Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PRAKTIKUM PENILAIAN STATUS GIZI

PEMERIKSAAN BIOKIMIA DARAH

NAMA NIM KELOMPOK

: HARNA : K21109 309 : VI (ENAM)

TGL. PERCOBAAN : 10 DESEMBER 2011 ASISTEN : BOHARI, S.G.z

LABORATORIUM TERPADU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita disamping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Disamping sebagai salah satu sumber energi, sebenarnya lemak atau khususnya kolesterol memang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh (Almatsier, 2009). Kolesterol adalah senyawa lemak kompleks, yang 80% dihasilkan dari dalam tubuh (organ hati) dan 20% sisanya dari luar tubuh (zat makanan) untuk bermacam-macam fungsi di dalam tubuh, antara lain membentuk dinding sel. Kolesterol yang berada dalam zat makanan yang kita makan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Tetapi, sejauh pemasukan ini seimbang dengan kebutuhan, tubuh kita akan tetap sehat. Kolesterol tidak larut dalam cairan darah, untuk itu agar dapat dikirim ke seluruh tubuh perlu dikemas bersama protein menjadi partikel yang disebut lipoprotein, yang dapat dianggap sebagai pembawa (carier) kolesterol dalam darah (Almatsier, 2009). Kolesterol dan ergosterol merupakan prekursor vitamin D. Di dalam mukosa usus halus kolesterol diubah menjadi 7-dehidrokolesterol, provitamin

kolekalsiferol (vitamin D3) dan disimpan di lapisan lemak bawah kulit. Perubahan menjadi aktif terjadi bila kulit terkena ultra violet dari matahari (Murray, dkk., 2003). Kolesterol dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit. Kolesterol yang tinggi tidak hanya dialami oleh orang yang bertubuh gemuk, tapi orang yang kurus tidak berarti kolesterolnya rendah. Ini juga dapat menimpa orang-orang yang masih muda. Berbagai kalangan umur, harus berusaha menjalani pola hidup yang sehat agar dapat menjaga kolesterol dalam darahnya tetap normal (Tirtawinata, 2006).

Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang "jahat" karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang "baik" karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat (Nuraini, 2007). Pengangkutan lipida/lipoprotein dapat dibedakan antara jalur eksogen

dan endogen. Pada jalur eksogen mula-mula dibentuk kilomikron di sel epitel usus dari trigliserida dan kolesterol makanan. Melalui saluran limfe kilomikron masuk ke sirkulasi amum dan sampai ke kapiler jaringan adiposa dan otot rangka dimana enzim lipase lipoprotein (LL) memecah trigli- serida dan melepaskan monogliserida dan asam lemak bebas (free fatty acid = FFA). Partikel sisa kembali ke sirkulasi umum. Setelah mengalami perubahan lalu diambil oleh hati. Hal ini berarti bahwa dengan cara tersebut trigliserida makanan

diangkut ke jaringan adiposa sedangkan kolesterol makanan ke hati. Sebagian kolesterol ini akan diubah menjadi asam em- pedu, sebagian lagi diekskresi ke empedu tanpa diubah lagi dan sebagian lagi disebarkan ke jaringan lain (Barasi, 2007). HDL merupakan lipoprotein yang berfungsi untuk mengangkut kolesterol yang berlebih yang terdeposit di dalam pembuluh darah maupun jaringan tubuh lainnya menuju ke hepar untuk di eliminasi melalui traktus

gastrointestinal. Semakin tinggi kadar HDL, maka akan semakin besar pula kapasitas untuk memindahkan koleserol dan mencegah sumbatan berbahaya

(arterosklerosis) yang berkembang di pembuluh darah. HDL juga membantu pembuluh darah agar tetap berdilatasi, sehingga menimbulkan aliran darah yang lebih lancar. Selain itu, HDL juga dapat mengurangi cedera pada pembuluh darah melalui efek antioksidan dan anti inflamasi (Barasi, 2007). Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnyaterdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000 (Nuraini, 2007). Albumin merupakan koloid alamiah pertama yang digunakan sebagai volume expander sehubungan dengan fungsinya dalam meningkatkan tekanan ankotik intravaskular sehingga mampu memperbesar volume intravaskular dan memperbaiki perfusi jaringan. Albumin juga berfungsi sebagai alat transport beberapa zat penting seperti lemak, toksin, obat-obatan (Hartono,2006). Albumin bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk (Nuraini, 2007) Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormon, dan obat-

obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah (Almatsier, 2009). Ukuran tingkat protein total sendiri kemungkinan tidak diketahui, tetapi dapat dinormalkan dengan adanya perubahan nilai unsur pokok protein. Contohnya menurunnya albumin distabilkan dengan naiknya tingkat immnoglobin ini merupakan kombinasi yang sudah lazim. Hiperalbuminae kemungkinan tidak terjadi, dan naiknya konsentrasi albumin hanya dialami pada keadaan dehidrasi yaitu untuk mereduksi kadar cairan plasma, sebagai akibat dari statis vena. Hipoalbuminaemia terjadi sebagai akibat dari overdehidrasi, kelebihan protein, pengurangan sintesis pada defisiensi makanan, penyakit hati, serta meningkatnya katabolisme (Almatsier, 2009). Salah satu fungsi utama hati adalah menyimpan dan mengeluarkan glukosa sesuai kebutuhan tubuh. Kelebihan glukosa akan disimpan di dalam hati dalam bentuk glikogen. Bila persediaan glukosa darah menurun, hati akan mengubah sebagian dari glikogen menjadi glukosa dan mengeluarkannya ke dalam aliran darah. Glukosa ini akan dibawa oleh darah ke seluruh bagian tubuh yang memerlukan, seperti otak, sistem saraf, jantung, dan organ tubuh lain. Sel-sel otot dan sel-sel lain di samping glukosa menggunakan lemak sebagai sumber energi. Sel-sel otot juga menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen (sebanyak 2/3 bagian). Glikogen ini hanya digunakan sebagai energi untuk keperluan otot saja dan tidak dapat dikembalikan sebagai glukosa ke dalam aliran darah. Tubuh hanya dapat menyimpan glikogen dalam jumlah terbatas, yaitu untuk keperluan energi beberapa jam (Almatsier, 2009). Peranan utama karbohidrat di dalam tubuh adalah menyediakan glukosa bagi sel-sel tubuh, yang kemudian diubah menjadi energi. Glukosa memegang peranan sentral dalam metabolisme karbohidrat. Jaringan tertentu hanya memperoleh energi dari karbohidrat seperti sel darah merah serta sebagian besar otak dan sistem saraf (Almatsier, 2009). Glukosa darah dapat dibaca dengan bermacam-macam cara mulai dari cara titrasi yang klasik, o-Toiludin, sampai dengan cara enzimatik. Cara yang paling

banyak dipakai di Indonesia sampai saat beberapa tahun yang lalu adalah cara oToluidine yang kurang spesifik, ini karena reagensianya dapat dicampur sendiri. Tetapi reagensia tersebut sangat korosif dan berbau asam karena pelarutnya adalah asam asetat glacial. Cara yang paling spesifik yaitu cara enzimatik karenha tidak mengganggu kesehatan (Sirajuddin, 2011). Bila glukosa memasuki sel, enzim-enzim akan memecahnya menjadi bagianbagian kecil yang pada akhirnya akan menghasilkan energi, karbondioksida, dan air. Bagian-bagian kecil ini dapat pula disusun kembali menjadi lemak. Agar tubuh selalu memperoleh glukosa untuk keperluan energi, hendaknya seseorang tiap hari memakan sumber karbohidrat pada selang waktu tertentu, karena persediaan glikogen hanya bertahan untuk keperluan beberapa jam (Almatsier, 2009). Serum transaminase merupakan sekelompok enzim dalam darah dan bekerja sebagai katalisator dalam proses pemindahan gugusan amino antara asam alfa amino dan asam alfa keto. Transaminase yang sering digunakan dalam menilai penyakit hati adalah Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). SGOT merupakan enzim mitokondrial yang diproduksi oleh hepar, otot, jantung, dan ginjal, sehingga kenaikan SGOT saja yang tinggi mungkin berasal dari organ lain. SGPT merpakan enzim sitolitik dan terutama diproduksi oleh hepatosit pada daerah periportal asinus hepar. Kenaikan SGPT lebih spesifik untuk kerusakan parenkim hepar. Kenaikan kadar transaminase dalam darah disebabkan oleh sel-sel yang kaya akan transaminase mengalami nekrosis atau hancur. Enzim-enzim tersebt masuk dalam peredaran darah. Nilai normal SGOT adalah 10-40 SI/dL, sedangkan SGPT adalah 5-35 SI/dL (Syafiq, 2007). Hepar merupakan organ yang penting untuk mempertahankan hidup dan berperan pada hampir setiap fungsi metabolisme tubuh. Hepar mempunyai kemampuan regenerasi yang tinggi. Pembuangan hepar sebagian, pada kebanyakan kasus sel hati yang mati atau sakit akan diganti dengan jaringan hati yang baru. Pemeriksaan fungsi hati merupakan tes skrining yang secara rutin dikerjakan untuk melacak penyakit hati. Pemeriksaan yang sering dikerjakan antara lain jumlah SGOT, SGPT, Gamma Glutamil Transpeptidase (GGT), alkali

fosfatase, laktat dehidrogenase (LDH), dan lainnya (Syafiq, 2007). Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intraseluler dan sebagainya adalah protein. Protein adalah bagian terbesar dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan mpolekul-molekul yang esensial untuk kehidupan (Almatsier, 2009). Protein merupakan komponen utama sel hewan dan manusia. Protein yang ada dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pertumbuhan dan pembentukan tubuh. Proses kimia dalam tubuh kita dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim. Enzim merupakan protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh. Di samping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein (Poedjiadi, 2007). Protein total adalah kadar semua jenis protein yang terdapat dalam serum/plasma terdiri atas albumin, globulin dan lain fraksi (protein yang kadarnya sangat rendah). Pemeriksaan protein total berguna untuk memonitor perubahan kadar protein yang disebabkan oleh berbagai penyakit. Biasanya diperiksa bersama-sama dengan pemeriksaan lain, misalnya kadar albumin, faal hati atau pemeriksaan elektroforesiss protein. Rasio albumin/globulin diperoleh dengan perhitungan dan dapat memberika keterangan tambahan. Kadar protein total meningkat pada keadaan dehidrasi, multiple myeloma dan penyakit hati menahun, merendah pada penyakit ginjal dan stadium akhir gagal hati (Sirajuddin, 2010). Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting pula. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu protein. Peranan

protein dalam tubuh akan dibahas dalam bab-bab yang berhubungan dengan hal tersebut (Ibnu, 2002). Asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat. Sedangkan pemicunya adalah makanan dan senyawa lain yang banyak mengandung purin. Sebetulnya, tubuh menyediakan 85 persen senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari makanan hanya sekitar 15 persen (Almatsier, 2009). Untuk itulah jika ingin mengetahui kadar kolesterol, HDL, glukosa, SPGT, SGOT, asam urat, albumin, dan protein total dalam tubuh manusia maka salah satu caranya adalah dengan melakukan pemeriksaan biokimia darah. Oleh karena itu, dilakukanlan percobaan kolesterol, HDL, albumin, protein total, SGOT, SPGT.

I.2 Prinsip Percobaan 1.2.1 Pemeriksaan Kolesterol Adapun prinsip percobaan pemeriksaan kolesterol adalah:
Cholesterol esterase

Cholesterol ester
Cholesterol oksidase

cholesterol + fatty acid

Cholesterol + O2 H2O2 + 4-Aminopenazom + Phenol monoamino) Phenazon + 4 H2O

4 Cholesterol + H2O2
Peroksidase

4-(p-benzokinon-

I.2.2 Pemeriksaan Hight Density Lipoprotein (HDL) Dengan pemberian polythylene glyco (PEG) kedalam sampel, chylomicron, VLDL dan LDL akan mengendap. Setelah disentrifungasi yang tertinggal dalam supernatan hanya HDL (High Density Lipoprotein) yang kadar cholesterolnya ditentukan dengan metode enzimatik .2.3 Pemeriksaan Albumin Prinsip percobaan ini didasarkan pada metode Doumas et al dimana albumin mengikat BCG sehingga menyebabkan perubahan dalam

penyerapan spectrum pencelupan. Pencelupan pembentukan albumin kompleks mempunyai puncak penyerapan pada 625 nm yang sangat proporsional pada konsentrasi albumin dalam sampel. I.2.4 Pemeriksaan Glukosa Prinsip dari percobaan ini adalah glukosa ST kit menggunakan dasar metode tinder yang klasik dengan enzim [G]lukose, [O]xi[D]ase, [P]eroksidase, 4-[A]minophenazone dan [P]henol (GOD-PAP), dengan reaksi sebagai berikut:
GOD

Cholesterol + O2 + H2O

Gluconic Acid + H2O


Peroksidase

H2O2 + Phenol + 4-Aminophenazone quinone berwarna merah.

H2O2 +

Zat

warna

I.1.5 Pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) Metode ini berdasarkan rekomendasi dari IFFC yang dikemukakan oleh Kurmen dkk (1955) dan dimodifikasi oleh Henry, dkk.
GOT

L Aspartat + 2-Oxoglutarate
MDH

Oxaloacetat + Glutamat Malate + NAD


LDH

Oxaloacetat + NADH Sampel Pyruvate + NADH NAD

L-Lactate

I.2.6 Pemeriksaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) Reagensia ini berdasarkan metode yang dianjurkan oleh IFCC dari metode yang dikemukakan oleh Wroblewski & Ladue.
ALT

L Alamine + 2-Oxoglutarate
LDH

Oxaloacetat + Glutamat Lactate + NAD


LDH

Oxaloacetat + NADH Sampel Pyruvate + NADH NAD

L-Lactate

I.2.7 Pemeriksaan Protein Total Protein dalam serum bereaksi dengan larutan alkalis copper-tartrat dan memberikan warna ungu (violet) yaitu reaksi biuret. I.1.8 Pemeriksaan Asam Urat
Uricase

Uric Acid + O2 + H 2 O 2 H2 O2 + AAP + DHBS


Peroksidase

Allation + CO2 + H2 O2 Quinoneimine + H2 O

I.3 Tujuan Percobaan 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pemeriksaan biokimia dalam plasma darah manusia. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui kadar kolesterol dalam plasma darah manusia. 2. Untuk mengetahui kadar HDL dalam plasma darah manusia. 3. Untuk mengetahui kadar albumin dalam plasma darah manusia. 4. Untuk mengetahui kadar glukosa dalam plasma darah manusia. 5. Untuk mengetahui kadar SGOT dalam plasma darah manusia. 6. Untuk mengetahui kadar SPGT dalam plasma darah manusia. 7. Untuk mengetahui kadar protein total dalam plasma darah manusia. 8. Untuk mengetahui kadar asam urat dalam plasma darah manusia. I.4 Manfaat Percobaan I.4.1 Pemeriksaan Kolesterol Manfaat dari percobaan ini adalah, agar kita dapat mengetahui cara menentukan kadar kolesterol dalam plasma darah manusia dan dapat mengetahui tinggi rendahnya kadar kolesterol seseorang. I.1.2 Pemeriksaan Hight Density Lipoprotein (HDL) Manfaat dari percobaan ini agar kita dapat menentukan banyaknya jumlah HDL (High Density Lipoprotein) dalam plasma darah sehingga dapat mengetahui banyak atau tidaknya kolesterol baik pada seseorang.

I.1.3 Pemeriksaan Albumin Manfaat dari percobaan ini agar kita dapat menentukan banyaknya jumlah albumin dalam serum manusia dan plasma pada kedua sistem baik manual maupun otomatis. I.1.4 Pemeriksaan Glukosa Manfaat percobaan ini adalah kita dapat mengetahui cara mengukur glukosa darah sehingga dapat mengetahui kadar glukosa dan dapat menetukan langkah-langkah pencegahan dalam mengontrol naik turunnya kadar glukosa dalam darah. I.1.5 Pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) Manfaat percobaan ini adalah agar kita dapat mengetahui cara menentukan kadar SGOT dalam plasma darah manusia. Sehingga kita dapat mengetahui kadar SGOT setiap individu. I.1.6 Pemeriksaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) Agar kita dapat mengetahui aktivitas SGPT dalam plasma darah manusia. Sehingga kita dapat menentukan apakah fungsi hati manusia itu berfungsi dengan baik atau tidak. I.1.7 Pemeriksaan Protein Total Manfaat dari percobaan ini adalah agar kita dapat mengetahui dan menentukan kadar protein total dalam plasma darah manusia berikut dengan bagaimana cara pengukurannya sehingga kita dapat melakukan langkahlangkah pencegahan atau pengobatan bila kadar protein total kita tinggi atau rendah. I.1.8 Pemeriksaan Asam Urat Manfaat dari percobaan ini adalah agar kita dapat mengetahui kadar asam urat dalam plasma darah setiap manusia. Sehingga kita dapat menetukan apakah orang tersebut mempunyai kadar asam urat normal atau berlebihan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemeriksaan Kolesterol Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh. Terdapat beberapa jenis teknik penilaian status gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung terbagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik (Sandjaja, dkk., 2007). Kolesterol adalah sterol yang paling dikenal oleh masyarakat.kolesterol didalam tubuh mempunyai fungsi ganda, yaitu di satu sisi lain dapat membahayakan tergantung berapa banyaknya terdapat didalam tubuh dan di bagian mana (Almatsier, 2009). Kolesterol merupakan komponen esensial membran struktural semua sel dan merupakan komponen utama sel otak dan saraf. Kolesterol terdapat dalam konsentrasi tinggi dalam jaringan kelenjar dan di dalam hati di mana kolesterol disintesis dan disimpan. Kolesterol merupakan bahan antara pembentukan sejumlah steroid penting, seperti asam empedu, asam folat, hormone-hormon drenal korteks, estrogen, androgen, dan progesteron (Almatsier, 2009). Adapun penilaian status gizi yang digunakan pada praktek berikut ini adalah secara biokimia yaitu Penilaian status gizi secara biokimia dilakukan dengan melakukan pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh, seperti darah, urine, tinja, jaringan otot, hati. Penggunaan metode ini digunakan untuk suata peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik (Ibnu, 2002). Kolesterol darah yang meningkat berpengaruh tidak baik utnuk jantung dan pembuluh darah telah diketahui luas oleh masyarakat. Namun, ada salah

pengertian, seolah-olah yang paling berpengaruh terhadap kenaikan kolesterol darah ini adalah kadar kolesterol makanan. Sehingga banyak prodeuk makanan, bahkan minyak goring diiklankan sebagai nonkolesterol.Jika kadar kolesterol dalam darah terlalu tinggi, maka akan mengendap membentuk Kristal. Endapan kolesterol dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (arteriosclerosis) karena dindingnya menjadi tebal. Akibatnya, elestisitas pembuluh darah menjadi berkurang, sehingga aliran darah terganggu (Murray,dkk., 2003). Kolesterol dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit. Kolesterol yang tinggi tidak hanya dialami oleh orang yang bertubuh gemuk, tapi orang yang kurus tidak berarti kolesterolnya rendah. Ini juga dapat menimpa orang-orang yang masih muda. Berbagai kalangan umur, harus berusaha menjalani pola hidup yang sehat agar dapat menjaga kolesterol dalam darahnya tetap normal. Tidak banyak yang mengetahui bahwa hiperkolesterol merupakan faktor risiko penyebab kematian di usia muda. Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia pada tahun 2002, tercatat sebanyak 4,4 juta kematian akibat hiperkolesterol atau sebesar 7,9% dari jumlah total kematian di usia muda (Murray, dkk., 2003). Kolesterol dapat membahayakan tubuh bila terdapat dalam jumlah terlalu banyak di dalam darah dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan yang dinamakan aterokklerosis. Bila penyempitan terjadi pada pembuluh darah jantung dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan bila pada pembuluh darah otak penyakit serebrovaskular (Hadju, 2005). Sebaliknya, hormon kolesterol dapat membahayakan tubuh. Kolesterol bila terdapat dalam jumlah terlalu banyak dalam darah dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan yang dinamakan aterosklerosis. Bila penyempitan terjadi pada pembuluih darah jantung dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan bila pada pembuluh otak menyebabkan penyakit serebrovaskular (Almatsier, 2009). Kolesterol adalah suatu molekul lemak di dalam sel dibagi menjadi LDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida. Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita disamping zat gizi lain seperti karbohidrat,

protein, vitamin dan mineral. Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Disamping sebagai salah satu sumber energi, sebenarnya lemak atau khususnya kolesterol memang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormon-hormon steroid. Kolesterol yang kita butuhkan tersebut, secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat jumlahnya karena asupan makanan yang berasal dari lemak hewani, telur dan yang disebut sebagai makanan sampah (junkfood). Kolesterol dalam tubuh yang berlebihan akan tertimbun di dalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan suatu kondisi yang disebut aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung dan stroke (Nuraini, 2007). Dalam mengatur makan, hindari makanan yang mengandung kolesterol yaitu minyak dan lemak hewan, antara lain daging sapi/kambing/babi, kulit ayam, jerohan, otak, hati ayam, cumi, udang, kerang, kepiting, kuning telur. Kolesterol bebeda dengan TGA. Sumber TGA antara lain gorengan, santan, asam lemak trans, margarine, butter (Schlenker dan Long, 2007). Kandungan kolesterol yang tertera pada makanan, hanyalah salah satu sumber peningkatan jumlah kolesterol. Tapi, penyumbang yang paling besar adalah diet yang tinggi lemak. Kandungan kolesterol dalam makanan dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap kadar kolesterol dalam tubuh. Lemak jenuh (yang ditemukan pada makanan dari hewan dan produk-produk susu) dan lemak trans (yang biasa ditemukan pada makanan kemasan) merupakan faktor penyumbang utama meningkatnya kadar kolesterol jahat LDL, penyebab aterosklerosis (Sediaoetama, 2006). Dalam mengatur makan, hindari makanan yang mengandung kolesterol yaitu minyak dan lemak hewan, antara lain daging sapi/kambing/babi, kulit ayam, jerohan, otak, hati ayam, cumi, udang, kerang, kepiting, kuning telur. Kolesterol bebeda dengan TGA. Sumber TGA antara lain gorengan, santan, asam lemak trans, margarine, butter (Sediaoetama, 2006).

Berikut ini beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengendalikan kolesterol Anda (Schlenker dan long, 2007) : 1. Diet Konsumsi makanan yang rendah lemak dan kolesterol. Misalnya dengan mengkonsumsi susu tanpa lemak dan mengurangi konsumsi daging. Pilihlah makanan dengan kandungan lemak tak jenuh daripada kandungan lemak jenuh. Minyak yang digunakan untuk menggoreng secara berulang-ulang dapat meningkatkan kadar kolesterol, maka ada baiknya Anda mengurangi konsumsi makanan yang digoreng. 2. Konsumsi makanan berserat. Lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat seperti gandum, kacangkacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Jenis makanan ini dapat menyerap kolesterol yang ada dalam darah dan mengeluarkannya dari tubuh. 3. Konsumsi antioksidan Antioksidan banyak terdapat dalam buah-buahan seperti jeruk, strawbery, pepaya, wortel, atau labu. Mengkonsumsi bawang putih secara teratur juga dapat menurunkan kadar kolesterol. 4. Hindari alkohol dan merokok Dengan merokok atau mengkonsumsi alkohol, kolesterol akan mudah menumpuk dalam aliran darah. 5. Olahraga Berolahraga secara teratur sesuai dengan umur dan kemampuan. Jaga agar berat tubuh Anda tetap ideal.

B. Pemeriksaan Hight Density Lipoprotein (HDL) Kolesterol adalah suatu zat esensial, yakni sejenis zat yang terpenting di dalam tubuh. Lemak atau lipid yaitu salah satu kelompok senyawa yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Sifat umum lemak adalah hidrofobic artinya tidak dapat larut dalam air tetapi larut dalam satu atau lebih zat pelarut organik Lipid tidak larut dalam air oleh sebab itu harus terikat pada protein (dalam bentuk lipoprotein) agar dapat diangkut dalam peredaran darah. Lipoprotein yaitu protein larut air yang

berfungsi untuk mengikat kolesterol dan trigliserid

secara

internal. Ada 4

kelompok lipoprotein yang telah diidentifikasi, yaitu chylomicron, lipoprotein dengan densitas yang sangat rendah atau VLDL (very low density lipoprotein), lipoprotein densitas rendah atau LDL (low density lipoprotein), dan lipoprotein densitas tinggi atau HDL( high density lipoprotein) (Hartono, 2007). Kolesterol ini tidak berbahaya. Kolesterol HDL mengangkut kolesterol lebih sedikit dari LDL dan sering disebut kolesterol baik karena dapat membuang kelebihan kolesterol jahat di pembuluh darah arteri kembali ke hati, untuk diproses dan dibuang. HDL mencegah kolesterol mengendap di arteri dan melindungi pembuluh darah dari proses Aterosklerosis (terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah) (Murray, dkk., 2003). Telah lama dikenal ada 3 jenis lipida yaitu kolesterol,trig- liserida dan fosfolipida. Untuk dapat diangkut dengan sirkulasi darah maka lipida, yang bersifat tidak larut di dalam air, berikatan dahulu dengan protein khusus, apoprotein, sede- mikian rupa sehingga bentuk ikatan tersebut yang dikenal sebagai lipoprotein dapat larut di dalam air. Berdasarkan beberapa cara pemeriksaan dapat dibedakan beberapa jenis lipoprotein (LP) yaitu kilomikron, VLDL (very low density lipoprotein), LDL (low density lipoprotein) dan HDL (high density lipoprotein) dengan ciri-ciri seperti dapat dilihat pada tabel l (Barasi, 2007). Uji atau pengukuran nilai LDL perlu dilakukan untuk mengetahui risiko terkena penyakit jantung. Uji LDL umumnya dilakukan sebagai bagian dari pengukuran kolesterol total, lipoprotein densitas tinggi (HDL), dan trigliserida. Hasil pengukuran LDL yang sehat umumnya berkisar antara angka optimal dan kisaran mendekati optimal.Berikut adalah salah satu patokan kisaran angka yang digunakan dalam pengukuran lab (Laboratorium yang berbeda memiliki kisaran nilai yang sedikit berbeda-beda) (Syafiq, 2007). 1. Optimal: kurang dari 100 mg/dL (kurang dari 70 mg/dL untuk individu yang memiliki riwayat penyakit jantung atau memiliki risiko sangat tinggi terkena penyakit aterosklerosis.) 2. Mendekati Optimal: 100 - 129 mg/dL, 3. Batas Tinggi: 130 - 159 mg/dL, 4. Tinggi: 160 - 189 mg/dL,

5. Sangat Tinggi: 190 mg/dL dan lebih tinggi. Sebelum melakukan pemeriksaan LDL, penggunaan obat apapun harus dihentikan sementara dan tidak diperbolehkan makan-minum selama 9-12 jam.Darah akan diambil dari vena (pembuluh balik), umumnya pada bagian siku atau bagian belakang tangan. Untuk bayi dan anak kecil, dapat digunakan pisau bedah untuk membuat luka di kulit (Syafiq, 2007). Pada jalur endogen trigliserida disintesa di hati bila diit mengandung asam lemak yang dengan gliserol membentuk tri- gliserida yang disekresi ke sirkulasi sebagai inti dari VLDL. Di kapiler trigliserida oleh LL jaringan terjadi penguraian kolesterol

dan penggantian trigliserida oleh ester

sehingga VLDL berubah menjadi LDL melalui IDL(intermediate- density-lipoprotein). LDL berfungsi untuk mengirimkan kolesterol ke jaringan

ekstrahepatik seperti sel-sel korteks adrenal, ginjal, otot dan limfosit. Sel-sel tersebut mempunyai reseptor-LDL di permukaannya. Di dalam. sel LDL melepaskan kolesterol untuk pembentukan hormon steroid dan sintesa dinding sel (Murray, dkk., 2003). Selain itu ada pula sel-sel fagosit dari sistem retikuloendotel yang menangkap dan memecah LDL. Bila sel-sel mati maka kolesterol

terlepas lagi dan diikat oleh HDL. Dengan bantuan enzim Lesitin kolesterol asiltranferase (LCAT) kolesterol ber- ikatan dengan asam lemak dan

dikembalikan ke VLDL dan LDL. Sebagian lagi diangkut ke hati untuk diekskresi ke em- pedu. Gambar 1 memperlihatkan bagan metabolisme LP sedangkan pada gambar 2 terlihat interaksi antara LDL dengan sel perifer (Barasi, 2007). Ada 2 teori yang menerangkan peranan LDL dan HDL dalam mengatur kadar kolesterol di dalam sel perifer. Yang pertama mengemukakan mekanisme kebalikan dari pengangkutan kolesterol dimana HDL bekerja mengangkut kolesterol dari sel perifer ke hati berlawanan dengan kerja L.DL. Yang kedua menyebutkan adanya hambatan bersaing antara HDL dan LDL pada reseptor dari sel perifer (Silman, 2009). Kolesterol adalah dan turunan penting esternya, dengan lemak berantai panjang

komponen

dari lipoprotein plasma dan membran sel.

Kolesterol diperlukan tubuh untuk membentuk hormon seks, vitamin D, dan garam empedu. kolesterol diangkut oleh darah dalam bentuk terikat dalam lipoprotein plasma. Lipoprotein plasma meliputi (Gibson, 2007) : 1. Kilomikron Pada jenis lipoprotein ini kandungan lemaknya tinggi, densitas rendah komposisi trigliserida tinggi, dan membawa sedikit protein (Krisnatuti

dan Rina, 1999). Kilomikron dibentuk dari triasilgliserol, kolesterol, protein dan berbagai lipid yang berasal dari makanan yang masuk usus halus. Pada peredaran kilomikron, triasilgliserol dihidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase menghasilkan residu yang kaya kolesterol disebut sisa kilomikron dan dibawa ke hati. 2. Very low desity lipoprotein (VLDL) VLDL merupakan senyawa lipoprotein yang berat jenisnya sangat rendah. Jenis lipoprotein ini memiliki kandungan lipid tinggi. Kira-kira 20%

kolesterol terbuat dari lemak endogenus di hati. Di dalam tubuh senyawa ini difungsikan sebagai pengangkut trigliserida dari hati ke seluruh jaringan tubuh. Wirahadikusumah (1985), menjelaskan bahwa sisa kolesterol yang tidak diekskresikan dalam empedu akan bersatu dengan VLDL sehingga menjadi LDL . Dengan bantuan enzim lipoprotein lipase, VLDL diubah menjadi IDL dan selanjutnya menjadi LDL. 3. Low density lipoprotein (LDL) LDL merupakan senyawa lipoprotein yang berat jenisnya rendah.

Lipoprotein ini membawa lemak dan mengandung kolesterol yang sangat tinggi, dibuat dari lemak endogenus di hati. LDL ini diperlukan tubuh untuk mengangkut kolesterol dari hati ke seluruh jaringan tubuh. LDL berinteraksi dengan reseptor pada membran sel membentuk kompleks LDL-reseptor. Kompleks LDL-reseptor masuk ke dalam sel malalui proses yang khas, yaitu dengan pengangkutan aktif atau dengan endositosis. LDL merupakan kolesterol jahat karena memiliki sifat aterogenik (mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah dan mengurangi pembentukan reseptor LDL). Hal ini akan menyebabkan terjadinya kenaikan kadar kolesterol-LDL. Kelebihan kolesterol dalam

4. High density lipoprotein (HDL) HDL merupakan senyawa lipoprotein yang berat jenisnya tinggi. Membawa lemak total rendah, protein tinggi, dan dibuat dari lemak endogenus di hati. Oleh karena kandungan kolesterol yang lebih rendah dari LDL dan fungsinya sebagai pembuangan kolesterol maka HDL ini sering disebut kolesterol baik. HDL ini digunakan untuk mengangkut kolesterol jaringan berlebihan dari seluruh

tubuh untuk dibawa ke hati. Dengan demikian, HDL merupakan

lipoprotein pembersih kelebihan kolesterol dalam jaringan. Kalau kadar HDL dalam darah cukup tinggi, terjadinya proses pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah pun dapat dicegah. Kolesterol yang diangkut ke hati

terutama berupa kolesterol yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan empedu dan hormon. Kandungan HDL dikatakan rendah jika kurang dan 35 mg% pada pria dan kurang dari 42 mg% pada wanita (Gibson, 2005). HDL dalam plasma darah akan mengikat kolesterol bebas maupun ester kolesterol dan mengangkutnya kembali ke hati. Selanjutnya, kolesterol

yang terikat akan mengalami perombakan menjadi cadangan kolesterol untuk sintesis VLDL. Tingginya kadar HDL dalam darah akan mempercepat proses pengangkutan kolesterol kehati, sehingga mengurang kemungkinan terjadinya penimbunan kolesterol dalam pembuluh darah (Gibson, 2005).

C. Pemeriksaan Albumin Albumin adalah kontributor mayor pada protein total plasma yang mempunyai fungsi (Sirajuddin, 2011): 1. Sebagian kelompok asam amino, mengatur distribusi cairan ekstra selular 2. Bertindak sebagai alat transportasi bagi bermacam-macam substansi seperti hormone, lipid, vitamin, kalsium dan sisa-sisa logam. 3. Membentuk Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan. Pada

masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu (Poedjiadi, 2007). Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolismeasam lemak bebas dan bilirubuindan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler. (Hartono, 2006) Albumin bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah ( Schlenker dan Long, 2007) Albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu. ( Schlenker dan Long, 2007) Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. (Hartono, 2006) Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnyaterdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma

manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000. (Hartono, 2006) Sejak beberapa dekade yang lalu infus albumin merupakan bagian dari penatalaksanaan pasien sirosis hepatis dengan asites, bertujuan untuk mengurangi perbentukan asites dan/atau memperbaiki sirkulasi dan fungsi ginjal.Sebuah studi menunnjukkan bahwa pada pasien sirosis hati dengan asites permagna yang menjalani parasistesis disertai pemberian albumin, tidak terjadi gangguan elektrolit, peningkatan serum kreatinin maupun peningkatan plasma renin. Sementara itu Compean dkk (2002) telah membandingkan pemakaian dextran-40 dengan albumin pada 48 pasien sirosis yang menjalani parasistesis. Disfungsi sirkulasii detemukan sebanyak 42% pada kelompok dextran-40 dan 20% pada kelompok albumin dengan peningkatan aktivitas plasma renin pada kelompok dextran-40 sebesar 51% dan pada kelompok albumin sebesar 15%. Dengan demikian terjadi perbedaan yang bermakna (Corwin, 2000). Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolismeasam lemak bebas dan bilirubuindan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler. (Hartono, 2006) Struktur dasar imunoglobulin terdiri atas 2 rantai berat (H-chain) yang identik dan 2 rantai rinngan (L-chain) yang juga identik. Setiap rantai ringan terikat pada rantai berat melalui ikatan disulfida (S-S), demikian pula rantai berat satu dengan yang lain diikat dengan ikatan S-S. Molekul ini oleh enzim proteolitik papain dapat dipecah menjadi tiga fragmen, yaitu 2 fragmen yang mempunyai susunan sama terdiri atas H-chain dan L-chain, disebut fragmen Fab yang dibentuk oleh domain terminal-N, dan 1 fragmen yang hanya terdiri atas H-chain saja disebut fragmen Fc yang dibentuk oleh domain terminal-C (Hartono, 2006). Fragmen Fab dengan antigen binding site, berfungsi mengikat antigen karena itu susunan asam amino di bagian ini berbeda antara molekul imunoglobulin yang satu dengan yang lain dan sangat variabel sesuai dengan variabilitas antigen yang merangsang pembentukannya. Sebaliknya fragmen Fc

merupakan fragmen yang konstan. Fragmen ini tidak mempunyai kemampuan mengikat antigen tetapi dapat bersifat sebagai antigen (determinan antigen). Fragmen ini pulalah yang mempunyai fungsi efektor sekunder dan menentukan sifat biologik imunoglobulin bersangkutan, misalnya kemampuan imunoglobulin untuk melekat pada sel, fiksasi komplemen, kemampuan imunoglobulin menembus plasenta, distribusi imunoglobulin dalam tubuh dan lain-lain. Papain memecah imunoglobulin pada terminal asam amino di tempat iakatan S-S yang mengikat kedua rantai H satu dengan yang lain. (Hartono, 2006) Enzim proteolitik lain yaitu pepsin dapat memecah molekul imunoglobulin dibelakang ikatan S-S. Pemecahan ini mengakibatkan terbentuknya satu fragmen besar yang disebut F(ab)2 yang mampu mengikat dan menggumpalkan antigen karena ia bersifat bivalen dan dapat membentuk lattice. Pepsin selanjutnya dapat memecah fragmen Fc menjadi beberapa bagian kecil. Bagian molekul imunoglobulin yang peka terhadap pemecahan oleh kedua enzim diatas disebut bagian engsel (hinge region). Kedua bentuk imunoglobulin, yaitu sIg dan Ig yang disekresikan hanya berbeda pada domain terminal-C: sIg memiliki bagian transmembran dan bagian intrasitoplasmik yang pendek. (Hartono, 2006) Polimerisasi imunoglobulin terjadi pada IgM (pentamer atau heksamer) dan IgA (umumnya dimer). Polimerisasi kelas imunoglobulin ini bergantung pada rantai J (joining) dan banyaknya rantai J menentukan proporsi molekul IgM pentamer dibanding IgM heksamer. Rantai J membantu polimerisasi IgM dan IgA dengan cara ikat-silang disulfida pada sesidu cysteine yang terdapat pada domain C-terminal molekul IgM dan IgA yang disekresi (Hartono, 2006 )

D. Pemeriksaan Glukosa Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan (Ibnu, 2002). Glukosa diperoleh dari pencernaan karbohidrat atau dari perubahan monosakarida, galaktosa, dan sakarida dalam hati atau dari pemecahan glikogen di

dalam hati dan otot. Glikosa ini dibawa oleh system peredaran darah ke sel-sel yang membutuhkan (Ibnu, 2002). Glukosa ialah sejenis gula ringkas. Tumbuh-tumbuhan menyimpan glukosa sebagai karbohidrat yang dinamai kanji dalam bijirin seperti beras, jagung, barli dan sebagainya. Glukosa dalam larutan memutarkan cahaya terkutub-satah ke sebelah kanan, maka ia dikenali sebagai gula dekstrosa. Jumlah glukosa yang diperlukan oleh tubuh setiap hari ialah 160g. 120g daripadanya diperlukan oleh otak setiap hari bagi orang dewasa. Jumlah glukosa yang terdapat dalam cecair tubuh ialah 20g dan yang sedia ada daripada degradasi glikogen simpanan ialah 190g. Justru, glikogen simpanan dapat membekalkan glukosa kepada tubuh dengan mencukupi untuk tempoh satu hari saja. Dalam keadaan kebuluran yang berpanjangan, glukosa mesti dibentukkan daripada sumber bukan karbohidrat .Dalam alam, glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun. Proses ini disebut fotosintesis dan glukosa yang terbentuk terus digunakan untuk pembentukan amilum dan selulosa. Amilum yang terbentuk dari glukosa dengan jalan penggabungan molekulmolekul glukosa yang membentuk rantai lurus maupun bercabang dengan melepaskan molekul air. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan siup glukosa, yaitu suatu larutan glukosa yang sangat pekat, sehingga mempunyai viskositas atau kekentalan yang tinggi. Sirup glukosa ini diperoleh dari amilum melalui proses hidrolisis dengan asam (Poedjiadi, 2007). Dalam alam, glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun. Proses ini disebut fotosintesis dan glukosa yang terbentuk terus digunakan untuk pembentukan amilum dan selulosa. Amilum yang terbentuk dari glukosa dengan jalan penggabungan molekul-molekul glukosa yang membentuk rantai lurus maupun bercabang dengan melepaskan molekul air. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan sirup glukosa, yaitu suatu larutan glukosa yang sangat pekat, sehingga mempunyai viskositas atau kekentalan yang tinggi. Sirup glukosa ini diperoleh dari amilum melalui proses hidrolisis dengan asam (Almatsier, 2009). Glukosa diserap ke dalam peredaran darah melalui saluran pencernaan. Sebagian glukosa ini kemudian langsung menjadi bahan bakar sel otak, sedangkan

yang lainnya menuju hati dan otot, yang menyimpannya sebagai glikogen ("pati hewan") dan sel lemak, yang menyimpannya sebagai lemak. Glikogen merupakan sumber energi cadangan yang akan dikonversi kembali menjadi glukosa pada saat dibutuhkan lebih banyak energi. Meskipun lemak simpanan dapat juga menjadi sumber energi cadangan, lemak tak pernak secara langsung dikonversi menjadi glukosa.Glukosa bila diperlukan dapat dibentuk kembali dari piruvat (Almatsier, 2009). Jika hanya sedikit oksigen tersedia, piruvat akan menjadi asam laktat. Ini terutama terjadi pada jaringan otot yang tiba-tiba harus berkontraksi kuat, bila latihan/ pekerjaan melebihi kemampuan jantung dan paru-paru untuk

mengeluarkan CO2 dari otot-otot. Dengan persediaan oksigen terbatas dan pengeluaraan karbondioksida yang terbatas pula, asam laktat akan menumpuk, ini akan menimbulkan rasa lelah dan sakit. Untuk mengatasi ini hendaknya kegiatan otot diturunkan sehingga darah yang beredar dapat mengangkut asam laktat ke hati. Didalam hati asam laktat akan diubah kembali menjadi glukosa melalui siklus cori. Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah (Murray, dkk., 2003). Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk

mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah (Murray, dkk., 2003). Apabila level gula dara meningkat, entah karena perubahan glikoen, atau karena pencernaan makanan, hormon yang lain dilepaskan dari butir-butir sel yang terdapat di dalam pankreas. Hormon ini, yang disebut insulin, menyebabkan

hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini disebut gliogenosis, yang mengurangi level gula darah. Diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh tidak cukup atau tidak dihasilkannya insulin, sementara tipe 2 disebabkan oleh respon yang tidak memadai terhadap insulin yang dilepaskan ("resistensi insulin"). Kedua jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya glukosa yang terdapat di dalam darah (Murray, dkk., 2003). Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya. Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan (Murray, dkk., 2003).

E. Pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) AST adalah enzim hati, yang juga dikenal sebagai SGOT. Tingkat enzim inilah yang diukur pada tes fungsi hati, yang menunjukkan tingkat kerusakan pasa hati (Sirajuddin, 2009). AST (SGOT) normalnya ditemukan dalam suatu keanekaragaman dari jaringan termasuk hati, jantung, otot, ginjal, dan otak. Ia dilepaskan kedalam serum ketika satu saja dari jaringan-jaringan ini rusak. Contohnya, tingkatnya didalam serum naik dengan serangan-serangan jantung dan dengan kelainan-kelainan otot. Ia oleh karenanya bukan suatu indikator yang sangat spesifik dari luka hati (Sirajuddin, 2009). Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik yang berat, luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita mendapat injeksi intra muskular (suntik lewat jaringan otot), sel-sel otot pun bisa mengalami sedikit kerusakan dan meningkatkan kadar enzim transaminase ini. Pendek kata, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kenaikan SGOT-SGPT. Dibandingkan dengan SGOT, SGPT lebih spesifik menunjukkan ketidakberesan sel hati, karena

SGPT hanya sedikit saja diproduksi oleh sel nonliver. Biasanya, faktor nonliver tidak menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya, tidak sampai 100% di atas BAN (Murray, dkk., 2003). AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa. Akalin fosfatase meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Alkalin fosfatase sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan alkalin fosfatase dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain, peningkatan pada alkalin fosfatase dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati (Murray, dkk., 2003). Gangguan hati sendiri bentuknya berjenis-jenis, dengan jumlah penderita tak sedikit. Jumlah pengidap hepatitis C saja sekitar 3% dari populasi. Belum lagi hepatitis A dan B yang jumlahnya jauh lebih banyak. Apalagi jika ditambah dengan perlemakan hati, sirosis, intoksikasi obat, fibrosis hati, dan penyakit lain yang nama-nya jarang kita dengar. Penyakit-penyakit tadi umumnya ditandai dengan peningkatan angka SGOT-SGPT. Namun, kedua enzim itu tidak 100% dihasilkan oleh liver. Sebagian kecil juga diproduksi oleh sel otot, jantung, pankreas, dan ginjal. Itu sebabnya, jika sel-sel otot mengalami kerusakan, kadar kedua enzim ini pun meningkat (Murray, dkk., 2003). Enzim AST adalah enzim intraseluler yang bekerja sebagai katalisator dalam proses pemindahan gugus amino, yang melibatkan asam aspartat dan asam ketoglutarat. asam l-aspartat + asam ketoglutarat <=> asam oksaloasetat + asam glutamate. Kadar yang tinggi dari enzim AST dapat kita jumpai pada berbagai organ seperti sel otot jantung, hati, otot rangka, ginjal, pankreas, sel darah merah, otak dan jaringan lainnya. Peningkatan kadar AST serum dapat terlihat pada berbagai keadaan dimana terjadi nekrosis dari sel hati, sel jantung, sel darah merah, atau sel otot rangka (Sandjaja, dkk., 2007). Uji Faal Hati atau fungsi Hati, biasanya diidentikkan dengan pemeriksaan Aspartate Aminotransferase (AST) yang di Indonesia sering disebut SGOT.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah AST seseorang meningkat atau tidak. AST itu sendiri adalah salah satu enzim di hati. Tapi bisa juga keluar dari sel otot, sel darah merah atau dari lokasi lainnya. Namun dari penelitian, level AST akan meningkat 10 sampai 20 kali dari batasan normal pada penyakit hepatitis (radang hati) atau hepatotoxicity (keracunan hati). Peningkatan ini, terjadi secara cepat (akut) yakni 1 - 2 hari setelah virus atau toksin masuk. Dan akan normal kembali pada hari ke-3 sampai hari ke-6 itupun jika kita berhasil mengatasi virus atau toksinnya. Contoh penyakit hati yang akut adalah Hepatitis A dan Hepatitis B (Sandjaja, dkk., 2007). Enzim ini lebih spesifik dibandingkan AST. Enzim ini dikeluarkan di hati, ginjal dan otot. Enzim ini perlu juga diperiksa sebagai konfirmasi dari pemeriksaan AST. Bila ALT dan AST meningkat keduanya berarti memang sel hatilah yang rusak. Hal ini ditunjukkan dengan adanya rasio AST/ALT, di mana bila nilainya kurang dari atau sama dengan 1, maka kemungkinan penyakitnya adalah akut. Namun bila nilainya lebih dari 1, kemungkinan penyakitnya adalah kronis (Barasi, 2007).

F. Pemeriksaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa. Akalin fosfatase meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Alkalin fosfatase sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan alkalin fosfatase dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain, peningkatan pada alkalin fosfatase dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker (Poedjiadi, 2005). Kerusakan hati yang jelas yang ditimbulkan oleh racun-racun seperti dari suatu overdosis (kelebihan dosis) dari acetaminophen (nama merk Tylenol), dan runtuhnya sistim peredaran yang lama (shock) ketika hati dirampas/dicabut dari darah segar yang membawa oksigen dan nutrisi-nutrisi. Tingkat-tingkat serum AST

dan ALT pada situasi-situasi ini dapat mencakup dimana saja dari sepuluh kali batasan-batasan normal atas sampai ke ribuan unit/liter Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik yang berat, luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita mendapat injeksi intra muskular (suntik lewat jaringan otot), sel-sel otot pun bisa mengalami sedikit kerusakan dan meningkatkan kadar enzim transaminase ini. Pendek kata, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kenaikan SGOT-SGPT. Dibandingkan dengan SGOT, SGPT lebih spesifik menunjukkan ketidakberesan sel hati, karena SGPT hanya sedikit saja diproduksi oleh sel nonliver. Biasanya, faktor nonliver tidak menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya, tidak sampai 100% di atas BAN (Murray, dkk., 2003). Mereka seringkali secara tak terduga ditemukan pada tes-tes screening darah rutin pada individu-individu yang jika tidak adalah sehat. Tingkat-tingkat AST dan ALT pada kasus-kasus semacam ini biasanya ada diantara dua kali batas-batas normal atas dan beberapa ratus unit/liter. Penyebab yang paling umum dari kenaikan-kenaikan yang ringan sampai sedang dari enzim-enzim hati ini adalah fatty liver (hati berlemak). Di Amerika, penyebab hati berlemak yang paling sering adalah penyalahgunaan alkohol. Penyebab-penyebab lain dari fatty liver termasuk diabetes mellitus dan kegemukan (obesity). Hepatitis C kronis juga sedang menjadi suatu penyebab yang penting dari kenaikan-kenaikan enzim hati yang ringan sampai sedang Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik yang berat, luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita mendapat injeksi intra muskular (suntik lewat jaringan otot), sel-sel otot pun bisa mengalami sedikit kerusakan dan meningkatkan kadar enzim transaminase ini. Pendek kata, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kenaikan SGOT-SGPT. Dibandingkan dengan SGOT, SGPT lebih spesifik menunjukkan ketidakberesan sel hati, karena SGPT hanya sedikit saja diproduksi oleh sel nonliver. Biasanya, faktor nonliver tidak menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya, tidak sampai 100% di atas BAN (Murray, dkk., 2003). Faal hati yang terjadi pada infeksi bakterial maupun virus yang sistemik yang bukan virus hepatitis. Penderita semacam ini, biasanya ditandai dengan demam tinggi, myalgia, nausea, asthenia dan sebagainya. Disini faal hati terlihat akan terjadinya peningkatan SGOT, SGPT serta -GT antara 3-5X nilai normal.

Tes faal hati pada hepatitis virus akut maupun drug induce hepatitis.. SGOT, SGPT meningkat lebih dari 5 sampai 20 kali nilai normal. -GT dan alkalifosfatase meningkat 2 sampai 4 kali nilai normal, kecuali pada hepatitis kolestatik dapat lebih tinggi (Murray, dkk., 2003). Adapun kadar enzim plasma non-fungsional meliputi (Murray, dkk., 2003): 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Aspartate aminotransferase (AST;SGOT) 0-41 IU/L Alanine aminotransferase (ALT;SGPT) 0-45 IU/L Fosfatase asam 1-5 unit Fosfatase alkali 5-13 unit Laktat dehidrogenase (LDH) 55-140 IU/L Kreatin kinase (CK) 10-50 IU/L BB 0 %, MB 0-3 %, MM 97-100 % SGOT-SGPT merupakan dua enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel hati. Bila sel-sel liver rusak, misalnya pada kasus hepatitis atau sirosis, biasanya kadar kedua enzim ini meningkat. Makanya, lewat hasil tes laboratorium, keduanya dianggap memberi gambaran adanya gangguan pada hati (Sirajuddin, 2009). ALT adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati. ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan ALT terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat, penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu (Sirajuddin, 2009). Reagensia ini gunakan untuk menentukan aktivitas ALT (L Alanin : 2 Oxoglutarate Aminotransferase EC 2.6.1.2) atau SGPT dalam seru manusi secara kuantitatif in vitro. SGPT banyak terdapat dalam sel hati dan ditemukan juga dalam jumlah yang tidak begitu banyak dalam ginjal, otot jantung dan skeletal, pankreas, limpa dan paru (Sirajuddin, 2009). Adapun parameter yang digunakan adalah nilai SGPT dan SGOT. SGPT merupakan enzim yang diproduksi oleh hepatocytes, jenis sel yang banyak terdapat di liver. Kadar SGPT dalam darah akan meningkat seiring dengan

kerusakan pada sel hepatocytes yang bisa terjadi karena infeksi virus hepatitis, alkohol, obat-obat yang menginduksi terjadinya kerusakan hepatocytes, dan sebab lain seperti adanya shok atau keracunan obat (Supariasa, 2002). Batas atas normal tergantung pada reagen dan alat yang digunakan. Di rumah sakit tertentu, BAN kadar SGPT bisa 40 u/l, tapi di klinik lain bisa 65 u/l. Ini hanya masalah teknis pemeriksaan. Itu sebabnya, kita tak bisa menyatakan tinggi rendahnya SGOT-SGPT dari angka absolut, tetapi dari nilai relatif (dibandingkan dengan BAN) (Supariasa, 2002). G. Pemeriksaan Protein Total Protein adalah bagian terbesar dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2009). Protein adalah suatu makromolekul yang tersusun atas molekul-molekul asam amino yang berhubungan satu dengan yang lain melalui suatu ikatan yang dinamakan ikatan peptida. Sejumlah besar asam amino dapat membentuk suatu senyawa protein yang memiliki banyak ikatan peptida, karena itu dinamakan polipeptida. Secara umum protein berfungsi dalam sistem komplemen, sumber nutrisi, bagian sistem buffer plasma, dan mempertahankan keseimbangan cairan intra dan ekstraseluler. Berbagai protein plasma terdapat sebagai antibodi, hormon, enzim, faktor koagulasi, dan transport substansi khusus.Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit mensintesis fibrinogen, albumin, dan 60 80 % dari bermacam-macam protein yang memiliki ciri globulin. Globulin-globulin yang tersisa adalah imunoglobulin (antibodi) yang dibuat oleh sistem limforetikuler (Barasi, 2007). Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar protein total, yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut dalam serum. Penetapan ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein berisi asam amino dan asam amino berisi nitrogen. Total protein terdiri atas albumin (60%) dan globulin

(40%). Bahan pemeriksaan yang digunakan untuk pemeriksaan total protein adalah serum. Bila menggunakan bahan pemeriksaan plasma, kadar total protein akan menjadi lebih tinggi 3 5 % karena pengaruh fibrinogen dalam plasma (Barasi, 2007). Cara yang paling sederhana dalam penetapan protein adalah dengan refraktometer (dipegang dengan tangan) yang menghitung protein dalam larutan berdasarkan perubahan indeks refraksi yang disebabkan oleh molekul-molekul protein dalam larutan. Indeks refraksi mudah dilakukan dan tidak memerlukan reagen lain, tetapi dapat terganggu oleh adanya hiperlipidemia, peningkatan bilirubin, atau hemolisis. Saat ini, pengukuran protein telah banyak menggunakan analyzer kimiawi otomatis. Pengukuran kadar menggunakan prinsip penyerapan (absorbance) molekul zat warna. Protein total biasanya diukur dengan reagen Biuret dan tembaga sulfat basa. Penyerapan dipantau secara spektrofotometri pada 545 nm. Albumin sering dikuantifikasi sendiri. Sedangkan globulin dihitung dari selisih kadar antara protein total dan albumin yang diukur (Barasi, 2007). Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema. Rasio A/g merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi dua protein yang penting, yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan A/G adalah > 1.0. Nilai rasio yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, sedangkan rasio yang rendah ditemukan pada penyakit hati dan ginjal. Perhitungan elektroforesis merupakan perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara perhitungan rasio A/G (Barasi, 2007). Berdasarkan struktur molekulnya, protein dapat dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu (Sirajuddin, 2011) : 1. Protein Globuler; yaitu protein berbentuk bulat atau elips dengan rantai polipeptida yang berlipat. Umumnya, protein globuler larut dalam air, asam, basa, atau etanol. Contoh : albumin, globulin, protamin, semua enzim dan antibodi. 2. Protein Fiber; yaitu protein berbentuk serat atau serabut dengan rantai polipeptida memanjang pada satu sumbu. Hampir semua protein fiber

memberikan peran struktural atau pelindung. Protein fiber pada rambut, kalogen pada tulang rawan, dan fibroin pada sutera. Protein membentuk tubuh kita. Protein bertindak sebagai unit structural yang membangun tubuh kita. Enzim protein mendorong makanan menjadi nutrisi yang dapat digunakan oleh sel. Sebagai antibody, protein melindungi kita dari penyakit. Protein juga melakukan banyak hal: mereka berperan besar pada pertumbuhan semasa kecil kita dan memperkuat tubuh kita sampai dewasa. Protein juga berperan dalam membentuk individu unik seperti kita (Almatsier, 2009). Sifat-sifat protein (Sirajuddin, 2011) : 1. Berat molekul protein sangat besar, ribuan sampai jutaan, sehingga merupakan suatu makromolekul. Seperti senyawa polimer lain (misalnya : pati), protein dapat pula dihidrolisis oleh asam, basa, atau enzim tertentu dan menghasilkan campuran asam-asam amino. 2. Sifat fisikokimia protein berbeda satu sama lain, tergantung pada komposisi dan jenis asam amino penyusunnya. Sebagian besar protein bila dilarutkan dalam air akan membentuk disperse koloid dan tidak dapat berdifusi bila dilewatkan melalui membran semipermiabel. Beberapa protein mudah larut dalam air, tetapi ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti eter, kloroform, atau benzene. 3. Pada umumnya, protein sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia, sehingga mudah mengalami perubahan bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur molekul protein disebut denaturasi. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya denaturasi adalah : panas, pH, tekanan, aliran listrik, dan adanya bahan kimia seperti urea, alkohol, atau sabun. Proses denaturasi kadang berlangsung secara reversible, tetapi ada pula yang irreversible, tergantung pada penyebabnya. Protein yang mengalami denaturasi akan menurunkan aktivitas biologis dan berkurang kelarutannya, sehingga mudah menguap. 4. Molekul protein mempunyai gugus amino (-NH2) dan gugus karboksilat (-

COOH) pada ujung-ujung rantainya. Hal ini menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam dan basa.

5. Setiap jenis protein dalam larutan mempunyai pH tertentu yang disebut titik isoelektrik (TI). Pada titik isoelektrik, protein mengalami pengendapan (koagulasi) paling cepat dan prinsip dapat digunakan untuk pemisahan atau pemurnian suatu protein. . Protein total adalah kadar semua jenis protein yang terdapat dalam serum/plasma, terdiri atas albumin, globulin dan lain fraksi (protein yang kadarnya sangat rendah). Pemeriksaan protein total berguna untuk memonitor perubahan kadar protein yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit. Biasanya diperiksa bersama-sama dengan pemeriksaan lain, misalnya kadar albumin, faal hati atau pemeriksaan elektroforesis protein. Rasio albumin/globulin diperoleh dengan perhitungan dan dapat memberikan keterangan tambahan. Kadar protein total meningkat pada keadaan dehidrasi, multipel mieloma dan penyakit hati menahun, merendah pada penyakit ginjal dan stadium akhir gagal hati (Supariasa, 2002). Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh antara lain (Supariasa, 2002): 1. Untuk mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmosis dari plasma protein. 2. Sebagai cadangan protein tubuh. 3. Untuk mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen) 4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu. 5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin 6. Untuk mengatur aliran darah, dalam membentuk bekerjanya jantung. Dari makanan kita memperoleh Protein. Di sistem pencernaan protein akan diuraikan menjadi peptid peptid yang strukturnya lebih sederhana terdiri dari asam amino. Hal ini dilakukan dengan bantuan enzim. Tubuh manusia memerlukan 9 asam amino. Artinya kesembilan asam amino ini tidak dapat disintesa sendiri oleh tubuh esensial, sedangkan sebagian asam amino dapat disintesa sendiri atau tidak esensial oleh tubuh. Keseluruhan berjumlah 21 asam amino. Setelah penyerapan di usus maka akan diberikan ke darah. Darah membawa asam amino itu ke setiap sel tubuh. Kode untuk asam amino tidak esensiil dapat disintesa oleh DNA. Ini disebut dengan DNAtranskripsi. Kemudian mRNA hasil transkripsi di proses lebih lanjut di ribosom atau retikulum endoplasma, disebut sebagai translasi (Supariasa, 2002).

H. Pemeriksaan Asam Urat Penelitian di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa penderita penyakit asam urat menyerang 10% penduduk laki- laki dan 4% penduduk perempuan. Prevalensi gout di Amerika Serikat 10% terjadi pada hiperurisemia sekunder dan diperkirakan 15 dari setiap 100 pria Amerika Serikat beresiko menderita gout. Adapun 90% pasien gout primer adalah laki-laki berusia 30 tahun. Kadar asam urat yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal, batu ginjal, jantung koroner dan diabetes mellitus. Sebuah penelitian yang

dilakukan para ahli di Amerika Serikat menyebutkan bahwa tingginya kadar asam urat pada orang tua berhubungan dengan adanya gangguan pada fungsi kognitif (Supariasa 2002). Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk nukleoprotein). Penyebab radang sendi akibat peningkatan kadar asam urat darah disebut gastritis gout atau atritis pirai (Sandjaja, 2007). Gout adalah penyakit yang terjadi akibat penumpukan asam urat di dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat produksi yang meningkat, pembuangannya melalui ginjal yang menurun, atau akibat peningkatan asupan makanan kaya purin. Gout terjadi ketika cairan tubuh sangat jenuh akan asam urat karena kadarnya yang tinggi (hiperurisemia). Kondisi yang terkait dengan hiperurisemia adalah diet kaya purin, obesitas, serta sering minum alkohol (Sandjaja, 2007). Allopurinol merupakan obat yang paling banyak digunakan untuk produksi asam urat yang berlebih, pasien yang tidak mempunyai respon terhadap obat urikosurik dan pasien gout disertai batu ginjal (Sandjaja, 2007). Gout ditandai dengan serangan berulang dari arthritis (peradangan sendi) yang akut, kadang-kadang disertai dengan pembentukan kristal sodium urat yang besar (yang dinamakan tophus), deformitas (kerusakan) sendi secara kronik, dan adanya cedera pada ginjal.Gout secara tradisional dibagi menjadi bentuk primer (90 persen) dan sekunder (10 persen). Gout primer adalah kasus gout di mana penyebabnya tidak diketahui atau akibat kelainan proses metabolisme dalam tubuh. Gout sekunder adalah kasus di mana penyebabnya dapat diketahui. Sekitar 90%

pasien gout primer adalah laki-laki yang umumnya berusia lebih dari 30 tahun, sementara gout pada wanita umumnya terjadi setelah menopause. Diperkirakan bahwa gout terjadi pada 840 orang setiap 100.000 orang. Gout sangat terkait dengan obesitas, hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes mellitus (Soekirman, 2005). Penyakit radang sendi akibat peningkatan kadar asam urat darah disebut dengan artritis gout atau artritis pirai. Artritis gout yang akut disebabkan oleh reaksi radang jaringan terhadap pembentukan kristal urat. Pada sebagian besar kasus gout riwayat penyakit dan gambaran klinis bersifat khusus, sehingga kadangkadang diagnosis dapat langsung ditegakkan. Asam urat atau gout artritis lebih sering menyerang laki-laki terutama yang berumur di atas usia 30 tahun, karena umumnya laki-laki sudah mempunyai kadar asam urat yang tinggi dalam darahnya. Sedangkan kadar asam urat pada wanita umumnya rendah dan baru meningkat setelah menopause. Penyebab gout adalah peningkatan kadar asam urat dalam darah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah (Soekirman, 2005): 1. Adanya produksi asam urat berlebihan karena meningkatnya pembentukan zat purin dalam tubuh. Peningkatan tersebut berasal dari asupan makanan yang mengandung purin tinggi. 2. Gangguan pada ginjal. Produk buangan termasuk asam urat dan garam-garam anorganik dibuang melalui saluran ginjal, kandung kemih dan saluran kemih dalam bentuk urin. Kegagalan ginjal dalam proses pembuangan asam urat dalam jumlah yang cukup banyak dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Hal tersebut juga dapat menimbulkan komplikasi lain yaitu pengendapan asam urat dalam ginjal yang akhirnya terjadi pembentukan batu ginjal dari kristal asam urat. Produksi asam urat meningkat juga bisa karena penyakit darah (penyakit sumsum tulang, polisitemia), obat-obatan (alkohol, obat-obat kanker, vitamin B12). Penyebab lainnya adalah obesitas (kegemukan), penyakit kulit (psoriasis), kadar trigliserida yang tinggi. Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol dengan baik biasanya terdapat kadar benda-benda keton (hasil buangan metabolisme lemak) yang meninggi. Benda-benda keton yang meninggi akan menyebabkan asam urat

juga ikut meninggi. Penderita asam urat setelah menjalani pengobatan yang tepat dapat diobati sehingga kadar asam urat dalam tubuhnya kembali normal. Tapi karena dalam tubuhnya ada potensi penumpukan asam urat, maka disarankan agar mengontrol makanan yang dikonsumsi sehingga dapat menghindari makanan yang banyak mengandung purin (Soekirman, 2005). Daun dewa merupakan tanaman yang mudah diperoleh, dapat tumbuh di segala musim, dan mempunyai banyak khasiat. Tanaman ini berkhasiat sebagai antiradang, lever, analgetik, pembersih darah, antikoagulan, penghilang nyeri di persendian akibat rematik, pengobatan luka terpukul, tidak datang haid, bengkak payudara, kejang pada anak, masuk angin, digigit binatang berbisa, asam urat, kutil, tumor, kanker, mencegah serangan jantung, stroke dan jerawat. Kandungan kimia daun dewa adalah saponin, flavonoid, dan minyak atsiri. Flavonoid yang bersifat antioksidan dapat menghambat kerja enzim xantin

oksidase sehingga pembentukan asam urat terhambat (Fitria, 2008). Pada penelitian Silaban (2005) menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95% daun dewa dengan metode soxhletasi dapat menurunkan kadar asam urat ayam jantan leghorn yang diinduksi jus hati. Penelitian ini menggunakan metode maserasi yang lebih sederhana, waktu yang singkat, tanpa pemanasan, menggunakan hewan uji mencit yang lebih mudah penanganannya, sert etanol 70% yang efektif menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal (Fitria, 2008).

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat Pemeriksaan Biokimia Darah Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah centifuge tabung reaksi, rak tabung, pipet 0,50 ml, 0.1 ml, makro pipet/dispenser 1.0 ml, mikropipet 10l, 20 , 50 l, 100 l, 200 l penangas 30-37 oC, photometer

analyzer dengan panjang gelombang, 340, 334, 365, 492-546, 530-570, 570-620 nm.

III.2 Bahan Pemeriksaan Biokimia Darah Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah serum darah, serum jernih, NAF atau serum/plasma EDTA, heparin dan Urine 24 jam (diencerkan 10x) serta masing-masing reagen pada tiap pemeriksaan. Reagen Kolesterol: Cat. No 014-0243 A 014-0248 B Enzim 6x50 ml 3x50 ml Pelarut 1x300 ml 1x150 ml Standard 1x5 mL 1x5 mL

Reagen HDL: Cat. No 028-0249 A 028-0249 B . Reagen Albumin: Cat.No 007-0946 Reagensi warna 3 x 100 ml Standard 1 x 2 ml Reag. Prepitasi 4 botol 1 botol Pelarut 4 x 10 mL 1 x 10 mL CholesterolS1 Cat No. 014-1248 A Cat No. 014-1248 B

Reagen Glukosa: Cat. No 013-0248 A 013-0248 B Enzime 5 x 200 mL 3 x 100 mL Reagen SGOT: Cat.no 070-0950 070-0950 Reagen SGPT Cat.no 070-0950-A 070-0950-B Substrate 4 botol x 50 ml 4 botol x 20 ml Pelarut 1 botol x 200 ml 1 botol x 80 ml Substrate 4 botol x 50 ml 4 botol x 20 ml Pelarut 1 botol x 200 ml 1 botol x 80 ml Pelarut 5 x 200 mL 3 x 100 mL Standard lx 5 mL 1 x 5 mL TCA 8% (*) 006-0746 A 06-746

Reagen Protein Total: Cat.No 008-1046 Reagensia Warna 3 x 100 ml Standar (8 g/dl) 1 x 2 ml

Reagen Asam Urat: Cat. No 023-0248 023-0248 Enzime 4 x 20 mL 3 x 50 mL Pelarut 1 x 80 mL 1 x 150 mL Standard lx 3 mL 1 x 5 mL

III.3 Prosedur Kerja A. Pemeriksaan Kolesterol 1. Diambil 3 buah tabung reaksi dan diberi tanda : Tabung I untuk blank Tabung II untuk standard Tabung III untuk test

2. Diambil standar kolesterol dengan menggunakan mikro pipet 10 l, masukkan dalam tabung II. Ganti pipet. 3. Diambil serum/plasma 10 l dengan menggunakan pipet 10 l, secara

perlahan-lahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung III. 4. Tabung I tidak diisi apa-apa hanya berisi larutan kerja. 5. Diambil larutan kerja kolesterol 500 l dengan menggunakan Pipet 1000 l dan diisi dalam Tabung I. Ganti pipet. 6. Diambil larutan kerja kolesterol 500 l dengan menggunakan Pipet 1000 l dan diisi dalam Tabung II. 7. Diambil larutan kerja kolesterol 500 l dengan menggunakan Pipet 1000 l dan diisi dalam Tabung III. Ganti pipet. 8. Campur sampai merata biarkan pada suhu kamar selama 20 menit atau pada suhu 37oC selama 10 menit 9. Baca absorbance test dan standard terhadap blank pada gelombang 492-546 nm dengan menggunakan photometer analyzer.

B.

Pemeriksaan Hight Density Lipoprotein (HDL) 1. Diambil 4 buah tabung reaksi dan diberi tanda : Tabung I untuk blank Tabung II untuk standard Tabung III untuk total Cho Tabung IV untuk HDL Cho 2. Diambil standar HDL dengan menggunakan mikro pipet 10 l, masukkan dalam tabung I. Ganti pipet. 3. Diambil serum 10 l dengan menggunakan pipet 10 l, kemudian masukkan dalam tabung II dan III. 4. Diambil supernatan 50 l dengan menggunakan mikropipet 50 l kemudian masukkan pada tabung IV. 5. Masukkan masing-masing 1000 l reagensia warna dengan menggunakan Pipet 1 ml dan kemudian masukkan kedalam Tabung I, II, III, dan IV.

6. Dicampur sampai merata biarkan pada suhu kamar selama 20 menit atau pada suhu 37oC selama 10 menit. 7. DiBaca absorbance test dan standar terhadap blank pada gelombang 429-546 nm dengan menggunakan photometer analyzer. C. Pemeriksaan Albumin 1. Diambil 3 buah tabung reaksi dan diberi tanda : Tabung I untuk blank Tabung II untuk standard Tabung III untuk test 2. Diambil standar albumin dengan menggunakan mikro pipet 10 l, masukkan dalam tabung II. Ganti pipet. 3. Diambil serum/plasma 10 l dengan menggunakan pipet 10 l, secara

perlahan-lahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung III. 8. 9. Tabung I di isi dengan aquades 10 l Diambil reagensia warna 1 ml dengan menggunakan Pipet 2 ml dan diisi dalam Tabung I. Ganti pipet. 10. Diambil reagensia warna 1 ml dengan menggunakan Pipet 2 ml dan diisi dalam Tabung II. 11. Diambil reagensia warna 1 ml dengan menggunakan Pipet 2 ml dan diisi dalam Tabung III. Ganti pipet. 12. Dicampur sampai merata biarkan pada suhu kamar selama 20 menit atau pada suhu 37oC selama 10 menit. 13. Dibaca absorban test dan standar terhadap blank pada gelombang 570-620 nm dengan menggunakan photometer analyzer. D. Pemeriksaan Glukosa 1. Diambil 3 buah tabung reaksi dan diberi tanda : Tabung I untuk blank Tabung II untuk standard Tabung III untuk test

2.

Diambil standar glukosa dengan menggunakan mikro pipet 5 l, masukkan dalam tabung II. Ganti pipet. Diambil serum/plasma 5 l dengan menggunakan pipet, secara perlahanlahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung III. Diambil aquadest 5 l menggunakan pipet 10 l dan dimasukkan kedalam tabung I Diambil reagensia warna 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung I. Ganti pipet. Diambil reagensia warna 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung II. Diambil reagensia warna 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung III. Ganti pipet.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Campur sampai merata kemudian biarkan pada suhu kamar selama 20 menit atau pada suhu 37oC selama 10 menit.

9.

Baca absorbance test dan standar terhadap blank pada gelombang 492-546 nm dengan menggunakan photometer analyzer.

E. Pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) Adapun prosedur kerja dari percobaan ini adalah: 1. Diambil 1 buah tabung reaksi.: 2. Diambil serum/plasma 100 l dengan menggunakan pipet 100 l, secara perlahan-lahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung. 3. Diambil larutan pereaksi sebanyak 1000 l dengan menggunakan Pipet 1000 ml dan tambahkan kedalam tabung yang sudah diisi serum tadi. 4. Dicampurkan dengan baik, setelah 1 menit ukurlah kenaikan absorbance setiap menit selama 3 menit di dalam photometer analyzer dan hitunglah nilai ratarata permenit.

F. Pemeriksaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) Adapun prosedur kerja dari percobaan ini adalah: 1. Diambil 1 buah tabung reaksi.: 2. Diambil serum/plasma 50 l dengan menggunakan pipet 100 l, secara perlahan-lahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung. 3. Dimbil larutan pereaksi sebanyak 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan tambahkan kedalam tabung yang sudah diisi serum tadi. 4. Dicampurkan dengan baik, setelah 1 menit ukurlah kenaikan absorbance setiap menit selama 3 menit di dalam photometer analyzer dan hitunglah nilai ratarata permenit.

G. Pemeriksaan Protein Total 1. Diambil 3 buah tabung reaksi dan diberi tanda : Tabung I untuk blank Tabung II untuk standard Tabung III untuk test 2. Diambil 10 l standar protein dengan menggunakan mikro pipet 20 l, masukkan dalam tabung II. Ganti pipet. 3. Diambil serum jernih 10 l dengan menggunakan mikro pipet 20 l, secara perlahan-lahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung III. 4. Diambil aquadest 10 l menggunakan pipet 20 l dan dimasukkan kedalam tabung I 5. Diambil reagensia warna 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung I. Ganti pipet. 6. Diambil reagensia warna 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung II. 7. Diambil reagensia warna 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung III. Ganti pipet. 8. Dibiarkan pada suhu kamar selama 30 menit atau pada suhu 37oC selama 10 menit.

9. Dibaca absorbance test dan standar terhadap blank pada pada panjang gelombang 550 nm (530-570). H. Pemeriksaan Asam Urat 1. Diambil 3 buah tabung reaksi dan diberi tanda : Tabung I untuk blank Tabung II untuk standard Tabung III untuk test 2. Diambil 10 l standar asam urat dengan menggunakan mikro pipet 20 l, masukkan dalam tabung II. Ganti pipet. 3. Diambil serum/plasma 10 l dengan menggunakan pipet 20 l, secara perlahanlahan agar darah yang menggumpal dibawahnya tidak ikut terambil, kemudian masukkan dalam tabung III. 4. Diambil reagensia asam urat 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung I. Ganti pipet. 5. Diambil reagensia asam urat 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung II 6. Diambil reagensia asam urat 500 l dengan menggunakan Pipet 1 ml dan diisi dalam Tabung III. Ganti pipet. 7. Campur sampai rata biarkan pada suhu kamar selama 20 menit atau pada suhu 37oC selama 10 menit. 8. Baca absorbance test dan standar terhadap blank pada gelombang 520-546 nm dengan menggunakan photometer analyzer.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.I Hasil A. Kolesterol Nama Munzia Kada Kolesterol 307, 55 mg/dl Standar 140-250 mg/dl

B. Pemeriksaan HDL Nama Kadar HDL Nilai Normal Pria Munzia 27,8 mg/dl >39 mg/dl Wanita >49 mg/dl

C. Pemeriksaan Albumin Nama Kadar Albumin Nilai Normal Pria Munzia 8,5 mg/dl 3,5 4,8 mg/dl wanita 3,3 4, 5 mg/dl

D. Pemeriksaan Glukosa Nilai Glukosa Normal Nama Kadar Glokosa Glukosa puasa Munzia 238,68 mg/dl 70-110 mg/dl Glukosa 2 jam PP < 140 mg/dl Glukosa sewaktu < 180 mg/dl

E. Pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) Nama Munzia Kadar SOGT 17 u/l Nilai SGOT Normal Pria Wanita 6-21 u/l (30oC)

6-25 u/l (30oC) 8-37 m u/l (37oC)

8-31 u/l (37oC)

F. Pemerikasaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) Nama Munzia Kadar SPGT Pria 20 u/l 4-30 u/l (30oC) 6-40 u/l (37oC) Nilai SGPT Normal Wanita 4-20 u/l (30oC) 6-31 u/l (37oC)

G. Pemeriksaan Protein Total Nama Munzia Kadar Protein Total 8,35 mg/dl Nilai Protein Total Normal 6-8,3 g/dl

H. Pmeriksaan Asam Urat Nama Munzia Kadar Asam Urat 4,76 mg/dl Nilai Asam Urat Normal Pria 3,5 7,2 mg/dl Wanita 2,5 6,2 mg/dl

IV.2 Pembahasan A. Kolesterol Bagi mereka yang ingin mengetahui kadar kolesterol dalam tubuhnya maka mereka dapat melakukan tes pemeriksaan kadar kolesterol darah. Pemeriksaan ini akan menghasilkan data perkiraan kadar kolesterol yang beredar dalam sirkulasi darah. Selain untuk mengobati keingintahuan, tes ini rutin dilakukan seorang dokter guna memantau pengobatan kolesterol pasien. Kolesterol merupakan bahan yang tidak seharusnya beredar dalam sirkulasi darah. Kolesterol masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui makanan yang kita makan. Kolesterol banyak ditemukan dalam daging, telur, dan makanan

berlemak lainnya. Jika anda mengkonsumsi makanan ini secara berlebihan maka kadar kolesterol dalam darah juga akan meningkat secara drastis. Disinilah peranan pengaturan gaya hidup guna menekan konsumsi makanan yang banyak mengandung kolesterol. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan diperoleh kadar kolesterol 307, 55 mg/dl. Jika dibandingkan dengan standarnya 140-250 mg/dl maka subjek memiliki kolesterol yang tinggi. Hal ini, disebabkan karena gaya hidup dan pola makan yang buruk. Untuk menurunkan kadar kolesterol yang

pertama harus melakukan diet rendah lemak dan kolesterol, misalnya dengan mengkonsumsi susu tanpa lemak dan mengurangi konsumsi daging. Pilihlah makanan dengan kandungan lemak tak jenuh daripada kandungan lemak jenuh. Minyak yang digunakan untuk menggoreng secara berulang-ulang dapat meningkatkan kadar kolesterol, maka ada baiknya Anda mengurangi konsumsi makanan yang digoreng. Konsumsi makanan berserat , konsumsi antioksidan dan berolahraga. Jika kadar kolesterol di dalam darah melebihi dari nilai normal, maka risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke akan lebih besar. Kelebihan kolesterol dapat menyebabkan mengendapnya kolesterol pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang dikenal sebagai aterosklerosis (proses pembentukan plak pada pembuluh darah). Jika penyempitan dan pengerasan ini cukup berat, sehingga menyebabkan suplai darah ke otot jantung tidak memadai, maka timbul sakit atau nyeri dada yang disebut sebagai angina. Dan bila berlanjut akan menyebabkan matinya jaringan otot jantung yang disebut infark miokard. Jika infark miokard meluas, maka akan timbullah gagal jantung. B. Pemeriksaan HDL HDL merupakan senyawa lipoprotein yang berat jenisnya tinggi. Membawa lemak total rendah, protein tinggi, dan dibuat dari lemak endogenus di hati. Oleh karena kandungan kolesterol yang lebih rendah dari LDL dan fungsinya sebagai pembuangan kolesterol maka HDL ini sering disebut kolesterol baik. Kalau kadar HDL dalam darah cukup tinggi,

terjadinya proses pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah pun dapat dicegah. Kolesterol yang diangkut ke hati terutama berupa kolesterol yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan empedu dan hormon. Tapi, pada pemeriksaan ini, subjek memiliki kadat HDL 27,8 mg/dl, jika dibandingkan dengan nilai normal untuk cewek yaitu > 46 mg/dl, berarti kadar HDLnya rendah. Jika kadar HDL rendah maka akan memacu resiko jantung. Cara untuk menaikkan kadar HDL yaitu selalu mengkonsumsi

makanan kaya serat, memilih susu susu rendah lemak, meningkatkan aktifitas fisik, memilih lemak yang baik dan mempertahankan BB ideal, dan memilih ikan daripada daging. C. Pmeriksaan Albumin Albumin adalah protein yang ada dalah darah yang diperlukan oleh tubuh untuk memelihara dan memperbaiki jaringan. Selama proses dialisis, albumin dalam darah membantu pembuangan cairan dengan cara menarik cairan yang berlebih dalam jaringan kembali ke dalam darah untuk kemudian disaring oleh ginjal buatan. Semakin tinggi kadar albumin semakin bagus. Berdasrkan pemeriksaan yang dilakukan diperoleh nilai kadar kolesterol 8,5 mm/hg. Jika dibandingkan dengan nilai normalnya yaitu 3,3 4, 5 mg/dl bagi wanita,maka tergolong tinggi. Naiknya konsentrasi albumin hanya dialami pada keadaan dehidrasi yaitu untuk mereduksi kadar cairan plasma, sebagai akibat dari statis vena selama veni pungtur. hal ini berindikasi pada kesehatan subjek yang diperiksa. Namun yang sering terjadi adalah hipoalbumin, bukan

hiperalbumin. Hipoalbumin dapat menjadi petunjuk bagi beberapa penyakit, seperti sindroma nefrotik ataupun sirosis hati. Namun untuk hiperalbumin, belum diketahui dampaknya. D. Pemeriksaan Glukosa Glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan. Berdasarkan pemeriksaan yang

dilakukan diperoleh kadar glukosa 238,68 mm/hg. Jika dibandingkan dengan nilai normal bagi wanita yaitu < 180 mg/dl maka tergolong tinggi. Hal ini disebabkan, pada saat pemeriksaan pasien diukur setelah makan atau minum, pada saat itu terjadi peningkatan kadar gula darah yang merangsang pankreas menghasilkan insulin untuk mencegah kenaikan kadar gula darah lebih lanjut. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kombinasi keduanya, akan berpengaruh terhadap konsentrasi glukosa dalam darah. Peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) terjadi jika insulin yang beredar tidak mencukupi atau tidak dapat berfungsi dengan baik; keadaan ini disebut diabetes mellitus. Apabila kadar glukosa plasma atau serum sewaktu (kapan saja, tanpa mempertimbangkan makan terakhir) sebesar 200 mg/dl, kadar glukosa plasma/serum puasa yang mencapai > 126 mg/dl, dan glukosa plasma/serum 2 jam setelah makan (post prandial) 200 mg/dl biasanya menjadi indikasi terjadinya diabetes mellitus. E. Pemeriksaan SGOT SGOT atau juga dinamakan AST (Aspartat aminotransferase) merupakan enzim yang dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi cedera seluler, kemudian dalam jumlah banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada pemeriksaan diperoleh kadar SOGT 17 u/l dalam keadaan normal karena berada diantara 6-21 u/l. Tingkat darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan hati (misalnya,dari hepatitis virus ) atau dengan penghinaan terhadap jantung (misalnya, dari serangan jantung).Beberapa obat juga dapat meningkatkan kadar SGOT. SGOT juga disebut

aspartateaminotransferase (AST). Menjaga Tapi pada paisen yang diperiksa tidak mengalami resiko dengan kerusakan hati. Untuk mempertahankan keadaan ini pasien harus mengatur pola dietnya.

F. Pemeriksaan SGPT SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, SGPTatau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukanpada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlahyang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkanpada proses kronis didapat sebaliknya. Pada pemeriksaan diperoleh kadar SPGT 20 u/l, tergolong normal karena berada diantara 4-20 u/l (30oC) Peningkatan nilai SGPT menunjukkan adanya kerusakan pada hati, Kerusakan yang biasanya terjadi pada hati adalah Hepatitis dan Sirosis hati. Diet untuk kedua penyakit ini adalah diet hati, tetapi untuk diet hati karena hepatitis yang tidak terlalu berat tidak dibatasi secara spesifik makanan yang harus dikonsumsi atau makan seperti biasa, tetapi pembatasan lemak harus tetap diperhatikan. Untuk hepatitis akut dan serosis hapatis perlu penanganan serius terutama diet. Pembatasan makanan harus betul-betul diperhatikan, terutama bahan makanan dari sumber lemak, yaitu semua makanan dan daging yang banyak mengandung lemak dan santan serta bahan makanan yang banyak menimbulkan gas seperti ubi, kol, kacang merah, sawi, lobak, ketimun, durian dan nangka. G. Pemeriksaan Protein Total Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan diperoleh kadar protein total 8,35 mg/dl. Jika dibandingkan dengan nilai normalnya yaitu 6-8,3 g/dl maka tergolong tinggi, namun masih termasuk tingkat ringan. Hal ini mengakibatkan dehidrasi (hemokonsentrasi), muntah, diare, mieloma multipel, sindrom gawat pernapasan, dan sarkoidosis. Oleh sebab itu, kadar protein totalnya harus

diturunkan dengan cara mengurangi sumber protein dari makanan. H. Pemeriksaan Asam Urat Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk nukleoprotein). Penyebab radang

sendi akibat peningkatan kadar asam urat darah disebut gastritis gout atau atritis pirai. Pada pemeriksaan, diperoleh kadar asam urat yaitu 4,76 mg/dl, yang berarti normal. Untuk mempertahankan kondisi ini, pasien harus membatasu purin, kalori sesuai kebutuhan, tinggi karbohidrat dan rendah protein. Pada penderita asam urat pengaturan dietnya sebagai berikut: selain jeroan, makanan kaya protein dan lemak merupakan sumber purin. Padahal walau tinggi kolesterol dan purin, makanan tersebut sangat berguna bagi tubuh, terutama bagi anak-anak pada usia pertumbuhan. Kolesterol penting bagi prekusor vitamin D, bahan pembentuk otak, jaringan saraf, hormon steroid, garam-garaman empedu dan membran sel.

BAB V PENUTUP V.I Kesimpulan Adapun kesimpulan pada percobaan ini yaitu : 1. Pemeriksaan kolesterol pada responden diperoleh 307,55 mg/dl. Kadar kolestrolnya tinggi dibanding nilai normal. 2. Pemeriksaan HDL pada responden diperoleh 27,8 mg/dl. Kadar HDL rendah dibanding nilai normal. 3. Pemeriksaan albumin pada responden diperoleh 8,5 g/dl. Kadar Albumin tinggi dibanding nilai normal. 4. Pemeriksaan glukosa pada responden diperoleh 238,68 mg/dl. Kadar glukosa tinggi. 5. Pemeriksaan SGOT pada responden diperoleh 17 mg/dl. Kadar SGOT normal. 6. Pemeriksaan kolesterol pada responden diperoleh 307,55 mg/dl. Kadar SPGT tinggi. 7. Pemeriksaan protein total pada responden diperoleh 8,3 mg/dl. Kadar protein total tinggi. 8. Pemeriksaan Asam urat pada responden diperoleh 4,76 mg/dl. Kadar asam urat normal.

V.2 Saran 1. Sebaiknya peralatan lebih diperbanyak lagi karena dibandingkan dengan jumlah praktikum, alat yang disediakan sangat minim. 2. Sebaiknya asisten lebih menjelaskan secara rinci tentang mekanisme pengukuran antropometri agar praktikan tidak kewalahan dalam melakukan pengukuran. 3. Dosen Penilaian Status Gizi sudah bagus tapi kiranya kehadiran dalam mengajar lebih ditingkatkan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Barasi, Mary E. 2007. At A Glance Imu Gizi. Jakarta: Erlangga Corwin, E. J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta. Fajar, Ibnu, dkk.2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Fitria, Adinda Titis. 2008. Efek Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura Pseudochina) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Mencit Putih Jantan Galur balb-C Hiperuresemia. Kesehatan Masyarakat. XI: 23-25. Frances K, dkk. 1992. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC. Gibson, Rosalind S. 2005. Principles Nutritional Assesment. Oxford: University Press Hadju, Veni. 2005. Diktat Ilmu Gizi Dasar. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Hartono, Andry. 2007. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC Murray, K Robert, dkk. 2003. Biokimia Harper. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Nuraini, Heny.2007. Memilih dan Membuat jajanan Anak yang sehat dan Halal. Jakarta: Qultum Media. Poedjiadi, dkk. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia. Sandjaja, dkk. 2010. Kamus Gizi. Jakarta: Kompas Schlenker, E dan D. Long S. 2007. Essentials Of Nutrition & Diet Therapy. Canada: Mosby Elsevier. Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2006. Ilmu gizi jilid 1. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Soekirman. 2005. Kecenderungan Masalah dan Program Gizi dalam PJP. Semarang: Kongres Nasional Persagi IX dan KPIG. Silman, Erwin. 2009. Diagnosa Laboratorium Kelainan Lemak Darah. Jakarta: Bagian patologi klinik fakultas kedokteran universitas indonesia/RSCM.

Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan Antropometri. Makassar: Universitas Hasanuddin. Supariasa, I Dewa Nyoman. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Syafiq, Ahmad. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat.Jakarta: FKM UI Tirtawinata, Tien Ch. 2006. Makanan dalam perspektif Al-Quran dan Ilmu Gizi. Jakarta: FK UI.