Anda di halaman 1dari 2

SEMARANG, KOMPAS.

com - Dokter yang menangani Salsabila Salis (13) warga Mijen, Semarang, yang diduga lumpuh layu usai minum minuman serbuk instant berkarbonasi mengaku belum bisa secara pasti menyatakan minuman tersebut sebagai penyebabnya. Pasalnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam untuk sampai pada kesimpulan apa yang menyebabkan Salsa lumpuh secara tiba-tiba. Meskipun, begitu berdasarkan pemeriksaan saraf, otak dan beberapa organ penting lain, Salsa dinyatakan dalam kondisi baik dan tidak ada kelainan. Hal itu disampaikan Dokter spesialis syaraf Rumah Sakit Permata Medika Ngaliyan Semarang, Istiqomah, dalam pertemuan bersama ayah Salsa, Agung Purwoko (55), manajemen RS dan manajemen produsen minuman tersebut, Sabtu (21/4/2012). Ia mengatakan lumpuh layu bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kecelakaan, stroke, radang, penyempitan saraf serta bisa karena keracunan. "Untuk pasien Salsa, saraf di otak dan bagian tubuh lainnya berdasarkan pemeriksaan dinyatakan normal, untuk penyebab pasti masih dalam observasi,"ujarnya. Observasi terhadap kelumpuhan yang dialami Salsa, kata Istiqomah, untuk dapat mengetahui secara rinci agar tidak timbul salah informasi dan tidak ada pihak yang dirugikan. Salsa sendiri menurutnya mengalami tetraparesis atau kelemahan pada empat titik gerak yang mengakibatkan lumpuh layu. Terkait peluang kesembuhan, Itiqomah berharap bisa sembuh secara total. "InsyaAllah bisa sembuh, terapi juga terus dilakukan untuk kesembuhan,"tandasnya. Ayah Salsa, Agung Purwoko (55) mengatakan kondisi putri ketiganya sejauh ini cukup baik dan ada peningkatan. Semangat Salsa untuk sembuh tuturnya juga sangat kuat. "Kaki dan tangan mulai bisa gerak meski sangat sedikit, tapi usaha penyembuhan terus dilakukan,"ujarnya. Terkait dengan kelumpuhan yang dialami Salsa, menurutnya Salsa tidak memiliki riwayat sakit kronis. Dugaan kelumpuhan karena minuman serbuk tersebut didasarkan pada apa yang dialami Salsa, baik menurut ceritanya ataupun cerita teman-temannya. "Yang saya tahu seperti itu, untuk benar atau tidaknya tentu bukan kuasa saya untuk mengatakan,"jelasnya. Meski begitu, ia dan keluarganya tetap tegar dalam menghadapi kondisi Salsa. Ia juga berharap kejadian ini tidak menimpa pada anak-anak lainnya. "Kami hanya ingin Salsa sembuh dan kembali seperti dulu,"tambahnya. Seperti diketahui, Salsa mengalami kelumpuhan diduga usai minum minuman serbuk di sekolahnya sewaktu jam istirahat. Ia sempat pingsan selama dua jam sebelum akhirnya dibawa kerumah sakit.

Tertawa dapat menyebabkan Kelumpuhan??? Agaknya tertawa yang sebagian besar orang anggap sebagai cara untuk melepas stress berbeda
dengan yang dialami oleh Claire scott. Wanita ini menderita sindrom aneh yang membuatnya menderita kelumpuhan setelah tertawa. Ibu dua orang anak ini menderita penyakit aneh yang disebut cataplexy dimana perasaan atau emosi tertentu bisa memicu melemahnya otot-otot. Hal inilah yang membuatnya bisa pingsan 50 kali sehari sejak ia masih kanak-kanak. Bahkan saat mengemas makan siang untuk natal ia terserang sindrom aneh tersebut.

Pil anti depresi telah memperbaiki keadaan namun nyatanya ia tetap menghadapi serangan tersebut saat mendengar lelucon dari anak perempuannya yang berusia 5 tahun. Saya tertawa terbahak-bahak mendengarnya setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi yang saya ingat adalah suami saya menggendong saya dari lantai dapur dan itu sangat memalukan. Cataplexy tersebut menyerang mulai beberapa detik sampai beberapa menit dimana korbannya dapat mendengar namun tak dapat melihat. Kadang ada waktu dimana saya menyadarinya namun kadang-kadang saya tak menyadarinya sama sekali, saya merasa pandangan saya gelap dan tubuh menjadi lumpuh, ujar akuntan dari Jersey, kepulauan Channel ini.Dokter awalnya menduga kelainan itu akibat kelainan di organ jantungnya. Namun ternyata, serangan tak surut walau telah dipasang alat pacu jantung. Dokter pun mengubah diagnosisnya. Dokter menduga ada kerusakan di saraf leher dan wajah tanpa mampu menjelaskan penyakitnya. Katapleksi atau cataplexy berarti tidak dapat bergerak (imobilisasi) atau paralisis yang bersifat sementara. Katapleksi memperlihatkan serangan paroksismal dimana terdapat kehilangan tonus otot tanpa disertai penurunan kesadaran. Katapleksi biasanya berhubungan dengan narcoleptic attacks (paroxyms of sleep). Ia juga pernah pingsan di tengah jalan gara-gara melihat hal aneh yang membuatnya terkejut. Sangat memalukan. Saya tak pernah menyangka kapan serangan akan terjadi, ujarnya. Berdasarkan pemeriksaan dokter ahli saraf dan catatan kesehatannya, Claire didiagnosis menderita Cataplexy tanpa narkolepsi atau gangguan tidur kronis sehingga selalu lelah. Cataplexy mempengaruhi penderita dengan cara yang berbeda. Ada serangan yang melemaskan otot-otot wajah hingga menghancurkannya. Ini disebabkan berkurangnya jumlah protein yang disebut hypocretin otak
www.boneforlife.com