Anda di halaman 1dari 8

Cara mengatasi panleukopenia pada kucing by tyegah Sun Aug 14, 2011 2:24 am Hallo KKers, sminggu yang

g lalu saya posting di forum ini menanyakan apakah kucing saya kena distemper/ panleukopenia. saya cuma ingin berbagi mengenai pengalaman saya dengan distemper pada kucing. saya warning dulu, postingan ini bakalan agak panjang (atau sangat panjang). tapi mudah2an berguna. saya beli kucing kira2 3 minggu yang lalu dari petshop di daerah mekarsari, cmanggis. jenisnya siam angora dan umurnya 6 bulan, betina. Saya tanya mbak2nya katanya sdh di vaksin. dan saya percaya aj. pas saya bawa pulang, ternyata kucingnya jamuran lmyn banyak. dan saya bawa ke dokter tidak bisa vaksin karna jamuran. sminggu pertama dia kliatan sehat2 saja. makanannya saya kasih RC 36. minggu kedua mulai ad tanda2 ga beres. dia mulai turun nafsu makannya. tapi masih ttp mau makan. saya mulai ga percaya kalo kucing saya sudah divaksin sebelumnya. lalu, sminggu yang lalu, kucing saya cemong tiba2 muntah yang berwarna kuning, dan berkali2 dalam sehari setelah sbelumnya ga mau makan dan tidur terus. saya coba obat anti muntah juga ga bisa mengatasi, dia tetep muntah. saat itu saya belum bisa bawa dia kedokter. besoknya saya bawa dia ke klinik Piara depok. Ternyata hasil tes virusnya dia positif panleukopenia. Kata dokter, harapan dia smbuh itu 30% saja. Karna lebih dari 50% kucing yang kena panleuko itu tidak bisa slamat. Di dokter, cemong diberi infus slama 3 atau 4 jam. Diberi obat demam karna demamnya sangat tinggi (40,7 derajat) dan obat anti muntah. Ketika di infus itu, dia mulai kena diare dan pup berkali2. Saya sudah agak pesimis waktu itu krna saya pikir kucing saya tidak akan selamat. Kucing saya yang sebelumnya mati karna virus yang menyerang hati. Saya pikir, klo smpe 2 x kehilangan kucing, itu artinya saya bener2 ga boleh punya kucing. back to topic, Dokter di klinik blg cemong harus di opname krna dia harus di infus trus. Saya tanya biayanya ke mbak asisten skaligus kasirnya, ternyata bisa lebih dari 1 juta, karna harus di opname slama kurang lebih 9 hari (9 hari itu lamanya virus menginfeksi kucing). Kata dokter, masa kritis itu terjadi pas hari ke 5 s/d ke 7 smenjak gejala virus muncul. Dan klo cemong bsa lewat msa kritis, dia bakalan sembuh. Jujur, saya cuma mahasiswa, uang sebesar itu saya ga bisa langsung punya, hrus ngumpulin dlu. Akhirnya, dengerin saran dari mbak asisten, saya bawa cemong ke rumah. Kata dia, slain ga perlu bayar mahal, saya bisa ngasih perhatian saya ke cemong sepenuhnya, jadi kalopun dia mgkn ga bsa survive, dia sudah dpt perhatian yg ckup. Akhirnya saya bwa cemong pulang dengan bekal obat dari dokter yaitu : antibiotik (3x shari), obat anti muntah, anti virus, dan vitamin (2x shari). sampai rumah, cemong udah ga muntah2 lagi. cuma pup terus, dan pupnya cair banget. dokter bilang, dia harus dikasih makan sesering mungkin dengan makanan basah dan jangan coba dikasih mnum. (alsnnya saya lupa), so, pas dirumah saya coba kasih makan dia. caranya pake wetfood yang saya masukin ke mulut pake tangan. hasilnya, dimuntahkan kembali itu makanan. dia sm skali gamau nerima. saya tambah putus asa lagi. gimana dia mau sembuh klo dikasih makan aja ga bisa. bsoknya saya putar otak. saya baca2 di internet ttg cara mengatasi distemper pda kucing. hasil yg saya dapat adalah, kucing saya harus diberi vitamin B kompleks, dan larutan oralit sesering mungkin

dan diberi makan kuning telur. So saya beli vitamin Becombion dan madu geruh dari pak oles. saya kasih mnum air madu stiap 2 / 3 jam skali, masing2 sbanyak 2 atau 3 suntikan 3 cc dan saya kasih obat dri dokter scara rutin. setelah mikir2 lagi gimana caranya ngasih makan cemong, saya teringat sama pngalaman saya ngurusin kucing tmn saya yg dulu dtitipin ke saya dan kucingnya sakit. Saya ksih mkan pake suntikan 3 cc dan kasih minum air madu dicampur sama minyak oles bokasih(atas anjuran dari bapak saya). ga lama kmudian kucingnya smbuh. jadi saya pake cara yg sma ke cemong. jadi tiap hari rutin cemong sya kasih : makan 3x shari, obat dokter, becombion (1 x shari, 1 cc), dan air madu + kuning telur atau air madu + minyak oles (3 x shari, masing2 3 suntikan 3 cc) Dengan cara diatas, pada hari ke 4 cemong diarenya sudah berhenti, hari ke 5, dia sudah mulai keliatan lebih segar, hari ke 6 sudah mau manja lagi sama saya dan kliling rumah, plus ngasah2 kuku. hari ke 7 dia sudah mau bersih2 badan dan lain lain. sudah mau makan sendiri tanpa disuapin. dan hari senin nanti, saya akan bawa dia ke dokter lagi untuk diperiksa. Misi saya selanjutnya juga menumpas jamur2 di tubuh kucing saya. tambahan lagi, panleukopenia itu bsa menyerang saraf atau organ pencernaan. untuk yang menyerang saraf, sepertinya sudah tidak mungkin di sembuhkan (tandanya adalah kucing kejang2). Untuk yang mengenai organ pencernaan, masih ada kesempatan untuk sembuh. skian sharing pengalaman dari saya. smoga bisa membantu cat lovers yang lain jika kucingnya memiliki masalah yang sama. saran dari saya adalah, VAKSINASI itu sangat sangat penting, jadi usahakan beri vaksin ke kucing anda sebelum terlambat. mencegah itu lebih baik. Jangan asal memilih kucing ketika anda berniat membeli. periksa seluruh badan kucing dan minta kartu vaksin jika kucing. jangan sampai anda menyesal dapet kucing sakit dan kerepotan seperti saya. tyegah

ada yg bilang pake obat cina namanya Pien Tze Huang. tapi klo pngalaman pribadi sih ga pake itu. ajingku dulu rottweiler jantan umur sktr 1,5 tahun. prtama, jls pake obat dokter. waktu itu pake antibiotik cefadroxyl, stimuno buat nambah daya tahan, vitamin C dosis tinggi (lupa namanya, tanya aja di apotek), neurobion (utk memperbaiki syaraf yg rusak, konon penyakit ini nyerang otak juga), dan obat cina kalo ga salah namanya "kian pi" (tanya aja di toko obat cina vitamin buat nambah nafsu makan. jangan beli yg buatan indonesia, beli aja yg asli dari cina). obat diberikan 2 kali sehari (aku dulu pagi + sore). kalo dia pny kebiasaan muntah stlh makan, kasih primperan 5 mg 5 menit sblm makan. jangan dimandikan soalnya badannya ringkih (meski bau dan bulunya lengket, anjingku dulu malah keluar ingus nanah, baunya agak busuk). usahakan dia sll makan daging (yg sdh dimasak, takutnya dia jadi makin gmpang sakit kalau makan daging mentah). dulu anjingku jg sulit makan, jd harus disuapi (persis dengan cara memberi obat, yaitu masukkan makanan.obat sampai di depan kerongkongan dengan tangan). satu lagi... kesembuhannya adalah mujizat. kata dokter anjingku, pernah ada kasus anjing yg sembuh dari distemper, tapi anjing jadi agak "idiot" karena syarafnya rusak. nah, pas anjing jantanku meninggal (gara2 taunya telat, jadi pertolongannya juga telat), 2 minggu kemudian yg betina jg muncuk gejala2 distemper, seperti nafsu makan berkurang, blu rontok ga wajar alias banyak banget, dan hidung seperti keluar ingus (padahal itu nanah). ingusnya sekitar 4 hari kemudian ga keluar dengan warna

putih lagi, tapi juga jadi merah kehitaman (baca: darah). tapi karena sejak kepergian anjing jantanku, si betina uda dikasi neurobion, vitamin C dosis tinggi, dan stimuno, jadi masih sempat tertolong. sering2 dikasih air madu juga, terserah seberapa, pokoknya semaunya dia. selain itu, si betina saat sehat dulunya juga termasuk anjing "omnivora". nah, pas itu mamaku iseng ngasi jeruk keprok (kan bnyk vit. C-nya tuh), eh dia mau. ya uda kasi aja terus.... akhirnyasi betina masih hidup bahagia bersama kami, semakin bahenol, dan puji Tuhan tidak menunjukkan tanda2 "idiot" sprt kata dokter. btw, obatnya konsultasi dlu sama dokter ya. kalo obat cinanya sih aman, tapi neurobion sama antibiotiknya kan obat keras... selain itu aku juga ga tau jenis, umur, dan berat badan anjingmu... mungkin ada dosis lain selamat berjuang ya.. semoga bisa membantu.. percaya atau ga, agak lebay sih ini, tapi kekuatan cinta juga menyelamatkan materi referensi: http://wapannuri.com/a.kesehatan/distemp pangalaman pribadi

DISTEMPER, PENYAKIT FLU ANJING YANG MEMATIKAN 15 Maret 2009 lalu, rumah saya kedatangan penghuni baru. Jenisnya Golden Retriever, warnanya coklat, dan umurnya tiga bulan. Lucunyaaaa. Hahaha Namun, ternyata, sukacita saya berubah menjadi duka. Anak anjing tersebut terserang Distemper, penyakit flu pada anjing yang mematikan.

Chole, Golden Retriever, umur 3 bulan. Hampir mati karena Distemper Saya memang suka sama anjing, tapi karena dulu tinggal sama mama, maka keinginan saya untuk memelihara seekor tidak terkabulkan. Kata mama saya, Melihara kamu aja udah kerepotan, kok nambah melihara anjinghuh! Siapa yang bersiin pub-nya dan pipisnya ? Kan mama! Terus sapa yang kasih makan ? Kamu kan kerja! Yah.kalo dipikir-piker benar juga kata mama saya. Memelihara anjing bukan soal suka atau cinta.

Tetapi soal kehidupan, meskipun hanya seekor anjing, tetapi dia juga makhluk hidup. Jadi, tementemen yang kebetulan mampir di web-ku ini, ingatlah bahwa memelihara anjing itu harus disertai dengan tanggungjawab. Pikirkan kata-kata mama saya di atas. Setelah saya menikah, untungnya, istri saya juga suka anjing, kami memutuskan untuk welcome kepada setiap anjing yang ada. Saya adopsi anjing bos saya. Warnanya hitam, jenis tekel campuran, dan betina. Namanya Dora (dikasih nama ama anak bos saya). Si Dora ini agak cacat kakinya, soalnya waktu kecil, mboknya Dora gak ati-ati, jadi keinjak kaki belakangnya sehingga cacat. Yah, saya tau karena saya suka godain Dora kecil dan saudara-saudaranya (8 ekor!!) Dan anjing Dora ini juga sayang sama saya. Jadi tak bawa pulang aja, biar bisa elus-elus tiap hari. Selang beberapa lama kemudian, mertua saya tinggal bersama saya. Maklum, rumah saya agak luas. Jadi rasanya sepi kalo berdua sama istri saya saja. Yang lebih membahagiakan, mereka juga membawa dua ekor anjing! Ha...ha...ha... Jenisnya gak jelas, mendingan tak kasih gambar aja, biar temen-temen bisa menebak jenis anjing apa ini. Nah, total hewan yang berekor di tempat saya sebelum tanggal 1 Desember 2008 adalah tiga. Coklat, Hitam, dan Putih. Kesemuanya betina. Dan pada akhir tahun 2009 ini, anjing saya berubah menjadi empat ekor. Tiga betina dan satu jantan (loh!!!) Ceritanya begini. Kakak perempuan mertua saya bilang, anjingnya beranak. Jumlahnya tiga, dua ekor jantan dan satu ekor betina. Yang jantan itu lucu, warnanya coklat dan pinter. Bisa shake hand. Terus ditunjukin fotonya. Mertua saya langsung bilang mau liat dan "pinjam" sebentar. Sampe sekarang, tanggal 23 Juli 2009, "barang" yang dipinjam tuh masih belum dikembalikan. Lagian bentuknya sudah berubah. Neh gambarnya ! DISTEMPER PADA ANAK ANJING Berikut ini adalah definisi distemper yang saya ambil dari Wikipedia bahasa Indonesia : Canine distemper adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hewan dalam keluarga Canidae, Mustelidae, Mephitidae, Procyonidae dan kemungkinan Felidae. Radius penyebarannya dapat mencakup seluruh dunia, cara penularan penyakit ini melalui sentuhan, dan udara. Biasanya menyerang anjing pada usia muda dan anjing dewasa yang daya tahan tubuhnya tidak baik. Penyakit ini memiliki angka kematian yang tertinggi , yakni 80% penderita . Gejala-gejalanya antara lain demam, gelisah, tidak nafsu makan, mencret, keluar cairan ingus, batuk dan radang paru-paru. Kadang ditemukan bintik-bintik merah pada kulit. Tanda-tanda pada syaraf meliputi kejang otot, kejang gagau, dan kelumpuhan. Sebagai langkah pencegahan, anjing harus sudah mendapatkan vaksinasi Distemper sebelum berusia 3 bulan. (Sumber : Wikipedia) Pada awalnya, saya nggak seberapa tahu mengenai virus distemper ini. Yang saya tahu dari anjinganjing saya. Mereka susah makan dan sering bersin. Kadang - kadang hidungnya basah dan mengeluarkan cairan. Seperti kita yang sedang pilek, sering meler gitu looh. Karena saya kurang pengalaman, saya menganggap hal itu biasa saja. Toh cuman pilek, ntar kan sembuh sendiri. Saya disarankan oleh saudara saya untuk memberi vitamin c kepada anjing - anjing itu. Setelah lewat dua minggu, saya mulai curiga dengan masalah ini. Kok mereka tidak doyan makan, empat ekor anjing makannya dikit sekali, sedangkan yang satu ekor tidak makan sama sekali. Yang

warna putih yang tidak makan, dan beberapa hari kemudian, si putih ini meninggal dunia. Haauuuu...haaau....sedihnya....plus capeknya...karena mesti gali tanah malam-malam untuk menguburkan si putih ini. Yah....beginilah manusia itu, menyesal setelah terjadi sesuatu. Tapi, saya belajar banyak dari kematian si putih ini. Inilah kesimpulan saya mengenai distemper : 1. Distemper memang penyakit flu anjing yang mematikan. Namun bukan berarti tidak dapat disembuhkan atau diselamatkan. Empat ekor anjing saya terkena distemper. Satu ekor mati, tiga ekor selamat. 2. Sediakan selalu vitamin C dalam rumah anda. Vitamin C ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh anjing sekaligus merangsang nafsu makan. Ketika anjing sakit, dia tidak mau makan. Nah, di sinilah masalahnya. Tanpa makanan maka daya tahan tubuh anjing akan berkurrang. Biasanya saya beli vitamin C untuk anak-anak.

Chloe, 1 tahun , sembuh dari Distemper.

Saya tidak tahu dosisnya berapa, yang saya tahu harganya murah (tidak sampe lima ribu perak sebotol). Saya kasih satu tablet setiap harinya selama dua minggu. Ketika anjing-anjing tersebut sudah doyan makan, saya hentikan pemberian vitamin C-nya. 3. Dari beberapa informasi yang saya dapatkan di website lainnya. Obat tradisional untuk penyakit distemper ini adalah Pien Tze Huang yang bisa dibeli di toko obat cina. Saya tahu obat ini karena saya pernah mengkonsumsinya. Tuh obat emang dahsyaat. Gejala tipes saya langsung sembuh setelah mengkonsumsi Pien Tze Huang ini. Sayangnya, harganya cukup mahal. Kalo tidak salah, tahun 2004 saya beli dengan harga 150rb untuk tiga hari. Ada teman yang pernah mencoba Pien Tze Huang ini untuk anjingnya yang terserang penyakit distemper. Dan ternyata terselamatkan ! Duh...senangnya. 4. Hati-hati kalau membeli anjing di pet shop. Mengapa ? Yah, tujuan pet-shop adalah mencari untung dengan biaya sekecil-kecilnya. Kita tidak bisa menyalahkan dan menganggap bahwa semua petshop seperti itu. Ada juga petshop yang benar-benar memperhatikan anjing-anjingnya. Yah, anda mesti temukan pet shop yang seperti itu. Tetapi jika memang harus membeli di tempat tersebut, periksakan terlebih dulu anak anjing yang baru anda beli tersebut di dokter hewan. Apalagi jika anjing anda banyak seperti saya. Repot kan kalo anjing lainnya yang sehat tertular si kecil.

Pasienku (Kucing) Kena Panleukopenia

Seorang klien dari kota Sidoarjo datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Unair dengan membawa dua kucing yang belum di vaksin yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sebut saja namanya Pino dan Kio, yang suspect panleukopenia. Setelah browsing dan cari-cari di mbah Google, akhirnya ketemulah artikel seperti di bawah ini. (Sumber Dunia Veteriner) Feline panleukopenia atau distemper kucing menurut Aiello (2000) merupakan penyakit viral yang fatal pada kucing. Kejadian penyakit ini parah apabila terjadi pada anak kucing. Feline panleukopenia virus termasuk ke dalam virus tipe DNA famili parvoviridae subgrup feline parvovirus, virus ini masuk melalui mulut ataupun hidung menuju tonsil dan limfoglandula di daerah tenggorokan dan kemudian menginfeksi serta mengancurkan sel-sel yang aktif melakukan pembelahan seperti sel-sel pada sumsum tulang, jaringan limfoid, epitel usus, cerebellum dan retina, serta sel-sel pada anakan. Virus ini akan menekan produksi sel darah putih di sumsum tulang sehingga jumlah seluruh sel darah putih berkurang sehingga penyakit ini dinamakan panleukopenia. Di saluran usus virus ini menyebabkan ulcer yang memicu terjadinya diare, dehidrasi, dan infeksi oleh bakteri. Sebagian besar kasus kematian terjadi akibat dehidrasi dan infeksi bakteri yang parah. Pada induk kucing yang bunting virus akan menular secara intraprasental dan menyerang embrio atau fetus secara cepat sehingga menyebabkan kematian embrio, mumifikasi, aborsi, dan lahir mati. Infeksi pada saat kelahiran akan menyebabkan kerusakan pada epital germinal di cerebelum yang

mengakibatkan hipoplasia cerebral, inkordinasi, dan tremor karena cerebelum merupakan bagian dari sistem syaraf pusat yang mengkoordinasikan keseimbangan dan pergerakan. Virus akan berada dalam jumlah banyak di semua sekresi dan ekskresi kucing seperti feses, urine, muntah, saliva, dan mukus selama fase akut dari penyakit ini dan dapat bertahan pada feses kucing selama 6 minggu setelah penyembuhan. Gejala klinis Sebagian besar infeksi dari virus panleukopenia berlangsung secara subklinis. Kucing yang terinfeksi sebagian besar terkena pada saat berumur di bawah 1 tahun. Gejala klinis yang terlihat yaitu demam, depresi, dan anorexia selama periode inkubasi 2-7 hari. Muntah akan terlihat 1-2 hari setelah demam, umumnya berhubungan dengan empedu dan tidak terkait dengan makanan. Diare yang terjadi merupakan gejala yang tampak terakhir. Muntah dan diare terjadi secara teratur, diare terkadang disertai dengan darah. Dehidrasi parah terus terjadi meskipun kucing terus minum. Physical examination menunjukkan adanya depresi yang parah, dehidrasi, dan terkadang adanya rasa sakit di daerah abdomen. Palpasi pada abdomen dapat menginduksi kejadian muntah, selain itu kebengkakan dan penebalan usus serta kebengkakan limfoglandula mesenterica akan teraba. Pada kucing muda dengan kelainan cerebellum akan terlihat gejala ataksia dan tremor. Gejala akan terlihat selama 5-7 hari. Anak kucing yang menderita penleukopenia perakut akan mati dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala klinis (Aiello 2000). Lesio Pada kasus penyakit panleukopenia perakut, lesio yang jelas terlihat hanya sedikit, lesio yang sering terlihat yaitu dehidrasi dan kekurusan. Perubahan patologianatomi pertama yang terjadi yaitu edema dan nekrosa pada thymus dan limfoglandula mesenterika. Sumsum tulang akan terlihat agak cair dan berlemak. Dinding usus besar akan terlihat bengkak dan menebal serta terdapat akumulasi gas. Permukaan usus besar yang terinfeksi akan terlihat hiperemia dan terlihat adanya haemoragi ptechie atau echimosa. Hati, ginjal, dan limpa akan terlihat membengkak. Secara histologi kripta usus mengalami dilatasi disertai keberadaan sel-sel debris yang terdiri dari sel-sel epitel yang telah nekrosa. Vili usus akan terlihat tumpul dan bersatu. Selain itu terlihat adanya degenerasi hepatosit hati dan sel epitel pada tubulus renalis. Badan inklusi intranukleus eosinofilik terlihat pada jaringan tempat virus mengalami replikasi. Differensial diagnosa Differensial diagnosa dari penyakit ini adalah salmonellosis, feline leukemia virus, dan feline immunodeficiency virus. Diagnosa penunjang Semua anak kucing yang menderita demam, kehilangan indera perasa, diare yang disertai atau tidak disertai muntah dicurigai menderita panleukopenia. Umumnya jumlah sel darah putih sangat sedikit karena virus ini menyerang sumsum tulang yang memproduksi sel darah putih. Tes feses dengan menggunakan ELISA kit khusus feline panleukopenia dapat meneguhkan diagnosa. Penggunaan ELISA kit tidak boleh dilakukan setelah 5-12 hari paska vaksinasi panleukopenia virus karena akan menunjukkan hasil positif palsu. Isolasi virus, tes Polimerase Chain Reaction (PCR) dan pengukuran tingkat antibodi merupakan tes yang potensial untuk melihat adanya infeksi ini.

Pencegahan Pencegahan penyakit panleukopenia pada kucing dilakukan dengan vaksin aktif yang dimodifikasi dan vaksin inaktif. Vaksin aktif tidak boleh diberikan pada kucing bunting, mengalami imunosupresi, sakit, atau kucing di bawah umur 4 minggu. Kucing divaksinasi pada umur 8-10 minggu kemudian diulang pada umur 12-14 minggu, setelahnya diulang setiap tahun. Terapi Terapi dapat dilakukan dengan memberikan terapi cairan berupa Ringer laktat. Pemberian antibiotik seperti Amoxycillin 7 mg/kg bb im, Gentamisin 2 mg/kg bb im dan Ciprofloxacin 10 mg/kg bb po. Pemberian antibiotik juga disertai dengan pemberian antihistamin berupa Diphenhydramine 5 mg/kucing im dan CTM po untuk mencegah kejadian alergi akibat antibiotik. Pemberian multivitamin seperti Hematopan, vitamin ADE, dan Calcipet dilakukan sebagai terapi supportif. Menurut Aiello (2000), penanganan kasus panleukopenia akut membutuhkan pengamatan yang teratur, terapi cairan, dan terapi suportif. Gangguan elektrolit, acidosis, hipoglicemia, hipoproteinemia, anemia, dan infeksi sistemik merupakan permasalahan berat yang sering terjadi pada kucing yang terinfeksi panleukopenia, sehingga perlu diberikan nutrisi secara parenteral. Tranfusi plasma atau darah dari kucing yang telah kebal terhadap panleukopenia akan membantu tekanan onkotik plasma dan menyediakan imunitas pasif. Selain itu diberikan antibiotik spektrum luas tetapi hindari penggunaan antibotik yang nefrotoksik seperti Gentamisin dan Amikasin pada kucing yang menderita dehidrasi. Penggunaan antiemetik seperti Metoclopramide akan mengurangi rasa sakit dan diberikan sebelum pemberian pakan.