Anda di halaman 1dari 12

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan judul Pengukuran Potensial Air Jaringan Tumbuhan disusun oleh : Nama Nim Kelas/Kelompok maka dinyatakan diterima. Makassar, April 2009 : Syarif Hidayat A. : 071 404 092 : B/II

telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten dan Koordinator Asisten,

Koordinator Asisten

Asisten

Mirawati, S.Pd

Reski Amelia Waji, S.Si.

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

Drs. Ismail, M.S NIP: 131 625 063

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Senyawa organik dan anorganik yang terkandung dalam sel sangat beragam. Keadaan senyawa-senyawa tersebut di dalam sel tidak selalu berarti bahwa senyawa tersebut adalah komponen penysusn sel. Sebagian dari senyawasenyawa tersebut merupakan bahan baku untuk sintesis senyawa lainnya digunakan dalam metabolisme tumbuhan yang diterimanya dari sel-sel tetangganya atau diterima dari jaringan pembuluh. Tumbuhan akan berkembang secara normal dan tumbuh subur serta aktif apabila sel-selnya dipenuhi air. Suatu ketika apabila pada waktu perkembangannya, tumbuhan kekurangan suplai air, maka kandungan air dalam tumbuhan menurun dan laju perkembangannya yang ditentukan oleh laju semua fungsi-fungsi yang juga menurun. Jika keadaan kekringan ini berlangsung lama maka dapat mematikan tumbuhan. Osmosis merupakan penyerapan air melintasi membran yang

memisahkan dua larutan. Arah aliran air dari daerah dengan potensial air tinggi ke rendah seperti halnya imbibisi. Suatu hal yang harus diperhatikan ialah adanya membran dengan sifat permeabilitas terhadap berbagai macam substansi. Molekul-molekul air bebas melewati molekul-molekul yang terlarut terbatas untuk melewati. Semua membran protoplasma memiliki perbedaan permeabilitas yang selektif ini disebut sebagai selektif permeabel atau semipermeabel. Membran sel memungkinkan molekul air dapat melintas lebih cepat daripada unsur terlarut. Berdasarkan hal diataslah sehingga dilakukannya praktikum Fisiologi Tumbuhan ini dengan judul Penetapan Potensial Osmotik Cairan Sel sehingga kita dapat mengetahui proses osmotik pada cairan sel pada tumbuhan serta dapat menentapkan potensial osmotik pada cairan sel tumbuhan. B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah menentukan potensial osmotik cairan sel.

C. Manfaat Praktikum Adapun manfaat diperoleh dengan melakukan praktikum ini adalah mahasiswa akan lebih memahami tentang fisiologi tumbuhan khususnya pada penetapan potensial osmotik cairan sel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Kelangsungan hidup sel tumbuhan bergantung pada kemampuannya untuk menyeimbangkan pengambilan dan pengeluaran air. Pengambilan atau pengeluaran netto air oleh suatu sel terjadi melalui osmosis, yaitu transpor pasif air melewati membran semipermeabel. Dalam kasus sel hewan, sudah cukup bagi kita jika kita tahu apakah larutan ekstraseluler itu hipotonik atau hipertonik terhadap cairan sel; air akan bergerak akibat osmosis dari arah hipotik ke hipertonik. Akan tetapi dalam kasus sel tumbuhan, kehadiran dinding sel menjadi faktor kedua yang mempengaruhi osmosis tersebut. Pengaruh gabungan dari kedua faktor ini konsentrasi zat terlarut dan tekanan disebut potensial air, disingkat dengan PA atau dengan huruf Yunani (psi). Hal yang paling penting yang harus dipelajari mengenai bahwa air akan bergerak melewati membran dari larutan dengan PA yang lebih tinggi ke larutan dengan PA lebih rendah. Komponen potensial dalam potensial air mengacu pada energi potensial, yaitu kepasitas untuk melakukan kerja ketika air bergerak dari daerah dengan PA lebih tinggi ke daerah dengan PA lebih rendah (Ismail, 2006). Salah satu ciri yang membedakan antara sel hewan dan sel tumbuhan adalah adanya dinding sel. Dinding sel terdiri atas dinsing primer dan dinding sekunder, diantara dinding primer dari suatu sel dengan dinding primer dari sel tetangganya, terdapat lamella tengah. Lamella tengah merupakan perekat yang mengikat sel-sel secara bersama-sama untuk membentuk jaringan dan oleh sebab itu dijumpai diantara sel-sel primer yang berdekatan (Adnan, 2008). Peranan air sebagai pelarut ini penting sekali artinya bagi kehidupan tumbuhan. Struktur molekul protein dan asam nukleat dapat berlangsung karena adanya air di sekitarnya. Selain protein dan asam nukleat, aktivitas senyawa lain di dalam protoplasma juga ditentukan oleh adanya air kecuali untuk molekul yang berada dalam oleosom atau bagian lemak pada membran. Walaupun demikian oleosom dan membran secara keseluruhan dipengaruhi oleh air disekitarnya. Walaupun air dapat

bertindak sebagai bahan pereaksi (reaktan) atau sebagai prosuk suatu reaksi kimia, tetapi yang lebih penting adalah air menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk berlangsungnya berbagai reaksi biokimia dalam sel tumbuhan (Lakita, 2004). Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik (Anonim, 2009). Pada titik kesetimbang, nilai mutlak potensial osmotik (yang negatif) setara dengan tekanan nyata (yang positif) di osmometer sempurna, maka potensial osmotik larutan dapat diukur secara langsung. Pengukuran besaran ini banyak dilakukan, khusunya pada abad ke-19 oleh Wilhem FP Pfeffer (1877). Ia membuat gambaran yang hampir sempurna, tegar, dan semi-permiabel, dengan cara yang merendam sebuah mangkuk berpori yang terbuat dari tanah liat dalam kalium ferosianida dan kemudian dalam kupro sulfat, yang akan mengendapkan tembaga ferosinida pada porinya (Salisbury, 1992).

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Hari/tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan a. Alat 1. Mikroskop 2. Gelas preparat 3. Pinset dan Scalpel 4. Pisau silet 5. 8 buah kaca arloji/tabung reaksi b. Bahan 1. Bahan tumbuhan: Daun Rhoeo discolor 2. Bahan Kimia : Larutan Sukrosa; 0,26; 0,24; 0,22; 0,20; 0,18; 0,16; 0,14 M C. Prisedur Kerja 1. Menyiapkan satu seri larutan sukrosa dingin kosentrasi sebagai berikut : 0,26M; 0,24M; 0,22M; 0,18M; 0,16M; 0,14M. masing-masing sebanyak 10 ml di dalam tabung reaksi. 2. Dengan menggunakan pisau silet dan pinset, mengambil bebrapa potong jaringan epidermis bagian bawah daun Rhoe discolor, lalu masukkan masingmasing ke dalam tabung-tabung reaksi dengan jarak waktu kurang lebih 5 menit antara tabung satu dengan yang berikutnya. 3. Membiarkan selama 30 menit, lalu mengambil potongan jaringan tersebut, meletakkan di atas gelas preparat bersama tets larutan perendam, dan mengamati di bawah mikroskop. 4. Pada setiap larutan mencatat jumlah sel yang terplasmolisis.
5. Menentukan pada alarutan sukrosa mana yang terdapat sel-sel yang 50% dari

: Jumat/ 27 Maret 2009 : Pukul 09.10 s/d 11.50 WITA : Laboratorium Biologi FMIPA UNM Lantai III Barat.

sel-selnya mngalami plasmolisis. 6. Menetukan nilai PO cairan sel dengan menggunakan rumus berikut :

Dimana :

s =

Potensial Osmotik

M = Kosentrasi larutan sukrosa dimana sel berada keadaan plasmolisis insipien (50% terplasmolisis) T = Suhu absolut (suu ruang oC + 273) -22,4 = Nilai PO larutan sukrosa 1,0 M pada suhu ruang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil pengamatan

a. Tabel Hasil Pengamatan Kosentrasi sukrosa Aquades 0,14 0,16 0,18 0,20 0,22 0,24 0,26 Tidak terplasmolisis 2 18 15 10 11 6 4 3 Terplasmolisis 28 12 15 20 19 24 26 27 Persentase sel yang terplasmolisis 93,33% 40% 50% 66,67% 63,33% 80% 86,67% 90%

b. Grafik pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap persentase sel yang terplasmolisis Keterangan : = Persentase sel yang terplasmolisis = Konsentrasi sukrosa

B. Analisis Data Persentase sel yang terplasmolisis:

1. Sukrosa 0,14M

2. Sukrosa 0,16M

3. Sukrosa 0,18M

4. Sukrosa 0,20M

5. Sukrosa 0.22M

6. Sukrosa 0.24M

7. Sukrosa 0,26M

8. Aquades

C. Pembahasan Pada praktikum ini digunakan bahan yaitu Rhoeo discolour, yaitu mengamati ada tidaknya sel-sel yang terplasmolisis pada daun Rhoeo discolour tersebut. Dimana yang diamati adalah jaringan epidermis pada daun yang direndam di dalam larutan sukrosa dengan kosentrasi yang berbeda-beda. Dari hasil pengamatan pada larutan Aquades diperoleh 28 sel yang terplasmolisis dengan

presentase 93,33% merupakan persentase tertinggi yang diperoleh dalam pengamatan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Jumlah sel yang terplasmolisis terus meningkat, keadaan ini menunjukkan bahwa jumlah sel yang terplasmolisis lebih banyak di bandingkan dengan sel yang tak terplasmolisis, Namun terdapat tidak penyimpangan data yang diperoleh. Dari data pengamatan seharusnya data persentase sel yang terplasmolisis terus meningkat, sama halnya dijelaskan bahwa semakin rendah kosentrasi larutan semakin sedikit sel yang terplasmolisis. Namun pada data kami terdapat penyimpangan di mana pada larutan sukrosa 0,18M sel yang terplasmolisis lebih banyak daripada sel yang terplasmoslisis pada larutan sukrosa 0,2M yakni masingmasing 20 dan 19 sel. Adapun kesalahan data yang diperoleh, dapat disebabakan ketidak teraturan dalam menghitung jumlah sel yang terplasmolisis sehingga data yang diperoleh tidak sempurna. Faktor dalam pelaksaan seperti tidak seimbangnya pengirisan atau pengambilan irisan bagian epidermis daun yang diamati. Ataupun kekurang telitian dalam menggunakan mikroskop dalam menghitung jumlah sel. Kesemua itu mempengaruhi ketidak akuratan data dan ketikdak sesuaian dengan teori yang menyebutkan semakin tinggi kosentrasi larutan sukrosa maka semakin tinggi persentase sel yang terplasmolisis.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Setelah melakukan pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa: Semakin tinggi kosentrasi larutan, maka semakin banyak sel yang terplasmolisis. Jika nilai

potensial osmotik (PO) sel tinggi, maka semakin banyak jumlah sel yang terplasmolisis, B. Saran Diharapkan kepada para praktikan agar lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan praktikum sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Biologi Sel. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Anonim. 2009. Osmosiss. http://bima.ipb.ac.id/%7Etpb-ipb/materi/bio100//osmosis/ Diakses tanggal 18 Maret 2009. Ismail. 2006. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Lakitan, Benyamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Salisbury, Frank B. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB Bandung.

Anda mungkin juga menyukai