Anda di halaman 1dari 67

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Praktek Klinik Keperawatan Jiwa II di Bogor dengan judul : ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN ISOLASI SOSIAL Di RUANG YUDISTIRA RS.Dr.H.MARZOEKI MAHDI BOGOR. Dalam menyelesaikan makalah ini kami banyak menemukan hambatan, namun berkat bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini, untuk itu kami perkenankanlah kami pada kesempatan ini mengucapkan terimakasih. Kepada : 1. Ibu Santhy K.Samuel,SPd, MKes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Palangkaraya. 2. Bapak Direktur Utama RSMM Bogor dr. Ery Dharma Irawan,SpKJ 3. Bapak Husen A Rachman, AMK selaku Kepala Ruangan Yudistira RSMM Bogor. 4. Ibu Ernawati, AMK selaku pembimbing di yudistira RSMM Bogor. 5. Bapak Mamat Sutedi, AMK selaku pembimbing di yudistira RSMM Bogor 6. Bapak Ns.Syamani,SKep,MKep selaku koordinator mata kuliah keperawatan jiwa II. Semoga amal kebaikan mereka diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa,kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan.Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami pembaca sekalian.

Bogor , September 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang .3 B. Tujuan Penulisan .4 C. Ruang Lingkup 4 D. Metode Penulisan 4 E. Sistematika Penulisan ..5 BAB II TINJAUANTEORI A. Pengertian 6 B. Penyebab Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi .6 C. Rentang Respon ..8 D. Tanda Dan Gejala 9 E. Pohon masalah .9 F. Diagnosa Keperawatan 9 BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian .10 B. Pohon Masalah ..33
C. Daftar diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas 33

D. Analisa Data ..33 E. Rencana Tindakan Keperawatan ...35 F. Catatan Perkembangan ..49 Implementasi .49 Evaluasi .49

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian ...55 B. Diagnosa Keperawatan ...56 C. Perencanan ..57 D. Implementasi Keperawatan .57 E. Evaluasi ...58

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 59 B. Saran ..59 DAFTAR PUSTAKA .....60 Strategi Pelaksanaan 61

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Kecenderungan meningkatnya angka gangguan mental dikalangan masyarakat saat ini dan yang akan datang akan terus menjadi masalah sekaligus tantangan bagi tenaga kesehatan khususnya profesi keperawatan. Krisis multi dimensi telah mengakibatkan tekanan yang berat pada sebagian besar masayarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Masyarakat yang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan mengalami gangguan kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental yang pada akhirnya menurunkan produktifitas kerja, kualitas hidup secara nasional, negara telah dan akan kehilangan satu generasi sehat yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa. Salah satu prilaku yang muncul pada gangguan mental adalah Isolasi sosial. Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu membuat kontak (Capernito, 2001, hal. 389). Penulis mendapatkan data diruang YUDISTIRA Rumah sakit Dr.H. Marzoeki Mahdi , Bogor pada bulan September 2012 berjumlah 28 Orang. Dengan Hasil Presentase Masalah No Juni Juli keperawatan 1 Halusinasi 91,19 87,03 2 Isolasi Sosial 84,31 83,3 3 Harga Diri Rendah 51 70,3 Defisit Perawatan 4 49 62,9 Diri Resiko Perilaku 5 31,57 44,4 Kekerasan

Agustus 93,61 44,60 42,55 46.80 29,78

Melihat data presentase diatas yang mengalami Isolasi sosial berada pada urutan yang kedua maka dampaknya bila tidak diatasi dengan baik akan menimbulkan masalah lanjut seperti resiko perilaku kekerasan dan isolasi sosial. Oleh karena itu peran perawat sangatlah penting dalam memberikan asuhan keperawatan diantaranya prefentif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Upaya prefentif yaitu dengan mencegah kegawatan agar tidak dapat terjadi gangguan prilaku.

Upaya promotif yaitu dengan pendidikan kesehatan bagi keluarga tentang merawat klien.Upaya kuratif yaitu kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pemberian pengobatan. Upaya rehabilitatif yaitu membantu klien dalam kegiatan sehari-hari seperti TAK agar klien dapat mandiri dalam kehidupan sehari-hari dan dapat kembali menjalani kehidupan yang normal. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dan membuat makalah ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Tn. dengan Isolasi sosial diruang Yudistira Rumah Sakit Dr.H. Marzoeki Mahdi, Bogor.

B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ilmiah ini adalah : 1. Tujuan Umum Tujuan penulisan yang ingin penulis dapatkan dalam penyusunan makalah ilmiah ini adalah diperolehnya pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Isolasi sosial. 1. Tujuan Khusus a. Dapat melakukan pengkajian pada Tn. dengan Isolasi sosial. b. Dapat menentukan masalah keperawatan pada Tn. dengan Isolasi sosial. c. Dapat merencanakan tindakan keperawatan pada Tn. dengan Isolasi sosial. d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn. dengan Isolasi sosial. e. Dapat melakukan evaluasi pada Tn. dengan Isolasi sosial. f. Dapat mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus g. Dapat mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusinya. h. Dapat mendokumentasikan Asuhan keperawatan pada Tn. Dengan Isolasi sosial.

C. Ruang Lingkup Penulisan makalah ilmiah merupakan pembahasan pemberian asuhan keperawatan pada Tn. dengan Isolasi sosial diruang Yudistira Rumah Sakit Dr.H. Marzoeki Mahdi, Bogor pada tanggal 10 22 September 2012.

D. Metode penulisan Metode yang di gunakan dalam penyusunan makalah ilmiah ini menggunakan : 1. Wawancara Diperoleh dari klien selama perawatan, dari perawat ruangan dan dari catatan medik

2. Observasi Diperoleh data pemeriksan fisik dengan inspeksi dan pemeriksan tanda-tanda vital

3. Studi dokumentasi Pengumpulan data dengan cara mempelajari catatan keperawatan klien yang ada di ruangan baik catatan ruangan maupun catatan medis, sedangkan studi kepustakan yaitu metode yang digunakan penulis dalam mengolah intervensi yang didapat dengan mencari buku sumber yang berhubungan dengan penyakit ini. E. Sistematika Penulisan Dalam penulisan makalah ini, penulis membagi menjadi lima Bab yang tersusun secara sistematis : BAB I : Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan teoritis terdiri dari pengertian konsep dasar menarik diri yang terdiri dari pengertian dan psikodinamika, serta asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, pohon masalah, diagnosa keperawatan, rencana tindakan, evaluasi keperawatan. BAB III : Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.

BAB IV : Pembahasan membandingkan menganalisa antara teori dan kasus, termasuk faktor-faktor pendukung dan penghambatan serta penyelesaiannya dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan. BAB V : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran

BAB II Tinjauan Teori 2.1 Konsep dasar Isolasi Sosial 2.1.1 Pengertian Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain. (Balitbang, dalam Fitria, 2010, hlm. 29) Isolasi sosial adalah keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. (Keliat dan Akemat, 2009, hlm. 93) Selain itu isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman. (Yosep, 2009, hlm. 229) 2.1.2 Etiologi Faktor Predisposisi : Menurut Fitria (2009, hlm. 33-35) ada empat faktor predisposisi yang menyebabkan Isolasi Sosial, diantaranya: a. Faktor Perkembangan Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas perkembangan tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah sosial. Dibawah ini akan dijelaskan tahap perkembangan serta tugas perkembangan, lihat tabel dibawah ini: Tahap Perkembangan Masa Bayi Masa Bermain Masa Prasekolah Masa Sekolah Masa Praremaja Masa Dewasa Tugas Menetapkan rasa percaya. Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri Belajar menunjukan inisiatif, rasa tanggung jawab, dan hati nurani Belajar berkompetisi, bekerja sama, dan berkompromi Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin Menjadi saling bergantung antara orang tua dan

Muda Masa Tengah Baya Masa Dewasa Tua

teman, mencari pasangan, menikah, dan mempunyai anak Belajar menerima hasilkehidupan yang sudah dilalui Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterkaitan dengan budaya

Tabel. Tugas perkembangan berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal (Erik Erikson dalam Stuart, 2007, hlm. 346)

b. Faktor Sosial Budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga di mana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti lanjut usia, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya. c. Faktor Biologis Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perubahan ukuran dan bentuk sel sel dalam limbik dan daerah kortikal. d. Faktor Komunikasi dalam Keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk dalam masalah berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersama atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

Faktor Presipitasi : Menurut Stuart (2007, hlm. 280) faktor presipitasi atau stresor pencetus pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres seperti kehilangan, yang memenuhi kemampuan individu berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Faktor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu sebagai berikut: 1) Stresor Sosiokultural. Stress dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti. 2) Stresor Psikologi. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan.

2.1.3 Rentang Respon RENTANG RESPON NEUROBIOLOGIS Respon Adaptif Respon Maladaptif

- Pikiran logis - Persepsi akurat

- Perilaku kadang menyimpang - ilusi

- Kelainan pikiran atau delusi - halusinasi - Kerusakan proses emosi - perilaku tidak terorganisir

- Emosi Konsisten dengan pengalaman - Prilaku sesuai

- Reaksi Emosial berlebihan atau kurang - Perilaku ganjil/tak lazim

- Hubungan social harmonis

-Isolasi Sosial - Menarik diri.

a. Respon Adaptif Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma social dan budaya secara umum yang berlaku dimasyarakat, dimana individu dapat menyelesaikan masalah dalam batas-batas normal yng meliputi : 1. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan 2. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan. 3. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari ahli. 4. Perilaku social adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran. 5. Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan. b. Respon Psikososial 1. Proses pikir terganggu adalah proses piker yang menimbulkan gangguan. 2. Ilusi adalah mis. Interpretasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi karena rangsangan panca indera 3. Emosi berlebihan atau berkurang 4. Perilaku yang tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran. 5. Menrik diri yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain. c. Respon Mal Adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang norma-norma social budaya dan lingkungan, adapun respon mal adaptif ini meliputi : 1. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh yang dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan social. 2. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah satu persepsi eksternal tidak realita atau tidak ada. 3. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati. 4. Ketidakteraturan adalah perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak teratur. 5. Isolasi social adalah kondisi kesendirian yang dialamioleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatuu kecelakaan yang negatif mengancam.

2.1.4 Tanda dan Gejala Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut: a. Data subjektif : Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki

1. Data objektif : - Tampak menyendiri dalam ruangan. - Tidak berkomunikasi, menarik diri - Tidak melakukan kontak mata - Tampak sedih, afek datar - Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu - Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usianya - Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya - Kurang aktivitas fisik dan verbal - Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi 10) Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya 2.1.5 Komplikasi Adapun komplikasi dari isolasi sosial dapat mengakibatkan terjadinya perubahan sensori persepsi halusinasi dapat mencederai diri sendiri,orang lain dan lingkungan serta dapat terjadi intookransi aktivitas dan defisit perawatan diri . 2.1.6 Pohon Masalah Resiko gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi

Isolasi Sosial Isolasi Sosial

Harga diri rendah 2.1.7 Diagnosa Keperawatan a. Isolasi Sosial b. Harga Diri Rendah c. Resiko Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial


1. Pengkajian Tahap pengkajian terdiri dari factor predisposisi, factor presipitasi, perilaku dan mekanisme koping. Faktor Predisposisi a. Faktor Biologi Faktor genetic dapat menunjang terhadap respon Sosial maladaptive. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini. Masih diperlukan penelitian. b. Faktor Perkembangan Tiap gangguan dalam tugas perkembangan yang disebutkan akan mencetuskan seseorang sehingga mempunyai masalah respon Sosial maladaptive. c. Faktor Komunikasi dalam keluarga Keluarga yang sering memberikan penilaian yang negatif pada anak. Seperti tidak membolehkan anak mengungkapkan pendapatnya. Orang tua yang selalu ingin anaknya mengikuti semua keinginan orang tua akan menyebabkan atau mempengaruhi respon maladaptife. d. Faktor Sosial Kultural Akibat dan norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti orang cacat dan berpenyakit kronik. 3. Faktor Presipitasi a. Stresor Sosio Kultural a) Menurunnya stabilitas unit keluarga b) Berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupan c) Kontak yang berkurang dlam satu keluarga d) Pindah tempat tinggal b. Stresor Psikologis a) Kegagalan b) Rasacemas yang berlebihan dan berkepanjangan c. Perilaku a) Pencemburu b) Marah jika orang lain tidak mendukung c) Harga diri yang rapuh atau rendah d. Koping Mekanisme Individu yang mempunyai respon Sosial maladaptive menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas proyeksi pemisahan : melaporkan kesalahan pada orang lain merendahkan orang lain ( Stuart & Sundeen 2002).

10

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

NO DX 3

Tgl

Diagnosa Keperawatan Isolasi Sosial

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN TUJUAN TUM : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain TUK : 1. 1. Setelah 1 x interaksi klien Bina hubungan saling percaya dgn Klien dapat menunjukkan tanda-tanda percaya membina Beri salam setiap interaksil hubungan saling kepada/terhadap perawat : Perkenalkan nama, nama percaya panggialan, dan tujuan perawat berkenalan Wajah cerah, terseyum Tanyakan nama lengkap & Mau berkenalan nama panggilan yang klien Ada kontak mata sukai Bersedia mengungkapkan Buat kontrak yg jelas masalahnya Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya KRITERIA HASIL TINDAKAN KEPERAWATAN RASIONAL

11

2. Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri

Tunjukkan sikap empati menerima apa adanya Beri perhatian pd klien & perhatikan kdm Tanyakan perasaan klien & masalah yg dihadapiklien Dengarkan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

2. Setelah 1x interaksi klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri dari : Diri sendiri Orang lain lingkungan

2. Tanyakan pada klien tentang : Orang yang tinggal serumah dengan klien/teman sekamar klien Orang yang paling dekat dengan klien dirumah/diruang perawatan Apa yang membuat klien dekat dgn orang tersebut Orang yang tidak dekat dengan klien dirumah/di ruang perawatan Apa yang klien tidak dekat dgn orang tsb Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain 3. Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain 4. Beri pujian terhadap kemampuan klien

Diketahuinya penyebab dan dapat dihubungkan dengan faktor presipitasi yang dialami klien

12

mengungkapkan perasaan

3. Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri

3. Setelah 2.x interaksi dgn klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan sosial, misalnya : Banyak teman Tidak kesepian Bisa diskusi Saling menolong Dan kerugian menarik diri : Sendiri Kesepian Tidak bisa diskusi

3.1 Tanyakan pada klien tentang : Manfaat hubungan sosial Kerugian menarik diri 3.2 Diskusikan bersama klien tentang manfat berhubungan sosial dan menarik diri 3.3 Beri pujian terhadap klien atas kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

Mengevaluasi manfaat yang dirasakan sehingga timbul motivasi untuk berinteraksi

4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap

4. Setelah 2x interaksi klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan perawat : Perawat lain Klien lain kelompok

4.1 Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial 4.2 Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan berkomunikasi dengan : Perawat lain Klien lain Kelompok 4.3 Libatkan klien dalam terapi aktifitas kelompok sosialisasi 4.4 Diskusikan jadwal harian yang

Meningkatkan hubungan sosial klien

13

dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi 4.5 Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat 4.6 Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktifitas yang dilaksankan

5. Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial

5. Setelah 2.x interaksi klien dapat 5.1 Diskusikan dengan klien menjelaskan perasaannya setelah tentang perasanya setelah berhubungan sosial dengan : berhubungan sosial dengan : Orang lain kelompok Orang lain Kelompok

Mengurangi beban pikiran dan mengevaluasi perasaaan klien

5.2 Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya 3. Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial

3. Setelah 1x interaksi pertemuan keluarga dapat menjelaskan tentang :

3.1 Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagi pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri 3.2 Diskusikan potensi keluarga

Meningkatkan penyembuhan klien

14

Pengertian isolasi sosial Tanda dan gejala menarik diri Penyebab dan akibat menarik diri Cara merawat klien menarik diri

untuk membantu klien mengatasi perilaku menarik diri 3.3 Jelaskan pada keluarga tentang : Pengertian menarik diri Tanda dan gejala menarik diri Penyebab & akibat menarik diri Cara merawat klien menarik diri

3.4 Latih keluarga cara merawat klien menarik diri 3.5 Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan 3.6 Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi 3.7 Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien dirumah sakit 4. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik 4.1 Setelah 1x interaksi klien menyebutkan Manfaat minum obat Kerugian tidak minum obat 4.1 Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna dosis, cara, efek terapi dan efek

15

Nama, warna, dosis, efek samping obat 4.2 Setelah ...x interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar 4.3 Setelah ...x interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter

samping penggunaan obat 4.2 Pantau klien saat penggunaan obat 4.3 Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar 4.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter 4.5 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

16

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

NO. DX

Tgl

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN

RENCANA TINDAKAN KEPARWATAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

TUM: Klien memiliki konsep diri yang positif 1.1.a Bina hubungan saling 1.1. Setelah interaksi, percaya dengan menggunakan klien menunjukkan prinsip komunikasi terapeutik. Ekspresi wajah bersahabat Sapa klien dengan Menunjukkan rasa ramah baik verbal senang maupun non verbal. Ada kontak mata Tanyakan nama Mau berjabat tangan lengkap Mau menyebutkan Jelaskan tujuan nama pertemuan Mau menjawab Jujur dan menepati salam janji Klien mau duduk Tunjukkan sikap berdampingan empati dan menerima dengan perawat klien apa adanya Mau mengutarakan Beri perhatian pada masalah yang klien dan perhatikan dihadapi. kebutuhan dasar klien Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.

TUK: 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

17

2. Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki.

2.1. Setelah interaksi klien menyebutkan: Aspek positif dan kemampuan yang dimiliki klien. Aspek positif keluarga. Aspek positif lingkungan klien.

2.1.a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.

Mendiskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, control diri atau integritas ego diperlukan sebagai dasar asuhan keperawatan.

2.1.b. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negative.

Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri

2.1.c. Utamakan memberi pujian yang realistic.

Pujian yang realistic tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapat pujian. Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimilki adalah prasat untuk

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan.

3.1. Setelah interaksi klien menyebutkan kemampuan yang dapat dilaksanakan.

3.1.a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan.

18

berubah.

3.1.b. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya.

Pengertian tentang kemampuan yang dimilki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya.

4. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

4.1. Setelah interaksi klien menbuat rencana kegiatan.

4.1.a. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan klien: Kegiatan mandiri. Kegiatan dengan bantuan. 4.1.b. Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien 4.1.c. Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.

Klien adalah individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya.

Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan.

19

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai rencana yang dibuat.

5.1. Setelah interaksi klien melakukan kegiatan sesuai jadwal yang dibuat.

5.1.a. Anjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan. 5.2.b. Pantau kegiatan yang dilaksanakan.

Memberikan kesempatan kepada klien mandiri di rumah. Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri. Memberikan kesempatan kepada klien untuk tetap melakukan kegiatan yang biasa dilakukan

5.3.c. Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien.

5.4.d. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang. 6.kien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada dikeluarga.

6.1. Setelah interaksi klien memanfaatkan system pendukung yang ada dikeluarga.

6.1.a. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.

Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah. Support system keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses

6.1.b. Bantu keluarga member dukungan selama klien dirawat.

20

penyembuhan klien

6.1.c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

No. Dx

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Tgl DX TUJUAN Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran TUM : Klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya KRITERIA HASIL TINDAKAN KEPERAWATAN Bina hubungan saling percaya dgn menggunakan prinsip komunikasi terapeitik : Sapa klien dgn ramah baik verbal/non verbal Perkenalkan nama, nama panggialan, dan tujuan perawat berkenalan Tanyakan nama lengkap & RASIONAL

1.2

Setelah x interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya pd perawat : Ekspresi wajah bersahabat Menunjukkan rasa senang

Pembinaan hubungan saling percaya merupakan dasar terjadinya komunikasi terapeutik Pemahaman klien dalam mengenal

21

Ada kontak mata Mau berjabat tangan Mau menjawab salam Mau duduk berdampingan dgn perawat Bersedia mengungkapkan masalah yg dihadapi

nama panggilan yang klien sukai Buat kontrak yg jelas Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi Tunjukkan sikap empati menerima apa adanya Beri perhatian pd klien & perhatikan kdm Tanyakan perasaan klien & masalah yg dihadapiklien Dengarkan penuh perhatian ekspresi perasaan klien Adakan kontak sering & singkat secara bertahap Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya (*dengar/lihat/penghidu/raba /kecap) Jika menemukan klien yang sedang halusinasi :

halusinasi akan membantu klien untuk mengenal gejala sehingga dapat mengendalikan kondisi dirinya pada saat timbul halusinasi

TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya

2. Setelah 2x interaksi klien menyebutkan : Isi Waktu Frekwensi Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi

2.1. 2.2.

Tanyakan apakah klien mengalami sesuatu Jika klien menjawab ya, tanyakan apa yg sedang dialaminya Katakana pd klien bahwa perawat percaya klien

22

mengalami hal tsb, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dgn nada bersahabat tanpa menuduh) Katakana bahwa ada klien lain yg mengalami hal tsb Katakana bahwa perawat akan membantu klien, jika klien tidak sedang berhalusinasi(klarifikasi ttg adanya pengalaman halusinasi) pagi, siang, sore, atau malam hari, sering/kadang-kadang) Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi

Identifikasi perilaku yang bermasalah membantu klien dan perawatan mencapai perubahan yang dinginka

2. Setelah 2x interaksi klien menyatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusinasi : Marah Takut Sedih

Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaanya Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut

Identifikasi tindakan yg dilakukan membina klien & perawat menimbulkan alternative tindakan Reinforcement positif akan

23

Senang Cemas Jengkel

Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasinya

TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya 3.1 Setelah 3 x interaksi klien menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya. 3.2 Setelah 3 x interaksi klien menyebutkan cara baru mengontrrol halusinasinya. 3.3 Setelah 3 x interaksi klien dapat memilih dan memperagakan cara mengatasi halusinasi (dengar/lihat/penghidu/ra ba/kecap) 3.4 Setelah 3 x interaksi klien melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya. 3.5 Setelah 4 x pertemuan klien mengikuti terapi aktifitas kelompok (TAK)

3.1 Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan diri, dll) 3.2 3.3 Diskusikan cara yang digunakan klien: Jika cara yang digunakan adaptif beri pujian Jika cara yang digunakan maladaptif diskusikan kerugian cara tersebut 3.4 Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi : Katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata Menemui orang lain untuk menceritakan tentang halusinasinya

menaikkan harga diri & mendukung perilaku klien yg diharapkan Memberikan dukungan kpd klien untuk dapat mengendalikan situasinya sendiri secara bertahap dalam menghadapi halusinasi Kesenmpatan yg diberikan utk klien memilih cara yg dilatih Meminimlakan/mem utuskan kontak klien dgn halusinasinya

Peran serta keluarga maupun umpan balik yg berupa dukungan positif thdp klien saat mengalami halusinasi Peningkatan pengetahuan keluarga akan menjadi/membuat keluarga dpt melakukan tindakan alternative agar klien

24

3.5

3.6

3.7

3.8

Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang telah disusun Meminta keluarga/ teman/perawat menyapa jika sedang butuh halusinasi Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jka berhasil berikan pujian Anjurkan klien mengikuti terapi aktifitas kelompok, orientasi realita, simulasi persepsi

dpt kembali kedunia realita

TUK 4 : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya

4.1 Setelah 2.x pertemuan keluarga, keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawata 4.2 Setelah 2.x interaksi keluarga, menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan

4.1 Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan

25

untuk mengendalikan halusinasi

TUK 5 : Klien dapatkan manfaatkan obat dengan baik

5.1 Setelah 2x interaksi klien menyebutkan : Manfaat minum obat Kerugian tidak minum 5.1 Diskusikan dengan klien obat tentang manfaat dan kerugian Nama, warna, dosis, tidak minum obat, nama, efek terapi dan efek warna, dosis, cara, efek terapi samping obat dan efek samping penggunaan 5.2 Seteah ...x interaksi klien obat mendemontrasikan penggunaan obat dengan 5.2 Pandu klien saat penggunaan obat benar 5.3 Beri pujian jika klien 5.3 Setelah ....x interaksi menggunakan obat dengan

4.2 Diskusikan dengan keluarga Pengertian halusinasi Tanda dan gejala halusinasi Proses terjadinya halusinasi Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutuskan halusinasi Obat-obatan halusinasi Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah Beri informasi waktu kontrol kerumah sakit dan bagaimana cara memberi bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi dirumah

Dengan mengetahui dosis, frekwensi, & manfaat obat klien & keluarga dpt melaksanakan program pengobatan secara benar

26

klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter

benar 5.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter 5.5 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi halhal yang tidak diinginkan

27

Bab III Tinjauan Kasus

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL DI UNIT RAWAT INAP Dr.H.MARZOEKI MAHDI BOGOR

RUANG RAWAT : YUDISTIRA

TANGGAL DIRAWAT : 10 SEPTEMBER 2012

I.

IDENTITAS KLIEN
Inisial Umur : Tn.S : 25 tahun Tanggal pengkajian : 11 september 2012 RM No : 20-87-19

Informan : pasien dan buku status pasien

II.

ALASAN MASUK
Klien mengatakan sering mendengar suara-suara yang tiba-tiba muncul,suara tersebut mengatakan sesuatu ,sehingga membuat klien kesal dan marah kepada keluarganya.

III.

FAKTOR PREDIPOSISI Klien mengatakan pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.berdasarkan status, klien pernah 2x dirawat di rumah sakit. Pengobatan sebelumnya kurang berhasil,karena mengalami putus obat kurang lebih selama 10 hari klien mengatakan pernah ditolak oleh keluarga. Klien sebelumnya sudah pernah dibawa ke yayasan sosial .Namun,karena tidak juga sembuh ,akhirnya di bawa rumah sakit Dr.H.Marzoeki Mahdi. Klien mengatakan tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Masa lalu klien yang tidak menyenangkan yaitu klien mengatakan keluarganya membawa klien ke rumah sakit ,karena klien tidak mau ketempat tersebut. Sehingga membuat klien sedih dan kecewa. Oleh karena itu, klien mengatakan ingin pulang dari rumah sakit. Selama pengkajian ke pasien, klien belum pernah dikunjungi oleh keluarganya. Masalah keperawatan : Koping keluarga tidak efektif Resiko perilaku kekerasan Resiko gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran Penatalaksanaan regimen terapi inefektif. Harga diri rendah.

28

IV.

FISIK 1. Tanda vital : TD : 110/80 mmHg N : 80 x/mnt S : 36C,P : 13 x/mnt 2. Ukur : TB : 162 cm BB : 55 kg 3. keluhan fisik : Klien mengatakan sakit kepala sudah 2 hari yang lalu .Selain itu ,klien tampak lesu dan sering melamun ,serta sering tidur di kamar ruangan. Masalah keperawatan : Nyeri

V.

PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Keterangan : Di dalam keluarganya,klien berperan sebagai anak.klien diasuh dan tinggal bersama dengan orang tua dan adiknya . pengambilan keputusan dalam keluarga adalah ayahnya. Pola komunikasi klien pada saat awal pengkajian masih tertutup, tetapi pada hari berikutnya klien sudah mulai bisa berinteraksi secara terbuka. 2. konsep diri : a. Gambaran diri : Klien mengatakan tidak ada sesuatu yang disukai atau istimewa mengenai bagian tubuhnya .Bagian tubuh yang tidak disukai klien adalah kakinya,karena menurutnya kakinya jelek dan berwarna hitam, tetapi tidak membuatnya malu. b. Identitas : Klien mengatakan nama,umur ,asal dan jenis kelamin. c. peran :

29

Klien mengatakan mampu melaksanakan tugas di rumah sakit, misalnya menyapu atau membagi makanan.Di rumah klien berperan sebagai seorang anak. d. Ideal diri : Klien mengatakan ia berharap supaya ia cepat pulang ke rumahnya dan bisa berkumpul bersama keluarganya dan temannya. e. Harga diri : klien mengatakan tidak malu atau berpikiran negatif tentang dirinya. Klien mengatakan orang lain pernah mengejek dan menyindir dirinya. Sehingga membuatnya banyak menyendiri Masalah keperawatan : Harga diri rendah 3. Hubungan sosial : a. Orang yang berarti Klien mengatakan mempunyai orang yang berarti yaitu teman tetangganya dirumah. b. Peran serta dalam kegiatan kelompok /masyarakat Klien mengatakan dia pernah ikut kegiatan karang taruna sebagai anggota. c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Klien mengatakan malas untuk berhubungan sosial atau berkomunikasi dengan temannya, karena menurut klien tidak ada gunanya. Masalah keperawatan : Isolasi sosial 4. Spritual : a. Nilai dan keyakinan Klien mengatakan ibadah itu penting, supaya bisa dekat dengan Tuhan dan juga supaya tidak berdosa. b. kegiatan ibadah Klien mengatakan sering ikut ibadah sholat setiap hari rabu. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan VI. STATUS MENTAL 1. Penampilan Penampilan klien tidak rapi,sikap tubuh klien agak bungkuk,rambut rapi,kuku pendek ,mandi 2 x sehari,shampoo 2 hari 1x,sikat gigi 2x sehari. Masalah keperawatan : tidak ada 2. Pembicaraan Dalam berkomunikasi cara berbicara klien lambat, klien akan menjawab apabila hanya ditanya. Kadang klien mempunyai jeda waktu / diam sebelum menjawab pertanyaan pada saat wawancara. Masalah keperawatan : Isolasi sosial 3. Aktivitas motorik Aktivitas yang sering ditampilkan oleh klien adalah makan, letih,lesu ,sering tidur,banyak menyendiri, merokok, melamun, membantu membagikan makanan,mencuci piring, dan lain sebagainya. Masalah keperawatan : Isolasi sosial 4. Alam perasaan Dalam melakukan pengkajian, alam perasaan klien tampak sedih dan putus asa. Masalah keperawatan : mekanisme koping individu tidak efektif. 5. Afek Afek datar pada saat berinteraksi dengan klien, klien hanya diam.Klien akan berbicara atau berespon bila di ajak untuk berkomunikasi. Masalah keperawatan : Isolasi sosial 6. Interaksi selama wawancara Dalam berinteraksi kontak mata klien sering tidak fokus, banyak diam, menyendiri dan tidak berkonsentrasi pada pertanyaan yang diberikan. Masalah keperawatan :Isolasi sosial 7. Persepsi

30

Klien mengatakan sudah tidak mendengar suara-suara yang muncul.tetapi dari hasil observasi tampak klien kadang-kadang tertawa sendiri, dan ada riwayat bicara dan tertawa sendiri saat masuk. Masalah keperawatan : Resiko gangguan persepsi sensori persepsi:halusinasi pendengaran. 8. Isi pikir dan waham Klien tidak mengalami isi piker dan waham. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan. 9. Proses pikir Saat wawancara, dalam menjawab klien dapat sampai ke tujuan / jawaban walaupun memerlukan waktu jeda yang lama untuk melanjutkan perkataannya. Masalah keperawatan : Isolasi sosial 10. Tingkat kesadaran Tingkat kesadaran baik. klien tampak canggung, saat ditanya klien tidak mengalami disorientasi waktu, tempat, dan orang lain. Klien menjawab waktu dengan benar, pasien menjawab sedang di rawat di rumah sakit, dan klien mengenal temannya 2 orang. Masalah keperawatan : tidak ada

11. Memori Klien masih ingat tentang daya ingat saat ini dan daya ingat jangka pendek, namun kadang lupa seperti nama perawat dan sebagainya, daya ingat jangka panjang : klien mengatakan masih ingat masa waktu kecil. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung Klien dapat berhitung angka 1-10, serta menyebut jam berapa, namun konsentrasinya mudah beralih. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan. 13. Kemampuan penilaian Setelah diberikan pertanyaan, klien dapat menjawab serta menjelaskan keputusan yang diambil. Contohnya seperti memberi pilihan antara makan terlebih dahulu atau mandi. Klien mengatakan memilih mandi dulu, baru setelah itu makan. Karena lebih bersih dan nyaman. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan. 14. Daya tilik diri Klien mengatakan ia menyadari akan penyakitnya tetapi klien merasa tidak perlu ada pertolongan. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.

VII.

KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG 1. Makan Apabila makan, klien hanya memerlukan bantuan minimal. 2. BAB/BAK Klien mengatakan mampu melakukan aktivitas sendiri seperti makan, BAB, BAK, dan menyediakan pakaian dan sebagainya, hanya membutuhkan bantuan minimal. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.

31

3. Mandi Klien hanya memerlukan bantuan minimal untuk melakukan kegiatan mandi. 4. Berpakaian / berhias Klien berpakaian diperlukan bantuan minimal. 5. Istirahat dan tidur Tidur siang, lama : 14.00 WIB s/d 16.00 WIB Tidur malam, lama: 19.00 WIB s/d 05.00 WIB 6. Penggunaan obat Klien diperlukan bantuan minimal untuk meminum obat. 7. pemeliharaan kesehatan dalam pemeliharaan kesehatan, klien tidak memerlukan perawatan lanjutan, tetapi tetap diperlukan adanya system pendukung. 8. kegiatan di dalam rumah klien dalam melakukan kegiatan didalam rumah, sudah bisa melakukan pekerjaan seperti : Mempersiapkan tempat makanan,menjaga kerapian rumah dan mencuci pakaian. 9. Kegiatan di luar rumah Dalam pengkajian, klien mengatakan dapat melakukan berbagai aktivitas di rumah, seperti belanja serta transportasi. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.

VIII.

ASPEK MEDIK Diagnosa medik : Schizofrenia paranoid Terapi medik : Terapi obat, seperti : Haloperidol 3 x 5 mg Trihexaphenidile 3 x 2 mg Clorpromazine 1 x 100 mg DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN 1. Koping keluarga tidak efektif 2. Resiko perilaku kekerasan 3. Resiko gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran 4. Penatalaksanaan regimen terapi inefektif 5. Nyeri 6. Resiko harga diri rendah 7. Isolasi sosial 8. Mekanisme koping individu tidak efektif

IX.

32

POHON MASALAH DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN A. Pohon masalah Resiko gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
Isolasi sosial

Penatalaksaan regimen terapi inefektif

harga diri rendah

Resiko Perilaku Kekerasan

Koping keluarga tidak efektif

B. Daftar diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas 1. Isolasi sosial 2. Harga diri rendah 3. Resiko gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran 4. Penatalaksanaan regimen terapi inefektif 5. Koping keluarga tidak efektif 6. Resiko perilaku kekerasan

ANALISA DATA
TGL
11 Sept 2012 10.00 wib

DATA ( Subyektif dan obyektif)


DS : Klien mengatakan ingin pulang. Klien mengatakan malas untuk berkomunikasi dengan orang lain. Klien sering menyendiri. Kegiatan yang paling sering dilakukan hanya tidur. Kontak mata klien pada saat wawancara tidak focus. Klien tampak lesu, dan melamun. Klien tampak banyak diam. Klien mengatakan orang lain pernah mengejek dan menyindir dirinya. Klien mengatakan sedih dan kecewa.

Masalah Keperawatan

TTD

DO : DS : DO :

Isolasi social

11 sept 2012 10.00 wib

Harga diri rendah

33

11 sept 2012 10.00 wib

DS :

Pasien sering sendirian Klien tampak menyendiri. Klien mengatakan sudah tidak mendengarkan suara-suara yang muncul dalam pikirannya. Klien masih tampak tertawa sendiri. Klien tampak melamun. Klien mempunyai riwayat masuk dengan berbicara dan tertawa sendiri. Klien mengatakan sedih dan kecewa karena keluarganya membawanya ke Rumah Sakit Koping keluarga tidak efektif Selama pengkajian, Klien tampak tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya. Resiko gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran

DO :

11 sept 2012 10.00 wib

DS :

DO :

11 sept 2012 10.00 wib

DS : DO :

Pengobatan sebelumnya kurang berhasil, karena klien mengalami putus obat selama 10 hari Berdasarkan status pasien, klien pernah dirawat 2x di rumah sakit

Penatalaksaan regimen terapi inefektif

34

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

Nama Klien No Rekam Medik Tgl No. Diagnosa Dx Keperawatan 1 Isolasi Sosial

: Tn. S : 20-87-19 Tujuan TUM : klien dapat berinteraksi dengan orang lain secara optimal. TUK : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya Kriteria Evaluasi

Dx. Medis Ruangan Perencanaan Intervensi

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor Rasional

1. Setelah 1x interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada/terhadap perawat : Wajah cerah, tersenyum. Mau berkenalan Ada kontak mata Bersedia menceritakan perasaan. Bersedia mengungkapkan masalahnya.

1. Bina hubungan saling percaya dengan : 1.1.Beri salam setiap interaksi. 1.2. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan. 1.3. Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien. 1.4.Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi. 1.5.Tanyakan perasaan

Kepercayaan dari klien merupakan hal yang mutlak serta akan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien.

35

2. Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri.

2. Setelah 1x interaksi klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri dari : Diri sendiri Oranglain Lingkungan

3. Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan social dan kerugian menarik diri.

Setelah 1x interaksi klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan social, misalnya : Banyak teman Tidak kesepian Bisa diskusi Saling menolong,
36

klien dan masalah yang dihadapi klien. 1.6.Buat kontrak interaksi yang jelas. 1.7.Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien. 2. Tanyakan pada klien tentang : 2.1.Orang yang tinggal serumah/teman sekamar klien. 2.2.Orang yang paling dekat dengan klien di rumah/di ruang perawatan. 2.3.Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut. 2.4.Upaya yang sedang dilakukan agar dekat dengan orang lain. 2.2. diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain. 2.3. beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya. 3. Tanyakan pada klien tentang : 3.1.1. Manfaat hubungan social 3.1.2. Kerugian menarik diri 3.1.Diskusikan bersama

Dengan mengetahui penyebab klien menarik diri dapat ditentukan mekanisme koping klien dalam berintraksi social, serta strategi apa yang akan diterapkan kepada klien.

Dengan mengetahui manfaat berhubungan social dan kerugian menarik diri, maka klien akan termotivasi untuk berinteraksi dengan orang lain.

4. Klien dapat melaksanakan hubungan social dan kerugian menarik diri.

5. Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah

klien tentang manfaat berhubungan social dan kerugian menarik diri. 3.2.Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya. 4. Setelah 1x interaksi klien 4.1. Observasi perilaku klien dapat melaksanakan hubungan saat berhubungan social. social secara bertahap dengan : 4.2. Beri motivasi dan bantu klien untuk Perawat berkenalan/berkomunika Perawat lain si dengan : Klien lain 4.2.1. Perawat lain Kelompok 4.2.2. Klien lain 4.2.3. Kelompok 4.3. Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas akaelompok Sosialisasi 4.4. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi 4.5. Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. 4.6. Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melakukan aktivitas yang dilaksanakan. 5. Setelah 1x interaksi klien 5.1. Diskusikan dengan klien dapat menjelaskan tentang perasaannya perasaannya setelah setelah berhubungan berhubungan social dengan : social dengan :
37

dan kerugian menarik diri misalnya : Sendiri Kesepian Tidak bisa diskusi

Melibatkan klien dalam interaksi social akan mendorong klien untuk melihat dan merasakan secara langsung manfaat dan berhubungan social serta meningkatkan konsep diri klien

Untuk mengetahui kemajuan klien dalam berinteraksi dan menilai keberhasilan dalam strategi pelaksaan.

Orang lain Kelompok 5.2. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya. 6. Klien mendapat 6.1. Setelah 1x pertemuan 6.1. diskusikan pentingnya dukungan keluarga dapat menjelaskan peran serta keluarga keluarg dalam tentang : sebagai pendukung memperluas untuk mengatasi Pengertian menarik diri hubungan perilakumenarik diri. Tanda dan gejala menarik social. 6.2. diskusikan potensi diri keluarga untuk Penyebab dan akibat membantu klien menarik diri menatasi perilaku Cara merawat klien menarik menarik diri. diri. 6.2. Setelah 1x pertemuan keluarga 6.3. jelaskan pada keluarga tentang : dapat mempraktekkan cara 6.3.1. pengertian merawat klien menarik diri. menarik diri 6.3.2. tanda dan gejala menarik diri 6.3.3. penyebab dan akibat menarik diri 6.3.4. cara merawat klien menarik diri. 6.4. latih keluarga cara merawat klien menarik diri 6.5. tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan 6.6. beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi. 6.7. beri pujian kepada keluarga atas berhubungan social,
38

Orang lain Kelompok

Keluarga merupakan system pendukung utama bagi klien untuk meningkatkan percaya dirinya agar mampu berinteraksi social.

7. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

keterlibatannya merawat klien di rumah sakit. 7.1.Setelah 1x interaksi klien 7.1. diskusikan dengan klien Menyukseskan program pengobatan menyebutkan : tentang manfaat dan klien dalam mengoptimalkan kerja kerugian tidak minum obat terhadap klien. Manfaat minum obat obat, nama, warna, dosis, Kerugian tidak minum obat cara, efek terapi, dan Nama, warna, dosis, efek efek samping terapi dan efek samping penggunaan obat. obat. 7.2. pantau klien saat 7.2.Setelah 1x interaksi klien penggunaan obat mendemonstrasikan 7.3. beri pujian jika klien penggunaan obat dengan menggunakan obat benar. dengan benar 7.3.Setelah 1x interaksi klien menyebutkan akibat berhenti 7.4. diskusikan akibat berhenti minum obat minum obat tanpa konsultasi tanpa konsultasi dengan dokter. dokter. 7.5. anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

39

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19 Kriteria Evaluasi 1. Setelah 1x interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat : Ekspresi wajah bersahabat Menunjukkan rasa senang Ada kontak mata Mau berjabat tangan Mau menyebutkan nama Mau menjawab salammau duduk berdampingan dengan perawat Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor Rasional Kepercayaan dari klien merupakan hal yang penting/utlak serta akan memudahkan dalam melakukan pendekatan dan tindakan keperawatan kepada klien.

Tgl No. Diagnosa Dx Keperawatan Tujuan 2 Gangguan TUM : klien sensori dapat persepsi : mengendalikan Halusinasi halusinasi yang dialaminya. TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya

Perencanaan Intervensi 1. Bina hubungans saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi teraupetik : 1.1. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal 1.2. Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan 1.3. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien 1.4. Buat kontak yang jelas 1.5. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi 1.6. Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya 1.7. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien 1.8. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien 1.9. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

40

TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya

2. Setelah 1x interaksi klien menyebutkan : Isi Waktu Frekuensi Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi

3. Setelah 1x interaksi klien menyatakan perasaan dan responnya saat mengalami


41

2. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap. Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya (*dengar/lihat/penciuman/raba/kecap), jika menemukan yang sedang halusinasi : Tanyakan apakah klien mengalami sesuatu (halusinasi dengar/lihat/penciuman/raba/kecap ) Jika klien menjawab ya, tanyakan apa yang dialaminya Katakana bahwa perawat percaya klien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi) Katakana bahwa ada klien lain yang mengalami hal yang sama Katakana bahwa perawat akan membantu klien Jika klien sedang tidak berhalusinasi klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan dengan klien : Isi, waktu, dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam, atau sering dan kadangkadang) Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan

Kepercayaan klien kepada perawat dapat diperoleh dari kontak yang sering. Tingkah laku klien terkait haluisnasinya menunjukkan isi, waktu, frekuensi serta situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi.

Ungkapan dari klien menunjukkan apa yang dirasakan oleh klien.

halusinasi : Marah Takut Sedih Senang Cemas Jengkel TUK 4 : Klien dapat mengontrol halusinasinya 3.1.Setelah 1x interaksi klien menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya. 3.2.Setelah 1x interaksi klien menyebutkan cara baru mengontrol halusinasinya. 3.3.Setelah 1x interaksi klien dapat memilih dan memperagakan cara mngontrol halusinasi (dengar/lihat/penciuman/raba/ke cap) 3.4.Setelah 1x interaksi klien melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya 3.5.Setelah 1x pertemuan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok

perasaannya. Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut.

Membantu memilih cara yang tepat untuk membantu klien menghadapi perasaanya. Membantu klien dalam mengenal konsekuensi dan halusinasinya muncul

Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasinya 3.1. identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan diri, dll) 3.2. diskusikan cara yang digunakan klien, Jika cara yang digunakan adaptif beri pujian. Jika cara yang digunakan maladaptive diskusikan dengan kerugian cara tersebut 3.3. Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi : 1. Katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata (saya tidak mau dengar/lihat/penciuman/raba/kecap/ pada saat halusinasi terjadi) 2. Menemui orang lain (perawat/teman/anggota keluarga) untuk menceritakan tentang halusinasinya. 3. Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang telah disusun 4. Meminta keluarga/teman/perawat menyapa jika sedang berhalusinasi. 3.4. Bantu klien memilih cara yang sudah

Ungkapan klien menggunakan/menunjukkan seberapa tepat dan efektif kemampuan klien untuk mengontrol halusinasinya. Memberi klien pilihan dan reward atas apa yang sudah klien dapatkan.

Cara baru memberikan pilihan baru yang adaptif bagi klien.

Halusinasi tidak dapat

42

dianjurkan dan latih untuk mencobanya. 3.5. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih 3.6. Pantau pelaksaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian 3.7. Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi. 4.1. buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan (waktu, tempat dan topic). 4.2. diskusikan dengan keluarga (pada saat pertemuan keluarga/kunjungan rumah) 1. pengertian halusinasi 2. tanda dan gejala halusinasi 3. proses terjadinya halusinasi 4. proses terjadinya halusinasi 5. cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi 6. cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama, memantau obat-obatan dengan cara pemberiannya untuk mengatasi halusinasi) 7. beri informasi waktu control ke rumah sakit dan bagaimana cara meberi bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi dirumah. 5.1. diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan obat.

diputuskan secara sekaligus. Klien akan memiliki rasa percaya diri dan dilatih bersama dengan klien Pilihan yang dipilih dan dilatih bersama dengan klien. Membantu klien dalam membangun hubungan social. Dasar untuk membina hubungan teraupetik dengan keluarga. Keluarga dapat mengenal dan membantu klien dalam mengontrol halusinasinya.

TUK 4 : 4.1.Setelah 1x pertemuan keluarga, Klien dapat keluarga menyatakan setuju dukungan dari untuk mengikuti perremuan keluarga dengan perawat. dalam 4.2.Setelah 1x interaksi keluarga mengontrol menyebutkan pengertian, tanda haluinasinya. dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi.

TUK 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

5.1. Setelah 1x interaksi klien menyebutkan : Manfaat minum obat Kerugian tidak minum obat Nama, warna, dosis, efek
43

Menyukseskan program pengobatan klien dalam mengoptimalkan kerja obat terhadap klien.

terapi dan efek sampingobat. 5.2. Setelah 1x interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar. 5.3. Setelah 1x interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.

5.2. pantau klien saat penggunaan obat 5.3. beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar 5.3. diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter. 5.4.anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH

Nama Klien No Rekam Medik Tgl No. Diagnosa Dx Keperawatan 3 Harga diri rendah

: Tn. S : 20-87-19 Tujuan TUM : klien dapat meningkatkan harga dirinya TUK : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Kriteria Evaluasi

Dx. Medis Ruangan Perencanaan Intervensi

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor Rasional

1. Setelah 1x interaksi 1. Bina hubungan saling percaya dengan klien dapat menggunakan prinsip komunikasi menunjukkan ekspresi teraupetik : wajah bersahabat, sapa klien dengan ramah baik menunjukkan rasa verbal dan nonverbal. senang, ada kontak Perkenalkan diri dengan sopan. mata, mau berjabat Tanyakan nama lengkap dan nama tangan, mau
44

Kepercayaan dari klien merupakan hal yang mutlak serta akan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien.

menyebut nama, mau panggilan yang disukai klien. menjawab salam, Jelaskan tujuan pertemuan. klien mau duduk Jujur dan menepati janji. berdampingan dengan Tunjukkan sikap empati dan perawat, mau menerima klien apa adanya. mengutarakan Beri perhatian dan perhatikan masalah yang kebutuhan dasar klien. dihadapi. 2. Klien dapat 1. Setelah 1x interaksi 2.1.Diskusikan dengan klien tentang : mengidentifikasi klien menyebutkan : Aspek positif yang dimiliki klien, Aspek positif penting untuk aspek positif dan keluarga, dan lingkungan. meningkatkan PD serta harga diri. Aspek positif dan kemampuan yang kemampuan yang Kemampuan yang dimiliki klien. Memvalidasi dan menguatkan apa dimiliki. dimiliki klien. yang sudah disampaikan secara lisan. Aspek positif keluarga. Meningkatkan harga diri serta 2.2. Bersama klien buat daftar tentang : Aspek positif memancing klien untuk lingkungan klien. Aspek positif klien, keluarga, mengungkapkan apa yang lingkungan. diinginkan oleh klien. Kemampuan yang dimiliki klien. 2.3. Beri pujian yang realitistis, hindarkan memberi penilaian negative. 3. Klien dapat meningkatkan kemampuan yang dapat dilaksanakan. 4. Klien dapat merencanakan kegiatan yang sesuai dengan keampuan yang dimiliki. 3. Setelah 1x interaksi klien menyebutkan kemampuan yang dapat dilaksanakan. 3.1.Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan. 3.2.Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya. 4. Setelah 1x interaksi 4.1.Rencanakan bersam klien aktivitas klien yang dapat dilakukan setiap hari membuatrencan sesuai dengan kemampuan klien : kegiatan harian. Kegiatan mandiri Kegiatan dengan bantuan 4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan kondisi klien. 4.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
45

Mencari cara yang konstruktif dan menunjukkan potensi yang dimiliki klien untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik dan berharga. Menghindari adanya kehilangan/perubahan peran akibat perasaan HDR yang dialami klien serta mencari alternative koping untuk meningkatkan harga diri. Menghargai kemampuan klien serta menunjukkan kemampuan yang klien miliki. Meningkatkan pengetahuan dalam mekanisme koping yang

5. Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada.

5. Setelah 1x interaksi klien memanfaatkan system yang ada di keluarga.

6. Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada.

6. Setelah 1x interaksi klien memanfaatkan system pendukung yang ada di keluarga.

5. Anjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan. Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien. Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang. 6.1.Beri pendidikan kesehatan pada Keluarga sebagai system keluarga tentang cara merawat klien pendukung utama mempunyai dengan harga diri rendah. peran dan potensi besar dalam 6.2.Bantu keluarga meningkatkan menciptakan konsep serta harga dukungan selama klien dirawat. diri klien. 6.3.Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah.

konstruktif dalam menghargai diri sendiri. Membantu klien meningkatkan harga dirinya.

46

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENATALAKSANAAN REGIMEN TERAPI INEFEKTIF

Nama Klien No Rekam Medik Tgl No. Diagnosa Dx Keperawatan 4 Penatalaksanaan regimen terapi inefektif

: Tn. S : 20-87-19 Tujuan Kriteria Evaluasi TUM : klien mampu melaksanakan/ percobaan secara langsung. TUK 1 : Melakukan fungsi 1. Setelah 1x interaksi perawat kesehatan individu. dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi klien: TUK 2 : 1. Keluarga dapat mengambil Keluarga dapat keputusan untuk merawat klien mengambil dirumah sakit. keputusan untuk 2. Keluarga dapat mengidentifikasi merawat klien masalah yang dihadapi klien. dirumah sakit jiwa. 3. Diskusikan dengan keluarga peranan dan tanggung jawab keluarga klien. TUK 3 : Keluarga dapat Keluarga mampu mengidentifikasi masalah yang menangani masalah dihadapi klien. kesehatan jiwa .
47

Dx. Medis Ruangan Perencanaan Intervensi

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor Rasional

1. Terima klien apa adanya, dengar keluhan klien dengan empati. Memberi motivasi keluarga untuk lebih sering mengunjunginya.

Mengkaji peranan dan tanggung jawab klien

Mengurangi depresi pada klien.

Terima anggota klien apa adanya. Dengarkan keluhan keluarga dengan sifat

yang dialami pasien.

empati. Hindari sifat mengkritik saat keluarga mengungkapkan keluhan. Keluarga mampu merawat klien di rumah. Buat kontrak pertemuan dengan klien dan keluarga. Diskusikan dengan keluarga bagaiman masalah yang dihadapi sekarang ini Jelaskan pada keluarga klien bahwa perhatian yang besar dapat membantu proses penyembuhan. Memberi perhatian yang lebih, maka klien tidak merasa dikucilkan.

TUK 4 : Keluarga mampu merawat klien dirumah

TUK 5 : Keluarga mampu menerima keadaan klien

Keluarga mampu menerima keadaan klien

48

CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

Hari, Tgl, Pukul


Selasa, 11 Sept 2012 Jam : 10.00 WIB

No. Diagnosa Keperawatan


ISOLASI SOSIAL

Implementasi
Membina hubungan saling percaya dengan klien. Mendiskusikan penyebab isolasi social kepada klien. Mendiskusikan keuntungan dan kerugian berhubungan social. Mengajarkan klien cara berkenalan dengan 1 orang. S:

Evaluasi/ SOAP
Klien mengatakan nama dan umurnya. Klien mengatakan kegiatan yang dilakukan sehari-hari.

Paraf

O: Klien mau berjabat tangan. Kontak mata klien tidak focus. A: Klien belum mampu menyebutkan penyebab isolasi social. Klien belum mampu menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan social. P: (P) : Ulangi menyebutkan penyebab isolasi social. Ulangi menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan social. Masukkan kegiatan klien dalam jadwal harian kegiatan klien. Anjurkan klien cara berkenalan dengan 1 orang. (K) : Klien dapat mempraktekkan cara berkenalan. Menyebutkan penyebab isolasi social. Menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan social.

49

CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

Hari, Tgl, Pukul


Rabu, 12 Sept 2012 Jam 10.00 WIB

No. Diagnosa Keperawatan


1

Implementasi
Mendiskusikan penyebab isolasi social kepada klien. Mendiskusikan keuntungan dan kerugian berhubungan social. Mengajarkan klien cara berkenalan dengan 1 orang Memasukkan kegiatan berkenalan kedalam jadwal harian klien . S: O: A:

Evaluasi/ SOAP
Klien menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan sosial. Klien menyebutkan cara berkenalan. Klien mengatakan cara berkenalan. Klien sering diam dan melamun. Kontak mata klien tidak focus. Klien menyebutkan nama, umur, dan hobinya. Klien sudah bisa mempraktekkan cara berkenalan.

Paraf

P: (P) : Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien. Ajarkan pasien berinteraksi secara bertahap, melanjutkan ke SP 2. (K) : Anjurkan Memasukkan kegiatan kedalam jadwal kegiatan harian cara berkenalan dengan orang lain (perawat).

50

CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

Hari, Tgl, Pukul


Kamis, 13 Sept 2012 Jam 10.00 WIB

No. Diagnosa Keperawatan


1

Implementasi
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian. Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan perawat) menganjurkan memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

Evaluasi/ SOAP
S: Klien mengatakan nama dan hobi. O: Klien tampak sudah berkenalan dengan 1 orang perawat. Klien tampak berkenalan dengan 1 orang teman. Klien tampak malu dan diam. Klien sering melamun. A: Klien sudah bisa mengucapkan nama, hobi, serta asalnya. P: (P) : Mengajarkan klien berkenalan dengan temantemannya. (K) : Anjurkan klien untuk berlatih cara berkenalan dengan baik. Anjurkan memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian dan mempraktekkan cara berkenalan dengan 1 orang.

Paraf

51

CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik Hari, Tgl, Pukul


Jumat, 14 Sept 2012 Jam 10.00 WIB

: Tn. S : 20-87-19 No. Diagnosa Keperawatan


1

Dx. Medis Ruangan Implementasi


Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. Memberikan kesempatan pada pasien berkenalan dengan 2 orang atau lebih. Memasukkan kegiatan kedalam jadwal harian klien cara berkenalan dengan 2 orang. S:

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor Evaluasi/ SOAP Paraf

Klien mengatakan kemarin sudah mempraktekkan berkenalan dengan 2 orang atau lebih. Klien dapat berkenalan dengan orang lain. Klien tampak menyendiri dan melamun. Pandangan mata klien tidak focus. Klien sudah bisa berkenalan dengan 2 orang atau lebih.

O: A:

P: (P) : anjurkan klien untuk mengobrol dengan temannya mengenai topic tertentu. Diskusikan tentang pemberian obat kepada klien. (K) : Anjurkan memasukkan kegiatan kedalam jadwal harian cara berkenalan dengan 2 orang teman atau lebih. .

52

CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Nama Klien No Rekam Medik

: Tn. S : 20-87-19

Dx. Medis Ruangan

: Schizofrenia Paranoid : Yudistira RSMM Bogor

Hari, Tgl, Pukul


Sabtu, 15 Sept 2012 Jam 10.00 WIB

No. Diagnosa Keperawatan


2

Implementasi
SP 4 : Mendiskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, dan warna. Pantau klien saat penggunaan obat. Memberikan pujian jika klien menggunakan obat tanpa konsultasi dengan dokter. S:

Evaluasi/ SOAP
Klien menyebutkan nama dan guna 1 fungsi obat.

Paraf

O: Klien tampak mengerti beberapa jenis obat. A: Klien sudah bisa mengerti manfaat obat yang diminumnya setiap hari. P: (P) : Lanjutkan mengidentifikasi kemampuan /aktivitas yang dilakukan klien setiap hari. (K) : Anjurkan klien minum obat secara teratur

53

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini kami akan menguraikan kasus yang diamati serta membandingkannya dengan teori yang didapat untuk mengetahui sejauh mana faktor pendukung, penghambat dan solusinya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Tn. S dengan Isolasi Sosial diruang Yudistira RS.Dr .H. Marzoeki Mahdi Bogor. Dalam pembahasan ini mencakup semua tahap proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan keperawatan dan evaluasi. A. Pengkajian Pengkajian pada Tn.S pada tahap awal dalam proses keperawatan meliputi tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data sebagai dasar untuk mengetahui kebutuhan klien yaitu dengan cara wawancara dan observasi secara langsung dengan klien, informasi dari catatan keperawatan, catatan medis dan perawat ruang, sehingga asuhan keperawatan ini dapat diberikan kepada Tn.S. adapun diagnosa keperawatan utama yang ditemukan pada klien Tn.S adalah mengalami Isolasi Sosial.

Faktor predisposisi sesuai dengan didalam teori karena klien mengalami masalah faktor social budaya, factor predisposisi yang klien alami yaitu keadaan dimana klien mengalami penolakan dari keluarganya, sehingga respon social klien menjadi mal adaptif. Faktor presipitasi sesuai dengan klien adalah dapat bersumber dari klien, keluarga dan interaksi dengan orang lain sedangkan faktor presipitasi yang ada pada klien adalah ketidakmampuan keluarga merawat klien sehingga klien dibawa ke Rumah Sakit. Pohon masalah yang terdapat pada teori yaitu masalah-masalah primer yaitu Resiko Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi, Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah, dan sebagai Core Problem adalah Isolasi Sosial. karena didapatkan.tidak ada terjad kesenjangan antara teori dan kasus Tn.S karena klien mengalami masalah yang ada didalam teori factor predisposisi seperti factor social budaya. Pada kasus Tn. S didukung dengan data sebagai berikut yaitu klien pada awalnya pernah masuk Rumah Sakit sebanyak 2 kali.

54

Klien masuk ke Rumah Sakit yang kedua karena mengalami putus obat 10 hari, memilki gejala bicara dan tertawa sendiri, suka menyendiri, dan banyak diam. Tidak ada motifasi bagi klien untuk bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungan.

B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan secara teoritis yaitu : Gangguan sensori persepsi : halusinasi. Isolasi soial. Harga diri rendah.

sedangkan berdasarkan pengkajian data dasar, yang melalui serangkaian analisa, maka diagnose yang kelompok tegakkan adalah :

1. Isolasi Sosial 2. Harga Diri Rendah 3. Gangguan sensori persepsi:halusinasi pendengaran 4. Koping Keluarga Inefektif 5. Penatalaksanaan regimen terapi inefektif

Kesimpulan : jadi didapatkan kesenjangan antara diagnosa teoritis dan diagnosa kasus.

Diagnosa sesuai dengan teori, core problem yang kelompok angkat yaitu Isolasi Sosial, Faktor pendukung adalah klien mengatakan lebih senang menyendiri, klien mengatakan malas jika bergaul dengan orang lain, klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain, klien tampak sering menyendiri, klien menghindar dari teman-temannya, klien tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain

55

C. Perencanaan

Rencana tindakan yang ada pada kasus Tn.S, kami dapat meprediksi waktu pencapaian keberhasilan tindakan dengan melihat kondisi kemampuan dan kebutuhan klien, karena tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus yang kami dapatkan.

Perencanaan pada diagnose keperawatan Isolasi Sosial dan gangguan konsep diri Harga Diri Rendah pada kasus tidak ada perbedan dengan perencanaan yang ada pada teori. Adapun perencanaan yang tidak ada pada teori adalah diagnose keperawatan Devisit Perawatan Diri. Dalam merencanakan tindakan keperawatan kami tidak mengalami hambatan karena kasus yang kami ambil sangat berkesinambungan dengan teori yang kami dapat.

D. Implementasi Pada tahap implementasi asuhan keperawatan yaitu diberikan pada klien dengan Isolasi Sosial sesuai dengan perencanaan tindakan keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya, berdasarkan teori kasus dengan melihat kondisi dan kebutuhan. Di dalam diagnosa keperawatan Isolasi Sosial, tindakan yang sudah tercapai yaitu membina hubungan saling percaya, SP1 , yaitu Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien dengan cara: Menanyakan orang yang tinggal serumah dengan klien atau teman sekamar klien ,menanyakan kepada klien orang yang paling dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan, menanyakan apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut, menanyakan orang yang tidak dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan, menanyakan apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut, berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang dengan cara mendemonstrasikan dengan klien, menganjurkan klien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalan jadwal kegiatan harian. SP2 yaitu: Mengevaluasi jadwal kegiatan harian kien, memberikan kesempatan kepada kllien mempraktekkan cara berkenakan dengan satu orang yang klien suka, membantu klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.

56

Pada SP3, kami sudah melakukan yaitu dengan memberikan kesempatan kepada klien untuk berkenalan dengan dua orang. .

E. Evaluasi Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, dimana pada tahap ini bertujuan untuk menilai hasil akhir dari tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan SOAP (Subyektif, Obyektis, Analis, dan Planing). Kelompok menggunakan pendekatan ini agar memudahkan dalam pelaksanaan sehingga mengacu pada tujuan. Dalam melaksanakan evaluasi keperawatan kelompok belum mencapai hasil yang diharapkan sepenuhnya, tingkat keberhasilan yang sudah kami capa yaitu bina hubungan saling percaya, klien mau berkenalan dengan perawat dan ada kontak mata, klien mampu menceritakan perasaannya, klien mampu mengungkapkan masalahnya, SP1 dan SP2 juga sudah tercapai, sedangkan yang kurang tercapai yaitu pada SP3. klien dapat untuk berkenalan dengan 2 orang atau lebih namun, masih memerlukan motivasi bantuan dari perawat.

57

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998). Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah menarik diri membutuhkan komunikasi terapeufik yang digunakan sebagai landasan untuk membina huibungan saling percaya sehingga menggali semua permasalahannya.

6.2. Saran
SARAN Dari data diatas maka penulisan merekomendasikan kepada system perawatan diruang rawat Yudhistira,untuk perawat ruangan,untuk mahasiswa,dan untuk rumah sakit yang akan membaca makalah ini,apabila dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan isolasi social. 1.Perawat harus mampu memahami tentang asuhan keperawatan isolasi social dan mampu mendokumentasikan dari pengkajian sampai dengan evaluasi dengan benar.Sebelum melakukan tindakan keperawatan kepada klien diharapkan perawat menguasai agar tidak terjadi kesalahan atau kelalaian dalam melakukan tindakan keperawatan. 2.Untuk system perawatan sekaligus untuk para perawat di ruang yudhistira dapat menambahkan terapi Aktivitas kelompok sebagai rutinitas dalam ruangan,karena ruang Yudhistira merupakan ruang intermedit. 3.untuk mahasiswa yang praktek di ruang yudhistira RS.Marzoeki Mahdi dapat melatih kemapuan tekhnik komunikasi terapeutik dengan mengadakan kontak sering tapi singkat dengan pasien dan juga dapat meningkatkan kemampuan untuk melakukan pendokumentasian dengan cara diskusi pembimbing di ruangan. 4.untuk RS.Marzoeki Mahdi agar meningkatkan fasilitas sarana prasarana yang sudah ada di RS.Marzoeki Mahdi.

58

DAFTAR PUSTAKA

Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa (alih bahasa , Ramona P Kapoh, Egi Komara Yudha, 2006). Jakarta: EGC

Keliat, Budi Anna dan Akemat. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC Videbeck, Sheila L. (2001). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. (alih bahasa oleh Komalasari & Hany, 2008). Jakarta: EGC Yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung : PT Refika Aditama Townsend, Mary C (2003). Psychiatric Mental Healt Nursing : Concepts of Care.Fourth Edition. Philadelphia : Davis Company Rasmun. (2004). Stress Koping dan Adaptasi. Jakarta :CV.Sagung Seto

59

STRATEGI PELAKSANAAN ISOLASI SOSIAL


Ruangan Pertemuan Nama klien : YUDISTIRA : I dan II : Tn. S Sp :I Hari / Tanggal : Selasa dan Rabu / 11 dan 12 september 2012

A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi klien Data subyektif : - Klien mengatakan ingin pulang Data obyektif : - Klien tampak menarik diri - Kontak mata klien tidak fokus - Klien sering tidur di kamar - Klien tidak memiliki teman dekat 2. Diagnosa Keperawatan Isolasi Sosial 3. Tujuan TUM : - Klien dapat berinteraksi dengan orang lain secara normal TUK : - Klien dapat membina hubungan saling percaya - Klien mampu menyebutkan penyebab isolasi sosial - Klien mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain. - Klien dapat menyebutkan kerugian tidak memiliki banyak teman. - Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. - Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial. 4. Tindakan Keperawatan Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang. Menganjurkan pasien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian. B. STRATEGI KOMUNIKASI a. Orientasi Assalamualaikum bapak ! Perkenalkan nama saya perawat F. Saya senang di panggil F. Saya mahasiswa dari poltekes kemenkes palangka raya. Saya yang akan merawat bapak dari tanggal 11 sampai tanggal 22 september. Nama bapak siapa ? senang di panggil apa ?

60

Gimana perasaan bapak hari ini ? apa da keluhan pak ? bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang keluarga dan teman-teman bapak . Tujuannya yaitu supaya bapak berkenalan dengan yang lain ya pak. Mau dimana kita bercakap-cakap pak ? bagaimana kalau di ruangan ini saja ? Mau berapa lama pak ? bagaimana kalo 10 menit saja ?

b. Fase kerja Siapa saja yang tinggal dirumah ? siapa yang paling dekat dengan bapak ? siapa yang jarang becakap-cakap denghan bapak ? apa yang membuat bapak jarang bercakap-cakap dengannya ? Apa yang bapak rasakan selama dirawat di sini? Apa bapak merasakan sendiri? Siapa saja yang bapak kenal di ruangan ini ? Apa saja kegiatan yang bapak lakukan bersamas teman-teman yang bapa kenal? Apa yang menghambat bapak berteman atau bercakap-cakap dengan pasien lain? menurut bapak apa saja keuntungan kalau kita mempunyai banyak teman? Benar, ada teman bercakap-cakak. Terus kerugianya bila kita tidak memiliki teman apa ? Jadi banyak ruginya tidak mempunyai banayak teman ya pak? Kalau begitu banyak kerugiannya bila kita tidak memiliki teman ya pak ? Bagus, bagaimanan kalau sekarang klita belajar berkenalan dengan orangn lain. Begini pak, untuk berkenalan dengan orang lain kita berjabat tanagan dulu lalu sebutkan nama kita dan nama panggilan yang kita sukai, asal kita, dan hobi kita. Contohnya :nama saya perawat F, senang dipanggil F. Asal saya dari palangka raya. Hobi saya menonton. Selanjutnya bapak menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini : nama bapak siapa ? senang di panggil apa ? asal dari mana ? hobinya apa ? Ayo bapak coba ? misalnya saya belum kenal dengan bapak. Coba bapak kenalan dengan saya ! Ya, bagus sekali ! coba sekali lagi, bagus sekali pak ! Setelah bapak berkenalan dengan orang tersebu, bapak bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan bapak bicarakan. Misalnya tentang keluarga, dan selanjutnya. c. Fase terminasi Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tadi ? bapak tadi sudah mempelajari cara bekenalan dengan baik. selanjutnya bapak dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari selama saya tidak ada. Sehingga bapak lebih siapa untuk berkenalan dengan orang lain. Mau jam berapa mencobanya? Mari kita masukan ke jadwal harian bapak ! besok pagi kita berbincang-bincang lg ya pak ? bapak mau jam berapa pak? Bagaimana kalo jam 10 saja ? besok saya akan mengajak bapak untuk berkenalan dengan perawat lain . bagaimana bapak mau ? Bapak mau di mana besok pak ? apa di sini saja ya pak ? Baiklah, sampai jumpa, assalamualaikum pak ?

61

STRATEGI PELAKSANAAN ISOLASI SOSIAL


Ruangan Pertemuan Nama klien : YUDISTIRA : III : Tn. S Sp : II Hari / Tanggal : Kamis,13 september 2012

A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi klien Data subyektif : - Klien mengatakan ingin pulang Data obyektif : - Klien tampak menarik diri - Kontak mata kilien tidak fokus - Klien sering tidur di kamar - Klien tidak memiliki teman dekat 2. Diagnosa keperawatan Isolasi sosial 3. Tujuan TUM - kilien dapat berinteraksi dengan orang lain. TUK - Klien dapat membina hubungan saling percaya. - Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri. - Klien mampu menyebutkan dan melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. - Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial. 4. Tindakan keperawatan Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. Memberikan kesimpulan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang Menbantu pasien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. B. STRATEGI KOMUNIKASI a. Orientasi Assalamualaikum bapak. Bagaimana perasaab bapak hari ini? sudah di ingat-ingat lagi pelajaran kita tentng berkenalan. Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan perawat. bagus sekali bapak masih ingat. Nah, sepereti janji saya, saya akan mengajak bapak mencoba berkenalan dengan teman saya perawat. Tidak lama ko sekitar 10 menit saja. Tujuannya yaitu supaya bapak bisa berlatih berkenalan dengan orang lain ya pak ? Ayo, ayo kita temui perawat di sana.

62

b. Fase kerja Selamat pagi perawat N. Ini bapak S ingin berkenalan dengan anda ? Baiklah, bapak sekarang bapak bisa berkenalan dengan perawat N deperti yang kita praktekkan kemari. Ada lagi yang bapak tanyakan kepada perawat N. Coba tanyakan kepada perawat N. Kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, bapak bisa sudahi perkenalan ini. Lalu bapak bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat N, misalnya jam 1 siang nanti. baiklah, perawat N. Karena bapak sudah selesai berkenalan, saya dan bapak akan kembali ke ruangan. Selamat pagi. c. Fase terminasi bagaimana perasaan bapak setelah berkenalan dengan perawat N? bapak sangat bagus sekali saat berkenalan tadi. pertahankan terus apa yang bapak lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain supaya perkenalan secara lancar. Misalnya , menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. bagaimana, mau coba dengan perawat lain. Mari kita masukan pada jadwalnya. Mau ? berapa kali sehari ? bagaimana kalau 2x sehari. Baik nanti bapak coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya. Mau jam berapa ? kalo jam 10? Sampai besok.

63

STRATEGI PELAKSANAAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

Pertemuan SP 3

: IV : Melatih pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang kedua seorang pasien

Hari / Tanggal : Jumat, 14 September 2012 Nama pasien Ruang : Tn. S : Yudistira

A. Proses Keperawatan 1. Kondisi Klien DS : - klien mengatakan ingin pulang - Klien tampak menarik diri - Kontak mata klien tidak fokus - Klien sering tidur di kamar - Klien tidak memiliki teman dekat 2. Diagnosa Keperawatan Isolasi social 3. Tujuan TUM TUK

: Klien dapat berinteraksi dengan orang lain secara optimal : 1. Klien dapat berinteraksi secara bertahap (dengan orang lain) 2. Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan social 3. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap 4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap

4. Tindakan Keperawatan Pasien : - Mengajarkan klien berinteraksi dengan orang-orang - Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien - Memberikan kesempatan kepada pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih - Menganjurkan pasien memasukan dalam kegiatan harian Keluarga :

64

- Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning) - Menjelaskan follow up pasien setelah pulang. B. Strategi Komunikasi a. Orientasi : Selamat pagi Bapak! Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Apakah Bapak bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang? Bagaimana perasaan Bapak setelah bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang? Bagus sekali, Bapak menjadi senang karena punya teman lagi. Kalau begitu Bapak ingin punya banyak teman lagi? Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu pasien O. Seperti biasa kira-kira 10 menit. Mari kita temui di ruang makan. b. Kerja Selamat pagi, ini ada pasien saya yang ingin berkenalan. Baiklah Bapak , Bapak sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah Bapak lakukan sebelumnya. (Pasien mendemonstrasikan cara berkenalan : memberi salam menyebutkan nama, nama panggilan, asal/alamat, dan hobi). Ada lagi yang ingin Bapak tanyakan kepada O? Kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, bapak bisa sudahi perkenalan ini. Lalu Bapak bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 WIB sore nanti. Baiklah Bapak, karena Bapak sudah berkenalan, kami akan kembali ke ruangan. Selamat pagi. c. Terminasi Bagaimana perasaan Bapak setelah berkenalan dengan O? Dibandingkan dengan kemarin pagi, Bapak tampak lebih baik saat berkenalan dengan O. Pertahankan apa yang sudah Bapak lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O, jam 4 sore nanti. Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi ke dalam jadwal kegiatan harian Bapak. Jadi satu hari Bapak dapat berbincangbincang dengan orang lain sebanyak 3 kali, jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 5 sore. Bapak bisa bertemu dengan N, dan tambah dengan pasien baru di kenal. Selanjutnya, Bapak bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara bertahap. Bagaimana, Bapak setujukan? Baiklah besok kita bertemu lagi untuk membicarakan pengalaman Bapak pada jam 10.00 WIB, di tempat yang sama ya. sampai besok, selamat pagi.

65

MAKALAH SEMINAR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN ISOLASI SOSIAL

Di RUANG YUDISTIRA RS.Dr.H.MARZOEKI MAHDI BOGOR

KELOMPOK IV AHMAD SAHRANI AHMED SAROSO BAGUS KRISDIANTARA DENA DIAH RATNASARI FRANSISKA TRIVERA FEBE GUSMILA KASIH IRVAN HARYANTO WIJAYA HENDY TRI SAPUTRA YIYING

KEPERAWATAN REGULER ANGKATAN XIII POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA 2012

66