Anda di halaman 1dari 14

MOLEKUL PENGENAL ANTIGEN

Disusun Oleh : Anatyara Safitri Anggie Safitri Dede Shinta Asri Riki Subagja Kelompok : 2

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Imunologi adalah cabang ilmu biomedis yang berkaitan dengan respons organisme terhadap penolakan antigenik, pengenalan diri sendiri dan bukan dirinya, serta semua efekbiologis, serologis dan kimia fisika fenomena imun. Dalam menghadapi serangan benda asing yang dapat menimbulkan infeksi ataukerusakan jaringan, tubuh manusia dibekali sistem pertahanan untuk melindungi dirinya.Sistem pertahanan tubuh yang dikenal sebagai mekanisme imunitas alamiah ini, merupakantipe pertahanan yang mempunyai spektrum luas, yang artinya tidak hanya ditujukan kepadaantigen yang spesifik. Selain itu, di dalam tubuh manusia juga ditemukan mekanismeimunitas yang didapat yang hanya diekspresikan dan dibangkitkan karena paparan antigen yang spesifik. Tipe yang terakhir ini, dapat, dapat dikelompokkan manjadi imunitas yangdidapat secara aktif dan didapat secara pasif Antigen adalah zat kimia asing yang bila masuk ke dalam tubuh dapat merangsang tubuh kita untuk menghasilkan suatu protein, yaitu imonoglobulin (Ig, antibody). Antibody secara spesifik dapat bereaksi terhadap antigen tersebut. Istilah spesifik berarti antigen A akan bereaksi dengan antibody A tetapi tidak akan bereaksi dengan antibody B. Antigen juga dapat merangsang jaringan limfotik memproduksi sel-sel khusus yaitu T-limfosit untuk menghancurkan antigen tersebut. Istilah antigen mengandung dua arti, pertama untuk mengambarkan molekul yang memacu respon imun (juga disebut imunogen) dan kedua untuk menunjukkan molekul yang dapat bereaksi dengan antibodi atau sel T yang sudah disensitasi (Baratawidjaja, 2006). Antigen yaitu setiap substansi asing yang dapat menginduksi timbulnya respon imun (Bloom, 2002).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Antigen


Antigen merupakan bahan yang dapat merangsang respon imun dan dapat bereaksi dengan antibodi yang sudah ada. Secara fungsional antigen dibagi menjadi imunogen dan hapten. Imunogen adalah bahan yang dapat menimbulkan respon imun. Hapten adalah molekul yang dapat bereaksi dengan antibodi yang sudah ada secara langsung, tetapi tidak dapat merangasang pembentukan antibodi secara langsung. Hapten merupakan determinan antigen dengan berat molekul yang kecil dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh protein pembawa besar. Hapten membentuk epitop pada molekul carrier yang dikenal sistem imun dan merangsang pembentukan antibodi. A. Epitop Epitop atau determinan antigen adalah bagian tantigen yang dapat menginduksi pembentukan antibodi dan dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau reseptor pada limfosit. Yang disebut paratop adalah bagian dari antibodi yang mengikat epitop. Respon imun terjadi terhadap semua golongan bahan kimia seperti hidrat arang, protein dan asam nukleat. Asam nuklet dapat bertindak sebagai imunogen dalam penyakit autoimun tertentu, tetapi tidak dalam keadaan normal. B. Superantigen Superantigen adalah molekul yang sangat poten terhadap mitogen sel T yang mungkin lebih baik bila disebut supermitogen, dapat memacu mitosis sel CD4+ tanpa bantuan APC. Super antigen dapat berikatan dengan regio dari rantai reseptor sel T dan ikatan tersebut merupakan sinyal poten untuk mitosis, dapat mengaktifkan sejumlah besar populasi satu molekul superantigen. C. Pembagian Antigen

1. Pembagian antigen menurut epitop a. Undeterminan, univalen Hanya satu jenis determinan/epitop pada 1 molekul b. Undeterminan, multivalen Hanya satu jenis determinan tetapi 2 atau lebih determinan tersebut ditemukan pada 1 molekul c. Multideterminan, univalen Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein) d. Multideterminan, multivalen Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada 1 molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi) 2. Pembagian antigen menurut spesifisitas a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh abnyak spesies b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam satu spesies d. Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu. e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri 3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T a. T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T dan sel B terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respon antibodi. Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini. b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibodi. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar polimerik yang di pecah didalam tubuh secara perlahan-lahan. 4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi a. Hidrat arang Hidrat arang pada umumnya imunogenik b. Lipid Biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat protein pembawa. c. Asam nukleat asam nukleat tidak imunogenik tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat

protein pembawa. d. Protein Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multi determinan dan univalen

II. Molekul Pengenal Antigen dan Reseptornya


A. Sistem Imun Non Spesifik. Sistem imun non spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, oleh karna dapat memberikan respon secara langsung, sedangkan sistem imun spesifik membutuhkan waktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum dapat memberikan responnya. Disebut sistem nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu, telah ada pada tubuh kita dan siap berfungsi sejak lahir yang dapat berupa permukaan tubuh dan berbagai komponennya. Reseptor imunitas non spesifik berfungsi untuk menemukan mikroba penyebab infeksi. Dibagi menjadi molekul larut yaitu PRR (Pattern Recognition Receptors) dan molekul tidak larut yaitu TLR (toll-like receptor). Pada PRR ikatan dengan reseptor memicu jalur sinyal cepat untuk fagositosis. Molekul larut ini umumnya diproduksi di tempat infeksi dan bersifat lokal. TLR terutama mengenal sejumlah besar patogen yang berhubungan dengan PAMP (Pathogen Associated Molecular Patterns) seperti yang ditemukan pada sejumlah besar komponen patogen virus, bakteri, jamur atau protozoa. Sinyal dari TLR mengaktifkan respon imun non spesifik, berperan dlm fungsi penting makrofag. B. Sistem Imun Spesifik Berbeda dengan sistem imun non-spesifik, sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenali oleh sitem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun tersebut. Bila sel sistem imun yang sudah tersenistasi tersebut terpapar kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenali lebih cepat., kemudian dihancurkan olehnya. Oleh karena sistem tersebut hanya dapat menghancurkan benda asing yang sudah dikenali sebelumnya, maka sistem itu disebut spesifik. Sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun non spesifik untuk mengahancurkan benda asing yang berbahaya

bagi tubuh, tetapi pada umumnya terjalin kerja sama yang baik antara antibodi-komplemenfagosit dan antara sel T-magrofag. 1. Sistem imun spesifik humoral Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B. Humoral berarti cairan tubuh. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten. Bila sel B dirangsang oleh benda asing, sel akan berpoliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini ialah perlahan terhadap infeksi ekstraseluler, virus dan bakteri serta emnetralisasi toksinnya. 2. Sistem imun spesifik seluler Yang berperan dalam sistem imun spesifik seluler adalah limfosit T atau sel T. Sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Pada orang dewasa sel T di bentuk di sumsum tulang tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di kelenjar timus atas pengaruh berbagai faktor asal timus. 90-95% dari semua sel timus tersebut mati dan hanya 510% menjadi matang dan meninggalkan timus masuk kedalam sirkulasi. Faktor timus yang disebut timosin dapat ditemukan dalam peredaran darah sebagai hormon asli dan dapat memberikan pengaruhnya terhadap diferensiasi sel T diperifer. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa sel subset dengan fungsi yang berlainan. Fungsi utama sistem imun spesifik seluler ialah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan keganasan. Molekul Reseptor antigen Imunitas spesifik a. Limfosit berperan dalam imunitas spesifik b. Terdiri dari limfosit T, sel B dan NK c. Sel terdiri dari: sel Th, Tc, Ts Limfosit sebagai reseptor di bagi menjadi dua, yaitu: a. B- cell receptors (BCR) Cell B menggunakan antibodi sebagai reseptor sel yang dapat mengenal antigen bebas secara utuh. Reseptor pengenalnya adalah immunoglobulin (antibodi) b. T-cell receptors (TCR) Hanya mengenal antigen yang diikat molekul MHC dan reseptor pengenalnya adalah polipeptida atau protein.

Fungsi reseptor a. Untuk menerima dan menangkap bahan yang bersifat asing b. Untuk meningkatkan pengenalan terhadap self moleculer c. Untuk menerima dan mengirimkan kembali pesan (signal) antar sel didalam sistem d. Unruk membantu perkembangan sel

Immunoglobulin atau antibodi Antibodi adalah protein immunoglobulin yang disekresi oleh sel B yang teraktifasi oleh antigen. Berat molekul antibodi berkisar 150000 Da sampai dengan 950000 Da yang tergantung pada kelasnya. Antibodi merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk melawan sel-sel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan musuh-musuh penyerbu. Antibodi mempunyai dua fungsi, pertama untuk mengikatkan diri kepada sel-sel musuh, yaitu antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur biologi antigen tersebut lalu menghancurkannya. Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuhkannya, Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis tunggal. Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tubuh menciptakan antibodi khusus yang cukup kuat untuk menghadapi si musuh (antigen). SIFAT ANTIBODI Antibodi mempunyai sifat yang sangat luar biasa, karena untuk membuat antibodi spesifik untuk masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa, dan pantas dicermati. Proses ini dapat terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di alam ini terdapat jutaan musuh (antigen). Hal ini seperti membuat masing-masing kunci untuk jutaan lubang kunci. Perlu diingat, dalam hal ini si pembuat kunci harus mengerjakannya tanpa

mengukur kunci atau menggunakan cetakan apa pun. Dia mengetahui polanya berdasarkan perasaan. sulit bagi seseorang untuk mengingat pola kunci, walau cuma satu, Akan tetapi, satu sel B yang sedemikian kecil untuk dapat dilihat oleh mata, menyimpan jutaan bit informasi dalam memorinya, dan dengan sadar menggunakannya dalam kombinasi yang tepat. Tersimpannya jutaan formula dalam suatu sel yang sangat kecil merupakan keajaiban yang diberikan kepada manusia. Yang tak kurang menakjubkan adalah bahwa kenyataannya sel-sel menggunakan informasi ini untuk melindungi kesehatan manusia. PROSES PEMBENTUKAN ANTIBODI Antibodi disebut juga immunoglobulin diaalah glikoprotein plasma yang bersirkulasi dan dapat berinteraksi secara spesifik dengan determinan antigen yang merangsang pembentukan antibodi, antibodi disekresikan oleh sel plasma yang terbentuk melalui polimerisasi dan diferensiasi limfosit B Proses pembentukan antibody terbagi dua: 1. Antibodi terbentuk secara alami di dalam tubuh manusia dimana substansi tersebut diwariskan dari ibu ke janinnya melalui inntraplasenta. Antibody yang dihasilkan pada bayi yang baru lahir titier masih sangat rendah, dan nanti antibody tersebut berkembang seiring perkembangan seseorang. 2. Pembentukan antibody karena keterpaparan dengan antigen yang menghasilkan reaksi imunitas, dimana prosesnya adalah: Misalnya bakteri salmonella. Saat antigen (bakteri salmonella) masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan meresponnya karena itu dianggab sebagai benda asing. karena bakteri ini sifatnya interseluler maka dia tidak sanggup untuk di hancurkan dalam makrofag karena bakteri ini juga memproduksi toksinsebagai pertahanan tubuh. Oleh karena itu makrofag juga memproduksi APC yang berfungsi mempresentasikan antigen terhadap limfosit.agar respon imun berlangsung dengan baik.Ada dua limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T STRUKTUR ANTIBODI Sebelumnya telah dikatakan bahwa antibodi termasuk protein. Jadi, pertamatama mari kita pelajari struktur protein tersebut. Semua molekul antibodi terdiri dari dua untaian peptida pendek yang sama dikenal dengan light chain, sedang yang terdiri dari untaian peptida yang panjang

disebut heavy chains. Keduannya terjadi ikatan kovalen bersama yang disebut ikatan disulfide. Sedang berat molekulnya berkisar 150000 Da sampai dengan 950000 Da yang tergantung pada kelasnya. Struktur immunoglobulin terdiri dari fragmen ab (fab) dan fragmen c (fc) kedua rangkaian ini dirangkai olehuntaian dua sulfide(s-s). Bagian yang terdiri dari asam amino yang berfugsi untuk mengikat antigen di kenal dengan side binding antigen, sedangkan fc terdiri dari karbohidrat yang berkaitan dengan komplemen. Rantai berat itu spesifik bagi setiap kelas immunoglobulin mengandung ringkasan asam amino unik yang menspesifikasikan tipenya. Ada 5 tipe rantai berat: diberi nama dengan huruf yunani (gamma) (alfa) (my) (delta) (epsilon) jadi masing-masing kelas immunoglobulin itu disebut IgG,IgA,IgD,IgM,IgE. Semua individu normal memiliki kesemua jenis immunoglobulin itu dengan jumlah yang beragam. Rantai ringan terdiri dari 2 tipe utama yaitu k(kapra) dan Lamda, kedua tipe ini ada pada tiap antibody. Pada tiap molekul immunoglobulin, kedua rantai ringannya selalu bertipe sama , demikian pula tiap rantai hanya memiliki satu tipe rantai berat. Bagian ujung dari baik rantai berat maupun ringan (pada status peningkatan antigen) setiap unit monomerik amat beragam, sedangkan yang lainnya bersifat konstan dalam hal struktur asam aminonya. Jadi rangkaian asam mino pada daerah yang kostan menentukan kelas atau peranan biologis suatu immunoglobulin, dan yang ada pada daerahyang beragam menentukan spesifitasnya. KLASIFIKASI ANTIBODI Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa antibodi adalah sejenis protein. Protein-protein yang berfungsi untuk melindungi tubuh lewat proses kekebalan ini dinamakan "imuno globulin", disingkat "Ig". Protein paling khas pada sistem pertahanan, molekul imuno globulin mengikatkan diri pada antigen untuk menginformasikan kepada sel-sel kekebalan lainnya tentang keberadaan antigen tersebut atau untuk memulai reaksi berantai perang penghancuran. IgG (Imuno globulin G): IgG merupakan antibodi yang paling umum. Dihasilkan hanya dalam waktu beberapa hari, ia memiliki masa hidup berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa tahun. IgG beredar dalam tubuh dan

banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Mereka mengikuti aliran darah, langsung menuju musuh dan menghambatnya begitu terdeteksi. Mereka mempunyai efek kuat anti-bakteri dan penghancur antigen. Mereka melindungi tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang terkandung dalam racun. Selain itu, IgG mampu menyelip di antara sel-sel dan menyingkirkan bakteri serta musuh mikroorganis yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuannya serta ukurannya yang kecil, mereka dapat masuk ke dalam plasenta ibu hamil dan melindungi janin dari kemungkinan infeksi. Jika antibodi tidak diciptakan dengan karakteristik yang memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam plasenta, maka janin dalam rahim tidak akan terlindungi melawan mikroba. Hal ini dapat menyebabkan kematian sebelum lahir. Karena itu, antibodi sang ibu akan melindungi embrio dari musuh sampai anak itu lahir. IgA (Imuno globulin A): Antibodi ini terdapat pada daerah peka tempat tubuh melawan antigen seperti air mata, air liur, ASI, darah, kantong-kantong udara, lendir, getah lambung, dan sekresi usus. Kepekaan daerah tersebut berhubungan langsung dengan kecenderungan bakteri dan virus yang lebih menyukai media lembap seperti itu. Secara struktur, IgA mirip satu sama lain. Mereka mendiami bagian tubuh yang paling mungkin dimasuki mikroba. Mereka menjaga daerah itu dalam pengawasannya layaknya tentara andal yang ditempatkan untuk melindungi daerah kritis. Antibodi ini melindungi janin dari berbagai penyakit pada saat dalam kandungan. Setelah kelahiran, mereka tidak akan meninggalkan sang bayi, melainkan tetap melindunginya. Setiap bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan ibunya, karena IgA tidak terdapat dalam organisme bayi yang baru lahir. Selama periode ini, IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba. Seperti IgG, jenis antibodi ini juga akan hilang setelah mereka melaksanakan semua tugasnya, pada saat bayi telah berumur beberapa minggu. IgM (Imuno globulin M): Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Pada saat organisme tubuh manusia bertemu dengan antigen, IgM merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan musuh. Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan

enam bulan. Jika musuh menyerang janin, jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah. IgD (Imuno globulin D): IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Mereka tidak mampu untuk bertindak sendiri-sendiri. Dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel T menangkap antigen. IgE (Imuno globulin E): IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini bertanggung jawab untuk memanggil para prajurit tempur dan sel darah lainnya untuk berperang. Antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi pada tubuh. Karena itu, kadar IgE tinggi pada tubuh orang yang sedang mengalami alergi.

III. Pembagian Kompleks Histokompatibilitas Mayor


Molekul MHC I dan MHC II berperan dalam pengenalan imun, yaitu pada presentasi fragmen antigen kepada sel T. Berdasarkan rumus bangunnya, molekul MHC dapat dibagi menjadi 2 golongan. A. Molekul MHC I Molekul MHC I terdiri atas dua polipeptida, rantai berat polimorfik dan rantai ringan non polimorfik yang disebut 2 mikroglobulin. Rantai berat disandi dalam lokus MHC di kromosom 6, sedang rantai ringan monopolimorfik disandi dalam kromosom 15. Molekul MHC I yang terdiri atas HLA-A, HLA-B dan HLA-C yang dapat dikenal sel CTL/Tc, pertama kali di ketahui berperan pada penolakan tandur. Oleh karena itu molekul MHC I disebut pula antigen transplantasi. Lokus MHC I menentukan ekspresi atau antigen permukaan pada membran permukaan semua sel tubuh yang memiliki nukleus dan trombosit. Molekul MHC I diperlukan dalam persentasi peptida virus kepada sel imunokompeten seperti sel T. Pada umumnya, fragmen peptida yang diikat molekul MHC I berasal dari virus yang menginfeksi pejamu. Peptida virus diangkut keretikulum endoplasma oleh transpoter associated with antigen processing. Dalam kompartemen intraseluler tersebut, peptida diikat molekul MHC I. Kompleks tersebut kemudian diekspresikan pada permukaan sel untuk dipresentasikan ke sel CD8+/CTL/Tc. Virus dan beberapa bakteri berkembang biak dalam sitosol dan beberapa patogen lain seperti mikro bakteri dan leismania berkembang biak dalam vesikel sel

makrofag. Sel darah merah tidak mengekspresikan molekul MHC I. Hal itu memudahkan plasmodium hidup didalamnya tanpa intervensi sistem imun. B. Molekul MHC II Kompleks MHC II yang terdiri atas HLA-D (DP, DQ dan DR) menentukan ekspresi atau antigen permukaan sel-sel imunokompeten tertentu seperti sel B, monosit, makrofag, APC untuk mengaktifkan sel T. Molekul MHC II mengikat molekul peptida yang sudah diproses sel APC menjadi kompleks yang kemudian diangkut kepermukaan sel sehingga dapat dikenal oleh sel CD4+. Persentasi antigen oleh APC ke sel T CD4+ tersebut merupakan permulaan reaksi imun yang selanjutnya menentukan jenis respons yang akan terjadi. Setiap rantai molekul MHC II adalah berbeda. Oleh karena itu dimungkinkan adanya perbedaan rantai MHC II, dapat dibentuk berbagai kombinasi polipeptida. Anak yang mewarisi dua pasangan alel yang berbeda, sedikitnya dapat membentuk 12 kombinasi yang berbeda. Perbedaan sifat-sifat sistem imun nosn-spesifik dan spesifik Non-spesifik Resistensi Spesifitas Tidak berubah oleh infeksi Umumnya efektif terhadap semua mikroorganisme Fagosit sel NK Lisozim Komplemen Protein fase akut Interferon Spesifik Membaik oleh infeksi berulang Spesifik untuk mikroorganisme yang sudah mensensitasi sebelumnya Limfosit T dan B Antibodi Sitokin Mediator

Sel yang penting Molekul yang penting

BAB III Kesimpulan

1. Antigen merupakan bahan yang dapat merangsang respon imun dan dapat bereaksi

dengan antibodi yang sudah ada. Secara fungsional antigen dibagi menjadi imunogen dan hapten.
2. Epitop atau determinan antigen adalah bagian tantigen yang dapat menginduksi

pembentukan antibodi dan dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau reseptor pada limfosit.
3. Major Histocompatibility Complex (MHC)

MHC adalah suatu reseptor antigen yang terdapat dalam semua sel dalam tubuh kita kecuali sel darah merah dan berfungsi mengenali yang self dan menjauhi yang asing. MHC terbagi menjadi dua, yaitu MHC kelas I dan MHC kelas II a. MHC I 1. Di susun oleh satu protein 2. Dimiliki semua sel kecuali darah merah 3. Kejadian yang terjadi tiba-tiba dalam sel 4. Dikenali oleh sitotoksik limfosit B 5. Dikibarkan oleh semua sel yang sedang terinfeksi. b. MHC II 1. Disusun oleh dua protein 2. Mengenali antigen dan bahan asing khususnya pada makrofag dan cell B 3. Dihasilkan oleh sel makrofag dan cell B sebagai tanggapan terhadap bahan non self yang berasal dari luar. 4. Kejadian yang terjadi dari luar masuk ke dalam atau bahan asing yang berasal dari luar contohnya virus, bakteri. 5. Dikenali oleh limfosit T helper 6. Dikibarkan oleh APC DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. 2006. Imunologi Dasar Edisi ke-7. Jakarta: FKUI Bloom. 2002. Buku Ajar Histologi Edisi 12. diterjemahkan oleh Jan Tambayong. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Garna, karen.2002. Immunologi Dasar. Jakarta: UI Press