Anda di halaman 1dari 15

BAB 6 ASET Konsep kesatuan usaha menegaskan bahwa perusahaan merupakan entitas yang berdiri sendiri dan beritndak

atas namanya sendiri dan perusahaan menjadi fokus pelaporan. Ini berarti bahwa fungsi penglolaan dan pemilikan terpisah sehingga hubungan keduanya dipandang sebagai hubungan bisnis. Hubungan bisnis dapat dipertahankan kalau aset yang dikelola manajemen selalu ditunjukkan asal atau sumbernya. Setelah badan usaha berdiri dan pemilik menanamkan dana ke badan usaha, upaya badan usaha dalam mendatangkan pendapatan dilakukan dengan menyediakan barang dan jasa yang melibatkan pemerolahan berbagai aset. Pemerolehan aset pada umumnya dilakukan melalui pertukaran potensi jasa yang telah dimiliki badan usaha atau melalui utang. Aset merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi semantik berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen lain yaitu kewajiban dan ekuitas. PENGERTIAN Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu. APB dan Ijiri mendefinisi aset sebagai sumber ekonomik karena adanya unsur kelangkaan sehingga suatu entitas harus mengendalikannya dari akses pihak lain melalui transaksi ekonomik. APB juga membedakan aset menjadi sumber ekonomik dan non sumber ekonomik. APB No. 4 merinci aset yang digolongkan sebagai sumber ekonomik sebagai berikut : (prg 57): 1. Sumber Produktif a. Sumber produktif kesatuan usaha yang meliputi bahan baku, gedung, pabrik, dll. b. Hak kontraktual atas sumber produktif meliputi semua hak untuk menggunakan sumber ekonomik pihak lain dan hak untuk mendapatkan barang atau jasa dari pihak lain. 2. Produk yang merupakan keluaran kesatuan usaha terdiri atas : a. Barang jadiyang menuggu penjualan b. Barang dalam proses 3. Uang 4. Klaim untuk menerima uang 5. Hak pemilikan atau investasi pada perusahaan lain. APB menggolongkan bentuk atau jenis aset selain yang disebut diatas sebagai non sumber ekonomik meskipun tetap masuk dalam pengertian aset. Non sumber ekonomik

meliputi beban atau pengurang pendapatan tangguhan seperti : goodwill. Rugi selisih kurs, kos organisasi, dan beberapa pos yang timbul akibat penyesuaian. Berbeda dengan FASB, IASC memaknai manfaat ekonomik masa datang bukan sebagai potensi jasa yang sekarang dikuasai badan usaha tetapi sebagi manfaat yang diharapkan mengalir kebadan usaha. Jadi manfaat ekonomik yang dimaksud oleh IASC bukan manfaat yang dikandung oleh sumber ekonomik yang dikuasai tetapi manfaat yang didatangkan atau yang menngalir kebadan usaha. Karena bukan manfaat yang dikandung, pengertian manfaat ekonomi yang dakandung pengertian manfaat ekonomi oleh IASC dapat di interpretasi sebagai aliran masuk manfaat akibat pemerolehan sumber ekonomik baru lantaran pertukaran dengan sumber ekonomik yang sebelumnya dikuasai atau lantaran aliran masuk pendapatan. pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga karakteristik utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat sisebut aset yaitu : (a) manfaat ekonomi masa datang yang cukup pasti (b) dikuasai atau dikendalikan oleh entitas (c) timbul akibat transaksi masa lalu. MANFAAT EKONOMIK Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di masa yang akan datang yang cukup pasti (probable). Ini mengisyaratkan bahwa manfaat tersebut terukur dan dapat dikaitkan dengan kemampuannya untuk mendatangkan pendapatan atau aliran kas masa yang akan datang. FASB mengajukan dua hal yang harus dipertimbangkan dalan menilai apakah pada saat tertentu suatu pos atau objek masih dapat dikatakan aset yaitu : (a) Apakah suatu pos yang dikuasai oleh suatu kesatuan usaha pada mulanya mengandung manfaat ekonomik masa yang akan datang. (b) Apakah semua atau sebagian manfaat ekonomik tersebut masih tetap ada pada saat penilaian. DIKUASAI OLEH ENTITAS Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Oleh karena itu, konsep penguasaan lebih penting daripada konsep pemilikan. Hal ini dilandasi oleh konsep dasar substansi mengungguli bentuk yuridis. Substansi atau tujuan dari pemilikan adalah penguasaan. Dengan demikian, pemilikan dan hak secara hukum hanya merupakan salah satu cara untuk mendapatkan penguasaan atau kendali. Most mengemukakan bahwa penguasaan atau kendali terhadap suatu objek dapat diperoleh dengan cara :

1. Pembelian (by purchase) 2. Pemberian (by gift) 3. Penemuan (by discovery) 4. Perjanjian (by agreement) 5. Produksi/transformasi (by production/by transformation) 6. Penjualan (by sale) 7. Lain-lain seperti pertukaran, peminjaman, penjaminan, pengkonsignaan, dan berbagai transaksi komersial yang diakui hukum atau kebiasaan bisnis.\ AKIBAT TRANSAKSI ATAU KEJADIAN MASA LALU Bahwa aset harus timbul akibat transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi defenisi tetapi bukan kriteria untuk pengakuan. Jadi, manfaat ekonomik dan penguasaan atau hak atas manfaat saja tidak cukup untuk memasukkan suatu objek ke dalam aset kesatuan usaha untuk dilaporkan via statemen keuangan (neraca). Kriteria pengakuan yang lain harus dipenuhi (keterandalan, keberpautan, dan keterukuran). FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria aset karena transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan atau meniadakan aset. Aset atau nilainya dapat dipengaruhi oleh kejadian atau keadaan yang sebagian atau seluruhnya di luar kemampuan kesatuan usaha atau manajemennya untuk mengendalikan misalnya kenaikan harga dan perubahan tingkat bunga. KARAKTERISTIK PENDUKUNG FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung yaitu melibatkan kos, berwujud, tertukarkan, terpisahkan, dan berkekuatan hukum. Milibatkan Kos, pemerolehan aset pada umumnya melibatkan kos (pengeluaran sumber ekonomik misalnya kas) sebagai penghargaan sepakatan. Bila kos terjadi karena pemerolehan suatu objek terjadi akibat pertukaran atau pembelian, objek tersebut lebih kuat untuk masuk sebagai aset. Akan tetapi, tiadanya kos tidak membatalkan suatu objek sebagai asset. Berwujud , bila suatu sumber ekonomik secara fisis dapat diamati, tia memang lebih kuat untuk disebut sebagai aset. Pada umumnya, pos-pos tak berwujud yang masuk dalam kategori aset lancar tidak disebut sebagai aset tak berwujud. Berikut adalah tiga kriteria untuk memasukkan suatu pos ke dalam aseet tak berwujud, yaitu : 1. Apakah pos tersebut diperoleh dari suatu transaksi dengan pihak independen? hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penilaian lebih atas aset tak berwujud. 2. Dapatkan manfaat ekonomik masa datang yang diharapkan diindentifikasi? dapat diidentifikasi artinya dapat dikaitkan dengan kemampuan perusahaan mendatangkan

laba di masa akan datang. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa objek tak berwujud memenuhi kriteria utama aset. 3. Dapatkah kos pos tersebut dipisahkan dengan kos aset lain yang diperoleh? Tertukaran. Beberapa penulis mengajukan gagasan atau argumen bahwa untuk memenuhi syarat sebagai aset, suatu sumber ekonomik harus dapat ditukarkan dengan sumber ekonomik lainnya. Syarat ini diajukan dengan alasan bahwa manfaat ekonomik akan menjadi cukup pasti dan terukur kalau suatu sumber ekonomik mempunyai daya atau nilai tukar. Terpisahkan. Syarat ini diajukan berkaitan dengan ketertukaran. Untuk dapat ditukarkan suatu sumber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik yang lain atau berdiri sendiri. Syarat ini diajukan oleh Chambers dengan alasan bahwa posisi keuangan harus ditentukan dengan pengukuran nilai berbagai aset dan kewajiban secara individual. Berkekuatan hukum. Penguasaan atau hak atas aset tidak harus didukung secara yuridis formal. Pada umumnya, kemampuan suatu entitas untuk menguasai manfaat ekonomik timbul akibat hak-hak hukum. Meskipun demikian, hak paksa yang melekat pada hak-hak hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya aset kalau suatu entitas dapat memperoleh dan menguasai manfaat dengan cara lain sebagaimana dibahas sebelumnya. Pengukuran. Pengukuran bukan merupakan kriteria untuk mendefenisi aset tetapi merupakan kriteria pengakuan aset. Salah satu kriteria pengakuan aset adalah keterukuran manfaat ekonomik masa yang akan datang. Yang dimaksud dengan pengukuran dalam pembahasan di sini adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek aset pada saat terjadinya yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut. Kos merupakan representasi kuantitatif suatu objek. Sebagai aliran informasi kos juga mengalami tiga tahap perlakuan akuntansi mengikuti aliran fisis yaitu : (1) Pengukuran, pengakuan, dan klasifikasi pertama kali pada saat terjadinya. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut pengukuran saja. (2) Pencatatan berikutnya dalam rangka mengikuti aliran fisis aset berupa alokasi, distribusi, dan penggabungan untuk kepentingan internal/manajerial atau untuk kepentingan pengkosan produk. Untuk selanjutnya seluruh kegaiatan dalam tahap ini disebut penelusuran. (3) Pembebanan ke pendapatan periode berjalan atau periode-periode yang akan datang. Kos yang belum menjadi beban pendapatan (biaya) akan tetap melekat pada objek

menjadi aset badan usaha. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut pembebanan ke pendapatan. KOS SEBAGAI PENGUKUR DAN BAHAN OLAHAN AKUNTANSI Konsep dasar penghargaan sepakatan menegaskan bahwa pengukur aset pada saat pemerolehan yang paling objektif adalah jumlah rupiah yang terlibat dalam transaksi pertukaran antara dua pihak independen yang sama-sama berkehendak. Jumlah rupiah tersebut akan menjadi pengukur aset yang diperoleh kesatuan usaha dan akan menjadi bahan olahan akuntansi yang disebut kos. PENGHARGAAN SEPAKATAN SEBAGAI BUKTI Transaksi pertukaran dapat dijadikan landasan untuk menentukan kos yang terandalkan karena penghargaan sepakatannya didasarkan atas mekanisma pasar yang bebas sehingga dia menjadi bukti validitas pengukuran kos lebih-lebih dalam mekanisma pasar sempurna. Telah disinggung di atas bahwa mekanisma pasar bebas menjamin dan menghendaki agar : (a) Pihak bertransaksi sama-sama berkehendak dan bebas tanpa tekanan atau ancaman (b) Pihk bertransaksi sama-sama berkemampuan memperoleh informasi secara bebas (c) Barang yang dipertukarkan cukup standar (umum) dan tersedia cukup banyak di pasar bebas. Jadi, bila kondisi-kondisi di atas tidak dipenuhi, penghargaan sepakatan yang terjadi tidak dapat diterima begitu saja sebagai pengukur kos yang objektif. Walaupun demikian, berdasarkan konsep dasar relativitas bukti dapat dianggap bahwa penghargaan yang akhirnya dicapai merupakan bukti yang terbaik diperoleh sebagai dasar penentun kos. PENGUKURAN KOS Dalam praktiknya, pemerolehan aset merupakan proses yang tidak terjadi begitu saja selesai dalam kegiatan tetapi terdiri atas serangkaian kegiatan. Tiap kegiatan biasanya melibatkan pengorbanan sumber ekonomik. Oleh karena itu, besar kecilnya kos yang harus dicatat pertam kali sebagai pengukur suatu aset pada saat pemerolehan ditentukan oleh dua hal yaitu : pemerolehan dan jenis penghargaan. BATAS KEGIATAN Batas kegiatan berkaitan dengan masalah unsur pengorbanan sumber ekonomik (kegiatan) apa saja yang membentuk kos suatu aset. Secara teoritis dan sebagai ketentuan umum, batas akhir kegiatan untuk memasukkan unsur kos sebagai bagian dari kos aset adalah saat dimulainya penggunaan aset.

JENIS PENGHARGAAN Agar penghargaan yang telah disetujui dapat dicatat dalam sistem akuntansi,

penghargaan tersebut harus dinyatakan dalam satuan uang. Persyaratan ini akan mudah dilakukan kalau penghargaan tersebut berwujud uang tunai. Seluruh jumlah rupiah yang disepakati sebagai penghargaan pada saat transaksi akan membentuk kos yang paling objektif karena tidak lagi melibatkan interpretasi atau pertimbangan penilaian. Kalau sumber ekonomik nonkas merupakan penghargaan yang digunakan dalam transaksi, pengukur yang ideal untuk menentukan kos aset yang diperoleh adalah jumlah rupiah uang tunai yang akan diperoleh seandainya sumber ekonomik tersebut dijual dulu secara tunai kepada umum. Kos barang atau jasa yang diperoleh secara tunai adalah jelas merupakan jumlah rupiah uang yang dibayarkan sedangkan kos barang atau jasa yang diperoleh melalui pertukaran dengan barang atau jasa lain adalah jumlah rupiah tunai yang secara implisit melekat pada nilai jual barang atau jasa yang diserahkan dalam pertukaran tersebut. Kos dalam barter. Barter atau pertukaran aset adalah pemerolehan aset dengan penghargaan berupa aset berwujud atau nonmoneter lainnya. Bila hal ini terjadi, pengukuran aset yang dipertukarkan sejenis atau tak sejenis. Berikut ini disarikan prinsip-prinsip penentuan kos asset yang diterima dalam barter atau pertukaran: 1. Pertukaran tak sejenis, tanpa pembayaran tombok : Aset yang diterima dicatat sebagai nilai wajar atau pasar aset yang diserhakan atau nilai wajar aset yang diterima, mana yang lebih mudah atau jelas ditentukan. Untung atau rugi yang timbul diakui pada saat pertukaran. 2. Pertukaran tak sejenis, dengan pembayaran tombok : Aset yang diterima dicatat sebesar nilai pasar aset yang diserahkan ditambah tombok atau nilai wajar atau pasar aset yang diterima. Untung atau rugi yang timbul diakui pada saat pertukaran. 3. Pertukaran sejenis, tanpa pembayaran tombok : Aset yang diterima dicatat sebesar nilai buku atau nilai pasar aset yang diserahkan, mana yang lebih rendah ini berarti bahwa kalau terjadi untung maka untung tidak diakui dan sebaliknya. 4. Pertukaran sejenis, dengan pembayaran tombok : Aset yang diterima dicatat sebesar nilai buku aset yang diserahkan ditambah tombok atau nilai pasar aset yang diserahkan. Mana yang lebih rendah, ini juga berarti bahwa kalau terjadi untung maka tidak diakui dan sebaliknya. 5. Pertukaran sejenis, dengan penerimaan tombok : Bila terjadi rugi, aset yang diterima dicatat sebesar harga pasar aset yang diserhakan dikurangi kas yang diterima.

SAHAM SEBAGAI PENGHARGAAN Saham sebagai penghargaan merupakan salah satu bentuk perolehan asset dengan

barter. Dalam beberapa kasus transaksi yang menggunakan saham perusahaan sebagai penghargaan untuk barang dan jasa yang diperoleh , nilai nominal maupun nilai nyataan untuk setiap saham tidak dapat merepresentasikan kos yang sebenarnya (true value) pada saat transaksi. Pengukur yang tepat untuk menentukan kos dalam situasi semacam itu adalah jumlah rupiah uang tunai yang akan diterima oleh perusahaan seandainya perusahaan menerbitkan saham-saham yang digunakan untuk penghargaan diatas. Perbedaan antara nilai nominal saham yang diserahkan dengan nilai setara tunai asset tersebut diperlakukan sebagai premium (agio) atau diskun (disagio) saham. KOS DALAM REORGANISASI Bila suatu perusahaan sudah berjalan atau beroperasi cukup lama kemudian mengalami reorganisasi, perusahaan tersebut biasanya tidak mempunyai data kos yang memadai untuk menentukan kos asset yang dikuasainya. Karena tujuan reorganisasi biasanya adalah menentukan nilai perusahaan pada saat tersebut HADIAH ATAU HIBAH Masalah khusus timbul bilamana barang atau jasa yang jelas-jelas mempunyai manfaat ekonomk yang besar diperoleh perusahaan tanpa kos yang berarti atau dengan kos yang tidak sebanding dengan nilai ekonomik barang yang diperoleh. Gedung dan tanahnya yang diperoleh perusahaan melalui sumbangan atau hibah adalah contoh memperoleh asset tanpa kos. Walaupun demikian , ada alasan yang kuat untuk tetap mencatat kekayaan tersebut atas dasar kos tunai implisitnya. Alasanya adalah bahwa setiap fasilitas atau factor ekonomik yang digunkan dalam operasi perusahaan, tanpa memandang asalnya, harus diperlakukan dengan seksama sebagai petensi jasa. TEMUAN Kadangkala terjadi bahwa suatu sumber alam atau sarana ditemukan atau dikembangkan dan mempunyai nilai elektronik yang jauh melebihi pengeluaran yang sebenarnya untuk memperolehnya. Demikian juga,suatu peralatan atau teknik pemerosesan yang mempunyai harga pasar cukup tinggi mungkin dikembangkan dan didaftarkan hak patennya tanpa suatu pengeluaran yang sebanding dengan nilai pasar temuan tersebut. POTONGAN TUNAI DAN KERINGANAN Kos akan tercatat terlalu tinggi kalau potongan tunai (cash discount) dan keringanan keringanan lain tidak dikurangkan terhadap harga kesepakatan. Secara teknis

pembukuan,memang dimungkinkan untuk sementara mendebitkan harga faktur bruto kedalam akun asset yang bersangkutan dan nantinya harus dilakukan penyesuaian untuk mengurangi jumlah yang tercatat tersebut menjadi jumlah setara tunainya. Potongan dan keringanan lainya sudah menghasilkan pendapatan (laba). Dalam setiap kegiatan usaha dan pada umumnya akan selalu menjadi kebiasaan yang umumnya akan selalu dimanfaatkan oleh perusahaan yang dikelola dengan baik. Dalam perusahaan yang dikelola dengan baik ,melewatkan potongan merupakan suatu kesalahan yang mengakibatkan rugi . PENILAIAN Penilaian adalah proses penentuan jumlah rupiah suatu objek untuk menentukan makna ekonomiknya dimasa lalu, sekarang, atau mendatang. Di akuntansi, istilah pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan karena adanya asumsi bahwa akuntansi menggunakan unit moneter untuk mengukur makna ekonomik suatu objek, pos, atau elemen. TUJUAN PENILAIAN ASSET Karena asset merupakan elemen pembentuk posisi keuangan sebagai informasi semantic bagi investor dan kreditor, tujuan penilaian asset harus berpaut dengan tujuan laporan keuangan. Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang dapat membantu investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat, ketidakpastian aliran kas bersih kebadan usaha. Jadi tujuan penilain asset adalah merepresentasikan atribut pos-pos asset yang terpaut dengan tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai KONSEP DAN BASIS PENILAIAN Hendriksen dan van breda (1992) membahas konsep dan dasar penilaian asset untuk tujaun pelaporan keuangan dari dua dimensi yaitu arah aliran asset dan waktu, karena asset merupakan komponen penentu posisi keuangan pada saat tertentu, basis pengukuran untuk menilai asset pada saat tersebut yang valid adalah harga atau nilai pertukaran (exchange price atau values). Hal ini sejalan dengan konsep dasar penghargaan sepakatan yagn sebenarnya sama dengan harga /nilai pertukaran. Nilai pertukaran dijadikan basis karena diangap objektif sehingga memenuhi kualitas keterandalan informasi. NILAI MASUKAN Nilai masukan didasarkan atas jumlah rupiah yang dikeluarkan atau dikorbankan untuk memperoleh asset atau objek jasa tertentu yang masuk dalam unit usaha. Kalau tujuan menyajikan makna asset ini adalah untuk menunjukan aliran kas yang akan keluar dari unit usaha maka nilai masukan merupakan alternative nilai keluaran untuk objek jasa bila

memang tiada pasar objek tersebut sehingga nilai keluaran tidak dapat diukur dengan cukup pasti dan andal. KOS HISTORIS Kos historis sebagai nilai masukan merupakan pengukur potensi jasa yang paling objektif untuk pos asset yang baru diperoleh. Salah satu keunggulan kos historis dari sudut konsep penilaian adalah dapat diuji hasil penilaian tersebut karena kos historis terjadi dari hasil kesepakatan kedua pihak yang independent. Kos bijaksana adalah kos selayaknya yang manajemen bijaksana,atau hati-hati bersedia membayar untuk suatu objek. Kos ini tidak termasuk kos yang merepresentsikan ketidaknormalan atau ketidakbijaksanaan seperti pemborosan dan manipulasi, Kos standar adalah kos yang seharusnya terjadi dalam kondisi proses produksi tertentu yang diasumsi. Seperti kos bijkasana. Kos alsi adalah merupakan asset bagi perusahaan yang pertama kali menempatkannya untuk digunakan dalam layanan public. KOS PENGGANTI Kos pengganti atau kos masukan sekarang (current input cost) atau kos sekarang (current cost) menunjukan jumlah rupiah harga pertukaran atau kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh asset yang sama jenis dan kondisinya atau pengganti yang setara. Nilai penaksiran adalah taksiran kos sekarang atau nilai sekarang yang ditentukan dengan prosedur dan analisis sistematik oleh pihak independen yang kompenten. Nilai wajar secara umum berarti jumlah rupiah yang dpat diterima untuk suatu objek dalam suatu transaksi antara pihak-pihak yang berkehendak bebas tanpa tekanan atau keterpaksaan. Nilai terrealisasi bersih dikurangi laba normal adalah nilai yang diharapkan merepresentasi kos pengganti bila data untuk menentukan kos pengganti tidak tersedia. KOS HARAPAN Secara semantic, kos harapan suatu aset adalah nilai pengorbanan ekonomik dimasa datang seandainya potensi jasa aset tersebut diperoleh secara bagian demi bagian dan bukan sekaligus (lumsum). Untuk penilaian sekarang kos harapan harus didiskun menjadi kos harapan sekarang atau kos masukan masa datang diskunan ( discounted future input cost) NILAI KELIRUAN

Nilai keluaran didasarkan atas jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya (nonkas) yang diterima suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar dari kesatuan usaha melalui pertukaran atau konversi. HARGA JUAL MASA LALU Harga jual masa lalu sebenarnya menunjukan kas yang cukup pasti akan diterima dari konversi suatu pos aset yang timbul karena transaksi masa lalu. Pos yang mempunyai atribut semacam ini adalah piutang usaha karean jumlah rupiah piutang merupakan harga jual masa lalu. HARGA JUAL SEKARANG Penentuan kos berkaitan dengan kegiatan tambahan untk menuntaskan transaksi konversi atau penjualan dalam hal tertentu sulit ditentukan atau ditaksir. Sebagai alternatif penilaian dapat didasarkan atas harga jual sekarang. Untuk piutang,harga jual sekarang dapat ditentukan atas dasr harga yang disepakati oleh perusahaan anjak piutang( factoring company). NILAI TERREALISASI HARAPAN Secara semantik,nilai terrealisasi harapan suatu aset adalah penerimaan kas atau potensi jas mas datang yang jumlah dan waktunya cukup pasti. Untuk penilaian sekarang suatu aset, nilai terrealisasi harapan harus didiskun menjadi nilai terrealisasi harapan sekarang atau penerimaan kas/ potensi jasa masa datang diskunan. KOS ATAU PASAR YANG LEBIH RENDAH Penilaian atas dasar kos atau pasar yang lebih rendah (KAPYLR) atau lower of cost or market (LOCOM) ini merupakan kombinasi nilai masukan dan keluaran karena pengertian pasar dalam hal ini dapat berarti pasar barang masukan atau keluaran. Pengguanan konsep ini didasari oleh konsep dasar konservatisme. Secara teoritis, penilaian atas dasar kos atau pasar yang lebih rendah mempunyai banyak kelemahan sehingga mengundang banyak kritik. Penilaian ini dianggap lemah secara teoritis karena alasan berikut: 1. Konservatisme cenderung merendahkan aset total. 2. Lebih rendahnya sediaan akhir pada suatu perioda akan berakibat lebih rendahnya biaya pada periode berikutnya sehingga laba menjadi kebih tinggi 3. Terjadi inkonsistensi penilaian baik dalam suatu tahun atau antarperioda 4. Salah argument digunakan metode KAPYLR adalah bila terjadi penurunan manfaat akibat kerusakan,keusangan,perubahan harga atau kemampuan mendatangkan labamaka selayaknya bahwa kos juga harus diturunkan.

PENILAIAN MENURUT FASB Bila dikaitkan dengan aset dasar penilaian menurut FASB (SFAC No.5,pgr.67) dapat

disarikan sebagai berikut ini; 1. Historical cost. Tanah, gedung, perlengkapan pabrik, dan kebanyakan sediaan dilaporkan atas dasar kos historisnya yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yagn dikorbankan untuk memperolehnya 2. Current cost beberapa sediaan disajikan sebesar nilai sekarang atau penggantinya yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang harus dikorbankan kalau aset tertentu yang sejenis diperoleh sekarang 3. Current market value. Beberapa jenis investasi dalam surat berharga disajikan atas dasar nilai pasar sekarang yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang dapat diperoleh kesatuan usaha dengan menjual aset dalam kondisi perusahaan yang normal. Nilai pasar sekarang biasanya juga digunakan untuk aset yang kemungkinan akan laku dijual dibawah nilai bukunya 4. Net realizable value. Beberapa jenis piutang jangka pendek dan sediaan barang disajikan sebesar nilai terrealisasi bersih yaitu jumlah rupoah kas atau setaranya yang akan diterima (tanpa didiskunan) dari aset tersebut dikurangi dengan pengorbanan(kos) yang diperlukan untuk mengkonversi aset menjadi kas atau setaranya. 5. Present (or discounted) value of future cash flows. Piutang dan investasi jangka panjang disajiakn sebesar nilai sekarang penerimaan kas dimasa yang akan datang sampai piutang terlunasi (dengan tarif didiskun implisit) dikurangi dengan tambahan kos yang mungkin diperlukan untuk mendapatkan penerimaan tersebut PENGAKUAN Dengan mengutip sterling, belkoui menunjukan kondisi perlu (necessary) dan kondisi cukup (sufficient) yang merupakan penguji (test) yang cukup rinci untuk mengakui aset yaitu: Deteksi adanya aset (detection of existensi test). Untuk mengakui aset, harus ada transaksi yang memadai timbulnya aset. Suber ekonomik dan kewajiban (economic resource and obligation test) untuk mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang langka, dibutuhkan,dan berharga Berkaitan dengan entitas (entity association test). Untuk mengakui aset, kesatuan usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset

Mengandung nilai (non-zero magnitude test). Untuk mengakui aset,suatu objek harus mempunyai manfaat yang terukur secara moneter. Berkaitan dengan waktu pelaporan ( temporal association test). Untuk mengakui aset, semua penguji diatas harus dipenuhi pada tanggal pelaporan (tanggal neraca) Verifikasi (verification test). Untuk mengakui aset,harus ada bukti pendukung menyakinkan bahwa kelima penguji diatas dipenuhi BEBAN TANGGUHAN Kaidah untuk menetapkan apakah suatu kos memenuhi syarat untuk ditangguhkan

pembebanannya ke pendapatan. Kos yang mempunyai karekteristik unik sehingga menimbulkan masalah penangguhan pembebanan misalnya adalah kos yang terlibat dalam transaksi kejadian, atau keadaan berikut: Sewa guna Bunga selama masa konstruksi aset tetap Riset dan pengembangan Eksplorasi minyak dan gas bumi Rugi selisih kurs valuta asing atau penjabaran valuta asing Sumber daya manusia Kos organisasi SEWAGUNA sewaguna diperlakukan sebagai sewa-menyewa biasa sehingga jumlah rupiah sewa yang dibayarkan diperlakukan sebagai biaya sewa. FASB mewajibkan untuk mengakui dan melaporkan kewajiban yang itmbul dari sewaguna dan mengakui fasilitas yang disewaguna sebagai asset perusahaan kalau secara substantive perjanjian sewaguna tersebut sebenarnya merupakan pembelian angsuran. FASB mengajukan empat kriteria berikut ini: 1. Kontrak sewaguna menyebutkan adanya transfer hak milik barang atau properitas kepada tersewaguna pada akhir jangka sewaguna. 2. Kontrak sewaguna memuat pasal bahwa tersewaguna boleh pilih untuk membeli pada tanggal yang ditetapkan dalam jangka sewaguna dengan harga yang ditetapkan dan harga tersebut cukup murah sehingga dapat dipastikan di muka bahwa tersewaguna akan memilih membeli properitas bersangkutan. 3. Jangka sewaguna adalah 75% atau lebih dari sisa umur ekonomik taksiran properitas sewagunaan sejak penandatanganan kontrak. Bila sisa umur ekonomik mulai dari

penandatanganan kontrak kurang dari 25% umur ekonomik total, kriteria ini tidak berlaku. 4. Pada saat penandatanganan kontrak sewaguna, nilai sekarang semua pembayaran sewaguna minimum selama jangka sewaguna adalah sama atau lebih besar dari 90% nilai wajar bersih bagi pesewaguna. Nilai wajar bersih bagi pesewaguna adalah nilai wajar dipandang dari sudut pesewaguna setelah dikurangi dengan kredit pajak investasi, kalau ada, yang menjadi hak pesewaguna. IAI juga mengeluarkan standar untuk mengkapitalisasi sewaguna. Kriteria yang diajukan adalah (PSAK No 30, Bab II, prg. 3) 1. Penyewa guna usaha memiliki hak opsi untuk membeli asset yang

disewagunausahakan pada akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha. 2. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewa guna usaha ditambah dengan nilai sisa mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang disewagunausahakan serta bunganya, sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha. 3. Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) bulan. BUNGA SELAMA MASA KONSTRUKSI ASET TETAP FASB menyebutkan bahwa tujuan mengkapitalisasi kos bunga adalah untuk mendapatkan kos bunga adalah untuk mendapatkan angka kos pemerolehan yagn paling merefleksi investasi total kesatuan usaha dalam aset dan untuk membebankan suatu kos yang berkaitan dengan pemerolehan suatu sumber ekonomik yang akan member manfaat dimasa datang untuk ditandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh manfaat tersebut. tujuan terakhir dimaksudkan agatr terjadia penandingan yang tepat terutama bila waktu pembangunan atau periode pemerolehan cukup lama. Akan tetapi,kapitalisasi kos bungan hanya dilakukan apabila manfaat inforamsi melebihi kos persediaan informasi (kos admistrasi dalam mengkapitalisasi bunga). o ARGUMENT PENDUKUNG Beberapa argument diajukan untuk menjdukung kapitalisasi kos bunga. Argumen argumen tersebut adalah : Dengan kesiapan pemakaian atau pengguanaan sebagai batas kegiatan pengukuran kos aset,bunga jelas merupakan unsure kos aset.

Pembebanan kos bunga langsung pendapatan selama masa konstruksi (periode pemerolehan) akan mendistorsi laba terutama kalau konstruksi didanai dari pinjaman khusus untuk keperluan tersebut. dengan kata lain,pembebanan langsunga menyimpang dari konsep penandingan yang tepat.

Kos bunga selama masa pembangunan bukan merupakan kos pendanaan karena kalau pembanguna didanai dari penerbitan ekuitas baru,kos pendanaan secara konseptual tetap terjadi dan digeser kepemegang saham dalam bentuk dividen yang pembayarannya mugkin ditunda sampai pembangunan selesai

o ARGUMENT PENOLAK Beberapa argument penolak dikapitalisasi bunga.penolakan tersebut didasarkan atas argumen-argumen berikut: Bunga lebih merupakan kos pendanaan daripada unsur kos aset karena perusahaan sebenarnya dapat menghindari bunga tersebut dengan memilih alternatif pendanaan dengan ekuitas Dengan konsep nilai setara tuani (cash equivalen) atau nilai sekarang aliran kas didiskunan dalam mengukur kos suatu aset, kos perolehan suatu fasilitas fisis seharusnya tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemilihan cara pendanaan

pembangunannya. Dengan konsep kesatuan usaha, bunga lebih bermakna sebagai pembagian laba dari pada sebagi upaya untuk memperoleh pendapatan. Mengakui bunga sebagai kos fasilitas fisis sama saja dengan penyangkalan konsep kesatuan itu sama saja dengan pengakuan kos hipotesis karena mengkapitalisasi deviden yang telah dibayarkan aset Karena merupakan kos pendanaan yang terpisah dengan kos pemerolehan aset,alokasi bunga kesemua aset nonmoneter hanya akan kecil pengaruhnya terhadap laba periodic karena jumlah yang dikapitalisasi bunga (setara deviden) seperti itu sama saja dengan mengkapitalisasi deviden yang telah dibayarkan sebagai aset. Karena merupakan kos pendanaan yang terpisah dengan kos pemerolehan aset, alokasi kos bunga kesemua aset nonmoneter hanya akan kecil pengaruhnya terhadap laba periodic karena jumlah yang dikapitalisasi dalam suatu periode akan dikompensasi dengan amortasi bunga yang adikapitalisai pada periode-periode sebelumnya. o ALTERNATIF PERLAKUAN

Berbagai argumen yang mendukung dan menolak diatas akhirnya menghasilkan berbagai kemungkinan perlakuan kos bunga selama masa pembangunan. Beberapa alternatif perlakuan adalah: 1) Bunga tidak dikapitalisasi dan diperlakukan sebagai biaya perioda 2) Bunga dikapitalisasi dan dimasukan sebagai bagain dari kos fasilitas fisis yang membangun sendiri. Jumlah yang dikapitalisasi dapat sebesar: a. Jumlah rupiah seluruh bunga yang seungguhnya dibayar atau terjadi untuk dana yang khusus dipinjam untuk pembangunan b. Jumlah rupiah semua bunga yagn sesungguhnya dibayar atau tejadi untuk semua dana pinjaman yang ada. Ini dilakukan apabila tidak ada dana khusus yang disediakan untuk pembangunan aset bersangkutan c. Bunga dikapitalisasi sebesar jumlah rupiah bunga implisit dana yang tertanam dalam perusahaan tanpa memperhatikan sumbernya 3) Bunga dikapitalisai tetapi tidak dimasukan sebagai elemen kos fasilitas fisis yang dibangun sendiri. STANDAR YANG MENGATUR Adanya berbagai alternatif perlakuan adanya standar akuntansi yang menjadi acuan praktik agar penandingan statemen keuangan menjadi mudah dilakukan dan bermakna.

secara konseptual memang layaklah kalau kos bunga selama konstruksi dikapitalisasi tetapi perlu adanya syarat-syarat yag harus dipenuhi yang berkaitan dengan aset yang dapat dilekati kos bunga, besarnya kos bunga yang dikapitalisasi, dan perioda kapitalisasi. ASET MEMENUHI SYARAT . Dalam keadaan tertentu kapitalisasi bunga tidak perlu dilakukan. Standar akuntansi menentukan aset yang memenuhi syarat untuk dilekati kos bunga yang dlam PSAK no.26 menetapkan bahwa kapitalisasi bunga hendaknya dilakukan hanya untuk aset yang memenuhi syarat: 1. Aset yang dibangun atau diproduksi untuk digunakan sendiri oleh perusahaan 2. Aset dibangun atau diproduksi dengan tujuan untuk dijual sebagai suatu unit atau proyek yang berdiri sendiri terpisah dari orijek atau kegiatan operasi lainnya 3. Investasi jangka panjang ekuitas panjang,sedang pembangunan melaksanakan kegiatan

fasilitas kegiatan tersebut menggunakan dana investasi itu

memperoleh fasilitas fisis