Anda di halaman 1dari 12

ILMU QIRAAH

Oleh: Dr. Imam Muhsin, M.Ag.

Definisi Qiraah
Dari segi bahasa kata qiraah berarti bacaan, isim mashdar dari qaraa. Dari segi istilah, qiraah adalah: salah satu cara membaca al-Quran yang selaras dengan kaidah Bahasa Arab, sanadnya mutawatir serta cocok dengan salah satu dari beberapa mush-haf Utsmani
Sedangkan menurut al-Zarqani, qiraah adalah suatu mazhab yang dianut oleh seorang qari dalam membaca al-Quran yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam pengucapan alQuran, baik pengucapan huruf maupun dalam pencucapan lafadz, serta disepakati riwayat dan sanad-sanadnya.

Berdasarkan pengertian di atas, maka ilmu qiraah mengandung pengertian:


Ilmu yang membahas cara atau aliran membaca al-Quran yang berbeda dengan lainnya berdasarkan riwayat dengan sanadsanad yang telah disepakati (mutawatir) yang mengandung perbedaan dalam pengucapan huruf atau lafadz.

Kriteria Qiraah
1. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab. 2. Sesuai dengan salah satu mushaf Usmani. 3. Sanadnya sahih.

Qurra
Dari segi bahasa, qurra adalah bentuk jamak dari kata qari, isim fail dari qaraa yang berarti orang yang membaca/pembaca/ahli qiraah/yang pandai qiraah. Dari segi istilah, qurra kadang-kadang diartikan sebagai: orang yang pandai ilmu qiraah, yang menguasai bacaan-bacaan al-Quran, sehingga dapat menceritakannya secara lisan/hafalan.
Tetapi kadang-kadang qurra diartikan sebagai imam ahli qiraah yang terkenal memiliki cara bacaan tersendiri, seperti Imam Hafs, Nafi, al-Kisai, dan lainlain.

Macam-macam Qiraah
Ditinjau dari segi qurra:
Qiraah sabah (tujuh), Qiraah asyarah (sepuluh), dan Qiraah arbaa asyarah (empat belas).

Ditinjau dari para perawi:


Qiraah mutawatirah (ex. Qiraah sabah) Qiraah masyhurah (sanadnya sahih) Qiraah syadzdzah (sanadnya tdk sahih)
Ex. Ex. Ex. ( bacaan bentuk madhi dari Ibnu Sumaifai)

Qiraah maudluah (dibuat-buat/tdk berdasar) Qiraah mudraj (ditambah sbg penjelasan)

Ditinjau dari segi nama jenis:


1. Qiraah: bacaan yang telah memenuhi tiga syarat. 2. Riwayah: bacaan dari salah seorang perawinya sendiri. 3. Thariq: nama bacaan yang sanadnya dari orang sesudah perawinya sendiri. 4. Wajah: nama bacaan yang berdasarkan pilihan bacaannya sendiri.

Pendapat Ulama tentang Qiraah


Jumhur ulama berpendapat bahwa qiraah sabah adalah mutawatirah, boleh digunakan untuk membaca aQuran, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.
Qiraah yang tidak mutawatirah tidak boleh digunakan untuk membaca al-Quran, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Menurut jumhur ulama, qiraah sabah (tujuh cara membaca al-Quran dari para ahli qiraah abad II H) tidak sama dengan sabatu ahrufin (tujuh bahasa/dialek) dari suku-suku bangsa Arab.
Qiraah = cara membaca al-Quran dari para imam yang disebabkan perbedaan dalam mengucapkan ayat, cara tajwid: idgham, idh-har, ikhfa, mad, qashar, takhfif, tasydid, dsb. Huruf = perbedaan bahasa, dialek, huruf, irab, dsb.
Contoh: Kata datanglah diungkapkan: halumma, aqbil, taal, ilayya, qashdi, nahwi, qurbi.

Pengertian Tujuh Huruf


Tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna yang sama, yaitu bahasa suku Quraisy, Huzail, Saqif, Hawasin, Kinanah, Tamim dan Yaman.
Sebagian memasukkan Asad, Rabiah, Sad. Pendapat ini maksudnya satu kata boleh dibaca berbeda menurut dialek masing-masing kabilah diatas selama maknanya masih tetap sama.

Tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab dengan mana AlQuran diturunkan, yaitu : Quraisy, Huzail, Saqif, Hawasin, Kinanah, Tamim dan Yaman.
Bedanya dengan yang pendapat pertama adalah bahasa Al-Quran mencakup dari tujuh bahasa diatas yang paling fasih dan bertebaran di seluruh Al-Quran

Tujuh wajah, yaitu : amr (perintah), nahyu (larangan), wad (janji), waid (ancaman), jadal (perdebatan), qasas (cerita) dan amsal (perumpamaan) Tujuh macam hal yang didalamnya terjadi ikhtilaf (perbedaan), yaitu ikhtilaf dalam : asma (kata benda), irab (harakat akhir kata), tasrif, taqdim (mendahulukan), ibdal (penggantian), penambahanpengurangan dan lahjah (tebal-tipis, imalah-tidak imalah, idhar dan idgam). Qiraah Tujuh.

Qiraah Sabah (tujuh)


1. Ibnu Katsir dari Mekkah, yang nama lengkapnya adalah Abu Mabad Muhammad Abdullah Bin Katsir Bin umar bin Zadin Ad-Dari Al Makki (45120 H). Belajar qiraah kepada sahabat Nabi Abu Said Bin Abdullah Bin Shaib Al Makhzumi. 2. Imam Nafi dari Isfahan (Madinah), yang nama lengkapnya adalah Abu Nuaim Nafi bin Abdurrahman bin Abu Nuaim Al Laitsi Al Isfahani Al Madani(70-169 H). Belajar qiraah kepada Zaid bin Qaqa Al Qurri Abu Jafar dan Abu Maimunah. 3. Imam Ashim bin Abi Najud bin Bahdalah Al Asadi Al Kufi (wafat 127 H). Belajar qiraah kepada Saad bin Iyasy Asy Syaibani, Abu Abdurrahman Abdullah bin habib As Salami dan Zir bin Hubaisy. 4. Imam Hamzah dari Kufah, nama lengkapnya adalahAbu Imarah Hamzah bin Habib Az Zayyat Al Fardhi Attaimi (156-216 H). Belajar qiraah kepada Imam Ashim Imam As SabiI Abu Muhammad Sulaiman bin Mahram Al Amari. 5. Imam Kisai dari Kufah, nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Fairuz Al Farizi Al Kuzai An Nahwi (119-189 H). Belajar qiraah pada imam Hamzah dan Imam Syubah bin Iyasy. 6. Imam Abu Amr dari Basrah, nama lengkapnya adalah Abu Amr Zabban bin Al Ala bin Ammar Al Basri(70-154 H). Belajar qiraah kepada Al Baghdadi dan Hasan Al Basri. 7. Imam Abu Amir dari Damaskus, nama lengkapnya adalah Abu nuaim Abu Imran Abdullah bin Amir Asy SyafiI Alyas Hubi (21-118 H). Belajar qiraah kepada Abu Darda dan Mughirah bin Syubah.

Qiraah Asyarah (sepuluh)


adalah qiraah tujuh diatas ditambah dengan 3 (tiga) imam lagi, yaitu :
1. Imam Yaqub dari Basrah, nama lengkapnya Abu Muhammad Yaqub bin Ishaq Al Basri Al Madhrami (wafat 205 H). 2. Imam Khalaf dari Kufah, nama lengkapnya Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Thalib Al Makki Al Bazzaz (wafat 229 H). 3. Imam Jafar dari Madinah, nama lengkapnya Abu Jafar Yasid bin Al Qaqa Al Makhzumi Al Madani (wafat 230 H).

Qiraah Arbaa Asyarah (empat belas)


adalah qiraah sepuluh diatas ditambah 4 (empat) imam lagi, yaitu : 1. Imam Hasan Al Basri 2. Imam Ibnu Mahisy 3. Imam Yahya Al Yazidi 4. Imam Asy Syambudzi.

Faedah Qiraah
Menunjukkan bahwa al-Quran selalu terpelihara dari usahausaha perubahan, penggantian, pengurangan, atau penambahan meskipun dibaca dengan berbagai cara. Meringankan umat untuk membaca sesuai dengan cara-cara yang mudah dibacanya. Menunjukkan kemukjizatan al-Quran, walaupun singkat tetapi padat, karena masing-masing qiraah dapat menunjukkan hukum syariah yang berlainan meski dengan satu lafal/kata. Contoh: kata dalam Qs. Al-Maidah:6

Menunjukkan adanya kemungkinan bacaan yang berlainan dengan suatu lafal/kata, sehingga dapat dibaca berbeda-beda. Contoh: kata dalam Qs. Al-Baqarah: 222