Anda di halaman 1dari 19

1

ANALISIS KESALAHAN TATA BAHASA DAN TATA TULIS DALAM KARYA TULIS ILMIAH
Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia Dosen Pengampu:

Dian Puisi

Oleh NIM 102120151

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO 2011

ANALISIS KESALAHAN TATA BAHASA DAN TATA TULIS DALAM KARYA TULIS ILMIAH

I.

PENDAHULUAN Kita sering mendengar ungkapan, bahasa menunjukkan bangsa. Istilah tersebut menerangkan betapa pentingnya bahasa membentuk identitas sekelompok masyarakat atau lebih luasnya lagi sebuah negara. Itulah sebabnya mengapa kita perlu mendayagunakan bahasa kita bahasa Indonesia untuk mengetahui siapa kita, siapa bangsa kita, dan memberikan kekhasan tersendiri dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Berbicara mengenai kekhasan, kita mengenal salah satu fungsi bahasa, yaitu sebagai alat pemersatu bangsa. Menurut (Suharianto, 1981:11) bahwa sebagai alat pemersatu bangsa, bahasa Indonesia memungkinkan berbagaibagai suku bangsa yang ada di Indonesia ini untuk mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial-budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Dengan bahasa nasional kita bahkan dapat meletakkan kepentingan nasional kita di atas kepentingan daerah atau golongan. Jadi, dengan latar belakang budaya yang beraneka ragam, di sinilah kedudukan bahasa Indonesia sebagai lingua franca, yakni bahasa perantara orang yang latar budayanya berbeda (Dardjowidjojo et al., 1988:2). Demi keseragaman variasi bahasa guna mempersatukan bangsa, maka diperlukan bahasa baku sebagai kerangka acuan. Wujud pengaplikasian bahasa baku tersebut tertuang dalam wacana teknis; misalnya karangan-karangan ilmiah, buku-buku pelajaran, laporan-laporan resmi dan sebagainya (Suharianto, 1981:23). Namun, dalam kegiatan sehari-hari kita masih kurang memahami kaidah bahasa yang baik dan benar. Hal ini dibuktikan dengan adanya banyak kesalahan dalam penulisan ejaan, pemilihan kata, serta pembentukan kalimat efektif. Tidak terbatas pada pemahaman yang kurang, ternyata masih banyak di antara kita yang mengabaikan kesalahan kecil dengan mengabaikan tulisan yang salah, kalimat yang rancu, tanda baca yang tidak pas,

3 dan lain-lain. Pengabaian seperti ini dapat menimbulkan interpretasi yang salah oleh pembaca, walaupun kesalahan tersebut terkesan kecil. Oleh sebab itu, pengkajian analisis berbahasa diperlukan untuk mencari, memahami, serta mendalami penggunaan bahasa yang baik dan benar. Dalam makalah ini peneliti akan menganalisis kesalahan tata bahasa dan tata tulis sebuah karya ilmiah yang berjudul ..............................................if yang disusun oleh ................... dan dimuat dalam sebuah jurnal. Kesalahan tata bahasa dan tata tulis tersebut mencakup: (1) ejaan, (2) pemilihan kata, (3) kalimat efektif, dan (4) penulisan daftar pustaka. Secara umum, tujuan analisis tulisan ilmiah ini adalah mengkaji kesalahan tata bahasa dan tata tulis dalam sebuah karya ilmiah. Tujuan secara khusus penulisan makalah, antara lain: (1) mengetahui bentuk-bentuk kesalahan dalam penulisan karya ilmiah, (2) mengklasifikasikan bentuk-bentuk kesalahan dalam penulisan karya ilmiah, (3) mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan dalam penulisan karya ilmiah yang telah diklasifikasi, dan (4) memberikan alternatif pembetulan dari kesalahan-kesalahan tersebut. Selain yang telah disebutkan, penulisan makalah ini juga bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. II. LANDASAN TEORI Teori yang digunakan sebagai landasan untuk menganalisis karya tulis ilmiah dalam makalah ini antara lain: (1) teori tentang ejaan sebagaimana termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1992), (2) teori tentang pemilihan kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Lukman Ali et al., 1995), (3) teori tentang pemilihan kata dan kalimat (Dendy Sugono, ed., 2008), (4) teori tentang pemilihan kata (M.Ramlan et al., 1992), dan (5) teori yang membahas tentang kalimat efektif (Muhammad Rohmadi dan Aninditya Sri Nugraheni, 2011). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan merangkum cara pemakaian

4 huruf, pemakaian huruf kapital dan huruf miring, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca. Penulisan kata yang benar dibuktikan melalui KBBI yang disusun oleh Lukman Ali et al. Pembuktian ini meliputi cara penulisan kata baku, ejaan, dan juga penulisan kata serapan. Dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 1 yang ditulis oleh Dendy Sugono, ed., 2008:41) dijelaskan bahwa pilihan kata terbaik adalah memenuhi syarat-syarat (1) tepat (mengungkapkan gagasan secara cermat), (2) benar (sesuai dengan kaidah kebahasaan), dan (3) lazim pemakaiannya. Berkaitan dengan kalimat, Dendy (2008) memaparkan bahwa pemilihan kata, pembentukan kata, atau pembuatan kalimat yang tidak cermat mengakibatkan nalar yang terkandung dalam kalimat terganggu. Setiap kata memiliki makna tertentu yang berbeda dengan kata yang lain. Kendatipun ada beberapa kata yang secara sekilas tampaknya memiliki makna yang hampir sama, tetapi jika diteliti lebih saksama lagi tampaklah masingmasing kata itu memiliki perbedaan (M. Ramlan et al., 1992:71). Kalimat efektif pada dasarnya mampu menyampaikan maksud secara lisan dan tulisan sesuai dengan yang diinginkan oleh penutur atau penulisnya. Analisis menurut Widjono ciri-ciri kalimat efektif adalah (1) keutuhan, kesatuan, kelogisan, atau kesepadanan makna dan struktur, (2) kesejajaran bentuk kata, dan (atau) struktur kalimat yang gramatikal, (3) kefokusan pikiran sehingga mudah dipahami, (4) kehematan penggunaan unsur kalimat, (5) kecermatan dan kesantunan, (6) kevariasian kata dan struktur sehingga menghasilkan kesegaran bahasa (Muhammad Rohmadi dan Aninditya Sri Nugraheni, 2011:49).

5 III. PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dipaparkan hasil analisis contoh kesalahan-kesalahan berbahasa dalam sebuah jurnal yang berjudul ..................... oleh .................................... Kesalahan-kesalahan tersebut meliputi: (1) kesalahan ejaan, (2) kesalahan pemilihan kata, (3) ketidakefektifan kalimat, dan (4) kesalahan penulisan daftar pustaka. A. Kesalahan Ejaan Kesalahan ejaan yang akan dibahas di sini terbatas pada: kesalahan pemakaian huruf, kesalahan pemakaian huruf kapital dan huruf miring, kesalahan pemakaian angka sebagai lambang bilangan, kesalahan penulisan unsur serapan, dan kesalahan pemakaian tanda baca. Berikut ini disajikan beberapa contoh data. 1. Kesalahan pemakaian huruf Kesalahan semacam ini biasa terjadi dikarenakan kesalahan pada pengetikan. Contohnya pada kata member dalam kalimat Tindakan pada siklus pertama dilakukan dengan member materi Keliling lingkaran sebanyak tiga kali tatap muka dan siswa terbagi menjadi kelaompok besar, yang jumlah anggauta setiap kelompoknya lima samapai 6 siswa. Member (bahasa Inggris) mempunyai arti anggota. Kata ini sama sekali tidak sesuai dalam kalimat tersebut. Jika dicermati, kata member kemungkinan mengalami salah ketik dan pengarang bermaksud menuliskan kata memberi. 2. Kesalahan pemakaian huruf kapital dan huruf miring Contoh kesalahan pemakaian huruf kapital dalam tulisan ilmiah yang dikaji adalah pada kata salvin. Kata ini mengacu pada nama orang yang seharusnya memakai huruf kapital sehingga menjadi Salvin. Di samping itu, kesalahan huruf miring ditunjukkan dalam kata observer (dalam teks tidak tertulis miring). Karena kata observer berasal dari bahasa Inggris dan belum diserap ke dalam ejaan bahasa Indonesia, kata tersebut harus ditulis miring.

6 3. Kesalahan pemakaian angka sebagai lambang bilangan Kesalahan pemakaian angka sebagai lambang bilangan dapat dilihat pada kalimat: Secara garis besar hasil belajar dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) ranah (menurut taksonomi Bloom) yaitu kemampuan kognitif (kemampuan berpikir), psikomotorik (kemampuan keterampilan) dan afektif ( kemampuan sikap dalam berperilaku). Penulisan angka tidak perlu ditambah dengan keterangan cara baca seperti dituliskan dalam kalimat tersebut. Menurut EYD, penulisannya cukup dengan angka atau huruf saja sehingga menjadi; Secara garis besar hasil belajar dapat dikategorikan menjadi 3 ranah (menurut taksonomi Bloom), yaitu kemampuan kognitif (kemampuan berpikir), psikomotorik (kemampuan keterampilan) dan afektif ( kemampuan sikap dalam berperilaku) atau; Secara garis besar hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga ranah (menurut taksonomi Bloom), yaitu kemampuan kognitif (kemampuan berpikir), psikomotorik (kemampuan keterampilan) dan afektif ( kemampuan sikap dalam berperilaku). 4. Kesalahan penulisan unsur serapan Penulisan unsur serapan pada kata aktifitas mengalami kesalahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) kata tersebut seharusnya aktivitas.
5. Kesalahan pemakaian tanda baca

Dalam tulisan ilmiah yang dikaji, peneliti menemukan kalimat: Guru harus kreatif, inovatif dan selalu meningkatkan profesionalismenya. Jika dicermati kalimat tersebut kurang tanda koma (,) setelah kata inovatif. Jadi, kalimat di atas menjadi Guru harus kreatif, inovatif, dan selalu meningkatkan profesionalismenya.

7
B. Kesalahan Pemilihan Kata

Kesalahan dalam pemilihan kata pada tulisan yang dikaji terdapat pada judul Upaya Meningkatkan ....................,,,,.............. ... .................. ................................................... Judul harus berfokus pada pola kalimat yang jelas. Pola kalimat baku bahasa Indonesia mengacu pada subjek kebendaan. Dendy Sugono (ed) (2008: 95) menerangkan bahwa imbuhan yang digunakan untuk membentuk kata berperanan dalam menentukan kesejajaran. Kata meningkatkan pada judul di atas adalah kata kerja. Untuk dapat menjadi judul yang baik, kata tersebut dapat diganti menjadi peningkatan dengan menambahkan imbuhan pe-/-an sehingga tidak diperlukan kata upaya. Jadi, pembenaran judul menjadi Peningkatan ............................................ .......................................................... Adapun kesalahan lain yang terdapat pada judul akan dijelaskan dalam lampiran.
C. Ketidakefektifan Kalimat

Kalimat yang tidak efektif disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketidaklengkapan unsur dan struktur kalimat yang rancu. Pada bagian ini akan dipaparkan ketidakefektifan kalimat yang tercantum dalam karya ilmiah. Ketidakefektifan tersebut meliputi: struktur yang tidak sepadan, ketidaksesuaian bentuk paralel, ketidakhematan kata, ketidakcermatan penalaran, dan ketidakpaduan gagasan. 1. Struktur yang tidak sepadan Salah satu poin kesalahan dari bagian ini adalah adanya kata hubung intrakalimat pada kalimat tunggal. Hal ini ditunjukkan pada kalimat berikut.
(1) Hasil ulangan harian pada materi sebelum Keliling dan Luas

Lingkaran adalah 55,0. Sehingga belum mencapai KKM. Kata sehingga tidak boleh ada dalam sebuah kalimat tunggal. Perbaikan bisa dilakukan menjadi: (1) Hasil ulangan harian pada materi sebelum Keliling dan Luas Lingkaran adalah 55,0. Oleh sebab itu, nilai tersebut belum mencapai KKM atau Hasil ulangan harian pada materi

8 sebelum Keliling dan Luas Lingkaran adalah 55,0 sehingga nilai tersebut belum mencapai KKM. 2. Ketidaksesuaian bentuk paralel Kesalahan pada bagian ini ditandai dengan ketidaksamaan bentuk kata yang dilakukan dalam sebuah kalimat seperti dalam kalimat berikut. (2) Tindakan pada siklus pertama dilakukan dengan member materi Keliling lingkaran sebanyak tiga kali tatap muka dan siswa terbagi menjadi kelaompok besar, yang jumlah anggauta setiap kelompoknya lima sampai 6 anak. Adanya ketidaksejajaran kata kerja antara dilakukan dengan terbagi. Kalimat tersebut dapat diubah menjadi: (2) Tindakan pada siklus pertama dilakukan dengan memberi materi keliling lingkaran sebanyak tiga kali tatap muka dan siswa dibagi menjadi kelompok besar, yang jumlah anggota setiap kelompoknya lima sampai 6 anak.
3. Ketidakhematan kata

Kesalahan pada bagian ini terjadi karena terdapat dua kata yang bersinonim diletakkan dalam satu kalimat seperti pada kalimat berikut. (3) Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, menyebutkan bahwa mata pelajaran matematika diajarkan kepada peserta didik minimal sebanyak 4 jam pelajaran, dengan alokasi setiap jam pelajaran adalah 40 menit. Kata berdasarkan dan bahwa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat dapat dibenarkan menjadi: (3) Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi bahwa mata pelajaran matematika atau Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi menyebutkan bahwa mata pelajaran matematika diajarkan kepada peserta didik minimal sebanyak 4 jam pelajaran, dengan alokasi setiap jam pelajaran adalah 40 menit.
4. Ketidakcermatan penalaran

Kecermatan yang dimaksud di sini adalah kalimat yang dihasilkan menimbulkan penafsiran ganda dan tidak tepat dalam penggunaan diksi seperti pada kalimat berikut.

9 (4) Adil berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status social, ekonomi, dan gender. Kata tidak menguntungkan dan merugikan pada kalimat di atas tidak memiliki kedudukan yang sama. Kalimat tersebut sebaiknya diubah menjadi; (4) Adil berarti penilaian tidak menguntungkan atau tidak merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial, ekonomi, dan gender.
5. Ketidakpaduan gagasan

Kesalahan pada bagian ini terjadi karena informasi yang disampaikan pecah-pecah dan tidak mencerminkan cara berfikir sistematis. Perhatikan contoh di bawah ini. (5) Salah satu inovasi proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar matematika materi keliling dan luas lingkaran, maka guru dapat memanfaatkan model pembelajaran Kooperati Kolaboratif Berbasis Konstruksi. Klausa kalimat di atas terpecah dan tidak berhubungan satu sama lain. Pembenarannya dapat dilakukan menjadi: (5) Penelitian ini merupakan salah satu inovasi proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar matematika materi keliling dan luas lingkaran. Dengan demikian, guru dapat memanfaatkan model pembelajaran Kooperati Kolaboratif Berbasis Konstruksi.

10 D. Kesalahan Penulisan Daftar Pustaka Kesalahan penulisan pada daftar pustaka meliputi: kesalahan penggunaan huruf kapital, kesalahan penggunaan huruf tebal, kesalahan penulisan nama kota terbit, dan kesalahan dalan pemakaian tanda baca, seperti : (6) Edward Sallis,2007.Total Quality manajement in education. Manajemen Mutu Pendidikan.Jogjakarta.IRCiSoD. Penulisan daftar pustaka tersebut dapat diperbaiki menjadi: (6) Edward, Sallis. 2007. Total Quality Manajemen in Education (Manajemen Mutu Pendidikan). Yogyakarta: IRCiSoD. (Penulisan nama yang benar adalah dibalik atau didahulukan nama marga). IV. SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa kesalahan penulisan bahasa Indonesia masih sering terjadi dalam hal ejaan, diksi, ketidakefektifan kalimat, dan kesalahan penulisan daftar pustaka. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Kesalahan ejaan, meliputi: kesalahan pemakaian huruf, kesalahan pemakaian huruf kapital dan huruf miring, kesalahan pemakaian angka sebagai lambang bilangan, kesalahan penulisan unsur serapan, dan kesalahan pemakaian tanda baca. (2) Kesalahan pemilihan kata. (3) Ketidakefektifan kalimat, antara lain: struktur yang tidak sepadan, ketidaksesuaian bentuk paralel, ketidakhematan kata, ketidakcermatan penalaran, dan ketidakpaduan gagasan. (4) Kesalahan penulisan daftar pustaka, yaitu: kesalahan penggunaan huruf kapital, kesalahan penggunaan huruf tebal, kesalahan penulisan nama kota terbit, dan kesalahan dalan pemakaian tanda baca.

11 DAFTAR PUSTAKA Dardjowidjojo, Soenjono et al. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Dendy Sugono (ed). 2008. Buku Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas. Lukman Ali et al. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud. 1992. Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Bandung: Pustaka Setia. Ramlan, M. 1992. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar. Yogyakarta: Andi Offset. Rohmadi, Muhammad dan Aninditya Sri Nugraheni. 2011. Belajar Bahasa Indonesia. Surakarta: Cakrawala Media. Suharianto. 1981. Kompas Bahasa. Surakarta: Widya Duta. Sutrijat, Sumadi (ed.). 2011. Action Guru. Purbalingga: FIG.

12 Lampiran 1 1. Kesalahan ejaan a. Pemakaian huruf Tertulis panelitian kelaompok anggauta pegertian pembejajaran berjumla sapai pemeberian konntruksi dealam berbagi bebarapa mengomunikasikan ataupn kattegori diskriptif kondis Peratuaran kreaktivitas Madrsah Kostruktivisme Antosias Koopertif Disilpim Seharusnya penelitian kelompok anggota pengertian pembelajaran berjumlah sampai pemberian konstruksi dalam berbagai beberapa mengkomunikasikan ataupun kategori deskriptif kondisi Peraturan kreativitas Madrasah Konstruktivisme antusias Kooperatif disiplin

13 b. Kesalahan pemakaian huruf kapital dan huruf miring Tindakan Tertulis pada siklus pertama Tindakan Seharusnya pada siklus pertama

dilakukan dengan member materi dilakukan dengan member materi Keliling lingkaran sebanyak tiga kali keliling lingkaran sebanyak tiga kali tatap muka dan siswa terbagi menjadi tatap muka dan siswa terbagi menjadi kelaompok besar, yang jumlah kelaompok besar, yang jumlah anggauta setiap kelompoknya lima anggauta setiap kelompoknya lima sampai 6 anak. sampai 6 anak. Pembelajaran yang digunakan guru Pembelajaran yang digunakan guru masih mengandalkan metode masih mengandalkan metode ceramah, Tanya jawab dan diakhiri ceramah, tanya jawab dan diakhiri latihan soal. latihan soal. Hal tersebut yang mendorong peneliti Hal tersebut yang mendorong peneliti untuk menerapkan model untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif kolaboratif pembelajaran kooperatif kolaboratif berbasis Konntruksi. Oxford Dictionary mendefinisikan (Cooperation) sebagai berbasis konntruksi. (1992) Oxford Dictionary kooperasi mendefinisikan (1992) kooperasi

bersedia (cooperation) sebagai bersedia untuk willing to assist); (Betteencourt, 1989) (Fonglaserfeki, 1989) maka hipotesis tindakan dalam

untuk membantu (to be of assistance membantu (to be of assistance or be or be willing to assist); (betteencourt, 1989) (fonglaserfeki, 1989) maka hipotesis tindakan dalam hasil belajar melalui

penelitian ini adalah Peningkatan penelitian ini adalah peningkatan hasil Model belajar melalui model pembelajaran kolaboratif berbasis Pembelajaran Kooperatif kolaboratif kooperatif

berbasis konstruksi konstruksi (collaborative partnership) (collaborative partnership) Student Archivement Division Student Archivement Division (STAD), Teams games Tournament (STAD), Teams Games Tournament (TGT) (TGT)

c. Kesalahan pemakaian angka sebagai lambang bilangan

14 Tertulis Kelas 8C semester 2 lima sampai 6 siswa Seharusnya Kelas VIII C semester II atau semester ke-2 56 siswa atau lima sampai enam siswa

d. Kesalahan penulisan unsur serapan Tertulis moderen social Konstruktifisme Diskriptif Keaktifitasan Relative Seharusnya modern sosial Konstruktivisme Deskriptif keaktivitasan relatif

e. Kesalahan pemakaian tanda baca Tertulis Seharusnya dilandasi oleh perkembangan dilandasi oleh perkembangan matematika dealam bidang teori matematika bilangan, aljabar, analisis, teori bilangan, peluang dan matematika diskrit. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan dealam aljabar, bidang analisis, teori teori

peluang, dan matematika diskrit. Memahami konsep matematika,

antar menjelaskan keterkaitan antar konsep,

konsep dan mengaplikasikan konsep dan mengaplikasikan konsep atau atau algoritma, secara luwes, akurat, algoritma, secara luwes, akurat, efisien, efisien, dan tepat dalam pemecahan dan tepat dalam pemecahan masalah. masalah Menggunakan penalaran pada pola Menggunakan penalaran pada pola dan dan sifat, melakukan manipulasi sifat, matematika menjelaskan dalam gagasan melakukan dalam manipulasi membuat membuat matematika

generalisasi, menyusun bukti, atau generalisasi, menyusun bukti, atau dan menjelaskan gagasan dan pernyataan pernyataan matematika matematika. Memecahkan masalah yang rneliputi Memecahkan masalah yang rneliputi kemampuan memahami masalah, kemampuan merancang model rnatematika, merancang model menyelesaikan memahami model masalah, rnatematika,

dan menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

menafsirkan solusi yang diperoleh.

15 dengan menggunakan simbol, dengan menggunakan simbol, tabel, tabel, diagram dan media yang lain. diagram, dan media yang lain. Bilangan, Aljabar, Geometri dan Bilangan, Aljabar, Geometri, dan Pengukuran serta Statistika dan Pengukuran serta Statistika dan peluang. peluang. yang dilakukan pada kondisi yang dilakukan pada kondisi awal, awal, akhir siklus pertama dan akhir akhir siklus pertama, dan akhir siklus siklus kedua. kedua. Secara garis besar hasil belajar dapat Secara garis besar hasil belajar dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) ranah dikategorikan menjadi 3 (tiga) ranah (menurut yaksonomi Bloom) yaitu (menurut yaksonomi Bloom), yaitu kemampuan kognitif (kemampuan kemampuan berpikir), (kemampuan keterampilan) kognitif (kemampuan psikomotorik berpikir), psikomotorik (kemampuan dan keterampilan), dan afektif (kemampuan

afektif (kemampuan sikap dalam sikap dalam berperilaku. berperilaku. khususnya teori yang berkenan khususnya teori yang berkenan dengan strategi, metode, teknik dan dengan strategi, metode, teknik, dan pendekatan dalam pembelajaran. pendekatan dalam pembelajaran. Bentuk-bentuk belajar kooperatif Bentuk-bentuk belajar kooperatif menurut salvin (1990) meliputi menurut Student Archivement Division Student salvin (1990), meliputi Division Archivement

(STAD), Teams games Tournament (STAD), Teams games Tournament (TGT) dan Jigsaw II (TGT), dan Jigsaw II. Berdasarkan kerangka berpikir di Berdasarkan kerangka berpikir di atas, atas, maka hipotesis tindakan dalam maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah Peningkatan penelitian ini adalah Peningkatan hasil hasil belajar matematika materi belajar matematika materi keliling dan keliling dan luas lingkaran bagi luas lingkaran bagi siswa kelas VII C ... siswa kelas VII C ... pada semester pada semester genap tahun 2009-2010 genap tahun 2009-2010 melalui dapat dapat dilakukan melalui Model dilakukan Model Pembelajaran Kooperatif kolaboratif

Pembelajaran Kooperatif kolaboratif berbasis konstruksi. berbasis konstruksi

16 Untuk mengetahui lebih jelas Untuk mengetahui proses lebih jelas yang awal,

perbandingan maupun perbedaan perbandingan maupun perbedaan serta serta refleksi proses pembelajaran refleksi pembelajaran kondisi yang dilaksanakan antara kondisi dilaksanakan antara

awal, siklus I dan siklus II dapat siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada dilihat pada tabel 2 di bawah ini tabel 2 di bawah ini. Untuk menganalisis data hasil Untuk menganalisis data hasil belajar, belajar maka peneliti hasil akan maka peneliti akan mendeskripsikan ulangan hasil ulangan harian pada kondisi awal, mendeskripsikan

harian pada kondisi awal, siklus siklus pertama, maupun siklus kedua. pertama maupun siklus kedua. Hasil belajar tersebut meliputi nilai Hasil belajar tersebut meliputi nilai terendah, nilai tertinggi dan rerata. terendah, nilai tertinggi, dan rerata. Untuk mengetahui lebih jelas Untuk mengetahui lebih jelas perbandingan maupun perbedaan perbandingan maupun perbedaan serta serta refleksi proses pembelajaran refleksi proses pembelajaran kondisi yang awal, yang dilaksanakan antara kondisi dilaksanakan dilihat pada tabel 2 di bawah ini Dari kondisi awal ke kondisi akhir antara

awal, siklus I dan siklus II dapat siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini. Dari kondisi awal ke kondisi akhir

terdapat peningkatan hasil belajar terdapat peningkatan hasil belajar dari dari rata-rata 55,0 menjadi 65,0, rata-rata 55,0 menjadi 65,0, meningkat meningkat sebesar 27,3 % sebesar 27,3 %. Dari kondisi awal ke kondisi akhir Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan keaktifitasan terdapat siswa dalam proses pembelajaran siswa peningkatan dalam proses keaktifitasan pembelajaran

matematika materi keliling dan luas matematika materi keliling dan luas lingkaran lingkaran. Oleh karena itu guru matematika Oleh karena itu, guru matematika harus harus dapat mengemas proses dapat mengemas proses pembelajaran menyenangkan namun tetap menantang. pembelajaran yang menyenangkan yang namun tetap menantang. 2. Ketidakefektifan kalimat

17 a. Struktur yang tidak sepadan Sedangkan Tertulis pada siklus Seharusnya kedua Sesudah itu, pada siklus kedua empat tatap muka

diperlukan empat tatap muka, dengan diperlukan kelompok empat siswa kecil yang

tindakan membagi siswa menjadi dengan tindakan membagi siswa setiap menjadi kelompok kecil yang setiap empat siswa. kelompoknya berjumla tiga sapai kelompoknya berjumla tiga sapai

18 b. Ketidaksesuaian bentuk paralel Tertulis Seharusnya Tindakan yang dilakukan sebanyak Tindakan dilakukan sebanyak dua kali dua kali yang terbagi menjadi dua dan dibagi menjadi dua siklus. Hasil belajar kemampuan secara sama. c. Ketidakcermatan penalaran Pada Tertulis pertemuan ketiga siklus Pada Seharusnya pertemuan ketiga siklus tersebut dan siklus. berupa Hasil dapat secara sama. belajar tersebut melakukan dan berupa sesuatu dapat

melakukan

sesuatu kemampuan

permanen

permanen

diulang-ulang dengan hasil yang mengulang-ulang dengan hasil yang

pertama dilakukan evaluasi siklus pertama, dilakukan evaluasi siklus pertama. d. Ketidakpaduan gagasan Salah Tertulis satu inovasi hasil proses Model Seharusnya pembelajaran kooperatif pertama.

pembelajaran dalam rangka kolaboratif berbasis kontruksi merupakan meningkatkan belajar salah satu inovasi proses pembelajaran matematika materi keliling dan dalam rangka meningkatkan hasil belajar luas lingkaran, maka guru matematika materi keliling dan luas dapat memanfatkan model lingkaran. Dengan demikian, guru dapat model pembelajaran Berbasis kooperatif kolaboratif berbasis konstruksi. pembelajaran Kolaboratif Kontruksi. Koopertif memanfatkan

19 e. Ketidakhematan kata Tertulis Seharusnya Agar peserta didik dapat mencapai Agar dapat mencapai hal tersebut, hal tersebut maka peserta didik harus maka peserta didik harus selalu selalu dikembangkan keterarnpilan dikembangkan keterarnpilan dalarn dalarn membuat memahami model masalah, memahami masalah, membuat matematika, model matematika, menyelesaikan solusinya. Berdasarkan kajian teori dan uraian penelitian secara empirik Berbasis

menyelesaikan masalah, serta dapat masalah, serta dapat menemukan menemukan solusinya. Berdasarkan kajian teori dan uraian hasil penelitian secara

empirik hasil

menyatakan bahwa melalui model bahwa melalui model pembelajaran pembelajaran Koopertif Kolaboratif Koopertif Berbasis meningkatkan Kontruksi hasil Kolaboratif dapat Kontruksi dapat meningkatkan hasil belajar belajar maternatika materi keliling dan luas lingkaran bagi siswa kelas

maternatika materi keliling dan luas

lingkaran bagi siswa kelas 8C ... 8C ... pada semester genap tahun pada semester genap tahun pelajaran pelajaran 2009-2010. 2009-2010.