Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai- nilai di masyarakat dan kebudayaannya. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh sesorang atau kelompok orang lain agar menjaid dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental, yang juga mempunyai sifat konstruktif dalam hidup manusia. Karena itulah kita dituntut untuk mampu mengadakan refleksi ilmiah tentang pendidikan tersebut, sebagai pertanggungjawaban terhadap perbuatan yang dilakukan, yaitu mendidik dan dididik Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya. Bagi bangsa Indonesia, krisis multidimensi membawa hikmah dan pelajaran yang luar biasa besarnya, yang pasti bangsa ini dapat belajar dari kekeliruan-kekeliruan masa lalu, sehingga dapat menatap dan membangun masa depan dengan semangat yang lebih optimis.

B. Permasalahan 1. Apakah yang dimaksud perubahan struktur dalam pendidikan ? 2. Apakah yang dimaksud paradigma pendidikan IPTEK? 3. Bagaimanakah pendidikan dan sumber daya manusia di Indonesia? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui maksud dari perubahan struktur dalam pendidikan. 2. Untuk mengetahui maksud dari paradigma pendidikan IPTEK. 3. Untuk mengetahui bagaimanakah pendidikan dan SDM di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN A. Perubahan Struktur Perubahan struktur yang dimaksud adalah kondisi transisi dari masayarakat tradisonal agraris ke arah masayarakat modern-indstri. Dalam teori ekonomi pembangunan perubahan itu berlangsung dari kondisi stagnasi ke arah pertumbuhan yang berkelanjutan (self sustained growth). Dalam mengkaji masalah perubahan struktur sosial- ekonomi beberapa teori memberi warna di kalangan para perencana pembangunan,diantaranya : 1. Teori Pertumbuhan Ekonomi (Stage Economic Growth) dari prof. Walt Whitman Rostow (1959). Teori ini dikenal sebagai Doktrin Rostow, yang menggambarkan 5 tahap pertumbuhan masyarakat yang harus dilalui untuk mencapai kemajuan ( tahap itu meliputi masyarakat tradisional, masyarakat transisi, tinggal landas, maturasi, dan konsumsi masal tingkat tinggi). Tahap yang paling menentukan dalam teori Rostow adalah tahap tinggal landas yang berisi pembentukan prakondisi tinggal landas, proses tinggal landas yang berlangsung dan memberi dorongan kea rah kedewasaan. Tahap prakondisi tinggal landas ditandai dengan adanya peningkatan investasi masyarakat akibat teknik produksi yang berubah. Kondisi yang paling penting ialah tersusunnya infrastruktur industri yang memungkinkan proses produksi oleh masyarakat secara luas. 2. Teori Ekonomi Dualistik oleh Boeke (1930) menggambarkan adanya suatu sistem ekonomi yang berisi sub-sistem tradisional feodalistik dan sub-sistem modern kapitalistik yang hidup bedampingan dan saling mengisi. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Arthur Lewis (1959) dengan mengamati adanya dualisme ekonomi yang berkembang tidak seimbang. Sektor industri atau kapitalis memiliki ciri pendapatan tinggi yang memiliki kemampuan menghasilkan kembali(reproducible capital). Ekonomi tradisional yang agraris ditandai dengan penghasilan rendah dan memiliki tenaga kerja yang berlimpah. Sistem ekonomi ini tidak menggunakan modal tetapi tergantung dari tenaga kerja.

3. Pergeseran Struktur Tenaga Kerja dari Cheney dan Syrguin (Boediono, 1991). Teori ini berasal dari sisi permintaan dan penawaran. Dalm perkembangan masyarakat modern, sisi permintaan terhadap produk pertanian(primer) akan menurun, tetapi permintaan terhadap barang industri pengolahan (manufaktur) akan menigkat. Dengan demikian semakin tinggi pendapatan semakin tinggi pula permintaan terhadap industri pengolahan. Perubahan struktur sosial-ekonomi tanpaknya terjadi di negara

berkembang(termasuk Indonesia) yaitu pergeseran dari struktur agraris-tradisional ke struktur industri-modern. Menurut Boediono (1991:21-22) pergeseran itu terjadi cukup lambat karena tenaga kerja di sektor agraris masih cukup dominan (55%) dibandingkan mereka yang berada di sektor industri(12%). Tampaknya peningkatan sektor produksi modern tidak diikuti oleh peningkatan tenaga kerja yang mampu di bidang industri. Dalam bidang pendidikan, pergeseran struktur sosial ekonomi ini perlu diantisipasi dengan peningkatan kualifikasi tenaga kerja meliputi tingkat ketrampilan dan sikap nilai dari pertanian ke industri. Sektro industri mensyaratkan komposisi tenaga kerja berpendidikan tinggi berketrampilan dan memiliki penguasaan terhadap teknologi. Hidup di sektor industri ternyata cukup berbeda dengan hidup di sektor pertanian. Di sektro industri dituntu memiliki adaptasi yang cukup tinggi terhadap perubahan ketrampilan tenaga kerjanya. Perubahan teknologi yang cepat di sektor industri tersebut menuntut sikap- sikap kerja keras, disiplin, kreativitas yang tinggi dan kebebasan. Kendala yang dihadapi oleh negara berkembang adalah perpindahan tenaga kerja dari sektor agraris ke sektor industri dalam waktu yang relatif singkat. B. Paradigama Pendidikan Iptek Masalah pendidikan yang tumbuh di dalam jaringan organisme masyarakat, tampaknya tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara yang maju. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menurut gelagatnya selalu menjadi indikator keberhasilan sistem pendidikan di suatu negara. Perkiraan ini tidak selamanya

benar, karena sekarang mulai dihubungkan antara sistem pendidikan dan tingkat produktifitas tenaga kerja. Negara yang maju tingakat teknologinya pada masa depan akan kalah bersaing dengan negara- negara industri yang telah meningkatkan produktivitas tenaga kerjanya. Demikian ini sejalan dengan penerapan teori modernisasi terhadap pendidikan yang kemudian memperoleh legitimasi dari teori modal manusia( human capital theory). Teori modal yang dikembangkan oleh para ekonom memusatkan perhatian pada kapasitas produksi, bahwa manusia merupakan bentuk investasi modal. Theodore W Schulte (1979) melihat pendidikan sebagai investasi produksi, penduduk yang terdidik dan menguasai iptek, merupakan tipe tenaga yang dibutuhkan dalam meningkatkan pembangunan industri dan pertumbuhan ekonomi. Perkembangan selanjutnya di Amerika dan beberapa bagian negara Eropa menjelang akhir abad ini, ternyata tidak banyak berbeda dengan yang terjadi di negara berkembang. Masalah pendidikan yang aktual selalu berkisar pada pertanyaan sejauh mana kesesuaian kurikulum dan kebutuhan lapangan kerja? Nyatanya tidak ada lulusan sekolah yang siap pakai, siap kerja, atau siap tempur. Kebutuhan masyrakat industri terlalu tinggi untuk dipahami oleh masyarakat sekolah yang memiliki batas kemampuan dan dana. Masalah pendidikan yang muncul kelihatan jalin- menjali dengan masalah lain, seperti tingkat penghasilan penduduk, struktur industri masyarakat yang menopang dan tingkat ketergantungan suatu negara dengan negara lain. 1. Paradigma Pendidikan Masalah rendahnya mutu tenaga kerja di Amerika pada akhir abad ini, tampaknya memiliki hubungan langsung dengan berbagai lembaga pendidikan yang ada. Menurut pengamatan Komisi Produktivitas dari Massachussetts Institut of Technology(Michael L Dertouzpz,dkk.,1989, dalam bukunya:Made in America), masyarakat pada masa kini telah menjadi kelompok masyarakat yang terlalu mewah, malas dan aman. Kajian Komisi Produktivitas ini sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat Jepang dan Jerman memiliki achevement yang cukup tinggi, mereka di samping sekolah formal memiliki peluang menyelesaikan pekerjaan magang di berbagai perusahaan besar.

Perbedaan paradigma pendidikan di Amerika dan Jepang terungkap dalam bentuk kerjasama antara pihak masyarakat sekolah dan masyarakat industri Amerika, Swedia dan Inggris memiliki pola bahwa lembaga pendidikan formal memberi hampir seluruh ketrampilan khusus yang dimiliki orang untuk bekerja, sedangkan pelatihan di tempat kerja hanya sedikit lebih banyak daripada industri yang berkaitan dengan tugas yang harus segera dilaksanakan. 2. Pendidikan di Indonesia Belajar dari keberhasilan Jepang dan Jerman Barat atau kegagalan Amerika dan Inggris, tampaknya sistem pendidikan nasional perlu memiliki pilihan yang relevan dengan gejala masyarakat. Proses belajar dan mengajar adalah peristiwa pembenahan atau penigkatan mutu sumber daya manusia. Utuk belajar ilmu pengetahuan tidak cukup menggunaka akal sehat tetapi harus didasari oleh sikap kritis. Ramalan tentang apa yang diharapkan akan terjadi harus dihadapkan dengan kenyataan yang benar- benar terjadi. Peluang konflik yang ada mengandung unsur dinamika dan kemajuan, dalam proses belajar mengajar, guru wajib memberi tuntutan heuristik manakala hal itu telah menjadi kebutuhan. Pilihan yang dihadapi lembaga pendidikan di tanah air, menjadi cukup sulit. Pengembangan ilmu murni memiliki kendala struktural yang cukup kuat. Orientasi kurikulum pendidikan(termasuk perguruan tinggi) telah berkembang dalam berbagai bentuk ragam dan terapannya. Perkembangan ilmu pengetahuan alam masih belum menggembirakan, tetapi produk sarjana ilmu sosial cukup tinggi. Di Indonesia belum terjadi kerjasama yang cukup baik, antara masyarakat sekolah dengan masyarakat industri. Masyarakat sekolah masih berkiblat kepada kepentingan birokrasi, sehingga sisi penawaran tenaga kerja di sektor formal melimpah dalam bentuk tenaga terdidik tanpa ketrampilan. Diwawas dari teori peningkatan produktivitas kerja, pada dasarnya lembaga pendidikan harus mulai berbenah menuju kepentingan yang sadar iptek. Ancangan pertama yang perlu ditempuh adalah memadukan kesadaran iptek secara sinergis dengan memperhitungkan sumbangan ilmu pengetahuan lainnya untuk menghadapi masalah. Teknologi nyatanya sudah menjadi besar dan komplek yang ragamnya telah memasuki segala macam kebutuhan dalam kehidupan kita.

Pengembangan teknologi yang berakat dari ilmu pengetahuan alam, dengan muri dibenihkan di sekolah tetapi memiliki ancangan praktis di dunia industri. Dengan demikian kesadaran iptek telah menjadi semacam kebutuhan di kalangan luas. Pendidikan sekolah yang sadar iptek mengembangkan ilmu- ilmu murni sejauh dapat membuat akar pemahaman yang cukup kuat di kalangan peserta didik. Pembenahan iptek butuh penciptaan infrastruktur ilmu murni yang kukuh dalam kerangka alih teknologi yang akan dilakukan. Dengan demikian, skenario pengembangan iptek perlu diperjelas dengan pilihan moral etika dan macammacam kebijaksanaan yang mendasarinya. Di sekolah pengembangan teknologi tak banyak diharapkan. Dana pengembangan laboratorium terbatas, buku- buku teknologi cukup mahal dan tenaga laborat tidak banyak jumlahnya. Bentuk pelatihan kerja dalam perusahaan dan sistem magang menjadi sangat penting di masa depan. Pengembangan industri menjadi ukuran dari pengembangan kualitas kelompok masyarakat, sebab dari keuntungan perusahaan akan menjadi insentif yang memacu kemakmuran masyarakat luas. 3. Paradigma Baru Pengembangan iptek dalam pendidikan sekolah menjadi barang mewah yang tak mungkin terbeli oleh masyarakat di negara berkembang. Pendidikan yang mahal berpotensi menunda peluang pemerataan yang menjadi tujuan pembangunan nasional. Pengembangan iptek sebaiknya diatur oleh pola kerjasama antara masyarakat sekolah dengan masyarakat industri dengan membagi kepercayaan yang berlandaskan imperatif keadilan, moral dan kebesaran tuhan. Di sekolah dikembangkan ilmu murni yaitu deskripsi tentang segala kejadian alam yang dipilih untuk dikaitkan secara kasual dengan konsep- konsep penting dalam ilmu pengetahuan sehingga dapat dipahami dan diramalkan. Pengembangan ilmu pengetahuan alam, butuh ruang pembinaan yang luas dan kuat guna menumbuhkan akar pemahaman teknologi. Pengakjian terhadap gejala alam

oleh ilmu sosial ada baiknya diatur secara lintas disiplin dengan merujuk terhadap sebab dan akibat hadirnya teknologi. C. Pendidikan dan Sumber Daya Manusia Pembangunan yang sedang dilakukan ternyata mengandung konsekuensi peningkatan sumber daya manusia. Pergeseran dari struktur agraris ke struktur industri tidak semata- mata tergantung pada sumber alam yang dikelola, tetapi juga pada cara mengelola sumber alam itu.Masayarakat Indonesia di masa depan akan menghadapi tiga tantangan pokok(Emil Salim, dan Conny R Semiawan,1991:29-35) ialah tantangan kependudukan, tantangan lingkunagn dan tantangan pembangunan. Ketiga tantangan itu membutuhkan bentuk manusia Indonesia yang mampu menyerap dan mengolah teknologi guna memberi suasana dan iklim yang dinamis merangsang perubahan. Kualitas manusia yang menjadi sumber daya meliputi kualitas fisik dan kualitas nirfisik. Kalau dikaji lebih mendalam, kualitas nirfisik dapat merupakan (1)kualitas pribadi yang melekat pada diri,(2) kualitas hubungan dengan Tuhan, lingkungan alam, masyarakat dan sesama manusia,(3) kualitas kerja yang tercermin dalam sifat produktif, disiplin kerja, keswadayaan, dan wawasan masa depan. Untuk menciptakan manusia masa depan yang handal, ada beberapa prasyarat yang menjadi indikator pilihan,yaitu : 1. Menurut Emil Salim. Melihat manusia Indonesia perlu memiliki kemandirian yang mengandung lima komponen utama : a. Bebas artinya memiliki kebebasan sesuai dengan konsep hidup yang jelas dan tak tergantung pada orang lain. b. Progresif dan ulet dalam mengejar prestasi, penuh ketekunan dan menguasai manajemen. c. Berinisiatif yaitu mampu berpikir orisinil, kreatif, dan penuh inisiatif. d. Memiliki pengendalian diri dalam, yaitu kemampuan menghadapi masalah dengan tingkat pengandalian yang tinggi sesuai kemampuan. e. Memiliki kemantapan diri, yaitu aspek percaya diri dalam memperoleh kepuasan kerja.

2.

Menurut diskusi ahli Kompas yang diangkat dari sarasehan harian Kompas XXV, menempatkan sumber daya manusia sebagai gambaran normative teoretik- ideal menusia baru Indonesia yang mempunyai tiga ciri pokok: a. Manusia serba tahu atau sadar iptek. Manusia ini akan dapat dibentuk melalui keterbukaan informasi yang mengembangkan sikap menadah informasi dan belajar sepanjang hayat. Manusia yang dihasilkan adalah jenis manusia yang punya kemampuan bernalar. Dalam hal ini menyerap informasi yang bertubi- tubi, mampu mengadakan analisis kritis terhadap situasi di sekitarnya. b. Manusia kreatif yang berani dan mempu mengantisipasi perkembangan dengan kemandirian pribadi. Tetapi manusia tersebut harus sanggup menalar secara moral, sanggup menginterpresi ketentuan-agama, sehingga terungkap relevansinya untuk masalah perkembangan baru. c. Manusia beretika solidaritas-sosial, yaitu mempunyai pedoman moral etis dalam tindakan yang dilakukan. Manusia Indonesia yang menghargai keadilan yaitu memberikan perlakuan yang sama terhadap manusia yang lain. Dalam hal manusia seutuhnya ialah kesejahteraan lahir dan batin, yang berisi perwujudan keadilan sosial yang menjawab pemenuhan kebutuhan dasar minimal, pemenuhan lapangan kerja, dan perwujudan persamaan dan pemerataan.

Jika dirinci lebih dalam, maka sumber daya manusia dapat diamati dalam skala mikro dan makro sekaligus. Dalam ukuran makro, Soedjatmiko(1991:99-101) memberi landasan dalam sistem pendidikan kita untuk emncapai sumber daya manusia yang tangguh, yaitu : 1. Pendidikan harus berhasil merangsang untuk berpikir sendiri secara kritis dan kreatif. Sehingga tidak dikehendaki adanya konformisme yang berlawanan dengan pembentukan kreativitas. Untuk itu sifat pluralis dalam

pola pendidikan dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan yang cukup beragam. 2. 3. Pendidikan harus dapat meningkatkan kapasistas belajar buka hanya sekedar alih pengetahuan. Pengetahuan harus dapat menyesuaikan diri dengan kepentingan perkembangan industri. Dalam hal ini lulusan yang beragam bidang ilmu dan teknologi. Iptek yang berdampak cukup besar dalam perkembangan masyarakat dan keberadaan manusia dalam pembangunan adalah bidang bioteknologi, mikro elektronika, dan informatika dan juga teknologi bahan.

BAB III

10

PENUTUP A. Kesimpulan Dari hal-hal yang telah kami bahas di atas, kami dapat menyimpulkan beberapa hal, antara lain : 1. Perubahan struktur sosial-ekonomi sering terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. 2. Keberhasilan dalam pendidikan tidak hanya bersumber dari pembelajaran teori saja, tetapi juga dalam hal praktek. 3. Sistem pendidikan di Indonesia belum ada kemajuan dan masih tertinggal jauh dari negara- negara maju di Dunia. 4. Sumber daya manusia dibagi dalam skala mikro dan makro. B. Saran 1. 2. 3. Untuk mengantisipasi perubahan struktur sosial-ekonomi, hendaknya kita harus mempersiapkan sumber daya manusia kita sedini mungkin. Pemerintah hendaknya labih memperhatikan pendidikan karena dari pendidikanlah sumber daya manusia kita akan dapat maju. Dalam pendidikan hendaknya tidak hanya teori yang diberikan tetapi juga diimbangi dengan praktek, agar sumber daya manusia kita tidak hanya pintar tetapi juga mempunyai ketrampilan dan keahlian

DAFTAR PUSTAKA

11

1. Hadikusumo,dkk(1995). Pengantar Pendidikan.Semarang : IKIP Semarang Press 2. Hasbullah(1999).Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : Grafindo Persada

12