Anda di halaman 1dari 53

BAHASA DAN PENALARAN

DIKTAT DISUSUN UNTUK SUPLEMEN MATA KULIAH LOGIKA BAHASA

OLEH BAMBANG WIBISONO

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JEMBER 2012

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JEMBER FAKULTAS SASTRA JURUSAN SASTRA INDONESIA RENCANA PERKULIAHAN Mata kuliah Kode Mata Kuliah SKS Semester : Logika Bahasa : : 2 SKS :V

A. Deskripsi Mata Kuliah Di dalam mata kuliah ini dibahasa masalah-masalah yang berhubungan dengan bahasa dalam pespektif logika, dengan harapan mahasiswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang hubungan antara logika dan bahasa, sehingga dapat lebih cermat dan tepat nalar dalam menggunakan bahasa, khususnya bahasa Indonesia. B. Kompetensi yang Ingin Dicapai Mahasiswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang hubungan antara bahasa dan logika, sehingga mahasiswa dapat lebih cermat dalam berbahasa Indonesia dan dapat menganalisis bahasa dalam perspektif logika C. Metode Pembelajaran Ceramah, tanya jawab, diskusi, peragaan, dan latihan D. Media yang Digunakan LCD Projector sebagai alat presentasi dan menerangkan materi kuliah, dan alat peraga berupa contoh dan model analisis bahasa dalam perspektif logika E. Evaluasi UTS, UAS, Tugas, partsipasi dalam diskusi dan perkuliahan Pertemuan 1 bahasa) Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan 5 Pertemuan 6 Pertemuan 7 : Pengantar (pengertian, definisi, ranah kajian logika : Hubungan antara Bahasa dan Logika : Prinsip dan Patokan Dasar Logika : Ukuran Kebenaran menurut Logika : Proposisi dan Jenis-jenis Penalaran : Penalaran : Jenis-jenis Penalaran

Pertemuan 8 Pertemuan 9 Pertemuan 10 Pertemuan 11 Pertemuan 12 Pertemuan 13 Pertemuan 14 Pertemuan 15 Pertemuan 16 Bacaan:

: Proposisi dan Penalaran : Sesat Nalar : Sebab-sebab Sesat Nalar : Jenis-jenis Sesat Nalar : Generalisasi Tergesa-gesa : Analogi Palsu : Penalaran Melingkar : Relevansi Semu : Kesimpulan Lebih Luas

Usman, Arief. 1980. Ilmu Logika. Surabaya: Bina Ilmu. Gilarso, T dan W. Poespoprodjo. 1985. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remaja Karya. Soekadijo, R. 1988. Logika Induktif. Jakarta: Gramedia. Wibisono, B. 2005. Logika Bahasa. Diktat Kuliah: Tidak Terbit.

PETUNJUK UNTUK MAHASISWA Di dalam modul ini Anda akan mempelajari hubungan antara bahasa dan penalaran sebagai dasar Anda mengikuti mata kuliah Logika Bahasa. Pemahaman Anda tentang hal ini akan dapat digunakan sebagai sarana mengidentifikasi bentuk-bentuk bahasa yang tidak taat asas terhadap kaidah penalaran, sehingga dapat digunakan sebagai sarana mengidentifikasikan bentuk-bentuk bahasa yang bernalar dan tidak bernalar atau sesat nalar, khususnya, dalam bahasa Indonesia. Untuk dapat memahami materi kuliah yang tertuang dalam modul ini. Anda perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Baca keterangan-keterangan yang ada dalam modul ini, utamanya berkaitan dengan logika bahasa, hubungan antara penalaran dan bahasa, dan kriteria menentukan bahasa yang bernalar dan bahasa yang sesat nalar. 2. Dari contoh-contoh yang diberikan dalam modul ini sedapat mungkin Anda perluas dengan contoh-contoh buatan Anda sendiri. 3. Jika Anda mengalami kesulitan di dalam memahami materi kuliah yang tertuang pada modul ini Anda dapat berdiskusi dengan temanteman Anda. Jika ada masalah yang belum dapat Anda pecahkan, dapat Anda tanyakan langsung kepada dosen pembina mata kuliah ini. 4. Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang materi kuliah ini, Anda diminta membaca buku-buku literatur materi kuliah yang tertuang pada bagian akhir modul ini.

5. Kerjakan latihan-latihan yang diberikan dalam modul ini, baik latihan yang diberikan pada materi bacaan kuliah maupun latihan yang diberikan dalam bentuk soal atau tes. 6. Dalam mengerjakan soal atau tes Anda tidak diperkenankan membuka kunci jawaban yang yang disertakan pada bagian akhir modul ini. Kunci jawaban hanya dipergunakan sebagai sarana mencocokkan jawaban yang telah Anda berikan. Agar modul ini memberikan daya guna dan hasil guna kepada Anda secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan, kerjakan modul ini sesuai dengan prosedur dan perintah yang telah diberikan.

TUJUAN PERKULIAHAN Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda dapat menjelaskan hubungan antara logika dan bahasa, dapat menjelaskan dan menyebutkan jenis-jenis kesesatan logis, dan dapat memberikan contoh kalimat-kalimat yang bernalar dan kalimat yang tidak bernalar atau sesat nalar. Dengan demikian, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kalimat (bahasa Indonesia) yang logis, sistematis, dan mantis. INTI MATERI KULIAH Penalaran adalah suatu proses berpikir yang dilakukan dengan cara menghubung-hubungkan fakta, sehingga sampai pada suatu simpulan yang benar. Bahasa adalah sarana berpikir dan bernalar. Dengan demikian, bahasa berhubungna erat dengan berpikir dan bernalar. Berpikir jernih tercermin dalam kalimat yang digunakan sebagai sarana berpikir. Pemikiran yang dilandasi oleh suatu penalaran yang jernih akan menghasilkan kalimat yang logis. Sebaliknya, jika kalimat yang dituturkan orang berawal dari

pemikiran yang kusut atau alasan yang sesat akan melahirkan kalimat yang salah nalar dan tidak logis. Agar dalam bahasa seseorang tercermin penalaran yang lurus, kalimat-kalimat yang dituturkan harus lurus pula. Artinya, kalimat-kalimat yang dihasilkan harus taat asas terhadap kaidah penalaran. Untuk dapat berbahasa yang bernalar seseorang perlu memahami hubungan makna yang logis, baik dalam hal memilih kata, menyusun frase dan menyusun kalimat sesuai aturan-aturan silogistik. WAKTU PERKULIAHAN Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul ini adalah 3 X 90 menit atau tiga kali pertemuan. Waktu menyelesaikan modul ini setara dengan 3 kali tatap muka dalam kuliah mimbar. Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul ini adalah waktu kuliah efektif mata kuliah Logika Bahasa sebagaimana tercantum dalam jadwal yang telah diprogram oleh bagian akademik.

KEGIATAN I BAHASA DAN LOGIKA

1.1

Tujuan Khusus Perkuliahan Setelah mempelajarai materi yang tertuang dalam bacaan berikut,

diharapkan Anda memiliki pengetahuan yang memadai tentang hubungan antara bahasa dan logika, sehingga Anda: (1) dapat menjelaskan latar belakang munculnya ilmu Logika-Bahasa, (2) dapat menjelaskan hubungan antara logika dan bahasa, (3) dapat menjelaskan fungsi bahasa dalam prespektif Logika. 1.2 Kegiatan Perkuliahan Pelajari bahan bacaan berikut dengan sungguh-sungguh dan cermat agar Anda dapat memahami maksud yang tertuang di dalamnya dan dapat menyelesaikan soal-soal serta latihan yang diberikan. Kesempurnaan jawaban Anda adalah cermin pemahaman Anda atas materi yang diberikan dalam modul ini. Oleh karena itu, baca bahan bacaan berikut berulang-ulang sampai Anda merasa yakin bahwa Anda sudah paham benar isi yang dimaksudkan. Agar efektif dalam membaca materi yang disajikan Anda diminta membuat resume atau ringkasan tentang pokok-pokok pikiran yang dikemukakan. Selanjutnya, Anda baca bacaan berikut dengan sungguh-sungguh. Selamat membaca.

BACAAN 1.3 Bahasa dan Logika

Bahasa dan logika berhubungan sangat erat. Logika sebagai salah satu aktivitas bernalar memerlukan sarana. Sarana tersebut adalah bahasa. Atas dasar kenyataan itu lalu muncul suatu subbidang ilmu khusus yang membahas hubungan antara logika dan bahasa yang dikenal sebagai ilmu LogikaBahasa. Sekelumit uraian tentang subbidang ilmu ini sebagaimana terlihat da-lam paparan berikut. 1.3.1 Perekembangan Historis Bahasa ada karena individu manusia ada. Dalam kaitannya dengan ber-pikir dan bernalar (berpikir yang memenuhi kaidah logika), bahasa adalah sarana untuk dapat berpikr dan bernalar. Bahasa adalah kendaraan berpikir (vehicle of thought) yang dapat menghambat, mempermudah, mendorong, dan mematikan proses berpikir dan bernalar (Soehakso, 1988:99). Dengan demikian, agar seorang pemikir dapat berpikir dengan mudah, syarat yang harus dimiliki adalah menguasai seluk-beluk bahasa yang dijadikan sebagai sarana berpikir dan bernalar. Seseorang tidak dapat melakukan aktivitas itu tanpa pertolongan bahasa. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan, bahasa adalah sistem tanda yang biasa digunakan sebagai sarana untuk menyatakan menyatakan pendapat, menggugah keinginan, rasa cita, apresiasi, dan sejenisnya. menggunakan tanda. Matematikawan Orang berpikir dan bernalar (pakar ilmu matematika)

mengemukakan rumus-rumus dengan sejumlah tanda matematikan. Seorang ahli musik mengemukakan pikirannya tentang seni musik menggunakan tanmda-tanda notasi. Rumus-rumus struktur kimia, matematika, kedokteran, musik, dan lan sebagainya menggunakan tanda-tanda yang telah disepakati oleh masyarakat selingkungnya sebagai sarana komuni-kasi dan menuangkan gagasan mereka. Dalam arti yang luas, semua tanda yang mereka gunakan adalah bahasa. Khusus dalam matematika, misalnya, notasi

berperanan penting dan menentukan perkembangan ilmu itu. Berkat adanya notasi, seorang matematikawan dapat melakukan hitungan diferensial dan integral. Dengan notasi ia dapat membuat matrik yang bermacam-macam. Bahkan, diperkenalkannya variabel X dan Y oleh Vieta (1540-1603) dalam ilmu aljabar, yang kelihatannya penemuan tersebut sangat sederhana, mengakibatkan ilmu aljabar berkembang sangat pesat. Situasi demikian dijumpai berulang kali dalam matematika. Teorema-teorema yang dirumuskan dalam Teori Grup berlaku untuk berbagai cabang ilmu matematika. Dengan dirumuskannya Teori Grup dalam bentuk notasi-notasi, lalu ditemukan Teori Kategori yang merupakan suatu teori baru dalam matematika dengan daya pemersatu amat hebat dan luas. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana perkembangan suatu bidang ilmu tanpa menggunakan jasa bahasa. Barang kali tidak ada satu bidang ilmu sebagai hasil dan kegiatan berpikir dan bernalar yang dapat berkembang dan bahkan ada tanpa bantuan bahasa. Semua bidang ilmu dalam aktivitasnya selalu melibatkan tanda bahasa. Bahkan, dalam kaitannya dengan berkembangnya berbagai bidang ilmu, bahasa adalah daya pemersatu (unifying power) yang kuat bagi para pakar yang mengembangkan bidang ilmu tersebut. Lebih dari itu, bahasa adalah daya pemersatu antarberbagai bidang ilmu yang dikembangkan oleh manusia. Dalam prespektif semiotika (ilmu lambang), berpikir dan bernalar melibat suatu proses yang disebut sebagai proses semiosis. Proses semiosis yang dimaksud adalah suatu proses memerikan (to describe) dan mengaitkan sesuatu (somethings) dengan sesuatu yang lain dalam suatu relasi tertentu menggunakan sejumlah tanda (sign) (Soehakso, 1988:101). Faktor yang terlibat dalam proses semiosis adalah sign (S), designatum (D), interpretent (I), interpreter (M), dan sign-vehicle (SV) sebagai mediator atau perantara. Tari-tarian tertentu pada kumbang berfungsi sebagai sign. Kumbang-

kumbang lainnya dipengaruhi oleh tarian tersebut, yang dalam proses semiosis berfungsi sebagai interpreter. Efek yang ditimbulkan pada kumbang-kumbang yang lain (yang mengakibatkan disposisi pada kumbangkumbang tersebut untuk mencari bunga-bunga dalam arah tertentu) adalah faktor interpretant. Gerakan dalam tarian tertentu tersebut berfungsi sebagai signe vehicle. Proses semiosis semacam ini juga terjadi pada saat seseorang atau sekelompok orang membaca karya ilmiah, misalnya, atau pada saat mendengarkan ceramah ilmiah. Dalam proses ini pembaca atau pendengar merupakan interpreter, sedangkan designatum-nya adalah persoalan yang dikemukakan dalam tulisan atau ceramah tersebut. Istilah-istilah atau ungkapan-ungkapan yang digunakan sebagai sarana menyampaiakan ceramah atau tulisan tersebut berperan sebagai sign-vehicle. Daya bangkit yang dapat menggerakkan mental interpreter ke arah tertentu berfungsi sebagai sign. 1.3.2 Hubungan antara Berpikir dan Bahasa Berpikir sebagai aktivitas memerikan dan merangkaian sign yang satu dengan sign yang lain tidak dapat meninggalkan peran sign-vehicle, karena sign-vehicle adalah mediator atau perantara bagi terjadinya rangkaian sign. Tanpa sign-vehicle (baca: bahasa) tidak mungkin ada aktivitas berpikir dan bernalar. Bahasa adalah alat berpikir, alat untuk menyampaikan pikiran, dan bahkan perasaan. Dengan bahasa kita dapat merumuskan pikiran kita. Dengan bahasa kita dapat menamai peristiwa-peristiwa, lalu menyimpannya dalam pikiran kita. Kita tidak dapat membayangkan andaikata tidak ada bahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peranan bahasa sebagai sarana berpikir dan bernalar sangat penting keberadaannya. Berpikir sebagai aktivitas berbicara dengan diri sendiri di dalam batin selalu memakai kata-kata, pengertian-pengertian, dan konsep-konsep. Orang

10

tidak dapat berpikir tanpa menggunakan kata, konsep, dan pengertian. Dengan demikian, hubungan antara berpikir dan berbahasa bersifat timbal balik. Orang berpikir selalau memerlukan bahasa, dan berbahasa selalu melibatkan aktivitas berpikir. Orang yang akan menggunakan bahasa sebagai sarana penyampaian maksud kepada orang lain selalu melakukan aktivitas berpikir terlebih dahulu, sedangkan dalam berpikir pastilah ia menggunakan bahasa. Berpikir dengan jelas dan tepat memerlukan pemakaian kata-kata yang tepat. Sebaliknya, pemakaian kata-kata yang tepat dapat menolong berpikir dengan baik atau bernalar. Bahasa adalah alat berpikir, yang kalau dapat digunakan sungguh-sungguh diketahui seluk-beluknya sehingga

dengan tepat, dapat sangat membantu memperoleh kecakapan berpikir yang baik. Berpikir dengan baik menuntut pemakaian kata-kata yang tepat. Oleh sebab itu, dalam berpikir diperlukan pengetahuan yang memadai tentang seluk-beluk kata, pengertian, konsep-konsep, dan pernyataan-pernyataan. Orang tidak dapat berbicara dengan baik kalau tidak mempunyai perbendaharaan kata-kata. Demikian pula, orang tidak dapat berpikir dengan tepat tanpa mengetahui seluk-beluk pengertian, karena pekerjaan akal yang pertama adalah menemukan pengertian. Mengerti sesuatu berarti menangkap sesutu itu, apakah sesuatu itu dilihat dari ciri-cirinya, jenisnya, atau dari sifat-sifat sesuatu itu. Dengan mengerti sesuatu, akal membentuk suatu gambaran tentang sesuatu yang dimengertinya itu. Setelah akal membentuk suatu pengertian atas sesuatu, lalu dapat menggunakannya sebagai sarana berpikir lebih lanjut. Untuk dapat bertukar pikiran dengan orang lain, pengertian-pengertian yang ada dalam batin seseorang diubah menjadi sejumlah kode bahasa yang biasa disebut dengan kata-kata. Kata adalah tanda lahir suatu pengertian, baik yang mengacu pada sesuatu yang konkrit maupun sesuatu yang

11

abstrak. Dengan kata-kata orang dapat menggambarkan sesuatu yang dipikirkan, dirasakan, dan dimaksudkan kepada orang lain. Dalam konteks yang lebih luas, dalam kaitannya dengan kebudayaan, misalnya, bahasa adalah sarana pewarisan dan pengembang kebudayaan. Dalam prespektif ini, bahasa adalah sarana mengungkapkan segala hasil budi daya manusia. Hasil budi daya manusia dalam semua bidang dapat dikenali oleh manusia lain, baik dalam rentangan perbedaan tempat dan perbedaan waktu, karena adanya bahasa sebagai sarana penyampaian dapat hasil budi daya itu. Seorang sastrawan, misalnya, dapat berkreasi dalam dunianya karena adanya bahasa sastrawan. Seorang dokter mengembangkan ilmu ke-dokterannya kaena adanya bahasa kedokteran. Seorang guru dapat me-nyampaikan ilmu pengetahuan kepada muridmuridnya karena bahasa. Se-orang politikus dapat memperoleh dukungan dari khalayaknya karena dapat meyakinkan kepada khalayak tersebut dengan bahasa politik yang dikuasai. Dalam kaitannya dengan individu dan sesamanya, bahasa adalah sarana pewujud saling menjadi sesama (Sudaryanto, 1990:5). Karl Buhler dalam buku monumentalnya berjudul Sprachtheori (1934)1, dengan tinjauan psikologis (karena ia ahli psikologi), menyatakan bahwa fungsi bahasa ada tiga ma-cam, yaitu sebagai sarana komunikasi, sarana penggambaran masalah, dan sarana meminta sesuatu. Dasar pandangan ini adalah adanya tiga macam hubungan antara pengirim, B penerima, dan X sesuatu yang dikirimkan lewat bunyi khusus. Dengan bahasa seseorang dapat menginformasikan sesuatu kepada seseorang yang lain. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang diki-rimkan, bahasa adalah simbol atau lambang.
1

Diterbitkan oleh penerbit Gustav Fisher, di Jenewa tahun 1982 diterbitkan kembali oleh Gustav Fisher Verlag, Stuttgart dan New York tahun 1986. Judul lengkap buku tersebut adalah Spachtheori, die Darstellungs Function der Sprache.

12

Pada awal abad dua puluhan iklim filsafat (khususnya di Inggris) mulai berubah. Para ahli fikir di Inggris mulai mencurigai atau meragukan ungkapan-ungkapan filsafat yang digunakan oleh kaum Hegelian (pengikut Hegel). Ungkapan-ungkapan yang digunakan dinilai sulit dipahami dan menyimpang dari akal sehat. Revolusi yang semula ditiupkan oleh ahli pikir Inggris yang cukup terkenal yaitu GE Moore, segera disambut hangat oleh tokoh Cambridge lainnya, Bertrand Russel, kemudian dilanjutkan secara beranting oleh Wit-genstein. Melalui Wittgenstein inilah revolusi yang menentang kaum Hegelian itu muncul metode filsafat yang baru, yaitu metode analisis bahasa. Metode analisis bahasa yang ditampilkan oleh Wittgenstein berhasil membentuk pola pemikiran baru dalam dunia filsafat. Dengan metode analisis bahasa itu, tugas filsafat bukan hanya membuat pernyataan-pernyataan filsafat, tetapi juga meninjau kebenaran pernyataan yang dikemukakan atas dasar term-term dalam filsafat, khususnya filsafat logika. Bahasa yang dipergunakan dalam filsafat harus dikritik dan dianalisis berdasarkan termterm logika. Sebelum isi sebuah pernyataan dibuktikan kebenarannya, pernyataan itu sendiri harus diuji kebenarannya. Sebelum isi pernyataan yang dikemukakan dalam filsafat teruji benar, bahasa yang dikemukakan juga harus sejalan de-ngan term-term dalam logika. Metode analisis bahasa ini membawa angin segar dalam dunia filsafat (terutama di Inggris), karena kebanyakan orang menganggap bahwa bahasa filsafat sering terlalu berlebihan dalam mengungkapkan realitas. Begitu banyak istilah atau ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam filsafat terasa aneh sehingga menimbulkan teka-teki yang membingungkan bagi para peminat filsafat. Bahkan, kemungkinan juga membingungkan para filsuf yang menyajikan istilah-istilah itu sendiri. Para filsuf analitik (pakar filsafat bahasa) yang berpegangan pada meto-de analisis bahasa bermaksud membersihkan dan menyembuhkan

13

pemakai-an bahasa dalam filsafat dari unsur-unsur yang tidak jelas, membingungkan, dan tidak bernalar (tidak mengikuti kaidah akal sehat). Para filsuf analitik ber-pendapat bahwa dalam bahasa filsafat terdapat banyak penyakit, misalnya kekaburan arti (vagueness), kegandaan makna (ambiguity), ketidakterangan (inexplicitness), dan salah nalar. Oleh karena itu, perlu disusun suatu kriteria logis yang dapat menentukan apakah suatu istilah dan ungkapan yang digu-nakan oleh para filsuf bermakna (meaningfull) atau tidak bermakna (meaning-less). Dengan demikian para filsuf tidak lagi terjebak pada perangkap filsafat yaitu menjawab pertanyaan yang sesungguhnya tidak perlu dijawab. Kendati di dalam perkembangan selanjutnya, para filsuf analitik menerapkan teknik analisis bahasa yang berbeda-beda, serta menentukan kriteria yang berlainan dalam menentukan istilah bermakna dan tidak bermakna, namun ciri khas filsafat analitik menunjukkan nafas yang sama, yaitu mengkritik pemakaian bahasa, khususnya bahasa yang digunakan oleh para filsuf dalam mengungkapkan pemikiran filsafat. Oleh karena itu, kebanyakan ahli filsafat menganggap kehadiran metode analisis bahasa dalam kancah filsafat, tidak saja merupakan reaksi terhadap metode filsafat sebelumnya, akan tetapi juga menandai kelahiran atau munculnya suatu metode berfilsafat yang baru. Metode filsafat baru itu metode filsafat bercorak logosentrisme. Metode ini, berpandangan bahwa bahasa adalah i objek terpenting dalam pemikiran filsafat. Di dalam perkembangannya, metode filsafat ini tidak hanya dikenal di Inggris, akan tetapi menyebar luas di berbagai belahan dunia yang lain, sehingga berkembang satu bidang ilmu yang dinamakan Logika Bahasa. Bidang ilmu ini mencoba mengkaji hubungan antara fenomena kebahasaan dalam prespektif filsafat, khususnya filsafat logika. Dalam bidang ilmu ini, bahasa dicoba diana-lisis secara logis analitis sehingga diketahui mana ungkapan-ungkapan yang bermakna dan yang tidak bermakna, mana

14

ungkapan-ungkpakan yang berna-lar (mengikuti kaidah-kaidah penalaran sebagaimana terlihat dalam termino-logi logika), dan mana ungkapanungkapan yang sesat nalar, baik secara se-mantis maupun secara pragmatis. Di samping didorong oleh pemikiran seperti yang telah disebutkan, kenyataan menunjukkan bahwa dalam masyarakat sering kali didapatkan pema-kaian bahasa yang tidak menghiraukan kaidah-kaidah logika, baik bahasa yang dipakai oleh orang yang tergolong well educated (berpendidikan), mau-pun yang uneducated (tidak berpendidikan). Padahal, bahasa sebagai sarana bernalar terkait erat dengan kaidah-kaidah penalaran. Berbahasa yang cermat harus mengindahlkan kaidah-kaidah yang tertuang dalam terminologi logika atau penalaran. Dalam prespektif ini, ada pandangan bahwa di samping bahasa berfungsi sebagai kendaraan bernalar sekaligus cermin bernalar pemakaianya. Penalaran tercermin dalam bahasa yang dikemukakan. Ungkapan bahasa yang bernalar merupakan cermin bahwa pemakainya berpenalaran jernih. Sebaliknya, bahasa yang tidak bernalar merupakan cermin penalaran yang kusut dan tidak jernih, karena bahasa sebagai suatu sistem, taat asas terhadap kaidah penalaran, baik secara eksplisit maupun secara implisit. Abad kedua puluh, meskipun sulit ditentukan corak pemikiran filsafat yang khas pada masa ini, namun banyak ahli filsafat yang menganggap bahwa filsafat abad ini bercorak logosentris. Artinya, kebanyakan filsuf pada masa ini melihat bahasa sebagai objek terpenting yang harus dibicarakan. Tokoh-tokoh pengembang filsafat ini misalnya G.E. Moore, Russel, Wittgenstein, Ryle, dan Austin2. Corak filsafat logosentris merupakan inti pembicaraan dalam filsafat analitik. Jadi, dalam hal ini filsuf yang memakai metode logikal analitik dalam
Rizal Mustansyir.1987. Dalam Filsafat Analitik. Halaman 11. Hamersma. 1987. Dalam Tokoh-Tokoh Fislafat Barat Modern. Halaman 141.
2

15

melihat dan melakukan penyelidikan tentang arti serta prinsip dan aturanatur-an bahasa merupakan problema yang pokok dalam filsafat. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa kegiatan para filsuf analitik berkisar pada upaya men-jelaskan masalah arti atau makna bahasa (semantik), dan masalah penggu-naan bahasa menurut aturan tertentu (pragmatik) dalam bidang filsafat. Ber-dasarkan kajian ini diketahui bahwa bahasa terkait dengan masalah logika. Kendati di dalam bahasa ada ungkapan-ungkapan yang tampaknya tidak logis, dalam satuan-satuan bahasa tertentu yang lebih besar, kaidah bahasa mengikuti alur berpikir logis. Lebih-lebih, jika dikaitkan dengan kaidah sintaktis, semantis, dan kaidah retorika bahasa. Hal ini didasarkan oleh adanya kenyataan bahwa salah satu fungsi bahasa manusia antara lain digunakan sebagai sarana menuangkan ide atau gagasan hasil kegiatan bernalar atau berlogika. 1.3.3 Fungsi Bahasa dalam Prespektif Logika Dalam prespektif logika, bahasa adalah sarana berpikir, baik yang bersifat personal maupun bersifat interpersonal. Sebelum hasil pemeikiran seseorang dikemukakan kepada orang lain dengan bahasa, bahasa sudah digunakan sebagai sarana berpikir seseorang tersebut. Sebelum seseorang mengemukakan hasil pemikirannya kepada orang lain, seseorang tersebut telah melakukan aktivitas berpikir, yaitu merangkai dan menghubungkan berbagai pengertian yang ada dalam batinnya. Dengan demikian, dalam prespektif logika, bahasa adalah sarana mengembangkan ide atau bersifat ideasional. Dalam hubungan ini, Sudaryanto (1990:17) mengemukakan bahwa fungsi bahasa ada tiga, yaitu (1) fungsi ideasional, (2) fungsi interpersonal, dan (3) fungsi tekstual. Fungsi ideasional berkaitan dengan peranan bahasa sebagai sarana untuk pengungkapan isi, pengungkapan pengalaman penutur

16

tentang dunia nyata, termasuk dunia dalam kesadarannya sendiri. Fungsi interpersonal berkaitan dengan peranan bahasa sebagai sarana untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk pengungkapan peranan-peranan sosial termasuk peranan-peranan komunikasi yang diciptaan oleh bahasa itu sendiri. Fungsi tekstual berkaitan dengan tugas bahasa untuk membentuk berbagai mata rantai kebahasaan dan mata rantai unsur situasi (features of the situation) yang memungkinkan digunakannya bahasa oleh para pemakainya. Dalam prespektif ilmu logika, fungsi bahasa yang terpenting adalah sebagai sarana mengembangkan ide atau fungsi ideasional dan sarana mengemukakan ide kepada orang lain atau fungsi interpersonal. Untuk dapat digunakan sebagai sarana mengembangkan ide dengan baik, orang perlu mengetahui seluk-beluk bahasa. Secara umum, seluk-beluk bahasa yang harus diketahui antara lain, seluk-beluk proposisi. Menurut artinya, kata dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan sebagai berikut: (1) kata univokal, yaitu kata yang sama bentuk dan sama makna, misalnya kata manusia; (2) kata ekuivokal, yaitu kata yang sama bentuk tetapi berbeda makna, misalnya kata bintang pada bintang di langit, bintang kelas, bintang lapangan, dan sejenisnya; (3) kata analogis, yaitu kata yang sama bentuk, sedangkan artinya ada kesamaan dan ada perbedaan, atau kata yang tidak sama persis maknanya, misalnya kata sehat pada kata sehat akal, sehat jasmani, makanan sehat, udara sehat, dan sejenisnya. Dalam kaitannya dengan berpikir tentang ilmu pengetahuan, kata univokal adalah yang terpenting untuk diketahui sifat dan ciri-cirinya. Hal ini disebabkan, hanya kata-kata yang tepat makna yang dapat digunakan sebagai sarana mengemukakan ilmu pengetahuan dan sarana berdiskusi kata, term, pengertian, dan

17

tentang ilmu pengetahuan secara tepat. Kata-kata univokal bermakna pasti, tidak ambigu (taksa), dan tidak terpengaruh oleh konteks, baik konteks pemakai maupun konteks pemakaiannya, sehingga bahasa ragam ilmu lebih banyak menggunakan kata-kata univokal daripada kata-kata ekuivokal. Dengan demikian, jika kita ingin bernalar dalam bidang ilmu pengetahuan menggunakan kata-kata ekuivokal harus sangat berhati-hati. Jika kata-kata ekuivokal tersebut tidak dijelaskan makna secara pasti, dapat menimbulkan salah tafsir atau salah paham. Lebih-lebih jika kata-kata tersebut digunakan untuk berdebat. Oleh karena kata-kata tersebut bersifat ambigu (taksa) dan multi-tafsir, bisa jadi dalam berdebat timbul kekacauan, karena masingmasing peserta debat tidak memiliki persepsi yang sama tentang hal yang diperdebatkan. Kata-kata ekuivokal biasanya digunakan untuk kepentingan propaganda yang bersifat susastra dan seni, sedangkan kata-kata analogi banyak dipakai dalam bahasa sehari-hari. Kata-kata ekuivokal lebih luwes untuk keperluan estetis atau keindahan, sedangkan kata-kata analogi dapat digunakan untuk menyederhanakan persoalan yang terlihat kompleks menjadi lebih mudah untuk dipahami. Misalnya, pernyataan berikut: Berpikir ibarat mengasah pisau. Semakin sering psau diasah, semakin tajam pisau tersebut. Jadi, dapat dikatakan bahwa semakain sering orang melakukan aktivitas berpikir, semakin tajam pemikirannya. Semakin sering orang melatih dirinya untuk berpikir atau mengasah otaknya, semakin tajam otak yang dimiliki, sehingga semakin pandai atau semakin cerdas dalam berpikir atau menyelesaikan masalah. Struktur pikiran atau otak manusia yang kompleks disederhanakan ibarat pisau. Dalam kaitannya dengan upaya memelihara ketajaman otak dalam berpikir, otak manusia diibaratkan sebagai sebuah pisau yang diasah. Semakin sering pisau diasah, akan membuat pisau tersebut semakin tajam.

18

Demikian juga otak manusia. Semakin sering otak manusia digunakan untuk berpikir atau berlatih berpikir, semakin membuat tajam otak tersebut. Dengan cara sederhana, ini orang lalu tahu bagaimana proses berpikir dan memelihara ketajaman otak atau berpikir yang dilakukan manusia, meskipun proses berpikir yang sesungguhnya tidak sesederhana yang dianalogikan. Bahasa yang kita pakai sebagai sarana berpikir bukanlah barang mati, melainkan merupakan sesuatu yang hidup, merupakan suatu ekspresi dari manusia yang hidup dan berada dalam masyarakat sosial. Oleh karena itu, kata-kata yang kita pakai sebagai sarana berpikir tidak hanya menunjukkan kenyataan, fakta, atau barang yang objektif saja, melainkan dapat juga menyatakan sikap, atau perasaan tertentu terhadap kenyataan yang disertai dengan nilai rasa tertentu. Atas dasar kenyataan ini, maka terdapat kata-kata yang bernilai rasa tertentu dalam pemakaiannya. Oleh karena itu, untuk setiap situasi tertentu pemakai bahasa harus dapat memilih kata yang cocok sesuai dengan nilai rasa yang hendak dinyatakan. Kata-kata dengan nilai rasa tertentu tidak hanya dapat digunakan untuk melahirkan perasaan atau penilaian terhadap perasaan diri sendiri, melainkan dapat juga digunakan sebagai sarana menimbulkan perasaan kepada orang lain. Apabila kata-kata bernilai rasa tertentu sengaja dipergunakan untuk menimbulkan perasaan, misalnya kebencian, dukungan, pemujaan, pengutukan, penghujatan, dan sejenisnya, maka kata-kata tersebut disebut sebagai kata-kata emosional atau coloured. Kata-kata jenis ini menggerakkan rasa, bukan akal. Kata-kata jenis ini mendorong dan menimbulkan perasaan, tetapi tidak mengajak untuk berpikir. Kata-kata emosional kerap kali dipakai dalam bidang politik dan iklan-iklan. Dalam kaitannya dengan bernalar atau berpikir lurus (baca: berlogika), perlu dibedakan dengan jelas mana cetusan emosional dan mana cetusan kegiatan bernalar atau kegiatan melukiskan fakta. Dalam kaitannya dengan

19

berlogika, pemakaian kata-kata emotif atau kata-kata bernilai rasa tertentu dapat menghambat pemikiran. Bahkan, terjadap kenyataan atau realitas. Untuk mengtahui arti kata tertentu salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah tempat dan fungsi kata itu dalam kalimat. Dalam kegiatan berpikir, kata-kata sering ditempatkan dalam posisi tertentu dan berhubungan secara tertentu pula dengan bagian-bagian kalimat yang lain. Dengan demikian, dalam kalimat ada bagian-bagiannya. Bagian-bagian kalimat yang menduduki fungsi tertentu dalam kalimat, menurut istilah logika sering disebut sebagai term. Misalnya, kalimat Tono nakal, terdiri dari dua term, yaitu term Tono, dan term nakal. Kalau kita hendak memikirkan sesuatu atau membicarakan sesuatu, kita harus tahu dan mengerti makna kata-kata yang akan kita pakai. Kita harus mngerti apa yang dimaksudnya, apa maknanya, apa isinya, berapa yang diacu, dan sebagainya. Dalam setiap kata atau konsep ada pengertian, dan setiap pengertian memiliki isi dan luas tertentu. Dalam logika, suatu pengertian dikaji dari dua segi yaitu dari segi isi dan dari segi luas. Dengan demikian, setiap pengertian memiliki isi dan luas. Misalnya, kata pegawai negeri. Isi dan lusa pengertian term pegawai negeri dapat dijelaskan sebagai berikut: Pegawai negeri ialah sesorang yang mempunyai pekerjaan tertentu, pada instansi pemerintah tertentu, tidak diangkat secara kebetulan saja, melainkan melalui seleksi, diberi posisi sebagai jabatan tetap, diberi aturan, dan gajinya dibayar oleh pemerintah berdasarkan surat keputusan. Setiap pengertian mempunyai ruang lingkup sendiri-sendiri. Lingkup pengertian ditentukan oleh lingkungan yang dapat ditunjuk atau disebut oleh pengertian atau term itu. Misalnya, pengertian kuda mencakup semua kuda, dapat mengacaukan jalan pikiran dan memustahilkan berpikir sendiri dengan objektif, karena menutup mata

20

apakah kuda yang besar, sedang atau kecil, kurus, gemuk, putih, hitam, coklat, dan sebagaimnya. Tidak semua term atau pengertian memiliki luas yang sama. Demikian juga tentang kata-kata. Kata-kata yang sama dirangkai dengan kata-kata tertentu, dapat menunjukkan jumlah bawahan yang berlainan. Misalnya, kata manusia dalam konteks rangkaian kata-kata berikut: semua manusia, sebagian manusia, beberapa manusia, tidak semua manusia, dan sejenisnya. Term manusia yang diacu dalam beberapa rangkaian kata tersebut tidak sama satu sama lain. Dalam ilmu logika, kata, pengertian, term setelah diketahui ciri-ciri dan identitasnya digunakan sebagai sarana menentukan putusan atau pernyataan konklusi. Dalam putusan, dua pengertian atau lebih dihubunghubungkan sehingga menjadi suatu pernyataan. Jadi, tidak setiap putusan mengandung pengertian, tetapi tidak setiap pengertian sekaligus menjadi putusan. Pernyataan yang tidak dihasilkan dari kegiatan menghubunghubungkan pengertian tidak dapat disebut putusan. Putusan dapat dirumuskan dalam bentuk kalimat. Putusan yang dnyatakan dalam bentuk kalimat berita biasa disebut sebagai putusan kategoris. Misalnya, putusan berbunyi Harga-harga sekarang mahal. Penyataan ini dapat disebut putusan karena didahului oleh pengandaian, bahwa Dahulu harga-harga tidak mahal.

1.4 Tes Formatif Setelah Anda memelajari dengan seksama materi yang telah disajikan, coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas dan lengkap. (1) Jelaskan latar belakang munculnya ilmu Logika-bahasa! (2) Jelaskan hubungan antara logika dan bahasa! (3) Jelaskan fungsi bahasa dalam prespektif logika! 1.5 Umpan Balik

21

Jika Anda telah menjawab tiga pertanyaan yang diberikan, coba jawaban yang Anda berikan Anda cocokkan dengan kunci jawaban yang disertakan dalam modul ini. Jika jawaban Anda telah sesuai dengan yang tertuang pada kunci jawaban, Anda dapat melanjutkan kegiatan anda pada kegiatan berikutnya. Artinya, Anda dapat mempelajari materi yang tertuang dalam lanjutan modul ini. Namun, jika ternyata jawaban yang Anda berikan tidak cocok atau belum sesuai dengan kisi-kisi jawaban yang diberikan dalam kunci jawaban, Anda diminta mempelajari materi dalam modul ini sekali lagi. Jika Anda merasa belum puas atau belum jelas dalam memahami bacaan yang disajikan, An-da dapat membaca buku-buku acuan yang dianjurkan. Buku-buku acuan yang dapat Anda baca dalam rangka memperkaya pengetahuan Anda sehubungan dengan materi pelajaran ini adalah sebagai berikut.

1.6 Buku Bacaan Arifin, Zainal E. dan Farid Hadi. 1992. I001 Kesalahan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress. Badudu, Y.S. 1990. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Hamersma. 1987. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Obor. Mustansyir, Rizal. 1987. Filsafat Analitik. Jakarta: Rajawali Press. Poespoprodjo, W. dan T. Gilarso. 1985. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remaja Karya. Soehakso, RMJT. 1988.Suatu Renungnan Filsafati tentang Bahasa, Logika, dan Matematika dalam Kaitannya dengan Usaha Pembentukan Bahasa Indonesia Ragam Matematika dalam Adjat Sakri. 1988. Ilmuwan dan Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

22

KEGIATAN II KESALAHAN LOGIS (FALLACY) 2.1 Tujuan Khusus Perkuliahan Setelah mempelajarai materi yang tertuang dalam bacaan berikut, diharapkan Anda memiliki pengetahuan yang memadai tentang beberapa kesalahanlogis, sehingga Anda dapat menjelaskan: (1) maksud kesalahan logis atau fallacy, (2) sebab-sebab terjadinya kesalahan logis, (3) kesalahan logis karena analogi palsu, (4) (5) (6) 2.2 kesalahan logis karena pikiran simplisistis, kesalahan logis karena generalisasi yang tergesa-gesa, kesalahan logis karena tidak deduksi cacat. Kegiatan Perkuliahan Pelajari bahan bacaan berikut dengan sungguh-sungguh dan cermat dengan tujuan agar Anda dapat memahami maksud yang tertuang di dalamnya dan dapat menyelesaikan soal-soal serta latihan yang diberikan. Kesempurnaan jawaban Anda adalah cermin pemahaman Anda atas materi yang diberikan dalam modul ini. Oleh karena itu, baca bahan bacaan berikut berulang-ulang sampai Anda merasa yakin bahwa Anda sudah paham benar isi yang dimaksudkan. Agar efektif dalam membaca materi yang disajikan Anda diminta membuat resume atau ringkasan tentang pokok-pokok pikiran yang dikemukakan. Selanjutnya, Anda baca bacaan berikut dengan sungguhsungguh. Selamat membaca.

23

24

BACAAN 2. 3 Kesalahan Logis (Fallacy) Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering terjebak oleh sesuatu yang dinamakan sesat pikir, sesat nalar, kesalahan logis atau fallacy. Sesat pikir ada yang memang disebabkan oleh kesengajaan atau oleh karena kekurangcermatan kita dalam menerapkan prinsip-prinsip dasar logika. Kalau sesat pikir dengan sengaja digunakan untuk menyesatkan orang lain biasa disebut sofisme. Misalnya, Dadang lahir di bawah bintang scorpio, pantas hidupnya selalu penuh penderitaan. Kalau orang melakukan sesat pikir tanpa menyadari bahwa pernyataan yang dikemukakan itu sesat, kesesatan semacam itu disebut paralogis. Penalaran dapat sesat karena: (1) bentuknya yang tidak tepat atau tidak sahih, (2) kesalahan penggunaan bahasa, (3) kasalahan material. Kesesatan pertama disebut kesesatan formal, yang kedua disebut verball fallacies, dan ketiga disebut material fallacies. Kesesatan formal terjadi karena pelanggaran terhadap kaidah-kaidah logika. Misalnya, pembagian terlalu luas atau terlalu sempit, pembagian saling meliputi, dan pembagian bersilang. Kesalahan-kesalahan semacam ini terjadi karena pembagian tidak menurut ketentuan. Kesalahan formal juga dapat disebabkan salah dalam menarik kesimpulan (fallacy of four term). Kesalahan berpikir terjadi karena melanggar peraturan silogisme, yaitu dalam sebuah silogisme hanya ada tiga term yang disebut dua kali. Apabila ada empat term, maka terjadi kesalahan. Kesalahan dapat pula terjadi karena term menengah punya arti ganda sehingga terdapat empat term. Di samping itu, penalaran yang sesat dapat disebabkan oleh tidak adanya hubungan logis antara premis dan konklusinya. Kesesatan demikian disebut dengan istilah kesasatan relevansi. Misalnya, kesalahan berpikir karena term menengah tidak mencakup semuanya (undistri-buted), sehingga tidak dapat

25

menghubungkan dua term yang lain. Dengan demikian, tidak dapat ditarik kesimpulan. Contoh pernyataan berikut ini: Semua binatang adalah fana. Semua manusia adalah fana. Jadi, semua binatang adalah manusia. Silogisme ini salah karena melanggar peraturan. Fana sebagai midle term (term menengah) bersifat undistributed. Kesalahan semacam ini biasa disebut dengan istilah fallacy of undistributed middle. Kesalahan berpikir dapat terjadi karena term-term pada premis bersifat undistributed, sedangkan konklusinya distributed. Kesalahan semacam ini disebut fallacy of illicit proces. Misalnya: Semua kuda berkaki empat. Tak seekor kucing pun adalah kuda. Tak seekor kucing pun berkaki empat. Di samping kesalahan berpikir demikian, kesalahan berpikir dapat terjadi karena dua premis berbentuk negatif. Jika premis berupa proposisi negatif, maka tidak ada hubungan antara keduanya. Dengan demikian, tidak dapat ditarik konklusi. Kesalahan semacam ini disebut dengan istilah the fallacy of negative premis. Misalnya: Tak seekor anjing adalah manusia. Tak seekor binatang berkaki empat adalah manusia. Kesesatan bernalar banyak terjadi karena si penalar kurang mengetahui sifat-sifat bahasa yang digunakan sebagai sarana bernalar. Misalnya, melakukan pemutaran proposisi tanpa memperhatikan aturan

26

sehingga subjek tertukar dengan predikat, predikat tertukar dengan subjek, atau sebaliknya. Padahal, subjek tidak sama dengan predikat, dengan keterangan, dan sejenisnya. Adanya anggapan bahwa hal-hal yang benar pada keseluruhan juga benar pada bagian-bagiannya dapat juga menyebabkan kesalahan berpikir. Sifat benar yang dimiliki oleh anggota suatu himpunan juga dimiliki oleh himpunan itu, dapat menyebabkan kesalahan berpikir. Kata-kata dalam bahasa dapat memiliki berbagai macam arti sesuai dengan konteks pemakaiannya. Kata-kata dalam kalimat tertentu maknanya berbeda dengan kata-kata tertentu dalam kalimat yang lain. Oleh karena itu, dalam menafsirkan dan menggunakan kata-kata tertentu harus diperhatikan konteks kalimatnya. Hal yang sama dapat terjadi pada kalimat. Sebuah kalimat dengan struktur (susunan) tertentu dapat memiliki makna lebih dari satu. Arti kalimat tergantung dari konteksnya, sehingga kalimat yang sama dalam konteks yang berbeda dapat bermakna berbeda. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat dapat menimbulkan kesesatan bernalar. Kesesatan karena bahasa dapat hilang kalau penalaran itu disalin ke dalam bahasa yang lain. Kalau penalaran itu diubah dalam bentuk lambang dengan satu makna, kesasatan bernalar dapat dihindarkan. Lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari adanya ketidakpastian arti dalam bahasa. Kesesatan penalaran karena bahasa dapat terjadi karena aksen atau tekanan, karena term yang digunakan, karena arti kiasan, dan karena amfiboli. 1) Kesesatan karena aksen Aksen yang berbeda dapat menimbulkan makna kalimat yang berbeda. Jika kita tidak cermat dalam menempatkan tekanan atau aksen, maka makna atau maksud kalimat yang kita kemukakan dapat disalahtasirkan berbeda

27

oleh yang mendengar. Misalnya, kalimat berikut: Pegawai teras itu sedang duduk bersantai di balai-balai sambil minum kopi. Kata teras dilafalkan dengan aksen berbeda akan menimbulkan perbedaan makna. Kata teras dilafalkan dalam aksen tertentu dapat berarti pegawai tinggi atau justru sebaliknya, yaitu pekerja rendahan (orang yang pekerjaannya membersihan teras rumah). Apa makna yang dimaksud? Hal ini tergantung dari cara melafalkan atau mengaksenkan kata-kata tersebut. 2) Kesesatan karena penggunaan term Dalam logika-bahasa dikenal ada dua jenis term, yaitu term monovok dan term ekuivok. Term monovok adalah term yang hanya memliki satu makna, sedangkan term ekuivok adalah term yang memiliki lebih dari satu makna. Jika kita tidak cermat dalam menggunakan term ekuivok, dapat menyebabkan terjadinya ketaksaan makna atau ambigu. Jika ketaksnaan makna tersebut dipertukarkan satu sama lain tanpa mempertimbangkan ketepatan makna, dapat menyebabkan terjadinya kesesatan bernalar. Contoh: Sifat abadi adalah sifat ilahi. Adam adalah mahasiswa abadi. Jadi, Adam adalah mahasiswa yang bersifat ilahi. Salah satu sifat ilahi adalah abadi, namun abadi tidak selalu sama artinya dengan sifat ilahi. Misalnya, mahasiswa abadi dan sifat ilahi yang abadi. Jika keduanya dipertukarkan satu sama lain tanpa mempertimbangkan perbedaan nuansa maknanya, akan menimbulkan kesesatan bernalar. 3) Kesesatan karena arti kiasan

28

Di dalam bahasa ada kata yang bermakna lugas dan bermakna kiasan. Jika makna lugas dan makna kias dianalogikan begitu saja tanpa mempertimbangkan perbedaan makna yang dikandungnya akan dapat menimbulkan kesesatan berpikir. Di samping kesesatan berpikir seperti yang telah disebutkan, ada kesalahan berpikir yang disebabkan oleh karena materi pikiran yang dijadikan sebagai bahan berpikir. Beberapa kesalahan berpikir yang disebabkan kesalahan material, dapat disebutkan sebagai berikut. 4) Kesesatan karena arguing beside the point Kesalahan berpikir ini disebabkan oleh kekaburan yang terjadi antara dua persoalan. Persoalan yang satu digunakan untuk memecahkan persoalan lain, padahal persoalan tersebut berbeda satu sama lain. Misalnya pernyataan Ia layak diangkat menjadi pimpinan, karena ia adalah tetangga dekat saya. 5) Kesesatan karena false analogy Kesalahan berpikir ini disebabkan oleh analogy yang salah. Artinya, karena adanya kemiripan di antara dua hal, lalau keduanya digunakan sebagai bahan perbandingan dalam mengambil kesimpulan. Padahal, kedua hal tersebut tidak sama 100 persen. Oleh karena perbedaan antara keduanya tidak di-perhitungkan, dan keduanya digunakan sebagai perbandingan dalam menarik kesimpulan, maka kesimpulan yang dihasilkan menjadi tidak tepat. Misalnya pernyataan, ABRI ibarat tiang bendera, apapun bendera yang dikibarkan ABRI harus tunduk kepadanya. Samakah ABRI dengan tiang bendera? Meskipun ABRI sering berdekatan dengan tiang bendera karena sering melakukan upacara bendera, ABRI tidak sama dengan tiang bendera. Oleh karena itu, jika dianalogikan akan menghasilkan kesimpulan yang salah.

29

6) Kesesatan karena generalisasi tergesa-gesa Kesalahan logis ini disebabkan oleh induksi yang salah karena berdasar pada sampling atau percontoh yang yan tidak cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. Misalnya pernyataan, semua pegawai negeri malas. Oleh karena jumlah pegawai negeri banyak, dan di antara mereka tentu ada yang pemalas, banyak orang mempunyai kesan bahwa pegawai negeri malas. Jika diteliti secara cermat terdapat juga pegawai yang tidak malas. Oleh karena itu, generalisasi yang mengatakan bahwa semua pegawai negeri malas tentu tidak tepat. Pernyataan yang tepat adalah kebanyakan pegawai negeri malas atau banyak pegawai negeri yang malas atau kadang-kadang pegawai negeri malas, dan sejenisnya. 7) Kesesatan karena penalaran melingkar Penalaran melingkar adalah kesalahan logis karena si penalar meletakkan kesimpulan ke dalam premis, dan kemudian memakai premis tersebut untuk membuktikan kesimpulan. Jadi, kesimpulan dan premisnya sama (begging the question). Misalnya pernyataan, pendidikan patut diingini karena orang terdidik patut diingini.

8) Kesesatan karena deduksi cacat Deduksi cacat dapat terjadi karena dipakainya suatu premis yang cacat. Manakala kita memakai suatu premis yang cacat di dalam menarik suatu kesimpulan deduktif, besar kemungkinan kesimpulannya juga cacat. Penggunaan premis yang cacat sering kali terjadi. Dengan demikian, dalam bernalar ki-ta harus mempertanyakan premis-premis yang kita pakai. Apakah premis yang ita pakai daat dijadikan tempat bergantung bagi ditariknya kesimpulan yang sah atau tidak. Misalnya pernyataan seperti ini, Salahudin

30

pasti seorang muslim yang baik, karena secara teratur ia pergi solat Jumat di masjid. Pernyataan ini belum tentu benar, karena pergi solat Jumat ke masjid belum merupakan jaminan bahwa ia adalah seorang muslim yang baik. Kenyataannya banyak orang yang secara teratur pergi solat Jumat di masjid, namun tidak berperilaku baik sebagai seorang muslim di luar masjid. 9) Kesesatan karena pikiran simplistis Kesalahan logis dapat terjadi karena pikiran simplistis. Pikiran simplistis adalah kesalahan logis karena si penalar terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang begitu rumit disederhanakan begitu saja tanpa melihat sifat per-masalahan yang sebenarnya. Misalnya, beberapa masalah yang komplek di-sederhanakan menjadi dua kutub yang saling berlawanan, atau hanya diru-muskan hanya ke dalam dua segi, atau dua pilihan saja. Padahal, di samping kedua pilihan itu masih ada pilihan yang lain. Misalnya pernyataan berbunyi, Kehidupan bangsa tidak berbeda dengan kehidupan keluarga; apabila Anda berhasil dalam mengatur kehidupan keluarga, maka akan berhasil pula dalam mengatur kehidupan bangsa. 10) Kesesatan karena argumen ad hominem Kesalahan logis ini terjadi karena si penalar tidak memperhatikan masalah yang sesungguhnya, melainkan memperhatikan persoalan lain yang sebe-narnya tidak berkaitan. Kesalahan logis ini terjadi karena si penalar tidak dapat melepaskan diri dari godaan emosi atau perasaan subjektifnya, sehingga tidak dapat mengendalikan diri dalam menarik suatu kesimpulan. Misalnya, pemikiran seseorang tidak diterima bukan karena pemikirannya yang tidak benar tetapi karena alasan tidak disuka dengan orang tersebut. Seorang penalar yang tertib akan senantiasa tetap mengendalikan dirinya dalam membahas persoalan yang dihadapi. Seorang penalar yang tertib

31

akan senantiasa memperhatikan masalah yang sesungguhnya, bukan masalah yang berada di luarnya. Demikian beberapa kesalahan logis yang perlu disadari dan dihindari dalam proses penalaran yang tertib. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bermutu dan tidaknya suatu penalaran tidak terletak pada cara dan gaya mengungkapkannya yang meluap-luap atau berapi-api, tetapi terletak pada substansi pernyataan yang dikemukakan. Meskipun pernyataan yang dikemukakan oleh si penalar disampaikan dengan penuh semangat, kalau ternyata menyimpang dari kaidah berpikir logis atau tidak mengikuti alur berpikir logis, diragukan kebenarannya. Jadi, ukuran menentukan apakah suatu pemikiran atau ucapan seseorang benar atau tidak benar, bukan karena rasa senang atau tidak senang, bukan karena enak didengar atau tidak enak didengar, melainkan cocok atau tidaknya dengan realitas atau faktanya. Biarpun suatu pernyataan dikemukakan dengan penuh keyakinan, dengan suara yang keras, dan sebagainya, jika faktanya atau kenyataannya tidak mendukung, pernyataan tersebut perlu diragukan kebenarannya. 2.4 Tes Formatif Setelah Anda mempelajari bacaan tersebut, Anda diminta menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut: (1) Jelaskan apa yang dimaksud dengan kesalahan logis! (2) Jelaskan sebab-sebab terjadinya kesalahan logis! (3) Jelaskan kesalahan logis karena analogi palsu! (4) (5) (6) Jelaskan kesalahan logis karena pikiran simplisistis! Jelaskan kesalahan logis karena generalisasi yang tergesa-gesa! Jelaskan kesalahan logis karena tidak deduksi cacat!

2.5 Umpan Balik

32

Cocokkan lembar jawaban Anda dengan kunci jawaban yang disertakan dalam bagian akhir modul ini. Jika jawaban Anda telah sesuai dengan yang tertuang pada kunci jawaban, Anda dapat melanjutkan kegiatan Anda pada kegiatan berikutnya. Artinya, Anda dapat mempelajari materi yang tertuang dalam lanjutan modul ini. Namun, jika ternyata jawaban yang Anda berikan tidak cocok atau belum sesuai dengan kisi-kisi jawaban yang diberikan dalam kunci jawaban, Anda diminta mempelajari materi dalam modul ini sekali lagi. Jika anda merasa belum puas atau belum jelas dalam memahami bacaan yang disajikan, Anda dapat membaca buku-buku acuan yang dianjurkan. Buku-buku acuan yang dapat Anda baca dalam rangka memperkaya pengetahuan Anda sehubungan dengan materi pelajaran ini adalah sebagai ber-ikut.

2.6 Buku Bacaan Arifin, Zainal E. dan Farid Hadi. 1992. I001 Kesalahan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress. Badudu, Y.S. 1990. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Mustansyir, Rizal. 1987. Filsafat Analitik. Jakarta: Rajawali Press. Poespoprodjo, W. dan T. Gilarso. 1985. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remaja Karya. Soehakso, RMJT. 1988.Suatu Renungnan Filsafati tentang Bahasa, Logika, dan Matematika dalam Kaitannya dengan Usaha Pembentukan Bahasa Indonesia Ragam Matematika dalam Adjat Sakri. 1988. Ilmuwan dan Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

33

KEGIATAN III SALAH NALAR DALAM BERBAHASA 3.1 Tujuan Khusus Perkuliahan Setelah mempelajarai materi yang tertuang dalam bacaan berikut, diharapkan Anda memiliki pengetahuan yang memadai tentang beberapa kesalahan logis dalam berbahasa, sehingga Anda dapat menjelaskan: (1) hubungan antara bahasa dan penalaran, tes formatif salah nalar. 3.2 Kegiatan Perkuliahan (2) memberikan alasan mengapa beberapa kalimat yang ditanyakan dalam

34

Pelajari bahan bacaan berikut dengan sungguh-sungguh dan cermat dengan tujuan agar Anda dapat memahami maksud yang tertuang di dalamnya dan dapat menyelesaikan soal-soal serta latihan yang diberikan. Kesempurnaan jawaban Anda adalah cermin pemahaman Anda atas materi yang diberikan dalam modul ini. Oleh karena itu, baca bahan bacaan berikut berulang-ulang sampai Anda merasa yakin bahwa Anda sudah paham benar isi yang dimaksudkan. Agar efektif dalam membaca materi yang disajikan Anda diminta membuat resume atau ringkasan tentang pokok-pokok pikiran yang dikemukakan. Selanjutnya, Anda baca bacaan berikut dengan sungguhsungguh. Selamat membaca.

35

BACAAN 3.3 Kesalahan Logis dalam Berbahasa Penalaran adalah proses mengambil kesimpulan atas dasar sejumlah fakta atau bukti (Moeliono, 1988:124). Bahasa adalah sarana bernalar. Kalimat yang bernalar adalah kalimat yang dilandasai oleh suatu pemikiran yang jernih atau yang ditunjang oleh sejumlah bukti yang berkaitan dan benar. Jika kalimat berawal dari pemikiran yang kusut atau alasan yang sesat, kalimat yang tersebut dapat salah nalar atau tidak logis. Jika kita mengamati kalimatkalimat yang digunakan oleh pemakai bahasa dengan cermat, kita akan menemukan kalimat yang salah nalar. Yaitu, kalimat yang sesat karena tidak mengikuti tata cara berpikir logis. Berikut beberapa contoh kalimat yang salah nalar. 1. Tipe waktu dan tempat kami persilakan Hampir dalam setiap upacara yang diselenggarakan oleh berbagai instansi dan organisasi, para pewara (pembawa acara atau protokol) mengucap-kan kalimat, misalnya Acara berikutnya adalah sambutan Gubernur Jawa Timur, waktu dan tempat kami persilakan. Kalimat Waktu dan tempat kami persilakan termasuk kalimat yang tidak logis karena kalimat itu tidak dapat di-terima dengan akal sehat. Jalan pikiran pembawa acara tersebut kacau kare-na, sebenarnya, yang harus memberikan sambutan adalah Gubernur Jawa Timur (premis), tetapi yang dipersilakan adalah waktu dan tempat (simpulan). Apakah betul waktu dan tempat dapat memberikan sambutan? Dalam kalimat sebelumnya jelas bahwa yang akan memberikan sambutan adalah Gubernur Jawa Timur, bukan waktu dan tempat. Akakn tetapi, dalam kalimat selanjut-nya jalan pikiran pembawa acara tergelincir,

36

yaitu

dengan

mempersilakan

waktu

dan

tempat,

seolah-olah

yang

dipersilakan menuju mimbar adalah waktu dan tempat. Pada masa-masa yang lalu, kalimat protokol tersebut dapat kita terima, kalimat seperti itu masih lumayan walaupun tidak bernalar. Pendengar dalam pertemuan itu masih menganggap beruntung karena dapat menerima informa-si yang dimaksudkan pewara. Seandainya jalan pikiran protokol itu tergelincir parah, misalnya dengan mengucapkan kursi dan meja kami persilakan, tidak tahulah kita apa yang akan terjadi di tempat pertemuan yang penting tersebut. Beberapa pilihan agar kalimat pewara itu bernalar adalah sebagai berikut. (1) Acara selanjutnya adalah sambutan Gubernur Jawa Timur. Bapak Basofi Sudirman dipersilakan. (2) Acara selanjutnya adalah sambutan Gubernur Jawa Timur. Bapak Gubernur dipersilakan. 2. Tipe mempersingkat waktu Dalam setiap upacara ang diselenggarakan oleh instansi dan organisasi, sering kita dengar kalimat Untuk mempersingkat waktu marilah kita lanjutkan pada acara keempat. Yang perlu dipersoalkan dalam kalimat ini adalah frase mempersingkat waktu. Apakah betul waktu dapat dipersingkat atai disingkat? Waktu tidak dapat dipersingkat, waktu tidak dapat diringkas karena rentang waktu sehari semalam sudah pasti, yaitu 24 jam; satu jam sama dengan 60 meneit; satu menit sama dengan 60 detik. Yang daat kita lakukan bukanlah mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu. Misalnya, pertemuan yang semula direncanakan berlangsung 1 jam dipercepat menjadi hanya 1 jam. Cara demikian bukan mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu. Jadi, kalimat yang bernalar sehubungan dengan masalah

37

ini seharusnya berbunyi, Untuk menghemat waktu, marilah kita lanjutkan pada acara keempat. 3. Tipe lebih terampil merangkai bunga daripada janur Dalam pemakaian bahasa sehari-hari sering kita dengar kalimat berikut, Dia lebih terampil merangkai bunga daripada janur. Jika kalimat ini kita nalar, ada yang tidak cermat. Ketidakcermatan kalimat ini terletak pada penyusunan kalimat, yaitu rincian yang sebenarnya tidak sejajar disejajarkan be-gitu saja. Kalau dirinci dengan cermat frase terampil merangkai bunga tidak sama dengan janur. Jika disejajarkan, yang sejajar adalah terampil merang-kai bunga dan terampil merangkai janur, bukan terampil merangkai bunga da-ripada janur. Dengan demikian, kalimat ini lebih bernalar apabila diubah men-jadi Dia lebih terampil merangkai bunga daripada merangkai janur. Jika kita amati, kesalahan tipe ini banyak kita dapatkan dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Jika kita renungkan, ternyata salah nalar. Hal ini sebagaimana ter-lihat pada kalimat berikut: a. Ia lebih senang makan daging ayam daripada kambing. Kalimat ini bermakna ia senang makan daging ayam dan kambing pun senang makan daginmg ayam, sebab yang dibandingkan adalah subjek kalimat. Kalimat itu dapat dilengkapkan menjadi Ia lebih senang makan daging ayam daripada kambing makan daging ayam. Jadi, kalimat Ia lebih terampil merangkai bunga daripada janur dapat dilengkapkan menjadi Ia lebih terampil merangkai bunga daripada janur merangkai bunga, meskipun kita yakin bah-wa maksud penyusun kalimat bukanlah seperti itu, tetapi ia menyenangi da-ging ayam dan kurang menyenangi daging kambing; dia terampil merangkai bunga , tetapi kurang terampil merangkai janur. Oleh karena itu, kalimat ter-sebut harus dicermatkan. Kalimat yang lebih cermat

38

berbunyi, Ia lebih suka daging ayam daripada makan daging kambing, dan Ia lebih terampil me-rangkai bunga daripada merangkai janur. Kesalahan tipe kalimat semacam ini sering kali kita dapatkan dalam tuturan sehari-hari. Misalnya, kalimat Ia ti-dak paham dan mengerti arti politik dewasa ini. Kesalahan kalimat ini ter-letak pada kekurangcermatan dalam penyusunan rincian kalimat, yaitu rincian tidak paham dan mengerti. Tidak mungkin seseorang yang tidak paham po-litik sekarang ini sekaligus mengerti. Secara semantis frase tidak paham tidak sama dengan mengerti. Frase tidak paham sejajar dengan tidak mengerti, te-tapi justru berlawanan dengan mengerti. Memang kesalahannya hanya pada ketidaksejajaran kata tidak paham dan mengerti. Akan tetapi, jika ingin berka-ta tertib, cermat, dan bernalar, kita harus lebih berhati-hati dalam mengung-kapkan sesuatu. Misalnya, Ia tidak paham dan tidak mengerti arti politik dewasa ini. 4. Tipe memanjatkan puji syukur Di dalam bahasa sehari-hari sering kita dengar pernyataan sebagai ber-ikut, Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan, maka selesailah penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Contoh kalimat ini dikutip dari sebagian besar makalah mahasiswa. Seintas lalu tidak ada sesuatu yang ganjil dalam kalimat ini. Akan tetapi, jika kita membuat contoh yang serupa, pendapat kita yang pertama meleset. Misalnya, Dengan berdoa kepada Tuhan, maka menjadi kenyanglah perut yang lapar ini. Segera tampak kepada kita bahwa tidak mungkin hanya dengan berdoa, perut lapar menjadi kenyang. Kalau perut lapar, segeralah kita makan, setelah itu baru kita berdoa dan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Demikian juga, tidak mungkin seseorang sukses dalam hidup jika dia tidak berjuang keras. Dengan beranalogi pada contoh kalimat tersebut, kalimat berbunyi, Dengan memanjatkan puji syukur kepada

39

Tuhan Yang Mahakuasa, maka selesailah penyusunan makalah ini merupakan kalimat yang salah nalar. Tidak mungkin penyusunan makalah akan selesai hanya dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Makalah harus dikerjakan dengan tekun, teliti, dan sabar. Penyusun makalah harus berani mengatasi segala rin-tangan dan hambatan yang dihadapi dalam penyusunan itu. Jika hal-hal itu dapat dilalui, penyusunan makalah insya Allah dapat selesai. Tentu kita percaya betul bahwa Tuhan selalu melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-Nya, termasuk kepada penyusun makalah. Dengan nikmat dan karunia Tuhan yang diterimanya, penyusun makalah dapat bekerja dengan tekun dan sabar, dapat mengatasi segala hambatan yang dihadapi. Untuk itu, ia memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas keberhasilannya. Berdasarkan uraian ini, kita dapat menggunakan kalimat berikut agar penalaran kita tidak sesat. Misalnya: a. Penyusun memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa yang telah memberikan kekuatan kepada penyusun sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. b. Penyusun memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah atas kekuatan yang diberikan-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Selanjutnya mari kita perhatikan kalimat lain, yaitu berbunyi sebagai berikut. (1) Tiada hari tanpa olah raga. Dengan berolahraga kita siap menyukseskan pembangunan untuk mencapai tinggal landas pada Pelita VI. (2) Dengan membayar ONH lebih awal, mudah-mudahan Anda menjadi haji mabrur.

40

Dalam kalimat (1) terdapat jalan pikiran yang meloncat-loncat sehingga salah nalar dalam kalimat tersebut timbul. Menurut jalan pikiran yang jernih dan logis, dengan berolah raga diharapkan jasmani seseorang menjadi sehat dan kuat. Dengan jasmani yang sehat dan kuat, orang dapat berkarya sesuai dengan profesinya masing-masing. Kalau semua orang sudah berkarya dalam bidangnya masing-masing, akan dihasilkan berbagai produk yang akan di-manfaatkan oleh berbagai pihak. Jika semuanya ini sudah berjalan baik, pem-bangunan negara dalam segala bidang sudah sukses. Kalimat itu senada pula dengan kalimat yang berbunyi, Dengan berolah raga setiap waktu, berarti kita telah mengamalkan Pancasila. Bukankah pelaksanaan Pancasila itu harus mencakupi semua sila dari Pancasila? Seseorang sudah dikatakan suda mengamalkan Pancasila jika telah mengamalkan lima sila yang ada, yaitu sila Ketuhanan berarti kita beribadat sesuai dengan ajaran agam masing-masing. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti kita menyayangi sesama, sila Persatuan Indonesia berarti kita sanggup berkorban untuk membela negara, sila Kerakyatan berarti kita dalam menentukan se-suatu harus bermusyawarah untuk mufakat, dan sila Keadilan sosial berarti kita membantu mereka yang kekurangan. Kalau hanya dengan berolah raga atau dengan senam kesegaran jasmani setiap pagi, belum dapat dikatakan bahwa seseorang telah mengamalkan Pancasila, tetapi kegiatan berolah raga hanya merupakan salah satu upaya untuk mencapai hidup sehat. Dengan hidup sehat, mungkin kita dapat menyelenggarakan kehidupan ini dengan baik. Jika dengan berolah raga kita siap menyogsong Pelita VI, akan celakalah kita karena bidang kehidupan yang lain diabaikan. Apakah kita tidak perlu makan, mendirikan rumah, meningkatkan iman, dan pendidikan, dan apakah kita tidak perlu bekerja?

41

Salah nalar dalam kalimat (2) adalah bahwa, walaupun pernyataan itu diawali dengan mudah-mudahan, mabrur atau tidaknya ibadah haji seseorang bukanlah ditentukan oleh capat atau lambatnya membayar ONH. Seseorang akan memperoleh haji mabrur (ibadah haji yang diterima oleh Alah SWT) jika semua rukun haji dilauinya dengan baik dan sempurna. Oleh karena itu, ung-kapan yang mungkin logis adalah Dengan membayar ONH lebih awal, mudah-mudahan perjalanan haji Anda akan lebih lancar. 5. Tipe dengan berolah raga Pada saat-saat tertentu banyak dipasangkan kain rentang (spanduk) dengan kalimat berbunyi, Dengan berolah raga, kita tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan. Kain rentang dengan kalimat tersebut tidak jarang dipa-sang dengan mencolok, dengan huruf yang besar-besar dan warna yang ber-macam-macam. Tentu spanduk itu dipasang di tempat-tempat yang ramai lalu lintas, baik ramai oleh arus kendaraan maupun ramai oleh orang yang berlalu lalang. Jika kita amati, sebagian yang tertulis dalam tersebut sudah sejalan dengan penalaran. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang memperlihatkan jalan pikiran penulisnya yang kusut. Memang, bunyi isi kain rentang itu sedap, dan bahkan muluk. Akan tetapi, ternyata maknanya tidak didukung oleh bentuk yang ada. Kalau dihubung-hubungkan atau dikaitkan pertaliannya, mungkin pernyataan itu akhirnya masuk akal atau logis. Namun, karena kaitan penalarannya tidak langsung, seperti biasanya teradat dalam tata cara berpikir yang logis, pernyataan pada kain rentang itu tidak tergolong pernyataan yang benar. Berikut disajikan beberapa contoh pernyataan yang tergolong cacat. (3) Dengan berolah raga, kita tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan. (4) Melalui peringatan HUT kota Jakarta ke- 639, kita sukseskan Sidang Umum MPR 1988.

42

(5)

Dengan jiwa dan semangat Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, kita tingkatkan pembangunan untuk mencapai tinggal landas.

6. Tipe mengejar ketinggalan Mengapa ketinggalan harus dikejar, bukankah justru ketinggalan itu harus diatasi, disulap menjadi kermajuan? Mungkinkah kita mengejar berbagai ketinggalan; mengejar kemiskinan dan mengejar kebodohan? Dengan demikian, jika ada kalimat berbunyi Dalam rangka mengejar ketinggalan marilah kita kerja keras, termasuk kalimat yang salah nalar. Kecuali jika yang dikejar memang ketinggalan, bukan kemajuan. Jika demikian, pantas mana kala kita selalu ketinggalan terus, karena yang kita kejar adalah ketinggalan, bukan kemajuan. Padahal, jika kita ingin lebih maju, berbagai ketinggalan harus dapat kita atasi. Oleh karena itu, kalimat yang lebih bernalar dalam kaitannya dengan kalimat tersebut adalah: (1) Dalam rangka mengejar kemajuan, marilah kita kerja keras. (2) Dalam rangka mengatasi ketinggalan, marilah kita kerja keras. (3) Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta harus mampu merumuskan kon-sep-konsep untuk mengatasi berbagai ketinggalan di bidang ilmu dan tek-nologi. Di samping berbagai contoh kalimat yang telah dikemukakan, dalam suatu surat kabar terbitan ibu kota pernah tertulis berita seperti ini, Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnya sering terlihat mondar-mandir di sekitar kompleks tersebut. Jika kita bertanya, Siapa yang mondar-mandir? Tentu jawabanya adalah mayat wanita. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah benar mayat dapat mondar-mandir? Berdasarkan pikiran yang jernih tidak mungkin mayat dapat mondar-mandir. Yang dapat adalah ketika sebelum ia menjadi mayat atau pada waktu ia masih hidup. Dengan demikian jelas bahwa kalimat tersebut salah nalar. Mengapa salah nalar?

43

Klimat itu berasal dari dua pernyataan, yaitu (1) Mayat wanita ditemukan di kompleks itu, dan (2) Sebelum menjadi mayat, wanita itu sering mondar-mandir. Penulis menggabungkan kedua kalimat tersebut dengan tidak mengindahkan jalan pikiran yang jernih sehingga lahirlah kalimat yang salah nalar. Sesuai dengan jalan pikiran yang runtut kalimat tersebut seharusnya berbunyi, Sebelum menjadi mayat. Ia sering mondar-mandir di kompleks itu. 3.4 Tes Formatif 1. Jelaskan hubungan antara bahasa dan penalaran! 2. Mengapa kalimat, Untuk menyingkat waktu kita lanjutkan acara berikutnya salah? Jelaskan! 3. Mengapa kalimat, Ia lebih suka sate kambing Jelaskan! 4. Mengapa kalimat, Dalam rangka mengentaskan kemiskinan marilah kita kerja keras salah? Jelaskan! 5. Mengapa kalimat, Karena ia dilahirkan di Bali ia pasti pandai tari Bali salah? Jelaskan! 3.5 Umpan Balik Cocokkan lembar jawaban Anda dengan kunci jawaban yang disertakan dalam bagian akhir modul ini. Jika jawaban Anda telah sesuai dengan yang tertuang pada kunci jawaban, Anda dapat melanjutkan kegiatan Anda pada kegiatan berikutnya. Artinya, Anda dapat mempelajari materi yang tertuang dalam lanjutan modul ini. Namun, jika ternyata jawaban yang Anda berikan tidak cocok atau belum sesuai dengan kisi-kisi jawaban yang diberikan dalam kunci jawaban, Anda diminta mempelajari materi dalam modul ini sekali lagi. Jika anda merasa belum puas atau belum jelas dalam memahami daripada ayam salah?

44

bacaan yang disajikan, Anda dapat membaca buku-buku acuan yang dianjurkan. Buku-buku acuan yang dapat Anda baca dalam rangka memperkaya pengetahuan Anda sehubungan dengan materi pelajaran ini adalah sebagai berikut. 3.4 Buku Bacaan Arifin, Zainal E. dan Farid Hadi. 1992. I001 Kesalahan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress. Badudu, Y.S. 1990. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Mustansyir, Rizal. 1987. Filsafat Analitik. Jakarta: Rajawali Press. Poespoprodjo, W. dan T. Gilarso. 1985. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remaja Karya. Soehakso, RMJT. 1988.Suatu Renungnan Filsafati tentang Bahasa, Logika, dan Matematika dalam Kaitannya dengan Usaha Pembentukan Bahasa Indonesia Ragam Matematika dalam Adjat Sakri. 1988. Ilmuwan dan Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

Kisi-Kisi Kunci Jawaban 1.1 Latar belakang munculnya ilmu Logika-Bahasa dapat dijelaskan sebagai berikut. Berpikir sebagai aktivitas memerikan dan merangkaian sign yang satu dengan sign yang lain tidak dapat meninggalkan peran sign-vehicle, karena sign-vehicle adalah mediator atau perantara bagi terjadi-nya rangkaian sign. Tanpa sign-vehicle (baca: bahasa) tidak mungkin ada aktivitas berpikir dan bernalar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peranan bahasa sebagai sarana berpikir dan bernalar sangat penting keberadaannya.

45

1.2 Hubungan antara bahasa dan logika dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahasa ada karena individu manusia ada. Dalam kaitannya dengan berpikir dan bernalar (berpikir yang memenuhi kaidah logika), bahasa ada-lah sarana untuk dapat berpikr dan bernalar. Bahasa adalah kendaraan berpikir (vehicle of thought) yang dapat menghambat, mempermudah, mendorong, dan mematikan proses berpikir dan bernalar (Soehakso, 19-88:99). Dengan demikian, agar seorang pemikir dapat berpikir dengan mudah, syarat yang harus dimiliki adalah menguasai seluk-beluk bahasa yang dijadikan sebagai sarana berpikir dan bernalar. Seseorang tidak dapat melakukan aktivitas itu tanpa pertolongan bahasa. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan, bahasa adalah sistem tanda yang biasa digunakan sebagai sarana untuk menyatakan menyatakan pendapat, menggugah keinginan, rasa cita, apresiasi, dan sejenisnya. Orang berpikir dan bernalar menggunakan tanda. 1.3 Dalam prespektif ilmu Logika fungsi bahasa manusia antara lain digunakan sebagai sarana menuangkan ide atau gagasan hasil kegiatan bernalar atau berlogika. 2.1 Kesalahan logis adalah kesalahan dalam menyusun pernyataan akibat dari kekurangcermatan kita dalam menerapkan prinsip-prinsip dasar logika. Misalnya, prinsip menarik kesimpulan atas dasar sejumlah premis, membuat premis, dan menghubungkan antara premis yang satu dengan premis yang lain. Kesalahan logis kadang-kadang disebut sebagai sesat pikir atau sesat nalar. Sesat pikir yang dilakukan dengan sengaja, dan kesesasatan itu digunakan untuk menyesatkan orang lain biasa disebut

46

sofisme, sedangkan kalau tidak disengaja dilakukan dan tidak sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain biasa disebut sebagai paralogis. 2.1 Kesalahan logis dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut. Penalaran dapat sesat karena: (1) bentuknya yang tidak tepat atau tidak sahih, (2) kesalahan penggunaan bahasa, (3) kasalahan material. Kesesatan pertama disebut kesesatan formal, yang kedua disebut verball fallacies, dan ketiga disebut material fallacies. Kesesatan formal terjadi karena pelanggaran terhadap kaidah-kaidah logika. Misalnya, pembagian terlalu luas atau terlalu sempit, pembagian saling meliputi, dan pembagian bersilang. Kesalahan-kesalahan semacam ini terjadi karena pembagian tidak menurut ketentuan. Kesalahan formal juga dapat disebabkan salah dalam menarik kesimpulan (fallacy of four term). Kesalahan berpikir terjadi karena melanggar peraturan silogisme, yaitu dalam sebuah silogisme hanya ada tiga term yang disebut dua kali. 2.3 Ksalahan logis karena analogi palsu dapat dijelaskan sebagai berikut. Ke-salahan berpikir ini disebabkan oleh analogy yang salah. Artinya, karena adanya kemiripan di antara dua hal, lalau keduanya digunakan sebagai bahan perbandingan dalam mengambil kesimpulan. Padahal, kedua hal tersebut tidak sama 100 persen. Oleh karena perbedaan antara keduanya tidak diperhitungkan, dan keduanya digunakan sebagai perbandingan da-lam menarik kesimpulan, maka kesimpulan yang dihasilkan menjadi tidak tepat. Misalnya pernyataan, ABRI ibarat tiang bendera, apapun bendera yang dikibarkan ABRI harus tunduk kepadanya. Samakah ABRI dengan tiang bendera? Meskipun ABRI sering berdekatan dengan tiang bendera karena sering melakukan

47

upacara bendera, ABRI tidak sama dengan tiang bendera. Oleh karena itu, jika dianalogikan akan menghasilkan kesimpulan yang salah. 2.4 Kesalahan logis karena pikiran simplisistis dapat diterangkan sebagai berikut. Kesalahan logis dapat terjadi karena pikiran simplistis. Pikiran sim-plistis adalah kesalahan logis karena si penalar terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang begitu rumit disederhanakan begitu saja tanpa melihat sifat permasalahan yang sebenarnya. Misalnya, beberapa masalah yang komplek disederhanakan menjadi dua kutub yang saling berlawanan, atau hanya dirumuskan hanya ke dalam dua segi, atau dua pilihan saja. Padahal, di samping kedua pilihan itu masih ada pilihan yang lain. Misalnya pernyataan berbunyi, Kehidupan bangsa tidak berbeda dengan kehidupan keluarga; apabila Anda berhasil dalam mengatur kehidupan keluarga, maka akan berhasil pula dalam mengatur kehidupan bangsa. 2.5 Kesalahan logis ini disebabkan oleh induksi yang salah karena berdasar pada sampling atau percontoh yang yan idak cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. Misalnya pernyataan, semua pegawai negeri malas. Oleh karena jumlah pegawai negeri banyak, dan di antara mereka tentu ada yang pemalas, banyak orang mempunyai kesan bahwa pegawai negeri malas. Jika diteliti secara cermat terdapat juga pegawai yang tidak malas. Oleh karena itu, generalisasi yang mengatakan bahwa semua pegawai negeri malas tentu tidak tepat. Pernyataan yang tepat adalah keba-nyakan pegawai negeri malas atau banyak pegawai negeri yang ma-las atau kadang-kadang pegawai negeri malas, dan sejenisnya.

48

2.6

Kesalahan logis karena deduksi cacat dapat dijeaskan ebagai berikut. De-duksi cacat dapat terjadi karena dipakainya suatu premis yang cacat. Ma-nakala kita memakai suatu premis yang cacat di dalam menarik suatu ke-simpulan deduktif, besar kemungkinan kesimpulannya juga cacat. Peng-gunaan premis yang cacat sering kali terjadi. Dengan demikian, dalam ber-nalar kita harus mempertanyakan premis-premis yang kita pakai. Apakah premis yang ita pakai daat dijadikan tempat bergantung bagi ditariknya kesimpulan yang sah atau tidak. Misalnya pernyataan seperti ini, Salahudin pasti seorang muslim yang baik, karena secara teratur ia pergi solat Jumat di masjid. Pernyataan ini belum tetntu benar, karena pergi solat Jumat ke masjid belum merupakan jaminan bahwa ia adalah seorang muslim yang baik. Kenyataannya banyak orang yang secara teratur pergi solat Jumat di masjid, namun tidak berperilaku baik sebagai seorang mus-lim di luar masjid

3.1

Bahasa dan penalaran mempunyai hubungan yang erat, karena bahasa adalah sarana bernalar. Penalaran adalah proses mengambil kesimpulan atas dasar sejumlah fakta atau bukti (Moeliono, 1988:124). Bahasa adalah sarana bernalar. Kalimat yang bernalar adalah kalimat yang dilandasi oleh suatu pemikiran yang jernih atau yang ditunjang oleh sejumlah bukti yang berkaitan dan benar. Jika kalimat berawal dari pemikiran yang kusut atau alasan yang sesat, kalimat yang tersebut dapat salah nalar atau tidak lo-gis.

3.2

Kalimat untuk menyingkat waktu. Adalah kalimat yang salah karena ber-dasarkan akal sehat, waktu dan tempat tidak dapat disingkat. Dalam seti-ap upacara ang diselenggarakan oleh instansi dan organisasi, sering kita dengar kalimat Untuk mempersingkat waktu marilah kita lanjutkan

49

pada acara keempat. Yang perlu dipersoalkan dalam kalimat ini adalah frase mempersingkat waktu. Apakah betul waktu dapat dipersingkat atau disingkat? Waktu tidak dapat dipersingkat, waktu tidak dapat diringkas ka-rena rentang waktu sehari semalam sudah pasti, yaitu 24 jam; satu jam sama dengan 60 meneit; satu menit sama dengan 60 detik. Yang dapat kita lakukan bukanlah mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu. Misalnya, pertemuan yang semula direncanakan berlangsung 1 jam dipercepat menjadi hanya 1 jam. Cara demikian bukan mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu. Jadi, kalimat yang bernalar sehubungan dengan masalah ini seharusnya berbunyi, Untuk menghemat waktu, marilah kita lanjutkan pada acara keempat. 3.3 Kalimat Ia lebih suka makan daging kambing daripada ayam bermakna ia senang makan daging kambing dan ayam pun senang makan daging kambing, sebab yang dibandingkan adalah subjek kalimat. Kalimat itu dapat dilengkapkan menjadi Ia lebih senang makan daging kambing daripada ayam makan daging kambing. Jadi, kalimat Ia lebih suka makan daging kambing daripada ayam dapat dilengkapkan menjadi Ia lebih suka makan daging kambing daripada makan daging ayam, meskipun kita yakin bahwa maksud penyusun kalimat bukanlah seperti itu, tetapi ia menyenangi da-ging kambing dan kurang menyenangi daging ayam; dia terampil merang-kai bunga , tetapi kurang terampil merangkai janur. Oleh karena itu, kali-mat tersebut harus dicermatkan. Kalimat yang lebih cermat berbunyi, Ia lebih suka daging kambing daripada makan daging ayam, dan Ia lebih terampil merangkai bunga daripada merangkai janur. Kesalahan tipe kalimat semacam ini sering kali kita dapatkan dalam tuturan sehari-hari. Misalnya, kalimat Ia tidak paham dan mengerti arti politik dewasa ini. Kesalahan kalimat ini terletak pada

50

kekurangcermatan dalam penyusunan rincian kalimat, yaitu rincian tidak paham dan mengerti. Tidak mungkin seseorang yang tidak paham politik sekarang ini sekaligus mengerti. Seca-ra semantis frase tidak paham tidak sama dengan mengerti. Frase tidak paham sejajar dengan tidak mengerti, tetapi justru berlawanan dengan mengerti. Memang kesalahannya hanya pada ketidaksejajaran kata tidak paham dan mengerti. Akan tetapi, jika ingin berkata tertib, cermat, dan bernalar, kita harus lebih berhati-hati dalam mengungkapkan sesuatu. Mi-salnya, Ia tidak paham dan tidak mengerti arti politik dewasa ini. 3.4 Kalimat Karena ia dilahirkan di Bali pasti ia pandai tari Bali adalah kalimat yang sesat nalar karena terjebak oleh generalisasi yang tergesagesa. Ka-limat yang logis adalah Karena ia dilahirkan di Bali ia tentu pandai tari Bali. Mengapa, karena meskipun dilahirkan di bali kalau ia tidak belajar tari Bali tentu tidak akan panda tari Bali. Pandai menari bukan disebabkan oleh tempat kelahiran tetapi oleh ketekunan dan bakatnya dalam belajar tari Bali. 3.5 Kalimat mengentaskan kemiskinan. Adalah kalimat yang salah nalar, karena secara semantis kata mengentaskan berarti mengangkat sesuatu dari dalam air ke permukaan, sementara sifat dan keadaan sesuatu yang diangkat tetap. Katakanlah, yang semula tidak bernafas tetap tidak berna-fas. Yang semula miskin tetap miskin, padahal tidak demikian yang di-maksudkan. Oleh karena itu, kalimat yang logis adalahmengatasi ke-miskinan.

51

Daftar Pustaka Arifin, Zainal E. dan Farid Hadi. 1992. I001 Kesalahan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress. Badudu, Y.S. 1990. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Dick, Walter and Lou Carey. 1985. The Systematic Design of Instruction. Florida: Florida State University. Gagne, RM. and Briggs. 1979. Principles of Instructional Design. New York: Holt Rinehart and Winston, Inc. Hamersma. 1987. Tokoh-Tokoh Fislafat Barat Modern. Jakarta: Obor. Mustansyir, Rizal. 1987. Filsafat Analitik. Jakarta: Rajawali Press. Poespoprodjo, W. dan T. Gilarso. 1985. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remaja Karya. Soehakso, RMJT. 1988.Suatu Renungnan Filsafati tentang Bahasa, Logika, dan Matematika dalam Kaitannya dengan Usaha Pembentukan Bahasa

52

Indonesia Ragam Matematika dalam Adjat Sakri. 1988. Ilmuwan dan Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

53