Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. Melalui pengawasan diharapkan dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Melalui pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauhmana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauhmana kebijakan pimpinan dijalankan dan sampai sejauhmana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut. Menurut Winardi Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan. Sedangkan menurut Basu Swasta Pengawasan merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan. Sedangkan menurut Komaruddin Pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana, dan awal untuk langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana yang berarti.1 Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk
1

http://itjen-depdagri.go.id/article-25-pengertian-pengawasan.html, di akses Oktober 2012.

mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan atau pemerintahan. Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan suatu perencanaan. Dengan adanya pengawasan maka perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan berjalan dengan baik. Pengawasan internal dapat membantu suatu organisasi dalam mencapai prestasi dan target yang menguntungkan, dan mencegah kehilangan sumber daya. Dapat membantu menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya, dan juga dapat memastikan suatu organisasi mematuhi undang-undang dan peraturan, terhindar dari reputasi yang buruk dan segala konsekuensinya. Selanjutnya dapat pula membantu mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuannya, dan terhindar dari hal yang merugikan. Pelaksanaan tugas pokok suatu organisasi, tidak akan tercapai

dengan baik alasannya karena faktor pelaksanaan pengawasan belum sesuai dengan yang direncanakan. Pengawasan yang kurang baik akan berdampak terhadap efektivitas pelaksanaan pengawasan yang belum yang diharapkan. Oleh karena itulah akan diterapkan sesuai dengan

petunjuk yang akan

dilakukan guna menunjang efektivitas perencanaan pengawasan.2

Dalam penyelenggaraan pemerintahan telah terjadi pergeseran paradigma dari rule government menjadi good governance, dalam paradigma dari rule
2

Victor, M. Situmorang, dan Jusuf Juhir, 1994, Aspek Hukum Pengawasan Melekat, Rineka Cipta, Yogyakarta, hal. 39.

government penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik senantiasa menyandarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) tidak hanya terbatas pada penggunaan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melainkan dikembangkan dengan menerapkan prinsip penyelenggaraan

pemerintahan yang baik yang tidak hanya melibatkan pemerintah atau negara semata tetapi harus melibatkan internal birokrasi maupun eksternal birokrasi. Kementerian Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Kemendagri

mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Kemendagri menyelenggarakan fungsi: 1. perumusan, penetapan dan pelaksanaan kebijakan dibidang pemerintahan dalam negeri; 2. pengelolaan barang milik/kekayaan negara; 3. pengawasan atas pelaksanaan tugas dibidang pemerintahan dalam negeri; dan
4. pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah.3

Inspektorat Jenderal Kemendagri sebagai unsur pengawas internal Kemendagri mempunyai peran strategis dalam meningkatkan kinerja Kemendagri menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Seiring dengan tuntutan masyarakat dan perubahan paradigma pengawasan, Inspektorat Jenderal diharapkan mampu meningkatkan perannya sebagai mata dan
3

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor.41 Tahun 2010, Pasal 2 dan 3.

telinga Menteri Dalam Negeri dengan membangun komunikasi yang intensif dan hubungan yang bersifat kemitraan sebagai penjamin kualitas (quality assurance) dan consulting partner dengan seluruh unit kerja lingkup Kemendagri dan Pemerintah Daerah dan mitra kerja terkait lainnya. Peran pengawasan Inspektorat Jenderal dimaksudkan untuk memberikan keyakinan yang memadai atas pencapaian tujuan Kemendagri, sekaligus dapat mengisi peran memberikan peringatan dini (Early Warning) terhadap potensi penyimpangan dan kecurangan yang terjadi yang disebabkan kelemahan dalam sistem maupun sebagai akibat dari tindak pelanggaran individu. Dengan demikian akan meningkatkan kepercayaan publik (Public Trust) terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Inspektorat Jenderal mempunyai beberapa visi dan misi dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya dalam melakukan pengawasan di lingkungan kementrian. Visi Inspektorat Jenderal Kemendagri ialah: Terciptanya Pengawasan Internal yang Professional dan Akuntabel Dalam Rangka Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) di lingkungan Kementrian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah. Misi Inspektorat Jenderal Kemendaegri:
1. Mendorong prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (Good Governance)

di lingkungan Kementrian Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah;

2. Mendorong pelaksanaan tugas pokok dan fungsi semua unsur di lingkungan

Kementrian Dalam Negeri secara efektif, efesien dan ekonomis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
3. Mencegah sedini mungkin terjadiya upaya pemborosan, kebocoran,

penyimpangan

dan

penyalahguanaan

wewenang,

dalam

proses

kepemerintahan agar tercipta aparatur yang tertib, bersih dan bebas KKN;
4. Mendorong terwujudnya penerapan sistim pengendalian intern secara efektif

pada seluruh unit kerja lingkup Kementerian Dalam Negeri;


5. Mendorong terwujudnya laporan keuangan Kementerian Dalam Negeri

dijadikan sesuai dengan Standart Akuntansi Pemerintah (SAP);


6. Mendorong terwujudnya penerapan Sistem Akuntabilitas Kerja Instansi

Pemerintah (SAKIP) pada unit kerja lingkup Kementrian Dalam Negeri; 7. Meningkatkan kordinasi dan sinergitas antar aparat pengawasan fungsional dan aparat penegak hukum serta memberdayakan pengawasan masyarakat; 8. Menilai penyelenggaraan pemerintah dan manfaat hasil pembangunan untuk memberikan umpan balik terhadap kebijakan, perencanaan, pelaksanaan dan pembinaan lebih lanjut; dan
9. Meningkatkan peran Inspektorat Jenderal Kemendagri dan Inspektorat

Provinsi serta Kabupaten / Kota, sebagai Quality Assurance dan Consulting.4

http://itjen-depdagri.go.id/index.php?pilih=hal&id=15# diakses Oktober 2012.

Pengawasan ini harus dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan dan ketidakcocokan dan menemukan penyebab ketidakcocokan yang muncul. Dalam konteks membangun manajemen pemerintahan publik yang bercirikan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance), pengawasan merupakan aspek penting untuk menjaga fungsi pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Pengawasan menjadi sama pentingnya dengan penerapan Good Governance itu sendiri. Lahirnya wacana good governance berakar dari penyimpangan-

penyimpangan yang terjadi pada praktik pemerintahan, seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Penyelenggaraan urusan publik yang bersifat sentralistis, nonpartisipatif serta tidak akomodatif terhadap kepentingan publik, telah

menumbuhkan rasa tidak percaya dan bahkan antipati kepada rezim pemerintahan yang ada. Masyarakat tidak puas dengan kinerja pemerintah yng selama ini dipercaya sebagai penyelenggara urusan publik. Beragam kekecewaan terhadap penyelenggaraan pemerintahan tersebut pada akhirnya melahirkan tuntutan untuk mengembalikan fungsi-fungsi pemerintahan yang ideal. Good governance tampil sebagai upaya untuk publik atas kinerja birokrasi yang sesungguhnya. Good governance yang merupakan tata kelola pemerintahan yang baik bertumpu pada Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB). Asas ini merupakan jembatan antara norma hukum dan norma etika yang merupakan norma tidak tertulis, Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) merupakan suatu bagian yang pokok bagi pelaksanaan atau realisasi Hukum Tata Pemerintahan atau Administrasi Negara dan merupakan suatu bagian yang penting sekali bagi perwujudan pemerintahan negara dalam arti luas. Asas ini merupakan jembatan

antara norma hukum dan norma etika yang merupakan norma tidak tertulis, AsasAsas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) merupakan suatu bagian yang pokok bagi pelaksanaan atau realisasi Hukum Tata Pemerintahan atau Administrasi Negara dan merupakan suatu bagian yang penting sekali bagi perwujudan pemerintahan negara dalam arti luas. Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk membahasnya dalam penulisan makalah yang berjudul Peran Pengawasan Inspektorat dalam Good Governance di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri. 1.2 Rumusan Masalah Dilihat dari latar belakang yang ditulis oleh penulis, maka penulis merumuskan masalah yaitu:
A. Bagaimana peran pengawasan inspektorat dalam good governance di

lingkungan Kementerian Dalam Negeri?


B. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pengawasan inspektorat dalam

konsep good governance di lingkungan Kementerian Dalam Negeri? 1.3 Tujuan Penulisan

A. Untuk menganalisis peran pengawasan inspektorat dalam good governance

di lingkungan Kementerian Dalam Negeri?


B. Untuk menganalisis faktor apakah yang mempengaruhi peran pengawasan

inspektorat dalam good governance di lingkungan Kementerian Dalam Negeri?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B.1

Pengawasan dan Good Governance

Pengawasan secara umum diartikan sebagai suatu kegiatan administrasi yang bertujuan mengandalkan evaluasi terhadap pekerjan yang sudah

diselesaikan apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Karena itu bukanlah dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah satu yang benar tetapi lebih diarahkan kepada upaya untuk melakukan koresi terhadap hasil kegiatan. Dengan demikian jika terjadi kesalahan atau penyimpangan-

penyimpagan yang tidak sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, maka segera diambil langkah-langkah yang dapat meluruskan kegiatan berikutnya sehingga terarah pelaksanaanya. Menurut Sule dan Saefullah mendefinisikan bahwa Pengawasan

sebagai proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambialan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut .5 Menurut Fathoni mendefinisikan bahwa Pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan aparat atau unit bertindak atas nama pimpinan organisasi dan bertugas mengumpulkan segala data dan informasi yang diperlukan oleh
5

Sule Erni Trisnawati, dan Kurniawan Saefullah, 2005, Pengantar Manajemen, Prenada Media, Jakarta, Hal.317

pimpinan organisasi untuk menilai kemajuan dan kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan .6 Reksohadiprodjo mengemukakan bahwa Pengawasan merupakan usaha memberikan petunjuk pada para pelaksana agar mereka selalu bertindak sesuai dengan rencana.7 Manullang mengemukakan bahwa Pengawasan adalah dilakukan oleh atasan dari petugas yang bersangkutan. Karena pengawasan semacam ini disebut juga pengawasan vertikal atau formal karena yang melakukan

pengawasan ini adalah orang-orang yang berwenang.8 Pada dasarnya ada beberapa jenis pengawasan yang dapat dilakukan, yaitu: 1. Pengawasan Intern dan Ekstern Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Pengawasan dalam bentuk ini dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control) atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap kementerian dan inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri. Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini di Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun. Dalam menjalankan
6 7

Fathoni Abdurrahmat, 2006, Organisasi an Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta, Hal. 30 Reksohadiprodjo, Sukanto, 2008, Dasar-dasar Manajemen, BPFE, Yogyakarta, Hal. 63 8 Manullang, 2006, Dasar-Dasar Manajemen, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hal. 177

tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah, sehingga sudah sepantasnya di antara keduanya perlu terwujud harmonisasi dalam proses pengawasan keuangan negara. Proses harmonisasi demikian tidak mengurangi independensi BPK untuk tidak memihak dan menilai secara obyektif aktivitas pemerintah. 2. Pengawasan Preventif dan Represif Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai, pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan. Lazimnya, pengawasan ini dilakukan pemerintah dengan maksud untuk menghindari adanya

penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang akan membebankan dan merugikan negara lebih besar. Di sisi lain, pengawasan ini juga dimaksudkan agar sistem pelaksanaan anggaran dapat berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan oleh atasan langsung, sehingga penyimpangan yang kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih awal. Di sisi lain, pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan. Pengawasan model ini lazimnya dilakukan pada akhir tahun anggaran, di mana anggaran yang telah ditentukan kemudian disampaikan laporannya. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan dan pengawasannya untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan. 3. Pengawasan Aktif dan Pasif Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk pengawasan yang dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan. Hal ini berbeda dengan

10

pengawasan jauh (pasif) yang melakukan pengawasan melalui penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggung jawaban yang disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran. Di sisi lain, pengawasan berdasarkan pemeriksaan kebenaran formil menurut hak (rechmatigheid) adalah pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah sesuai dengan peraturan, tidak kadaluarsa, dan hak itu terbukti kebenarannya. Sementara, hak berdasarkan pemeriksaan kebenaran materil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid) adalah pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah memenuhi prinsip ekonomi, yaitu pengeluaran tersebut diperlukan dan beban biaya yang serendah mungkin. 4. Pengawasan kebenaran formil menurut hak (rechtimatigheid) dan pemeriksaan kebenaran materiil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid). Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara, pengawasan ditujukan untuk menghindari terjadinya korupsi, penyelewengan, dan pemborosan anggaran negara yang tertuju pada aparatur atau pegawai negeri. Dengan dijalankannya pengawasan tersebut diharapkan pengelolaan dan pertanggung jawaban anggaran dan kebijakan negara dapat berjalan sebagaimana direncanakan. United Nation Develepment Program mengemukakan bahwa arti good dalam good governance mengandung pengertian nilai yang menjunjung tinggi keinginan rakyat, kemandirian, berdayaguna dan berhasil guna dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai suatu tujuan, serta aspek fungsional dan

pemerintahan yang efektif dan efisien.9 BAB III


9

http://www.scribd.com/doc/4606676/Good-Governance

11

PEMBAHASAN

3.1 Peran pengawasan inspektorat dalam good governance di lingkungan

Kementerian Dalam Negeri. Berdasarkan Pasal 29 Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, mengamanatkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk menyusun Kebijakan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan Pasal 86 (huruf a) Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, Inspektorat Jenderal menyelenggarakan fungsi penyiapan perumusan kebijakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

Provinsi, Kabupaten/Kota. Mandat utama Inspektorat Jenderal sebagai unit kerja dengan fungsi

pengawasan internal, merupakan bagian tak terpisah dari pelaksanaan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja Kementerian Dalam Negeri khususnya untuk membangun kapasitas kelembagaan seluruh entitas unit kerja dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi yang sesuai dengan arahan tata pemerintahan yang baik (good governance). Sasaran pengawasan inspektorat Kemendagri adalah temuan yang menyatakan terjadinya penyimpangan atas rencana atau target. Sementara itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah:

12

a. Mengarahkan atau merekomendasikan perbaikan; b. Menyarankan agar ditekan adanya pemborosan; c. Mengoptimalkan pekerjaan untuk mencapai sasaran rencana.10 Kebijakan pengawasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2012 mempunyai tujuan dan sasaran sebagai berikut:
1. Tujuan :

a. Mendorong ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan; b. Mendorong efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas pokok Kementerian Dalam Negeri dan Penyelenggaraan pemerintahan daerah melalui

evaluasi, koordinasi, debottlenecking dan perbaikan kebijakan (policy recommendation) dengan menggunakan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik / algemene beginselen van behoorlijk bestuur (AAUPB); c. Mendorong terwujudnya akuntabilitas yang tinggi terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi; d. Mengawal reformasi birokrasi; dan
e. Mengawasi disfunctional behavior aparat Kementerian Dalam Negeri

dan penyelenggaraan pemerintahan daerah melalui surveillance dan investigation.


2. Sasaran :

a. Kuantitatif,

yaitu untuk mengetahui

sampai

seberapa

jauh maksud

program atau kegiatan dalam ukuran kuantitatif telah tercapai. b. Kualitatif, yaitu sampai seberapa jauh mutu dan kualitas pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan ukuran dan rencana.
10

http://itjen-depdagri.go.id/article-25-pengertian-pengawasan.html diakses Oktober 2012

13

c. Fungsional, yaitu ukuran untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan tujuan atau fungsi yang telah direncanakan semula.
d. Efisiensi, yaitu seberapa jauh kegiatan pelaksanaan pekerjaan dapat

dikerjakan secara hemat dan cermat.11 Dalam rangka upaya peningkatan kinerja Inspektorat Jenderal yang berorientasi pada hasil (outcome) perlu ditetapkan rumusan Arah Kebijakan Pengawasan tahun 2012, sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program, kegiatan, penyelenggaraan pelayanan masyarakat, serta pengelolaan setiap sumber daya sesuai dengan kebijakan dan rencana yang telah ditetapkan, sekaligus untuk membantu dan mendorong agar tujuan Kementerian Dalam Negeri dapat dicapai secara efektif, efisien, dan ekonomis, maka arah kebijakan pengawasan yang akan dilaksanakan Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri, yaitu: A. Percepatan Reformasi Birokrasi diperlukan beberapa langkah konkrit, berupa : 1. Pembinaan sumber daya manusia, meliputi : a. Inspektorat Jenderal Kemendagri melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis berupa : 1. Sosialisasi jabatan fungsional pengawas penyelenggara urusan pemerintahan di daerah (JFP2UPD); 2. Sosialisasi Penerapan SPIP; 3. Bimbingan teknis bidang pengawasan; dan
4. Sosialisasi quality assurance dan consulting.
11

Lampiran, Peraturan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 2011 tgl 29 September 2011, hal 2.

14

b. Inspektorat Provinsi melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis berupa : 1. Sosialisasi JFP2UPD; 2. Sosialisasi penerapan SPIP; 3. Bimbingan teknis pengawasan;
4. Sosialisasi quality assurance dan Consulting.

c. Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan sossialisasi dan bimbingan teknis, berupa : 1. Sosialisasi JFP2UPD;
2. Sosialisasi penerapan SPIP; dan

3. Bimbingan teknis pengawasan. 2. Pengembangan Produk di lingkungan Inspektorat Jenderal : a. Revisi Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman Penanganan Pengaduan Masyarakat di Lingkungan

Departemen Dalam Negeri Dan Penyelenggaraan Pemerinatahan Daerah; b. Revisi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemeriksaan Reguler di Lingkungan Deprtemen Dalam Negeri; c. Revisi Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 15 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah dan Angka Kreditnya, terkait dengan pembentukan jenjang utama;

15

d. Menyususn Panduan bagi Inspektorat Jenderal dan Inspektorat Provinsi

sebagai quality assurance dan consulting;


e. Menyusun umpan balik untuk perencanaan kinerja Inspektorat Jenderal

dan Inspektorat Provinsi sebagai quality assurance dan consulting; f. Implementasi SPIP; dan g. Pedoman evaluasi RAPBD. B. Penajaman Pengawasan 1. Inspektorat Jenderal kementerian Dalam Negeri. a. Pengawasan Kinerja pada unit kerja di lingkungan Kemendagri, dengan menitikberatkan pada prioritas nasioanal (RPJMN 2010-2014) dan pelaksanan tugas dan fungsi yaitu
1.

Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Program Quick Win elektronik), Harmonisasi dan Sinkronisasi Peraturan

(KTP

Perundang-undangan); 2. 3. 4. Penanggulangan Kemiskinan - PNPM-MP; Insfrastruktur - pembangunan daerah dan tata ruang; Peningkatan Pelayanan Publik - Iklim Investasi dan Iklim

Usaha, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP);

5. 6.

Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Pasca Konflik; Aset dan keuangan dalam rangka mempertahankan Wajar

Tanpa Pengecualian (WTP); 7. Pengelolaan tugas dan fungsi unit kerja dalam

menyelenggarakan perumusan, penetapan dan pelaksanaan kebijakan

16

serta pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah; 8. Pengelolaan SDM meliputi perencanaan kebutuhan pegawai,

pembinaan dan pengembangan karier, mutasi, disiplin, dan kesejahteraan pegawai; 9. Pengelolaan keuangan berdasarkan Sistem Akuntansi

Instansi (SAI) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU); 10. 11. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara (Aset); Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

(LAKIP) untuk mengetahui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP); 12. 13. 14. Evaluasi pelaksanaan tugas JFP2UPD; Monitoring dan evaluasi SPIP; Reviu Laporan Keuangan apakah sudah sesuai dengan

Standar Akuntansi Pemerintah (SAP);


15.

Pengawasan penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas

Pembantuan; 16. Monitoring atas rencana aksi oleh masing-masing

komponen/unit kerja dalam mempertahankan opini WTP; dan


17.

Mengevaluasi pelaksanaan tugas Inspektorat Jenderal dan

Inspektorat Provinsi sebagai quality assurance dan consulting.

b. Pengawasan kinerja pada Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Provinsi dengan ruang lingkup :

17

1.

Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Program Quick Win elektronik), Harmonisasi Pada dan Sinkronisasi Pemeriksaan Peraturan Biro Tata

(KTP

Perundang-undangan)

Obyek

Pemerintahan, Biro Hukum, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dan Sekretariat Dewan atau nomenklatur yang sejenis; 2. Penanggulangan Kemiskinan - PNPM-MP; pemeriksaan pada obyek pemeriksaan Badan Pemberdayaan

dilakukan

Masyarakat Desa atau nomenklatur yang sejenis; 3. Insfrastruktur - pembangunan daerah dan tata ruang; Pada

Obyek Pemeriksaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah atau nomenklatur yang sejenis; 4. Peningkatan Pelayanan Publik - Iklim Investasi dan Iklim

Usaha, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP); Pada Obyek Pemeriksaan SKPD Biro Tata Pemerintahan atau nomenklatur yang sejenis; 5. Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Pasca Konflik;

pada Obyek Pemeriksaan Biro Tata Pemerintahan dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik atau nomenklatur sejenisnya; 6. Aset dan keuangan dalam rangka mempertahankan WTP

Pada Obyek Pemeriksaan Biro Keuangan atau nomenklatur yang sejenis; 7. Pemeriksaan dekonsentrasi, tugas pembantuan dan urusan

bersama dilakukan dengan mekanisme pemeriksaan serentak, terkait

18

waktu akan ditentukan dalam Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT); 8. Inspektorat Jenderal dapat melakukan pemeriksaan Akhir

Masa Jabatan Gubernur; dan 9. c. Pembinaan Pemeriksaan khusus terkait dengan adanya pengaduan. di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan

Penyelenggaraahn Pemerintahan Daerah Provinsi, dengan ruang lingkup : 1.


a.

Pendampingan / asistensi meliputi : Asistensi dalam penyusunan neraca aset pada unit kerja Kementerian Dalam Negeri dan

dilingkungan

Penyelenggaraan pemerintahan daerah; b. Asistensi penerapan SPIP di lingkungan Kementerian Dalam

Negeri;
c.

Asistensi kepada Inspektorat Provinsi sebagai quality

assurance dan consulting; dan d. Asistensi kepada Penyelenggaraan pemerintahan daerah

dalam implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Terhadap Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan;
2.

Sistem deteksi dini (early warning system) melalui

Pemantauan atau fasilitasi implementasi hasil evaluasi RAPBD;

19

3.

Koordinasi dan sinergitas terhadap:

a. Pelaksanaan Rapat Koordinasi Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tingkat Nasional (Rakorwasnas) dan Rapat Koordinasi Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Rakorwasda);
b. Penyusunan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT)

berdasarkan risk based audit plan; dan


c. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan.12

3.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengawasan inspektorat good governance di lingkungan Kementerian Dalam

dalam konsep Negeri.

Salah

satu

faktor

utama

yang

dapat

menunjang

keberhasilan

pelaksanaan pengendalian adalah efektivitas peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Untuk itu, APIP harus terus melakukan perubahan dalam menjalankan proses bisnis guna memberi nilai tambah bagi kementerian

negara/lembaga dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Hal ini sejalan dengan peran pengawasan intern untuk mendorong peningkatan efektivitas manajemen risiko (risk management), pengendalian (control) dan tata kelola (governance) organisasi. APIP juga mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) sebagaimana diamanatkan dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern


12

Lampiran, Peraturan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 2011 tgl 29 September 2011, hal 3,4,5,6.

20

Pemerintah. Terdapat isu aktual dalam pengawasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri :
1. Kurangnya kualitas Sumber Daya Manusia di bidang pengawasan dan luasnya

obyek pengawasan sehingga berpengaruh terhadap lemahnya kualitas pengawasan. 2. Perlunya sinkronisasi peraturan perundang-undangan di bidang pengawasan.
3. Mendorong program nasional mengenai Single Identity Number (SIN)

melalui penerapan KTP elektronik, serta menjaga pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP).
4. Pengawasan yang dilakukan selama ini belum menggunakan rencana audit

berbasis risiko (risk based audit plan).


5. Pengadministrasian

atau

penatausahaan aset

dekonsentrasi

dan

tugas

pembantuan yang berkaitan dengan Laporan Keuangan Kementerian Dalam Negeri diperlukan perhatian khusus dan menjadi fokus dalam pemeriksaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan 6. Pelaksanaan tugas Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat perlu

mendapat dukungan dana dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan pengawasan secara keseluruhan termasuk pengawasan dekonsentrasi/tugas pembantuan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
7. Penguatan

pengawasan

internal

dengan

meningkatkan

anggaran

di

Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota. 8. Sering terjadinya mutasi pejabat pada saat pergantian Kepala Daerah. 9. Perlunya deteksi dini untuk meminimalisir terjadinya penyimpangan melalui

21

evaluasi atau fasilitasi pemantauan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). 10. Diperlukannya cepat tanggap (quick response) dalam penanganan setiap kasus atau isu-isu yang cukup penting dan menyita perhatian terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 11. Perlunya peningkatan anggaran pengawasan di Provinsi dan Kabupaten/Kota. 12. Penyediaan dana untuk pengawasan dekonsentrasi dan tugas pembantuan

22

BAB IV KESIMPULAN

Dalam pengawasan

oleh

Inspektorat Kementerian

Dalam Negeri,

mengunakan konsep good governance dalam melakukan pengawasan di lingkungan kementeriannya.Transparasi pengawasan menjadi hal yang harus di perhatikan dalam pengawasan, dengan melibatkan masyarakat sebagai unsur salah satu dari pengawasan, akan terciptanya pengawasan yang sesuai dengan good governance. Dengan merevisi Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman Penanganan Pengaduan Masyarakat di Lingkungan Departemen Dalam Negeri Dan Penyelenggaraan Pemerinatahan Daerah, maka Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri melibatkan unsur masyarakat dalam melakukan pengawasannya.

23

DAFTAR PUSTAKA

Victor, M. Situmorang, dan Jusuf Juhir, 1994, Aspek Hukum Pengawasan Melekat, Rineka Cipta, Yogyakarta, Sule Erni Trisnawati, dan Kurniawan Saefullah, 2005, Pengantar Manajemen, Prenada Media, Jakarta. Fathoni Abdurrahmat, 2006, Organisasi dan Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta. Reksohadiprodjo, Sukanto, 2008, Dasar-dasar Manajemen, BPFE, Yogyakarta. Manullang, 2006, Dasar-Dasar Manajemen, Ghalia Indonesia, Jakarta. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor.41 Tahun 2010, Pasal 2 dan 3. Lampiran, Peraturan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 2011 tgl 29 September 2011, hal 2. Lampiran, Peraturan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 2011 tgl 29 September 2011, hal 3,4,5,6. http://itjen-depdagri.go.id/article-25-pengertian-pengawasan.html diakses Oktober 2012 http://itjen-depdagri.go.id/index.php?pilih=hal&id=15# diakses Oktober 2012. http://itjen-depdagri.go.id/article-25-pengertian-pengawasan.html, di akses Oktober 2012. http://www.scribd.com/doc/4606676/Good-Governance

24