Anda di halaman 1dari 65

KONTRAK PEMBELAJARAN Manajemen Ternak Potong 3 SKS 2 sks Kuliah, yang terdiri dari : 50 menit x 2 60 menit x 2 60 menit x 2 Per

minggu ! 1 sks Praktikum : 3 4 jam per minggu 1 semester : 12 minggu ( 36 48 jam/semester ) Dosen : Dr. Ir. DosoSarwanto, MP Ir. Eko Nurwantini Ir. Sari Eko Tuswati, MP Komponen Penilaian : Kuiz &/ Tugas Terstruktur Praktikum Ujian Sisipan Ujian Utama Bonus : Hadir kuliah > 75 % Hadir kuliah 50 75 % Hadir kuliah < 50 % : 10 :5 :0 : 10 % : 20 % : 35 % : 35 % : tatap muka : Tugas Terstruktur : Tugas Mandiri

Pokok Bahasan : I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX. X. Pendahuluan Pengaruh Iklim Tropis terhadap Ternak Potong Pemilihan Lokasi & Jenis Usaha Pemilihan Bibit Perkandangan Pemberian Pakan Pemeliharaan / Pengelolaan Peningkatan Mutu Genetik Pengendalian Penyakit Perkembangbiakan Ternak

I. PENDAHULUAN

A. Pengertian Pengertian Manajemen menurut : 1. KBBI : Proses penggunaan sumber daya manusia secara efektif untuk mencapai sasaran Dalam bidang Peternakan, yang dimaksud sumber daya : sumber daya ternak sasaran 2. : keuntungan / pendapatan/ penghasilan

Haimann : Fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-uasaha individu untuk mencapai tujuan bersama Orang lain staff (pegawai) yang membantu manajer Tujuannya adalah : keuntungan / pelayanan

3. Manulang : Seni dan ilmu perencaaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan Seni berkaitan dengan persaan, ilmu terkait dengan rasio. Manajer dalam melaksanakan tugas tidak hanya mengandalkan ilmunya, tetapi juga seni Manajemen meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. Perencanaan Pengorganisasian Penyusunan Pengarahan Pengawasan

Jadi pengertian Manajemen meliputi: Adanya tujuan Mempergunakan kegiatan orang lain Dibimbing dan diawasi

Dalam beberapa hal, Manajemen sering diartikan sebagai Tatalaksana TATALAKSANA : Cara mengurus / menjalankan / mengelola suatu usaha / perusahaan. Manajer : Pejabat yang bertanggungjawab atas terselenggaranya aktivitas manajemen agar tujuan tercapai dengan menggunakan bantuan orang lain Jadi Manajer harus bisa mengelola orang, barang, ternak Manajer harus bisa mengelola bidang-bidang yang ada, juga proses produksi yang berjalan secara periodik dan kontinyu yang merupakan siklus berkesinambungan Untuk itu seorang Manajer harus mempunyai Sarana : Sarana Manajemen (6M) 1. Man 2. Money 3. Materials 4. Machines 5. Method 6. Markets : fungsi manajer : upah/gaji, sapronak dll : lahan, ternak, pakan dll : peralatan : cara melakukan pekerjaan : mempertahankan pasar dan mencari pasar baru

Karakteristik Manajer
a a

The Manager : ( I 5 C )

(P 3 )

I 1 : Integrity I 2 : Industry I 3 : Imagination I 4 : Initiative I 5 : Intelligence I 1 : Kejujuran

P1 P2 P3 C

: Preparation : Performance : Profil Oriented : Communication

I 2 : Seorang manajer harus amempunyai orientasi menghasilkan barang / jasa I 3 : Mempunyai imajinasi (impian/cita-cita/dream) I 4 : Mempunyai inisiatif (prakarsa) I 5 : Mempunyai kecerdasar P 1 : Punya persiapan yang baik P 2 : Punya penampilan fisik maupun penampilan kerja / hasil yang berkualitas P 3 : Berorientasi pada keuntungan C : Harus bisa berkomunikasi baik ke dalam maupun ke luar

Pengertian TERNAK :

Hewan piara, yang kehidupannya meliputi tempat, perkembangbiakan serta manfaatnya diatur dan diawasi manusia serta dipelihara khusus sebagai penghasil bahan dan jasa yang berguna bagi kepentingan manusia. Hewan piara Ternak Potong adalah : - Sapi - Kerbau - Domba - Kambing - Babi Tempat Manfaat Dipelihara : kandang, padang gembala : penghasil daging : pakan, kesehatan

Perkembangbiakan : perkawinan, bunting, lahir

Bahan dan Jasa Ternak Potong Bahan : - Ternak - Karkas (daging, tulang, lemak) - Kulit - Wool - Pupuk Jasa : - Tenaga Kerja - Qurban - Sesaji - Karapan

- Makepung - Adu domba - Adu sapi - Adu kerbau - Mapasongla (Toraja)

B. Segitiga Produksi Produktivitas (Fenotipe) ternak dipengaruhi oleh : Faktor keturunan (genetik) & Lingkungan P=G+E P G E : Performance (penampilan) : Genetic (kemampuan / bakat) : Environment (lingkungan / kesempatan)

Fenotipe = Penampilan / prestasi / produksi Dalam ternak potong, fenotip bisa berupa : Bobot badan Pertambahan Bobot Badan Harian Konversi pakan Bobot lahir Bobot sapih Bobot potong Bobot karkas Persentase karkas Meat bone ratio

Jadi Penampilan = Kemampuan + Kesempatan

P = K + L P K L : Penampilan : Kemampuan : Lingkungan

Faktor Genetik (= faktor keturunan) Adalah : Faktor yang diturunkan dari tetuanya (Pejantan dan Induk) melalui ovum dan spermatozoa. Ditentukan oleh susunan gen pada setiap sel (gen ada di dalam kromosom) Gen/bakat ada sejak terjadinya pembuahan (bersatunya spermatozoa & Ovum) Pengaruhnya baka (tetap). Dapat diturunkan (diwariskan). Angka pewarisan (heritability) koefisien heritabilitas : h2 Angka pengulangan (repetability)

Makin besar angka h2 dari suatu sifat, maka sifat tersebut akan semakin mudah diturunkan kepada anaknya. Umumnya h2 yang tinggi adalah pada sifat-sifat produksi, sedangkan sifat-sifat reproduksi (seperti : selang beranak, siklus berahi) nilai h2 adalah rendah, artinya tidak banyak dipengaruhi oleh bakat. Pengulangan; misalnya produksi susu pada laktasi I : 15 liter, laktasi I : 20 liter per hari diwariskan! Pemuliabiakan : suatu usaha untuk meningkatkan mutu genetic ternak Mutu genetic : gen-gen yang dibawa oleh ternak dalam kromosom Kromosom ada dalam ovum dan spermatozoa Usaha peningkatan mutu genetik :

a. Seleksi : memilih ternak-ternak yang akan diakembangkan (dipelihara) untuk dikembangbiakan b. Persilangan : meningkatkan mutu genetik lewat pemanfaatan heterosis, missal A (BB maks 600 kg); B (BB maks. 800 kg) turunan dari A X B bisa mencapai BB 600- 800 kg atau > 800 kg, bisa juga BB , 600 kg, tetapi performansnya baik

Faktor Lingkungan : Pakan, tatalaksana Selain faktor genetik Tidak baka bisa berubah-ubah Tidak diwariskan

Gen akan muncul kalau lingkungannya memadai; atau dapat dikatakan bahwa Bakat akan keluar kalau lingkungan memungkinkan ! Lingkungan ternak meliputi : Pemeliharaan (tatalaksana) Pakan Iklim

Yang termasuk faktor lingkungan : 1. Sosial (antar ternak, antar jenis ternak) 2. Manusia (pemberian pakan, perkandangan) 3. Luar (iklim : tropis, sub tropis) Jadi Produksi Ternak dipengaruhi oleh : Genetik (Breeding) Pakan (Feeding) Pemeliharaan (Management)

Disebut : Segitiga Produksi

Pemeliharaan (manajemen)

Produksi

Genetik (Breeding)

Pakan (Feeding)

Jadi ketiga-tiganya harus diperhatikan dan mempunyai kontribusi yang sama serta tidak ada yang paling penting; semuanya penting Produksi ternak akan optimal apabila peternak menggunakan bibit yang mempunyai mutu genetk tinggi disertai dengan pemberian pakan dan tatalaksana pemeliharaan yang memadai. Kalau ketiga-tiganya tidak seimbang, produksi tidak optimum Misal : Kita memelihara sapi impor yang mempunyai mutu genetik tinggi (misalnya : Hereford / Shorthorn); tetapi kalau tidak diberi pakan yang baik maka prstasinya tidak akan baik, bahkan mungkin dapat lebih rendah dari pada sapi-sapi lokal. Ayam Broiler, diberi pakan dedak/katul produksinya bisa lebih rendah dari pada ayam kampung. Pakan harus cukup dari segi kualitas & kuantitasnya.

Kualitas pakan; yang diukur adalah gizinya, yang meliputi: karbohidrat protein lemak mineral vitamin TDN

Vitamin, pada ternak Ruminansia tidak begitu penting, karena bisa membuat sendiri Jadi pakan dikatakan berkualitas tinggi, bila : TDN tinggi Mineral tinggi (terutama Ca, P)

Kuantitas Tinggi : Jumlah pakan; hubungannya dengan Bahan Kering (BK = 2-3% BB) BK : Bobot Bahan setelah dihilangkan airnya (dengan dioven, dengan suhu 105oC, selama 24 jam) Misal : Berat sebelum dioven X Berat setelah dioven Y BK = Y/X x 100% X = 100 mg Y = 20 mg BK = 2/ 100 X 100% = 20 % Daun singkong BKnya : 25%, maka kadar airnya : 75%

Misal butuh 4 kg BK 100/25 x 4 kg = 16 kg

Tatalaksana Bagaimana cara mengelola agar pakan dan genetik yang baik dapat menghasilkan produksi yang baik. Pakan baik dalam hal kualitas dan kuantitasnya; harus disajikan dengan baik agar bisa terkonsumsi semua; misalnya : rumput dicacah, kalau terlalu kering ditambah air garam Pakan yang terdiri dari Konsentrat dan Hijauan diberikan dengan cara bagaimana agar dapat terkonsumsi, misalnya konsentrat dulu, sehingga konsentrat dapat terkonsumsi dan tidak difermentasi, langsung ke abdomen. Perkawinan : kalau ternak dari jenis baik jangan disilangkan dengan ternak lokal; ternak yang jenisnya kurang baik dikawinkan dengan ternak yang baik Kesehatan : walau pakan baik dan genetik baik; kalau sapinya tidak sehat maka produksi akan turun Kandang : Pakan baik, genetik baik, kandang terlalu terbuka banyak angin, ternak sakit, maka produksi akan turun.

II. PENGARUH IKLIM TROPIS TERHADAP TERNAK POTONG

A. Iklim Tropis Daerah tropis : 23 o LU 23 o LS Iklim TRopis : 1. Iklim Khatulistiwa (super humid) - Curah hujan : 2032 3048 mm - Suhu Rataan : 27 o C ( 20 43 o C) - Kelembaban tinggi ( > 60 o C) - 5 o C 7 o LU s/d 5 o 7 o LS - Vegetasi : - hutan hujan tropik - selalu hijau - Kesuburan semu hutan direbang : kurus harus banyak pemupukan 2. Iklim Basah (humid) - Suhu tinggi - Curah hujan Tinggi - Kelembaban TInggi - Sebelah utara dan selatan khatulistiwa 3. Iklim Agak Basah (sub humid) 4. Iklim Agak Kering (semi arid) 5. Iklim Kering (arid) menyebabkan ternak stress

B. Pengaruh Iklim Tropis terhadap ternak

Pengaruh Langsung 1. Termoregulasi Termo Regulasi : panas : pengaturan ( pengaturan panas tubuh)

Faktor yang berpengaruh : - Suhu tinggi : 20 32 oC ( rata-rata : 27 oC) - Kelembaban tinggi : > 70 % - Curah hujan tinggi : 2000 3000 mm / tahun Ternak kita termasuk ternak mamalia yang bersifat homoiterm, maka ternak berusaha mempertahankan suhu tubuh agar tetap (konstan). Suhu tubuh harus konstan, supaya fungsi-fungsi fisiologis tubuh ( pernapasan, pencernaan, metabolisme, reproduksi) berjalan dengan normal. Ternak harus mengadakan termoregulasi untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap hidup. A. Regulasi Fisik - Berkeringat : mengeluarkan panas tubuh penguapan ; suhu tubuh turun Terutama pada ternak sapi, kambing dan domba. Ternak potong yang paling efektif membuang panasnya lewat keringat adalah ternak sapi, karena jumlah kelenjar keringat banyak; permukaan tubuhnya luas Yang paling tidak efektif adalah ternak kerbau; karena : jumlah kelenjar keringat sedikit - Pernapasan Bernapas : membuang panas tubuh

- Berkubang menyentuh benda lain yang lebih dingin (air, lumpur) terutama pada ternak kerbau & babi - Aliran darah B. Regulasi Kimia Dilakukan dengan : Termolisis dan Termogenesis - Termolisis : pengurangan / pembuangan panas Pada saat suhu lingkungan tinggi; melakukan termolisis (mengurangi produksi panas : menghentikan termogenesis) sambil melakukan pembuangan panas - Termogenesis : pembuatan panas ( usaha tubuh untuk membuat energi) Pada saat suhu lingkungan dingin : membakar karbohidrat, protein dan lemak sehingga cepat lapar konsumsi pakan meningkat. 2. Pakan - Feed Intake ( konsumsi pakan ) rendah; karena banyak panas - Water Intake tinggi - Feed Efisiensi ( pbbh/kg pakan) rendah pakan yang menjadi tubuh kecil - Zat makanan hilang lewat lkeringat tinggi (terutama mineral dan zat besi)

3. Pertumbuhan rendah 4. Produksi susu rendah pertumbuhan anak juga rendah 5. Reproduksi : fertilitas (tingkat kesuburan) rendah Produksi hormon rendah, karena feed efisiensi rendah Hormon mengandung zat-zat makanan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin-vitamin)

Produksi ovum dan sperma rendah fertilitas rendah

Pengaruh Tidak Langsung 1. Kualitas daan kuantitas pakan Hubungannya dengan kualitas konsentrat dan hijauan, terutama hijauan Andungan gizi yaitu : protein, serat kasar (karbohidrat) lemak, mineral, vitamin dan air Dari segi kualitas, bahan pakan di daerah tropis : kadar airnya tinggi, sehingga Bahan keringnya rendah Cara menghitung BK Bobot awal Bobot akhir : X kg : Y kg Oven pengering 105 oC selama 12-24 jam Kadar Air = X-Y / X x 100 % Kualitas pakan rendah Kadar air tinggi Bahan Kering rendah Protein Kasar rendah serat kasar (karbohidrat) tinggi Mineral rendah banyak hujan erosi pencucian tanah mineral rendah Mineral tanah rendah mineral pakan juga rendah Kuantitas pakan Persediaan pakan fluktuatif antara musim kemarau dan musim penghujan Pada musim penghujan : tinggi Pada musim kemarau : rendah Mengapa Protein kasar rendah ? Protein terdiri dari Nitrogen; Nitrogen mudah menguap Karena di daerah tropis suhunya tinggi N menguap

Kandungan N dalam tanah rendah diserap tanaman kandungan N pakan rendah ! 2. Parasit dan Penyakit - Suhu tinggi; - Kelembaban Tinggi Cocok untuk internal dan eksternal parasit, jamur, cacing, vektor penyakit Di daerah tropis banyak parasit dan penyakit, sedangkan di daerah sub tropis hamper tidak ada; Karena parasit tidak dapat hidup pada : suhu rendah dan kelembaban rendah 3. Penanganan Hasil ternak Hasil ternak cepat rusak, Suhu dan kelembaban tinggi banyak mikroba bahan makanan cepat rusak Harus dilakukan penyimpanan &/ penanganan yang membutuhkan biaya tinggi Penyimpanan : harus disimpan dalam kulkas / freezer Penanganan : harus dilakukan prosesing (penanganan) dibuat abon, dendeng, korned dll. Di aderah tropis produk hasil ternak mahal, karena butuh biaya tinggi untuk penyimpanan dan prosesing; agar produk tidak cepat rusak. Sedangkan di daerah sub tropis produk hasil ternak tidak cepat rusak, karena suhu rendah dan kelembaban rendah, sehingga parasit dan penyakit tidak dapat hidup pada suhu dan kelembaban yang rendah.

III. PEMILIHAN JENIS DAN LOKASI USAHA A. Pemilihan Jenis Usaha

1. Sapi Potong Kelebihan : 1. Populer (tidak asing) bagi petani peternak, termasuk di daerah trans & kering 2. Dapat dipelihara dari skala usaha kecil sampai besar 3. Dapat memanfaatkan pakan kualitas rendah; seperti : rumput gajah, jerami, kulit (kakao, kopi, nanas), ampas tebu (bagas), bungkil (kapuk, kedelai, jarak); karena sapi mempunyai mikroba rumen yang sangat banyak 4. Respon terhadap perbaikan pakan cukup tinggi (jika diberi pakan cukup baik, cepat menjadi gemuk). Respon ini pada ternak: Babi > Sapi > kambing/domba 5. Mudah beradaptasi dengan lingkungan; walau panas/dingin 6. Konsumen sangat luas (tak ada batas) Kekurangan : 1. Sebagian besar dipelihara petani peternak; dengan manajemen tradisional, sehingga potensi yang sesungguhnya kurang optimal 2. Relatif butuh modal dan lahan yang cukup besar bila diusahakan sebagai persh 3. Pakan (hijauan) tergantung musim 4. Pengadaan bibit dan bakalan terbatas (bibit : untuk perkembangbiakan = calon induk/pejantan; bakalan : untuk penggemukan).

2. Kambing & Domba Kelebihan : 1. Akrab dengan petani peternak

2. Modal relatif kecil 3. Siklus reproduksi lebih singkat (beranak kembar; beranak 3x / 2 tahun) 4. Pakan dapat dipenuhi dari sekitar kandang 5. Mudah beradaptasi dengan lingkungan 6. Peluang ekspor tinggi, terutama ke Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia (menjelang musim haji; tiap tahun butuh sekitar dua juta. Syarat min. 20 kg; Indonesia sangat dipercaya karena penduduknya sebagian besar muslim).

Kelemahan : 1. Manajemen sebagian besar secara tradisional 2. Investor kurang tertarik (respon terhadap perbaikan pakan kurang baik dan segmen konsumen terbatas) 3. Kurang dapat memanfaatkan limbah (mikroba rumen tidak segera merespon jika ada pakan baru).

3. Babi Kelebihan : 1. Sangat produktif (litter size: 7-11 ekor, beranak 2x/tahun) 2. Konversi pakan sangat efisien : 2,4 4,0 kg / kg BB 3. Persentase karkas tinggi : 75 80 % 4. Pengembalian modal cepat 5. Biaya dan tenaga kerja relatif kecil 6. Bibit mudah didapat Kelemahan : 1. Hambatan faktor religius (Islam : makan & pendapatan dari babi haram) 2. Segmen konsumen terbatas 3. Kebutuhan air cukup banyak (tidak tahan panas)

4. Adanya monopoli pemasaran

B. Pemilihan Lokasi Pertimbangan : 1. Faktor input : bibit, pakan, tenaga kerja 2. Faktor output : penjualan produk Lokasi : 1. Faktor Teknis : suhu, curah hujan, kelembaban, arah angin; ini semua bisa teratasi bila ternak mudah beradaptasi Lahan : harus cukup untuk kandang & perlengkapan, kebun/padang gembala Ketersediaan air Ketersediaan pakan Ketersediaan bibit Ketersediaan tenaga kerja Lahan untuk kandang : lebih tinggi dari daerah sekitar tanah menyerap air / dekat sungai luas cukup untuk perluasan

2. Faktor Ekonomi 1. Biaya input 2. Transportasi 3. Pemasaran 3. Faktor Sosial

1. Religius 2. Adat 3. Konflik Sosial 4. Keamanan 5. Tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah (perencanaan wilayah)

IV. PEMILIHAN BIBIT A. Pengertian Bibit dan Benih Dalam suatu usaha peternakan, pemilihan bibit unggul merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan karena bibit merupakan salah satu kunci

keberhasilan dari usaha peternakan. Bibit yng baik didukung pakan yang baik dan tatalaksana yang baik akan mendapatkan produksi yang optimal Ternak yang dipilih untuk digunakan sebagai bibit harus didasarkan pada sifatsifat produksi tinggi guna memperoleh produksi yang maksimal. Untuk menjamin mutu produksi yang sesuai dengan permintaan konsumen diperlukan bibit ternak yng bermutu, oleh karena itu diperlukan pengaturan mengenai standar mutu atau kualitas bibit ternak dan produksinya. Tujuan utama standarisasi adalah untuk meningkatkan daya saing hasil peternakan di pasaran dalam dan luar negeri yang diharapkan dapat meningkatkan penerimaan devisa negara dan pendapatan petani. Bagi ternak-ternak tertentu, standar mutu bibit diatur dalam Standar Pertanian Indonesia Bidang Peternakan (SPINAK) No. 01/43/1988 yang dituangkan dalam SK Meteri Pertanian No. 3568/Kpts/TN.410/5/1988. sedangkan bagi ternak yang belum diatur dalam Standarisasi Mutu diatur dalam Kesepakatan Teknis. Bibit Ternak : semua ternak hasil proses penelitian dan pengkajian dan atau ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangkan dan atau produksi Benih : calon bibit ternak yang mempunyai kemampuan persyaratan tertentu untuk dikembangbiakan seperti : mani (semen), sel telur (oocyt), telur tetas dan embrio Sumber : Pedoman Pembibitan Ternak Nasional Hardjosubroto (1994): Bibit Sapi : pedet/sapi muda yang dipelihara untuk menjadi sapi potong baik jantan maupun betina Sapi Bibit : Sapi yang memenuhi persyaratan tententu dan dibudidayakan untuk reproduksi dengan tujuan utama produksi daging dan atau

tenaga kerja Mani dan embrio termasuk didalam artian sapi bibit Mani : untuk IB : mani cair (segar) & mani beku (frozen semen) Oocyt : untuk embrio transfer (transfer embrio. Di Indonesia, semen beku berasal dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) : Ungaran Lembang Singosari (Jawa Timur)

Cara thawing semen yang berasal dari container bersuhu 196 oC Rendam dalam air tenggelam : masih bagus; terapung : kosong/bocor

Prinsip IB : Ada pejantan unggul menghasilkan banyak semen ; bisa mengawini banyak betina Jadi, IB adalah untuk memanfaatkan pejantan unggul semaksimal mungkin Misal : untuk kawin alam ; satu ekor sapi jantan bisa mengawini 75-100 betina Tetapi dengan IB, satu ekor sapi bisa untuk 7.500 10.000 betina (100x)

Prinsip Embrio Transfer : Untuk memberdayakan betina unggul Misal : secara alami, betina bisa menghasilkan anak setiap tahun satu ekor Tetapi dengan embrio transfer bisa menghasilkan anak lebih banyak Caranya betina disuntik dengan hormon agar terjadi super ovulasi, sehingga bisa mengahasilkan ovum lebih dari satu (bisa sampai 10) Ovum tersebut diambil, di IB, sehingga menghasilkan banyak embrio.

Embrio diambil dititipkan pada betina lain (resipien) yang sudah siap bunting (caranya : disuntik dengan hormon penyerentakan berahi) Penentuan Umur sapi : Pedet Sapi Muda Sapi Dewasa : : < 1 tahun : gigi belum ada yang berganti > 3 tahun : 3-4 pasang gigi berganti : 1 3 tahun : 1-2 pasang gigi berganti (poel)

Dasar Pemilihan Bibit A. Berdasarkan Silsilah (pedigree) Silsilah : catatan prestasi produksi tetua (induk dan pejantan) Catatan dilakukan oleh perusahaan-perushaan besar (di Indonesia biasa dilakukan pada ternak perah; ternak potong masih jarang) Catatan pada ternak potong : LD Berat lahir Berat sapih Pbbh Berat dewasa Bobot potong

(kalau tidak ada timbangan untuk mengukur BB penaksiran menggunakan

Rumus yang sangat terkenal untuk menaksir BB adalah Rumus Schrool, yaitu : BB = (LD + 22) 2 100 untuk sapi-sapi Bos Taurus (sapi-sapi di Eropa) Kalau digunakan untuk sapi-sapi di Indonesia (sapi tropis) Bos Indicus biasanya terlalu berat;

Misal : LD = 100 cm BB = (100+22)2 100 = 148,86 kg Kalau ditimbang kurang dari 148,86 kg yang cocok : BB = (LD+5)2 100 BB = (100+5)2 100 = 110,25 kg Selisih : 38 kg untuk sapi-sapi gemuk; untuk sapi-sapi kurus lebih kecil lagi; lebih-lebih untuk pedet = (122)2 100

Hasil dari seleksi berdasarkan silsilah : a. sapi potong : - Bobot pada umur tertentu (bobot lahir, bobot sapih, bobot dewasa) - Kecepatan pertumbuhan (pbbh) - Ukuran tubuh tertentu (tinggi gumba, lingkar dada, panjang badan)

b. Kambing & Domba : - Bobot pada umur tertentu - Kecepatan pertumbuhan - Produksi dan karakteristik wool - Indeks fertilitas induk c. Babi : - Seleksi Indeks Indeks Induk = 100 + 6,5 ( L L ) + 1.0 (W W) L : Jumlah anak hidup L : Rata-rata jumlah anak hidup W : Bobot anak (21 hari) W : Rata-rata bobot 21 hari Pemilihan bibit berdasarkan Pedigree masih jarang dilakukan; Yang banyak dilakukan adalah seleksi berdasarkan Eksterior.

B. Berdasarkan Eksterior (bentuk luar) Berdasarkan pengamatan, yaitu dengan : - melihat - memegang / meraba

Ciri-ciri umum bibit yang baik :

1. Sesuai dengan bangsanya - Sapi Ongole : putih abu-abu - Sapi Bali : merah bata - Sapi Bos Indicus : mempunyai punuk Misal : Sapi Bali - Warna pedet : merah bata - Menjelang dewasa : betina : merah bata; jantan : kehitaman - Dilihat dari belakang, bokongnya ada lingkaran putih Bos Indicus (sapi-sapi Asia) : tinggi, ramping, berpunuk, bergelambir - tinggi agar jauh dari tanah, sehingga tidak panas - berpunuk & bergelambir untuk memperluas permukaan tubuh; agar tempat untuk membuang panas lebih luas Bos Taurus (sapi-sapi Eropa) : - pendek agar dekat dengan tanah, sehingga tidak kedinginan - permukaan tubuh sempit agar kontak dengan udara luar sesedikit Mungkin

2. Sesuai dengan tujuan pemeliharaan , misalnya : - Penghasil daging : - Penghasil wool : Pejantan : gagah, scrotum kenyal Induk : ambing simetris 3. Sehat; dengan cirri-ciri :

- mata bersinar - bulu halus dan mengkilap - kulit elastis - sikap berdiri tegak - lincah, riang, kuat - nafsu makan baik 4. Sesuai dengan standar (bila ada) Contoh standar Standar Umum Bibit Sapi (SPINAK 01/43/1988) * Sapi Madura 1. Sifat Kualitatif a. Warna : merah bata / merah coklat bercampur putih dengan batas yang tidak jelas pada bagian paha b. Tanduk : kecil, pendek serta memngarah ke bagian luar c. Bentuk badan : tubuh kecil, kaki pendek ; betina tidak berpunuk, jantan punuk berkembang baik dan jelas 2. Sifat Kuantitatif a. Tinggi gumba : Betina : minimal 105 cm, maksimal 108 cm Jantan : minimal 115 cm, maksimal 125 cm b. Umur ternak : Betina : 18 24 bulan (maksimal punya 1 pasang gigi seri tetap) Jantan : 24 36 bulan (min. punya 1 ps. gigi tetap, max punya 2 ps.) Standar untuk Babi Parent Stock Standar Umum

a. Babi bibit Parent Stock harus mempunyai surat keterangan atau jaminan dari perusahaan Babi Bibit Grand Parent Stocknya; mengenai : warna, bentuk badan dan kualitasnya sebagai babi bibit b. Babi bibit Parent Stock harus sehat dan bebas dari cacat fisik seperti : cacat mata (kebutaan), pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya c. Semua bibit Parent Stock betina harus bebas dari cacat alat reproduksi. abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemabdulan d. Babi bibit Parent stock jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya, terutama testis harus satu pasang Standar Khusus : 1. Umur Dewasa kelamin : - Betina : 5 bulan - Jantan : 5 bulan 2. Babi bibit Parent Stock dapat mencapai BB dewasa kelamin : - Betina : 80 90 kg - Jantan : 80 90 kg 3. Berasal dari tetua Induk dengan jumlah anak lahir hidup per kelahiran : - Dari jalur jantan : + 7 ekor - Dari jalur betina : 8 9 ekor 4. Bobot Lahir Anak : - Dari jalur jantan : + 1,3 kg - Dari jalur betina : 1,2 1,4 kg

5. Rataan pbbh : - Dari jalur jantan : + 685 gr - Dari jalur betina : 740 70 gr

5. Calon Pejantan - Dada dalam dan lebar - Testis normal - Nafsu berahi tinggi 6. Calon induk - Tidak terlalu gemuk - Letak vulva normal - Ambing normal - Puting normal (jumlah dana bentuk), missal : sapi 4, babi 12 - Sifat mengasuh anak (mothering ability) baik

Ciri khusus Ternak Bibit Sapi Potong Standar Mutu Bibit (SK Mentan 358/TN410/88) Sapi Madura Sapi Bali Sapi Ongole

Sapi Peranakan Ongole (PO) Sapi Brahman Lokal Kerbau

Sapi Kupang : sapi bali yang telah beradaptasi (dan mengalami perubahan) terhadap lingiungan yang ada di Kupang (NTT); yaitu : lingkungan lebih berat warnanya lebih kasar Sifat kualitatif : Warna Tanduk Bentuk Badan

Sifat Kuantitatif : tinggi Gumba Umur

Warna sapi Brahman tidak Uniform , karena terbentuk dari empat (4) bangsa, yaitu : Sapi Gir Sapi Krishna Valley Sapi Nellore Sapi Gujarat

Sapi PO Sekarang sudah tidak begitu disukai, karena penggunaan sebagai tenaga kerja sudah berkuarang (diganti dengan traktor) Yang lebih disukai adalah Simmental, karena hasil daging baik; tetapi pakan harus lebih baik

Sapi Jantan : - Testi Simetria kanan dan kiri - Testis kenyal dan elastis Sapi Betina : Putting : empat buah dan simetris Ambing : besar dan simetris Vulva : tidak terlalu ke atas

Kambing dan Domba : - Sama dengan sapi, hanya ditambah : Jantan dan betina dari keturunan kembar ! Babi : Standar Mutu Bibit Impor 1. Standar Mutu Bibit babi Grand Parent Stock (GPS) 2. Standar Mutu Bibit babi Parent Stock (PS) 3. Standar Mutu Bibit babi Lokal (babi Jawa, babi Sumatra, babi Bali) Standar Umum : SK dari perusahaan di atasnya Bebas dari cacat fisik dan reproduksi

Standar Khusus Bobot ternak Dari induk dengan litter size tertentu Ambing baik; putting 6 pasang dan simetris

Klasifikasi Bibit

1. Secara Umum a. Bibit Dasar (Foundation Stock) bibit hasil pemuliaan - Spesifikasi tertentu - Mempunyai silsilah - Untuk menghasilkan bibit induk b. Bibit Induk (Breeding Stock) - Spesifikasi tertentu - Mempunyai silsilah - Untuk menghasilkan bibit sebar c. Bibit Sebar (bibit niaga = Commercial Stock) - Spesifikasi ternentu - Untuk digunakan dalam proses produksi yang komplit pada ternak ayam dan babi !

2. Secara Khusus (pada unggas dan babi) a. Bibit Galur Murni (pure line / PL) - Spesifikasi tertentu - Menghasilkan bibit nenek Grand Parent Stock = GPS) b. Grand Parent Stock (GPS) = Bibit Nenek - Sesifikasi tertentu - Menghasilkan bibit induk (Parent Stock = PS) c. Parent Stock (PS) = Bibit Induk - Spesifikasi tertentu - Menghasilkan bibit sebar (bibit niaga) = Final Stock (FS)

d. Final Stock (FS) = Bibit sebar (bibit Niaga) - Spesifikasi tertentu - Untuk dipelihara hingga menghasilkan daging / telur yang dipelihara langsung oleh peternak Perusahaan di Indonesia baru sampai dengan : GPS Untuk galur Murni biasanya masih impor Betina PO >< F1 Jantan : untuk digemukkan; dipotong Betina >< Simmental F2 Jantan : digemukkan; dipotong Betina >< Simmental F3 Keturunan persilangan sapi Simmental jantan harus digemukkan untuk dipotong; jangan smpai untuk mengawini betina; karena akan mennurunkan mutu genetic; karena gen Simmental sudah turun ! Betina hasil persilangan sebaiknya dibeli oleh pemerintah; digunakan untuk bibit; jangan sampai keluar dari kawasan tesebut A. Pemilihan Bibit sapi dan Kerbau Secara umum pada pemilihan bibit ternak, harus diperhatikan sehat tidaknya ternak calon bibit. Adapun tanda-tanda ternak sehat adalah : a. Mata bersinar, tidak terdapat kondisi patologik b. Bulu halus dan mengkilap c. Kulit tampak elastis Pejantan Simmental

d. Sikap berdiri tegak, kuat dan semua bagian tubuh didukung oleh keempat kaki dengan teracak yang rata e. Gerak lincah dan kuat f. Nafsu makan cukup baik, bila diberi ransum lain cepat menyesuaikan Standar Umum Mutu Bibit Sapi a. Sapi harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti : cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan bulu abnormal b. Sapi bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan c. Sapi bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya

Contoh standar mutu bibit sapi berdasarkan SPINAK/01/43/1988 adalah : Standar Mutu Bibit Sapi Peranakan Ongole (PO) Sifat Kualitatif : a. Warna : putih kelabu atau kehitam-hitaman b. Tanduk : relatif pendek, pada yang betina lebih pendek dibanding jantan c. Bentuk badan : kepala relatif pendek dengan profil melengkung. Punuk besar mengarah ke leher, lipatan-lipatan kulit yang terdapat di bawah perut dan leher menuju ke arah leher, kaki panjang dan kokoh Sifat Kuantitatif : a. Tinggi gumba : betina 112 - 118 cm. jantan 118 - 125 cm b. Umur : betina 18 - 24 bulan ( maksimal ganti gigi 1 pasang ) Jantan 24 36 bulan (ganti gigi 1 2 pasang )

Standar Umum Mutu Bibit Kerbau (berdasarkan Kesepakatan Teknis) a. Kerbau bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang b. Semua Kerbau bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan c. Kerbau bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya Contoh standar mutu bibit kerbau berdasar Kesepakatan Teknis Standar Mutu Bibit Kerbau Lumpur (Swamp buffalo) Sifat Kualitatif : a. Warna : kulit berwarna abu-abu, hitam serta bulu berwarna abu-abu sampai hitam b. Tanduk : mengarah ke belakang horizontal, bentuk bulat panjang dengan bagian ujung yang meruncing serta membentuk setengah lingkaran c. Bentuk badan : kondisi badan baik, bagian belakang penuh dengan otot yang berkembang, leher kompak dan kuat serta mempunyai proporsi yang sebanding dengan badan dana kepala, ambing berkembang dan simetris

Sifat Kuantitatif : a. Tinggi gumba : betina 120 125 cm, jantan 125 130 cm b. Umur : betina 24 36 bulan (maksimal ganti gigi 1 pasang), jantan 30 40 bulan ( ganti gigi 1 2 pasang ) c. Berat badan : betina 250 300 kg, jantan 300 350 kg

B. Pemilihan Bibit Domba dan Kambing Produktivitas induk domba dan kambing sangat ditentuka oleh kelahiran anaknya. Induk muda yang mampu melahirkan anak kembar pada kelahiran pertama ada kecenderungan melahirkan kembar pula pada waktu selanjutnya. Induk-induk inilah yang dikehendaki dalam memilih bibit karena dapat menurunkan kembar, walaupun kemungkinan peluang hanya 15%. Kriteria pemilihan bibit yang biasa digunakan sebagai pedoman dalam rangka melakukan seleksi terhadap ternak domba dan kambing adalah : a. Sehat; tanda-tanda domba dan kambing yang sehat antara lain : mata bersinar dan bersih, bulu mengkilat dan bersih, selaput lendir mata dan kulit tidak pucat, gerakannya aktif, hidung dan mulut tidak mengeluarkan cairan, dan anus tampak bersih b. c. d. Bangsa; menurut kesukaan peternak dan konsumen, dengan memilih bangsa domba/kambing yang biasa diternakkan di daerah sekitar. Kesuburan; induk yang subur adalah yang memliki banyak anak setiap melahrikan Temperamen; induk yang mempunyai temperamen yang baik yaitu induk yang mau merawat anaknya dengan rajin dan selalu menyusui anaknya e. Produksi susu tinggi; untuk memberikan jaminan hidup dan pertumbuhan anak yang baik sampai disapih, diharapkan induk mampu mensuplai susu yang cukup. 1. Pemilihan Bibit Berdasarkan Silsilah (Pedigree) Silsilah adalah suatu catatan tertulis dari keadaan yang lampau, serta suatu estimasi akan penampilan seekor ternak. Sebagai contoh seekor pejantan yang telah menurunkan anak-anak dengan bobot sapih tinggi serta mempunyai anak yang kualitas wool atau karkas yang bagus, maka dapat diharapkan pejantan itu memang mampu meneruskan sifat-sifat baik tersebut kepada keturunannya.

Pemilihan bibit dengan menggunakan silsilah merupakan cara yang terbaik, karena dari silsilah ini akan dapat diketahui prestasi produksi dari induk dan pejantannya. 2. Pemilihan Bibit dengan cara Melihat Bagian Tubuh Luar (Eksterior) Penilaian penampilan atau performance domba dan kambing diamati pada keadaan tubuh luar, yaitu dengan memegang/meraba ataupun melakukan pengamatan. Penilaian terhadap domba dengan pengamatan lebih sulit dibanding dengan kambing, karena pada umumnya domba memiliki bulu yang tebal. Agar diperoleh hasil yang baik pada penilaian dengan pengamatan, maka perlu dilakukan pengamatan dari samping, muka dan belakang. a. Pengamatan dari samping Secara umum tubuh tampak besar, bagian atas dan bawah tubuh rata, kaki pendek, lurus dan kuat b. Pengamatan dari depan Moncong besar berbentuk segi empat dengan lubang hidung cukup lebar, mata besar, dada dalam dan jarak kedua kaki depan relatif lebar c. Pengamatan dari belakang Mulai dari bahu sampai ke ujung pantat cukup lebar, padat dan berisi d. Menilai dengan memegang/meraba Perabaan dimulai dari leher, punggung, pinggang sampai pantat.

3. Pemilihan Domba dan Kambing Calon Bibit Tanda-tanda Pejantan Calon Bibit : a. b. c. Sehat, tubuh besar (sesuai umur), relatif panjang dan tidak cacat Dada dalam dan lebar Kaki lurus dan kuat

d. e. f. g. h. i. j.

Tumit tinggi Penampilan gagah Aktif dan besar nafsu kawinnya Testis normal (2 buah, sama besar dan kenyal) Alat kelamin kenyal dan dapat ereksi Sebaiknya berasal dari keturunan kembar Bulu bersih dan mengkilat Tanda-tanda betina calon bibit : a. Sehat, tidak terlalu gemuk dan tidak cacat b. Kaki lurus dan kuat c. Alat kelamin normal d. Mempunyai sifat mengasuh anak yang baik e. Ambing normal (halus, kenyal, tidak ada infeksi/pembengkakan) f. Sebaiknya berasal dari keturunan kembar g. Bulu bersih dan mengkilap.

C. Pemilihan Bibit Ternak babi Prinsip-prinsip dasar Pemilihan Ternak Pada umumnya para ahli dalam memilih ternak babi untuk dipelihara dapat menggunakan 4 (empat) dasar pemilihan, yaitu : a. Judging; yaitu pemilihan berdasar visual; biasanya digunakan pada arena lomba b. Pedigree; yaitu pemilihan didasarkan pada prestasi yang ditunjukkan oleh nenek moyangnya c. Penampilan ternak d. Pengujian atau tes produksi seperti yang diatur dalam kesepakatan teknis

Sifat-sifat ternak babi ditinjau dari kepentingan ekonomi dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu produktif, reproduktif dan struktural. Karena setiap sifat yang diamati pada ternak sebagian ditentukan oleh faktor genetik dan sebagian oleh lingkungan, maka memilih ternak untuk bibit hendaknya memilih individu-individu yang berpotensi variasi genetik yang baik dipandang dari sudut ekonomi. Pemilihan bibit dalam usaha ternak potong babi, bila ditinjau dari sudut tujuan pemeliharaan dapat dibedakan menjadi 2(dua) golongan, yaitu : a. Pemilihan bibit babi bakalan (jantan dan betina) untuk tujuan produksi anak b. Pemilihan bibit babi bakalan untuk tujuan digemukkan, kemudian dijual. Pemilihan bibit babi ditekankan pada : - Sifat-sifat genetic dari tetuanya - Penampakan sifat-sifat kelamin sekunder - Laju pertumbuhan dan efisiensi dalam penggunaan pakan - Kesehatan ternak Pemilihan babi bakalan ditekankan pada : Laju pertumbuhan Efisiensi pakan Kesehatan ternak

Memilih Babi Dara dan Pejantan Muda Memilih babi dara atau pejantan muda paling sedikit harus sebaik keduanya (induk/pejantannya) atau lebih superior dalam hal produk, kualitas dan performance yang potensial yang dapat diteruskan keturunannya dikelak kemudian hari. Sifat-sifat yang baik dari calon babi dara : a. Berasal dari tetua yang berkualitas genetik yang baik

b. Berbadan sehat, mata bersih dan bersinar, gerakannya lincah, serta berat badannya sesuai dengan standar berat badan masing-masing bangsa/jenis ternak c. Mempunyai minimal 6 pasang puting susu yang simetris dan mampu menghasilkan air susu yang cukup untuk anak yang diasuh d. Memiliki kaki yang kokoh dan lurus sehingga mampu menopang beban dari berat pejantan waktu kawin maupun berat masa bunting e. Mempunyai sifat keibuan f. Mempunyai sifat performans seperti laju pertumbuhan dan koefisien pakan yang lebih baik dari ternak biasa atau rata-rata ternak Sifat-sifat yang baik dari pejantan muda : a. Berasal dari tetua atau nenek moyang yang berkualaita genetik baik b. Berbadan sehat, mata bersih dan bersinar, gerakannya lincah, berat badannya sesuai dengan standar berat badan masing-masing bangsa/jenis babi c. Memiliki kaki yang kuat dan tegak serta letaknya baik agar bebas bergerak d. Mempunyai sifat performance yang baik, misalnya laju pertumbuhan serta koefisien penggunaan pakan e. Sifat kejantanannya terlihat nyata dan agresif

V. PERKANDANGAN Kandang sebagai tempat tinggal ternak sepanjang waktu harus diperhatikan oleh peternak. Peternak harus sadar bahwa kehidupan ternak sepenuhnya berada dibawah pengawasan manusia, dan segala kebutuhan hidup mereka juga dibawah pengaturan dan tanggung jawab peternak itu sendiri. Perlindungan terhadap lingkungan yang mereka hadapi seperti terik matahari, hujan, angin kencang dan sebagainya yang menimpa ternak harus menjadi pemikiran peternak.

Bangunan kandang sebagai salah satu faktor lingkungan hidup ternak harus bisa memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman, sesuai dengan tuntutan hidup mereka. Jadi bangunan kandang diupayakan pertama-tama adalah untuk melindungi ternak dari gangguan kuar yang merugikan, baik terhadap sengatan terik matahari, kedinginan, kehujanan, tiupan angin kencang dan lain-lain. Selain itu, kandang yang dibangun harus bisa menunjang peternak, baik dalam segi ekonomis maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Dengan demikian diharapkan bahwa dengan adanya bangunan kandang ini ternak tidak berkeliaran di sembarang tempat dan kotorannyapun dapat dimanfaatkan seefisien mungkin. Fungsi kandang dalam usaha peternakan pada umumnya adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Untuk menghindari ternak terhadap lingkungan yang merugikan dari angin kencang, air hujan dan terik matahari Untuk mempertahankan kehangatan di dalam kandang pada waktu malam hari atau pada waktu cuaca dingin Mempermudah tatalaksana Mempermudah pengawasan dalam penggunaan pakan Mempermudah pengawasan terhadap gangguan keamanan seperti prdator dan pencurian Suatu bangunan kandang untuk keperluan ternak dan dalam tipe apapun haruslah dapat memenuhi kebutuhan struktural yang memadai sesuai dengan peruntukannya, disamping adanya kebutuhan arsitektural. Kebutuhan struktural dari sebuah kandang adalah sebagai berikut : 1. Keamanan (safety); kandang dibuat sesuai dengan jumlah ternak yang dipelihara, tanpa menimbulkan adanya bahaya terhadap peternak maupun ternak yang dipelihara 2. Keawetan (durability); kandang yang dibuat harus tahan lama terhadap gangguan lingkungan yang merusakkan. 3. Pelayanan (service ability); kandang harus mampu menampung bahanbahan dan melayani kegiatan yang telah direncanakan.

Menurut Direktorat Bina Produksi Dirjen Peternakan (1991), standar pembuatan kandang harus menurut ketentuan sebagai berikut : a. Tidak berdekatan dengan fasilitas umum seperti masjid, sekolah, puskesmas b. Perlu mendapatkan persetujuan tetangga c. Letak kandang terpisah, di belakang rumah d. Drainase baik, tersedia cukup air e. Ketinggian lantai 20 cm sampai 30 cm dari tanah sekitar f. Memungkinkan perluasan sampai sejumlah pemilikan lima ekor. Dalam pembuatan kandang, faktor lingkungan hendaknya memperoleh perhatian utama. Adapun faktor lingkungan yang dimaksud adalah : 1. Lingkungan fisik seperti cahaya. Bunyi dll. 2. lingkungan sosial seperti populasi ternak tiap kandang/pen, tingkah laku hewan beserta ciri-ciri khususnya, rumah penduduk dll 3. lingkungan ternak seperti suhu udara, kelembaban, angin, radiasi matahari dll

Lokasi untuk mendirikan bangunan kandang harus amemenuhi persyaratan persyaratan sebagai berikut : 1. Memenuhi persyaratan peraturan pemerintah atau peraturan daerah setempat 2. Terdapat sumber air 3. Mudah mencapai daerah pemasaran dan dekat dengan tenaga kerja 4. Mendukung iklim kikro ternak seperti suhu dan kelembaban 5. Kemiringan tanah yang ideal 2o-6o 6. Jarak dari pemukiman penduduk cukup jauh (minimal 250 m untuk sapi potong) 7. Drainase di sekitar kandang cukup baik

Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis dalam pembuatan kandang, saat memilih bahan-bahan bangunan yang digunakan, perlu dipertimbangkan halhal : 1. Harus dipilih bahan bangunan yang awet dan kuat 2. Harus banyak terdapat di lokasi usaha peternakan, sehingga harganya murah 3. Bahan bangunan harus mudah dikerjakan, tidak membahayakan ternaknya maupun peternak 4. Setelah dibuat, bahan bangunan tersebut mudah dibersihkan, tahan air dan mudah disucihamakan Persyaratan yangharus dipenuhi untuk mendirikan bangunan kandang antara lain : 1. Dekat dengan sumber air 2. Tidak memberikan dampak atau pengaruh yang mengganggu lingkungan 3. Adanya sarana transportasi yang baik 4. Menimbulkan situasi yang menyenangkan baik terhadap peternak maupun ternakya sendiri 5. Mempunyai nilai ekonomis 6. Mempunyai syarat sanitasi (cukup sinar matahari, ventilasi yang baik, drainase, bentuk kandang dsb) Pada dasarnya sanitasi meliputi : 1. Usaha penjagaan kesehatan ternak 2. Usaha kebersihan kandang dan lingkungan sekitar 3. Usaha pengawasan terhadap manusia yang mungkin atau selalu berhubungan dengan ternaknya Diupayakan agar sinar matahari pagi dapat masuk ke dalam kandang, sebab sinar matahari pagi mengandung lebih banyak sinar ultra violet yang berfungsi sebagai desinfektan dan membantu pembentukan vitamin D. Ventilasi berguna untuk mengluarkan udara kotor dalam kandang dan menggantikannya dengan udara segar dari luar. Tujuan utama dibuatnya ventilasi

adalah untuk menghilangkan kelebihan kelembaban dan bau-bauan yang busuk. Dengan ventilasi yang baik, temperatur kandang akan dijaga seminimal mungkin. Ventilasi kandang harus dibuat dan diatur sesuai dengan tempat dan kebutuhan ternak (Blakely dan Bade, 1991). Kebutuhan ventilasi di dataran rendah lebih besar dan lebih banyak dibanding dataran tinggi atau pegunungan, karena di dataran rendah umumnya udara lebih panas dibanding di dataran tinggi atau pegunungan. Usaha kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya diantaranya adalah dengan membuat kandang yang khusus untuk mengisolasi ternak yang sakit atau dianggap sakit (kandang isolasi) dan untuk sempurnanya dilengkapi dengan kolam dipping bagi perusahaan peternakan yang berskala besar. Pemeliharaan dan kebersihan kandang mempunyai peranan penting dalam menunjang keberhasilan usaha peternakan, oleh karena itu perlu adanya penanganan dan pemeliharaan yang baik (Minish dan Fox, 1979). Salah satu faktor penting dalam pemeliharaan adalah kebersihan kandang dan perlengkapannya, maupun kebersihan ternaknya sendiri. Saluran air yang ada dalam kandang juga merupakan saluran pembuangan kotoran, dapat dialirkan ke kebun rumput tempat pembuangan kotoran yang telah dibuat/dipersiapkan. Tempat pembuangan kotoran dapat berbentuk kolam atau bak yang tertutup atau terbuka. Pembuangan kotoran ke sungai sebaiknya dihindarkan. Salah stu faktor untuk menjaga agar suasana dalam kandang pada siang hari tidak terlalu panas dapat dilakukan dengan memberi naungan di sekitar kandang. Naungan dapat dibuat dari pohon bambu, palem dan pohon rinang lainnnya. Tempat berteduh atau naungan yang dibuat dari pohonpohon rindang akan lebih efektif bila dibandingkan dengan naungan yang dibuat dari besi maupun bambu (Sihombing, 1997).

A. Kandang Sapi Potong

Untuk menentukan model kandang yang akan dibuat, pada dasarnya tergantung pada : a. Keadaan iklim tempat kandang didirikan b. Jumlah ternak sapi yang akan dipelihara c. Selera peternak Terdapat beberapa model bangunan kandang yang cocok dipergunakan untuk ternak sapi potong, yaitu : 1. Kandang tunggal atau individu 2. Kandang ganda 3. Kandang kelompok Pada model kandang tunggal, penempatan sapi-sapi dilakukan pada satu baris, sedangkan pada kandang ganda terdapat dua baris yang saling berhadapan (head to head) atau saling bertolak belakang (tail to tail). Di antara kedua baris atau jajaran sapi-sapi tersebut dibuat jalur untuk jalan. Apabila jumlah sapi yang akan dipelihara kurang dari 10 ekor, maka akan lebih baik apabila digunakan model kandang tunggal, sebaliknya apabila lebih dari 10 ekor maka kandang gandalah yang cocok. Kandang ganda tail to tail atau saling bertolak belakang merupakan model kandang yang efisien dalam penggunan tenaga kerja (BPTP Ungaran, 2001). Ukuran kandang untuk satu ekor sapi dewasa adalah sebagai berikut : a. b. Panjang dan lebar lantai adalah 2,10 x 1,45 m untuk sapi lokal dan 2,10 x 1,50 m untuk sapi-api impor Panjang tempat ransum beserta air minum adalah selebar tempat sapi, yaitu 1,45 -1,50 m. Diantara tempat ransum dengan air minum dibuat penyekat setebal 7,5 10 cm c. dan kedalaman 40 cm Panjang tempat ransum 95 100 cm, lebar 50 cm

d. dan kedalaman 40 cm e. 30 cm f.

Panjang tempat air minum 45 55 cm, lebar 50 cm Pada belakang sapi dibuat selokan dengan lebar 25 Jalan samping atau jalan antara kedua baris sapi pada kandang ganda dibuat selebar 1 m.

B. Kandang Domba dan Kambing Pembuatan kandang domba/kambing berjarak minimal lima meter dari rumah, sehingga tidak menimbulkan bau ke dalam rumah. Ukuran kandang disesuaikan dengan jumlah ternak yang dipoelihara, yaitu sebagai berikut : a. Jantan dewasa (umur > 12 bulan) b. Betina dewasa (umur > 12 bulan) c. Induk menyusui d. Tambah 0,5 m2 untuk tiap anak e. Jantan /betina muda (umur 7-12 bulan) f. Sapihan (umur 3-7 bulan) : 0,75 m2 : 0,50 m2 : 1,2 m2 : 1,0 m2 : 1,0 m2

Fasilitas yang perlu disediakan pada kandang diantaranya adalah tempat pakan dan tempat air minum, tangga dan tempat penampungan kotoran. Tempat pakan berfungsi untuk tempat hijauan, sedangkan konsentrat biasanya ditempatkan dalam ember. Tempat pakan dibuat dari papan, belahan atau anyaman bambu, akan lebih baik lagi bila dapat disetel (dengan engsel) agar mudah membersihkannya. Perlu pula dibuat tempat penyimpanan/persediaan pakan, yang berfungsi untuk menyimpan hijauan untuk sementara sebelum diberikan kepada ternak. Letaknya tidak boleh terlalu dekat dengan kandang yang ditempati ternak, untuk menghindari kontaminasi dari kotoran atau air kencing. Tempat air minum sebaiknya menggunakan bahan yang mudah dibersihkan, selain itu juga tidak membahayakan ternak.

Pada dasarnya bentuk kandang untuk ternak domba dan kambing di daerah tropis ada dua, yaitu kandang panggung (berkolong) dan kandang lemprakan.

VI. TATALAKSANA KESEHATAN A. Pendahuluan Penyakit adalah sesuatu penyimpangan atau variasi keadaan kesehatan normal atau suatu keadaan abnormal dari struktur atau fungsi yang berubah pada jaringan tubuh. Karena kondisi bagian tubuh ini tidak normal maka ternak tidak dapat menjalankan fungsi produksi maupun reproduksinya. Seekor ternak dikatakan sakit apabila sel-sel dan jaringan tubuh tidak dalam keadaan normal baik fungsi maupun strukturnya. Apabila sel dan jaringan tubuh

tidak menyimpang dari fungsi dan strukturnya, maka ternak tersebut dikatakan sehat. Berbagai jenis penyakit ternak sering berjangkit di Indonesia, baik yang menular maupun yang tidak menular. Penyakit menular yang berjangkit pada umumnya menimbulkan kerugian besar bagi peternak, bisa mencapai jutaan rupiah. Penyakit menular sungguh merupakan ancaman bagi peternak. Walaupun penyakit menular tidak langsung mematikan, akan tetapi bisa merusakkan kesehatan ternak secara berkepanjangan, mengurangi pertumbuhan, dan bahkan menghentikan pertumbuhan sama sekali. Penyakit menular timbul karena serangan jasad renik atas tubuh hewan. Kebanyakan jasad renik ini mengeluarkan racun (toksin), yang tentu saja bisa merusakkan jaringan tubuh penderita, menghancurkan alat-alat tubuh dan menimbulkan kematian. Jasad renik tadi pada umumnya masuk ke dalam tubuh hewan melalui lubang-lubng tubuh, seperti mulut, hidung, alat kelamin, kulit yang luka, lecet atau akibat gigitan serangga dan kutu. Dalam hal ini peternak dituntut harus tahu masalah-masalah kedokteran hewan. Mereka perlu ditumbuhkan minatnya dalam usaha pencegahan dan pembasmian penyakit-penyakit yang biasa berjangkit di daerahnya sesuai petunjuk dinas yang terkait, sebab kesemuanya menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi semata. Dalam usaha pemeliharaan dan peningkatan perkembangannya maka ternak harus dilindungi dari kerugian yang dapat ditimbulkan oleh berbagai penyakit serta adanya beberapa penyakit ternak yang dapat menular ke tubuh manusia. Dalam usaha pengembangbiakan ternak, perawatan ternak merupakan salah satu unsur yang tidak boleh diabaikan termasuk di dalamnya pencegahan, penjagaan dan pengobatan penyakit. Demikian pula untuk ternak yang dibesarkan sampai siap dipotong. Perlu ditanamkan pengertian bahwa mencegah timbulnya penyakit merupakan tindakan yang bijaksana daripada mengobatinya. Usaha mencegah penyakit mutlak harus dilakukan demi keberhasilan suatu usaha peternakan. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara sanitasi

kandang dan lingkungan, pemberian pakan yang berkualitas dan kuantitas sesuai kebutuhan ternak dan vaksinasi. Berdasarkan sifatnya penyakit dapat digolongkan menjadi penyakit menular dan tidak menular. Penyebab penyakit menular adalah organisme seperti virus, ricketsia, bakteri dan jamur. Penyakit yang tidak menular terutama berhubungan dengan makanan seperti kurang mineral, tanaman beracun dan racun. Pencegahan dilakukan dengan cara mencegah kemungkinan cara-cara penularan penyakit secara umum. Vaksinasi merupakan pencegahan penyakit yang terbaik bagi penyakitpenyakit menular. Kita harus hati-hati dalam membeli dan meninjau ternak. Ternak harus sehat secara klinis dan dari sejarahnya, dan berasal dari kelompok ternak yang sehat-sehat. Jalur pemindahan penyakit pada ternak antara lain melalui : 1. Kontak langsung antara ternak yang sakit dengan ternak yang sehat (misalnya : kudis) 2. Kontak melalui makann dan air minum (misalnya : keracunan) 3. Kontak dengan benda mati yang strukturnya terkontaminasi akibat ternak sakit (misalnya : lantai kandang yang kotor dapat menyebabkan mencret/disentri) 4. Kontak dengan tanah (misalnya Ascaris suis) 5. Infeksi melalui udara (misalnya : pneumonia) 6. Kontak dengan hewan lain (misalnya : leptospirosis) Pencegahan penyakit pada ternak secara umum dapat dilakukan antara lain dengan cara : 1. Meminimalkan penambahan stok ternak dari luar 2. Hindari pembelian ternak dari berbagai sumber industri peternakan yang belum diketahui status kesehatan ternaknya 3. Pengunjung ke peternakan seminimal mungkin, bila diijinkan masuk ke peternakan harus memakai sepatu bot dan baju penutup yang telah bebas dari kuman penyakit 4. Kotoran ternak tidak menumpuk di kandang

5. Ternak yang mati segera dibakar atau dikubur yang dalam dan ditutup dengan kapur 6. Kandang sebelum ditempati ternak harus didesinfektan dahulu.

Dalam usaha pengembangan peternakan perlu diperhatikan faktor-faktor yang erat kaitannya dengan kesehatan ternak, antara lain : 1. Tatalaksana atau manajemen pemeliharaan. Hal yang berkaitan dengan ini adalah perlu menentukan pola peternakan yang seusai dengan keadaan lingkungan yaitu sistem ketatalaksanaan, pakan, kesehatan, penyediaan air minum dsb 2. Pemberian pakan. Pemberia pakan yang kurang dari segi kualitatif maupun kuantitatif dapat mempengaruhi ternak yang berfifat : a. Langsung : akan menyebabkan penyakit defisiensi b. Tidak langsung : menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh 3. Keturunan. Dapat mempengaruhi munculnya penyakit, misalnya : penyakit Abortus bang (keguguran) 4. Isolasi/karantina. Dapat membantu mencegah menularnya suatu penyakit 5. Vaksinasi. Dapat membantu mencegah tertularnya suatu penyakit 6. Pengobatan . Perlu dihindari pemakaian obat dengan dosis berlebihan 7. Diagnosa. Untuk membuat diagnosa perlu diketahui : a. Riwayat ternak b. Tanda-tanda penyakit c. Pemeriksaan /bedah bangkai 8. Lingkungan. Mempunyai efek yang menguntungkan atau sebaliknya yang merugikan agen penyekit, menambah atau mengurangi stress 9. Tindakan kebersihan atau hygiene. Dijaga agar kandang : a. Selalu kering b. Tidak dingin c. Cukup sinar matahari d. Peralatan harus bersih

10. Pemusnahan hewan pembawa penyakit. Hewan yang diperkirakan tidak dapat diobati sebaiknya dimusnahkan saja.

B. Jenis-jenis Penyakit Penyakit yang menerang ternak pada dasarnya disebabkan oleh : a. Virus b. Bakteri c. Parasit : 1. Ekto parasit 2. Endo parasit Beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus : 1. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Disebut juga Foot and Mouth Disease (FMD) atau epizooticae (AE) Penyakit ini disebabkan oleh Picorna virus dan penularannya dapat terjadi dengan cara kontak langsung dengan bagian tubuh ternak yang terluka. Penyakit ini mempunyai masa inkubsi 3-4 hari. Tanda-tanda penyakit : a. Demam sampai 40-41oC b. Selaput lendir yang terdapat pada mulut, ppi, gusi dan permukaan lidah melepuh berisi cairan jernih. Mulut kuku dan gusinya luka. Pencegahan penyakit : a. Ternak yang sakit jangan dicampur dengan ternak yang sehat b. Alat dan benda yang tercemar harus disuci hamakan c. Dilakukan vaksinasi secara teratur setiap 6 bulan sekali. Apthae

2. Rinder Pest Penyakit ini disebabkan oleh Paramycxo virus dan penularannya dapat terjadi dengan cara kontak langsung dengan bagian tubuh ternak yang terluka. Masa inkubasi 3-9 hari. Tanda-tanda penyakit : a. Demam tinggi b. Terdapat bintik merah dalam kulit c. Sering diarrhea Pencegahan penyakit : vaksinasi rutin Beberapa penyakit yang disebabkan oleh Bakteri : 1. Penyakit ngorok = Septicaemia epizooticae (SE) / Haemorhagic Septicaemia (HS) Penyakit ini disebabkan oleh Pasteurrela multicida dan penularannya dapat terjadi karena kontak langsung melalui makanan dan minuman yang tercemar. Defisiensi vitamin, mineral, cacingan dan kelelahan dapat menyebabkan penyakit ini. Tenak yang kondisi tubuhnya lemah muda terserang penyakit ini. Penyakit ini dapat terjadi secara akut atau kronis. Tanda-tanda penyakit : a. Kepala, leher, anus dan vulva membengkak b. Mata meradang dan air mata keluar berlebihan c. Demam dan terjadi gangguan pencernaan d. Mengeluarkan suara ngorok Pencegahan penyakit : a. Vaksinasi secara tertatur b. Pakan yang cukup c. Pemberantasan parasit di tubuh ternak 2. Anthrax (radang limpha)

Penyakit ini disebabkan oleh Bacillus anthraxis dan penularannya melalui kontak langsung dengan air minum dan makanan tercemar, ekskresi, udara. Disamping itu juga dapat melalui serangga penghisap, mamalia ataupun burung. Sumber penyakit ini adalah tanah dan rumput yang tercemar/terkontaminasi spora Bacillus anthraxis. Masa inkubasi : 1-2 minggu. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi dan kekebalan akan timbul 10-15 hari yang berlangsung selama satu tahun. Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan : a. Vaksinasi pada saat tidak sedang berjangkit penyakit anthrax b. Ternak yang diduga sakit disuntuk serum, setelah 14 hari divaksin c. Ternak yang sakit diberi suntikan serum d. Ternak yang mati, dikubur dalam-dalam dan ditaburi kapur. Pengobatan dengan antibiotika hanya efektif pada stadium penularan atau pada kasus-kasus yang tidak aktif. 3. Keguguran (keluron) = Contagion Abortus/Abortus Bangs/Bangs Desease Penyakit ini disebabkan oleh Brucella multicida. Penularannya melalui : a. Makanan dan minuman yang tercemar getah radang vagina b. Kelenjar mamae c. Perkawinan Keguguran biasaanya terjadi pada 2-4 bulan setelah infeksi dan terjadi pada bunting ke 3 kalinya. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan : vaksinasi dan kekebalan akan timbul sempurna 1 bulan setelah vaksinasi untuk jangka waktu 2-3 kali masa bunting. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh Parasit: 1. Distomatosis (Fasciolasis)

Penyakit ini disebabkan oleh cacing yang disebut Fasciola hepatica atau Distonum hepatica. Tanta-tanda penyakit : a. Kondisi badan ternak jelek, bulu kasar dan diarrhea b. Bila perut diraba terasa sakit c. Ternak selalu memisahkan diri dari kelompoknya d. Ternak cepat lelah, kurus, selaput lendir pucat. Tindakan pencegahan : Dilakukan pemberantasan siput air tawar, karena siput sebagai hospes intermedier atau vektor atau induk semang. Pemusnahan hospes intemedier ini dimaksudkan untuk memutuskan siklus hidupnya. Pemberantasan dapat dilakukan dengan cara : a. menjaga dan memperbaiki pengairan b. kebersihan kandang Hal-hal yang perlu diperhatikan : a. Memperhatikan dan meneliti tanda-tanda infeksi cacing hati secara teratur pada setiap ternak b. Dilakukan pemeriksaan faeces ternak secara rutin di setiap kelompoknya c. Dilakukan Pengontrolan siput air tawar secara rutin d. Drainage kandang harus baik e. Mengeringkan air yang tergenang di kandang f. Setiap pemasukan atau pembelian terbak harus diuji faecesnya untuk mengetahui ada tidaknya cacing hati. 2. Surra Penyakit ini bersifat akut atau menahun (kronis). Penyebabnya adalah Trypanosoma evansi. Tanda-tanda penyakit : a. Demam pada awal sakit b. Kulit di bawah perut bengkok

c. Ternak berputar-putar d. Air kencing berwarna kehitam-hitaman Pencegahan : a. Memusnahkan caplak dari semak-semak b. Mengeringkan tempat-tempat yang lembab 3. Kudis (buduk) Adalah penyakit akibat infeksi parasit kulit. Tanda-tanda klinis adalah kerak-kerak pada kulit. Ternak selalu menggesekgesekkan bagian tubuh yang terkena kudis. Bulu rontok serta kult menjadi tebal dan kaku. Pada infeksi yang ringan biasanya kudis terlihat local pada daerah kaki, ambing dan telinga. Pada infeksi yang berat, seluruh permukaan tubuh dapat terserang kudis. Pengobatan dilakukan dengan cara memberikan obat suntikan IVOMEC, atau belerang campur oli bekas atau insektisida. Sebelum diobati, ternak dimandikan agar bersih, digosok dengan sabun dan dijemur. Ternak ditempatkan pada kandang terpisah. Pengobatan diulang setiap 3 hari sampai sembuh. Insektisida diencerkan menjadi 0,1 % (1 ml basudin ditambah 1 liter air). Bila kudis pada seluruh tubuh, ternak dapat diredam secara hati-hati, kemudian dijemur. Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak tubuh dengan ternak kudisan, dan kandang bekas ternak kudisan dibersihkan/dosemprot dengan insektisida. Kasus-kasus penyakit pada sapi : 1. Penyakit kembung (bloat) Bloat adalah salah satu penyakit yang sering menyerang ternak sapi. Penyakit ini ditandai dengan keadaan rumen yang mengembang, membesar akibat kelebihan gas yang tidak bsa cepat keluar. Kasus bloat semacam ini banya dialami oleh sapi yang merumput di lapangan penggembalaan yang masih basah karena embun pagi, sapi yang makan bji-bijian gilingan terlalu banyak tetapi kurang mendapat hijauan yang berserat kasar tinggi, serta sapi yang terlalu banyak makan hijauan jenis leguminosa.

Tanda-tanda bloat : a. b. drum c. Pernafasan terganggu dan bekerja berat Tindakan yang perlu dilakukan : a. Tidak amemberi pakan leguminosa berlebihan (maksimal 50%) b. Tidak menggembalakan ternak terlalu pagi atau di lapangan basah c. Tidak memberi pakan biji-bijian tanpa diimbangi hijauan berserat kasar tinggi. 2. Belatungan (miasis) Miasis adalah akibat luka yang diinfeksi oleh lalat, sehingga lalat berkembang biak (bertelur) dan menghasilkan larva (belatung). Tanda klinis terlhat jelas adanya belatung. Pengobatan dilakukan dengan cara membersihkan belatung dengan insektisida. Dapat juga dengan obat gusaneks, kapur barus yang dihancurkandan tembakau, kemudian luka diperban dan pengobatan diulang 2-3 kali. Pemberian yodium tentur dapat dipakai untuk mempercepat peyembuhan. Pencegahan dilakukan dengan mengurangi adanya lalat di kandang dan menghindarimluka. Adanya darah mengundan lalat untuk hinggap dan bertelur, sehingga bila ada darah harus dibersihkan, mislnya darah setelah melahirkan. 3. Radang susu (Mastitis) Disebabkan infeksi kuman pada sel kelenjar susu. Tanda klinis yaitu ambing mebengkak dan kemerahan, panas dan kesakitan. Bila diperah, air susu dapat berwarna pucat, kuning tua, kehijauan atau kemerahan. Pengobatan dengan cara memberikan anti biotik suntikan ke dalam otot/ambing melalui putting susu. Sebelum menyuntikkan antibiotik, air susu diperah dulu smapai habis. Pencegahan dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kandang sebelum dan setelah pemerahan. Daerah di sekitar ambing/putting dibersihkan. Lambung sebelah kiri membesar dan kencang Lambung kiri tersebut bila diketuk dengan jari berbunyi seperti

4. Demam susu (milk fever) Adalah kelainan pada induk bunting yang ada hubungannya dengan proses kelahiran dimana tingkat ion kalsium darah ada di bawah batas normal. Tanda klinis berupa gerakan-gerakan yang tidak terkontrol (berjalan kaku, sempoyongan, tubuh bergetar), lemah, gelisah dan pernafasan cepat. Ternak biasanya berbaring sambil menengokkan kepala ke arah anggota tubuh bagian belakang. Suhu tubuh biasanya normal. Bila tidak dilakukan pertolongan dapat mengakibatkan kematian.

Dari tahun ke tahun ribuan ternak menjadi korban penyakit radang limpha (anthrax), ribuan ternak lainnya terkena serangan penyakit mulut dan kuku, penyakit surra dan sebagainya. Sehubungan dengan hal itu peternak harus mengetahui penyebab gejala, dan serangan berbagai jenis penyakit, serta tata cara pencegahan dan pembasmiannya. Beberapa penyakit yang biasa berjangkit di Indonesia antara lain sebagai berikut : 1. Radang Limpa (Anthrax) Gejala : Suhu tubuh biasanya sangat tinggi, tetapi sesudah tiga hari turun Nafsu makan hilang sama sekali Pada awalnya penderita sulit buang kotoran (konstipasi), tetapi kemudian menjadi diare, kotoran bercampur air dan darah Kadang-kadang darah juga keluar dari mulut, hidung dan vulva

Kematian ternak akibat anthrax bisa terjadi di mana saja dan pada sembarang waktu.

Penyebab : Penyebabnya adalah bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini bentuknya panjang, terbungkus kapsul. Pada kondisi kurang menguntungkan, bakteri ini akan membentuk spora untuk melindungi dirinya, sehingga ia mampu bertahan hidup dalam segala cuaca dalam waktu bertahun-tahun. Ia juga bisa hidup pada suasana anaerob, sehingga apabila mereka terbenam dalam lapisan tanahpun tetap bisa bertahan hidup; pada saat tanah tergenang air, dicangkul atau dibajak, mereka akan terangkat ke atas. Bakteri ini kecuali berinfeksi pada hewan, juga bisa mnular pada manusia, sebab bakteri ini termasuk zoonosis, yakni jenis penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Untuk membasmi spora ini, diperlukan panas bersuhu 90oC selama 45 menit dan 100oC selama 10 menit.

VII. TATALAKSANA PERKAWINAN A. Pubertas Proses reproduksi pada ternak baru dapat berlangsung sesudah ternak tersebut mencapai dewasa kelamin, atau biasa disebut dengan pubertas. Pubertas adalah suatu indikator bahwa hewan sudah mempunyai kemampuan untuk kawin. Pubertas terjadi sebelum seekor ternak mencapai dewasa tubuh atau body maturity yang dicapai apabila bobot badan sudah mencapai 50-70 persen dari bobot badan dewasa. Pada ternak jantan, pubertas dicapai apabila androgen dan sperma telah diproduksi, organ-organ reproduksi telah masak, penis telah terbebas dari selubung dan ternak tersebut mengawini betina dan betina tersebut dapat bunting. Pada ternak betina pubertas adalah umur dimana terjadi berahi pertama disertai dengan ovulasi secara spontan. Satu atau lebih ovulasi tenang dapat terjadi

sebelum ternak betina menunjukkan tanda-tanda berahi yang berhubungan dengan ovulasi. Frekuensi ovulasi tenang ini sangat tergantung dari efisiensi estrus secara luas. Umur berahi pertama pada ternak betina bervariasi, pada umumnya disebabkan karena perkawinan dan perbedaan laju pertumbuhan. Diantara banyak faktor yang mempengaruhi umur tercapainya pubertas adalah bangsa ternak dan keadaan pakan atau nutrisi. Pada tingkat nutrisi yang rendah dan laju pertumbuhan yang lambat, pubertas dapat terhambat beberapa minggu, sedang tingkat konsumsi nutrisi yang tinggi akan mempercepat pubertas. Musim dapat pula mempengaruhi tercapainya umur pubertas. Pada sapi-sapi potong yang ada di Indonesia, pubertas terjadi pada umur antara 11 15 bulan. Untuk sapi-sapi Zebu biasanya terjadi pada umur 18 24 bulan, pada sapi-sapi Eropa dicapai pada umur 16 18 bulan. Pubertas babi jantan dicapai pada umur 5 8 bulan, babi jantan muda sebaiknya dibiarkan mencapai umur 8-9 bulan sebelum dipakai untuk mengawini betina. Seekor babi betina mencapai pubertas pada umur sekitar 5 -8 bulan, dan umur yang dianjurkan untuk perkawinan pertamanya adalah 8-10 bulan. Domba dan kambing mencapai pubertas tergantung pada bangsanya, pada umumnya umur 6 8 bulan. Ternak jantan sebaiknya mulai dipakai sebagai pemacek diatas satu tahun. B. Estrus atau berahi pada ternak Sejak tercapainya pubertas, terjadilah berahi pada ternak yang tidak bunting, menurut suatu siklus yang ritmis dan khas bagi jenis-jenis ternak tertentu. Interval antara satu periode estrus ke periode berikutnya disebut siklus estrus. Sapi, kerbau, domba, kambing dan babi termasuk hewan poli estrus, karena siklus estrusnya berkesinambungan; musim atau iklim tidak mempengaruhi terjadinya siklus estrus ini. Pada ternak jantan, siklus berahi tidak ada, pada umumnya pejantan selalu bersedia menerima ternak betina untuk aktivitas reproduksi.

Perkawinan dapat berhasil apabila ternak betina yang dikawinkan dalam keadaan berahi (estrus). Estrus adalah suatu fase dalam siklus berahi dimana ternak betina bersedia atau mau menerima pejantan untuk aktifitas reproduksi. Adapun tanda-tanda munculnya estrus pada ternak adalah : a. Ternak tampak gelisah b. Nafsu makan turun c. Mencoba menunggangi dan diam bila dinaiki ternak lain d. Sering mengibas-ngibaskan ekor dan sering kencing e. Vulva kelihatan bengkak, merah dan hangat f. Keluar lendir transparan dari servik yang mengalir melalui vulva dan vagina. Dibandingkan dengan ternak sapi, tanda-tanda berahi pada kerbau hampir tidak diketahui dan sulit ditentukan. Cara yang paling tepat untuk menentukan apakah berbau betina tersebut berahi atau tidak dapat digunakan kerbau jantan untuk mendeteksinya. Tanda-tanda berahi yang tidak nyata tersebut tidak menyulitkan peternak, karena perkawinan kerbau pada umumnya berlangsung di padang penggembalaan dimana kerbau jantan leluasa memilih betina-betina yang sedang berahi. Lama berahi dan siklus berahi pada berbagai jenis ternak berbeda-beda. Untuk ternak sapi siklus berahi datang sekali dalam 18-24 hari, dengan rata-rata 21 hari, sedang lama berahi berkisar 6-30 jam, dengan rata-rata 17 jam dan ovulasi terjadi 9-11 jam setelah selesainya estrus. Kerbau betina memperlihatkan siklus berahi yang normal selama kurang lebih tiga minggu. Di Indonesia, siklus berahi pada kerbau Lumpur berkisar antara 17-29 hari, dengan rata-rata 21,53 hari. Lama berahi ternak kerbau lebih lama daripada sapi, yaitu berkisar antara 24-36 jam, dengan rata-rata 17,65 jam. Lama siklus berahi normal pada domba berkisar antara 14-19 hari, dengan rata-rata 17 hari, lama berahi pada domba-domba lokal di Indonesia berkisar antara 24-48 jam, dengan rta-rata 35,5 jam.

Lama berahi pada kambing 24-45 jam. Berahi akan terulang lagi sekitar 19 hari kemudian (apabila tidak dikawinkan atau gagal bunting). Siklus berahi pada babi mencapai 19-23 hari, dengan rata-rata 21 hari, berahi berlangsung antara 1-4 hari, dengan rata-rata 2-3 hari. Salah satu faktor yang penting dalam perkawinan adalah deteksi berahi, oleh karena itu pengetahuan tentang tanda-tanda berahi, siklus berahi dan ovulasi menjadikan hal yang penting untuk dikuasai. Secara umum deteksi berahi pada ternak dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : a. Tradisional; yaitu pengamatan berahi didasarkan pada timbulnya berahi secara alami, tanpa adanya campur tangan manusia b. Semi tradisional; telah ada campur tangan manusia, misalnya menggunakan pejantan pengusik. Umumnya dilakukan oleh peternak yang memiliki jumlah ternak diatas 10 ekor. c. Modern; pengamatan telah menggunakan peralatan dan telah mengikutsertakan manusia dalam pengamatannya.

C. Perkawinan Perkawinan merupakan bagian dari rentetan kegiatan dalam proses reproduksi. Perkawinan adalah suatu usaha untuk memasukkan sperma ke dalam alat kelamin betina. Perkawinan yang lazim digunakan pada ternak ada dua, yaitu : a. Perkawinan Alam Perkawinan hanya mungkin terjadi antara ternak jantan dengan ternak betina yang berahi, dimana ternak betina mau menerima ternak jantan. Perkawinan alam ini tidak diragukan keberhasilannya, karena semen yang diejakulasikan tanpa pengenceran dan didesposisikan pada portiovaginalis services atau mulut servic.

b. Perkawinan buatan (kawin suntik /IB) Semen dimasukkan kedalam saluran reproduksi betina dengan menggunakan alat buatan manusia. Perkawinan memungkinkan pertemuan spermatozoa dengan sel telur, sehingga perlu diperhatikan saat-saat ovulasi pada hewan betina agar perkawinan tepat pada waktunya. Ada tiga macam perkawinan yang dapat terjadi pada ternak, yaitu: a. In breeding, adalah perkawinan yang dilakukan antar saudara yang mempunyai hubungan keturunan dekat b. Grading up, adalah perkawinan antara pejantan unggul dengan sapi lokal yang diarahkan pada keturunan pejantan c. Cross breeding, adalah perkawinan antara dua bangsa yang telah diketahui dengan seksama masing-masing kemampuan produksinya. Cara pengaturan perkawinan dapat dilakukan dengan pengaturan sepenuhnya oleh manusia yang disebut hand matting, yaitu pemeliharaan sapi jantan dan betina dipisah, apabila ada betina yang berahi baru diambilkan pejantan untuk mengawininya, atau dilakukan Inseminasi Buatan (IB). Cara lain adalah pastura matting, yaitu sapi-sapi jantan dan betina dewasa pada musim kawin dilepas bersama-sama. Apabila terdapat sapi yang berahi, tanpa campur tangan manusia atau pemilik akan terjadi perkawinan. Untuk melaksanakan perkawinan perlu diperhatikan waktu yang setepattepatnya agar sapi betina dapat menjadi bunting atau terjadi konsepsi. Saat optimum untuk terjadinya konsepsi pada ternak sapi adalah pertengahan estrus sampai akhir estrus. Jika terlihat gejala berahi pagi hari, maka inseminasi/perkawinan harus dilakukan paling lambat sore hari itu juga. Apabila terlihat gejala berahi pada sore hari, maka perkawinan paling lambat dilakukan esok hari berikutnya. Waktu perkawinan/inseminasi pada sapi dianjurkan tidak melebihi 4 jam sebelum ovulasi berakhir.

Sistem perkawinan pada ternak domba/kambing selama ini adalah perkawinan secara alam, sedangkan perkawinan secara IB belum lazim dilaksanakan. Secara ekonomis perbandingan jumlah ternak jantan sebaiknya setiap ekor pejantan untuk 20-25 ekor betina. Dengan manajeman perkawinan yang baik, ternak domba dan kambing dapat melahirkan setiap 8 atau 9 bulan sekali. Hal ini dapat dicapai dengan penyapihan anak pada umur 3-4 bulan, walaupun pada umur dua bulan induk sudah dapat dikawinkan kembali. Waktu yang baik untuk mengawinkan domba/kambing adalah 12-18 jam setelah terlihat tanda-tanda pertama berahi. Betina yang berahi disarankan dicampur dengan pejantaan dalam satu kandang, untuk menghindari kegagalan perkawinan. Pada babi betina, perkawinan dapat dilakukan antara 12-30 jam setelah tampak estrus, tetapi untuk babi induk yang durasi estrus sampai terjadinya ovulasi lebih panjang, maka saat perkawinan dapat dilakukan 18-36 jam setelah estrus tampak. Babi jantan dewasa (umur lebih dari 10 bulan) dapat dikawinkan 6 kali perminggu tanpa menunjukkan kejelekan fertilitas, sedangkan pada pejantan muda (umur 6-7 bulan) dimana testisnya masih kecil dikawinkan 2 kali perminggu. Babi induk setelah anaknya disapih dapat dipercepat estrusnya bila kontak langsung dengan pejantan. Pengandangan induk yang menyusui dekat pejantan juga dapat mempercepat estrus. Setelah pejantan muda mencapai pubertas (umur 6-10 bulan) harus dikandangkan dekat dengan kandang babi dara atau induk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa babi jantan yang terisolir dari babi dara atau induk menyebabkan service performannya tertekan dan akhirnya penggunaan pejantan untuk mengawini betina juga terlambat. Oleh karena itu disarankan pemeliharaan babi pejantan muda bersama-sama dengan babi dara atau induk yang dalam kategori aktif untuk tujuan dipotong.

Anda mungkin juga menyukai