P. 1
Distilasi

Distilasi

|Views: 198|Likes:
Dipublikasikan oleh Alfi Hamidah

More info:

Published by: Alfi Hamidah on Oct 24, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2015

pdf

text

original

Distilasi adalah suatu cara pemisahan larutan dengan menggunakan panas sebagai pemisah atau “separating agent”.

Jika larutan yang terdiri dari dua buah komponen yang cukup mudah menguap, misalnya larutan benzenatoluena, larutan n-Heptan dan nHeksan dan larutan lain yang sejenis didihkan, maka fase uap yang terbentuk akan mengandung komponen yang lebih menguap dalam jumlah yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan fase cair. Jadi ada perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap, dan hal ini merupakan syarat utama supaya pemisahan dengan distilasi dapat dilakukan. Kalau komposisi fase uap sama dengan komposisi fase cair, maka pemisahan dengan jalan distilasi tidak dapat dilakukan.

Proses distilasi dalam kilang minyak bumi merupakan proses pengolahan secara fisika yang primer yang mengawali semua proses-proses yang diperlukan untuk memproduksi BBM dan Non-BBM. Proses distilasi ini dapat menggunakan satu kolom atau lebih menara distilasi, misalnya residu dari menara distilasi dialirkan ke menara distilasi hampa atau ke menara distilasibertekanan. Secara fundamental semua prosesproses distilasi dalam kilang minyak bumi adalah sama. Semua proses distilasi memerlukan beberapa peralatan yang penting seperti : - Kondensor dan Cooler - Menara Fraksionasi - Kolom Stripping

Proses pemisahan secara distilasi dengan mudah dapat dilakukan terhadap campuran, dimana antara komponen satu dengan komponen yang lain terdapat dalam campuran : a. Dalam keadaan standar berupa cairan, saling melarutkan menjadi campuran homogen. b. Mempunyai sifat penguapan relatif (α) cukup besar. c. Tidak membentuk cairan azeotrop. Pada proses pemisahan secara distilasi, fase uap akan segera terbentuk setelah sejumlah cairan dipanaskan. Uap dipertahankan kontak dengan sisa cairannya (dalam waktu relatif cukup) dengan harapan pada suhu dan tekanan tertentu, antara uap dan sisa cairan akan berada dalam keseimbangan, sebelum campuran dipisahkan menjadi distilat dan residu.

Fase uap yang mengandung lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap relatif terhadap fase cair, berarti menunjukkan adanya suatu pemisahan. Sehingga kalau uap yang terbentuk selanjutnya diembunkan dan dipanaskan secara berulang-ulang, maka akhirnya akan diperoleh komponen-komponen dalam keadaan yang relatif murni.
DAFTAR PUSTAKA Adam, M dan Putri, A. (2009). Pembuatan bioetanol dari singkong secara fermentasi menggunakan ragi tape. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Semarang. Anggara,W. (2010). Pengaruh Penambahan Ragi Tape dan Kadar Gula Awal Terhadap Produksi Bioetanol dari Sampah Organik. Skripsi Jurusan Pendidikan Biologi pada FPMIPA UPI. Bandung: tidak diterbitkan. Anindyawati, Trisanti. (2009). Prospek Enzim dan Limbah Lignoselulosa untuk Produksi Bioetanol. Bogor : Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Anonim. (2007). Produksi Bioetanol dari Kulit Nanas. Tersedia [online] http//:www.journalbiologi.com/bietanol/etanokulitnanas.pdf/content. Diakses April 2011 Anonim. (2008). Profil Singkat Komoditi Kakao. Tersedia [online]

http://www.google.com/ budidaya kakao pdf/content. Diakses Januari 2011. Anonim. (2009). Cermin Dunia Kesehatan. Tersedia [online] http://www.kalbe.co.id/cdk. Diakses tanggal 14 Februari 2011. Artikel Kesehatan CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009. Jakarta: PT. Kalbe Farma. Ashadi, R.W. (1988). Pembuatan Gula Cair Dari Pod Coklat Menggunakan Asam Sulfat, Enzim Dan Kombinasi Keduanya. Skripsi Fakultas Pertanian Bogor. Bogor. Assegaf, Faisal. (2009). Prospek Produksi Bioetanol Bonggol Pisang (Musa Paradisiacal) Menggunakan Metode Hidrolisis Asam Dan Enzimatis. Artikel Universitas Jenderal Soedirman. Semarang. Away, Y. (1989). Evaluasi Pengaruh Beberapa Marga Mkroorganisme pada Fermentasi Biji Kakao terhadap Mutu Citarasa Indeks Fermentasi. Tesis Magister Prosram Pasca Sarjana ITB Bandung: tidak diterbitkan. Budiutari, Lita. (2010). Optimalisasi Produksi Bioetanol Dari Sampah Organik Dengan Pretreatment Kimiawi Dan Fermentasi Oleh Saccharomyces cerevisiae. .[Skripsi]. Bandung: FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Elevri, P.S & Putra, S.R. (2006). Produkssi Etanol Menggunakan Saccharomyces cerevisiae yang Diamobilisasi dengan Agar Batang. Jurnal Akta Kimindo Tersedia [Online], Vol 1(2), halaman 105-114. Tersedia: http:// www.analitik.chem.its.ac.id/-01_08-%20Putra%20Asga.pdf Diakses Januari 2010.53 Ermaiza. (2009). Pengaruh Dua Jenis Polisakarida Dalam Biji Alpukat Terhadap Kandungan Sirup Glukosa Dengan Hidrolisis HCl 3%. Skripsi Departemen Kimia Universitas Sumatera Utara Medan: tidak diterbitkan. Faisal, A. (2009). Prospek Produksi Bioetanol Bonggol Pisang (Musa paradisiacal) Menggunakan Metode Hidrolisis Asam dan Enzimatis. Universitas Jenderal Sudirman. RSO Semarang.

Fardiaz, S. (1988). Fisiologi Fermentasi. Bogor: PAU Pangan dan Gizi IPB. Gumbira, Said. 1987. Bioindustri: Penerapan Teknologi Fermentasi. Jakarta: PT. Wediyatama Sarana Perkasa, Jakarta. Hamelinck, CN., Hoijdonk dan Faaij. (2005). Etanol From Lignocellulosic Biomass. Biomass and Bioenergy 28 (4), 384-410. Handayani, S.U. (2007). Pemanfaatan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Pengganti Bensin. Jurnal Teknik UNDIP: 99-102 Hidayat, T .(1995). Analisis Kadar Alkohol Produk Tape dari Berbagai Bahan Baku Umbi. Skripsi Jurusan Pendidikan Biologi pada FPMIPA UPI. Bandung: tidak diterbitkan. Hikmayanti, H dan Yanie, S. (2007). Pembuatan Bioetanol Dari Kulit Singkong Melalui Proses Hidrolisa Asam dan Enzimatis. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, UNDIP. Semarang. Indartono, Yuli Setyo. (2005). Krisis Energi di Indonesia : Mengapa dan Harus Bagaimana, Inovasi online vol. 5/XVII/November. [online]. Tersedia : http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=104. Judoamidjojo, M., Darwis, A.A., & Said, E.G. (1989). Teknologi Fermentasi. Jakarta : Rajawali Press. Khairani, R. (2007). Tanaman Jagung Sebagai Bahan Bio-fuel. http://www.macklintmip-unpad.net/Bio-fuel/jagung/Pati.pdf. [diakses tanggal 17 Maret 2011] Kusnadi. (2001). Populasi Mikroorganisme yang Berperan dan Optimasi Faktor Lingkungan Fermentasi dalam Pembuatan “Tea Cider”. Tesis Magister Bidang Khusus Mikrobiologi pada Program Studi Biologi Program Pasca Sarjana ITB. Bandung : tidak diterbitkan. Narita, E. (1999). Produksi Bioetanol Dari Sirup Glukosa Ubi Jalar Secara Fed Batch Menggunakan Saccharomyces cerevisae. Tesis Pasca sarjana IPB Bogor.

Nazir, M. (2003). Metode penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia (Anggota IKAPI) Prihandana, Rama. (2007). Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta : PT. Agro Media Pustaka.54 Putri, LSE. (2008). Konversi Pati Ganyong (Canna edulis Ker.) Menjadi Bioetanol Melalui Hidrolisis Asam dan Fermentasi. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta. Surakarta: Biodiversitas, volume 9, nomor 2 April 2008, halaman: 112-116. Resky, Branita. (2010). Pengaruh Kosentrasi Limbah Sagu Pada pembuatan Bioetanol Menggunakan Bakteri Zymomonas mobilis. Skripsi Program Studi Farmasi Universitas Hasanudin Makassar: tidak diterbitkan. Riyanti, I. E. (2009). Biomassa Sebagai Bahan Baku Bioetanol. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor. Rochintaniawati, Diana. Pembuatan Ragi Tape. Tersedia [Online]: www.agrikultural indonesia/content/php?id. Diakses Januari 2011. Sakinah, Siti. (2010). Modifikasi Proses Penyulingan Dengan Variasi Tekanan Uap. Institute pertanian Bogor. Samsuri, M. (2007). Pemanfaatan Selulosa Bagas Untuk produksi Bioetnol Melalui Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak dengan Enzim Xylanase. Dalam Jurnal Makara Biologi Vol. 11 (1), 8 halaman. Sari, MS., Noverita dan Yulneriwarni. (2008). Pemanfaatan Jerami Padi Dan AlangAlang Dalam Fermentasi Etanol Menggunakan Kapang Trichoderma Viride Dan Khamir Saccharomycess Cerevisiae. Jakarta: Jurnal Vol. 01 No. 2, tahun 2008. Sarifudin, Asep. (2010). Alat Destilasi Sederhana Sebagai Wahana Pemanfaatan Barang Bekas. Institute pertanian Bogor. Scheper, T. (2007). Advances in Biochemical Enginering/Biotechnlogy. Berlin: Springer press. Setyawan, A. B., (2008). Ragi tape. http ://opensource.jawatengah.go.id. [25 Maret 2011].

Simbolon, Karlina. (2008). Pembuatan Etanol Menggunakan Zymomonas Mobilis Pada Kondisi Steril Dan Nonsteril Dengan Memanfaatkan Limbah Padat Pabrik Rokok Kretek Sebagai Substrat. Skripsi Departemen Teknologi Pertanian Universitas Sumatra Selatan: tidak diterbitkan. Soeroso L., Andayaningsih, P. dan Haska N., (2008). Hidrolisis Serbuk Empulur Sagu (Metroxylon sagu, rottb.) Dengan HCl Untuk Meningkatkan Efektivitas Hidrolisis Kimiawi. Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008. Surayya, L., Putri, E dan Sukandar. (2008). Konversi Pati Ganyong (canna edulis ker.) Menjadi Bioetanol Melalui Hidrolisis Asam dan Fermentasi. Biodiversitas, Volume 9, Nomor 2 April 2008 Halaman: 112-116. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat-Tangerang.55 Syam, KL., Farikha, J., dan Fitriana, DN.(2009). Pemanfaatan Limbah Pod Kakao Untuk Menghasilkan Bioetanol Sebagai Sumber Energi Terbarukan. Kreativitas Mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Bogor. Taherzedah and Karimi. (2007). Enzyme-Based Ethanol. University of Boras. Sweden: Bioresources 2(4), 707-738. Wangi, SP. (2010). Pengaruh Pretreatment Kimia Dan Inokulum Ragi Terhadap Produksi Bioetanol Dari Sampah. Skripsi Jurusan Pendidikan Biologi pada FPMIPA UPI. Bandung: tidak diterbitkan. Widowati, S, N. Richana, Suarni, P. Raharto, Sarasutha. (2001). Studi Potensi dan Peningkatan Dayaguna Sumber Pangan Lokal Untuk Penganekaragaman Pangan di Sulawesi Selatan. Laporan Hasil Penelitian Puslitbangtan, Bogor. Wulandari, Elfiah. (2010). Pengaruh Konsentrasi Ragi Dan Lama Fermentasi Terhadap Kadar Etanol Dan Kadar Glukosa Hasil Fermentasi Kulit Buah Nanas (Ananas Comosus). Skripsi Fakultas Ilmu Kegurugan Dan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta : tidak diterbitkan.

Bagan perlengkapan distilasi di laboratorium

Berikut adalah susunan rangkaian alat ditilasi sederhana:               1. wadah air 2. labu distilasi 3. sambungan 4. termometer 5. kondensor 6. aliran masuk air dingin 7. aliran keluar air dingin 8. labu distilat 9. lubang udara 10. tempat keluarnya distilat 13. penangas 14. air penangas 15. larutan zat 16. wadah labu distilat

Pembuatan Alkohol Dari Fermentasi Dengan Alat Destilasi Sederhana
Senin, 17 september 2012 I. Tujuan - Untuk memperoleh alkohol dari fermentasi tape. - Untuk mengetahui kandungan alkohol dalam tape tersebut. II. Dasar Teori

Tapai (sering dieja sebagai tape) adalah salah satu makanan tradisional Indonesia yang dihasilkan dari proses peragian (fermentasi) bahan pangan berkarbohidrat, seperti singkong dan ketan. Tapai bisa dibuat dari singkong (ubi kayu) dan hasilnya dinamakan tapai singkong.

Bila dibuat dari ketan hitam maupun ketan putih, hasilnya disebut "tapai pulut" atau "tapai ketan".Dalam proses fermentasi tapai, digunakan beberapa jenis mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae,Rhizopus oryzae, Endomycopsis burtonii, Mucor sp., Candida utilis,Saccharomycopsis fibuligera, Pediococcus sp., dan lainlain. Tapai hasil fermentasi dari S. cerevisiae umumnya berbentuk semi-cair, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki tekstur lengket. Umumnya, tapai diproduksi oleh industri kecil dan menengah sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut. Alkohol (etanol) adalah cairan transparan, tidak berwarna, cairan yang mudah bergerak, mudah menguap, dapat bercampur dengan air, eter, dan kloroform, diperoleh melalui fermentasi karbohidrat dari ragi. Alkohol biasanya diartikan sebagai etil alkohol (CH3CH2OH/ C2H5OH), mempunyai densitas 0,78506 g/ml pada 25°C, titik didih yaitu 78,4°C, tidak berwarna, dan mempunyai bau serta rasa yang spesifik. Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua.
Etanol dapat diproduksi secara petrokimia melalui hidrasi etilena ataupun secara biologis melalaui fermentasigula dengan ragi. Etanol untuk kegunaan konsumsi manusia (seperti minuman beralkohol) dan kegunaan bahan bakar diproduksi dengan cara fermentasi. Spesies ragi tertentu (misalnya Saccharomyces cerevisiae) mencernagula dan menghasilkan etanol dan karbon dioksida: C6H12O6 → 2 CH3CH2OH + 2 CO2.

Proses membiakkan ragi untuk mendapatkan alkohol disebut sebagai fermentasi. Konsentrasi etanol yang tinggi akan beracun bagi ragi. Pada jenis ragi yang paling toleran terhadap etanol, ragi tersebut hanya dapat bertahan pada lingkungan 15% etanol berdasarkan volume. Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respira si anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Alkohol juga terjadi dalam proses peragian beras ketan yang menghasilkan produk tape. Ketan (atau beras ketan), berwarna hitam, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin. Proses pembuatan tape ketan melibatkan peran mikroba dalam bentuk ragi. Ragi adalah suatu inokulum padat yang mengandung berbagai jenis kapang, khamir, dan bakteri yang berfungsi sebagai starter dalam fermentasi tape. Ragi juga dapat diartikan sebagai zat pembentuk kalor atau panas yang terjadi pada pembuatan tape, karena diolah dari bahan-bahan yang mengandung panas atau setidak-tidaknya dapat menimbulkan panas pada tubuh makhluk hidup.
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_d0451_0608460_chapter1.pdf

Laporan Praktikum Destilasi
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliunkilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisanlapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak dan aliran mengikuti air di atas suatu siklus permukaan bersih air, tanah penting yaitu: (runoff, bagi

melalui penguapan, hujan, meliputi mata

air, sungai, muara)

menuju laut.

Air

kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air.[1]
Destilasi atau penyulingan adalah sutau proses pemurnian zat cair yang didasarkan atas perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan berubah menjadi uap. Uap ini adalah zat murni. Kemudian uap ini didinginkan. Pada pendinginan ini uap mengembun menjadi cairan murni yang disebut destilat.

Destilasi dapat digunakan untuk memperoleh pelarut murni dari larutan yang mengandung zat terlarut. Misalnya air sungai untuk memperoleh air murni.[2]

BAB 5PENUTUPA.

Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini adalah :1. Prinsip kerja dari metode destilasi adalah berdasarakan

perbedaan titk didihcampuran larutan yang kemudian di uapkan melalui proses pemanasan padasampel dan selanjutnya didinginkan pada

alat kondensor dan destilat akankeluar dalam betuk cairan
s

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->