Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM PENILAIAN STATUS GIZI

PENILAIAN STATUS GIZI SECARA ANTROPOMETRI

NAMA NIM KELOMPOK

: HARNA : K 211 09 309 : VI (ENAM)

TANGGAL PERCOBAAN : 3 DESEMBER 2011 ASISTEN : GURUH AMIR PUTRA

LABORATORIUM TERPADU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Antropometri adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia. Dalam bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang sering digunakan adalah berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuh lainnya seperti lingkar lengan atas, lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut, lingkaran perut, lingkaran pinggul. Ukuran-ukuran antropometri tersebut bisa berdiri sendiri untuk menentukan status gizi dibanding baku atau berupa indeks dengan membandingkan ukuran lainnyaseperti BB/U, BB/TB. TB/U (Sandjaja, dkk., 2010). Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, dkk., 2001). Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile sampai 100 persentil. Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya (Nugroho, 2002). Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak balita menggunakan metode antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizi masyarakat selalu menggunakan metode tersebut (Supariasa, dkk., 2001). Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat kurang, kemakmuran ternyata diikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di perkotaan bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat, sayuran,

makanan berserat ke pola makan masyarakat barat yang komposisinya terlalu banyak mengandung lemak, protein, gula, garam tetapi miskin serat. Sejalan dengan itu setahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka prevalensi kegemukan/obesitas pada sebagian penduduk perkotaan, yang diikuti pula pada akhir-akhir ini di pedesaan (Asmayuni, 2007). Perhatian utama adalah mempersiapkan dan meningkatkan kualitas penduduk usia kerja agar benar-benar memperoleh kesempatan serta turut berperan dan memiliki kemmpuan untuk ikut dalam upaya pembangunan. Salah satu upaya penting untuk mewujudkan hal tersebut adalah pembangunan di idang kesehatan dan gizi. Antropometri sebagai teknik yang mula-mula dikembangkan dikalangan antropolog biologis, kini aplikasinya menyentuh berbagai bidang antara lain kedokteran, olahraga, antropologigizi, keperawatan, dan pediatric dalam ilmu pertumbuhan anak. Antropolog seperti Tanner, Bogin, Boucher, Malina, dan Ulijaszek mengembangkan teknik antropometri yang dihubungkan dengan teori pertumbuhan manusia dari intra-uterine sampai adolesentia akhir (sekitar 20 tahun) (Barasi, 2008). Aplikasi antropometri sebagai metode bioantropologi ke dalam kedokteran manjadi bermakna apabila disertai latar belakang teori yang adekuat tentang pertumbuhan. Berdasarkan tujuan penelitian pengukuran antropometri, setidaktidaknya ada lima hal penting yang mewakili tujuan pengukuran yaitu mengetahui kekern otot, kekekaran tualng, ukuran tubuh secara umum, panjang tungkai dan lengan, serta kandungan lemak tubuh di ekstremitas dan di torso. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi, 2008). Karena antropometri sebagai indikator penilaian status gizi yang paling mudah yang dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Oleh karena itu, untuk mengetahui status gizi seseorang, maka dilakukan pengukuran antropometri ini.

1.2 Prinsip Percobaan Prinsip percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah untuk menghitung IMT dengan mengukur Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB). Untuk memperkirakan TB dengan mengukur Tinggi Lutut (TL), untuk mengukur LiLA, menghitung nilai WHR dengan mengukur Lingkar Pinggang (L.Pi) dan Lingkar Panggul (L.Pa), menghitung % Body fat dengan mengukur Tricep dan Subscapular serta mengukur Lingkar Perut.

1.3 Tujuan Percobaan 1.3.1 Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari percobaan ini adalah untuk mengetahui status gizi perseorangan dengan pengukuran antropometri 1.3.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari percobaan ini adalah : 1. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) 2. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan Waist to Hip Ratio (WHR) 3. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan persentase Body Fat (%BF) 4. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) 5. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran lingkar Perut

1.4 Manfaat Percobaan Adapun manfaat dari percobaan ini adalah agar dapat mengetahui status gizi seseorang melalui pengukuran antropometri dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), Waist to Hip Ratio (WHR), persentase Body Fat (%BF), Lingkar Lengan Atas (LILA), pegukuran lingkar Perut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Antropometri secara umum digunakan untuk melihat

ketidakseimbangan

asupan protein dan energy. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa, dkk., 2001). Pemakaian data antropometri mengusahakan semua alat disesuaikan dengan kemampuan manusia, bukan manusia disesuaikan dengan alat. Rancangan yang mempunyai kompatibilitas tinggi dengan manusia yang memakainya sangat penting untuk mengurangi timbulnya bahaya akibat terjadinya kesalahan kerja akibat adanya kesalahan disain (design-induced error) (Nugroho, 2002). Dilihat dari penggunaan antropometri yang sangat luas, maka salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang sarjana gizi adalah mampu mengukur status gizi mengenai konsep pertumbuhan, ukuran antropometri, control kualitas data antropometri dan evaluasi indeks antropometri, kelemahan dan keunggulan penggunaan antropometri dalam penilaian status gizi (Supariasa, dkk., 2001). Dari definisi tersebut di atas dapat ditarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukura dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis tingkat ukuran tubuh antara lain berat badan, tiggi badan, lingkar lengan atas, dan tebal lemak di bawah kulit (Supariasa, dkk., 2001). Beberapa syarat yang mendasari penggunaan dari antropometri adalah (Supariasa, dkk., 2001): a. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah. b. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif.

Contohnya apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas pada anak balita. c. Pengukuran buka hanya dilakukan dengan tenaga khusus professional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.

d. Biaya relative murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahanbahan lainnya. e. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti. f. Secara ilmiah diakui kebenaraya. Hamper semua egara mengguakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan (screening) status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebearanya secara ilmiah. Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energy. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa, dkk., 2001). Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses perencanaan (design) produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia. Dimensi yang diukur pada antropometri statis diambil secara linear (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh. Agar hasilnya dapat representatif , maka pengukuran harus dilakukan dengan metode tertentu terhadap individu (Gibson, 2005). Indikator antropometri antara lain berat badan (BB), Tinggi Badan (TB), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan Lapisan Lemak Bawah Kulit (LLBK). Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi, 2008). IMT berguna sebagai indikator untuk menentukan adanya indikasi kasus KEK (Kurang Energi Kronik) dan kegemukan (obesitas). Namun untuk memperoleh pengukuran TB yang tepat pada usila cukup sulit karena masalah postur tubuh, kerusakan spinal, atau kelumpuhan yang menyebabkan harus duduk di kursi roda atau di tempat tidur. Beberapa penelitian menunjukkan perubahan TB usila sejalan dengan peningkatan usia dan efek beberapa penyakit seperti osteoporosis. Oleh karena itu, pengukuran tinggi badan usila tidak dapat diukur dengan tepat sehingga untuk

mengetahui tinggi badan usila dapat dilakukan dari prediksi tinggi lutut (knee height) (Barasi, 2008). Tinggi badan adalah salah satu indikator klinik utama dalam menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam menentukan status gizi individu/populasi. Namun, pengukuran tinggi badan manusia usia lanjut (manula) cukup sulit dilakukan dan reliabilitasnya diragukan. Persamaan estimasi tinggi badan dari pengukuran tinggi lutut untuk memprediksi tinggi badan manula yaitu persamaan Chumlea telah dikembangkan beberapa tahun lalu, tetapi belum ada studi yang dilakukan di Indonesia untuk mengembangkan suatu persamaan bagi pengukuran tinggi badan populasi usia lanjut menurut bermacam-macam kelompok etnis. Oleh karena itu, suatu cross sectional studi untuk mengembangkan persamaan tinggi badan manula berdasarkan pengukuran dua parameter yaitu tinggi lutut dan panjang depa (knee height dan arm span) telah dilakukan pada bulan Desember 2005 lalu. Total 217 manula (usia 60 - 92 tahun) dari 3 kelompok etnik yaitu: Jawa (56,7%), Cina (31,3%), dan lain-lain (12,0%) berpartisipasi dalam studi ini (Fatmah, 2005). Pengukuran antropometri termasuk berat badan, tinggi badan, panjang depa, dan tinggi lutut dilakukan oleh ahli gizi terlatih. Kesalahan inter dan intra observer dilakukan untuk pengukuran antropometri tinggi lutut dan panjang depa manula. Temuan utama studi adalah rata-rata usia manula asal Cina adalah tertinggi di antara suku lainnya; kebanyakan manula mengalami gizi kurang (43%); distribusi rata-rata tinggi lutut dan panjang depa hampir sama di tiap kelompok etnis (Fatmah, 2005). IMT dihitung dengan pemberian berat badan (dalam kg) oleh tinggi badan (dalam m) pangkat dua. Kini IMT banyak digunakan di rumah sakit untuk mengukur status gizi pasien karena IMT dapat memperkirakan ukuran lemak tubuh yang sekalipun hanya estimasi tetapi lebih akurat daripada pengukuran berat badan saja. Di samping itu, pengukuran IMT lebih banyak dilakukan saat ini karena orang yang berlebihan berat badan atau yang gemuk yang lebih beresiko untuk menderita penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, hipertensi dannn beberapa bentuk penyakit kanker (Hartono, 2006). Berat untuk rasio tinggi menunjukkan berat badan dalam kaitannya dengan tinggi dan sangat berguna untuk menyediakan ukuran kelebihan berat badan dan obesitas dalam populasi orang dewasa. Oleh karena itu jatah ini kadang-kadang

disebut sebagai indeks obesitas. Indeks massa tubuh digunakan dalam preperences untuk lainnya berat/tinggi indeks, termasuk rasio berat/tinggi, indeks Ponderal, dan indeks Benn. Hal ini sekarang digunakan secara ekstensif secara internasional untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa (Gibson, 2005). Kategori Ambang batas IMT untuk Indonesia yaitu (Gibson, 2005) : Kategori Kurus Kekurangan BB tingkat berat Kekurangan BB tingkat Ringan Normal Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan Kelebihan BB tingkat Berat IMT < 17,0 17,0 18,5 >18,5 25,0 >25,0 27,0 >27

Berat badan yang kurang ataupun berlebih akan menimbulkan risiko penyakit terhadap penyakit, seperti yang terdapat pada table berikut (Sirajuddin, 2011) : Berat badan Kerugian 1. Penampilan kurang baik (ceking) 2. Mudah letih 3. Risiko penyakit, antara lain penyakit infeksi, Kurang (kurus) depresi, anemia, diare 4. Pada wanita usia subur yang hamil mempunyai risiko tinggi melahirkan bayi dengan BBLR 5. Produktivitas rendah 1. Penampilan kurang menarik 2. Gerakan lamban 3. Risiko sakit, antara lain jantung, kencing manis Berlebihan (Gemuk) (Diabetes Melitus), hipertensi, gangguan sendi dan tulang, gangguan ginjal 4. Pada wanita usia subur, dapat mengganggu siklus menstruasi dan faktor penyakit pada persalinan

Gizi kurang akut biasanya mudah untuk dideteksi, berat badan anak akan kurang dan kurus mereka akan memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan dan meningkatkan resiko terkena infeksi. Gizi kurang yang kronik lebih sulit diidentifikasi oleh suatu komunitas anak akan tumbuh lebih lambat daripada yang diharapkan baik dari segi berat badan maupun tinggi badan, dan tidak kelihatan terlalu kurus, namun pemeriksaan berat dan tinggi badan akan menunjukan bahwa mereka memiliki berat yang kurang pada grafik pertumbuhan anak misalnya kerdil. Gizi kurang kronik dapat mempengaruhi perkembangan otak dan psikologi anak dan meningkatkan resiko terkena infeksi. Perempuan yang kurang makan (kurang gizi) punya kecenderungan untuk melahirkan anak dengan berat badan rendah, yang punya resiko lebih besar terkena infeksi (Gibson, 2005). Jumlah lemak tubuh yang normal untuk pria dewasa berkisar 10-20% dari berat badannya, dan untuk perempuan dewasa sekitar 25%. Untuk mengetahui dengan cepat apakah Anda menyimpan lemak berlebih, cobalah mencubit daging di perut Anda tepat di atas pusar. Bila jarak antara ibu jari dengan telunjuk lebih dari 2,5 cm, maka Anda termasuk obesitas. Atau, untuk menentukan apakah Anda mengalami besar di sekitar perut, ukur lingkar pinggang dengan mencari titik tertinggi di tulang pinggang, lalu ukur lebarnya. Seorang pria yang berlingkar pinggang lebih dari 102 cm (Indonesia 90 cm) dan perempuan lebih dari 88 cm (Indonesia 80 cm), menunjukkan faktor risiko tinggi kena penyakit. Apalagi, bila IMT-nya (Indeks Masa Tubuh) adalah 25 atau lebih (Asmayuni, 2007). Kegemukan disebabkan oleh ketidak imbangan kalori yang masuk dibanding yang keluar. Kalori diperoleh dari makanan sedangkan pengeluarannya melalui aktivitas tubuh dan olah raga. Kalori terbanyak (60-70%) dipakai oleh tubuh untuk kehidupan dasar seperti bernafas, jantung berdenyut dan fungsi dasar sel. Besarnya kebutuhan kalori dasar ini ditentukan oleh genetik atau keturunan. Namun aktifitas fisik dan olah raga dapat meningkatkan jumlah penggunaan kalori keseluruhan (Asmayuni, 2007). Alat yang digunakan adalah alat ukur tinggi lutut terbuat dari kayu. Subyek yang diukur dalam posisi duduk atau berbaring/tidur. Pengukuran dilakukan pada kaki kiri subyek antara tulang tibia dengan tulang paha membentuk sudut 90 derajat. Alat

ditempatkan di antara tumit sampai bagian proksimal dari tulang platela. Pembacaan skala dilakukan pada alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm (Gibson, 2005). Hasil penguluran dalam cm dikonversikan menjadi tinggi badan menggunakan rumus (Gibson, 2005): TB pria = 64,19 (0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut dlm cm) TB wanita = 84,88 (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dlm cm) Beberapa peneliti menyarankan untuk menerapkan tekanan lembut dengan proses mastoid untuk meregangkan tulang belakang dan meminimalkan efek yang dihasilkan oleh variasi diurnal. Pengukuran ketinggian diambil di inspirasi maksimal, dengan tingkat mata pemeriksa dengan kepala tempat tidur untuk menghindari kesalahan paralaks. Tinggi tercatat milimeter terdekat, atau bahkan lebih tepat dengan peralatan modem digital. Oleh karena itu, jika berdiri tinggi daripada data referensi berbaring panjang digunakan. Dilaporkan sendiri tinggi cenderung menghasilkan perkiraan sedikit lebih tinggi dari tinggi dan harus dihindari (Gibson, 2005). WHR adalah suatu metode sederhana untuk mengetahui obesitas sentral pada orang dewasa dengan mengukur distribusi jaringan lemak pada tubuh terutama bagian pinggang dengan menmbandingkan antara ukuran lingkar pinggang disbanding dengan lingkar perut. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif (Sandjaja, 2010). Rumus Waist to Hip Ratio (WHR) (Sirajuddin, 2011) WHR Klasifikasi Waist to Hip Ratio (WHR) (Sirajuddin, 2011) Jenis kelamin Laki-laki Kelompok umur (thn) 20 29 30 39 40 49 Perempuan 20 29 30 39 40 49 Low < 0.83 < 0.84 < 0.88 < 0.71 < 0.72 < 0.73 Resiko Moderate 0.83 - 0.88 0.84 0.91 0.89 0.95 0.71 0.77 0.73 0.78 0.74 0.79 High 0.89 0.94 0.92 0.96 0.96 1.00 0.77 0.82 0.79 0.84 0.80 0.87 Very high > 0.94 > 0.96 > 1.00 > 0.82 > 0.84 > 0.87

Lingkar pinggang adalah ukuran antropometri yang dapat digunakan untuk menentukan obesitas sentral, dan kriteria untuk Asia Pasifik yaitu 90 cm untuk pria, dan 80 cm untuk wanita. Lingkar pinggang dikatakan sebagai indeks yang berguna untuk menentukan obesitas sentral dan komplikasi metabolik yang terkait. Lingkar pinggang berkorelasi kuat dengan obesitas sentral dan risiko kardiovaskular. Lingkar pinggang terbukti dapat mendeteksi obesitas sentral dan sindroma metabolik dengan ketepatan yang cukup tinggi dibandingkan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar panggul. Bila lingkar pinggang dan kadar trigliserida untuk mendeteksi sindroma metabolik, ditemukan lingkar pinggang 90 cm dikombinasikan dengan kadar trigliserida plasma puasa >150 mg/dl dapat mendeteksi penderita sindroma metabolik. Hal ini membuktikan bahwa pemeriksaan lingkar pinggang dapat digunakan sebagai pemeriksaan uji saring yang mudah, murah dan berguna untuk mendeteksi sindroma metabolic (Karina, 2010). Pengerdilan hasil dari perpanjangan masa asupan makanan tidak memadai, berdasarkan kekurangan makanan, morbiditas meningkat, atau kombinasi dari faktorfaktor. Hal ini umumnya ditemukan di negara kondisi ekonomi yang miskin. Di beberapa negara berpendapatan rendah, yang populasinya rendah tinggi-untuk-usia pada anak-anak bisa sangat tinggi, mulai dari 18% di Amerika Selatan menjadi 60% di Asia Selatan. Dalam keadaan seperti itu, kebanyakan anak pendek dapat diasumsikan akan terhambat.Namun, ketika prevalensinya jauh lebih rendah dan mendekati tingkat yang diharapkan, maka mereka dengan rendah tinggi-untuk-usia cenderung secara genetik pendek (Gibson, 2005). Seorang peneliti dari Swedia menemukan bahwa lingkar pinggang dapat digunakan untuk mengukur resistensi insulin, dan dapat menjadi indikator yang baik untuk melihat apakah seseorang berisiko untuk terkena diabetes. Resistensi insulin merupakan suatu keadaan dimana tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara baik. Bila dilakukan pemeriksaan darah, dapat ditemukan kadar gula darah yang lebih tinggi dari normal tetapi belum sampai menjadi diabetes. Keadaaan ini disebut sebagai pra-diabetes (Karina, 2010). Pengukuran lingkar perut (Waist Circumference) kini menjadi metode paling popular kedua (seudah IMT) untuk menetukan status gizi. Cara pengukuran lingkar perut ini dapat membedakan obesitas menjadi jenis abdominal (obesitas tipe android)

dan perifer (obesitas tipe ginoid). Pasien dengan obesitas obdominal yang merupakan factor risiko untuk berbagai penyakit metabolic, vaskuler, dan generatif memiliki lingkaran perut yang lebih besar dari normal. Untuk diagnosis obesitas abdominal, lingkaran perut bagi wanita Asia adalah 80 cm dan bagi pria Asia adalah 90 cm (Hartono, 2006) Penilaian persentase lemak tubuh pada anak tidak mudah karena komposisi kimia massa lemak bebas pada anak berbeda dengan pada orang dewasa dan komposisi kimia tersebut akan mengalami perubahan selama masa pertumbuhan. Oleh karenanya asumsi yang digunakan untuk menghitung komposisi tubuh pada dewasa yang berdasarkan densitas tubuh tidak dapat diterapkan pada anak yang sedang tumbuh. Beberapa usaha telah dilakukan untuk memperkirakan massa lemak tubuh sebagai index obesitas, karena jaringan adiposa adalah bagian utama tempat penyimpanan lemak yang mengandung lebih dari 90% jumlah total simpanan kalori. Namun tidak ada satupun metode yang dapat menetapkan dengan tepat komposisi tubuh yang hidup. Persamaan Deurenberg merupakan salah satu formula untuk memprediksi lemak tubuh sesuai dengan umur, jenis kelamin dan indeks massa tubuh (Hartono, 2006). Pengukuran lipatan triceps dimaksudkan untuk menentukan status lemak tubuh sementara pengukuran LILA dan LOLA untuk mengetahui status protein otot. Kurang lebih separuh jaringan adiposa tubuh terdapat dalam jaringan adiposa tubuh terdapat dalam jaringan bawah kulit (subkutan) sehingga pengukuran status lemak tubuh dapat dilakukan pada lipatan kulit triceps, subskapular, abdominal, panggul, serta paha. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penilaian lemak subkutan lewat pengukuran lipatan kulit merupakan cara yang cukup akurat. Pengukuran lipatan triseps dilakukan dengan menggunakan caliper oleh para ahli gizi atau perawat yang sudah terlatih dalam teknik pengukuran antropometri (Hartono, 2006). Berdasarkan tujuan pengukuran antropometri, setidak-tidaknya ada lima hal penting yang mewakili tujuan pengukuran yaitu mengetahui kekern otot, kekekaran tualng, ukuran tubuh secara umum, panjang tungkai dan lengan, serta kandungan lemak tubuh di ekstremitas dan di torso. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut umur

(BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi, 2008). Klasifikasi persentase Body Fat (Sirajuddin, 2011) Klasifikasi Lean Optimal Slightly overfat Fat Obesitas Laki-laki <8% 8 % - 15 % 16 % - 20 % 21 % - 24 % 25 % Wanita < 13 % 14 % - 23 % 24 % - 27 % 28 % - 32 % 33 %

Pengukuran lingkar lengan atas dapat memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan bawah kulit. Lingkar lengan atas biasanya digunakan untuk mengidentifikasi adanya malnutrisi pada anak-anak. Pada ibu hamil lingkar lengan atas digunakan untuk memprediksi kemungkinan bayi yang dilahirkan berat badan lahir rendah (Hartono, 2005). Klasifikasi LiLA (Sirajuddin, 2011) Klasifikasi Wanita usia subur KEK Normal Bayi umur 0 30 hari KEP Normal Balita KEP Normal < 12,5 12,5 < 9,5 9,5 < 23,5 23,5 Batas ukur

Pengukuran lingkar lengan atas dapat menentukan apakah seseorang menderita KEK atau tidak. Jika, berada < 23,5 maka beresiko terkena KEK. Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja

putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK.

Kurang gizi akut

disebabkan oleh tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik (dari segi kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan tambahan kalori dan protein (untuk melawan) muntah dan mencret (muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi kurang kronik disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik dalam periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan protein dalam jumlah yang cukkup, atau juga disebabkan menderita muntaber atau penyakit kronis lainnya (Hartono, 2006). Indeks seperti lingkar kepala-untuk usia, berat badan-untuk-umur, berat

badan-untuk-tinggi dan tinggi-untuk-usia dan rasio berat, tinggi berasal dari pengukuran. Dari jumlah tersebut, tinggi untuk-usia dan berat badan-untuk-tinggi badan telah direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia untuk digunakan di negara-negara berpenghasilan rendah. Dalam kombinasi, mereka dapat membedakan antara pengerdilan dan wasting. Indeks massa tubuh (BMI) digunakan dalam studi epidemiologi sebagai indikator yang direkomendasikan untuk mendefinisikan kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa, anak-anak, dan usia lanjut. Di rumah sakit, indeks antropometri ukuran tubuh yang digunakan terutama untuk mengidentifikasi kekurangan gizi atau kelebihan memantau setelah intervensi gizi (Gibson, 2005). Lingkar perut adalah parameter penting untuk menentukan resiko terjadinya penyakit jantung. Semakin besar lingkar perut seseorang, resiko terjadinya penyakit jantung pada orang tersebut lebih besar. Pengukuran Lingkar Perut, dengan menggunakan pita meteran. Caranya pertama tentukan letak tulang rusuk terbawah dan tulang panggul. Kemudian tempatkan pita meteran pada jarak pertengahan antara kedua tulang tadi, dan harus sejajar dengan lantai tanpa memperhatikan letak pusar (Asmayuni, 2007). gizi dan obesitas, dan untuk

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.I Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah timbangan digital Seca, microtoice, alat ukur tinggi lutut, pita LiLA, pita circumference, dan skinfold caliper. III.2 Peserta Praktikum Adapun peserta praktikum yaitu mahasiswa program studi Ilmu Gizi angkatan 2009. III.3 Prosedur Kerja III.3.1 Pengukuran Barat Badan (BB) 1. Responden mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal). Responden tidak mengguakan alas kaki 2. Dipastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0 3. Responden diminta naik ke alat timbang dengan berat badan tersebar merata pada kedua kaki dan posisi kaki tepat di tengah alat timbang tetapi tidak menutupi jendela baca 4. Diperhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang, usahakan agar responden tetap tenang dan kepala tidak menunduk (memandang lurus kedepan) 5. Angka di kaca jendela alat timbang akan muncul, dan ditunggu sampai angka tidak berubah (statis) 6. Dibaca dan dicatat berat badan pada tampilan dengan skala 0.1 terdekat 7. Responden diminta turun dari alat timbang

III.3.2 Pengukuran Tinggi Badan (TB) 1. Responden tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup kepala). Posisikan responden tepat di bawah microtoice 2. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser. 3. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat microtoise di pasang. 4. Pandangan lurus ke depan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas dan menghadap paha 5. Responden diminta menarik nafas panjang untuk membantu menegakkan tulang rusuk. Usahakan bah tetap santai 6. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding. 7. Dibaca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih besar (ke bawah). Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas. 8. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat

III.3.3 Pengukuran Tinggi Lutut 1. Responden duduk dengan salah satu kaki ditekuk hingga membentuk sudut 900 proximal hingga patella 2. Kaki diletakkan di atas alat pengukur tinggi lutut dan pastikan kaki responden membentuk sudut 900 dengan melihat kelurusannya pada tiang alat ukur 3. Dibaca dengan sedikit menjongkok sehingga mata pembaca tepat berada pada angka yang ditunjukkan oleh alat ukur. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat

III.3.4 Pengukuran Lingkar Pinggang 1. Responden menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang digunakan 2. Responden berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks 3. Pengukur menghadap ke subjek dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian paling kecil dari tubuh atau pada bagian tulang rusuk paling terakhir. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat 4. Pengukuran dilakukan di akhir dari ekspresi yang normal dan alat ukur tidak menekn kulit 5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat III.3.5 Pengukuran Lingkar Panggul 1. Responden mengenakan pakaian yang tidak terlaku menekan 2. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada kedua sisi tubuh dan kaki rapat 3. Pengukur jongkok di samping responden sehingga tingkat maksimal dari penggul terlihat 4. Alat pengukur dilingkarkan secara horizontal tanpa menekan kulit. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat 5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat

III.3.6 Pengukuran Lingkar Perut 1. Mintalah dengan cara yang santun pada responden untuk membuka pakaian bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas dan raba tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik pengukuran 2. Ditetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah. 3. Ditetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul.

4. Ditetapkan titik tengah di antara di antara titik tulang rusuk terakhir titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik tengah tersebut dengan alat tulis. 5. Responden diminta untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal (ekspirasi normal). 6. Dilakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran. 7. Pengukuran juga dapat dilakukan pada bagian atas dari pusar lalu meletekkan dan melingkarkan alat ukur secara horizontal 8. Apabila responden mempunyai perut yang gendut ke bawah, pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu berakhir pada titik tengah tersebut lagi. 9. Pita pengukur tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang mendekati angka 0,1 cm.

III.3.7 Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) 1. Penentuan Titik Mid Point Pada Lengan 1. Responden diminta berdiri tegak 2. Responden dminta untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan) 3. Tekukan tangan responden membentuk 900 dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri dibelakang dan menentukan titik tengah antara tulang rusuk atas pada bahu kiri dan siku 4. Ditandai titik tengah tersebut dengan pena 2. Mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) 1. Dengan tangan tergantung lepas dan siku lurus di samping badan, telapak tangan menghadap ke bawah 2. Diukur lingar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit dan dilingkarkan secara hotizontal pada lengan. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita

3. Lingkar lengan atas dicatat pada skala 0,1 cm terdekat

III.3.8 Penentuan Tebal Lipatan Kulit (TLK) 1. Petunjuk Umum 1. Ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kiri digunakan untuk mengangkat kedua sisi kulit dan lemak subkutan kurang lebih 1 cm proximal dari daerah yang diukur 2. Lipatan kulit diangkat pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus arah garis kulit 3. Lipatan kulit tetap diangkat sampai pengukuran selesai 4. Caliper dipegang oleh tangan kanan 5. Pengukuran dilakukan dalam 4 detik setelah penekanan kulit oleh caliper dilepas 2. Pengukuran TLK Pada Tricep 1. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh 2. Pengukuran dilakukan pada titik mid point (sama pada LILA) 3. Pengukur berdiri di belakang responden dan meletakkan telapak tangan kirinya pada bagian lengan kearah tanda yang telah dibuat dimana ibu jari dan telunjuk menghadap ke bawah. Tricep skinfold diambil dengan menarik pada 1 cm dari proximal tanda titik tengah tadi. 4. Tricep skinfold diukur dengan mendekati 0,1 mm

3. Pengukuran TLK Pada Subscapular 1. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh 2. Tangan diletakkan kiri ke belakang 3. Untuk mendapatkan tempat pengukuran, pemeriksa meraba scapula dan mencarinya ke arah bawah lateral sepanjang batas vertebrata samapi menentukn sudut bawah scapula

4. Subscapular skinfold ditarik dalam arah diagonal (infero-lateral) kurang lebih 450 ke arah horizontal garis kulit. Titik scapula terletak pada bagain bawah sudut scapula 5. Caliper diletakkan 1 cm infero-lateral dari ibu jari dan jari telunjuk yang mengangkat kulit dan subkutan dan ketebalan kulit diukur mendekati 0,1 mm

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.I Hasil Pengamatan IV.I.I Tabel

Nama

BB (kg)

TB (cm) 157,5 163,5 152,7 155,5 147,2 156 150,3 147 147,9 153,5 171,8

IMT

L.Pa (cm)

L.Pi (cm) 65,8 59,5 63,5 67 65 58,6 63 72,5 65,5 78,5 62,7

WHR

Sri Hardiyanti Wahyuni Pradipta A.Reski Amalia Fadlia Hidaya Sesaria Harna Muchlisa Nikmah Saro Munzia Barre Allo Asfa Indrawan O. Sidratulmuntaha J.

46,9 45,4 49,2 50,4 43,1 37,6 43,4 55,5 46,8 63,4 45,3

18,91 17 21,3 20,9 19,9 16,35 19,20 25,6 21,5 26,9 17,4

81,2 83,7 90,8 89 83,5 78,5 83 95 86,9 98,5 79,2

0,81 0,71 0,70 0,75 0,78 0,75 0,76 0,76 0,75 0,80 0,79

2. Tabel untuk %BF, LiLA, TB/TL dan Lingkar Perut

IV.1.2 Perhitungan 1. Indeks Massa Tubuh (IMT) Berat Badan Tinggi badan IMT = = = = 43,1 kg = 147,2 cm 1,472 m
inggi adan m erat adan kg inggi adan m 4 , kg 1,472 m kg 2,166 1,472 m

= 19,89 dibulatkan 19,9 (Normal) 2. Waist to Hip Ratio (WHR) Lingkar Pinggang (LPi) = 65 cm Lingkar Pnggul (LPa) WHR = = = 83,5 cm
Lingkar Pinggang LPi Lingkar Panggul LPa 65 cm 83,5 cm

= 0,78 (High) 3. Persentase Body Fat (%BF) Tebal tricep = 11 mm

Tebal subscapular = 15 mm Db = 1,0897 0,00133 ( tricep + scapula) = 1,0897 0,00133 ( 11 mm + 15`mm) = 1,0897 0,00133 (26 mm) = 1,0897 0,03458 = 1,05512 %BF = (4,76/Db) 4,28 x 100 = (4,76/1,05512) 4,28 x 100 = ( 4,511 4,28 ) x 100 = 0,231 x 100 = 23,1 % (Optimal)

4. Tinggi Badan Berdasarkan Tinggi Lutut Perempuan = (1,91 x TL) (0,17 x U) + 75 = (1,91 x 45,5) (0,17x 20) + 75 = 86,905 3,4 + 75 = 158,5 cm (Lebih 9,4 cm dri TB aktual) IV.2 Pembahasan IV.2.1 Status Gizi Berdasarkan Indeks massa Tubuh (IMT) Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, subjek memilki BB = 43,1 kg dan TB = 147,2 cm. Jika, dihitung dengan menggunakan rumus IMT maka didapat IMT = 19,9. Menurut Asia Pasific Perspertive, IMT dengan ambang batas 18,5-22,9 termasuk dalam golongan normal. Hal ini menunjukkan bahwa subjek tergolong status gizi normal karena berada diantara ambang batas tersebut. Dengan status gizi normal yang dimiliki, subjek diharapkan agar tetap menjaga intake gizi sehingga terhindar dari berbagai penyakit. Tinggi badan (TB) merupakan komponen beberapa indikator status gizi sehingga pengukuran TB seseorang secara akurat sangatlah penting untuk menentukan nilai IMT (Indeks Massa Tubuh). Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, depresi, anemia, dan juga diare sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degenerative seperti jantung, diabetes mellitus, hipertensi, dan gangguan sendi.

IV.2.2 Status Gizi Berdasarkan Waist to Hip Ratio (WHR) WHR adalah suatu metode sederhana untuk mengetahui obesitas sentral pada orang dewasa dengan mengukur distribusi jaringan lemak pada tubuh terutama bagian pinggang dengan menmbandingkan antara ukuran lingkar pinggang disbanding dengan lingkar perut. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degenerative.

Dari hasil perhitungan WHR dengan jenis kelamin perempuan dan berumur 20 tahun diperoleh nilai WHR subjek sebesar 0,78. Nilai ini diperoleh dari perbandingan lingkar pinggang dan lingkar panggul. Dengan lingkar pinggang = 65 cm dan lingkar panggul = 83,5 cm. Berdasarkan teori dari buku ataupun referensi lain menyebutkan bahwa wanita dengan umur 20-29 tahun dengan nilai WHR antara 0,78-0,82 berada pada klasifikasi high. Jadi, subjek dengan tingkat resiko high berarti tingkat resiko terkena penyakit high yang berarti bahwa subjek beresiko terkena penyakit jika pola makan ataupun aktivitas yang tidak teratur. Pola makan yang tidak teratur jelas akan mempengaruhi kesehatan seseorang terlebih lagi makan yang dimakan tidak memperhatikan kandungan nilai gizi. Untuk mencapai tingkat moderate atau low, subjek harus menjaga pola makan, rajin berolahraga dan memperhatikan diet yang diterapkan. Misalnya, mengurangi konsumsi lemak ataupun karbohidrat. Intake gizi harus diseimbangkan dengan kebutuhan fisiologis tubuh.

IV.2.3 Status Gizi Berdasarkan Persentase Body Fat (%BF) Berdasarkan pengukuran yang dilakukan diperoleh nilai tricep yaitu 11 mm dan subscapular yaitu 15 mm. Persentase Body fat (%BF) diperoleh dari hasil pengukuran ketebalan tricep dan subskapular. Setelah diperoleh data dari ketebalan tricep dan subskapular, maka nilai tersebut dimasukkan ke dalam rumus untuk menentukan %BF. Maka diperoleh nilai %BF yaitu 23,1. Yang artinya berada pada klasifikasi optimal yaitu berada diantara 14%-27%.

IV.2.4 Status Gizi Berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LILA) Berdasarkan pengukuran yang dilakukan diperoleh data LiLA yaitu 24,4. Artinya, subjek dalam keadaan normal. Hal ini disebabkan karena subjek memiliki status gizi yang baik. LILA Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulitStatus gizi seseorang berdasarkan lingkar lengan atas (LILA) dibagi berdasarkan

tingat umur yaitu wanita usia subur, bayi, dan balita.. Berdasarkan referensi kalisifikasi wanita usia subur terbagi dua yaitu KEK (kekurangan Energi Kronis) dengan batas ukur < 23,5 dan normaldengan batas ukur 23,5. Bagi yang berada dibawah < 23,5, memiliki resiko KEK dimana, kek ini disebabkan karena kurangnya intake energy atau zat gizi makro.

IV.2.5 Status Gizi Berdasarkan Lingkar Perut Penimbunan lemak dalam perut yang dikenal dengan obesitas sentral. erdasarkan standar Asia wanita dengan lingkar perut 80 cm dan pria dengan lingkar perut 90 cm berarti menderita obesitas. Berdasarkan teori tersebut, maka disimpulkan bahwa subjek dengan jenis kelamin wanita yang diukur lingkar perutnya normal karena pengukuran lingkar perutnya menunjukkan angka 64,5 cm.Lingkar perut merupakan salah satu pengukuran antropometri yang digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak. Obesitas adalah keadaan ditemukannya kelebihan lemak dalam tubuh, terbagi menjadi obesitas umum dan obesitas sentral. Penimbunan lemak dalam perut yang dikenal dengan obesitas sentral atau obesitas viseral. Berdasarkan standar Asia wanita dengan lingkar perut 80 cm dan pria dengan lingkar perut 90 cm berarti menderita obesitas. Berdasarkan pengukuran antropometri yang dilakukan (IMT, LiLA, %BF, WHR dan Lingkar Perut) maka dapat dibandingkankan antara semua objek yang diukur. Jika, dilihat dari hasil pengukuran IMT dan LiLA tidak terjadi kesenjangan atau berjalan searah karena pengukuran IMT normal dengan nilai 19,9 sedangkan LiLA 24,4 (tidak beresiko KEK). Jika, seseorang yang memiliki IMT normal, memang seharusnya memiliki LiLA normal. Intake zat gizi dari subjek sudah terpenuhi, hal ini dilihat dari selarasnya IMT dengan LiLA. Perhitungan %BF juga optimal yaitu 23,1 %. Terjadi keselaran antara 3 aspek pengukuran, yaitu IMT, LiLA dan %BF. Tapi jika dibandingkan dengan WHR, dengan hasil pengukuran yaitu 0,78 (High). Meskipun IMT, %BF

dan LiLA nya normal tapi subjek tinggi terhadap resiko terkena penyakit. Hal ini disebabkan karena subjek sering mengkonsumsi makanan yang berlemak. Tapi timbunan lemaknya, tidak berpusat pada perut si subjek. Hal ini ditandai dengan pengukuran lingkar perut 64,5 cm (Normal). Meskipun, WHR nya tinggi tapi belum beresiko terkena obesitas sentral yang ditandai dengan nilai LP normal.

BAB V PENUTUP

V.I Kesimpulan 1. Berdasarkan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), subjek memiliki status gizi normal dengan niali IMT 19,9 2. Berdasarkan perhitungan Waist to Hip Ratio (WHR), subjek berada pada resiko high terkena penyakit degeneratif dengan nilai WHR 0,78. 3. Berdasarkan perhitungan persentase Body Fat (%BF), resonden berada pada klasifikasi optimal dengan nilai 23,1 %. 4. Berdasarkan pegukuran Lingkar Lengn Atas (LILA), status gizi subjek normal dengan ukuran LILA 24,4 cm. 5. Berdasarkan pengukuran lingkar perut dengan hasil pengukuran 64,5 cm, responden tidak mengalami obesitas karena lingkar perutnya < 80 cm

V.2 Saran 1. Sebaiknya peralatan lebih diperbanyak lagi karena dibandingkan dengan jumlah praktikum, alat yang disediakan sangat minim. 2. Sebaiknya asisten lebih menjelaskan secara rinci tentang mekanisme pengukuran antropometri agar praktikan tidak kewalahan dalam melakukan pengukuran. 3. Dosen Penilaian Status Gizi sudah bagus tapi kiranya kehadiran dalam mengajar lebih ditingkatkan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Asmayuni. 2007. Kegemukan (Overweight) pada perempuan umur 25-50 tahun (di kota Padang Panjang Tahun 2007). Kesehatan Masyarakat. II : 14-38 Barasi, Mary E. 2008. At A Glance Imu Gizi. Jakarta: Erlangga Fatmah. 2005. Persamaan (Equation) tinggi Badan Manusia Usia Lanjut (Manula) Berdasarkan Usia dan etnis pada 6 Panti terpilih di DKI Jakarta dan Tangerang tahun 2005. Jurnal UI. X :ISSN 1693-6728 Gibson, Rosalind S. 2005. Principles Nutritional Assesment. Oxford: University Press Hartono, Andry. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC Karina, Esa. 2007. Besar Resiko Lingkar pinggang Pinggul dan Asupan Natrium Terhadap Kejadian Hipertensi. Cermin Dunia Kedokteran. XXI : 239-298 Nogroho, Adi. 2002. Pengaruh Faktor Usia, Status Gizi dan Pendidikan Terhadap International Prostat Symptom pada Penderita Hiperplasia. Cermin Dunia Kedokteran. XI : 678-745 Sandjaja, dkk. 2010. Kamus Gizi. Jakarta: Kompas Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan Antropometri. Makassar: Universitas Hasanuddin Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

LAMPIRAN 1. IMT (Berat Badan dan Tinggi Badan)

Pengukuran Berat Badan dengan menggunakan alat digital seca

Pengukuran Tinggi Badan dengan menggunakan alat ukur microtoice

2. Pengukuran Tinggi Lutut

Pengukuran Tinggi lutut dengan menggunakan alat ukur yang dirancang khusus

3. WHR (Pengukuran Lingkar Pinggang dan Lingkar Panggul)

Pengukuran Lingkar Pinggang dengan menggunakan pita circumference

Pengukuran Lingkar Panggul dengan menggunakan pita circumference

4. Pengukuran Lingkar Perut

Pengukuran Lingkar Panggul dengan menggunakan pita circumference

5. Pengukuran LiLA

Pengukuran mid point sebelum menentukan ukuran LiLA menggunakan pita circumference

Pengukuran LiLA dengan menggunakan pita circumference

6. %BF (Pengukuran Tricep dan Sunscapular)

Pengukuran tricep dengan menggunakan tricep skinfold

Pengukuran tricep dengan menggunakan subscapular skinfold