Anda di halaman 1dari 20

ASKEP PARTUS PREMATUR 2.

1 Definisi Partus prematurus, pada haid yang teratur, persalinan preterm dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. (ACOG,1997). Menurut Wibowo (1997) yang mengutip pendapat dari Herron,dkk. Persalinan prematur adalah kontraksi uterus yang teratur setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum 37 minggu, dengan interval kontraksi 5 hingga 8 menit atau kurang dan disertai satu atau lebih tanda-tanda berikut : 1. Perubahan serviks yang progresif. 2. Dilatasi serviks 2 cm atau lebih. 3. Penipisan serviks 80% Firmansyah (2006) mengatakan partus prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa kehamilan kurang dari 259 hari dihitung dari hari terakhir haid ibu. Menurut Mochtar (1998) partus prematur adalah persalinan pada kehamilan 28 sampai 37 minggu, berat badan lahir 1000 sampai 2500 gram. Partus prematur adalah persalinan paa umur kehamilan kurang dari 37 mingggu atau berat badan lahir antara 500 sampai 2499 gram. (Sastrawinata, 2003). Sedangkan Manuaba (1998) partus prematur adalah persalinan yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2500 gram. Jadi, dapat diambil kesimpulan dari pernyataan diatas bahwa : Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan ibu 20 sampai 37 minggu dengan berat badan bayi kurrang dari 2500 gram. 2.2 Etiologi Penyebab sekitar 50% kelahiran premature tidak diketahui. Namun, sepertiga persalinan premature terjadisetelah ketuban pecah dini (PROM). Komplikasi kehamilan lain, yang berhubungan dengan persalinan premature, meliputi kehamilan multi janin,hidramnion, serviks tidak kompeten, plasenta lepas secara premature dan infeksi tertentu (seperti, polinefritis dan korioamnionitis) (Andersen, Merkatz, 1990). Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti partus prematurus tidak diketahui, namun menurut Rompas (2004) ada beberapa resiko yang dapat menyebabkan partus prematur, yaitu : a. Faktor resiko mayor Kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari satu kali, riwayat persalinan prematur sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi dan iritabilitas uterus. b. Faktor resiko minor : Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefitis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari satu kali. Menurut Manuaba (1998), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan preterm (prematur) atau berat badan lahir rendah adalah : 1. Faktor ibu : Gizi saat hamil yang kurang Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat

Penyakit menahun ibu: hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok) Faktor pekerja yang terlalu berat 2. Faktor kehamilan : Hamil dengan hidramnion Hamil ganda Perdarahan antepartum Komplikasi hamil: pre-eklamsia/eklamsia, ketuabn pecah dini. 3. Faktor janin: Cacat bawaan Infeksi dlam rahim. 2.3 Tanda dan Gejala 1. Sakit kram seperti menstruasi dapat membingungkan dengan sakit lingkar ligamen. 2. Sait punggung, berbeda dengan yang dalami oleh wanita hamil. 3. Tekanan atau sakit suprapubik, dapat membingungkan dengan infeksi saluran kencing. 4. Sensasi tekanan atau berat pelviks. 5. Perubahan karakter jmlah muatan vaginal (lebih tebal, lebih tipis, berair, berdarah, coklat, atau tak berwarna). 6. Diarrhea 7. Kontraksi uterus yang tidak normal (sakit atau tidak) terasa lebih sering dari pada setiap 10 menit untuk 1 jam atau lebih dan tidak sembuh dengan berbaring. 8. Pecah membran prematur Tanda dan gejala kelainan preterm harus termasuk sebagia rutin pendidikan wanita sekitar 20-24 minggu kehamilan.

2.4 Patofisiologi Enzim sitokinin dan prostaglandin, ruptur membran, ketuban pecah, aliran darah ke plasenta yang berkurang mengakibatkan nyeri dan intoleransi aktifitas yang menimbulkan kontraksi uterus, sehingga menyebabkan persalinan prematur. Akibat dari persalinan prematurberdampak pada janin dan pada ibu. Pada janin, menyebabkan kelahira yang belum pada waktunya sehingga terjailah imaturitas jaringan pada janin. Salah satu dampaknya terjdilah maturitas paru yang menyebabkan resiko cidera pada janin. Sedangkan pada ibu, resiko tinggi pada kesehatan yang menyebabkan ansietas dan kurangnya informasi tentang kehamilan mengakibatkan kurangnya pengetahuan untuk merawat dan menjaga kesehatan saat kehamilan.

ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian A. Sirkulasi Hipertensi, Edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan (HKK)), penyakit sebelumnya.

B. Intregitas Ego Adanya ansietas sedang. C. Makanan / cairan Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan. D. Nyeri / Katidaknyamanan Kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit selama paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit. E. Pernafasan Mungkin perokok berat (7-10 rokok perhari) F. Keamanan Infeksi mungkin ada (misalnya infeksi saluran kemih (ISK) dan atau infeksi vagina) G. Seksualitas Tulang servikal dilatasi Perdarahan mungkin terlihat Membran mungkin ruptur (KPD) Perdarahan trimester ketiga Riwayat aborsi, persalinan prematur, riwayat biopsi konus Uterus mungkin distensi berlebihan, karena hidramnion, makrosomia atau getasi multiple. H. Interaksi sosial Mungkin tergolong pada kelas sosial yang rendah.

I. Pemeriksaan diagnostik Ultrasonografi : Pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2500 gram) Tes nitrazin : menentukan KPD Jumlah sel darah putih : Jika mengalami peningkatan, maka itu menandakan adanya infeksi amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap sfingomielin (L/S) mendeteksi fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru janin, atau infeksi amniotik. Pemantauan elektronik : memfalidasi aktifitas uterus / status janin. 3.2 Diagnosa 1. Aktifitas inoleran berhubungan dengan hipersensitivitas otot / seluler. 2. Keracunan, resiko tinggi. Faktor resiko dapat meliputi toksik yang berhubungan dengan dosis / efek samping tokolitik. 3. Cedera resiko tinggi terhadap janin, berhubungan dengan resiko melahirkan bayi preterm. 4. Ansietas, ketakutan berhubungan dengan krisis situasional, ancaman yng dirasakan atau aktual pada diri dan janin. 5. Kurang pengetahuan mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan dan prognosis berhubungan dengan kesalahan interpretasi atau kurang informasi. 6. Nyeri akut atau ketidaknyamanan berhubungan dengan kontraksi otot dan efek obat-obatan.

3.3 Intervensi 1. Diagnosa : Aktifitas inoleran berhubungan dengan hipersensitivitas otot / seluler. Tujuan :

Menurunkan tingkat aktifitas. Intervensi Rasional Jelaskan alasan perlunya tirah baring, penggunaan posisi rekumben kiri/miring dan penurunan aktifitas. Tindakan ini ditujukan untuk mempertahankan janin jauh dari serviks dan meningkatkan perfusi uterus, tirah baring dapat menurunkan peka rangsang uterus. Berikan tindakan kenyamanan seperti gosokan punggung, perubahan posisi, atau penurunan stimulus dalam ruangan (misalnya lampu redup) Menurunkan tegangan otot dan kelelahan serta meningkatkan rasa nyaman. Kelompokkan aktivitas sebanyak mungkin, seperti pemberian obat tanda vital dan pengkajian. Meningkatkan kesempatan klien untuk beristirahat lebih lama diantara interupsi untuk tindakan berikutnya. Berikan periode tanpa interupsi untuk istirahat/tidur. Meningkatkan istirahat, mencegah kelelahan, dan dapat meningkatkan relaksasi. Berikan aktivitas pengalihan, seperti membaca, mendengarkan rasio dan menonton televisi atau kunjungan dengan teman yang dipilih atau keluarga. Membantu klien dalam koping dengan penurunan aktifitas .

2. Diagnosa : Keracunan, resiko tinggi. Faktor resiko dapat meliputi toksik yang berhubungan dengan dosis / efek samping tokolitik Tujuan : Mencegah atau meminimalkan cedera materal Mandiri Intervensi Rasional Tempatkan klien pada posisi lateral, tinggikan kepala selama pemberian infus obat IV Menurunkan iribilitas uterin, meningkatkan perfusi plasenta dan mencegah hipotensi supine. Pantau tanda vital, auskultasi paru, perhatikan iregularitas jantung dan laporkan dispnea / sesak dada. Komplikasi, seperti edema pulmoner, disritmia jantung / takikardia, agitasi , dispnea, nyeri dada dan peningkatan pada volume plasma mungkin terjadi pada pemberian agnosis reseptor beta (ritrodin, isoxuprin) dan terbutalin sulfat, yang merangsang reseptor beta2 (khususnya pada penggunaan steroid bersama). Tibang klien setiap hari Memeriksa potensial perubahan fungsi perkemihan / retensi cairan. Pantau adanya mengantuk, kemerahan karena panas, depresi pernafasan dan depresi refleks tendon dalam dengan tepat. Tanda depresi neuromuskular, menandakan meningkatkan kadar MgSO4 serum. Sediakan antidot (Kalsium glukonat untuk MgSO4 propanol untuk ritrodin atau terbulatin sulfat). Pemberian antidot mungkin perlu untuk membalik atau mengatasi efek agen tokoitik.

Kolaborasi Intervensi Rasional Bantu sesuai kebutuhan dengan pemeriksaan vagina steril Untuk mengkaji status servikal. Pemerikasaan vaginal dipertahankan minimum, karena hal ini dapat menambah kepekaan uterus. Keamanan tokolitik bila serviks berdilatasi lebih dari 4 cm atau menonjol 80% tidak di dokumentasikan dan secara umum di kontraindikasikan. Berika larutan IV atau lobus cairan sesuai indikasi. Hidrasi dapatmenurunkan aktifitas uterus.

Sebelum mulai terapi obat, hidrasi meningkatkan klirens ginjal dan meminamalkan hipotensi. Berikan nifedipine (procardia) di telan dan dikunyah dengan makan dan minum. Nifedipine dapat diganti dengan terbutalin sulfat. Nifedipin, penyekat saluran kalsium, digunakan secara percobaan bila obat lain gagal untuk menekan aktifitas uterus. Pasang kaos kaki antiembolik dan berikan latihan rentang gerka pasif pada kaki setiap 1-2jam. Mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, yang dapat terjadi karena relaksasi otot halus. Pasang kateter indwellng sesuai indikasi. Haluaran urin harus dipantaudan dipertahankan bila memberikan MgSO4. Haluaran harus pada sedikitknya 30 ml/jam atau 100 ml pada periode 4 jam. Atur untuk memindahkan klien ke fasilitas resiko tinggi atau pusat perawatan tarsier, bila aktifitas uterus menetap bersamaan dengan pemberian tokolitik. Membantu menjamin ketersediaan perawatan intensif yang tepat, yang mungkin diperlukan oleh bayi baru lahir bersamaan dengan kelahiran preterm. 3. Diagnosa : Cedera resiko tinggi terhadap janin, berhubungan dengan resiko melahirkan bayi preterm. Tujuan : Mempertahankan kehamilan sedikitnya sampai kondisi yang menunjukkan matutitas bayi. Intervensi Rasional Kaji kondisi ibu yang di kontraindikasikan terhadap terapi steroid untuk memudahkan maturitas paru janin. Pada HKK dan korioamnionitis, terapi steroid dapat memperberat hipertensi dan menutupi tanda infeksi. Steroid dapat meningkatkan glukosa darah pada pasien dengan diabetes. Obat tidak akan efektif bila tidak mampu menunda kelahiran sedikitnya 48 jam. Kaji DJJ ; perhatikan adanya aktifitas uterus atau perubahan sevikal. Siapkan terhadap kemungkinan kelahiran preterm. Tokolitik dapat meningkatkan DJJ. Kelahiran dapat sangat cepat pada bayi kecil bila kontraksi uterus menetap tidak responsif pada tokolitik, atau bila perubahan servikal berlanjut. Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut Jika janin tidak dilahirkan dalam 7 hari dari pemberian ateroid, dosis harus diulang setiap minggu. Berikan terapi tokolitik sesuai pesanan Membantu menurunkan aktifitas smiometrial untuk mencegah / menunda kelahiran dini.

4. Diagnosa : Ansietas, ketakutan berhubungan dengan krisis situasional, ancaman yng dirasakan atau aktual pada diri dan janin. Tujuan : Mengungkapkan pemahaman situasi individu dan kamungkinan hasil akhir. Intervensi Rasional Orientasikan klien dan pasangan pada lingkungan persalinan. Membantu klien dan orang terdekat merasa mudah dan lebih nyaman pada sekitar mereka Anjurkan penggunaan teknik relaksasi Memungkinkan klien mendapatka keuntungan maksimum dari periode istirrahat, mencegah kelelahan otot dan memperbaiki aliran darah uterus. Anjurkan pengungkapan rasa rasa takuk dan masalah. Dapat membantu menurunkan ansietas dan merangsang identifikasi perilaku koping. Berikan sedatif bila tindakan lain tidak berhasil Memberikan efek menenangkan dan traquiliser.

5. Diagnosa : Kurang pengetahuan mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan dan prognosis berhubungan dengan kesalahan interpretasi atau kurang informasi. Tujuan : Mengungkapkan kesadaran tentang implikasi dan kemungkinan hasil persalinan preterm. Mandiri Intervensi Rasional Pastikan pengetahuan klien tentang persalinan preterm dan kemungkinan hasil Membuat data dasar dan mengidentifikasi kebutuhan Berikan informasi tentang perawatan tindak lanjut bila klien pulang Klien mungkin perlu kembali untuk keteraturan pemantauan adan atau tindakan Anjurkan klien mengosongkan kandung kemih setipa 2 jam saat terjaga. Mencegah tekanan kandung kemih penuh pada uterus yang peka. Tinjau ulang kebutuhan cairan setiap hari, misalnya 2 sampai 3 quart (1,9 2,81) cairan dan menghindari kafein. Dehidrasi dap[at menimbulkan peningkatan kepekaan otot uterus. Kolaborasi Intervensi Rasional Tekankan untuk menghindari obat yang dijual bebas sementara agen tokolitik diberikan kecuali dengan izin dokter. Penggunaan bersamaan dengan obat yang dijual bebas dapat menyebabkan efek mengganggu, khususnya bila obat yang dijual bebas mempunyai efek samping serupa dengan agen tokolitik (misalnya, antihistamin atau inhaler dengan efek bronkodilatasi seperti spinefrin). Berikan informasi tentang menggunkan tokolitik oral bersama makanan. Makanan memperbaiki toleransi terhadap obat dan penurunan efek samping 6. Diagnosa : Nyeri akut atau ketidaknyamanan berhubungan dengan kontraksi otot dan efek obat-obatan. Tujuan : Melaporkan ketidaknyamanan menjadi minimal dan terkontrol. Intervensi Rasional Percepat proses penerimaan dan lakukan tirah baring pada klien, dngan menggunakan posisi miring kekiri. Posisi miring kekiri memperbaiki aliran darah uterus dan dapt menurunkan kepekaan uterus. Tinjau ulang teknik relaksasi Membantu menurunkan persepsi klien tentang ketidaknyamanan dan meningkatkan rasa kontrol. Berikan analgesik sesuai indikasi Analgesik ringan menurunkan tegangan dan ketidaknyamanan otot. 3.4 Evaluasi Klien akan menunjukkan kepatuhan terhadap batasan aktifitas yang diprogramkan, jadwal pengobatan atau keduanya. Klien tidak akan mengalami komplikasi akibat penatalaksanaan obat yang diprogramkan. Klien akan meneruskan persalinan sampai cukup bulan atau mendekati aterm. Klien akan melahirkan bayi yang sehat dan matur. Diposkan oleh RYRI LUMOET di 20:36
http://ryrilumoet.blogspot.com/2009/04/askep-partus-prematur.html

Asuhan Keperawatan Pasien Berat Badan Lahir Rendah A. PENGERTIAN Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. Dalam hal ini dibedakan menjadi : 1. Prematuritas murni Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai. 2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR) Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan. B. ETIOLOGI Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu : 1. Faktor ibu Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diaatas 35 tahun Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok 2. Faktor kehamilan Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini 3. Faktor janin Cacat bawaan, infeksi dalam rahim 4. Faktor yang masih belum diketahui C. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Prematuritas murni BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm Masa gestasi < 37 minggu Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun. Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna 2. Dismaturitas Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada, Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis

Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat Tali pusat berwarna kuning kehijauan D. KOMPLIKASI Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC) Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal E. PENATALAKSANAAN MEDIS Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus) Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat F. ASUHAN KEPERAWATAN No Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan 1. 2. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan Pola nafas yang efektif Kriteria : Kebutuhan oksigen menurun Nafas spontan, adekuat Tidak sesak. Tidak ada retraksi Pertukaran gas adekuat Kriteria : Tidak sianosis. Analisa gas darah normal Saturasi oksigen normal.

Berikan posisi kepala sedikit ekstensi Berikan oksigen dengan metode yang sesuai Observasi irama, kedalaman dan frekuensi pernafasan Lakukan isap lendir kalau perlu Berikan oksigen dengan metode yang sesuai Observasi warna kulit Ukur saturasi oksigen Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan Lapor dokter apabila terdapat tanda-tanda perburukan pernafasan Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan No Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan 3. 4. 5 Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat Resiko tinggi hipotermi atau hipertermi b/d imaturitas fungsi termoregulasi atau perubahan suhu lingkungan Hidrasi baik Kriteria: Turgor kulit elastik Tidak ada edema Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam Elektrolit darah dalam batas normal Nutrisi adekuat Kriteria : Berat badan naik 10-30 gram / hari Tidak ada edema Protein dan albumin darah dalam batas normal

Suhu bayi stabil Suhu 36,5 0C -37,2 0C Akral hangat Observasi turgor kulit. Catat intake dan output Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat Observasi dan catat toleransi minum Timbang berat badan setiap hari Catat intake dan output Kolaborasi dalam pemberian total parenteral nutrition kalau perlu Rawat bayi dengan suhu lingkungan sesuai Hindarkan bayi kontak langsung dengan benda sebagai sumber dingin/panas Ukur suhu bayi setiap 3 jam atau kalau perlu Ganti popok bila basah No Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan 6. 7. 8. Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia Resiko tinggi infeksi b/d imaturitas fungsi imunologik Perfusi jaringan baik Tekanan darah normal Pengisian kembali kapiler <2 detik Akral hangat dan tidak sianosis Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam Kesadaran composmentis Tidak ada injuri Kriteria : Kesadaran composmentis Gerakan aktif dan terkoordinasi

Tidak ada kejang ataupun twitching Tidak ada tangisan melengking Hasil USG kepala dalam batas normal Bayi tidak terinfeksi Kriteria : Suhu 36,5 0C -37,2 0C Darah rutin normal Ukur tekanan darah kalau perlu Observasi warna dan suhu kulit Observasi pengisian kembali kapiler Observasi adanya edema perifer Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan Cegah terjadinya hipoksia Ukur saturasi oksigen Observasi kesadaran dan aktifitas bayi Observasi tangisan bayi Observasi adanya kejang Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi Ukur lingkar kepala kalau perlu Kolaborasi dalam pemeriksaan USG kepala Hindari bayi dari orang-orang yang terinfeksi kalau perlu rawat dalam inkubator Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik bila melakukan prosedur invasif No Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan 9. 10. 11. Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d imaturitas struktur kulit Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif Koping keluarga tidak efektif b/d kondisi kritis pada bayinya, perawatan yang lama dan takut untuk merawat bayinya setelah pulang dari RS

Integritas kulit baik Kriteria : Tidak ada rash Tidak ada iritasi Tidak plebitis Persepsi dan sensori baik Kriteria : Bayi berespon terhadap stimulus Koping keluarga efektif Kriteria : Ortu kooperatif dg perawatan bayinya. Pengetahuan ortu bertambah Orang tua dapat merawat bayi di rumah Lakukan perawatan tali pusat Observasi tanda-tanda vital Kolaborasi pemeriksaan darah rutin Kolaborasi pemberian antibiotika Kaji kulit bayi dari tanda-tanda kemerahan, iritasi, rash, lesi dan lecet pada daerah yang tertekan Gunakan plester non alergi dan seminimal mungkin Ubah posisi bayi dan pemasangan elektrode atau sensor Membelai bayi sebelum malakukan tindakan Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut Memberikan rangsang cahaya pada mata Kurangi suara monitor jika memungkinkan Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot Memberikan kesempatan pada ortu berkonsultasi dengan dokter Rujuk ke ahli psikologi jika perlu Berikan penkes cara perawatan bayi BBLR di rumah termasuk pijat bayi, metode kanguru, cara memandikan Lakukan home visit jika bayi pulang dari RS untuk menilai kemampuan orang tua merawat bayinya
http://bared18.wordpress.com/2009/04/02/asuhan-keperawatan-bayi-premature/

Askep Bayi Lahir Prematur


10:09 PM SeaSon No comments BAYI PREMATUR Definisi : Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran disebut dengan bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan pada bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit. Masalah yang umum terjadi diantaranya respiratory disstres syndrom (RDS), enterocolitis nekrotik, hiperbilirubinemia, hypoglikemia, thermoregulation, patetnt duktus arteriosus (PDA), edema paru, perdarahan intraventrikular. Stressor tambahan lain pada infant dan orangtua meliputi hospitalisasi untuk penyakit pada bayi. Respon orangtua dan mekanisme koping mereka dapat menimbulkan gangguan pada hubungan antar mereka. Diperlukan perencanaan dan tindakan yang adekuat untuk permasalahn tersebut. Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung pada berat badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75% - 80% angka kesakitan dan kematian neonatus. Etiologi dan faktor presipitasi: Permasalahan pada ibu saat kehamilan : Penyakit/kelainan seperti hipertensi, toxemia, placenta previa, abruptio placenta, incompetence cervical, janin kembar, malnutrisi dan diabetes mellitus. Tingkat sosial ekonomi yang rendah dan prenatal care yang tidak adekuat Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang, alkohol, merokok dan caffeine Pengkajian Riwayat kehamilan Umur ibu dibawah 16 tahun dengan latar belakang pendidikan rendah Kehamilan kembar Status sosial ekonomi, prenatal care tidak adekuat, nutrisi buruk Kemungkinan penyakit genetik Riwayat melahirkan prematur

Infeksi seperti TORCH, penyakit menular seksual dan lain sebagainya Kondisi seperti toksemia, prematur rupture membran, abruptio placenta dan prolaps umbilikus Penyalahgunaaan obat, merokok, konsumsi kafeine dan alkohol Golongan darah, faktor Rh, amniocentesis. Status bayi baru lahir Umur kehamilan antara 24 37 minggu, berat badan lahir rendah atau besar masa kehamilan Berat badan dibawah 2500 gram Kurus, lemak subkutan minimal Adanya kelainan fisik yang terlihat APGAR skore 1 5 menit : 0 3 mengindikasikan distress berat, 4 6 menunjukkan disstres sedang dan 7 10 merupakan nilai normal. Kardiovaskular Denyut jantung 120 160 x per menit pada sisi apikal dengan irama teratur Saat kelahiran, terdengar murmur Gastrointestinal Protruding abdomen Keluaran mekonium setelah 12 jam Kelemahan menghisap dan penurunan refleks Pastikan anus tanpa/dengan abnormalitas kongenital Integumen Cyanosis, jaundice, mottling, kemerahan, atau kulit berwarna kuning Verniks caseosa sedikit dengan rambut lanugo di seluruh tubuh Kurus Edema general atau lokal Kuku pendek Kadang-kadang terdapat petechie atau ekimosis Muskuloskeletal Cartilago pada telinga belum sempurna Tengkorak lunak Keadaan rileks, inaktive atau lethargi Neurologik Refleks dan pergerakan pada test neurologik tanpa resistansi Reflek menghisap, swalowing, gag reflek serta reflek batuk lemah atau tidak efektif Tidak ada atau minimalnya tanda neurologik Mata masih tertutup pada bayi dengan umur kehamilan 25 26 minggu Suhu tubuh yang tidak stabil : biasanya hipotermik Pulmonary Respiratory rate antara 40 60 x/menit dengan periode apnea Respirasi irreguler dengan nasal flaring, grunting dan retraksi (interkostal, suprasternal, substrenal) Terdengar crakles pada auskultasi Renal Berkemih terjadi 8 jam setelah lahir Kemungkinan ketidakmampuan mengekresikan sulution dalam urine

Reproduksi Perempuan : labia mayora belum menutupi klitoris sehingga tampak menonjol Laki-laki : testis belum turun secara sempurna ke kantong skrotum, mungkin terdapat inguinal hernia. Data penunjang X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa Kadar kalsium serum, penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) Kadar elektrolit, analisa gas darah, golongan darah, kultur darah, urinalisis, analisis feses dan lain sebagainya. Diagnosa keperawatan Dx. 1. Resiko tinggi distress pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis Tujuan : Mempertahankan dan memaksimalkan fungsi paru Tindakan : Kaji data fokus pada kemungkinan disstres pernafasan yaitu : Riwayat penyalahgunaan obat pada ibu atau kondisi abnormal selama kehamilan dan persalinan Kondisi bayi baru lahir : APGAR score, kebutuhan resusitasi Respiratory rate, kedalaman, takipnea Pernafasan grunting, nasal flaring, retraksi dengan penggunaan otot bantu pernafasan (intercostal, suprasternal, atau substernal) Cyanosis, penurunan suara nafas Kaji episode apneu yang terjadi lebih dari 20 detik, kaji keadaan berikut : Bradykardi Lethargy, posisi dan aktivitas sebelum, selama dan setelah episode apnea (sebagai contoh saat tidur atau minum ASI) Distensi abdomen Suhu tubuh dan mottling Kebutuhan stimulasi Episode dan durasi apnea Penyebab apnea, seperti stress karena dingin, sepsis, kegagalan pernafasan. Berikan dan monitor support respiratory sebagai berikut : Berikan oksigen sesuai indikasi Lakukan suction secara hati-hati dan tidak lebih dari 5 detik Pertahankan suhu lingkungan yang normal Monitor hasil pemeriksaan analisa gas darah untuk mengetahui terjadinya acidosis metabolik Berikan oabt-obat sesuai permintaan dokter seperti theophylin IV. Monitor kadar gula darah setiap 1 2 hari. Dx. 2. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan

suhu lingkungan Tujuan : Mempertahankan suhu lingkungan normal Tindakan : Pertahankan suhu ruang perawatan pada 25 C Kaji suhu rectal bayi dan suhu aksila setiap 2 jam atau bila perlu Tempatkan bayi di bawah pemanas atau inkubator sesuai indikasi Hindarkan meletakkan bayi dekat dengan sumber panas atau dingin Kaji status infant yang menunjukkan stress dingin Dx. 3. Defisiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen, zat besi, dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi, tidak adekuatnya intake kalori, serta kehilangan kalori. Tujuan : meningkatkan dan mempertahankan intake kalori yang adekuat pada bayi Tindakan : Kaji refleks hisap dan reflek gag pada bayi. Mulai oral feeding saat kondisi bayi stabil dan respirasi terkontrol Kaji dan kalkulasikan kebutuhan kalori bayi Mulai breast feeding atau bottle feeding 2 6 jam setelah lahir. Mulai dengan 3 5 ml setiap kali setiap 3 jam. Tingkatkan asupan bila memungkinkan. Timbang berat badan bayi setiap hari, bandingkan berat badan dengan intake kalori untuk menentukan pemabatasan atau peningkatan intake Berikan infus dextrose 10% jika bayi tidak mampu minum secara oral Berikan TPN dan intralipid jika dibutuhkan Monitor kadar gula darah Dx. 4. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas, radiasi lingkungan, efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Tindakan : Kaji dan hitung kebutuhan cairan bayi Berikan cairan 150 180 ml/kg berat badan dan 200 ml/kg berat badan jika dibutuhkan. Timbang berat badan bayi setiap hari Monitor dan catat intake dan output setiap hari, bandingkan jumlahnya untuk menentukan status ketidakseimbangan. Test urine : spesifik gravity dan glikosuria Pertahankan suhu lingkungan normal Kaji tanda-tanda peningkatan kebutuhan cairan : Peningkatan suhu tubuh Hipovolemik shock dengan penurunan tejanan darah dan peningkatan denut jantung, melemahnya denyut nadi, tangan teraba dingin serta motling pada kulit. Sepsis Aspiksia dan hipoksia Monitor potassium, sodium dan kadar chloride. Ganti cairan dan elektrolit dengan dextrose 10% bila perlu. Dx. 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Tujuan : Infeksi dapat dicegah Tindakan :

Kaji fluktuasi suhu tubuh, lethargy, apnea, iritabilitas dan jaundice Review riwayat ibu, kondisi bayi saat lahir, dan epidemi infeksi di ruang perawatan Amati sampel darah dan drainase Lakukan pemeriksaan CBC dengan hitung leukosit, platelets, dan imunoglubolin Berikan lingkungan yang melindungi bayi dari infekasi : Lakukan cuci tangan sebelum menyentuh bayi Ikuti protokol isolasi bayi Lakukan tehnik steril saat melakukan prosedur pada bayi Dx. 6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Tujuan : Mempertahankan integritas kulit Tindakan : Kaji kulit bayi terhadap kemerahan, iritasi, rashes, dan lesi serta keadaan pada area kulit yang tertekan. Kaji tempat-tempat prosedur invasif pada bayi Berikan perawatan kulit setiap hari. Lindungi kulit bayi dari kontak dengan agen pembersih atau plester. Dx. 7. Gangguan sensori persepsi : visual, auditory, kinestehetik, gustatory, taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Tujuan : Mempertahankan stimulasi sensori yang optimal tanpa berlebihan Tindakan : Kaji kemampuan bayi memberikan respon terhadap stimulus. Observasi : Deficit neurologik Kurangnya perhatian bayi terhadap stimulus Tidak ada respon terhadap suara, kontak mata atau tidak adanya refleks normal Efek obat terhadap perkembangan bayi Berikan stimulasi visual : Arahkan cahaya lampu pada bayi Ayunkan benda didepan mata bayi Letakkan bayi pada posisi yang memungkinkan untuk kontak mata : tegakkan bayi Berikan stimulasi auditory : Bicara pada bayi, lakukan dengan tekanan suara rendah dan jelas Panggil bayi dengan namanya, bicara pada bayi saat memberikan perawatan Bernyanyi, mainkan musik tape recorder atau hidupkan radio Hindari suara bising di sekitar bayi Berikan stimulasi tactile : Peluk bayi dengan penuh kasih sayang Berikan kesempatan pada bayi untuk menghisap Sentuh bayi dengan benda lembut seperti saputangan atau kapas Berikan perubahan posisi secara teratur Berikan stimulasi gustatory dengan mendekatkan hidung bayi ke payudara ibu atau ASI yang ditampung. Berikan periode istirahat dan tidur yang cukup. Dx. 8. Defisit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah Tujuan :Keluarga mengetahui cara merawat anak yang sakit di rumah Tindakan :

Informasikan orangtua dan keluarga tentang : Proses penyakit Prosedur perawatan Tanda dan gejala problem respirasi Perawatan lanjutan dan therapy Ajarkan orangtua dan keluarga tentang treatment pada anak : Therapy home oksigen Ventilasi mekanik Fisiotherapi dada Therapy obat Therapy cairan dan nutrisi Berikan kesempatan pada keluarga mendemontrasikan perawatan pada bayinya Anjurkan keluarga terlibat pada perawatan bayi Ajarkan keluarga dan orangtua bagaimana menyeimbangkan istirahat dan tidur dan bagaimana menilai toleransi bayi terhadap aktivitas. ASFIKSIA Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan reflek-reflek primitif seperti menghisap dan mencari puting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat. Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score). Pertemuan SAREC di Swedia tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut nilai SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial. Tabel 2. Cara Menetapkan Nilai SIGTUNA

Derajat vitalitas bayi baru lahir menurut nilai SIGTUNA adalah :. Tanpa asfiksia atau asfiksia ringan nilai = 4 Asfiksia sedang nilai 2 3 Asfiksia berat nilai 1 Bayi lahir mati / mati baru fresh still birth nilai 0 Selama ini umumnya untuk menilai derajat vitalitas bayi baru lahir digunakan penilaian secara APGAR. Pelaksanaanya cukup kompleks karena pada saat bersamaan penolong persalinan harus menilai lima parameter yaitu denyut jantung, usaha nafas, tonus otot, gerakan dan warna kulit. dari hasil penelitian di AS nilai APGAR sangat bermanfaat untuk mengenal bayi resiko tinggi yang potensial untuk kematian dan kecacatan neurologis jangka panjang seperti cerebral palsy. Dari lima variabel nilai APGAR hanya pernafasan dan denyut jantung yang berkaitan erat dengan terjadinya hipoksia dan anoksia. Ketiga variabel lain lebih merupakan indikator maturitas tumbuh kembang bayi. Penanganan asfiksia pada bayi baru lahir bertujuan untuk menjaga jalan nafas tetap bebas, merangsang pernafasan, menjaga curah jantung, mempertahankan suhu, dan memberikan obat penunjang resusitasi. Akibat yang mungkin muncul pada bayi asfiksia secara keseluruhan mengalami kematian 10 20 %, sedangkan 20 45 % dari yang hidup mengalami kelainan neurologi. Kira-kira 60 % nya dengan gejala sisa berat. Sisanya normal. Gejala sisa neurologik berupa cerebral palsy, mental retardasi, epilepsi, mikrocefalus, hidrocefalus dan lain-lain. Diagnosa Keperawatan Gangguan pertukaran gas Data penunjang/Faktor kontribusi : Oksigenasi yang adekuat dari bayi dipengaruhi banyak faktor seperti riwayat prenatal dan intrapartal, produksi mukus yang berlebihan, dan stress karena dingin. Riwayat prenatal dan intrapartal yang buruk dapat mengakibatkan fetal distress dan hipoksia saat masa adaptasi bayi. Pertukaran gas juga dapat terganggu oleh produksi mucus yang berlebihan dan bersihan jalan nafas yang tidak adekuat. Stress akibat dingin meningkatkan kebutuhan oksigen dan dapat mengakibatkan acidosis sebagai efek dari metabolisme anaerobik. Tujuan : Jalan nafas bebas dari sekret/mukus Pernafasan dan nadi dalam batas normal Cyanosis tidak terjadi Tidak ada tanda dari disstres pernafasan. Intervensi : Amati komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan fetal (penyakit jantung atau ginjal, PIH atau Diabetes) Review status intrapartal termasuk denyut jantung, perubahan denyut jantung, variabilitas irama, level PH, warna dan jumlah cairan amnion. Catat waktu dan pengobatan yang diberikan kepada ibu seperti Magnesium sulfat atau

Demerol Kaji respiratori rate Catat keadaan nasal faring, retraksi dada, respirasi grunting, rales atau ronchi Bersihkan jalan nafas; lakukan suction nasofaring jika dibutuhkan, monitor pulse apikal selama suction Letakkan bayi pada posisi trendelenburg pada sudut 10 derajat. Keringkan bayi dengan handuk yang lembut selimuti dan letakkan diantara lengan ibu atau hangatkan dengan unit pemanas Amati intensitas tangisan Catat pulse apikal Berikan sentuhan taktil dan stimulasi sensori Observasi warna kulit, lokasi sianosis, kaji tonus otot Kolaborasi Berikan oksigen melalui masker, 4 - 7 lt/menit jika diindikasikan asfiksia Berikan obat-obatan seperti Narcan melalui IV Berikan terapi resusitasi DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilyn E., Maternal/Newborn Care Plans : Guidelines for Client Care, F.A. Davis Company, Philadelphia, 1988 Markum, A.H., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1991 Melson, Kathryn A & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse Pennsylvania, 1994 Wong, Donna L., Wong & Whaleys Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby-Year Book Inc., St. Louis Missouri, 1990