Anda di halaman 1dari 5

Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Jl. Taman Siswa No.

158 Yogyakarta Telp 0274 379178 (129)

MACAM-MACAM PELANGGARAN PEMILU dan PENYELESAIANNYA Ulin Najihah, SH 1

abtraksi Pesta Demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali yang memerlukan tenaga maupun biaya yang besar. Untuk tahun ini saja Negara mengeluarkan dana sekitar 3 triliyun rupiah untuk membiayai keperluan KPU guna mempersiapkan logistik dan pendadataan pemilih (DPT) di 33 Provinsi plus WNI di Luar Negeri. Setiap penyelenggaraan Pemilu pasti lah tidak sempurna, banyak ditemukan pelanggaran pelanggaran dan kesalahan - kesalahan baik berupa pelanggaran kampanye, money politic, kesalahan penetapan DPT, kesalahan penghitungan surat suara/ (penggelembungan surat suara) yang dapat menyebabkan sengketa hasil dll. Tentunya Negara telah mempersiapkan instrumen hukum untuk menyelesaikan pelanggaran yang terjadi selama pemilu.

A. Pendahuluan Pemilu merupakan sebuah keniscayaan bagi sebuah negara yang mengaku dirinya demokratis. Karena melalui Pemilu sebuah pemerintahan ditentukan dan dipilih secara langsung oleh rakyat untuk mendapatkan mandat mengurus bangsa dan negara ini demi kesejahteraan bersama. Disebut sebagai pilar demokrasi, karena pemilihan umum seperti ini tidak akan pernah dijumpai dalam sebuah negara monarki atau kerajaan. Menurut Jimly Asshiddiqie, secara teoritis, tujuan penyelenggaraan Pemilihan Umum dalam sebuah negara adalah: 2 1. Untuk memungkinkan terjadinya peralihan kepemimpinan pemerintahan secara tertib dan damai; 2. untuk memungkinkan terjadinya pergantian pejabat yang akan mewakili kepentingan rakyat di lembaga perwakilan; 3. untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat; dan 4. untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga Negara. Begitu pentingnya kehadiran sebuah pemilihan umum tersebut, maka para ahli sepakat untuk memasukkan elemen Pemilu menjadi salah satu ciri pemerintahan yang demokratis, selain ciri-ciri yang lain seperti penegakan HAM, Supremasi hukum, dll. Kalau begitu rumusannya, maka Pemilu bukan hanya sesuatu yang penting tetapi menjadi wajib adanya. Karena siapapun yang akan duduk diparlemen sebagai kepanjangan tangan masyarakat haruslah mempunyai legitimasi yang ditunjukkan dengan seberapa besar pilihan rakyat dalam Pemilu dijatuhkan kepada dirinya. Sehingga, setiap satu suara dari setiap pemilih merupakan hal yang sangat berharga yang akan menentukan masa depan sebuah bangsa. Harapannya, Pemilu 2009 nanti akan menjadi Pemilu yang jujur, adil dan demokratis sebagaimana asas yang melandasinya. Namun nampaknya harapan ini masih terlalu jauh untuk menjadi realitas konkret yang bisa diwujudkan, Karena yang terjadi di lapangan antara Das Sollen dan Das Sein saling bertolak belakang.
Mahasiswa program pasca sarjana (S2) FH UII. Jimly Asshiddiqqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid II, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta, 2006, hal. 175.
2 1

37 Macam-Macam Pelanggaran Pemilu Dan Penyelesaiannya Warta Hukum Edisi: Maret-April 2009 Artikel

Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Jl. Taman Siswa No. 158 Yogyakarta Telp 0274 379178 (129)

Akhir-akhir ini kita sering disuguhkan, menyaksikan dan mendengar dari mass media cetak maupun elektronik begitu banyaknya pelanggaran-pelanggaran Pemilu yang dilakukan oleh partai politik (Parpol) maupun oleh calon perseorangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Mulai dari pelanggaran administrasi hingga pelanggaran Pidana Pemilu. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kacau balaunya akurasi penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur yang hingga saat ini masih menjadi polemik bahkan ada kecenderungan kekacauan penetapan DPT ini telah melebar luas tidak hanya terjadi di Jatim, tetapi hampir diseluruh nusantara. 3 Penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan kampanye, pemakaian atribut parpol oleh Pengawai Negeri Sipil (PNS) sampai pada mengikut sertakan anak-anak pada acara-acara kampanye dimana hal tersebut sesungguhnya telah jelas-jelas dilarang dan melanggar Undang-undang Pemilu. Bahkan awal pembukaan kampanyepun, yang digagas oleh beberapa parpol untuk melakukan ikrar dan deklarasi bersama untuk kampanye damai 4 , justru yang terjadi sebaliknya dibeberapa tempat, kampanye perdana Pemilu tersebut banyak diwarnai aksi anarkis dan bentrokan. 5 Bahkan ironisnya lagi, tidak jarang parpol dalam berkampanye banyak mengundang para artis dan penyanyi yang tidak jarang pula menampilkan sesuatu yang menurut Undang - undang Pornogafi masuk kategori porno aksi dan pornografi. Dibilang ironis, karena parpol, khususnya mereka yang saat ini mempunyai kursi diparlemen, dan lebih khusus lagi parpol yang mendukung kelahiran Undang-undang Pornografi ini justru mereka sendiri yang melanggarnya. Tulisan ini ingin membahas lebih jauh tentang apa sajakah macam-macam pelanggaran Pemilu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum dan bagaimana cara penyelesaian atas pelanggaran dan sengketa Pemilu tersebut. B. Macam-Macam Pelanggaran Pemilu Menurut UU No. 10 Tahun 2008 UU No. 10 Tahun 2008 membagi sengketa Pemilu menjadi tiga hal yakni dua bentuk pelanggaran Pemilu yang terdiri atas pelanggaran administrasi dan pelangaran pidana serta satu lagi mengenai Perselisihan Hasil Pemilu. 1. Pelanggaran Administrasi Pasal 248 UU Pemilu mendefinisikan perbuatan yang termasuk dalam pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan UU Pemilu yang tidak termasuk dalam ketentuan pidana Pemilu dan ketentuan lain yang diatur dalam Peraturan KPU. Dengan demikian maka semua jenis pelanggaran, kecuali yang telah ditetapkan sebagai tindak pidana, termasuk dalam kategori pelanggaran administrasi. Contoh pelanggaran administratif tersebut misalnya; tidak memenuhi syarat-syarat untuk menjadi peserta Pemilu, menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah dan tempat pendidikan untuk berkampanye, tidak melaporkan rekening awal dana kampanye, pemantau Pemilu melanggar kewajiban dan larangan. 2. Tindak Pidana Pemilu Rumusan tentang pelanggaran pidana Pemilu diatur dalam Pasal 252 UU No. 10 Tahun 2008 yaitu pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu yang diatur dalam Undang-undang ini yang penyelesaiannya dilaksanakan melalui pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Jika ditelusuri lebih jauh, setidaknya ada 51 pasal (Pasal 260 s/d 311) yang memuat ketentuan tentang pidana Pemilu ini, diantaranya: Sengaja menghilangkan hak pilih orang lain (Pasal 260); sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan

Atas alasan inilah sejumlah pihak mendesak kepada KPU untuk menunda pelaksaan Pemilu 2009 nanti seperti diserukan oleh Partai Gerindra dengan alasan jika persoalan DPT ini belum beres maka dikhawatirkan akan mempengaruhi kwalitas hasil Pemilu nantinya. Namun hal ini ditentang oleh sejumlah petinggi-petinggi Parpol dengan alasan penundaan Pemilu akan sangat berisiko besar bagi keberlangsungan estafeta kepemimpinan bangsa. Jika Pemilu diundur, maka dipastikan akan diikuti terjadinya penundaan proses pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, kalau hal ini terjadi maka Indonesia akan mengalami kekosongan pemerintahan (vacum of power). Koran Tempo, Senin 23 Maret 2009. 4 http://www.liputan6.com. Terakhir diakses tanggal 26 Maret 2009. 5 Ibid.

38 Macam-Macam Pelanggaran Pemilu Dan Penyelesaiannya Warta Hukum Edisi: Maret-April 2009 Artikel

Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Jl. Taman Siswa No. 158 Yogyakarta Telp 0274 379178 (129)

untuk pengisian daftar pemilih (Pasal 261); Penetapan jumlah surat suara yang dicetak melebihi jumlah yang ditentukan oleh Undang-undang (Pasal 283); dll. 3. Perselisihan Hasil Pemilu Yang dimaksud dengan perselisihan hasil Pemilu menurut pasal 258 Undang-undang Pemilu adalah perselisihan antara KPU dan peserta Pemilu mengenai penetapan jumlah perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. Perselisihan tentang hasil suara sebagaimana dimaksud hanya terhadap perbedaan penghitungan perolehan hasil suara yang dapat memengaruhi perolehan kursi peserta Pemilu. 6 Lembaga pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa hasil pemilihan umum ini sesuai dengan Pasal 24 C ayat (1) UUD 1945 yang kemudian dijabarkan lebih detail lagi melalui UU N0. 24 Tahun 2003 khususnya pasal 10 adalah Mahkamah Konstitusi. Setelah Pemilihan Kepala Daerah masuk pada rezim Pemilu, praktis saat ini ada tiga jenis Perselisihan Hasil Pemilu (PHPU), yakni: a. PHPU Anggota DPR, DPD, dan DPRD; b. PHPU Presiden dan Wakil Presiden; c. PHPU Pemilukada. C. Penyelesain pelanggaran dan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum a. Pelanggaran Pemilu Sebagaimana dijelaskan di atas, UU Pemilu membagi pelanggaran Pemilu menjadi dua kategori yaitu pelanggaran administrasi dan pidana. Penyelesaian terhadap pelanggaran administrasi merupakan yuridiksi KPU, KPU provinsi dan KPU kabupaten/ kota yang berwenang untuk menyelesaikannya dalam tenggat waktu maksimal 7 (tujuh) hari sejak diterimanya laporan adanya pelanggaran dari Bawaslu, Panwaslu provinsi, Panwaslu kabupaten/ kota sesuai dengan tingkatannya harus sudah ditindak lanjuti (Pasal 249 - 250 UU No.10 Tahun 2008). Oleh karena KPU pada setiap tingkatan baru bisa bertindak setelah diawali dengan adanya laporan dari Bawaslu atau Panwaslu, maka keberadaan lembaga pengawas Pemilu ini kemudian menjadi penting dalam mengawasi setiap rangkaian aktivitas Pemilu untuk menjamin aturan main yang ada tetap dipatuhi oleh semua pihak. Secara lebih detail, mekanisme penyelesaian pelanggaran administrasi ini telah diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilihan Umum (Pasal 8 s/d 17). 7 Laporan atas dugaan adanya pelanggaran administrasi dapat dilakukan oleh (i) Warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih; (ii) Pemantau pemilu; atau (iii) Peserta Pemilu dan disampaikan secara tertulis kepada Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/ Kota, Panwaslu Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan dan Pengawas Pemilu Luar Negeri paling lama 3 (tiga) hari sejak terjadinya pelanggaran, dengan memuat : a. Nama dan alamat pelapor; b. Pihak terlapor; c. Waktu dan tempat kejadian perkara; dan d. Uraian kejadian. Jika laporan pelanggaran tersebut terbukti kebenarannya, pengawas pemilu disemua tingkatan, wajib menindaklanjutinya paling lama 3 (tiga) hari setelah laporan diterima dan dapat diperpanjang menjadi 5 hari jika diperlukan keterangan lebih lanjut dan dilimpahkan kepada KPU. KPU diberi tenggat waktu 7 hari untuk menindaklanjuti dan memeriksa laporan pengawas pemilu tersebut. Sementara keputusan hukum harus sudah diambil oleh KPU atas sebuah

Pembatasan oleh UU yang hanya mengkualifikasi Perselisihan Hasil Pemilu terbatas hanya pada soal perbedaan penghitungan suara, oleh Mahkamah Konstitusi telah diperluas meliputi juga pelanggaran atas asas-asas Pemilu yang umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sebagaimana putusan MK atas sengketa hasil Pemilukada Jawa Timur. Lebih jauh tentang hal ini lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 41/PHPU.D-VI/2008. 7 Keluarnya Peraturan KPU ini merupakan amanat dari UU No. 10 tahun 2008.

39 Macam-Macam Pelanggaran Pemilu Dan Penyelesaiannya Warta Hukum Edisi: Maret-April 2009 Artikel

Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Jl. Taman Siswa No. 158 Yogyakarta Telp 0274 379178 (129)

pelanggaran administrasi paling lama 14 (empat belas) hari setelah dokumen pelanggaran diterima dari Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/ Kota. 8 Untuk penyelesaian pelanggaran pidana pemilu diatur dalam Pasal 252 s.d 259. Seperti tindak pidana pada umumnya, pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu merupakan ruang lingkup kewenangan Polisi Republik Indonesia (POLRI) dalam melakukan proses penyelidikan dan penyidikan yang kemudian dilimpah ke pengadilan dalam lingkup peradilan umum untuk diperiksa dan divonis yang dilakukan oleh hakim khusus. 9 Sementara bertindak sebagai penuntut umum adalah Kejaksaan. Atas putusan hakim, KPU wajib menindak lanjutinya.

Alur penanganan pelanggaran Pemilu tersebut dapat digambarkan dengan skema di bawah ini:

PELAPOR ADMIN
KPU

SANKSI ADMIN

BAWASLU

PELANGGARAN

PIDANA

PENYIDIK POLRI

JAKSA PU

PN
HAKIM KHUSUS

b. Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mekanisme penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) diatur dalam Pasal 74 s.d. Pasal 79 UU MK. Pasal tersebut memuat: 1. Yang berhak menjadi pemohon adalah yaitu perorangan WNI calon anggota DPD Peserta Pemilu, pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Peserta Pemilu, dan Partai Politik (Parpol) Peserta Pemilu; 2. Objek permohonannya adalah penetapan hasil Pemilu yang ditetapkan secara nasional oleh KPU yang mempengaruhi terpilihnya calon anggota DPD, penentuan pasangan Presiden dan wakil Presiden yang masuk putaran kedua serta terpilihnya pasangan calon Presiden dan wakil Presiden, dan perolehan kursi Parpol disuatu daerah pemilihan; 3. Batas maksimal pengajuan permohonan adalah 3 x 24 jam sejak KPU menetapkan hasil Pemilu secara nasional yang memuat posita mengenai adanya kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan KPU dan hasil yang benar menurut Pemohon, serta petitum berupa permintaan membatalkan penetapan KPU dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut versi Pemohon;

Khusus pelanggaran administasi yang dilakukan oleh KPU yang berkaitan dengan pelanggaran kode etik, dapat dibentuk dewan kehormatan paling lambat 14 (empat belas) hari setelah laporan pelanggaran administrasi Pemilu diterima. Lihat Pasal 17 ayat (2) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 44 Tahun 2008. 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai hakim khusus ini diatur dengan Peraturan Mahkamah Agung. Lihat Pasal 254 UU No. 10 tahun 2008.

40 Macam-Macam Pelanggaran Pemilu Dan Penyelesaiannya Warta Hukum Edisi: Maret-April 2009 Artikel

Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Jl. Taman Siswa No. 158 Yogyakarta Telp 0274 379178 (129)

4. Tenggat pengiriman berkas permohonan oleh MK ke KPU, yaitu 3 hari kerja sejak permohonan diregistrasi di Kepaniteraan MK; 5. Putusan MK tentang PHPU ada 3 yaitu: permohonan tidak dapat diterima, permohonan dikabulkan, atau permohonan ditolak; 6. Tenggat (batas waktu) penanganan PHPU di MK, yaitu untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD paling lambat 30 hari kerja sejak permohonan diregistrasi dan untuk PHPU Presiden dan Wakil Presiden 14 hari kerja sejak permohonan diregistrasi; 7. Putusan MK tentang PHPU disampaikan kepada Presiden. Selain UU No. 24 Tahun 2003 tentang MK, untuk kepentingan PHPU ini, sampai saat ini MK telah mengeluarkan Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

D. Kesimpulan Demokrasi memang memerlukan ongkos finansial dan sosial yang mahal serta ketersedian prasyarat-prasyarat yang tidak mudah. Salah satu prasyarat tersebuh adalah adanya Pemilu yang demokratis. Oleh karenaitu menjaga agar Pemilu 2009 menjadi Pemilu yang bersih dari segala bentuk kecurangan dan pelanggaran demi hasil yang berkwalitas merupakan kewajiban bagi semua pihak. Kita harapkan independensi dan ketegasan serta netralitas penyelenggara Pemilu dan pihak berwajib yang diberi kewenangan untuk menindak dan memberi sanksi atas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siapapun tanpa pandang bulu ditindak secara tegas demi mengakkan supremasi hukum dan terselenggaranya Pemilu 2009 yang kredibel, transparan berbobot dan bertanggungjawab untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa pelayan rakyat yang mumpuni dan amanah. Bagaimanapun juga, wakil-wakil rakyat yang akan menduduki kursi parlemen periode 2009-2014 yang akan datang akan sangat menentukan citra lembaga perwakilan kita kelak. Jika DPR yang terpilih nantinya bisa mengembalikan kepercayaan rakyat atas lembaganya, masa depan demokrasi kita akan semakin cerah. Sebaliknya, bila kepercayaan masyarakat semakin merosot, maka kata yang paling pantas untuk kita ucapkan selamat tinggal demokrasi karena rakyat tidak akan pernah percaya lagi terhadap konsep demokrasi yang konon merupakan sistem yang terbaik diantara sistem yang lainnya.

41 Macam-Macam Pelanggaran Pemilu Dan Penyelesaiannya Warta Hukum Edisi: Maret-April 2009 Artikel