Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat serta karuniaNyalah penulis dapat

menyelesaikan makalah ini yang berjudul Hukum Acara Perdata PUTUSAN VERSTEK guna memenuhi tugas mata kuliah Hukum Acara Perdata. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dosen yang telah membimbing serta rekan-rekan semua sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat serta memberi pengetahuan baik penulis maupun pembacanya.

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Manfaat Penulisan BAB II PEMBAHASAN 2.1 Arti dan Istilah Pengertian VERSTEK 2.2 Bentuk dan Upaya Hukum terhadap Putusan Verstek 2.3 Syarat Putusan verstek 2.4 Eksekusi Putusan Verstek BAB III PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hukum acara perdata adalah merupakan suatu Peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya ditaatinya hukum acara perdata materil dengan perantaraan hakim. Atinya hukum acara perdata merupakan rangkaian-rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak dalam proses Penyelidikan di muka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata materil. Lebih konkrit lagi dapatlah dikatakan, bahwah hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak, memeriksa serta memutuskan dan serta pelaksanaan dari pada putusannya. Tuntutan hak dalam hal ini merupakan suatu perlindungan hukum yang diinginkan oleh masyarakat terhadap dirinya dalam sengketa-sengketa yang terjadi dilingkunagan masyarakat, sehingga mereka yang bersengketa ingin mempertahankan apa yang menjadi hak dan kewajiban dalam suatu sengketa atau perkara yang di hadapai mereka dalam persoalan PERDATA. Hukum perdata lah yang menjadi patokan masyarakat dalam melakukan suatu tindakan hukum melalui hakim yang akan menjadi pengambil putusan terhadap sengekta atau perkara-perkara yang dialami oleh masyarakat. Dalam hal proses di pengadilan seorang hakim akan bertindak pasif, hakim hanya dapat mengambil keputusan dari hasil penyelidakan di pengadilan, sedangkan mereka yang berperkara akan meyakinkan hakim melalui buktibukti dan saksi-saksi di muka pengadilan, dengan katalain mereka yang berperkaralah yang aktif untuk meyakinkan kepada hakim bahwah sanya di lah yang mempunyai hak atau kewajiban dalam hal yang disengketakan kedua belah pihak tersebut. Dalam proses beracara di pengadilan ada tahapan-tahapan penyelidikan yang akan di lalui oleh mereka yang berperkara melalui tahapan-tahapan tersebut hakim akan mengambil suatu kesimpulan dan akan memutus sapakah yang akan menjadi pemilik hak atau kewajiban dalam perkara tersebut.

Proses pemeriksaan dianggap selesai, apabila telah menempuh tahap jawaban dari tergugat sesuai Pasal 121 HIR, Pasal 113 Rv, yang dibarengi dengan replik dari penggugat berdasarkan Pasal 115 Rv, maupun duplik dari tergugat, dan dilanjutkan dengan proses tahap pembuktian dan konklusi. Jika semua tahap ini telah tuntas diselesaikan, majelis menyatakan pemeriksaan ditutup dan prosesselanjutnya adalah menjatuhkan atau pemgucapan putusan Dari beberapa proses penyelidikan di muka pengadilan ada yang dikatakan dengan PUTUSAN VERSTEK ,dalam hal ini putusan yang dimaksuda adalah suatu putusan yang diambil oleh majelis hakim karena ketidak hadiran salah satu dari pihak yang berperkara. Maka dalam makala ini penulis akan menjelaskan suatu putusan yang di ambil oleh hakim disaat salah satu dari pihak yang berperkara tidak hadir dalam proses sidang di pengadilan. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa Arti dan Istilah Pengertian VERSTEK ? 2. Apa saja Bentuk Putusan Verstek ? 3. Apa Syarat Acara verstek? 4. Bagaimana Eksekusi Putusan ?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui Arti dan Istilah Pengertian VERSTEK. 2. Untuk mengetahui Bentuk putusan Verstek. 3. Untuk mengetahui Syarat Acara verstek. 4. Untuk Eksekusi Putusan. Manfaat Penulisan Manfaat penulisan ini merupakan trobosan yang dibuat oleh penulis agar masyarakat mengetahui apa hukum acara perdata dalam proses pengambilan putusan verstek yang mana salah satu dari pihak yang berperkara tidak menghadiri persidangan dan untuk memberi tau masyarakat dalam hal proses persidangan di pengadilan tidak mengabaikan panggilan yang telah dipanggil oleh hakim untuk menghdiri persidangan dan memberi tahu konsekuensi apa bila salah satu dari pihak yang bersengketa tidak menghadiri persidangan. penulisan makalah ini juga bermanfaat bagi penulis sendiri dalam menambah ilmu pengetahuan penulis sendiri maupun yang membaca dan memperkaya khasana perpustakaan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Arti dan Istilah Pengertian VERSTEK Istilah Dalam mepergunakan istilah Hukum acara tanpa hadir sedangkan soepomo menyebut acara luar hadir (verstek). Dilain pihak, subekti tetap mempergunakan istilah aslinya, tetapi tulisannya perstek, bukan verstek. Istilah acara luar hadir dijumpai juga di Kamus Hukum sebagai terjemahan dari verstek procedure, dan verstekvonnis diberi istilah putusan tanpa hadir atau putusan di luar hadir tergugat atau penggugat. Sistem common law memberi istilah default prosedure yang sama maksudnya dengan verstek procedure, yaitu acara luar hadir, dan untuk verstekvonnis (putusan tanpa hadir) disebut default judgement. Tidak terapat perbedaan maksud yang terkandung dalam itilah common law dengan civil law yang dianut di Indonesia. Tidak ada perbedaan anatara istilah di atas karena dalam dalam penulisan maupun pratik pengadilan telah baku bahwah istilah yang dipakai adalah verstek dan dalam khasanah terminologi hukum di Indonesia telah mempergunakan istilah verstek tersebut.

Pengertian VERSTEK Pengertian verstek tidak terlepas kaitannya dengan fungsi beracara dan penjatuhan putusan atas perkara yang disengketakan, yang memberi wewenang kepada hakim menjatuh kan putusan tanpa hadirnya penggugat atau tergugat. Jadi verstek merupakan suatu kewenangan hakim untuk mengambil putusan tanpa kehadiran penggugat atau tergugat padahal pengadilan telah memanggil secara sah kedua belah pihak yang bersengketa untuk menghadiri persidangan namun salah satu dari penggugat atau tergugat tidak menghadiri persidangan .

Sehubungan dengan itu persoalan verstek tidak lepas kaitannya dengan ketentuan pasal 124 HIR (Pasal 77 Rv) dan pasal 125 ayat (1) HIR (Pasal 73 Rv. a. Pasal 124 HIR , Pasal 77 Rv, Mengatur Verstek kepada Penggugat Berdasarkan Pasal diatas, hakim berwenang menjatuhkan putusan di luar hadir atau tanpa hadir penggugat dengan syarat. Bila penggugat tidak hadir pada sidang yang ditentukan tanpa alasan yang sah, maka dalam peristiwa seperti itu, hakim berwenang memutus perkara tanpa hadirnya penggugat yang disebut petusan verstek, yang memuat: 1. membebaskan tergugat dari perkara tersrbut, 2. menghukum penggugat membayar biaya perkara terhadap putusan verstek itu penggugat tidak dapat mengajukan perlawanan (verzet) maupun upaya banding dan kasasi, sehingga terhadap putusan tertutup upaya hukum, upaya yang dapat dilakukan penggugat adalah mengajukan kembali gugatan itu sebagai perkara baru dengan membayar biaya perkara.

b. Pasal 125 Aayat (1) HIR, Pasal 78 Rv, Mengatur verstek terhadapa tergugat Berdasarkan Pasal tersebut kepada hakim diberi wewenang menjatuhkan putusan di luar hadir atau tanpa hadirnya tergugat, dengan syarat; Apabila tergugat tidak datang menghadiri sidang pemeriksaan yang ditentukan tanpa alasan yang sah (default without reason), Dalam hal seperti itu, hakim menjatuhkan putusan verstek yang berisi diktum: 1. Mengabulkan gugatan seluruhnya tau sebagiannya, atau 2. Menyatakan gugatan tidak dapat diterima apabila gugatan tidak mempunyai dasar hukum.

Tujuan VERSTEK Tujuan utama sistem verstek dalam hukum acara adalah untuk mendorong para pihak menaati tata tertib beracara, sehingga proses pemeriksaan penyelesaian perkara terhindar dari anarki atau kesewenagan. Memperhatikan akibat buruk yang terjadi, yaitu apabila keabsahan proses pemeriksaan digantungkan atas kehadiran para pihak atau tergugat, undang-undang perlu mengantisipasinya melalui acara pemeriksaan verstek. Pemeriksaan dan penyelesaian perkara tidak mutlak digantungkan atas kehadiran tergugat di persidangan. Apabila ketidak hadiran itu tanpa alasan yang sah (unreasonable default), dapat diancam dengan penjatuhan putusan tanpa hadir (verstek). Meskipun penerapan verstek tidak imperatif, namun pelembagaannya dalam hukum acara dianggap sangat efektif menyelesaikan perkara.
Yahyah Harahap, S.H. Hukum acara perdata, sinar grafika januari 2010, hal 381-383

2.2 Bentuk Putusan Verstek Mengenai bentuk putusan verstek yang dapat dijatuhkan, diatur dalam Pasal 125 ayat (1) HIR, Pasal 149 RBG, dan Pasal 78 Rv. Pasal 125 ayat (1) berbunyi: Jika tergugat tidak datang pada hari perkara itu diperiksa, atau tidak pula menyuruh orang lain menghadap mewakilinya, meskipun ia dipanggil dengan patut maka gugatan itu diterima dengan tidak hadir (verstek), kecuali kalau nyata kepada PN bahwa pendakwaan itu melawan hak atau tidak beralasan. Bentuk putusan verstek yang dijatuhkan pengadilan berdasarkan pasal diatas yaitu: 1. Mengabulkan Gugatan Penggugat Bentuk putusan verstek yang pertama, mengabulkan gugatan penggugat. Apabila hakim hendak menerapkan acara verstek, pada prinsipnya, putusan yang harus dijatuhkan mengabulkan gugatan penggugat.

a. Mengabulkan Seluruh Gugatan Apabila perkara diputus melalui acara verstek harus ditegakan secara konsekuen ketentuan yang dimaksud yaitu mengabulkan seluruh gugatan persis seperti yang dirincikan dalam petitum gugatan. b. Boleh Mengabulkan Sebagian Saja Sangat objektif dan rasional menerapkan pengabulan sebagai gugatan melalui putusan verstek, namun dalam mengabulkan permohonan penggugat dalam hal putusan verstek harus melihat segi keadilannya, dimana dalam petitum meinta 10 kalilipat jumlah yang didalilkan dalam gugatan maka hakim akan mempertimbangkan dari segi keadilannya, apakah seluruh atau sebagian yang menjadi permohonan pengugat akan dikabulkan oleh hakim, sepanjang petitum gugatan benar-benar sesuai denagn dalil gugatan, serta dalil gugatannya mempunyai landasan hukum yang kuat, objektif dan rasional.
Ny. Retnowulan Sutantio, S.H. Iskandar Oeripkartawinata, S.H. Hukum Acara Perdata, 1997. Bandung: Cv Mandar Maju. Hal, 27

2. Menyatakan Gugatan Tidak Dapat Di Terima Hakim harus menyatakan gugatan tidak dapat diterima apabila: a. Melawan hukum atau ketertiban dan kesusilaan (unlawful), dan b. Tidak beralasan dan tidak mempunyai dasar hukum (no basic reason). 3. Menolak Gugatan Penggugat Jika menurut pertimbangan hakim, gugatan yang diajukan tidak didukung alat bukti yang memenuhi batas minimal pembuktian, hakim dapat menjatuhkan putusan verstek yang memuat diktum: Menolak guhatan penggugat. Sekiranya penggugat keberatan terhadap putusan itu, ia dapat mengajukan banding berdasarkan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 1947. Penolakan gugatan merupakan putusan yang bersifat positif sehingga apabila putusan berkekuatan hukum tetap, pada putusan melekat ne bis en idem berdasarkan Pasal 1917 KUHPerdata.

Yahyah Harahap, S.H. Hukum acara perdata, sinar grafika januari 2010, hal 397

2.3 Syarat Putusan verstek Dalam hal ini yang akan di bahas adalah acra verstek terhadap tergugat, perihal syarat sahnya penerapan acara verstek kepada tergugat, merujuk kepada ketentuan Pasal 125 ayat (1) HIR atau Pasal 78 Rv. Dari pasal-pasal tersebut dapat dikemukakan syarat-syarat sebagai berikut. 1. Tergugat Telah Dipanggil dengan Sah dan Patut a. Yang melaksanakan panggilan juru sita (Pasal 338 jo. Pasal 390 ayat (1) HIR. Apabila diluar dari yuridiksi relatif yang dimilikinya maka pemanggilan akan berdasarkan pasal 5 Rv. b. Bentuknya dengan surat panggilan (Pasal 390 ayat 1, Pasal 2 ayat 3 Rv) Panggilan dilakukan dalam bentuk: Surat tertulis yang disebut surat panggilan atau relaas Panggilan (bericht, report); Panggilan tidak sah dalam bentuk lisan (oral) karena secara teknis yustisial, sangat sulit atau tidak dapat dibuktikan kebenarannya sehingga dapat merugikan kepentingan tergugat. c. Cara pemanggilan yang sah (Pasal 390 ayat (1) dan (3) atau Pasal 6 ke-7 Rv d. Jarak waktu pemanggilan dengan hari sidang, agar panggilan sah dan patut, harus berpedoman kepada Pasal 122 HIR atau Pasal 10Rv Dalam keadaan normal, digantungkan pada faktor jarak tempat kediaman tergugat dengan gedung PN: a. 8 (delapan) hari, apabila jaraknya tidak jauh, b. 14 (empat belas) hari, apabila jaraknya agak jauh, dan c. 20 (dua puluh) hari apabila jaraknya jauh. Dalam keadan mendesak, menurut Pasal 122 HIR, dalam keadaan mendesak jarak waktunya dapat dipersingkat, tetapi tidak boleh kurang dari 3 (tiga) hari.

2. Tidak Hadir Tanpa Alasan yang sah Tergugat tidak datang menghadiri panggilan sidang tanpa alasan yang sah (default without reason). Syarat ini ditegaskan dalam Pasal 125 ayat(1) HIR: Tergugat tidak datang pada hari perkara itu diperiksa, atau Tidak menyuruh orang lain sebagai kuasa yang bertindak mewakilinya, Padahal tergugat telah dipanggil dengan patut, tetapi tidak menghiraukan dan menaati penggilan tanpa alasan yang sah, Dalam kasus seperti itu, hakim dapat dan berwenag menjatuhkan ptusuan verstek, yaitu putusan diluar hadir tergugat. Penerapan alasan yang sah Pasal 125 ayat (1), tidak mengatur tentang hal ini. Akan tetapi, bertitik tolak dari pendekatan kepatutan dihubungkan dengan prinsip fair trial, tidak adil menghukum tergugat dengan putusan verstek, apabila ketidak hadirannya disebabkan alasan yang masuk akal (common sense) secara objektif. Tidak dibenarkan menerapkan acara verstek karena ketidak hadiran terggat sebagai berikut: Disebabkan tergugat ditugaskan oleh atasan bertugas di luar kota atau daerah Karena sakit yang dikuatkan dengan keterangan dokter Berada diluar negri didukung dengan surat keterangan dari pihak yang berkompeten untuk itu Sedang menjalankan tugas yang di perintahkan atasan yang tidak dapat ditinggalkan. Yang berwenag menilai alasan tersebut apakah layak dan patut adalah kewenagan dari hakim, Penggugat dapat mengajukan putusan verstek kepada hakim, namun yang tetap berwenang dalam mengabil putusan verstek tersebut adalah hakim.
Yahyah Harahap, S.H. Hukum acara perdata, sinar grafika januari 2010 hal 383. Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H. Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty yogyakarta pebuari 2006. M

2.4 Eksekusi Putusan Verstek Dasar hukum mengenai eksekusi putusan verstek diatur dalam Pasal 128 HIR, jo Pasal 195 HIR. Putusan Verstek tidak dapat dieksekusi sebelum lewat tenggang 14 hari dari tanggal pemberi tahuan putusan, putusan verstek harus diberitahukan kepada tergugat. Patokan tennggang waktu mengajukan verstek diatur dalam Pasal 129 ayat (2) HIR, menurut ketentuan tersebut patokan tenggang waktu yang diterapkan sebagai landasan umum adalah 14 hari dari tanggal pemberitahuan putusan verstek kepada penggugat. Eksekusi terhadap putusan verstek baru dapat dijalankan apabila lewat tenggang waktu mangajukan verstek baru, dan selama tenggang masih berlaku, tergugat tidak mengajukan perlawanan (verzet). Eksekusi baru dapat dijalankan apabila putusan tersebut telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, Pasal 128 ayat (1) HIR. Dapat di eksekusi sebelum lewat 14 hari atas alasan sangat perlu dapat dilaksanakan eksekusi putusan verstek, meskipun tenggang waktu mengajukan perlawanan belum lewat, pengecualian tersebut diatur dalam Pasal 128 ayat (2) HIR. Ketentua Pasal 180 HIR yang memberi wewenang kepada ketua Pengadilan Negri melaksanakan putusan lebih dahulu (vitvoerbaar bij voorraad) meskipun tergugat mengajukan perlawanan atau banding. Terdapat keadaan yang sangat perlu syarat ini disebut dengan tegas dalam Pasal 128 ayat (2) HIR dengan mempergunakan keadaan yang sangat perlu. Aada perintah dari penggugat agar putusan verstek dilaksanakan terlebih dahulu meskipun belum lewat 14 hari dari tanggal pemberitahuan. Permohonan harus dibarengi dengan alsan-alasan yang benarbenar memenuhi katagori. Dari syarat-syarat diatas yang dianggap sah dan memenuhi syarat putusan verstek yang bersifat komulatif bukan alternatif.
Yahyah Harahap, S.H. Hukum acara perdata, sinar grafika januari 2010, hal 416.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dalam mepergunakan istilah Hukum acara tanpa hadir sedangkan soepomo menyebut acara luar hadir (verstek). Dilain pihak, subekti tetap mempergunakan istilah aslinya, tetapi tulisannya perstek, bukan verstek Tidak ada perbedaan anatara istilah di atas karena dalam dalam penulisan maupun pratik pengadilan telah baku bahwah istilah yang dipakai adalah verstek dan dalam khasanah terminologi hukum di Indonesia telah mempergunakan istilah verstek tersebut. Putusan verstek adalah putusan yang diambil oleh hakim karena ketidak hadiran penggugat atau tergugat dalam persidangan di pengadilan, dimana hakim belum memeriksa pokok perkara antar kedua bela pihak yang bersengketa nammun telah diambil suatu putusan yang disebut dengan putusan verstek. Sehubungan dengan itu persoalan verstek tidak lepas kaitannya dengan ketentuan pasal 124 HIR (Pasal 77 Rv) dan pasal 125 ayat (1) HIR (Pasal 73 Rv. Pasal 124 HIR , Pasal 77 Rv, Mengatur Verstek kepada Penggugat Berdasarkan Pasal diatas, hakim berwenang menjatuhkan putusan di luar hadir atau tanpa hadir penggugat dengan syarat. Bila penggugat tidak hadir pada sidang yang ditentukan tanpa alasan yang sah, maka dalam peristiwa seperti itu, hakim berwenang memutus perkara tanpa hadirnya penggugat yang disebut petusan verstek, yang memuat: 1. membebaskan tergugat dari perkara tersrbut, 2. menghukum penggugat membayar biaya perkara terhadap putusan verstek itu penggugat tidak dapat mengajukan perlawanan (verzet) maupun upaya banding dan kasasi, sehingga terhadap putusan tertutup upaya hukum, upaya yang dapat dilakukan penggugat adalah mengajukan kembali gugatan itu sebagai perkara baru dengan membayar biaya perkara.

Pasal 125 Aayat (1) HIR, Pasal 78 Rv, Mengatur verstek terhadapa tergugat Berdasarkan Pasal tersebut kepada hakim diberi wewenang menjatuhkan putusan di luar hadir atau tanpa hadirnya tergugat, dengan syarat; Apabila tergugat tidak datang menghadiri sidang pemeriksaan yang ditentukan tanpa alasan yang sah (default without reason), Dalam hal seperti itu, hakim menjatuhkan putusan verstek yang berisi diktum: 1. Mengabulkan gugatan seluruhnya tau sebagiannya, atau 2. Menyatakan gugatan tidak dapat diterima apabila gugatan tidak mempunyai dasar hukum. Tujuan utama sistem verstek dalam hukum acara adalah untuk mendorong para pihak menaati tata tertib beracara, sehingga proses pemeriksaan penyelesaian perkara terhindar dari anarki atau kesewenagan. Bentuk dari putusan verstek senderi merupakan suatu putusan yang diambil oleh hakim yang berbentuk: 1. Mengabulkan Gugatan Penggugat 2. Menyatakan Gugatan Tidak Dapat Di Terima, dan

3. Menolak Gugatan Penggugat. Dalam mengambil putusan verstek banyak pertimbangan-pertimbagan yang harus dilihat oleh hakim. Apakah putusan yang diambil tersebut adail atau tidak apabila seorang yang tidak hadir dalam proses pemeriksaan di pengadilan di putus oleh hakim dengan putusan verstek. Maka hakim harus melihat kelayakan pemanggilan dan apa alasan yang menjadi ketidak hadiran salah satu dari yang berperkara penggugat atau terggugat, apabila ketidak hadiran tersebut beralasan maka hakim tidak akan mengambil putusan verstek tersebut dan alasan tersebut juga mempunyai dasar yang memenuhi kategori sesorang yang dipanggi dipengadilan tidak dapat hadir karena sebagai berikut: Disebabkan tergugat ditugaskan oleh atasan bertugas di luar kota atau daerah Karena sakit yang dikuatkan dengan keterangan dokter Berada diluar negri didukung dengan surat keterangan dari pihak yang berkompeten untuk itu Sedang menjalankan tugas yang di perintahkan atasan yang tidak dapat ditinggalkan.

Eksekusi dalam verstek harus dijalankan setelah 14 hari pemberitahuan putusan verstek tersebut, namun ada peralihan yang mengatur sebelum lewat batas waktu yang telah ditentukan eksekusi terhadap putusan verstek tersebut dapat dijalankan. dalam Pasal 128 ayat (2) HIR, Ketentua Pasal 180 HIR yang memberi wewenang kepada ketua Pengadilan Negri melaksanakan putusan lebih dahulu (vitvoerbaar bij voorraad) meskipun tergugat mengajukan perlawanan atau banding.

2.5.Saran Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca memperkaya khasanah perpustakaan serta bermanfaat bagi semua pihak. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca guna kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA Moh. Taufik Makaro, SH. MH, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, 2004. Jakarta: PT. Rineka Cipta M. Yahya Harahap,S.H. Hukum Acara Perdata, 2010. Jakarta: Sinar Grafita Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H. Hukum Acara Perdata Indonesia, 1998. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta. Ny. Retnowulan Sutantio, S.H. Iskandar Oeripkartawinata, S.H. Hukum Acara Perdata, 1997. Bandung: Cv Mandar Maju. Wibisono oedoyo. Modul Hukum Acara Perdata.2011. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, 2010. Yogyakarta: Pustaka Yustisia. Herzien Indonesia Reglement (HIR). Drs. Sudarsono, S.H., M.Si. Kamus Hukum, PT Asdi Mahasatya, Cetakan ke kelima febuari 2007 jakarta.