Anda di halaman 1dari 19

BAB.

I PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang Batuan karbonat adalah semua batuan yang terdiri dari garam karbonat, dalam hal ini CaCO3 dan MgCO3. Batuan karbonat memiliki keistimewaan dalam cara terbentuknya, praktis tak ada sebagai dedritus daratan. Proses pembentukan batuan ini yakni secara kimia/melalui proses-proses kimia, namun uniknya turut sertanya organisme dalam batuan ini. Ada 5 mekanisme penting yang dapat menerangkan bagaimana terjadinya pengendapan CaCO3 dan bertambahnya CO2 yang dapat terlarut dalam air (Blatt, 1982) yaitu : 1. Bertambahnya suhu dan penguapan 2. Pergerakan air 3. Penambahan salinitas 4. Aktivitas organic 5. Perubahan tekanan

I.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dam tujuan mempelajari batuan karbonat yaitu : 1. Agar mhasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan batuan karbonat. 2. Agar mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi batuan karbonat.
1

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pengertian Batuan Karbonat Batuan Kabonat adalah salah satu kelas batuan sedimen yang penyusun utamanya adalah mineral karbonat. Rejers & Hsu, (1986) mendifinisikan Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih dari 50 % yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat kristalin hasil presipitasi langsung . Bates & Jackson (1987) mendefinisikan batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah mineral karbonat dengan berat keseluruhan lebih dari 50 %. Sedangkan batugamping menurut definisi Reijers &Hsu (1986) adalah batuan yang mengandung kalsium karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua batuan karbonat adalah batugamping. Batuan ini terbentuk baik oleh proses kimia maupun oleh proses biokimia. Batuan karbonat menyusun 10 sampai 15 persen batuan sedimen dan pada umumnya tersusun atas dua jenis batuan, yaitu: 1. Limestone / Batu Kapur/ Gamping, yang terdiri atas mineral calcite (CaCO3) atau Mg Calcite (MgCO3).

Gambar. 1. Limestone

2. Dolostone, yang sebagian besar terdiri atas mineral dolomite [CaMg(CO3)2]. Mineral karbonat sangat mudah larut dalam air asam, sehingga mereka

kebanyakan memiliki porositas dan permeabilitas tinggi yang membuat batuan ini sangat baik untuk terjadinya reservoir minyak.

Gambar.2. Dolostone

Limestone mudah diamati karena sifatnya yang sangat mudah bereaksi dengan HCl dan jika melapuk akan berwarna putih atau abu-abu. Sedangkan Dolostone tidak akan ngecoss (bereaksi) kecuali berupa serbuk dan akan berwarna coklat jika melapuk, warna coklat ini adalah warna Fe yang sedikit terbentuk untuk menggantikan Mg . Komponen penyusun batu gamping Menurut Tucker (1991), komponen penyusun batugamping dibedakan atas non skeletal grain, skeletal grain, matrix dan semen. 1. Non Skeletal grain, terdiri dari : a. Ooid dan Pisoid Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang punya satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti. Inti penyusun biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker, 1991). Ooid memiliki ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki ukuran > 2 mm maka disebut pisoid. b. Peloid Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau merincing yang tersusun oleh mikrit dan tanpa struktur internal. Ukuran peloid antara 0,1 0,5

mm. Kebanyakan peloid ini berasala dari kotoran (faecal origin) sehingga disebut pellet (Tucker 1991). c. Agregat dan Intraklas Agregat merupakan kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang tersemenkan bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen yang sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air lumpur pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker,1991). 2. Skeletal Grain Skeletal grain adalah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil-fosil makro. Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai dalam batugamping (Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga merupakan penunjuk pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang waktu geologi (Tucker, 1991). 3. Lumpur Karbonat atau Mikrit Mikrit merupakan matriks yang biasanyaberwarna gelap. Pada batugamping hadir sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butir kurang dari 4 mikrometer. Pada studi mikroskop elektron menunjukkan bahwa mikrit tidak homogen dan menunjukkan adanya ukuran kasar sampai halus dengan batas antara kristal yang berbentuk planar, melengkung, bergerigi ataupun tidak teratur. Mikrit dapat mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar yang kasar (Tucker, 1991). 4. Semen Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan mengisi rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen dapat berupa kalsit, silika, oksida besi ataupun sulfat.

II.2. Klasifikasi Batuan Karbonat

klasifikasi yang dikeluarkan oleh Leighton & Pendexter (1962) telah membedakan batuan karbonat berdasarkan kandungan kalsit, dolomit dan mineral pengotornya (non-karbonat). Klasifikasi tersebut menyebutkan bahwa batuan karbonat (dolostone dan limestone) jika batuan tersebut berkomposisi mineral karbonat di atas 50%. Sedangkan Tucker dan Wright (1990) mendefenisikan bahwa batuan karbonat harus mempunyai mineral karbonat di atas 50%. Sementara batuan yang memiliki kandungan karbonat kecil dari 50% dan signifikan dipertimbangkan dapat menjadi awalan yang menunjukkan sifat karbonatan. Berdasarkan pengertian batuan karbonat tersebut di atas kemudian mengelompokkannya berdasarkan klasifikasi batuan pada buku AAPG Memoir 1 (1962). Secara umum dijelaskan klasifikasi batuan karbonat berdasarkan Dunham (1962) dan penyempurnaannya dan klasifikasi oleh Folk (1962). Perbedaan kedua klasifikasi tersebut terletak dari cara pandangnya. Folk membuat klasifikasi berdasarkan apa yang dilihatnya melalui mikroskop atau lebih bersifat deskriptif, sedangkan Dunham lebih melihat batuan karbonat dari aspek deskriptif dan genesis, sehingga dalam klasifikasinya tidak hanya mempertimbangkan kenampakan dibawah mikroskop tetapi juga kenampakan lapangan (field observation).

a. Klasifikasi Folk (berhubungan dengan Matrix) Klasifikasi Folk menuntun kita untuk mendeskripsi batuan karbonat tentang apa yang dilihat dan hanya sedikit untuk dapat menginterpretasikan apa yang dideskripsi tersebut. Sebenarnya batuan karbonat merupakan batuan yang mudah mengalami perubahan (diagenesis) oleh karena itu studi tentang batuan karbonat tidak akan memberikan hasil yang maksimal jika tidak mengetahui proses-proses yang terjadi pada saat dan setelah batuan tersebut terbentuk. Kelemahan klasifikasi Folk tersebut diperbaiki oleh Dunham dan membuat klasifikasi baru dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Klasifikasi ini membagi batuan karbonat menjadi dua grup yaitu Allochemicals dan Orthocemicals.

Allochemicals merupakan batuan karbonat yang membawa butiran-butiran dari tempat lain selama pengendapannya. Butiran-butiran tersebut bisa berupa material fossiliferous, ooids, peloids, intraclasts. Butiran-butiran tersebut menancap pada matrix, baik matrix micrite maupun sparite. Micrite, berupa butiran-butiran padat atau lumpur karbonat. Sparite, berupa butiran kalsit yang lebih keras yang terbentuk selama diagenesis.

Orthocemicals merupakan batuan karbonat yang mineralnya terkristalisasi langsung di tempat pengendapan, sehingga tidak memiliki butiran-butiran bawaan.

b. Klasifikasi Dunham (berhubungan dengan Kemas) Kelebihan klasifikasi Dunham (1962) adalah adanya perpaduan antara deskriptif dan genetik dalam pengklasifikasian batuan karbonat. Selanjutnya klasifikasi ini disempurnakan oleh Embry dan Klovan (1971) yang lebih mempertimbangkan kepada genetik batuannya. Dengan menggunkan klasifikasi tersebut maka secara implisit akan menggambarkan proses yang terjadi selama terbentuknya batuan tersebut demikian pula dengan lingkungan pengendapannya. Oleh karena itu klasifikasi tersebut menjadi lebih populer dibanding dengan klasifikasi Folk. Menurut Dunham 1962 bahwa tekstur batugamping atau batuan karbonat dapat menggambarkan genesa pembentukannya, sehingga klasifikasi ini dianggap mempunyai tipe genetik dan bukan deskriptif seperti yang dikemukakan oleh Folk (1962). Terdapat empat dasar klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham 1962 yaitu kandungan lumpur karbonat (mud), kandungan butiran, keterikatan komponen, dan kenampakan tekstur hasil diagenesis. Tekstur batuan karbonat yang didominasi oleh kehadiran mud (mikrit) atau mud supported terbagi dua yaitu batuan yang mengandung butiran lebih dari 10% dan dimasukkan kedalam mudstone, sedangkan batuan yang kandungan butirannya lebih besar dari 10% dimasukkan kedalam wackestone. Grain supported atau batuan yang didominasi oleh butiran adalah tekstur batuan karbonat yang terendapkan pada lingkungan berenergi sedang tinggi. Tekstur ini terbagi dua yaitu yang masih mengandung matriks digolongkan menjadi packstone dan yang tidak mengandung matriks sama sekali atau grainstone.

Tabel Klasifikasi batuan karbonat berdasarkan Dunham 1962 yang didasarkan pada kehadiran mud (mikrit) dan butiran (grain).

Kelompok ketiga dalam klasifikasi Dunham adalah batuan dimana komponennya saling terikat satu sama lainnya atau tersusun oleh organisme. Dalam klasifikasi tersebut tekstur seperti ini dimasukkan kedalam boundstone. Selain ketiga kelompok tekstur di atas, maka batuan karbonat juga dikelompokkan berdasarkan diagenetiknya, yaitu jika komponen penyusunnya tidak lagi memperlihatkan tekstur asalnya. Kelompok batuan ini dikenal sebagai kristallin karbonat (calcite crystalline rocks dan dolomite crystalline rocks). Tekstur ini oleh Embry & Klovan 1971 menyempurnakannya klasifikasi Dunham (1962) dengan mempertimbangkan pengaruh energi dan sedimen-sedimen yang terbawa dan terakumulasi pada batuan tersebut. Embry & Klovan melihat pentingnya ukuran fragmen (butiran) yang terakumulasi pada batuan yang didominasi oleh matriks. Batuan dengan tekstur wackestone dengan kandungan butiran lebih besar dari 2 mm, maka menurut Embry & Klovan bahwa batuan ini erat hubungannya dengan sumber butiran (fragmen) sehingga perlu memberikan nama khusus yaitu floatstone untuk menggambarkan lingkungan pengendapannya. Sedangkan pada tekstur grainstone Embry & Klovan menamakannya sebagai rudstone untuk batuan dengan butiran lebih besar dari 2 mm.

Klasifikasi batuan karbonat yang dibedakan berdasarkan tekstur pengendapannya, tipe butiran, dan faktor lainnya seperti yang diperkenalkan oleh Dunham 1962. Klasifikasi ini dimodifikasi oleh Embry dan Klovan (1971) yang mempertimbangkan ukuran butir dan bentuk perkembangan organisme pembentuk batuan

Selain berdasarkan pada ukuran fragmen dalam batuan, Embry & Klovan juga memberikan perhatian pada organisme yang menyusun batuan karbonat yang dalam klasifikasi Dunham (1962) menamakan boundstone. Menurutnya bahwa cara sedimen terperangkap pada organisme penyusun boundstone perlu dibedakan menjadi tiga yaitu bindstone, bafflestone dan framestone. Seperti yang terlihat pada illustrasi di atas bahwa masing-masing tekstur mempunyai kekhasan tersendiri. Bindstone adalah orgnisme yang menyusun batuan karbonat dimana cara hidupnya dengan mengikat sedimen yang terakumulasi pada organisme tersebut. Organisme yang seperti ini biasanya hidup dan berkembang didaerah berenrgi sedang tinggi. Batuan ini umumnya terdiri dari kerangka ataupun pecahan-pecahan kerangka organik, seperti koral, bryozoa dll, tetapi telah diikat kembali oleh kerak lapisan-lapisan (encrustation) gamping yang dikeluarkan oleh ganggang merah.

Penyempurnaan klasifikasi Dunham oleh Embry dan Klovan yang membagi boundstone menjadi tiga yaitu bafflestone, bindstone dan framestone. Selain itu wackestone menjadi floatstone dan grainstone manjadi rudstone jika butiran lebih besar dari 2 mm. Bafflestone adalah tekstur batuan karbonat yang terdiri dari organisme penyusun yang cara hidupnya menadah sedimen yang jatuh pada organisme tersebut. Tekstur ini umumnya dijumpai pada daerah berenergi sedang. Bafflestone terdiri dari kerangka organik seperti koral (branching coral) dalam posisi tumbuh (growth position) dan diselimuti oleh lumpur gamping. Kerangka organik bertindak sebagai baffle yang menjebak lumpur gamping. Tekstur yang ketiga adalah framestone. Batuan ini tersusun oleh organisme yang hidupnya pada daerah yang berenergi tinggi sehingga tahan terhadap gelombang dan arus. Penyusun batuan ini seluruhnya dari kerangka organik seperti koral, bryozoa, ganggang, sedangkan matriksnya < 10% dan semen mungkin kosong. Secara umum pembagian zona energi dan batuan penyusun meurut Embry & Klovan (1971) diperlihatkan pada gambar berikut.

Penampang melintang komplek terumbu yang menggambarkan perbedaan zona dan batuan penyusun setiap zona menurut Embry & Klovan (1971).

Selain klasifikasi Dunham, maka klasifikasi batuan karbonat yang sering digunakan adalah klasifikasi Folk (1959/1962). Klasifikasi ini lebih menekankan kepada pendekatan deskriptif dan tidak mempertimbangkan masalah genetiknya. Dasar pembagiannya adalah kehadiran sparit (semen) dan mikrit (matriks). Selain itu klasifikasi ini juga melihat volume butiran (allochem) dalam batuan yang diurut seperti intraklas, ooid, fosil/pellet. Kehadiran sparit dan mikrit menjadi komposisi utama dimana jika sparitnya lebih besar daripada mikrit maka nama batuannya akan berakhiran sparit, demikian pula jika mikrit yang lebih dominan maka nama batuannya akan berakhiran mikrit. Awalan dalam penamaan batuan karbonat menurut Folk tergantung pada komposisi intraklas, jika intraklas di atas 25% maka nama batuannya menjadi intasparit atau intramikrit. Namun jika butiran ini tidak mencapai 25% maka butiran kedua menjadi pertimbangan yaitu ooid, sehingga batuan dapat berupa oosparit atau oomikrit. Pertimbangan lainnya adalah jika kandungan ooid kurang dari 25%, maka perbandingan pellet dan fosil menjadi penentu nama batuan. Terdapat tiga model perbandingan (fosil : pellet) yaitu 3:1, 1:3, dan antara 3:1 1:3. Jika fosil lebih besar atau 3 : 1 maka nama batuannya biosparit atau biomikrit demikian pula sebaliknya akan menjadi pelsparit atau pelmikrit. Jika oerbandingan ini ada pada komposisi 3:1 1:3 maka menjadi biopelsparit atau biopelmikrit. Klasifikasi ini juga masih menganut paham Grabau dengan menambahkan akhiran rudit jika allochemnya mempunyai ukuran yang lebih besar dari 2 mm dengan prosentase lebih dari 10%. Dengan demikian penamaan batuan karbonat menurut klasifikasi ini akan menjadi rudit (misalnya biosparudit, oomikrudit dst).

10

Klasifikasi batuan karbonat menurut Folk (1959) yang membagi batuan karbonat secara deskriptif. Kehadiran sparit dan mikrit menjadi pertimbangan utama dalam klasifikasi ini.

Klasifikasi Dunham (1962) didasarkan pada tekstur deposisi dari batugamping, karena menurut Dunham dalam sayatan tipis, tekstur deposisional merupakan aspek yang tetap. Kriteria dasar dari tekstur deposisi yang diambil Dunham (1962) berbeda dengan Folk (1959). Kriteria Dunham lebih condong pada fabrik batuan, misal mud supported atau grain supported bila ibandingkan dengan komposisi batuan. Variasi kelas-kelas dalam klasifikasi didasarkan pada perbandingan kandungan lumpur. Dari perbandingan lumpur tersebut dijumpai 5 klasifikasi Dunham (1962). Nama nama tersebut dapat dikombinasikan dengan jenis butiran dan mineraloginya. Batugamping dengan kandungan beberapa butir (<10%) di dalam matriks lumpur karbonat disebut mudstone dan bila mudstone tersebut mengandung butiran yang tidak saling bersinggungan disebut wackestone. Lain halnya apabila antar butirannya saling bersinggungan disebut packstone / grainstone. Packstone mempunyai tekstur grain supported dan punya matriks mud. Dunham punya istilah Boundstone untuk batugamping dengan fabrik yang mengindikasikan asal-usul komponenkomponennya yang direkatkan bersama selama proses deposisi. Klasifikasi Dunham (1962) punya kemudahan dan kesulitan. Kemudahannya tidak perlu menentukan jenis butiran dengan detail karena tidak menentukan dasar

11

nama batuan. Kesulitannya adalah di dalam sayatan petrografi, fabrik yang jadi dasar klasifikasi kadang tidak selalu terlihat jelas karena di dalam sayatan hanya memberi kenampakan 2 dimensi, oleh karena itu harus dibayangkan bagaimana bentuk 3 dimensi batuannya agar tidak salah tafsir. Pada klasifikasi Dunham (1962) istilahistilah yang muncul adalah grain dan mud. Nama-nama yang dipakai oleh Dunham berdasarkan atas hubungan antara butir seperti mudstone, packstone, grainstone, wackestone dan sebagainya. Istilah sparit digunakan dalam Folk (1959) dan Dunham (1962) memiliki arti yang sama yaitu sebagai semen dan sama-sama berasal dari presipitasi kimia tetapi arti waktu pembentukannya berbeda. Sparit pada klasifikasi Folk (1959) terbentuk bersamaan dengan proses deposisi sebagai pengisi pori-pori. Sparit (semen) menurut Dunham (1962) hadir setelah butiran ternedapkan. Bila kehadiran sparit memiliki selang waktu, maka butiran akan ikut tersolusi sehingga dapat mengisi grain. Peristiwa ini disebut post early diagenesis. Dasar yang dipakai oleh Dunham untuk menentukan tingkat energi adalah fabrik batuan. Bila batuan bertekstur mud supporteddiinterpretasikan terbentuk pada energi rendah karena Dunham beranggapan lumpur karbonat hanya terbentuk pada lingkungan berarus tenang. Sebaliknya grain supported hanya terbentuk pada lingkungan dengan energi gelombang kuat sehingga hanya komponen butiran yang dapat mengendap.

c. Klasifikasi Mount (1985) Klasifikasi Mount (1985) Proses pencampuran batuan campuran silisiklastik dan karbonat melibatkan proses sedimentologi dan biologi yang variatif. Proses tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori : a. Punctuated Mixing. Pencampuran di dalam lagoon antara sedimen dan silisiklastik di dalam lagoon yangberasal dari darat dengan sedimen karbonat laut. Proses pencampuran ini terjadi hanya bila ada energi yang kuat melemparkan material karbonat ke arah lagoon. Energi yang besar ini dapat terjadi padaa saat badai. Proses ini dicirikan oleh adanya shell bed yang merupakan lapisan yang mebngandung intraklas-intraklas cangkang dalam jumlah yang melimpah. b. Facies Mixing. Percampuran yang terjadi pada batasbatas facies antara darat dan laut. Suatu kondisi fasies darat berangsur-angsur berubah menjadi fasies laut memungkinkan untuk terjadinya pencampuran silisiklastik dan karbonat.
12

c. Insitu Mixing. Percampiran terjadi di daerah sub tidal yaitu suatu tempat yang banyak mengandung lumpur terrigenous. Kondisi yang memungkinkan terjadinya percampuran ini adalah bila lingkungan tersebut terdapat organisme perintis seperti algae. Apabila algae mati maka akan menjadi suplai material karbonat. d. Source Mixing. Proses percampuran ini terjadi karena adanya pengangkatan batuan ke permukaan sehingga batuan tersebut dapat tererosi. Hasil erosi batuan karbonat tersebut kemudian bercampur dengan material silisiklastik. Klasifikasi Mount (1985) merupakan klasifikasi deskriptif. Menurutnya sedimen campuran memiliki 4 komponen, yaitu :- Silisiklastik sand (kuarsa, feldspar dengan ukuran butir pasir).- Mud, yaitu campuran silt dan clay. Allochem, batuan karbonat seperti pelloid, ooid dengan ukuran butir > 20 mikrometer.- Lumpur karbonat / mikrit, berukuran < 20 mikrometer.

II.3. Klasifikasi Batuan Sedimen Karbonat Secara umum batuan sedimen karbonat dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori utama, yaitu : 1. Organik 2. Presipitasi 3. Klastik 4. Dolomitik Twenhofel, 1950 dalam Petrology Sedimentary Rocks membagi batuan karbonat menjadi 3 bagian yaitu : 1. Kimia - Organik - Inorganik 2. Mekanik 3. Dolomitik

13

Pettijohn, 1957 dalam Petrology Sedimentary Rocks mengklasifikasikan batuan karbonat berdasarkan genetiknya menjadi 3 bagian utama yakni : 1. Autochothonous - Biohermal - Biostromal - Pelagic 2. Allochthounos (detrital) - Calcirudites - Calcarenites - Calcilutites 3. Metasomatik Dolomite Limestone Dunham, 1962 dalam Petrology Sedimentary Rocks mengklasifikasikan batuan karbonat menjadi 3 kelompok utama yang dicirikan sebagai berikut : 1. Komponen asal terikat satu sama lain selama proses pengendapan. 2. Komponen asal tidak terikat satu sama lain selama proses pengendapan. Folk, 1962 dalam Petrology Sedimentary Rocks mengklasifikasikan batuan karbonat berdasarkan 3 komponen utama pembentuk batuan karbonat yakni : 1. Allochem serupa dengan butiran atau partikel pada batuan sedimen klastik. Yang tergolong allochem antara lain fosil, intraklast, oolith dan pellet. 2. Microcrystalline Calcite (Micrite) yaitu Kristal halus berukuran 1-4 mikron. Batuan yang dominan mikrit biasanya berwarna keruh.

14

3. Spary Calcite Cement yaitu Kristal kalsit yang berukuran 10 mikron, biasanya mengisi rongga antar batuan. Dibedakan dengan mikrit karena butirannya lebih besar dan berwarna terang. Klasifikasi yang umum digunakan adalah klasifikasi menurut Koesoedinata, 1987. Alasan pemakaian klasifikasi ini adalah penekanan terhadap penamaan batuan sedimen karbonat dilapangan. Berdasarkan klasifikasi ini batuan sedimen karbonat di bagi menjadi 4 tipe utama yaitu: 1. Tipe batugamping kerangka atau batugamping terumbu Tipe batuan ini sering juga disebut Boundstone (Dunham, 1962). Sedangkan berdasarkan terdapatnya lumpur karbonat diantara kerangka atau pecahan kerangka dalam batuan sedimen karbonat,

Gambar1.3. Batu gamping terumbu

batuan ini dapat dikelompokkan menjadi : a. Framestone : batuan ini sebagian besar terdiri dari kerangka organik, matriks < 10% dan semennya berupa sparry calcite sangat sedikit bahkan tidak ada. b. Bindstone : batuan ini terdiri dari kerangka organik tetapi telah terikat oleh kerak-kerak lapisan gamping yang dikeluarkan oleh ganggang merah dan sebagainya. c. Bafflestone : batuan ini terdiri dari kerangka organic seperti koral dalm posisi tubuh (growth position) dan diselimuti lumpur gamping.

15

d. Floatstone : batuan ini terdiri dari potongan-potongan kerangka organic yang mengambang dalam lumpur gamping. e. Rudstone : batuan ini sudah termasuk dalam batugamping klastik yang sangat kasar (calcirudite dalam klasifikasi Grabau, 1959 dan biusparudoite dalam klasifikasi Folk,1961), sebagai hasil rombakan suatu terumbu/batugamping kerangka dan terkumpul setempat. 2. Tipe batugamping klastik a. Bioklastik Tipe batuan ini terdiri dari cangkang-cangkang yang dicirikan fragmen/kerangka pernah lepas. Besar butir > 2mm. b. Chemiklastik Tipe batuan ini terdiri dari fragmen yang berasal dari proses kimiawi seperti koagulasi, agresi, nodul dan lain-lain. Contoh oolith dan pisolith. c. Intraklast/fragmental Tipe batuan ini terdiri dari fragmen-fragmen yang asalnya tidak jelas dan dapat merupakan campuran. 3. Tipe batugamping afanitik Batugamping ini terdiri dari butir-butir < 0,005mm, tidak dapt diketahui apakah terdiri dari fragmen-fragmen halus. Batuan ini terbentuk dari penggerusan batugamping yang telah ada, penghancuran terumbu oleh gelombang atau dari pengendapan langsung secara kimiawi dari ar laut yang lewat jenuh akan CaCO3 sebagai jarum-jarum aragonite. 4. Tipe batugamping kristalin dan Dolomit Batugamping kristalin tidak terbentuk langsung dari pengendapan, tetapi hasil ddari rekristalisai dari batugamping yang telah ada sebelumnya (batugamping klastik, batugamping terumbu dan batugamping afanitik).

16

Proses kristalisasi ini umumnya terjadi melalui proses metamorfisme atau diagenesis. Batuagamping kristalin mungkin juga dapat diendapkan secara langsung dalam asosiasi dengan batuan evaporit. Dolomite umumnya dijumpai dalam bentuk kristalin, proses pembentukannya dapat secara langsung dalam kondisi supratidal melalui proses evaporasi dengan syarat perbandingan konsentrasi Mg : Ca adalah 5 : 1 dan diperlukan penguapan yang intensif dalam skala besar. Tipe-tipe di atas hanyalah merupakan tipe-tipe utama saja. Semua unsurunsur butir/ kerangka dan unsur lain dapat bercampur dalam suatu batuan, terutama mikrit dan sparit. Klasifikasi Folk, 1961 sangat memperinci proporsi antar butir, matriks dan semen, akan tetapi harus bedasarkan pengamatan mikroskopik.

17

BAB. III PENUTUP

III.1. Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa : a. Batuan karbonat adalah semua batuan yang terdiri dari garam karbonat, dalam hal ini CaCO3 dan MgCO3. b. Secara umum dijelaskan klasifikasi batuan karbonat berdasarkan Dunham (1962) dan penyempurnaannya dan klasifikasi oleh Folk (1962). Perbedaan kedua klasifikasi tersebut terletak dari cara pandangnya. Folk membuat klasifikasi berdasarkan apa yang dilihatnya melalui mikroskop atau lebih bersifat deskriptif, sedangkan Dunham lebih melihat batuan karbonat dari aspek deskriptif dan genesis, sehingga dalam klasifikasinya tidak hanya mempertimbangkan kenampakan dibawah mikroskop tetapi juga kenampakan lapangan (field observation). c. Secara umum batuan sedimen karbonat dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori utama, yaitu : Organik Presipitasi Klastik Dolomitik

18

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tulane.edu/~sanelson/geol212/carbonates.htm http://en.wikipedia.org/wiki/Carbonate_rock http://www.gpc.edu/~pgore/geology/geo102/carbs.htm. http://madmonster.williams.edu/geos.302/L.08.html

19