Anda di halaman 1dari 35

BRAND EQUITY (EKUITAS MEREK)

I.

INTRODUCTION (PENDAHULUAN)

I.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi dan pasar bebas, berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia. Persaingan antar merek setiap produk akan semakin tajam dalam merebut konsumen. Bagi konsumen, pasar menyediakan berbagai pilihan produk dan merek yang banyak. Konsumen bebas memilih produk dan merek yang akan dibelinya. Keputusan membeli ada pada diri konsumen. Konsumen akan menggunakan berbagai kriteria dalam membeli produk dan merek tertentu. Diantaranya adalah dengan membeli produk yang sesuai dengan kebutuhan, selera, dan daya belinya. Globalisasi, perdagangan bebas, serta pertumbuhan bisnis yang sangat cepat ditambah semakin ketatnya persaingan usaha dalam merebut hati konsumen mendorong perusahaan untuk berkompetisi dalam setiap aktivitas perusahaan termasuk dalam bidang pemasaran. Pada bidang pemasaran ini perusahaan melakukan kompetisi diantaranya pada aspek harga, pelayanan dan merek dari suatu produk. Perusahaan harus selalu waspada terhadap strategi para pesaing yang berusaha merebut pangsa pasar. Merek menjadi lebih dipertimbangkan oleh perusahaan dewasa ini, terutama pada kondisi persaingan merek yang semakin tajam. Perusahaan semakin menyadari arti penting merek bagi suksesnya sebuah produk. Oleh karenanya, aktivitas-aktivitas strategi mengelola merek, meliputi penciptaan merek, membangun merek, memperluas merek untuk memperkuat posisi merek pada persaingan menjadi sangat diperhatikan oleh perusahaan. Semua upaya tersebut dimaksudkan untuk menciptakan agar merek yang dimiliki oleh perusahaan dapat menjadi kekayaan atau ekuitas bagi perusahaan. Salah satu strategi yang digunakan dalam aktivitas pengelolaan merek adalah melalui penciptaan merek yang dapat selalu diingat oleh konsumen dan membuat konsumen tidak berkeinginan untuk berpindah ke merek yang lain. Untuk itu perlu dilakukan suatu upaya agar merek suatu produk dapat selalu melekat di pikiran konsumen. Strategi yang dilakukan antara lain juga membentuk long term relationship antara perusahaan (produsen) dengan konsumen adalah dengan membangun dan mengelola ekuitas merek secara tepat (Lassar et al, 1995).
1

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, salah satu kunci sukses perusahaan dalam memenangkan persaingan pasar terletak pada proses penciptaan merek. Menurut Aaker (1997), perang pemasaran akan menjadi perang antar merek. Berbagai perusahaan dan investor akan mulai menyadari bahwa merek merupakan aset mereka yang terpenting, sehingga salah satunya cara untuk dapat menguasai pasar adalah memiliki pasar dengan merek yang dominan. Tujuan atau fokus utama pada banyak perusahaan saat ini adalah menciptakan merek yang kuat dan dominan. Merek yang kuat membantu perusahaan, antara lain dalam mempertahankan identitas perusahaan (Cobb-Walgren et al, 1995). Bagi konsumen maupun produsen, merek suatu produk memberikan arti penting. Produsen perlu memberikan merek kepada produkproduknya agar produk yang dihasilkan dapat dibedakan dengan produk sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan yang lain. Merek menjadi sangat penting ketika produsen menghadapi pasar persaingan yang sangat ketat. Produk tersebut harus dipasarkan dan dapat menarik perhatian konsumen. Oleh karena itu, merek harus dikenal dan dipahami oleh konsumen. Bagi konsumen, merek memiliki beragam arti. Merek dapat melambangkan kualitas suatu produk yang dihasilkan produsen tertentu. Merek juga dapat memberikan suatu citra tertentu bagi konsumen, serta memberikan arti differensiasi tertentu bagi konsumen, sehingga konsumen dapat membedakan suatu produk dengan produk lainnya yang sejenis. Pentingnya arti merek bagi produsen, membuat produsen harus membangun tersebut agar memiliki ekuitas merek (brand equity). Ekuitas merek merupakan nilai atau penghargaan yang dimiliki oleh sebuah merek sehingga merek tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi, citra yang baik, persepsi kualitas yang baik pula pada diri konsumen, sehingga selanjutnya konsumen akan membeli dan mengkonsumsi barang atau produk merek tersebut. Ekuitas merek juga merupakan hasil dari persepsi konsumen yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ekuitas merek tidak dapat mudah dipahami tanpa memperhitungkan faktorfaktor yang membentuk ekuitas merek dalam benak konsumen. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai merek dan ekuitas menjadi penting untuk dipelajari.

I.2 Tujuan Tulisan ini bertujuan untuk menggali pemaparan konsep, aplikasi dan contoh kasus-kasus yang berhubungan dengan merek dan ekuitas merek, juga beberapa alat analisis yang digunakan untuk menghitung ekuitas merek. Berdasarkan hal ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman mengenai konsep, aplikasi, dan kasus-kasus yang berhubungan merek dan ekuitas merek.

II. REVIEW APPROACH (REVIEW MATERI) Pemasaran pada saat ini lebih merupakan persaingan persepsi konsumen dan bukan persaingan produk. Membangun persepsi dapat dilakukan melalui jalur merek dengan memahami perilaku konsumen terhadap merek. Merek yang prestisious memiliki ekuitas merek yang kuat. Semakin kuat ekuitas merek suatu produk akan semakin kuat pula daya tariknya untuk menarik konsumen mengkonsumsi produk tersebut. Bila hal tersebut terus berlanjut maka pihak perusahaan akan dapat meraih keuntungan secara terus menerus. Pemahaman terhadap elemen-elemen ekuitas merek, perilaku merek, serta pengukurannya menjadi sangat penting peranannya untuk menyusun langkah strategis dalam meningkatkan eksistensi merek sehingga perusahaan mampu menguasai pasar.
II.1 Brand (Merek)

Aaker (1997) menyatakan bahwa merek adalah nama dan/atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, untuk membedakannya dari barang-barang atau jasa yang dihasilkan kompetitor. Merek dalam pengertian hukum diartikan sebagai tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang mempunyai daya pembeda dan dipergunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Dalam UU No. 14 tahun 1997, diatur bahwa merek tidak boleh menyerupai nama orang terkenal, foto, nama badan hukum, bendera, dan lambang suatu negara (Shidarta 2000 diacu dalam Savitri 2003).

American Marketing Association diacu dalam Kotler (1997) menyebutkan bahwa merek adalah nama, tanda, istilah, simbol, rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut, untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Sumarwan (2003) mengartikan merek sebagai nama penting bagi produk atau jasa, simbol dan indikator kualitas dari sebuah produk atau jasa. Merek dapat memberikan jaminan kualitas bagi konsumen dengan melihat pada level mana identitas merek tertanam di benak konsumennya. Merek yang paling tahan lama adalah merek yang memiliki nilai budaya, dan kepribadian yang tercermin dari merek tersebut. Agar merek dapat dikuatkan sepanjang waktu, perlu dilakukan penelusuran merek yang dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 1. Strategi-strategi Penguatan Merek Merek sebenarnya merupakan janji produsen untuk konsisten membeli feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada konsumen. Menurut Kotler (1997), merek memiliki enam tingkatan pengertian: (1) atribut; merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu, (2) manfaat; suatu merek
4

lebih dari serangkaian atribut. Atribut diperlukan untuk diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan/atau emosional, (3) nilai; merek menyatakan sesuatu tentang nilai produsen, (4) budaya; merek memiliki budaya tertentu, (5) pemakai; merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli dan menggunakan produk tersebut, (6) komunikasi; merek menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen. Lebih lanjut Kotler (1997) menambahkan bahwa dengan enam tingkatan pengertian merek, pemasar harus menentukan pada tingkat mana akan menanamkan identitas merek yaitu (i) pembeli tidak begitu tertarik pada atribut merek dibandingkan dengan manfaat merek, (ii) pesaing mudah meniru atribut tersebut, dan (iii) atribut yang sekarang mungkin akan kurang bernilai, sehingga merugikan merek yang terlalu terikat pada atribut tersebut. Saefulloh (2002) menyatakan bahwa jika suatu merek tidak tersimpan dalam ingatan konsumen, maka merek tersebut tidak akan dipertimbangkan dalam benak konsumen pada saat pengambilan keputusan pembelian. Biasanya merek yang disimpan dalam ingatan konsumen adalah merek yang disukai atau merek yang dibenci, tetapi konsumen akan cenderung lebih mengingat merek yang disukainya.
II.2 Brand Equity (Ekuitas Merek)

Aaker (1997) mengatakan ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitasnya merek yang berhubungan dengan sebuah merek, nama, simbol, yang menambahkan atau mengurangi nilai yang disediakan produk atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan. Agar aset dan liabilitas mendasari brand equity, maka aset dan liabilitas merek harus berhubungan dengan nama atau simbol sehingga jika dilakukan perubahan terhadap nama dan simbol merek, beberapa atau semua aset liabilitas yang menjadi dasar brand equity akan berubah pula. Aaker juga menggambarkan konsep brand equity (ekuitas merek) sebagai berikut:

Gambar 2. Model Konseptual Ekuitas Merek oleh Aaker (1991) Aset ekuitas merek pada umumnya menambah atau mengurangi nilai bagi para konsumen. Aset-aset ini biasanya membantu mereka dalam menafsirkan, memproses, dan menyimpan informasi dalam jumlah besar mengenai produk dan merek. Ekuitas merek juga bisa mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian (Aaker 1997). Beberapa peneliti mempunyai pendapat yang berbeda-beda dalam mengklasifikasikan indikator atau dimensi yang terdapat dalam ekuitas merek. Keller (2003) menyebutkan pengetahuan merek (brand knowledge) yang terdiri atas kesadaran merek (brand awareness) dan citra merek (brand image) sebagai indikator dari ekuitas merek. Shocker dan Weitz (1988, dalam Gil et al 2007)) mengklasifikasikan dimensi ekuitas merek menjadi dua, yaitu citra merek (brand image) dan loyalitas merek (brand loyalty). Agarwal dan Rao (1996, dalam Gil et al 2007) mengemukakan dua indikator utama pada ekuitas merek yaitu kualitas keseluruhan (overall quality) dan minat memilih (choice intention). Namun, yang paling umum digunakan adalah pendapat Aaker (1996), yaitu bahwa terdapat lima indikator atau dimensi utama pada ekuitas merek. Kelima indikator tersebut adalah : (1) brand awareness (kesadaran merek); menunjukkan kesanggupan sebagai calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek sebagai bagian dari produk tertentu,
6

(2) brand association (asosiasi merek); adalah kesan, persepsi, sikap, dan citra terhadap suatu merek yang dimiliki oleh konsumen yang mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga, produk pesaing, selebritis dan lain-lain, (3) perceived quality (persepsi kualitas); mencerminkan persepsi pelanggan, terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud yang diharapkan, (4) brand loyalty (loyalitas merek); mencerminkan tingkat keterikatan dengan konsumen dengan suatu merek atau ketergantungan konsumen terhadap suatu merek yang dikonsumsi atau dibelinya. (5) other properietary brand assets atau other brand- related assets (aset-aset merek lainnya); merupakan nilai-nilai lainnya yang dimiliki oleh suatu merek. Pada prakteknya, hanya empat dari kelima indikator tersebut yang digunakan pada penelitian-penelitian mengenai consumer-based brand equity, yaitu kesadaran merek, asosiasi merek, perceived quality dan loyalitas merek. Hal ini dikarenakan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (seperti hak paten dan saluran distribusi), tidak berhubungan secara langsung dengan konsumen. Keempat elemen ekuitas merek di luar other properietary brand assets (aset-aset merek lainnya) dikenal dengan elemen-elemen utama dari brand equity. Elemen brand equity yang kelima secara langsung dipengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut. Konsep mengenai ekuitas merek tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini yang memperlihatkan lima kategori (loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi kualitas merek, assosiasi merek dan aset-aset merek lainnya) yang mendasari ekuitas merek dan nilai yang diciptakan ekuitas merek bagi perusahaan maupun pelanggan (Aaker 1996).

Gambar Model Ekuitas Merek menurut Aaker (1997) Lebih lanjut Aaker (1997) membedakan lima tingkat sikap pelanggan terhadap merek yang terendah hingga tertinggi, yaitu: (1) pelanggan akan mengganti merek, terutama untuk alasan harga (tidak ada kesetiaan merek); (2) pelanggan puas tidak ada alasan untuk mengganti merek; (3) pelanggan puas dan merasa rugi bila berganti merek; (4) pelanggan yang menghargai merek dan menganggapnya sebagai teman; (5) pelanggan terikat kepada merek. Kotler (1997) menjelaskan bahwa merek perlu dikelola dengan cermat agar ekuitas merek tidak mengalami penyusutan. Hal tersebut membutuhkan pemeliharaan atau peningkatan kesadaran merek, kualitas dan fungsi yang diyakini dari merek itu, asosiasi merek yang positif secara terus menerus. Nilai yang diperoleh pelanggan melalui peningkatan atau pengembangan brand equity adalah (1) sebagai bahan interpretasi dan pemprosesan informasi oleh konsumen, (2) kepercayaan diri dan keputusan pembelian, (3) kepuasan manfaat. Nilai yang diperoleh perusahaan melalui
8

peningkatan dan pengembangan brand equity adalah (1) efisiensi dan efektifitas program-program pemasaran; (2) loyalitas merek; (3) harga atau margin; (4) perluasan merek; (5) pengembangan perdagangan; (6) keunggulan bersaing (Aaker 1997).
II.2.1 Kesadaran Merek (Brand Awareness)

Brand Awareness merupakan salah satu kategori yang dikelompokkan Aaker dalam ekuitas merek. Peran kesadaran merek dalam ekuitas merek tergantung pada tingkat pencapaian kesadaran di benak konsumen. Adapun penelusuran terhadap tingkat kesadaran merek dapat dilakukan dalam urutan berikut ini.
a. Puncak Pikiran( Top of Mind)

Puncak pikiran (top of mind) merupakan merek yang pertama kali diingat konsumen atau yang pertama kali ketika responden ditanya tentang suatu kategori produk. Top of mind juga merupakan tingkatan tertinggi dalam brand awareness dan juga merupakan pimpinan dari berbagai merek yang terdapat dalam produk yang serupa yang ada dalam benak konsumen. Kesadaran merek dapat dikatakan sempurna bila seluruh konsumen menempatkan merek tersebut dalam puncak pikirannya sebagai suatu kategori produk tertentu. Namun keadaan tersebut tidak mutlak karena suatu merek sudah cukup ideal bila kesadaran mereknya berbentuk segitiga terbalik, dengan bagian terlebar adalah puncak pikiran dan bagian tersempit adalah tidak mengenal merek sama sekali. Merek yang memiliki top of mind yang tinggi akan mempunyai nilai merek (brand value) yang tinggi pula. Jika suatu merek tersimpan dengan baik dalam benak konsumen, akan mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut, walaupun biasanya merek yang tersimpan dalam benak konsumen adalah merek yang disuka atau merek yang dibenci, tetapi konsumen akan cenderung untuk mengingatnya karena sering menggunakan atau pernah menggunakannya.
b. Pengingatan Kembali (Brand Recall)

Banyaknya merek yang beredar di pasaran terkadang membuat konsumen tidak dapat mengingat bahkan tidak menyadari keberadaan suatu merek. Hal tersebut menyebabkan responden harus dibantu mengingat kembali merek tersebut. Pengingatan kembali merek (brand recall) merupakan tingkatan kedua kesadaran merek di mana proses pengingatan kembali merek suatu produk dilakukan tanpa bantuan (unaided recall). Brand recall mencerminkan merek apa
9

yang diingat konsumen setelah menyebutkan merek yang pertama kali.


c. Kesadaran Merek (Brand Recognition)

Tingkatan kesadaran merek yang paling rendah adalah brand recognition (pengenalan merek) atau disebut juga sebagai tingkatan pengingatan kembali dengan bantuan (aided recall). 2.2.2 Asosiasi Merek (Brand Association) Komponen kedua dari ekuitas merek yang dianalisa adalah asosiasi merek. Asosiasi merek adalah segala kesan yang muncul di benak seseorang yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Setiap produsen menginginkan produk yang mereka jual mempunyai kesan (image) yang baik dalam benak konsumen. Asosiasi merek berkaitan erat dengan persepsi yang terbentuk di benak konsumen mengenai karakteristik atau atribut-atribut yang dimiliki oleh suatu merek. Kesan-kesan yang timbul di benak konsumen terjadi karena semakin meningkatnya pengalaman konsumen dalam mengkonsumsi suatu merek atau dengan semakin seringnya penampakan merek tersebut dalam strategi komunikasi produsen. Suatu merek yang telah mapan akan memiliki posisi yang tinggi dalam persaingan jika didukung oleh berbagai asosiasi yang kuat. Berbagai asosiasi merek yang saling berhubungan dan menimbulkan kesan negatif maupun positif disebut dengan brand image. Semakin banyak asosiasi yang saling berhubungan makin kuat brand image yang dimiliki oleh merek tersebut. Dalam menganalisis asosiasi merek maka perlu diketahui bagaimana persepsi responden terhadap kesan dan citra merek ikan kaleng yang beredar di pasaran. Asosisi merek itu dapat berupa julukan, ciri khas, logo, karakteristik pemakai dan lain-lain. Asosiasi merek yang terbentuk pada konsumen menyangkut banyak atribut atau karakteristik dari produk tersebut. 2.2.3 Persepsi Kualitas Merek (Brand Perceived Quality) Persepsi kualitas secara umum berhubungan dengan prestise dan penghargaan terhadap suatu merek. Persepsi kualitas hampir selalu menjadi pertimbangan pada setiap pilihan konsumen. Kualitas dapat dikomunikasikan secara langsung dengan argumen bahwa sebuah atribut produk lebih unggul dibandingkan dengan yang dimiliki pesaing. Brand perceived quality atau persepsi kualitas merek adalah persepsi pelanggan terhadap kualitas suatu merek produk. Persepsi terhadap kualitas keseluruhan dari suatu produk barang atau

10

jasa dapat menentukan nilai dari produk atau jasa, hal tersebut juga akan mengakibatkan pengaruh secara langsung pada keputusan pembelian konsumen dan loyalitas mereka terhadap merek. Kualitas keseluruhan yang diukur pada brand perceived quality adalah kualitas dari atribut yang dimiliki oleh produk. Persepsi kualitas mempunyai peranan penting dalam membangun suatu merek. Persepsi konsumen terhadap kualitas suatu merek produk akan berpengaruh secara langsung kepada keputusan pembelian konsumen dan loyalitas mereka terhadap merek. Keterbatasan informasi, uang dan waktu akan membuat keputusan pembelian seorang konsumen sangat dipengaruhi oleh persepsi kualitas suatu merek yang ada di benak konsumen, sehingga sering kali alasan keputusan pembelian hanya didasarkan pada kesan kualitas merek yang akan dibelinya. Nama dan seberapa kuat sebuah merek merupakan aset penting, tidak hanya pada perusahaan manufaktur, tetapi juga pada perusahaan jasa seperti yang bergerak di bidang hotel, restoran dan caf (HORECA). Onkvisit dan Shaw (1989) berpendapat bahwa merek lebih berperan pada bidang jasa, karena merek merupakan suatu komoditas bagi konsumen. Apabila dikelola dengan tepat, merek dapat meningkatkan keunggulan kompetitif pada suatu hotel atau restoran (Kim dan Kim, 2004). Merek yang kuat juga merupakan aset sebuah hotel untuk membedakan hotel tersebut dengan hotel yang lain (Prasad dan Dev, 2000). Disisi lain, banyak restoran (food-service) baik nasional maupun internasional mudah dikenal oleh konsumen melalui identitasnya. Konsumen dapat dengan mudah mengingat sebuah merek melalui simbol dari merek tersebut. Sebagai contoh, simbol huruf M emas (golden arches) sebagai logo Mc Donald, dan simbol lingkaran hijau dengan gambar wanita bermahkota sebagai logo Starbucks coffee. Pada proses pembelian, konsumen tidak hanya mempertimbangkan pada faktor kualitas dan harga dari sebuah merek, tetapi juga faktor lain, termasuk negara asal merek (country of origin) (Lin dan Kao, 2004). Banyak konsumen mempunyai stereotype mengenai country of origin terhadap suatu merek, misalnya, masyarakat Indonesia percaya bahwa mobil buatan Jepang mempunyai mesin yang tangguh dan baik. Demikian juga dengan barang elektronik, masyarakat Indonesia cenderung memilih barangbarang elektronik buatan Jepang dibandingkan dengan buatan negara lain. Dalam hal makanan, konsumen langsung mengkaitkan Pizza dengan Italia, dan mereka percaya bahwa Pizza Italia adalah yang paling asli dan lezat. Hal
11

tersebut memberikan bukti bahwa label made in yang terdapat dalan suatu produk, menjadi pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian terhadap suatu barang ataupun jasa (Yasin et al, 2007). Dapat diambil kesimpulan bahwa suatu produk itu bersifat superior atau inferior berdasarkan pada persepsi konsumen terhadap suatu negara. Produk dari suatu negara yang diminati lebih mudah diterima oleh konsumen (Yasin et al, 2007). Mattila (2001) mengemukakan bahwa hal-hal utama yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih sebuah restoran adalah kualitas (baik kualitas produk maupun pelayanan) dan atmosphere atau physical environment dari restoran tersebut. Physical environment mempengaruhi perilaku konsumen dan persepsi kualitas mereka pada suatu restoran. Physical environment dapat dijadikan alasan oleh konsumen untuk berada lebih lama di suatu restoran. Selain menu yang ditawarkan dan pelayanan yang diberikan, physical environement juga merupakan salah satu pertimbangan konsumen untuk mengunjungi kembali suatu restoran (Wakefield dan Blodgett, 1996).

II.3 Metode Analisis untuk Mengukur Ekuitas Merek

Berikut adalah beberapa metode analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis ekuitas merek. 2.3.1 Structural Equation Modelling (SEM) Teknik analisis Permodelan Persamaan Struktural atau Structural Equation Modelling (SEM) dari paket software statistik AMOS, menggambarkan pembentukan model dan pengujian hipotesis. SEM merupakan kombinasi dari analisis faktor dan analisis regresi. Teknik SEM memungkinkan seseorang peneliti menguji beberapa variabel dependen sekaligus dengan beberapa variabel independen. SEM merupakan sekumpulan teknik statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan penelitian yang memiliki rangkaian hubungan yang relatif rumit dengan pengujian statistik secara simultan (Ferdinand, 2006). Keunggulan aplikasi Structural Equation Model (SEM) dalam penelitian manajemen adalah karena kemampuannya untuk mengkonfirmasi dimensidimensi dari sebuah konsep yang

12

bersifat multidimensional dan jauh dari sederhana yang lazim terjadi pada penelitian manajemen, serta kemampuannya untuk mengukur pengaruh hubungan antar konstruk atau faktor yang sudah dibentuk secara teoritis. Ferdinand (2006) menyatakan beberapa alasan penggunaan program SEM sebagai alat analisis, dimana SEM sesuai digunakan untuk:
a. Mengkonfirmasikan

unidimensionalitas

dari

berbagai

indikator

untuk

sebuah

konstruk/konsep/faktor.
b. Menguji kesesuaian atau ketepatan sebuah model berdasarkan data empiris yang diteliti. c. Menguji

kesesuaian

model

sekaligus

hubungan

kausalitas

antar

faktor

yang

dibangun/diamati dalam model tersebut.

Gambar Aplikasi Penggunaan Analisis SEM dalam Penelitian


13

2.3.2 Analisa Biplot Analisa biplot merupakan suatu analisa statistika yang menyajikan posisi relatif n objek pengamatan dengan p peubah secara simultan dalam dua dimensi. Analisis tersebut mengkaji hubungan antara pengamatan dan peubah, selain itu juga menunjukkan hubungan antara peubah dan kesamaan antar pengamatan serta dapat dilihat juga penciri dari masing-masing objek (Gabriel 1971). Dengan menggunakan biplot akan diperoleh visualisasi dari segugus objek dan peubah dalam bentuk grafik bidang datar. Data yang digunakan dalam metode biplot data berupa data rataan atau data asli. Pengolahan data didasarkan pada penguraian nilai singular (Singular Value Decompotion). Di mana SVD bertujuan menguraikan suatu matriks X berukuran n x p yang matriks data peubah ganda yang terkoreksi terhadap rataannya di mana n banyaknya objek dan p banyaknya peubah bebas. Struktur data dapat dianalisis dengan metode biplot yang diperlihatkan pada tabel berikut. Objek (Merek Produk) 1 2 n Sumber: Gabriel (1971) di mana: n = Jumlah objek p = Jumlah peubah Xnp = Skala penilaian responden peubah ke-n Analisis ini digunakan pada data yang menggunakan skala interval. Data yang digunakan berupa matriks data X dengan n pengamatan dan p peubah yang dikoreksi terhadap nilai rataratanya, berpangkat r sebagai berikut: X = ULA ......................(1) di mana : U = Matriks yang berukuran (n x r) merupakan lajur saling ortogonal A = matriks berukuran (p x r) merupakan lajur saling ortogonal L = Matriks diagonal berukuran (r x r) yaitu akar ciri ( 0 dari XX) Menurut kaedah Singular Value Decompotion (SVD) persamaan (1) dapat
14

1 X11 X21 Xn1

Peubah ke- (atribut) 2 X12 X22 Xn2

P X1p X2p Xnp

diuraikan menjadi : X = U LL1- A...................(2) Jika UL = G dan L1-A =H maka persamaan di atas dapat dinyatakan sebagai berikut: X = GH..............................(3) Dengan demikian setiap elemen ke (I,J) unsur matriks X dapat dinyatakan sebagai berikut: Xij = gih j i = 1,2,...,n dan j =1,2,...,n di mana: gi dan hj adalah baris G dan H yang memiliki r Matriks U digunakan sebagai titik koordinat pengamatan. Matriks LA adalah koordinat vektor peubah Pemeriksaan biplot dilakukan pada nilai =0, di mana pada keadaaan tersebut antara peubah diperiksa dengan mengamati vektor-vektor pengaruh lajur. Ragam, peragam dan korelasi antar peubah diperiksa dengan melihat panjang vektor suatu peubah. Jika peubah tersebut memiliki vektor yang panjang maka semakin besar keragaman yang dimiliki peubah tersebut. Nilai sudut antara dua peubah berarti semakin kuat hubungan diantara keduanya. Jika sudut antara dua peubah tersebut tegak lurus maka korelasi keduanya rendah dan jika kedua vektor peubah tersebut tumpul maka korelasinya negatif. 2.3.3 Analisa Segmentasi Analisis gerombol (cluster) adalah suatu prosedur yang bertujuan untuk menggerombolkan k objek pengamatan menjadi m gerombol (mk) berdasarkan kesamaan-kesamaan yang dimiliki sehingga keragaman dalam gerombol relatif lebih homogen dibandingkan keragaman antar gerombol. Pengelompokan didasarkan pada ukuran kemiripan (similarities) atau ketidakmiripan (dissimiarities) yang dinyatakan dalam fungsi jarak, semakin kecil jarak antar individu berarti semakin besar kemiripan antar individu tersebut (Dillon & Goldstein 1984). Jarak yang sering digunakan adalah jarak Mahalanobis dan jarak Euclid. Jarak Mahalanobis digunakan bila peubah-peubah amatan berkorelasi, sedangkan jarak Euclid digunakan bila semua peubah tidak saling berkorelasi atau saling orthogonal. Misalkan matriks X = (X1,X2,...,Xn), maka jarak Euclid antara objek i dan j didefenisikan sebagai: ( )( ik jk ik jk ) dij 2 = X - X 'X -X
15

di mana: dij 2 = jarak antar objek pengamatan ke-i dan ke-j Xik = nilai peubah ke-k pada pengamatan ke-i Xjk = nilai peubah ke-k pada pengamatan ke-j Jika diantara peubah yang diamati terdapat korelasi, maka perlu dilakukan transformasi terhadap data asal menjadi komponen-komponen utamanya untuk menyederhanakan peubahpeubahnya. Jika tidak dilakukan transformasi biasanya digunakan ukuran jarak Mahalanobis yang didefenisikan sebagai berikut: ( ) ( ) ij i j i j d 2 = X - X 'S -1 X - X di mana : dij 2 = jarak antar objek i dan objek j Xi = vektor nilai objek ke-i Xj = vektor nilai objek ke-j S = matriks peragam Ukuran jarak Mahalonobis sangat baik digunakan jika peubah dari data yang diamati memiliki korelasi yang tinggi. Algoritma standar yang biasa digunakan dalam penggerombolan adalah (Anderberg 1973): 1. Menghitung ukuran kemiripan (ketakmiripan) antara pasangan obyek ke-i dan ke-j yang disusun dalam bentuk matriks. 2. Gabungkan dua individu yang memiliki jarak terdekat menjadi gerombol baru. 3. Memperbaharui matriks jarak antar gerombol dengan memakai salah satu dari berbagai metode berikut yaitu metode pautan tunggal (single linkage), pautan lengkap (complete linkage), pautan rataan (average linkage), metode Ward atau metode Centroid, di mana setiap metode mempunyai kriteria pengoptimalan tertentu. 4. Mengulangi langkah dua dan tiga sampai terbentuk hanya satu gerombol yang beranggotakan k individu. 2.3.4 Skala Likert, Rata-Rata dan Standar Deviasi Skala likert merupakan skala memperlihatkan tanggapan konsumen terhadap karakteristik suatu produk (sangat setuju, setuju, bimbang, tidak setuju, sangat tidak setuju). Informasi yang diperoleh dengan skala likert berupa skala pengukuran ordinal, sehingga hasilnya dapat dibuat
16

ranking tanpa dapat diketahui berapa besarnya selisih antara satu tanggapan ke tanggapan lainnya. Selanjutnya dari data yang diperoleh, dicari nilai rata-ratanya dan standar deviasinya untuk mengetahui ukuran pemusatan dan ukuran keragaman tanggapan responden. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut (Durianto et al. 2004).

z dimana: xi = nilai pengukuran ke-i fi = frekuensi kelas ke-i n = banyaknya pengamatan Hasil dari banyaknya nilai rata-rata standar deviasi tersebut kemudian dipetakan ke rentang skala yang mempertimbangkan informasi interval berikut: Internal = nilai tertinggi nilai terendah banyaknya kelas Rentang skala dan interpretasi yang digunakan pada setiap analisis tingkatan brand loyalty dalam penelitian ini adalah: 1,00-1,08 = sangat buruk 1,08-2,06 = buruk 2,06-3,40 = cukup 3,40-4,20 = baik 4,20-5,00 = sangat baik 2.3.5 Skala Semantic Differensial Skala ini merupakan salah satu dari skala faktor yang dikembangkan untuk menganalisis masalah pengukuran populasi yang multidimensi dan pengungkapan dimensi yang belum dikenal atau diketahui. Metode tersebut dikembangkan khususnya untuk mengukur arti psikologis dari suatu objek di mata seseorang. Metode tersebut dibuat dengan menempatkan dua skala penilaian dalam titik-titik ekstrim yang berlawanan, yang sering disebut bipolar. Biasanya di antara dua titik
17

ekstrem terdapat lima atau tujuh titik-titik butir skala di mana responden menilai suatu konsep atau lebih pada setiap butir skala. Metode skala semantic differential sering digunakan dalam studi mengenai merek khususnya brand perceived quality atau penelitian mengenai kesan responden terhadap suatu objek.

2.3.6 Uji Reliabilitas Uji reliabilitas adalah uji keterandalan instrumen yang digunakan dalam riset. Instrumen riset yang terandal akan mampu mengungkap informasi yang sebenarnya di lapangan. Tersedia berbagai metode uji reliabilitas yang secara umum dibedakan untuk jumlah butir ganjil atau genap. Aplikasi uji reliabilitas digunakan brand association, untuk menganalisis produk metode spearman-brown untuk menguji reliabilitas instrumen penelitian. Adapun rumus korelasi dari skor yang digunakan : digunakan

di mana: X = total skor belahan ganjil Y = total skor belahan genap XY = total skor hasil kali belahan ganjil dan genap rxy = hubungan antara dua belahan instrumen

18

Rumus Spearman-Brown (Durianto et al. 2004) :

di mana: r11 = reliabilitas instrumen rxy = korelasi antara dua belahan instrumen Nilai reliabilitas yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai r product moment. Jika r11< r tabel maka dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan reliabel dan penelitian dapat dilanjutkan. 2.3.7 Test Cochran Test Cochran digunakan untuk menguji signifikansi hubungan setiap asosiasi yang ada dalam suatu merek. Asosiasi yang paling berhubungan akan membentuk brand image dari merek tersebut. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut (Engel et al. 1994 diacu dalam Durianto et al. 2004).

di mana: C = banyaknya variabel (asosiasi) Ri = jumlah baris jawaban ya Cj = jumlah kolom jawaban ya N = total sampel Nilai Q yang diperoleh di atas dibandingkan dengan nilai X2 tabel dengan tertentu untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar asosiasi. Jika terjadi kondisi Q > X2 tabel (,db), maka Ho atau asosiasi-asosiasi yang diuji tidak membentuk brand image dari suatu merek. Sebaliknya jika Q < X2 tabel (,db), maka terima Ho atau asosiasi-asosiasi yang diuji saling berhubungan membentuk brand image dari suatu merek. Hal tersebut akan dipaparkan pada analisis brand association.
19

2.3.8 Importance-Performance Analysis (IPA) Untuk analisis perbandingan performance (yang menunjukkan kinerja suatu merek produk) dengan importance (yang menunjukkan harapan responden yang terkait dengan variabel yang diteliti) digunakan diagram cartesius yang terbagi atas empat kuadran yang menggambarkan kondisi yang berbeda-beda (Durianto et al. 2004). Perbandingan performance dengan importance dirangkum dalam diagram cartesius yang terbagi atas empat kuadran yang dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar Diagram Cartesius Importance and Performance Analysis Untuk menganalisis persepsi kualitas merek, perbandingan importance dan performance. Importance yang digunakan adalah harapan responden yang terkait dengan variabel yang diteliti, sedangkan performance yang dimaksud adalah kinerja suatu produk. Subyek pengukuran perceived quality adalah responden yang merupakan pelanggan (pengguna) merek tersebut dan pengukuran dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mengenai persepsi pelanggan seputar atribut produk. Perceived quality mempunyai peranan penting dalam membangun suatu merek. Persepsi kualitas yang positif akan mendorong keputusan pembelian dan menciptakan loyalitas terhadap produk tersebut, sebaliknya jika persepsi kualitas pelanggan negatif maka produk tidak akan disukai dan tidak akan bertahan lama di pasar. Untuk membangun kepercayaan pelanggan maka pihak manajemen perusahaan perlu mempelajari dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perceived quality.

20

Gambar contoh model hasil penelitian dengan Importance-Performance Analysis 2.3.9 Brand Switching Pattern Matrix Analisis ini digunakan untuk menghitung Possibility Rate of Transitation (kemungkinan perpindahan merek) dari merek-merek yang diteliti. Semakin besar nilai ProT yang diperoleh maka semakin kecil tingkat loyalitas pelanggan. Formula yang digunakan (Durianto et al. 2004):

di mana: ProT = kemungkinan tingkat perpindahan merek Alx = konsumen yang tetap setia/loyal terhadap merek yang bersangkutan Atx = total konsumen yang diteliti dari merek x yang bersangkutan t = banyaknya/jumlah penelitian

21

III.

EXAMPLE (CONTOH KASUS)

3.1 Consumer-based Brand Equity and Country-of-Origin Relationships. Some Empirical Evidence Peneliti: Pappu, R., Quester, P.G. and Cooksey, R.W. (2006). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh country of origin terhadap ekuitas merek melalui dimensi-dimensinya. Hasil Penelitian Country of origin mempunyai pengaruh dalam meningkatkan ekuitas merek. Country of origin menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih suatu produk atau jasa. Menjadi bahan pertimbangan bahwa country of origin dapat ditambahkan dalam konsep marketing mix. Model Penelitian

3.2 The Impacts of Country-of-Origin on Brand Equity Peneliti Lin, C.H., and Kao, D.T. (2004). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh country of origin terhadap ekuitas merek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian secara tidak langsung, country of origin mempunyai pengaruh terhadap ekuitas merek. Melalui persepsi konsumen mengenai country of origin (country of origin perception), konsumen mengambil keputusan untuk melakukan pembelian yang selanjutnya akan meningkatkan ekuitas merek. Model Penelitian tersaji pada gambar berikut:

22

3.3 Family as a Source of Consumer-based Brand Equity Peneliti Gil, R.B., Andrs, E.F. and Salinas, E.M. (2007). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh informasi dari keluarga (family information) dan kegiatan pemasaran, dimana promosi penjualan termasuk di dalamnya, terhadap ekuitas merek melalui dimensidimensinya. Hasil Penelitian Marketing communication yang berasal dari keluarga, mempengaruhi penciptaan ekuitas merek. Faktor lain yang dapat meningkatkan ekuitas merek yaitu dengan melakukan kegiatan pemasaran yang diantaranya adalah promosi penjualan. Model Penelitian digambarkan sebagai berikut:

3.4 Customers Cognitive, Emotional, and Actionable Response to the Servicescape: A test of the moderating effect of the restaurant type Peneliti Kim, W.G. and Moon, Y.J. (2008). Tujuan penelitian adalah menganalisis efek psikologis konsumen, dimana physical environment atau serviscapes mempengaruhi persepsi kualitas (perceived quality), rasa nyaman (pleasure feeling) dan pembelian ulang (revisit intention). Hasil Penelitian Servicescape atau physical environment berpengaruh terhadap persepsi kualitas dan perasaan nyaman, yang kemudian akan memberikan pengaruh juga terhadap keinginan untuk melakukan pembelian ulang (revisit intention). Adapun model penelitiannya adalah sebagai berikut:

23

3.5 Are Brands Forever? How Brand Knowledge and Relationships Affect Current and Future Purchases Peneliti Esch, F.R., Langner, T., Schmitt, B.H., and Geus, P. (2006). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh brand knowledge yang terdiri atas kesadaran merek (brand awareness) dan citra merek (brand image) terhadap keputusan pembelian, baik waktu sekarang (current purchase) maupun di masa yang akan datang (future purchase). Hasil Penelitian Brand awareness dan brand image secara parsial berpengaruh terhadap keputusan pembelian (current purchase dan future purchase). Model penelitiannya adalah sebagai berikut:

24

3.6 Customer Repurchase Intention. A General Structural Equation Model Peneliti Hellier, P.K., Geursen, G.M., Carr, R.A. and Rickard, J.A. (2003). Tujuan Penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli ulang (repurchase intention). Hasil Penelitian Repurchase intention dipengaruhi beberapa faktor, dimana dari dua variabel yang berpengaruh langsung mempunyai anteseden perceived quality. Maka dapat disimpulkan bahwa, secara tidak langsung persepsi kualitas (perceived quality) berpengaruh terhadap repurchase intention. Model penelitian tampak pada gambar berikut:

Analisis ekuitas merek memberikan nilai dan manfaat sebagai berikut: 1. Ekuitas merek yang kuat dapat mempertinggi keberhasilan program dalam memikat konsumen baru atau merangkul kembali konsumen lama. Promosi yang dilakukan akan lebih efektif jika merek dikenal.Ekuitas merek yang kuat dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap ekuitas merek.
2. Empat elemen ekuitas merek (kesadaran merek, assosiasi merek, persepsi kualitas, dan

loyalitas merek) serta aset-aset merek lainnya dapat mempengaruhi alasan pembelian konsumen.
3. Assosiasi merek sangat penting sebagai dasar strategi positioning maupun strategi

perluasan produk.
4. Ekuitas merek yang kuat akan memberikan harapan bagi perusahaan untuk memperoleh

margin yang lebih tinggi dengan menerapkan harga premium, dan mengurangi ketergantungan promosi sehingga dapat diperoleh laba yang lebih tinggi.

25

Ekuitas merek yang kuat juga dapat digunakan sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perluasan merek kepada produk yang lainnya serta mampu meningkatkan penjualan karena mampu menciptakan loyalitas saluran pemasaran.

26

27

DAFTAR PUSTAKA Buku Teks Aaker DA. 1997. Manajemen Ekuitas Merek: Memanfaatkan Nilai dari Suatu Merek. Jakarta: Penerbit Mitra Utama. Aaker DA. 1997. Managing Brand Equity: Capitalizing on The Value of a Brand Name. Seventh Editions. New York: The Free Press. Aaker, DA., V. Kumar, George S.Day. 2001. Marketing Research. New York: John Willey and Sons Inc. Arbuckle, J.L. (2000), Amos Users Guide, Version 4.01, Chicago, Smallwaters Corporations. Arikunto, S. (1997), Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta, Edisi 5. Budiyuwono, N. (1988), Pengantar Statistik Ekonomi dan Perusahaan, Yogyakarta, BPFE, Jilid 2. Cooper, D.R. dan Emory, C.W. (1995), Metode Penelitian Bisnis, Jakarta, Penerbit Erlangga, Jilid 1, Edisi kelima Durianto D, Sugiarto, Sitinjak T. 2004. Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. East, R. Malcolm W., Marc V. 2008. Consumer Behaviour: Applications in Marketing. London: Sage Publication Inc. Engel JF, Blackwell RD, Miniard PW. 1994. Perilaku Konsumen. Terjemahan dari: Binarupa Aksara, Jakarta. Ferdinand, A. (2002), Structural Equation Modeling dalam Penelitian Manajemen : Aplikasi Model-model Rumit dalam Penelitian untuk Tesis Magister dan Disertasi Doktor, BP UNDIP. ___________. (2006), Structural Equation Modeling dalam Penelitian Manajemen : Aplikasi Model-model Rumit dalam Penelitian untuk Tesis Magister dan Disertasi Doktor, BP UNDIP. Hair, J.F., Anderson, R.E., Tatham, R.L., and Black, W.C. (1995), Multivariate Data Analysis, Prentice Hall International, Inc, 4th edition. Hofstede, G. (1980), Cultures Consequences: International Differences in Work-Related Values, Sage Publications, Beverly Hills, CA (Book Review)
28

Keller, K.L. (2003), Strategic Brand Management, Prentice-Hall Kotler, P., Bowen, J. and Makens, J. (1999), Marketing for Hospitality and Tourism, Prentice-Hall Inc Keller KL. 1999. Managing Brands for the Long Run: Brand Reinforcement and Revitalization Strategic. California Management Review, Spring Vol.14 Kinner TC, Taylor JR. 1991. Marketing Research an Applied Approach. New York: McGraw Hill, Inc. Kottler P. 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol. Terjemahan dari: Jilid Pertama Edisi ke delapan. Jakarta: PT Prenhallindo. Levens, M. 2010. Marketing: Defined, Explained, Applied. New Jersey : Pearson Education Inc. as Prentice Hall. Simamora, B. (2001), Remarketing for Business Recovery : Sebuah Pendekatan Riset, Gramedia Pustaka Utama Singgih, S. (2003), Statistik Deskriptif : Konsep dan Aplikasi dengan Microsoft Excel dan SPSS , Yogyakarta, ANDI. Sumarwan U. 2003. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: PT Ghalia Indonesia. Umar H. 2002. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Kerjasama Jakarta Business Research Centre (JBRC) dan PT Gramedia Pustaka Utama.

29

Artikel Jurnal Aaker, D.A. (1996), Measuring Brand Equity Across Product and Market, California Management Review, Vol. 38 No. 3, pp. 102-121. Ahmed, Z.U., Johnson, J.P. and Yang, X., Fatt, C.K., et al. (2004), Does Country of Origin Matter For Low-involement Products ?, International Marketing Review, Vol. 21 No. 1, pp.102-120. Al-Sulaiti, K.I. and Baker, M.J. (1998), Country of Origin effects: A Literature Review, Marketing Intelligence and Planning, Vol. 16 No. 3, pp. 150-99. Bailey, W. and Guiterrez de Pineres, S.A. (1997), Country of Origin Attitudes in Mexico: The Malinchismo Effect, Journal of International Consumer Marketing, Vol. 9 No. 3, pp. 2541. Baker, J., Girewal, D. and Parasuraman, A. (1994), The Influence of the Store Environment on Quality Inferences and Store Image, Journal of the Academy of Marketing Science, Vol.22, Fall, pp.328-39. Beverland, M. and Lindgreen, A. (2002), Using Country of Origin in Strategy : The Importance of Context and Strategic Action, Journal of Brand Management, Vol. 10 No. 2, pp. 147167 Bitner, M.J. (1990), Evaluating Service Encounters: The Effects of Physical Surroundings and Employee Responses, Journal of Marketing, Vol.57, pp.69-82. ____________(1992), Servicescapes: The Impact of Physical Surroundings on Customers and Employees, Journal of Marketing, Vol.56, pp.57-71. Butcher, K. (2005), Differential Impact of Social Influence in the Hospitality Encounter, International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 17 No. 2/3, pp. 125135. Chandon, P., Wansink, B. and Laurent, G. (2000), A Benefit Congruency Framework of Sales Promotion Effectiveness, Journal of Marketing, Forthcoming. Chernatony, L. and Segal-Horn, S. (2003), The Criteria for Successful Service Brands, European Journal of Marketing, Vol. 37 No. 7/8, pp. 1095-1118. Cobb-Walgren, C., Ruble, C.A. and Donthu, N. (1995), Brand Equity, Brand Preference, and Purchase Intent, Journal of Advertising, Vol. 24 No. 3, pp. 25-40. Dawar, N. (2004), What Are Brands Good For?, MIT Sloan Management Review, Vol. 46 No. 1, pp. 30-39.
30

Esch, F.R., Langner, T., Schmitt, B.H., and Geus, P. (2006), Are Brands Forever? How Brand Knowledge and Relationships Affect Current and Future Purchases, Journal of Product and Brand Management, Vol. 15 No. 2, pp. 98-105. Fen, Y.S. and Lian, K.M. Service Quality and Customer Satisfaction: Antecedencts of Customers Re-Petronage Intentions, Sunway Academic Journal 4, KDU College, pp.59-73. Fitrahdini, Ujang, S., Rita N. (2010). Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Ekuitas Merek Produk Es Krim, Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen. Vol. 3, No. 1, Januari 2010, hal. 74-81. Fournier, S. (1998), Consumers and their Brands: Developing Relationship Theory in Consumer Reseacrh, Journal of Consumer Marketing, Vol. 24 No. 4, pp.343-374. Gil, R.B., Andrs, E.F. and Salinas, E.M. (2007), Family as a Source of Consumer-based Brand Equity, Journal of Product & Brand Management, Vol. 16 No. 3, pp. 188-199. Grewal, D., Khrisnan, R., Baker, J. and Borin, N. (1998), The Effect of Store Name, Brand Name and Price Discounts on Consumers Evaluations and Purchase Intentions, Journal of Retailing, Vol. 74 No. 3, pp. 331-152. Grhan-Canli, Z. and Maheswaran, D. (2000), Cultural Variations in Country of Origin Effects, Journal of Marketing Research, Vol. 37 No. 3, pp. 309- 317. Hannam, K. (2004), Tourism and Development II: Marketing Destinations, Experiences and Crisis, Progress in Development Studies, Vol. 4 No. 3, pp. 256-263. Hellier, P.K., Geursen, G.M., Carr, R.A. and Rickard, J.A. (2003), Customer Repurchase Intention. A General Structural Equation Model, European Journal of Marketing, Vol. 37 No. 11/12, pp. 1762-1800. Hicks, J.M., Page Jr, T.J., Behe, B.K., Dennis, J.H., Fernandez, R. and Thomas. (2005), Delighted Consumers Buy Again, Journal of Consumer Satisfaction, Dissatisfaction and Complaining Behaviour, Vol. 18, pp. 94- 104. Insch, G.S. and McBride, J.B. (1998), Decomposing the Country-of-Origin Construct: An Empirical Test of Country of Design, Country of Parts and Country of Assembly, Journal of International Consumer Marketing, Vol. 10 No. 4, pp. 69-91. Jacoby, J. and Kyner, D.B. (1973), "Brand Loyalty Versus Repeat Purchasing", Journal of Marketing Research, Vol. 10, February, pp. 1-9. Jedidi, K., Mela, C.F. and Gupta, S. (1999), Managing Advertising and Promotion for Long-Run Profitability, Marketing Science, Vol. 18 No.1, pp.1-22.
31

Keller, K.L. (1993), Conseptualizing, Measuring, and Managing Customer- Based on Brand Equity, Journal of Marketing, Vol. 57 No. 1, pp. 1-22. _____, K.L. and Sood, S. (2003), Brand Equity Dilution, MIT Sloan Management Review, Vol. 45 No.1, pp.12-15. Kim, W.G. and Kim, H.B. (2004), Mesuaring Customer-based Restaurant Brand Equity, Cornell Hotel and Restaurant Administration Quaterly, Vol. 45 No. 2, pp.115-131. ____ . and Moon, Y.J. (2008), Customers Cognitive, Emotional, and Actionable Response to the Servicescape: A Test of the Moderating Effect of the Restaurant Type, International Journal of Hospitality Management. Lane, V. and Jacobson, R. (1995) Stock Market reactions to brand extention announcements: The effects of brand attitude and familiarity, Journal of Marketing, Vol. 59 No.1, pp. 63-77. Lassar, W., Mittal, B. and Sharma, S. (1995), Measuring Customer-Based Brand Equity, Journal of Consumer Marketing, Vol.12 No.4, pp. 11-19. Leclerc, F., Schmitt, B.H. and Dube, L. (1994), Foreign Branding and its Effects on Product Perceptions and Attitudes, Journal of Marketing Research, Vol. 31 No.2, pp. 263-270. Lin, C.H., and Kao, D.T. (2004), The Impacts of Country-of-Origin on Brand Equity, The Journal of American Academy of Business, Cambridge, September Lozito, W. (2004), Brands: More Than a Name, Restaurant Hospitality, Vol. 88 No. 9, pp. 5658. Macdonald, E.K. and Sharp, B.M. (2000), Brand Awareness Effects on Consumer Decision Making for a Common, Repeat Purchase Product: A Replication, Journal of Business Research, Vol. 48, pp. 5-15. Mattila, A.S. (2001), Emotional Bonding and Restaurant Loyalty, Cornell Hotel and Restaurant Administration Quaterly, Vol. 42 No. 6, pp. 73-79. Morgan, R.P. (2000), A Consumer-Orientated Framework of Brand Equity and Loyalty, International Journal of Market Research, Vol. 42 No. 1, pp. 65-78. Morgan, M. (2003), Destination Branding: Creating the Unique Destination Proportion, Journal of Vacation Marketing, Vol. 10 No. 1, pp.87-88. Mustafa,T. (1999), Increasing Brand Loyalty in The Hospitality Industry, International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 11 Iss. 5, pp. 223-230. Nagashima, A. (1970), A Comparison of Japanese and U.S. Attitudes Toward Foreign Products, Journal of Marketing (pre-1986), Vol. 34 No. 1, pp.68- 74.
32

OCass, A., and Grace, D. (2004), Exploring Consumer Experiences with a Service Brand, Jornal of Product and Brand Management, Vol.13 no.4, pp.257-268. Onkvisit, S. and Shaw, J.J. (1989), Service Marketing: Image, Branding, and Competition, Business Horizons, Vol. 32, January-February, pp. 13-18. Osselaer, S.M.J.V and Alba, J.W. (2000), Consumer Learning and Brand Equity, Journal of Consumer Research, Vol. 27, June, pp. 1-16. _____________________________. (2003), Locus of Equity and Brand Extension, Journal of Consumer Research, Vol. 29 No.4, pp. 539-550. Ozretic-Desen, D., Skare, V. and Krupka, Z. (2007), Assessments of Country of Origin and Brand Cues in Evaluating a Croatian, Western and Eastern European Food Product. Journal of Business Research, Vol. 60, pp. 130-136. Pappu, R., Quester, P.G. and Cooksey, R.W. (2006), Consumer-based Brand Equity and Countryof-Origin Relationships. Some Empirical Evidence, European Journal of Marketing, Vol. 40 No. 5/6, pp. 696-717. Paswan, A.K., Kulkarni, S. and Ganesh, G. (2003), Loyalty Towards the Country, the State and the Service Brands, Journal of Brand Management, Vol. 10 No. 3, pp. Paswan, A.K. and Sharma, D. (2004), Brand-Country of Origin (COO) Knowledge and COO Image : Investigation in an Emerging Franchise Market, Journal of Product & Brand Management, Vol. 13 No. 2/3, pp. 144-155. Peyrot, M. and Van Doren, D. (1994), Effect of a Class Action Suit on Consumer Repurchase Intention, The Journal of Consumer Affairs, Vol. 28 No. 2, pp. 361-379. Phau, I. and Sutornnond, V. (2006), Dimensions of Consumer Knowledge and its Impacts on Country of Origin Effects Among Australian Consumers: A Case of Fast-Consuming Product, Journal of Consumer Marketing, Vol. 23 No. 1, pp. 34-42. Pecotich, A. and Ward, S. (2007), Global Branding, Country of Origin and Expertise : An Experimental Evaluation, International Marketing Review, Vol. 24 No. 3, pp. 271-296. Pedraja, M., Yage, J. (2001), What Information Do Customer Use When Choosing a Restaurant?, International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 13 No. 6, pp. 316-318. Prasad, K. and Dev, C.S. (2000), Managing Hotel Brand Equity, Cornell Hotel and Restaurant Administration Quarterly, Vol. 41 No. 3, pp. 22-31. Ramos, A.F.V. and Snchez-Franco, M.J. (2005), The Impact of Marketing Communication and Price Promotion on Brand Equity, Brand Management, Vol. 12 No. 6, pp.
33

Rust, R.T., Zahorik, A.J. and Keiningham, T.L. (1995), Return on Quality (ROQ): Making Service Quality Financially Accountable, Journal of Marketing, Vol. 59, April, pp. 58-70. Ryu, K. and Jang, S. (2007), The Effect of Enviromental Perceptions on Behavioral Intention through Emotions: The Case of Upscale Restaurant, Journal of Hospitality and Tourism Research, Vol.31 No.1, pp.56-77. Shocker, A.D., Srivastava, R.K. and Ruekert W. (1994), Challenges and Opportunities Facing Brand Management: An Introduction to the Special Issue, Journal of Marketing Research, Vol. 31 No. 2, pp.149-153. Shostack, G.L (1977), Breaking Free from Product Marketing, Journal of Marketing, 41 (April), pp.73-80. Sihombing, S.A. (2005), The Influence of Country of Origin, Consumer Ethnocentrism, and Consumer Attitude toward Purchase Intention of Domestic and Foreign Brand, Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Vol. 12, No.1, Hal 1-22. Smith, D.J., Gradojevic, N. and Irwin, W.S. (2007), An Analysis of Brand Equity Determinants: Gross Profit, Advertising, Research, and Development, Journal of Business & Economics Research, Vol. 5 No.11, pp. 103-116 Sderlund, M. and hman, N. (2003), Behavioral Intentions in Satisfaction Research Revisited, Journal of Consumer Satisfaction, Dissatisfaction and Complaining Behavior, Vol. 12, pp. 53-66. Spais, G.S. and Vasileiou, K. (2002), Path Modeling The Antecedent Factors to Consumer Repurchase Intentions for Advanced Technological Food Products: Some Correlations Between Selected Factor Variables, Journal of Business Case Studies, Vol. 2 No. 2, pp. 45-72. Taylor, S.A., Celuch, K. and Goodwin, S. (2004), The Importance of Brand Equity to Customer Loyalty, Journal of Product & Brand Management, Vol. 13 No. 4, pp. 217-227. Thakor, M.V. and Katsanis, L.P. (1997), A Model of Brand and Country Effects on Quality Dimensions: Issues and Implications, Journal of International Consumer Marketing, Vol. 9 No.3, pp. 79-100. Wakefield, K.L., and Blodgett, J.G. (1996), The Effect of the Servicescapse on Customers Behavioral Intentions in Leosure Service Settings, The Journal of Service Marketing, Vol.10 No.6, pp.45-61. Widjaja, M., Wijaya, S. dan Joko, R. (2007), Analisis Penilaian Konsumen terhadap Ekuitas Merek Coffee Shops di Surabaya, Jurnal Manajemen Perhotelan, Vol.3, No.2, September 2007 hal.89-101. Williams, A. (2006), Tourism and Hospitality Marketing: Fantasy, Feeling and Fun, International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 18 No. 6, pp. 482-495. Yasin, N.M., Noor, M.N. and Mohamad, O. (2007), Does Image of Country of Origin Matter to Brand Equity? Journal of Product and Brand Management, Vol. 16 No. 1, pp. 38-48.
34

Yoo, B., Donthu, N. and Lee S. (2000), An Examination of Selected Marketing Mix Elements and Brand Equity. Journal of Academy of Marketing Science, Vol. 28 No. 2, pp. 195-211.

35

Anda mungkin juga menyukai