P. 1
6.Instrumen Penelitian Kuantitatif

6.Instrumen Penelitian Kuantitatif

|Views: 10|Likes:
Dipublikasikan oleh Adil Zai

More info:

Published by: Adil Zai on Oct 28, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2013

pdf

text

original

Penelitian Kuantitatif Prasetya Irawan Instrumen Penelitian Kuantitatif Jika dalam penelitian kualitatif, instrumen penelitian adalah penelitinya

sendiri, maka dalam penelitian kuantitatif, instrumen harus dibuat dan menjadi perangkat yang "independent" dari peneliti. Peneliti harus mampu membuat instrumen sebagus mungkin, apapun instrumen itu. Semua instrumen (baik yang tes maupun non tes) harus memiliki dua syarat yaitu reliabel dan valid. Reliabel berarti hasil pengukuran konsisten dari waktu ke waktu. Valid berarti instrumen secara akurat mengukur objek yang harus diukur. Reliabilitas mempunyai tiga dimensi yaitu Stabilitas, Ekivalensi, dan Konsistensi Internal (O'Sullivan & Rassel, 1995). Stabilitas mengacu pada kemampuan instrumen untuk menghasilkan data yang sama dari waktu ke waktu (dengan asumsi objek yang diukur tidak berubah). Ekivalensi mengacu pada kemampuan dua atau lebih macam instrumen yang dibuat dua atau lebih peneliti untuk mengukur satu hal yang sama. Misalnya, dua peneliti mengukur penggunaan listrik di suatu aula. Dua peneliti ini menggunakan dua instrumen yang berbeda. Tetapi jika temuan kedua peneliti ini sama, maka instrumen mereka memilki sifat "ekivalen". Konsistensi internal tercapai jika semua item dalam instrumen mengukur satu hal yang sama. Jika terdapat 10 pertanyaan tentang motivasi, maka ke 10 pertanyaan itu mengukur hal yang sama (motivasi). Instrumen yang baik juga harus valid. Ada beberapa macam validitas yaitu face validity, content validity, dan criterion validity. Face validity (validitas muka) tercapai jika suatu instrumen nampaknya sudah valid (dari penglihatan sepintas lalu). Tentu saja validitas semacam ini sangat superficial. Tetapi kadangkadang peneliti cukup memerlukan validitas jenis ini. Caranya, peneliti meminta beberapa orang membaca atau mengisi instrumen tersebut, dan meminta pendapat mereka untuk keperluan revisi. Content validity (validitas isi) tercapai jika suatu instrumen telah mencakup

Instrumen Realibility Stability Ekivalence Internal Consistency Face Validity Validity Content Criterion Validity Validity Concurrent Predictive Validity Validity . Sebagai catatan. Berikut adalah peta reliabilitas dan validitas instrumen. berkorelasi secara signifikan dengan instrumen lain yang mengukur hal yang sama. yaitu concurrent validity dan predictive validity. maka tes kits telah memiliki concurrent validity. Concurrent validity tercapai jika suatu instrumen buatan kita misalnya.seluruh hal yang perlu diukur. Jika kita mempunyai alat tes bahasa Inggris lalu kita uji cobakan kepada sejumlah siswa. Dalam hal ini kita mengenal dua macam validitas. tetapi instrumen ini tidak memiliki validitas isi. dan hasilnya ternyata berkorelasi dengan nilai TOEFL mereka. Sedangkan predictive validity tercapai jika suatu instrumen mampu meramalkan apa yang terjadi di masa depan sesuai dengan hasil tes. Jika satu tes ujian akhir telah mencakup seluruh isi mata kuliah satu semester. ini jangan dikacaukan dengan "konsistensi internal" dalam bahasan tentang reliabilitas. maka instrumen ini dianggap memiliki validitas isi. Soal tes ujian yang hanya mencakup 50% bahan kuliah satu semester mungkin memiliki sifat konsistensi internal. Criterion validity (validitas kriteria) mengacu pada kemampuan item-item instrumen untuk mengukur hal yang sama atau memprediksi suatu hal di masa depan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->