Anda di halaman 1dari 16

PSIKOLOGI KOMUNITAS

Pencegahan Kehamilan Pranikah Pada Remaja

Oleh :

1. A.A PT Chintya Putri S 2. Putu Yuni Sanjiwani 3. Nyoman Riana Dewi 4. Putu Kenny Rani Evadewi 5. Putu Arika Mulyasanthi Pande

(0902205011) (0902205046) (0902205048) (0902205050) (0902205051)

Program Study Psikologi Fakultas Kedokteran Udayana 2012


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masih banyak disekitar kita terjadi kasus kehamilan di luar nikah yang dialami oleh remaja-remaja saat ini. Data yang diperoleh meningkat setiap tahunnya, khususnya jumlah di kalangan remaja yang hamil di luar nikah. Untuk mengetahui perkembangan kasus-kasus kehamilan di luar nikah di kalangan remaja (usia 10-24 tahun) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS), Departemen Sosial Republik Indonesia (depsos RI) melakukan penelitian ilmiah, yang bertajuk Kehamilan di luar nikah pada remaja tahun 2007. Hal yang paling menarik adalah melihat fakta populasi yang berdasarkan pendidikan. Antara tahun 2002-2005, remaja Indonesia yang mengalami kehamilan di luar nikah terbanyak adalah yang memiliki pendidikan perguruan tinggi atau mahasiswa (59,22 persen), remaja yang berpendidikan SMA (17,70 persen) dan yang paling kecil SMP (1,63 persen). Secara keseluruhan remaja yang hamil di luar nikah terbesar terjadi pada tahun 2002 sebanyak 640 kasus. Kemudian tahun 2004 sebanyak 560 kasus dan tahun 2005 sebanyak 551 kasus. Hal tersebut didukung dengan ungkapan dari dr Wayan Citra Wulan Sucipta Putri, fenomena itu ibarat gunung es. "Faktanya bisa jauh lebih besar," ujar dokter jaga di klinik Kisara itu pada Workshop Advokasi Kehamilan Tak Diinginkan di Denpasar, Senin (16/2). Data pada bulan September-Desember 2008 itu menunjukkan 156 kasus atau 88 persen terjadi pada usia 10-24 tahun, sisanya sejumlah 21 kasus (11,9 persen) terjadi pada remaja putri berusia di atas 21 tahun. Citra mengatakan kehamilan itu sangat berdampak pada kehidupan remaja karena menimbulkan diskriminasi sosial, terputusnya pendidikan, dan berbagai masalah kesehatan. Namun yang paling nyata 2

adalah terjadinya aborsi di kalangan mereka. "Semua aborsi adalah illegal dan hanya sebagian kecil yang aman," ujarnya. Dari konseling terhadap 177 remaja yang mengalami kehamilan tak diinginkan, 144 diantaranya telah mengupayakan aborsi, 47 orang melakukan aborsi secara medis, 72 non medis, dan 24 cara kombinasi. Sedang yang tidak melakukan upaya aborsi hanya 33 orang saja. Setelah menjalani konseling, tujuh remaja melakukan aborsi aman, 21 menikah, dua remaja tidak aborsi dan tidak menikah dua orang. Sementara itu, 118 remaja menghilang dan tak bisa dihubungi. Dari fakta yang telah diperoleh, cukup banyak pasangan remaja yang mengalami kasus kehamilan di luar nikah. Mengalami kasus ini tentunya bukan merupakan masalah yang sederhana. Para remaja yang harusnya mempunyai masa depan yang bisa lebih cerah, harus dipaksa untuk menjadi orang tua dini akibat kelakuan mereka yang mereka sendiri tak bisa membayangkan akibatnya. Remaja yang telanjur mengalami kehamilan, membutuhkan jaminan untuk tidak mengalami diskriminasi serta layanan aborsi aman. Bagaimana pun mereka berhak untuk tetap memperoleh akses pendidikan dan kesehatan serta melanjutkan hidupnya. Adapun kasus nyata yang penulis angkat ialah tentang Menikah saat kelas 3 SMP karena hamil di luar nikah. Kisah seorang wanita muda,sebut saja Melati yang kini berumur sekitar 22 tahunan dengan anak 1 yang di asuh oleh buyut anak itu, karena Melati bekerja dan tidak memiliki suami lagi karena sudah bercerai beberapa tahun yang lalu. Melati menikah pada saat menjelang ujian kelas 3 SMP, menikah juga karena pergaulan bebas yang mengakibatkan hamil duluan makanya mereka (Melati dan suaminya) akhirnya sama-sama tidak lulus SMP. Mereka tinggal dirumah orangtua laki-laki, awal-awal pernikahan mereka bingung, karena sang laki-laki dan sang perempuan masih sangat muda sama-sama belum dewasa dan sama belum memiliki pekerjaan, untuk makan sehari-hari masih bergantung pada orang tua laki-laki. Setelah anaknya lahir Melati bekerja menjadi cleaning service disuatu departemen store. Dengan gaji seadanya dan suaminya pun bekerja serabutan dengan hasil pas-pasan, hampir setiap hari mereka ribut terus hanya karena hal-hal sepele. Mungkin karena nikahnya juga karena keterpaksaan mengakibatkan kehidupan mereka seperti itu. Beberapa tahun kemudian mereka bercerai, dengan anak yang masih berumur 2 tahun. Melati tidak memiliki suami lagi, namun kini yang terlihat dia suka berganti-ganti 3

pasangan menurut orang-orang Melati kini menjadi wanita pekerja sek komersial dan saat ini dia bekerja di sebuah bar. Mungkin ada benarnya pepatah yang mengatakan buah tak jauh dari pohonnya karena ibunya dulu adalah seorang wanita pekerja sek komersial dan bapaknya bisa disebut seorang pemabuk, suka judi, dan orang tua Melati telah lama bercerai sebelum Melati menikah. Sekarang Melati hanya berusaha menikmati hidupnya, dan tidak tau sampai kapan dia akan berubah, karena menurut dia sebenarnya hidup seperti ini melelahkan. Berdasarkan uraian kasus tersebut maka penulis bertujuan untuk membuat suatu program upaya pencegahan kehamilan yang terjadi pada remaja secara kompehensif, mulai dari pemberian informasi melalui pendidikan seks dan kesehatan reproduksi pada remaja sedini serta sosialisasi pencegahannya.

1.2

Tujuan 1. Tujuan Umum Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dan pengelola program

Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) tentang hak-hak reproduksi pada remaja. 2. Tujuan Khusus Mengurangi terjadinya kasus kehamilan di luar nikah yang dialami oleh remajaremaja saat ini. 1.3 Manfaat 1. Manfaat Teoritis - Memberikan sumbangan pengetahuan untuk ilmu psikologi khususnya psikologi komunitas - Sebagai acuan dasar yang dapat digunakan untuk membuat program pencegahan kehamilan di luar nikah pada remaja 2. Manfaat Praktis 4

Remaja-remaja di Bali dapat lebih menyadari akan bahaya dari kehamilan di luar nikah. 1.4 Sasaran Sasaran yang terkait dengan program ini adalah remaja yang berusia 12 sampai 21 tahun.

BAB II KAJIAN TEORI

Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin praevenire, yang artinya datang sebelum atau antisipasi mempersiapkan diri sebelum terjadi sesuatu atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas, prevensi dimaknakan sebagai upaya yang secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat. Prevensi kesehatan mental didasarkan atas cara kerja usaha pencegahan kesehatan masyarakat. Hanya saja, dalam kesehatan masyarakat. Dalam masyarakat, prevensi mengandung arti untuk mengendalikan penyakit. Sementara dalam bidang psikiatri dan kesehatan mental masyarakat, pengendalian penyakit hanyalah salah satu dari berbagai target yang hendak dicapai. Prevensi mencakup pencegahan terhadap kondisi yang lain. Seperti: tidak berfungsinya adaptasi (adaptive dysfunction), penyimpangan social (social deviation), dan hendaya dalam perkembangan( developmental impairment) (adler, 1978). Ada tiga tujuan prevensi, yaitu mencegah jangan sampai terjadi: (1) Gangguan mental untuk orang yang saat ini dalam keadaan sehat; (2) kecacatan bagi orang yang mengalami gangguan; (3) kecacatan menetap bagi orang yang telah mengalami suatu gangguan. terdapa tiga macam prevensi, yaitu: prevensi tertiary, prevensi sekunder, prevensi primer. 1. Prevensi Primer Usaha yang lebih progresif lagi dalam usaha pencegahan kesehatan mental adalah dengan mencegah terjadinya suatu gangguan dalam masyarakat. Jadi kesehatan mental masyarakat diproteksi sehingga tidak terjadi suatu gangguan. Hal demikian ini akan lebih baik jika dibandingkan dengan melakukan penanganan setelah terjadi. Prevensi jenis ini desebut sebagai prevensi primer. Prevensi primer merupakan aktivitas yang didesain untuk mengurangi insidensi gangguan atau kemugkinan terjadi insiden dalam resiko. Tujuan prevensi primer ada dua macam: (1) mengurangi resiko terjadinya gangguan mental dan (2) menunda atau menghindari munculnya gangguan mental. Menurut cowen (shaw,1984) secara prinsipil prevensi primer dibatasi sebagai berikut: 1. Prevensi harus lebih berorientasi pada kelompok masyarakat daripada secara individual, meskipun untuk beberapa aktivitas dapat merupakan kontak individual 6

2. Prevensi harus suatu kualitas dari fakta-fakta sebelumnya, yaitu ditargetkan pada kelompok yang belum mengalami gangguan. 3. Prevensi primer harus disengaja, yang bersandar pada dasar-dasar pengetahuan yyang mendalam yang termanifestasi ke dalam program-program yang ditentukan untuk meningkatkan kesehatan psikologisnya atau mencegah perilaku maladaptive. 2. Prevensi Sekunder Prevensi sekunder adalah upaya pencegahan yang dilakukan untuk mengurangi durasi kasus gangguan mental. Gangguan mental yang di alami ini baik karena kegagalan dalam usaha pencegahan primer maupun tanpa adanya usaha pencegahan primer sebelumnya. Sesuai dengan sekunder ini, maka saran pokoknya adalah penduduk atau sekelompok populasi yang sudah menderita suatu gangguan mental. Dengan memperpendek durasi suatu gangguan mental yan ada di masyarakat, maka dapat membantu mengurangi angka prevalensi gangguan mental dimasyarakat. Menurut Caplan (1963, 1967), terdapat dua kegiatan utama prevensi sekunder, yaitu diagnosis awal dan penanganan secepatnya dan seefektif mungkin. 1. Diagnosis awal Diagnosis awal maksudnya pemeriksaan yang dilakukan terhadap penderita gangguan mental, untuk diketahui factor-faktor penyebabnya, dan kemugkinan cara penanganannya. Diagnosis ini dapat dilakukan dengan skrining (pemeriksaan dengan alat-alat tersedia) sebagai bentuk seleksi awal terhadap masyarakat yang diduga mengalami suatu gangguan. Berdasarkan pemeriksaan awal ini, selanjutnya masyarakat yang mengalami gangguan mental dapat direferal kepada pihak-pihak yang kompeten untuk memperoleh penanganan. 2. Penanganan secepatnya Penanganan secepatnya dan secara efektif dilakukan oleh pihak yang dipandang mampu menanganinya. Namun demikian, prevensi sekunder tidak selalu dilakukan dengan hospitalsasi, dan menjadi lebih baik jika dilakukan dengan non hospitalisasi. 3. Prevensi Tertiary Orang yang mengalami gangguan, apalagi gangguan itu sampai pada terganggunya kemampuan fungsional seseorang, maka diperlukan prevensi untuk: 1. mempertahankan kemampuan yang masih tersisa, 2. mencegah agar gangguannya tidak terus berlangsung, dan

3. dia segera pulih dan berfungsi sebagaimana mestinya. Prevensi jenis ini yang disebut sebagai prevensi tertiary. Sasaran dalam prevensi tertiary ini adalah kelompok masyarakat yang mengalami gangguan yang bersifat jangka panjang atau orang yang telah mengalami gangguan mental yang akut dan berakibat penurunan kapasitasnya dalam kaitannya dengan kerja, hubungan social, maupun personalnya. Prevensi tertiary memiliki pengertian yang sama dengan rehabilitasi. Namun penekanan kedua hal ini berbeda. Menurut caplan (1963), rehabilitasi lebih bersifat individual dan mengacu pada pelayanan medis. Sementara prevensi tertiary lebih menekankan pada aspek komunitas, sasarannya adalah masyarakat dan mencakup perencanaan masyarakat logistic. Tentunya dalam prevensi tertiary merupakan intervensi yang anti-hospitalisasi. Prevensi tertiary ini diberikan pada kepada orang yang sakit dan terjadi penurunan kemampuan atau fungsi social dan personalnya. Adalah terlalu mahal biaya secara ekonomi, social dan personal jika penanganan kesehatan mental dilakukan hanya dengan prevensi tertiary ini. adalah lebih efisien jika dilakukan sebelum penderita mengalami penurunan kemampuan itu. Karena itu ada alternative yang lebih baik untuk melakukan pencagahan, yaitu dengan prevensi sekunder. Sedangkan prevensi menurut Bloom-Heller, prevensi dibagi menjadi tiga tingkat prevention, yaitu: Tingkat Micro-level Meso-level Ruang Lingkup Individu memiliki pengalaman langsung (akses langsung) dalam ruang lingkup harian (seperti; rumah, sekolah, kelompok kerja, klub) Sistem yang terdiri dari dua atau lebih level mikro dan memiliki saling keterkaitan (contoh; hubungan rumah-sekolah, rumah sakit-keluarga pasien, keluarga ayahMacro-level keluarga ibu setelah perceraian) Sistem dalam skala yang lebih besar; Sistem hubungan antara individu dengan level mikro, meso, dan ekso yang membentuk struktur sosial (Contoh; wacana gender dalam masyarakat, pola ideologi, perubahan sosial)

Dari ketiga tingkatan prevention menurut Bloom-Heller merupakan suatu tingkat yang saling berkaitan. Dimana kaitannya dapat digambarkan sebagai berikut : 8

Level Makro Level Meso Level Mikro 2.2 Ramaj

BAB III

PEMBAHASAN

3.1Analisis Kasus Pada kasus yang dialami Melati, penulis melihat kasus ini dari tingkatan prevention yang dikemukaan oleh Bloom-Heller yaitu : - Level Macro : Dimana pada kasus ini, Melati di keluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah dan pada saat masa akan ujian SMP. Ini merupakan kebijakan pemerintah untuk mencegah atau mengurangi remaja yang masih bersekolah dalam suatu instansi (SD, SMP, SMA). Dimana kebijakan pemerintah merupakan salah satu bagian dari tingkat prevention (Level Macro) yang dikemukaan oleh Bloom-Heller. - Level Meso : Dimana pada kasus ini, Melati kurang dapat perhatian dari orang tuanya dan lingkungan social atau Bagaimana pekerjaan dan aktivitas dari orang tua Melati yang dapat mempengaruhi perilaku Melati dalam melakukan aktivitas seksual secara aktif dan tidak aman sehingga akhirnya Melati hamil di luar nikah pada saat akan ujian SMP. Dimana lingkungan social atau keluarga merupakan salah satu bagian dari tingkat prevention (Level Meso) yang dikemukaan oleh Bloom-Heller. - Level Micro : Dimana kasus ini, Melati memiliki pengetahuan yang kurang akan bahaya seks bebas, dan bagaimana berhubungan seks yang aman dan sehat. Selain itu sikap atau perilaku dari Melati yang membuat Melati akhirnya hamil di luar nikah pada masa sekolah. Dan adanya system nilai yang tidak tepat yang dialami Melati, karena kurangnya pendidikan seks sehat dan aman yang Melati dapatkan. Sehingga Melati melakukan aktifitas seksualnya saat Melati membutuhkannya tanpa melihat keamanan dan kesehatan saat melakukan aktifitas seksual dengan pasangannya. Disini, akibat kurangnya pengetahuan dan sikap dari Melati yang menyebabkan Melati melakukan aktifitas seksual diluar nikah dengan tidak memperhatikan kesehatan dan keamanannya dan akhirnya Melati hamil pada saat masa sekolah. Pengetahuan individu, sikap individu dan system nilai individu merupakan salah satu bagian dari prevention yang dikemukaan oleh BloomHeller yaitu Level Micro.

10

3.2 Rancangan Program Pencegahan Berdasarkan pengalaman dari kasus yang dialami Melati tersebut, penulis ingin membuat suatu rancangan program prevensi pada tingkat primery, dimana hal demikian ini akan lebih baik jika dibandingkan dengan melakukan penanganan setelah terjadi. Karena saat ini sudah banyak kasus serupa yang terjadi dari data di klinik Kisara pada bulan September-Desember 2008 itu menunjukkan 156 kasus atau 88 persen terjadi pada usia 1024 tahun, sisanya sejumlah 21 kasus (11,9 persen) terjadi pada remaja putri berusia di atas 21 tahun. Tujuan prevensi primer ada dua macam: (1) mengurangi resiko terjadinya kehamilan di luar nikah dikalangan remaja dan (2) menunda atau menghindari seks bebas dikalangan remaja. Menurut cowen (shaw,1984) secara prinsipil prevensi primer dibatasi sebagai berikut: 1. Prevensi harus lebih berorientasi pada kelompok masyarakat daripada secara individual, meskipun untuk beberapa aktivitas dapat merupakan kontak individual dimana program prevensi ini akan dilaksanakan di sekolah menegah pertama (SMP), karena ketika anak duduk di bangku SMP mereka mulai beranjak remaja, dan disinilah saat yang tepat untuk memberikan program prevensi awal. 2. Prevensi harus suatu kualitas dari fakta-fakta sebelumnya, yaitu ditargetkan pada kelompok yang belum mengalami gangguan dimana saat ini banyaknya kasus remaja yang hamil diluar nikah, dan program ini sebaiknya di berikan pada remaja SMP yang baru beranjak remaja. 3. Prevensi primer harus disengaja, yang bersandar pada dasar-dasar pengetahuan yang mendalam yang termanifestasi ke dalam program-program yang ditentukan untuk meningkatkan kesehatan psikologisnya atau mencegah perilaku maladaptive dimana dengan program pendidikan kesehatan reproduksi remaja diharapkan para remaja dapat lebih menyadari pentingnya menjaga kesehatan reproduksi untuk mencegah terjadinya seks bebas yang dapat menimbulkan kehamilan.

11

Berdasarkan hal tersebutlah perlu adanya upaya-upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam mencegah kehamilan di luar nikah pada remaja, diantaranya : 1. Memberikan pendidikan kesehatan reproduksi disekolah Pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang dilakukan di sekolah ini merupakan salah satu upaya untuk membimbing remaja mengatasi konflik seksualnya. Dimana sekolah dan guru dianggap sebagai pihak yang layak memberikan pendidikan KRR ini. Pihak sekolah dan guru melaksanakan pendidikan KRR ini dengan memasukkan materi KRR ke dalam pelajaran seperti mata pelajaran Biologi, Penjaskes, dan Agama, sebagaimana dari kebijakan yang ditetapkan Depdiknas tentang strategi pendidikan KRR di sekolah. Hal-hal yang diajarkan di dalam kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi remaja mencakup tentang tumbuh kembang remaja, organ-organ reproduksi, perilaku berisiko, Penyakit Menular Seksual (PMS), dan abstinesia sebagai upaya pencegahan kehamilan. Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari dilakukannya hal-hal negatif oleh remaja. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi remaja tersebut berguna untuk kesehatan remaja tersebut, khususnya untuk mencegah dilakukannya perilaku seks pranikah, penularan penyakit menular seksual, aborsi, kanker mulut rahim, kehamilan diluar nikah, gradasi moral bangsa, dan masa depan yang suram dari remaja tersebut. 2. Dukungan keluarga dengan cara berkomunikasi yang baik dengan anak sehingga dapat menanamkan tentang kesehatan reproduksi. Dimana keluarga berfungsi sebagai system pendukung bagi anggotanya, dan anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan pertolongan dengan bantuan jika diperlukan. yang menyimpang. Sehingga selain memberiakan program pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja disekolah, perlu juga dilakukan penyuluhan dalam bentuk sosialisasi kepada para orang tua bahwa anak yang mulai tumbuh remaja penting mengetahui dan memahami tentang kesehatan reproduksi yang dimilikinya. Dan diharapkan orang tua tidak tabu lagi dalam Dukungan keluarga terutama komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat mencegah anak untuk melakukan perbuatan

12

mengkomunikasikan pendidikan seksual pada anak-anaknya di usia dini. Baik pendidikan melakukan aktivitas seksual yang aman dan sehat. 3. Perlunya lembaga di masyarakat yang mengayomi kebutuhan remaja akan hak reproduksinya, contohnya klinik remaja. Klinik Remaja sangat dibutuhkan bagi remaja untuk informasi yang tepat dan jelas tentang pengetahuan dan pemahaman pendidikan seksual. sebaiknya dapat menjadi tempat konseling bagi para remaja. Dan lembaga tersebut

13

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Remaja perlu mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi sehingga remaja mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-hal yang seharusnya dihindari. Salah satunya dengan cara melakukan program pencegahan dengan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Karena remaja mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi dan informasi tersebut harus berasal dari sumber yang terpercaya. Agar remaja mendapatkan informasi yang tepat, pendidikan kesehtan reproduksi ini sebaiknya dilakukan di lingkungan sekolah dan di dalam lingkungan keluarga. Hal-hal yang diajarkan di dalam kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi remaja mencakup tentang tumbuh kembang remaja, organ-organ reproduksi, perilaku berisiko, Penyakit Menular Seksual (PMS), dan abstinesia sebagai upaya pencegahan kehamilan. Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari dilakukannya hal-hal negatif oleh remaja. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi remaja tersebut berguna untuk kesehatan remaja tersebut, khususnya untuk mencegah dilakukannya perilaku seks pranikah, penularan penyakit menular seksual, aborsi, kanker mulut rahim, kehamilan diluar nikah, gradasi moral bangsa, dan masa depan yang suram dari remaja tersebut.

4.2

Saran

1. Bagi ortu Memberikan kasih sayang, perhatian dalam hal apapun serta pengawasan yang tidak bersifat mengekang. Peranan orangtua atau keluarga sangat penting untuk mengantisipasi perilaku remaja yang menyimpang. Untuk itu, diperlukan adanya keterbukaan antara orang tua dan anak dengan melakukan komunikasi yang efektif.
14

Mungkin seperti menjadi tempat curhat bagi anak, dan mendukung hobi yang diinginkan selama kegiatan tersebut positif untuk anak. Selain itu perlu adanya pengawasan yang intensif terhadap media komunikasi pada anak. Pada usia remaja, mereka selalu mempunyai keinginan untuk mengetahui, mencoba dan mencontoh segala hal. Seperti dari media massa dan elektronik yang membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti seperti yang ada dalam tayangan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengawasan dalam hal tersebut. Mungkin dengan mendampingi mereka saat melihat tayangan tersebut.

2. Bagi Sekolah Menambah kegiatan yang positif di luar sekolah, misalnya kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, seni, dan sebagainya. Dan perlu dikembangkan model pembinaan remaja yang berhubungan dengan kesehatan produksi di sekolah. Perlu adanya wadah untuk menampung permasalahan reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang terarah baik secara formal maupun informal yang meliputi pendidikan seks, penyakit menular seksual, dan kegiatan lain juga dapat membantu menekan angka kejadian perilaku seks bebas di kalangan remaja.

3. Bagi Pemerintah Perlu adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas. Dengan memberikan hukuman yang sesuai bagi pelaku seks bebas, diharapkan mereka tidak mengulangi perbuatan tersebut. Pemerintah juga sebaiknya mendukung kegiatan positif yang diperuntukkan bagi remaja, misalnya kisara. Dan yang terakhir pemerintah agar lebih sering melakukan kegiatan penyuluhan yang bermanfaat bagi remaja.

15

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

(2009).

Kasus

Kehamilan

Tak

Diianginkan

Ancam

Remaja

Bali.

http://www.scribd.com/Syaluna_Sagarr_9410/d/49771714-articel-KEHAMILAN-reMAJA-bySyaLUna, diakses tgl 11 mei 2012 Anonim. (2009). http://digilib .petra.ac.id/ viewer.php?submit. x=10&submit.y= 10&page=2&qual =high&submitval=prev&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Fikom%2F2009%2Fjiunkpe-ns-s1-200951405024-11652-kehamilan-chapter1.pdf, diakses tgl 11 mei 2012 Hafizah, Rahmi. (2010). Menikah Saat 3 SMP Karena Hamil Di luar Nikah.

http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/07/kisah-nyata-menikah-saat-3-smp-karena-hamildiluar-nikah/, diakses 14 Mei 2012

Rahman, Fatur. (2011). Konseling Tiga Dimensi.. http:// staff.uny .ac.id/sites /default/file s/tmp /KONSELING%20TIGA%20DIMENSI.pdf, diakses 14 Mei 2012 Anonim. (2011). Prevensi Dalam Kesehatan Mental. http://jeffy-louis. blogspot. com/2011 /02/ prevensi-dalam-kesehatan-mental.html, diakses 15 Mei 2012

16