Anda di halaman 1dari 7

PERTAHANAN MARITIM SEBAGAI STRATEGI PERTAHANAN NASIONAL INDONESIA Pendahuluan.

Pertahanan Nasional Indonesia harus mempergunakan, mendasarkan pertahanan itu betul-betul atas segenap konstelasi dan karakteristik dari natie Indonesia sendiri (Ir. Soekarno, Presiden RI-1) Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia yang mempunyai 17.504 pulau, panjang garis pantai 81.000 km dan luas perairan 5,9 km (2/3 bagian wilayah NKRI), serta diapit dua samudera besar yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta ditinjau dari geostrategik, geopolitik maupun geoekonomi memiliki peran sangat penting bukan saja bagi bangsa Indonesia, namun juga bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik bahkan global. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, maka konsep pertahanan negara mengalami perubahan yang sangat mendasar. Pasal 3 ayat 2 menyebutkan Pertahanan negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, mengacu pasal tersebut maka orientasi pertahanan negara jelas Archipelagic Oriented bukan lagi Land Oriented. Makna yang terkandung bahwa pertahanan negara tidak lagi inward looking, melainkan outward looking. Ketentuan tersebut senada dengan rumusan tentang ancaman, dalam pasal 7 tidak lagi disebutkan ancaman dalam negeri dan ancaman luar negeri, melainkan dinyatakan lebih jelas dengan istilah ancaman militer dan ancaman non militer. Dan ancaman militer yang dipersepsikan lebih bersifat outward looking, sehingga fokus pembangunan dan penggunaan kekuatan TNI adalah untuk menghadapi ancaman militer asing, tanpa mengabaikan kemungkinan pelibatan kekuatan TNI dalam menghadapi pemberontakan bersenjata di dalam negeri. Indonesia sebagai Negara Nusantara (archipelagic state) memiliki ciri khas dengan konfigurasi geografi yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan dengan ditebari pulau-pulau besar dan kecil sekitar 17.500 pulau, dengan luas wilayah sekitar 7,7 juta Km2. Dua per tiga dari luas wilayah tersebut; 5,8 juta Km2 terdiri dari lautan, sedangkan sisanya seluas 1,9 juta Km2 merupakan daratan. Dengan garis pantai sepanjang lebih kurang 81.000 Km. Kekhasan tersebut memungkinkan Indonesia untuk memanfaatkan aturan internasional sesuai United Nation Convention on the Law Of the Sea 1982 (UNCLOS82), dimana Indonesia telah meratifikasinya menjadi UU. No. 17 tahun 1985 dan konvensi tersebut diberlakukan sebagai hukum positif sejak tanggal 16 Nopember 1994, maka status Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) diakui oleh dunia. Pengakuan dunia dalam hukum internasional tersebut mengesahkan a defined

territory negara Indonesia, sehingga Indonesia memiliki legalitas hukum terhadap wilayah nasionalnya yang meliputi wilayah darat, laut dan udara di atasnya. Demikian pula Indonesia mempunyai kedaulatan dan kewenangan untuk menjaga dan mempertahankan integritas wilayah kelautannya, termasuk mengelola dan mengatur orang dan barang yang ada di dalam wilayah kelautan tersebut, namun hal ini tidak berarti meniadakan hak negara lain sesuai dengan ketentuan dalam konvensi tersebut. Secara legal formal Indonesia terikat dengan ketentuan-ketentuan dalam hukum internasional tersebut, termasuk kewajiban Indonesia untuk menjamin keamanan wilayah kelautan, khususnya di Sea Lines Of Communication. Bila kewajiban ini diabaikan, dalam arti bahwa kapal-kapal niaga negara pengguna terancam keamanannya bila melintas di perairan Indonesia, maka hal itu dapat menjadi alasan untuk menghadirkan kekuatan angkatan lautnya. Berkaitan dengan hal ini diperlukan kesamaan persepsi tentang keamanan laut, khususnya bagi komponen bangsa yang memiliki tugas, fungsi dan wewenang di laut, agar action plan yang akan dilaksanakan dapat tepat pada sasaran, terarah dan terpadu. Perlu dipahami bahwa keamanan laut bukan hanya penegakan hukum di laut, lebih tegasnya lagi keamanan laut tidak sama dengan penegakan hukum di laut. Keamanan laut mengandung pengertian bahwa laut aman digunakan oleh pengguna dan bebas dari ancaman atau gangguan terhadap aktifitas penggunaan atau pemanfaatan laut, yaitu : 1. Laut bebas dari ancaman kekerasan, yaitu ancaman dengan menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisir dan memiliki kemampuan untuk mengganggu dan membahayakan personel atau negara. Ancaman tersebut dapat berupa pembajakan, perompakan, sabotase obyek vital, peranjauan, dan aksi teror bersenjata. 2. Laut bebas dari ancaman navigasi, yaitu ancaman yang ditimbulkan oleh kondisi geografi dan hidrografi serta kurang memadainya sarana bantu navigasi, seperti suar, bouy dan lain-lain, sehingga dapat membahayakan keselamatan pelayaran. 3. Laut bebas dari ancaman terhadap sumber daya laut, berupa pencemaran dan perusakan ekosistem laut, serta konflik pengelolaan sumber daya laut. Fakta menunjukkan bahwa konflik pengelolaan sumber daya laut memiliki kecenderungan mudah dipolitisasi dan selanjutnya akan diikuti dengan penggelaran kekuatan militer. 4. Laut bebas dari ancaman pelanggaran hukum, yaitu tidak dipatuhinya hukum nasional maupun internasional yang berlaku di perairan, seperti illegal fishing, illegal logging, illegal migrant, penyelundupan dan lain-lain.

Penegakan kedaulatan di laut memiliki dua dimensi pemahaman, yaitu kedaulatan negara (sovereignity) dan hak berdaulat (sovereign right) sebagaimana dijelaskan dalam dalam UNCLOS 1982. Sesuai dengan pasal 2,34,47 dan 49 dari UNCLOS 1982. Kedaulatan Negara adalah kekuasaan tertinggi pada negara untuk melakukan suatu tindakan yang dianggap perlu demi kepentingan nasional negara itu sendiri berdasarkan hukum nasional dengan memperhatikan hukum internasional. Dasar hukum penguasaan negara atas suatu wilayah bersumber dari keberadaan/ eksistensi negara sebagai negara merdeka dan berdaulat. Kedaulatan negara meliputi kedaulatan atas wilayah, kedaulatan atas kepentingan nasional lainnya, serta kedaulatan atas pengawasan terhadap kegiatan di dalam wilayah negara. Oleh karena itu negara memiliki hak/ wewenang mengatur/ membuat peraturan hukum (legislation), mengawasi berlakunya peraturan (control), dan menegakkan peraturan/hukum yang berlaku (law enforcement) demi kepentingan negara/bangsa. Sedangkan pada pasal 56 menyatakan Hak berdaulat adalah suatu hak negara pantai untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi atas sumber daya alam hayati maupun non hayati di ZEE dan di Landas Kontinen berdasarkan hukum laut internasional. Oleh karena itu negara memiliki hak pemanfaatan sumber daya alam, dan wewenang mengatur/membuat peraturan hukum (legislation), mengawasi berlakunya peraturan (control), dan menegakan peraturan/hukum (law enforcement) yang berkenaan dengan penegakan hak berdaulat, perlindungan dan pemanfaatan sumber daya alam di ZEE maupun di Landas Kontinen. Disamping suatu negara mempunyai kedaulatan, dalam hukum laut juga disebutkan bahwa kapal perang juga memiliki nilai yang melambangkan kedaulatan negaranya secara utuh yang tidak dimilki oleh wahana lain. Sebuah kapal perang juga memiliki imunitas (pasal 95) yang membuatnya tidak tersentuh hukum teritorial lokal dimana dia berada. Apabila mencermati kondisi geografi kawasan Asia Pasifik, maka kita akan menjumpai adanya alur pelayaran yang sempit dan padat dan banyak diantaranya belum memiliki tanda-tanda navigasi yang memadai. Di kawasan Asia Tenggara terdapat beberapa alur pelayaran yang sempit dan padat, khususnya Selat Malaka dan Selat Singapura. Sebagai jalur perekonomian yang sangat penting, Selat Malaka selalu menarik perhatian masyarakat internasional dan berbagai kekuatan dunia. Kondisi geografis Selat malaka dengan sendirinya tidak menempatkan Selat Malaka sebagai suatu selat internasional, tetapi sebagai suatu selat yang dipergunakan untuk pelayaran internasional (Straits normally used for international navigaton). Negara-negara pantai di Selat Malaka yakni Malaysia, Indonesia dan Singapura telah menanda tangai suatu Pernyataan Bersama (Joint Statement) tentang Selat Malaka yang menegaskan bahwa keselamatan pelayaran di Selat Malaka adalah tangung jawab Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Berbagai bentuk nyata penghormatan kedaulatan dan hak berdaulat negara pantai oleh pelaku lintas pelayaran di perairan wilayah kedaulatannya termasuk Selat Malaka dan Singapua, telah dijelaskan dalam UNCLOS 1982 pasal 39, antara lain: 1. Berlayar tanpa berhenti, terus menerus dan secepat mungkin dengan cara normal, kecuali diperlukan karena alasan force majeure; 2. Tidak mengancam dan atau menggunakan kekuatan apapun terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara yang berbatasan dengan selat, atau menggunakan cara lain apa pun yang melanggar hukum internasional; 3. Mentaati peraturan hukum internasional tentang keselamatan laut, pencegahan pencemaran dari kapal; 4. Mentaati peraturan penerbangan yang ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) bagi pesawat udara sipil; 5. Tidak melakukan riset atau kegiatan survey tanpa ijin negara pantai dan tidak melakukan penangkapan ikan, menaikkan atau menurunkan komoditi, mata uang atau orang yang bertentangan dengan peraturan bea cukai, fiskal, imigrasi atau saniter negara pantai. Konfigurasi Wilayah Maritim. Perairan regional dikawasan Asia Tenggara terutama Selat Malaka, Selat Singapura, laut China Selatan serta beberapa alur pelayaran yang terdapat di perairan Indonesia mempunyai peran yang sangat penting karena merupakan Sea Lines of Communication (SLOC) serta Sea Lines of Trade (SLOT). SLOC dan SLOT ini bagaikan urat nadi bagi kehidupan banyak bangsa di dunia, termasuk bagi bangsa Indonesia sendiri. Bagi sebagian besar negara di kawasan Asia Timur, di mana kebanyakan struktur ekonominya berorientasi ekspor dan impor, ketergantungan pada keberadaan SLOC/ SLOT menjadi semakin menyolok. Hal tersebut bersamaan dengan tumbuhnya kekuatan industri di Asia Timur seperti Jepang, Cina, dan Korea, sehingga kebutuhan minyak dari Timur Tengah dari tahun ke tahun meningkat dengan pesat. Sejalan dengan hal itu, pola hubungan antar bangsa, cenderung bergeser ke arah semakin menonjolnya kepentingan ekonomi dibandingkan kepentingan lainnya. Sehingga dampaknya, timbul tuntutan terwujudnya stabilitas keamanan kawasan laut regional. Sebagai negara maritim yang memiliki perairan yang sangat luas dan strategis, maka Indonesia dengan segala cara dan upaya senantiasa berusaha untuk menjamin stabilitas perdamaian dan keamanan di wilayah perairan yurisdiksinya terhadap kemungkinan timbulnya segala konflik dan ancaman.

Indonesia beserta negara-negara lain sekawasan selalu berusaha menciptakan keamanan seluruh kawasan laut regional, termasuk Selat Malaka dan Selat Singapore yang merupakan salah satu selat terpadat di dunia sehingga senantiasa menjadi perhatian masyarakat maritim internasional. Jalur perdagangan dunia yang menggunakan jasa angkutan laut sebagian besar harus melalui perairan Indonesia, sehingga dapatlah dimengerti apabila keamanan laut di perairan Indonesia terganggu, maka akan berdampak kepada terganggunya aktivitas perdagangan lewat laut, sehingga akan merugikan banyak negara pengguna, khususnya negara-negara yang volume perdagangannya lewat laut sangat besar. Oleh karena itu bila terjadi interdiksi di Selat Malaka, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Asia Tenggara saja, bahkan akan meluas dan berpengaruh sangat luar biasa terhadap negara-negara lainnya. Kawasan Asia Tenggara memiliki peranan sangat penting, karena merupakan penghubung antara dua samudera besar, Pasifik dan Hindia. Selat-selat dan perairan kawasan ini merupakan jalur perdagangan dunia yang sekaligus menjadi choke points strategis bagi proyeksi armada angkatan laut negara maritim besar dalam rangka forward presence ke seluruh penjuru dunia. Sebagai jalur perdagangan, maka pasti akan mengundang beberapa ekses negatif yang berkaitan dengan masalah keamanan kawasan: Visi Maritim Bernegara. Bangsa Indonesia Dalam Kehidupan Berbangsa Dan

Sebagai negara kepulauan yang luas, dengan laut yang mengelilingi beribu pulau dan dengan laut yang menghubungkannya pula, apabila dikelola dengan benar akan mampu menjadikan NKRI negara maritim yang potensial. Ini berarti, laut dapat memberi nilai tambah pada ekonomi NKRI, umpamanya nation's port handle, industri pelayaran pesiar, industri pelayaran niaga, industri pelayaran pengangkutan penumpang dan kargo, pelayaran perikanan, industri perikanan tangkap dan perikanan hias, pariwisata bahari, termasuk di dalamnya olahraga laut, hasil bumi minyak dan gas lepas pantai. Kegiatan ekonomi maritim tersebut dapat meningkatkan kondisi sosial-ekonomi kelautan daerah pesisir, pantai, dan pulau kecil. Kontribusi ekonomi nasional merupakan salah satu potensi laut disamping potensi lain yang bersifat non-material; keindahan yang menakjubkan, yang memberikan ketenangan dan inspirasi. Kiranya sudah waktunya bangsa Indonesia kembali menghargai dan mencintai lautnya. Sikap ini perlu disertai dengan tindakan kongkrit; mengelola wilayah laut dengan benar demi kesejahteraan rakyat seluruh negeri sesuai dengan cita-cita Proklamasi 1945 dan perwujudan Deklarasi Djuanda 1957.

Kepentingan Di Laut; Kedaulatan Dan Keamanan Laut. Seluruh komponen bangsa Indonesia memiliki kepentingan yang sama terhadap laut, yaitu terwujudnya stabilitas keamanan di laut dalam rangka menjamin integritas wilayah maupun kepentingan nasional di dan atau lewat laut. Untuk dapat mewujudkan kondisi keamanan di laut, diperlukan upaya penegakan kedaulatan dan penegakan hukum. Masalah penegakan hukum di laut menjadi salah satu isu nasional yang sangat penting, mengingat kerugian yang dialami negara sangat besar, akibat berbagai pelanggaran hukum; illegal fishing, illegal migrant, illegal logging, dan illegal mining. Dalam upaya penegakan kedaulatan dan hukum di laut, TNI AL secara konsisten dan konsekuen melaksanakan tindakan tanpa pandang bulu, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penegakan keamanan di laut memiliki dua dimensi, yaitu penegakan kedaulatan dan penegakan hukum sehingga kedua dimensi tersebut saling terkait satu sama lain. Kapal-kapal asing atau kapal-kapal Indonesia berbendera negara asing yang tidak memiliki surat ijin dan melakukan pelanggaran hukum di perairan yurisdiksi nasional, pada hakekatnya sudah melanggar kedaulatan wilayah NKRI karena keberadaan/ posisi kapal pelanggar tersebut. Dengan kata lain, bahwa kapal-kapal sebelum melanggar hukum di perairan yurisdiksi nasional sudah melanggar kedaulatan wilayah Negara Indonesia terlebih dulu. Perlu kita ketahui bersama, bahwa berdasarkan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dikaitkan dengan jenis/ macam pelanggaran hukum di laut ada beberapa instansi yang berwenang melaksanakan penegakan hukum (penyidikan) di laut, seperti TNI AL, POLRI, PPNS (Kepabeanan, Perhubungan Laut, Departemen Kelautan dan Perikanan, Imigrasi, Lingkungan Hidup, Departemen Kehutanan). Namun, bila dihadapkan dengan keterbatasan sarana (kapal) yang dimiliki, struktur organisasi, mekanisme dan penyelenggaraan penegakan hukum di laut, maka pelaksanaan penegakan hukum di laut masih belum optimal. Dipandang sebagai sistem, keamanan di laut merupakan suatu rangkaian kegiatan mulai dari persepsi atau pemahaman segenap komponen bangsa, struktur organisasi, prosedur dan mekanisme penyelenggaraan keamanan di laut yang melibatkan berbagai instansi sesuai kewenangan masing-masing. Dengan demikian, ke depan sistem keamanan di laut seyogyanya dibangun dengan prinsip mensinergikan kemampuan dan mengintegrasikan kekuatan berbagai instansi penyelenggara penegakan keamanan di laut. Sinergitas dan integritas dari ke dua dimensi (penegakkan kedaulatan dan penegakan hukum di laut), harus tercermin pada struktur organisasi, mekanisme dan prosedur serta Rule Of Engagement (ROE) atau aturan pelibatan. Sistem Pertahanan Negara, yaitu Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta) yang diletakkan dalam format negara modern melalui kebijakan politik negara, sehingga memberi kesadaran dan tanggung jawab kepada masyarakat bahwa masalah pertahanan negara bukan hanya urusan TNI semata, melainkan masalah

seluruh bangsa. Demikian pula menyangkut pembangunan kemampuan pertahanan negara, bukan hanya tanggung jawab TNI, melainkan tanggung jawab seluruh komponen bangsa meliputi pemerintahan pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Bahkan pembangunan di daerah harus memperhatikan pembinaan kemampuan pertahanan. Disamping itu, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 juga mengamanatkan peningkatan kemampuan pertahanan negara melalui kegiatan penelitian dan pengembangan industri dan teknologi di bidang pertahanan, hal ini merupakan langkah awal yang sangat baik bagi tumbuh dan berkembangnya industri pertahanan. Perubahan yang fundamental dari Konsep Dasar Pertahanan Negara sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tersebut memang masih perlu dijabarkan lebih lanjut, baik dalam peraturan perundangundangan sesuai yang diamanatkan dalam pasal-pasalnya, maupun ke dalam dokumen dan piranti lunak instrumen strategik lainnya yang diperlukan untuk mengelola pertahanan negara. Berkaitan dengan hal itu, maka ke depan action plan dari upaya penegakan keamanan di laut yang ditujukan untuk memantapkan integritas wilayah kelautan Indonesia diharapkan dapat dilaksanakan lebih optimal. Sebagaimana dinyatakan di atas tadi, kata kuncinya adalah keterpaduan, yaitu mensinergikan seluruh kemampuan dan kekuatan organik instansi-instansi yang mempunyai kewenangan di laut, sesuai dengan format negara modern yang meletakkan landasan eksistensi nation state-nya dalam sistem pertahanan semesta. Dan keterpaduan serta kesemestaan itu dapat terwujud hanya apabila semua pihak mampu menghilangkan ego-ego dan penonjolan kepentingan sektoral, konsisten kepada profesionalitas berdasarkan tugas pokok yang diemban, serta tidak saling menduplikasi fungsi. Output yang diharapkan adalah terwujudnya Kerjasama Tim (team work) yang kompak atas dasar rasa saling percaya (truthness) dan penghargaan terhadap kompetensi (competence).