Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

Pengaruh Kinerja DPRD Kota Sidoarjo Dalam Implementasi Fungsi Pengawasan APBD

OLEH : KANDA AMINULLAH IFTIANTO

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011

BAB 1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG Setiap negara di dunia ini memiliki tujuan untuk mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Negara Republik Indonesia juga memiliki tujuan yang sama, sehingga untuk mewujudkan keinginan tersebut diperlukan manajemen pemerintahan yang baik. Pengawasan merupakan satu komponen penting dalam manajemen. Kata pengawasan berasal dari kata awas atau penjagaan. George R.Terry mendefenisikan pengawasan adalah menentukan apa yang telah dicapai, mengevaluasi dan menerapkan tindakan korektif, dan jika perlu memastikan hasil yang sesuai dengan rencana. Salah satu pihak yang berperan dalam pengawasan di tingkat daerah adalah DPRD, dalam hal ini DPRD Kota Sidoarjo. Menurut UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 41, DPRD memiliki fungsi yaitu : legislasi, anggaran dan pengawasan. Pada DPRD pengawasan yang dilakukan bersifat politik, dalam arti pengawasannya berbeda dengan pengawasan fungsional karena pengawasan politik lebih ditekankan pada laporan pertanggungjawaban keuangan oleh kepala daerah. Sedangkan pengawasan fungsional lebih bersifat audit yang terperinci dan bersifat administratif. Bergesernya tata cara pengelolaan keuangan daerah mendorong untuk lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan serta kebutuhan rakyat. Hal tersebut menurut pengelolaan keuangan yang transparan, partisipatif dan akuntabel, yang mana setiap input tertentu harus menghasilkan output tertentu. Input tersebut diharapkan mampu menentukan outcome, benefit dan impactnya. Hasil yang didapatkan sehubungan dengan anggaran yang digunakan sebanding dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Penyusunan APBD dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip alokasi dana. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya penguatan kapasitas aparatur yang terlibat langsung dalam penyusunan APBD dan mengawasi penggunaannya. Menurut UU Nomor 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah, secara khusus telah menetapkan landasan yang jelas dalam penataan pengelolaan dan pertanggungjawaban, keuangan daerah. APBD merupakan instrumen yang akan menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah. Untuk menjamin agar APBD dapat disusun dan dilaksanakan dengan baik dan benar, dalam pengelolaan anggaran daerah yang mengatur antara lain prosedur dan teknis penganggaran yang harus diikuti secara tertib dan taat asas. Dalam proses penyusunan anggaran yang berbasis kinerja yang harus dipahami adalah makna, baik secara statis maupun dinamis. Dinamis sendiri berarti bahwa setiap input tertentu harus diperhitungkan berupa output yang mampu dicapai oleh input tersebut. Pencapaian dari suatu kinerja dinilai berdasarkan indikator tertentu yang menjadi pertimbangan utama, maka dari itu

analisis standar belanja perlu dibuat dengan mengacu pada standar satuan harga untuk mencapai prestasi kerja berdasarkan standar pelayanan minimal. Maka secara teknis penyusunan anggaran berbasis kinerja harus mengikuti mekanisme yang memadukan anrtara perencanaan dan penganggaran dengan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah, pendekatan penganggaran terpadu, dan pendekatan prestasi kerja. Selain hal di atas, dalam penyusunan anggaran yang berbasis kinerja secara normatif juga harus mengikuti asas, fungsi utama dari anggaran, dan paradigmanya. Proses penyusunan APBD pada dasarnya bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan ekonomi makro dan sumber daya yang tersedia secara tepat sesuai dengan kebijakan pemerintah dan mempersiapkan kondisi bagi pengelolaan anggaran secara baik. DPRD yang salah satu fungsinya adalah pengawasan memiliki andil dalam mengawal dan mengawasi agar tujuan dari penyusunan APBD dapat terlaksana dengan baik, tetapi DPRD belum menunjukkan kinerja yang diharapkan. Hal ini tercermin pada semakin tinggi tingkat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam era otonomi daerah maupun banyaknya peraturan peundangundangan yang tidak terlaksana secara konsekuen dan konsisten oleh pemerintah daerah. Demikian juga halnya dengan DPRD Kota Sidoarjo, sebagaimana yang telah diamanatkan oleh undang-undang yang berlaku. DPRD Kota Sidoarjo dalam melaksanakan fungsinya dalam hal pengawasan harus mampu memeriksa dan mencegah terjadinya kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja dalam pengusunan APBD. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK tahun 2004 ditemukan banyak pelanggaran, beberapa diantaranya yaitu ; beberapa proyek-proyek Pemerintah Kota Sidoarjo sebesar Rp.63.878.578.000,00 dilaksanakan sebelum tersedianya anggaran dalam APBD dan pelaksanaan proyek tersebut dengan cara penunjukkan langsung, palaksanaan pekerjaan dan prosedur penyedia barang dan jasa dilaksanakan tidak sesuai dengan Keppres RI Nomor 80 Tahun 2003 jo.Nomor 61 Tahun 2004. Kemudian, pekerjaan rehabilitasi atau pemeliharaan Jalan Cut Mutiah tidak direncanakan dengan baik sehingga menimbulkan pemborosan sebesar Rp148.362.205,77 sementara pada lokasi yang sama pada tahun 2005 dilaksanakan pekerjaan pembuatan jalan beton. DPRD Kota Sidoarjo harus bersikap netral dan tidak memihak pada pihak manapun yang akan berdampak pada kerugian daerah, bukan berkonspirasi untuk menghapus kesalahan atau kejanggalan dalam penyusunan APBD. Karena dinas terkait melaksanakan pekerjaan sesuai dengan pembagian anggaran dan persetujuan dari DPRD (fungsi anggaran). Terkait dengan hal tersebut maka penulis mengangkat judul Kinerja DPRD Kota Sidoarjo Dalam Implementasi Fungsi Pengawasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah .

2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah Pengaruh Kinerja DPRD Kota Sidoarjo Dalam Implementasi Fungsi Pengawasan APBD ? 2. Apakah Fungsi pengawasan APBD Kota Sidoarjo sudah baik?

4. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis : Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pemerintahann terutama menyangkut konsep Fungsi Pengawasan DPRD dan Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain, terutama menyangkut Fungsi Pengawasan DPRD.
2. Manfaat praktis : Hasil Penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan

pemikiran kepada anggota DPRD Kota Sidoarjo dalam melaksanakan fungsi pengawasan terutama dalam pengawasan APBD.

4. HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang digunakan dalam penelitian alternative dan hipotesis Nol. Hipotesis kebenarannya. Ha : adanya hubungan antara kinerja DPRD APBD Ho : Tidak ada hubungan antara kinerja Pengawasan APBD

ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu Hipotesis benar jika Hipotesis alternative (Ha) terbukti Sidoarjo dengan Implementasi Fungsi Pengawasan DPRD Sidoarjo dengan Implementasi Fungsi

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA
1. Kinerja

Menurut A.A Anwar Prabu Mangkunegara berpendapat bahwa istilah kinerja berasal dari kata Job Performance (prestasi kerja) atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang, dengan kata lain kinerja adalah hasil kerja, secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sedangkan Sadu Wasistiono berpendapat bahwa kinerja merupakan suatu prestasi kerja yang digunakan sebagai suatu ukuran tingkat pencapaian suatu tujuan dari suatu organisasi. Didalam Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 589/X/6/Y/99 Tentang Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah : Gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan kegiatan/ program/kebijakan dalam mewujudukan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi. Menurut Alain Mitrani menyatakan bahwa Kinerja diartikan sebagai akhir, berupa barang maupun jasa yang berbentuk perilaku, kecakapan, kompetensi, saran dan keterampilan spesifik yang dapat mendukung pencapaian tujuan dan organisasi. Suyadi Prawirosentono mengemukakan bahwa untuk mengukur kinerja suatu organisasi adalah kinerja organisasi yang bekerja dalam unit-unit organisasi, karena yang berperan dalam unit-unit organisasi adalah unsur-unsur manusia sebagai pelakunya. Menurut Arief Molyadi pengertian kinerja dapat diartikan sebagai Perilaku berkarya,berpenampilan atau berhasil karya. Kinerja merupakan bentuk bangunan organisasi yang bermutu dimensional, sehingga cara mengukurnya berfariasi tergantung pada banyak faktor. Menurut Moenir , ada tiga aspek yang harus dipahami oleh setiap pegawai atau organisasi maupun unit kerja yaitu : 1. Kejelasan tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. 2. Kejelasan dari hasil yang diharapkan dari suatu pekerjaan tersebut atau dari suatu fungsi. 3. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan agar hasil yang diharapkan dapat terwujud. Lebih lanjut Soesilo Zahur menyatakan peningkatan kinerja individu dapat dilihat dari keterampilan kecakapan praktisya,kompetensinya, pengetahuan dan informasinya,keleluasaan pengalamannya, sikap dan perilakunya, kebijakannya, keratifitasnya, moralitasnya dan lain-lain. Kinerja kelompok dilihat dari kerjasamanya, keutuhannya, disiplinnya, loyalitasnya dan lain-lain.

Salah satu faktor yang mendukung berhasil atau tidaknya suatu organisasi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan adalah dari faktor kinerja pegawai atau karyawannya. Kinerja yang baik akan memberikan kontribusi yang optimal terhadap organisasi atau lembaga yang

bersangkutan. Berkaitan dengan hal tersebut maka faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja (prestasi kerja) adalah sebagai berikut : a) Faktor Kemampuan Kemampuan dimaksudkan sebagai kesanggupan (capacity) pegawai untuk melaksanakan pekerjaannya. Kemampuan ini mengandung berbagai unsur seperti keterampilan manual dan intelektual, bahkan sampai kepada sifat-sifat pribadi yang dimiliki. Unsur-unsur ini juga mencerminkan pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang dianut sesuai dengan perincian kerja yang memungkinkan kary8awan untuk berja dengan cara tertentu. b) Faktor Motifasi Motifasi terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motifasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai sasaran orientasi kerja secara maksimal. Motif prestasi adalah suatu dorongan dalam diri pegawai untuk melakukan sesuatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji. Agus Dwiyanto memaparkan ada beberapa indikator yang dipakai sebagai indikator atau standarisasi dari penilaian terhadap kinerja seseorang, unit, atau suatu organisasi yaitu : Produktivitas, Kualitas Pelayanan, Responsivitas, Responsibilitas dan Akuntabilitas. a. Produktivitas adalah kemampuan suatu organisasi untuk menghasilkan sejumlah barang dan jasa. Penilaian produktivitas suatu organisasi dilakukan dengan menggunakan atau mengkaji kuantitas dan kualitas dokumen-dokumen yang tersedia di organisasi tersebut, yaitu catatan dan laporan organisasi sebagai informasi penting dalam menunjukkan produktivitas kerja organisasi yang bersangkutan. b. Kualitas Pelayanan adalah sumber data atau informasi utama dari kualitas pelayanan yang didapatkan dari pengguna jasa atau masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam melaksanakan penilaian terhadap kualitas pelayanan adalah survei terhadap individu atau masayarakat yang menggunakan jasa atau organisasi dan mengadakan cek silang terhadap laporan dan dokumen mengenai pelayanan yang diberikan organisasi. c. Responsivitas adalah kemampuan organisasi dalam mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun prioritas pelayananserta pengembangan program pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Responsivitas dimaksudkan sebagai satu ukuran kinerja karena secara langsung menggambarkan kemampuan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika responsivitas rendah maka menunjukkan kegagalan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi yang diemban. Dari pengertian tersebut maka indikator dari responsivitas mengarah pada ketepatan dalam pelayanan dan ketepatan waktu dalam pelayanan.

d. Responsibilitas adalah tanggung jawab dalam pelaksanaan menyangkut kesesuaian dengan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan suatu organisasi hal ini dapat dinilai dari analisa terhadap

dokumen dan laporan kegiatan organisasinya dengan prosedur administrasi dan ketentuanketentuan yang ada dalam organisasi. e. Akuntabilitas adalah kemampuan suatu organisasi mengimplementasi kebijaksanaan dan kegiatannya secara konsisten dengan kehendak masyarakat, yaitu itu tidak hanya ada pencapaian target organisasi, tetapi juga sasaran yaitu masyarakat. Akuntabilitas suatu organisasi dapat juga dilakukan dengan survei terhadap penilaian dari para wakil rakyat atau para pejabat politis dan tokoh masyrakat. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat dipahami bawa kinerja dapat diartikan sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan, program, kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, maupun visi dan misi organisasi.
2. Perwakilan Politik Masyarakat

Baron de Montesquieu mengembangkan konsep pemisahan kekuasaan. Menurut Montesque kekuasaan suatu negara dibagi menjadi tiga yaitu ; legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merupakan elemen legislatif ditingkat negara dan DPRD adalah elemen legislatif di tingkat daerah. Legislatif diuraikan oleh Prof. Miriam Budiardjo sebagai berikut: Badan legislatif adalah lembaga yangLEGISLATE atau membuat Undang-Undang. Anggotaanggotanya dianggap mewakili rakyat; maka dari itu badan ini sering dinamakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR); nama lain yang sering dipakai adalah parlemen. Dewan Perwakilan Rakyat dianggap merumuskan kemauan rakyat atau umum ini dengan jalan menentukan kebijaksanaan umum /public policy yang mengikat seluruh masyarakat. Undang-undang yang dibuatnya mencerminkan kebijaksanaan-kebijaksanaan itu. Dapat dikatakan bahwa ia merupakan badan yang membuat keputusan yang menyangkut kepentingan umum . Dalam sistem politik demokrasi, secara teori jika membahas mengenai lembaga legislatif merujuk pada kelembagaan perwakilan politik. Hal tersebut disebabkan karena konsep perwakilan politik yang ideal memang hanya ada pada negara yang menganut sistem demokrasi. Secara umum beberapa teori perwakilan yang dimaksud yaitu : 1. Teori Sosiologi Ajaran ini menganggap bahwa lembaga perwakilan bukan merupakan bangunan politis, akan tetapi merupakan bangunan masyarakat (sosial). Para pemilih akan memilih wakil-wakilnya yang dianggap benar-benar ahli dalam bidang kenegaraan yang akan bersungguh-sungguh membela kepentingan para pemilih. Sehingga lembaga perwakilan yang terbentuk itu terdiri dari golongan-golongan dan kepentingan yang ada dalam masyarakat. Artinya bahwa lembaga perwakilan itu tercermin dari lapisan masyarakat yang ada.

2. Teori Organ Ajaran ini lahir di Prancis sebagai rasa ketidakpuasan terhadap ajaran teori mandat. Para sarjana mencari dan membuat ajaran/teori baru dalam hal hubungan antara wakil dengan yang diwakilinya. Teori Organ diungkapkan oleh Von Gierke (Jerman), bahwa negara merupakan satu

organisme yang mempunyai alat-alat perlengkapannya seperti : eksekutif, parlemen dan rakyat, yang semuanya itu mempunyai fungsinya sendiri-sendiri namun antara satu dengan lainnya saling berkepentingan. Dengan demikian maka setelah rakyat memilih lembaga perwakilan mereka tidak perlu lagi mencampuri lembaga perwakilan tersebut dan lembaga ini bebas menjalankan fungsinya sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar . 3. Teori Mandat Seorang wakil dianggap duduk di lembaga Perwakilan karena mendapat mandat dari rakyat sehingga disebut mandataris. Yang memberikan teori ini dipelopori oleh Rousseau dan diperkuat oleh Petion. Teori mandat ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok pendapat : Mandat Imperatif, menurut teori ini bahwa seorang wakil yang bertindak di lembaga perwakilan harus sesuai dengan perintah (intruksi) yang diberikan oleh yang diwakilinya. Si wakil tidak boleh bertindak di luar perintah, sedangkan kalau ada hal-hal atau masalah/persoalan baru yang tidak terdapat dalam perintah tersebut maka sang wakil harus mendapat perintah baru dari yang diwakilinya. Dengan demikian berarti akan menghambat tugas perwakilan tersebut, akibatnya lahir teori mandat baru yang disebut mandat bebas. Mandat Bebas, teori ini berpendapat bahwa sang wakil dapat bertindak tanpa tergantung pada perintah/intruksi dari yang diwakilinya. Menurut teori ini sang wakil adalah merupakan orang-orang yang terpercaya dan terpilih serta memiliki kesadaran hukum dari masyarakat yang diwakilinya sehingga sang wakil dimungkinkan dapat bertindak atas nama mereka yang diwakilinya. Ajaran ini dipelopori oleh Abbe Sieyes di Perancis dan Block Stone di Inggris. Dalam perkembangan selanjutnya teori ini berkembang menjadi teori Mandat Representatif. Mandat Representatif, teori ini mengatakan bahwa sang wakil dianggap bergabung dalam lembaga perwakilan, dimana yang diwakili memilih dan memberikan mandat pada lembaga perwakilan, sehingga sang wakil sebagai individu tidak ada hubungan dengan pemilihnya apalagi untuk minta pertanggungjawabannya. Yang bertanggung jawab justru adalah lembaga perwakilan kepada rakyat pemilihnya . 4. Teori Hukum Obyektif Leon Duguit mengatakan bahwa hubungan antara rakyat dan parlemen dasarnya adalah solidaritas. Wakil-wakil rakyat dapat melaksanakan dan menjalankan tugas kenegaraannya hanya atas nama rakyat. Sebaliknya rakyat tidak akan dapat melaksanakan tugas kenegaraannya tanpa memberikan dukungan kepada wakil-wakilnya dalam menentukan wewenang pemerintah. Dengan demikian ada pembagian kerja antara rakyat dan parlemen (Badan Perwakilan Rakyat). Keinginan untuk berkelompok yang disebut solidaritas adalah merupakan dasar dari hukum dan bukan hakhak yang diberikan kepada mandataris yang membentuk lembaga perwakilan tersebut. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah lembaga legislatif daerah yang lahir dari pemikiran tentang Demokrasi Perwakilan. Demokrasi perwakilan muncul untuk mewujudkan kedaulatan yang berada di tangan rakyat pada suatu negara. Sehingga ada sejumlah oang yang dipilih untuk mewakili masyarakat yang dianggap mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat yang akan duduk dalam pemerintahan (Legislatif). 3. Penyelenggaraan Pengawasan Konsep dasar Pengawasan Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan di daerah, DPRD mempunyai fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Tugas dan wewenang pengawasan DPRD secara khusus tercantum dalam UU 32 tahun 2004 pasal 42 ayat 1C yang berbunyai : DPRD mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan penngawasan terhadap pelaksanaan Perda

dan peraturang perundnag-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah dan kerjasama internasional daerah. Pengawasan tersebut bertujuan untuk mengembangkan kehidupan demokrasi, menjamin keterwakilan rakyat dan daerah dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, serta mengembangkan mekanisme check and balances antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Konsep dasar dari pengawasan DPRD meliputi pemahaman tentang arti penting dari pengawasan itu sendiri, syarat pengawasan yang efektif, ruang lingkup dan proses pengawasan. Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kebijakan dan rencana yang telah ditetapkan serta memastikan tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Pengawasan adalah tindakan pengendalian aktivasi agar benar-benar sesuai dengan rencana, untuk mencegah penyimpangan yang mungkin terjadi demi tercapainya hasil maupun halhal lain sesuai dengan yang diinginkan dalam rencana yang telah ditentukan sebelumnya Sondang P.Siagian dalam I.GK.Manila mengemukakan bahwa : Pengawasan ialah proses pengamatan terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Stoner dan Freeman berpendapat bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa pengawasan merupakan proses untuk menjamin suatu kegiatan sesuai denga rencana kegiatan. Sedangkan Koontz berpendapat bahwa pengawasan adalah untuk melakukan pengukuran dan tindakan atas kinerja yang berguna untuk meyakinkan organisasi secara objektif dan merencanakan suatu cara dalam pencapaian organisasi. Secara sederhana disebutkan bahwa pengawasan adalah kegiatan yang dilaksanakan agar visi, misi atau tujuan organisasi tercapai dengan lancar tanpa ada penyimpangan atau segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebanarnya mengenai pelaksanaan tugas dan kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. Dalam tata kepemerintahan yang baik, pengawasan berperan memberikan umpan balik kepada pemerintah daerah untuk perbaikan pengelolaan keuangan. Sementara bagi pelaksana, pengawasan merupakan aktivitas untuk memberikan kontribusi dalam proses pembangunan agar dapat mencapai tujuan dan sasaran secara efektif dan efisien. Pengawasan harus memberikan informasi sedini mungkin, sebagai bagian dari sitem peringatan dini bagi bagi pemerintah daerah.

Menurut Griffin proses pengawasan sendiri memiliki empat tahapan dasar,yaitu: 1. Establish standards adalah dengan menetapkan kembali target atau program yang berikutnya untuk perbandingan yang membawa kinerja terukur, standar pengwasan inipun selalu konsisten terhadap tujuan organisasi. 2. Measurement performance adalah ukuran kinerja yang tetap, kegiatan yang terus menerus pada sebagian besar organisasi, untuk suatu pengawasan yang efektif kuran kinerja harus benar atau sah, harian, mingguan, atau bulanan, penampilan ukuran palayanan dari unit cost, kualitas produk dan jumlahnya, penampilan pekerja sering diukur antara mutu dan jumlah hasil.

3. Compare performance agains standards adalah membandingkan kembali kinerja dengan standar, mungkin kinerja lebih tinggi, atau lebih rendah atau sama dengan standar. 4. Consider corrective action adalah keputusan untuk mengambil tindakan yang berat dimana seorang manajer memerlukan analisis dan keahlian diagnostik, meneliti tingkat penyimpangan atau merubah standar atau ukuran atau norma. Menurut Duncan sifat pengawasan yang efektif yaitu : a. Pengawasan harus dipahami sifat dan kegunaannya, maka harus dikomunikasikan pada semua pihak yang terlibat. b. Pengawasan harus mengikuti pola dan siatuasi yang dianut atau yang dimiliki oleh organisasi. c.Pengawasan harus mengidentifikasi masalah yang dihadapi organisai. d.Pengawasan harus fleksibel dan tidak kaku. e.Pengawasan harus memperhatikan aspek ekonomis. Agar pengawasan dapat berjalan secara efektif, memerlukan syarat-syarat atau pengendalian yang baik. Yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Harus sesuai dengan perencanaan dan kedudukan. Harus bersifat objektif Harus mudah disesuaikan. Harus sesuai dengan suasana organisasi. Mudah dan ekonomis. Dapat menghasilkan tindakan korektif.

4. Pengawasan

DPRD

Terhadap

APBD

Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD adalah pengawasan politik dan kebijakan yang bertujuan untuk memelihara akuntabilitas publik, terutama lembaga-lembaga yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kebijakan dan program pemerintahan serta pembangunan di daerah. Sistem akuntabilitas didaerah akan menajdi semakin efektif, karena proses dan hasil pengawasan yang dilakukan DPRD akan memungkinkan lembaga-lembaga publik digugat juka mereka tidak memenuhi kaidah-kaidah publik. Pengawasan DPRD adalah wewenang yang dimiliki DPRD kabupaten atau kota untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, pelaksanaan keputusan dari

gubernur atau bupati atau walikota, pelaksanaan APBD, kebijakan pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda), dan pelaksanaan kerjasama Internasional Daerah. Berdasarkan pasal 42 ayat (1) huruf c UU No. 32 tahun 2004, secara umum ruang lingkup pengawsan DPRD meliputi tiga hal yaitu : 1. Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya. Pengawsan ini meliputi pengawasan terhadap pencapaian tujuan awal saat ditetapkannya peraturan daerah. 2. Pengawasan terhadap pelaksanaan APBD. Pengawasan ini merupakan pengawasan terhadap pencapaian tujuan awal saat ditetpkannya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. 3. Pengawasan terhadap perjanjian kerjasama pihak ketiga. Pengawasan ini meliputi pengawasan terhadap kerjasama daerah oleh pemerintah daerah dengan pihak ketiga baik lokal maupun internasional meteri meliputi : bidang yang dikerjasamakan, jangka waktu kerjasama, manfaat bagi daerah, dan sumber pembiayaan. Secara khusus, hasil pengawasan DPRD terhadap pemerintah daerah ditujukan : 1. Untuk menjamin agar pemerintah daerah berjalan sesuai rencana dan ketentuan perundangundangan yang berlaku. 2. Untuk menjamin kemungkinan tindakan koreksi yang cepat dan tepat terhadap penyimpangan dan penyelewengan yang ditemukan dalam upaya mencegah berlanjutnya kesalahan atau penyimpangan. 3. Untuk menumbuhkan motivasi, memperbaiki, mengurangi dan atau meniadakan penyimpangan. 4. Untuk meyakinkan bahwa kinerja pemerintah daerah sedang atau telah mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan . Dari fungsi pengawasan tersebut diharapkan DPRD dapat membangun sistem peringatan dini apabila terjadi kejanggalan atau penyimpangan dalam proses pengelolaan tata pemerintahan daerah. Untuk dapat melakukan pengawasan secara efektif diperlukan beberapa persyaratan , yaitu : 1. Langkah pengawasan tertentu hanya berlaku untuk suatu organisasi tertentu. 2. Kegiatan pengawasan harus dapat mencapai tujuan sekaligus, bukan hanya tujuan sektoral tetapi tujuan luas lainnya. 3. Informasi untuk pengawasan harus diperoleh tepat waktu. 4. Mekanisme pengawasan harus dipahami semua orang yang ada dalam organisasi. Salah satu fungsi DPRD yang cukup penting dan berdampak luas adalah fungsi anggaran DPRD dalam menetapkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Hal ini berhubungan dengan kewajiban kepala daerah melakukan pertanggungjawaban tahunan atas pelaksanaan APBD. Berdasarkan pasal 179 UU No.32 tahun 2004 disebutkanbahwa APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa satu tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Agar pengelolaan keuangan daerah yang tertuang dalam APBD benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah, DPRD dapat melakukan pengawasan kebijakan dari perencanaan sampai pelaksanaan dan evaluasi. Agar APBD tersusun dan terlaksana dengan tepat sasaran dan tepat waktu, DPRD dapat mengarahkan penyusunan APBD berpedoman pada peraturan perudangundangan yang berlaku , sesuai dengan materi berikut :

1. APBD disusun dengan pendekatan kinerja. 2. Dalam penyusunan APBD,pengaanggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah cukup. 3. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional dapat dicapai untuk setiap pendapatan. 4. Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja. 5. Perkiraan sisa lebih perhitungan APBD tahun sebelumnya dicatat sebagai saldo awal APBD pada tahun berikutnya, sedangkan realisasi sisa lebih perhitungan APBD tahun lalu dicatat sebagai saldo awal pada perubahan APBD. Dengan adanya rincian penyusunan APBD dan berpedoman pada tata cara penyusunan dan penggunaannya, akan memudahkan DPRD dalam penyusunan peraturan daerah menyangkut APBD, perhitungan APBD dan perubahan setiap tahun, sehingga pengawsan yang dilakukan DPRD terhadap APBD dapat dilakukan secara optimal. Fungsi pengawasan DPRD terhadap APBD diarahkan agar tidak terjadi penyimpangan seperti kasus korupsi oleh DPRD yang juga melibatkan kepala daerah yang erat kaitannya dengan penyelewengan dan penetapan Rancangan Peraturan Daerah APBD dan perubahnnya. Dalam menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentan APBD berpedoman pada pasal 185 dan pasal 186 UU No.32 tahun 2004. Apabila DPRD tidak mencapai titik temu dengan kepala daerah dalam mengambil keputusan tentang APBD, maka kepala daerah menggunakan anggaran (APBD) tahun sebelumnya. Untuk menghindari hal tersebut DPRD dapat melakukan koordinasi yang baik dengan eksekutif agar seluruh tujuan dapat tercapai dalam merumuskan kegiatan ke dalam APBD yang partisipatif. DPRD lebih memfokuskan pada pengwasan terhadap APBD, artinya perda tentang APBD benarbenar menjadi pedoman bagai semua SKPD, sebgaimana yang diatur pada pasal 190 UU No.32 tahun 2004, yang berbunyi : Peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah.

Kemudian, pasal 311 ayat 91) dan (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah berbunyi : 1. DPRD melakukan pengawasan terhadap pelaksanana peraturan daeah tentang APBD. 2. Pengawasan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) bukan pemeriksaan tetapi pengawasan yang lebih mengarah untuk menjamin pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam peraturna daerah tentang APBD. Pengawasan terhadap pelaksanaan APBD, wujudnya adalah melihat, mendengar, mencermati pelaksanaan APBD oleh SKPD, baik secara langsung maupun berdasarkan informasi yang diberikan oleh konsituen, tanpa mengatur ke ranah pengawasan yang bersifat teknis . Apabila ada dugaan penyimpangan dapat dilakukan hal-hal berikut :

1. Memberitahukan kepada KDH untuk ditindaklanjuti. 2. Membentuk Pansus untuk mencari informasi yan lebih akurat. 3. Menyampaikan adanya dugaan penyimpangan kepada instansi penyidik (Kepolisian, Kejaksaan, KPK). Landasan hukum yang digunakan pada pengawasan DPRD antara lain Peraturan Pemerintah No.8 tahun 2006 tentang pelaporan AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah). 5. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)

a. Anggaran Daerah Kata anggaran memiliki beberapa pengertian, antara lain ; sebagai rencana keuangan yang menerjemahkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia untuk memenuhi aspirasi masyarakat menuju pencipataan kehidupan rakyat yang lebih baik di masa yang akan datang, anggaran juga berarti Rencana keuangan PEMDA untuk membangun perkehidupan masyarakat yang tentunya semakin berkembang dan dinamis yang tercermin dalam kegiatan untuk mendorong rakyat dalam memenuhi kewajibannya sebagai warga negara. Mardiasmo berpendapat bahwa anggaran merupakan proses penentuan jumlah alokasi sumber-sumber ekonomi untuk setiap program dam aktivitas dalam bentuk satuan uang. Kemudian, sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja disebut anggaran kinerja. Dalam Darwanto (2007), anggaran daerah merupakan rencana keuangan yang menjadi dasar dalam pelaksanaan pelayanan publik. Dalam penyusunan anggaran, menurut World Bank (1998) ada beberapa prinsip pokok dalam anggaran dan manajemen keuangan daerah yaitu : Komperhensif dan disiplin, Fleksibilitas, Terprediksi, Kejujuran, Informasi, Transparansi dan akuntabilitas.

APBD menurupakan instrumen yang akan menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah. Lebih lanjut Mardiasmo mengemukakan bahwa prinsip-prinsip yang mendasari pengelolaan keuangan daerah yaitu : 1. Transparansi, dimana masyarakat memiliki hak dan akses yang sama untuk mengetahui proses anggaran. Karena menyangkut aspirasi dan kepentingan masyarakat terutama pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. 2. Akuntabilitas, merupakan prinsip pertanggung jawaban publik yang berarti proses penganggaran mulai dari perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan harus dapat dilaporkan dan dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.

3. Value of money, yang merupakan tiga aspek berupa ekonomi, efisiensi, dan efektifitas. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah bahwa prinsip-prinsip anggaran adalah : a. Semua penerimaan yang meliputi uang, barang, dan atau jasa dianggarkan dalam APBD. b. Seluruh pendapatan, belanja, dan pembiayaan dianggarkan secara bruto. c. Jumlah pendapatan merupakan perkiraan terukur dan dapat dicapai berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. d. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah cukup dan harus diperkuat dengan dasar hukum yang melandasinya. Peraturan tentang APBD dikeluarkan untuk menjamin agar APBD dapat disusun dan dilaksanakan dengan baik dan benar, dalam peraturan-peraturan tersebut diatur landasan administratif dalam pengelolaan anggaran daerah yang mengatur prosedur dan teknis pengawasan yang harus diikuti secara terteb dan taat asas. Dalam menetapkan APBD, DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan anggaran sebagai berikut : 1. UU No.34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang No.18 tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi daerah. 2. UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 3. UU No.22 tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,DPD, dan DPRD. 4. UU No.1 Thaun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 5. UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 6. UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusah dan Pemerintah Daerah. 7. UU No.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. 8. UU No.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah. 9. PP No.23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit APBN dan APBD, serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 10. PP No.54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. 11. PP No.55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. 12. PP No.56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. 13. PP No.57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepala Daerah. 14. PP No.58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 15. Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 16. Permendagri No.59 Tahun 2007 tentang Perubahan Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

b. Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana lancar, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak

perlu dibayar kembali oleh daerah. Ekuitas dana lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 20, Pendapatan adalah semua penerimaan rekening kas umum negara/daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Menurut UU Nomor 33 Tahun 2004, pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan. Sehubungan dengan hal tersebut, pendapatan daerah yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan. Seluruh pendapatan daerah yang dianggarkan dalam APBD dianggarkan secara bruto, yang mempunyai makna bahwa jumlah pendapatan yang dianggarkan tidak boleh dikurangi dengan belanja yang digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan tersebut dan/atau dikurangi dengan bagian pemerintah pusat/daerah lain dalam rangka bagi hasil. Menurut Kadjatmiko dalam Halim (2004: 194), dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan pada azas desentralisasi, daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak dan retribusi (tax assignment) serta bantuan keuangan (grant transfer). Pendapatan daerah terdiri atas Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. c. Peraturan Daerah Tentang APBD Keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan pemerintahan daerah. Menurut UU No.33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan daerah, pasal 1 ayat (13) pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambahan nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan. Selanjutnya pada ayat (14) disebutkan bahwa belanja daerah adalah semua kawajiban daerah yang diakui sebagai pengurangan nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan. Pada ayat (17) APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiyaan daerah. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana lancar, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Ekuitas dana lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek. Belanja daerah meupakan semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam sati tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi, kabupaten atau kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentunan perundang-undangan. Sedangkan pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Selanjutnya, agar pelaksanaan APBD berjalan sesuai dengan aturan maka pemerintah Kota

Sidoarjo telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No.6 tahun 2009 Tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.

`BAB

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dalam penelitian ini di Kantor DPR Kota Sidoarjo Rancangan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini diklasifikasikan dala penelitian kuantitatif deskriptif korelatif dimana penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variable yang timbul dimasyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi dan mencari hubungan antar variable yang diteliti. (Bungin,2006:36) Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama (Sukandarrumidi, 2004: 47). Sedangkan menurut Arikunto, populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 2002: 108). Jadi populasi dalam penelitian ini adalah 200 orang anggota DPRD Kota Sidoarjo. Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari obyek yang merupakan sumber data (Sukandarrumidi, 2004: 50).sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 221). Metode penentuan sampel dari populasi yang ada menggunakan rujukan rumus Slovin (Dalam Umar, 2003;146) sebagai berikut n=N 1+Ne2 n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi e = Prosen Kelonggaran Prosen kelonggaran atau kesalahan di tentukan sebesar 10%. Jumlah jadi jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 25 orang. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki 2. Dokumentasi Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya Lexi J. Moleong (2004) mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan aseorang penyidik. Penggunaan metode dokumen dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut (Guba dan Lincoln, 1981) dalam bukunya Lexy J. Moleong (2004) 1) Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong. 2) Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian. 3) Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks. 4) Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi. 5) Dokumentasi harus dicari dan ditemukan.

6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki. 3. Wawancara Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000 : 135). 4. Angket Metode angket adalah salah satu metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi aspek yang hendak diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh subyek penelitian, berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan mengenai subyek yang diteliti (Suryabrata, 1990). Penggunaan metode angket, menurut Hadi (1993) didasari oleh beberapa anggapan, yaitu: 1. Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri. 2. Apa yang dinyatakan subyek kepada peneliti adalah benar-benar dapat dipercaya 3. Interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama demngan yang dimakksud peneliti. Angket memiliki bermacam-,macambentuk yakni: 1. Angket langsung atau tidak langsung 2. Angket terbuka atau angket tertutup Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat langsung dan tertutup. Artinya angket yang merupakan daftar pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai subyek penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih karena jawaban telah disediakan. 5. Teknik Analisis Data Menurut Patton, analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. (Bungin, 2006:33). Karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, maka metode analisisi data yang digunakan adalah alat analisis yang bersifat kuantitatif yaitu model statistik. Hasil analisis nantinya akan disajikan dalam bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diiterpretasikan dalam suatu uraian. Teknik analisa data merupakan langkah yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian. Adapun teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik statistik regresi digunakan untuk mengetahui seberapa jauh nilai variabel dependen bila variabel independen dirubah . Teknik ini melakukan analisis uji korelasi dan analisis regresi (regresi sederhana). Analisis regresi sederhana digunakan karena variabel independen (bebas/x) hanya satu. Setelah itu hipotesis penelitian ini diuji dengan menggunakan uji hipotesis nol. Uji hipotesis ini pada perumusannya cenderung menyamakan atau tidak memberlihatkan adanya perbedaan. Adapun rumus regresi sederhana yang digunakan adalah : = a + bX

Dimana = subyek dalam variabel dependen yang dipresikasikan (pengawasan APBD a = konstanta b = angka atau arah koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan atau penurunan variabel dependen yang didasarkan pada hubungan nilai variabel independen. X = subyek independen yang mempunyai nilai tertentu (kinerja pengawasan DPRD) 6. Pengujian Hipotesis Dalam penelitian ini pengujian hipotesis digunakan dengan menggunakan metode Analysis of Variance (ANOVA) . Metode ini digunakan untuk menguji hubungan antara satu variabel dependen dengan satu atau lebih variabel independen. Analisis yang akan digunakan pada penelitian ini adalah analisis One Way ANOVA yang menguji hubungan antara satu variabel dependen dengan satu variabel independen.ANOVA digunakan untuk mengetahui pengaruh utama/langsung dari variabel dari variabel independen terhadap variabel dependen. ANOVA digunakan untuk membandingkan nilai rata-rata sampel dengan menggunakan F test yaitu estimate between groups variance dibandingkan dengan estimate within groups variance.Untuk mengetahui apakah variabel independen (X) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y), maka dilakukan perbandingan antara Fhitung dengan Ftabel pada tingkat kesalahan () = 0,05 dengan kaidah pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut : a. Jika F hitung F tabel maka signifikan (h0) ditolak, (ha) diterima b. Jika F hitung F tabel maka tidak signifikan (h0) diterima, (ha) ditolak

DAFTAR PUSTAKA
Ardhayanti, Ermy Sri. Deskripsi dan Telaah Kritis APBD Kota Sidoarjo dalam Membedah Ketimpangan Anggaran: Studi Kasus APBD Kota Sidoarjo, Kota Malang, dan Kota Banyuwangi, Surakarta: Pattiro Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Timur. 2006. Rekap Memoranda Anggaran Program (MAP) Satuan Kerja. Badan Pusat Statistik, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, dan United Nation Development Project. 2004.

The economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia. Indonesia Human Development Report 2004. Indonesia, Jakarta. Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2006. Jawa Timur Dalam Angka, Tahun 2006. Badan Pusat Statistik Surabaya. 2003. Surabaya Dalam Angka, Tahun 2003. dan Belanja Daerah Surabaya Tahun 2005.