Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam hal ini pihak Jurusan Teknik Elektro telah menyiapkan suatu program berupa mata kuliah Kerja Praktek yang wajib diikuti setiap mahasiswa Teknik Elektro. Melalui mata kuliah Kerja Praktek ini mahasiswa diharapkan mampu memahami ilmu elektronik secara terarah karena pada dasarnya ilmu yang diperoleh di bangku kuliah bersifat teoritis. 1.2 Tujuan Kerja Praktek Pelaksanaan Kerja Praktek ini bertujuan sebagai syarat untuk melengkapi mata kuliah Kerja Praktek yang berjumlah 2 (dua) SKS di Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Medan, sekaligus agar mahasiswa memahami aplikasi dari disiplin ilmu elektro yang selama ini telah dipelajari secara teoritis dalam perkuliahan. 1.3 Manfaat Kerja Praktek Dengan mengikuti program Kerja Praktek di PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara

Cabang Lubuk Pakam , maka saya sebagai mahasiswa Kerja Praktek dan pihak Teknik Elektro serta PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam memperoleh masukan masukan dan manfaat sebagai berikut : Bagi Mahasiswa Kerja Praktek : 1. Telah menyelesaikan mata kuliah Kerja Praktek di Jurusan Teknik Elektro sebanyak 2 (dua) SKS. 2. Dapat melakukan perbandingan terhadap ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan dengan aplikasi di lapangan. 3. Dapat mengetahui ruang lingkup dan gambaran kerja yang ada di PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam 4. Mampu mengenal peralatan serta aplikasi penggunaanya di lokasi kerja. 5. Menerapkan hasil yang diperoleh untuk mengembangkan potensi diri bagi mahasiswa.

Bagi Pihak Institut Teknologi Medan: 1. Merupakan salah satu wujud kerjasama dalam bidang akademik antara pihak Institut Teknologi Medan dan pihak PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam. 2. Mempersiapkan mahasiswa dalam era globalisasi dengan kondisi penuhkompetisi kerja. Bagi Pihak PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam: 1. Menerima masukan dari pihak Institut Teknologi Medan dan Mahasiswa selama berlangsungnya kerja praktek tersebut. 2. Merupakan wujud kepedulian PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam dalam rangka meningkatan mutu pendidikan. 3. Dapat memberikan pengertian mengenai kondisi yang ada pada PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam saat ini. 1.4 Ruang Lingkup Kerja Praktek Sesuai dengan bidang ilmu yang penulis tekuni maka penulis melakukan kerja praktek pada PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam selama 1 (satu) bulan, terhitung dari tanggal 28 Februari 2012 hingga 30 Maret 2012. Selama mengikuti Kerja Praktek elektris di PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam, penulis ditempatkan pada seksi - seksi sebagai berikut : Seksi Pemeliharaan Seksi Operasi Distribusi Seksi Peneraan Seksi Alat Pengukur dan Pembatas Sesuai dengan jadwal ini, maka ruang lingkup penulisan laporan hanya meliputi kegiatan selama penulis melakukan kerja praktek di PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara Cabang Lubuk Pakam. 1.5 Metode Pengumpulan Data Dalam penulisan laporan ini penulis melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung dengan karyawan PLN.

Sehingga dapat ditentukan metode yang digunakan untuk penulisan dan penyusunan laporan ini, yaitu : Observasi Penulis melakukan pengamatan secara langsung ke lapangan. Diskusi dan wawancara Penulis melakukan diskusi dan wawancara dengan karyawan PLN tentang sesuatu yang berhubungan dengan objek yang ditinjau. Studi Literatur Penulis melengkapi data dan keterangan yang diperoleh dari observasi dan wawancara dengan referensi yang ada, yaitu buku pegangan dan panduan PLN. 1.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan ini disusun sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi latar belakang, tujuan kerja praktek, manfaat kerja praktek, ruang lingkup kerja praktek, metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan. BAB II : SEJARAH SINGKAT PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam. Berisi sejarah singkat berdirinya PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatra Utara Cabang Lubuk Pakam dan struktur organisasinya serta tugas dan kewajiban dari masing masing struktur organisasi. BAB III: SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI Berisi tentang kelistrikan di kabupaten Deli Serdang, bagaimana pengiriman daya listrik mulai dari pusat pembangkit sampai ke konsumen konsumen, jaringan tegangan menengah dan tegangan rendah serta peralatan peralatan yang mendukung jaringan tersebut.
5

BAB IV: SISTEM PENGAMAN PADA JARINGAN SUTM 20 KV 3 FASA Berisi tentang peralatan sistem pengaman yang terdiri dari Pemutus Tenaga, Relay Arus Lebih (OCR), Pemutus Balik Otomatis (Sectionaliser), Pelebur (Fuse cut Out), Load Break Switch (LBS) BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN Berisi kesimpulan dan saran yang mungkin berguna bagi penulis dan PLN. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAMPIRAN

BAB II SINGLE DIAGRAM PENYULANG WILAYAH PENYALURAN PT PLN (PERSERO) CABANG LUBUK PAKAM

PT PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG PU 1 (GAJAH) RANTING PERBAUNGAN

GI PERBAUNGAN PU 1 (GAJAH)

DS

NC DS. JAMBUR PULO NO DS. SUKA JADI

SEKSI I
LM.01 JL. AKASIA NC

PC.1

NO

SEKSI II

PC.3
L.06 / PU.1 - PC.3 KANTOR CAMAT L.02 KOTA GALUH NC

SEKSI VIII
RAMBUNG SIALANG ESTATE

NC L.09 DS.SUKA SARI

NC

NC

R.08 DS.KUINI

LM.07 JL. KARYA

SEKSI III

SEKSI VII

SEKSI VI

R.03 DESA TUALANG

NC

NO

P.SINONAM

SEKSI IV

PC 1

SP.FORTUNA NO LM.05 / PU.4 - PU.1 DESA.SUKA BERAS NC DESA. NAGA LAWAN

PC 1

L.04 DESA SEI SIJENGGI

SEKSI V
L.05 / PU.1 RA.2 SEI BULUH

KWB NO

RA. 2 GAMBAR 1 GARIS PENYULANG 20 KV PENYULANG PU 1 (GAJAH) GI PERBAUNGAN


SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS SARI TUA MATAGOR SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

PT PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG ST 4 (KIJANG) RANTING TANJUNG MORAWA

GI SEI ROTAN ST 4 (KIJANG)

KABEL KAS BATANG KUIS

ST 1

MR 7

MR 1

GH TANJUNG MORAWA

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV PENYULANG ST 4 (KIJANG) GI SEI ROTAN


SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS SARI TUA MATAGOR SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

PT PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG SR 5 (KUDA) RANTING M.DENAI & T.MORAWA DENGAN EXCESS POWER PT. EVERGREEN

GI SEI ROTAN SR 5 (KUDA)

DS

NC

SN 1 (MARMUT)

DS.05 DEPAN MASJID

NC

JL. PTP - B. KUIS

SEKSI I
NO JL.T. MORAWA - BT. KUIS NC KWB NO L.03 / SR.5 SN.1 SANAWIAH

MR 3 ( TERI )

LM.01 / MR.3 SR.5

LM.01 DS. SENA

SEKSI II
LM.02 DALU X NC

L.06

NC

DS. SERDANG

SEI BELUMAI

DS. KUNYIT

SEKSI III
DALU X

TM 4 ( ULAT )

NO

LM.02 / TM.4 SR.5 SEI BELUMAI

DS - NC

PMT

TRAFO STEP UP

PMT

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV PENYULANG SR 5 (KUDA) GI SEI ROTAN PARALEL KE EXCESS POWER PT. EVERGREEN EXCESS POWER PT. EVER GREEN
SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS SIMSON P SIHOTANG SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

PT PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR 1 GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG TM 1 TOKEK RANTING : TANJUNG MORAWA

GI TAMORA TM 1 TOKEK

DS

NC

TM.3 (WALANG) SEKSI I


L.03
Jl. PELITA IV KIM STAR

NO

NC YASKAWA

SEKSI II
Jl. KARYA DARMA

LM.01
SP. PKT

Jl. PKT

LM.02
Jl. PKT KEBUN SAYUR

NC YASKAWA

SEKSI III

LM.04/TM.5-TM.1
NO

KASMIRIN SIECOM

TM 5 (RAYAP )

GAMBAR 1 GARIS PENYULANG 20 KV UNTUK LAMPIRAN SOP PENYULANG TM 1 TOKEK GI TAMORA


SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS SARITUA MATAGOR SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

PT PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG TM 1 (TOKEK) RANTING TANJUNG MORAWA

GI TAMORA TM 1 (TOKEK)

DS

NC

SEKSI I
PT. KEDAUNG

PT. KEDAUNG

TM.3 (WALANG)
Jl. PELITA IV KIM STAR

PABRIK KABEL PT. INDO FOOD

L.03

NO

NC YASKAWA

SEKSI II
Jl. KARYA DARMA

LM.01
SP. PKT

Jl. PKT

LM.02/TM.1-TM.5

NO YASKAWA

TM 5 (RAYAP )

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV PENYULANG TM 1 (TOKEK) GI TAMORA


SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS SARITUA MATAGOR SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

Jl. PKT KEBUN SAYUR

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG RN 1 (KIKIR) RANTING SEI RAMPAH

GI TEBING TINGGI RN 1 (KIKIR)

DS

NC

LM.01

NC

KOTA BARU
SEI BAMBAN

PINTU AIR
MARTEBING

PAYA LOMBANG PAYA MABAR

NC R.07 SUKA TANI

SEKSI VI

SEKSI V

NC R.08

NC L.09

SEI BAMBAN NO

MALASORI

SEI PRIOK

SEKSI I
SEI MULYO

SP.SEI BAMBAN
BAKARAN BATU

LM.02 PERINGGAN KP.PON

NC NC

SEKSI VII

SEKSI II
L.03 GALAON S. RAMPAH NC

BETUNG

L.10 HAPOLTAHAN

SEKSI III

PENGGALANGAN.1

PENGGALANGAN.2 KAMPUNG PALA

LM.04 DPN.PEKONG S.RAMPAH

NC

Jl. BEGADAI

NO L.05 / RN.1-RA.1 SP. BEGADAI

PEMATANG GANJANG
SEI PARET

SEKSI IV

RA 1

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV PENYULANG RN 1 (KIKIR) GI TEBING TINGGI


SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS SARI TUA MATAGOR SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

PT PLN (PERSERO) WILAYAH SU CABANG L. PAKAM

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV

PENYULANG TN 6 (GULAMA) RANTING DELI TUA

GI TITI KUNING TN 6 (GULAMA)

SUKA TABAH

JL. TRITURA

TT. 3 CAB. MEDAN RYN. MEDAN SELATAN


KWB

SEKSI I
GG. PANCA

JL. STM UJUNG

L.04

NO

LM.01 GUDANG ASPAL

NC

SEKSI II
NO

TN 5 (BELANAK)
LM.03 / TN 6 TN.5

JL. STASIUN KUBURAN CINA

LM.02 LAP. BOLA PSR. III

NO

SEKSI III
JL. MARENDAL

TN 5 (BELANAK)
Gg. BAKTI

GAMBAR SATU GARIS PENYULANG 20 KV PENYULANG TN 6 (GULAMA) GI TITI KUNING


SKALA DIGAMBAR DIPERIKSA DIKETAHUI DISETUJUI NTS ANDANG SPV. OPDIST ASMAN DIST MANAJER PARAF TANGGAL

JL. MARENDAL
NC PERUMAHAN PAKA

BAB III SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI PT PLN (PERSERO) WILAYAH SUMATERA UTARA CABANG LUBUK PAKAM
Sistem Jaringan Distribusi Sistem jaringan distribusi bila ditinjau dari tegangannya dapat dikelompokkan menjadi dua macam tegangan, yaitu: Tegangan menengah Tegangan rendah Untuk tegangan menengah 12/20 KV dan untuk tegangan rendah 127/220 V. Sistem distribusi tegangan menengah di PT. PLN mempunyai sistem radial dengan udara pada umumnya. Penggunaan sistem kabel bawah tanah (underground cable) biasanya dijumpai pada bangunan-bangunan yang lokasinya ramai dam membahayakan apabila mempergunakan hantaran udara (overhead lines), tapi gardu distribusi yang terbuat dari beton dan metal clad, kabel tanah dipakai untuk saluran dari rak pembagi tegangan rendah ke tiang pertama. Penggunaan hantaran udara (overhead lines) sangat cocok dan sesuai untuk gardu tiang, karena pemasangan gardu tiang tidak memerlukan tempat yang luas. Beberapa keuntungan dan kerugian sistem hantaran udara : Keuntungan : Pemasangan lebih mudah dibandingkan dengan sistem hantaran kabel bawah tanah. Pemeliharaan jaringan lebih mudah dibandingkan dengan sistem kabel bawah tanah. Biaya pemasangan jauh lebih murah. Lokasi gangguan langsung dapat dideteksi. Mudah untuk perluasan jaringan. Kerugian Mudah mendapat gangguan Pencurian melalui jaringan mudah dilakukan. Beberapa keuntungan dan kerugian hantaran bawah tanah: Keuntungan :

Tidak mudah mengalami gangguan. Faktor keindahan lingkungan tidak terganggu. Tidak mudah dipengaruhi keadaan cuaca, seperti : cuaca buruk, taufan, hujan angin, bahaya petir dan sebagainya. Faktor terhadap keselamatan jiwa terjamin. Kerugian : Biaya pembuatan mahal. Gangguan biasanya bersifat permanent. Pencarian lokasi gangguan jauh lebih sulit dibandingkan menggunakan sistem hantaran udara. Jaringan Tegangan Menengah Jaringan tegangan menengah berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari pembangkit atau gardu induk ke gardu distribusi. Jaringan ini dikenal dengan feeder atau penyulang. Tegangan menengah yang digunakan PT. PLN adalah 12 kv dan 20 kv antar fasa (VL-L). Kontruksi Jaringan Tegangan Menengah (JTM) Konstruksi JTM terdiri dari : a. Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) SUTM merupakan jaringan kawat tidak berisolasi dan berisolasi. Bagian utamanya adalah tiang (beton, besi), Cross arm dan konduktor. Konduktor yang digunakan adalah aluminium (AAAC), berukuran 240 mm2, 150 mm2, 70 mm2 dan 35 mm2. b. Saluran Kabel Tegangan Menegah (SKTM) Kabel yang digunakan adalah berisolasi XLPE. Kabel ini ditanam langsung di tanah pada kedalaman tertentu dan diberi pelindung terhadap pengaruh mekanis dari luar. Kabel tanah ini memiliki isolasi sedemikian rupa sehingga mampu menahan tegangan tembus yang ditimbulkan. Dibandingkan dengan kawat pada SUTM maka kabel tanah banyak memiliki keuntungan diantaranya : Tidak mudah mengalami gangguan baik oleh cuaca dan binatang. Tidak merusak estetika (keindahan) kota. Pemeliharaannya hampir tidak ada. Peralatan Kontruksi Untuk SKTM

Kabel Jenis kabel tegangan menengah adalah : a. Poly Vinil Chlorida (PVC) Digunakan untuk tegangan rendah dan tegangan menengah sampai 12 KV.

Gambar b. Poly Ethylene (PE)

kabel PVC

Digunakan untuk tegangan diatas 10 KV.

Gambar kabel PE Contoh : CPT dan VIC c. X Cross Linked Poly Ethylene (XLPE) Contoh : CVC5ZV Jointing

Termination Sepatu kabel (Schoen cable) Instalasi Pembumian

Gambar kabel NA2XSEFGbY Peralatan Konstruksi Untuk SUTM a. Tiang Listrik Tiang listrik untuk SUTM biasanya terdiri dari tiang tunggal, kecuali untuk gardu tiang memakai tiang ganda. Pemasangan tiang biasanya dipasang di tepi jalan baik jalan raya maupun gang. Pemasangan tiang dapat dikurangi dengan pemakaian sistem saluran bawah tanah pada sistem distribusi. Tiang listrik biasanya berupa pipa makin ke atas makin kecil diameternya, jadi tiang bawah mempunyai diameter besar. Tiang besi berangsur-angsur diganti dengan tiang beton. Perencanaan material dan ukuran tiang listrik ditentukan oleh faktor-faktor mekanis seperti momen, kecepatan angin, kekuatan tanah, besar beban penghantar, kekuatan tiang dan sebagainya. Jenis tiang listrik menurut kegunaanya : Tiang awal / akhir Tiang penyangga Tiang sudut Tiang Peregang / tiang tarik Tiang Topang b. Cross Arm (Lengan Tiang)
5

Cross Arm dipakai untuk menjaga penghantar dan peralatan yang perlu dipasang diatas tiang. Material Cross Arm terbuat dari besi. Cross Arm dipasang pada tiang. Pemasangan dapat dengan memasang klem-klem, disekrup dengan baut dan mur secara langsung. Pada Cross Arm dipasang baut-baut penyangga isolator dan peralatan lainnya, biasanya Cross Arm ini dibor terlebih dahulu untuk membuat lubang-lubang baut c. Isolator Isolator adalah alat untuk mengisolasi penghantar dari tiang listrik atau Cross Arm. Jenis-jenis isolator yang digunakan biasanya dipakai untuk SUTM adalah isolator tumpu. Isolator tarik biasanya dipasang di tiang tarik atau akhir dan isolator tumpu biasanya dipasang pada tiang penyangga.

Gambar isolator gantung 3.3.2. Jenis Gardu Yang Digunakan Untuk Tegangan Menegah Gardu Hubung (GH) Gardu hubung ini berfungsi sebagai penyalur daya dari gardu induk ke gardu distribusi tanpa penurunan tegangan. Untuk membagi feeder menjadi beberapa jurusan dan bias juga untuk pertemuan beberapa feeder dimana dapat digunakan manuver jaringan apabila diperlukan.

Diwilayah Sumatera Utara cabang Lubuk Pakam membawahi beberapa Gardu Hubung Antara lain :

Gardu Distribusi (GD) Gardu Distribusi pada dasarnya adalah transformator atau trafo yang berfungsi sebagai pengubah tegangan. Trafo ini dapat berupa trafo satu fasa atau tiga fasa dengan kapasitas antara 400 5000 KVA. Selain trafo terdapat juga peralatan penunjang lainnya., yaitu arrester, fuse (pelebur) serta panel tegangan rendah. Ada tiga jenis Gardu Distribusi, yaitu : a. Gardu Tiang Sesuai namanya, gardu tiang merupakan gardu distribusi yang dipasang di tiang pada jaringan distribusi. Gardu tiang ini ada dua macam, yaitu : Gardu Cantol yang dicantolkan pada tiang Gardu yang menggunakan Platform Trafo pada Gardu Cantol dapat berupa trafo satu fasa atau 1 buah trafo 3 fasa. Pada gardu distribusi yang menggunakan trafo satu fasa, gardu jenis ini telah dilengkapi pengaman yang berupa pelebur (fuse) TM dan pemutus (circuit Breaker) TR. Gardu Tiang sangat cocok digunakan untuk beban-beban daerah yang sangat padat seperti perumahan-perumahan, pertokoan, dan lain-lain. Kapasitas Gardu Tiang lebih kecil dibandingkan dengan Gardu Beton maupun Gardu Metal Clad. Kapasitas Gardu Tiang biasanya dibatasi sampai 250 kVA. Pembangunan Gardu Tiang lebih cepat, mudah dan biayanya lebih murah dibandingkan Gardu Beton dan Gardu Metal Clad. b. Gardu Beton Gardu Distribusi jenis beton merupakan peralatan Gardu Distribusi yang dipasang dalam bangunan dari beton. Gardu beton memiliki kapasitas lebih besar dari Gardu Tiang dan gardu Metal Clad dan dapat juga dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Kerugian Gardu Beton ini adalah memerlukan tempat yang luas dan biaya lebih mahal serta pembangunannya yang lebih mahal. Gardu ini pada umumnya digunakan untuk daya yang besar, sehingga pada Gardu Beton ini
5

dapat diletakkan beberapa trafo. Keuntungannya adalah peralatan yang ada didalamnya terlindungi dari cuaca dan pengamanannya lebih mudah. c. Gardu Metal Clad (MC) Gardu Metal Clad (MC) sebagian besar kontruksinya terbuat dari plat besi dengan bentuk menyerupai kios. Pembuatan gardu MC lebih cepat dibandingkan gardu Beton dan peralatannya merupakan satuan set lengkap.

Peralatan Yang Digunakan Pada Gardu Distribusi Transformator Distribusi Transformator Distribusi merupakan trafo yang berfungsi menurunkan tegangan menengah menjadi tegangan rendah. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi beban daerah setempat.

Gambar Transformator Distribusi Saklar Pemisah (PMS) Pada umumnya pemisah tidak dapat memutuskan arus, tidak dapat memutuskan arus yang kecil, misalnya arus pembangkitan trafo atau arus pemuat riil, tetapi pembukaan dan penutupannya harus dilakukan setelah pemutus tenaga lebih dulu dibuka. Untuk menjamin bahwa kesalahan urutan operasi tidak terjadi, maka harus ada keadaan saling mengunci (interlock), antara pemisah dan pemutus beban. Seperti pemisah

yang terdapat di GI dalam rangkaian kontrolnya terdapat rangkaian interlock yang akan mencegah bekerjanya saklar pemisah apabila pemutus tenaganya masih tertutup. Jika dikerjakan dengan tangan (manual), maka untuk mencegah kesalahan kerja, dipakai lampu sebagai tanda boleh kerja di dekat kontak operasi kontrol dari ruangn kontrol. Cara lain adalah dengan menggunakan kunci untuk masing-masing kontak kontrol atau kunci rangkap (doublet). Dalam pemakaiannya PMS ini berfungsi untuk memisahkan perlengkapan sistem dan perlengkapan sistem rel-rel yang bertegangan sewaktu ada perbaikan. Contoh pemisah adalah load break switch (LBS), dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Dapat digunakan

sebagai pemisah ataupun pemutus tenaga dengan beban nominal.

2. Tidak dapat memutuskan jaringan dengan sendirinya pada waktu ada gangguan listrik. 3. Dibuka dan ditutup hanya untuk memanipulasi beban. Pemutus Beban (Cut Out) Cut Out berfungsi sebagai pengaman lebur, jika ganguan arus lebih yang melebihi kapasitas hantaran Cut Out, maka hantaran tersebut akan melebur dan beban trafo distribusi akan terlepas dari sistem yang bertegangan dari saluran pengirim daya. Berbeda halnya dengan pemutus tenaga yang terdapat pada GI terdapat banyak macam pemutus beban yang dikenal, antara lain : 1. Pemutus beban minyak volume kecil, adalah jenis pemutus tenaga minyak yang kontakkontak pemutusnya ada di dalam tabung isolator porselin. 2. Pemutus beban udara dan pemutus beban semburan udara, adalah sejenis pemutus ketika busur api terjadi dipadamkan dengan menghembuskan udara kepadanya dan mendorongnya ke ruang pemadam busur. Berbeda dengan pemutus minyak, pemutus semburan udara ( air blast ) tidak membutuhkan penggantian minyak yang biasanya cukup merepotkan. 3. Pemutus gas SF6, adalah sejenis pemutus yang menggunakan gas SF6 (sulfur Hexafluoride) sebagai bahan pemadam busur api yang mengguna-kan udara tekan. Pemutus ini memiliki keuntungan tidak terpengaruh oleh keadaan cuaca, tidak membahayakan manusia, hampir tidak memerlukan pemeliharaan dan mudah

dipasang.

Dalam

Perkembangan

teknologinya

memberikan harapan

yang

menggembirakan dalam pemutusan tegangan tinggi. Lightning Arrester (LA) Lightning Arrester merupakan alat untuk melindungi isolasi atau peralatan listrik terhadap tegangan lebih yang diakibatkan oleh sambaran petir yang dari suatu penyambungan atau pemutusan rangkaian tanpa gangguan sistem. Bila terjadi tegangan lebih akibat petir pada jaringan, maka arrester be-kerja dengan menggalirkan arus surja ke tanah, kemudian setelah itu tegangan normal kembali. Pada tegangan operasai normal, arrester harus mempunyai impedansi sangat tinggi. Bila mendapat tegangan transien abnormal di atas harga tegangan tembusnya, maka harus menembus dengan cepat. Arus pelepasan selama waktu tembus tidak boleh melebihi arus pelepasan nominal supaya tidak merusak Arrester. Arus dengan frekuensi normal harus diputuskan dengan segera apabila tegangan transien telah turun di bawah tegangan tembusnya. 3.3.4 Jaringan Tegangan Rendah Jaringan tegangan rendah berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari Gardu Distribusi ke Konsumen tegangan rendah. Tegangan rendah yang digunakan PT. PLN ( persero) adalah 127/220 V dan 220/380 V. Konstruksi Jaringan Tegangan Rendah (JTR) Konstruksi JTR terbagi atas : a. Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) SUTR merupakan jaringan kawat yang berisolasi maupun tidak berisolasi. Bagian utama dari SUTR kawat tak berisolasi adalah tiang listrik (besi, beton), Cross Arm, Isolator dan penghantar Aluminium / Tembaga (Cu) b. Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah (SKUTR) Kabel yang digunakan adalah jenis XLPE yang lebih dikenal dengan namaLVTC ( Low Voltage Twisted Cable). Jenis kabel ini direntangkan di antara tiang penyangga. Bagian utama adalah tiang, kabel dan suspension Clamp Bracket, yang berfungsi untuk menahan kabel pada tiang. Kabel jenis ini sekarang banyak digunakan dalam pemasangan JTR baru karena dianggap kontruksi jenis ini lebih handal.

3.3.5 Konfigurasi Jaringan Keandalan pemasokan daya merupakan tuntutan mutlak pelanggan untuk itu diantisipasi dengan penyusunan pola jaringan distribusi yang sesuai dengan tingkat keandalan yang diinginkan. Tidak semua pelanggan harus dilayani dengan sistem yang mahal, tetapi pelanggan penting ( Industri Usaha, Rumah Sakit dan Lain-lain ) harus mendapat tingkat keandalan yang tinggi. Jenis Konfigurasi Jaringan di Palembang Konfigurasi jaringan yang ada pada sistem Palembang , yaitu : a. Radial Murni Konfigurasi jenis ini adalah konfigurasi jaringan yang paling sederhana dan paling murah pembangunannya. Konfigurasi jaringan jenis ini terutama untuk melayani konsumen yang terletak di ujung jaringan listrik. Pada jaringan radialcabang dari feeder lateral disebut feeder sublateral. Arus yang paling besar mengalir pada jaringan adalah yang paling dekat dengan Gardu Hubung, yang akan semakin berkurang dengan semakin jauh jaraknya, sehingga memungkinkan untuk memperkecil luas penampang dari penghantar. Konfigurasi Jaringan Radial ini keandalanya sangat kurang di mana bila terjadi gangguan pada feeder lateral maka konsumen yang berada di belakang titik gangguan tidak dapat menerima energi listrik. b. Ring Terbuka (Open Ring) Struktur ini merupakan gabungan dari dua buah struktur jaringan radial, di mana pada kedua jaringan dipasang sebuah pemutus (PMT) atau pemisah (PMS).Pada saat terjadi gangguan dan gangguan tersebut dapat diisolir, maka PMT/PMS ditutup sehingga aliran daya listrik ke bagian yang tidak terkena gangguan tidak berhenti. Dalam kondisi normal struktur jaringan ring ini merupakan dua struktur radial.Pada umumnya penghantar dari struktur ini mempunyai ukuran yang sama. Ukuran konduktor ini dipilah sehingga dapat menyalurkan seluruh daya listrik beban struktur ring yang merupakan jumlah daya listrik beban dari kedua struktur radial.Struktur jaringan ini mempunyai keandalan yang cukup, sedangkan biaya pembangunan lebih mahal dibandingkan dengan biaya pembangunan struktur jaringan radial. c. Spindel

Spindel adalah suatu pola jaringan khusus yang ditandai dengan ciri adanya sejumlah kabel keluar dari suatu Gardu Induk / Gardu Hubung yang disebut Out Going Cable menuju kearah suatu titik temu yang disebut Gardu refleksi. Kumpulan kabel ( dalam satu Spindel ) tersebut dimaksudkan untuk menyalurkan energi listrik ke suatu daerah pelayanan meliputi luas daerah antara 10 hingga 25 km . Satuspindle terdiri dari maksimum 6 (enam) buah kabel. Kabel kerja sepanjang kabel ini tersambung dengan Gardu Distribusi dan satu kabel cadangan (exspress feeder) sama sekali tidak tersambung dengan Gardu Distribusi. Kabel kerja disebut Working Cable atau Feeder, sedangkan kabel cadangan disebut Express feeder. Kabel cadangan ini digunakan untuk menormalkan kembali penyaluran energi listrik ke seluruh bagian feeder yang mengalami ganggguan setelah bagian yang terganggu diketahui dan dipisahkan (diisolasikan) terhadap jaringan opeasi. Kabel cadangan ini harus selalu diberi tegangan sehingga jika terjadi gangguan dapat segera dioperasikan bila sewaktu-waktu terjadi gangguan. Seandainya kabel cadangan ini tidak diberi tegangan sebelum pada saat diperlukan sebagai penyalur energi darurat, maka kerusakan sewaktu-waktu pada kabel tersebut baru akan diketahui pada saat pemutusan tenaga kabel tersebut di Gardu Induk. Syarat utama untuk menjamin bekerjanya sistem darurat (emergency system) sebagaimana seharusnya adalah dengan membiarkan instalasi cadangan tetap pada posisi ON terus-menerus. Mengingat perkembangan dasar Spindel adalah Loop terpisah, tanpa kabel cadangan tetapi kedua kabel tersebut masing-masing kemampuan minimal penyalurannya sehingga satu sama lain mampu sebagai cadangan apabila diperlukan. Apabila beban dari salah satu kabel bertambah besar melampaui harga 50% dari kemampuannya, maka sebuah kabel baru harus ditarik. Keadaan ini adalah langkah kedua dari Spindel. Kabel baru yang ditarik merupakan kabel cadangan terhadap kabel kerja lainnya. Rencana Pengembangan Sistem Palembang Untuk mengembangkan sistem yang ada di wilayah kerja PT. PLN (persero) cabang Lubuk Pakam akan dilakukan serangkaian perencanaan, antara lain : 1. pembangunan Beberapa Gardu Induk 2. . pembangunan Beberapa Gardu Hubung

3. Penambahan jalur penyulang. 4. Perbaikan tegangan drop. Rencana Kerja Bagian Distribusi Rencana kerja bagian Distribusi adalah : o Penurunan susut distribusi baik teknis maupun non teknis. o Penurunan jumlah gangguan pada penyulang-penyulang. o Pelaksanaan efisiensi program. o Perbaikan konstruksi penyulang. o Pemeliharaan jaringan tegangan menengah dan rendah. Tingkat Jaminan Pada Sistem Distribusi Sesuai dengan tingkat pertumbuhan kelistrikan di Indonesia, maka PLN tidak saja berusaha memenuhi permintaan listrik yang meningkat, sesuai dengan tuntutan konsumen, tetapi PLN perlu juga memperhatikan mutu keandalan pelayanan yang terdiri dari: a. Frekuensi Frekuensi diharapkan sekonstan mungkin 50 Hz. Frekuensi akan berubah bila terjadi perubahan keseimbangan antara energi yang disuplai fasilitas pembangkit dan energi yang digunakan beban. b. Tegangan Diharapkan tegangan sekonstan mungkin pada tegangan nominal (misalkan pada tegangan rendah tegangan nominal sekarang ialah 220 V fasa tunggal dan 380 V fasa tiga). Variasi tegangan disebabkan sebagai akibat susut tegangan, sebagai akibat bertambahnya beban pada sistem dan beroperasinya pengatur tegangan otomatis yang menggunakan kompensasi jaringan. c. Kelip (Flicker) Kelip ialah susut tegangan sekejap antara 2 % - 30 % dengan frekuensi 1 setiap tahun sampai 20 Hz. Susut tegangan ini diakibatkan oleh pengasutan langsung motor listrik, beroperasinya motor listrik dengan beban yang tidak konstan, beroperasinya tanur busur dan lain sebagainya. d. Ketidakseimbangan Tegangan Kandungan Harmonik

Ketidakseimbangan diukur pada sistem 3 fasa saja dan pengukuran ialah tegangan antar fasa. Tegangan yang tidak seimbang antara lain akan menyebabkan motor-motor induksi menjadi panas. e. Kandungan Harmonik Tegangan suplai dari PLN manapun pembangkit sendiri tidak mungkin berbentuk sinusoidal murni dengan frekuensi 50 Hz. Harmonik antara lain dapat mengurangi efisiensi baik peralatan pensuplai maupun peralatan pemakai.Harmonik dapat berbentuk kontinue maupun tegangan yang sporadic yang dapat mengganggu beroperasinya komputer. f. Hilang Tegangan Sekejap Hilang tegangan sekejap adalah susut tegangan dari 30% - 100% (hilang tegangan) yang disebabkan oleh karena peristiwa hubung singkat atau beroperasinya penutup balik. Untuk hubung singkat pada SUTT dimana digunakan rele jarak sebagai pelindung, lama hilang tegangan sekejap bias antara 80 ms 480 ms. Untuk hubung singkat SUTM, dimana digunakan rele arus lebih biasa sebagai pelindung, hilang tegangan sekejap bias sampai 2 detik. g. Pemadaman Berhentinya suplai listrik disebut . Untuk mengukur parah tidaknya suatu pemadaman digunakan 2 indeks, yaitu : Indeks frekuensi pemadaman rata-rata adalah jumlah banyaknya pemadaman yang dialami konsumen dalam 1 tahun dibagi dengan jumlah konsumen yang dilayani. Satuan kali tiap tahun atau pemadaman tiap tahun. Indeks lama pemadaman rata-rata adalah jumlah lamanya pemadaman yang dialami konsumen dalam 1 tahun dibagi dengan jumlah konsumen yang dilayani. Satuan jam tiap tahun. Kedua indeks pemadaman tersebut dihitung dengan tidak ikut menjumlahkan pemadaman sejenak (momentary interruption). Yang dimaksud dengan pemadaman sejenak ialah pemadaman yang lamanya 5 menit atau kurang.

BAB IV SISTEM PENGAMANAN PADA JARINGAN SUTM 20 KV 3 FASA Sistem pengamanan pada jaringan SUTM ini perlu dikoordinasikan dengan baik, agar keamanan jaringan dapat terpelihara dengan baik sehingga jika terjadi gangguan dapat dilakukan perbaikan dengan cepat. Adapun tujuan dari system pengamanan ini ialah terpeliharanya distribusi pasokan tenaga listrik kepada pelanggan. Sistem yang digunakan pada pengamanan jaringan ini adalah sebagai berikut : 4.1 Pemutus Tenaga Pemutus Tenaga (PMT) adalah alat pemutus otomatis yang mampu memutus /menutup rangkaian pada semua kondisi, yaitu pada kondisi normal ataupun gangguan. Secara singkat tugas pokok pemutus tenaga adalah : 1. Keadaan normal, membuka / menutup rangkaian listrik. 2. Keadaan tidak normal, dengan bantuan relay, PMT dapat membuka sehingga gangguan dapat dihilangkan. 4.2 Relay Arus Lebih (OCR) Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap arus lebih, ia akan bekerja bila arus yang mengalir melebihi nilai settingnya ( I set ). a. Prinsip Kerja Pada dasarnya relay arus lebih adalah suatu alat yang mendeteksi besaran arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus. Harga atau besaran yang boleh melewatinya disebut dengan setting. Relay arus lebih memiliki 2 jenis pengamanan yang berbeda antara lain:

1. Pengamanan hubung singkat fasa Relay mendeteksi arus fasa. Oleh karena itu, disebut pula Relay fasa. Karena pada relay tersebut dialiri oleh arus fasa, maka settingnya (Is) harus lebih besar dari arus beban maksimum. Ditetapkan Is = 1,2 x In (In = arus nominal peralatan terlemah). 2. Pengamanan hubung tanah Arus gangguan satu fasa tanah ada kemungkinan lebih kecil dari arus beban, ini disebabkan karena salah satu atau dari kedua hal berikut: 1. Gangguan tanah ini melalui tahanan gangguan yang masih cukup tinggi. 2. Pentanahan netral sistemnya melalui impedansi/tahanan yang tinggi, atau bahkan tidak ditanahkan. Pada kondisi tersebut, relay pegaman hubung singkat (relay fasa) tidak dapat mendeteksi gangguan tanah tersebut. Agar relay sensitif terhadap gangguan tersebut dan tidak salah kerja oleh arus beban, maka relay dipasang tidak pada kawat fasa melainkan kawat netral pada sekunder trafo arusnya. Dengan demikian relay ini dialiri oleh arus netralnya, berdasarkan komponen simetrisnya arus netral adalah jumlah dari arus ketiga fasanya. Arus urutan nol dirangkaian primernya baru dapat mengalir jika terdapat jalan kembali melalui tanah (melalui kawat netral) Macam-macam karakteristik relay arus lebih : a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay) b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite time relay) c. Relay arus lebih waktu terbalik d. Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay)

Relay ini bekerja seketika (tanpa waktu tunda) ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya, maka relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik (10 20 ms). c. Relay arus lebih waktu tertentu (definite time relay) Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya arus gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung besarnya arus yang mengerjakan relay, d. Relay arus lebih waktu terbalik. Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya. Karakteristik ini bermacam macam. Setiap pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu Standar invers, Very invers dan Extreemly inverse. 4.3 Pemutus Balik Otomatis (Recloser) Pemutus balik otomatis (Automatic circuit recloser = Recloser) ini secara fisik mempunyai kemampuan seperti pemutus beban, yang dapat bekerja secara otomatis untuk mengamankan sistem dari arus lebih yang diakibatkan adanya gangguan hubung singkat.

4.4. Saklar Seksi Otomatis (sectionaliser) Sectionaliser adalah alat perlindungan terhadap arus lebih, hanya dipasang bersamasama dengan PBO yang berfungsi sebagai pengaman back-upnya. Alat ini menghitung jumlah operasi pemutusan yang dilakukan oleh perlindungan back-upnya secara otomatis disisi hulu dan SSO ini membuka pada saat peralatan pengaman disisi hulunya sedang dalam posisi terbuka, pada penggunaan SSO ini biasanya dikoordinasikan dengan peralatan lain, Dari penjelasan gambar diatas, cara kerja dari SSO ini ialah digabungkan dengan PMT (Pemutus tegangan yang biasanya digabung dengan Relay arus lebih) ditempatkan disisi hulu / awal saat jaringan keluar dari penyulang lalu dihubungkan dengan SSO (Saklar Seksi Otomatis / Sectionalizer) yang dihubungkan pula dengan PBO (Pemutus Balik Otomatis / Recloser) sebagai pengaman back-upnya. Sistem pengaman seperti ini bekerja saat terjadi gangguan, dimana PBO melakukan pemutus balik tegangan secara otomatis dan SSO ini menghitung berapa kali PBO ini melakukan tugasnya. Saat jumlah operasi pemutus balik melewati batas jumlah yang ditetapkan oleh SSO ini maka secara otomatis SSO ini akan memerintahkan PMT untuk memutuskan tegangan secara permanen dan gangguan tersebut harus segera diperbaiki oleh petugas pemeliharaan jaringan agar tidak sampai mengganggu pelayanan listrik kepada pelanggan.

4.5. Pelebur (fuse cut out) Adalah suatu alat pemutus, dimana dengan meleburnya bagian dari komponen yang telah dirancang khusus dan disesuaiakan ukurannya untuk membuka rangkaian dimana pelebur tersebut dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi suatu nilai dalam waktu tertentu. Oleh karena pelebur ditujukan untuk menghilangkan gangguan permanen, maka pelebur dirancang meleleh pada waktu tertentu pada nilai arus gangguan tertentu. Dalam menentukan besarnya Ampere sikring / fuse yang dipasang pada jaringan, dapat dihitung dengan suatu persamaan :

4.6. LBS (Load Breake Switch) Adalah suatu alat pemutus tegangan pada jaringan dengan kondisi diberi beban. Alat ini memungkinkan perbaikan jaringan saat terjadi gangguan ditengahtengah jalur jaringan, sehingga tidak sampai memutuskan aliran listrik. Dalam pendistribusian tenaga listrik dari satu jaringan ke jaringan yang lain, akan dijumpai suatu titik temu yang disebut gardu hubung / Key Point. Hal ini memungkinkan untuk mengisi dan menerima distribusi tenaga listrik dari satu penyulang ke penyulang lain yang mengalami gangguan. Dalam pendistribusian tenaga listrik ini, ada yang dikenal dengan istilah :
5

1. Jaringan Spindel : Sistem pendistribusian tenaga listrik yang bisa menyalurkan dan menerima aliran listrik dari satu penyulang ke penyulang lain yang mengalami gangguan. 2. Jaringan Radial : Sistem pendistribusian tenaga listrik yang hanya bisa menerima aliran listrik dari penyulang lain saat penyulang utamanya mengalami gangguan. Dari gambar diatas dapat dijabarkan penjelasannya bahwa Gardu Hubung B dapat menerima pasokan tenaga listrik dari penyulang utamanya (Penyulang B) dan dapat pula menyalurkan tenaga listril ke Gardu Hubung A dan Gardu Hubung C saat penyulang utamanya mengalami gangguan. Sistem pendistribusian seperti ini disebut sistem pendistribusian pola Spindel. Sedangkan sistem pendistribusian pola radial adalah sistem jaringan pendistribusian tenaga listrik yang hanya bisa menerima pasokan tenaga listrik dari penyulang utamanya tanpa bisa menyalurkan tenaga listrik ke jaringan yang lain yang mengalami gangguan, seperti pada Gardu Hubung A dan Gardu Hubung C pada gambar diatas.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Kerja Praktek ( KP ) adalah salah satu bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup ditengah tengah masyarakat (perusahaan atau instansi pemerintah atau swasta ) diluar kampus, dan secara langsung mengidentifikasi serta menangani masalahmasalah yang dihadapi. KP dilaksanakan oleh perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan isi dan bobot pendidikan bagi mahasiswa dan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih besar pada pendidikan tinggi. Dan Kerja praktek merupakan salah satu bukti adanya interaksi antara industri dengan lembaga pendidikan yang merupakan jembatan bagi mahasiswa khususnya, yaitu mengenal dan memahami bagaimana dunia industri itu sebenarnya, sebelum nanti masuk ke dunia industri tersebut. Dari hasil praktek secara langsung dan data-data yang telah diperoleh selama melaksanakan Kerja Praktek di PT. PLN (Persero) Cabang Lubuk Pakam yang meliputi pengamatan langsung kelapangan, analisa proses kerja alat serta kegiatan lain sebagai bagian integral dalam pelaksanaannya. Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa sistem tenaga listrik terdiri atas tiga bagian utama yaitu, sistem pembangkitan, sistem transmisi dan system distribusi. Sistem distribusi tenaga listrik terdiri dari Gardu Induk Distribusi, Jaringan Primer (JTM), Transformator Distribusi, Jaringan Sekunder (JTR). Sistem pengamanan jaringan dilakukan dengan perencanaan koordinasi Pemutus Tenaga (PMT), dengan pengindera OCR dan GRF, Recloser dengan pengindera OCR (Over Current Relay), Sectionaliser dengan pengindera jumlah tegangan hilang / CTO (Count To Open), FCO dengan fuse pelebur untuk pemutus rangkaian akibat hubung singkat karena gangguan atau beban lebih, LBS (Load Breake Switch) yaitu pemutus tegangan pada jaringan dengan kondisi diberi beban. Jaringan SUTM adalah jaringan distribusi tenaga listrik 3 fasa 20 KV yang merupakan jaringan pendistribusian tenaga listrik tegangan menengah yang keluar dari Gardu induk (GI) dan masuk ke Gardu distribusi.

Sistem pengamanan pada jaringan SUTM ini perlu dikoordinasikan dengan baik, agar keamanan jaringan dapat terpelihara dengan baik sehingga jika terjadi gangguan dapat dilakukan perbaikan dengan cepat. Adapun tujuan dari system pengamanan ini ialah terpeliharanya distribusi pasokan tenaga listrik kepada pelanggan. Sedangkan untuk penanganan pemeliharaan gangguan dan perbaikan gangguan dilakukan dengan menggunakan radio komunikasi sebagai alat komunikasi dengan gardu induk saat terjadi gangguan jadi tidak diketahui secara langsung pemantauan jaringannya sehingga harus dipantau dari GI dan APJ terkait lalu dilaporkan statusnya kepada UPJ. 5.2. Saran Sebaiknya PT. PLN (Persero) memperbaiki kondisi manajemennya sendiri yang harus dimonitor, ditinjau kembali dan dikembangkan yang bertujuan untuk memantapkan peran serta PLN dalam pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Ada baiknya PT. PLN menggunakan produksi dalam negeri terutama dalam peralatan peralatan konstruksi listrik yang telah memenuhi Standar Listrik Indonesia (SLI), Standar Industri Indonesia (SII) dan Standar Internasional Elektrotechnical (IEC). Seharusnya PLN lebih memperhatikan tingkat kontinuitas pelayanan listrik pada konsumennya. Demi mempertimbangkan sisi keindahan, seharusnya PLN sudah saatnya mengganti jaringan kabel udara dengan jaringan kabel tanah. Untuk kemajuan PT. PLN sebaiknya teknologi yang digunakan dinamis seiring dengan perkembangan zaman.