Anda di halaman 1dari 146

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaa n Pembangunan Nasional, maka sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan, Ke menterian Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Keseh atan Tahun 2010-2014. Renstra Kementerian Kesehatan merupakan dokumen perencanaa n yang bersifat indikatif dan memuat berbagai program pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan langsung oleh Kementerian Kesehatan untuk kurun waktu tahun 2 010-2014, dengan penekanan pada pencapaian sasaran Prioritas Nasional, Standar P elayanan Minimal (SPM), dan Millenium Development Goals (MDGs). Tantangan pembang unan kesehatan dan permasalahan pembangunan kesehatan makin bertambah berat, kom pleks, dan bahkan terkadang tidak terduga. Oleh sebab itu pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan memperhatikan dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemitraan, kerja sama lintas sekt oral serta mendorong peran serta aktif masyarakat. Melalui kesempatan ini saya m engajak kepada semua unsur Kementerian Kesehatan untuk saling bahu-membahu dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan guna mewujudkan Visi Kementerian Kesehat an MASYARAKAT SEHAT YANG MANDIRI DAN BERKEADILAN. i

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI III.1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional. ..................... 29 III.2. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Kesehata n................................................................ 32 A. Program Generik: A.1. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya .. ............. 44 A.1.1. Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan........... ................... 45 A.1.2. Penanggulangan Krisis Kesehatan..... 45 A.1.3. Pem binaan, Pengembangan, Pembiayaan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan............. ........ 46 A.1.4. Perumusan Peraturan Perundangundangan dan Pembinaan Organisas i Tatalaksana.......................47 A.1.5. Pengelolaan Data dan Informasi Kes ehatan............................................ 47 A.1.6. Peningkatan Kerjasa ma Luar Negeri... 48 A.1.7. Pengelolaan Komunikasi Publik.......... 48 A.1.8. Pe rencanaan dan Penganggaran Program Pembangunan Kesehatan..... 49 A.1.9. Pembinaa n Administrasi Kepegawaian........................................50 iv

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.1.10. Pembinaan Pengelolaan Administrasi Keuangan dan Perlengkapan............ . 50 A.1.11. Pengelolaan Urusan Tata Usaha, Keprotokolan, Rumah Tangga, Keuangan , dan Gaji............................. 51 A.1.12. Peningkatan Penyelenggaraan K esehatan Jemaah Haji....................... 51 A.1.13. Peningkatan Manajemen Kon sil Kedokteran Indonesia ......................... 51 A.1.14. Kajian Desentralis asi dan Daerah Bermasalah Kesehatan....................... 52 A.1.15. Pembinaan, Pengawasan dan Penyidikan Kesehatan......................... 53 A.1.16. Pertimb angan Kesehatan Nasional...... 53 A.1.17. Peningkatan dan Pengawasan Rumah Sakit Indonesia........................ 53 A.2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian Kesehatan.... ............ A.2.1 Pengelolaan Sarana Prasarana dan Peralatan Kesehatan ........ ..................... 54 54 v

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.3. Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Keseh atan.......................................................... 55 A.3.1. Pengawa san dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan Setjen.. .............. 55 A.3.2. Pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen B ina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dan Itjen................................... ............... 56 A.3.3. Pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen PP dan PL dan Balitbangkes.............................. 57 A.3.4. Pengawasan da n pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes dan Badan PPSDMK.......................................... ....... 57 A.3.5. Investigasi Hasil Pengawasan............... 58 A.3.6. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Peningkatan Pengawa san dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kesehatan.......... 58 vi

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

A.4. Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan...... 59 A.4.1. Riset Operasi onal Kesehatan dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran (IPTEKDOK)......... .............................................. 59 A.4.2. Penelitian dan Pengemba ngan Humaniora Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat....... 60 A.4.3. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Intervensif........... 60 A.4.4. Penelitian da engembangan Klinik Terapan dan Epidemiologi Klinik.............................. ....... 61 A.4.5. Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Keseh atan..... 61 A.4.6. Dukungan Manajemen dan Dukungan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya p da Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan................................ ......................... 62 B. Program Teknis B.1. Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak............. .......................................................... 63 B.1.1. Pembinaan P elayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi ........................................ 6 3 B.1.2. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Anak........................................ 6 4 vii

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.1.3. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Komunitas dan Gender....................... ...... 65 B.1.4. Pembinaan Gizi Masyarakat..................... 66 B.1.5. Pembin aan Keperawatan dan Kebidanan.................................................. 67 B.1.6. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program B ina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.... 69 B.2. Program Pembinaan Upaya Kesehata n.............. 69 B.2.1. Pembinaan Upaya Kesehatan Dasar......... 70 B.2.2. Pem binaan Upaya Kesehatan Rujukan..... 70 B.2.3. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kes ehatan Tradisional, Komplementer, dan Alternatif................................ .............. 73 B.2.4. Pembinaan Upaya Kesehatan Kerja, Olahraga, dan Matra... ............................... 74 B.2.5. Pembinaan Standarisasi, Akreditasi, da n Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan.......................................... ........ 75 B.2.6. Pelayanan Kesehatan Rujukan bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas )...............76 B.2.7. Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Masyarakat Miskin (Jamk esmas).............. 76 viii

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.2.8. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)...................................... ................... 77 B.2.9. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis La innya pada Program Pembinaan Upaya Kesehatan .................. 77 B.3. Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan................................. ....... 78 B.3.1. Pembinaan Imunisasi dan Karantina Kesehatan................... ............................... 79 B.3.2. Pengendalian Penyakit Menular Langsung ................................................... 80 B.3.3. Pengendalian Penya kit Bersumber Binatang..................................................... 81 B .3.4. Penyehatan Lingkungan.......................... ..82 B.3.5. Pengendalian P enyakit Tidak Menular...................................................... 83 B .3.6. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Penge ndalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan...................................... ......... 84 B.4. Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan............85 B.4.1. Pe ningkatan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan .................... . 85 ix

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.4.2. Peningkatan Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan dan PKRT (Peralatan Ke sehatan Rumah Tangga)...................... 86 B.4.3. Peningkatan Pelayanan Kefa rmasian........ 86 B.4.4. Peningkatan Produksi dan Distribusi Kefarmasian....... ........................................ 87 B.4.5. Dukungan Manajemen dan Pelaks anaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan.......... ........................................ 87 B.5. Program Pengembangan dan Pember dayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan....................... 88 B.5.1. Perencanaa n dan Pendayagunaan SDM Kesehatan........................................ 88 B.5 .2. Pendidikan dan Pelatihan Aparatur........... 89 B.5.3. Pelaksanaan Pendidika n dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.................... 89 B.5.4. Sertifikasi, Stan darisasi dan Peningkatan Mutu SDM Kesehatan........... 90 B.5.5. Dukungan Manaje men dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pengembangan dan Pemberday aan Sumber Daya Manusia Kesehatan............................................... ....90 x

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB IV PENUTUP........................................................... 93 LAMPIRAN : I. Matrik Kinerja Kementerian Kesehatan II. Matrik Pendanaan Kementeriaan Kesehatan III. Daftar Singkatan IV. Kontributo r xi

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.01/160/I/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2010-2014 MENTERI KESEHATAN REPUB LIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan Nas ional dibidang kesehatan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentan g Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perlu disusun Rencana Strategis Kemen terian Kesehatan; b. bahwa perkembangan kebijakan dalam upaya Kementerian Keseha tan untuk lebih mendekatkan pelayanannya kepada masyarakat, maka diperlukan peny esuaian visi, misi dan nilai-nilai yang perlu diakomodir dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014; c. bahwa rencana strategis sebagaimana dimaksu dkan pada huruf a dan b telah disusun sebagai satu dokumen perencanaan indikatif yang memuat program-program pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan oleh K ementerian Kesehatan. xii

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasi onal (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421) ; 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negar a Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437); 3. Undang-Undang N omor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daer ah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438); 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025; 5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063); 6. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Tahun 20 09 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5072); 7. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Ker ja Kementerian Negara Republik Indonesia; xiii

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 8. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Mene ngah Nasional Tahun 2010-2014; 9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/ Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana t elah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/MENKES/ PER/XI /2009; 10. Keputusan Menteri Kesehatan 374/Menkes/SK/V/2009 tentang Kesehatan Na sional. Nomor Sistem MEMUTUSKAN: Menetapkan Kesatu : : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Rencana St rategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Rencana Strategis Kementerian Kes ehatan Tahun 2010-2014 sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. Kedua : Ketiga : Rencana Strategis sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai ac uan bagi Kementerian Kesehatan dalam penyelenggaraan program pembangunan kesehat an. xiv

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 Januari 2010 Menteri Kesehatan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH xv

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : HK.03.01/160/I/2010 Tanggal : 28 Ja nuari 2010 Tanggal Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemam puan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan d engan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan m erata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk renta n, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia), dan keluarga miskin. Pemba ngunan kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan: 1) Upaya kesehatan, 2) Pembia yaan kesehatan, 3) Sumber daya manusia kesehatan, 4) Sediaan farmasi, alat keseh atan, dan makanan, 5) Manajemen dan informasi kesehatan, dan 6) Pemberdayaan mas yarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan dinamika kependudukan, ep idemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemi traan dan kerjasama lintas sektoral. Penekanan diberikan pada peningkatan perila ku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. Pembangunan Na sional harus berwawasan kesehatan, yaitu setiap kebijakan publik selalu memperha tikan dampaknya terhadap kesehatan. Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, telah ditetapkan arah RPJMN Tahap II ialah perlunya memantapkan penataan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesi a (NKRI), meningkatkan kualitas Sumber 1 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Daya Manusia (SDM), membangun memperkuat daya saing perekonomian. kemampuan IPTEK serta Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) 2005-2 025 dalam tahapan ke2 (20102014), kondisi pembangunan kesehatan diharapkan telah m ampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan membaiknya berb agai indikator pembangunan Sumber Daya Manusia, seperti meningkatnya derajat kes ehatan dan status gizi masyarakat, meningkatnya kesetaraan gender, meningkatnya tumbuh kembang optimal, kesejahteraan dan perlindungan anak, terkendalinya jumla h dan laju pertumbuhan penduduk, serta menurunnya kesenjangan antar individu, an tar kelompok masyarakat, dan antar daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah N asional (RPJMN) Tahun 20102014, telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010. Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari Pembangunan Nas ional tercantum dalam Bab II RPJMN, dalam Bidang Pembangunan Sosial Budaya dan K ehidupan Beragama. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentan g Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, maka sebagai salah satu pelaku pemban gunan kesehatan, Kementerian Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis (Renstra ) Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Renstra Kementerian Kesehatan merupakan dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembang unan kesehatan yang akan dilaksanakan langsung oleh Kementerian Kesehatan maupun dengan mendorong peran aktif masyarakat untuk kurun waktu tahun 2010-2014. Lima pendekatan perencanaan yang dipergunakan dalam penyusunan Renstra Kementerian K esehatan 2 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Untuk penyakit tidak menular, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas ) 2007 menunjukkan peningkatan kasus dan penyebab kematian, terutama pada kasus kardiovaskular (hipertensi), diabetes mellitus, dan obesitas. Beberapa hasil yan g telah dicapai oleh program perbaikan gizi masyarakat antara lain pemberian kap sul vitamin A pada anak balita usia 6 - 59 bulan sebesar 85% melampaui target 80 %, dan pemberian tablet besi (Fe) pada ibu hamil sebesar 75% dari target 80%; na mun pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan mengalami penurunan, dari 3 9,4% pada tahun 2003 menjadi 32% pada tahun 2007 dari target 80% (2009). Hasil R iskesdas menunjukkan terjadinya perbaikan status gizi anak balita, prevalensi ke kurangan gizi pada anak balita sebesar 18,4% yang terdiri dari gizi kurang 13% d an gizi buruk 5,4%. Keadaan gizi pada ibu hamil, bayi dan anak balita perlu teru s ditingkatkan karena masih tingginya bayi yang lahir dengan berat badan lahir r endah (BBLR) sebesar 11,5%, dan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (st unting) akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama (kronis) yaitu 36,8% (Ris kesdas 2007). Disparitas status gizi juga cukup lebar antar wilayah dan antar ti ngkat sosial ekonomi. Kedepan perbaikan gizi perlu difokuskan pada kelompok sasa ran ibu hamil dan anak sampai usia 2 tahun mengingat dampaknya terhadap tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas generasi yang akan datang (Bank Dunia, 2006). Penelitian dan pengembangan kesehatan terus berkembang, ditandai dengan Riskesdas 2007 yang merupakan upaya baru dalam mengisi kekosongan data da sar yang selama ini terjadi. Informasi berkaitan dengan kinerja pembangunan kese hatan dalam Riskesdas menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan pembangunan keseha tan lebih lanjut. Namun di sisi lain, belum banyak hasil penelitian yang dimanfa atkan untuk penyusunan kebijakan atau menghasilkan teknologi yang membangun kese hatan atau menghasilkan paten. Hasil penelitian yang bermanfaat tahun 2007 seban yak 102 dokumen menurun menjadi 37 6 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA adalah: (1) pendekatan politik, (2) pendekatan teknokratik, (3) pendekatan parti sipatif, (4) pendekatan atas-bawah (top-down), dan (5) pendekatan bawah-atas (bo ttom-up). Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 ini didasarkan pada peru bahan struktur organisasi Kementerian Kesehatan yang memberikan penekanan pada p encapaian sasaran Prioritas Nasional, Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kes ehatan di Kabupaten/Kota, dan Millenium Development Goals (MDGs). I.2. KONDISI UM UM Gambaran kondisi umum pembangunan kesehatan didapatkan dari hasil evaluasi Re nstra Kementerian Kesehatan 2005-2009. Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menur un dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Prevalensi gizi kurang pada balita , menurun dari 25,8% pada akhir tahun 2003 menjadi sebesar 18,4% pada tahun 2007 (Riskesdas, 2007). Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 35 per 1.000 kelahira n hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SD KI, 2007). Sejalan dengan penurunan Angka Kematian Bayi, Umur Harapan Hidup (UHH ) meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,5 tahun pada tahun 2007. Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan capaian, seperti cakupan rawat jalan sudah mencapai 15,26% pada tahun 2008. Cakupan persalinan yang ditolong ol eh tenaga kesehatan meningkat dari 77,23% pada tahun 2007 menjadi 80,36% pada ta hun 2008. Begitu juga cakupan pelayanan antenatal (K4) meningkat dari 79,65% pad a tahun 2007 menjadi sebesar 86,04% pada tahun 2008, cakupan kunjungan neonatus meningkat dari 78% menjadi 87% pada tahun 2008. Pelayanan 3 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA kesehatan dasar bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di Puskesmas mencapai targ et, yaitu sebesar 100% dan jumlah Poskesdes melebihi target (36.000 desa), yaitu mencapai 47.111 desa; namun perhatian perlu diberikan pada cakupan kunjungan ba yi yang mengalami penurunan, jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan PONED belum sesuai target 4 Puskesmas tiap kabupaten/kota dan perlu peningkatan upaya mobili sasi ibu hamil untuk bersalin, dan upaya peningkatan kualitas Posyandu menjadi P osyandu Mandiri perlu lebih digiatkan. Upaya kesehatan perorangan mengalami peni ngkatan dan beberapa telah mencapai target, bahkan melebihi target, seperti peni ngkatan jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan gawat darurat meningkat d an mencapai target (90%) dari 1137 rumah sakit (88%) pada tahun 2007 menjadi 116 3 rumah sakit (90%) pada tahun 2008. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan PONEK meningkat dari 183 rumah sakit (42%) pada tahun 2007 menjadi 265 rumah sakit (60 %) pada tahun 2008. Jumlah rumah sakit yang terakreditasi meningkat dari 702 rum ah sakit (54,33%) menjadi 760 rumah sakit (58,8%) pada tahun 2008. Terselenggara nya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di rumah sakit sebesar 100%. Pengua tan utilisasi rumah sakit meningkat cepat dari 15,1% (1996) menjadi 33,7% (2006) , begitu juga dengan contact rate (penduduk yang sakit yang berkunjung ke fasili tas kesehatan) meningkat dari 34,4% pada tahun 2005 menjadi 41,8% pada tahun 200 7; namun masih banyak penduduk yang mencari pengobatan sendiri (45%) dan tidak b erobat sama sekali (13,3%) serta perlu peningkatan jumlah rumah sakit secara ras ional sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk. Pada program pencegahan dan pem berantasan penyakit menular juga mengalami peningkatan capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menonjol terutama TB, Malaria, HIV/AIDS, DBD dan Diare. Cakupan nasional program imunisas i berdasarkan laporan rutin dari daerah secara umum 4 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA menunjukkan peningkatan. Cakupan nasional tahun 2008 adalah BCG : 93,4%, DPT-HB3 : 91,6%, HB (0 -<7 hari) : 59,2%, Polio 4 : 90,2% dan Campak : 90,8%. Meski tel ah berjalan baik, program imunisasi belum optimal, karena cakupan ini belum mera ta yang digambarkan melalui persentase desa yang mencapai Universal Child Immuni zation (UCI) pada tahun 2008 baru 68,3%. Penanggulangan penyakit HIV/AIDS, Tuber kulosis paru, dan Malaria (ATM) sudah mengalami peningkatan namun masih perlu me ndapat perhatian dalam peningkatan pengendaliannya untuk masa yang akan datang. Penemuan kasus HIV/AIDS meningkat dengan meningkatnya out reach dan keterbukaan masyarakat terhadap penyakit ini. Case Detection Rate (CDR) tuberculosis paru me nurun dari 69,12% pada tahun 2007 menjadi 68,5% pada tahun 2008 demikian juga de ngan success rate mengalami penurunan dari 91% pada tahun 2007 menjadi 88,17% pa da tahun 2008, untuk itu perlu perhatian lebih pada upaya deteksi tuberkulosis p aru dan juga keberhasilan pengobatannya. Ketersediaan reagen, pemberdayaan masya rakat dan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) ditingkat pelayanan primer h arus diperhatikan. Untuk malaria, daerah endemis semakin meluas dan ada kecender ungan terjadi resistensi di daerah endemis, perlu peningkatan upaya promotif dan preventif serta kerja sama sektoral terkait dengan man made breeding places. An gka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tinggi; yaitu sebesar 59,94% pad a tahun 2008, walaupun demikian angka kematian akibat DBD relatif kecil, menurun dari 1 kasus pada tahun 2007 menjadi 0,86 pada tahun 2008. Untuk itu perlu perh atian pada upaya pencegahan yang dapat diupayakan sendiri oleh masyarakat dengan penerapan 3M (menguras, menutup, mengubur) dan juga didorong oleh upaya promoti f. Selain itu, perhatian juga perlu diberikan pada penyelenggaraan sistem survei lans dan kewaspadaan dini yang kurang mendapat perhatian pada penganggarannya. 5 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA dokumen dari target 82 dokumen tahun 2008. Rekomendasi kebijakan (policy paper) pada tahun 2007 meningkat menjadi 11 dokumen dari target 7 dokumen pada tahun 20 08. Fakta ketersediaan SDM Litbangkes yang mengikuti diklat fungsional menurun j umlahnya, dari 54 orang pada tahun 2007 menjadi 24 orang dari target 50 orang pa da tahun 2008. Jumlah SDM yang melaksanakan dan mendukung penelitian dan pengemb angan kesehatan (litbangkes) melalui kegiatan pelatihan, seminar, dan mengikuti pertemuan ilmiah mengalami peningkatan sebanyak 500 orang pada tahun 2007 menjad i sebanyak 850 orang pada tahun 2008. Ketersediaan sarana dan prasarana Unit Pel aksana Teknis (UPT) Litbangkes yang terakreditasi pada tahun 2007 sebanyak 16 un it yang sesuai dengan target pada tahun 2008. Jejaring Forum Litbangkes tidak be rubah jumlahnya yaitu sebanyak 16 dokumen pada tahun 2007 dan sebanyak 16 dokume n pada tahun 2008 dari target sebanyak 14 dokumen tahun 2008. Pengganggaran pemb angunan kesehatan perlu lebih difokuskan pada upaya promotif dan preventif denga n tetap memperhatikan besaran satuan anggaran kuratif yang relatif lebih besar. Dana bantuan untuk daerah sebaiknya juga mulai direncanakan secara proporsional sesuai dengan kemampuan fiskal daerah dan besaran masalah masing-masing daerah. Berdasarkan indeks pembangunan kesehatan masyarakat terdapat daerah dengan masal ah kesehatan sangat besar, memerlukan dukungan sumber daya yang lebih besar dari daerah lainnya. Sistem informasi menjadi lemah setelah desentralisasi, data dan informasi untuk evidence planning tidak tersedia tepat waktu. Sistem Informasi Kesehatan (Siknas) online yang berbasis fasilitas sudah terintegrasi, tetapi mas ih banyak faktor yang mempengaruhi seperti ketersediaan jaringan, input dari ent ry point di daerah dan fasilitas kesehatan serta pemanfaatan informasi. Dalam ka itannya dengan pembiayaan kesehatan untuk daerah sejak 4 tahun terakhir, pembiay aan ke daerah sudah mengalami peningkatan hingga lebih dari 80% (2007). 7 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Untuk Program Sumber Daya Manusia Kesehatan, rasio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk belum memenuhi target. Sampai dengan tahun 2008, rasio tenaga kesehatan masih belum mencapai target per 100.000 penduduk sesuai tahun 2008, seperti unt uk dokter spesialis 7,73 per 100.000 penduduk (target 9 per 100.000 penduduk), d okter umum sebesar 26,3 per 100.000 penduduk (target 30 per 100.000 penduduk), d okter gigi sebesar 7,7 per 100.000 penduduk (target 11 per 100.000 penduduk), pe rawat sebesar 157,75 per 100.000 penduduk sudah mendekati target 158 per 100.000 penduduk, dan bidan sebesar 43,75 per 100.000 penduduk jauh dari target 75 per 100.000 penduduk. Masih terdapat kekurangan tenaga kesehatan, seperti dokter umu m pada tahun 2007-2010 sebanyak 26.218 orang, dokter spesialis sebanyak 8.860 or ang, dokter gigi sebanyak 14.665 orang, perawat sebanyak 63.912 orang, bidan seb anyak 97.802 orang, apoteker sebanyak 11.027 orang, kesehatan masyarakat sebanya k 9.136 orang, sanitarian sebanyak 13.455 orang, tenaga gizi sebanyak 27.127 ora ng, terapi fisik sebanyak 4.148 orang, dan teknis medis sebanyak 3.838 orang. Pe menuhan kebutuhan tenaga kesehatan untuk daerah terpencil, tertinggal dan perbat asan tahun demi tahun diupayakan untuk ditingkatkan. Dalam pembangunan kesehatan , SDM Kesehatan merupakan salah satu isu utama yang mendapat perhatian terutama yang terkait dengan jumlah, jenis dan distribusi, selain itu juga terkait dengan pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No. 38 tahun 2000 dan P P No. 41 tahun 2000). Oleh karena itu, diperlukan penanganan lebih seksama yang didukung dengan regulasi yang memadai dan pengaturan insentif, reward-punishment , dan sistim pengembangan karier. Kompetensi tenaga kesehatan belum terstandaris asi dengan baik. Hal ini disebabkan karena saat ini baru ada satu standar kompet ensi untuk dokter umum dan dokter gigi serta job deskripsi tenaga kesehatan 8 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA lainnya belum jelas. Kerangka hukum dalam pendidikan tenaga kesehatan di Indones ia, terutama dalam hal sertifikasi dan akreditasi di Indonesia perlu diperkuat, dalam kaitan dengan Undang-Undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 dan Undang-Undang D osen No. 14 Tahun 2005. Perekrutan tenaga kesehatan oleh daerah masih rendah kar ena keterbatasan formasi dan dana. Untuk Program Obat dan Perbekalan Kesehatan, ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan baru mencapai 6 9,74% dari target 95%, anggaran untuk obat esensial generik di sektor publik seb esar 14,47% dengan target setara dengan $ 2 US perkapita. Peresepan Obat Generik Berlogo (OGB) di Puskesmas sudah sebesar 90%, namun di RSU sebesar 66% dan di R S swasta dan apotek sebesar 49%. Perhatian perlu diberikan pada ketersediaan bah an baku yang didominasi dari impor yang mencapai 85% dari kebutuhan, selain itu pengadaan obat sering terkendala DIPA dan sistem pengadaan yang berpotensi menim bulkan terputusnya ketersediaan obat dan vaksin. Walaupun ketersediaan OGB tingg i, harga murah tetapi akses masyarakat terhambat karena adanya asymmetric inform ation dan praktek pemasaran yang kurang baik, dan sekitar 30% obat resep dijual langsung oleh dokter, bidan atau perawat. Indonesia memiliki sumber hayati tanam an obat yang cukup beragam dan mempunyai efek pengobatan, diantaranya telah digu nakan sebagai bahan baku industri. Obat-obatan tradisional secara luas digunakan terutama di daerah perdesaan dan mulai berkembang pada masyarakat di perkotaan. Dalam beberapa dekade terakhir obat tradisional produksi rumah tangga berkemban g menjadi industri dengan lebih dari 900 industri kecil dan 130 industri menenga h, 69 diantaranya telah mendapat sertifikat Good Traditional Medicine Manufactur ing Practice (GTMMP). Sementara itu, perkembangan di tingkat global, seperti AFT A 2010 & Asean Charter 2008 menciptakan pasar tunggal ASEAN, bebas dan 9 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tanpa tarif menimbulkan implikasi berupa harga obat turun dan persaingan makin k uat; untuk itu perlu dilakukan pengawasan dan memperkuat regulasi, standarisasi perlu segera disusun, selain itu perlu dilakukan pengukuran dampak terhadap kese hatan masyarakat dan industri farmasi. Jamu yang merupakan pengobatan tradisiona l, namun pengembangannya agak terlambat sehingga perlu dikembangkan penggunaanny a dan dijamin keamanannya karena sudah diterima oleh masyarakat dan telah diguna kan luas di masyarakat. Program Kebijakan dan Manajemen perlu terus dikembangkan dan lebih difokuskan, utamanya untuk mencapai efektifitas dan efisiensi penyele nggaraan pembangunan kesehatan melalui penguatan manajerial dan sinkronisasi per encanaan kebijakan, program dan anggaran. Capaian program yang menggembirakan di antaranya penduduk miskin yang menjadi peserta jaminan kesehatan dan terlayani s udah 100%, tertanggulanginya masalah kesehatan akibat bencana secara cepat, sert a penyampaian pesan kesehatan dan citra positif Kementerian Kesehatan sudah dila kukan secara efektif, utamanya melalui media massa, baik cetak maupun elektronik , namun perlu penguatan untuk advokasi. Kebijakan di bidang kesehatan telah bany ak disusun, baik pada tingkatan strategis, manajerial maupun teknis seperti Unda ng-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang merupakan penyesuaian (revi si) dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992; Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 te ntang Praktik Kedokteran; dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sa kit. Berbagai kebijakan dalam tingkatan manajerial juga tersedia, seperti Sistem Kesehatan Nasional (SKN), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan ( RPJPK) Tahun 2005-2025, Rencana Strategis (Renstra) Departemen Kesehatan 10 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2005-2009, dan telah ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang keseha tan. Kebijakan teknis sebagian besar sudah tersedia. Namun dirasakan hubungan an tar sekuen perencanaan belum berjalan baik, antara Rencana Pembangunan Jangka Me nengah Nasional (RPJMN) dengan Renstra, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dengan Re ncana Kerja (Renja) K/L dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) K/L, dan juga antar a dokumen kebijakan dengan dokumen perencanaan dan anggaran yang masih harus dis inkronkan. Pada masa yang akan datang berbagai panduan ini perlu disempurnakan s eperti sistem penganggaran yang berbasis kinerja untuk selanjutnya dilengkapi de ngan panduan tentang Kewenangan Wajib serta implementasi SPM dalam rangka desent ralisasi. Sementara itu hukum kesehatan perlu ditata secara sistematis, serta ba nyak peraturan yang masih harus dilengkapi. Dengan meningkatnya kebutuhan masyar akat akan kualitas pelayanan kesehatan, maka masyarakat dan tenaga kesehatan seb agai pengguna dan pemberi pelayanan kesehatan perlu dilindungi. Pembangunan kese hatan perlu memberikan penekanan pada peningkatan kesetaraan gender (gender equi ty) dalam rangka memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh akses, partisi pasi, manfaat, dan kontrol antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pela yanan kesehatan dan perannya dalam pembangunan kesehatan. Diharapkan pada akhir pembangunan 5 tahun ke depan (2014), terjadi peningkatan Indeks Pembangunan Gend er (IPG). Program Pendidikan Kedinasan sejalan dengan upaya percepatan peningkat an pelayanan medik spesialistik secara nasional, maka pada tahun 2008 telah dise lenggarakan sebanyak 700 orang tugas belajar Program Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Kompetensi (PPDSBK) dan tahun 2009 menjadi 1.740 tugas belajar PPDSBK. 11 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Program Pengelolaan SDM Aparatur untuk pemenuhan formasi CPNS sudah melampaui ta rget sebesar 98% dan mengalami peningkatan, yaitu sebesar 98,07% pada tahun 2007 dan pada tahun 2008 menjadi sebesar 99,96% dan realisasi pemenuhan kebutuhan Pe gawai Tidak Tetap (PTT) pada tahun 2007 sebesar 68,94% meningkat menjadi sebesar 69,06% pada tahun 2008 yang hampir memenuhi target sebesar 70%. Namun masih ter dapat kekurangan tenaga kesehatan, terutama di daerah yang kurang diminati sehin gga memerlukan pengangkatan oleh Pemerintah. Cakupan data base PNS Pusat melalui Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMKA) belum memenuhi target sebesar 10 0% namun mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2007 sebesar 91,33% menjadi sebe sar 95,34% pada tahun 2008. Pemberian sanksi terhadap PNS Kementerian Kesehatan juga telah dilakukan, dalam 2 tahun terakhir (2006 dan 2007) telah diberhentikan dengan tidak hormat sebanyak 133 orang, diberhentikan dengan hak pensiun sebany ak 4 orang, penurunan pangkat 2 orang dan pembebasan dari jabatan 1 orang. Progr am Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas serta Program Penyelenggaraan Pimpin an Kenegaraan dan Kepemerintahan perlu ditingkatkan agar pengelolaan program Kem enterian Kesehatan dapat terselenggara secara efektif, efisien, dan akuntabel. M eneruskan hasil pengawasan yang tidak ditindaklanjuti sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku dan melakukan kerjasama dengan aparat pengawasan intern pe merintah lainnya untuk pelaksanaan tindak lanjut hasil pengawasan. Keberhasilan pengawasan penganggaran telah mencapai predikat Wajar Dengan Pengecualian (WDP), diharapkan ke depan akan meningkat kualitasnya menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Keberhasilan melaksanakan pembangunan kesehatan juga dapat digambarkan d engan capaian indikator program-program. 12 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat mengalami peningkatan capa ian, seperti rumah tangga dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meningka t dari 27% pada tahun 2005 menjadi 48,66% pada tahun 2008. Indikator lainnya sep erti Desa Siaga sampai dengan tahun 2009 sudah lebih dari separuhnya tercapai (4 7.111 desa dari 70.000 desa); namun kita perlu memberi perhatian pada perilaku m erokok yang semakin memburuk dengan makin mudanya usia awal perokok, selain itu ada pemberian ASI eksklusif yang menurun, yang disebabkan baik oleh perilaku mau pun besarnya pengaruh dari luar, seperti pemberian susu formula gratis pada saat ibu melahirkan. Untuk Program Lingkungan Sehat, akses masyarakat terhadap air b ersih dan sanitasi telah berhasil ditingkatkan, seperti peningkatan pada persent ase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan dari 70,9% menjadi 73 ,23% belum mencapai target sebesar 75% pada tahun 2009, persentase keluarga meng gunakan air bersih meningkat dari 58,3% menjadi 60,33% dari target 85% pada tahu n 2009, dan peningkatan persentase Tempat Tempat Umum (TTU) sehat 78% menjadi 78 ,5% namun belum mencapai target 80% pada tahun 2009; selain itu kita juga perlu memberikan perhatian pada terjadinya peningkatan rumah tangga yang tidak memilik i saluran pembuangan air limbah, dan masih ada rumah tangga yang memelihara ungg as atau ternak dalam rumah. Keberhasilan pembangunan kesehatan sudah dapat ditun jukkan dengan tercapainya indikator sasaran; namun saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk lebih memberikan penajaman dan kesinambungan program-program ya ng dilaksanakan untuk periode berikutnya. Pembangunan kesehatan dengan fokus wil ayah diharapkan memperoleh perhatian, terdapat daerah-daerah dengan capaian dera jat kesehatan yang sangat rendah, dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 13 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA sangat rendah atau terendah diantara daerah lainnya. Daerah seperti ini memerluk an pendekatan penanggulangan yang sesuai. I.3. POTENSI DAN PERMASALAHAN Angka Ke matian Ibu (AKI) sudah mengalami penurunan namun angka tersebut masih jauh dari target MDGs tahun 2015 (102/100.000 KH), diperlukan upaya yang luar biasa untuk p encapaian target. Demikian halnya dengan Angka Kematian Bayi (AKB), masih jauh d ari target MDGs (23/1.000 KH) kalau dilihat dari potensi untuk menurunkan AKB mak a masih on track walaupun diperlukan sumber daya manusia yang kompeten. Akses ma syarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar sudah meningkat yang ditandai dengan meningkatnya jumlah Puskesmas, dibentuknya Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di ti ap desa, dan dijaminnya pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat miskin di Pusk esmas dan rumah sakit oleh Pemerintah. Namun akses terhadap pelayanan kesehatan belum merata di seluruh wilayah Indonesia, masih terbatasnya sarana pelayanan ke sehatan dan tenaga kesehatan di Daerah Tertinggal Terpencil Perbatasan dan Kepul auan (DTPK). Bagi masyarakat di DTPK, keterbatasan akses juga disebabkan karena kondisi geografis yang sulit dan masih terbatasnya transportasi dan infrastruktu r. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit meningka t, salah satu faktor pendorongnya adalah adanya jaminan pembiayaan kesehatan di rumah sakit bagi masyarakat miskin. Untuk meningkatkan akses tersebut, pemerinta h memiliki keterbatasan pada jumlah Bed Occupation Rate (BOR) kelas III yang dik hususkan bagi masyarakat tak mampu. Selain itu sistem rujukan belum berjalan den gan baik sehingga pelayanan kesehatan tidak efisien. Kebijakan serta 14 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA pembinaan dan pengawasan belum mencakup klinik dan rumah sakit swasta, serta dir asakan belum terkoordinasinya pelayanan kesehatan secara kewilayahan. Secara umu m terjadi penurunan angka kesakitan, namun penularan infeksi penyakit menular ut amanya ATM (AIDS/HIV, TBC, dan Malaria) masih merupakan masalah kesehatan masyar akat yang menonjol dan perlu upaya keras untuk dapat mencapai target MDGs. Selain itu, terdapat beberapa penyakit seperti penyakit Filariasis, Kusta, Frambusia c enderung meningkat kembali. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbaga i daerah. Disamping itu, terjadi peningkatan penyakit tidak menular yang berkont ribusi besar terhadap kesakitan dan kematian, utamanya pada penduduk perkotaan. Target cakupan imunisasi belum tercapai, perlu peningkatan upaya preventif dan p romotif seiring dengan upaya kuratif dan rehabilitatif. Akibat dari cakupan Univ ersal Child Imunization (UCI) yang belum tercapai akan berpotensi timbulnya kasu s-kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di beberapa daerah r isiko tinggi yang selanjutnya dapat mengakibatkan munculnya wabah. Untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat PD3I perlu upaya imunisasi dengan cakupan y ang tinggi dan merata. Untuk anggaran pembiayaan kesehatan, permasalahannya lebi h pada alokasi yang cenderung pada upaya kuratif dan masih kurangnya anggaran un tuk biaya operasional dan kegiatan langsung untuk Puskesmas. Terhambatnya realis asi anggaran juga terjadi karena proses anggaran yang terlambat. 15 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Akibat dari pembiayaan kesehatan yang masih cenderung kuratif dibandingkan pada promotif dan preventif mengakibatkan pengeluaran pembiayaan yang tidak efektif d an efisien, sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan pada kecukupan dan opti malisasi pemanfaatan pembiayaan kesehatan. Tingginya presentase masyarakat yang belum terlindungi oleh jaminan kesehatan mengakibatkan rendahnya akses masyaraka t dan risiko pembiayaan kesehatan yang berakibat pada timbulnya kemiskinan. Juml ah dan jenis tenaga kesehatan terus meningkat namun kebutuhan dan pemerataan dis tribusinya belum terpenuhi, utamanya di DTPK. Kualitas tenaga kesehatan juga mas ih rendah, pengembangan karier belum berjalan, sistem penghargaan, dan sanksi be lum sebagaimana mestinya. Masalah kurangnya tenaga kesehatan, baik jumlah, jenis dan distribusinya menimbulkan dampak terhadap rendahnya akses masyarakat terhad ap pelayanan kesehatan berkualitas, di samping itu juga menimbulkan permasalahan pada rujukan dan penanganan pasien untuk kasus tertentu. Pemerintah telah berus aha untuk menurunkan harga obat namun masih banyak kendala yang dihadapi, salah satunya dalam hal produksi obat. Indonesia masih bergantung pada bahan baku impo r yang menyebabkan harga obat masih sulit dijangkau masyarakat. Belum banyak pen elitian dilakukan untuk mengeksplorasi kekayaan hayati Indonesia untuk diolah me njadi bahan baku obat. Obat herbal juga belum banyak dikembangkan. Tingginya per sentase bahan baku obat yang diimpor mencapai 85% mengakibatkan tingginya harga obat sehingga akan menurunkan akses masyarakat terhadap keterjangkauan obat yang diperlukan. 16 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan mengacu pada SKN, tetapi pelaksanaann ya belum optimal, belum terintegrasi dengan sistem lainnya. Perencanaan pembangu nan kesehatan antara pusat dan daerah belum sinkron dan dirasakan masih perlu pe ningkatan koordinasi pusat daerah di tingkat pimpinan. Sistem informasi kesehata n menjadi lemah setelah diterapkan kebijakan desentralisasi. Keterbatasan data m enjadi kendala dalam pemetaan masalah dan penyusunan kebijakan. Pemanfaatan data belum optimal dan surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesina mbungan. Proses desentralisasi yang belum optimal berpotensi menimbulkan masalah pada buruknya pelayanan kesehatan yang diberikan bagi masyarakat. Permasalahan tersebut antara lain muncul pada pembagian peran pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota termasuk di dalamnya adalah masalah pembiayaan khususnya untuk ke giatan dan biaya operasional, munculnya permasalahan pada harmonisasi kebijakan, masalah pada pelaksanaan kebijakan termasuk sinkronisasi dinas kesehatan dan ma najemen Rumah Sakit, serta komitmen pemerintah daerah untuk biaya operasional da lam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar yang masih minim. Masyarakat masih ditempatkan sebagai obyek dalam pembangunan kesehatan, promosi kesehatan belum banyak merubah perilaku masyarakat menjadi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS ). Pemanfaatan dan kualitas Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), sep erti Posyandu dan Poskesdes masih rendah. Upaya kesehatan juga belum sepenuhnya mendorong peningkatan atau perubahan pada perilaku hidup bersih dan sehat, yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan yang diderita oleh masyarakat. 17 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA I.4. LINGKUNGAN STRATEGIS Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata d itentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi pul a oleh hasil kerja serta kontribusi positif berbagai sektor pembangunan lainnya. Untuk optimalisasi hasil kerja serta kontribusi positif tersebut, wawasan keseha tan perlu dijadikan sebagai asas pokok program pembangunan nasional, dalam pelaks anaannya seluruh unsur atau subsistem dari SKN berperan sebagai penggerak utama pembangunan nasional berwawasan kesehatan yang diejawantahkan dalam bentuk progr am-program dalam RPJMN dan Renstra Kementerian Kesehatan. Terwujudnya keadaan se hat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang tidak hanya menjadi tanggung jawab se ktor kesehatan, melainkan juga tanggung jawab dari berbagai sektor terkait lainn ya; disamping tanggung jawab individu dan keluarga. Dalam penyelenggaraan pemban gunan nasional, SKN dapat bersinergi secara dinamis dengan berbagai sistem nasio nal lainnya seperti: Sistem Pendidikan Nasional, Sistem Perekonomian Nasional, S istem Ketahanan Pangan Nasional, Sistem Pertahanan dan Keamanan Nasional, Sistem Ketenaga-kerjaan dan Transmigrasi, serta sistem-sistem Nasional lainnya. Untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi dalam pembangunan kesehatan, diperlukan pemi kiran tidak konvensional mengenai kebijakan program kesehatan masyarakat dan sek tor kesehatan pada umumnya untuk mencakup determinan kesehatan lainnya, terutama yang berada diluar domain sektor kesehatan. Reformasi kesehatan masyarakat yang meliputi reformasi kebijakan SDM kesehatan, reformasi kebijakan pembiayaan kese hatan, reformasi kebijakan pelayanan kesehatan, dan reformasi untuk kebijakan ya ng terkait dengan terselenggaranya Good Governance sudah harus dilakukan. 18 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Dibutuhkan pula perhatian pada akar masalah yang ada, diantaranya faktor sosial ekonomi yang menentukan situasi dimana masyarakat tumbuh, belajar, hidup, bekerj a dan terpapar, serta rentan terhadap penyakit dan komplikasinya dalam rangka me ningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mencapai target Nasional (RPJPN, RPJ MN, dan RPJPK), target regional, dan target global (MDGs 2015). Hubungan antara s tatus sosial ekonomi dan kesehatan berlaku secara universal. Tingkat kematian da n tingkat kesakitan secara konsisten didapatkan lebih tinggi pada kelompok denga n sosial ekonomi rendah. Perlu upaya sungguh-sungguh dalam rangka mengurangi dis paritas masyarakat terhadap akses pendidikan, pekerjaan, partisipasi sosial, dan pelayanan publik. Pemberdayaan masyarakat diarahkan agar masyarakat berdaya unt uk ikut aktif memelihara kesehatannya sendiri, melakukan upaya pro-aktif tidak m enunggu sampai jatuh sakit, karena ketika sakit sebenarnya telah kehilangan nila i produktif. Upaya promotif dan preventif perlu ditingkatkan untuk mengendalikan angka kesakitan yang muncul dan mencegah hilangnya produktivitas serta menjadik an sehat sebagai fungsi produksi yang dapat memberi nilai tambah. Perlu juga dip erhatikan adanya perkembangan lingkungan strategis (linstra), baik dalam lingkup internasional, nasional, dan lokal yang akan mempengaruhi penyelenggaraan pemba ngunan kesehatan. Isu Strategis Internasional antara lain globalisasi seperti im plementasi WTO, APEC, dan AFTA dengan segala risiko deregulasi dan perijinan yan g harus diantisipasi, pemanasan global, biosecurity, bioterrorism, penggunaan te knologi high cost, Global Epidemic Diseases, Global Strategy on Diet, Physical A ctivity and Health, Millenium Development Goals (MDGs), krisis ekonomi global, kr isis bahan bakar dan pangan, 19 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Komitmen ASEAN dan internasional lainnya, Komitmen Bilateral dengan negara perba tasan, terbukanya peluang lapangan kerja kesehatan secara global, serta masuknya investasi dan tenaga kerja/profesi kesehatan dari negara lain. Harmonisasi regu lasi dan implementasi AFTA dan kesepakatan global, termasuk tenaga kesehatan. Is u Strategis Nasional antara lain desentralisasi (penyerahan kewenangan pemerinta han dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah), penyakit new emerging disease, reformasi dan demokratisasi, dinamika politik nasional, krisis ekonomi dan keter batasan dana Pemerintah, pengurangan anggaran pusat, peningkatan anggaran daerah , deregulasi diberbagai perijinan dan bidang pembangunan, pengurangan peran Peme rintah, privatisasi dan outsourcing, pemberdayaan masyarakat, IPM dan kualitas S DM rendah, kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup, serta kemiskinan dan penga ngguran. Isu lokal diantaranya disparitas status kesehatan dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Beberapa Kementerian dan Lembaga memberikan perhatian khusus k epada daerah tertentu yang tertinggal dibandingkan daerah lainnya, dengan progra m dan strategi khusus agar daerah-daerah tersebut mampu mengejar ketinggalannya dan sejajar dengan daerah lainnya; mensinergikan pembangunan kesehatan dalam upa ya-upaya itu dinilai lebih berhasil guna dan berdaya guna. Pembangunan kesehatan yang dicanangkan pada periode pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II telah m emperhatikan berbagai masukan dari pemangku kepentingan (stakeholders) sebagaima na telah didiskusikan dalam National Summit pada tanggal 30 Oktober 2009. Dalam National Summit tersebut, telah dibahas 4 (empat) isu pokok pembangunan kesehata n, yaitu: 1) Peningkatan pembiayaan kesehatan untuk memberikan jaminan kesehatan masyarakat; 2) Peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian ta rget MDGs; 3) Pengendalian 20 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana; dan 4) Peningkatan ketersediaan, pemerataan, dan kualitas tenaga kesehatan terutama di DTPK. Disam ping 4 isu pokok tersebut, Kementerian Kesehatan memandang perlu untuk menambahk an isu penting lainnya yaitu dukungan manajemen dalam peningkatan pelayanan kese hatan, yang termasuk di dalamnya adalah good governance, desentralisasi bidang k esehatan, dan struktur organisasi yang efektif dan efisien. Penjabaran isu pokok pembangunan kesehatan tersebut di atas, meliputi: a. Terbatasnya aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, terutama pada kelompok rentan sep erti: penduduk miskin, daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan t erdepan. b. Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang sesuai standar masih terbatas. c. Belum teratasinya permasalahan gizi secara menyeluruh. d. Masih tingginya ke sakitan dan kematian akibat penyakit menular dan tidak menular. e. Belum terlind unginya masyarakat secara maksimal terhadap beban pembiayaan kesehatan. f. Belum terpenuhinya jumlah, jenis, kualitas, serta penyebaran sumberdaya manusia keseh atan, dan belum optimalnya dukungan kerangka regulasi ketenagaan kesehatan. g. B elum optimalnya ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial, peng gunaan obat yang tidak rasional, dan penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang berkualitas. h. Masih terbatasnya kemampuan manajemen dan informasi kesehatan, m eliputi pengelolaan administrasi dan hukum kesehatan. i. Permasalahan manajerial dalam sinkronisasi perencanaan kebijakan, program, dan anggaran serta masih ter batasnya koordinasi dan integrasi Lintas Sektor. 21 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA j. Disparitas antar wilayah, golongan pendapatan, dan urban-rural masih terjadi dan belum terjadi perbaikan secara signifikan. Perlu pendekatan pembangunan sesuai kondisi wilayah. k. Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan belum di lakukan secara optimal. l. Belum tersedia biaya operasional yang memadai di Pusk esmas. 22 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB II VISI, MISI, TUJUAN, NILAI-NILAI DAN SASARAN STRATEGIS KEMENTERIAN KESEHAT AN II.1. VISI KEMENTERIAN KESEHATAN MASYARAKAT SEHAT YANG MANDIRI DAN BERKEADILAN II.2. MISI KEMENTERIAN KESEHATAN Untuk mencapai masyarakat sehat yang mandiri da n berkeadilan ditempuh melalui misi sebagai berikut: 1. Meningkatkan derajat kes ehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarak at madani. 2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan. 3. Menjamin ketersed iaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. 4. Menciptakan tata kelola kepemerinta han yang baik. II.3. TUJUAN KEMENTERIAN KESEHATAN Terselenggaranya pembangunan k esehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mencapai derajat kes ehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 23 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA II.4. NILAI-NILAI KEMENTERIAN KESEHATAN Guna mewujudkan visi dan misi rencana st rategis pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan menganut dan menjunjung tin ggi nilai-nilai yaitu: 1. Pro Rakyat Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan , Kementerian Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan haruslah meng hasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi -tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedaka n suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi. 2. Inklusif Semua program pe mbangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak, karena pembangunan kesehatan t idak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan demikian , seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang meliputi lintas s ektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat madani da n masyarakat akar rumput. 3. Responsif Program kesehatan haruslah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan di da erah, situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi geografis. Faktor-fakt or ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang berbeda-beda, s ehingga diperlukan penanganan yang berbeda pula. 24 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. Efektif Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan, dan bersifat efisien. 5. Bersih Penyelenggaraan pembangun an kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan, d an akuntabel. II.5. SASARAN STRATEGIS KEMENTERIAN KESEHATAN Sasaran strategis da lam pembangunan kesehatan tahun 20102014, yaitu: 1. Meningkatnya status kesehata n dan gizi masyarakat, dengan : a. Meningkatnya umur harapan hidup dari 70,7 tah un menjadi 72 tahun; b. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjad i 118 per 100.000 kelahiran hidup; c. Menurunnya angka kematian bayi dari 34 men jadi 24 per 1.000 kelahiran hidup; d. Menurunnya angka kematian neonatal dari 19 menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup; e. Menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) dari 36,8 persen menjadi kurang dari 32 persen; f. Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (cakupan PN) sebesar 90%; g. Per sentase Puskesmas rawat inap yang mampu PONED sebesar 100%; h. Persentase RS Kab /Kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%; 25 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA i. Cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN lengkap) sebesar 90%. 2. Menurunnya an gka kesakitan akibat penyakit menular, dengan: a. Menurunnya prevalensi Tubercul osis dari 235 menjadi 224 per 100.000 penduduk; b. Menurunnya kasus malaria (Ann ual Paracite Index-API) dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk; c. Terkendalinya pr evalensi HIV pada populasi dewasa dari 0,2 menjadi dibawah 0,5%; d. Meningkatnya cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan dari 80% menjadi 90%; e. P ersentase Desa yang mencapai UCI dari 80% menjadi 100%; f. Angka kesakitan DBD d ari 55 menjadi 51 per 100.000 penduduk. Menurunnya disparitas status kesehatan d an status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender, deng an menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009. Meningkatnya penyediaan anggar an publik untuk kesehatan dalam rangka mengurangi risiko finansial akibat ganggu an kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama penduduk miskin. Meningkatnya Peril aku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat rumah tangga dari 50 persen menja di 70 persen. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di Daerah Tertin ggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). 3. 4. 5. 6. 26 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 7. 8. Seluruh provinsi melaksanakan program pengendalian penyakit tidak menular. Selur uh Kabupaten/Kota melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM). 27 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 28 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI III.1. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL Pembangunan kesehatan merupakan bagi an dari pembangunan bidang sosial budaya dan kehidupan beragama yang diarahkan u ntuk mencapai sasaran peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang ditandai deng an meningkatnya IPM dan Indeks Pembangunan Gender (IPG), yang didukung oleh terc apainya penduduk tumbuh seimbang; serta makin kuatnya jati diri dan karakter ban gsa. Pencapaian sasaran tersebut, ditentukan oleh terkendalinya pertumbuhan pend uduk, meningkatnya UHH, meningkatnya rata-rata lama sekolah dan menurunnya angka buta aksara, meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidup anak dan perempuan, serta meningkatnya jati diri bangsa. Sesuai visi misi Presiden, kebijakan pemban gunan kesehatan periode 5 tahun ke depan (2010-2014) diarahkan pada tersedianya akses kesehatan dasar yang murah dan terjangkau terutama pada kelompok menengah ke bawah guna mendukung pencapaian MDGs pada tahun 2015; dengan sasaran pembangun an kesehatan adalah peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan an tara lain ditandai oleh meningkatnya angka harapan hidup, menurunnya tingkat kem atian bayi dan kematian ibu melahirkan. Penitikberatan pembangunan bidang keseha tan melalui pendekatan preventif, tidak hanya kuratif, melalui peningkatan keseh atan masyarakat dan lingkungan di antaranya dengan 29 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA perluasan penyediaan air bersih, pengurangan wilayah kumuh sehingga secara kesel uruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70,7 tahun pada 2009 menjadi 72,0 tahun pada 2014, dan pencapaian keseluruhan sasaran Millenium Development G oals (MDGs) tahun 2015. Tema Prioritas Pembangunan Kesehatan pada tahun 2010-2014 adalah Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan melalui : 1. Program Ke sehatan Masyarakat: Pelaksanaan Program Kesehatan Preventif Terpadu yang meliput i pemberian imunisasi dasar kepada 90% balita pada 2014; Penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berku alitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum 2014; Penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 228 per 100.000 kelahiran pada 2007 menjadi 118 pada 2014, serta tingkat kematian bayi dari 34 per 1.000 kelahiran pada 2007 menjadi 24 pa da 2014. 2. Program Keluarga Berencana (KB): Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta selama 2010-2014. 3. Sara na Kesehatan: Ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan Rumah Sakit berakred itasi internasional di minimal 5 kota besar di Indonesia dengan target 3 kota pa da 2012 dan 5 kota pada 2014. 30 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. Obat: Pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) sebagai dasar pengada an obat di seluruh Indonesia dan pembatasan harga OGB pada 2010. 5. Asuransi Kes ehatan Nasional: Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga mi skin dengan cakupan 100% pada 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara 2012-2014. Prioritas Pembangunan Kesehatan pada tahun 2 010-2014 difokuskan pada delapan fokus prioritas, yaitu : 1. Peningkatan kesehat an ibu, bayi, balita, dan Keluarga Berencana (KB); 2. Perbaikan status gizi masy arakat; 3. Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular diikuti pe nyehatan lingkungan; 4. Pemenuhan, pengembangan, dan pemberdayaan SDM kesehatan; 5. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, keamanan, mutu dan pen ggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan; 6. Pengembangan sistem Jaminan K esehatan Masyarakat (Jamkesmas); 7. Pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan b encana dan krisis kesehatan; 8. Peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier. 31 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA III.2. ARAH KEBIJAKAN KESEHATAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan didasarkan pada arah kebijakan dan strategi nasonal sebagaimana tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 2014 dengan memperhatikan permasalahan kesehatan yang telah diidentifikasi melalui hasil review pelaksanaan pembangunan kesehatan sebelumnya. Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan periode tahun 2010 2014, pe rencanaan program dan kegiatan secara keseluruhan telah dicantumkan di dalam Ren cana Strategis Kementerian Kesehatan. Namun untuk menjamin terlaksananya berbaga i upaya kesehatan yang dianggap prioritas dan mempunyai daya ungkit besar di dal am pencapaian hasil pembangunan kesehatan, dilakukan upaya yang bersifat reforma tif dan akseleratif. Upaya tersebut meliputi : pengembangan Jaminan Kesehatan Ma syarakat, peningkatan pelayanan kesehatan di DTPK, ketersediaan, keterjangkauan obat di seluruh fasilitas kesehatan, saintifikasi jamu, pelaksanaan reformasi bi rokrasi, pemenuhan bantuan operasional kesehatan (BOK), penanganan daerah bermas alah kesehatan (PDBK), pengembangan pelayanan untuk Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia (World Class Hospital). Langkah-langkah pelaksanaan upaya reformasi terseb ut disusun di dalam dokumen tersendiri, dan menjadi dokumen yang tidak terpisahk an dengan dokumen Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010 2014 ini. Upaya k esehatan tersebut juga ditujukan untuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan status kesehatan dan giz i masyarakat antar wilayah, gender, dan antar tingkat sosial ekonomi, melalui: ( a) pemihakan kebijakan yang lebih membantu kelompok miskin dan 32 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA daerah yang tertinggal; (b) pengalokasian sumberdaya yang lebih memihak kepada k elompok miskin dan daerah yang tertinggal; (c) pengembangan instrumen untuk memo nitor kesenjangan antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi; dan (d) pening katan advokasi dan capacity building bagi daerah yang tertinggal. Selain itu, un tuk dapat meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, kedelapan fokus p rioritas pembangunan nasional bidang kesehatan didukung oleh peningkatan kualita s manajemen dan pembiayaan kesehatan, sistem informasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, melalui: (a) peningkatan kualitas perencanaan, penganggara n dan pengawasan pembangunan kesehatan; (b) pengembangan perencanaan pembangunan kesehatan berbasis wilayah; (c) penguatan peraturan perundangan pembangunan kes ehatan; (d) penataan dan pengembangan sistem informasi kesehatan untuk menjamin ketersediaan data dan informasi kesehatan melalui pengaturan sistem informasi ya ng komprehensif dan pengembangan jejaring; (e) pengembangan penguasaan dan pener apan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dalam bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, rancang bangun alat kesehatan dan penyediaan bahan baku obat; (f) p eningkatan penapisan teknologi kesehatan dari dalam dan luar negeri yang cost ef fective; (g) peningkatan pembiayaan kesehatan untuk kegiatan preventif dan promo tif; (h) peningkatan pembiayaan kesehatan dalam rangka pencapaian sasaran luaran dan sasaran hasil; (i) peningkatan pembiayaan kesehatan di daerah untuk mencapa i indikator SPM; 33 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA (j) (k) (l) (m) penguatan advokasi untuk peningkatan pembiayaan kesehatan; pengembangan kemitraa n dengan penyedia pelayanan masyarakat dan swasta; dan peningkatan efisiensi pen ggunaan anggaran; peningkatan biaya operasional Puskesmas dalam rangka peningkat an kegiatan preventif dan promotif dengan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Untuk mewujudkan Visi dan Misi Kementerian Kesehatan pada tahun 2014 serta mempe rhatikan pencapaian Prioritas Nasional Bidang Kesehatan, maka dalam periode 2010 -2014 akan dilaksanakan strategi dengan fokus pada Prioritas Nasional Bidang Kes ehatan yang dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan Kementerian Kesehatan 2 010-2014. STRATEGI : 1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyara kat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global. Me ndorong kerjasama nasional dan global, antar masyarakat, antar kelompok, serta a ntar lembaga dalam rangka pembangunan berwawasan kesehatan; memantapkan peran ma syarakat termasuk swasta sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembanguna n kesehatan; meningkatkan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat dan mensinerg ikan sistem kesehatan modern dan asli Indonesia; menerapkan promosi kesehatan ya ng efektif memanfaatkan agent of change setempat; memobilisasi sektor untuk sekt or kesehatan 34 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Fokus : a. Meningkatkan upaya promosi kesehatan dalam mencapai perubahan perilak u dan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. b. Meningkatkan mobilisasi masya rakat dalam rangka pemberdayaan melalui advokasi, kemitraaan dan peningkatan sum ber daya pendukung untuk pengembangan sarana dan prasarana dalam mendukung Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). c. Meningkatkan advokasi dalam rangk a meningkatkan pembiayaan APBD untuk kesehatan menjadi 10% (pembiayaan dari APBD yang mencukupi untuk pembangunan kesehatan di daerah). d. Meningkatkan kemandir ian masyarakat dalam sistem peringatan dini, penanggulangan dampak kesehatan aki bat bencana, serta terjadinya wabah/KLB. e. Meningkatkan upaya promosi kesehatan kepada masyarakat dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terutama pada pe mberian ASI eksklusif, perilaku tidak merokok, dan sanitasi. f. Meningkatkan ket erpaduan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dengan kegiatan yang berdam pak pada income generating. g. Meningkatkan kerjasama lintas bidang dan lintas p rogram, terutama pertanian, perdagangan, perindustrian, transportasi, pendidikan , agama, kependudukan, perlindungan anak, ekonomi, kesehatan, pengawasan pangan, dan budaya. 35 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadila n, serta berbasis bukti; dengan pengutamaan pada upaya promotif preventif. Pemen uhan pelayanan kesehatan dasar kuratif termasuk layanan kesehatan rujukan bagi s eluruh masyarakat yang didukung dengan kemudahan akses baik jarak maupun pembiay aan; memfokuskan pada upaya percepatan pembangunan kesehatan di Daerah Tertingga l Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) agar mendapatkan kesempatan yang sama dalam pe layanan kesehatan dan berkurangnya disparitas status kesehatan antar wilayah; me ngutamakan upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kualitas manusia yang sehat (fisik, mental, sosial) dan mengurangi angka kesakitan; meningkatkan peng uasaan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di bidang kesehatan melalu i kajian, penelitian, pengembangan, dan penerapan; menyediakan biaya operasional untuk Puskesmas sehingga mampu melaksanakan pelayanan preventif dan promotif di Puskesmas, menuju inovasi upaya pelayanan kesehatan berkelanjutan, melalui refo rmasi upaya kesehatan sehingga tercapai pelayanan kesehatan yang berdayaguna dan berhasil guna serta berstandar Internasional. Fokus: a. Mempermudah pembangunan klinik dan/atau Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia (World Class Hospital) baik m elalui profesionalisasi pengelolaan Rumah Sakit pemerintah maupun mendorong tumb uhnya Rumah Sakit swasta. b. Meningkatkan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan rujukan yang memenuhi standar bertaraf internasional. 36 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di bawah lima tahun den gan memperkuat program yang sudah berjalan seperti posyandu yang memungkinkan im unisasi dan vaksinasi massal seperti DPT dapat dilakukan secara efektif sehingga penurunan tingkat kematian bayi dan balita dalam MDGs dapat lebih cepat tercapa i. d. Penurunan tingkat kematian ibu yang melahirkan, pencegahan penyakit menula r seperti HIV/AIDS, malaria, dan TBC. e. Mengurangi tingkat prevalensi gizi buru k balita dengan memperkuat institusi yang ada seperti Puskesmas dan posyandu, me mberikan insentif tambahan berupa bantuan tunai bersyarat (sebagai bagian dari P KH) kepada rumah tangga miskin jika memeriksakan kesehatan ibu dan balitanya di Puskesmas atau posyandu dan mencapai target kesehatan fisik tertentu. f. Meningk atkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, utamanya ya ng diarahkan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor dalam proses produ ksi obat. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan juga dia rahkan untuk meningkatkan kemampuan bangsa dalam rancang bangun alat-alat keseha tan. g. Meningkatkan kualitas pelayanan dan praktek kedokteran yang sesuai denga n etika dan menjaga kepentingan dan perlindungan masyarakat awam dari malpraktek dokter dan Rumah Sakit yang tidak bertanggung jawab. h. Tersedianya Bantuan Ope rasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas sehingga mempercepat pencapaian MDGs. i. M eningkatkan pelayanan kesehatan haji, kesehatan kerja, matra dan pengobatan trad isional alternatif. j. Meningkatkan kesiapan untuk evakuasi, perawatan dan pengo batan masyarakat di daerah korban bencana alam. k. Saintifikasi jamu untuk penin gkatan kesehatan masyarakat. 37 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA l. m. n. o. p. q. r. s. t. Meningkatkan kesehatan jiwa melalui penguatan kesehatan jiwa berbasis masyarakat , pelayanan kesehatan jiwa dasar, pelayanan kesehatan jiwa rujukan yang berdasar kan evidence based. Peningkatan dan penguatan revitalisasi pelayanan kesehatan d asar antara lain melalui Revitalisasi Puskesmas, Revitalisasi Posyandu, Dokter K eluarga, dan lain-lain. Meningkatkan kemampuan Rumah Sakit dan Puskesmas dalam m engantisipasi pencapaian universal coverage, peningkatan mutu pelayanan kesehata n, rehabilitasi pasca bencana dan peningkatan pelayanan kesehatan di Daerah Tert inggal, Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) serta Penanganan Daerah Berm asalah Kesehatan (PDBK). Meningkatkan pendukung atau penunjang pelayanan kesehat an antara lain dengan membentuk jaringan laboratorium referensi, jaringan penunj ang medik dan lain-lain. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang dikaitkan dengan struktur pelayanan yang sesuai dengan kompetensinya, sehingga alur rujukan dari pelayanan primer, sekunder dan tersier dapat terlaksana sesuai dengan proporsi d an kompetensi sehingga dapat berdayaguna dan berhasil guna. Meningkatkan kualita s pelayanan kesehatan dasar dan rujukan baik fisik dan ketenagaan. Meningkatkan utilisasi fasilitas kesehatan, termasuk dengan menjalin kemitraan dengan masyara kat dan swasta. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi lansia dan penduduk di daerah rawan bencana. Pengembangan inovasi pelayanan kesehatan s esuai masalah mendesak setempat, misalnya kesehatan perkotaan dan kesehatan kerj a. 38 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional. Lebih memantapkan penataan sub sistem pembiayaan kes ehatan kearah kesiapan konsep, kelembagaan, dan dukungan terhadap penerapan jami nan kesehatan sosial menuju universal coverage; menyusun perencanaan pembiayaan dengan menjamin ketersediaan data National Health Account (NHA) dan sinkronisasi kebijakan dan alokasi anggaran; menghimpun sumber-sumber dana baik dari pemerin tah pusat dan daerah, juga peningkatan peran masyarakat, termasuk swasta untuk m enjamin tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang cukup, utamanya dalam menjalankan upaya preventif dan promotif dan terlaksananya program-program ungg ulan/prioritas nasional; merancang dan menetapkan kebijakan pembiayaan kesehatan bagi daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan serta daerah berma salah kesehatan yang diatur khusus. Fokus: a. Menyempurnakan dan memantapkan pel aksanaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat baik dari segi kualitas pelayanan, akses pelayanan, akuntabilitas anggaran, dan penataan administrasi yang transpa ran dan bersih. Meningkatkan cakupan melalui Jaminan Kesehatan Sosial atau Jamin an Sosial Nasional yang diperluas secara bertahap untuk seluruh keluarga Indones ia (Universal coverage). b. Mendorong tercapainya kebijakan pembiayaan yang menc ukupi, merata, tepat waktu, berdaya guna dan berhasil guna. c. Mendorong tercapa inya pembiayaan minimal sebesar 5% (lima persen) dari APBN dan 10% (sepuluh pers en) dari APBD, di luar gaji dan diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publi k. 39 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. Meningkatkan pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu . Pemenuhan SDM kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya, se rta terdistribusi secara efektif sesuai dengan kepentingan masyarakat secara adi l, utamanya di DTPK dan daerah bermasalah kesehatan; mengedepankan upaya pengemb angan dan pemberdayaan SDM kesehatan yang berkualitas dan berdaya saing dengan l ebih memantapkan Sistem mutu (upaya, pengawasan, audit), Standarisasi, dan serti fikasi; serta mempermudah akses SDM kesehatan terhadap pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan; mengembangkan kode etik profesi serta meningkatkan pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan yang diiringi dengan upaya mensejahterakan dalam r angka meningkatkan profesionalisme SDM Kesehatan. Fokus: a. Kesejahteraan dan si stem insentif bagi tenaga medis dan paramedis khususnya yang bertugas di daerah terpencil tidak memadai. Sistem insentif yang ada akan disempurnakan dengan tanp a mengurangi makna dari desentralisasi atau otonomi daerah. Pengembangan karir b agi tenaga kesehatan perlu ditingkatkan sehingga penyebaran tenaga kesehatan dap at merata. b. Penguatan peraturan perundangan dalam aspek standarisasi, akredita si, sertifikasi kompetensi dan lisensi SDM kesehatan, serta penerapannya dalam p raktek kedokteran dan profesi kesehatan lainnya. c. Peningkatan kerjasama antara institusi pendidikan tenaga kesehatan dengan penyedia pelayanan kesehatan dan o rganisasi profesi. 40 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Meningkatkan perencanaan, pengadaan, dan pendayagunaan serta pembinaan dan pe ngawasan sumber daya manusia kesehatan. 5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan , dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan/khasiat, ke manfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Menjamin keter sediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat melalui peningkatan akses obat bagi masyarakat luas serta pemberian dukungan untuk pengembangan industri farmasi di dalam negeri sebagai upaya kemandirian di bidang kefarmasian; penggunaan obat ya ng rasional dengan pelayanan kefarmasian yang bermutu; menetapkan Harga Eceran T ertinggi (HET), utamanya pada Obat Esensial Generik untuk pengendalian harga oba t; meningkatkan pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk mengembangkan industri o bat herbal Indonesia; memantapkan kelembagaan dan meningkatkan koordinasi dalam pengawasan terhadap sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan untuk menjamin keamanan, khasiat/kemanfaatan dan mutu dalam rangka perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. Fokus: a. Mendorong upaya pembua tan obat dan produk farmasi lain yang terjangkau dengan tanpa mengabaikan masala h kualitas dan keamanan obat seperti yang telah dilakukan selama tiga tahun tera khir. b. Meningkatkan ketersediaan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esens ial generik. c. Meningkatkan penggunaan obat rasional. 41 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Meningkatkan keamanan, khasiat dan mutu obat dan makanan yang beredar. e. Men gembangkan peraturan dalam upaya harmonisasi standar termasuk dalam mengantisipa si pasar bebas. f. Meningkatkan kualitas sarana produksi, distribusi dan sarana pelayanan kefarmasian. g. Meningkatkan pelayanan kefarmasian yang bermutu. h. Me ningkatkan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional Indonesia. i. Meningkatkan penelitian di bidang obat dan makanan, kemandirian di bidang pro duksi obat, bahan baku obat, obat tradisional, kosmetika dan alat kesehatan; j. Penguatan sistem regulatori pengawasan obat dan makanan, sistem laboratorium oba t dan makanan serta peningkatan kemampuan pengujian mutu obat dan makanan. k. Pe ningkatan sarana dan prasarana laboratorium pengujian serta penerapan standar in ternasional laboratorium. l. Penyusunan standar dan pedoman pengawasan obat dan makanan dan peningkatan pemeriksaan sarana produksi dan distribusi obat dan maka nan. 6. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggungjaw ab. Meningkatkan manajemen kesehatan dengan fokus pada pembenahan perencanaan ke bijakan dan pembiayaan serta hukum kesehatan dengan dukungan data dan informasi yang lengkap, akurat dan mutakhir; penerapan kebijakan pembangunan kesehatan jug a meliputi swasta dan masyarakat; memantapkan penyelenggaraan SKN; melaksanakan desentralisasi yang efektif di bidang kesehatan, termasuk menata dan memberi duk ungan bagi 42 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA pengembangan organisasi yang efektif dan kepemimpinan di pusat dan daerah; mengu rangi disparitas status kesehatan secara menyeluruh; melaksanakan reformasi biro krasi dan good governance termasuk akuntabilitas pembangunan dan mengedepankan t ata kelola yang efektif dan efisien. Fokus: a. Mengembangkan sistem peringatan d ini untuk penyebaran informasi terjadinya wabah/KLB dan cara menghindari terjadi nya kepanikan serta jatuhnya korban lebih banyak. b. Meningkatkan pengawasan dan penyidikan kesehatan. c. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam mana jemen kesehatan yang modern dan terjamin. d. Meningkatkan produk hukum yang akan mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan. e. Mengembangkan standar prose dur operasional yang mendukung implementasi Reformasi Birokrasi. f. Meningkatkan pemanfaatan electronic Health (e-Health) atau ubiquteous Health (u-Health) dala m mendukung pelayanan kesehatan yang bermutu. g. Mengembangkan sistem hotline da n respon cepat untuk mengawasi operasionalisasi pelaksanaan pelayanan kesehatan. Berdasarkan Visi, Misi, Tujuan, Strategi, dan Sasaran Strategis sebagaimana diu raikan dalam bab-bab sebelumnya, maka disusunlah program-program Kementerian Kes ehatan untuk kurun waktu 20102014. Program-program Kementerian Kesehatan 2010-20 14 dibagi ke dalam dua jenis, yaitu Program Generik (Dasar) dan Program Teknis. 43 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A. Program Generik: 1. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lain nya; 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian Kesehatan; 3. Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Keseha tan; 4. Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Program Teknis: 1. Progra m Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak; 2. Program Pembinaan Upaya Kesehatan; 3. Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 4. Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan; 5. Program Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusi a Kesehatan. B. A.1. PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA Sasaran has il program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya adalah mening katnya koordinasi pelaksanaan tugas serta pembinaan dan pemberian dukungan manaj emen Kementerian Kesehatan. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah: 1. Jumlah Kab/Kota yang mempunyai kemampuan tanggap darurat dalam penang anan bencana sebanyak 300 Kab/Kota; 2. Persentase rumah tangga yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebesar 70%. 44 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan meliput i: A.1.1. Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Luaran: Meningkatnya pel aksanaan pemberdayaan dan promosi kesehatan kepada masyarakat. Indikator pencapa ian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase rumah tangga yang mela ksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebesar 70%; b. Persentase desa siaga aktif sebesar 35%; c. Persentase sekolah dasar yang mempromosikan kesehata n sebesar 40%; d. Jumlah kebijakan teknis promosi kesehatan yang terintegrasi da lam upaya pencapaian tujuan pembangunan kesehatan sebanyak 25 buah; e. Jumlah ka bupaten/kota yang menetapkan kebijakan yang berwawasan kesehatan sebanyak 125 ka bupaten/kota. A.1.2. Penanggulangan Krisis Kesehatan Luaran: Meningkatnya penang gulangan krisis secara cepat. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 20 14 adalah: a. Jumlah Kab/Kota yang mempunyai kemampuan tanggap darurat dalam pen anganan bencana sebanyak 300 Kab/Kota; b. Jumlah Kab/Kota yang memiliki petugas terlatih penanggulangan krisis kesehatan sebanyak 300 Kab/Kota; 45 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Jumlah Kab/Kota yang terpenuhi fasilitas sistem informasi penanggulangan kris is kesehatan sebanyak 300 Kab/Kota; d. Tersedianya produk informasi penanggulang an krisis kesehatan sebanyak 25 buah; e. Tersedianya produk kebijakan/pedoman un tuk penanggulangan krisis kesehatan sebanyak 25 buah. A.1.3. Pembinaan, Pengemba ngan, Pembiayaan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Luaran: Terumuskannya kebija kan pembiayaan dan jaminan pemeliharaan kesehatan. Indikator pencapaian luaran t ersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase penduduk (termasuk seluruh pendudu k miskin) memiliki jaminan kesehatan sebesar 100%; b. Tersedianya data National Health Account (NHA) setiap tahun sebanyak 1 dokumen; c. Jumlah Kab/Kota mulai m elaksanakan District Health Account (DHA) sebanyak 495 Kab/Kota; d. Jumlah provi nsi mulai melaksanakan Province Health Account (PHA) sebanyak 33 provinsi; e. Ju mlah kebijakan teknis pembiayaan dan jaminan kesehatan masyarakat sebanyak 10 ke bijakan; f. Jenis perhitungan kebutuhan biaya pelayanan kesehatan prioritas yang dikembangkan sebanyak 18 jenis; g. Jumlah ketersediaan data kebutuhan biaya pel ayanan kesehatan prioritas sebanyak 14 dokumen; h. Jumlah data PHA yang tersedia sebanyak 10 buah; i. Jumlah data DHA yang tersedia sebanyak 160 buah. 46 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.1.4. Perumusan Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Organisasi Tatalaksana Luar an: Meningkatnya produk-produk hukum yang akan mendukung penyelenggaraan pembang unan bidang kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adal ah: a. Jumlah produk hukum bidang kesehatan yang diselesaikan: - Rancangan Undan g-Undang (RUU) sebanyak 10 buah; - Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebanyak 30 buah; - Rancangan Peraturan/Keputusan Presiden sebanyak 10 buah; - Peraturan /Keputusan Menkes sebanyak 195 buah; b. Jumlah kasus-kasus hukum bidang kesehata n yang tertangani sebanyak 227 buah; c. Jumlah organisasi dan tatalaksana yang t ertata di lingkungan Kementerian Kesehatan termasuk UPT sebanyak 70 unit; d. Per sentase pejabat Eselon I dan II telah menandatangani dan melaksanakan pakta inte gritas sebesar 100%; e. Persentase unit penyelenggara pelayanan publik yang suda h menerapkan standar pelayanan sebesar 100%. Pengelolaan Data dan Informasi Kese hatan Luaran: Meningkatnya pengembangan sistem informasi kesehatan. A.1.5. 47 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase keter sediaan profil kesehatan nasional, provinsi, dan Kab/Kota per tahun sebesar 100% ; b. Persentase Provinsi dan Kab/Kota yang memiliki bank data kesehatan sebesar 60%; c. Persentase Kab/Kota yang memiliki data kesehatan terpilah menurut jenis kelamin sebesar 90%. A.1.6. Peningkatan Kerjasama Luar Negeri Luaran: Meningkatnya dukungan kebijakan pembangunan kesehatan dalam kerjasama luar negeri. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah dokumen kerjasama internasional (MoU/ LoI/ Agreement) sebanyak 25 dokumen; b. Jumlah dokumen kerjasama multilateral da n bilateral yang disepakati per tahun (loan/grant agreement) sebanyak 10 dokumen ; c. Persentase MoU/LoI/Agreement yang ditindak-lanjuti sebesar 80%; d. Jumlah p okok-pokok hasil kerjasama yang disepakati sebanyak 50 buah. Pengelolaan Komunik asi Publik Luaran: Meningkatnya penyelenggaraan komunikasi dan publikasi kesehat an. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah berit a/pesan/info kesehatan yang disebarluaskan kepada publik sebanyak 4.870 berita/p esan/info; A.1.7. 48 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Persentase opini publik tentang kesehatan yang positif di media massa sebesar 90%; c. Persentase informasi/pengaduan masyarakat melalui jalur telekomunikasi yang ditindaklanjuti oleh unit teknis berwenang se besar 80%; d. Persentase unit pelayanan publik yang sudah menerapkan maklumat pe layanan sebesar 100%. A.1.8. Perencanaan dan Penganggaran Program Pembangunan Ke sehatan Luaran: Meningkatnya kualitas perencanaan dan penganggaran program pemba ngunan kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a . Jumlah dokumen kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan yang disusun se banyak 7 dokumen per tahun; b. Jumlah dokumen perencanaan yang dihasilkan sebany ak 3 dokumen per tahun; c. Jumlah dokumen anggaran yang dihasilkan tepat waktu s ebanyak 4 dokumen per tahun; d. Jumlah dokumen monitoring dan evaluasi yang diha silkan sebanyak 9 dokumen per tahun; e. Jumlah dokumen kesepakatan Rakerkesnas y ang dihasilkan sebanyak 1 dokumen per tahun; f. Persentase penerapan SAKIP (Sist em Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) : Renstra, Penilaian Kinerja, Kont rak Kinerja, Pengendalian sebesar 100%. 49 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.1.9. Pembinaan Administrasi Kepegawaian Luaran: Meningkatnya pelayanan administrasi k epegawaian Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Perse ntase pemenuhan kebutuhan SDM aparatur (PNS dan PTT) sebesar 90%; b. Persentase penyelesaian administrasi kepegawaian tepat waktu sebesar 90%; c. Persentase pro duk administrasi kepegawaian yang dikelola melalui sistem layanan kepegawaian se besar 70%; d. Persentase pegawai yang menerima reward sebesar 95%; e. Persentase pegawai yang menerima punishment sebesar 0,2%; f. Tersedianya sistem rekruitmen yang transparan sebesar 100%. Pembinaan Pengelolaan Administrasi Keuangan dan P erlengkapan Luaran: Meningkatnya kualitas pengelolaan anggaran dan Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Kesehatan secara efektif, efisien dan dilaporkan sesuai ketentuan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Ters usunnya laporan keuangan Kementerian Kesehatan setiap tahun anggaran sesuai pera turan perundang-undangan yang berlaku sehingga terwujudnya pengelolaan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 2 dokumen; A.1.10. 50 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Persentase pengadaan menggunakan e-procurement sebesar 75%. A.1.11. Pengelola an Urusan Tata Usaha, Keprotokolan, Rumah Tangga, Keuangan, dan Gaji. Luaran: Me ningkatnya kualitas pengelolaan/manajemen pembayaran gaji PNS dan PTT tepat juml ah, waktu dan sasaran. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adal ah: Persentase pengelolaan pembayaran gaji PNS dan PTT tepat jumlah, waktu dan s asaran sebesar 95%. Peningkatan Penyelenggaraan Kesehatan Jemaah Haji Luaran: Me ningkatnya pembinaan dan pelayanan kesehatan sebelum, saat pelaksanaan dan pasca haji. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Angka kem atian calon jemaah haji 2 per 1000 calon jemaah; b. Persentase Kab/Kota yang mel aksanakan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji sesuai standar sebesar 100%. Peningkatan Manajemen Konsil Kedokteran Indonesia Luaran: Terselenggaranya regis trasi, pendidikan profesi, pembinaan serta penanganan pelanggaran dugaan kode et ik dokter dan dokter gigi. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah surat tanda registrasi (STR) baru dokter dan dokter gigi yang teregistrasi sebanyak 149.000 STR; b. Jumlah produk/kebijakan KKI tentang : A.1.12. A.1.13. 51 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Registrasi dokter/dokter gigi sebanyak 19 buah; Pendidikan profesi dokter/dokter gigi sebanyak 19 buah; Pembinaan dokter/dokter gigi yang menjalankan praktek ke dokteran sebanyak 19 buah; c. Jumlah penanganan dugaan pelanggaran kode etik dok ter dan dokter gigi sebanyak 157 kasus. A.1.14. Kajian Desentralisasi dan Daerah Bermasalah Kesehatan Luaran : Meningkatnya peran daerah dalam pembangunan keseh atan dan meningkatnya pelayanan kesehatan yang bermutu di daerah. Indikator penc apaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah kajian kebijakan desent ralisasi sebanyak 10 kajian; b. Jumlah kajian kebijakan Daerah Bermasalah Keseha tan (DBK) sebanyak 10 kajian; c. Jumlah daerah bermasalah kesehatan yang meningk at indeks pembangunan kesehatan masyarakat sebanyak 117 Kab/Kota; d. Jumlah kebi jakan teknis penanggulangan daerah bermasalah sebanyak 5 kebijakan; e. Persentas e Kab/Kota, Provinsi, Kementerian/Lembaga yang memperoleh advokasi dan koordinas i serta sinkronisasi pelaksanaan desentralisasi dan penanggulangan daerah bermas alah sebesar 100%; f. Jumlah kebijakan teknis pengelolaan desentralisasi kesehat an sebanyak 5 kebijakan; g. Jumlah pedoman pengelolaan desentralisasi yang disos ialisasikan sebanyak 5 pedoman;

52 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA h. Persentase Kab/Kota dan Provinsi yang memiliki infrastruktur yang baik bagi p elaksanaan desentralisasi kesehatan sebesar 100%. A.1.15. Pembinaan, Pengawasan dan Penyidikan Kesehatan Luaran : Meningkatnya pengawasan dan penyidikan kesehat an. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah kasus yang dilakukan penyidikan sebanyak 45 kasus; b. Jumlah kasus penyidikan yang di tangani sebanyak 35 kasus. Pertimbangan Kesehatan Nasional Luaran : Terselenggar anya pertimbangan kesehatan nasional. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: Jumlah kebijakan nasional yang direview sebanyak 77 kebijakan . Peningkatan dan Pengawasan Rumah Sakit Indonesia Luaran : Terselenggaranya pen gawasan Rumah Sakit Indonesia. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2 014 adalah: Persentase Rumah Sakit yang dilakukan pengawasan sebanyak 80%. A.1.16. A.1.17. 53 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.2. PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN APARATUR KEMENTERIAN KESEHATAN PRASARANA Sasaran hasil Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian Kese hatan adalah meningkatnya kualitas sarana dan prasarana aparatur Kementerian Kes ehatan. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah: persentase p engelolaan sarana dan prasarana aparatur Kementerian Kesehatan yang sesuai stand ar sebesar 100%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan adalah: A.2.1. Pengelolaan Sarana Prasarana dan Peralatan Kesehatan Lu aran: Meningkatnya kualitas sarana, prasarana dan peralatan kesehatan di fasilit as pelayanan kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 ada lah: a. Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan (RS dan Puskesmas) yang memenuhi sa rana, prasarana, dan peralatan kesehatan sesuai standar dan aman sebanyak 1.852 unit; b. Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan (RS dan Puskesmas) yang melakukan kalibrasi dan proteksi radiasi sebanyak 970 unit; c. Jumlah monitoring dan evalu asi sarana, prasarana dan peralatan kesehatan sebanyak 500 kali; d. Jumlah kebij akan, standar, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang sarana, prasarana dan pe ralatan kesehatan yang dihasilkan sebanyak 12 buah; e. Jumlah pelaksanaan bimbin gan teknis sebanyak 311 kali; 54 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA f. Jumlah SDM manajemen dan teknis yang berkompeten sebanyak 135 orang; g. Persenta se pengelolaan gedung Kementerian Kesehatan sebesar 100%; h. Penerapan e-governm ent di bidang Sarana Prasarana Aparatur (SPA) sebesar 100%. A.3. PROGRAM PENINGK ATAN PENGAWASAN DAN AKUNTABILITAS APARATUR KEMENTERIAN KESEHATAN Sasaran hasil p rogram peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan a dalah meningkatnya pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah persentase unit kerja yang menerapkan administrasi yang akuntabel sebesar 100%. Untuk mencapai sasara n hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan meliputi: A.3.1. Pengawasan dan Pembinaan Pelaksanaan Kebijakan Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan Setjen Luara n: Meningkatnya pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan Setjen. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adal ah: a. Persentase laporan hasil audit Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan Setjen tep at waktu sebesar 100%; b. Persentase NSPK/Standar Audit/Pengawasan yang telah di tetapkan dan dilaksanakan sebesar 100%; 55 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Persentase terlaksananya Program Kerja Pengawasan Tahunan, Satker/Auditan di lingkungan Kementerian Kesehatan sebesar 100%; d. Persentase rekomendasi hasil p engawasan digunakan bagi pengambilan keputusan pimpinan unit kerja dan perbaikan program sebesar 100%; e. Persentase temuan laporan hasil pengawasan yang ditind aklanjuti sebesar 80%. A.3.2. Pengawasan dan Pembinaan Pelaksanaan Kebijakan Dit jen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dan Itjen Luaran: Meningkatnya pengawas an dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan An ak dan Itjen. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Pe rsentase laporan hasil audit Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dan Itj en tepat waktu sebesar 100%; b. Persentase NSPK/Standar Audit/Pengawasan yang te lah ditetapkan dan dilaksanakan sebesar 100%; c. Persentase terlaksananya Progra m Kerja Pengawasan Tahunan, Satker/Auditan di lingkungan Kementerian Kesehatan s ebesar 100%; d. Persentase rekomendasi hasil pengawasan digunakan bagi pengambil an keputusan pimpinan unit kerja dan perbaikan program sebesar 100%; e. Persenta se temuan laporan hasil pengawasan yang ditindaklanjuti sebesar 80%. 56 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.3.3. Pengawasan dan Pembinaan Pelaksanaan Kebijakan Ditjen PP dan PL dan Balitbangkes Luaran: Meningkatnya pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen PP & PL dan Balitbangkes. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adala h: a. Persentase laporan hasil audit Ditjen PP & PL dan Balitbangkes tepat waktu sebesar 100%; b. Persentase NSPK/Standar Audit/Pengawasan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan sebesar 100%; c. Persentase terlaksananya Program Kerja Pengaw asan Tahunan, Satker/Auditan di lingkungan Kementerian Kesehatan sebesar 100%; d . Persentase rekomendasi hasil pengawasan digunakan bagi pengambilan keputusan p impinan unit kerja dan perbaikan program sebesar 100%; e. Persentase temuan lapo ran hasil pengawasan yang ditindaklanjuti sebesar 80%. Pengawasan dan Pembinaan Pelaksanaan Kebijakan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes dan Badan PPSDMK Luaran: Meningkatnya pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Ditjen Bina Kefarma sian & Alkes dan Badan PPSDM Kesehatan. Indikator pencapaian tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase laporan hasil audit Ditjen Binfar dan Alkes dan Bada n PPSDM Kesehatan tepat waktu sebesar 100%; b. Persentase NSPK/Standar Audit/Pen gawasan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan sebesar 100%; A.3.4. 57 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Persentase terlaksananya Program Kerja Pengawasan Tahunan, Satker/Auditan di lingkungan Kementerian Kesehatan sebesar 100%; d. Persentase rekomendasi hasil p engawasan digunakan bagi pengambilan keputusan pimpinan unit kerja dan perbaikan program sebesar 100%; e. Persentase temuan laporan hasil pengawasan yang ditind aklanjuti sebesar 80%. A.3.5. Investigasi Hasil Pengawasan Luaran: Meningkatnya penyidikan, pengusutan dan investigasi kasus-kasus tindak pidana dan berindikasi kan KKN. Indikator pencapaian tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Persentase ka sus pengaduan masyarakat tentang tindak pidana yang ditindaklanjuti dengan pemer iksaan dan investigasi sebesar 70%; b. Jumlah NSPK tentang pemeriksaan investiga si yang ditetapkan sebanyak 2 dokumen; c. Jumlah auditor yang telah mengikuti Di klat PPNS sebanyak 10 orang; d. Persentase pejabat yang telah melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) sebesar 100%. Dukungan Manajemen da n Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Peningkatan Pengawasan dan Akunt abilitas Aparatur Kementerian Kesehatan Luaran: Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Peningkatan Pengawasan dan Aku ntabilitas Aparatur Kementerian Kesehatan. A.3.6. 58 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Indikator pencapaian tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Persentase peningkatan dukungan sumber daya sebagai penunjang pengawasan sebesar 80%; b. Persentase un it kerja yang menerapkan Sistem Pengendalian Intern yang efektif sebesar 100%. A .4. PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Sasaran hasil Program Peneliti an dan Pengembangan Kesehatan adalah Meningkatnya kualitas penelitian, pengemban gan dan pemanfaatan di bidang kesehatan. Indikator tercapainya sasaran hasil pad a tahun 2014 adalah jumlah area penelitian yang dilaksanakan sebanyak 10 buah. U ntuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan meliputi : A.4.1. Riset Operasional Kesehatan dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokter an Luaran: Meningkatnya jumlah riset operasional kesehatan dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran (IPTEKDOK). Indikator pencapaian luaran tersebut pada t ahun 2014 adalah berupa hasil riset operasional, yang meliputi: a. Riset komunit as sebanyak 2 buah; b. Riset fasilitas sebanyak 1 buah; c. Survei khusus sebanya k 1 buah; d. Riset ancaman potensial (KLB) sebanyak 5 buah; e. Riset pembinaan: - IPTEKDOK sebanyak 200 buah; - Riset Pembinaan Kesehatan sebanyak 150 buah 59 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.4.2. Penelitian dan Pengembangan Humaniora Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Luar an: Meningkatnya penelitian dan pengembangan di bidang humaniora kesehatan dan p emberdayaan masyarakat. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 ada lah: a. Jumlah produk/model intervensi/prototipe/standar/ kajian di bidang human iora kesehatan dan pemberdayaan masyarakat sebanyak 85 buah; b. Jumlah publikasi ilmiah di bidang humaniora kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang dimuat pa da media cetak/elektronik file: - Nasional sebanyak 85 kali; atau - Internasiona l sebanyak 10 kali. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Intervensif Luaran: Meningkatnya penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan masyarakat intervensif. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Ju mlah produk/model intervensi/prototipe/ standar/kajian di bidang kesehatan masya rakat intervensif sebanyak 74 buah; b. Jumlah publikasi ilmiah di bidang kesehat an masyarakat intervensif yang dimuat pada media cetak dan elektronik: - Nasiona l sebanyak 85 kali; - Internasional sebanyak 10 kali. A.4.3. 60 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA A.4.4. Penelitian dan Pengembangan Klinik Terapan dan Epidemiologi Klinik Luaran: Menin gkatnya penelitian dan pengembangan di bidang klinik terapan dan epidemiologi kl inik. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah pro duk/model intervensi/prototipe/ standar/formula di bidang klinik terapan dan epi demiologi klinik sebanyak 65 buah; b. Jumlah publikasi ilmiah di bidang klinik t erapan dan epidemiologi klinik yang dimuat pada media cetak dan elektronik: - Na sional sebanyak 90 kali; - Internasional sebanyak 10 kali; c. Jumlah formula jam u yang telah distandarisasi sebanyak 20 formula. Penelitian dan Pengembangan Bio medis dan Teknologi Dasar Kesehatan Luaran: Meningkatnya penelitian dan pengemba ngan di bidang biomedis dan teknologi dasar kesehatan. Indikator pencapaian luar an tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah produk/model/prototipe/standar/for mula di bidang biomedis dan teknologi dasar kesehatan sebanyak 26 buah; b. Jumla h publikasi ilmiah di bidang biomedis dan teknologi dasar kesehatan yang dimuat pada media cetak dan elektronik : - Nasional sebanyak 90 kali; - Internasional s ebanyak 10 kali; A.4.5. 61 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Jumlah tanaman obat yang telah distandarisasi sebanyak 8 jenis. A.4.6. Dukungan Manajemen dan Dukungan Pelaksanaan Tugas Tekni s Lainnya pada Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Luaran: Meningkatny a dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas generik dan tugas teknis lainnya pada program penelitian dan pengembangan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah terlaksananya hasil-hasil kegiatan antara lain: a. Regulasi Li tbangkes sebanyak 70 jenis; b. Manajemen bidang ilmiah sebanyak 5 jenis; c. Mana jemen kesehatan sebanyak 5 jenis; d. Manajemen etik sebanyak 5 jenis; e. Manajem en tahap-tahap dan komponen kontinum penelitian dan pengembangan kesehatan seban yak 5 jenis; f. Manajemen kerjasama litbang internasional sebanyak 5 jenis; g. M anajemen pembinaan keteknisan litbang daerah sebanyak 50 kali; h. Manajemen fung si generik litbang (perencanaan, umum dan keuangan, hukum dan organisasi kepegaw aian, Jaringan Informasi IPTEK dan Promosi Penelitian/JIIPP) sebanyak 20 jenis. 62 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.1. PROGRAM BINA GIZI DAN KESEHATAN IBU DAN ANAK Sasaran hasil program: Meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh m asyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah: 1. Persen tase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (cakupan PN) sebesar 90%; 2. Cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) sebesar 90%; 3. Persentase balita diti mbang berat badannya (jumlah balita ditimbang/balita seluruhnya (D/S)) sebesar 8 5%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan mel iputi: B.1.1. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Luaran: Meningkat nya kualitas pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi. Indikator untuk pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (cakupan PN) sebesar 90%; b. Persentase ibu hamil mendapat pelayanan Ante Natal Care (ANC) sebesar 100%; c. Persentase ibu hamil yang menda patkan pelayanan antenatal (cakupan K4) sebesar 95%; d. Persentase fasilitas pel ayanan kesehatan yang memberikan pelayanan KB sesuai standar sebesar 100%; e. Pe rsentase ibu nifas yang mendapatkan pelayanan (Cak KF) sebesar 90%; 63 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA f. Persentase ibu hamil, bersalin, dan nifas yang mendapatkan penanganan komplikasi kebidanan (cakupan PK) sebesar 75%; g. Persentase pasangan usia subur yang menj adi peserta KB aktif (CPR) sebesar 65%; h. Persentase Puskesmas rawat inap yang mampu PONED sebesar 100%; i. Persentase Puskesmas mampu Pelayanan Kesehatan Repr oduksi Esensial (PKRE) terpadu sebesar 100%; j. Persentase Puskesmas mampu tatal aksana Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan terhadap Perempuan (PPKtP) termas uk korban Pemberantasan Tindak Pidana dan Perdagangan Orang (PTPPO) sebesar 100% ; k. Persentase unit utama Kementerian Kesehatan yang membuat perencanaan dan me laksanakan kegiatan yang responsif gender sebesar 100%; l. Persentase Kab/Kota y ang melakukan pelayanan terhadap ibu dengan kebutuhan penanganan jiwa khusus (se perti: depresi pasca persalinan) sebesar 100%. B.1.2. Pembinaan Pelayanan Keseha tan Anak Luaran: Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan anak. Indikator untuk pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Cakupan kunjungan neonata l pertama (KN1) sebesar 90%; b. Cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN lengkap) sebesar 88%; 64 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 90%; d. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita sebesar 85%; e. Cakupan penanganan neonatal komplikasi sebesar 80%; f. Cakupan SD/MI melaksanakan penjaringan siswa kelas I sebesar 95%; g. Persenta se Kab/Kota yang memiliki minimal 4 Puskesmas mampu laksana PKPR (Pelayanan Kese hatan Peduli Remaja) sebesar 90%; h. Persentase Kab/Kota yang memiliki minimal 2 Puskesmas yang mampu tatalaksana kasus kekerasan terhadap anak (KTA) sebesar 90 %; i. Persentase Kab/Kota yang melakukan pelayanan terhadap anak dengan kebutuha n penanganan jiwa khusus (seperti: autis, GPPH, RM) sebesar 40%. B.1.3. Pembinaa n Pelayanan Kesehatan Komunitas dan Gender Luaran: Meningkatnya kualitas pelayan an kesehatan kepada komunitas dan gender. Indikator untuk pencapaian tersebut pa da tahun 2014 adalah: a. Jumlah Puskesmas yang menjadi Puskesmas Perawatan di da erah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar berpenduduk sebanyak 96 Puskesmas; b. Terselenggaranya pelayanan kesehatan di 101 Puskesmas prioritas di perbatasa n dan pulau-pulau kecil terluar berpenduduk; c. Jumlah Puskesmas dan jaringannya yang melakukan pelayanan kesehatan dasar sebanyak 9.000 unit; 65 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Jumlah Puskesmas santun usia lanjut sebanyak 602 Puskesmas; e. Jumlah Kab/Kot a memiliki minimal 2 Puskesmas yang menyelenggarakan upaya kesehatan perkotaan s ebanyak 120 Kab/Kota; f. Jumlah Kab/Kota memiliki minimal 2 Puskesmas yang menye lenggarakan program kesehatan indera sebanyak 125 Kab/Kota; g. Persentase Puskes mas berfungsi baik sebesar 100%; h. Jumlah Kab/Kota minimal memiliki 3 Puskesmas yang menyelenggarakan upaya kesehatan olahraga sebanyak 155 Kab/Kota; i. Cakupa n Kab/Kota yang memiliki minimal 2 Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehata n tradisional sebesar 20%. j. Jumlah Kab/Kota yang memiliki organisasi masyaraka t yang peduli kesehatan jiwa sebanyak 100 Kab/Kota; k. Jumlah TPKJM di Kab/Kota yang aktif sebanyak 100 Kab/Kota; l. Jumlah Kab/Kota yang telah menerapkan NSPK Pasung sebanyak 200 Kab/Kota; m. Jumlah Kab/Kota yang memiliki tim penanganan ke sehatan jiwa pasca bencana sebanyak 40 Kab/Kota. B.1.4. Pembinaan Gizi Masyaraka t Luaran: Meningkatnya kualitas penanganan masalah gizi masyarakat. Indikator un tuk pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: 66 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA a. Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan sebesar 100%; b. Persent ase Balita ditimbang berat badannya (D/S) sebesar 85%; c. Persentase bayi usia 0 -6 bulan mendapat ASI eksklusif sebesar 80%; d. Cakupan rumah tangga yang mengko nsumsi garam beryodium sebesar 90%; e. Persentase usia 6-59 bulan dapat kapsul v itamin A sebesar 85%; f. Persentase ibu hamil mendapat Fe 90 tablet sebesar 85%; g. Persentase Kab/Kota yang melaksanakan surveilans gizi sebesar 100%; h. Perse ntase penyediaan bufferstock MP-ASI sebesar 100%. B.1.5. Pembinaan Keperawatan d an Kebidanan Luaran: Meningkatnya pembinaan keperawatan dan kebidanan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah Puskesmas yang men erapkan pelayanan kebidanan sesuai standar dan pedoman sebanyak 350 Puskesmas; b . Jumlah Puskesmas yang menerapkan pelayanan keperawatan sesuai standar dan pedo man sebanyak 210 Puskesmas; c. Jumlah Puskesmas yang memberikan pelayanan kepera watan kesehatan masyarakat pada penyakit penyebab kematian tertentu sesuai stand ar dan pedoman sebanyak 210 Puskesmas; 67 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Jumlah RS yang menerapkan pelayanan keperawatan sesuai standar dan pedoman se banyak 160 RS; e. Jumlah RS yang menerapkan pelayanan kebidanan sesuai standar d an pedoman sebanyak 20 RS; f. Jumlah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan keper awatan kepada ODHA dan EID (Emerging Infectious Disease) sebanyak 160 RS; g. Jum lah RS yang melaksanakan Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2 KP) sebanyak 160 RS; h. Jumlah RS yang menerapkan Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) Klinik bagi perawat dan bidan sebanyak 160 RS; i. Jumlah RS yang melaksan akan pelayanan keperawatan gawat darurat sesuai standar sebanyak 170 RS; j. Juml ah RS yang memberikan pelayanan rawat gabung ibu dan bayi sesuai standar sebanya k 33 RS; k. Jumlah RS yang menerapkan surveilans PPI oleh IPCN (Infection Preven tion Control Nurse) sebanyak 150 RS; l. Jumlah NSPK pelayanan keperawatan dan ke bidanan yang disusun sebanyak 40 buah; m. Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan y ang melaksanakan pelayanan keperawatan keluarga sebanyak 350 fasilitas kesehatan ; n. Jumlah Puskesmas di DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan) yang m elaksanakan Pelayanan Perkesmas/PHN sebanyak 111 Puskesmas; 68 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o. Jumlah Puskesmas yang menyediakan PHN Kit/home care kit sebanyak 350 Puskesma s; p. Jumlah Puskesmas yang melaksanakan pelayanan keperawatan di kelompok khusu s dan komunitas sebanyak 210 Puskesmas; q. Jumlah Puskesmas/fasilitas kesehatan dasar lain yang melaksanakan pelayanan rawat gabung ibu dan bayi sesuai standar sebanyak 480 Puskesmas/fasilitas kesehatan dasar. B.1.6. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan An ak Luaran: Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Indikator untuk pencapaian lu aran tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Jumlah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang beroperasi sebanyak 78.000 Poskesdes; b. Persentase ketersediaan dukungan s arana dan prasarana KIA dan Gizi di Puskesmas sebesar 6%. B.2. PROGRAM PEMBINAAN UPAYA KESEHATAN Sasaran hasil Program Pembinaan Upaya Kesehata n adalah meningkatkan upaya kesehatan dasar, rujukan, tradisional, alternatif da n komplementer, kesehatan kerja, olah raga dan matra, serta standarisasi, akredi tasi, dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 69 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah: Jumlah kota di Indon esia yang memiliki RS standar kelas dunia (world class) sebanyak 5 kota. Untuk m encapai sasaran hasil tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi: B.2.1. Pembina an Upaya Kesehatan Dasar Luaran: Meningkatnya pelayanan kesehatan dasar kepada m asyarakat. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Perse ntase Puskesmas yang menerapkan standar pelayanan medik dasar sebesar 90%; b. Pe rsentase fasilitas kesehatan dasar selain Puskesmas yang menerapkan standar pela yanan medik dasar sebesar 40%; c. Persentase fasilitas kesehatan dasar yang mela ksanakan pelayanan kedokteran keluarga sebesar 70%; d. Persentase fasilitas kese hatan dasar yang telah melaksanakan pelayanan kedokteran gigi keluarga sebesar 4 0%; e. Jumlah Puskesmas yang melayani kesehatan jiwa dan NAPZA sebesar 278 Puske smas. B.2.2. Pembinaan Upaya Kesehatan Rujukan Luaran: Meningkatnya pelayanan me dik spesialistik kepada masyarakat. Indikator pencapaian luaran tersebut pada ta hun 2014 adalah: a. Jumlah kota yang memiliki RS memenuhi standar kelas dunia (w orld class) sebanyak 5 kota; 70 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Persentase RS Kab/Kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%; c. Persentase RS Pemerintah menyelenggarakan pelayanan rujukan bagi ODHA (Orang dengan HIV dan A IDS) sebesar 100%; d. Jumlah Kab/Kota yang dilayani oleh RS bergerak di Daerah T ertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) sebanyak 18 RS; e. Persentase RS daer ah dengan kesiapan pelayanan EID (Emerging Infectious Disease) TB sebesar 100%; f. Persentase RS Kab/Kota yang menerapkan SPM RS sebesar 100%; g. Jumlah RS Prov insi dan RS Kab/Kota dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa dan NAPZA sebesar 156 RS; h. Persentase RS (Kelas A dan B) yang mengembangkan pelayanan Geriatri sebesar 60%; i. Persentase RS pemerintah yang siap melaksanakan pencegahan dan p engendalian infeksi TB sebesar 80%; j. Persentase RS yang melaksanakan program K eselamatan Pasien sebesar 60%; k. Jumlah RS pendidikan yang melaksanakan pengend alian resistensi antimikroba sebanyak 60 RS; l. Jumlah pelayanan jantung dan pem buluh darah di RS dan jejaringnya sesuai standar sebanyak 60 RS; 71 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA m. Jumlah RS Pendidikan yang menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan standar RS Pendidikan sebesar 75 RS; n. Jumlah RS yg melaksanakan perawatan KMC dan IMD se banyak 37 RS; o. Persentase RSU pemerintah siap melaksanakan Pencegahan dan Peng endalian Infeksi (PPI) sebesar 75%; p. Jumlah RS Kab/Kota yang menyediakan 10 TT untuk pelayanan kegawat daruratan psikiatrik sebanyak 100 RS; q. Persentase RSJ yang menerapkan SPM RSJ sebesar 100%; r. Persentase RSJ yang memberikan pelayan an psikiatri anak dan remaja sesuai pedoman sebesar 100%; s. Persentase RSJ yang memberikan pelayanan psikogeriatrik sesuai pedoman sebesar 100%; t. Persentase RSJ yang memberikan pelayanan psikiatrik forensik sesuai pedoman sebesar 100%; u . Persentase RSJ yang memberikan pelayanan penanggulangan ketergantungan NAPZA s esuai pedoman sebesar 100%; v. Persentase RSJ yang menerapkan Model Pelayanan Ke perawatan Profesional (MPKP) sebesar 100%; w. Persentase RSJ yang memberikan pel ayanan rehabilitasi psikososial sesuai pedoman sebesar 100%; x. Persentase Kab/K ota yang telah melakukan pemeliharaan, peningkatan, dan penanggulangan intelegen sia kesehatan sebesar 50%; 72 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA y. Jumlah kebijakan yang dihasilkan tentang pemeliharaan, peningkatan kemampuan, dan penanggulangan masalah kesehatan intelegensia sebanyak 30 kebijakan; z. Jum lah pelaksanaan penilaian intelegensia pejabat pusat dan daerah sebanyak 600; aa . Jumlah Kab/Kota yang memiliki UTD sebanyak 496 Kab/Kota; bb. Jumlah UTD yang m elaksanakan pelayanan darah aman sebanyak 402 UTD; cc. Jumlah RS pemerintah yang memiliki BDRS sebanyak 432 RS; dd. Jumlah RS Rujukan Flu Burung yang memberikan pelayanan sesuai pedoman sebanyak 100 RS; ee. Persentase RS pemerintah yang mel aksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar sebesar 100%; ff. Persentase en trypoint, transito, dan RS rujukan TKIB melaksanakan pelayanan medik dan gawat d arurat bagi TKIB sebesar 100%; gg. Persentase RS rujukan haji yang melaksanakan pelayanan medik dan gawat darurat bagi jemaah haji yang memerlukan sebesar 100%; B.2.3. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Tradisional/ Komplementer Alter natif Luaran: Meningkatnya pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan tradisional/ komplementer alternatif. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 ad alah: 73 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA a. Jumlah RS yang menyediakan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer alter natif sebanyak 50 RS; b. Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan tradisional yang m elaksanakan pelayanan kesehatan tradisional sesuai pedoman kesehatan sebanyak 10 0 unit; c. Jumlah metode pelayanan kesehatan komplementer alternatif yang telah ditetapkan aman dan efektif untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan sebanyak 6 metode; d. Jumlah RS pendidikan melaksanakan sinergi pelayanan komplementer alt ernatif sebanyak 24 RS; B.2.4. Pembinaan Upaya Kesehatan Kerja, Olahraga, dan Ma tra Luaran: Meningkatnya pembinaan upaya kesehatan kerja, olahraga, dan matra. I ndikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase Kab/Ko ta yang minimal mempunyai 4 Puskesmas yang telah melaksanakan upaya kesehatan ke rja sebesar 50%; b. Persentase Kab/Kota dengan sarana kesehatan (Rumah Sakit, La boratorium, Gudang Farmasi, Dinas Kesehatan) Pemerintah telah menerapkan kesehat an kerja sebesar 50%; c. Jumlah Kab/Kota yang melaksanakan pengendalian faktor r isiko dan pelayanan kesehatan penyelaman sebanyak 240 Kab/Kota; 74 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Jumlah KKP yang melaksanakan kesehatan penerbangan sebanyak 24 KKP; e. Jumlah lokasi situasi khusus dan pengungsi yang dikendalikan faktor risiko sebanyak 40 0 lokasi. B.2.5. Pembinaan Standarisasi, Akreditasi, dan Peningkatan Mutu Pelaya nan Kesehatan Luaran: Terselengggaranya standarisasi, akreditasi, dan peningkata n mutu pelayanan kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase RS yang terakreditasi sebesar 90%; b. Jumlah Labkes (BLK) yang terakreditasi sebanyak 22 Labkes; c. Persentase RS yang melaksanakan pelay anan keterapian fisik sesuai standar sebesar 65%. d. Jumlah labkes yang mengikut i program pemantapan mutu eksternal sebanyak 800 labkes; e. Persentase RS pemeri ntah yang melaksanakan pelayanan radiologi diagnostik sesuai standar sebesar 65% ; f. Jumlah RS pemerintah yang melaksanakan pelayanan radioterapi sesuai standar sebanyak 22 RS; g. Jumlah RS pemerintah yang melaksanakan pelayanan kedokteran nuklir sesuai standar sebanyak 12 RS; h. Jumlah labkes rujukan kultur TB (BBLK, BLK, dan RS A dan B) sebanyak 46 labkes; 75 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA i. Jumlah laboratorium kesehatan rujukan kultur DST TB tersertifikasi (BBLK, BLK, R S dan Lab. Univ) sebanyak 17 labkes; j. Jumlah laboratorium rujukan Early Infant Diagnostic (EID) HIV sebanyak 3 labkes; k. Persentase laboratorium yang melaksa nakan pelayanan NAPZA sesuai standar sebesar 100%; l. Persentase RS yang melaksa nakan pelayanan keteknisian medik sesuai standar sebesar 65%. B.2.6. Pelayanan K esehatan Rujukan bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) Luaran: Meningkatnya pelayan an kesehatan rujukan bagi penduduk miskin di RS. Indikator pencapaian luaran ter sebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase RS yang melayani pasien penduduk mis kin peserta program Jaminan Kesehatan Masyarakat sebesar 95%; b. Jumlah kunjunga n penduduk miskin ke RS sebanyak 9 juta penduduk. Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) Luaran: Meningkatnya pelayanan kesehatan dasar ba gi penduduk miskin di Puskesmas. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah jumlah Puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi pen duduk miskin di Puskesmas sebanyak 9.000 Puskesmas; B.2.7. 76 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.2.8. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Luaran: Tersedianya Bantuan Operasional Kese hatan (BOK) untuk Puskesmas. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 201 4 adalah: a. Jumlah Puskesmas yang mendapatkan bantuan operasional kesehatan dan menyelenggarakan lokakarya mini untuk menunjang pencapaian SPM sebanyak 9.000 P uskesmas; b. Jumlah pedoman sebanyak 5 buah; c. Jumlah instrument teknis sebanya k 5 buah; d. Jumlah dokumen monitoring dan evaluasi BOK sebanyak 5 buah. Dukunga n Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pembinaan Upaya Ke sehatan Luaran: Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lai nnya pada Program Pembinaan Upaya Kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebu t pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) vertikal yang di tingkatkan sarana dan prasarananya sebanyak 34 UPT; b. Peningkatan jumlah RS/BLK yang terpenuhi fasilitas sarana dan prasarana sebanyak 444 RS dan 22 BLK; c. Pe ngembangan UPT Puskesmas sebanyak 8 unit; d. Jumlah NSPK di bidang pelayanan med ik yang harus ditetapkan sebanyak 200 buah; B.2.9. 77 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA e. Persentase RS yang melaksanakan SIRS baik online maupun manual sebesar 100%; f. Jumlah provinsi yang mendukung pelaksanaan program Upaya Pelayanan Kesehatan (Dekon) sebanyak 33 provinsi. B.3. PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN Sasaran hasil program: Menurunnya angka kesakitan, kematian dan kecac atan akibat penyakit. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah :. 1. Persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapat imunisasi dasar lengkap sebe sar 90%; 2. Angka penemuan kasus Malaria menjadi 1 per 1.000 penduduk; 3. Jumlah kasus TB menjadi 224 per 100.000 penduduk; 4. Persentase Kasus baru TB Paru (BT A positif) yang ditemukan sebesar 90%; 5. Persentase Kasus baru TB Paru (BTA pos itif) yang disembuhkan sebesar 88%; 6. Angka kesakitan penderita DBD menjadi 51 per 100.000 penduduk; 7. Prevalensi kasus HIV menjadi <0,5% pada populasi dewasa ; 8. Jumlah kasus Diare menjadi 285 per 1.000 penduduk; 9. Jumlah desa yang mela ksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebanyak 20.000 desa; 10. Per sentase Kab/Kota/Kawasan yang telah melaksanakan Kab/Kota/Kawasan sehat sebesar 100%; 78 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 11. 12. 13. 14. 15. Persentase Provinsi dengan angka kasus baru TB Paru BTA positif/ CDR (Case Detec tion Rate) minimal 70% sebesar 50%; Persentase provinsi mencapai angka keberhasi lan pengobatan kasus baru TB Paru BTA positif/SR (Success Rate) minimal 85% sebe sar 88%; Angka kematian diare (CFR) pada saat KLB <1; Persentase provinsi yang m emiliki Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebesar100%; Persentase provinsi yang melakukan pembinaan pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular ( SE, deteksi dini, KIE dan tata laksana) sebesar 100%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan meliput i: B.3.1. Pembinaan Imunisasi dan Karantina Kesehatan Luaran: Meningkatnya pembi naan di bidang imunisasi dan karantina kesehatan. Indikator untuk pencapaian lua ran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase bayi usia 0-11 bulan yang men dapat imunisasi dasar lengkap di tingkat Kab/Kota sebesar 90%; b. Persentase des a yang mencapai UCI sebesar 100%; c. Penemuan Kasus Non Polio AFP Rate per 100.0 00 anak < 15 tahun sebesar 2; d. Persentase Penyelidikan Epidemiologi (PE) < 24 jam pada Desa/Kelurahan yang mengalami KLB sebesar 100%; e. Persentase alat angk ut yang diperiksa sesuai dengan standar kekarantinaan sebesar 100%; 79 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA f. Persentase anak usia sekolah dasar yang mendapat imunisasi sebesar 98%; g. Perse ntase kasus potensial PHEIC yang terdeteksi di pelabuhan, bandara dan pos lintas batas darat sebesar 100%; h. Persentase bebas vektor penular penyakit di perime ter area (House Index = 0) dan Buffer Area (House Index < 1) di lingkungan pelab uhan, bandara dan pos lintas batas darat sebesar 100%; i. Persentase setiap keja dian PHEIC di wilayah episenter pandemi dilakukan kegiatan karantina < 24 jam se telah ditetapkan oleh pemerintah sebesar 100%. B.3.2. Pengendalian Penyakit Menu lar Langsung Luaran: Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit men ular langsung. Indikator untuk pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Prevalensi kasus HIV sebesar <0,5 pada populasi dewasa; b. Jumlah kasus TB Paru sebesar 224 per 100.000 penduduk; c. Persentase Kasus baru TB Paru (BTA po sitif) yang ditemukan sebesar 90%; d. Persentase Kasus baru TB Paru (BTA positif ) yang disembuhkan sebesar 88%; e. Jumlah kasus Diare sebanyak 285 per 1.000 pen duduk; f. Persentase ODHA yang mendapatkan ART sebesar 50% atau sebanyak 40.000 ODHA; 80 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA g. Persentase penduduk 15 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV dan AIDS sebesar 95%; h. Jumlah provinsi yang menyelenggarakan surveilans HIV dan Sypili s sebanyak 33 provinsi; i. Persentase Provinsi dengan angka kasus baru TB Paru B TA positif/ CDR (Case Detection Rate) minimal 70 % sebesar 50%; j. Persentase pr ovinsi mencapai angka keberhasilan pengobatan kasus baru TB Paru BTA positif/SR (Success Rate) minimal 85% sebesar 88%; k. Angka kematian diare (CFR) pada saat KLB sebesar < 1. l. Persentase cakupan penemuan dan tatalaksana penderita pneumo nia balita sebesar 100%; m. Angka Penemuan Kasus Baru (NCDR) Kusta < 5 per 100.0 00 penduduk; n. Jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima kons eling dan testing HIV sebanyak 700.000 orang; o. Angka penemuan kasus baru framb usia per 100.000 sebesar < 1000; p. Angka kecacatan tingkat 2 kusta per 100.000 sebesar 0,6. B.3.3. Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Luaran: Meningkatny a pencegahan dan penanggulangan penyakit bersumber binatang. Indikator untuk pen capaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Angka kesakitan penderita DB D sebesar 51 per 100.000 penduduk; 81 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Angka penemuan kasus malaria sebesar 1 per 1.000 penduduk; c. Persentase kasu s suspect flu burung yang ditemukan, ditangani sesuai standar sebesar 100%; d. P ersentase kasus zoonosa lainnya (rabies, antraks, pes, leptospirosis) yang ditan gani sesuai standar sebesar 90%; e. Persentase cakupan pengobatan massal Filaria sis terhadap jumlah penduduk endemis sebesar 65%; f. Persentase Kab/Kota yang me lakukan mapping vektor sebesar 70%; g. Persentase Angka Bebas Jentik (ABJ) sebes ar >95%; h. Persentase KLB malaria yang dilaporkan dan ditanggulangi sebesar 100 %. B.3.4. Penyehatan Lingkungan Luaran: Meningkatnya penyehatan dan pengawasan k ualitas lingkungan. Indikator untuk pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 a dalah : a. Persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air minum yang berku alitas sebesar 67%; b. Persentase kualitas air minum yang memenuhi syarat sebesa r 100%; c. Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebesar 75%; 82 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Persentase Kab/Kota/Kawasan yang telah melaksanakan Kab/Kota/Kawasan sehat se besar 100%; e. Persentase Penduduk Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) sebes ar 100%; f. Cakupan daerah potensial yang melaksanakan strategi adaptasi dampak kesehatan akibat perubahan iklim sebesar 100%; g. Persentase cakupan tempat-temp at umum yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 85%; h. Persentase cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 85%; i. Seluruh provinsi yang memfasilita si penyelenggaraan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) sebesar 100% Kab/Ko ta; j. Persentase cakupan tempat pengolahan makanan yang memenuhi syarat kesehat an sebesar 75%; k. Seluruh provinsi memfasilitasi 50% penyelenggaraan kota sehat yang sesuai standar. B.3.5. Pengendalian Penyakit Tidak Menular Luaran: 1. Menu runnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular; 2. Meningkatn ya pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular. Indikator untuk pencapa ian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Persentase provinsi yang memilik i Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebesar 100%; b. Persentase provinsi y ang melakukan pembinaan pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak 83 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA menular (SE, deteksi dini, KIE dan tata laksana) sebesar 100%; c. Persentase Kab /Kota yang melaksanakan pencegahan dan penaggulangan penyakit tidak menular (SE, deteksi dini, KIE dan tata laksana) sebesar 30%; d. Persentase Kab/Kota yang me laksanakan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan Clinical Breast Examination (CB E) sebesar 25%; e. Persentase Kab/Kota yang mempunyai peraturan perundangan-unda ngan (Surat Edaran/Instruksi/ SK/Peraturan Walikota/Bupati/Perda) tentang penceg ahan dan penanggulangan dampak merokok terhadap kesehatan sebesar 30%. B.3.6. Du kungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Luaran: Meningkatnya dukungan manajemen dan p elaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Pengendalian Penyakit dan Penyehata n Lingkungan. Indikator untuk pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Jumlah UPT vertikal yang ditingkatkan sarana dan prasarananya sebanyak 59 U PT; b. Peningkatan jumlah, jenis, kualitas, sarana dan prasarana pada seluruh sa tker pusat sebanyak 6 satker; c. Jumlah rencana koordinasi Ditjen Pengendalian P enyakit dan Penyehatan Lingkungan yang dilakukan sebanyak 12 kali dalam 1 tahun; 84 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Jumlah dokumen perencanaan dan anggaran yang dihasilkan sebanyak 3 dokumen; e . Jumlah dokumen data dan informasi yang dihasilkan sebanyak 5 dokumen; f. Perse ntase SDM yang dibina sebesar 90%. B.4. PROGRAM KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN S asaran hasil Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah: Persentase ketersed iaan obat dan vaksin sebesar 100%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka k egiatan yang akan dilakukan meliputi: B.4.1. Peningkatan Ketersediaan Obat Publi k dan Perbekalan Kesehatan Luaran: Meningkatnya ketersediaan Obat Essensial Gene rik di Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar. Indikator pencapaian luaran tersebut pa da tahun 2014 adalah: a. Persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%; b . Persentase obat yang memenuhi standar, cukup dan terjangkau sebesar 95%; c. Ke tersediaan obat per kapita per tahun di sarana pelayanan kesehatan dasar sebesar Rp. 18.000 per kapita; d. Persentase Instalasi Farmasi Kab/Kota sesuai standar sebesar 80%. 85 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.4.2. Peningkatan Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Ruma h Tangga (PKRT) Luaran: Meningkatnya mutu dan keamanan alat kesehatan dan Perbek alan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT). Indikator pencapaian luaran tersebut pada ta hun 2014 adalah: a. Persentase sarana produksi alat kesehatan dan PKRT yang meme nuhi persyaratan cara produksi yang baik sebesar 80%; b. Persentase sarana distr ibusi alat kesehatan yang memenuhi persyaratan distribusi sebesar 70%; c. Persen tase produk alat kesehatan dan PKRT yang beredar memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan manfaat sebesar 95%. Peningkatan Pelayanan Kefarmasian Luaran: Meningk atnya penggunaan obat rasional melalui pelayanan kefarmasian yang berkualitas un tuk tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal. Indikator pencapaian luaran te rsebut pada tahun 2014 adalah: a. Persentase Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pemer intah yang melaksanakan pelayanan kefarmasiaan sesuai standar sebesar 50%; b. Pe rsentase Puskesmas Perawatan yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai stan dar sebesar 30%; c. Persentase penggunanaan obat rasional di sarana pelayanan ke sehatan sebesar 70%. B.4.3. 86 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B.4.4. Peningkatan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Luaran: 1. Meningkatnya produksi bahan baku dan obat lokal serta mutu produksi dan distribusi kefarmasian. 2. Me ningkatnya kualitas produksi dan distribusi kefarmasian 3. Meningkatnya produksi bahan baku obat dan obat tradisional produksi di dalam negeri. Indikator pencap aian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah bahan baku obat dan obat tradisional produksi di dalam negeri sebanyak 45 jenis; b. Jumlah standar produk kefarmasian yang disusun dalam rangka pembinaan produksi dan distribusi sebanya k 10 standar; c. Jumlah industri farmasi nasional memperoleh prakualifikasi WHO untuk produk obat program sebanyak 3 industri. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaa n Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Luaran: Menin gkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Kef armasian dan Alat Kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 201 4 adalah: a. Persentase dokumen anggaran yang diselesaikan (sesuai usulan, pemen uhan kebutuhan sumberdaya manusia dan prasarana, pertanggung jawaban keuangan ya ng sesuai SAI, dan peraturan per-UU) sebesar 100%; B.4.5. 87 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Persentase dukungan manajemen dan pelaksanaan Program Kefarmasian dan Alat Keseh atan di daerah dalam rangka dekonsentrasi sebesar 100%. PEMBERDAYAAN B.5. PROGRAM PENGEMBANGAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN Sasaran hasil program Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan adalah meningk atnya ketersediaan dan mutu sumber daya manusia kesehatan sesuai standar pelayan an kesehatan. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah: 1. Per sentase tenaga kesehatan yang professional dan memenuhi standar kompetensi sebes ar 80%; 2. Jumlah lembaga pendidikan tenaga kesehatan yang memenuhi standar 39 P oltekkes; 3. Persentase fasilitas kesehatan yang mempunyai SDM kesehatan sesuai standar 80%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dila kukan meliputi: B.5.1. Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan Luaran: Menin gkatnya perencanaan dan pendayagunaan SDM kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah tenaga kesehatan yang didayagunakan dan diberi insentif di DTPK sebanyak 7.020 orang; b. Jumlah residen senior yang didayagunakan dan diberikan insentif sebanyak 4.850 orang; c. Jumlah standar ket enagaan di fasilitas pelayanan kesehatan sebanyak 20 buah; 88 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Jumlah tenaga kesehatan yang didayagunakan di dalam dan di luar negeri sebany ak 10.500 orang; e. Jumlah Kab/Kota yang telah mampu melaksanakan perencanaan ke butuhan SDM Kesehatan sebanyak 105 Kab/Kota. B.5.2. Pendidikan dan Pelatihan Apa ratur Luaran: Meningkatnya pendidikan dan pelatihan aparatur. Indikator pencapai an luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah pelatihan bagi aparatur yan g terakreditasi sebanyak 2.000 pelatihan; b. Jumlah lembaga unit pelatihan keseh atan yang terakreditasi sebanyak 107 lembaga; c. Jumlah aparatur yang telah meng ikuti pelatihan penjenjangan, fungsional, dan manajemen kesehatan sebanyak 193.2 50 orang. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Luaran: Meningka tnya pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah tenaga pendidik dan kependidi kan yang ditingkatkan kemampuannya sebanyak 13.000 orang; b. Jenis pendidikan te naga kesehatan yang dikembangkan sebanyak 38 jenis; c. Jumlah tenaga kesehatan y ang mengikuti pelatihan teknis fungsional sebanyak 33.030 orang; B.5.3. 89 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Jumlah kurikulum pendidikan yang dikembangkan yang mengacu pada standar nasio nal pendidikan sebanyak 20 buah; e. Persentase institusi diknakes yang diakredit asi dan mendapat strata A sebesar 60%; f. Jumlah tenaga pendidik yang bersertifi kat (UU No. 14/2005) sebanyak 4.500 orang. B.5.4. Sertifikasi, Standarisasi dan Peningkatan Mutu SDM Kesehatan Luaran: Terselenggaranya sertifikasi, standarisas i dan peningkatan mutu SDM Kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah SDM kesehatan di fasilitas kesehatan yang telah dit ingkatkan kemampuannya melalui pendidikan berkelanjutan sebanyak 9.500 orang; b. Persentase profesi tenaga kesehatan yang memiliki standar kompetensi sebesar 90 %; c. Jumlah tenaga kesehatan selain dokter dan dokter gigi yang memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) sebanyak 20.000 orang; d. Jumlah dokter peserta internshi p sebanyak 10.320 orang. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Luara n: Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Pro gram Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. B.5.5. 90 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah: a. Jumlah UPT yang ditingkatkan sarana dan prasarananya sebanyak 60 unit; b. Jumlah lulusan tenaga kesehatan dari lembaga pendidikan pemerintah sebanyak 75.000 orang; c. Jumlah te naga pendidik yang melaksanakan riset sebanyak 2.745 orang; d. Jumlah dokumen UU , PP, Permenkes, Kepmenkes, norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) PPSDM K esehatan sebanyak 166 buah; e. Jumlah institut kesehatan yang terbentuk sebanyak 3 institut; f. Presentase Satuan Kerja (Satker) yang melaksanakan SIM PPSDM Kes ehatan online sebesar 75%. 91 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB IV 92 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PENUTUP Renstra Kementerian Kesehatan ini diharapkan dapat digunakan sebagai acu an dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian upaya Kementerian Kesehatan dal am kurun waktu lima tahun (2010-2014) sehingga hasil pencapaiannya dapat diukur dan dipergunakan sebagai bahan penyusunan laporan kinerja tahunan Kementerian Ke sehatan. Semoga upaya Kementerian Kesehatan sampai dengan tahun 2014 dapat lebih terarah dan terukur. Dalam kaitannya dengan pengukuran kinerja dan sebagai masu kan bagi perencanaan selanjutnya, Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014 ini ak an dievaluasi pada pertengahan (2012) dan akhir periode 5 tahun (2014) sesuai ke tentuan yang berlaku. Penyusunan Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014 melibat kan stakeholder terkait baik pusat dan daerah. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan Renstra ini diucapkan terima kasih. Tentunya Renstra Kementeria n Kesehatan tahun 2010-2014 ini dapat dilaksanakan dan mencapai tujuannya, bila dilakukan dengan dedikasi yang tinggi dan kerja keras dari segenap aparatur kese hatan di lingkungan Kementerian Kesehatan dan jajarannya baik di Pusat maupun Da erah, serta masyarakat. Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH 93 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 94 Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014

LAMPIRAN

Lampiran III Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010 - 2014 DAFTAR SINGKATAN

AFTA AIDS AKB AKI Alkes APBD APBN APEC ART ASEAN ASI ATM BABS BBLK BBLR BDRS BLK BOK BOR BTA CBE CDR CFR CPNS CPR DBD DOEN DHA DIPA Diknakes DST DTPK : Asean Free Trade Area : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Angka Kematian B ayi : Angka Kematian Ibu : Alat Kesehatan : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daer ah : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara : Asia Pacific Economic Cooperation : Anti Retroviral Treatment : Association of Southest Asian Nations : Air Susu I bu : AIDS/HIV, TBC, Malaria : Buang Air Besar Sembarangan : Balai Besar Laborato rium Kesehatan : Berat Badan Lahir Rendah : Bank Darah Rumah Sakit : Balai Latih an Kerja : Bantuan Operasional Kesehatan : Bed Occupation Rate : Basil Tahan Asa m : Clinical Breast Examination : Case Detection Rate : Case Fatality Rate : Cal on Pegawai Negeri Sipil : Contraception Prevalence Rate : Demam Berdarah Dengue : Daftar Obat Esensial Nasional : District Health Account : Daftar Isian Pelaksa naan Anggaran : Pendidikan Tenaga Kesehatan : Drug Sensitivity Test : Daerah Ter tinggal Terpencil Perbatasan dan Kepulauan e-Government : Electronic Government Lampiran - 25

e-Health : Electronic Health EID : Emerging Infectious Disease e-Procurement: El ectronic Procurement EWORS : Early Warning Outbreak Recognition System Gakin : K eluarga Miskin GPPH : Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas GTMMP : Go od Traditional Medicine Manufacturing Practice HET : Harga Eceran Tertinggi HIV : Human Immunodeficiency Virus IMD : Inisiasi Menyusui Dini IPCN : Infection Pre vention Control Nurse IPG : Indeks Pembangunan Gender IPM : Indeks Pembangungan Manusia IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IPTEKDOK : Ilmu Pengetahuan dan T eknologi Kedokteran IVA : Inspeksi Visual Asam Asetat Jamkesmas : Jaminan Keseha tan Masyarakat JIIPP : Jaringan Informasi IPTEK dan Promosi Penelitian KB : Kelu arga Berencana KEK : Kekurangan Energi Kronis KIA : Kesehatan Ibu dan Anak KIE : Komunikasi Informasi Edukasi KKP : Kantor Kesehatan Pelabuhan KLB : Kejadian Lu ar Biasa KMC : Kangaroo Mother Care KTA : Kekerasan Terhadap Anak KTR : Kawasan Tanpa Rokok LHKPN : Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara LoI : Letter of Intents Napza : Narkotika Psikotropika dan Zat Aditif lainnya Nakes : Tenaga Kes ehatan MP-ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu MDGs : Millenium Development Goal s Lampiran - 26

MPKP MoU NCDR NHA NKRI NSPK OAT ODHA OGB PAK PD3I PDBK PE Perkesmas PHA PHBS PHE IC PHN PJB PKH PKPR PKRE PKRT PMK PMT PNS PONED PONEK Poskesdes PP PPDSBK PPNS P PI : Model Pelayanan Keperawatan Profesional : Memorandum of Understanding : Newly Case Detection Rate : National Health Account : Negara Kesatuan Republik Indones ia : Norma Standar Prosedur dan Kriteria : Obat Anti Tuberkulosis : Orang Dengan HIV AIDS : Obat Generik Berlogo : Penyakit Akibat Kerja : Penyakit yang Dapat D icegah Dengan Imunisasi : Penanganan Daerah Bermasalah Kesehatan : Penyelidikan Epidemiologi : Perawatan Kesehatan Masyarakat : Province Health Account : Perila ku Hidup Bersih dan Sehat : Public Health Emergency and International Concern : Public Health Nurse : Pemberantasan Jentik Nyamuk : Program Keluarga Harapan : P elayanan Kesehatan Peduli Remaja : Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial : Per bekalan Kesehatan Rumah Tangga : Pengembangan Manajemen Kinerja : Pemberian Maka nan Tambahan : Pegawai Negeri Sipil : Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasa r : Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif : Pos Kesehatan Desa : Pe raturan Pemerintah : Program Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Kompetensi : P enyidik Pegawai Negeri Sipil : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Lampiran - 27

PPKtP : Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan terhadap Perempuan PPSDM : Pengembanga n dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia PTPPO : Pemberantasan Tindak Pidana dan P erdagangan Orang PTT : Pegawai Tidak Tetap Rakerkesnas : Rapat Kerja Kesehatan N asional Renstra K/L : Rencana Strategis Kementerian/Lembaga RenjaK/L : Rencana K erja Kementerian/Lembaga Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar RKA-K/L : Rencana Ker ja dan Anggaran Kementerian/ Lembaga RKP : Rencana Kerja Pemerintah RM : Retarda si Mental RPJPK : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kesehatan RPJPKN : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPP : Rancangan Peraturan Pemerintah RSJ : Rumah Sakit Jiwa RSU : Rumah Sakit Umum RUU : Rancangan Undang Undang SAI : Sistim Akutansi Instansi SAKIP : Sistim Akuntansi Kinerja Instansi Pemerintah Satker : Satuan Kerja SDKI : Surve i Dasar Kesehatan Indonesia SDM : Sumber Daya Manusia SE : Surveilans Epidemiolo gi SIKNAS : Sistim Informasi Kesehatan Nasional SIMKA : Sistim Informasi Manajem en Kepegawaian SIRS : Sistim Informasi Rumah Sakit SKD : Sistim Kewaspadaan Dini SKN : Sistim Kesehatan Nasional SP2KP : Sistim Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional Lampiran - 28

SPM SR STBM STR TB TKIB TPKJM TRB TTU UCI u-Health UHH UKBM UKK UPT UTD UU WDP W HO WTP WTO WUS : : m t Standar Pelayanan Minimal : Success Rate : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Surat Tanda Registrasi : Tuberkulosis : Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah : Ti Pengarah Kesehatan Jiwa Manusia : Teknologi Reproduksi Berbantu : Tempat Tempa Umum : Universal Child Immunization : Ubiquteous Health : Umur Harapan Hidup : Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat : Upaya Kesehatan Kerja : Unit Pelaksa na Teknis : Unit Transfusi Darah : Undang Undang : Wajar Dengan Pengecualian : W orld Health Organization : Wajar Tanpa Pengecualian : World Trade Organization : Wanita Usia Subur Lampiran - 29