Anda di halaman 1dari 48

Pelatihan Mekanik Tingkat II

PERAWATAN PERBAIKAN SISTEM RANGKA

PT Astra Honda Motor


Astra Honda Training Centre J a k a r t a

Pelatihan Mekanik Tingkat II

PERAWATAN PERBAIKAN SISTEM RANGKA

PT Astra Honda Motor


Astra Honda Training Centre J a k a r t a

DAFTAR ISI
PERAWATAN PERBAIKAN SISTEM RANGKA
BAB I. RANGKA
- Fungsi dari Rangka...........................................................................................................7 - Jenis Rangka....................................................................................................................7 - Gangguan Yang Terjadi Pada Rangka .............................................................................10 - Pemeriksaan Bagian Rangka...........................................................................................11

BAB II. RODA


- Fungsi dari Roda ............................................................................................................12 - Bagian-bagian dari Roda................................................................................................12 - Gangguan Yang Terjadi Pada Roda.................................................................................12 - Bantalan Roda ...............................................................................................................13 - Fungsi Teromol Roda (Wheel Hub)...................................................................................14 - Fungsi Jari-jari ...............................................................................................................14 - Fungsi dari Pelek ............................................................................................................15 - Fungsi Ban.....................................................................................................................16

BAB III. SISTEM REM


- Fungsi Rem ....................................................................................................................17 - Rem Tromol....................................................................................................................17 - Rem Cakram..................................................................................................................20 - Master Silinder ...............................................................................................................23 - Brake Caliper.................................................................................................................24 - Pemeriksaan Brake Disk..................................................................................................26

BAB IV. SISTEM KEMUDI


- Fungsi dari Sistem Kemudi ..............................................................................................27 - Susunan dari Sistem Kemudi ...........................................................................................27 - Gangguan yang Terjadi Pada Kemudi .............................................................................27 - Pemeriksaan dan Penyetelan ...........................................................................................28 - Membuka poros kemudi .................................................................................................29 - Pemasangan poros kemudi.............................................................................................31 - Caster dan Trail..............................................................................................................32

BAB V. SUSPENSI
- Fungsi Sistem Suspensi ...................................................................................................33 - Gangguan Yang Terjadi Pada Suspensi Depan.................................................................34 - Prinsip Kerja Damper......................................................................................................35 - Garpu Telescopic............................................................................................................38 - Pemeriksaan dan Perawatan Suspensi Depan...................................................................39 - Pemeriksaan Suspensi Belakang......................................................................................43

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

Pelatihan Mekanik Tingkat I

MATERI TEORI
RANGKA
Telah diketahui bahwa setiap kendaran memiliki /terdapat rangka atau umum juga disebut frame /chasis.

I.1. FUNGSI DARI RANGKA


Adapun fungsinya adalah sebagai : 1. Penopang mesin. 2. Tahanan dari sistim suspensi sebagai penyerap goncangan dan getaran yang timbul akibat kondisi jalanan. 3. Tahanan dari garpu depan (fork depan) dan garpu belakang (swing arm), kedua-duanya sedemikian rupa sehingga sepeda motor dapat terkendalikan. 4. Penahan dari tempat duduk /jok. 5. Penahan standard tengah dan standard samping. 6. Perletakan battery dan peralatan listrik lainnya. (gambar 1).

I.2. JENIS RANGKA


Ditinjau dari bahan dan cara pembulatannya, rangka dapat dibagi dalam : a. Pressed steel dan tubular Pengertiannya adalah rangka terbentuk dari kombinasi bahan baja dipres (lempengan) ditambahkan dengan bahan bentuk pipa. Umumnya pada jenis ini mempunyai pola yang disebut T-bone (bentuk T ulang-T). (gambar 1), dengan pola Berlian. Contoh pada sepeda motor Honda, jenis : - CB 100/125S GL 100/125 - CG 110/125 - GL Max/Pro/Neo tech

Gambar 1.
Bagian bawah dari pipa tidak dihubungkan dengan bagian rangka yang lain. Bentuk mesin menentukan bagian akhir dari struktur rangka. Sistim pengikatan mesin pada rangka, akan menambah kekuatan dari struktur rangka ini. Jenis rangka dipakai pada jenis sepeda motor tipe sport. Disamping bentuknya sangat sederhana, juga ringan dan mudah dalam perawatan. Perawatan Perbaikan Sistem Rangka 7

BAB I

b. Pressed steel Pengertiannya adalah rangka yang terbentuk dari bahan pelat baja yang seluruhnya dipres (lempengan). Umumnya pada jenis ini mempunyai pola yang disebut Backbone (bentuk tulang punggung). (gambar 2). Contoh pada sepeda motor Honda, jenis : - C70/90 - C700/800 - S90 - Astrea & Astrea Star. - S110 - Black Astrea.

Gambar 2.
c. Tubular Pengertiannya adalah rangka yang seluruhnya terbentuk dari bahan pipa (gb.3,4,5,6), Umumnya pada jenis ini mempunyai pola yang disebut Double Cradle dan Semi Double Cradle (bentuk ayunan). Contoh sepeda motor Honda yang menggunakan rangka jenis ini adalah : - CR 125/250 - VT. 250 - CB 175/200 - CB 400/550/650/750 dll.

Pola Single Cradle Jenis rangka Single Cradle memiliki satu buah pipa dibawah (Down Tube) dan satu buah pipa utama (Main Pipe) pada bagian depan mesin. Secara struktur, bagian-bagian dari rangka ini mengurung posisi dudukan mesin. Penggunaan yang utama, jenis rangka ini adalah jenis sepeda motor offroad, (motor cross). Disamping mempunyai kekuatan yang prima, jenis rangka ini juga mudah dalam perawatan.

Gambar 3.

Pelatihan Mekanik Tingkat I

Pola Double Cradle Jenis rangka Double Cradle hampir mirip dengan jenis single cradle, hanya pada jenis ini memiliki dua buah pipa bawah (Down Tube). Hal ini akan menghasilkan kekuatan sistim rangka. Bagian-bagian dari down tube dapat dilepas, pada saat pemasangan dan melepas mesin. Jenis rangka ini dipakai pada sepeda motor jenis on road dengan CC mesin besar.

Gambar 4.

Gambar 5.
Honda WIN menggunakan rangka jenis Tubular dengan Pola Loop (bentuk belalang) (gambar 5).

Gambar 6.
Honda Tiger menggunakan rangka jenis tubular dengan Pola Diamond (bentuk berlian) (gambar 6).

Gambar 6a.
Honda Supra menggunakan rangka jenis Tubular dengan Pola Back Bone (tulang punggung) (gambar 6a).

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

Gambar 7.
Honda NSR 150 R menggunakan jenis Tubular dengan pola pipa ganda. Rangka ini menggunakan pipa segi empat dan empat persegi panjang. Pada jenis rangka ini akan menjadikan rangka semakin kuat dan tahan terhadap tekanan. Jenis Rangka ini umumnya dipakai pada sepeda motor tipe Sport on road (sirkuit Beraspal).

I.3. GANGGUAN YANG TERJADI PADA RANGKA


A. Gangguan : a. Rangka terdengar berresonansi (menggema) karena getaran mesin. b. Pada waktu berjalan, terdengar suara abnormal dari rangka (berderak, bercuit-cuit dan sebagainya). c. Rangka membengkok sewaktu mempercepat atau menghentikan sepeda motor. B. Penyebab : 1.Patah atau retak pada bagian sambungan (bagian yang dilas) disekitar bingkai/batang penopang mesin. Hal ini dapat terjadi apabila sepedamotor pernah terjatuh atau akibat benturan keras (kecelakaan). 2. Rangka patah atau bengkok/terpuntir.. akibat yang sama halnya pada nomor 1. 3. Terjadi perubahan bentuk dan ukuran karena adanya lengkungan/bengkok. Seperti akibat pada nomor 1, tetapi mungkin juga patah karena selalu bermuatan yang melampaui batas kemampuan. 4. Dudukan poros garpu belakang yang sudah terlalu aus. Jika motor dikendarai dalam keadaan mur pengikat poros garpu belakang terlepas, maka lama kelamaan bos karet penahan poros (pivot bushing) yang terdapat di dalam dudukan poros akan cepat aus dan rusak. Keausan atau kerusakan pada karet dudukan tersebutu akan menimbulkan getaran pada rangka.

10

Pelatihan Mekanik Tingkat I

I.4 PEMERIKSAAN BAGIAN RANGKA

! !

Periksalah rangka secara seksama dari kerusakan, seperti : kebengkokkan pada pipa-pipa dan bagian rangka lainnya. Luruskan stang stir, dan periksa kelurusan antara roda depan dan belakang. Jika roda depan dan belakang tidak segaris, periksalah posisi penyetel rantai dari ketepatan posisinya antara yang kiri dan yang kanan. Apabila roda depan atau belakang terlihat miring ke satu arah, lakukan pemeriksaan pada bagian-bagian garpu belakang dari terjadinya kebengkokan. (gambar 8). Ukur jarak sumbu roda depan dengan poros garpu belakang dengan menggunakan meteran/penggaris panjang. Gunakan cairan (penetrant) untuk memeriksa terjadinya keretakan pada rangka. (gambar 9).

Catatan : Ikuti petunjuk pemakaian cairan khusus tersebut (penetrant), pada saat memeriksa terjadinya kerusakan. Apabila keretakan terlihat muncul pada bagian cat, periksa secara teliti, bagian rangka disekitar itu, apakah keretakan juga terjadi pada bagian rangkanya.

Gambar 8.

Gambar 9.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

11

MATERI TEORI
RODA
II.1. FUNGSI DARI RODA
- Roda depan dan belakang adalah sebagai penunjang sepeda motor untuk dapat berjalan. - Terutama roda belakang adalah sebagai tenaga penggerak sepeda motor yang diterima/didapat dari tenaga mesin yang disalurkan melalui transmissi dan rantai roda.

BAB II

II.2. BAGIAN-BAGIAN RODA.


1. Bantalan roda. 2. Hub. 3. Jari-jari. 4. Pelak. 5. Ban

Gambar 10. INFORMASI SERVICE


Topanglah lebih dahulu sepeda motor dengan mengggunakan standar tengah, atau dengan sarana penopang lain. Pastikan bahwa kendaraan telah ditopang dengan aman, sebelum melakukan perbaikan sistim roda dan ban.

II.3. GANGGUAN YANG TERJADI PADA RODA.


1. Penggendalian kemudi terasa berat. - Kekencangan mur pada kemudi terlalu keras. - Kerusakan pada bearing (bantalan). - Tekanan angin ban kurang. - Kesalahan pemasangan ukuran pada ban depan. 2. Roda depan goyang/oleng. - Pelek bengkok. - Bantalan roda rusak. - Jari-jari kendor. 12 Pelatihan Mekanik Tingkat I

3. Pengendalian berat ke satu sisi. - Pemasangan suspensi kiri dan kanan tidak tepat. - Garpu depan bengkok. - Poros roda depan bengkok. - Terjadinya kelainan pada steering head bearing. - Frame/rangka bengkok. - Kelainan pada bearing (bantalan). - Terjadi kerusakan pada pivot swing arm. 4. Putaran roda tidak halus/lancar. - Penyetelan rem tidak tepat. - Terjadi kelainan pada bearing roda. - Terjadi kelainan pada gear speedometer.

II.4. BANTALAN RODA


Fungsi bantalan roda adalah sebagai bantalan antara hub/tromol dengan poros sehingga roda dapat berputar dengan lancar. PEMERIKSAAN BANTALAN Putar lingkaran dalam daripada masingmasing bantalan dengan jari-jari. Bantalan harus berputar dengan halus dan tanpa hambatan/suara. Juga periksa bahwa lingkaran luar bantalan terpasang dengan erat pada hub roda. Lepaskan dan ganti dengan bantalan baru apabila lingkaran bantalan tidak berputar dengan halus, atau jika duduk dengan longgar pada hub roda (gb. 11). Catatan: Ganti bantalan berpasangan . roda secara

Gambar 11.

PENGGANTIAN BANTALAN RODA Proses Melepas Bantalan. - Lepaskan piringan rem/gir belakang. - Lepaskan sil debu. - Lepaskan bantalan roda dan collar pengantara dengan menggunakan alat khusus Bearing Remover Head. (gb. 12).

Gambar 12.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

13

PROSES MEMASANG BANTALAN - Isi semua rongga-rongga bantalan dengan gemuk. - Masukan terlebih dahulu bantalan setelah kanan sampai duduk sepenuhnya pada tempatnya dengan menggunakan alat khusus Bearing Driver. - Masukan collar pengantara. - Selanjutnya pasang bantalan setelah kiri (gb.13).

Gambar 13. II.5. FUNGSI TEROMOL RODA (WHEEL HUB)


- Teromol roda adalah sebagai dudukan sistim rem dan sebagai penopang roda pada porosnya. - Periksa hub/tromol dari keretakan pada bagian flange atau sekitar lubang tempat jari-jari. (gb.14).

Gambar 14. II.6. FUNGSI JARI-JARI


Susunan jari-jari dari pusatnya adalah sebagai penghubung teromol roda dengan peleknya. Jari-jari juga sebagai penopang berat dari sepeda motor seberapa besar tenaga yang dibebankan melalui roda dan sekaligus juga sebagai penyerap getaran/goncangan dari jalanan. Bentuk jari-jari yang terpasang pada SMH yang dipasarkan di Indonesia dapat dibedakan bentuknya antara jari-jari luar dan dalam. Bentuk/ciri-ciri jari-jari sebagai berikut : 1. Bentuk jari-jari luar dengan mempunyai kebengkokan kurang dari 90o atau mempunyai jarak antara kepala dengan kebengkokan lebih panjang. 2. B e n t u k j a r i - j a r i d a l a m d e n g a n mempunyai kebengkokan lebih dari 90o atau mempunyai jarak antara kepala dengan kebengkokan lebih pendek. (gb.15).

Gambar 15.

14

Pelatihan Mekanik Tingkat II

Merakit jari-jari ke hub/tromol ke pelek ada perbedaan pola anyaman untuk jenis rem tromol maupun rem cakram. Pola anyaman jari-jari : 1. Jenis rem tromol = 4H.3R (4 lubang pada Hub. 3 lubang pada Rim). 2. Jenis rem cakram = 6H.3R (6 lubang pada Hub. 3 lubang pada Ring). Catatan : Khusus untuk SMH tipe NSR 150R Roda depan dengan pola anyaman 4H.3R Roda belakang dengan pola anyaman 6H.3R (gambar 16).

Catatan : - Pola anyaman adalah persilangan antara jari-jari luar dan dalam. - Jari-jari luar mengarah searah putaran jarum jam. - Jari-jari dalam mengarah berlawanan dari putaran jarum jam. - Torsi kekencangan jari-jari : 15 45 Kgf.cm.

Gambar 16. II.7. FUNGSI DARI PELEK


Pelek dibentuk sedemikian rupa dengan kuat agar dapat mengatasi keolengan dan kebengkokan. Disamping itu mempunyai bentuk yang memungkinkan ban luar dan ban dalam dapat dipasangkan secara sempurna. Periksa pelek terhadap keolengan dengan meletakkan roda pada gantungan roda untuk penyetelan jari-jari. Putaran roda pelan-pelan, dan bacalah keolengan menggunakan alat dial indicator. (gb.17). BATAS SERVIS : Radial : 1,0 mm Aksial : 1,0 mm

Gambar 17.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

15

II.8. FUNGSI BAN LUAR


Jalur-jalur pada permukaan ban depan mempunyai bentuk yang berlainan dengan jalur-jalur pada permukaan ban belakang. - Ban depan : (gb.18 a). Jalur-jalurnya relatif sempit dengan corak yang sesuai dan tepat untuk melayani pengendalian sepeda motor secara aman. Corak serupa ini disebut Rib pattern/corak rusuk. - Ban belakang : (gb.18). Karena roda belakang sebagai penyalur tenaga yang dihasilkan oleh mesin, maka untuk meng-efisiensi-kan tenaga semaksimal mungkin dibentuklah corak dari jalur-jalurnya yang ketat terhadap permukaan jalanan. Corak serupa ini disebut Blok pattern/corak berbungkal (corak renggut).
Index 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Gambar 18a.

Gambar 18b.

LOAD INDICES
Kg 106 109 112 115 118 121 125 128 132 135 Index 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Kg 140 145 150 155 160 165 170 175 180 185 Index 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Kg 190 195 200 206 212 218 224 230 236 243 Index 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 Kg 250 257 265 272 280 290 300 307 315 325

Speed Symbols
B C D E F G J K L M Km/h 50 60 65 70 80 90 100 110 120 130 N P Q R S T U H V Z Km/h 140 150 160 170 180 190 200 210 240 >240

Fungsi Ban Dalam


Di dalam ban dibutuhkan sejumlah udara yang dapat membantu menyerap getaran dari jalanan. Sebagai wadah dari udara itu dipasangkan ban bagian dalam, lengkap dengan klep dengan klep pemasukan udara (pentil).

KODE BAN
4.00 H-18 A4PR
Lebar telapak: 4 inch Ply No: 4 4-ply rating

Kode Batas Kecepatan : (J) ........... 100 km/h max. (N) .......... 140 km/h max. (P) .......... 150 km/h max. (S) .......... 180 km/h max. (H) .......... 210 km/h max. (V) .......... 240 km/h max.

Kode batas kecepatan

Diameter pelek : 18 inch

170/60 R 18 73 H
Lebar telapak: 170 mm Perbandingan tinggi/lebar = 60% Kode batas kecepatan

Kode batas beban

Diameter pelek: 18 inch Tanda indikasi Radial

Gambar 19.
16 Pelatihan Mekanik Tingkat I

MATERI TEORI
REM
III.1. FUNGSI REM
Untuk mengurangi kecepatan laju sepeda motor dan untuk menghentikannya. INFORMASI SERVICE Debu asbes dari kampas diketahui dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pernafasan dan kanker. Jangan menggunakan tekanan angin atau sikat kering, saat membersihkan debu rem.

PERHATIAN

Gambar 20.
2. Handle lambat atau terlalu keras untuk kembali pada posisi semula, kemungkinan penyebab : - Terjadi keausan pada sepatu rem akibat bergesekan dengan nok (tonjolan). - Te r j a d i k e r e n g g a n g a n y a n g berlebihan antara lengan rem dengan nok. - Terjadi keausan/patah, pada per rem. - Penyetelan kurang tepat. - Tromol macet, akibat kontaminasi. - Terjadi keausan pada sepatu rem akibat pergesekan dengan nok. - Kabel rem macet (kurang pelumasan). - Kesalahan pemasangan pada tromol. 17

Kedua-duanya berputar bersama-sama roda. Masing-masing dilambatkan oleh gesekan rem atau pad yang menekannya.

1. Rem Tromol : III.2. Gangguan yang terjadi pada rem tromol


1. Pengereman kurang pakem (kurang mantep) kemungkinan penyebab : - Penyetelan kurang tepat. - Keausan pada tromol. - Keausan pada kampas. - Pemasangan kampas rem tidak benar. - Kabel rem macet (kurang pelumasan), - Terjadi kontaminasi pada tromol. - Terjadi kontaminasi pada kampas. Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

BAB III

SISTIM PENGEREMAN Prinsip sistim pengereman adalah perubahan energi kinetik menjadi energi panas dalam bentuk gesekan panas. Ada dua tipe sistim pengereman pada sepeda motor Honda, yaitu : 1. Tipe drum (tromol). 2. Tipe disk (cakram).

REM TROMOL

REM CAKRAM

3. Terjadi bunyi pada saat di rem, kemungkinan penyebab : - Terjadi keausan pada kampas. - Terjadi Keausan pada tromol. - Kontaminasi pada tromol.

III.3. PRINSIP KERJA REM TROMOL


1. SINGLE LEADING SHOE (Leading-Trailing Shoe Type) TYPE

Tenaga pengereman dari pedal atau handle rem dialirkan ke bubungan rem melalui kabel atau batang rem. Bubungan (seperti pada gambar disebelah ini) akan menggerakan sepatu (shoe) rem, yang selanjutnya bergesekan dengan drum untuk memperlambat putaran drum yang berhubungan dengan roda. Sehingga putaran roda akan diperlambat Dengan Konstruksi/posisi shoe (sepatu) yang demikian, maka leading shoe menghasilkan gaya yang lebih besar daripada trailing shoe. Kenaikan gaya pada leading shoe ini yang disebut SELF ENERGIZING. 2. DUAL LEADING SHOE TYPE Perbedaan dengan Single Leading Shoe adalah pada tipe ini memakai dua buah Bubungan rem. Dengan gaya yang sama dari pedal atau handel rem, tipe ini akan memberikan gaya pengereman yang lebih besar. Karena sistim ini menghasilkan gesekan yang paling penting pada komponenkomponen rem maka diperlukan meterial yang dapat menyalurkan panas dengan cepat. Aluminium alloy adalah material yang mempunyai konduktivitas panas yang tinggi. Dan juga sirip-sirip pendinginan (Cooling fins) pada hub dipergunakan untuk mempercepat proses pendinginan.

Gambar 21.

Gambar 22.

18

Pelatihan Mekanik Tingkat II

PEMERIKSAAN REM TROMOL TROMOL REM ! Periksa tromol rem terhadap kerusakan, dan ganti jika diperlukan. ! Ukur diameter dalam tromol rem pada permukaan lining pada beberapa tempat dan dapatkan ukuran terbesar. BATAS SERVIS : Astrea, WIN, GLK : 111mm GL Pro, Tiger : 131mm Catatan : - Jika tromol rem berkarat, bersihkan dengan amplas #120. Memakai jangka sorong untuk mengukur diameter dalam tromol. (gb.23).

Gambar 23.

KETEBALAN BRAKE LINING ! Ukur brake lining pada tiga titik (keduanya diujung dan ditengah-tengah). ! Ganti sepatu rem sepasang jika ukurannya lebih kecil dari batas service yang diijinkan atau jika kena grease (gemuk). BATAS SERVICE : 2.0 mm.

Gambar 24.

PROSES MEMBUKA Catatan : - Ganti sepatu rem sepasang. - Jika sepatu rem akan dipakai lagi, pada waktu pelepasan tandai terlebih dahulu ujung sepatu rem supaya dapat dipasang pada posisi semula. - Tarik sepatu rem dari anchor pin dan lepaskan sepatunya. - Lepaskan lengan rem, indicator keausan, sil debu dan bubungan rem.

Gambar 25.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

19

PROSES PEMASANGAN

! ! !

Lumasi bubungan rem dan pin jangkar dengan sedikit gemuk selanjutnya pasang kembali pada panel rem. Pasang sil debu, plate indicator keausan dengan menempatkan gigi indicator yang lebar pada bubungan rem. Tepatkan tanda titik pada lengan rem dengan bubungan rem kemudian kencangkan baut penjepit.

II. REM CAKRAM


Gangguan yang terjadi pada rem cakram Handle Rem Terasa Lunak ! Ada udara palsu di dalam sistim hidraulik. ! Ada kebocoran pada sistim hidraulik. ! Kanvas rem/cakram rem kotor. ! Sil piston caliper aus. ! Sil piston silinder utama aus. ! Kanvas rem/cakram rem aus. ! Caliper kotor. ! Caliper tidak bergeser dengan baik. ! Tinggi permukaan minyak terlalu rendah. ! Saluran minyak rem tersumbat. ! Cakram rem bengkok/berubah bentuk. ! Piston caliper menyangkut/aus. ! Piston cylinder utama menyangkut/aus. ! Silinder utara kotor. ! Handel rem bengkok. Handel Rem Terasa Keras Sistim rem tersumbat/tertahan. Piston caliper menyangkut/aus. Caliper tidak bergeser dengan baik. Saluran minyak rem tersumbat/tertahan. Sil piston capiler aus. Piston silinder utama menyangkut/aus. Handel rem bengkok.

! ! ! ! ! ! !

Rem Menyangangkut ! Kanvas rem/cakram rem kotor. ! Roda tidak terpasang dengan tepat. ! Kanvas rem/cakram rem aus. ! Cakram bengkok/berubah bentuk. ! Caliper tidak bergeser dengan baik. 20

Gambar 26.
Pelatihan Mekanik Tingkat I

PRINSIP KERJA REM CAKRAM


Tekanan yang dipakai melawan handel rem atau pedal akan menggerakan piston di dalam master silinder unit. Tekanan Hydraulic fluida selanjutnya dialirkan melalui saluran (pipa) untuk menekan piston caliper. Piston capiler akan kontak langsung dengan sisi belakang kanvas rem. Anti sequeal shims (plat tipis) akan mengatur posisi normal antara piston dan kanvas rem. Pada saat yang bersamaan, kanvas rem pada sisi yang berlawanan menekan cakram, sehingga putaran roda diperlambat. (gb.27).

Gambar 7. 27.
Pada waktu handel rem dilepas, tekanan hydraulic menurun dan pad tekanannya berkurang pada disk (cakram). Minyak rem, piston master dan piston caliper kembali seperti semula oleh tekanan pegas di piston master dan sil di piston caliper. (gb.28). Pada single push caliper, kedua pads menekan disk melalui reaksi sliding caliper yoke. Caliper tipe ini banyak dipakai pada honda. Model terbaru memakai single push dengan dua piston.

INFORMASI UMUM UNTUK PEMELIHARAAN

Gambar 28.

! ! !

Hindari kotoran, debu, air atau benda asing masuk pada waktu pengisian dan penggantian minyak rem. Ganti parts yang dianjurkan pada waktu penggantian pada saat sepedamotor di service. Bersihkan permukaan brake pad dan disk. Jika oli atau grease (gemuk), karena akan mengurangi akan mengurangi gaya pengeremannya. Brake caliper dapat dilepas dari sepeda motor dan pad dapat diganti tanpa harus memutuskan sistim hydarulic.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

21

PENGGANTIAN MINYAK REM


Sebelum membuka tutup reservoir, putar handle bar sampai minyak rem pada posisi mendatar. Pisahkan/tempatkan di tempat yang aman barang-barang yang di cat, plastik, karet, agar ditutup kain, pada saat melakukan service atau penggantian minyak rem.

Gambar 29.
Tanpa alat Khusus - Buka tutup master silinder dan diafragma. - Buanglah kotoran-kotoran akibat kontaminasi pada pad dan disk dengan cairan pembersih. - Isi minyak rem sampai batas upper.(gb.34) - Hubungkan pipa pada katup pembuangan. - Pompa/tekan handel rem berulang-ulang sampai terlihat gelembung udara keluar. - Tekan handel rem selanjutnya buka katup putaran dan tutup kembali. - Lakukan cara seperti di atas sampai rem bekerja dengan sempurna. (gb.30).

Gambar 30.

Memakai Alat Khusus - Isi minyak rem sampai batas upper. - Pasang alat brake bleeder pada katup pembuangan seperti gambar disamping. - Lakukan pemompaan 3 atau 4 kali kemudian kendorkan katup dengan kunci +/- 5 detik lalu kencangkan kembali. - Lakukan beberapa kali sampai minyak rem terlihat keluar tanpa gelembung udara melalui pipa brake bleeder. (gb.31).

Catatan : Check isi minyak rem dan tambahkan apabila kurang untuk mencegah masuknya udara palsu.

Gambar 31.

22

Pelatihan Mekanik Tingkat I

MASTER CYLINDER
PROSES MEMBUKA

! ! ! !

Keluarkan minyak. Lepaskan snap ring dengan snap ring pliers. Keluarkan piston master dan pegas. Cuci master silinder dan komponen lainnya dengan air bersih.(gb.32).

Gambar 32.

PEMERIKSAAN

! ! !

Periksa master silinder terhadap goresan, keausan. Ukur diameter dalam pada beberapa tempat. Ganti master silinder jika ukuran terbesar melebihi batas service yang diijinkan. (gb.33).

Gambar 33.

PEMERIKSAAN

! ! !

Periksalan piston master terhadap goresan keausan. Ukur diameter luar piston pada beberapa tempat. Ganti piston master jika ukuran terkecil lebih kecil dari batas service yang diijinkan.

Gambar 34.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

23

PROSES PEMASANGAN

! ! ! ! ! !

Pastikan tiap parts, terbebas dari kotoran sebelum dipasang. Lapisi piston cup dengan minyak rem yang baru dan pasang pada pistonnya. Pasang pegas dengan ujung diameter yang lebih besar menghadap master cylinder. Pasang primary cup dengan sisinya yang cekung menuju sisi dalam master silinder. Pasang snap ring. (gb.35).

Gambar 35.

BRAKE CAPILER
PROSES MEMBUKA

! ! ! ! !

Lepaskan baut pipa minyak rem. Lepaskan baut caliper. Lepaskan kanvas rem. Lepaskan braket caliper. Keluarkan piston dengan memakai tekanan udara.

Gambar 36.

Catatan : Untuk melindungi supaya piston tidak terlempar keluar, bagian sisi piston diberi penahan kain lap/plat tipis.

Gambar 37.

Cucilah caliper silinder dan komponen lainnya dengan air bersih.

Gambar 38.

24

Pelatihan Mekanik Tingkat II

PEMERIKSAAN

! ! !

Periksa permukaan dinding silinder caliper dari cacat dan goresan-goresan. Ukur diameter dalamnya beberapa tempat. Ganti caliper silinder jika ukuran terbesar melebihi batas service yang di ijinkan. (gb.39).

Gambar 39.

! ! !

Periksa permukaan dinding piston caliper dari cacat dan goresan-goresan. Ukur diameter luar piston pada beberapa tempat. Ganti piston caliper jika ukuran terkecil melebihi batas service yang diijinkan. (gb.40).

Gambar 40.
PROSES PEMASANGAN Catatan : Pastikan tiap komponen terbatas dari kotoran sebelum dipasang. Lapisi sil debu dan sil potong baru dengan minyak rem dan pasang ke alur caliper cylinder. Lapisi caliper piston dengan minyak rem baru dan pasang ke caliper. Lumasi pin slide dengan gemuk silikon Pasang kanvas rem kembali.(gb.41).

Gambar 41.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

25

PEMERIKSAAN BRAKE DISC (REM CAKRAM).

! !

Secara visual periksa disk (Cakram) terhadap kerusakan atau keretakan. Ukur ketebalan cakram pada beberapa tempat dan ganti jika hasil pengukuran terkecil lebih kecil dari batas service yang diijinkan.(gb.42).

Gambar 42.

Check keolengan cakram periksa bantalan roda dari keolengan bila bantalan roda normal dan cakram oleng, maka ganti cakramnya. (gb.43).

Gambar 43.

26

Pelatihan Mekanik Tingkat I

MATERI TEORI
SISTEM KEMUDI
IV.1. FUNGSI DARI SISTIM KEMUDI
- Sistim kemudi adalah untuk membelokan roda depan ke kiri dan ke kanan dengan cara mempergunakan tenaga tangan melalui batang kemudi (stang) yang diteruskan ke garpu depan (front fork). - Jari-jari lingkaran perputaran dari suatu sepeda motor ditentukan oleh besar/kecilnya sudut sewaktu stang dibelokkan dan juga ditentukan oleh besarnya/kecilnya sudut kemiringan dari sepeda motornya diwaktu menikung.

IV.2. SUSUNAN DARI SISTIM KEMUDI (Gb.45)


- Batang kemudi (handle bar) (1). - Penghubung/jembatan garpu bagian atas (fork top brige) (2). - Pengapit/pengikat stang (handle bar holder) (3). - Poros kemudi (steering stem) (4). - Dudukan peluru-peluru/kones bagian atas (top cone) (5). - Peluru-peluru (steel balls) (6). - Karet penahan debu/kotoran (dust seal) (7). - Dudukan peluru-peluru bagian bawah/kones bawah (bottom cone) (8).

Gambar 7.

A. Gangguan : a. Kemudi terasa berat. b. Kemudi terasa terlalu ringan. c. Kemudi yang cenderung membelok ke satu arah. B. Penyebab : 1. Poros kemudi (steering stem) diikat

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

27

BAB IV

IV.3. GANGGUAN YANG TERJADI PADA KEMUDI

terlalu kencang. Bola baja tertahan pergerakannya karena pengencangan poros kemudi melewati batas. 2. Bola baja pecah atau kekurangan gemuk (grease). Poros kemudi tidak dapat berputar dengan lancar dan gerakannya berat apabila satu atau lebih dari satu pelurunya tergores, aus atau pecah.

3. Poros kemudi bengkok (gb.11). Hal ini dapat terjadi apabila pernah mengalami suatu benturan yang keras akibat tabrakan. 4. Tekanan angin ban yang rendah. Apabila tekanan angin ban depan terlalu rendah, maka luas bidang kontak antara ban dengan permukaan jalan akan bertambah besar sehingga kemudi menjadi berat. 5. Kedudukan peredam kejut (shock absober) tidak seimbang. Apabila salah satu garpu depan lebih pendek dudukannya, maka pergerakan kemudi akan cenderung menarik kearah bagian garpu yang pendek tadi. Kondisi ini adalah akibat pegas peredam kejut yang tidak sama panjang bebasnya. 6.Garpu depan atau belakang bengkok. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali bila motor pernah mengalami suatu benturan yang keras (kecelakaan) atau motor pernah jatuh. 7. Poros roda depan bengkok. Apabila poros roda depan bengkok, maka roda menjadi miring dan kemudi akan cenderung bergerak kearah bagian yang dituju roda yang miring itu.

3. Apabila kemudi terlalu berat atau terlalu ringan, putar mur pengikatnya sampai mencapai ketepatan. 4. Apabila dengan cara pada nomor 3 masih tetap belum teratasi, lepaskan roda depan dan seluruh susunan sistim kemudi sambil diperhatikan kemungkinan poros kemudinya bengkok, bola baja dan dudukan bola baja aus/retak atau kemungkinan kurang gemuk pelumas. 5.Periksa tekanan angin ban (sesuai spesifikasi).

IV.4. PEMERIKSAAAN DAN PENYETELAN


Pemeriksaan keselarasan dari pergerakan sistim kemudi. 1. Letakkan balok kayu dibawah mesin sehingga roda depan terangkat. 2. Belokkan batang kemudi kekiri dan kekanan secara perlahan-lahan sambil merasakan pergerakannya apakah lancar atau tidak. Sebelumnya perhatikan juga kedudukan kabel-kabel jangan ada yang menahan kebebasan sistim kemudi.

28

Pelatihan Mekanik Tingkat II

MEMBUKA POROS KEMUDI Apabila menggunakan jenis bearing yang terlepas (bola baja), tempatkan kain lap dibawahnya, agar bola baja tidak berjatuhan/berantakan. (gb.45). Buka sil debu dan kones atas, sambil menahan poros kemudi dengan tangan yang lain, kemudian buka poros kemudi dari rangka.

Gambar 45.
Catatan : Perhatikan jumlah bola baja dan pastikan tidak ada yang hilang/tercecer.

Gambar 46.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

29

Pemeriksaan : Periksa bola baja dari kerusakan atau keausan, ganti segera apabila perlu. (gb.47).

Catatan : Apabila sepeda motor terjadi kecelakaan, ada kemungkinan bagian sekitar steering head bisa terjadi retak.

Gambar 47.

Membuka dudukan bola baja dapat dilakukan dengan alat bantu yaitu, ball race remover. (gb.48).

Gambar 48.

Memasang dudukan bola baja (race) pada steering head dapat menggunakan alat bantu yaitu, driver dan attachment. (gb.49).

Catatan : Pasanglah dudukan bola baja dengan tepat, dan pastikan bahwa posisinya sudah tepat pada dudukannya.

Gambar 49.

30

Pelatihan Mekanik Tingkat I

PEMASANGAN POROS KEMUDI Lumasi dengan gemuk pada dudukan bola baja atas dan bawah kemudian pasang bola baja, pastikan jumlahnya tidak kurang/lebih. Kemudian masukan poros kemudi hati-hati agar bola baja tidak lepas dari dudukannya. Pasang poros kemudi pada satu tempat, kemudian pasang konus atas dan mur penyetelan, kencangkan dengan torsi yang telah ditentukan. Gerakan poros kemudi ke kiri dan ke kanan, sampai menyentuh batas maksimum perputaran, untuk menepatkan dudukan bola baja. Pastikan bahwa poros kemudi bergerak dengan lancar tanpa ada hambatan atau gangguan, kemudian kendorkan mur penyetel. Kencangkan kembali mur penyetel dengan torsi 1.5 kgm kemudian kendorkan 1/8 putaran.

Gambar 50.

Gambar 51.

Gambar 52.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

31

IV.5. CASTER DAN TRAIL (GB.53)


a.Caster Adalah sudut kemiringan dari poros kemudi dalam satuan derajat. Dengan menarik garis sejajar poros kemudi, maka akan didapat suatu sudut yang dihitung dari garis yang mendatar (horisontal). b. Trail Adalah jarak antara titik potong dari garis melalui poros kemudi dengan jalan mendatar, ke titik tumpu ban depan di atas jalan. Dari penjelasan kedua jenis ukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa lebih besar sudut casternya maka akan lebih kecil jarak trailnya. Caster dan trail harus diperhitungkan secara tepat, karena berhubungan erat sekali terhadap pengaruh kestabilan sistim kemudi dari sepeda motor. Catatan : Dengan sudut Caster yang kecil, berarti memperpanjang jarak trail. Dalam hal ini, pengendalian sepeda motor terasa baik untuk jalan yang lurus dengan kecepatan tinggi. Te t a p i p a d a k e c e p a t a n r e n d a h , pengendalian terasa berat dan kurang enak untuk tikung-menikung.

Gambar 7.

32

Pelatihan Mekanik Tingkat I

MATERI TEORI
SISTEM SUSPENSI
V.1. FUNGSI SISTIM SUSPENSI
- Sistim suspensi sebagai penghubung antara roda terhadap frame/rangka. - Menyerap bantingan dan goncangan yang keras. Bagian dari sistim suspensi yang berperan pada kejadian itu adalah pegas. - Mengurangi ayunan pegas. Peredam kejut atau penyerap bantingan pada sistim suspensi adalah untuk menyerap/melemahkan gerak mengayun dari pegas sehingga pengendalian terasa stabil. Untuk sistim suspensi adalah gabungan/perpaduan antara pegas (1) dengan peredam kejut (2). (gb.54).

ALASAN DIPASANGKAN PEREDAM KEJUT a. Apabila hanya mempergunakan pegas. (gambar 55). Garis diagram pada gambar menjelaskan bahwa hanya dengan pegas saja, tidak sanggup untuk menyerap goncangan akibat kondisi jalanan. Karena goncangan yang diterima pegas akan dikembalikannya lagi (rebound) sehingga pegas akan bekerja dengan gerakan mengayun. Dalam hal ini pengendaraan sepeda motor terasa tidak nyaman dan berbahaya. b.Apabila mempergunakan peredam kejut.(gambar 56) Goncangan/bantingan yang diterima telah diserap untuk sebagian besar oleh peredam kejut sehingga pengendalian lebih stabil dan nyaman. Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

Gambar 54.

Jadi pemasangan peredam kejut bukan hanya sekedar untuk kenyamanan pengendaraan, tetapi juga pengendaraan lebih cermat dan aman.

33

BAB V

JENIS SUSPENSI BAGIAN DEPAN a. Jenis telescopic. Jenis ini paling banyak dipergunakan pada sepeda motor (gb.57). b. Jenis Buttom link. Jenis ini dipergunakan pada sepeda motor Honda jenis C50/70, C700/800/Astrea star. (gambar 58).

Gambar 55. V.2. Gangguan yang terjadi pada suspensi depan


1. Stang kemudi seret saat berbelok kekiri/kekanan, kemungkinan penyebab: a. Penyetelan/pemasangan bearing steering head terlalu kencang. b. Terjadi kesalahan pemasangan pada bearing steering head. c. Terjadi kerusakan pada bearing steering head. d. Tekanan angin ban kurang standar. e. Kesalahan pemakaian ukuran ban.

Gambar 56.

Gambar 57.

Gambar 58.

34

Pelatihan Mekanik Tingkat I

2. Stang kemudi cenderung berbelok ke satu arah, atau kendaraan tidak dapat bergerak dengan posisi lurus, kemugkinan penyebab : a. Penyetelan/pengaturan suspensi depan bagian kiri dan kanan tidak sesuai. b. Terjadi kebengkokan pada pipa suspensi. c. Terjadi kebengkokan pada as roda depan, atau kesalahan pemasangan pada roda depan. d. Terjadi kelainan pada steering head bearing. e. Terjadi keausan pada bearing roda. f. Terjadi keausan pada bagianbagian swing arm pivot. 3. Roda depan oleng, kemungkinan penyebab : a. Terjadi kebengkokan pada pelek. b. Keausan pada bantalan roda. 4. Roda depan berputar kurang lancar, kemungkinan penyebab : a. Terjadi kekeliruan pada pegas suspensi depan. b. Kerusakan pada bantalan roda. c. Kerusakan pada gigi speedometer.

V.3. PRINSIP KERJA DAMPER (PEREDAM)


1. Prinsip kerja jenis, DAMPER PRICITION sangat sederhana sekali, dimana untuk pengganti oli sebagai peredam gerakan pegas dan suspensi, dilakukan oleh piston yang memiliki ring non metalik (biasanya dari bahan plastik) yang dipasang pada bagian atas piston yang berfungsi meredam gerakan ROD yang menekan dinding bagian dalam silinder yang dilapisi oleh gemuk (grease). Damper Pricition umumnya digunakan pada sepeda motor sederhana dengan CC yang kecil.

Gambar 59.
5. Suspensi depan lemah/terlalu lunak, kemungkinan penyebab : a. Terjadi kelemahan pada pegas suspensi depan b. Kelainan pada oli suspensi. c. Oli suspensi kurang. 6. suspensi depan keras, kemungkinan penyebab : a. Terjadi kebengkokan pada bagianbagian suspensi. b. Terjadi sumbatan pada jalur-jalur oli di dalam pipa suspensi. c. Kesalahan pada pengisian oli suspensi.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

35

Prinsip kerja jenis OIL DAMPER Fungsi utama dari sistim damper pada suspensi adalah mengontrol gerakan balik dari pegas suspensi, sehingga dapat memelihara kenyamanan pada saat pengendaraan. OIL DAMPER mengontrol gerakan pegas naik maupun turun, melalui tekanan oli yang mengalir pada lubang yang terdapat pada piston damper.

Gerakan menahan yang dilakukan oleh piston damper didapatkan dari oli yang meredam gerakan pegas, melalui perubahan lubang keluar masuknya oli pada saat piston bergerak turun dan naik. Pada saat piston bergerak turun (gerakan menekan), oli menahan gerakan tersebut melalui sebagian besar aliran oli yang masuk melalui damping orifice, reaksi ini terjadi akibat gerakan roda menyentuh secara tiba-tiba bagian jalanan yang menonjol. (gb.60)

Gambar 60.

Pada saat tekanan pegas (rod) bergerak ke atas, gerakan ini tertahan dengan lembut, oleh karena adanya tekanan dari damping oil, melalui sebagian kecil aliran oli yang mengalir melalui lubanglubang kecil. Karakteristik damping yang sebenarnya, didapat dari gerakan yang cepat dari suspensi. (gb.61).

Gambar 61.

36

Pelatihan Mekanik Tingkat I

Pada gambar sebelah, terlihat gerakan menekan yang diredam oleh sistim redam ganda. Pada saat lengan ayun bergerak ke atas melawan pegas dan damper piston, oli menahan gerakan tersebut melalui piston valve dengan tahanan yang kecil, karena tahanan yang utama dari gerakan menahan ini hanya mengalir melalui bagian atas piston. Pada saat sama, juga terjadi aliran sebagian oli pada bagian katup bawah. Jumlah oli yang mengalir keluar melalui katup bawah sama besar dengan jumlah oli yang mengalir pada bagian atas katup atas. Gabungan tahanan yang dilakukan oleh masing-masing klep inilah yang menghasilkan damping Compression (peredam gerakan menekan). (gb.62).

Gambar 62.

Pada gambar sebelah terlihat gerakan tekanan ke atas dari rod, dimana pada gerakan ini roda kembali pada posisi jalanan yang berlubang, setelah malalui posisi jalanan yang menonjol. Tekanan pegas ke bawah akan diredam oleh gerakan naik piston ke atas. Aliran oli yang mengalir pada piston valve, akan menghasilkan tahanan yang kecil, akan tetapi tahanan yang dilakukan oleh damping valve dalam piston cukup besar.(gb.63).

Gambar 63.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

37

GARPU TELESCOPIC

Garpu telescopic disamping sebagai pendukung bagian konstruksi rangka sepeda motor, yang berfungsi juga untuk memutar kendaraan dan juga berfungsi sebagai suspensi depan. Pada saat pipa garpu bergerak secara telescop pada gerakan menekan (langkah kompresi), oli pada ruangan B, mengalir melalui lubang orifice pada pipa garpu menuju ruangan C, sementara oli di dalam ruangan B, juga menekan free valve dan kembali ke atas menuju ruangan A, tahanan dari oli yang mengalir inilah, yang akan meredam gerakan kejut (shock absorber) pada saat gerakan menekan. Pada saat garpu mendekati tekanan yang maksimal, bagian ujung dari OIL LOCK PIECE menahan gerakan garpu secara hydraulis, sebelum garpu menyentuh bagian bawah .

Pada langkah naik (rebound stroke), oli dalam ruang A mengalir menuju ruang C, melalui lubang orifice yang berada pada bagian atas fork piston, dari proses tersebut akan dihasilkan tahanan yang berfungsi sebagai damping force (tenaga redam) sebagai pengontrol gerak naiknya pegas. Rebound spring akan meredam gerakan kejut dari pada garpu pada saat gerakan yang lebih kuat. Pada saat tersebut terjadi aliran oli dari ruang C menuju ruang B, melalui lubang orifice yang berada pada bagian bawah piston fork. (gb.64).

FRONT FORK - FREE VALVE TYPE

Gambar 64.

38

Pelatihan Mekanik Tingkat I

Catatan : Jumlah oli peredam kejut yang kurang, dapat mengakibatkan timbulnya suara hentakan ketika pipa garpu mencapai akhir dari penekanan atau akhir dari pengembangan. Jenis Suspensi depan : 1. Piston Valve Dipakai pada sepeda motor Honda : CB 100/125, C90, S110/125, CG110/125 2. Free Valve Dipakai pada sepeda motor Honda : GL 100/125, WIN, TIGER, NSR 150R 3. Free Valve & Air Suspension Dipakai pada sepeda motor Honda : GL Max/Pro.

V.4. PEMERIKSAAN DAN PERAWATAN SUSPENSI DEPAN


MEMBUKA BAGIAN-BAGIAN GARPU Buka bagian-bagian : 1. Keluarkan udara (tipe GL Max/Pro). 2. Lepaskan tutup garpu dan keluarkan pegasnya. 3. Keluarkan oli dengan cara memompa ke atas dan ke bawah untuk beberapa saat. 4. Jepit selongsong dengan catok dan lapisi dengan kain lap keluarkan socket bolt dengan kunci HEX. 5. Buka Dust Seal, dan Snap Ring. 6. Tarik keluar pipa garpu dari selongsong. 7. Buka sil oli apabila ada kelainan atau kebocoran. (gb.65). Catatan : Untuk membuka SOCKET BOLT, kadangkadang harus memasang dulu pegas dan tutup garpu.

Gambar 65.

Gambar 66.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

39

Bersihkan semua bagian-bagian komponenkomponen yang telah dibuka.

PEMERIKSAAN

Periksa panjang pegas dengan cara meletakan pegas pada bidang yang datar. Ganti apabila pegas lebih pendek dari pada standar. (gb.68). Letakan pipa garpu pad V.blok kemudian ukur dengan menggunakan dial indikator dari keausan dan kebengkokan dengan cara menyentuhkan dial terhadap permukaan pipa, sambil pipanya diputar. Ukur keausan yang maksimal adalah setengah dari pembacaan yang dihasilkan oleh dial, ganti apabila terjadi ukuran diluar standar tersebut, atau periksa dari terjadinya permukaan pipa yang tergores, hal mana akan menyebabkan terjadinya kebocoran oli. (gb.69). BATAS SERVICE : 0,2 mm

Gambar 67.

Gambar 68.

Gambar 69.

40

Pelatihan Mekanik Tingkat I

Periksa selongsong dari terjadinya goresangoresan pada bagian dalam, atau berlubang pada bagian luar, ganti apabila perlu. (gb.70).

PROSES PEMASANGAN Masukan piston garpu dan pegas reaksi, kemudian pasang bagian-bagian berikut : ! Pasang pengunci minyak pada piston garpu. ! Ganti sil oli dengan yang baru, kemudian masukan pipa garpu ke dalam selongsong. ! Letakkan selongsong pada catok kemudian jepit dengan dilapisi kain lap atau bahan lunak. ! Gunakan locking agent (lem baut) pada saat memasang socket bolt pada piston. ! Kencangkan dengan torsi yang telah ditentukan (gb.71).

Gambar 70.

Catatan : Kadang-kadang pemasangan pegas garpu dan tutup garpu, bersamaan dengan saat mengencangkan socket bolt.

Gambar 71.

Dorong sil oli pada tempatnya yang tepat dengan fork seal driver dan attachment dengan cara menggerakkan alat tersebut keatas kebawah.

Lapisi si oli yang baru dengan ATF (Autometic Transmission Fluid) oli untuk suspensi depan, kemudian pasanglah dengan posisi tanda menghadap ke atas. (gb.72).

Gambar 72.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

41

! ! ! !

Isikan oli garpu jenis ATF dengan menggunakan gelas ukur kedalam pipa garpu. Pompa pipa garpu beberapa kali untuk mengeluarkan udara yang berada dibagian bawah pipa garpu. Angkat pipa garpu keatas, kemudian masukkan per. Pasang dan kencangkan baut penutup garpu. (gb.73).

Gambar 73.
Kapasitas oli garpu depan per tabung
ASTREA 52 MI GL100/125 80 MI GL MAX/PRO 159 MI WIN 82 MI TIGER 126 MI NSR 150R 169 MI

Ket : A.T.F. = Autometic Transmission Fluid

Catatan : - Terdapat beberapa jenis pegas, yang dirancang dengan bentuk yang spesifik pada bagian ujung atas dan ujung bawahnya. - Apabila pegas memiliki salah satu ujungnya yang tirus, maka bagianbagian yang tirus ini harus dipasang menghadap ke atas atau kebawah. - Pegas yang memiliki kedua ujungnya tirus, dapat dipasang yang menghadap ke atas atau ke bawah. - Pegas yang memiliki kedua ujungnya tirus, serta memiliki kerenggangan gulungan yang sama diantara kedua ujungnya (Straight Wound Spring), pegas bentuk ini dapat dipasang menghadap ke bawah atau ke atas. - Sedangkan pegas yang memiliki kedua ujungnya tirus dan salah satunya memiliki kerenggangan gulungan, sedangkan ujung satu merapat, maka bagian yang renggang dipasang dengan menghadap ke bawah (gb.74).

Gambar 74.

42

Pelatihan Mekanik Tingkat II

V.5. PEMERIKSAAN SUSPENSI BELAKANG


INFORMASI SERVICE - Gunakanlah selalu baut-baut maupun mur-mur untuk bagian-bagian suspensi, gar, shock absorber dan bagian-bagian penahanan suspensi dengan memakai suku cadang asli Honda. CARA MENGATASI GANGGUAN 1. Suspensi terlalu lemah, kemungkinan penyebab : - Pegas suspensi lemah. - Kebocoran oli pada damper unit. - Penyetelan kurang tepat. 2. Suspensi terlalu keras, kemungkinan penyebab : - Kesalahan pada pemasangan sistim penahanan suspensi. - Penyetelan kurang tepat. - Swing arm pivot bengkok. - Kerusakan pada swing arm pivot bearing. - Kesalahan pada suspensi linkage. - Kerusakan pada linkage pivot bearing. SISTIM SUSPENSI BELAKANG Suspensi belakang jenis swing arm memberikan kenyamanan dalam pengendaraan serta membantu daya tarik dan kemampuan mengontrol gerakan roda yang baik. Penggunaan swing arm pivot sebagai penunjang dan penahan rear axle pada bagian ujung swing arm, akan memberikan reaksi yang cepat pada roda untuk bervariasi di jalanan yang baik atau jalanan yang rusak. Pada umumnya semua sepeda motor menggunakan sistim kerja dasar suspensi belakang seperti ini. Suspensi belakang dengan sistim dasar swing arm ini, dirancang untuk beberapa jenis, tergantung dari jumlah kebutuhan sistim redamnya serta disain dari swing armnya.

JENIS SUSPENSI BELAKANG CONVENTION DUAL SPRING/DAMPER TYPE Jenis ini mempunyai dua spring damper unit yang mendukung bagian belakang frame body dan bagian swing arm. Jenis suspensi ini umumnya digunakan pada sepeda motor CC kecil, karena sangat sederhana dalam proses pemasangannya, juga jumlah komponen yang lebih sedikit, serta mempunyai sistim dasar yang ekonomis, sampai dengan sekitar tahun 1981, jenis suspensi ini digunakan pada sepeda motor CC besar (gb.75).

Gambar 75.

Perawatan Perbaikan Sistem Rangka

43

Pasang shock absorber compressor pada shock absorber. Pasang attachment pada bagian atas shock absorber, tepat pada stoperring. Putar compressor pada bagian handlenya, dengan perlahan-lahan, untuk menekan per. (gb.76).

Gambar 76.
MEMBUKA MUR PENGUNCI Setelah pegas tertekan, lepaskan mur pengunci dengan cara dijepit menggunakan catok, kemudian lepaskan per dan joint bagian atas dan bawah, serta stoper ring (gb.77).

Gambar 77.
PEMERIKSAAN 1. Spring (pegas) Letakkan per pada permukaan yang rata, kemudian ukur kepanjangannya. 2. Damper unit Periksa damper unit dari kelainan bentuk atau kebocoran karet peredam dari kerusakan dan kelemahan. (gb.78-79). Ganti set apabila terjadi kelainan bentuk/kebocoran.

Gambar 78.

Gambar 79.

44

Pelatihan Mekanik Tingkat I

Design & Printing: Aleph Ecclesia