Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebutan agraria tidak selalu dipakai dalam artian yang sama.

Dalam bahasa latin ager berarti tanah atau sebidang tanah. Agrarius berarti perladangan, persawahan, pertanian.1Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1994, Edisi Kedua Cetakan Ketiga, Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, agraria berarti urusan pertanian atau tanah pertanian, juga urusan pemilikan tanah. Sebutan Agrarian dalam bahasa inggris selalu diartikan tanah dan dihubungkan dengan usaha pertanian. Sebutan agrarian laws bahkan seringkali dipakai untuk menunjukan kepada perangkat peraturan-peraturan hukum yang bertujuan mengadakan pembagian tanahtanah yang luas dalam rangka lebih meratakan penguasaan dan pemilikannya. Di mana ada masyarakat, di situ ada hukum. Ubi cocietas, ibi ius. Di manapun di dunia ini selama di situ ada masyarakat, maka di situ ada aturan hukum. Sejalan dengan hal itu, hukum itu tumbuh dan berkembang bersama masyarakatnya. Hukum itu tumbuh dan berkembang dari refleksi kebutuhan-kebutuhan yang terungkap dalam jalinan-jalinan hidup masyarakat di mana hukum itu hidup. Apapun corak hukum itu dipengaruhi oleh jalinan kebutuhan-kebutuhan masyarakat itu yang merupakan kebudayaan dari masyarakat bersangkutan.2 Hukum adalah sebuah produk yang diciptakan dengan berbagai macam proses. Hukum agraria ini pun dalam pembentukannya melalui proses. bagaimana lahirnya hukum agraria di Indonesia sampai terbentuknya Undang-undang Pokok Agraria tahun 1960. Pokok pembahasan makalah ini adalah fokus kepada sejarah hukum agraria di Indonesia ini terbentuk B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah hukum agraria Nasional? 2. Bagaimana pembentukan UUPA (UU NO.5 Tahun 1960)?
1 2

Prof. Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Jakarta: Djambatan, 2003. Hlm. 4 Sejarah Hukum Agraria Indonesia http://alhakim050181.wordpress.com/2008/11/27/sejarah-hukum-agrariaindonesia/

BAB II PEMBAHASAN Sejarah Hukum Agraria Nasional dan Pembentukan UUPA (UU NO.5 TAHUN 1960) 1. Sebelum tahun 1870.3 a. Pada masa VOC (Vernigde Oost Indische Compagnie). VOC didirkan pada tahun 1602 1799 sebagai badan perdagangan sebagai upaya guna menghindari persaingan antara pedagang Belanda kala itu. VOC tidak mengubah struktur penguasaan dan pemilikan tanah, kecuali pajak hasil dan kerja rodi. Beberapa kebijaksanaan politik pertanian yang sangat menindas rakyat Indonesia yang ditetapkan oleh VOC, antara lain : 1). Contingenten. Pajak hasil atas tanah pertanian harus diserahkan kepada penguasa kolonial (kompeni). Petani harus menyerahkan sebgaian dari hasil pertaniannya kepada kompeni tanpa dibayar sepeser pun. 2). Verplichte leveranten. Suatu bentuk ketentuan yang diputuskan oleh kompeni dengan para raja tentang kewajiban meyerahkan seluruh hasil panen dengan pembayaran yang harganya juga sudah ditetapkan secara sepihak. Dengan ketentuan ini, rakyat tani benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berkuasa atas apa yang mereka hasilkan. 3). Roerendiensten. Keijaksanaan ini dikenal dengan kerja rodi, yang dibebankan kepada rakyat Indonesia yang tidak mempunyai tanah pertanian. b. Masa Pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendles (1800-1811). Awal dari perubahan struktur penguasaan dan pemilikan tanah dengan penjualan tanah, hingga menimbulkan tanah partikelir.

SEJARAH HUKUM AGRARIA INDONESIA, http://alhakim050181.wordpress.com/2008/11/27/sejarah-hukumagraria-indonesia/ Diakses pada 23-03-2012.

Kebijakannya itu adalah dengan menjual tanah-tanah rakyat Indonesia kepada orang-orang Cina, Arab maupun bangsa Belanda sendiri. Tanah itulah yang kemudian disebut tanah partikelir. Tanah partikelir adalah tanah eigendom yang mempunyai sifat dan corak istimewa. Yang membedakan dengan tanah eigendom lainnya ialah adanya hak-hak pada pamiliknya yang bersifat kenegaraan yang disebut landheerlijke rechten atau hak pertuanan. Hak pertuanan, misalnya : a. Hak untuk mengangkat atau mengesahkan kepemilikan serta

memberhentikan kepal-kepala kampung/desa; b. Hak untuk menuntut kerja paksa (rodi) atau memungut uang pengganti kerja paksa dari penduduk; c. Hak untuk mengadakan pungutan-pungutan, baik yang berupa uang maupun hasil pertanian dari penduduk; d. Hak untuk mendirikan pasar-pasar; e. Hak untuk memungut biaya pemakaian jalan dan penyebrangan; f. Hak untuk mengharuskan penduduk tiga hari sekali memotong rumput untuk keperluan tuan tanah, sehari dalam seminggu untuk menjaga rumah atau gudang-gudangnya dan sebagainya. 3. Masa Pemerintahan Gubernur Thomas Stamford Rafles (1811-1816). Pada masa Rafles semua tanah yang berada di bawah kekuasaan government dinyatakan sebagai eigendom government. Dengan dasar ini setiap tanah dikenakan pahaj bumi. Dari hasil penelitian Rafles, pemilikan tanah-tanah di daerah swapraja di Jawa disimpulkan bahwa semua tanah milik raja, sedang rakyat hanya sekedar memakai dan menggarapnya. Karena kekuasaan telah berpindah kepada Pemerintah Inggris, maka sebagai akibat hukumnya adalah pemilikan atas tanah-tanah tersebut dngna sendirinya beralih pula kepa Raja Inggris. Dengan demikian, tanah-tanah yang dikuasai dan digunakan oleh rakyat itu bukan miliknya, melainka milik Raja Inggris. Oleh karena itu, mereka wajib memberikan pajak tanah kepada Raja Inggris, sebagaimana sebelumnya diberikan kepada raja mereka sendiri.

Beberapa ketentuan yang berkaitan dengan pajak tanah dapat dijelaskan sebagai berikut : Pajak tanah tidak langsung dibebankan kepada petani pemilik tanah, tetapi ditugaskan kepada kepala desa. Para kepala desa diberi kekuasaan utnuk menetapkan jumlah sewa yang wajib dibayar oleh tiap petani. Kepala desa diberikan kekuasaan penuh untuk mengadakan perubahan pada pemilikan tanah oleh para petani. Jika hal itu diperlukan guna memperlancar pemasukan pajak tanah. Dapat dikurangi luasnya atau dapat dicabut penguasaannya, jika petani yang bersangkutan tidak mau atau tidak mempu membayar pajak tanah yang ditetapkan baginya, tanah yang bersangkutan akan dinerika kepada petani lain yang sanggup memenuhinya. Praktik pajak tanah menjungkirbalikan hukum yang mengatur tentang pemilikan tanah rakyat sebagai besarnya kekuasaan kepal desa. Seharusnya luas pemilikan tanahlah yang menentukan besarnya pajak yang harus dibayar, tetapi dalam praktik pemungutan pajak tanah itu justru berlaku yang sebaliknya. Besarnya sewa yang sanggup dibayarlah yang menentukan luas tanah yang boleh dikuasai seseorang. 4. Masa Pemerintahan Gubernur Johanes van den Bosch. Pada tahun 1830 Gubernur Jenderal van den Bosch menetapkan kebijakan pertanhan yang dikenal dengan sistem Tanam Paksa atau Cultuur Stelsel. Dalam sistem tanam paksa ini petani dipaksa untuk menanam suatu jenis tanaman tertentu yang secara langsung maupun tidak lengsung dibutuhkan oleh pasar internasional paa waktu itu. Hasil pertanian tersebut diserahkan kepada pemerintah kolonial tanpa mendapat imbalan apapun, sedangkan bagi rakyat yang tidak mempunyai tanah pertanian wajib menyerahkan tenaga kerjanya yaitu seperlima bagian dari masa kerjanya atau 66 hari untuk waktu satu tahun. Adanya monopoli pemerintah dengan sistem tanam paksa dalam lapangan pertanian telah membatasi modal swasta dalam lapangan pertanian besar. Di samping pada dasarnya para penguasa itu tidak mempunyai tanah sendiri yang cukup luas dengan jaminan yang kuat guna dapat mengusahakan dan mengelola tanah dengan waktu yang cukup lama. Usaha yang dilakukan oleh pengusaha swasta pada waktu itu

adalah menyewa tanah dari negara. Tanah-tanah yagn biasa disewa adalah tanahtanah negara nyang masih kosong. 2. Masa Sebelum UUPA No. 5 Tahun 1960 Sebelum berlaku UUPA No. 5/1960 ada beberapa ketentuan yang mengatur pertanahan yaitu : a. Ketentuan-ketentuan yang tunduk kepada hukum perdata Barat b. ketentuan yang tunduk kepada hukum adat4 Ketentuan-ketentuan yang tunduk kepada hukum perdata Barat. Pada masa Pemerintahan Belanda banyak ada peraturan-peraturan yang mengatur masalah pertanahan di Indonesia seperti:5 1. Agrarische Wet / Stb. No. 108 tahun 1870 2. Algemeen Domeinverklaring / Stb. 199a tahun 1875 3. Domeinverklaring / Stb. No. 118 tahun 1870 4. Domeinverklaring untuk Sumatera / Stb. No. 94 f tahun 1874 5. Domeinverklaring untuk keresidenan Manado / Stb. No. 55 tahun 1877 6. Koninlijk Besluit tgl. 16 April 1872 No. 29 / Stb. No. 117 tahun 1870 7. Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam buku II KUH Perdata Indonesia sepanjang mengenai hypotheek. Peraturan-peraturan tersebut diatas dengan berlakunya ketentuan UUPA nomor 5 tahun 1960 maka ketentuan tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi, karena tidak sesuai lagi dengan cita-cita bangsa Indonesia yang begitu besar untuk meningkatkan taraf

Pokok Bahasan I Sejarah Pembentukan UUPA No.5 Tahun 1960, http://usupress.usu.ac.id/files/Pokok2%20Bahasan%20Hkm%20Agraria%20I_normal_bab%201.pdf 5 Ibid.

hidup dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia khususnya bagi petani penggarap.6 Agrariche Wet adalah peraturan pertanahan yang dikeluarkan oleh pemerintahan belanda seperti Eigendom recht, erfacht recht, opstal recht dan lain-lain peraturan yang kesemuanya bertujuan untuk lebih menguatkan bangunan hukum pada masa itu, sehingga jelas perbedaanantara hak-hak atas tanah yang berdasarkan hukum adat dan dilain pihak berdasarkan hukum barat.7 Oleh pemerintah dengan Keputusan Presiden nomor 32 tahun 1979 dinyatakan bahwa semua tanah-tanah yang berdasarkan ketentuan KHU. Perdata (BW) harus dikonversi kepada ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam UUPA Nomor 5 Tahun 1960. ini menunjukkan bahwa dengan berlakunya UUPA Nomor 5 Tahun 1979 maka tidak ada lagi tanah-tanah yang tunduk kepada KHU, Perdata (BW).8 Ketentuan-ketentuan yang tunduk kepada hukum adat.9 Negara Republik Indonesia dari Sabang hingga Maruoke berjejer pulau-pulau yang dihuni berbagai suku, adat istiadat dan beragam agamanyahal ini merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, dengan adanya bermacam-macam suku atau adat istiadat memberikan kepada kita untuk menguasai, mengusahai, atau mengerja lahan yang ada disuatu daerah tertentu, sehingga dengan hasil dari lahan atau tanah tersebut memberikan keteraman bagi masyakarat, namun dengan keanekaragam suku bangsa tersebut akan terlihat dengan berlakunya ketentuan UUPA, yang sama sekali tidak akan membedakan antar suku atau adat istiadat didalam mengusai dan memiliki lahan-lahan tersebut. Dengan demikian akan jelas bagi kita bahwa hukum adat tersebut harus dilhilangkan sifat kedaerahannya dan harus bersifat lebih Nasional. Menurut Prof. Budi Harsono menyebut bahwa hukum adat disaneer. Soudargo gautama (Gouw Giok Siong) menyebut hukum adat yang di Retool. Namun oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional menyebutkan bahwa hukum adat diartikan sebagai hukum adat Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundangundangan Republik Indonesia yang disanasini mengandung unsur agama.
6

Pokok Bahasan I Sejarah Pembentukan UUPA No.5 Tahun 1960, http://usupress.usu.ac.id/files/Pokok2%20Bahasan%20Hkm%20Agraria%20I_normal_bab%201.pdf 7 Ibid. 8 Ibid. 9 Ibid

Dengan demikian didalam pelaksanaannya hingga saat ini belum ada ketentuan bahwa ketentuan-ketentuan mengenai pertanahan yang tunduk kepada ketentuan hukum adat tidak keharusan untuk dikonversi kepada ketentuan-ketentuan yang diatur didalam UUPA Nomor 5 tahun 1960, namun adapun bukti hak yang telah diterbit hanya merupakan alas hak untuk memperoleh hak-hak yang diatur didalam ketentuan UUPA Nomor 5 tahun 1960.

3. Sejarah Pembentukan UUPA Perjalaanan panjang dalam uapaya perancangan UUPA dilakukakan oleh Lima Panitia rancangan, yaitu Panitia Agraria Yogyakarta, Panitia Agraria Jakarta, Panitia Rancangan Soewahjo, Panitia Rancangan Soenarjo, dan Rancangan Sadjarwo.10 1. Panitia Yogyakarta Dalam penyusunan dasar-dasar Hukum Agraria dimulai sejak tahun 1948 untuk menggantikan ketentuan-ketentuan pertanahan warisan Hindia Belanda yaitu dengan pembentukan Panitia Agraria yang berkedudukan di Jogjakarta yaitu disebut Panitia Jogja yang dibentuk berdasarkan Penpres tanggal 21 Mei 1948 No. 16 yang

10

SEJARAH HUKUM AGRARIA INDONESIA http://alhakim050181.wordpress.com/2008/11/27/sejarahhukum-agraria-indonesia/

diketuai oleh Sarimin Reksodiharjo yang menjabar pada saat itu sebagai Kepala bagian agraria Kementrian dalam negeri yang beranggotakan:11 1. Badan kementrian & Jawatan. 2. Anggota-anggota Badan Pekerja KNIP yaitu yang mewakili organisasi tani. 3. Mewakili organisasi tani dan buruh. 4. Wakil-wakil dari serikat buruh pertanian. Panitia Jogja ini bertugas untuk : memberikan pertimbangan kepada pemerintah tentang soal-soal hukum pemerintahan merancangkan dasar-dasar hukum tanah yang memuat politik agraria. Serta merancang perubahan, pergantian, pencatutan peraturan lama baik dari sudut legislatif baik dari sudut praktek yang menyelidiki soal-soal hukum tanah. Pekerjaan panitia Jogja dilaporkan pada panitia pemangku kerja dengan dengan No. 22/PA yaitu mengenai asas-asas yang akan merupakan dasar hukum agraria yang baru dengan usulan sbb : 1. Dilepaskannya azas-azas domein dan adanya pengakuan hak ulayat 2. Diadakannya peraturan yang memungkinkan diperbolehkannya hak perseorangan yang kuat yaitu hak milik yang dapat dibebani dengan hak tanggungan, pemerintah hendaknya jangan memaksakan hak yang lemah kepada yang lebih kuat, perkembangan tersebut. 3. Supaya diadakan penyelidikan dahulu dalam peraturan negara lain terutama negara-negara tetangga, supaya orang asing dapat/tidak memiliki hak milik atas tanah.
11

Pokok Bahasan I Sejarah Pembentukan UUPA No.5 Tahun 1960, http://usupress.usu.ac.id/files/Pokok2%20Bahasan%20Hkm%20Agraria%20I_normal_bab%201.pdf

4. Perlu diadakannya penetapan luas minimum tanah untuk menghindari perbedaan antara petani kecil dengan petani yang memiliki tanah yang lebih 5. luas sehingga dapat memberikan tanah yang cukup bagi petani kecil sekalipun bisa hidup sederhana dari hasil pertanian ditentukan jumlahnya minimal 2 hektar. 6. Perlu adanya penetapan luas maksimum seseorang yang memiliki tanah pertanian yaitu 10 hektar. 2. Panitia Jakarta Kemudian setelah negara RI sebagai negara Kesatuan Republik Indonesia maka berdasarkan Kepres tertanggal 19 Maret 1951 No. 36 tahun 1951 Panitia Yogya dibubarkan kemudian dibentuk PANITIA JAKARTA yang diketuai oleh Sarimin Reksodiharjo pada tahun 1953 yang pada saat itu berjabat sebagai pejabat politik. Panitia ini beranggotakan pejabat-pejabat dari berbagai kementrian, dan jawatan serta wakil-wakil dari organisasi tani. Pada tahun 1953 Sarimin Reksodiharjo digantikan oleh Singgih Praptodiharjo, karena Sarimin diangkat sebagai Gubernur di Nusa Tenggara.12 Dalam laporannya panitia ini mengusulkan beberapa hal dalam hal tanah pertanian, sebagai berikut : 1) Mengadakan batas minimum pemilikan tanah, yaitu 2 hektar dengna

mengadakan peninjauan lebih lanjut sehubungan dengan berlakunya hukum adat dan hukum waris; 2) Mengadakan ketentuan batas maksimum pemilikan tanah, hak usaha, hak

sewa, dan hak pakai; 3) Pertanian rakyat hanya dimiliki oleh warga negara Indonesia dan tidak

dibedakan antara warga negara asli dan bukan asli. Badan hukum tidak dapat mengerjakan tanah rakyat; 4) Bagunan hukum untuk pertanian rakyat ialah hakl milik, hak usaha, hak sewa, dan hak pakai;

12

Pokok Bahasan I Sejarah Pembentukan UUPA No.5 Tahun 1960, http://usupress.usu.ac.id/files/Pokok2%20Bahasan%20Hkm%20Agraria%20I_normal_bab%201.pdf

5) Pengeturan hak ulayat sesuai dengan pokok-pokok dasar negara dengan suatu undang-undang.13 3. Panitia Soewahjo Guna mempercepat proses pembentukan undang-undang agraria nasional, maka dengan Keputusan Presiden RI tertanggal 14 Januari 1956 Nomor : 1 Tahun 1956, berkedudukan di Jakarta, diketuai oleh Soewahjo Soemodilogo, Sekretaris Jenderal Kementrian Agraria. Tugas utama panitia ini adalah mepersiapkan rencana undangundang pokok agararia yang nasional, sedapat-dapatnya dalam waktu satu tahun.14 Panitia ini berhasil menyusun naskah Rancangan Undang-undang Pokok Agraria pada tanggal 1 Januari 1957 yang pada berisi : 1) dihapuskannya asas domein dan diakuinya hak ulayat, yang harus ditundukkan pada kepentingan mum (negara); 2) Asas domein diganti dengan hak kekuasaan negara atas dasar ketentuan Pasal 38 ayat (3) UUDS 1950; 3) Dualisme hukum agraria dihapuskan. Secara sadar diadakan kesatuan hukum yang akan memuata lembaga-lembga dan unsur-unsur yang baik, baik yang terdapat dalam hukum adat maupun hukum barat; 4) Hak-hak atas tanah : hak milik sebagai hak yang terkuat yang berfungsi sosial kemudian ada hak usaha, hak bangunan dan hak pakai; 5) Hak milik hanya boleh dipunyai oleh warga negara Indonesia yang tidak diadakan pembedaan antara waraga negara asli dan tidak asli. Badan-badan hukum pada asasnya tidak boleh mempunyai hak milik atas tanah; 6) Perlu diadakan penetapan batan maksimum dan minimum luas tanah yang boleh menjadi milik seseorang atau badan hukum; 7) Tanah pertanian pada asasnya perlu dikerjakan dan diushakan sendiri oleh pemiliknya;

13

SEJARAH HUKUM AGRARIA INDONESIA http://alhakim050181.wordpress.com/2008/11/27/sejarahhukum-agraria-indonesia/ 14 Ibid.

10

8) Perlu diadakan pendaftaran tanah dan perencanaan penggunaan tanah. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor : 97 Tahun 1958 tanggal 6 Mei 1958 Panitia Negara Urusan Agraria (Panitia Soewahjo) dibubarkan.15 4. Rancangan Soenarjo. Setelah diadakan perubahan sistematika dan rumusan beberapa pasal, Rancangan Panitia Soewahjo diajukan oleh Menteri Soenarjo ek Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk membahas rancangan tersebut, DPR perlu mengumpulkan bahan yang lebih lengkap dengan meminta kepada Universitas Gadjah Mada, selanjutnya membentuk panitia ad hoc yang terdiri dari : Ketua merangkap anggota Wakil Ketua merangkap anggota Anggota-anggota : A.M. Tambunan : Mr. Memet Tanumidjaja : Notosoekardjo, Dr. Sahar glr Sutan Besar, K.H. Muslich, Soepeno, Hadisiwojo, I.J. Kasimo Selain dari Universitas Gadjah Mada bahan-bahan juga diperoleh dari Mahkamah Agung RI yang diketuai oleh Mr. Wirjono Prodjodikoro. 5. Rancangan Sadjarwo. Melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 diberlakukan kembali UUD 1945. Karena rancangan Soenarjo disusun berdasarkan UUDS 1950, maka pada tanggal 23 Maret 1960 rancangan tersebut ditarik kembali. Dalam rangka menyesuaikan rancangan UUPA dengan UUD 1945, perlu diminta saran dari Universitas Gadjah Mada. Untuk itu, pada tanggal 29 Desember 1959, Menteri Mr. Sadjarwo beserta stafnya Singgih Praptodihardjo, Mr, Boedi Harsono, Mr. Soemitro pergi ke Yogyakarta untuk berbicara dengna pihak Universitas Gadjah Mada yang diwakili oleh Prof. Mr. Drs. Notonagoro dan Drs. Imam Sutigyo. Setelah selesai penyusunannya, maka rancangan UUPA diajukan kepada DPRGR. Pada hari Sabtu tanggal 24 September 1960 rancanan UUPA sisetujui oleh DPRGR dan kemudian disahkan oleh Presiden RI menjadi Undang-undang Nomor : 5

15

SEJARAH HUKUM AGRARIA INDONESIA http://alhakim050181.wordpress.com/2008/11/27/sejarahhukum-agraria-indonesia/

11

Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, yang lazim disebut Undang-undang Pokok Agraria disingkat UUPA.

12

BAB III KESIMPULAN Sejarah Hukum Agraria Nasional dan Pembentukan UUPA (UU NO.5 TAHUN 1960) 1. Sebelum tahun 1870. a. Pada masa VOC (Vernigde Oost Indische Compagnie). b. Masa Pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendles (1800-1811). c. Masa Pemerintahan Gubernur Thomas Stamford Rafles (1811-1816). d. Masa Pemerintahan Gubernur Johanes van den Bosch. 2. Masa Sebelum UUPA No. 5 Tahun 1960 a. Ketentuan-ketentuan yang tunduk kepada hukum perdata Barat b. ketentuan yang tunduk kepada hukum adat 3. Sejarah Pembentukan UUPA Perjalaanan panjang dalam uapaya perancangan UUPA dilakukakan oleh Lima Panitia rancangan, yaitu Panitia Agraria Yogyakarta, Panitia Agraria Jakarta, Panitia Rancangan Soewahjo, Panitia Rancangan Soenarjo, dan Rancangan Sadjarwo. Pada hari Sabtu tanggal 24 September 1960 rancanan UUPA sisetujui oleh DPRGR dan kemudian disahkan oleh Presiden RI menjadi Undang-undang Nomor : 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, yang lazim disebut Undang-undang Pokok Agraria disingkat UUPA.

13

DAFTAR PUSTAKA Prof. Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Jakarta: Djambatan, 2003. Sejarah Hukum Agraria Indonesia http://alhakim050181.wordpress.com/2008/11/27/sejarah-hukum-agraria-indonesia/ Pokok Bahasan I Sejarah Pembentukan UUPA No.5 Tahun 1960, http://usupress.usu.ac.id/files/Pokok2%20Bahasan%20Hkm%20Agraria%20I_normal _bab%201.pdf

14