Anda di halaman 1dari 13

TUGAS Hukum Perikatan dan Persetujuan Khusus Kelas : A

Relevansi Jual Beli Online bila Dibandindingkan Dengan Jual Beli Konvensional

Hana Monica 0906519646 Fakultas Hukum Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

Seperti yang kita tahu, sekarang ini Perkembangan teknologi informasi berjalan begitu cepat semakin mendorong munculnya berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat dengan berbagai teknologi informasi, khususnya internet. Kegiatan-kegiatan menggunakan media informasi (internet) tersebut memberikan banyak dampak bagi kehidupan manusia. di satu disi, kehdupan manusia akan mudah terbantu. Tapi disisi lain, banyak orang-orang yang menyalahgunakan segala

kemajuan tegnologi informasi tersebut untuk merugikan pihak lainnya. Salah satu kegiatan yang mengandalkan media informasi internet adalah jual beli. Seperti yang kita pelajari, jual beli sendiri adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikat dirinya untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Yang dijanjikan oleh pihak yang satu (pihak penjual) menyerahkan atau memindahkan hak miliknya atas barang yang ditawar, sedangkan yang dijanjikan oleh pihak yang lain, membayar harga yang telah disetuinya. Kegiatan bisnis jual beli itu menggunakan dunia maya untuk

melakukan transaksi antara penjual dengan pembeli. Dengan jual beli secara online, akan terjadi efisiensi waktu yang tidak dialami dalam jual beli konvensional. Dengan teknologi internet, sesorang dapat melakukan kegiatan jual beli tidak terbatas hanya lokal ataupun nasional, tapi bisa juga mencakup wilayah internasional dan tanpa batas, karena setiap orang bisa berhubungan dengan orang lain tanpa batas lewat media internet tersebut. Di Indonesia, jual beli online lewat internet, atau yang biasa disebut electronic commerce (e-commerce) ini juga sudah berkembang cukup pesat. Berjualan lewat facebook, multiply, sudah biasa dilakukan oleh masyarakat terkini. Selain itu juga muncul forum jual beli dalam kaskus ataupun amazon.com. Hal ini benar-benar menjadi trend di Indonesia. Untuk itu kita harus melihat apakah jual beli melalu internet ini sesuai dengan prinsip-prinsip jual beli pada umumnya, dan relevan untuk dijalankan di Indonesia sebagai salah satu bentuk perjanjian yang sah. Hal-hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN

JUAL BELI SECARA UMUM Seperti yang kita ketahui, jual beli menurut pasal 1457 KUHPerdata adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikat dirinya untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Yang dijanjikan oleh pihak yang satu (pihak penjual) menyerahkan atau memindahkan hak miliknya atas barang yang ditawar, sedangkan yang dijanjikan oleh pihak yang lain, membayar harga yang telah disetuinya. Sesuai dengan asas konsesualisme yang lekat dengan hukum perjanjian, maka dalam jual beli konsesualisme itu juga berlaku, yaitu perjanjian itu sudah dilahirkan pada detik tercapainya sepakat mengenai barang dan harga, sehingga jika kedua belah pihak sudah setuju tentang barang dan harga maka lahirlah perjanjian jual beli yang sah. Menurut pasal 1458 KUHPerdata, sifat konsesualisme itu dinyatakan bahwa jual beli dianggap sudah terjadi antara kedua belah pihak seketika setelah mereka mencapai sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar. Di dalam jual beli, penjual maupun pembeli memiliki kewajiban yang harus dijalankan. Kewajiban penjual adalah : 1. Kewajiban menyerahkan hak milik meliputi segala perbuatan yang menurut hukum diperlukan untuk mengalihkan hak milik atas barang yang diperjual belikan itu dari si penjual kepada pembeli. Hal mengenai kewajiban ini diatur dalam pasal 14751490 KUHPerdata. Penyerahan tersebut harus dilakukan secara yuridis, yang didalam

KUHPerdata ada 3 jenis penyerahan yaitu :

Untuk benda bergerak : dilakukan penyerahan nyata

dari tangan ke tangan atau menyerahkan kekuasaan atas barangnya (pasal 612 KUHPerdata) Untuk benda tetap : Penyerahan dilakukan dengan

perbuatan yang dinamakan balik nama. Hal ini dilakukan di depan Pejabat Pembuat Akta Tanah (hal ini berlaku sejak berlakunya UUPA no. 5 tahun 1960). Sebelumnya pengaturan tentang penyerahan

barang tetap adalah dengan menggunakan akta otentik yang diatur lebih lanjut dalam pasal 616-620 KUHPerdata. Untuk benda tak berwujud : Penyerahan dilakukan

dengan cessie, yaitu pembuatan sebuah akta yang diberitahukan kepada si berutang (pasal 613 KUHPerdata). Yang terpenting dalam konsep jual beli menurut KUHPerdata adalah perjanjian jual beli bersifat obligatoir, artinya bahwa perjanjian jual beli itu meletakkan hak dan kewajiban timbal balik antara kedua belah pihak yaitu meletakkan kepada si penjual kewajiban untuk menyerahkan hak milik atas barang yang dijualnya, sekaligus memberikan kepadanya hak untuk menuntu pembayaran harga yang telah disetujui dan di sebelah lain meletakkan kewajiban kepada si pembeli untuk membayar harga barang sebagai imbalan haknya untuk penyerahan hak milik atas barang yang dibelinya. Jadi, perjanjian jual beli menurut KUHPerdata itu belum memindahkan hak milik, dimana hak milik itu baru berpindah dengan dilakukannya levering atau penyerahan yang merupakan suatu perbuatan yuridis guna memindahkan hak milik. Sistem obligatoir ini ada dalam pasal 1459 KUHPerdata. 2. Kewajiban menanggung kenikmatan tentram dan menanggung

terhadap cacat-cacat tersembunyi. Kewajiban untuk menanggung kenikmatan tentram merupakan konsekuensi daripada jaminan yang oleh penjual diberikan kepada pembeli bahwa barang yang dijual dan dilever adalah sungguh-sungguh miliknya sendiri yang bebas dari suatu beban atau tuntutan dari sesuatu pihak. Penanggungan ini disebut penanggungan ekstrim. Akibatnya adalah si penjual harus memberikan penggantian kerugian jika sampai terjadi gugatan dari pihak ketiga.

Kewajiban untuk menanggung terhadap cacat-cacat tersembunyi adalah bahwa si penjual diwajibkan menanggung terhadap cacat-cacat tersembunyi pada barang yang dijualnya yang membuat barang tersebut tidak dapat dipakai untuk keperluan yang dimaksudkan atau yang mengurangi pemakaian itu, sehingga seandainya pembeli mengetahui cacat-cacat itu sama sekali tidak akan membeli barang itu atau tidak akan membelinya selain dengan harga kurang. Penjual juga diwajibkan

menanggung cacat tersembunyi meskipun ia sendiri tidak mengetahui adanya cacat itu, kecuali jika telah diperjanjikan bahwa ia tidak diwajibkan menanggung sesuatu apapun. Jika penjual telah mengetahui cacat tersebut, maka selain diwajibkan

mengembalikan harga pembelian juga mengganti semua kerugian yang diderita pembeli akibat cacatnya barang yang dibelinya. (1504-1506 KUHPerdata)

Disisi lain, ada juga kewajiban yang dimiliki oleh pembeli. Kewajiban yang dimiliki oleh si pembeli sebagai kewajiban untuk membayar harga pembelian pada waktu dan di tempat sebagaimana ditetapkan menurut perjanjian (pasal 1513 KUHPerdata). Jika pada waktu membuat perjanjian tidak ditetapkan tentang tempat dan waktu pembayaran, maka si pembeli harus membayar di tempat dan pada waktu dimana penyerahan barangnya harus dilakukan. Jika si pembeli tidak

membayar harga pembelian, maka itu merupakan suatu wanprestasi yang memberikan alasan kepada penjual untuk menuntut ganti rugi atau pembatalan pembelian. Kewajiban membayar harga tersebut merupakan kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli. Pembeli harus menyelesaikan pelunasan harga bersamaan dengan penyerahan barang. Jual beli sendiri tidak akan ada artinya tanpa pembayaran harga. Maka dari itu, pembeli yang menolak melakukan pembayaran berarti telah melakukanperbuatan melawan hukum (onrechtmatig).

Risiko dalam Perjanjian Jual Beli Objek jual beli terdiri dari barang tertentu eenzeker en hepaalde-zaak). Jika objek jual beli terdiri dari barang, resiko atas barang-barang berharga dari pihak pembeli terhitung sejak saat persetujuan pembelian. Sekalipun pemberian barang belum terjadi, penjual menuntut pembayaran harga seandainya barang tersebut musnah (Pasal 1460 KUH Perdata). Dari ketentuan Pasal 1460 KUH Perdata, jual

beli mengenai barang tertentu, seketika setelah penjualan berlangsung, resiko berpindah kepada pembeli. Seandainya barang yang hendak di levering lenyap, pembeli tetap wajib membayar harga. Selain itu ada resiko mengenai barang yang dijual menurut berat, jumlah, atau ukuran yang ada dalam pasal 1461 KUHPerdata yaitu bahwa resikonya diletakkan di pundaknya penjual hingga barang itu ditimbang, dihitung, atau diukur. Resiko yang ketiga adalah resiko mengenai barang yang dijual menurut tumpukan yang ada dalam pasal 1462 KUHPerdata, dimana resikonya diletakkan pada pembeli. Namun pasal tentang resiko ini dirasa kurang adil karena merugikan pihak pembeli, sehingga diambil kesimpulan bahwa selama barang belum diserahkan maka resikonya masih harus dipikul oleh penjual sampai pada saat barang itu diserahkan.

BAB III ANALISIS

JUAL BELI DALAM BENTUK ONLINE ATAU ELEKTRONIK/ECOMMERCE

Jual beli dalam bentuk online atau elektronik, artinya proses jual beli tersebut dilakukan melalui media internet atau dunia maya, dengan menggunakan transaksi elektronik. Sebenarnya dalam KUHPerdata tidak ada pengaturan yang jelas mengenai transaksi elektronik ini, namun KUHPerdata sendiri menganut asas kebebasan berkontrak berdasarkan pasal 1338 KUHPerdata. Asas ini memberi kebebasan kepada para pihak yang sepakat untuk membentuk suatu perjanjian untuk menentukan sendiri bentuk dan isi suatu perjanjian. Dengan demikian para pihak yang membuat perjanjian dapat mengatur sendiri hubungan hukum diantara mereka. Selain itu karena belum terdapatnya pengaturan yang khusus, dengan demikian selama tidak diperjanjikan lain, maka ketentuan umum tentang perikatan dan perjanjian jual beli yang diatur dalam Buku III KUHPerdata berlaku sebagai dasar hukum dari transaksi e-commerce di Indonesia. Penyelesaian sengketa pun mengacu kepada aturan di dalam KUHPerdata tersebut Definisi mengenai jual beli online masih terkait dan tidak terlepas dari makna perjanjian itu sendiri yang ada dalam Pasal 1313 KUH Perdata yang menegaskan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dalam Buku III KUH Perdata sifatnya terbuka. Terbuka berarti ketentuan-ketentuannya dapat dikesampingkan, sehingga hanya berfungsi mengatur saja. Sifat terbuka dari KUH Perdata ini tercermin dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang mengandung asas Kebebasan Berkontrak, dimana setiap orang bebas untuk menentukan bentuk, macam dan isi perjanjian asalkan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kesusilaan dan ketertiban umum, serta memperhatikan syarat sahnya perjanjian sebagaimana termuat dalam Pasal

1320 KUH Perdata yang mengatakan bahwa, syarat sahnya sebuah perjanjian adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan para pihak dalam perjanjian Kecakapan para pihak dalam perjanjian Suatu hal tertentu Suatu sebab yang halal

Kesepakatan berarti adanya persesuaian kehendak dari para pihak yang membuat perjanjian, sehingga dalam melakukan suatu perjanjian tidak boleh ada pakasaan, kekhilapan dan penipuan. Kecakapan hukum sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian maksudnya bahwa para pihak yang melakukan perjanjian harus telah dewasa yaitu telah berusia 21 tahun atau telah menikah (pasal 330 KUHPerdata), sehat mentalnya (433 KUHPerdata), serta diperkenankan oleh undang-undang. Apabila orang yang belum dewasa hendak melakukan sebuah perjanjian, maka dapat diwakili oleh orang tua atau walinya sedangkan orang yang cacat mental dapat diwakili oleh pengampu atau curatornya. Suatu hal tertentu berhubungan dengan objek perjanjian, maksudnya bahwa objek perjanjian itu harus jelas, dapat ditentukan dan diperhitungkan paling tidak jenis dan jumlahnya. Suatu sebab yang halal, berarti perjanjian termaksud harus dilakukan berdasarkan itikad baik. Berdasarkan Pasal 1335 KUH Perdata, suatu perjanjian tanpa sebab tidak mempunyai kekuatan. Sebab dalam hal ini adalah tujuan dibuatnya sebuah perjanjian. Kesepakatan para pihak dan kecakapan para pihak merupakan syarat sahnya perjanjian yang bersifat subjektif. Apabila tidak tepenuhi, maka perjanjian dapat dibatalkan artinya selama dan sepanjang para pihak tidak membatalkan perjanjian, maka perjanjian masih tetap berlaku. Sedangkan suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal merupakan syarat sahnya perjanjian yang bersifat objektif. Apabila tidak terpenuhi, maka perjanjian batal demi hukum artinya sejak semula dianggap tidak pernah ada perjanjian.

Ketentuan yang diatas bisa kita terapkan dalam jual beli online/elektronik, karena jual beli online merupakan bagian dari jual beli. Menurut Pasal 1457

KUH Perdata, jual beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Jual beli tidak hanya dapat

dilakukan secara berhadapan langsung antara penjual dengan pembeli, tetapi juga dapat dilakukan secara terpisah antara penjual dan pembeli, sehingga mereka tidak berhadapan langsung, melainkan transaksi dilakukan melalui media internet/secara elektronik. Selain itu seperti yang kita tahu, perjanjian jual beli sangat mengedepankan asas obligatoir, artinya bahwa perjanjian jual beli itu meletakkan hak dan kewajiban timbal balik antara kedua belah pihak. Jadi, perjanjian jual beli menurut KUHPerdata itu belum memindahkan hak milik, dimana hak milik itu baru berpindah dengan dilakukannya levering atau penyerahan yang merupakan suatu perbuatan yuridis guna memindahkan hak milik. Sistem obligatoir ini ada dalam pasal 1459 KUHPerdata. Dalam sistem jual beli online, hal ini juga berlaku. Dalam jual beli online biasanya barang yang dijual adalah benda bergerak. Hal ini berarti benda tersebut pada intinya harus diikuti dengan penyerahan nyata, yaitu dimana fisik dari benda tersebut berpindah tangan dari penjual kepada pembeli. Di jual beli online, proses penyerahan nyata itu dilakukan melalui proses pengiriman barang. Saat pihak pembeli menerima barang tersebut, maka saat itu hak miliknya berlaku. Mengenai resiko, Dalam transaksi elektronik maka tidak diharuskan untuk mengganti kerusakan tertentu. Pada umumnya, jika terjadi kerusakan terhadap barang ini, maka yang mengganti si penerima. Bila kerusakan tersebut dialami saat pengiriman menuju penerima maka kerusakan tersebut ditanggung oleh pengirim. Namun bila barang tersebut telah diterima oleh pembeli, maka biasanya pengirim tidak akan mengganti barang rusak atau cacat tersebut. Bisa juga dibuat adanya pengaturan lebih lanjut tentang ganti rugi, atau pengembalian barang, ini merupakan kebebasan dari kedua belah pihak, sesuai dengan kesepakatan dan perjanjian.

Dalam kontrak jual beli para pelaku yang terkait didalamnya yaitu penjual atau pelaku usaha dan pembeli yang berkedudukan sebagai konsumen memiliki hak dan kewajiban yang berbeda-beda.

Pada dasarnya proses transaksi jual beli secara elektronik tidak jauh berbeda dengan proses transaksi jual beli biasa di dunia nyata. Pelaksanaan transaksi jual beli secara elektronik ini dilakukan dalam beberapa tahap, sebagai berikut: 1. Penawaran, yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha Penjual atau pelaku usaha menyediakan

melalui website pada internet.

storefront yang berisi katalog produk dan pelayanan yang akan diberikan. Masyarakat yang memasuki website pelaku usaha tersebut dapat melihat-lihat barang yang ditawarkan oleh penjual. Salah satu keuntungan transaksi jual beli melalui di toko on line ini adalah bahwa pembeli dapat berbelanja kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Penawaran dalam

sebuah website biasanya menampilkan barang-barang yang ditawarkan, harga, nilai rating atau poll otomatis tentang barang yang diisi oleh pembeli sebelumnya, spesifikasi barang termaksud dan menu produk lain yang berhubungan. Penawaran melalui internet terjadi apabila pihak lain yang

menggunakan media internet memasuki situs milik penjual atau pelaku usaha yang melakukan penawaran, oleh karena itu, apabila seseorang tidak menggunakan media internet dan tmemasuki situs milik pelaku usaha yang menawarkan sebuah produk maka tidak dapat dikatakan ada penawaran. Dengan demikian penawaran melalui media internet hanya dapat terjadi apabila seseorang membuka situs yang menampilkan sebuah tawaran melalui internet tersebut. 2. terjadi. Penerimaan, dapat dilakukan tergantung penawaran yang Apabila penawaran dilakukan melalui e-mail address, maka

penerimaan dilakukan melalui e-mail, karena penawaran hanya ditujukan pada sebuah e-mail yang dituju sehingga hanya pemegang e-mail tersebut yang dituju. Penawaran melalui website ditujukan untuk seluruh masyarakat yang membuka website tersebut, karena siapa saja dapat masuk ke dalam website yang berisikan penawaran atas suatu barang yang ditawarkan oleh

penjual atau pelaku usaha. Setiap orang yang berminat untuk membeli baranga yang ditawarkan itu dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut. Pada transaksi jual beli secara elektronik, khususnya melalui website, biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha, dan jika calon pembeli atau konsumen itu tertarik untuk membeli salah satu barang yang ditawarkan, maka barang itu akan disimpan terlebih dahulu sampai calon pembeli/konsumen merasa yakin akan pilihannya, selanjutnya pembeli/konsumen akan memasuki tahap pembayaran. 3. Pembayaran, dapat dilakukan baik secara langsung maupun

tidak langsung, misalnya melalui fasilitas internet, namun tetap bertumpun pada sistem keuangan nasional, yang mengacu pada sistem keuangan lokal. Klasifikasi cara pembayaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Transaksi model ATM, sebagai transaksi yang hanya finansial dan pemegang account yang akan

melibatkan institusi

melakukan pengambilan atau mendeposit uangnya dari account masing-masing; b. Pembayaran dua puhak tanpa perantara, yang dapat

dilakukan langsung antara kedua pihak tanpa perantara dengan menggunakan uang nasionalnya; c. Pembayaran dengan perantaraan pihak ketiga,

umumnya merupakan proses pembayaran yang menyangkut debet, kredit ataupun cek masuk. Metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain : sistem pembayaran memalui kartu kredit on line serta sistem pembayaran check in line. Apabila kedudukan penjual dengan pembeli berbeda, maka pembayaran dapat dilakukan melalui cara account to account atau pengalihan dari rekening pembeli kepada rekening penjual. Berdasarkan kemajuan teknologi, pembayaran dapat dilakukan melaui kartu kredit dengan cara memasukkan nomor kartu kredit pada formulir yang disediakan oleh penjual dalam penawarannya. Pembayaran dalam

transaksi jual beli secara elektronik ini sulit untuk dilakukan secara langsung, karena adanya perbedaan lokasi antara penjual dengan pembeli, walaupun dimungkinkan untuk dilakukan.

4.

Pengiriman, merupakan suatu proses yang dilakukan setelah

pembayaran atas barang yang ditawarkan oleh penjual kepada pembeli, dalam hal ini pembeli berhak atas penerimaan barang termaksud. Pada

kenyataannya, barang yang dijadikan objek perjanjian dikirimkan oleh penjual kepada pembeli dengan biaya pengiriman sebagaimana telah diperjanjikan antara penjual dan pembeli.

Pada tahun 2008, Indonesia telah

memiliki Undang-undang yang dapat

mengakomodir aktivitas jual beli melalui internet tersebut, yaitu Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 11 tahun 2008. Undang-undang tersebut memungkinkan dibuatnya kontrak elektronik. Dari pemaparan Pasal (4) huruf b undang-undang tersebut, dijelaskan tentang tujuan pemanfaatan tekhnologi

informasi dan transaksi elektronik adalah untuk mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Dalam dunia yang serba cepat dan modern saat ini perkembangan teknologi merupakan salah satu hal yang tidak bisa kita elakkan. Perkembangan teknologi memberikan kemudahan tersendiri dalam melakukan aktivitas-aktivitas termasuk dalam melakukan transaksi jual beli. Jual beli secara konvensional seiiring berjalannya waktu mengalami perkembangan, yaitu dengan munculnya jual beli secara online/elektronik. Mengenai perjanjian jual beli biasa dengan jual beli online sebenarnya tidak ada perbedaan yang cukup jauh, hal ini dikareanakan sifat dari buku III KUHPerdata sendiri yang menganut asas kebebebasan berkontrak, sehingga setiap pihak bebas membuat perjanjiannya sendiri selama tidak melanggar aturan, kesopanan, dan kepatutan. Mereka, penjual dan pembeli, juga memiliki kewajiban dan hak yang sama, yaitu satu pihak memberikan barang dan pihak lain membayar. Dalam masalah penyerahan benda bergerak, bisa digunakan pengiriman barang secara nyata dari pengirim kepada pengerima. Transaksi yang dipakai adalah menggunakan transaksi online, yaitu adanya pihak bank sebagai pembantu. Jual beli online ini merupakan salah satu bentuk jual beli yang harus dikembangkan, karena banyaknya kemudahan yang akan menunjang kehidupan di masa sekarang. Namun penggunaannya harus bijaksana, baik dalam proses

pemilihan penjual yang terpercaya ataupun proses pengiriman barang. Diharapkan UU ITE tahun 2008 dapat mengakomodir kebutuhan dari jual beli online tersebut.