Anda di halaman 1dari 15

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan judul Pengukuran Potensial Air Jaringan Tumbuhan disusun oleh : Nama Nim Kelas/Kelompok maka dinyatakan diterima. Makassar, April 2009 : Syarif Hidayat A. : 071 404 092 : B/II

telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten dan Koordinator Asisten,

Koordinator Asisten

Asisten

Mirawati, S.Pd

Reski Amelia Waji, S.Si.

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

Drs. Ismail, M.S NIP: 131 625 063

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Hidup memerlukan air, dan semua yang hidup memerlukan air. Sekitar 80% berat tubuh organisme adalah air. Hampir semua reaksi kimia dalam tubuh berlangsung dalam keadaan terlarut. Molekul air bermuatan, dengan atom oksigen yang lebih negatif (-) dan atom hidrogen yang lebih positif (+). Akibat muatan yang berlawanan tersebut, molekul air satu dengan lainnya terhubung melalui ikatan hidrogen. Ikatan tersebut lemah dan sangat penting dalam biologi Organisme unisel tidak dapat bertahan hidup dalam lungkungan yang berubah-ubah karena memiliki sedikit atau hampir tidak memiliki mekanisme perlindungan terhadap lingkungannya. Namun organisme multisel yang kompleks, seperti manusia, dapat hidup di lingkungan yang berubah-ubah karena mempunyai kemampuan untuk mempertahankan keadaannya. Berdasarkan hal diatas maka dilakukannya praktikum Fisiologi Hewan mengenai Homeostasis Sel untuk mengetahui keadaan larutan yang bersifat isotonis, hipotonis, dan hipertonis, dan dapat mengamati peristiwa osmosis pada kulit katak dan usus ayam. Di sekitar lingkungan kita, sejumlah besar air bergerak dengan cara difusi yang tidak bisa kita lihat. Untuk menggambarkan aspek yang tidak begitu dikenal dalam dunia nyata tersebut, dibutuhkan usaha, kita harus melihat sejumlah molekul air, yang melayang-layang dan melenting beribu juta kali setiap detiknya dalam bentuk uap, dalam bentuk cair, molekul tersebut saling mengait dengan ikatan hidrogen. Berdasarkan hal diataslah sehingga kami melakukan praktikum Fisiologi Tumbuhan mengenai pengukuran potensial air jaringan tumbuhan untuk mengetahui lebih lanjut tentang potensial air pada tumbuhan. B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang.

C. Manfaat Praktikum Adapun manfaat diperoleh dengan melakukan praktikum ini adalah mahasiswa akan lebih memahami tentang fisiologi tumbuhan khususnya pada pengykuran nilai potensial air pada jaringan tumbuhan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Potensial kimia air atau potensial air (PA) merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi tumbuhan. Ralph O. Slatyer (Australia) dan Sterling A Taylor (Utah State University) pada tahun 1960, mengusulkan bahwa potensial air digunakan sebagai dasar untuk sifat air dalam sistem tumbuhan-tanah-udara. Potensial air merupakan sesuatu yang sama dengan potensial kimia air dalam suatu sistem, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa PA air murni dinyatakan sebagai (0) nol (merupakan konvensi) dengan satuan dapat berupa tekanan (atm, bar) atau satuan energi (Ismail, 2006). Salah satu ciri yang membedakan antara sel hewan dan sel tumbuhan adalah adanya dinding sel. Dinding sel terdiri atas dinsing primer dan dinding sekunder, diantara dinding primer dari suatu sel dengan dinding primer dari sel tetangganya, terdapat lamella tengah. Lamella tengah merupakan perekat yang mengikat sel-sel secara bersama-sama untuk membentuk jaringan dan oleh sebab itu dijumpai diantara sel-sel primer yang berdekatan (Adnan, 2008). Karena air begitu sangat penting dan jumlahnya sangat banyak (konsentrasi sekitar 50M), difusi air melintasi membran semipermeabel dinamakan osmosis. Molekul air dapat berdifusi secara bebas melintasi membran, dari larutan dengan gradien konsentrasi larutan rendah ke larutan dengan gradien konsentrasi larutan tinggi (Ismail, 2006). Tumbuhan banyak mengandung air dalam sel-selnya. Hal ini menyebabkan suhu tumbuhan relatif stabil walaupun menerima atau kehilangan energi. Panas laten vaporisasi dan fusi yang tinggi. Panas laten vaporisasi molekul air merupakan energi yang dibutuhkan untuk menguapkan 1 gram air pada suhu 20oC, sedangkan panas laten fusi , merupakan energi yang dibutuhkan untuk mencairkan 1 gr es pada suhu 0oC.

besarnya energi panas laten vaporisasi air adalah 586 cal dan untuk panas laten fusi adalah 80 cal (Lakitan, 2004). Potensial air memiliki dua komponen yaitu, potensial tekanan dan potensial osmotik. Potensial tekanna timbul karena adanya tambahan tekanan dan sama dengan tekanan nyata di bagian sistem tertentu. Potensial osmotik disebut juga potensial linarut, yang terjadi karena adanya unsur terlarut. Karena potensial tekanan merupakan tekanan nyata untuk mudahnya kita sebut tekanan (Salisbury, 1992). Membran sel memungkinkan molekul air melintas lebih cepat daripada unsur terlarut. Dinding sel primer biasanya sangat permiabel terhadap keduanya. Membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis, tapi dinding sel yang tegar itulah yang meninbulkan tekanan di dalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi saat sel darah merah dimasukkan ke dalam air (Salisbury, 1992). Osmosis merupakan proses gerak air pelarut melewati membran yang bersifat permiabel selektif, bebrapa partikel yang terlarut (substansi dalam cairan tubuh dan cairan sel) seperti protein tidak dapat melewati mebran. Pada keadaan tersebut, supaya kedua sisi membran mempunyai tekana seimbang, air harus bergerak melewati membran untuk memperbaiki perbedaan kadar yang disebabakan substansi yang tidak dapat melewati membran. Sebagai contoh, bila sel mempunyai kadar partikel yang lebih tinggi dari pada cairan intertisial di sekeliling sel, maka air dari cairan intertisial akan bergerak masuk ke dalam sel sampai tercapai keseimbangan tekanan di kedua sisi membran. Karena adanya gerak air, maka volume sel akan meningkat, dengan demikian tekanannya meningkat (Frandson, 1996). Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air

terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik (Anonim, 2009).

BAB III

METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Hari/tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan a. Alat 1. Bor sumbat gabus berdiameter 0,6-0,8 cm 2. Pisau silet 3. Timbangan analitik 4. 9 buah cawan petri b. Bahan
1. Bahan tumbuhan: Umbi kentang (Solanum tuberosum) 2. Bahan Kimia : Larutan Sukrosa; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8M

: Jumat/ 27 Maret 2009 : Pukul 09.10 s/d 11.50 WITA : Laboratorium Biologi FMIPA UNM Lantai III Barat.

C. Prisedur Kerja
1. Menyiapkan 10 tcawan petri, masing-masing diisi 10 ml dari larutan berikut :

aquades, 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8M 2. Tahap-tahap berikut dilakukan dengan cepat: membuat 12 silinder umbi kentang dengan yang berdiameter 0,6-0,8cm, masing-masing dengan panjang 4 cm. menghilangkan bagian kulitnya. Semua silinder umbi kentang berasal dari satu umbi saja. Meletakkan dalam subuah wadah tertutup. 3. Dengan psiau silet, potong satu silinder umbi kentang menjadi irisan-irisan tipis dengan tebal 1-2 mm. 4. Membilas irisan kentang dengan aquades dengan cepat, megeringkan dengan kertas penghisap dan menimbang. Selanjutnya memasukkan ke dlam salah satu larutan sukrosa yang telah disiapkan. Melakukan ini pada tiap-tiap silinder umbi kentang untuk masing-masing larutan berikutnya.

5. Setelah tepat 2 jam direndam, mengeluarkan irisan-irisan tersebut dari masing-

masing

tabung,

lalu

mengeringkan

dengan

kertas

penghisap

dan

menimbangnya. Melakukan hal ini untuk semua contoh percobaan. 6. Untuk menghitung perubahan berat, menggunakan rumus :

7. Kemudian membuat grafik dan memplotkan persen perubahan berat pada

ordinat dan kosentrasi larutan sukrosa (dalam molar) pada absis. 8. Potensial air jaringan dapat diperoleh setelah terlebih dahulu menghitung potensial osmotik. Untuk masing-masing kosentrasi larutan sukrosa. Menggunakan rumus:

(s) = - m i R T
Dimana : m = molalitas (mol/1000g); I = konstanta ionisasi (biasanya 1,0 untuk non elektrolit sedangkan elektrolit tergantung pada derajat dissosiasi); R = konstanta gas (0,0083 ltr Mpa/mol); dan T = temperatur (oK)
9. Kemudian menetukan dengan menginterpolasikan dari grafik, kosentrasi

sukrosa yang tidak menghasilkan perubahan berta. Dan (s) menghitung dari larutan ini. Nilai (s) tersebut sebanding dengan potensial air jaringan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil pengamatan Tabel Hasil Pengamatan
Kosentrasi larutan sukrosa Berat awal (gr) Berat akhir (gr) Perubahan berat (gr) Persentase perubahan berat

Aquades 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8

0,9 0,7 0,7 0,7 1,0 0,7 0,65 0,6 0,8

0,85 0,9 0,6 0,7 0,6 0,5 0,5 0,4 0,6

-0,05 0,2 -0,1 0 -0,4 -0,2 -0,15 -0,2 -0,2

5,55% 28,57% 14,28% 0% 40% 28,57% 23,08% 33,33% 25%

1. Grafik hubungan antara konsentrasi larutan sukrosa dan persentase perubahan berat.

: Persentase perubahan berat

: Konsentrasi sukrosa

2. Grafik hubungan antara konsentrasi larutan sukrosa dan perubahan berat (gr).

: Persentase perubahan berat

: Konsentrasi sukrosa

B. Analisis data Menghitung persentase berat

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Menghitung Potensial Osmotik untuk masing-masing kosentrasi larutan sukrosa dengan menggunakan rumus berikut:

(s) = - m i R T
Diketahui : M i R T = 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8 =1 = 0,0831 bar/derajat mol = 27 + 273 = 300oK

1. Untuk molalitas dari sukrosa 0,1M

(s)

= 0,1 x 1 x 0,083 x 300


= 2,493 bar

2. Untuk molalitas dari sukrosa 0,2M

(s)

= 0,2 x 1 x 0,083 x 300

= 4,986 bar
3. Untuk molalitas dari sukrosa 0,3M

(s)

= 0,3 x 1 x 0,083 x 300


= 7,479 bar

4. Untuk molalitas dari sukrosa 0,4M

(s)

= 0,4 x 1 x 0,083 x 300


= 9,972 bar

5. Untuk molalitas dari sukrosa 0,5M

(s)

= 0,5 x 1 x 0,083 x 300


= 12,465 bar

6. Untuk molalitas dari sukrosa 0,6M

(s)

= 0,6 x 1 x 0,083 x 300


= 14,985 bar

7. Untuk molalitas dari sukrosa 0,7M

(s)

= 0,7 x 1 x 0,083 x 300


= 17,451 bar

8. Untuk molalitas dari sukrosa 0,8M

(s)

= 0,8 x 1 x 0,083 x 300


= 19,944 bar

9. Untuk molalitas dari sukrosa 0,9M

(s)

= 0,9 x 1 x 0,083 x 300


= 22,437 bar

C. Pembahasan

Dari hasil praktikum yang dilakukan dengan menggunakan umbi kentang (Solanum tuberosum) dengan melakukan proses perendaman ke dalam sukrosa dengan kosentrasi 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8M, serta aquades. Dimana dengan penimbangan umbi kentang yang memiliki kosentrasi yang berbeda. Dimana terlihat dari hasil pengamatan diperoleh adanya pengurangan berat pada umbi kentang. Contohnya pada larutan sukrosa 0,5M dengan berat awal 0,7 gram menjadi 0,5 gram, sehingga persentase beratnya adalah 28,57%. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Adanya pengurangan berat pada umbi kentang, disebabkan karena potensial air pada umbi kentang lebih tinggi dibandingkan dengan potensial air larutan sukrosa, sehingga air yang berada dalam kentang bergerak keluar sehingga terjadi pengurangan berat pada umbi kentang, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa air bergerak dari potensial air (PA) tingi ke potensial air (PA) yang rendah. Pada umbi kentang yang direndam dengan larutan aquades juga mengalami perubahan berat akhir yanga artinya air yang berada dalam kentang bergerak keluar sehingga terjadi pengurangan berat pada umbi kentang, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa air bergerak dari potensial air (PA) tingi ke potensial air (PA) yang rendah. Berkurangnya juga berat pada umbi kentang juga dipengaruhi oleh lama perendaman dan ketelitian dalam melakukan pengamatan. Hanya saja pada pengamatan yang kami lakukan terdapat dua data yang menyimpang dari teori yang ada. Kedua data itu adalah pada larutan sukrosa 0,1M dan 0,3M. Berat akhir pada ke dua larutan tersebut masing-masing bertambah berata dan tidak berubah sama sekali. Hal ini mungkin disebabkan oleh kekurang telitian kami sebagai praktikan dan kesalahan dalam melakukan pengukuran.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah melakukan pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa: pada jaringan umbi kentang air akan bergerak dari PA yang tinggi ke PA yang lebih rendah. Jika konsentrasi larutan tinggi, potensial osmotic rendah dan sebaliknya potensial air akan tinggi. B. Saran Diharapkan kepada para praktikan agar lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan praktikum sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Biologi Sel. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Anonim. 2009. Osmosiss. http://bima.ipb.ac.id/%7Etpb-ipb/materi/bio100//osmosis/ Diakses tanggal 18 Maret 2009. Frandson, D. 1996. Anatomi dan Fisiologi. Jogjakarta: Universitas Gajahmada Press. Ismail. 2006. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Ismail. 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Lakitan, Benyamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Salisbury, Frank B. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB Bandung.