Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN HIV DENGAN TUBERCULOSIS PARU (TBC)

OLEH : IDA AYU EKA JAYANTHI 0802105048

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA 2012 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT TUBERCULOSIS PARU (TBC) A. Konsep Dasar Penyakit 1. Definisi Mycobacterium tuberculosis kebanyakan mengenai struktur alveolar paru. Presentasi klinis penyakit ini bervariasi berkisar asimtomatik dengan hanya menunujukkan tes kulit positif sampai meliputi pemeriksaan laboratorium atau diagnostik. Tuberkulosis Paru (TB Paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. ( Smeltzer, 2001: 584). Tuberkulosis Paru (TB Paru) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. (Price, 2005 : 852).

Gbr. 1. Paru-paru pada klien TB 2. Epidemiologi / Insiden Kasus

Indonesia adalah negeri dengan prevalensi Tb ketiga tertinggi di dunia setelah cina dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di Cina, India dan Indonesia berturut-turut 1.828.000, 1.414.000, dan 591.000 kasus. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun

1998. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking no.3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24 % (Amin, 2007: 988) Negara India Cina Indonesia Nigeria Afrika Selatan Semua kasus 1.983.000 1.301.000 430.000 458.000 477.000 168 97 189 303 960 Per 100.000 populasi

Tabel 1. TB statistik untuk "beban tinggi" negara, 2008 3. Penyebab / Faktor Predisposisi

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri berbentuk batang (basil) yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar struktur organisme ini terdiri atas asam lemak (lipid) yang membuat mikobakterium lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. M. tuberculosis hominis merupakan penyebab sebagian besar kasus tuberculosis. Mikobakterium ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahuntahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Macam-macam jenis Micobacterium tubercolusae complex adalah: a. M. tuberculosae b. Varian Asian c. Varian African I

d. Varian African II e. M. Bovis Kelompok kuman Mycobacteria Other Than TB (MOTT, atypical adalah: a. M. kansasi b. M. avium c. M. intra cellular d. M. scrofulaceum e. M.malmacerse f. M. xenopi (Amin, 2007:988) 4. Patofisiologi Penyakit Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. Tb). Tempat masuk kuman M. Tuberkulosis adalah saluran pernapasan, saluran perncernaan (GI), dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi TB terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi doplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama bagi jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi. Infeksi dimulai dengan inhalasi droplet nuklei yang mengandung M. Tb yang tidak dapat ditangkap oleh sistem pertahanan mukosilier bronkus dan masuk ke alveoli. Di dalam alveoli kuman ditangkap makrofag alveoli, kuman akan bermultiplikasi hingga mencapai jumlah tertentu yang akan mengaktivasi sel limfosit T. Antigen kuman dipresentasikan oleh Major histocompatibility complex class I (MHC I) ke sel CD8 dan oleh MHC II ke sel CD4. Sel CD4 terdiri atas Th1 dan Th2 yang masing-masing menghasilkan sitokin yang berperan dalam sistem imunitas. Respon imunitas pada infeksi M. Tb meliputi cell mediated immunity (CMI) dan delayed type hypersensitivity (DTH), kedua respon imunitas tersebut bertujuan untuk melokalisir infeksi dan membunuh M. Tb. Alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan timbul pneumonia akut. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar getang bening

regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10-20 hari. Pada individu normal terjadi keseimbangan yang rentan antara imunitas host dan M. Tb. Sel CD4 dan makrofag sangat berperan dalam respon imunitas terhadap M. Tb. Infeksi HIV menyebabkan depresi dan disfungsi progresif sel CD4 dan defek pada fungsi makrofag. Akibatnya pasien HIV mempunyai risiko tinggi untuk reaktivasi TB laten menjadi TB aktif dan peningkatan risiko terinfeksi baru TB. Pada infeksi HIV lanjut kadar CD4 sangat rendah sehingga terjadi gangguan respon imunitas baik CMI dan DTH, akibatnya replikasi M. Tb meluas tanpa disertai pembentukan granuloma, nekrosis perkejuan maupun kavitas. Ini menyebabkan diagnosis TB lebih sulit karena gambaran radiologisnya tidak seperti umumnya penderita TB tanpa HIV. TB diseminata atau TB ekstra paru sering terjadi tetapi kelainan TB paru masih merupakan kelainan TB yang lebih sering terjadi. Status HIV negatif meningkatkan risiko berkembangnya TB 510%, sedangkan status HIV positif meningkatkan risiko berkembangnya TB 50%. Dibandingkan individu yang tidak terinfeksi HIV, individu dengan HIV mempunyai risiko 10 kali lebih besar untuk berkembangnya TB. Dalam perjalanannya penyakit TB dapat menimbulkan nekrosis pada bagian sentral lesi yang memberikan gambaran relative padat dan seperti keju disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibrolas menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut kolagenosa yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru disebut fokus Ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer disebut kompleks Ghon. Kompleks Ghon yang mengalami perkapuran ini dapat dilihat pada orang yang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin. Namun,

kebanyakan infeksi TB paru tidak terlihat secara klinis atau dengan radiografi. Respons lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, yaitu bahan cair lepas ke dalam bronkus yang berhubungan dan menimbulkan kavitas. Bahan tubercular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan trakeobronkial. Proses ini dapat berulang, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Walaupun peradangan dapat mereda, kavitas yang kecil dapat menutup dan meninggalkan jaringan parut fibrosis. Bila peradangan mereda, lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan taut bronkus dan rongga. Bahan perkejuan dapat mengental dan tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijuan dan lesi mirip dengan kapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Penyakit ini dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran lomfo hematogen yang biasanya sem buh sendiri.(Price, 2005:852-853)

5.

Klasifikasi Klasifikasi I (berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi) (Depkes, 2003) a) Tuberculosis paru

Merupakan bentuk yang paling sering dijumpai yaitu sekitar 80% dari semua penderita. Tuberculosis yang menyerang parenkim paru ini merupakan satu-satunya bentuk tuberculosis yang paling mudah menular. b) Tuberculosis ekstra paru Merupakan bentuk Tubeculosis yang menyerang organ lain selain paru, seperti pleura, kelenjar limfe, persendian tulang belakang, saluran kencing, susunan saraf pusat, dan perut. Pada dasarnya penyakit Tuberculosis ini tidak pandang bulu karena kuman ini menyerang semua organ tubuh. Klasifikasi II ( Menurut American Thoracic Society, 2000) Class 0 Class 1 Class 2 Class 3 Tidak ada jangkitan atau terinfeksi, riwayat terpapar, reaksi test tuberculin (PPD) tidak bermakna. Terpapar TBC, tidak ada bukti infeksi, reaksi kulit tak bermakna Ada infeksi TBC, reaksi kulit bermakna, pemeriksaan bakteri (-), tidak ada bukti. Sedang sakit, BTA (+), test mantoux bermakna, Rontgent Thorax (+). Lokasi tempat : Paru-paru, Pleura, Class 4 Class 5 Limfatik, tulang/sendi, meninges, peritoneum, dsb. Sedang sakit, ada riwayat mendapat pengobatan, Rontgent Thorax (+), test mantoux bermakna. dicurigai TBC, sedang dalam pengobatan

Klasifikasi III a) Tuberculosis Primer Tuberculosis primer adalah bentuk penyakit yang terjadi pada orang yang belum pernah terpajan (orang yang belum pernah mengalami TB) atau peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Dampak utama dari tuberculosis primer adalah

1. 2. 3.

penyakit ini memicu timbulnya hipersensitivitas dan fokus jaringan parut mungkin mengandung basil penyakit ini (meskipun jarang) dapat menjadi

resistensi. hidup selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup tuberculosis primer progresif. Hal ini terjadi ada orang yang mengalami gangguan akibat suatu penyakit (terutama penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, seperti AIDS dan biasanya terjadi pada pada anak yan mengalami malnutrisi atau usia lanjut). b) Tuberculosis Sekunder (Tuberculosis Post Primer) Merupakan penyakit yang terjadi pada seseorang yang telah terpajan penyakit tuberculosis atau peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang di mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium tersebut. Penyakit ini mungkin terjadi segera setelah tuberculosis primer, tetapi umumnya muncul karena reaktivasi lesi primer dorman beberapa dekade setelah infeksi awal, terutama jika sistem pertahanan penjamu (seseorang yang pernah terkena TB sebelumnya) melemah. Klasifikasi IV Klasifikasi TB Paru berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi sebagai berikut: a. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. 3. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:

1. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif. c. Bekas TB Paru dengan kriteria: 1. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negative 2. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. 3. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak berubah. 4. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

Klasifikasi V Berdasarkan tipe penderita. Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita : a) Kasus baru : penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kurang dari satu bulan. b) Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali berobat dengan hasil pemeriksaan BTA positif. c) Pindahan (transfer in) yaitu penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah. d) Kasus berobat setelah lalai (default/drop out) adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan atau lebih dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat.

6.

Gejala Klinis Penyakit tuberculosis sering dijuluki the great imitator yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala sistemik. 1. Gejala Respiratorik a) Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. b) Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. c) Sesak nafas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain. d) Nyeri dada Nyeri dada pada Tuberculosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. 2. Gejala Sistemik

a)

Demam

Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya. b) Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah berkeringat pada malam hari, sakit kepala, anoreksia, penurunan berat badan, keletihan, dan malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. 7. Pemeriksaan Fisik Inspeksi Konjungtiva mata pucat karena anemia, malaise, badan kurus/ berat badan menurun. Bila mengenai pleura, paru yang sakit terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. RR meningkat (>24 x/menit). Adanya dyspnea, sianosis, distensi abdomen, batuk dan barrel chest. Perkusi Terdengar suara redup terutama pada apeks paru, bila terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonar dan timpani. Bila mengenai pleura, perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi Terdengar suara napas bronchial. Akan didapatkan suara napas tambahan berupa rhonci basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrasi ini diliputi oleh penebalan pleura, suara napas menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup besar, auskultasi memberikan suara amforik. Bila mengenai pleura, sekali. Palpasi badan teraba hangat (demam), denyut nadi meningkat (>100x/menit), turgor kulit menurun, fremitus raba meningkat disisi yang sakit. (Amin, 2007 : 990-991) auskultasi memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama

8.

Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis

a. Pemeriksaan Laboratorium pada tahap aktif penyakit. Pemeriksaan dapat memperkirakan jumlah basil tahan asam ( AFB) yang terdapat pada sediaan. Sediaan yang positif memberikan petunjuk awal untuk menekankan diagnosa, tetapi suatu sediaan yang negative tidak menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi penyakit. Pemeriksaan biakan harus dilakukan pada semua biakan. Mikrobakteri akan tumbuh lambat dan membutuhkan suatu sediaan kompleks. Koloni matur akan berwarna krem atau kekuningan, seperti kulit dan bentuknya seperti kembang kol. Jumlah sekecil 10 bakteri/ml media konsentrasi yang telah diolah dapat dideteksi oleh media biakan ini (Price,2005:857). Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat. indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda. Tes mantoux adalah dengan menyuntikan tuberculin (PPD) sebanyak 0,1 ml mengandung 5 unit (TU) tuberculin secara intrakutan pada sepertiga atas permukaan volar atau dorsal lengan bawah setelah kulit dibesihkan dengan lalkohol. Untuk memperoleh reaksi kulit yang maksimal diperlukan waktu antara 48 sampai 72 jam sesudah penyuntikan dan reaksi harus dibaca dalam peiode tersebut. Interpretasi tes kulit menunjukan adanya beberapa tipe reaksi : Indurasi 5 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut :

a) Orang dengan HIV positif. b) Baru saja kontak dengan orang yang menderita TB. c) Orang dengan perubahan fibrotic pada radigrafi dada yang sesuai dengan gambaran TB lama yang sudah sembuh. d) Pasien yang menjalani tranplanstasi organ dan pasien yang mengalami penekanan imunitas ( menerima setara dengan 15 mg/hari prednisone selama 1 bulan). Indurasi 10 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut : a) b) c) Baru tiba ( 5 tahun ) dari Negara yang Pemakai obat-obat yang disuntikkan. Penduduk dan pekerja yang berkumpul pada berprevalensi tinggi.

lingkungan yang berisiko tinggi. Penjara, rumah-rumah perawatan, panti jompo, fasilitas yang disiapkan untuk pasien dengan AIDS, dan penampungan untuk tuna wisma d) e) f) Pengawai laboratorium mikrobakteriologi. Orang dengan keadaan klinis pada daerah mereka Anak di bawa usia 4 tahun atau anak-anak dan

yang berisioko tinggi. remaja yang terpajan orang dewasa kelompok risiko tinggi. Indurasi 15 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut : a) b) Orang dengan factor risiko TB. Target program-program tes kulit seharusnya hanya

dilakukan di anatara kelompok risiko tinggi. (Price,2005:855) Uji tuberculin : Menggunakan standar tuberkulin 1:10.000/5 TU PPD-S intrakutan yang dibaca 48-72 jam dengan indurasi > 5 mm. Uji tuberkulin negatif belum dapat menyingkirkan TB. False negatif pada pemeriksaan uji tuberkulin sering ditemukan pada

pasien HIV dan kejadiannya meningkat sebanding dengan peningkatan imunosupresi. Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung, urine dan CSF, biopsi kulit) : positif untuk Mycobacterium tuberculosis Pemeriksaan Darah : a) Hb dapat ditemukan menurun. Anemia bila penyakit berjalan menahun b) LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan. c) GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru. Biopsi jarum pada jaringan paru (Needle Biopsi of Lung Tissue): Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis. beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas. Tes antibody serum: Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa. Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. limfosit CD4 Jumlah CD4 : Mencerminkan status imunitas pasien. Penderita HIV/AIDS perlu diperiksa jumlah CD4 karena infeksi HIV

menyerang sistem ini. Hasil pemeriksaan jumlah CD4 berguna untuk menentukan pengobatan TB-HIV/AIDS selanjutnya. Tes blot western: Mengkonfirmasi diagnosa Human Sel T4 helper: Indikator system imun (jumlah <200) T 8 ( sel supresor sitopatik ): Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau Immunodeficiency Virus (HIV)

lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun. P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV): Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi Kadar Ig: Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal Reaksi rantai polimerase: Mendeteksi DNA virus dalam Pasien TB yang perlu dilakukan pemeriksaan HIV adalah atau mendekati normal jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler. pasien yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi HIV, hasil pengobatan OAT yang tidak memuaskan (contoh: TB kronik), multi drug resistance (MDR) TB. Demikian juga bila di fasilitas kesehatan menemukan pasien terinfeksi HIV/AIDS perlu dibuktikan ada tidaknya TB paru. Dengan adanya kerjasama yang baik antara program TB dan program HIV/AIDS dapat menurunkan beban pasien TB-HIV/AIDS. Setiap pemeriksaan HIV harus disertai konseling sebelum dan sesudah pemeriksaan, oleh karena itu diperlukan VCT (Voluntary Counselling Test) dan PITC (Provider Initiated Testing and Counselling) di setiap pelayanan kesehatan. b. Radiologi Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru oleh simpanan kalsium lesi yang sembuh primer atau efusi cairan. Perubahan mengindikasikan TB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.

adalah

Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC paru penebalan pleura, efusi pleura atau empisema,

melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.

penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura). c. Pemeriksaan fungsi paru Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu: kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.

9.

Diagnosis / Kriteria Diagnosis a) Anamnesis dan pemeriksaan fisik b) Laboratorium limfositosis) c) Foto thorax PA dan lateral. Gambaran foto thoraks yang menunjang diagnosis TB, yaitu : o Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah o Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular) o Adanya kavitas, tunggal atau ganda o Kelainan bilateral, terutama dilapangan atas paru o Adanya kalsifikasi o Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian o Bayangan milier d) Pemeriksaan sputum BTA darah rutin (LED normal atau meningkat,

Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun pemeriksaan ini tidak sensitive karena hanya 30-70% pasien TB yang dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini. e) Tes PAP (Perksidase Anti Peroksidase) Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB f) Tes Mantoux/Tuberkulin g) Tehnik Polymerase Chain Reaction h) Bection Dickinson Diagnostic Instrument System Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh M. tuberculosis i) Enzyme Linked Immunosorbent Assay Deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Pelaksanaannya rumit dan antibodi dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah.

j) MYCODOT Deteksi antibody memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam serum pasien. Bila terdapat antibody spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan berubah. (Mansjoer, 1999 : 472-473) Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil rontgen tidak

mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan. Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan. Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 - 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS : Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB. Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif. Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

10.

Therapy / Tindakan Penanganan

Penatalaksanaan TB paru dengan infeksi HIV pada dasarnya sama dengan infeksi tanpa HIV saat pemberian obat pada ko-infeksi TBC-HIV harus memperhatikan jumlah CD4 yang sesuai Jumlah CD4 (per mm3) < 200 Regimen yang dianjurkan Mulai terapi TBC, Mulai ARV segera setelah tetapi TBC dapat ditoleransi ( antara 2 minggu- 2 bulan) Paduan yang mengandung EFV. Keterangan Dianjurkan ARV : EFV adalah kontraindikasi untuk ibu hamil atau perempuan usia subur tanpa kontrasepsi, sehingga EFV dapat diganti.

Pertimbangan ARV : Mulai 200-350 Mulai terapi TBC salah satu paduan di bawah ini setelah fase intensif: Paduan yang mengandung EFV Paduan yang mengandung NVP jika paduan TBC fase lanjutan tidak menggunakan fifampisin. Tunda ARV >350 CD4 tidak memungkinkan untuk diperiksa Tabel 2. Pengobatan TBC pada HIV berdasarkan CD4 Pencegahan Ada vaksin terhadap TB. Namanya BCG, diberikan dengan suntikan di bawah kulit. Namun vaksin ini tampaknya hanya efektif pada anak yang baru lahir, untuk mencegah penyakit TB yang berat, termasuk meningitis TB, pada usia kanak-kanak. BCG tidak mempunyai dampak dalam mengurangi jumlah kasus TB pada orang dewasa. Saat ini belum ada vaksin terhadap TB yang efektif untuk orang dewasa. Belum jelas apakah BCG tetap efektif pada anak dengan HIV. Di negara dengan prevalensi TB yang tinggi (termasuk Indonesia), WHO mengusulkan BCG diberikan pada semua anak kecuali yang mempunyai gejala penyakit HIV/AIDS. Mulai terapi TBC Mulai terapi TBC Pertimbangan ARV

BCG juga dapat menyebabkan pembacaan palsu-positif pada tes tuberkulin kulit. Jika diberikan kepada orang dewasa yang HIV positif atau anak-anak dengan sistem kekebalan sangat lemah, BCG kadang-kadang dapat menyebabkan penyakit BCG diseminata, yang sering fatal. 11. Komplikasi Penyakit tuberculosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan menimbulkan komplikasi 1. Komplikasi dini 2. : Komplikasi lanjut lanjut. Pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis. : Kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas dewasa (ARDS), sering terjad pada TB milier dan kavitas TB. (Amin, 2000:993) Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu : Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal. 12. Prognosis TB adalah IO yang pada urutan kedua dalam daftar frekuensi IO di Indonesia, dan adalah penyebab kematian kebanyakan Odha. Namun TB dapat disembuhkan dan dicegah. Perkembangan dari infeksi TBC dengan penyakit TBC terjadi ketika bakteri TB mengatasi pertahanan sistem kekebalan tubuh dan mulai berkembang biak.

Pada TB primer 1-5% dari kasus-penyakit ini terjadi segera setelah infeksi. Namun, dalam sebagian besar kasus, infeksi laten terjadi yang tidak memiliki gejala yang jelas. Ini basil TBC yang tidak aktif dapat menghasilkan dalam 223% dari kasus-kasus laten, sering bertahun-tahun setelah infeksi. Risiko meningkat reaktivasi dengan imunosupresi, seperti yang disebabkan oleh infeksi HIV. Pada pasien koinfeksi M. TB dan HIV, risiko reaktivasi meningkat sampai 10% per tahun. Pasien dengan TB ini disebarluaskan memiliki tingkat kematian mendekati 100% jika tidak diobati. Namun, Jika diobati, tingkat kematian berkurang hingga hampir 10%.

B.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1.


Tgl/ Jam Triage Transportasi Nama Umur Identitas Agama Pendidikan Pekerjaan Suku/ Bangsa AIRWAY

Pengkajian
: Oktober 2012 No. RM : P1/ P2/ P3 Diagnosis Medis : Ambulan/Mobil Pribadi/ Lain-lain : Tn. A : 27 Tahun : Hindu : Tamat SMA : Karyawan Swasta : Bali Jenis Kelamin Alamat Status Perkawinan Sumber Informasi Hubungan Keluhan Utama :14045 : Tuberkulosis Paru : Laki-laki : Jalan P.B Sudirman Denpasar : Belum menikah : klien dan keluarga : Orang tua : Sesak nafas & lemas

Jalan Nafas Obstruksi

Paten

Tidak Paten Cairan Darah Gurgling Benda Asing Oedema Stridor Tidak ada Tidak Ada

: Lidah Muntahan

Suara Nafas : Snoring

Keluhan Lain: ... ... Masalah Keperawatan: 1. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif : Spontan : Cepat : Teratur Dangkal

Nafas

Tidak Spontan Asimetris Normal

Gerakan dinding dada: Simetris Irama Nafas Pola Nafas Jenis Suara Nafas
BREATHING

Tidak Teratur Cyene Stoke Wheezing Lain Ronchi

: Dispnoe Kusmaul : Vesikuler Stidor : Ada Tidak Ada Tidak Ada

Sesak Nafas

Cuping hidung Ada

Retraksi otot bantu nafas : Ada Pernafasan : Pernafasan Dada RR : 30 x/mnt Keluhan Lain: Masalah Keperawatan: 1. Ketidakefektifan Pola Nafas

Tidak Ada

Pernafasan Perut

Nadi Pucat Sianosis CIRCULATION CRT Akral Pendarahan Turgor

: Teraba : Ya : Ya : < 2 detik : Hangat

Tidak teraba Tidak Tidak > 2 detik Dingin Lambat Tidak

N: 130x/mnt

Tekanan Darah : 90/50mmHg

S:35C Tidak ada

: Ya, Lokasi: ... ... Jumlah ... ...cc : Elastis

Diaphoresis: Ya

Riwayat Kehilangan cairan berlebihan: Diare Muntah Luka bakar Keluhan Lain: Kunjungtiva pucat, wajah pucat, nadi teraba lemah Masalah Keperawatan: 1. Kekurangan Volume Cairan

Kesadaran: Composmentis Delirium Somnolen Apatis Koma GCS Pupil : Eye 2 : Isokor Verbal 2 Unisokor Motorik 3 Pinpoint Medriasis

Refleks Cahaya: Ada Tidak Ada Refleks fisiologis: Patela Lain-lain : Tidak dapat dikaji Refleks patologis : Babinzky Kernig Lain-lain : Tidak dapat dikaji Kekuatan Otot : tidak dapat dikaji Keluhan Lain : klien dikeluhkan sesak nafas kemudian perlahan-lahan kesadaran mulai DISABILITY menurun Masalah Keperawatan: 1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral

EXPOSURE

Deformitas Contusio Abrasi Penetrasi

Ya

Tidak Tidak Tidak Tidak

Lokasi ... ... Lokasi ... ... Lokasi : Lokasi ... ...

: Ya : Ya : Ya

Laserasi Edema Luka Bakar

: Ya : Ya : Ya Grade : .

Tidak Tidak Tidak

Lokasi ... ... Lokasi ... ... Lokasi ... ...

Jika ada luka/ vulnus, kaji: Luas Luka Kedalaman Lain-lain : . : ..... : ... ... Warna dasar luka: .

Masalah Keperawatan: (-) Monitoring Jantung : Sinus Bradikardi FIVE INTERVENSI Saturasi O2 : 85% Kateter Urine : Ada Tidak Tidak Sinus Takikardi

Pemasangan NGT : Ada, Warna Cairan Lambung : ... ... Lain-lain: ... ... Masalah Keperawatan: 1. Kerusakan Pertukaran Gas Nyeri : Ada Tidak Problem : ... ... Qualitas/ Quantitas : ... ... Regio : ... ... Skala : ... ... Timing : ... ... Lain-lain : ... ... Masalah Keperawatan: Keluhan Utama Riwayat Penyakit

Pemeriksaan Laboratorium : Hasil AGD menunjukkan Asidosis Respiratorik

(H 10 SAMPLE

GIVE COMFORT

: Sesak Nafas dan lemas : Keluarga mengatakan klien menderita Tuberkulosis sejak setahun yang lalu. Klien dikatakan rutin control ke puskesmas dan sudah mengkonsumsi OAT. Klien dibawa ke rumah sakit karena sesak nafas yang dikeluhkan kesadaran semakin memberat dan penurunan

Sign/ Tanda Gejala Allergi Medication/ Pengobatan Past Medical History

: klien tampak kesulitan bernafas serta tampak gelisah, akral teraba dingin dan pucat. : tidak memiliki alergi terhadap makanan, obat, dan alergen lainnya : Klien sedang mendapatkan terapi OAT : Tuberkulosis Paru

Last Oral Intake/Makan terakhir

: 6 jam sebelum MRS

(Fokus pemeriksaan pada daerah trauma/sesuai kasus non trauma) Kepala dan wajah (H2) HEAD TO TOE Leher Dada Abdomen dan Pinggang Pelvis dan Perineum : Tidak ditemukan lesi dan deformitas, rambut tampak utuh, tidak terdapat cephal hematoma : Tidak tampak deviasi trakhea dan pembesaran kelenjar tiroid : Tampak retraksi otot-otot interkosta, pergerakan dada simetris, RR 30x/menit, nafas tampak cepat dan dangkal : Tidak terdapat lesi dan ascites : Tidak tampak deformitas, tidak teraba krepitasi

INSPEKSI BACK/ POSTERIOR SURFACE

Ekstremitas : Ekstremitas teraba dingin, tampak pucat, CRT >2dtk Masalah Keperawatan: (-) Jejas : Ada Tidak Deformitas Tenderness Crepitasi Laserasi : : : : Ada Ada Ada Ada Tidak Tidak Tidak Tidak

Lain-lain : ... ... Masalah Keperawatan: -

2.

Diagnosa Keperawatan 1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental atau sekresi yang berlebihan sekunder akibat TBC ditandai dengan batuk tak efektif, ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi jalan napas, bunyi napas ronchi, RR> 20 x/menit, irama dan kedalaman napas abnormal. 2) Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru sekunder akibat penumpukan cairan ditandai dengan dispnea, RR>20 x/menit, adanya penggunaan otot bantu pernapasan, irama napas tidak teratur.

3)

Kekurangan

Volume

Cairan

berhubungan

dengan

peningkatan metabolisme tubuh sekunder akibat tuberkulosis ditandai dengan TD 90/50 mmHg, turgor kulit menurun. 4) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan aliran darah ke serebral ditandai dengan klien mengeluh pusing, tekanan darah klien 90/60mmHg, nadi klien 124x/menit, nadi teraba lemah, RR klien 20x/menit, suhu tubuh klien 35 C. 5) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kapasitas difusi paru ditandai dengan adanya dispneu saat melakukan aktivitas, SaO2 <95%, pH asam (<7,35). a) Perencanaan Perawatan No. 1. DX Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental atau sekresi yang berlebihan sekunder akibat TBC ditandai dengan batuk tak efektif, ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi jalan napas, bunyi napas ronchi, RR> 20 x/menit, irama dan kedalaman napas abnormal. Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam diharapkan bersihan jalan napas klien efektif dengan outcome - klien mampu mengeluarkan sekret - klien dapat batuk efektif - bunyi nafas normal, tidak ada ronchi, mengi dan stridor - tidak ada - kaji fungsi pernafasan (bunyi nafas, kecepatan nafas, dan kedalaman) penurunan bunyi nafas dapat menimbulkan atelektasis. Ronki, mengi menunjukkan akumulasi sekret / ketidakmampuan membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan peningkatan kerja pernafasan. Intervensi Mandiri : - Lakukan suction Rasional Membantu membersihkan jalan nafas dari cairan sehingga udara dapat mengalir ke paru dengan baik

dipsnea - RR dalam batas normal (12-20 x/menit), irama dan kedalaman napas normal. - catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif (catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis) - berikan pasien posisi semi fowler dan bantu pasien untuk batuk dan Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya nafas dalam membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. - bersihkan sekret dari mulut dan trakea (penghisapan sesuai keperluan) - lakukan fisioterapi dada Kolaborasi : - lembabkan udara / Membantu mengeluarkan dahak Mencegah aspirasi / obstruksi. Penghisapan dilakukan jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental / darah cerah diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkial.

latihan nafas dalam pernafasan. Latihan

oksigen inspirasi

Mencegah pengeringan mukosa dan membantu pengenceran sekret.

- beri obat-obatan sesuai indikasi mukolitik (contoh asetilsistein) Mukolitik menurunkan kekentalan sekret / sputum sehingga mudah untuk dikeluarkan. Bronkodilator bronkodilator (contoh okstrifilin) meningkatkan ukuran lumen percabangan trakeobronkial sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara. Berguna pada saat respon inflamasi kortikosteroid (prednison) mengancam hidup.

2.

Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru sekunder akibat penumpukan cairan ditandai dengan dispnea, RR>20 x/menit, adanya penggunaan otot bantu pernapasan, irama napas tidak teratur.

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan pola napas efektif dengan kriteria hasil : Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam normal (RR=12-20 x/menit). Pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan. Bunyi nafas vesikuler Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan batas

Kaji kualitas,

Dengan

frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi. Baringkan

mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal.

pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 90 derajat.

Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, RR dan respon pasien). Kolaborasi

Peningkatan

RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari

dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan serta foto thorax.

berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru.

3.

Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif ditandai dengan Klien tampak lmah Klien tampak pucat,TD : 90/50 mmHg,Nadi 130x/menit teraba lemah,RR 20x/menit,Suhu 35 C ,CRT > 2 detik, Akral dingin, Turgor lambat, Diaphoresis, Wajah pucat

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama...x24 jam diharapkan status neurologis klien membaik dengan kriteria hasil: - Mukosa bibir lembab - Turgor kulit normal - CRT < 2 detik - TTV dalam keadaan normal TD : 110-140/6090mmHg Nadi : 60-100x/menit RR : 16-24x/menit Suhu : 36,5-37,50C - Output urine dalam batas normal : dewasa = 0,5-1 cc / kg / jam ; pediatrik =1-2cc/kg/jam - Tidak terjadi oliguria maupun anuria

Pasang 2 line IV dengan cairan IV normal Salin atau RL secara cepat

Resusitasi cairan penting untuk mengembalikan keadekuatan volume Perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah. Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan sebagai pedoman untuk penggantian cairan.

Lalukan Pemasangan Kateter urine, Pantau masukan dan haluaran, karakter, perkiraan kehilangan yang tak terlihat, misal berkeringat, ukur berat jenis urine, observasi oliguria Pantau tanda - tanda vital.

Perubahan

tekanan darah dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah

4.

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kapasitas difusi paru ditandai dengan adanya dispneu saat melakukan aktivitas, SaO2 <95%, pH asam (<7,35), Hasil AGD dalam batas normal (PCO2 : 35-45 mmHg, PO2 : 95-100 mmH

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama .. x 24 jam diharapkan kerusakan membran alveolar klien dapat teratasi dengan outcome : - klien tidak mengalami dispnea saat melakukan aktivitas - kilen tidak mengalami kelelahan - SaO2 dalam batas normal (>95%), pH darah netral (7,35-7,5) PO2 (80-100)

Mandiri - kaji dispnea, takipnea, tak normal / menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difusi luas, nekrosis, effusi pleural, dan fibrosis luas. Efek pernafasan sampai dispnea berat dan bisa juga sampai distres pernafasan. - evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran. Catat sianosis dan atau perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukos dan kuku. - - tingkatkan tirah pasien baring / batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan. Menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala. Akumulasi sekret / pengaruh jalan nafas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan.

dada, dan kelelahan dapat dari ringan

Kolaborasi

Menurunnya saturasi

- Monitor GDA -

oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. adekuat atau perubahan terapi. Membantu mengoreksi

- berikan oksigen tambahan yang sesuai

hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru.

5.

Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan aliran darah ke serebral ditandai dengan klien mengeluh pusing, tekanan darah klien 90/60mmHg, nadi klien 124x/menit, nadi teraba lemah, RR klien 20x/menit, suhu tubuh klien 35

Setelah diberikan Mandiri : asuhan Pertahankan keperawatan selama...x24 jam kepatenan jalan diharapkan status nafas. neurologis klien membaik dengan kriteria hasil: - Pusing, skala 5 (none) - Status kongnitif, Monitor skala 5 (not compromised) aliran oksigen. - Tekanan darah dalam batas normal 120/80 mmHg, Monitor skala 5 (not tanda-tanda vital compromised) - Nadi dalam batas normal (60100x/menit),

mempertahanka bertujuan mencegah aliran otak ke

n kepatenan jalan nafas untuk oksigen

terputusnya

sehingga mencegah terjadinya hipoksia jaringan otak. untuk mempertahankan masukan oksigen adekuat sesuai dengan kebutuhan. memonitor tanda-tanda vital penting untuk mengetahui keadaan umum dan status keefektifan

skala 5 (not compromised) - RR dalam batas normal, skala 5 (not compromised) - Suhu tubuh dalam batas normal (3637) 0,5 C, skala 5 (not compromised)

Monitor dan

kualitas

frekuensi nadi

perfusi jaringan. Adanya bradikardi dapat terjadi sebagai akibat adanya kerusakan otak

3.

Evaluasi

Evaluasi dibuat berdasarkan kriteria hasil

C. PENDIDIKAN KESEHATAN YANG DIBERIKAN KEPADA PASIEN MAUPUN KELUARGA PASIEN Pendidikan kesehatan yang diberikan pada pasien dan keluarganya meliputi : pengertian penyakit TB Paru, penyebab penyakit TB Paru, cara pencegahan penyakit TB Paru, cara penularan penyakit TB Paru, dan cara pengobatan penyakit TB Paru. 1. Pengertian Penyakit TB Paru Tuberculosis paru (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri berbentuk batang (basil) yang bernama Mycobacterium tuberculosis. 2. tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis memiliki beragam jenis dan jenis yang paling sering dijumpai pada penyakit TB Paru adalah Mycobacterium tuberculosis hominis. 3. Tanda dan Gejala Penyakit TB Paru Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Tanda-tanda orang yang dicurigai terkena penyakit TBC yaitu secara umum dapat dilihat dari gejalanya terlebih dahulu yaitu, demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Penyebab Penyakit TB Paru Penyebab penyakit TB Paru adalah bakteri berbentuk batang (basil) yang bernama Mycobacterium

Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Penurunan nafsu makan dan berat badan. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). Perasaan tidak enak (malaise), lemah. Dan untuk memberikan kepastian maka orang tersebut harus diperiksa lebih lanjut, jadi tidak selalu bahwa orang batuk-batuk lama pasti menderita TBC, harus dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen. 4. Cara Pencegahan Penyakit TB Paru

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit tuberculosis paru cukup sederhana, yaitu pola hidup sehat adalah kuncinya karena kita tidak tahu kapan kita bisa terpapar dengan kuman penyebab tuberculosis paru, yakni Mycobacterium tuberculosis. Dengan pola hidup sehat maka daya tahan tubuh kita diharapkan cukup untuk memberikan perlindungan sehingga walaupun kita terpapar dengan kuman penyebab tuberculosis paru, tidak akan timbul gejala. Pola hidup sehat adalah dengan: mengkonsumsi makanan yang bergizi, selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan hidup kita, rumah harus mendapatkan sinar matahari yang cukup (tidak lembab), selain itu hindari terkena percikan batuk dari penderita TBC. 5. Cara Penularan Penyakit TB Paru

Pada umumnya proses penulran penyakit TB Paru ini adalah melalui percikan dahak penderita yang keluar saat batuk (beberapa ahli mengatakan bahwa air ludah juga bisa menjadi media perantara), bisa juga melalui debu, alat makan/minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk

dalam tubuh akan memperbanyak diri di paru-paru, lamanya dari terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dapat berbulanbulan sampai tahunan. 6. Cara Pengobatan Penyakit TB Paru

Penyakit TBC bisa disembuhkan secara tuntas apabila penderita mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk minum obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan, dan mengkonsumsi makanan yang bergizi cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, serta menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya. DAFTAR PUSTAKA Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Doenges, Marilynn E., Moorhouse, Mary Frances dan Geissler, Alice C. 2000. Edisi 3. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta Green, Chris. 2006. TB & HIV. Spiritia : Jakarta Irawan, Didik. 2010. TB Penyebab Kematian HIV. http://harianjoglosemar.com/. (akses : 24 Juni 2010) Mansur, Shahril. 2009. TB dan HIV. http://kawanilmu.blogspot.com/2009/08/tbdan-hiv.html. (akses : 24 Juni 2010) Nanda. 2005 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Prima Medika. Price S.A., Wilson L.M.. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Buku. EGC : Jakarta Tucker, Susan Martin ; dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.