P. 1
dokumentasi keperawtan

dokumentasi keperawtan

|Views: 57|Likes:
Dipublikasikan oleh demazbaegracombong

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: demazbaegracombong on Oct 27, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $4.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/24/2015

$4.99

USD

pdf

text

original

KONSEP DOKUMENTASI KEPERAWATAN

2.1 Dokumentasi Keperawatan 2.1.1 Pengertian Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi keperawatan adalah pengumpulan, penyimpanan dan desiminasi informasi guna mempertahankan sejumlah fakta yang penting secara terus – menerus pada suatu waktu, terhadap sejumlah kejadian (Fisbach, 1991). Pendapat lain menjelaskan bahwa dokumentasi adalah suatu catatan kegiatan yang dapat dipergunakan untuk mengungkapakn suatu fakta yang aktual dan dapat dipertanggung jawabkan (Keliat, 1990). Dan menurut Setyowaty dan Kemala Rita dijelaskan bahwa dokumentasi keperawatan merupakan bukti pelayanan keperawatan profesional, karena dengan dokumentasi semua aspek baik pengobatan dan perawatan yang dilakukan oleh tim kesehatan tertulis dengan teratur sehingga dapat membuat gambaran kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan (Jurnal Keparawatan vol. II, No. 5, 1998) Dari pengertian – pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dokumentasi keperawatan merupakan suatu bukti pelayanan keperawatan yang berisi kegiatan pencatatan, pelaporan yang otentik dan penyimpanan semua kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan klien yang dapat dipergunakan untuk mengungkapakan suatu fakta aktual dan dapat dipertanggungjawabkan.

2.1.2

Tujuan Dokumentasi Keperawatan Menurut Doenges (1998) tujuan sistem dokumentasi adalah untuk :

1. Memfasilitasi pemberian perawatan pasien yang berkualitas. 2. Memastikan dokumentasi kemajuan yang berkenaan dengan hasil yang berfokus pada pasien. 3. Memfasilitasi konsitensi antar disiplin dan komunikasi tujuan dan kemajuan pengobatan.

Pengurangan biaya informasi. Untuk memberikan justifikasi terhadap reimbursemen 6. akreditasi dan profesional. b. . Informasi untuk siswa / mahasiswa. Hal ini juga menyediakan : a. 4. keuangan. Untuk mendefinisikan fokus keperawatan bagi klien atau kelompok. c. 5. Bukti aplikasi standar praktek keperawatan. 2. Bukti legal dokumentasi sebagai pertanggung – jawaban kepada klien. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien. Untuk memberikan data penelitian dan tujuan pendidikan. f. Dokumentasi untuk penelitian. Untuk membedakan tanggung gugat perawat dari tanggung gugat tim pelayanan kesehatan lain. 3. Komunikasi konsep resiko tindakan keperawatan. i. merencanakan. Untuk memberikan kriteria penelaahan dan pengevaluasian asuhan (perbaikan kualitas). Serta menurut Nursalam (2001) tujuan utama dari pendokumentasian adalah : 1.Sedangkan menurut Carpenito (1999) tujuan dari dokumentasi keperawatan secara administratif adalah sebagai berikut: 1. g. 8. melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi tindakan. d. Bukti kualitas asuhan keperawatan. Sumber informasi untuk data yang harus dimasukkan. Informasi terhadap perlindungan individu. e. Untuk memenuhi persyaratan hukum. Untuk memberikan kriteria klasifikasi pasien. 2. hukum dan etik. Sumber informasi statistik untuk standar dan riset keperawatan. h. Untuk memberikan data untuk tinjauan administratif dan legal 7.

Suatu data keuangan yang sesuai. Dokumentasi dapat dijadikan alat komunikasi antara tenaga perawat atau tenaga kesehatan lain. k. Jaminan Mutu (Kualitas Pelayanan). Keuangan. Hukum. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. 4. Komunikasi.1. 3.3 Manfaat dan Pentingnya Dokumentasi Keperawatan Menurut Nursalam (2001). Dokumentasi untuk tenaga profesional dan tanggung jawab etik dan mempertahankan kerahasiaan informasi klien. Data perencanaan pelayanan kesehatan di masa yang akan datang. 2. Persepsi hak klien. Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum. m. Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat. Dan untuk mengetahui sejauhmana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat. 2. dokumentasi keperawatan mempunyai makna yang penting bila dilihat dari berbagai aspek : 1. l.j. akan memberi kemudahan bagi perawat dalam membantu masalah klien. .

Undang Undang No. 3. 8 tahun 1999 yang efektif diberlakukan mulai tanggal 21 April 2000 tentang perlindungan konsumen. 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 53 ayat 1 yang mencantumkan tentang hak memperoleh perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan dan ayat 2 tentang perlindungan / melindungi hak pasien. 7. 5.7637 tahun 1992 tentang Standar Asuhan Keperawatan.4 Dasar Hukum Pendokumentasian Keperawatan Dasar hukum yang dipakai di Indonesia sebagai landasan dalam pentingnya pembuatan dokumentasi keperawatan adalah : 1. 2. Pendidikan.2. Melalui dokumentasi keperawatan akan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepad klien. 2. Karena isi dari dokumentasi keperaeatan menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau obyek riset dan pengembangan profesi keperawatan. Undang Undang No. sedang dan telah diberikan.03.00. 4. YM.Semua tindakan keperawatan yang belum. Akreditasi. Data yang terdapat di dalamnya mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi keperawatan. SK Dirjen Yanmed No. . 436/MENKES/SK/VI/1993 tentang standar pelayanan rumah sakit.1.6. yang didalamnya terdapat hak dan kewajiban konsumen. dicatat dengan lengkap yang dapat dipergunakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan bagi klien. Penelitian. 6. SK Menkes No.

2.1.5. identifikasi masalah. 1998). tetapi juga syarat hukum di tatanan perawatan kesehatan. Evaluasi kemajuan pasien dapat didokumentasikan pada rencana perawatan dan atau pada catatan kemajuan. 4. Catatan kemajuan / perkembangan adalah : 1. dokumentasi memberikan catatan tentang proses keperawatan untuk memberikan perawatan pasien secara individual (Doenges. . Evaluasi. Pendokumentasian dimulai dari pengkajian. atau dibuat yang baru. tergantung dari informasi yang dikumpulkan.5 Fungsi Dokumentasi Dokumentasi bukan hanya syarat untuk akreditasi. Disini peran perawat berada dalam posisi yang unik karena sebagai disamping memberikan informasi kepada sesama kolega juga pada profesi lain disamping kepada pasien itu sendiri tentang apakah intervensi yang telah dilakukan dapat dihentikan atau revisi. 3. Komunikasi staf Staf dan shift berikutnya harus mengetahui apa yang telah terjadi dengan pasien selama shift sebelumnya agar dapat membuat penilaian yang tepat mengenai penanganan pasien. Dari fokus keperawatan. perencanaan. Peninjauan kemajuan pasien dan efektifan rencana pengobatan yang periodik dilakukan oleh perawat dan atau team pengobatan. Pemantauan Hubungan Hubungan yang diharapkan adalah hubungan terapeutik antara perawat dan pasien merup[akan alat yang digunakan oleh perawat untuk membantu pasien membangun kemampuannya. diagnosa keperawatan. Pembayaran Kembali (Reimbursement). KEPMENKES No. implementasi rencana perawatan dan evaluasi yang semua dicatat dalam catatan perkembangan / kemajuan. 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat. 2.

Pelatihan dan Pengawasan. diagnosa keperawatan. bagaimana. dan pemulihan. Carpenito(1999) menguraikan sistem dokumentasi keperawatan mempunyai beberapa komponen. 2. Sebagian besar komponen terutama memfokuskan pada pendokumentasian sebagai berikut: a. Memerlukan ilmu. e. c.7 Standar Dokumentasi . 2. dan informasi yang berhubungan lainnya juga perlu dicatat.1.6 Dokumentasi Proses Keperawatan Proses keperawatan merupakan metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan disebut juga sebagai suatu pendekatan problem solving. apa dan siapa dari pelayanan didokumentasikan dengan jelas agar pihak ketiga dapat meneruskan pendanaan pembiayaan bagi pasien yang sakit / dirawat. penanganan. Pendokumentasian harus di tulis secara lengkap dan akurat sehingga dapat digunakan sebagai syarat untuk lisensi atau akreditasi 7. b. Oleh karena itu catatan kemajuan harus mencatat observasi yang signifikan tentang apa yang terjadi. kapan. d. Akreditasi. tehnik dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien / keluarga. obat – obatan. peralatana yang digunakan. 5. dimana. pelaksanaan keperawatan. evaluasi keperawatan.Pembayaran pihak ketiga meminta dengan tegas bahwa mengapa. Dokumentasi Legals Dalam masyarakat yang melek hukum. pengkajian keperawatan. 6. untuk menghindari ancaman kasus tuntutan malpraktik atau kelalaian sangat penting untuk didokumentasikan sehingga dapat sebagai dokumentasi legal. perencanaan keperawatan.1.

e. dengan kriteria : data biologis. 3. meliputi : . Diagnosa keperawatan dibuat sesuai dengan wewenang.Komponen dan kriteria standar dokumentasi keperawatan yang mengacu pada standar asuhan keperawatan Departemen Kesehatan tahun 1994. Komponen pengkajian keperawatan meliputi : a. Standar Perencanaan Keperawatan. b. Komponen perencanaan keperawatn. Diagnosa Keperawatan. apabila dilakukan upaya pencegahan. 2. dengan kriteria : kelengkapan data. c. data psikologis sosial dan spiritual. c. Standar Pengkajian Data Keperawatan. f. sistematis. Status kesehatan dibandingkan dengan norma untuk menentukan kesenjangan. menggunakan format. d. Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari masalah. Perumusan masalah. dengan kriteria : kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi keluarga. Pengumpulan data. penyebab dan tanda / gejala atau terdiri dari masalah dan penyebab. Diagnosa keperawatan aktual untuk perumusan status kesehatan klien yang sudah nyata terjadi. Pengelompokan data. Diagnosa keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan klien. aktual dan valid. b. Kriteria – kriteria yang ada dalam diagnosa keperawatan : a. Diagnosa keperawatan potensial untuk perumusan status kesehatan klien yang kemungkinan akan terjadi. sebagai berikut : 1.

j. Kriteria standar implementasi keperawatan : a. c. disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. menjamin rasa aman dan nyaman bagi klien. dengan kriteria : masalah yang mengancam kehidupan merupakan prioritas utama. Menerapkan etika keperawatan. kondisi klien dan kriteria tujuan. masalah yang mempengaruhi perilaku prioritas ketiga. dapat diukur. Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan. e. Prioritas masalah. . Mengamati keadaan bio – psiko – sosio – dan spiritual klien. kriteria : disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan. privacy dan mengutamakan keselamatan klien. berupa kalimat instruksi. disusun dengan mempertimbangkan lingkungan. b. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan keperawatan. i. Rencana tindakan. g. dengan kriteria : tujuan dirumuskan secara singkat dan jelas.a. Menggunakan sumber daya yang ada. Menerapkan prinsip aman. merupakan alternatif tindakan secara tepat. Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik. c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan. nyaman. f. mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku. ringkas tegas dan menggunakan formulir yang baku. masalah yang mengancam kesehatan prioritas kedua. Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. menggunakan komponen yang terdiri dari subyek. Menjelaskan setiap tindakan keperawatan kepada klien / keluarga. b. Tujuan asuhan keperawatan. ekonomis. melibatkan klien / keluarga. d. 4. k. Standar Implementasi Keperawatan. perilaku klien. Menunjukkan sikap yang sabar dan ramah dalam berinteraksi dengan klien dan keluarga. h. realistik. sumber daya dan fasilitas yang ada.

Pengkajian ulang diarahkan pada tercapainya tujuan atau tidak. b. 2. karena bisa menunjukkan perilaku yang tidak profesional atau asuhan keperawatan yang tidak bermutu. cara yang benar dengan menggunakan garis pada tulisan yang salah.1. Standar Evaluasi. Untuk itu buat garis horozontal sepanjang area yang kosong dan bubuhkan tanda tangan di bawahnya. Koreksi semua kesalahan sesegera mungkin karena kesalahan menulis diikuti dengan kesalahan tindakan. Jangan menulis komentar yang bersifat mengkritik klien maupun tenaga kesehatan lain. 3. jangan berspekulasi atau menulis perkiraan saja. Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur teknis yang telah ditentukan. c. 5.l. Catat hanya fakta.8 Prinsip – Prinsip Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Potter dan Perry (1989) memberikan panduan sebagai petunjuk cara pendokumentasian dengan benar. Jangan biarkan bagian kosong pada akhir catatan perawat. Kriteria standar evaluasi : a. kata yang salah lalu diparaf kemudian tulis catatan yang benar. karena orang lain dapat menambahkan informasi yang tidak benar pada bagian yang kosong tadi. Prioritas dan tujuan ditetapkan serta pendekatan keperawatan lebih lanjut dilakukan dengan tepat dan akurat. 5. Tindakan keperawatan yang baru ditetapkan dengan cepat dan tepat. catatan harus akurat dan reliable pastikan apa yang ditulis adalah fakta. . 2. Jangan menghapus menggunkan tipe – X atau mencoret tulisan yang salah ketika mencatat. yaitu : 1. 4.

6. akurat dan menggambarkan keadaan klien serta apa yang terjadi pada dirinya. oleh karena itu tulisan harus secara lengkap. a. catat bahwa perawat sedang mengklarifikasi karena jika perawat melakukan tindakan diluar batas kewenangannya dapat di tuntut. 2. padat dan obyektif. Jika perawat menanyakan suatu instruksi. singkat. Dengan demikian dokumentasi keperawatan harus bersifat obyektif. komprehensif. 1995). 1986) : 1.9 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Dokumentasi Baik tidaknya mutu dokumentasi proses keperawatan sangat dipengaruhi oleh unsur masukan. 7. Tulis hanya untuk diri sendiri karena perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas informasi yang ditulisnya. yaitu ketrampilan dalam berkomunikasi. karena masih banyak perawat yang tidak menyukai tentang pencatatan dokumentasi keperawatan (Capernito.1. . Semua catatan harus bisa dibaca. Unsur Masukan. 8. Tenaga Perawat (Sumber Daya Manusia) Pengetahuan dan ketrampilan perawat dalam pendokumentasian proses keperawatan sangat diperlukan dalam meningkatkan mutu dokumentasi. 10. ditulis dengan tinta dan menggunakan bahasa yang lugas. Pastikan urutan kejadian dicatat dengan benar dan tanda tangani setiap selesai menulis dokumentasi. Hindari penggunaan tulisan yang bersifat umum (kurang spesifik) karena informasi yang spesifik tentang kondisi klien atas kasus bisa secara tidak sengaja terhapus jika informasi bersifat terlalu umum. 9. Disamping itu diperlukan juga motivasi perawat dalam pelaksanaan dokumentasi keperawatan. 2001). ketrampilan untuk dapat memenuhi standar dokumentasi dan ketrampilan dalam mencatat proses keperawatan (Nursalam. proses pencatatan dan lingkungan dari institusi yang bersangkutan (Azrul Azwar.

1995). dalam pencatatan perawat merasa rumit dan banyak memakan waktu. tindakan dan evaluasi. Disini dipengaruhi oleh beban kerja dan motivasi kerja perawat (Capernito. maka sulit diharapkan akan mendapatkan hasil dokumentasi proses keperawatan yang baik (Azrul Azwar. Maka dalam pelaksanaan dokumentasi proses keperawatan diperlukan sistem dokumentasi yang efisien. 1996). Pelaksanaan dokumentasi proses keperawatan yang meliputi aspek dokumentasi. perencanaan. Unsur lingkungan. . Menurut Capernito (1995) bahwa format dokumentasi masih banyak ragamnya. komprehensif dapat mendokumentasikan lebih banyak data dalam waktu yang lebih sedikit dan sesuai standar yang berlaku. 2.10 Karakteristik data dalam Pendokumentasian 1.1. 2. Format Dokumentasi. yaitu : pengkajian. Apabila ketiganya tidak saling mendukung. yang harus dilaksanakan secara terus menerus sampai tujuan berhasil. Sedangkan kendala dalam pelaksanaan dokumentasi adalah kemapuan perawat dalam mendokumentasikan proses keperawatan. Unsur Proses. Unsur lingkungan yang dimaksud disini adalah kebijakan organisasi dan manajemen institusi atau rumah sakit yang melaksanakan dokumentasi proses keperawatan. 3.b. Lengkap.

Masalah – masalah dokumentasi dan perubahan yang mempengaruhi pentingnya pendokumentasian keperawatan sebagai berikut : 1. Data yang terkumpul harus lengkap. maka peran perawat dalam praktik keperawatan profesional juga mengalami perubahan. 2. Dalam pengumpulan data ada kemungkinan terjadi salah paham.Seluruh data yang diperlukan untuk mengidentifikasi masalah keperawatan klien dicatat dengan terperinci (Nursalam. 2001). guna membantu mengatasi masalah klien yang adequat. sehingga menyita waktu perawat untuk mengidentifikasi. maka perawat harus berfikir akurasi dan nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang telah didengar. Masalah yang timbul perlu diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum penyelesaian masalah yang dapat ditemukan dalam dokumentasi.1. Dengan terjadinya perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Praktik Keperawatan. Kondisi yang seperti ini bisa diantisipasi dengan membuat data komprehensif tetapi singkat dan jelas. Pencatatan data yang komprehensif biasanya banyak sekali data yang harus dikumpulkan. diamati dan diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang sekiranya meragukan. Revisi atau . 3. Mencatat data yang relevan sesuai dengan masalah klien yang merupakan data fokus terhadap klien sesuai dengan situasi khusus.11 Trens dan Perubahan yang Berdampak terhadap Dokumentasi Trens dan perubahan yang terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap dokumentasi keperawatan dan masalah – masalah kegiatan pencatatan oleh perawat dalam melaksanakan kegiatan sehari – hari. Relevan. Akurat dan Nyata. dilihat. 2. Untuk mencegah hal tersebut.

berdampak terhadap pendokumentasian. Pencatatan yang lengkap dan akurat tentang tingkat keparahan penyakit dan tipe atau jumlah tindakan yang diperlukan dapat sebagai dasar pertimbangan pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan kasus yang sama dan perkiraan pembiayaan yang diperlukan. Perubahan tersebut berdampak terhadap kegiatan pencatatan keperawatan. Kemampuan perawat sering disamakan dengan kemampuan dalam membuat keputusan dan kegiatan lainnya yang dapat dilihat pada dokumentasi. Keterampilan Keperawatan. Perubahan dalam lingkup praktik keperawatan. serta metode pemberian pelayanan kesehatan. Akibatnya data yang masuk harus semakin lengkap dan tajam sebagai manifestasi bukti dasar lingkup wewenang dan pertanggung jawaban. Lingkup Praktik Keperawatan. maka persyaratan pencatatan keperawatan harus sesuai. peraturan pemerintah. persyaratan akreditasi. meningkatnya masalah klien yang semakin kompleks. Perubahan lain adalah pengobatan oleh dokter atau tim kesehatan lainnya.perubahan tersebut meliputi penemuan kasus penyakit yang baru. 5. pendidikan kesehatan. konseling dan intervensi keperawatan dan medis terhadap respon klien aktual atau potensial. Intensitas Pelayanan Keperawatan dan Kondisi Penyakit. Pencatatan yang lengkap dan akurat sangat bermanfaat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. serta meningkatnya praktik keperawatan secara mandiri dan kolaborasi. 2. Dengan berkembangnya lingkup praktik keperawatan berdasarkan trens praktik keperawatan di Indonesia. Data Statistik Keperawatan. 4. kerjasama dengan tim kesehatan. data statistik yang sangat bermanfaat dalam penelitian atau pengembangan peleyanan serta penentuan jasa pelayanan. 3. perubahan sistem pendidikan keperawatan. .

Coding dan Klasifikasi. Perubahan tentang standar pelayanan kesehatan yang disusun oleh institusi yang berwenang. . Institusi pelayanan harus mengikuti dan menyesuaikan aturan pendokumentasian yang berlaku. Pendokumentasian juga dipengaruhi oleh prosedur kendali mutu. Kualitas Asuransi dan Ausit Keperawatan. tingkat asuhan keperawatan dan keahlian dalam pemberian pelayanan. Biaya. Perubahan tersebut memerlukan suatu pembenahan tentang pencatatan yang lengkap dan akurat khususnya waktu klien masuk rumah sakit. Waktu rawat inap yang pendek. Konsumen Trens dan perubahan penggunaan layanan kesehatan oleh konsumen berpengaruh terhadap pendokumentasian. biaya yang terjangkau dan adanya home care bagi klien yang tidak memerlukan perawatan maksimal merupakan trens perubahan pelayanan di masa depan.Tren meningkatnya justifikasi perawat dalam akurasi perumusan masalah dan tindakan keperawatan padapendekatan proses keperawatan. Data tentang keadaan klien sebelum masuk RS. Trens dan perubahan biaya layanan berdampak terhadap pendokumentasian. 6. pertanyaan dan wawancara dengan klien merupakan sumber utama audit data. 9. terutama perubahan keadaan klien yang cepat akan sangat bermanfaat dalam pencatatan. 10. 8. Akreditasi Kontrol. 7. membawa pengaruh terhadap pendokumentasian. terutama tentang audit catatan pelayanan kesehatan. Pencatatan yang baik akan memberikan gambaran tentang pengeluaran biaya yang harus ditanggung oleh klien.

Trens dan perubahan dalam sistem pembayaran berdampak terhadap dokumentasi. pelayanan klinik atau tipe pelayanan. Ketergantungan terhadap dokumentasi yang komprehensif berarti mengurangi dan mencegah terjadinya faktor resiko manajemen atau pengelolaan. EGC. catatan tentang kejadian. Saat ini dalam keperawatan. 32) . 11. 29. A (1996). (1999) Rencana asuhan & dokumentasi keperawatan. Prospektif pembayaran merujuk pada sistem pembayaran terhadap asuhan keperawatan yang diterima oleh semua klien khususnya pada waktu klien masuk rumah sakit. Resiko Tindakan.J. L. Pencatatan yang penting meliputi . Sedang informasi tentang daftar kode memberikan gambaran kebutuhan klien. perintah verbal atau nonverbal. 24. Manajemen resiko adalah pengukuran keselamatan klien untuk melindungi klien dan profesi keperawatan aspek legal serta melindungi perawat dari tindakan kelalaian. Prospektif Sistem Pembayaran. Pada waktu dulu klasifikasi klien hanya didasarkan pada diagnosa medis. Pustaka Sinar Harapan. dan catatan penolakan klien terhadap tindakan. asuhan yang telah diterima harus ada di catatan keperawata. (11 – 12. infomed concent.Trens tentang klasifikasi tingkat ketergantungan klien berdampak terhadap pendokumentasian. Jakarta. Carpenito. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. klien diklasifikasikan berdasar Diagnosis Related group. 23. Jakarta. 12. Edisi ke-2. DAFTAR PUSTAKA Azwar. Manajemen resiko ditekankan pada keadaan klien yang mempunyai resiko terjadinya perlukaan atau kecacatan. Terjemahan.

Terjemahan. Jakarta (17 – 30. Edisi ke-2. Proses dan dokumentasi Keperawatan. EGC. Penerapan Proses Keperawatan & Diagnosa Keperawatan. Konsep dan Praktik. EGC. Instrumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan di rumah sakit. (1999). Doenges. Depkes RI. (1998). Jakarta. The Nursing Process and Documenting & Tandort. 36) Fisbach (1991). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1596 / Menkes / per II / 1998. Jakarta (135 – 139) Doenges. Edisi ke-3. Terjemahan. Departemen Kesehatan RI. Salemba Medika.135) Nursalam (2002). M. USA (99) Nursalam (2001). pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. 77 – 88.E. Rencana asuhan keperawatan . (2001). Salemba Medika. Jakarta (135 – 18 . Depkes RI. Jakarta (6 – 10. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Documenting Care Comunication. 134 . Davis Company. M.Departemen Kesehatan (1998).E. Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->