Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses yang selalu menyertai dalam kehidupan sehari-sehari, belajar tidak selalu dengan membaca buku, menulis menghafal dan lain sebagainya. Karena dimana belajar merupakan kegiatan dari tidak tahu menjadi tahu dalam segala bidang kehidupan dan lingkupnya tidak hanya sebatas pada suatu pengetahuan dalam ilmu pelajaran tetapi juga dalam ilmu kehidupan. Kegiatan bisa dikatakan belajar ketika pengetahuan seseorang bertambah. Setiap orang memiliki interprestasi sendiri-sendiri mengenai definisi dan makna mengenai belajar. Dalam institusi formal seperti sekolah biasanya proses belajar disebut sebagai kegiatan pembelajaran. Pembelajaran ini merupakan sebuah proses yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan system lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil optimal. Setiap kegiatan memiliki suatu tujuan seperti halnya kegiatan pembelajaran yang terjadi dalam institusi formal yang dimana tujuan tersebut dirangkumkan dalam suatu kurikulum dan di tuangkan dalam silabus agar setiap kegiatan pembelajaran yang disebutkan sebagai kompetensi dasar menjadi kegiatan yang benar-benar bertujuan. Tujuan dari proses kegiatan ini sebenarnya tidak hanya mencakup sisi kognitif saja tetapi hendaknya mencakup sisi afektif dan psikomotor jadi pembelajaran menjadi suatu kegiatan yang melibatkan seluruh rangkaian kegiatan otak. Sebagai calon pendidik perlu mengkaji lebih dalam mengenai pembelajaran, system pembelajaran, tujuan pembelajaran

bahkan metode pembelajaran jangan sampai pembelajaran yang terjadi secara formal hanya untuk mencapai tujuan formal saja karena itu akan menjadi kegiatan yang sia-sia, kita sejatinya sebagai manusia lebih banyak menghabiskan aktifitasnya dalam lingkungan non formalnya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana konsep dasar pembelajaran? 2. Bagaimana prinsip pembelajaran? 3. Bagaimana Pembelajaran menjadi sebuah kegiatan yang bertujuan?

C. Tujuan Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan dalam makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui konsep dasar pembelajaran. 2. Untuk mengetahui prinsip pembelajaran. 3. Untuk mengetahui kegiatan Pembelajaran sebagai kegiatan yang bertujuan.

BAB II

ISI

A. Konsep Dasar Pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan sangat

mempengaruhi cara guru itu mengajar. pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Gagne dan Briggs (1979:3), Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (UU No. 20/2003, Bab I Pasal Ayat 20), Istilah pembelajaran sama dengan instruction atau pengajaran. Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan. (Purwadinata, 1967; 22). Dari berbagai pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses sesorang untuk mencapai tujuan pendidikan yang dilakukan dengan proses interaksi melalui seseorang (guru). 2. Metode Pembelajaran Metode adalah cara yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, sehingga metode pembelajaran yaitu bagaimana cara melaksanakan kegiatan pembelajaran agar tercapai tujuan

pembelajaran. Ada banyak metode pembelajaran seperti metode latihan, metode tanya jawab, metode diskusi, metode ceramah, metode

sosiodrama dan masih banyak lagi dimana untuk memilih metode yang tepat dalam pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut ini : a. Tujuan yang hendak dicapai b. Kemampuan pendidikan c. Kebutuhan peserta didik d. Isi atau materi pembelajaran Dengan demikian metode pembelajaran ini sebagai langkah pembelajaran dalam mencapai tujuan yang sebenarnya. e. Komponen Pembelajaran 1) Pendidik Pendidik merupakan seorang instruktur dari sebuah pembelajaran, dalam institusi formal pendidik adalah seorang guru. Peran guru dalam aktivitas pembelajaran sangat kompleks. Guru tidak sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal. Djamarah (2000) merumuskan peran guru dalam pembelajaran sebagai berikut : a) Korektor Guru berperan menilai dan mengoreksi semua hasil belajar, sikap, tingkah laku, dan perbuatan siswa baik di sekolahan maupun di luar sekolahan sehingga pada akhirnya siswa dapat mengetahui. b) Inspirator Guru harus dapat memberikan inspirasi atau ilham kepada siswa mengenai cara belajar yang baik. c) Informator Guru harus dapat memberikan informasi yang baik dan efektif mengenai materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam

kurikulum serta informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. d) Organisator Guru berperan untuk mengelola berbagai kegiatan akademik baik intrakurikuler maupun ekstrakulikuler sehingga tercapai efektivitas dan efisien belajar anak didik. Diantara berbagai kegiatan pengelolaan pembelajaran yang terpenting adalah menciptakan kondisi dan situasi sebaik-baiknya sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdayaguna dan berhasil guna. e) Motivator Guru dituntut untuk mendorong anak didiknya agar senantiasa memiliki motivasi tinggi dan aktif belajar. f) Inisiator Guru hendaknya dapat menjadikan pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses pembelajaran hendaknya selalu diperbaiki sehingga dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. g) Fasilitator Guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang

memungkinkan agar anak didik dapat belajar secara optimal. Fasilitas yang disediakan tidak hanya fasilitas fisik seperti ruang kelas yang memadai atau media belajar yang lengkap, akan tetapi juga fasilitas psikis seperti kenyamanan batin dalam belajar, interaksi yang harmonis antara guru denagn anak didik, maupun adanya dukungan penuh guru sehingga anak didik senantiasa memiliki motivasi tinggi dalam belajar. h) Pembimbing Guru hendaknya dapat memberikan bimbingan kepada anak didinya dalam menghadapi tantangan maupun kesulitan belajar. Akhirnya, diharapkan melalui bimbingan ini anak didik dapat

mencapai kemandirian dalam mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. i) Demonstrator Guru dituntut untuk dapat memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis sehingga anak didik dapat memahami materi yang dijelaskan guru secara optimal. j) Pengelola Kelas Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat berhimpun guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan pengelolaan yang baik diharapkan siswa dapat memiliki motivasi tinggi dalam belajar dan pada akhirnya dapat mencapai hasil belajar yang optimal. k) Mediator Guru dapat berperan sebagai penyedia media dan penengah dalam proses pembelajaran anak didik. Melalui guru, siswa dapat memperoleh materi pembelajaran dan umpan balik dari hasil belajar. l) Supervisor Guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis proses pembelajaran yang dilakukan sehingga pada akhirnya proses pembelajaran dapat optimal. m) Evaluator Guru dituntut untuk mampu menilai produk (hasil)

pembelajaran serta proses (jalannya) pembelajaran. Dari proses ini diharapkan diperoleh umpan balik dari hasil pembelajaran untuk optimalisasi hasil pembelajaran. 2) Peserta didik Peserta didik merupakan subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Dahulu seseorang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan juga orang dewasa.

Menurut M. J. Langeveld persoalan yang berhubungan dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik sebagai berikut : a) Sifat Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbdeda dengan sifat hakikat kedewasaan. b) Sikap Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan peserta didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik. 3. Lingkungan Pembelajaran Lingkungan pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu yang ada diluar dari komponen pembelajaran namun lingkungan ini sangat berpengaruh proses pembelajaran. Dalam GBHN disebutkan pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pembelajaran yang merupakan bagian dari pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, pemerintah dan masyarakat. (Hendrowibowo, 2011:148) Ki Hajar Dewantara membedakan lingkungan pendidikan berdasarkan pada kelembagaan, yaitu : a. Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama. Karena dalam keluarga itulah kepribadian anak terbentuk. Keluarga inilah yang yang dikenal oleh anak sebagai kesatuan hidup bersama.

b. Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah yaitu lingkungan pendidikan yang

mengembangkan dan meneruskan pendidikan anak menjadi warga negara yang cerdas, trampil dan bertingkah laku baik. c. Lingkungan Organisasi Pemuda Lingkungan ini diharapkan mampu membina pemuda dan pemudi melalui pendidikan sendiri, memadukan perkembangan

kecerdasan, budi pekerti dan perilaku sosial. Dari serangkaian pembahasan diatas diawali dengan pengertian pembelajaran, kemudian metode pembelajaran, komponen

pembelajaran dan yang terakhir tentang lingkungan pembelajaran ini dimaksudkan untuk menjelaskan mengenai konsep pembelajaran secara utuh, jadi jika diibaratkan pembelajaran adalah suatu mobil yang memiliki tempat tujuan (tujuan pembelajaran), dimana tujuan itu tidak hanya untuk memarkirkan mobilnya (menyimpan ilmu pengetahuan) namun juga menuju tujuan yang memilki

kebermanfaatan (ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan) dan metode merupakan sebuah kendali, hal-hal yang mengatur perjalanan dan komponen yang merupakan bagian-bagian serta lingkungan merupakan kondisi selama perjalanan mobil itu dengan demikian untuk membahas mengenai bahasan selanjutnya memegang satu konsep yang utuh. B. Prinsip Pembelajaran Prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual. 1. Perhatian dan motivasi Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan

pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Motivasi erat kaitannya dengan minat.siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang di anggap penting dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut mengubah tingkah laku dan motivasinya. Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain. Motivasi dibedakan menjadi dua: a. Motif intrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. b. Motif ekstrinsik. Motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyerta. Contohnya siswa belajar dengan sungguh-sungguh bukan dikarenakan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar. Motif ekstrinsik dapat berubah menjadi motif intrinsik yang disebut transformasi motif. Sebagai contoh, seseorang belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya

menjadi seorang guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu untuk menyenangkan hati orang tuanya,tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu semula ekstrinsik menjadi intrinsik. 2. Keaktifan Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalaminya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah. Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Dalam proses balajar mengajar anak mampu mengidantifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan. Dalam setiap proses belajar siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain. 3. Keterlibatan langsung/berpengalaman.

Menurut Edgar Dale, dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya, mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Belajar secara langsung dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Belajar harus dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan

internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan

keterampilan. 4. Pengulangan Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya law of exercise, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan

hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatan-pengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar Pada teori psikologi Conditioning, respons akan timbul bukan karena oleh stimulus saja tetapi oleh stimulus yang di kondisikan, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas, mobil berhenti pada saat lampu merah.

Ketiga

teori

tersebut

menekankan

pentingnya

prinsip

pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. 5. Tantangan Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. 6. Balikan dan penguatan Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effectnya Thorndike. Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal ini

juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. 7. Perbedaan individu Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

C. Pembelajaran sebagai kegiatan bertujuan Pembelajaran merupakan bagian dari proses pendidikan, yang keduanya memiliki tujuan yang sama, tujuan ini di implementasikan dalam sebuah kurikulum sehingga dapat berlaku secara umum. Tujuan pendidikan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam merancang kurikulum, terutama dalam memilih dan menetapkan materi, metode/proses dan menetapkan alat evaluasi. Tujuan juga sebagai alat untuk mengukur keberhasilan sebuah rancangan kurikulum Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang

berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970 hingga

sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.. Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan). Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian. Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa. Menurut (Dakir, -:21) Instructional Effect dari mata pelajaran (Bidang Studi) Nurturant effect yang diharapkan

Kelompok Eksakta Kelompok Sosial Kelompok Bahasa Kelompok Kesenian Kelompok Olah Raga Ketrampilan Agama PMP Kewarganegaraan

Disiplin, nalar, tegas, teliti Toleran, sabar, kritis

Menurut Bloom membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga kelompok, yaitu tujuan yang bersifat : 1. Kognitif Tujuan kognitif lebih berorientasi kepada kemampuan berfikir mencakup kemampuan intelektual yang sederhana seperti mengingat, sampai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah. Bloom mengelompokan tujuan yang bersifat kognitif ke dalam enam kategori yang secara hierarki, yang berarti tujuan pada level tinggi akan dicapai hanya apabila tujuan pada level rendah telah dikuasai. Tujuan tersebut meliputi, yaitu: a. Pengetahuan atau Pengenalan Tujuan pembelajaran pada level ini menuntut peserta didik untuk mengingat (recall) informasi yang telah diterima sebelumnya, misalnya : fakta, termonology, rumus, strategi pemecahan masalah, dan sebagainya. b. Pemahaman Tujuan pada kategoni ini berhubungan dengan kemampuan menjelaskan pengetahuan/informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. c. Penenrapan

Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi atau konteks yang baru. d. Analisis Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan, dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa komponen tesebut. e. Sintesis Pada level ini peserta didik dituntut untuk mampu mengkombinasikan elemen kedalam suatu kesatuan atau struktur yang lebih besar. f. Evaluasi Tingkayt evaluas adalah tingkat tertinggi dimana peserta didik diharapkan mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk dengan kriteria tertentu. 2. Afektif Tujuan afektif berhubungan dengan perasaan emosi, system nilai, dan sikap hati (attitude) yang menunjukan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Tujuan afektif yang paling sederhana, yaitu memperhatikan suatu fenomena sampai yang kompleks yang merupakan factor internal seseorang, seperti kepribadian dan hati nurani. Tujuan afektif menurut Krathwohl dibagi menjadi lima kelompok, yaitu : a. Pengenalan atau Penerimaan (Receiving) Peserta didik diharapakan hanya menerima stimulus atau bersikap pasif. b. Pemberian Respon (Responding) Keinginan untuk berbuat sesuatu sebagai reaksi terhadap suatu gagasan, benda, sisitem nilai, lebih sekedar suatu pengenalan saja. c. Penghargaan Terhadap Nilai (Valuing)

Penghargaan terhadap suatu nilai yang merupakan perasaan, keyakinan, atau anggapan bahwa suatu gagasan, benda, atau cara berfikir tertentu memiliki nilai. d. Pengorganisasian (Organization) Pengorganisasian menunjukkan saling berhubungan antara nilainilai tertentu dalam suatu sistem nilai, serta menentukan nilai mana yang mempunyai prioritas lebih tinggi dari pada nilai yang lain. e. Pengamalan (Charakterization) Pengamalan berhubungan denagan pengorganisasian dan

pengintegrasian nilai-nilai kedalam suatu sistem nilai pribadi. 3. Psikomotor Tujuan psikomotor berorientasi kepada kemampuan motorik, yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot. Secara hierarki tujuan psikomotor dibagi menjadi lima tingkat, yaitu : a. Meniru (immitation) Peserta didik diharapkan dapat meniru perilaku yang dilihatnya.

b. Manipulasi (Manipulation) Peserta didik diharapkan melakukan sesuatu perilaku tanpa melihat bantuan visual sebagaimana pada tingkat meniru. c. Ketetapan Gerakan (Precision) Peserta didik melakukan suatu perilaku tanpa menggunakan contoh visual atau petunjuk tertulis, dan melakukannya dengan, lancar, tepat, seimbang, dan akurat. d. Artkulasi (Artikulation) Peserta didik diharapkan untuk menunjukan serangkaian gerakan yang akurat, urutan yang benar, dan kecepatan yang tepat. e. Naturalisasi (Naturalization) Pada tingkat ini peserta didik diharapka melakukan gerakan tertentu secara spontan atau otomatis.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut diperlukan sebuah proses (Dakir :18) 1. Adanya situasi yang kondusif 2. Melakukan kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan baik 3. Adakan larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang berdasar 4. Berikan contoh-contoh tindakan yang sesuai dengan butir 3 5. Berikan pengertian-pengertian yang logis, sesuai dengan kemampuan peserta didik 6. Pengertian-pengertian yang dikuasai dan dihayati akan membentuk sikap (attitude) 7. Beberapa sikap yang serumpun akan mengendap membentuk nilai (values) 8. Nilai-nilai tersebut akan mengendap membentuk kepribadian (personality) Pembelajaran dikatakan sebagai kegiatan yang bertujuan tidak sekedar tujuan formal saja tetapi merupakan sebuah tujuan yang meliputi seluruh aspek kegiatan manusia hidup, jika bloom mengutarakan

bahwa ada tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Begitupun dengan teori otak yang mengutarakan bahwa setiap manusia harus cerdas secara intelligence, emosional dan spiritual nampaknya ini juga diimplementasikan dalam sebuah pembelajaran.

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

NOTE : minta tolong ya gina sayang 1. Dicek ejaannya, huruf besar kecil 2. Trus paragrafnya dirapiin 3. Kalo ada yang ga cucok di edit edit aja gapapa 4. Kalo ada yang kurang ditambahin aja 5. Kalo ada yang kurang lengkap dilengkapin ya 6. Minta tolong kesimpulan sama saran belum 7. Daftar pustaka besok ya :D