Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI,TENTANG MOBILITAS SOSIAL PADA SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMAN 1 KEDUNGADEM BOJONEGOROMELALUI STRATEGI TEBAK KATA (PREDICTION GUIDE)

OLEH : Drs. SUHARTONO NIP.19660208 200701 1 017

Karya Tulis Ilmiah ( KTI ) hasil Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) oleh Drs. Suhartono ini telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sebagai persyaratan untuk Pengembangan Profesi Guru

Kedungadem, 24 desember 2010 Kepala SMA Negeri 1 Kedungadem

Drs. SOEBINTARTO,MM. NIP. 19630927 198903 1 006

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO DINAS PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 KEDUNGADEM Jl. Ringinanom No. 1 Telp. (0353) 351094 Kedungadem Bojonegoro SURAT KETERANGAN Nomor : 670/491/ 412.40/SMA.Kdm.13/2011 TENTANG PERPUSTAKAAN SEKOLAH Yang bertanda tangan di bawah ini : I. Nama : Dra. SURTINI NIP : 19650425 200704 2 018 Jabatan : Kepala Perpustakaan SMAN 1 Kedungadem II. Nama : Drs. SOEBINTARTO,MM. NIP : 19630927 198903 1 006 Jabatan : Kepala SMAN 1 Kedungadem Menerangkan dengan sesungguhnya bahwa buku yang berjudul : UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI,TENTANG MOBILITAS SOSIAL PADA SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMAN 1 KEDUNGADEM BOJONEGORO MELALUI STRATEGI TEBAK KATA (PREDICTION GUIDE) Nama Pengaran : Drs. SUHARTONO. Tahun Karangan : 2010 Kelompok Buku : Referensi Buku tersebut diatas benar-benar telah menjadi koleksi buku Perpustakaan di Sekolah kami, dan telah dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Kepala Perpustakaan SMAN 1 Kedungadem Kedungadem, 24 desmber 2010 Penulis

Dra. SURTINI NIP. 19650425 200704 2 018

Drs. SUHARTONO NIP. 19660208 200701 1 017 Mengetahui, Kepala SMAN 1 Kedungadem Drs. SOEBINTARTO,MM. NIP. 19630927 198903 1 006

HALAMAN PENGESAHAN

JUDUL UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI,TENTANG MOBILITAS SOSIAL PADA SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMAN 1 KEDUNGADEM BOJONEGORO MELALUI STRATEGI TEBAK KATA (PREDICTION GUIDE)

DISUSUN OLEH : Drs. SUHARTONO NIP.19660208 200701 1 017

Kedungadem, 24 desember 2010 Mengetahui Kepala Sekolah Koordinator,

Drs. SOEBINTARTO,M.M. NIP.19630927 198903 1 006

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )

Diajukan untuk memenuhi persyaratan kenaikan Pangkat dari Golongan III......ke III......

Mengetahui / Mengesahkan Ketua PGRI Kabupaten BOJONEGORO

Drs.H.DIMAN NASICHIN NPA. 130901000004

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )

Diajukan untuk memenuhi persyaratan kenaikan Pangkat dari Golongan III... ke III.....

Mengetahui / Mengesahkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten BOJONEGORO

Drs.H.ZAINUDDIN.MM NIP: 19581111 198603 1 023

KATA PENGANTAR Dengan mengucap Puji Syukur kehadirat Allah S.W.T. atas limpahan rahmat dan hidayahNya, akhirnya peneliti dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dengan judul UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI,TENTANG MOBILITAS SOSIAL PADA SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMAN 1 KEDUNGADEM BOJONEGORO MELALUI STRATEGI TEBAK KATA (PREDICTION GUIDE ) Penulisan Penelitian Tindakan Kelas ini merupakan salah satu pengembangan profesi guru dalam rangka meningkatkan kualitas sebagai guru yang profesional. Peneliti menyadari dalam penyusunan penelitian ini banyak mendapat sumbangan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Drs. Soebintarto,M.M., Kepala SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro atas dorongannnya 3. Perpustakaan Daerah TK II Kabupaten Bojonegoro, atas kesediannya membantu peneliti menggunakan refrensi Perpustakaan dalam penelitian ini. 4. Perpustakaan SMA Negeri 1 Kedungadem, atas kesediannya membantu peneliti menggunakan Refrensi Perpustakaan dalam penelitian ini. 5. Semua pihak yang membantu proses penulisan penelitian ini. Akhirnya peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, untuk itu peneliti berharap adanya saran dan kritik membangun guna kesempurnaan penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini dapat membawa manfaat bagi semua pihak. Kedungadem, 24 desember 2010 Peneliti

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .i HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN . iv KATA PENGANTAR vii DAFTAR ISI . Viii ABSTRAKSI ............................................................................................................ x DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xii DEFTAR TABEL ................................................................................................................ xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................. ..1 B. Rumusan Masalah 2 C. Tujuan Penelitian . 2 D. Manfaat Penelitian .. 3 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN A. Kajian Pustaka . 5 B. Rencana Tindakan 11 BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian .. 12 B. Persiapan Penelitian . 12 C. Siklus Penelitian .. 14 D. Intrumen Penelitian .15 E. Analisis dan Refleksi 17 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Siklus 1 ...20 B. Siklus 2 ...29 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 43 B. Saran-saran .44 DAFTAR PUSTAKA .45 Lampiran 48

ABSTRAKSI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI,TENTANG MOBILITAS SOSIAL PADA SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMAN 1 KEDUNGADEM BOJONEGORO MELALUI STRATEGI TEBAK KATA (PREDICTION GUIDE ) Oleh Drs. SUHARTONO Penelitian Tindakan Kelas ini berawal dari masalah : - Bagaiamana upaya meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran sosiologi dalam materi mobilitas sosial pada siswa kelas XI IPS 1 SMAN 1 Kedungadem tahun pelajaran 2010/2011? -- Adakah pengaruh penerapan Teknik Tebak Kata pada materi mobilitas sosial terhadap peningkatan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 SMAN 1 Kedungadem tahun pelajaran 2010/2011. Berpijak pada penjelasan sebelumnya, yaitu mengenai penerapan teknik Tebak Kata untuk meningkatkan prestasi belajar sosiologi dalam materi mobilitas sosial pada siswa kelas XI IPS 1 SMAN 1 Kedungadem tahun pelajaran 2010/2011, akhirnya penulis mengambil kesimpulan : Penggunaan teknik pembelajaran Tebak Kata pada pelajaran sosiologi dalam materi mobilitas sosial, siswa kelas XI IPS 1 SMAN 1 Kedungadem tahun pelajaran 2010/2011, adalah baik. Hal ini dapat diketahui bahwa Atas dasar hasil penelitian yang telah dilaksanakan, akhirnya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Penerapan Teknik Tebak Kata pada mobilitas sosial ternyata berhasil meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1, hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada tiap-tiap siklus.Pada Siklus 1 dalam tahap kegiatan tebak kata yang semula siswa menjawab benar berjumlah 9 pasangan ( 50 % ) kemudian meningkat menjadi 12 pasangan ( 66,67% ) pada tahap penguatan. Demikian juga pada Siklus 2, pada tahap kegiatan tebak kata yang semula siswa menjawab benar berjumlah 14 pasangan ( 77,78 % ) kemudian meningkat menjadi 16 pasangan ( 88, 89 % ) pada tahap penguatan. 2. Keberhasilan penerapan Teknik Tebak Kata dalam materi mobilitas sosial dalam rangka meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 semakin diperkuat dengan pelaksanaan tes hasil belajar. Terbukti : ( a ) nilai rata-rata siswa yang semula 66, 42 pada Siklus 1 meningkat menjadi 71, 26 pada Siklus 2; ( b ) siswa yang menguasai bahan ajar atas dasar SKBM patokan sekolah yang ditentukan 75, yang semula 25 orang ( 69,44 % ) pada Siklus 1 meningkat 22,22 % yaitu menjadi 33 orang ( 91, 7 % ) pada Siklus 2. 3. Keberhasilan penerapan Teknik Tebak Kata dalam materi mobilitas sosial dalam rangka meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 lebih diperkuat lagi dengan penyebaran hasil angket pertanyaan 1 pada siswa. Terbukti dari 36 orang siswa, 27 ( 75 % ) orang diantaranya menganggap pelaksanaan teknik tebak kata sangat menyenangkan. Selain penyebaran angket pertannyaan 2 pada siswa itu terdapat 22 orang siswa ( 61,11 % ) dari 36 orang siswa, mengaggap agak mudah mempelajari materi mobilitas sosial melalui teknik tebak kata.

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 3.2

Halaman 15 16

Model Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin....................................... Model Analisis Interaktif .......................................................................

DAFTAR TABEL Tabel 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 4.10 Halaman Check Lists Hasil Tebak Kata pada Siklus 1 ........................................ 23 Check Lists Hasil Penguatan Palaksanaan Tebak Kata pada Siklus 1 .. 25 Data Nilai Hasil Evaluasi Belajar Siswa pada Siklus 1........................ 27 Pengolahan Nilai hasil Evaluasi Belajar siswa pada Siklus 1 ............. 29 Check Lists Hasil Tebak Kata pada Siklus 2 ...................................... 33 Check Lists Hasil Penguatan Palaksanaan Tebak Kata pada Siklus 2.. 35 Data Nilai Hasil Evaluasi Belajar Siswa pada Siklus 2 ...................... 37 Pengolahan Nilai hasil Evaluasi Belajar siswa pada Siklus 2 ............ 39 Pengolahan Angket Siswa (Pertanyaan 1) ......................................... 40 Pengolahan Angket Siswa (Pertanyaan 2) ......................................... 42

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan di antaranya rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya siswa Sekolah Menengah Atas . Masalah lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang juga banyak diperbincangkan yaitu pendekatan dalam pembelajaran yang masih terlalu didominasi oleh guru ( teacher centered ). Guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai obyek dan bukan sebagai subyek didik ( Dinas Dikbud Jatim, 2003 : 10 ). Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir holistic ( menyeluruh ), kreatif, obyektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual ( Depdiknas, 2005a : 1 ). Dengan demikian guru yang profesional dituntut untuk menampilkan keahliannya sebagai guru didepan kelas. Salah satu komponen keahlian yang harus dikuasai adalah kemampuan mengelola proses pembelajaran.

Guru tidak hanya cukup memberikan ceramah di depan kelas, hal ini tidak berarti bahwa metode ceramah tidak baik, melainkan pada suatu saat siswa akan menjadi bosan apabila hanya guru sendiri yang berbicara ( aktif ), sedangkan muridnya duduk diam mendengarkan. Kebosanan dalam mendengarkan uraian guru tentu dapat mematikan semangat belajar siswa. Temuan peneliti di lapangan seperti yang terjadi di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro, menunjukkan bahwa kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran terutama mata pelajaran sosiologi, mengakibatkan siswa menjadi pasif, kurang kreatif dan kurang memiliki kompetensi. Oleh karena itu dalam kesempatan ini peneliti akan berusaha menggunakan teknik baru dalam proses pembelajaran yaitu Teknik Tebak Kata. Penerapan teknik ini akan kami teliti lebih lanjut dengan judul penelitian : Meningkatkan Prestasi Belajar Sosiologi Melalui Teknik Tebak Kata Pada Materi Mobilitas Sosial Siswa Kelas XI IPS-1 di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro . B. Rumusan Masalah Atas dasar latar belakang masalah, maka permasalahan-permasalahan yang timbul dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah proses penerapan Teknik Tebak Kata pada materi mobiltas sosial dalam rangka meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro . 2. Adakah pengaruh penerapan Teknik Tebak Kata pada materi mobiltas sosial terhadap peningkatan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro ? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan : 1. Untuk mengetahui proses penerapan Teknik Tebak Kata pada materi mobiltas sosial dalam rangka meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro. .2. Untuk Mengetahui pengaruh penerapan Teknik Tebak Kata pada materi mobilitas sosial terhadap peningkatan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro . 3. Ikut menyumbangkan pikiran dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sosiologi pada khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro. D. Manfaat Penelitian Dari Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut : 1. Bagi Siswa : Diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran sosiologi. 2. Bagi Guru Sosiologi : Sebagai masukan dan sumbangan pikiran untuk bersama-sama mengoptimalkan peningkatan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran sosiologi di sekolahnya masing-masing pada khususnya dan di Kabupaten Ponorogo pada umumnya.

3. Bagi Sekolah : a. Sebagai masukan terhadap Kepala Sekolah untuk mengambil kebijakankebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro. b. Sebagai sumbangan pikiran kepada guru-guru SMA Negeri 1 Kedungadem untuk bekerja dan berjuang bersama secara optimal dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro. 4. Bagi Pengembang Kurikulum : Dapat dijadikan masukan guna menyempurnakan kurikulum yang lebih berorietasi pada siswa sebagai subyek didik dalam proses pembelajaran

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN A. Kajian Pustaka 1. Teknik Tebak Kata Sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum 2004 bahwa oreientasi pembelajaran lebih terfokus pada siswa. Siswa bertindak sebagai subyek pembelajaran, sedangkan guru hanya bertindak sebagai instruktur dan fasilitator ( Dinas Dikbud Jatim, 2004 : 7). Oleh karena itu peneliti mrncoba untuk menerapkan prinsip tersebut dengan menggunakan Teknik Tebak Kata dalam proses pembelajaran. Teknik Tebak Kata berasal dari kata tebak dan kata. Tebak artinya menerka atau menduga, sedangkan kata artinya unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa(Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994 : 451 dan 1017). Jadi Teknik Tebak Kata adalah teknik pembelajaran dimana siswa berusaha menebak atau menerka jawaban dari soal-soal yang diajukan pada dirinya baik secara lisan maupun tertulis. Pelaksanaan Teknik Tebak Kata dapat diuraikan sebagai berikut : a. Media yang digunakan : 1) Buatlah kartu ukuran 10 X 10 cm dari kertas Manila Isilah dengan cirri-ciri atau kata-kata yang mengarah pada jawaban atau istilah pada kartu lain yang akan ditebak. 2) Buatlah kartu ukuran 5 X 2 cm dari kertas HVS Isilah kata-kata atau istilah yang merupakan jawaban dari kartu sebelumnya. b. Langkah-langkah : 1) Guru menyuruh siswa mempelajari materi pelajaran selama 45 menit. 2) Suruhlah siswa berdiri di depan kerlas dan berpasang-pasangan ( 2 orang ) 3) Seorang siswa diberi kartu berukuran 10 X 10 cm, kartu tersebut tidak perlu dilipat dan boleh dibaca oleh siswa tersebut. Sedangkan pasangannya diberi kartu berukuran 5 X 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca dan harus dilipat serta diselipkan pada telinga siswa tersebut. 4) Siswa yang membawa kartu berukuran 10 X 10 cm membacakan isinya, sedangkan pasangannya menebak jawaban dari kartu tersebut. 5) Apabila jawabannya sesuai dengan kartu yang berukuran 5 X 2 cm, maka kedua siswa tersebut diperbolehkan duduk. Jika jawaban salah, maka siswa yang membawa kartu berukuran 10 X 10 cm boleh memberi pertanyaan lain yang jawabannya tetap mengarah pada jawaban yang tertera dalam kartu berukuran 5 X 2 cm. 6) Dan seterusnya ( Endang Ekowati, 2003 : 24 ). 2. Belajar dan Mengajar a. Belajar : Dalam pembahasan ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian dari belajar. Belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan ( Oemar Hamalik, 1982 : 21). Belajar dapat juga diartikan sebagai suatu aktivitas yang,

mengharapkan perubahan tingkah laku ( behavioral change ) pada individu yang belajar (Depdiknas, 2005 a : 4 ). Selanjutnya Ngalim Poerwanto (1995 : 84) mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian. Dari pengertian di atas dapat dikemukakan adanya beberapa elemen penting yang menjadi ciri tentang belajar, yaitu: 1) Adanya perubahan tingkah laku 2) Sifat perubahannya relatif permanen 3) Perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisiknya yang sifatnya sementara ( Depdiknas, 2005 a : 5). Pada dasarnya belajar merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Dengan belajar, maka pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, nilai, sikap, tingkah laku dan semua perbuatan manusia menjadi terbentuk, disesuaikan dan dikembangkan. Sedangkan dalam pelaksanaannya, proses belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah : 1) Faktor yang berasal dari bahan yang dipelajari 2) Faktor instrumental 3) Faktor lingkungan 4) Faktor kondisi individual si pelajar ( Depdiknas, 2005 a : 4). b. Mengajar : Joyoe dan Showes mengatakan bahwa mengajar pada hakekatnya adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan belajar bagaimana belajar ( Depdiknas, 2005 a : 7 ). Selanjutnya Winarno Surakhmad ( 1973 : 29 ) mengatakan bahwa mengajar adalah peristiwa bertujuan ; artinya mengajar adalah peristiwa yang terikat oleh tujuan, terarah pada tujuan dan dilaksanakan semata-mata untuk mencapai tujuan. Karena mengajar itu merupakan peristiwa yang terkait pada tujuan, maka mengajar merupakan bagian dari pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari konsep dan prinsip pendidikan. Oleh karena itu proses interaksi antara pengajar ( pendidik ) dengan yang diajar ( terdidik ) harus merupakan proses dan interaksi pendidikan, atau dengan perkataan lain harus merupakan proses dan interaksi edukatif. Dalam hubungannya dengan interaksi edukatif, Nursid Sumaatmadja ( 1984 : 71) mengatakan bahwa interaksi edukatif merupakan interaksi yang memiliki cisi-ciri sebagai berikut : 1) Adanya tujuan yang jelas yang akan dicapai 2) Ada bahan yang menjadi isi proses 3) Ada pelajar yang aktif mengalami 4) Ada guru yang melaksanakan 5) Ada metode tertentu untuk mencapai tujuan 6) Berlangsung dalam ikatan situasional

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa mengajar pada hakekatnya membantu siswa dalam belajar, artinya guru harus lebih berperan sebagai pembimbing dan sebagai fasilitator dalam perkembangan setiap siswa. Oleh karena itu, dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan maka guru harus berfungsi sebagai ahli metode belajar , sebagai koordinator kegiatan belajar dan sebagai dirigen dalam belajar ( Mudjiono, 1986 : 37). c. Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru ( Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994 : 787 ). Prestasi belajar pada dasarnya mencerminkan sejauh mana siswa telah dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada setiap mata pelajaran. Gambaran prestasi belajar siswa biasanya dinyatakan dengan angka 0 sampai dengan 10 ( Suharsini Arikunto, 1988 : 32 ). Dalam hubungannya dengan Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi, penetapan prestasi belajar siswa harus ditetapkan dengan penilaian acuan kreteria pada setiap Kompetensi Dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma. Hasil belajar tiatiap mata pelajaran dimanivestasikan dalam bentuk lulus dan tidak lulus, sedangkan batas kelulusan adalah 75 % ( = nilai 75 ) menguasai bahan ajar ( Dinas Dikbud Jatim, 2002 : 10). Nilai 75 merupakan patokan yang paling ideal, namun nilai ini tidak boleh dijadikan patokan secara nasional. Kondisi sosial sekolah harus dijadikan dasar untuk menentukan batas ketuntasan belajar minimal, sebab antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lainnya memiliki kondisi sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu seyoginya betas ketuntasan belajar minimal harus ditentukan oleh gurunya sendiri, misalnya apakah siswa harus mencapai nilai 65, 70, 75 dan seterusnya ( Depdiknas 2005 a : 21 ). Penetapan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) adalah penting dengan tujuan untuk : (1) menentukan target kompetensi yang harus dicapai siswa dan (2) patokan/acuan/dasar menentukan kompeten atau tidak komopetennya siswa ( Depdiknas, 2005 b : 1). Standar Ketuntasan Belajar Minimal untuk mata pelajaran sosiologi sudah ditetapkan secara bersama-sama oleh guru-guru sosiologi dalam KTSP SMA Negeri 1 Kedungademi Kabupaten Bojonegoro, yakni rata-rata 75 (KTSP SMAN 1 Kedungadem, 2009 : 12 ). B. Rencana Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini direncanakan dalam waktu 14 X 45 Menit dengan rincian sebagai berikut : 1. Siklus 1 ( 7 X 45 Menit ) 2. Siklus 2 ( 7 X 45 Menit ) Berdasarkan Kurikulum 2004, maka untuk mata pelajaran sosiologi di kelas XI program Ilmu Sosial diberi waktu 4 jam. Oleh karena itu untuk mengefektifkan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti terpaksa harus merlakukan kerjasama dengan mata pelajaran lain yang waktunya berurutan dengan jam mata pelajaran sosiologi.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kedungadem Bojonegoro pada Kelas XI IPS 1 dalam mata pelajaran sosiologi semester 1 Tahun Pelajaran 2010/2011. SMA Negeri 1 Kedungadem terletak di Desa Tumbarasanom, Jl. Ringianom no.1 Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro. Ditinjau dari segi ekonomi, sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Kedungadem adalah berasal dari keluarga petani dengan penghasilan pas-pasan. Peneliti adalah guru sosiologi lulusan IKIP S-1 PMP-Kn dan sudah 17 tahun mengajar di sekolah itu. B. Persiapan Penelitian Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, hal-hal yang harus dipersiapkan adalah : 1. Materi Mobilitas Sosial Mobilitas sosial merupakan salah satu materi pokok dalam sosiologi yang harus diberikan kepada siswa kelas XI program Ilmu Sosial. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut : a. Standar Kompetensi : Kemampuan membiasakan diri untuk berperilaku yang tepat dalam menghadapi pengaruh atau tantangan perubahan sosial. b. Kompetensi Dasar : Kemampuan menganalisis mobilitas sosial dalam kehidupan sosial budaya c. Materi Pokok : Mobilitas Sosial d. Indikator Pencapaian : 1) Membedakan jenis-jenis mobilitas sosial 2) Mendeskripsikan proses terjadinya mobilitas sosial 3) Mengidentifikasi dampak mobilitas sosial (Tim MGMP Sosiologi, 2005 : 45) 2. Media Yang Digunakan a. Siklus 1 : Pada siklus 1 media yang digunakan adalah berupa kartu dari kertas manila yang berukuran 10 X 10 cm yang berisi soal-soal dan kartu dari kertas HVS yang berukuran 5 X 2 cm yang berisi jawaban. Sesuai dengan jumlah siswa kelas XI IPS 1 yakni 36 orang maka terdapat 18 kartu berukuran 10 X 10 cm dan 18 kartu yang berukuran 5 X 2 cm. b.. Siklus 2 : Pada siklus 2 media yang digunakan adalah sama dengan siklus 1 yaitu berupa kartu dari kertas manila yang berukuran 10 X 10 cm yang berisi soal-soal, dan kartu dari kertas HVS yang berukuran 5 X 2 cm yang berisi jawaban. Masing-masing kartu berjumlah 18 kartu, sedangkan soal-soal dan jawabannya berbeda dengan soalsoal dan jawaban dari kartu pada siklus 1 dan lebih cenderung bersifat pengembangan dan penyempurnaan.

C. Siklus Penelitian Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini direncanakan dalam 2 siklus sebagai berikut : 1. Siklus 1 ( 7 X 45 Menit ) dengan rincian sebagai berikut : (a) Penyajian Materi ( 1 X 45 Menit ) (b) Pelaksanaan Teknik Tebak Kata ( 2 X 45 Menit ) (c) Penguatan Pelaksanaan Teknik Tebak Kata ( 2 X 45 Menit ) (d) Pelaksanaan Evaluasi ( 2 X 45 Menit ) 2. Siklus 2 ( menunggu refleksi dari hasil siklus 1 ) Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dalam bentuk siklus ini didasarkan pada pendapat Kurt Lewin yang terdiri dari Empat komponen, yaitu : 1) perencanaan ( planning ), 2) tindakan ( acting ), 3) pengamatan ( observasi ) dan 4) refleksi ( reflecting ). Hubungan keempat lomponen itu dipandang sebagai siklus yang digambarkan sebagai berikut : Gambar 1 Model Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin acting Planing

Reflecting ( Dinas Dikbud Jatim, 2006 :4)

D. Instrumen Penelitian 1. Populasi dan Sampel : Populasi adalah seluruh penduduk atau seluruh indivdu yang dimaksudkan untuk diselidiki atau diteliti, sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah populasi ( Sutrisno Hadi, 1987 : 220 221 ). Atas dasar pokok permasalahan penelitian, maka penelitian ini termasuk penelitian populasi artinya penelitian yang dikenakan pada seluruh subjek penelitian. Dengan demikian yang menjadi populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah sama yaitu seluruh siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1 Kedungadem yang berjumlah 34 orang. 2. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data adalah upaya untuk menghimpun secara terencana dan sistematis berbagai macam data yang dianggap relevan dengan pokok permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah :

a. Studi Pustaka : Studi pusataka bertujuan untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber tertulis yang dianggap relevan dengan pokok permasalahan yang akan diteliti ( Kartini Kartono, 1996 : 33 ). Sedangkan sumber-sumber tertulis yang akan digunakan bisa berbentuk, dokumen, karya ilmiah atau sumber-sumber tertulis lainnya yang dianggap dengan pokok permasalahan penelitian. b. Teknik Observasi : Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial atau gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan ( Kartini Kartono, 1996 : 157). Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi eksperimental, yaitu observasi yang dilakukan dimana observer mengadakan pengendalian unsure-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi daopat diatur sesuai dengan tujuan penelitian dan dapat dikendalikan untuk menghindari atau mengurangi timbulnya factor-faktor yang secara tak diharapkan mempengaruhi situasi itu ( Cholid dan Abu Ahmadi, 2003 : 72 ). Dalam penelitian ini peneliti akan berada di tengah-tengah siswa untuk untuk mengelola proses pembelajaran yang akan berlangsung dan diatur sedemikian rupa agar penelitian ini dapat berhasil seperti yang diharapkan. Selain itu, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan alat Bantu chek lists, yaitu suatu daftar yang berisi nama-nama subjek atau pasangan dan factor-faktor yang hendak diteliti. Dengan alat itu memungkinkan peneliti untuk mendapatkan data tentang pelaksanaan kegiatan Teknik Tebak Kata yang akan digunakan dalam penelitian ini. c. Teknik Kuesioner ( Angket ) : Teknik kuesioner ( angket ) adalah suatu daftar yang berisikan pertanyaan mengenai suatu masalah atau bidang yang akan diteliti ( Cholid dan Abu Ahmadi, 2003 : 76 ). Kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk tes untuk mengetahui berhasil atau tidaknya pelaksanaan penelitian. Sedangkan ditinjau dari isinya, angket yang digunakan berbetuk angket tertutup dengan item pilihan ganda dan angket terbuka dengan item isian. E. Analisis dan Refleksi Analisis data adalah penelaahan dan penguraian atas data hingga menghasilkan simpulan-simpulan. Dalam kegiatan analis data tersebut, nantinya akan diperoleh dua jenis data, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari teknik angket dalam bentuk tes hasil belajar. Namun kedua data tersebut nantinya juga digabungkan dengan pelaksanaan teknik studi pustaka. Dalam hubungan dengan pelaksanaan analisis data, Cholid dan Abu Ahmadi ( 2003 : 82 ) mengatakan bahwa : Bila data yang masuk sudah komplit dan persiapan analisis ( tabulasi ) telah cukup baik dan benar, maka analisis segera dilaksanakan. Dalam hal ini untuk lebih mendalam dan konkret, maka digunakan analisis kuantitatif ( statistik ); ataupun bila dipandang permasalahan cukup simpel, dicukupkan dengan analisis kualitatif ( pernyataan-pernyataan / statemen-statemen ) saja.

Atas dasar pernyataan Cholid dan Abu Ahmad di atas, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan teknik analisis kualitatif dengan alas an permasalahan yang diteliti cukup simple dan tidak perlu mendalam, sehingga yang diperlukan hanya pernyataanpernyataan / statemen-statemen saja. Dalam hubungan dengan analisis kualitatif, ada tiga komponen penting yang harus diperhatikan, yaitu : reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi ( Sutopo, 1988 ; 26 ). Sedangkan model analisis yang akan digunakan peneliti adalah model analisis interaktif, artinya analisis dilakukan dalam bentuk interaktif dan ketiga komponen tersebut. Untuk lebih jelasnya model interaktif dapat dilihat pada gambar skema berikut :

Gambar 2 Model Analisis Interaktif

( Sutopo, 1988 : 37 ) Dengan model interaktif dari ketiga komponen, yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi dimungkinkan peneliti untuk melakukan refleksi, apakah hasil dari analis data tersebut sudah cukup memenuhi kreteria atau masih diperlukan lagi penyempurnaan dengan melaksanakan siklus berikutnya

BAB IV HASIL PENELITIAN A. SIKLUS PERTAMA 1. Perencanaan Pada Siklus 1 ini rencana tindakan selama 3 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut : a. Pertemuan 1 ( 3 X 45 Menit ) dengan tindakan : 1. Penyajian Materi ( 1 X 45 Menit ) 2. Pelaksanaan Teknik Tebak Kata ( 2 X 45 Menit ) b. Pertemuan 2 ( 2 X 45 Menit ) dengan tindakan : Penguatan Pelaksanaan Teknik Tebak Kata c. Pertemuan 3 ( 2 X 45 Menit ) dengan tindakan : Pelaksanaan Evaluasi hasil belajar Berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP), maka untuk mata pelajaran sosiologi di kelas XI program Ilmu Sosial diberi waktu 4 jam yang dijadikan 2 X Pertemuan.Oleh karena itu untuk mengefektifkan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti terpaksa harus melakukan kerjasama dengan mata pelajaran lain yang waktunya berurutan dengan jam mata pelajaran sosiologi, terutama pada pertemuan 1 Siklus 1

2. Pelaksanaan Pada Siklus 1 Kompetensi Dasar yang ingin dicapai adalah kemampuan menganalisis mobilitas sosial dalam kehidupan sosial budaya dengan indicator sebagai berikut : 1. Membedakan jenis-jenis mobilitas sosial 2. Mendeskripsikan proses terjadinya mobilitas sosial 3. Mengidentifikasi dampak mobilitas sosial Untuk mencapai ke-3 indikator tersebut di atas maka dilaksanakanlah scenario pembelajaran selama 2 kali pertemuan sebagai berikut : a. Pertemuan 1 ( 3 X 45 Menit ) dengan tindakan : 1. Penyajian Materi ( 1 X 45 Menit) Dalam penyajian materi ini seluruh siswa disuruh mempelajari sendiri materi yang telah dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu materi mobilitas sosial selama 45 menit, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, koordinator dan dirigen dalam proses belajar 2. Pelaksanaan Teknik Tebak Kata ( 2 X 45 Menit ) ; Dalam tahap pelasksanaan teknik tebak kata ini, seluruh siswa disuruh berdiri di depan kelas dan berpasangan ( 2 orang ). Terdapat 18 pasangan dalam kegiatan ini sesuai dengan jumlah siswa kelas XI IPS 1, yakni 34 orang. Dalam tahap ini tiap-tiap pasangan yakni siswa yang pertama diberi kartu berukuran 10 X 10 Cm yang berisi soal-soal dan boleh dibuka serta dibacakan pada siswa pasangannya, sedangkan siswa yang kedua mendapat kartu berukuran 5 X 2 cm yang berisi jawaban yang tidak boleh dibuka dan harus diselipkan ditelinganya. Pasangan yang menjawab benar dipersilahkan duduk, sedangkan pasangan yang belum bisa boleh membuat pertanyaan lain yang intinya tetap mengarah pada jawaban. b. Pertemuan 2 ( 2 X 45 Menit ) dengan tindakan Penguatan Pelaksanaan Teknik Tebak Kata Pada tahap penguatan pelaksaan teknik tebak kata ini, pelaksanaannya sama seperti pada tahap kegiatan tebak kata, yaitu : 1) Jumlah pasangan tetap berjumlah 18 pasang, hanya pada setiap pasangan harus bertukar pasangan secara acak 2) Jumlah kartu yang berisi soal soal adalah sama berjumlah 18 pasang, hanya saja kartu pada tiap-tiap ditukar secara acak. 3) Pelaksanaannya sama seperti sebelumnya, siswa yang pertama membacakan kartu soal, sedangkan siswa yang kedua harus menjawab dan seterusnya seperti yang dilakukan pada tahap kegiatan tebak kata. 3. Pengamatan Dalam penelitian ini, peneliti berada di tengah-tengah siswa untuk mengelola proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan diatur sedemikian rupa agar penelitian ini dapat berhasil seperti yang diharapkan. Selain itu, dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat bantu chek lists, yaitu suatu daftar yang berisi namanama subjek atau pasangan dan factor-faktor yang hendak diteliti. Dengan alat bantu

tersebut, peneliti mendapatkan data tentang pelaksanaan kegiatan teknik tebak kata dan tahap kegiatan penguatan tebak kata. Dari hasil pengamatan pada tahap kegiatan tebak kata pada siklus 1 diperoleh data sebagai berikut : Tabel 1 Check Lists Hasil Tebak Kata Pada Siklus 1 Jawaban Tebak Kata No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Nama Abdul Shomat SZ Achmad Khoiru Rozi Adin Febrianto Ramadhan Ahmad Diyanto Anis Kurratul Aini Bagus Pebrianto Bayu Ardiansyah Candra Oktavia Sari Dewi Anita Diah Ainur Rosyida Elsa Surya Rohman Evi Yuniarti Feri Infa Kusmawan Imam Afwan Hidayatulloh Imam Sholeh Iqbal Tawakal Ismiati Khoirun Nisak Liawati Linda Kartika Lukis Zainul Muttaqin Lutvia Puspitasari M. Hasan Mahfudin Mega Tria Wahyuni Nikmatul Khoiriyah Novi Ayu Rohmi Setiawati Nur Rizal Choiril Pramudya Prasetyo Puri Wahyuni Rika Iin Rohmatulisa Selvi Astika Devi Sigit Eko Cahyono Siti Umi Khulsum Suli Rahmawati Pasangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 V V V V V V V V V V V V V V Benar V V V Salah Nilai 10 0 0 10 0 10 0 0 10 0 0 0 10 10 10 10 0

35 36

Youi Wahyu Nurdiana Yunita Nur Aviva Jumlah

18 18

V 9 9

10 90

Kreteria Pelaksanaan Teknik Tebak Kata : 1. Jika pasangan siswa menjawab benar nilainya : 10 2. Jika pasangan siswa menjawab salah nilainya : 0 3. Skore Maksimum : 180 dan Skore Minimum : 0 Dari hasil kegiatan awal teknik tebak kata dapat diketahui bahwa terdapat 9 pasangan dengan nilai 90 yang menjawab benar ( 50 % ), sedangkan 9 pasangan lainnya menjawab salah dengan nilai 0 (50 % ), dan nilai rata-rata siswa adalah 5,00. Artinya pada tahap awal ini proses pembelajaran dapat dikatakan belum berjalan seperti yang diharapkan. Mungkin siswa masih kebingungan belum sepenuhnya terbiasa aktif didepan kelas atau mungkin juga siswa belum menguasai sepenuhnya materi yang diberikan. Selanjutnya dari hasil pengamatan pada tahap kegiatan penguatan tebak kata pada siklus 1 diperoleh data sebagai berikut :

No 1. 2 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Tabel 2 Check Lists Hasil Penguatan Pelaksanaan Tebak Kata Pada Siklus 1 Jawaban Tebak Kata Nama Pasangan Benar Salah Nilai Abdul Shomat SZ Achmad Khoiru Rozi Adin Febrianto Ramadhan Ahmad Diyanto Anis Kurratul Aini Bagus Pebrianto Bayu Ardiansyah Candra Oktavia Sari Dewi Anita Diah Ainur Rosyida Elsa Surya Rohman Evi Yuniarti Feri Infa Kusmawan Imam Afwan Hidayatulloh Imam Sholeh 1 2 3 4 5 6 7 8 V V V V V V V V 0 10 10 10 10 0 10 0

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35 36

Iqbal Tawakal Ismiati Khoirun Nisak Liawati Linda Kartika Lukis Zainul Muttaqin Lutvia Puspitasari M. Hasan Mahfudin Mega Tria Wahyuni Nikmatul Khoiriyah Novi Ayu Rohmi Setiawati Nur Rizal Choiril Pramudya Prasetyo Puri Wahyuni Rika Iin Rohmatulisa Selvi Astika Devi Sigit Eko Cahyono Siti Umi Khulsum Suli Rahmawati Youi Wahyu Nurdiana Yunita Nur Aviva Jumlah

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 18

V V V V V V V V V V 12 6

10 0 10 10 0 10 10 10 0 10 120

Kreteria Pelaksanaan Teknik Tebak Kata : 1. Jika pasangan siswa menjawab benar nilainya : 10 2. Jika pasangan siswa menjawab salah nilainya : 3. Skore Maksimum : 180 dan Skore Minimum : 0 Dari hasil tahap penguatan pelaksanaan teknik tebak kata pada siklus 1 ini, dapat diketahui bahwa terdapat 12 pasangan dengan niali 120 yang menjawab benar ( 66,67 % ), sedangkan 6 pasangan lainnya dengan nilai 0 menjawab salah ( 33,33 % ), dan rata-rata siswa mencapai 6,67. Artinya pada tahap penguatan pelaksanaan tebak kata ini sudah terjadi peningkatan 16, 67 % dari sebelumnya. Meskipun proses pembelajaran belum berjalan sebagaimana yang diharapkan, namun siswa mulai antusias dan mulai menyukai teknik tebak kata yang diterapkan peneliti. 3. Refleksi Untuk mengetahui tahap refleksi maka diperlukan pelaksanaan evaluasi. Evaluasi adalah penentuan nilai suatu program dan penentuan pencapaian tujuan suatu program. Pelaksanaan evaluasi sangat penting untuk mengetahui beberapa hal, diantaranya : 1) mengetahui proses pembelajaran yang dikenal dengan evaluiasi proses

2) untuk mengetahui produk atau efek yang dihasilkan oleh siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang, yang dikenal dengan evaluasi produk ( Dyah Wilujeng, 2003 : 3 ). Evaluasi dalam bentuk evaluasi proses telah dilaksanakan oleh peneliti sejak berlangsungnya kegiatan siklus 1, khususnya dalam tahap tebak kata dan tahap penguatan penguatan pelaksanaan tebak kata yang hasilnya telah dipaparkan pada halaman depan. Selanjutnya peneliti akan melaksanakan evaluasi proses dalam bentuk pemberian tes ( ulangan) selama 2 jam ( 2 X 45 Menit ). Soal-soal yang diberikan berbentuk pilihan ganda dan isian yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dari pelaksanaan tes ( ulangan ) dapat dipaparkan hasil belajar siswa pada siklus 1 berikut ini : Tabel 3 Data Nilai Siswa Hasil Evaluasi Siklus 1 No Nama Siswa Nilai Keterangan 1. Abdul Shomat SZ Tuntas 77 2. Tuntas Achmad Khoiru Rozi 75 3. Rermidi Adin Febrianto Ramadhan 70 4. Tuntas Ahmad Diyanto 82 5. Tuntas Anis Kurratul Aini 76 6. Tuntas Bagus Pebrianto 80 7. Rermidi Bayu Ardiansyah 70 8. Tuntas Candra Oktavia Sari 78 9. Tuntas Dewi Anita 80 10. Diah Ainur Rosyida Tuntas 80 11. Elsa Surya Rohman Rermidi 74 12. Evi Yuniarti Rermidi 80 13. Feri Infa Kusmawan Rermidi 74 14. Imam Afwan Hidayatulloh Remidi 74 15. Imam Sholeh Tuntas 75 16. Iqbal Tawakal Rermidi 70 17. Ismiati Tuntas 79 18. Khoirun Nisak Tuntas 80 19. Liawati Tuntas 78 20. Linda Kartika Tuntas 80 21. Lukis Zainul Muttaqin Tuntas 76 22. Lutvia Puspitasari Remidi 78 23. M. Hasan Mahfudin Rermidi 74 24. Mega Tria Wahyuni Tuntas 79 25. Nikmatul Khoiriyah Tuntas 80 26. Novi Ayu Rohmi Setiawati Tuntas 78 27. Nur Rizal Choiril Tuntas 76

28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35 36

Pramudya Prasetyo Puri Wahyuni Rika Iin Rohmatulisa Selvi Astika Devi Sigit Eko Cahyono Siti Umi Khulsum Suli Rahmawati Youi Wahyu Nurdiana Yunita Nur Aviva Jumlah Rata-rata

74 82 78 75 73 80 80 80 82 2777 77,14

Rermidi Tuntas Tuntas Tuntas Remidi Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

Atas dasar hasil evaluasi siklus 1 dapat diketahui bahwa rata-rata siswa mencapai 77, 14, sedangkan nilai terendah adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 82. Selanjutnya ditinjau dari penguasaan bahan ajar atas dasar SKBM(KKM) yang ditetapkan 75 dapat dijelaskan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Nilai < 75 75 Jumlah

Tabel 4 Pengolahan Nilai Hasil Evaluasi Siklus 1 Frekuensi % Frekuensi Keterangan 11 25 36 30,56 69,44 100 Remidi Tuntas

Atas dasar pengolahan nilai siklus 1 dapat diketahui bahwa siswa yang berhasil mencapai nilai SKBM : 75 ( Tuntas ) adalah sebanyak 25 orang ( 69,44 % ), sedangkan siswa yang belum mencapai nilai SKBM : 75 ( Remidi ) adalah sebanyak 11 orang ( 30,55 % ). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan siklus 1 belum berhasil seperti yang diharapkan sehingga diperlukan pelaksanaan siklus 2. B. Siklus Kedua 1. Perencanaan Pada Siklus 2 ini rencana tindakan adalah sama seperti pada siklus 1, yakni dilaksanakan 3 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut : a. Pertemuan 1 ( 3 X 45 Menit ) dengan tindakan : 1. Penyajian Materi ( 1 X 45 Menit ) 2. Pelaksanaan Teknik Tebak Kata ( 2 X 45 Menit ) b. Pertemuan 2 ( 2 X 45 Menit ) dengan tindakan : Penguatan Pelaksanaan Teknik Tebak Kata c. Pertemuan 3 ( 2 X 45 Menit ) dengan tindakan : Pelaksanaan Evaluasi hasil belajar Demikian juga pada pelaksanaan siklus 2 maka untuk mengefektifkan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti terpaksa harus melakukan kerjasama dengan mata pelajaran lain yang waktunya berurutan dengan jam mata pelajaran sosiologi, terutama pada pertemuan 1 Siklus 2. 2. Pelaksanaan Pada Siklus 2 ini Kompetensi Dasar yang ingin dicapai adalah sama seperti pada siklus 1, yakni : kemampuan menganalisis mobilitas sosial dalam kehidupan sosial budaya dengan indicator sebagai berikut : 1) Membedakan jenis-jenis mobilitas sosial 2.) Mendeskripsikan proses terjadinya mobilitas sosial 3.) Mengidentifikasi dampak mobilitas sosial Untuk mencapai ke-3 indikator tersebut di atas maka dilaksanakanlah scenario pembelajaran selama 2 kali pertemuan sebagai berikut : a. Pertemuan 1 ( 3 X 45 Menit ) dengan tindakan : 1. Penyajian Materi ( 1 X 45 Menit) Dalam penyajian materi ini seluruh siswa disuruh mempelajari sendiri materi yang telah dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu materi mobilitas sosial selama 45 menit, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, koordinator dan dirigen dalam proses belajar

2. Pelaksanaan Teknik Tebak Kata ( 2 X 45 Menit ) ; Dalam tahap pelasksanaan teknik tebak kata ini, seluruh siswa disuruh berdiri di depan kelas dan berpasangan ( 2 orang ). Terdapat 39 pasangan dalam kegiatan ini sesuai dengan jumlah siswa kelas XI IPS 1, yakni 36 orang. Dalam tahap ini tiap-tiap pasangan yakni siswa yang pertama diberi kartu berukuran 10 X 10 Cm yang berisi soal-soal dan boleh dibuka serta dibacakan pada siswa pasangannya, sedangkan siswa yang kedua mendapat kartu berukuran 5 X 2 cm yang berisi jawaban yang tidak boleh dibuka dan harus diselipkan ditelinganya. Pasangan yang menjawab benar dipersilahkan duduk, sedangkan pasangan yang belum bisa boleh membuat pertanyaan lain yang intinya tetap mengarah pada jawaban. Ada beberapa hal yang penting dalam tahap kegiatan tebak kata pada siklus 2 yaitu sebagai berikut : 1) Soal-soal dan jawaban yang diberikan dalam bentuk kartu, secara keseluuruhan berbeda dengan soal-soal dan jawaban yang diberikan pada siklus 1, namun materi masih tetap masalah mobilitas sosial. 2) Pasangan siswa diroling secara acak, artinya pasangan siswa pada tahap tebak kata siklus 2 tidak sama seperti pada siklus 1. 3) Peneliti menekankan pada siswa bahwa selain soal-soal yang dikhususkan untuk tiap-tiap pasangan, seluruh siswa harus memperhatikan secara seksama soal-soal dari pasangan lainnya, sebab dalam tahap penguatan yang kedua akan diroling secara acak. b. Pertemuan 2 ( 2 X 45 Menit ) dengan tindakan Penguatan Pelaksanaan Teknik Tebak Kata Pada tahap penguatan pelaksaan teknik tebak pada siklus 2 kata ini, pelaksanaannya sama seperti pada tahap kegiatan tebak kata sebelumnya, yaitu : 1) Jumlah pasangan tetap berjumlah 18 pasang, hanya pada setiap pasangan harus bertukar pangan secara acak 2) Jumlah kartu yang berisi soal soal adalah sama berjumlah 18 pasang, hanya saja kartu pada tiap-tiap ditukar secara acak. 3) Pelaksanaannya sama seperti sebelumnya, siswa yang pertama membacakan kartu soal, sedangkan siswa yang kedua harus menjawab dan seterusnya seperti yang dilakukan pada tahap kegiatan tebak kata. Sebagaimana pada siklus 1 maka tiap-tiap pasangan yakni siswa yang pertama diberi kartu berukuran 10 X 10 Cm yang berisi soal-soal dan boleh dibuka serta dibacakan pada siswa pasangannya, sedangkan siswa yang kedua mendapat kartu berukuran 5 X 2 cm yang berisi jawaban yang tidak boleh dibuka dan harus diselipkan ditelinganya. Pasangan yang menjawab benar dipersilahkan duduk, sedangkan pasangan yang belum bisa boleh membuat pertanyaan lain yang intinya tetap mengarah pada jawaban. 3. Pengamatan Dalam tahap pengamatan pada siklus 2, seperti halnya pada siklus 1 maka peneliti berada di tengah-tengah siswa untuk mengelola proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan diatur sedemikian rupa agar penelitian ini dapat berhasil seperti yang diharapkan. Selain itu, dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat

bantu chek lists, yaitu suatu daftar yang berisi nama-nama subjek atau pasangan dan factor-faktor yang hendak diteliti. Dengan alat bantu tersebut, peneliti mendapatkan data tentang pelaksanaan kegiatan teknik tebak kata dan tahap kegiatan penguatan tebak kata Dari pelasanaan kegiatan tebak kata pada siklus 2 diperoleh data sebagai berikut : Tabel 5 Check Lists Hasil Tebak Kata Pada Siklus 1 Jawaban Tebak Kata No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. Nama Abdul Shomat SZ Achmad Khoiru Rozi Adin Febrianto Ramadhan Ahmad Diyanto Anis Kurratul Aini Bagus Pebrianto Bayu Ardiansyah Candra Oktavia Sari Dewi Anita Diah Ainur Rosyida Elsa Surya Rohman Evi Yuniarti Feri Infa Kusmawan Imam Afwan Hidayatulloh Imam Sholeh Iqbal Tawakal Ismiati Khoirun Nisak Liawati Linda Kartika Lukis Zainul Muttaqin Lutvia Puspitasari M. Hasan Mahfudin Mega Tria Wahyuni Nikmatul Khoiriyah Novi Ayu Rohmi Setiawati Nur Rizal Choiril Pramudya Prasetyo Pasangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 V V V V V V V V V V Benar Salah V Nilai 0 10 10 V 0 10 10 10 0 10 10 10 10 0 10

V V

29. 30. 31. 32. 33. 34. 35 36

Puri Wahyuni Rika Iin Rohmatulisa Selvi Astika Devi Sigit Eko Cahyono Siti Umi Khulsum Suli Rahmawati Youi Wahyu Nurdiana Yunita Nur Aviva Jumlah

15 16 17 18 18

V V V V 14 4

10 10 10 10 140

Kreteria Pelaksanaan Teknik Tebak Kata : 1. Jika pasangan siswa menjawab benar nilainya : 10 2. Jika pasangan siswa menjawab salah nilainya : 0 3. Skore Maksimum : 180 dan Skore Minimum : 0 Dari hasil pelaksanaan tebak kata pada siklus 2 dapat diketahui bahwa terdapat 14 pasangan dengan nilai 140 yang menjawab benar ( 77, 78 % ), sedangkan 5 pasangan lainnya dengan nilai 0 menjawab salah ( 22, 22 % ), dan rata-rata siswa mencapai 7,78. Artinya pada tahap tebak kata pada siklus 2 ini dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran mulai berjalan seperti yang diharapkan. Siswa mulai antusias, aktif dan mulai percaya diri pada kemampuannya. Selanjutnya dari hasil pengamatan pada tahap kegiatan siklus 2 diperoleh data sebagai berikut : penguatan tebak kata pada

Tabel 6 Check Lists Hasil Penguatan Pelaksanaan Tebak Kata Pada Siklus 2 Jawaban Tebak Kata No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Abdul Shomat SZ Achmad Khoiru Rozi Adin Febrianto Ramadhan Ahmad Diyanto Anis Kurratul Aini Bagus Pebrianto Bayu Ardiansyah Candra Oktavia Sari Dewi Anita Diah Ainur Rosyida Elsa Surya Rohman Pasangan 1 2 3 4 5 6 Benar V V V V V V Salah Nilai 10 10 10 10 10 10

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35 36

Evi Yuniarti Feri Infa Kusmawan Imam Afwan Hidayatulloh Imam Sholeh Iqbal Tawakal Ismiati Khoirun Nisak Liawati Linda Kartika Lukis Zainul Muttaqin Lutvia Puspitasari M. Hasan Mahfudin Mega Tria Wahyuni Nikmatul Khoiriyah Novi Ayu Rohmi Setiawati Nur Rizal Choiril Pramudya Prasetyo Puri Wahyuni Rika Iin Rohmatulisa Selvi Astika Devi Sigit Eko Cahyono Siti Umi Khulsum Suli Rahmawati Youi Wahyu Nurdiana Yunita Nur Aviva Jumlah

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 18

V V V V V V V V V V V V 16 2

10 10 0 10 10 10 10 10 10 0 10 10 160

Kreteria Pelaksanaan Teknik Tebak Kata : 1. Jika pasangan siswa menjawab benar nilainya : 10 2. Jika pasangan siswa menjawab salah nilainya : 0 3. Skore Maksimum : 180 dan Skore Minimum : 0 Dari hasil kegiatan tahap penguatan tebak kata pada siklus 2 ini, diketahui bahwa terdapat 16 pasangan yang menjawab benar dengan nilai 160 ( 88,89% ), sedangkan 2 pasangan lainnya dengan nilai 0 menjawab salah ( 11,11% ), dan rata-rata siswa mencapai 8, 89. Artinya pada tahap penguatan siklus 2 ini proses pembelajaran dapat dikatakan sudah berjalan sesuai yang diharapkan. Melalui teknik tebak kata siswa menjadi aktif, kreatif, dan antusias untuk meningkatkan prestasi belajar mereka. 3. Refleksi Untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan siklus 2,

maka

perlu dilaksanakan evaluasi tahap kedua.Bentuk soal adalah sama seperti pada siklus 1, yakni pilihan ganda dan isian namun soal-soal berbeda dengan soal-soal yang diberikan pada siklus 1. Dari pelaksanaan tes ( ulangan ) dapat dipaparkan hasil belajar siswa pada siklus 2 seperti dalam tabel berikut ini : Tabel 7 Hasil Evaluasi Belajar Siswa Pada Siklus 2 Nama Siswa Nilai Keterangan Tuntas Abdul Shomat SZ 80 Tuntas Achmad Khoiru Rozi 75 Adin Febrianto Tuntas Ramadhan 76 Tuntas Ahmad Diyanto 82 Tuntas Anis Kurratul Aini 84 Tuntas Bagus Pebrianto 80 Remidi Bayu Ardiansyah 72 Tuntas Candra Oktavia Sari 80 Tuntas Dewi Anita 82 Tuntas Diah Ainur Rosyida 84 Tuntas Elsa Surya Rohman 80 Tuntas Evi Yuniarti 82 Tuntas Feri Infa Kusmawan 78 Imam Afwan Tuntas Hidayatulloh 76 Tuntas Imam Sholeh 80 Remidi Iqbal Tawakal 72 Tuntas Ismiati 80 Tuntas Khoirun Nisak 80 Tuntas Liawati 80 Tuntas Linda Kartika 80 Tuntas Lukis Zainul Muttaqin 78 Tuntas Lutvia Puspitasari 84 Tuntas M. Hasan Mahfudin 75 Tuntas Mega Tria Wahyuni 85 Tuntas Nikmatul Khoiriyah 85 Novi Ayu Rohmi Tuntas Setiawati 85 Tuntas Nur Rizal Choiril 85 Tuntas Pramudya Prasetyo 80 Tuntas Puri Wahyuni 84 Tuntas Rika Iin Rohmatulisa 79 Tuntas Selvi Astika Devi 80

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31.

32. 33. 34. 35 36

Sigit Eko Cahyono Siti Umi Khulsum Suli Rahmawati Youi Wahyu Nurdiana Yunita Nur Aviva Jumlah Rata-rata

74 82 84 86 88 3180 79,5

Remidi Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

Atas dasar hasil evaluasi pada siklus 2, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata siswa mencapai 79,5 artinya meningkat 8,4 poin dari nilai evaluasi siklus 1 yang rata-ratanya mencapai 71,1. Sedangkan nilai terendah pada evaluasi siklus 1 masih mencapai 70 akhirnya meningkat menjadi 72. Demikian juga nilai tertinggi yang sebelumnya pada siklus 1 masih mencapai 82 akhirnya meningkat menjadi 88 pada siklus 2. Selanjutnya ditinjau dari penguasaan bahan ajar atas dasar SKBM yang ditetapkan 64 dapat dijelaskan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Nilai < 75 75 Jumlah

Tabel 8 Pengolahan Nilai Hasil Evaluasi Siklus 2 Frekuensi % Frekuensi Keterangan 3 33 36 8,33 91,7 100 Remidi Tuntas

Atas dasar pengolahan nilai siklus 2 dapat diketahui bahwa siswa yang berhasil mencapai nilai SKBM : 75 ( Tuntas ) adalah sebanyak 33 orang ( 91, 7 % ), artinya meningkat 8 0rang ( 22,22 % ) dari hasil evaluasi pada siklus 1 yang hanya mencapai 25 orang ( 69,44% ). Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai SKBM : 75 ( Remidi ) adalah sebanyak 3 orang ( 8,33 % ), artinya menurun 8 orang ( 22, 22 % ) dari hasil evaluasi belajar pada siklus 1 yang mencapai 11 orang ( 30, 55 % ). Dengan demikian pelaksaan siklus 2 dalam penelitian ini dapat dikatakan telah berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPS-1 seperti yang diharapkan peneliti. Keberhasilan penggunaan teknik tebak kata dalam penelitian ini dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPS 1 diperkuat dengan pemberian angket terhadap siswa sebagai berikut : 1. Angket Pertanyaan 1 : Apakah menyenangkan atau membosankan proses pembelajaran yang menerapkan teknik tebak kata ? Jawaban siswa adalah sebagai berikut : a. Sangat menyenangkan : menjawab ia 27 orang b. Agak menyenangkan : menjawab ia 6 orang c. Agak membosankan : menjawab ia 3 orang

d. Membosankan : menjawab ia 0 orang Dari hasil angket dapat diolah dalam bentuk tabel sebagai berikut : Tabel 9 Pengolahan Angket Siswa Pertanyaan 1 No Jawaban Frekuensi % Frekuensi 1. Kelompok a 27 75 2. Kelompok b 6 16, 67 3. Kelompok c 3 8, 33 4. Kelompok d 0 0, 00 Jumlah 36 100 Atas dasar hasil angket Pertanyaan 1 tentang menyenangkan atau membosankan proses pembelajaran yang menerapkan teknik tebak kata, dapat diketahui bahwa siswa yang menjawab jawaban kelompok a sangat menyenangkan berjumlah 27 orang ( 75 % ), siswa yang menjawab kelompok b agak menyenangkan sebanyak 6 orang ( 16, 67 % ), siswa yang menjawab kelompok c agak membosankan berjumlah 3 orang ( 8,33 % ), dan tidak ada satupun siswa yang menjawab kelompok d membosankan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan teknik tebak kata dalam materi mobilitas sosial termasuk termasuk teknik atau metode yang sangat disenangi siswa. 2. Angket Pertanyaan 2 Apakah sulit atau mudah mempelajari materi mobilitas sosial yang menggunakan penerapan teknik tebak kata ? Jawaban siswa adalah sebagai berikut : a. Sangat mudah : menjawab ia 4 orang b. Agak mudah : menjawab ia 22 orang c. Agak sulit : menjawab ia 8 orang d. Sulit : menjawab ia 2 orang Dari hasil angket dapat diolah dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 10 Pengolahan Angket Siswa Pertanyaan 1 No 1. 2. 3. 4. Jawaban Kelompok a Kelompok b Kelompok c Kelompok d Jumlah Frekuensi 4 22 8 2 36 % Frekuensi 11,11 61,11 22,22 5,56 100

Atas dasar hasil angket Pertanyaan 2 tentang sulit atau mudah mempelajari materi mobilitas sosial dengan menggunakan penerapan teknik tebak kata, dapat diketahui bahwa siswa yang menjawab jawaban kelompok a sangat mudah berjumlah 4 orang ( 11,11 % ), siswa yang menjawab kelompok b agak mudah sebanyak 22 orang ( 61,11 ), siswa yang menjawab kelompok c agak sulit berjumlah 8 orang ( 22,22 % ), dan siswa yang menjawab kelompok d sulit sebanyak 2 orang ( 5, 56 % ). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mempelajari materi mobilitas sosial dengan menggunakan teknik tebak kata termasuk agak mudah dipahami siswa.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Atas dasar hasil penelitian yang telah dilaksanakan, akhirnya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Penerapan Teknik Tebak Kata pada mobilitas sosial ternyata berhasil meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1, hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada tiap-tiap siklus.Pada Siklus 1 dalam tahap kegiatan tebak kata yang semula siswa menjawab benar berjumlah 9 pasangan ( 50 % ) kemudian meningkat menjadi 12 pasangan ( 66,67% ) pada tahap penguatan. Demikian juga pada Siklus 2, pada tahap kegiatan tebak kata yang semula siswa menjawab benar berjumlah 14 pasangan ( 77,78 % ) kemudian meningkat menjadi 16 pasangan ( 88, 89 % ) pada tahap penguatan. 2. Keberhasilan penerapan Teknik Tebak Kata dalam materi mobilitas sosial dalam rangka meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 semakin diperkuat dengan pelaksanaan tes hasil belajar. Terbukti : ( a ) nilai rata-rata siswa yang semula 66, 42 pada Siklus 1 meningkat menjadi 71, 26 pada Siklus 2; ( b ) siswa yang menguasai bahan ajar atas dasar SKBM patokan sekolah yang ditentukan 75, yang semula 25 orang ( 69,44 % ) pada Siklus 1 meningkat 22,22 % yaitu menjadi 33 orang ( 91, 7 % ) pada Siklus 2. 3. Keberhasilan penerapan Teknik Tebak Kata dalam materi mobilitas sosial dalam rangka meningkatkan prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 1 lebih diperkuat lagi dengan penyebaran hasil angket pertanyaan 1 pada siswa. Terbukti dari 36 orang siswa, 27 ( 75 % ) orang diantaranya menganggap pelaksanaan teknik tebak kata sangat menyenangkan. Selain penyebaran angket pertannyaan 2 pada siswa itu terdapat 22 orang siswa ( 61,11 % ) dari 36 orang siswa, mengaggap agak mudah mempelajari materi mobilitas sosial melalui teknik tebak kata. B. Saran Saran 1. Untuk lebih menyempurnakan penerapan Teknik Tebak Kata dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, alangkah baiknya jika ada penelitian lebih lanjut, bukan hanya untuk mata pelajaran sosiologi saja tetapi bisa juga mata pelajaran lainnya terutama mata pelajaran ilmu sosial. 3. Sebagai pendidik kita harus mampu mengelola proses pembelajaran dengan inovasi inovasi baru terutama dalam teknik pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, 2003, Metodologi Penelitian, Jakarta : Bumi Aksara Dinas Dikbud Jatim, 2002, Mekanisme dan Prosedur Pengembangan Pengujian Berbasis Kompetensi, Disajikan dalam Workshop KBK SMU Negeri/Swasta, Jawa Timur, Surabaya,Proyek Peningkatan Mutu, SMU Jawa Timur Dinas Pendidikan Jatim, 2003, Pengembangan Kurikulum dan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sosialisasi KSPBK Tahun 2003 ( Disajikan Dalam Kegiatan Worshop MGMP SMU Jawa Timur Tahun 2003), Surabaya : Direktorat Dikmenum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prop. Jatim Dinas Dikbud Jatim, 2004, Program dan Strategi Pelaksanaan Kurikulum 2004 ( Disampaikan pada worshop MGMP SMA Jawa Timur Tahun 2004), Surabaya : Subdin Dikmenum Proyek Peningkatan Mutu SMU Jawa Timur Departemen Pendidikan Nasional, 2005, Pedoman Khusus Pembelajaran Tuntas, Jakarta : Direktorat Dikmenum Departemen Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan Nasional, 2005b, Penetapan SKBM dan Analisis Pencapaian Hasil SKBM, ( Materi 3 ), Jakarta : DIT, Dikmenum Depdiknas Dinas Pendidikan Jatim, 2006, Teknik Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Research) Sekolah Menengah Atas, Disampaikan pada : Workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Tahun 2006, Surabaya : Perluasan dan Peningkatan Mutu SMU Depdikbud Jatim Dyah Sriwilujeng, 2003, Penilaian Proses dan Hasil Belajar ( Porto Folio ),Malang : Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Pusat Pengembangan dan Penataran Guru IPS dan PMP. Endang Ekowati, 2003, Model-model pembelajaran Inovatif sebagai solusi Mengakhiri Dominasi Pembelajaran Guru, Surabaya : Disampaikan Dalam Sosialisasi KBK GuruGuru SMAN 2 Surabaya Kartini Kartono, 1996, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Bandung : Mandar Maju Mudjiono, 1986, Penyesuaian Kegaiatan Belajar Mengajar di Sekolah Dengan Pendidikan Seumur Hidup, Dalam Wayan Ardhana : Dasar-Dasar Kependidikan, Malang : FKIP IKIP Malang. Nursid Sumaatmadja, 1984, Metodologi Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Bandung : Alumni Ngalim Poerwanto, 1995, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : PT Remaja Rosdakarya Omar Hamalik, 1982, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, Bandung : Tarsito Suharsini Arikunto, 1988, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bina Aksara Sutopo, 1988, Pengantar Penelitian Kualitatif : Dasar-Dasar Teoritis dan Praktis, Surakarta : Pusat Penelitian Universitas Sebelas Maret Sutrisno Hadi, 1987, Statistik Jilid 2, Jogjakarta : Andi Offset Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Jakarta : PN Balai Pustaka Winarno Surakhmad, 1973, Dasar dan Teknik Interaktif Mengajar dan Belajar, Bandung : Tarsito

Lampiran 1 : Media yang digunakan dalam Siklus 1 A.Kartu dari kertas manila yang berukuran 10 x 10 cm berisi soal soal sebagi berikut: 1. Siswa yang pandai dan selalu mendapat ranking di kelasnya, ternyata setelah ia keluar SMA ia tidak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi karena orang tuanya tidak mampu. Dalam mobilitas sosial, faktor apa yang menghambat pelaksanaan mobilitas sosialku ?? 2. 1.Memberi kesempatan kepada seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan hidupnya. 2..Mendorong seseorang atau kelompok untuk berprestasi yang lebih tinggi / lebih maju. Dalam mobilitas social termasuk apakah aku ?? 3. 1.Berdisiplin murni 2.Berorientasi ke masa depan 3.Menghargai hasil karya orang lain. Dalam mobilitas social termasuk apakah aku ?? 4. Tidak dihargainya lagi suatu kedudukan sebagai lapisan social atas.Dalam mobilitas social termasuk bentuk apakah aku ?? 5. Perubahan status social seseorang / kelompok mengakibatkan terjadinya peningkatan atau penurunan status social seseorang dalam masyarakat.Dalam mobilitas social termasuk cirri apakah aku ?? 6. Mobilitas social adalah gerak dari satu posisi social ke posisi social lainnya.Pengertian tersebut merupakan pendapat siapakah aku ?? 7. Gerak perpimdahan individu atau kelompok dari status social yang satu ke status social lainnya yang bersifat sederajat , dalam mobilitas social disebut apakah aku ?? 8. Gerak perpindahan individu atau kelompok dari status sosial yang satu ke status social lainnya yang tidak sederajat , dalam mobilitas social disebut apakah aku ?? 9. Gerak perpindahan individu / kelompok dari daerah yang satu ke daerah yang lain, dalm mobilitas social disebut apakah aku ?? 10. Gerakl perpindahan individu / kelompok dari status social yang lebih tinggi ke status social yang lebih rendah , dalam mobilitas social disebut apakah aku ?? 11. Gerak perpindahan individu / kelompok dari status social yang lebih rendah ke status social yang lebih tinggi, dalam mobilitas social disebut apakah aku ?? 12. Angkatan bersenjata dan lembaga pendidikan. Dalam mobilitas social apa perananku ?? 13. Perbedaan status sosial yang terjadi antar dua generasi dalam satu garis keturunan, dalam mobilitas sosial disebut apakah aku ?? 14. Perbedaan status sosial yang terjadi dalam satu generasi yang sama yang masih dalam satu garis keturunan, dalam mobilitas sosial disebut apakah aku ?? 15. Perubahan status sosial seseorang atau kelompok yang ditandai dengan tidak terjadinya peningkatan atau penurunan tingkat kesejahteraan. Dalam mobilitas sosial termasuk ciri ciri apakah aku ??

16. Perpindahan seseorang atau kelompok dalam rangka mengungsi untuk menghindari bahaya meletusnya gunung merapi ,dalam mobilitas geografis disebut apakah aku ?? 17. Individu atau kelompok yang menjadi anggota kelas sosial baru diterima secara baik oleh anggota kelas sosial yang baru dimasukinya. Dalam pelaksanaan mobilitas sosial apa yang terjadi padaku ?? 18. Terbentuknya kedudukan ( lapisan sosial )baru yang lebih tinggi daripada lapisan sosial yang sudah ada. Dalam mobilitas sosial termasuk bentuk apakah aku ?? 19. 1.Adanya status sosial yang beraneka ragam dalam masyarakat. 2. Adanya situasi politik yang tidak menentu. Dalam mobilitas sosial, apa perananku ?? 20. Mobilitas sosial adalah perpindahan status sosial dalam stratifikasi sosial.Pengertian tersebut merupakan pendapat siapakah aku ?

B.Kartu dari kertas HVS yang berukuran 5x 2 cm berisi jawaban sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Kondisi Keluarga Dampak positif mobilitas sosial Mentalitas positif Mobilitas Vertikal nail Ciri dari mobilitas vertikal Soerjono Soekanto Mobilitas Horizontal Mobilitas Verikal Mobilitas Geografis Social sinking ( mobilitas vertikal turun ) Social climbing ( Mobilitas vertical naik ) Saluran mobilitas social Mobilitas intergenerasi Mobilitas intra generasi Mobilitas horizontal Eavakuasi Penyesuaian diri Mobilitas vertical naik Faktor pendorong mobilitas social Kamanto Sunarto

Lampiran 2 : Evaluasi Belajar Siswa Pada Siklus 1 A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar ! 1. Gejala di bawah ini yang secara langsung dapat memacu mobilitas social adalah a. arus perpindahan petani dari desa ke kawasan industri b. penyaluran sumbangan ke daerah yang dilanda bencana banjir c. pembukaan pendaftaran siswa baru di suatu sekolah menengah umum d. bantuan militer ke suatu Negara yang kacau dilanda perang saudara e. seorang ketua koperasi terpilih kembali untuk masa jabatan berikutnya 2. Mobilitas social kelompok atas lebih dinamis dibandingkan mobilitas social kelompok bawah karena. a. mendapatkan prioritas dan penghargaan b.mementingkan kelompok dan pribadi c. bersifat kekeluargaan dan informal d. berpendidikan dan modern e. memiliki banyak kesempatan dan fisilitas 3. Faktor yang mendorong golongan rakyat jelata untuk melakukan mobilitas social vertical adalah a. Status social b. kemiskinan c. Mencari pekerjaan d. Kepadatan penduduk e. Keadaan politik

4. Mobilitas social vertical ke atas berbeda dengan mobilitas social vertical ke bawah, sebab untuk mendapatkan tempat ke dalam kelas social yang lebih tinggi harus melalui a. kerja sama yang kuat b. konflik yang keras c. persaingan yang ketat d. penyesuaian yang tepat e. bantuan dana yang besar 5. Dalam masyarakat berkasta, wanita dari kasta rendah dapat melakukan mobilitas social melalui . a. perkawinan b. kekayaan c. pendidikan d. keagamaan e. upacara adapt 6. Yang termasuk contoh mobilitas vertical ke atas adalah . a. Atik dahulu bidan kampong, sekarang bidan kota b. Adi dulu sopir taksi, sekarang menadi manajer c. Rudi dahulu pegawai negeri, sekarang pegawai swasta d. Budi dahulu petani padi, sekarang petani cengkeh e. Ahmad dahulu pedagang, sekarang karyawan swasta 7. Ciri utama yang menandai mobilitas vertical adalah . a. Berpindahnya lapisan social akibat peralihan status social b. Berlangsungnya mobilitas vertical sesuai dengan norma yang berlaku c. terjadinya kerja sama antara pelaku mobilitas sosialnya dengan kelompoknya d. peralihan status social sama sekali tidak mempengaruhi perubahan lapisan social e. perpindahan lapisan social diikuti dengan perubahan struktur social 8. Urbanisasi yang mengakibatkan terjadinya peralihan status social dari petani menjadi buruh pabrik merupakan contoh . a. mobilitas vertical b. social climbing c. social simking d. mobiltas horizontal e. mobilitas lateral 9. Seorang manager baru mengalami kesulitan untuk menerapkan strategi kerja baru karena ditolak oleh rekan manager lama. Kesulitan itu mendorongnya untuk mendekati para manager lama sehingga terbuka menerima usulannya gejala ini menggambarkan . a. konflik social yang berkepanjangan b. konflik social yang mendorong terjadinya penyesuaian c. mobiltas social yang berpengaruh terhadap penataan cara kerja d. penyesuaian yang dilakuka secara individual e. konflik yang dimunculkan uantuk meningkatkan mobiltas social 10. Faktor utama yang mendorong masyarakat Minangkabau banyak melakukan mobilitas geografis adalah . a. pertambahan penduduk

b. kondisi ekonomi c. situasi politik d. motif-motif agama e. keinginan untuk merantau B. Jawablah : A. Jika jawaban 1, 2, 3 benar B. Jika jawaban 1 dan 3 benar C. Jika jawaban 2 dan 4 benar

D. Jika Jawaban 4 Saja Benar E. Jika Semua jawaban benar

1. Dibawah ini yang termasuk factor pendorong terjadinya mobilitas social adalah 1. adanya keinginan untuk melihat daerah lain 2. adanya situasi politik yang tidak menentu 3. adanya factor kependudukan 4. Adanya keinginan untuk menyebarkan agama ke daerah lain 2. Ruri dan Rini sama-sama menjadi karyawati di perusahaan tekstil. Karena Ruri lebih tekun, pandai dan rajin maka ia diangkat sebagai kepala bagian personalia, sedangkan Rini tetap menjadi karyawan biasa. Dalam kasus ini 1. Ruri mengalami social climbing 2. Rani mengalami social sinking 3. Ruri mengalami mobilitas vertikal naik 4. Rini menagalami mobilitas vertikal turun 3. 1. 2. 3. 4. Dampak negataif yang bersidat psikologis dari mobilitas social adalah frustasi dan putus asa rasa kecewa dan mudah marah selalu dalam perasaan bersaing dan tidak tenang selalu dalam keadaan gelisah dan ingin maju

4. Yang termasuk ciri dari moblitas horizontal adalah 1. lapisan social yang baru akan menuntut peranan yang lebih besar 2. tidak menimbulkan pengaruh terhadap status social seseorang 3. status yang diperoleh akan memberikan peningkatan prestise 4. lapisan social yang ditempati tidak mengalami perubahan karena perpindahan status social dialami dalam lapisan social yang sama 5. Mobilitas social akan lebih mudah terjadi pada masyarakat yang 1. modern dan maju 2. agraris dan kapitalis 3. system stratifikasi terbuka 4. konservatif dan liberal

6. Konsekuensi mobilitas social dalam masyarakat dapat menimbulkan kemungkinan dalam bentuk

1. asimilasi 2. konflik 3. akulturasi 4. penyesuaian 7. Mentalitas positif yang dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk melakukan mobilitas social adalah 1. pantang menyerah 2. berdisiplin murni meskipun tanpa diatasi oleh atasannya 3. menghargai hasil karya orang lain 4. berorientasi ke masa kini dan masa akan datang 8. Dibawah ini yang termasuk gerak social sinking adalah . 1. pedagang asongan beralih profesi menjadi penjaga took 2. buruh tani beralih profesi menjadi pengrajin tradisional 3. pendapatan petani turun karena harga gabah turun 4. seratus karyawan sebuah perusahaan di tangerang menganggur karena PHK 9. Yang teramsuk saluran-saluran dalam pelaksanaan mobilitas social adalah 1. angkatan bersenjata 2. lembaga pendidikan 3. organisasi ekonomi 4. organisasi politik 10. Menurut Kaare Svalastoga perubahan social dapat mempengaruhi mobilitas social seseorang. Perubahan social yang dimaksud adalah . 1. perubahan teknologi 2. perubahan sikap 3. perubahan kemampuan 4. perubahan alam

C. Isilah titik-titik di bawah ini ! 1. . berpendapat bahwa mobiitas social merupakan gerak dari satu posisi social ke posisi social lainnya 2 .. merupakan perpindahan status social yang terjadi pada kelompok atau masyarakat tertentu 3 ... merupakan perpindahan gerak seseorang atau kelompok dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya 4. dalam pelaksanaannya tidak terjadi penurunan atau peningkatan tingkat kesejahteraan 5. Merupakan perpindahan seseorang atau kelompok dalam rangka mengungsi untuk menghindari bahaya yang mengancam 6. ... selain mempercepat terjadinya mobilitas social kadang menjadi musuh manusia dalam pelaksanaan mobiltas social 7 merupakan tingkat disiplin yang sunguh-sungguh artinya diawasi atau tidak selalu berdisiplin 8. ... dalam pelaksnaannya terjadi peningkatan atau penurunan tingkat kesejahteraan 9. Orang yang menerapkan .. lebih cenderung melakukan tindak korupsi dalam hidupnya 10. Seseorang yang status sosialnya naik akan melakukan dalam gaya hidup dan tindakannya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku 11. Masyarakat yang mengandalkan kehidupan ekonomi pada cenderung memperluas lapangan kerja di tingkat bawah 12. Masyarakat yang mengandalakan kehidupan ekonomi pada .. senderung memperluas lapangan kerja di tingkat menengah dan atas 13. Masyarakat yang menganut .. biasanya mobilitas sosialnya hanya terjadi dalam kelas sosialnya sendiri 14. Apabila pelaksanaan mobilitas social berl;angsung secara ... Biasanya prosespenyesuaian diri akan berjalan secara baik 15. Mobilitas horizontal merupakan gerak perpindahan status social yang bersifat 16. Mobiltas vertical merupakan gerak perpindahan status social yang bersifat 17. Pelaksanaan mobilitas social vertical dapat terwujud secara baik apabila pola kehidupan masyarakat bersifat . 18. Pelaksanaan mobilitas intergenerasi tidak pernah ada yang bersifat 19. Masyarakat yang bersifat tertutup biasanya mobilitas sosialnya hanya terjadi di dalam 20. Meskipun suatu keluarga bertempat tinggal di pedesaan, namun keluarga tersebut akan berusaha menyekolahkan anggota keluarga setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan apabila keluarga tersebut memiliki sikap menatal ..

Lampiran 3 : Media Yang Digunakan Pada Siklus 2 A. Kartu Dari Kertas Manila Yang Berukuran 10 X 10 Cm, berisi soal soal sebagai berikut : 1. Tono Karyawan Pabrik Tekstil pindah menjadi karyawan Pabrik Rokok Gudang Garam. Mobilitas sosial apa yang terjadi pada Tono ? 2. Rini yang semula karyawan biasa, karena prestasinya ia diangkat sebagai kepala bagian pemasaran. Mobilitas sosial apa yang terjadi pada Rini ? 3. Pak Rudi orang terkaya di desanya, namun setelah rumahnya kebakaran ia menjadi orang miskin. Mobilitas sosial apa yang terjadi pada Pak Rudi ? 4. Sodik yang semula buruh bangunan pindah sebagai buruh pabrik. . Mobilitas sosial apa yang terjadi pada Sodik ? 5. Ibrahim warga Malaysia yang bekerja di Indonesia pindah menjadi warga negara RI. Mobilitas sosial apa yang terjadi pada Ibrahim ? 6. Bapaknya bekerja sebagai guru SMA sedangkan anaknya bekerja sebagai guru SD. Mobilitas sosial apa yang terjadi pada keluarga tersebut ? 7. Ibunya sebagai bidan desa sedangkan anak sebagai Dokter gigi. Mobilitas sosial apa yang terjadi pada keluarga tersebut ? 8. Kakaknya sebagai kepala desa sedangkan adiknya sebagai camat. . Mobilitas sosial apa yang terjadi pada keluarga tersebut ? 9. Kakaknya sebagai tukang las sedangkan adiknya sebagai pengusaha. . Mobilitas sosial apa yang terjadi dalam keluarga tersebut ?

10. Kakaknya lulusan SMA sedangkan adiknya lulusan MA. Mobilitas sosial apa yang terjadi dalam keluarga tersebut ? 11. Bapaknya sebagai tukang las, sedangkan anaknya juga menjadi tukang las. Mobilitas sosial apa yang terjadi dalam keluarga tersebut ? 12.Berorientasi ke masa depan dan menghargai hasil karya orang lain. Dalam mobilitas sosial, apa prananku ? 13.Berorientasi ke masa kini dan suka menerabas. Dalam mobilitas sosial apa perananku ? 14.Perubahan kemampuan dan perubahan sikap. Dalam mobilitas sosial apa perananku ? 15.Mempercepat gerak perubahan sosial dalam masyarakat. Dalam mobilitas sosial apa perananku ? 16.Organisasi ekonomi dan organisasi politik. Dalam mobilitas sosial apa perananku ? 17.Adanya faktor fator ekonomi dan adanya situasi politik yang tidak menentu. Dalam mobilitas sosial apa perananku ? 18.Timbul kegelisahan karena takut turun ke lapisan bawah atau Post power syndrome (Frustasi,minder, dan mengiselasi diri). Dalam mobilitas sosial apa perananku ? 19.Aku yang semula siswa SMP sekarang menjadi siswa SMA N 1 Badegan. Mobilitas sosial apa yang terjadi padaku ? 20.Aku yang semula ketua Karang Taruna,akhirnya menjadi anggota biasa setelah aku kalah dalam pemilihan. Mobilitas sosial apa yang terjadi padaku?

B. Kartu Dari Kertas HVS berukuran 5 X 2 Cm yang berisi jawaban sebagai berikut : 1. Mobilitas Horizontal 2. Mobilitas vertikal naik 3. Mobilitas vertikal turun 4. Mobilitas horizontal 5. Mobilitas geografis 6. Mobilitas intergenerasi turun 7. Mobilitas intergenerasi naik 8. Mobilitas intragenerasi naik 9. Mobilitas intragenerasi turun 10. Tidak terjadi mobilitas intragenerasi 11. Tidak terjadi mobilitas intergenerasi 12. Mentalitas positif pendorong mobilitas sosial 13. Mentalitas negatif penghambat mobilitas sosial 14. diterminan mobilitas sosial

15. Dampak positif mobilitas sosial 16. Saluran mobilitas sosial 17. Faktor pendorong mobilitas sosial 18. Dampak negatif mobilitas sosial 19. Mobilitas vertikal naik 20. Mobilitas vertikal turun

Lampiran 4 : Evaluasi Belajar Siswa Pada Siklus 2

A. Pilihlah Salah Satu Jawaban Yang Paling Benar! 1. Pada Masyarakat primitive terjadi pula mobilitas geografis, misalnya adalah a. Anak laki-laki mempunyai kedudukan tertinggi dalam keluarga. b. Hidup selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain c. Anak laki-laki menggantikan jabatan ayahnya sebagai kepala suku d. Pembagian warisan didasarkan pada jenis kelamin e. Seorang pemimpin adapt harus mempunyai kelebihan dari masyarakat lainnya 2. Banyaknya masyarakat aceh yang pindah kedaerah lain karena daerah aslinya terjadi pergolakan senjata. Mobilitas social masyarakat Aceh lebih banyak didorong oleh factor a. Kondisi ekonomi b. Motif-motif keagamaan c. Situasi politik yang tidak menentu d. Faktor kependudukam e. Keinginan untuk merantau 3. Seorang ketua partai menjadi Presiden. Saluran mobilisasi social yang dilalui adalah a. Lembaga pendidikan b. Organisasi politik c. Organisasi profesi d. Lembaga pemilu e. Organisasi social 4.Untuk meningkatkan taraf hidupnya, seorang pembantu rumah tangga merantau keluar negeri menjadi TKW menjadi pramuwisma. Individu tersebut dapat dikatakan mengalami mobilitas horizontal karena a. Perpindahan status social yang dilakukakan atas usaha sendiri b. Perpindahan status social belangsung pada status social yang berbeda c. Pepindahan status sosialnya hanya didorong oleh persamaan profesi d. Perpindahan status sosialnya berlangsung untuk kepentingan pribadi e. Perpindahan status social tidak mengakibatkan perpindahan lapisan social 5. Seseorang yang berkuasa, kemudian turun menjadi orang biasa, mungkin dapat mengalami gejala negative yang disebut a. Sosial elevator b. Konflik social c. Achived status d. Post power syndrome e. Sosial psikologi 6. Salah satu dampak sampingan pembangunan adalah terjadinya urbanisasi besarbesaran. Peristiwa tersebut dinamakan a. Mobilitas vertical b. Mobilitas horizontal c. Mobilitas lateral

d. Sosial sinking e. Sosial climbing 7. Seorang yang mengalami mobilitas social apabila ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan linkungan sosialnya yang baru akan mengalami a. Proses social sosiatif b. Proses social disosiatif c. Proses social diskriptif d. Proses social integrative e. Proses social koordinasi 8. Bagi seorang gadis India yang kawin dengan pemuda yang berkasta lebih rendah dari padnya, maka si gadis akan mengalami a. Mobilitas vertical b. Mobilitas vertical naik c. Mobilitas vertical turun d. Mobilitas lateral e. Mobilitas horizontal 9. Pada masyarakat yang sudah maju, untuk menentukan mobilitas social sangatnmengutamakan pendidikan dan ketrampilan pribadi. Hal ini dipengaruhi oleh a. Faktor Individu b. Faktor structural c. Faktor kekuasaan d. Faktor ekonomi e. Faktor jabatan 10. Meskipun tidak memiliki pengalaman, tetapi karena Rudianto lulusan S-3 akhirnya ia langsung diangkat sebagai Kepala Penerangan. Mobilitas Rudianto tersebut dipengaruhi oleh factor a. Faktor kepandaian b. Faktor jabatan c. Faktor ijasah d. Faktor ketrampilan e. Faktor pendidikan

B. Jawablah : A.Jika jawaban 1,2 dan 3 benar

D. Jika jawaban 4 saja benar

B.Jika jawaban 1 dan 3 benar C.Jika jawaban 2 dan 4 benar

E. Jika semua jawaban benar

1. Dampak social dari pelaksanaan mobilitas social adalah 1. terjadinya konflik social 2. menimbulkan frustasi bagi yang kalah dalam bersaing 3. berkurangnya solidaritas kelompok 4. terjadinya benturan antar berbagai kepentingan 2. Bentuk utama dari mobilitas social vertical adalah meliputi 1. social sinking 2. mobilitas social vertical naik 3. social climbing 4. mobilitas social vertical turun 3. Dampak positif dari pelaksanaan mobilitas social adalah 1. memberikan dorongan untuk bercita-cita setinggi mungkin 2. mempercepat gerak perubahan social kearah yang lebih baik 3. memunculkan penyesuaian diri terhadap lingkungannya yang baru 4. memberikan kesempatan untuk mencapai tujuan hidupnya 4. Seorang individu yang mengalami mobilitas vertical kadang menimbulkan terjadinya konflik social. Hal ini dikarenakan individu yang menjadi anggota lapisan social yang baru jika 1. selalu dapat bekerja sama dengan anggota lapisan social yang baru 2. selalu berkompetisi dengan anggota lapisan social yang baru 3. selalu mengalah dengan anggota lapisan social yang baru 4. tidak diterima oleh anggota lapisan social yang baru 5. Salah satu konsekuensi dari mobilitas social adalah dapat memunculkan penyesuaian diri. Penyesuaian diri ini bisa berjalan baik jika 1. mobilitas social berlangsung secara rasional dan obyektif 2. masing-masing pihak memiliki mentalitas yang positif 3. berlangsung sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku 4. masing-masing pihak selalu pasrah dengan nasibnya sendiri-sendiri 6. Dari kasus dibawah ini yang termasuk mobilitas vertical adalah 1. Pak Harun mengalihkan usahanya dari beternak itik ke ternak ayam 2. selepas SMA Robby melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi 3. arus urbanisasi setiap tahun terus meningkat 4. berkat ketekunannya, Rudi berhasil menjadi sarjana 7. Apabila suatu masyarakat menganut system pelapisan social yang bersifat tertutup, maka mobilitas social yang terjadi adalah 1. perpindahan status social lebih cenderung bersifat naik 2. perpindahan status social lebih cenderung bersifat turun 3. perpindahan status social lebih cenderung bersifat naik dan turun 4. perpindahan status social lebih cenderung dalam lapisan social yang sama 8. Sedangkan apabila suatu masyarakat menganuo sistim pelapisan social yang bersifat terbuka, maka mobilitas social yang terjadi adalah 1. perpindahan status social lebih cenderung bersifat baik 2. perpindahan status social lebih cenderung bersifat menurun

3. perpindahan status social lebih cenderung bersifat naik dan menurun 4. perpindahan status social lebih cenderung dalam lapisan social yang sama 9. Apabila beberapa orang sopir taksi sepakat menunjuk seorang rekannya menjadi ketua koperasi sopir taksi berarti 1. terbentuknya kedudukan baru yang lebih tinggi 2. terjadinya mobilitas social yang bersifat horizontal 3. terbentuknya stratifikasi social yang lebih tinggi 4. terjadinya mobilitas social yang bersifat social sinking 10. Mobilitas vertical dalam suatu masyarakat tidak mungkin sama dengan mobilitas vertical yang berlangsung dalam masyarakat lain, karena 1. setiap masyarakat selalu berhubungan dengan masyarakat lainnya 2. setiap masyarakat berdiri sendiri tanpa berhubungan dengan masyarakat lain 3. setiap masyarakat pasti memiliki pemimpin sendiri 4. setiap masyarakat memiliki system nilai dan norma yang berbeda

C.Isilah titik-titik dibawah ini : 1. .: Naiknya status social Pak Amin yang semula sebagai kepala desa menjadi wakil Bupati Ponorogo. 2. .. Setelah lulus Sarjana Teknik Listrik, Rudi yang semula tinggal didesa pindah kekota untuk mencari pekerjaan. 3. .. Sigit yang semula siswa kelas XI SMA Negeri 1 Dolopo pindah menjadi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Badegan. 4. . Gerak Perpindahan status social yang dialami Pak Suprapto 5. ..Untuk mengantisipasi meletusnya ginung merapi, perintah kabupaten Magelang membujuk warganya yang tinggal di lereng Merapi untuk mengungsi ke tempat aman. 6. ..Turunnya status sossial Pak Habibie yang semula menjadi Presiden RI menjadi rakyat biasa. 7. .. Pak Suhadi yang semula anggota Kodim Kabupaten Bangkalan Madura, pindah menjadi anggota Kodim Kabupaten Madiun. 8. .. Gerak perpindahan status social yang dialami Kesebelasan Persebaya Surabaya. 9. .. Sewaktu musim panen padi tiba, warga desa krebet Jambon berbondong-bondong mencari pekerjaan sebagai buruh tani di Kauman selama musim panen. 10. .. Tenaga Kerja Indonesia yang sudah bertahun-tahun bekerja di Arab Saudi pulang kembali kedaerahnya masing-masing di Indonesia. 11. Pak Basuni yang semula menjadi buruh tani pindah menjadi kuli batu dengan penghasilan yang sama seperti sebelumnya. 12. . Perubahan atau perbedaan status social antar dua generasi atau lebih. 13. . Karena daerahnya sering dilanda bencana gunung meletus, Pak Ramlan dan keluarganya pindah ke Kalimantan Tengah untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. 14. .. Perubahan atau perbedaan status social yang terjadi dalam satu generasi yang sama. 15. Beberapa orang nelayan Aceh terdampar di Srilangka. Kemudian mereka bekerja disana dan setelah sukses mereka memutuskan untuk menjadi warga Negara Srilangka. 16. . Saiful Bahri warga Negara Malaysia yang setelah kawin dengan wanita dari Ponorogo, akhirnya menetap dan menjadi warga Negara Indonesia. 17. .. Rini yang semula karyawan biasa, karena prestasinya ia diangkat sebagai kepala bagian pemasaran. 18. Pak Rudi orang terkaya di desanya menjadi miskin setelah rumahnya kebakaran. 19. . Sodik yang semula buruh bangunan pindah sebagai buruh pabrik 20. Timbul kegelisahan karena takut turun kelapisan bawah Post Power Syndrome (frustasi, minder, dan mengisolasi)

Lampiran 5 : ANGKET SISWA Nama : ............................................ Kelas : .... Nomor : Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda cek ( V ) pada tempat yang telah disediakan : 1. Apakah menyenangkan atau membosankan proses pembelajaran materi mobilitas sosial yang menerapkan teknik tebak kata ? Jawab : a. Sangat menyenangkan : .. b, Agak menyenangkan : .. c. Agak membosankan : .. d. Membosankan : .. 2. Apakah sulit atau mudah mempelajari materi mobilitas sosial yang menggunakan penerapan teknik tebak kata ? Jawab : . a. Sangat mudah : .. b, Agak mudah : .. c. Agak sulit : .. d. Sulit : ..