Anda di halaman 1dari 19

1. PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Geografi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejalagejala muka bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi baik yang fisik maupun yang menyangkut makhluk hidup serta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, ekologi dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan. Geografi mencakup dua bidang yang harus dikaji yaitu geografi fisik dan geografi manusia termasuk di dalamnya aktivitas manusia di permukaan bumi, oleh karena itu budaya (kebudayaan) merupakan hasil daya cipta manusia bersifat konkret maupun bersifat abstrak yang juga dipelajari dalam ilmu geografi khususnya geo budaya (Bintarto,1983). Manusia sebagai penghuni permukaan bumi dengan segala aktivitas yang dilakukannya baik alamiah maupun sosial kemasyarakatan atau tingkah laku dan usaha manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kehidupan manusia di pelajari dalam cabang geografi manusia yaitu mengkaji permukaan bumi sebagai objek studinya dimana manusia termasuk aspek kependudukan, aspek aktivitas yang meliputi aktivitas ekonomi, politik, sosial dan budaya (Sumaatmadja,1988). Kesejahteraan sosial merupakan suatu tata kehidupan sosial geo budaya baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga Negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan di antaranya kebutuhan jasmani, rohani bagi keluarga, lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga Negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, rohani bagi keluarga dan masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan pancasila (Depsos RI Jakarta, 1993). Salah satu usaha pemenuhan kebutuhan bagi keluarga adalah program KB. Berdasarkan asumsi di atas maka, Pemerintah menetapkan peraturan dan kebijaksanaan dalam berbagai bidang pembangunan dalam mencapai tujuan KB.

pemerintah tidak hanya memperhatikan bidang fisik, tetapi juga bidang mental, sosial, budaya dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat. Pembangunan sosial bertujuan untuk memajukan masyarakat adil dan makmur, merata baik material maupun spiritual berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Keluarga Berencana (KB) sebagai suatu gerakkan khusus yang dihubungkan dengan usaha pengaturan besar kecilnya keluarga, dengan motivasi yang lebih luas dan demi kepentingan kesehatan, maka KB sebagai program nasional telah ditetapkan merata di seluruh tanah air dengan didukung oleh penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai, tetapi didukung dari segenap warga masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur (PUS) dalam program KB adalah faktor yang sangat penting. Pentingnya pembangunan di bidang kesejahteraan serta program KB telah berhasil meningkatkan harapan hidup dan telah menekan laju pertambahan penduduk yang didukung oleh perumahan dan permukiman yang layak. Bidang kesehatan masih harus ditingkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan masyarakat yang hidup di daerah terpencil. Tahap awal gerakan Keluarga Berencana (KB) memfokuskan perhatian pada penekanan laju pertumbuhan keluarga dan membatasi jumlah kelahiran anak dalam keluarga. Pengendalian penduduk telah berhasil dengan baik melalui gerakan Keluarga Berencana (KB) sesuai dengan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera telah dilaksanakan melalui program yang menyeluruh dan terpadu, sehingga selain telah berhasil menurunkan tingkat kelahirannya telah membantu menurunkan angka kematian. Perbaikan ekonomi dan selanjutnya akan bermuara pada perbaikan nasib umat manusia.

Kesadaran Para akseptor pada prinsipnya menyangkut perubahan perilaku yaitu setiap Pasangan Usia Subur di wilayah pedesaan yang tidak atau belum berperan dalam gerakan KB nasional dengan menjadi akseptor KB, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya faktor

pendidikan, sosial dan budaya yang melatarbelakangi setiap Pasangan Usia Subur. Desa Weulun Kecamatan Wewiku Kabupaten Belu. Berdasarkan hasil penelitian pendahulu dengan jumlah Pasangan Usia Subur yang ikut program Keluarga Berencana (KB) sebanyak 249 Pasangan Usia Subur yang tidak sebanyak 169 Pasangan Usia Subur yang tidak atau belum menjadi akseptor KB. Jelasnya dapat di lihat pada tabel 1.1. Rekapitulasi PUS yang mengikuti KB Ikut KB No Dusun Jumlah PUS 1 2 3 4 Wesukabi 65 20 20 30 10 80 F
Persentase (%)

Tidak ikut KB F 47 30 50 42 169


Persentase(%)

3,25 3,1 2,23 5,5 14.08

1,38 2,06 1,34 1,30 6.08

Laenkaletek 62 Umafeto ra Umarawan Jumlah 67 55 249

Sumber : Data primer, 2012 Dari tabel 1.1 diatas maka di ketahui PUS yang ikut program KB sangat kecil, hal ini diakibatkan oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Weulun kecamatan Wewiku kabupaten Belu. Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM MENGIKUTI PROGRAM KB DI DESA WEULUN KECAMATAN WEWIKU KABUPATEN BELU 1.2 PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah Rendahnya partisipasi Pasangan Usia Subur

(PUS) dalam mengikuti program keluarga berencana (KB) di Desa Weulun Kecamatan Wewiku Kabupaten Belu. Bertolak dari masalah pokok tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Faktor faktor apakah yang menyebabkan

rendahnya partisipasi pasangan usia subur (PUS) dalam mengikuti Keluarga Berencana (KB) di Desa Weulun Kecamatan Wewiku Kabupaten Belu?

1.3 TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN 1.3.1 1. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui sejauh mana partisipasi masyarakat dalam mengikuti program KB. 2. Untuk mengetahui pengaruh faktor pendidikan sosial dan budaya terhadap partisipasi Pasangan Usia Subur dalam mengikuti program Keluarga Berencana (KB). 1.3.2 1. Kegunaan Penelitian Sebagai bahan informasi bagi pemerintah desa dan masyarakat di dalam menyebarluaskan gerakan Keluarga Berencana (KB) khususnya yang berkaitan dengan Pasangan Usia Subur (PUS). 2. Sebagai salah satu usaha penulis dalam memberikan pandangan kepada masyarakat untuk memahami gerakan Keluarga Berencana (KB). 3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Telaah pustaka Muhajir, (1991) mengatakan bahwa hasil penyelidikan di bidang kependudukan menunjukkan bahwa pesatnya perkembangan penduduk

reproduksi tinggi pada PUS terjadi di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Di sisi lain kemampuan untuk meningkatkan kemampuan produksi, pangan berjalan lancar seiring dengan rendahnya kualitas produksi. Untuk mengantisipasi rendahnya kualitas penduduk pemerintah telah mengambil kebijaksanaan kependudukan antara lain dengan adanya Keluarga Berencana (KB) yang merupakan bagian integral dari kebijaksanaan pembangunan di bidang kependudukan dengan penciptaan pendewasaan PUS. Pelaksanaan KB sangat di pengaruhi individu yang termasuk di dalam kebijaksanaan program, norma-norma (norma hukum,norma agama, norma perkawinan, selain itu juga berkaitan erat dengan status ekonomi, elemen-elemen biologis dan ciri-ciri demografis. Kebijaksanaan yang di tempuh untuk mengendalikan pertumbuhan yaitu dengan program Keluarga Berencana (KB), pendidikan kependudukan, motivasi keluarga kecil melalui kegiatan pemberian penyuluhan dan tunjangan terbatas serta menunjang harapan hidup yang lebih nyata. Keikutsertaan dalam Keluarga Berencana (KB) dapat dikaji melalui kontes pengetahuan, sikap, minat dan perilaku masyarakat dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) (Syarief, 1990). Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu cara untuk mencegah kehamilan dan menjarakkan kelahiran adalah dengan memanfaatkan gejala mengetahui bahwa : sebagian besar waktu perempuan adalah tidak subur (masa subur dan tidak subur) dalam siklus wanita. Selanjutnya pengertian program KB adalah suatu kelangsungan hidup keluarga yang didasarkan atas rencana suami istri yang bersangkutan dengan memperhatikan beberapa faktor yaitu : fisik, mental, sosial, spiritual untuk mencapai kesejahteraan ibu dan anak serta

menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur jarak kelahiran dan atau kelahiran yang hubungan dengan ibu menentukan jumlah anak dalam keluarga melalui penggunaan alat kontrasepsi atau dengan cara KB apapun yang diperkenankan dengan sangat memperhatikan kesehatan ibu karena kesehatan ibu merupakan kunci keberhasilan terhadap cara kontrasepsi yang digunakan serta keberhasilan pembangunan itu sendiri (Anonimous , 1993). Partisipasi adalah setiap proses identifikasi atau menjadi peserta proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu atau dalam arti mengambil bagian (Soekanto ,1981). Kumpulan manusia yang sangat bergaul atau saling berinteraksi satu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui apa warga-warganya saling berinteraksi. Masyarakat pada hakekatnya tidak terlepas dari pola budaya yang mewarnai, sehubungan dengan itu maka masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Keluarga Berencana (KB) adalah suatu usaha untuk

mensejahterakan keluarga dengan menunda usia perkawinan, menjarangkan kelahiran anak dengan bantuan alat kontrasepsi atau dengan cara-cara lain. KB mandiri adalah pelayanan KB baik dalam penerangan motivasi maupun pelayanan kontrasepsi dari masyarakat (Koenjaraningrat, 1986). Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar. mengemukakan bahwa kebudayaaan adalah keseluruhan yang

didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggotanya. Kebudayaan merupakan semua yang dapat di pelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang di pelajari dari pola-pola perilaku yang normatif artinya mencakup segala cara atau pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak. Tylor dalam Soekanto (1990)

Aspek aktivitas manusia di permukaan bumi termasuk didalamnya adalah aspek kependudukan yang meningkatkan adanya keluarga bahagia dan sejahtera. Keluarga Berencana yang digiatkan oleh pemerintah Indonesia adalah merupakan salah satu cara yang di tempuh untuk mencapai keluarga bahagia dan sejahtera. Oleh karena kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga akan merupakan dasar bagi kesejahteraan dan kemakmuran Negara. Keluarga batih yang berintikan ayah, ibu dan anak-anak merupakan unsur penting dalam pembinaan keluarga bahagia dan sejahtera. Oleh karena itu jumlah anak yang banyak dengan kemampuan ekonomi yang terbatas sangat menghambat tercapainya keluarga sejahtera dan bahagia. Tidak saja anak yang banyak, tidak terjamin hidup ekonominya secara baik. Juga pembinaan dan kesehatan ibu dan anak-anak terganggu. Tetapi pada kenyataannya tersirat dalam adat di anggap bahwa Banyak anak banyak rejeki . Menurut Effendi (1989) pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang di tuntut dari tenaga kesehatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan, baik itu terhadap indivdu, keluaga, kelompok maupun masyarakat. Memang di kalangan suku-suku bangsa anak di NTT secara tradisional mengenal pula sistem pembatasan dan penjarangan kelahiran dengan ramuan tradisional. Namun cara yang dikenal tersebut tidak dipergunakan secara umum hanya pada kasus-kasus tertentu secara adat dianggap perlu di pergunakan program KB belum hidup di kalangan suku-suku bangsa yang ada. Namun demikian dengan dikenalnya sistem penjarangan kelahiran secara tradisional merupakan suatu modal yang sangat penting. Artinya apabila program KB nanti dilaksanakan secara resmi di NTT, NTT secara formal belum termasuk dalam program kerja KB nasional yang walaupun di beberapa kota telah ada klinikklinik KB yang mulai dirintis melalui program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Keluarga Berencana (KB) memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi dan luhur karena tidak hanya terbatas pada pembatasan jumlah kelahiran melainkan meliputi seluruh aspek kehidupan keluarga dan masyarakat. Hal ini ditegaskan dalam UU No.10 tahun 1992 ayat 6 bahwa KB merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Keluarga kecil merupakan norma yang baik, keluarga menurut pendekatan ini adalah : bapak, ibu dan jumlah anak sedikit yang para anggotanya merupakan unit-unit yang bebas berinteraksi satu sama lain. Struktur jumlah keluarga inti merupakan basis yang menopang fungsi suatu masyarakat dalam mengambil kebijakan yang mudah demi kesejahteraan keluarga. Untuk itu perlu ditingkatkan peran serta masyarakat terutama melalui institusi masyarakat. Peran serta masyarakat dalam gerakan KB nasional perlu ditingkatkan atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab secara sukarela, sehingga pelaksaan dan pengelolaan gerakan KB nasional berhasil diterapkan di masyarakat dan berlangsung secara mandiri. (Liliweri, 1994) Pembangunan KB mandiri menuju keluarga sejahtera adalah suatu gagasan atau konsep untuk membangun dan menata jaringan KB di tingkat desa dengan mendayagunanakan seluruh potensi yang ada pada masyarakat setempat sehingga potensi yang ada dapat memberikan pelayanan KB yang berlangsung secara terus menerus. Kegiatan dalam pengembangan KB mandiri menuju keluarga sejahtera pada dasarnya adalah semua kegiatan baik secara langsung dalam menumbuhkan dan membina serta mengembangkan institusi masyarakat dalam mengelola gerakan KB nasional dan pembangunan keluarga sejahtera baik masyarakat sebagai penerima pelayanan maupun institusi masyarakat sebagai pengelola gerakan KB nasional.

2.2 Landasan Teori Berdasarkan latar belakang, tinjauan pustaka, maka yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Hubungan antara pendidikan terhadap Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS). Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting sebab melalui pendidikan bisa timbul perubahan, pembaharuan baik, dalam masyarakat secara luas maupun bagi orang yang bersangkutan. Pendidikan akan berpengaruh terhadap beberapa aspek penghidupan lainnya : umur kawin yang pada gilirannya berpengaruh pada penerimaan ide keluarga berencana, dalam masyarakat penduduk. Seseorang diharapkan dapat merubah cara hidup, sikap dan tingkah lakunya, demikian pula perubahan perilaku akseptor keluarga berencana dimana sikap akseptor akan mudah pula menerima ide dan perubahan terutama pengetahuan tentang Keluarga Berencana. Peningkatan dibidang

pendidikan akan berdampak pada pembatasan jumlah anak yang dilahirkan, terutama disebabkan meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab dalam hidup berumah tangga. Supratinah dan Suradji (1979). Masyarakat pada dasarnya adalah salah satu kumpulan yang dapat menentukan berhasil atau tidak berhasilnya kegiatan Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS) suatu daerah, oleh karena itu partisipasi aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan. Partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan khususnya kegiatan partisipasi pasangan usia subur suatu daerah berbeda dan tergantung sejauh mana pengetahuan serta pemahaman tentang tujuan dan manfaat dari program Keluarga Berencana (KB), dimana pemahaman seseorang juga tergantung dari pendidikan yang dicapai. Seseorang yang pendidikannya tinggi dengan mudah memahami tujuan dan manfaat dari pada setiap kegiatan, sehingga akan berpengaruh pada partisipasinya dalam mengikuti program Keluarga Berencana (KB).

Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pendidikan semakin tinggi pula partisipasinya. 2. Hubungan antara keadaan sosial terhadap Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS). Keluarga Berencana (family planning, planned parenthood) : Suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Yeti anggraini dan Martini (2012). Keadaan sosial merupakan pengaruh yang sangat kuat dan besar sehingga menimbulkan akibat mengenai masyarakat yang peduli terhadap kepentingan umum. Keikutsertaan Pasangan Usia Subur adalah keadaan atau sifat Pasangan Usia Subur yang responsif terhadap suatu program yang dapat membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Keputusan mengikuti program KB adalah sikap suami istri Pasangan Usia Subur dan kedua belah pihak orang tua mereka dalam menentukan atau mengambil keputusan untuk mengikuti program KB berdasarkan pertimbangan tertentu. 3. Hubungan antara budaya terhadap Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS). Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar. mengemukakan bahwa kebudayaaan adalah keseluruhan yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan,

kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggotanya. Kebudayaan merupakan semua yang dapat di pelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang di pelajari dari pola-pola perilaku yang normatif artinya mencakup segala

10

cara atau pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak. Tylor dalam Soekanto (1990) Faktor sosial, budaya dan tradisi mengakibatkan masalah yang dihadapi dalam menerima program Keluarga Berencana. Oleh karena itu, diupayakan agar KB diketahui, di mengerti dan di hargai. Dari proses ini di harapkan terjadinya perubahan tingkah laku masyarakat dalam menerima program KB menjadi suatu kebutuhan hidup. Melihat begitu besarnya nilai KB karena melalui program ini dapat mensejahterakan kehidupan rumah tangga namun pada kenyataan yang terjadi seperti dalam anggapan adat mengatakan bahwa banyak anak banyak rejeki, banyak anak dapat menambah pendapatan rumah tangga, ini adalah suatu kebisaan yang terjadi pada masyarakat Desa Weulun.

1.4 Kerangka Berpikir Partisipasi masyarakat Pasangan Usia Subur( PUS) dalam mengikuti program KB di desa sangat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor pendidikan, sosial, tradisi. Dengan demikian kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat di tunjukkan pada skema berikut ini.

Program KB
Faktor pendidikan

Ikut Partisipasi PUS dalam KB

Faktor sosial

Masyarakat PUS

Tidak ikut

Faktor budaya

11

Keterangan : Program KB merupakan suatu inovasi pembangunan dalam bidang kependudukan khususnya dan bidang sosial umumnya. Inovasi ini di introvensikan kepada masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur (PUS) memiliki kondisi sosial dan budaya yang bervariasi. Perbedaan kondisi sosial, dan budaya ini mempengaruhi pola pikir masyarakat (PUS) dalam mengadopsi atau berpartisipasi dalam program KB. Dengan demikian ada anggota masyarakat (PUS) yang berpartisipasi (ikut) dan ada yang tidak berpartisipasi (tidak ikut) dalam program KB. 1.5 Hipotesis Berdasarkan latar belakang masalah , tinjauan pustaka dan landasan teori maka hipotesis dalam penelitian ini adalah tidak keikutsertaan PUS dalam program KB dipengaruhi oleh faktor pendidikan, sosial, dan budaya masyarakat dijabarkan menjadi beberapa hipotesis kerja yaitu : 1. Ada hubungan antara faktor pendidkan dengan partisipasi PUS dalam KB 2. Ada hubungan antara faktor sosial dengan PUS dalam KB 3. Ada hubungan antara faktor budaya dengan PUS dalam KB

12

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Weulun Kecamatan Wewiku Kabupaten Belu. Dengan menggunakan metode survey. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kenyataaan bahwa di desa Weulun sebagian besar masyarakat yang belum mengikuti PUS dalam program KB di pengaruhi oleh faktor pendidika, sosial, dan budaya. 3.2 Populasi Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua PUS yang belum mengikuti pelaksanaan program KB yang berumur 20-49 tahun yang sudah menikah. PUS dalam penelitian ini sebanyak 169 responden. 3.3 Sampel penelitian Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara acak random sampling. Menurut sifat populasinya tersebut yang ada pada 4 dusun , selanjutnya untuk memperoleh satuan sampel digunakan metode pendugaan populasi menurut Yamane (dalam Rahmat , 1989) dengan rumus sebagai berikut
N N N d 2 1

Dimana :

n= besar sampel N= banyaknya populasi d= presensi yang diambil dalam penelitian ini adalah 10%

dalam penelitian ini

N=169 PUS d=0,1

Dari jumlah populasi yang berjumlah 169 PUS maka dipilih menjadi sampel penelitian ini adalah dengan perhitungan sebagai berikut :
n N N d 2 1

13

169 169 0,12 1

169 169 0,01 1

169 1,69 1

169 2,69

n=62,82 atau 63 Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 63 Pasangan Usia Subur berhubungan dengan sampel tersebar pada dusun di desa Weulun maka besar sampel per dusun ditarik secara proporsional dengan menggunakan rumus :
ndusun ndusun ntotal ntotal

dimana

n(dusun) = besar sampel dusun N(dusun) =populasi dusun n(total) = jumlah populasi N(total) = besar sampel seluruhnya

Selanjutnya untuk memperoleh besar sampel pada dusun I,II,III,IV dapat ditentukan secara proporsional seperti yang disajikan pada matriks sebagai berikut : No Dusun Yang ikut KB Yang tidak ikut Populasi KB 1 2 3 4 Wesukabi 65 47 30 50 42 169 69 43 30 27 169 26 16 11 10 63 Sampel

Laenkaletek 62 Umafeto ra Umarawan Jumlah 67 55 249

14

3.4 Operasional variabel 1. Faktor pendidikan sangat penting maka Sikap dan pelayanan petugas berencana yaitu tingkah laku emosional yang ditampilkan pelayanan atau petugas KB serta cara-cara pelayanan yang sesuai dengan prosedur dan secara klinik oleh petugas KB pada ibu rumah tangga berusia subur yang telah mengikuti program KB. 2. Faktor sosial adalah tingkat pengetahuan tentang KB oleh seorang ibu rumah tangga : a. Hakekat program manfaat ber KB oleh seorang ibu rumah tangga b. Komunikasi dengan petugas penyuluhan tentang program KB c. Komunikasi dengan sesama PUS yang tidak ikut dalam program KB. 3. Faktor budaya adalah unsur-unsur yang di anut oleh masyarakat tertentu untuk menerima status perubahan. a. Sistem kekerabatan dalam masyarakat desa Weulun sistem

kekerabatan yang dianut oleh masyarakat, apakah patrilineal atau matrilineal. b. Status perempuan dalam kaitan dengan anak, yaitu perempuan yan tidak memiliki anak atau seorang perempuan yang memiliki anak mempunyai status sosial tertentu dan dihargai keluarga dan sebaliknya. c. Jumlah anak yang diinginkan oleh masyarakat banyak anak berguna untuk membantu orang tua dalam usaha tani banyak anak sangat bermanfaat untuk pembesar pendapatan rumah tangga banyak anak banyak rejeki.

3.5 Sumber data Data yang di kumpulkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif yang bersumber dari data primer dan data sekunder.

15

a. Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen atau catatan yang tersedia dari instansi pemerintah desa, kecamatan, kabupaten dan kantor BKKBN yang berhungan dengan obyek penelitian.

3.6 Teknik pengumpulan data a. Teknik wawancara dilakukan dengan mewawancarai responden secara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. b. Studi pustaka yaitu penelitian mempelajari buku-buku serta tulisan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini. c. Mengadakan pengamatan langsung oleh penelitian sekaligus

membandingkan data dengan keadaan yang ada.

3.7 Teknik analisis data Dalam penelitian ini data penelitian yang telah di kumpulkan, di analisis secara deskriptif kualitatif. Analisis ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda : kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakekat pembangunan antara peneliti dengan responden: ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri pengaruh bersamasama dari pola-pola nilai yang dihadapi, Surya Brata(1983). Pertimbangan pokok penggunaan analisis deskriptif kualitatif penelitian ini adalah penyesuaian penajaman faktor-faktor pengaruh dalam penelitian dengan permasalahan penelitian yang tidak memiliki pola nilai atau konsep yang bervariasi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah belum ikut dalam program KB, permasalahan ini hanya merupakan sebuah konsep bukan merupakan variable.

16

DAFTAR PUSTAKA

Acok ,1987, Teknik Pengumpulan Skala Pengukuran, Yogyakarta : pusat penelitian UGM Anonymous, 1993, Pedoman Institusi Masyarakat Dalam Program KB nasional, Jakarta. Azwar, Saefudin, 1988, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Yogyakarta: Liberty. Bintarto , 1983 , Kebijakan Kependudukan Dan Ketenagakerjaan Di Indonesia, Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia BKKBN , 1997 ,Dua Dasawarsa KB Nasional , Jakarta BKKBN,2002 , Operasionalisasi Program dan Kegiatan Strategis Peningkatan Partisipasi Pria dalam Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi,Jakarta . Dana J, Bogue , 1998 , Tentang Komunikasi Dalam KB Depsos RI Muhajir , 1993 , Pedoman Instansi Masyarakat Dalam Program KB Nasional ,Jakarta Koenjaraningrat , 1986 , Manusia Dan Kebudayaan Indonesia, Jakarta : jamatan. Liliweri , Alo , 1981 ,Komunikasi Mengatasi Konflik Dalam Keluarga , makalah seminar NKKBS , UMK Kupang.

17

Malena , Delsi ,1998 , Keluarga Berencana Oleh PUS Di Kelurahan Kalabahi Kabupaten Dati II Alor , Skripsi Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan PIPS FKIP Undana , tidak diterbitkan. Muhajir , 1991 , Peran Wanita Dalam Pembangunan Indonesia , Jakarta Notoatmojo, 2000, Soekidjo, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Jakarta : Andi Offset. Notoatmojo, Soekidjo,2007 , Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta. Soekanto , 1981, Sosiologi Suatu Pengantar , Jakarta. Supratinah dan Suradji, 1979, Pendidikan dan Masalah KB di Indonesia, Jakarta : Arieslima. Tim dosen IKIP Malang UU RI No 10 Tahun 1992 , Tentang Perkembangan Penduduk Dan Perkembangan Keluarga Sejahtera , Jakarta. Yetti Anggraini, Martini, 2012, Pelayanan Keluarga Berencana Yogyakarta : Rohima Press.

18

USULAN PROPOSAL UNTUK SKRIPSI

PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM MENGIKUTI PROGRAM KB DI DESA WEULUN KECAMATAN WEWIKU KABUPATEN BELU

OLEH RATNA TIUMLAFU 0801100542

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG 2012

19