak seperti berada di depan mata, sebenarnya mengapung dalam cairan rongga mata yang menyebabkan jatuhnya bayangan pada retina. Floaters merupakan akibat dari proses penuaan normal ketika cairan vitreous mengalamu degenerasi. Flashes : juga merupakan akibat dari proses penuaan normal dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Floaters dan flashes hanya bermasalah jika degenerasi vitreouse tertarik menjauhi retina dan merobeknya. Ini menyebabkan perdarahan kecil pada mata, dan

mungkin tampak seperti flashes baru. Retina yang robek yang semakin parah dat berkembang menjadi terlepasnya retina, menyebabkan kebutaan. Glaukoma : penyebabnya adalah tekanan dalam bola mata terjadi akibat ketidakseimbangan produksi cairan dan pembuangannya dalam bola mata. Ada beberapa jenis glaukoma ; glaukoma sudut-terbuka yang biasanya menyerang manula berkembang secara perlahan dan tidak menyakitkan, sehingga mungkin tidak menyadari bahwa penglihatan memburuk. Penglihatan perifer dan penglihatan malam hari akan terpengaruh lebih dahulu sebelum penglihatan sentral. Glaukoma sudut-tertutup biasanya menyerang manula dan wanita setengah baya etnik Cina. Tipe glaukoma ini timbul seketika dengan cairan yang meningkat cepat dan drastis dalam mata. Hal ini mengakibatkan rasa nyeri dan warna kemerahan pada mata, pusing dan mual. Gejala lainnya yang menyertai termasuk penglihatan buram dan melihat lingkaran warna-warni disekeliling cahaya. Hiperopia : disebabkan karena bola mata terlalu pendek sehingga sinar jatuh di belakang retina. Banyak anak kecil yang menderita hiperopia kerena mereka memiliki bola mata yang kecil, tetapi hiperopia akan berkurang ketika bola mata mereka tumbung seiring dengan usia. Sejauh ini, hiperopia pada orang dewasa sangatlah jarang. Optik neuropati iskemik : disebabkan oleh masalah kekebalan tubuh. Hilangnya penglihatan secara mendadak tanpa rasa nyeri, pada umumnya saat bangun di pagi hari. Miopi : bola mata terlalu panjang, menyebabkan cahaya jatuh didepan retina. Inflamsi okuler disebabkan oleh berbagai macam kondisi, termasuk infeksi dan gangguan inflamasi. Beberapa kondisi mungkin juga dipengaruhi oleh bagian tubuh lainnya, dimana pada kasus-kasus ini penyebabnya tidak diketahui walaupun sudah melakukan berbagai investigasi. Vitreoretinoterapi proliferatif : faktor resikonya adalah termasuk retina robek atau pelepasan retina yang tidak diobati dini. Perdarahan mata, meningkatnya inflamasi akibat cidera dan operasi pelepasan retina sebelumnya, setelah operasi katarak, penyakit diabetes melitus. Penyebab pasti pteridium tidak diketahui, dan diperkirakan disebabkan karena berbagai faktor yang saling berkaitan. Namun, cahaya untraviolet, terutama paparan terhadap sinar matahari selama berjam-jam diluar ruangan dan di lingkungan yang kering dan berdebu terbukti menjadi faktor yang paling berkontribusi terhadap timbulnya kondisi ini. WHO mencanangkan komitmen global Vision 2020 : The Right to Sight yang merupakan inisiatif global untuk menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutaan yang sebenarnya dapa dicegah atau direhab.

Kulit : - Acne : Kotoran/sel kulit mati yang tidak dibersihkan biasanya akan menyumbat saluran folikel rambut hingga akan menyumbat saluran folikel rambut hingga minyak yang keluar akan bertumpuk menjadi komedo. Jika terkena bakteri acne komedo akan menjadi jerawat.

Penyakit ini mengenai susunan pilosebaseus (kelenjar palit) deng folikel rambutnya. Umumnya pada anak usia pubertas karena perubahan hormonal. Penyebab lain karena kesalahan penggunaan komestik. Jerawat bisa dialami oleh wanita dewasa yang menjadi aksptoe KB dengan pil. Jerawat banya terjadi pada daerah hidung, pipi, dahi, dagu, dada dan punggung karena mangandung lemak banyak kelenjar palit. Gejala yang timbul : peningkatan produksi sebum, munculnya kondisi abnormal karena bakteri/jamur sering menimbulkan rasa sakit, terjadi penebalan jaringan terkadang menjadi benjolan kecil, peningkatan hormon estrogen. - Melasma sering timbul karena kehamilan, pil KB, pemakaian kosmetik dan terpapar sinar matahari. Hidung : - Polip hidung : karena terjadinya hipersensitif hidung yang kronis. Infeksi pada hidung dan sinus paranasal sering bersamaan dengan polip. Polip akan mengakibatkan hidung tersumbat (hiposmia/anosmia), mebeluarkan sekret cairmukus-purulent. Dapat menutup ostium sinus paranasal sinusitis keluhan sakit kepala rinore. Bila disebabkan oleh alergi : bersin iritasi hidung. - Corpus alienum : penyebab hidup (larva lalat(myasis nasi), lintah/pacet), penyebab mati ( manik, kapur barus, busa, setip, kancing, biji-bijian). Gejala sekret hidung unulateral, berbau dan berdarah. - Rhinolit : garam terbentu tanpa asal/sekitar korpus hidung. Gelaja nya sama dengan corpus hidung, dengan sekret hidung dan hidung tersumbat. - Hiposmia : obstruksi hidung (rinitis, alergi, rinitis vasomotor, rinitis atropi, konka hipertropi, septum deviasi, polip, tumor), penyakit sistemik ( DM, gagal ginjal/hati), pemakaian obat (antihistamin, dekongertan, antimetabolit, anti peradangan, anti tiroid - Anosmia : trauma frontal/oksipital, infeksi oleh virus, tumor (osteoma, meningioma), degenerasi (usia tua). - Parosmia : truma - Kakosmia : epilepsi unsinatus, lobus temporalis, kelainan psikologik (rendah diri), kelainan psikiatrik (depresi, psikosis). - Rinitis medikamentosa akibat pemakaian obat tetes hidung menyebabkan hiposmia/anosmia yang akan sembuh jika pemakaian dihentikan. Telinga : - Beberapa obat dapat memperberat ketulian apabila diberikan bersamaan dengan kontak suara. Misal : quinine, aspirin, streptomycin, kansmycin, dsb. - Perubahan fungsi pengecap dan pendengaran sering terjadi setelah terapi radiasi dan kemoterapi pada penderita karsinoma kepala termasung karsinoma nasofaring. Radiasi menginduksi perubahan kemosensori yang disebabkan oleh efek lokal dan sistemik, beberapa kerusakan sel, gangguan reseptor, perubahan saraf/ perubahan reseptor rasa. Kemoterapi dapat menganggu reseptor kemosensori melalui induksi terhadap mukosa dan menyebabkan kerusakan

langsung reseptor serta koneksi saraf. Ganggua lain dapat timbul berupa superinfeksi saluran napas atas baik oleh bakteri maupun jamur. - Penyebab tinitus diantaranya adalah penyumbatan saluran atau liang telinga oleh rumah lilin, alergi makanan tertentu, infeksi telinga tengah (radang kronis), ketidakberesan saluran darah di otak, ketidaknormalan saraf audiotori, diabetes melitus, kolesterol tinggi, pilek, hipertensi, tumor otak, susah tidur serta vertigo. 6. Pengobatan farmako dan nonfarmako dari gangguan alat indera : o Dengan farmako : - Salep mata : apabila mata merah diikuti dengan kelopak mata membengkak dan mengeluarkan nanah, maka kemungkinan anda terserang penyakit konjungtivitis atau peradangan pada selaput mata. Peradangan ini dapat disebbakan oleh virus, bakteri atau alergi. Salep mata yang berdar dipasaran adalah salep mata yang mengandung antibiotik dan biasa digunakan untuk mengobati konjungtivitis akibat bakteri. Cenderung lebih awet (dalam penyimpanan), penggunaannya juga lebih efisien dan tahan lama, salep mata menempel pada mata sehingga pengobatannya pun menjadi efektif. Pada penderita akut, salep mata sangat dianjurkan daripada tetes mata yang harus diteteskan 3 sampai 4 jam sekali, karena daya kerjanya cepat hilang, terbuang bersama airmata. Contoh kandungan obat salep mata beserta nama dagangnya anatara lain : a. Chloramphenicol (ikamicetin, spersanicol, reco) b. Gentamicin sulfat (garamycin, garexin) c. Tetracycline HCl (zovirax) d. Neomycin sulfat (nebactin, kenetrol) - Penatalaksanaan pterygium : keluhan fotopobia dan mata merah dari pterygium ringan sering ditangani dengan menghindari asap dan debu. Beberapa obat topikal seperti lubrikans, vasoikonstriktor dan kortikosteroid digunakan untuk menghilangkan gejala terutama pada derajat 1 dan 2. Untuk mencegah progestifitas, beberapa penliti menganjurkan penggunaan kacamata pelindung ultraviolet. Beberapa tehnik operasi yang dapat menjadi pilihan : a. Bare sclera : tidak ada jahitah atau dengan jahitan benang absorbeble digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke sklera di dapen insersi tendon rectus. Meninggalkan suatu daerah sklera yang terbuka. b. Simple closure : tipe konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif jika hanya defek konjungtiva sangat kecil). c. Sliding flaps : suatu insisi benti L dibuat sekitar luka kemudian flap konjungtiva digeser untuk menutupi defek. d. Rotational flap : insisi bentuk U dibuat sekitar luka untuk membentuk lidah konjungtiva yang rotasi pada tempatnya. e. Conjungtival graft : suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior, dieksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan dijahit.

f. Amnion membrane transplantation : mengurangi frequensi rekuran pterygium, mengurangi fibrosis atau skar pada permukaan bola mata dan penelitian baru mengungkapkan menekan TGF- pada konjungtiva dan fibroblast pterygium. Pemberian mytomicin C dan -irradiation dapat diberikan untuk mengurangi rekuren tetapi jarang digunakan. g. Lamellar keratoplasty, axcimer laser phototherapeutic keratotomy dan terapi lbaru dengan menggunakan gabungan angiostatik dan steroid. - Dekongestan antihistamin : dapat mengurangi sumbatan pada hidung dan telinga tengah pada penyakit infeksi telinga tengah akut. - Serumenolitik : kadang-kadang diperlukan untuk melonggarkan dan mengeluarkan serumen yang menyumbat saluran telinga. o Dengan non farmako : - Glaukoma a. Terapi pemijatan : dilakukan diwilayah pelipis mata. Pemijatan dilakuakan sebanyak 100-200x / hari. b. Ramuan tanaman obat seperti obay tetes mala kitolod (obat tetes mata, nama ilmiahnya isotoma longiflora, sebagai tanaman yang mengobati segala macam penyakit mata), - Rumput mutiara untuk membuka sumbatan dipembuluh darah terutama saraf ke mata. - Daun dewa untuk menghancurkan darah beku, sehingga aliran darah menjadi lancar. - Pagagan untuk meningkatkan fungsi saraf. - Katarak : dengan ramuan provision, obat tetes mata kolid (tidak untuk pengguna lensa kontak), dengan kantong teh celup. - Tehnik memeriksa ganguan mata akibat cidera/kecelakaan: a. Menunduk dengan menyentuhkan kepala di dada, b. Mendongak ke belakang c. Menoleh kepala ke kiri ke kanan Jika dengna perlakuan ini terasa sakit, berarti terjadi gangguan pada mata. Penanganannya : a. Memijat ruas tulang leher ke-6 dan ke07 secara memutar selama 5 menit. b. Pemijatan dilakukan sambil melihat wilayah leher. - Jenis olahraga yang dianjurkan bagi penderita gangguan mata : olahraga yang banyak menggunakan gerakan tangan. Beberapa gerakan yang bisa dilakukan : a. Tangan diayun ke depan atas hingga posisi kedua tangan lurus dengan bahu. b. Setelah itu, kedua tangan diayunkan kembali ke belakang atas sambil dihentakkan. c. Lakukan gerakan seperti ini secara berulang-ulang sebanyak 100x atau selama 15 menit/hari. 9. Tes untuk penderita gangguan alat indera : Mata : - Pemeriksaan tear meniskus(kolam cairan yang bentuknya melengkung) : cara pemeriksaan produksi air mata normal menghasilkan meniskus air mata, penuh

dan sedikit konkaf, kira-kira 0,5 mm, 1,0 mm. Pada defesiensi air mata, meniskus akan berkurang atau tidak ada dan mungkin mengandung mukus atau atau debris. Uji schirmer : untuk menilai kuantitas air mata, menilai kecepatan sekresi air mata dengan memakai kertas filter Whatman 41 bergaris 5 mm-30 mm dan salah satu ujungnya berlekuk berjarak 5 mm dari ujung kertas. Kertas lakmus merah dapat juga dipakai dengan melihat perubahan warna. Perbedaan kertas lakmus dengankertas filter hanya sedikit. Rata-rata hasil bila memakai Whatman 41 adalah 12 mm (1mm-27mm) sedangkan lakmus merah 10mm (0mm-27mm). Uji schirmer I dilakukan tanpa anastesi topikal, ujung kertas berlekuk diinsersikan ke sakus konjungtiva forniks inferior pada pertemuan medial dan 1/3 temporal palpebra inferior. Pasien dianjurkan menutup mata perlahan-lahan tetapi sebagian penelitian menganjurkan mata tetap dibuka dan melihat keatas. Lama pemeriksaan 5 menit dan diukur bagian kertas yang basah, diukur mulai dari lekukan. Nilai normal adalan 10mm-25mm, 10mm-30mm. Uji schirmer II dengan penetesan anastesi topikal untuk menghilangkan efek iritasi lokal pada sakus konjungtiva. Kemudian syaraf trigeminus dirangsang dengan memasukkan kapas lidi kemukosa nasal atau dengan zat aromatik. Pemeriksaan ini yang diukur adalah sekresi basal karena stimulasi dasar terhadap refleks sekresi telah dihilangkan. Tear Film Breakup Time (TBUT) : pasien didudukkan didepan slit jump, kemudian diberi zat fluoresen kedalam sakus konjungtiva, pasien menutup mata dengan tujuan agar flouresen menyebar kepermukaan kornea. Dengan memakai sinar filter cobalt warna biru diluhat gambaran bintik kering (dry spot) pada kornea yaitu daerah bebas flouresen bawarna hitam. Normal waktu 15detik30detik, bila kura 10detik berarti defisiensi musin. Pemeriksaan ini digunakan pada pemeriksaan defisiensi musin. Uji rose bengal : uji ini lebih sensitif dari flouresen, warna rose bengal akan mewarnai sel-sel epitel kornea yang tidak vital juga sel-sel pada konjungtiva. Penilaiannya : 0-4+, bila 3+ - 4+ berarti pewarnaan lebih banyak, secara klinis adalah hiposekresi lakrimal. Pemeriksaan Lisozim air mata : metode ini memakai kertas filter berbentuk cakram ukuran 6,0 mm diletakkan didalam sakus konjungtiva untuk menyrap air mata. Konsentrasi lisozim biasanya berkurang pada sjogren syndrome. Uji ferning (ocular ferning test) : air mata yang terdapat di forniks dikumpulkan dengan spatula atai mikropipet tanpa anastesi topikal. Sampel air mata diletakkan diatas gelas objek, ditutup dan dibiarkan kering (5-10 menit) pada suhu kamar. Lihat dibawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 40-100 kali. Secara mikroskopik tampak gambaran arborisasi seperti pohon pakit pada mata normal. Impresi sitologi konjungtiva : pemeriksaan untuk sel goblet konjungtiva. Pada orang normal sel goblet banyak dikwadran infranasal. Hilangnya sel gobler ditemukan pada penderita keratokonjungtiva sikka, trakoma, sikatriks okuler pada Steven-Johnson Syndrome dan avitaminosis A. Pemeriksaan osmolaritas air mata : air mata mempunyai osmolaritas 302 + 6,3 mOsm/L pada individu normal, pada KCS osmolaritas air mata meningkat antara

330 dan 340 mOSm/L karena penurunan aliran dan peningkatan evaporasi dari air mata. Osmolaritas air mata mempunyai sensitivitas 90 % dan spesifikasi 95% sayang besarnya biaya dan terbatasnya mikroosmolmeter untuk mengukur osmolaritas air mata mempunyai kegunaan klinis yang terbatas. Telinga Hidung Tenggorokan : - Pemeriksaan telinga : a. Inspeksi telinga luar b. Palpasi telinga luar o Tampak menekan dengan jari telunjuk tangan kanan pada daerah depan dan belakang telinga untuk menilai adanya kelainan-kelainan pada telinga. o Menarik aurikula untuk menilai ada tidaknya nyeri. o Otoskopi : a. Melakukan pemilihan spekulum telinga yang tepat b. Memegang dan memposisikan daun telinga yang akan diperiksa c. Mengarahkan sorotan lampu kepala ke dalam liang telinga d. Menilai keadaan liang telinga e. Memasukkan spekulum telinga ke dalam liang telinga f. Menilai keadaan gendang telinga g. Mengeluarkan spekulum telinga dari liang telinga h. Meletakkan alat-alat pemeriksaan ke tempat semula - Pemeriksaan hidung : a. Inspeksi hidung luar dan sekitarnya b. Palpasi : o Tampak menekan dengan jari telunjuk tangan kanan pada daerah pangkal hidung, pipi, supra orbitalis dan daerah interkantus untuk menilai adanya kelainan-kelainan pada hidung dan sinus paranalis. c. Rinoskopi anterior : o Melakukan pemilihan spekulum hidung yang tepat o Memegang dan memposisikan spekulum hidung ke rongga hidung o Mengarahkan sorotan lampu kepala ke dalam rongga hidung o Menilai struktur di dalam rongga hidung o Melihat fenomena palatum molle o Mengeluarkan spekulum hidung dari rongga hidung d. Rinoskopi posterior : o Melakukan pemilihan cermin nacofaring yang tepat o Menyuruh penderita untuk membuka mulut o Melakukan penekanann pada lidah dengan menggunakan spatel lidah o Melidah apikan cermin nasofaring sebelum dimasukkan ke dalam orofaring o Memposisikan cermin nasofaring di dalam orofaring o Menilai struktur di dalam nasofaring o Meletakkan alat-alat pemeriksaan ke tempat semula e. Faringoskopi :

Penderita diinstruksikan membuka mulut Lakukan penekanan lidah dengan spatel lidah Tampak memperhatikan keadaan cavum oris sampai orofaring Dengan menggunakan sarung tangan lakukan palpasi pada daerah mukosa bukkal, dasar lidah dan daerah palatum untuk menilai adanya kelainan-kelainan dalam rongga mulut - Pemeriksaan laring faring : o Laringoskopi indirek a. Melakukan pemilihan cermin laring yang tepat b. Instruksikan penderita untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah sejauh c. Pegang lidah dengan kasa steril. Pasien diinstruksikan untuk bernafas secara normal d. Masukkan cermin laring yang telah dilidah apikan ke dalam orofaring e. Posisikan cermin laring sedemikian rupa hingga tampak struktur di daerah hipofaring f. Menilai mobilitas plika vocalis dengan menyuruh penderita untuk mengucapkan huruf i berulang kali g. Meletakkan alat-alat pemeriksaan ke tempat semula Telinga : Pemeriksaan pendengaran : a. Tes bisik : - Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan - Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk pemeriksaan - Mengatur posisi duduk dengan pasien - Dengan menggunakan sisa udara ekspirasi pemeriksa membisikkan beberapa kata biysllabic pada jarak 6 meter - Bila tidak menyahut pemeriksaan maju 1 meter (5 meter dari penderita) dan test ini dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksaan maju 1 meter, dan demikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata dari 10 kata-kata yang dibisikkan - Catat hasil yang diperoleh dan interpretasinya b. Tes garputala : - Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan - Mempersiapkan alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan - Mengatur posisi duduk dengan pasien o Tes garis pendengaran : Getarkan garpu dengan lembut, kemudian posisikan kira-kira 2,5 3 cm di depan telinga penderita Penderita diinstruksikan untuk mengangkat tangan bila mendengar bunyi dari garputala Lakukan mulai dari garputala frequensi rendah sampai tinggi Tes dilakukan pada kedua telinga Catat hasil yang diperoleh kemudian interpretasikan

o o o o

o Tes rinne : Getarkan garputala frequensi 256 atau 512 Hz dengan lembut Letakkan pada planum mastoid Penderita diinstrusikan untuk mengankat tangan bila sudah tidak mendengarkan bunyi dari garputala atau sebaliknya Pindahkan garputala ke depan telinga yang sedang diperiksa bila penderita sudah tidak mendengar Tes dilakukan pada kedua telinga Catat hasil yang diperoleh kemudian interpretasikan o Tes weber : Getarkan garputala frequensi 256 atau 512 Hz dengan lembut Letakkan garputala pada dahi atau vertex Penderita diinstruksikan menyebutkan telinga mana yang lebih jelas mendengar bunyi Catat hasil yang diperoleh kemudian interpretasikan o Tes schwabach Getarkan garputala frequensi 256 atau 512 Hz dengan lembut Letakkan pada planum mastoid Penderita diinstrusikan untuk mengankat tangan bila sudah tidak mendengarkan bunyi dari garputala atau sebaliknya Pindahkan garputala ke planum mastoid pemeriksa bila penderita sudah tidak mendengar Tes dilakukan pada kedua telinga Catat hasil yang diperoleh kemudian interpretasikan c. Tes keseimbangan : - Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan - Mempersiapkan alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan - Mengatur posisi pasien - Semprotkan air ke dalam liang telinga selama 5 detik - Instrusikan penderita untuk tidak menutup mata selama tes dilakukan - Catat dan interpretasikan nistagmus yang terjadi (jumlah, lama, arah dan keluhan yang menyertai nistagmus Hidung : - Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan - Mempersiapkan alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan - Mengatur posisi pasien - Penderita diinstruksikan untuk menutup mata dan lubang hidung yang tidak di tes - Letakkan bahan tes didepan mid sternum, kira-kira 20 30 cm dari lubang hidung yang akan diperiksa - Perlahan-lahan gerakkan bahan tes dari bawah ke atas menuju lubang hidung yang akan diperiksa - Tanyakan kepada penderita sensasi bau apa yang dihidung - Cata dan interpretasikan Lidah :

Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan Mempersiapkan alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan Mengatur posisi pasien Penderita diinstruksikan untuk menjulurkan lidah sementara hidung ditutup Letakkan bahan tes sebagai berikut : untuk rasa manis letakkan pada ujung lidah, rasa asam pada kedua tepi lidah, rasa asin pada ujung dan tepi lidah. Rasa pahit pada belakang lidah - Catat waktu yang dibutuhkan pada saat meletakkan bahan sampai terjadi sensasi, catat sensasi yang dirasakan penderita - Penderita disuruh untuk berkumur-kumur setiap selesai satu tes sebelum dilanjutkan ke tes berikutnya 10. Diagnosa yang dapat muncul pada gangguan alat indera : Influenza : - Pain (discomfort) - Risk for deficient fluid volume - Hyperthermi - Risk for ineffective breathing Burn : - Risk for infection - Acute / chronic pain - Ineffective protection - Risk for deficient fluid volume Cataract : - Disturbed visual sensory perseption - Anxiety - Deficient knowledge - Risk for trauma (puor visual, reduced hand/eye coordination) Frosbite : - Impaired tissue integrity - Acute pain - Risk for infection Retinal detachment : - Disturbed visual sensory perception - Deficient knowledge 14. Komplikasi yang bisa timbul saat terjadi gangguan alat indera : Mata : - Komplikasi pterygium : merah, iritasi, skar kronis pada konjungtiva dan kornea, pada pasien yang belum eksisi, distorsi dan penglihatan sental berkurang, skar pada otot rektus madial yang dapat menyebabkan diplopia. Komplikasi saar operasi antara lain perforasi korneosklera, graft oedem, graft hemorrhage, graft retrkasi, jahitan longgar, korneoskleral dellen, grenuloma konjungtiva, ephithelial inclution cysts, skar konjungtiva, skar kornea dan

astigmatisma, disinsersi otot rektus. Komplikasi terbanyak rekuren pterygium adalah pada post operasi. Rekurensi pterygium masih menjadi suatu masalah sehingga untuk mengatasinya berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan dengan antimetabolit atau antineoplasia ataupun transplantasi dengan konjuingtiva. Telinga : - Dampak bising : a. Gangguan fisiologis : peningkatan tekanan darah, nadi, basal metabolik, kontruksi pembuluh darah kecil terutama pada bagian kaki, dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensori. b. Gangguan psikologis : rasa tidak nyama, kurang konsen, susah tidur, emosi, pemaparan jangka waktu lama dapat menimbulkan penyakit psikomatik, seperti gastritis, jantung koroner, dll. c. Gangguan komunikasi d. Gangguan keseimbangan mengakibatkan gangguan fisiologis. e. Gangguan pendengaran 15. Promkes yang bisa dilakukan pada kelompok rentan gangguan alat indera : - Untuk mengurang dampak dari monitor komputer perlu memperhatikan aspek ergonomis dari tempat kerja dan lingkungan kerja. Tempat kerja memperhatikan monitor komputer, rancangan tempat kerja memperhatikan tinggi meja, tinggi kursi dan jarak mata-VDT (450-700mm), dan jarak optimal 500-600 mm2. Lingkungan kerja memperhatikan penerangan sebaiknya 300-700 lux. Suhu dan kelembababan disarankan 19-260C dan kelembaban 40-60%, sedangkan suhu yang nyaman di Indonesia melebihi 50C. Kebisingan secara umum dibawah 60 dB (40-60 dB). Disamping faktor diatas dianjurkan untuk istirahat selam 15 menit setelah bekerja terus menerus dengan VDT selama 2 jam dengan beban kerja sedang dan 1 jam pada beban kerja berat. Oalhraga yang teratur juga dianjurkan untuk meningkatkan kebugaran. - Untuk telinga : beritahukan klient untuk tidak memasukkan benda asing ke saluran telinga, untuk memakai obat sesuai yang diresepkan, dan menyimpan obat di dalam tabung kedap cahaya, kemudian jelaskan mengenai efeksamping obat dan kapan harus melapor pada dokter.