Anda di halaman 1dari 16

SYAKAL & IJAM

Oleh: Imam Muhsin

, , , . (: 23) {821} {921}

{3}

, , , . (: 23) {821} {921}

Pengertian Syakal
Syakal: lambang penulisan yang menetapkan harakat huruf-huruf atau yang menunjukkan bunyi akhir suatu kata (Irab). Syakal pertama kali dilakukan dengan menempatkan nuqthah (titik) di atas awal huruf sebagai tanda untuk fat-hah, di bawah akhir huruf untuk kasrah, dan titik di akhir untuk dhammah. Sedangkan bulatan kecil di atas huruf untuk sukun, dan garis rangkap untuk tanwin.

Pengertian Ijam
Al-Ijam dari segi bahasa berarti menguji dan menyeleksi. Bila dikatakan ajamtu al-awd, maka kalimat tersebut artinya: saya mencoba menguji kekuatan tongkat. Dalam penulisan, al-ijam berarti membedakan bentuk huruf-huruf yang mirip satu sama lain, seperti ba, ta, tsa, kha, jim, sin, syin, dll. Pembedaan bentuk huruf-huruf ini dilakukan dengan menempatkan satu titik atau lebih di atas atau di bawah suatu huruf.

Latar Belakang
Bangsa Arab terbilang lambat dalam belajar menulis. Mereka mengenal tulisan melalui kontak-kontak individual dengan orang-orang Irak dan Syam. Tulisan yang berkembang saat itu adalah tulisan Siryani, suatu bentuk tulisan yang tidak memiliki titik, yang kemudian dikembangkan dalam versi Kufiy seperti yang dikenal sekarang. Karena terkenal dengan kefasihan dan kejelasan artikulasi, maka bangsa Arab tidak membutuhkan syakal dalam bacaan atau tulisan mereka. Kodifikasi al-Quran di masa Rasulullah saw dan penulisannya dalam bentuk naskah pada masa para sahabat dan para khalifah, dan juga penulisannya dalam bentuk mush-haf induk Usmani, semuanya tidak menggunakan syakal dan Ijam.

Latar Belakang
Setelah Islam tersebar luas ke luar Jazirah Arab, dan bangsa Arab berhubungan dengan bangsa lain, muncullah kerusakan dalam bahasa Arab. Kerusakan tersebut terjadi bahkan pada orang-orang Arab yang dikenal sebagai ahli bahasa yang fasih.

Sejarah Syakal & Ijam


Abu Hayyan al-Tawhidiy mengatakan, Suatu ketika Ali bin Thalib mendengar seseorang membaca al-Quran bacaan yang tidak benar yang menyebabkan ia merasa prihatin. Kemudian ia menemui Abu al-Aswad al-Dualiy untuk membuat pedoman bagi orang banyak sesudah melakukan penelitian yang sangat cermat, untuk selanjutnya menetapkan cara dan aturannya. Riwayat lain menyebutkan bahwa Ziad bin Sumayyah, Gubernur Basrah, yang meminta Abu al-Aswad alDualiy untuk menciptakan suatu cara guna mencegah bahasa Arab dari kerusakan. Suatu ketika Abu al-Aswad dikagetkan oleh suatu bacaan yang salah, yaitu QS. al-Taubah ayat 3: dengan meng-kasrah lam pada wa rasuluhu, sehingga menjadi wa rasulihi.

Sejarah Syakal & Ijam


Sejak itu Abu al-Aswad kemudian membuat kaidahkaidah untuk menghindarkan kekeliruan-kekeliruan serius dalam membaca al-Quran, sebagai berikut: Bulatan pada bagian-bagian huruf tertentu untuk tanda dhammah. Titik di bawah suatu huruf untuk tanda kasrah. Titik di atas sebuah huruf sebagai tanda fat-hah. Dua titik untuk tanda sukun. Dua orang murid Abu al-Aswad al-Dualiy yang bernama Yahya bin Yamar al-Adwani dan Nashr bin Ashim alLaitsi disebut-sebut sebagai orang pertama yang menaruh titik dalam mush-haf al-Quran.

Tulisan al-Quran kemudian disempurnakan oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 175 H) dengan mengganti titik kecil dengan tanda fat-hah, kasrah, dhammah, dan sukun. Usaha tersebut dilanjutkan oleh Sahl bin Muhammad, yang dikenal dengan panggilan Abu Hatim al-Sijistaniy (w. 248 H), dengan menulis kitab tentang syakal dan Ijam al-Quran. Pada penghujung abad ke-3 H, penulisan khath al-Quran mencapai puncak keindahan dan kecermatannya, yang pengaruhnya meluas pada penulisan-penulisan naskah al-Quran, hingga mencapai bentuknya seperti sekarang.

Berbagai Pendapat tentang Syakal dan Ijam


Dilarang. Riwayat Abu Ubaid dari Abdullah bin Masud menyebutkan: Murnikan al-Quran dan jangan kalian campuri dengan sesuatu yang lain. Diperbolehkan. Al-Nawawi mengatakan, pembubuhan syakal dan Ijam dalam al-Quran hukumnya mustahab (sangat disukai), sebagai upaya pemeliharaan al-Quran dari kekeliruan pengucapan. Sikap tengah. Diperbolehkan: pembubuhan untuk mus-haf yang diajarkan oleh para ulama. Dilarang: pembubuhan untuk mus-haf induk.

Argumentasi
Boleh: karena tersebut termasuk kategori pemeliharaan al-Quran dari salah baca dan kemungkinan terjadinya perubahan Irab yang dapat mengubah makna al-Quran. Dilarang: karena pembubuhan syakal dan Ijam dalam mus-haf kadang-kadang menyebabkan tidak bisa dibedakannya huruf-huruf al-Quran dan non-al-Quran, yang pada gilirannya menyebabkan adanya perubahan huruf al-Quran. Sikap tengah: karena dikhawatirkan tertukar dengan naskah aslinya, dan agar dapat diketahui mana tulisan al-Quran yang asli dan yang tidak.

Selanjutnya?
Ketika telah hilang kekhawatiran terjadinya percampuradukan huruf-huruf al-Quran dengan syakal dan Ijam-nya yang dibubuhkan, maka tidak ada lagi orang yang menentang pembubuhan syakal dan Ijam dalam al-Quran. Abu Amr al-Daniy mengatakan, Kemudian sepakatlah kaum Muslimin di seluruh penjuru negeri tentang kebolehan dibubuhkannya syakal, baik dalam mush-haf induk maupun mush-haf lainnya. Dialek dan bahasa yang dimiliki kaum Muslimin (di seluruh dunia) sudah berbeda-beda, dan karenanya syakal dan

Ijam al-Quran menjadi sesuatu yang sangat penting.

Rasm Usmani
Yang dimaksud dengan rasm Usmani adalah bentuk tulisan (khot) AlQuran hasil kerja beberapa sahabat Nabi pilihan dalam suatu panitia penyalin mushaf Al-Quran yang diketuai oleh Zaid Bin Tsabit atas penunjukan Khalifah Usman. Mengenai penulisan Al-Quran dengan rasm Usmani ini ada beberapa pendapat :
1. Rasm (bentuk tulisan) dalam mushaf Usmani adalah tauqifi yang wajib dipakai dalam penulisan Al-Quran. Ini pendapat Ibnul Mubarak dan gurunya Abdul Azis ad-Dabbag. 2. Rasm Usmani bukan tauqifi, tapi cara penulisan yang diterima dan menjadi Ijma umat dan wajib menjadi pegangan seluruh umat dan tidak boleh menyalahinya. 3. Rasm Usmani hanyalah istilah dan tatacara. Tidak ada dalil agama yang mewajibkan umat mengikuti satu rasm tertentu dan tidak ada salahnya jika menyalahi bila orang telah mempergunakan rasm tertentu untuk imla dan rasm itu tersiar luas diantara mereka. Ini adalah pendapat Abu Bakar AlBaqilani.

Jumhur ulama, diantaranya Imam Malik, Imam Ahmad melarang penulisan Al-Quran yang menyalahi rasm Usmani.

Sekian
Selamat belajar Tetap Semangat!