Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR VARIASI KONTINYU

MAKALAH

Oleh : Nama NRP Kelompok Meja Tanggal Praktikum Asisten : Nur Rahayu Setiawati : 113020117 :E : 1 (Satu) : 28 Oktober 2011 : Dandy Yusuf

LABORATORIUM KIMIA DASAR JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2011
I PENDAHULUAN

Bab ini menugaskan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Tujuan Percobaan, dan (3) Prinsip Percobaan. 1.1 Latar Belakang Variasi kontinyu adalah metode untuk memudahkan belajar stoikiometri. Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani, stoicheion (unsur) dan metrein (mengukur), berarti mengukur unsur-unsur. Pengertian unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel-partikel atom, ion, molekul atau elektron yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia. Stoikiometri menyangkut (perhitungan kimia) untuk menimbang dan menghitung spesi-spesi kimia. (Hiskia, 1991) Stoikiometri adalah istilah yang dipakai dalam menggambarkan bentuk kuantitatif dari reaksi dan senyawa kimia untuk menentukan rumus dan menentukan seberapa banyak berbagai zat kimia diperlukan bila kita akan melakukan reaksi kimia. Titik stoikiometri sendiri yaitu yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa. (Vogel, 1979) 1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari variasi kontinyu adalah untuk mengamati reaksi kimia yang kuantitas molar totalnya sama, tetapi kuantitas masing-masing pereaksinya berubah-ubah. Selain itu, untuk menentukan hasil reaksi kimia dari percobaan agar praktikan dapat dengan mudah menuliskan rumus dari suatu senyawa dan mempelajari stoikiometri. (Sutrisno, 2011) 1.3 Prinsip Percobaan

Dasar dari percobaan ini ialah metode variasi kontinyu. Dalam metode ini dilakukan sederet pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama tetapi kuantitas pereaksinya berubah-ubah (bervariasi). Salah satu sifat fisika tertentu dipilih untuk diamati seperti : massa, volume, suhu atau daya serap. Oleh karena itu kuantitas pereaksi berlainan, perubahan harga sifat fisika dari sistem ini dapat digunakan untuk meramalkan stoikiometri sistem. (Sutrisno, 2011) Selain itu variasi kontinyu mempunyai prinsip kerja. Sebagian contohnya adalah berdasarkan Hukum Boyle, yaitu digunakan pada suatu gas diukur pada tekanan dan temperatur tertentu. Serta Hukum Perbandingan Berganda menyatakan bahwa bila dua unsur berbeda jenis bergabung dengan membentuk lebih dari satu jenis senyawa maka jenis unsur pertama yang bereaksi dengan unsur kedua bermassa sama, perbandingan massanya merupakan bilangan bulat sederhana. Adapun hukum Perbandingan Tetap yaitu senyawa kimia dibentuk dari unsur-unsur dengan perbandingan massa yang tertentu dan tetap. (Hiskia, 1991)

II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menguraikan mengenai : (1) Hukum Kekekalan Massa, (2) Hukum Perbandingan Tetap, (3) Hukum Perbandingan Ganda, (4) Hukum-hukum Gas, (5)

Konsetrasi Larutan, (6) Molaritas, (7) Normalitas, (8) Molalitas, (9) Fraksi Mol, (10) Persen Berat, dan (11) Bagian per Juta. 2.1 Hukum Kekekalan Massa Hukum kekekalan Massa dikemukakan oleh Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794). Hukum tersebut berbunyi, Dalam suatu reaksi, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Dengan kata lain massa tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Artinya selama reaksi terjadi tidak ada atom-atom pereaksi dan hasil reaksi yang hilang. (Hasibuan, 2009) 2.2 Hukum Perbandingan Tetap Hukum perbandingan tetap atau hukum Proust (diambil dari nama kimiawan Perancis Joseph Proust). Hukum tersebut berbunyi, Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap. Keuntungan dari hukum Proust, bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk senyawa tersebut maka massa unsur lainnya dapat diketahui. (Hasibuan, 2009) 2.3 Hukum Perbandingan Berganda Hukum perbandingan berganda disebut juga hokum Dalton. Hukum ini diajukan John Dalton, ahli kimia Inggris sekaligus penemu teori atom modern. Hukum tersebut berbunyi, Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa salah satu unsur yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur kedua akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana. Pada hukum proust senyawa hanya satu tapi pada dalton bisa lebih dari satu.

2.4 Hukum-hukum Gas Hukum gas ideal menyatakan hubungan p, V, mol, dan T secara rinci. Untuk gas ideal berlaku persamaan : PV = nRT, dimana: P = tekanan gas (atmosfir) V = volume gas (liter) n = mol gas R = tetapan gas universal = 0.082 lt.atm/mol Kelvin T = suhu mutlak (Kelvin) Perubahan-perubahan dari P, V dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan kondisi-kondisi tertentu dicerminkan dengan hokum-hukum berikut: a. Hukum Boyle Hukum Boyle menyatakan bahwa volume gas berbanding terbalik dengan tekanannya. Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan,

n1 = n2 dan T1 = T2, sehingga diperoleh: P1 V1 = P2V2


b. Hukum Gay Lussac Hukum Gay Lussac berbunyi, Volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi bila diukur pada suhu dan tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana. Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan P1 = P2 dan T1 = T2 berlaku : V1 / V2 = n1 / n2 c. Hukum Boyle-Gay Lussac

Hukum ini merupakan perluasan dari hokum terdahuku dimana diturunkan keadaan dengan harga n = n2, sehingga diperoleh persamaan P1.V1/ T1 = P2.V2/T2. (Anshory, 1998) 2.5 Konsetrasi Larutan Konsetrasi larutan merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut.

Konsentrasi : jumlah zat tiap satuan volum (besaran intensif) Larutan encer : jumlah zat terlarut sangat sedikit Larutan pekat : jumlah zat terlarut sangat banyak Cara menyatakan konsentrasi: molar, molal, persen, fraksi mol, bagian per sejuta (ppm), dll. (Zulfikar, 2010)

2.6 Molaritas (M) Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan. Rumus Molaritas adalah :

(Zulfikar, 2010) 2.7 Normalitas (N) Normalitas merupakan jumlah mol-ekivalen zat terlarut per liter larutan. Terdapat hubungan antara Normalitas dengan Molaritas, yaitu :

Mol-ekivalen :

Asam/basa: jumlah mol proton/OH- yang diperlukan untuk menetralisir suatu asam / basa. (Zulfikar, 2010)

2.8 Molalitas (m) Molalitas adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut. Rumus Molalitas adalah :

(Zulfikar, 2010) 2.9 Fraksi Mol (X) Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol suatu komponen dengan jumlah total seluruh komponen dalam satu larutan. Fraksi mol total selalu satu. Konsentrasi dalam bentuk ini tidak mempunyai satuan karena merupakan perbandingan. (Zulfikar, 2010) 2.10 Persen Berat (% w/w) Persen berat menyatakan jumlah gram berat zat terlarut dalam 100 gram larutan. 2.11 Bagian per juta (part per million, ppm) ppm = massa komponen larutan (g) per 1 juta g larutan. Untuk pelarut air : 1 ppm setara dengan 1 mg/liter. (Zulfikar, 2010).

III ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR PERCOBAAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Alat-alat yang digunakan, (2) Bahanbahan yang digunakan, dan (3) Prosedur Percobaan. 3.1 Alat-alat yang digunakan

Gelas kimia, termometer, pipet volumetri, gelas ukur, dan pipet tetes. 3.2 Bahan digunakan NaOH 1 M, CuSO4 1 M dan HCl 1 M 33. Prosedur Percobaan 1. Gunakan larutan CuSO4 1 M dan NaOH 1 M. Masukkan 25 ml NaOH 1 M kedalam gelas kimia, setelah itu aduk lalu hitung suhunya menggunakan termometer dan catat temperaturnya. Di gelas kimia lainnya, masukkan 5 ml CuSO4 1 M, setelah itu aduk lalu hitung suhunya menggunakan termometer dan catat temperaturnya. Lalu masukkan larutan CuSO4 kedalam larutan NaOH, aduk campuran NaOH dan CuSO4. Setelah itu hitung suhunya menggunakan termometer dan catat temperaturnya. Ulangi percobaan selanjutnya menggunakan 20 ml NaOH dan 10 ml CuSO4, 15 ml NaOH dan 15 ml CuSO4, 10 ml NaOH dan 20 ml CuSO4, 5 ml NaOH dan 25 ml CuSO4.

+ 25 ml NaOH 1 M 5 ml CuSO4 1 M

20 ml NaOH 1 M

10 ml CuSO4 1 M

+ 15 ml NaOH 1 M 15 ml CuSO4 1 M

+ 10 ml NaOH 1 M 20 ml CuSO4 1 M

+ 5 ml NaOH 1 M 25 ml CuSO4 1 M

Gambar 1. NaOH 1 M dan CuSO4 1 M

2. Gunakan larutan HCl 1 M dan NaOH 1 M. Masukkan 5 ml NaOH 1 M kedalam gelas kimia, setelah itu aduk lalu hitung suhunya menggunakan termometer dan catat temperaturnya. Di gelas kimia lainnya, masukkan 25 ml HCl 1 M, setelah itu aduk lalu hitung suhunya menggunakan termometer dan catat temperaturnya. Lalu masukkan larutan HCl kedalam larutan NaOH, aduk campuran NaOH danHCl. Setelah itu hitung suhunya

menggunakan termometer dan catat temperaturnya. Ulangi percobaan selanjutnya menggunakan 10 ml NaOH dan 20 ml HCl, 15 ml NaOH dan 15 mlHCl, 20 ml NaOH dan 10 ml HCl, 25 ml NaOH dan 5 ml HCl.

+ 5 ml NaOH 1 M 25 ml HCl 1 M

+ 10 ml NaOH 1 M 20 ml HCl 1 M

+ 15 ml NaOH 1 M 15 ml HCl 1 M

+ 20 ml NaOH 1 M 10 ml HCl 1 M

25 ml NaOH 1 M

5 ml HCl 1 M

Gambar 2. NaOH 1 M dan HCl 1 M

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Hasil pengamatan, dan (2) Pembahasan 4.1 Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil Pengamatan Percobaan Variasi Kontinyu No. Sistem Hasil

1. 2.

NaOH 1 M dan CuSO4 1 M NaOH 1 M dan HCl 1 M

Tmax : (0,5 ; 3,75) Tmin : (5 ; 1) Tmax : (2,6)

Tmin : (0,2 ; 1,5) (5 ; 1,5) (Sumber : Nur Rahayu.S, meja 1, 2011)

Grafik 1. NaOH 1 M dan CuSO4 1 M

Grafik 2. NaOH 1 M dan HCl 1 M 4.2 Pembahasan Dasar percobaan ini adalah metode Variasi kontinyu. Dalam percobaan ini dilakukan sederet pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama, tetapi masingmasing kuantitas pereaksinya berubah-ubah. Salah satu sifat fisika tertentu di pilih untuk diperiksa seperti : massa, volume, suhu atau daya serap. Oleh karena itu, kuantitas pereaksi berlainan, perubahan harga sifat fisika dari sistem ini dapat digunakan untuk meramalkan stoikiometri sistem. Bila digambarkan grafik aluran sifat fisika yang diamati (diukur) terdapat kuantitas pereaksinya, maka akan diperoleh suatu titik maksimum atau minimum yang sesuai dengan titik

stoikiometri sistem. Yaitu yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi reaksi-reaksi kimia tersebut adalah kesterilan alat, yang jika kita memakai alat yang tidak steril kemungkinan besar hasil reaksi akan berkurang keakuratannya karena larutan yang dituangkan bisa saja bereaksi dengan zat yang masih bersisa di alat tersebut. Penggunaan termometer pun sangat berpengaruh terhadap proses percobaan ini. Jika termometer yang akan digunakan untuk mengukur suhu tidak dicuci bersih dengan air lalu dilap, maka suhu yang muncul di termometer akan terpengaruh oleh suhu larutan sebelumnya. Apabila kita salah dalam memegang termometer, suhu tubuh kita pun bisa terhitung oleh termometer, maka dari itu jika ingin menghitung suhu larutan jangan memegang termometernya langsung, tetapi memegang tali yang berada diatas termometer agar suhu tubuh kita tidak terhitung. Langkah-langkah perhitungan sesuai dengan permintaan soal : 1. Molaritas, M = n/V 2. Massa, m = n x Mr/Ar 3. Volume gas, V = n x 22,4 4. Molalitas, m = m = gram/Mr x 1000/p Titik maksimum atau minimum yang sesuai dengan titik stoikiometri sistem, yaitu yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa.

Titik maksimum adalah batas puncak suatu larutan dalam titik stoikiometri. Sedangkan titik minimum adalah batas akhir larutan dalam stoikiometri. Perbedaan antara praktikum reaksi kimia dengan praktikum variasi kontinyu, yaitu pada praktikum reaksi-reaksi kimia sebelumnya praktikan hanya meraksikan suatu zat yang kemudian dilihat secara kualitatif dengan menilai perubahan warna yeng terjadi, perubahan suhu, perubahan volume, timbulnya gas, dan timbulnya udata. Cara mereaksikan zat NaOH dengan HCl dan CuSO4 adalah dengan menuangkan langsung zat NaOH dan CuSO4 kedalam gelas kimia. Hal ini dimaksudkan agar kedua larutan dapat bercampur dengan baik (homogen). Reaksi antara NaOH dengan HCl akan membentuk garam dapur (NaCl) dan air (H2O). sedangkan reaksi antara NaOH dengan CuSO4 akan menghasilkan Na2SO4 dan Cu(OH)2. Sehingga persamaan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut. NaOH + HCl NaOH + CuSO4 NaCl + H2O Na2SO4 + Cu(OH)2

Penerapan pada bidang pangan dengan percobaan variasi kontinyu dan stoikiometri, yaitu memasak, membuat bir, fermentasi, dan menentukan kadar suatu kandungan zat dalam bahan pangan atau mengetahui konsentrasi suatu bahan pangan dalam suatu olahan makanan.

V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Kesimpulan, dan (2) Saran 5.1 Kesimpulan Hasil pengamatan yang dilakukan di laboratorium kimia dasar dapat disimpulkan bahwa pada Variasi kontinyu, suatu zat dengan konsentrasi yang sama namun berbeda volumenya, maka suhunya pun akan berbeda. Dari hasil pengamatan di dapat bahwa dengan mereaksikan NaOH 1 M dengan volume 5 ml, 10 ml, 15 ml, 20 ml, dan 25ml dan HCl 1 M dengan volume 25ml, 20 ml, 15 ml, 10 ml, dan 5ml dengan mempertahankan volume totalnya, yaitu 30ml didapatkan hasil perubahan suhunya sebesar 1,5; 3,5; 4,5; 6; dan 1,5. Sedangkan dengan mencampurkan NaOH 1 M dengan volume 25ml, 20 ml, 15 ml, 10 ml, dan 5ml dan CuSO4 1 M dengan volume 5 ml, 10 ml, 15 ml, 20 ml, dan 25ml dengan mempertahankan volume totalnya sebesar 30 ml maka hasil pengamatan perubahan suhunyanya sebesar 1; 2,25; 1,25; 3,75; dan 1,75. 5.2 Saran Praktikan harus benar-benar memahami mengenai variasi kontinyu karena dalam proses praktiknya diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam menerapkan rumus hitung serta hukum-hukum kimia. Lalu praktikan juga perlu mengingat hubungan antara mol, massa, volume, jumlah partikel, dan konsentrasinya agar mudah dalam perhitungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anshory, (1998), Acuan Pelajar Kimia, Erlangga, Jakarta. Hasibuan, Yusuf, (2009), Stoikimetri-I, www.scribd.com. Diakses : 24 Oktober 2011 Hiskia, Ahmad dan Tupamahu, (1991), Stoikiometri Energetika Kimia, Edisi pertama, Citra Aditya Bakti, Jakarta Sutrisno, E. T, dkk. (2011), Penuntun Praktikum Kimia Dasar, Jurusan Teknologi Pangan Universitas Pasundan : Bandung Vogel, (1979), Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, P.T Kalman Media Pustaka, Jakarta Zulfikar, (2010), Hukum-Hukum Dasar Ilmu Kimia, www.chem-is-try.org. Diakses : 25 Oktober 2011

LAMPIRAN Tabel 1. NaOH dan CuSO4

NaOH 1M 25 ml 20 ml 15 ml 10 ml 5 ml

CuSO4 1M 5 ml 10 ml 15 ml 20 ml 25 ml

TM (0C) 27,5 27,75 27,75 27,25 26,75

TA (0C) 28,5 30 29 31 28,5

T (0C) 1 2,25 1,25 3,75 1,75

mmol NaOH 25 20 15 10 5

mmol CuSO4 5 10 15 20 25

mmol CuSO4 mmol NaOH 5 2 1 0,5 0,2

Tabel 2. NaOH dan HCl NaOH 1M 5 ml 10 ml 15 ml 20 ml 25 ml HCl 1M 25 ml 20 ml 15 ml 10 ml 5 ml TM (0C) 27,5 27,5 27,5 27 27,5 TA (0C) 29 31 32 33 29 T (0C) 1,5 3,5 4,5 6 1,5 mmol NaOH 5 10 15 20 25 mmol HCl 25 20 15 10 5 mmol CuSO4 mmol HCl 0,2 0,5 1 2 5