Anda di halaman 1dari 6

I.

JUDUL KEGIATAN

IDENTIFIKASI POTENSI-POTENSI PEMBENTUKAN KLASTER INDUSTRI DAERAH

II. LATAR BELAKANG UMUM


Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember di hampir seluruh wilayah pesisir provinsi Banda Aceh menimbulkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat provinsi NAD terutama yang tinggal di wilayah pesisir. Dalam sektor ini bukan hanya aspek fisik dalam bentuk sarana dan prasaran fisik dan non fisik yang hancur, aspek sosial lainnya yang secara langsung dan tidak langsung mendukung perekonomian perikanan juga hancur. Mengingat sebagian besar penduduk wilayah pesisir menggantungkan mata pencariannnya dalam bidang perikanan, secara langsung kerusakan tersebut masih terasa dampaknya bagi perekonomian pesisir Banyak pengelola perikanan besar maupun kecil yang berusaha untuk bisa bertahan hidup dan terhindar dari kebangkrutan yang akan memberikan dampak cukup luas bagi perekonomian nasional. Dalam kondisi yang serba terpuruk, perlu dicarikan suatu cara yang paling cepat dan tepat untuk melakukan pemulihan diri untuk tetap tumbuh dan berkembang. Sebagai salah satu industri kecil, industri-industri perikanan di provinsi NAD memiliki karakteristik industri kecil yang fleksibel, mudah berubah sesuai dengan kondisi lingkungannya, sehingga diharapkan mampu membuat industri kecil mampu mengatasi segala hambatan yang muncul dengan cepat hingga mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang cukup berarti. Penyerapan tenaga kerja ini membantu pemerataan distribusi pendapatan masyarakat pesisir. Tidak hanya itu saja, industri kecil perikanan juga hampir melahirkan wirausahawan-wirausahawan baik dalam berbagai bidang usaha baik nelayan tangkap, budidaya maupun pengolahan. Perlahan tapi pasti kondisi ini mampu membantu percepatan pemulihan keadaan masyarakat pesisir serta memperkuat struktur perekonomian yang ada. Banyak industri kecil perikanan yang berkumpul dan kemudian melahirkan suatu klaster industri kecil. Dalam sebuah klaster, yang umumnya terdiri atas

industri kecil inti, industri kecil pendukung dan industri kecil terkait, antar industri kecil terjadi saling keterkaitan, saling mendukung dan ketergantungan yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Keberadaan industri kecil pendukung dan terkait muncul karena adanya keterbatasan industri kecil inti dalam memenuhi permintaan yang ada. Dalam rangka pengembangan industri kecil, hal yang paling mudah dilakukan agar dapat terjadi percepatan pertumbuhan yang hersifat massal maka pengembangan industri kecil ini dilakukan dalam kerangka pengembangan klaster industri kecii. Pengembangan klaster berarti pengembangan sebagian besar industri kecil perikanan yang ada dalam kluster tersebut. Secara otomatis hal ini akan memberikan keuntungan ganda, di satu sisi usaha yang diperlukan dalam pengembangan industri kecil menjadi sedikit dan di sisi lain industri kecil yang dikembangkan dapat berjumlah banyak. Keunggulan inilah yang membuat klaster akhir-akhir ini mendapat perhatian yang lebih dari berbagai pihak baik itu pemerintah, swaslt, lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi, untuk dikembangkan secara terrintegrasi dan serentak. Agar dapat dilakukan pengembangan klaster industri kecil secara efektif dan efisien, maka sebelumnya dirumuskan suatu kebijakan yang dapat memberi arah yang benar kepada industri kecil dan para pelakunya. Upaya pengembangan terlebih dahulu harus didahului oleh suatu diagnosis menyeluruh terhadap seluruh unsur-unsur klaster untuk mengetahui kondisi riil serta permasalahan yang dihadapi oleh klaster berupa hambatan, ancaman, tantangan dan gangguan yang dialami klaster dalam usahanya untuk berproduksi. Hasil diagnosis akan berguna dalam penentuan program pengembangan dan pembinaan klaster, sehingga program yang ada dapat tepat sasaran dan berdaya guna untuk pengembangan klaster industri kecil yang tangguh dan mandiri. Pengembangan klaster industri kecil tanpa didahului oleh penguasaan masalah terhadap klaster akan menyebabkan tumpang tindih dan kegagalan program pembinaan yang dilakukan. Mengingat pentingnya tahapan diagnosis klaster industri kecil maka diperlukan suatu usaha untuk merumuskan dan membangun suatu metodologi untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada klaster industri kecil. Metodologi ini nantinya harus mengandung variabel-variabel utama unsur klaster industri kecil yang diharapkan dapat menangkap permasalahan utama yang terjadi di klaster industri kecil. Dari variaCbel-variabel unsur klaster industri kecil yang dipakai untuk menangkap permasalahan pada klaster, penting untuk diketahui variabel apa

yang nantinya harus diprioritaskan untuk diperhatikan dalam pengembangan klaster. Sebab bagaimanapun, akan lebih efisien dan efektif jika variabel yang paling berperan dalam permasalahan klaster industri kecil diperhatikan oleh pihak yang berkepentingan sebagai pemberi arah dalam perumusan kebijakan pengembangan industri kecil.

III.

DESKRIPSI KEGIATAN

Identifikasi latar belakang daerah dalam konteks kegiatan ekonomi Identifikasi faktor-faktor pendukung munculnya potensi klaster industri daerah. Identifikasi potensi-potensi industri di suatu daerah dan permasalahannya. Pemilihan lokasi proyek percontohan untuk pengembangan klaster industri daerah. Perumusan arah, kebijakan dan strategi pengembangan klaster industri daerah.

IV. LATAR BELAKANG


Potensi industri daerah perlu dikembangkan sebagai sumber pendapatan yang bertumpu pada kekuatan daerah dalam mengelola kegiatan ekonomi secara terencana dan terpadu Perlu adanya upaya identifikasi potensi tersebut untuk diarahkan sebagai klaster industri yaitu pengembangan industri suatu daerah berdasarkan kemampuan asli yang dimiliki oleh suatu daerah

V. RUANG LINGKUP KEGIATAN


Industri yang dianggap memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai klaster industri Di bawah suatu kewenangan wilayah tertentu Ruang lingkup kajian identifikasi potensi industri disesuaikan dengan tingkat wilayah (kota/kabupaten, kecamatan) dengan melihat beberapa sentra industri yang ada. VI. MANFAAT

KEGIATAN

Identifikasi potensi pengembangan industri suatu daerah sebagai klaster industri Penentuan dalam perencanaan pengembangan industri secara terpadu dan terencana.

Gambaran potensi dan permasalahan yang ada pada beberapa sentra industri di suatu daerah.

Penetapan lokasi sentra industri yang potensial untuk dikembangkan menjadi klaster industri dinamis di masa mendatang Tersusunnya rencana strategis pengembangan klaster industri

VII. HASIL KEGIATAN


Jenis-jenis industri pada suatu daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi klaster industri Strategi pengembangan klaster industri untuk ukuran jangka pendek, menengah dan panjang Rincian pendekatan strategi dalam bentuk pendekatan untuk pengembangan klaster Program langkah kerja selama satu tahun Implementasi program Evaluasi program berdasarkan faktor-faktor penentu (model berlian Potter) Temuan dan pembelajaran yang dapat dipetik Terpilihnya sentra industri yang potensial untuk dikembangkan menjadi klaster dinamis Usulan rencana strategis pengembangan klaster industri daerah.

VIII. METODOLOGI
Untuk menggambarkan potensi klaster industri di suatu daerah dan menentukan kriteria pemilihan sentra industrinya, penelitian ini menggunakan model empat berlian - Porter. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh JICA, diperoleh gambaran bahwa umumnya klaster UKM (Usaha Kecil Menengah) yang ada di Indonesia dibatasi oleh bentuk yang mudah terpisah, sehingga perlu ditambahkan modal sosial (social capital) sebagai berlian ke lima dalam analisis dan penyusunan strategi pengembangan klaster.
C A B D A Demand conditions Factor condition (material, technology, education, finacial, machinary) Firm strategy, structure and rivalry Related and suporting industris (R&D, BDS provider ect) Social Capital

B C D E

Gambar 1. Lima faktor penentu pengembangan klaster

(Sumber : Laporan Studi Penguatan Kapasitas Klaster UKM di Indonesia oleh JICA tahun 2004) Kriteria yang digunakan oleh JICA dalam memilih klaster percontohan di Indonesia diturunkan dari kelima faktor tersebut. Adapun kriteria yang digunakan diuraikan sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Pemilihan Klaster Percontohan FAKTOR PENENTU A Permintaan (demand conditions) VARIABEL MANIFESTASI 1. Kecenderungan/trend volume permintaan 2. Kualitas permintaan 1. Kesempatan pelatihan 2. Bahan baku/input utama B Syarat penunjang (factor conditions): 3. Jarak terhadap sumber bahan baku 4. Akses ke lembaga keuangan/bank C Strategi, struktur dan persaingan (firm strategy, structure & rivalry) Dukungan industri dan terkait (related & supported industry) 5. Informasi pelanggan/konsumen 1. Persaingan antar klaster 2. Perilaku dan kegiatan bersama 1. Dukungan pemerintah terhadap kluster UMK Penyedia BDS lokal 3. Lembaga penelitian dan pendidikanterkait 4. Supplier bahan/input lokal 1. Persaingan dalam satu kluster (antar UKM) Aktivitas kerjasama antar UKM

Modal sosial (social capital)

Konsep model daya saing Porter di atas dipakai sebagai untuk merumuskan kriteria pemilihan sentra-sentra industri potensial yang akan dikembangkan menjadi klaster industri. Data lapangan juga akan dikumpulkan melalui survei dari hasil identifikasi faktor-faktor penting untuk mengembangkan dan mengelola klaster industri, sehingga diharapkan hasil dari studi ini juga diperoleh gambaran awal tentang arah pengembangan klaster industri. Berikut ini kerangka pemikiran studi identifikasi potensi klaster industri wilayah.

IX.

KERANGKA PEMIKIRAN

Penetapan kriteria-kriteria untuk memilih sentra industri potensial yang akan dikembangkan menjadi klaster industri.

Penetapan kriteria/indikator mengacu pada model daya saing empat berlian Porter dan model klaster yang dikembangkan oleh tim JICA (berdasarkan pengalamannya dalam pengembangan beberapa klaster industri di Indonesia). Penetapan kriteria juga dilakukan dengan wawancara kepada stakeholder yang berkepentingan dalam pengembangan sentra-sentra industri daerah. Penentuan bobot masing-masing indikator/kriteria yang diperoleh. Penyusunan dan penyebaran kuesioner pada daerah/sentra industri yang dipilih.

Survei dilakukan untuk mencari gambaran tentang faktor-faktor yang menjadi masalah dan pemicu dalam proses pengembangan sentra industri. Penyusunan analisis SWOT. Penyusunan usulan program pengembangan sentra industri. Informasi faktor-faktor tersebut sebagai masukan analisis SWOT sentra industri. Hasil analisis SWOT menjadi bahan diskusi antar stakeholder untuk menyusun usulan program pengembangan suatu sentra industri. Agar pemilihan prioritas program pengembangan klaster industri tidak terjadi bias maka pendekatan yang digunakan menggunakan QSPM (Quantitative Strategi Planning Matrix).

X.

METODOLOGI PELAKSANAAN
Desk study (kajian literatur) Survei dan pengumpulan data lapangan Analisis Perumusan konsepsi