Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PENDIDIKAN NILAI DAN PRILAKU SOSIAL

PERILAKU SOSIAL NEGATIF


Disusun Oleh :
1. NANIK SULISTYAWATI (12705259004) 2. JATMIKO SIDI 3. KARDI MANIK 4. MADE PRASTINI (12705259018) (12705259021) (12705259022)

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


2012
0

BAB I PENDAHULUAN

Setiap manusia terlahir sebagai makhluk sosial, yang artinya, manusia tidak dapat hidup menyendiri selamanya, selalu membutuhkan dan berinteraksi dengan makhluk yang lain. Dalam berinteraksi tersebut, manusia mengalami proses sosialisasi, sehingga sejak lahir, seseorang melakukan proses belajar tentang bagaimana bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat melalui refleksi terhadap orang lain. Melalui proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana ia harus berperilaku di tengah-tengah masyarakat. Proses sosialisasi juga dapat mewarnai cara berfikir dan kebiasaan-kebiasaan hidup. Akhirnya, ia akan terampil dan pandai dalam hidup bermasyarakat. Proses sosialisasi ini berlangsung seumur hidup selama manusia masih mampu dan mau meningkatkan kemampuannya untuk menjadi manusia yang lebih berguna bagi masyarakat. Proses sosialisasi yang dibangun melalui interaksi sosial, tidak selamanya selalu menghasilkan pola-pola perilaku yang sesuai dan dikehendaki masyarakat. Adakalanya proses sosialisasi tersebut menghasilkan perilaku yang menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Norma merupakan seperangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku. Abu Hanabi-Noor Salimi, (1991 : 202). Sedangkan menurut Zakiyah Darajat, dkk (1984:260) yang dimaksud dengan nilai adalah : Suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku. Oleh karena itu, sistem nilai dan norma dapat menjadi standar umum yang diyakini, diserap dari keadaan obyektif maupun diangkat dari keyakinan, perasaan umum, maupun identitas yang diwahyukan oleh Tuhan. Pada gilirannya, merupakan sentimen (perasaan umum), kejadian umum, identitas umum, yang oleh karenanya menjadi peraturan umum. Apabila seseorang tidak mematuhi tata aturan tersebut, ia akan dianggap sebagai tidak normal, aneh, atau, atau menyimpang.

Dalam mengarungi kehidupan, hampir semua orang normal pernah melakukan tindakan menyimpang. Setiap saat, di berbagai media baik cetak maupun elektronik diberitakan banyak penyimpangan dengan berbagai corak dan teknisnya, meskipun pelakunya sangat beragam, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, bahkan sampai pada kakek-kakek. Perilaku menyimpang itu merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Padahal, perilaku yang sesuai dan yang diterima masyarakat (konformitas) sangat diperlukan dalam interaksi sosial untuk menciptakan keteraturan dan ketertiban di masyarakat. Sementara itu, tawuran pelajar maupun mahasiswa sering menelan korban jiwa, tawuran antar kampung dan serentetan tindakan agresifitas lainnya menambah panjang daftar perilaku negatif di masyarakat. Menurut Sosiolog Kartini Kartono, (2011 :109) menyebutkan : tingkah laku mereka itu merupakan reaksi yang salah atau reaksi irrasional dari proses belajar, dalam bentuk ketidak mampuan mereka untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Pada saat anak membutuhkan pendampingan intensif untuk melewati masa transisi tersebut, orang tua dan lingkungan sekolah justru mengabaikannya. Katidakmampuan keluarga memberikan rasa nyaman dan keinginan mereka makin mempertegas meletupnya agresifitas. Konflik keluarga, depresi, dan munculnya tindakan berisiko, sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan mereka. Oleh karenanya, keluarga terdekat dan lingkungan masyarakat mereka biasa bersosialisasi perlu memahami perubahan ini. Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas tentang perilaku sosial negatif, penyebabnya, akibat dari perilaku sosial negatif, hingga upaya pengendalian perilaku sosial negatif yang ada di masyarakat. Beberapa pembahasan tentang contoh-contoh perilaki social menyimpang serta beberapa benda atau kegiatan yang sering dijadikan kegiatan tidak benar yang ada pada masyarakat.

BAB II PEMBAHASAN

A.

Pengertian Perilaku Sosial Negatif Perilaku negatif terdiri dari dua kata yaitu perilaku dan negatif. Secara bahasa

perilaku berarti tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Sedangkan negatif adalah kurang baik, menyimpang dari ukuran umum. Jadi, perilaku negatif adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan yang kurang baik/menyimpang dari ukuran umum. Dalam kamus besar bahasa Indonesia W.J.S.Poerwadarminta, (1976 : 948) kata menyimpang diartikan : (1) menyalahi (kebiasaan, hukum, aturan, dsb), (2) menyeleweng, sesat (dari kebenaran, agama, yang asal, dsb). Sedangkan, perilaku sosial negatif atau sering dikatakan sebagai perilaku menyimpang atau biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Perilaku atau yang biasa disebut sebagai akhlaq dibagi menjadi dua macam, yaitu

akhlaq terpuji dan tercela. Akhlak yang terpuji akan berdampak positif pada pelakunya begitu juga akhlak tercela akan membawa dampak negatif. Dengan akhlak yang terpuji manusia akan mendapatkan derajat yang tinggi. Baik di mata Allah swt, sesama manusia dan semua makhluk Allah swt yang lain termasuk jin dan malaikat. Selain akhlak terpuji, manusia juga bisa memiliki perilaku tercela yang harus ditinggalkan karena akan

menurunkan derajatnya di mata Allah dan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: jauhilah oleh kalian berprasangka, karena Sesungguhnya berprasangka itu ucapan paling dusta. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah memata-matai, janganlah saling bersaing, iri hati, benci dan berselisih. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (H.R. Bukhari). Persaudaraan menjadi kata kunci, pesan Rasulullah dalam hadits di atas dalam

membina dan menjaga keutuhan persaudaraan, kita harus selalu menjauhi prasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, memata-matai, saling iri, dan benci satu dengan yang lain. Jika kita tidak bisa menjauhi apa yang sudah digariskan Rasulullah, kebiasaan jelek di atas, maka yang tersisa adalah sebuah permusuhan dan saling membenci antara satu
3

dengan yang lain. Tentu ini adalah awal bencana keretakan, ketidakrukunan dan hilangnya harmoni di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Selanjutnya, beberapa pakar sosiologi dan psikologi sosial memberikan batasan pengertian perilaku negatif atau perilaku menyimpang menyatakan bahwa : Deviance is behavior that violates the standards of conduct or expectation of a group or society. Wickman, (1991) in Schaefer R.T.,(2003 : 188). Artinya : Penyimpangan adalah tingkah laku yang melanggar norma-norma standar yang diharapkan suatu kelompok atau masyarakat tertentu. Deviant Behavior is conduct that perceived by others as violating institutionalized expectatinos that are widely shared and recognized as legitimate within the society simply put, deviance is the violation of norm. Jack E Bynum (1992:15). Artinya : Perilaku menyimpang adalah tabiat yang menurut orang lain dipandang sebagai pelanggaran atas pengharapan-pengharapan yang dilembagakan yang mana diilhami dan diakui secara luas sebagai legitimasi yang mendalam dari masyarakat. Atau secara sederhana, penyimpangan adalah pelanggaran atas norma. Penyimpangan atau deviance diartikan sebagai perilaku yang terlarang, perlu dibatasi, disensor, diancam hukuman, atau label lain yang dianggap buruk sehingga istilah tersebut sering dipadankan dengan pelanggaran aturan. Rock, (2000), dalam buku Dadang S, (2007 : 144) Perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang dinilai sebagai menyimpang dari aturan-aturan normatif atau yang dinilai sebagai menyimpang dari pengharapan-pengharapan lingkungan sosial. Lihat Saparinah Sadli (1977) Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari normanorma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang tersebut. Robert M. Z. Lawang Perilaku menyimpang bisa didefinisikan sebagai setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Bruce J. Cohen (1992). Penyimpangan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma, jadi tanpa norma sosial tidak akan ada penyimpangan. David Berry (1985 : ) dalam buku Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi yang diterjemah oleh Paulus Wiroutomo. Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perilaku negatif atau perilaku menyimpang merupakan tingkah laku individu yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dibuat dalam lingkungan atau di masyarakat.
4

B.

Sifat-Sifat Perilaku Negatif atau Menyimpang Secara umum terdapat dua sifat penyimpangan, yaitu :

1.

Penyimpangan yang bersifat positif. Penyimpangan yang bersifat positif adalah penyimpangan yang tidak sesuai dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku, tetapi mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial. Misalnya, dalam masyarakat tradisional, wanita yang melakukan kegiatan tertentu (berkarier) dianggap tabu. Perilakunya dianggap melakukan penyimpangan. Namun, ada dampak positif dari perilaku tersebut, yaitu emansipasi. Siti Wardiah Q, Dkk, (2004 : 107). Dampak yang dihasilkan dalam penyimpangan ini bersifat positif dan masyarakat menerimanya karena tidak mengganggu struktur sosial. Contohnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan banyak wanita karier.

2.

Penyimpangan yang Bersifat Negatif Dampak yang dimunculkan dalam penyimpangan ini bersifat negatif karena bertentang- an dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Tindakan dan pelakunya tidak diterima oleh masyarakat. Contohnya pembunuhan,

pemerkosaan korupsi, seks bebas, napza, berjudi, pemabuk, dan yang lainnya.

C.

Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Negatif atau Perilaku Menyimpang Munculnya perilaku negatif dalam diri seseorang menurut Mudlor Achmad (1997 :

65) menyatakan bahwa : unsur jiwa manusia terdiri atas empat bagian, yaitu : ruh(sebagai radar guna menangkap rahasia-rahasia kegaiban), nafsu (id), akal (aqlu), buddhi (qalbu). Dalam hal ini, ruh akan memantulkan Cahaya Tuhan ke alam kemanusiaan melalui qalbu untuk diteruskan ke akal. Apabila akal pada ketika disinari oleh qalbu berisi anasir-anasir pikiran nafsu, maka sinar itu akan dipantulkannya kembali. Tetapi bila ia berisi anasiranasir yang bersesuaian dengan budhi, ia akan menghisapnya. Sehingga apabila kita memanjakan id, berati langkah menuju kehancuran. Pengumbaran terhadap nafsu akan mengakibatkan rusaknya hidup seseorang. Seperti yang terungakap dalam syair yang ditulis Syekh Muhammad AlBusyiri bahwa: Nafsu bagaikan anak apabila kau biarkan, besar menjadi manja Akan tetapi suka menyusu, dan bila kau patahkan, ia kan terpatah Maka tolaklah kehendaknya dan waspadalah jangan sampai menghambakan diri.

kau
5

Bila hawa nafsu sudah tak terkalahkan, ia kan menjadi binal atau kan tercaci . Lihat Achmad Mudlor, (1997: 67) Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang. Terjadinya tindakan atau perilaku yang menyimpang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :. 1. Lingkungan pergaulan Setiap manusia yang hidup dan berkembang, tidak terlepas dari lingkungan pergaulan, baik dengan teman sepermainan maupun dengan teman sekolah. Proses pergaulan yang terjadi ini tidak semuanya berjalan secara baik. Seorang anak yang belum matang kepribadiannya, sangat gampang dipengaruhi oleh teman dalam lingkungan pergaulan. Pengaruh positif dan negatif dapat dijumpai di lingkungan ini. Lingkungan pergaulan yang dimasuki seorang anak adalah lingkungan yang sehat maka seorang anak berkembang secara sehat juga. Tetapi apabila lingkungan yang dimasukinya tidak sehat maka anak yang bersangkutan bertumbuh juga secara tidak sehat. 2. Dorongan ekonomi Kehidupan ekonomi yang tidak mapan merupakan salah satu faktor yang membuka peluang bagi seseorang untuk melakukan perilaku menyimpang. Misalkan, ada orang yang berusaha mencuri sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 3. Keinginan untuk dipuji Kelompok remaja merupakan kelompok yang masih mencari indentitas diri. Mereka melakukan sesuatu yang sifatnya menyimpang supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain. Contoh, seseorang yang berusaha merokok supaya dipuji oleh teman. 4. Pelabelan Pelabelan atau pemberian cap tertentu pada seseorang atau kelompok orang sangat berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya perilaku menyimpang. Contoh, seorang perempuan pernah terlibat sebagai pelacur kemudian bertobat dan hidup membaur dengan masyarakat umum, akan mendapat pelabelan tertentu oleh masyarakat. Terhadap pelabelan ini maka perempuan yang bersangkutan merasa tidak tahan di dalam kehidupan masyarakat dan berusaha hidup kembali di lembah
6

hitam (sebagai pelacur) karena masyarakat telah memberikan cap yang jelek terhadapnya. 5. Gangguan jiwa atau mental Perilaku menyimpang bisa terjadi karena faktor kejiwaan yang tidak sehat. Pola perilaku yang ditampilkan, umumnya bertentangan dengan norma baku yang berlaku dalam masyarakat dan orang yang melakukan ini di luar batas kesadaran. Setiap perbuatan yang dilakukan tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Perilakunya di luar kontrol akal sehat, kehilangan daya ingatan baik berupa kebiasaan hidup di masyarakat maupun kegiatan berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. 6. Pengaruh media massa Pengaruh media massa terhadap kepribadian dan pola perilaku seorang individu sangat kuat. Beberapa tayangan TV atau film, blog di internet atau situs yang menjurus pada perilaku menyimpang, umumnya berhasil ditiru oleh anak-anak bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Dilihat dari asalnya, penyebab terjadinya perilaku negatif atau perilaku menyimpang dikarenakan beberapa faktor antara lain : 1) Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir). 2) Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi. Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif), yaitu : a. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak (broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna, maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga. b. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu, merupakan bentuk perilaku menyimpang yang
7

disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. Karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekat merupakan bentuk proses belajar menyimpang. c. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi, jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang. Akibat proses sosialisasi nilainilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang). Hal inilah yang dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang.

D.

Bentuk Perilaku Negatif atau Perilaku Menyimpang Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-

nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk seperti pencurian, perampokan, pelacuran, dan pemerkosaan. Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut: 1. Penyimpangan primer (primary deviation) Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Misalnya seorang siswa yang terlambat masuk sekolah karena ban sepeda motornya bocor, seseorang yang menunda pembayaran pajak karena alasan keuangan yang tidak mencukupi, atau pengemudi kendaraan bermotor yang sesekali melanggar rambu-rambu lalu lintas. 2. Penyimpangan sekunder (secondary deviation) Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk. Bentuk penyimpangan berdasarkan pelakunya, dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:
8

1.

Penyimpangan individual (individual deviation) Penyimpangan individual adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menyimpang dari norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya, seseorang bertindak sendiri tanpa rencana melaksanakan suatu kejahatan. Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut. a. Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik. b. Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan orang lain. c. Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang berlaku. Misalnya orang yang melanggar rambu-rambu lalu lintas pada saat di jalan raya. d. Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan normanorma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya. Misalnya pencuri, penjambret, penodong, dan lain-lain. e. Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong, berkhianat, dan berlagak membela.

2.

Penyimpangan kelompok (group deviation) Penyimpangan kelompok adalah tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok yang bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya, sekelompok orang menyelundupkan narkotika atau obatobatan terlarang lainnya.

3.

Penyimpangan campuran (combined deviation) Penyimpangan seperti itu dilakukan oleh suatu golongan sosial yang memiliki organisasi yang rapi, sehingga individu ataupun kelompok didalamnya taat dan tunduk kepada norma golongan dan mengabaikan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya, remaja yang putus sekolah dan pengangguran yang frustasi dari kehidupan masyarakat, dengan di bawah pimpinan seorang tokoh mereka mengelompok ke dalam organisasi rahasia yang menyimpang dari norma umum (geng).

E.

Beberapa Kasus Perilaku Negatif atau Menyimpang Perilaku negatif atau menyimpang dapat digolongkan ke dalam beberapa bagian,

yaitu sebagai berikut : 1. Tindakan kriminal dan kejahatan Tindakan kriminal merupakan suatu bentuk penyimpangan terhadap nilai dan norma atau pelanggaran terhadap aturan dan perundang-undangan yang berlaku di masyarakat. Kejahatan ini ada yang dilakukan terhadap manusia, seperti : pembunuhan dan penodongan, perampokan, penganiayaan, penjambretan, mutilasi dan yang lainnya. Perilaku kejahatan yang dilakukan terhadap negara dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, misalnya pembunuhan terhadap kepala negara, melakukan kudeta dan mengadakan kekacauan, korupsi. 2. Kenakalan anak (Juvenile Delinquency) Masalah kenakalan anak sering menimbulkan kecemasan sosial karena dapat menimbulkan kemungkinan gap generation sebab anak yang diharapkan sebagai kader penerus bangsa tergelincir ke arah perilaku yang negatif. Perbuatan-perbuatan kenakalan anak itu dapat berupa pengrusakan tempat atau milik/fasilitas umum, penggunaan obat-obatan terlarang, pencurian, perkelahian atau tawuran dan sebagainya. 3. Penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang dan melanggar norma-norma yang menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat. Penyimpangan seksual meliputi : homoseksual, lesbianisme dan transeksual. Perilaku ini menimbulkan ledakan AIDS, kecepatan penularan/penyebaran virus HIV/AIDS begitu cepat dalam hitungan menit, yaitu setiap menit 3 orang terinveksi (Konferensi AIDS Vancouver, Kanada Juli 1996 menyebutkan setiap menit 5 orang terinfeksi). Dadang Hawari,(1996 : 4). . Pada dekade tahun 2000 yang telah

terinfeksi mencapai jumlah 110 juta orang yang berarti satu di antara 50 penduduk. Yang telah mati karena penyakit AIDS ini mencapai 30-40 juta jiwa, 10 juta jiwa bayi dan balita. Kematian ini jauh lebih besar dari kematian karena peperangan ataupun bencana alam lainnya suatu ancaman bagi generasi kita. Sejak diketemukan tahun 1980, hingga tahun 1993 (13 tahun) penyakit AIDS belum nampak tanda-tanda akan diketemukan penawarnya, bahkan para pakar
10

menyatakan belum bias menjamin dalam 10 tahun mendatang, mereka mampu berhasil menemukan vaksin pencegahnya. 4. Alkoholisme/miras Alkohol dapat disebut sebagai racun protoplasmik yang mempunyai efek depresen pada sistem syaraf atau zat adiktif, artinya zat tersebut dapat menimbulkan adiksi (addiction) yaitu ketagihan dan ketergantungan, sehingga orang yang

mengkonsumsi minuman alkohol secara berlebihan akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis maupun sosial. Hal ini yang menyebabkan seorang pemabuk sering melakukan keonaran atau keributan bahkan perkelahian hingga pembunuhan karena tidak dapat berfikir secara normal akibat pengaruh alkohol. Oleh karena itu, pemabuk atau alkoholis ( pecandu alkohol) maupun pengedar minuman keras dianggap melanggar norma-norma sosial dalam masyarakat. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa bahwa setetes alkohol saja dalam minuman hukumnya sudah haram. Lihat pada buku karangan Dadang Hawari,(1996 : 135) 5. Penyalahgunaan narkotik/napza Penyalahgunaan narkotik dapat disebut penyimpangan perilaku karena melanggar norma hukum yang berlaku di masyarakat. Penggunaan obat-obatan jenis narkotik telah diatur dalam seperangkat peraturan yang sifatnya formal. Oleh sebab itu, penggunaan narkotik hanya dianggap sah apabila digunakan untuk kepentingan medis (pengobatan) di bawah pengawasan ketat pihak berwenang seperti dokter. Penyalahgunaan napza mempunyai dimensi yang cukup luas dari sudut medik, psikiatri, kesehatan jiwa, maupun psikososial (ekonomi, politik, sosial-budaya, kriminalitas, dan lain sebagainya). Penyalahgunaan napza sangat kronik, sudah merupakan penyakit endemik dalam masyarakat dan belum ditemukan upaya penanggulangan secara universal yang memuaskan, baik dari sudut prevensi, terapi maupun rehabilitasi. Berbagai jenis narkotika/napza antara lain : Ganja, putaw, ecstasy 151 (MDMA), LSD dan STP, kokain 157, mariyuana, heroin, morfin, petidin, metadon, kodein, amfetamin, metamfetamin (sabu), fensiklidin (PCP), dan ritalin, pentobarbital, flunitrazepam, diazepam, klabozam, fenobarbital, barbital, klorazepam, nikotin, kafein, solven dan inhalansi, opioida, sedativa dan hipnotika, pil BK/Koplo, dll.
11

6.

Hubungan seksual sebelum nikah (free sex) Dalam lingkungan masyarakat yang bernorma, hubungan seksual sebelum atau di luar nikah tidak dapat dibenarkan, khususnya norma agama, sosial maupun moral dan dianggap sebagai bentuk penyimpangan perilaku dalam kehidupan masyarakat. Hubungan seksual akan dianggap sah dan dibenarkan apabila seseorang sudah resmi menikah. Jenis hubungan seksual semacam ini dapat berupa : pelacuran, kumpul kebo dan perkosaan. Penularan/penyebaran virus maut HIV/AIDS tersebut di atas 90% melalui kontak seksual di luar nikah (perzinaan), yaitu pelacuran, pergaulan bebas (free sex)/ganti-ganti pasangan baik sejenis (homo

seksual/lesbianism) maupun dengan lawan jenis (heteroseksual). Satu-satunya yang handal untuk mencegah penularannya adalah jangan ganti-ganti mitra seks, satu saja dan tetap, dan siapa lagi kalau bukan istri/suami? Karena itu seks yang aman (safe sex) adalah dilakukan oleh hanya dengan pasangan yang sah atau mutually faithful monogamy (Harvard AIDS Institute). Dadang Hawari,(1996 : 5-6). 7. Perkelahian antar pelajar Perkelahian antarpelajar sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan dan kota-kota besar lainnya. Perkelahian tersebut tidak hanya menggunakan tangan kosong atau perkelahian satu lawan satu, melainkan perkelahian bersenjata, bahkan ada yang menggunakan senjata tajam serta dilakukan secara berkelompok. Banyak korban berjatuhan, bahkan ada yang meninggal dunia. Lebih disayangkan lagi, kebanyakan korban perkelahian tersebut adalah mereka yang justru tidak terlibat perkelahian secara langsung. Mereka umumnya hanya sekadar lewat atau hanya karena salah sasaran pengeroyokan. Kondisi ini jelas sangat mengganggu dan membawa dampak psikis dan traumatis bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar. Pada umumnya mereka menjadi waswas, sehingga kreativitas mereka menjadi terhambat. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian dari semua kalangan sehingga dapat tercipta suasana nyaman dan kondusif khususnya bagi masyarakat usia sekolah. 8. Berjudi Berjudi merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial. Hal ini dikarenakan berjudi mempertaruhkan harta atau nafkah yang seharusnya dapat dimanfaatkan. Seseorang yang gemar berjudi akan menjadi malas dan hanya berangan-angan mendapatkan banyak uang dengan cara-cara yang sebenarnya belum pasti.
12

Indonesia merupakan salah satu negara yang melarang adanya perjudian, sehingga seluruh kegiatan perjudian di Indonesia adalah kegiatan illegal yang dapat dikenai sanksi hukum. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, aparat keamanan masih menolerir kegiatan perjudian yang berkedok budaya, misalnya perjudian yang dilakukan masyarakat saat salah seorang warganya mempunyai hajatan. Langkah ini sebenarnya kurang tepat, mengingat bagaimana pun juga hal ini tetap merupakan bentuk perjudian yang dilarang agama.

F.

Dampak Perilaku Penyimpangan Sosial Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang ada di masyarakat akan membawa

dampak bagi pelaku maupun bagi kehidupan masyarakat pada umumnya. 1. Dampak bagi pelaku Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seorang individu akan memberikan dampak bagi si pelaku. Berikut ini beberapa dampak tersebut. a. Memberikan pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau dijauhi dari pergaulan. b. Dapat menghancurkan masa depan pelaku penyimpangan. c. Dapat menjauhkan pelaku dari Tuhan dan dekat dengan perbuatan dosa. d. Perbuatan yang dilakukan dapat mencelakakan dirinya sendiri. 2. Dampak Bagi Orang Lain/Kehidupan Masyarakat Perilaku penyimpangan juga membawa dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya. Beberapa di antaranya meliputi hal-hal berikut ini. a. Dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketidakharmonisan dalam masyarakat. b. Merusak tatanan nilai, norma, dan berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat. c. d. Menimbulkan beban sosial, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku. Merusak unsur-unsur budaya dan unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan masyarakat. Dampak yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif. Demikian pula, menurut pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan
13

masyarakat. Namun demikian, menurut Emile Durkheim, perilaku menyimpang tidak serta merta selalu membawa dampak yang negatif. Menurutnya, perilaku menyimpang juga memiliki kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat. Adapun beberapa kontribusi penting dari perilaku menyimpang yang bersifat positif bagi masyarakat meliputi hal-hal berikut ini. 1. Perilaku menyimpang memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat. Bahwa setiap perbuatan baik, merupakan lawan dari perbuatan yang tidak baik. Dapat dikatakan bahwa tidak akan ada kebaikan tanpa ada ketidak-baikan. Oleh karena itu, perilaku penyimpangan diperlukan untuk semakin menguatkan moral masyarakat. 2. Tanggapan terhadap perilaku menyimpang akan memperjelas batas moral. Dengan dikatakan seseorang berperilaku menyimpang, berarti masyarakat mengetahui kejelasan mengenai apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah. 3. Tanggapan terhadap perilaku menyimpang akan menumbuhkan kesatuan masyarakat. Setiap ada perilaku penyimpangan masyarakat pada umumnya secara bersama-sama akan menindak para pelaku penyimpangan. Hal tersebut menegaskan bahwa ikatan moral akan mempersatukan masyarakat. 4. Perilaku menyimpang mendorong terjadinya perubahan sosial. Para pelaku penyimpangan senantiasa menekan batas moral masyarakat, berusaha memberikan alternatif baru terhadap kondisi masyarakat dan mendorong

berlangsungnya perubahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perilaku menyimpang yang terjadi saat ini akan menjadi moralitas baru bagi masyarakat di masa depan.

G.

Upaya Pencegahan Penyimpangan Sosial dalam Keluarga dan Masyarakat Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah perilaku penyimpangan sosial

dalam masyarakat. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dari berbagai lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan tempat sekolah, dan lingkungan di masyarakat. 1. Di Lingkungan Keluarga Upaya pencegahan perilaku penyimpangan sosial di rumah memerlukan dukungan dari semua anggota keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga luas. Di dalam hal ini, masing-masing anggota keluarga harus mampu mengembangkan sikap kepedulian, kompak, serta saling memahami peran dan kedudukannya masing-masing di keluarga. Meskipun keterlibatan seluruh anggota keluarga sangat dibutuhkan, namun orang tua
14

memegang peran utama dalam membentuk perwatakan dan membina sikap anak-anaknya. Hal ini dikarenakan, orang tua merupakan figur utama anak yang dijadikan panutan dan tuntunan, sehingga sudah sepantasnya jika orang tua harus mampu memberi teladan bagi anak-anaknya. Dalam hubungannya dengan upaya pencegahan penyimpangan sosial di lingkungan keluarga, orang tua dapat melakukan beberapa hal, seperti berikut ini. a. Menciptakan suasana harmonis, perhatian, dan penuh rasa kekeluargaan. b. Menanamkan nilai-nilai budi pekerti, kedisiplinan, dan ketaatan beribadah. c. Mengembangkan komunikasi dan hubungan yang akrab dengan anak. d. Selalu meluangkan waktu untuk mendengar dan menghargai pendapat anak, sekaligus mampu membimbing atau solusi jika anak mendapat kesulitan. e. Memberikan punnish and reward, artinya bersedia memberikan teguran atau bahkan hukuman jika anak bersalah dan bersedia memberikan pujian atau bahkan hadiah jika anak berbuat baik atau memperoleh prestasi. f. Memberikan pendidikannya. Langkah-langkah tersebut merupakan upaya yang dapat dilakukan orang tua agar tercipta suatu komunikasi yang baik dengan anak, sehingga anak merasa terlindungi, memiliki panutan atau teladan, serta merasa memiliki arti penting bagi keluarganya. 2. Di Lingkungan Sekolah Sekolah merupakan lingkungan pergaulan anak yang cukup kompleks. Di dalam hal ini, kedudukan pendidik di lingkungan sekolah memegang peran utama dalam mengarahkan anak untuk tidak melakukan berbagai penyimpangan sosial. Berbagai hal yang dapat dilakukan guru selaku pendidik dalam upaya mencegah perilaku penyimpangan sosial anak didiknya, antara lain, berikut ini. a. Mengembangkan hubungan yang erat dengan setiap anak didiknya agar dapat tercipta komunikasi timbal balik yang seimbang. b. Menanamkan nilai-nilai disiplin, budi pekerti, moral, dan spiritual sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. c. Selalu mengembangkan sikap keterbukaan, jujur, dan saling percaya. d. Memberi kebebasan dan mendukung siswa untuk mengembangkan potensi diri, sejauh potensi tersebut bersifat positif. tanggungjawab kepada anak sesuai tingkat umur dan

15

e. Bersedia mendengar keluhan siswa serta mampu bertindak sebagai konseling untuk membantu siswa mengatasi berbagai permasalahan, baik dihadapinya di sekolah atau yang dihadapinya di rumah. Selain itu langkah yang perlu dilakukan oleh pihak sekolah adalah perlunya kurikulum holistik dalam pendidikan karakter. Tujuan model pendidikan karakter adalah membentuk manusia secara utuh (holostik) yang berahlak, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, sprtiual dan intelektualitas siswa secara optimal, serta membentuk manusia pembelajar yang sejati. Menurut Muslich (2011) Strategi yang dapat diterapakan dalam pendidikan karakter adalah sebagai berikut: a. Guru menerapkan metode belajar yang melibatkan partisispasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan matapelajaran yang kongkrit, bermakna, serta relevan dengan konteks kehidupan. b. Guru dapat menciptakan lingkungan belajarnya yang kondusif sehingga anak dapat belajar didalam suasana yang meberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman,dan memberikan semangat. c. Guru memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan berkesinam- bungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good. d. Guru menerapkan metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masingmasing anak. e. Guru menerapkan metode pembelajaran penerapan pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bermuatan keimanan dan ketaqwaan (IMTAK). 3. Di Lingkungan Masyarakat Lingkungan pergaulan dalam masyarakat sangat mampu memengaruhi pola pikir seseorang. Dalam hal ini, perlu tercipta lingkungan pergaulan yang sehat dan nyaman sehingga dapat dijadikan tempat ideal untuk membentuk karakter anak yang baik. Adapun hal-hal yang dapat dikembangkan dalam masyarakat agar upaya pencegahan perilaku penyimpangan sosial dapat tercapai, antara lain, berikut ini. a. Mengembangkan kerukunan antarwarga masyarakat. Sikap ini akan mampu meningkatkan rasa kepedulian, gotong royong, dan kekompakan antarsesama warga masyarakat. Jika dalam suatu masyarakat tercipta kekompakan, maka perilaku penyimpangan dapat diminimalisasikan.
16

yang

b.

Membudayakan perilaku disiplin bagi warga masyarakat, misalnya disiplin dalam menghormati keputusan-keputusan bersama, seperti tamu bermalam harap lapor RT, penetapan jam belajar anak, menjaga kebersihan lingkungan, mentaati tata tirtib lingkungan, suka gotongroyong, dan sebagainya.

c.

Mengembangkan

berbagai

kegiatan

warga

yang bersifat

positif,

seperti

perkumpulan PKK, Karang Taruna, rembuk desa, KKLKMD, LSMD, pengajian, atau berbagai kegiatan lain yang mengarah kepada peningkatan kemampuan masyarakat yang lebih maju dan dinamis. Jika beberapa upaya tersebut dapat diterapkan dalam suatu lingkungan masyarakat, maka kelompok pelaku penyimpangan sosial akan merasa risih dan jengah, sehingga mereka akan merasa malu jika melakukan tindakan penyimpangan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. d. Mengembangkan Sikap Simpati terhadap Pelaku Penyimpangan Sosial Para pelaku penyimpangan sosial memang sudah selayaknya mendapatkan hukuman dari pihak yang berwajib. Akan tetapi, jika para pelaku penyimpangan sosial tersebut masih dapat dibina, maka sebaiknya kita kembangkan sikap simpati terhadap para pelaku penyimpangan sosial tersebut. Sikap simpati adalah suatu sikap yang ditujukan seseorang sebagai suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada perasaan pihak lain yang mendorong keinginan untuk memahami dan bekerjasama dengan pihak lain. Sikap simpati dapat ditunjukkan dalam bentuk perhatian, kepedulian, rasa ingin menolong, dan sebagainya. Perasaan simpati hanya akan dapat berlangsung dan berkembang dalam diri seseorang bila terdapat saling pengertian. Mengembangkan sikap simpati terhadap para pelaku

penyimpangan sosial bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka. Sikap seperti ini justru dapat kita gunakan untuk menyadarkan perilaku mereka. Tentu saja cara penyampaiannya dilakukan dengan tutur bahasa yang santun dan tidak berkesan menggurui atau menghakimi. Cara-cara seperti ini pada umumnya lebih mengena dan dapat didengarkan oleh mereka, karena mereka merasa lebih dihargai. Contoh sikap simpati yang dapat kita kembangkan terhadap para pelaku penyimpangan sosial, antara lain, meliputi hal-hal berikut ini. a. Memberikan arahan berupa contoh-contoh dan dampak negatif dari perbuatan menyimpang yang telah atau biasa mereka lakukan, misalnya dampak negatif dari
17

mabuk-mabukan atau berjudi. Tentunya dengan bahasa yang bersahabat dan berkesan akrab. b. Menggali informasi tentang bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh para pelaku penyimpangan, kemudian memberi motivasi agar mereka mau tergerak untuk mengembangkan kemampuannya ke arah positif. c. Tetap memberikan kepercayaan kepada mereka yang telah dicap sebagai pelaku penyimpangan dengan cara ikut menyertakan mereka ke dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. d. Turut serta dalam upaya menyadarkan pelaku penyimpangan yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan melalui pendirian pusat-pusat rehabilitasi atau penyuluhan-penyuluhan tentang bahayanya.

18

BAB III KESIMPULAN Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian, di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok. Perilaku negatif dapat disebabkan karena beberapa faktor, yaitu lingkungan pergaulan, dorongan ekonomi, keinginan untuk dipuji, pelabelan, gangguan kejiwaan/ mental, dan pengaruh media massa. Contoh-contoh penyimpangan ini diantaranya adalah : tindakan kriminalitas, perjudian, hubungan seks di luar nikah, perkelahian antar pelajar, alkoholisme, dan lain-lain. Dampak yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif dan merugikan masyarakat. Para pelaku penyimpangan sosial memang sudah selayaknya mendapatkan hukuman dari pihak yang berwajib. Akan tetapi, jika para pelaku penyimpangan sosial tersebut masih dapat dibina, maka sebaiknya kita kembangkan sikap simpati terhadap para pelaku penyimpangan sosial tersebut. Oleh karena itu, diperlukan beberapa upaya pencegahan dan penanggulangan dari berbagai pihak terkait, termasuk keluarga, lingkugan masyarakat, maupun sekolah dengan membiasakan karakter-karakter nilai moral di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari.

19

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Husein Ritonga, (2002). Menggapai ikhlas dalam ibadah dan muamalah, Jakarta : Misaka Galiza. Arief Rachman, Dkk, (2002). Penerapan pengajaran iptek bermuatan imtak konsep dan aplikasi di sekolah, Jakarta : PT Gunara Kata. Bynum, E Jack Dkk (1992) juvenile delinquency, Massachusetts : Devision Of Simon & Shuster, Inc Dadang Hawari, (1996). Konsep islam memerangi aids & naza, Solo Jawa Tengah : PT Dana Bhakti Prima Yasa. Kartini Kartono, (2011). Patologi sosial 2 kenakalan remaja, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Mudlor Achmad (1994). Etika dalam islam, Surabaya : Al Iklas Poerwadarminta, W.J.S. (1976). Kamus besar bahasa Indonesia, Jakarta : PN Balai Pustaka. Lydia Harlina, M.,Satya Joewana, (2006). Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba berbasis sekolah, Jakarta : PT Balai Pustaka. Siti Wardiah Q, Dkk, (2004). Sosiologi 1 untuk SMA, Jakarta : Bumi Aksara. Zakiah Daradjat, Dkk (1984) Dasar dasar agama Islam, Jakarta : Bulan Bintang.

20

21