Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MIKROBIOLOGI BAKTERI TREPONEMA PALLIDIUM ( SIFILIS )

KELOMPOK 6 Agung Adi Aryono Mugiyono Najjah Khurmaen Radina Kolasari Suherman Sujatmaka Ulfah Yusriatun Wahyuwono A.Khafid A211OOO397 A211OOO425 A211OOO427 A211OOO438 A211OOO449 A211OOO450 A211OOO461 A211OOO463 A211OOO468

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG PROGRAM TRANSFER B.10

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi Menular Seksual (IMS) menyebar cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Baik jenis gonorchea maupun sifilis. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan, sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut Peniru Besar karena sering dikira penyakit lainnya. Data yang dilansir Departemen Kesehatan menunjukkan penderita sifilis mencapai 5.000 10.000 kasus per tahun. Sementara di Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan naik dari 0,2 per 100.000 jiwa pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. Di Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki. Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena sifilis atau

menemukan pasangan seks-nya mungkin terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin.

BAB II PRMBAHASAN

A. PENGERTIAN Sifilis adalah salah satu penyakit menular sexual, penyakit tersebut tersebut ditularkan melalui hubunagn seksual.penyalitini bersifat laten atau dapat kambuh lagi sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis. Penyakit inidapat cepat di obati bilasudah dapat dideteksi dini. Kuman yang menyebabkan penyakit sifillis dapat memasuki tubuh dengan menembus selaput lendir yang normal dan mampu menenbus plasenta sehingga menginfeksi janin (Soedarto,1998). Sifilis adalan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Troponema pallidium . penyakit menular seksual adalah penyakit yang di tularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini sangat kronis, bersifat sistemik dan menyerang hampir seluruh alat tubuh (Hidayat, 2009). Sifillis adalah prnyakit infeksi oleh Troponema pallidium dengan perjalanan penyakit yang kronis, adanya remisi dan aksaserbasi, dapat menyerang semua organ dalam tubuh terutama sistem kardiovaskuler, otak, dan susunan syaraf, serta dapat terjadi sifilis kongenital (Mansjoer,Arif, 2000:153).

Sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan manahun walaupun frekuensinya penyakit ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, syaraf, dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayinya yang di kandungannya. Sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering di sebut juga Lues Raja Singa. Berdasarkan beberapa teori tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa sifilis adalah penyakit infeksi yang dapat digolongkan Penyakit Menular Seksual (PMS), yang disebabkan oleh Treponema pallidium , yang bersifat kronis dan bekerja secara sistemik.

KLASIFIKASI PENYAKIT SIFILIS PRIMER Gejala pertamanya adalah munculnya bisul kecil keras yang disebut syanker pada situs infeksi. Biasanya di ujung batang pelir pada pria dan di leher rahim atau vagina wanita. Syanker itu terlihat jelas pada pria, tetapi pada wanita seringkali tersembunyi. Bisul itu tidak gatal ataupun sakit. Jadi sifilis primer dapat berkembang tanpa diketahui. Treponema biasanya dapat ditemukan di dalam syanker semacam itu melalui pemeriksaan mikroskopis medan gelap. Juga dalam stadium ini, spiroketa menyerang kelenjar getah bening, menyebabkan menjadi lebih besar dan keras. Setelah 3-5 minggu, syanker itu

sembuh secara spontan, dan penyakit itu dari luar nampak tenang-tenang saja. Tetapi sementara itu organisme tersebut disebarkan lewat aliran darah ke seluruh tubuh. SIFILIS SEKUNDER Stadium penyakit ini di dahului oleh ruam ( pemunculan pada kulit) yang timbul setiap saat pada 2 sampai 12 minggu setelah hilangnya syanker. Penyakit itu sekarang tersebar umum dan juga terjadi limfodenopati (kelenjar getah belling yang berpenyakit) yang tersebar luas. Sifilis disebut pula "peniru besar" karena gejala-gejala yang timbul pada stadium ini mirip dengan yang ditimbulkan oleh penyakit lain seperti flu atau mononuleosis menular. Selain ruam gejala-gejala lainnya meliputi radang tenggorokan, kelenjar getah bening yang lembek, demam, lesu dan pusing. Kadang-kadang disertai rontoknya rambut sebagian-sebagian. Luka patogenik terjadi pada selaput lendir, mata, dan sistim syaraf pusat luka-luka ini penuh dengan treponema. Korban dapat menderita hanya satu atau dua dari seluruh gejala penyakit ini atau semua gejala. Stadium ini berlangsung beberapa minggu, dan gejala-gejalanya termasuk luka-luka patogenik, hilang tanpa pengobatan. Tetapi sementara itu treponema mungkin sudah mulai menyerang organ-organ lain dalam tubuh. Seorang penderita dapat menularkan penyakit ke orang lain hanya bila menderita sifilis stadium primer dan sekunder, yang berlangsung sampai selama 2 tahun.

SIFILIS LATEN Bila tidak diobati, sifilis sekunder berlanjut menjadi sifilis laten. Selama stadium ini penderita sama sekali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Stadium ini dapat berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Stadium laten hanya dapat diketahui dengan melakukan uji darah (serologis). SIFILIS TERSIER ATAU LANJUT Stadium ini timbul pada sekitar 30% dari orang-orang yang tidak diobati dan dapat terjadi 5 sampai 40 tahun sesudah infeksi mula-mula. Hasil kerja spiroketa secara diam-diam tetapi mematikan selama stadium laten itu menjadi jelas. Luka-luka patogenik tersier terjadi pada sistim safar pusat, sistim pembuluh darah jantung, kulit dan organ-organ vital lain seperti mata, otak, tulang, ginjal dan hati. Luka-luka ini yang disebut gumata lalu pecah dan menjadi borok .Penderita dapat terserang sakit jiwa, kebutaan atau penyakit jantung ; dan akhirnya dapat meninggal. SIFILIS SYARAF Selama stadium early, sepertiga dari penderita sifilis dapat terkena susunan syaraf pusatnya dan setengah dari golongan ini jika tidak mendapat pengobatan akan menderita laten neurosifilis, yang jaraknya dari stadium primer dapat mencapai waktu lebih dari 5 tahun. Penyakit ini terjadi tanpa gejala, sedangkan gejala klasik dapat timbul dalam bentuk dementia paralytica,

tabes dorsalis dan sebagainya. Gejala penyakit yang timbul juga dapat menyerupai penyakit saraf lainnya. SIFILIS KARDIOVASKULER Setelah 10-40 tahun sejak terjadinya sifilis primer, penderita yang tidak mendapat pengobatan dapat,menunjukkan tanda-tanda terkena sistim kardiovaskuler. Terjadi kelainan sifilis pada aorta dan arteritis paru-paru. Reaksi peradangan yang terjadi dapat menyebabkan stenosis yang berakibat angina, insufisiensi miokardium yang dapat mengakibatkan kematian. SIFILIS KONGENITA Sifilis kongenita merupakan penyakit sifilis yang timbul pada bayi waktu lahir, beberapa waktu atau beberapa tahun sesudahnya. Wanita hamil yang sedang menderita sifilis, terutama stadium sekunder, dapat

menularkannya pada bayi yang sedang dikandungnya secara transplasenta. Treponema pallidum yang terdapat dalam peredaran darah ibu masuk ke janin pada waktu kehamilan minggu ke 16. Pada saat itu lapisan gel Langhans telah menjadi atropik. Jika infeksinya terjadi secara masif,maka dapat

mengakibatkan kematian janin, atau bayi lahir terus mati. Infeksi treponema juga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intra atau ekstrauteri. Jika wanita hamil baru terkena sifilis pada waktu 6 minggu terakhir kehamilannya, maka biasanya janin belum sempat terkena sifilis, karena kuman belum sempat tersebar di dalam peredaran darah ibu.

SIFILIS KONGENITA PRAEKOKS Penyakit ini mulai menunjukkan gejala pada waktu bayi lahir atau setelah berumus 1-3 bulan. Terlihat bullae pada telapak tangan, condylomata lata, osteochondritis atau periostitis epiphysis tulang panjang yang dapat menyebabkan terjadinya pseudoparalisis dari Parrot, kelainan pada tulang tibia atau sabre bone, terjadi patah tulang spontan atau penonjolan tulang dahi. Selain itu dapat terjadi gejala penyumbatan hidung atau snuffle-nose, hepatosplenomegali, atropi dan distropi otot, sehingga berat badan statis tidak bertambah. SIFILIS KONGENITA TARDA Penyakit ini mulai menunjukkan gejala pada usia lebih dari satu tahun sampat usia 6- 7 tahun. Akan ditemukan trias Hutchinson, yaitu berupa tuli syaraf ke-8 atau tuli perseptif, defo~itas gigi seri atas tengah dan keratitisinterstitialis.

B. MORFOLOGI Treponema pallidum merupakan salah satu bakteri spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral. Terdapat empat subspecies yang sudah ditemukan, yaitu Treponema pallidum pallidum, Treponema pallidum pertenue,

Treponema pallidum carateum, dan Treponema pallidum endemicum. Tulisan ini akan membahas Treponema pallidum pallidum yang merupakan penyebab sifilis.

Treponema pallidum pallidum merupakan spirochaeta yang bersifat motile yang umumnya menginfeksi melalui kontak seksual langsung, masuk ke dalam tubuh inang melalui celah di antara sel epitel. Organisme ini juga dapat ditularkan kepada janin melalui jalur transplasental selama masa-masa akhir kehamilan. Struktur tubuhnya yang berupa heliks memungkinkan Treponema pallidum pallidum bergerak dengan pola gerakan yang khas untuk bergerak di dalam medium kental seperti lender (mucus). Dengan demikian organisme ini dapat mengakses sampai ke sistem peredaran darah dan getah bening inang melalui jaringan dan membran mucosa. Pada tanggal 17 Juli 1998, suatu jurnal melaporkan sekuensi genom dari Treponema pallidum. Treponema pallidum pallidum adalah bakteri yang memiliki genom bacterial terkecil pada 1.14 million base pairs (Mb) dan memiliki kemampuan metabolisme yang terbatas, serta mampu untuk beradaptasi dengan berbagai macam jaringan tubuh mamalia.

C. CARA PENULARAN Sifilis disebabkan oleh bakteri yang disebut spiroketa. Penyebarannya tidak seluas gonorea, tetapi lebih menakutkan karena kerusakan yang mungkin ditimbulkannya lebih besar. Seperti gonorea, penyakit ini disebarkan melalui kontak langsung dengan luka-luka pada orang yang ada pada stadium menular. Spiroketa, seperti gonokokus, adalah mikrobe yang tidak tahan berada di luar tubuh manusia, sehingga kemungkinan tertulari dari benda mati sangat kecil. Treponema pallidum masuk ke dalam tubuh sewaktu terjadi hubungan kelamin melalui luka-luka goresan yang amat kecil pada epitel, dengan cara menembus selaput lendir yang utuh ataupun mungkin melalui kulit yang utuh lewat kantung rambut. Masa inkubasi sifilis berkisar 10-90 hari (rata-rata 21 hari) setelah infeksi. Bila tidak diobati, sifilis dapat timbul dalam beberapa stadium penyakit. Adapun cara penulaannya bisa melalui : a. Melalui kontak langsung dengan penderita sifilis b. Luka terjadi terutama pada alat kelamin eksternal, vagina, anus atau di dubur. Luka juga dapat terjadi di bibir dan dalam mulut c. Wanita hamil dengan penyakit ini dapat terbawa ke bayi d. Hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral).

D. KELAINAN Treponema Pallidium adalah bakteri penyebab Sifilis atau penyakit Raja Singa adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang kompleks, disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik. Hampir semua alat tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan saraf. Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyababkan kelainan bawaan atau bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi dan diobati, sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak diobati, sifilis dapat berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian tubuh lain di luar alat kelamin. gejala yang mungkin terjadi pada wanita, yang terurai dalam empat stadium berbeda. Stadium satu. Stadium ini ditandai oleh munculnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina, poros usus atau mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang. Stadium ini merupakan stadium yang sangat menular. Stadium dua. Kalau sifilis stadium satu tidak diobati, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan

tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu. Stadium tiga. Kalau sifilis stadium dua masih juga belum diobati, para penderitanya akan mengalami apa yang disebut dengan sifilis laten. Hal ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang dalam tubuh, dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh. Sifilis laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya. Stadium empat. Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium ini, spirochaeta telah menyebar ke seluruh tubuh dan dapat merusak otak, jantung, batang otak dan tulang.

Sedangkan pada lelaki yang telah tertular oleh sifilis memiliki gejalagejala yang mirip dengan apa yang dialami oleh seorang penderita wanita. Perbedaan utamanya ialah bahwa pada tahap pertama, chancre tersebut akan muncul di daerah penis. Dan pada tahap kedua, akan muncul luka-luka di daerah penis, mulut, tenggorokan dan dubur. Orang yang telah tertular oleh spirochaeta penyebab sifilis dapat menemukan adanya chancre setelah tiga hari tiga bulan bakteri tersebut

masuk ke dalam tubuh. Kalau sifilis stadium satu ini tidak diobati, tahap kedua penyakit ini dapat muncul kapan saja, mulai dari tiga sampai enam minggu setelah timbulnya chancre. Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung. Masa inkubasi bakteri Treponema pallidium antara 1090 hari dengan gejala, Tahap I 9-90 hari setelah terinfeksi akan timbul luka kecil bundar dan tidak sakit, tepatnya pada kulit yang terpapar/ kontak langsug denag penderita.tempat masuknya penyakit hampir selalu didalam dan sekitar genetalia, anus bahkan mulut. Tahap II 1-2 bulan kemudian muncul gejal lain, seperti sakit tenggorokan, sakit pada bagian dalam mulut, nyeri otot,demam, lesu, rambut rontok dan terdapat bintil. Beberapa bulan kemudian akan menghilang, sejumlah orang tidak akan mengalami gejala lanjutan.

Tahap III Dikenal sebagai tahap akhir siflis. Pada fase ini telah menimbulkan kerusakan fatal dalam tubuh penderita. Dalam fase ini akan muncul gejala kebutaan, tuli, borok, pada kulit, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh, dan gila.

E. PENCEGAHAN Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain: 1. 2. Tidak berganti-ganti pasangan Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan pempratikkan protective sex. 3. Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi. 4. Menghindari alkohol dan penggunaan narkoba juga

dapatmembantu mencegah penularan sifilis, karena kegiatan tersebut dapat mengakibatkan perilaku seksual beresiko. 5. Menggunakan kondom saat berhunungan , mencegah penularan PMS. 6. Menjauhkan diri dari kontak seksual yang diketahui terinfeksi.

Tidak ada vaksin terhadap sifilis. Untuk perseorangan penggunaan kondom sangat efektif. Untuk masyarakat, cara utama pencegahan sifilis ialah melalui pengendalian yang meliputi pemeriksaan serologis dan pengobatan penderita. Sifilis bawaan dapat dicegah dengan perawatan prenatal (sebelum kelahiran) yang semestinya.

F. PENGOBATAN Penderita Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya. Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4500 mg/hr, atau eritromisin 4500 mg/hr, atau doksisiklin 2100 mg/hr Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan untuk mengurangi rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap pantat karena bila dijadikan satu dosis akan menyebabkan rasa sakit. Cara lain adalah memberikan kapsul azithromycin lewat mulut (memiliki durasi yang lama) dan harus diamati. Cara ini mungkin gagal karena ada beberapa jenis sifilis kebal terhadap azithromycin dan sekitar 10% kasus terjadi pada tahun 2004. Perawatan lain kurang efektif karena pasien diharuskan memakan pil beberapa kali per hari.

Sifilis mudah untuk disembukan dalam tahap awl, suntikan intra muskuler tungal dari pemnisin, antibiotik, akan menyembuhakan orang yang memiliki sifilis kurang dari satu tahun. Dosis di tambahkan untuk mengobati orang yang memiliki sifilis selama lebih dari satu tahun. Bagi penderita yang alergi dengan penisilin,antibiotik lain yang tersedia untuk mengobati sifilis, pengobatan akan membunuh bakteri sifilis dan mencegah kerusakan lebih lanjut,tetapi tidak akan memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan. Pengobatan sifilis dalam kehamilan yitu dengan penisilin 1 kali penyuntiksn dirasa cukup adekuat, meski beberapa penderita memerlukan 1-3 kali suntkan penisilin.dokter akan menderita yang telah menjalani medikasi untuk melakuka tes darah setahun kedepan, yang dumaksudkan untuk memastikan bahwa bakreri telah lisis dari tubuh penderita.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidium, cara penularan penyakit sifilis tidak jauh beda dengan penularan penyakit menular sexual lainya, penularan melalui cairan tubuh melalui mukosa. Sifilis mempunyai beberapa tingkatan yang merupakan klasifikasi dari gejala gejala yang timbul. Pengobatan sifilis dapat dengan pemberian obat obatan antibiotik, pemberian obat obatan ini tidak memperbaiki bagian yang rusak tetapi hanya pencegah agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut Pencegahan sifilis dapat kita lakukan seperti tidak berganti ganti pasangan sexual, menggunakan kondom saat berhubungan sexual agar memperkecil kemungkinan tertular penyakit sifilis.

B. SARAN Setelah membahas penyakit Sifilis, hal terbesar yang sebaiknya kita lakukan adalah agar lebih menanamkan perilaku hidup sehat, seperti kebiasaan sehari hari dan perilaku sex. Dan apabila sudah positif mengidap harus segera dilakukan pengobatan yang tepat

DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI

Mochtar Rusram R. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC Prawirohardjo Sarwono.2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBS Prawirohardjo Sarwono.2007. Ilmu Kebidanan Edisi Kedua. Jakarta:YBS Sastrawinata Sulaeman R.1981. Obstetri Patolaogi Bagian Obstetri dan Ginokelogi. Bandung : Fakultas Kedokteran Universutas Padjajaran