Anda di halaman 1dari 45

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Masalah kesehatan adalah masalah yang sangat kompleks yang paling berkaitan dengan masalah-masalah yang lain diluar kesehatan itu sendiri, dengan demikian pemecahan masalah kesehatan yang ada di masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatan itu sendiri, tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruh terhadap masalah sehat sakit atau kesehatan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat (Soekidjo Notoatmojo, 2007) . Kesehatan lingkungan sangat berhubungan dengan pola atau perilaku kesehatan untuk

masyarakatnya, oleh karena itu

perlu dilakukan promosi

meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku dengan pola hidup sehat. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat dapat menunjang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi atau terpaparnya penyakit pada manusia seperti penyakit dermatitis. Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidemis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuema, lenifikasi ) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa ( oligomorfik ). Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis ( Djuanda dan Sularsito, 1999 ) Di Indonesia, dari bulan Januari hingga Juni 2001 terdapat 2.122 pasien alergi dengan 645 pasien (30,40%) menderita dermatitis kontak. Di RSUP H. Adam Malik Medan, selama tahun 2000 terdapat 731 pasien baru di poliklinik alergi dimana 201 pasien (27,50%) menderita dermatitis kontak. Dari bulan Januari hingga Juni 2001 terdapat 270 pasien dengan 64 pasien (23,70%) menderita dermatitis kontak. Walaupun demikian, kasus dermatitis sebenarnya diperkirakan 10-50 kali lipat dari data statistik yang terlihat karena adanya kasus yang tidak dilaporkan. Selain itu, perkiraan yang lebih besar tersebut juga diakibatkan oleh semakin meningkatnya perkembangan industri ( Keefner, 2004 ).
1

Prevalensi

penyakit

dermatitis

di

Provinsi

Banten

5,3%.

(www.litbang.depkes.go.id, 13 Mei 2011) Propinsi Banten mempunyai 4 wilayah Kabupaten / kota. Di antara wilayah tersebut, Kabupaten Pandeglang merupakan Kabupaten yang mempunyai prevalensi penyakit dermatitis tinggi pada tahun 2006 terdapat 44.612 kasus, pada tahun 2007 terdapat 41.436 kasus dan pada tahun 2008 terdapat 50.319 kasus (Profil kesehatan Kabupaten Pandeglang) Salah satu puskesmas di Kabupaten Pandeglang yang prevalensi penyakit dermatitisnya tinggi adalah puskesmas Pagadungan pada bulan Januari November 2010 terdapat sebanyak 2.578 kasus dermatitis, dimana di Desa Cigadung sendiri terdapat 46 kasus.

1.2 Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah pada penelitian dalam rangka menyusun Laporan Kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan II ini adalah masih tingginya angka kejadian penyakit dermatitis sebanyak 2.578 di

Wilayah kerja Puskesmas Pagadungan Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Diketahuinya faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan karang Tanjung tahun 2011. 1.3.2 Tujun Khusus 1 Diketahuinya kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011. 2 Diketahuinya distribusi frekuensi faktor individu (pekerjaan, pendidikan, kebersihan pribadi) di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. 3 Diketahuinya distribusi frekuensi faktor lingkungan (pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih) di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

Diketahuinya hubungan antara faktor individu (pekerjaan, pendidikan, kebersihan pribadi) dengan kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

Diketahuinya hubungan antara faktor lingkungan (pengelolaan sampah, pengelolaan air bersih) dengan kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1

Bagi Puskesmas Pagadungan Diperolehnya masukan tentang faktor pendidikan, pekerjaan, penyediaan

sarana air bersih, pengelolaan sampah, personal hygiene (kebersihan pribadi) pada masyarakat yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit penyakit dermatitis, sehingga dapat memberikan upaya penanganan lebih lanjut dalam hal pengendalian penyakit dermatitis di wilayahnya. 1.4.2 Bagi STIKes Faletehan 1. Menambah kepustakaan ilmu kesehatan masyarakat khususnya dibidang kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis. 2. Menjalin kerja sama yang sinergis antara STIKes Faletehan dengan Puskesmas Pagadungan.

1.4.3

Bagi Mahasiswa Sebagai bahan untuk menambah wawasan dan mengaplikasikan ilmu

pengetahuan yang kami peroleh, khususnya mengenai penyakit yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis.

1.5

Ruang Lingkup Penelitian PBL II (Pengalaman Belajar Lapangan) ini dilakukan penelitian tentang

faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis di Kelurahan Cigadung wilayah kerja puskesmas Pagadungan Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011. Objek penelitian ini adalah seluruh penduduk di kelurahan

Cigadung sejumlah 11.088. Penelitian akan dilakuakan selama 2 (dua) minggu terhitung mulai tanggal 23 Mei 4 Juni 2011. Data yang diperlukan pada PBL ini berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden dengan menggunkan kuesioner. Data primer pada PBL ini terdiri dari wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari profil Puskesmas dan Kecamatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dematitis Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidemis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuema, lenifikasi) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis. (Djuanda Suria dan Sri Adi Sularsito, 1999)

2.1.1 Etiologi Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar ( eksogen ), misalnya bahan kimia, fisik ( contoh : sinar ), mikro organisme ( bakteri, jamur ), dapat pula dari dalam ( endogen ), misalnya dermatitis atopik. Sebagian lain tidak diketahui tidak pasti.

2.1.2 Patogenesis Banyak macam dermatitis yang belum diketahui patogenesisnya, terutama fator endogen. Yang telah banyak dipelajari adalah tentang dermatitis kontak, baik yang tipe alergi maupun iritan primer.

2.1.3 Gejala Klinis Pada umumnya penderita dermatitis mengeluh gatal, kelainan kulit tergantung pada stadium penyakit, batasnya dapat tegas dapat pula tidak tegas, penyebaran dapat setempat, generalisata, bahkan universalis. Pada stadium akut kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksedusi, sehingga tampak basah ( madidans ). Stadium subakut, eritema berkurang, eksudat mengering menjadi krusta. Sedang pada stadium kronis tampak lesi kering, skuama, hiperpegmentasi, lekinefikasi, dan dapul, mungkin juga terdapat erosi atau ekskorisasi karena garukan, stadium tersebut tdak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis. Demikian pula jenis efloresensinya tdak selalu harus polimorfi, mungkin hanya oligomorfi.
5

2.2 Dermatitis Kontak Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan (substansi) yang menempel pada kulit. ( Suria Djuanda Dan Sri Adi Sularsito, 1999 )

2.2.1 Jenis Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak elergik; keduanya dapat bersifat akut maupun kronis.

2.2.1.1 Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis kontak iitan terjadi karena kulit berkontak dengan bahan iritan. Bahan iritan adalah bahan bahan yang pada kebanyakan orang dapat mengakibatkan kerusakan sel bila dioleskan pada kulit pada waktu tertentu dan untuk jangka waktu tertentu.

2.2.1.2 Epidiomiologi Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak, namun angkanya secara tetap sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyak penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat.

2.2.1.3 Etiologi Penyebab munculnya dermatitis jenis ini ialah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, detergen,minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi, vehikulum, serta suhu bahan iritan tersebut, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud yaitu: lama kontak kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel, demikian pula gesekan dan trauma fisis. Suhu dan kelembapan lingkungan juga ikut berperan. Faktor individu juga berpengaruhi pada dermatitis iritan, misalnya perpedaan ketebalan kulit diberbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; usia (anak di bawah 8 tahun lebih mudah teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan daripada kulit putih); jenis kelamin (insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi pada wanita);
6

penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan turun), misalnya dermatitis atopik.

2.2.1.4 Patogenesis Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk, dan mengubah ikat air kulit. Keadaan ini akan merusak epidermis. Ada dua jenis bahan iritan yaitu: iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulangulang. Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut.

2.2.1.5 Prognosis Bila bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan sempurna, maka prognosisnya kurang baik. Keadaan ini sering terjadi pada dermatitis kontak iritan kronis yang penyebabnya multi faktor.

2.2.2.1 Dermatitis Kontak Alergik

Gambar 1 : Bentuk lesi dari dermatitis kontak alergi yang lesinya muncul akibat penggunaan plester dan reaksi sinar matahari

2.2.2.2 Epidemiologi Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka ( hipersensitif ). Namun sedikit sekali informasi mengenai prevalensi dermatitis ini di masyartakat.

2.2.2.3 Etiologi Penyebabnya dermatitis kontak alergik adalah alergen, paling sering berupa baha kimia dengan berat molekul kurang dari 500- 1000 Da, yang juga disebut bahan kimia sederhana. Dermatitis yang timbul dipengaruhi oleh potensi sensitisasi alergen, derajat pejanan, dan luasnya penetrasi di kulit.

2.2.2.4 Patogenesis Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah mengikuti respons imun yang diperantai oleh sel ( cell- mediated immune respons ) atau reakasi tipe IV. Reaksi hipersensitivitas di kulit timbulnya lambat ( delayed hypersensitivity ), umumnya dalam waktu 24 jam setelah terpajan dengan alergen. Sebelum seseorang pertama kali menderita dermatitis kontak alergik, terlebih dahulu mendapatkan perubahan spesifik rekatifitas pada kulitnya. Perubahan ini terjadi karena adanya kontak dengan bahan kimia sederhana yang disebut Hapten yang akan terkait dengan protein, membentuk antigen lengkap. Antigen ini ditangkat dan diproses oleh makrofag dan sel lengerhans. Selanjutnya dipersentasikan oleh sel T. Setelah kontak dengan antigen yang telah diproses ini, sel T menuju ke kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan berproliferasi secara spesifik dan sel memori. Sel- sel ini kemudian tersebar melalui sirkulasi keseluruh tubuh, juga sistem limfoid, sehingga menyebabkan sensitivitas yang sama di seluruh kulit tubuh. Fase saat pertama alergen sampai kulit menjadi sensitif disebut fase induksi atau fase sensitisasi. Fase ini rata- rata berlangsung selama 2- 3 minggu. Pada umumnya reaksi sensitisasi ini dipengaruhi oleh derajat kepekaan individu, sifat sensitisasi alergen (sensitizer), jumlah alergen, dan konsentrasi. Sentizer kuat mempunyai fase yang lebih pendek , sebaiknya sensitizer lemah seperti bahan- bahan yang dijumpai pada kehidupan sehari- hari pada umumnya kelainan kulit pertama kali muncul setelah lama kontak dengan bahan tersebut, bisa bulanan atau tahunan. Sedangkan saat
8

terjadinya pajanan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbulnya gejala klinis disebut fase elisitasi, umunya berlangsung antara 24- 48 jam. 2.2.2.5 Berbagi Lokalisasi Terjadinya Dermatitis Kontak Tangan, kejadian dermatitis kontak baik iritan maupun alergik paling sering di tangan, misalnya pada ibu rumah tangga. Demikian pula kebanyakan dermatitis kontak akibat kerja ditemukan di tangan. Sebagian besar memang oleh karena bahan iritan. Bahan penyebabnya misalnya deterjen, antiseptik, getah sayuran atau tanaman, semen, dan pestisida. Lengan, alergen umumnya sama pada tangan, misalnya oleh jam tangan (nikel), sarung tangan karet, debu semen , dan tanaman. Di aksila umumnya oleh bahan pengharum. Wajah, dermatitis kontak pada wajah dapat disebabkan oleh bahan kosmetik, obat topikal, alergen yang ada di udara, nikel ( tangkai kaca mata ). Bila bibir atau sekitarnya mungkin disebabkan oleh lipstik, pasta gigi, getah buah- buahan. Dermatitis di klopak mata disebabkan oleh cat kuku, cat rambut, eyeshadows, dan obat mata. Telinga. Anting atau jepit telinga tersebut dari nikel, penyebab dermatitis kontak pada cuping telinga. Penyebab lain, misalnya obat topikal, tangkai kaca mata, cat rambut, hearing- aids. Leher. Penyebabnya, kalung dari nikel, cat kuku ( yang berasal dari ujung jaru ), parfum, alergen di udara, zat warna pakaian. Badan, Dermatits kontak di badan dapat disebabkan oleh pakaian, zat warna, kancing logam, karet ( elastis, busa ), plastik dan detergen. Genitelia, penyebabnya dapat antiseptik, obat topikal, nilon, kondom, pembalut wanita dan alergen yang terdapat di tangan. Paha dan tungkai bawah, dermatitis di tempat ini dapat disebabkan oleh pakaian, dompet kunci ( nikel ) di saku, kaos kaki nilon, obat topikal ( misalnya anestesi lokal, neomisin, etilendiamin ), semen, dan sepatu.

2.3 Dermatits Atopik

Gambar 2 : Bentuk lesi dermatitis atopik persisten pada daerah telapak tangan dan daerah dada

Dermatits atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal, yang berhubungan dengan atopik, kata atopik pertama diperkenalkan oleh coca ( 1928 ), yaitu istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunayi riwayat kepekaan dala keluarganya, misalnya asma bronkial, rinitis alergik, dermatitis atopik, dan konjungtivitis alergik. ( dr. Ny. Irma D. RoesyantoMahada, 1998 ).

2.3.1 Epidemiologi Belakangan ini prevalensi dermatitis atopik makin meningkat dan hal ini merupakan masalah besar karena terkait bukan saja dengan kehidupan penderita tetapi juga melibatkan keluarganya. Di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Australia dan Negara-negara industri lainnya, prevalensi dermatitis atopik pada anak mencapai 10 20 persen, sedangkan pada dewasa 1 3 persen. Di Negara agraris, prevalensi ini lebih rendah. Perbandingan wanita dan pria adalah 1,3:1. dermatitis atopik cenderung diturunkan. Bila seorang ibu menderita atopi maka lebih dari seperempat anaknya akan menderita dermatitis atopik pada 3 bulan pertama. Bila salah satu orang tua menderita atopi maka lebih separuh anaknya menderita alergi sampai usia 2 tahun dan bila kedua orang tua menderita atopi, angka ini meningkat sampai 75 persen.

10

2.3.2 Respons Imun Pada Kulit Salah satu faktor yang berperan pada dermatitis atopik adalah faktor imunologik. Di dalam kompartemen dermo-epidermal dapat berlangsung respon imun yang melibatkan sel Langerhans ( SL ) epidermis, limfosit, eosinofil dan sel mas. Bila suatu antigen ( bisa berupa alergen hirup, alergen makanan, autoantigen ataupun super antigen ) terpajan ke kulit individu dengan kecenderungan atopi, maka antigen tersebut akan mengalami proses : ditangkap IgE yang ada pada permukaan sel mas atau IgE yang ada di membran SL epidermis. Bila antigen ditangkap IgE sel mas ( melalui reseptor FcRI ), IgE akan mengadakan cross linking dengan FcRI, menyebabkan degranulasi sel mas dan akan keluar histamin dan faktor kemotaktik lainnya. Reaksi ini disebut reaksi hipersensitif tipe cepat ( immediate type hypersensitivity ). Pada pemeriksaan histopatologi akan nampak sebukan sel eosinofil. Selanjutnya antigen juga ditangkap IgE, sel Langerhans (melalui reseptor FcRI, FcRII dan IgE-binding protein), kemudian diproses untuk selanjutnya dengan bekerjasama dengan MHC II akan dipresentasikan ke nodus limfa perifer (sel Tnaive) yang mengakibatkan reaksi berkesinambungan terhadap sel T di kulit, akan terjadi diferensiasi sel T pada tahap awal aktivasi yang menentukan perkembangan sel T ke arah TH1 atau TH2. Sel TH1 akan mengeluarkan sitokin IFN-, TNF, IL-2 dan IL-17, sedangkan sel TH2 memproduksi IL-4, IL-5 dan IL-13. Meskipun infiltrasi fase akut dermatitis atopik didominasi oleh sel TH2 namun kemudian sel TH1 ikut berpartisipasi. Jejas yang terjadi mirip dengan respons alergi tipe IV tetapi dengan perantara IgE sehingga respons ini disebut IgE mediated-delayed type hypersensitivity. Pada pemeriksaan histopatologi nampak sebukan sel netrofil. Selain dengan SL dan sel mas, IgE juga berafinitas tinggi dengan FcRI yang terdapat pada sel basofil dan terjadi pengeluaran histamin secara spontan oleh sel basofil. Garukan kronis dapat menginduksi terlepasnya TNF dan sitokin pro inflamasi epidermis lainnya yang akan mempercepat timbulnya peradangan kulit Dermatitis atopik. Kadang-kadang terjadi aktivasi penyakit tanpa rangsangan dari luar sehingga timbul dugaan adanya autoimunitas pada dermatitis atopik. Pada lesi kronik terjadi perubahan pola sitokin. IFN- yang merupakan sitokin Th1 akan diproduksi lebih
11

banyak sedangkan kadar IL-5 dan IL-13 masih tetap tinggi. Lesi kronik berhubungan dengan hiperplasia epidermis. IFN dan GM-CSF mampu menginduksi sel basal untuk berproliferasi menghasilkan pertumbuhan keratinosit epidermis.

Perkembangan sel T menjadi sel TH2 dipacu oleh IL-10 dan prostaglandin (P6) E2. IL-4 dan IL-13 akan menginduksi peningkatan kadar IgE yang diproduksi oleh sel B.

2.3.3 Respons Sistemik Perubahan sistemik pada dermatitis atopik adalah sebagai berikut : Sintesis IgE meningkat. IgE spesifik terhadap alergen ganda meningkat. Ekspresi CD23 pada sel B dan monosit meningkat. Respons hipersensitivitas lambat terganggu Eosinofilia Sekresi IL-4, IL-5 dan IL-13 oleh sel TH2 meningkat Sekresi IFN- oleh sel TH1 menurun Kadar reseptor IL-2 yang dapat larut meningkat. Kadar CAMP-Phosphodiesterase monosit meningkat disertai peningkatan IL13 dan PGE2.

2.3.4 Sawar kulit Umumnya penderita DA mengalami kekeringan kulit. Hal ini diduga terjadi akibat kadar lipid epidermis yang menurun, trans epidermal water loss meningkat, skin capacitance ( kemampuan stratum korneum meningkat air ) menurun. Kekeringan kulit ini mengakibatkan ambang rangsang gatal menjadi relatif rendah dan menimbulkan sensasi untuk menggaruk. Garukan ini menyebabkan kerusakan sawar kulit sehingga memudahkan mikroorganisme dan bahan iritan/alergen lain untuk melalui kulit dengan segala akibat-akibatnya.

2.3.5 Faktor lingkungan Peran lingkungan terhadap tercetusnya dermatitis atopik tidak dapat dianggap remeh. Alergi makanan lebih sering terjadi pada anak usia <5 tahun. Jenis makanan yang menyebabkan alergi pada bayi dan anak kecil umumnya susu dan telur, sedangkan pada dewasa sea food dan kacang-kacangan.
12

Tungau debu rumah ( TDR ) serta serbuk sari merupakan alergen hirup yang berkaitan erat dengan asma bronkiale pada atopi dapat menjadi faktor pencetus dermatitis atopik. 95% penderita dermatitis atopik mempunyai IgE spesifik terhadap TDR. Derajat sensitisasi terhadap aeroalergen berhubungan langsung dengan tingkat keparahan dermatitis atopik. Suhu dan kelembaban udara juga merupakan faktor pencetus dermatitis atopik, suhu udara yang terlampau panas/dingin, keringat dan perubahan udara tiba-tiba dapat menjadi masalah bagi penderita dermatitis atopik. Hubungan psikis dan penyakit dermatitis atopik dapat timbal balik. Penyakit yang kronik residif dapat mengakibatkan gangguan emosi. Sebaliknya stres akan merangsangpengeluaran substansi tertentu melalui jalur imunoendokrinologi yang menimbulkan rasagatal. Kerusakan sawar kulit akan mengakibatkan lebih mudahnya mikroorganisme dan bahan iritan (seperti sabun, detergen, antiseptik, pemutih, pengawet) memasuki kulit.

2.4 Dermatitis Numular Dermatitis numular merupakan suatu peradangan dengan lesi yang menetap, dengan keluhan gatal, yang ditandai dengan lesi berbentuk uang logam, sirkular atau lesi oval berbatas tegas, umumnya ditemukan pada daerah tangan dan kaki. Lesi awal berupa papul disertai vesikel yang biasanya mudah pecah. . ( Suria Djuanda Dan Sri Adi Sularsito, 1999 )

2.4.1 Epidemiologi Dermatitis numular angka kejadiannya pada usia dewasa lebih seringpada laki-laki dibandingkan wanita, onsetnya pada usia antara 55 dan 65 tahun.Penyakit ini jarang pada anak-anak, jarang muncul dibawah usia 1 tahun, hanyasekitar 7 dari 466 anak yang menderita dermatitis numular dan frekuensinya cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan umur. hanya sekitar 7 dari 466 anak yang menderita dermatitis numular dan frekuensinya cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan umur.

13

2.4.2 Potofisiologi Dermatitis numular merupakan suatu kondisi yang terbatas pada epidermis dan dermis saja. Hanya sedikit diketahui patofisiologi dari penyakit ini, tetapi sering bersamaan dengan kondisi kulit yang kering. Adanya fissura pada permukaan kulit yang kering dan gatal dapat menyebabkan masuknya alergen dan

mempengaruhi terjadinya peradangan pada kulit. Suatu penelitian menunjukkan dermatitis numularis meningkat pada pasien dengan usia yang lebih tua terutama yang sangat sensitif dengan bahan-bahan pencetus alergi. Barrier pada kulit yang lemah pada kasus ini menyebabkan peningkatan untuk terjadinya dermatitis kontak alergi oleh bahan-bahan yang mengandung metal. Karena pada dermatitis numular terdapat sensasi gatal, telah dilakukan penelitian mengenai peran mast cell pada proses penyakit ini dan ditemukan adanya peningkatan jumlah mast cell pada area lesi dibandingkan area yang tidak mengalami lesi pada pasien yang menderita dermatitis numularis. Suatu penelitian juga mengidentifikasi adanya peran neurogenik yang menyebabkan inflamasi pada dermatitis numular dan dermatitis atopik dengan mencari hubungan antara mast cell dengan saraf sensoris dan mengidentifikasi distribusi neuropeptida pada epidermis dan dermis dari pasien dengan dermatitis numular. Peneliti mengemukakan hipotesa bahwa pelepasan histamin dan mediator inflamasi lainnya dari mast cell yang kemudian berinteraksi dengan neural C-fibers dapat menimbulkan gatal. Para peneliti juga mengemukakan bahwa kontak dermal antara mast cell dan saraf, meningkat pada daerah lesi maupun non lesi pada penderita dermatitis numular. Substansi P dan kalsitonin terikat rantai peptide meningkat pada daerah lesi dibandingkan pada non lesi pada penderita dermatitis numular. Neuropeptida ini dapat menstimulasi pelepasan sitokin lain sehingga memicu timbulnya inflamasi. Penelitian lain telah menunjukkan bahwa adanya mast cell pada dermis dari pasien dermatitis numular menurunkan aktivitas enzimchymase, mengakibatkan menurunnya kemampuan menguraikan neuropeptida dan protein. Disregulasi ini dapat menyebabkan menurunnya kemampuan enzim untuk menekan proses inflamasi.

14

2.4.3 Gejala Klinik Gejala gejala yang umum, antara lain: Timbul rasa gatal Luka kulit yang antara lain makula, papul, vesikel, atau tambalan : Bentuk numular (seperti koin). Terutama pada tangan dan kaki. Umumnya menyebar. Lembab dengan permukaan yang keras. Kulit bersisik atau ekskoriasi. Kulit yang kemerahan atau inflamasi.

Gambar 3 : Merah, Lesi dermatitis numularis pada mata kaki.

15

Gambar 4 : Lesi yang khas berbentuk koin dari dermatitis numularis pada tangan dari penderita

Gambaran diatas dapat disimpulkan ada 3 bentuk klinis dermatitis numular yaitu; Dermatitis numular pada tangan dan lengan. Kelainannya terdapat pada punggung tangan serta di bagian sisi atau punggung jari-jari tangan. Sering dijumpai sebagai plak tunggal yang terjadi pada sisi reaksi luka bakar, kimia atau iritan. Lesi ini jarang meluas.

1. Dermatitis numular pada tungkai dan badan. Bentuk ini merupakan bentuk yang lebih sering dijumpai. Pada sebagian kasus, kelainan sering didahului oleh trauma lokal ataupun gigitan serangga. Umumnya kelainan bersifat akut, persisten dan eksudatif. Dalam

perkembangannya, kelainan dapat sangat edematous dan berkrusta, cepat meluas disertai papul-papul dan vesikel yang tersebar. Pada Dermatitis numular juga sering dijumpai penyembuhan pada bagian tengah lesi, tetapi secara klinis berbeda dari bentuk lesi tinea. Pada kelainan ini bagian tepi lebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas. Lesi permulaan biasanya timbul di tungkai bawah kemudian menyebar ke kaki yang lain, lengan dan sering ke badan.

2. Dermatitis numular bentuk kering. Bentuk ini jarang dijumpai dan berbeda dari dermatitis numular umumnya karena di sini dijumpai lesi diskoid berskuama ringan dan multipel pada tungkai atas dan bawah serta beberapa papul dan vesikel kecil di bagian tepinya di atas dasar eritematus pada telapak tangan dan telapak kaki. Gatal minimal yang berbeda sekali
16

dengan bentuk dermatitis numular lainnya. Menetap bertahun- tahun dengan fluktuasi atau remisi yang sulit diobati.

2.4.4 Penatalaksana Penatalaksanaanya difokuskan pada gejala yang mendasari 1. Melindungi kulit dari trauma. Karena pada jenis ini biasanya berawal dari trauma kulit minor. Jika ada trauma pada tangan, gunakan sarung tangan supaya tidak teriritasi.

2. Emollients. Emollients merupakan pelembab. Digunakan untuk mengurangi kekeringan pada kulit. Contohe mollients yang sering digunakan antara lain aqueous cream, gliserine dan cetomacrogol cream, wool fat lotions.

3. Steroid Topikal. Untuk menghilangkan peradangan pada kulit dan mengurangi iritasi kulit. Misalnya dengan pemberian triamcinolone 0,025-0,1%.

4. Antibiotik oral maupun topikal. Untuk mencegah infeksi sekunder. Digunakan dicloxacillin dosis oral 125500 mg 4 kali per hari selama 7-10 hari. Kadang-kadang dermatitis numular dapat sembuh total, hanya timbul lagi jika pengobatan tidak diteruskan.

5. Antihistamin oral. Mengurangi gatal dan sangat berguna pada malam hari. Tidak menghilangkan dermatitis. Misalnya hydroxzine ( atarax, vistaril,vistazine ) dengan dosis oral 25100 mg 4 kali per hari.

6. Fototerapi. Ultraviolet light treatment beberapa kali dalam seminggu biasanya dapat membantu. Dapat mengontrol dermatitis dalam beberapa bulan, namun pada kasus yang berat sangat diperlukan. Fototerapi dengan ultraviolet B mungkin efektif.
17

7. Steroid Sistemik Digunakan untuk kasus-kasus dermatitis numular yang berat, diberikan prednilson dengan dosis oral 40-60 mg 4 kali per hari dengan dosis yang diturunkan secara perlahan-lahan. Hanya berguna dalam beberapa minggu, dermatitis yang belum sembuh sempurna, dapat ditangani dengan pemberian krim steroid dan emolilients.

2.5 Dermatitis Stasis Definisi Dermatitis Stasis adalah suatu peradangan menahun (berupa kemerahan, pembentukan sisik dan pembengkakan) pada tungkai bawah yang teraba hangat, yang sering meninggalkan bekas berupa kulit yang berwarna coklat gelap. ( dr. Ny. Irma D. Roesyanto- Mahadi, 1998 )

2.5.1 Penyebab Dermatitis stasis merupakan akibat dari penimbunan darah dan cairan di bawah kulit, sehingga cenderung terjadi pada penderita vena varikosa (varises) dan pembengkakan (edema).

2.5.2 Gejala Dermatitis stasis biasanya timbul di pergelangan kaki. Pada awalnya kulit menjadi merah dan sedikit bersisik. Setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, warna kulit berubah menjadi coklat gelap. Pengumpulan darah dibawah kulit yang terjadi sebelumnya sering tidak dihiraukan, sehingga terjadi pembengkakan dan kemungkinan infeksi, yang akhirnya menyebabkan kerusakan kulit yang berat (ulserasi).

18

Gambar 5: Dermatitis Stasis

2.5.3 Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

2.5.4 Pengobatan Pengobatan jangka panjang bertujuan mengurangi kemungkinan penimbunan darah di dalam vena di sekitar pergelangan kaki. Mengangkat kaki dalam posisi yang lebih tinggi dari dada akan menghentikan penimbunan darah di dalam vena dan penimbunan cairan di dalam kulit. Menggunakan stoking penyangga yang tepat bisa membantu mencegah kerusakan kulit yang serius dengan cara mencegah penimbunan cairan di tungkai yang lebih bawah. Biasanya tidak diperlukan pengobatan tambahan. Untuk dermatitis yang aktif, kompres yang menyejukkan (misalnya bantalan yang direndam dalam air ledeng), bisa membuat kulit terasa lebih baik dan bisa membantu mencegah infeksi. Jika keadaannya memburuk, bisa digunakan perban yang lebih menyerap. Bisa juga diberikan krim kortikosteroid yang sering dikombinasikan dengan pasta seng oksida. Antibiotik diberikan hanya jika kulit telah terinfeksi. Kadang diambil kulit dari bagian tubuh lainnya untuk dicangkokkan guna menutupi luka terbuka yang sangat lebar. Beberapa penderita mungkin memerlukan sepatu Unna, yaitu suatu alat yang menyerupai pembalut gips yang berisi pasta gelatin yang mengandung seng. Sepatu ini membantu melindungi kulit dari iritasi dan pasta membantu
19

menyembuhkan kulit. Jika penderita merasa tidak nyaman mengenakan sepatu ini, pasta yang sama bisa digunakan dibawah balutan penyangga elastik.

Pada dermatitis stasis, kulit mudah teriritasi; karena itu sebaiknya penderita menghindari pemakaian krim antibiotik, krim anestetik, alkohol, lanolin atau bahan kimia lainnya sebab bisa memperburuk keadaan.

2.6 Pengelolaan Sampah Sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yg sudah tdk digunakan lg dlm suatu kegiatan manusia dan dibuang ( Soekidjo Notoatmodjo, 1997 ) Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. ( UU Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah ).

1. Pengumpulan dan Pengangkutan sampah : a. Compacting, penyimpanan dengan menggunakan cara pengempaan sehingga kompak dan padat, kemudian ditumpuk. b. Open dumping, Penyimpanan dengan cara membiarkan menumpuk ditempat terbuka. c. Refrigeration, Penyimpanan di ruang tertutup yang menggunakan udara pendingin.

2. Pemusnahan dan Pengolahan sampah : a. Landfil, Pemusnahan sampah dengan membuat lubang ditanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah b. Inceneration, yaitu memusnahkan sampah dengan jalan membakar didalam tungku pembakaran (incenerator). c. Composting, yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk, khususnya untuk sampah organik, daun2an

20

2.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit Dermatitis 1. Umur Umur adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan ) ( kamus besar bahasa Indonesia, 1996 ). Penyakit dermatitis ini sering kali terjadi pada bayi dan anak-anak dengan mempunyai riwayat penyakit keluarga seperti asma, rhinitis alergi, konjungtivitis alergi. Biasanya timbul pada usia 2 bulan sampai 2 tahun, umumnya diawali dengan suatu plak yang cukup gatal pada daerah pipi. Tetapi pada orang tua sekitar umur 60 tahun juga sering terjadi karena umur 60 tahun lebih rentang dan kulitnya lebih sensitive karena sudah mulai mengkerut. (http://tikkysuwntiko.multiplay.com, 13 Mei 2011).

2. Jenis kelamin Jenis kelamin adalah sifat karakter fisik yang mempunyai perbedaan atau dibedakan menjadi dua macam yaitu laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina (kamus lengkap bahasa Indonesia, 1996). Penyakit dermatitis ini tidak terfokus pada laki-laki atau perempuan tetapi, kemungkinan besar penyakit ini terjadi pada laki-laki, karena laki-laki lebih cenderung pekerja keras atau kasar contohnya pada laki-laki yang bekerja sebagai buruh, dan bekerja di lading (sawah) ( http://wikkipedia.com, 13 Mei 2011 ).

3. Pekerjaan Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya (Thomas, 1996 dalam nursalam, 2001). Seseorang yang bekerja akan berinteraksi dengan lingkungan ditempat ia bekerja yang salah satunya akan menghasilkan arus perkembangan informasi didalamnya. Lain halnya dengan seseorang yang tidak bekerja akan cenderung terbatas dalam arus komunikasi daan interaksi dengan

lingkungannya, sehinggan transfer informasi dan pengetahuan akan kurang jika dibandingkan dengan seseorang yang bekerja. Pekerja sangat mempengaruhi semua panyakit terutama penyakit dermatitis, pada penyakit dermatitis ini sering terjadi pada pekerja yang suka bekerja di lading

21

sawah),karena dilihat dari kondisi airnya yang tidak bersih yang sangat kotor, hal ini bisa menyebabkan penyakit dermatitis. Dibandingkan dengan pekerja kantoran kemungkinan besar sangat kecil untuk menderita.

4. Tingkat pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu (Suarno, 1992 dalam Nursalam, 2001). Pendidikan diperlikan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi Kualitas hidup terutama tingkat pendidikannya rendah, karena masyarakat tingkat pendidikannya rendah akan berpengaruh terhadap kebersihan dirinya sendiri, mereka cenderung tidak tahu bagaimana cara membersihkan diri yang baik. Beda dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi setidaknya mereka tahu bagaimana cara membersihkan diri yang baik (http://pendidikankebersihan diri.com, 13 Mei 2011). 5. Kebiasaan mandi Mandi merupakan salah satu cara untuk menjaga tubuh agar tetap bersih dan segar, mandi yang baik dan benar adalah sebanyak dua kali sehari yaitu setelah bangun tidur (pagi hari) dan setelah bekerja (artinya setelah melakukan kegiatan-kegiatan selama sehari) sebaiknya dilakukan pada sore hari. Bagi musim dengan melakukan wudhu sebanyak lima kali sehari adalah supaya untuk menjaga tubuh tetap bersih dan segar, maka hidup bersih dan menjaga kesehatan adalah bagian dari iman. Agar tubuh atau badan tetap bersih, sebaiknya sewaktu mandi menggunakan air yang bersih, memakai sabun yang berfungsi melarutkan kotoran, dan menggunakan handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan tubuh setelah mandi. 6. Kebiasaan mencuci pakaian Mencuci pakaian adalah salah satu cara untuk memebersihkan kotoran dipakaian, da membersihkan pakaian dengan menggunakan sumber air bersih dan sabun (detergen) dengan maksud membersihkan pakaian agar terhindar

22

dari kuman yang bisa menyebabkan penyait kulit (Kamus Lengkap bahasa Indonesia, 2005) 7. Penggunaan sumber air bersih Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi ini tidak akan ada kehidupan seandainya dimuka bumi ini tidak ada air. Air yang relative bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperlusn hidup sehari-hari untuk keperluan industri, untuk sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan sebagainya, apabila kita menggunakan air kotor kemungkinan besar penyakit dermatitis (penyakit kulit) akan menyerang kita (Wisnu, 1995).

8. Tingakt pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu (Suarno, 1992 dalam Nursalam, 2001). Pendidikan diperlikan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi penyakit dermatitis terutama tingkat pendidikannya rendah, karena

masyarakat tingkat pendidikannya rendah akan berpengaruh terhadap kebersihan dirinya sendiri, mereka cenderung tidak tahu bagaimana cara membersihkan diri yang baik. Beda dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi setidaknya mereka tahu bagaimana cara membersihkan diri yang baik (http://pendidikan-kebersihan diri.com,13 Mei 2011).

9. Kebiasaan mandi Mandi merupakan salah satu cara untuk menjaga tubuh agar tetap bersih dan segar, mandi yang baik dan benar adalah sebanyak dua kali sehari yaitu setelah bangun tidur (pagi hari) dan setelah bekerja (artinya setelah melakukan kegiatan-kegiatan selama sehari) sebaiknya dilakukan pada sore hari. Bagi musim dengan melakukan wudhu sebanyak lima kali sehari adalah supaya untuk menjaga tubuh tetap bersih dan segar, maka hidup bersih dan menjaga kesehatan adalah bagian dari iman. Agar tubuh atau badan tetap

23

bersih, sebaiknya sewaktu mandi menggunakan air yang bersih, memakai sabun yang berfungsi melarutkan kotoran, dan menggunakan handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan tubuh setelah mandi.

10. Kebiasaan mencuci pakaian Mencuci pakaian adalah salah satu cara untuk memebersihkan kotoran dipakaian, da membersihkan pakaian dengan menggunakan sumber air bersih dan sabun (detergen) dengan maksud membersihkan pakaian agar terhindar dari kuman yang bisa menyebabkan penyait kulit ( Kamus Lengkap bahasa Indonesia, 2005 ). 11. Penggunaan sumber air bersih Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi ini tidak akan ada kehidupan seandainya dimuka bumi ini tidak ada air. Air yang relative bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperlusn hidup sehari-hari untuk keperluan industri, untuk sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan sebagainya, apabila kita menggunakan air kotor kemungkinan besar penyakit dermatitis (penyakit kulit) akan menyerang kita ( Wisnu, 1995 ).

24

BAB III KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka konsep Kerangka Konsep Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan kejadian Penyakit Dermatitis

Variabel Independen Faktor individu Pekerjaan Pendidikan Kebersihan pribadi

Variabel Dependen

Penyakit Dermatitis

Pekerjaan Faktor lingkungan Tingkat pendidikan Pengelolaan sampah Ketersediaan air bersih

25

3.2 Hipotesis Ha 1: Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kejadian penyakit dermatitis. Ha 2 : Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian penyakit dermatitis. Ha 3 : Ada hubungan antara kebersihan pribadi dengan kejadian penyakit dermatitis. Ha 4: Ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian penyakit dermatitis. Ha 5: Ada hubungan antara ketersediaan air bersih dengan kejadian penyakit dermatitis.

26

3.3 Definisi Oprasional No 1 Variabel Dermatitis Definisi Oprasional Gangguan peradangan kulit responden berdasarkan rekam medis dari Puskesmas Aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh responden untuk menghasilkan uang. Jenjang sekolah formal terkhir yang ditamatkan responden pada saat dilakukan pengambilan data. Kegiatan yang dilakukan responden untuk memelihara kebersihan badan. Alat Ukur Kuesioner Cara Ukur Wawancara Hasil Ukur 0. Dermatitis 1. Tidak dermatitis 0. Bekerja 1.Tidak bekerja 0. Dasar jika SMP 1. Lanjutan jika SMA 0. tidak menjaga kebersihan pribadi jika nilai tengah 1. menjaga kebersihan pribadi jika nilai tengah 0. Tidak memenuhi syarat kesehatan jika air yang digunakan berasa, berbau dan berwarna. 1. Baik jika memenuhi syarat kesehatan jika air yang digunakan jernih, tidak berasa dan tidak berbau. Skala Ordinal

Pekerjaan

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

Tingkat Pendidikan Kebersihan Pribadi

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

5.

Ketersediaan Air Bersih

Sumber air bersih yang digunakan oleh responden untuk aktifitas sehari-hari yang memenuhi syarat kesehatan.

Chek list

Observasi

Ordinal

27

6.

Pengelolaan sampah

Upaya yang dilakukan oleh responden dalam mengelola sampah yang hasilkan, yang meliputi pengumpulan dan pengolahan / pemusnahan sampah.

Kuesioner

Wawancara

0. Tidak memenuhi syarat jika sampah tidak dilakukan pengelolaan 1. Memenuhi syarat jika melakukan tahap- tahap pengelolaan sampah.

Ordinal

28

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pada penelitian ini variabel pekerja, pendidikan, personal hygiene, keseterdiaan air bersih, pengelolaan sampah serta variabel kejadian Dermatitis diobservasi dalam waktu yang bersamaan.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1 Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 23 Mei - 4 Juni tahun 2011. 4.2.2 Tempat Penelitian Tempat penelitian akan dilaksanakan di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang.

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi

Populasi dalam semua penelitian ini adalah penduduk yang yang ada di Kelurahan Cigadung di Wilayah kerja Puskesmas Pagadungan sebanyak 11.088. Berdasarkan laporan Puskesmas Pagadungan di Wilayah Kerja Puskesmas Pagadungan jumlah yang menderita penyakit dermatitis sebanyak 2.578 orang.

4.3.2

Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002). Sampel pada penelitian ini adalah penduduk di Kelurahan Cigadung yang menderita Dermatitis. Adapun teknik pengambilan sampel ini dengan cara cluster.

Adapun sampel yang diambil dalam penelitian ini dapat dihitung berdasarkan rumus perhitungan sampel, yaitu :

29

Rumus :

Z2 1 - /2 P( 1 P ) N d2 ( N 1 ) + Z2 1 /2 P ( 1 P )

ket : Z2 /2 N P : Derajat kepercayan ( 95%, nilainya = 1,96 ) : Populasi : Proporsi penderita Dermatitis ( jika tidak diketahui 0,5 ) d : Presisi ( ketepatan = 0,1 ) : 1.962 (0,5) (1 - 0,5) (1.108 ) (0.1)2 ( 1.108 - 1) + 1,9622 (0,5) (1 0,5) : 1.108 0,01 ( 1.107 ) : 1.108 11,07 : 100,09 100

Untuk menghindari terjadinya ketidaklengkapan data, maka jumlah sampel yang diambil ditambah 10% menjadi 110 responden.

30

4.4 Pengolahan dan Analisa Data 4.4.1 Pengolahan data Setelah data yang diharapkan terkumpul dilakukan pengolahan data dengan tahap sebagai berikut: 1. Editing Mengecek alat penelitian yang telah terkumpul, hal-hal yang ditinjau kembali adalah: a. Kelengkapan identitas responden b. Kelengkapan jumlah kuesioner dan observasi c. Kelengkapan isi atau jawaban responden pada kuesioner dan observasi dikembalikan pada responden untuk dilengkapi 2. Coding Pada tahapan ini dilakukan pemebrian kode dari berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan. Pada jawaban pertanyaan dalam kuesioner. Kegunaan coding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data. 3. Proccessing Setelah dilakukan pengkodean dan pemberian skor, maka selanjutnya adalah memproses data agar dapat di analisis. Pemprosesan data dilakukan dengan cara mengentri data dari kuesioner ke paket program komputerisasi penghitung data. 4. Cleaning Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entri apakah ada kesalahan atau tidak. Pembersihan data meliputi: a. Mendeteksi adanya data yang hilang b. Mendeteksi variasi data c. Mendeteksi konsistensi data

31

4.4.2

Analisa Data

a. Analisa Univariat Analisa univariat digunakan untuk menghitung distribusi frekuensi terhadap data dari variabel dependen dan variabel independen b. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Analisa bivariat bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara variabel tersebut digunakan uji statistik Chi Square (X2) (Notoatmodjo, 2002). Dengan batas kemaknaan = 0,05 apabila nilai p maka Ho ditolak berarti secara statistik terdapat hubungan bermakna dan apabila nilai p > maka Ho gagal ditolak yang berarti secara stastik tidak terdapat hubungan bermakna dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan: Nilai Chi Square Frekuensi observasi Frekuensi harapan (Hastono, 2007)

32

BAB V GAMBARAN UMUM GAMBARAN UMUM KELURAHAN CIGADUNG 5.1 Keadaan Geografis Kelurahan Cigadung merupakan salah satu dari 4 kelurahan yang terdapat di Kecamatan Karangtanjung dalam wilayah kerja Puskesmas Pagadungan, memiliki luas wilayah 512.665 Ha, dengan perbatasan wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Desa Tanagara : Kelurahan Kadumerak : Kelurahan Juhut : Kelurahan Pagadungan.

Tabel. 5.1 Jumlah Kepala Keluarga Tiap-tiap Kampung di Kelurahan Cigadung Jumlah Kepala Keluarga No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kampung/ RW Laki-laki Kalahang Pabrik Cikiray Ambuleuit Cigadung Indah Cigadung Kadulolo Sampora Kadu Tunggul Komplek Mandiri Cigadung 183 133 7 13 190 146 188 260 256 173 187 136 226 131 151 Perempuan 16 8 35 17 6 6 10 12 3 203 268 291 192 193 142 236 143 154 Jumlah

Komplek Ambuleuit 1

33

12 13 14

Komplek RSS Komplek SMA Babakan Jambu JUMLAH

117 159 22 2322

6 3 3 178

123 162 25 2500

5.2 Keadaan Demografi a. Jumlah Penduduk Penduduk diwilayah kelurahan Cigadung berjumlah 11.158 jiwa, terdiri dari 2.500 KK, yang terdiri dari 14 RW dan 48 RT. b. Komposisi Penduduk menurut Umur Tabel 5.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur No. 1 2 3 4 5 6 Golongan Umur 0-12 Bulan >1- <5 tahun > 5- <7 tahun >7- < 15 tahun >15- 56 tahun 56 tahun ke atas Jumlah Jumlah 313 985 1.324 1.450 4.424 2.662 11.158

Sumber : Data Kelurahan Cigadung, Mei 2011 Jumlah penduduk terbesar di Kelurahan Cigadung yaitu pada usia >15- 56 tahun sebesar 4.424 jiwa.

34

BAB VI HASIL PENELITIAN 6.1.1 Distribusi frekuensi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis 6.1.1.1 Penyakit Dermatitis Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidemis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuema, lenifikasi ) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa ( oligomorfik ). Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis. ( Suria Djuanda dan Sri Adi Sularsito, 1999 ).

Tabel 6.1 Distribusi frekuensi kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011. Penyakit Dermatitis Dermatitis Tidak Dermatitis Total Jumlah 47 63 110 Persentase (%) 42,7 57,3 100

Berdasarkan tabel 6.1 diatas, diperoleh hasil bahwa dari 110 responden, terdapat 47 responden (42,7%) yang terkena penyakit dermatitis dan 63 responden (57,3%) tidak terkena penyakit dermatitis. 6.1.1.2 Pekerjaan Berdasarkan hasil dari responden yang berhubungan dengan pekerja bahwa mayoritas masyarakat di wilayah Kerja Kelurahan Pagadungan adalah buruh tani. Tabel 6.2 Distribusi Frekuensi Pekerjaan di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Total Jumlah 101 9 110 Persentase (%) 91,8 8,2 100

35

Berdasarkan tabel 6.2 di atas, responden yang bekerja lebih banyak yaitu 91,8 % dibandingkan dengan responden yang tidak bekerja yaitu sebanyak 8,2%. 6.1.1.3 Pendidikan Berdasarkan hasil dari responden yang berhubungan dengan pendidikan bahwa lebih banyak pendidikan dasar. Tabel 6.3 Distribusi frekuensi pendidikan di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Tingkat Pendidikan Pendidikan dasar (Tidak Lulus SMA) Pendidikan lanjutan (Lulus SMA/ PT ) Total Jumlah 106 4 110 Persentase (%) 96,3 3,7 100

Berdasarkan tabel 6.3 di atas, pendidikan responden yang paling banyak adalah Pendidikan dasar (tidak lulus SMA) berjumlah 96,3 %, sedangkan pendidikan lanjutan (lulus SMA/ PT) berjumlah 3,7 %. 6.1.1.4 Kebersihan Pribadi Tabel 6.4 Distribusi frekuensi kebersihan pribadi di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Kebersihan Pribadi Tidak menjaga Kebersihan Pribadi Menjaga Kebersihan Pribadi Total Jumlah 29 81 110 Persentase (%) 26,4 73,6 100

Berdasarkan tabel 6.4 di atas, responden yang menjaga kebersihan pribadi sebanyak 73,6 %, sedangkan yang tidak menjaga kebersihan pribadi berjumlah 26,4%.

36

6.1.1.5 Ketersediaan Air Bersih Tabel 6.5 Distribusi frekuensi ketersediaan air bersih di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Ketersediaan Air Bersih Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Total Jumlah 65 45 110 Persentase (%) 59,1 40,9 100

Berdasarkan tabel 6.5 di atas, ketersediaan air bersih responden yang paling banyak tidak memenuhi syarat berjumlah 40,9%. berjumlah 59,1 %, sedangkan yang memenuhi syarat

6.1.1.6 Pengolahan Sampah Tabel 6.6 Distribusi responden berdasarkan pengolahan sampah di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011 Pengolahan Sampah Jumlah Persentase (%) Tidak memenuhi syarat 89 80,9 Memenuhi syarat 21 19,1 Total 110 100 Berdasarkan tabel 6.6 di atas, ketersediaan air bersih responden yang paling banyak tidak memenuhi syarat berjumlah 19,1%. berjumlah 80,9 %, sedangkan yang memenuhi syarat

6.1.2 Hubungan antara faktor individu dan faktor lingkungan dengan kejadian penyakit dermatitis 6.1.2.1 Hubungan antara pekerjaan dengan kejadian penyakit dermatitis Tabel 6.7 Hubungan antara pekerjaan dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Penyakit Dermatitis Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Dermatitis 45 (44,6%) 2 (22,2%) Tidak Dermatitis 56 ( 55,4%) 7 (77,8%)
37

Total 101 ( 100 % ) 9 ( 100 % )

p value

0,344

Jumlah

47 (42,7%)

63 (57,3%)

110 (100%)

Berdasrkan data tabel 6.7 menunjukkan bahwa penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang bekerja di bandingkan dengan responden yang tidak bekerja. Dari hasil uji statistik di dapatkan nilai p= 0,344 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

6.1.2.2

Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian penyakit

dermatitis. Tabel 6.8 Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Penyakit Dermatitis Tingkat Pendidikan Dermatitis Pendidikan Dasar Pendidikan lanjutan Jumlah 46 ( 43,4 % ) 1 ( 25 % ) 47 ( 42, 7 % ) Tidak Dermatitis 60 ( 56,6 % ) 3 ( 75 % ) 63 ( 57, 3 % ) Total 106 ( 100 % ) 4 ( 100 % ) 110 ( 100 % ) p value

0,213

Pada tabel 6.8 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang berpendidikan dasar yaitu sebanyak 43,4 % di bandingkan dengan yang berpendidikan lanjutan yaitu sebanyak 25% Dari hasil uji statistik di dapatkan nilai p= 0,213 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

38

6.1.2.3 Hubungan antara tingkat kebersihan pribadi dengan kejadian penyakit dermatitis. Tabel 6.9 Hubungan antara kebersihan pribadi dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Kebersihan pribadi Tidak menjaga Kebersihan Pribadi Menjaga Kebersihan Pribadi Jumlah Penyakit dermatitis Dermatitis 23 ( 79,3 % ) 24 ( 29,6 % ) 47 ( 42, 7 % ) Tidak dermatitis 6 ( 20,7 % ) 57 ( 70,4 % ) 63 ( 57, 3 % ) Total 29 ( 100 % ) 81 ( 100 % ) 110 ( 100 % ) 0,005 3,354 p value OR

Dari tabel 6.9 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang tidak menjaga kebersihan pribadi tsebanyak 79,3 % di bandingkan dengan responden yang menjaga kebersihan pribadi yaitu sebanyak 29,6 %. Dari hasil uji statistik di dapatkan nilai p= 0,005 yang berarti bahwa ada hubungan antara kebersihan pribadi responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

6.1.2.4 Hubungan antara ketersediaan air bersih dengan kejadian penyakit dermatitis Tabel 6.10 Hubungan antara ketersediaan air bersih dengan kejadian penyakitdermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Ketersediaan Air Bersih Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Jumlah Penyakit Dermatitis Dermatitis 29 ( 44,6 % ) 18 ( 40 % ) 47 ( 42, 7 % ) Tidak Dermatitis 36 ( 55,4 % ) 27 ( 60 % ) 63 ( 57, 3 % )
39

Total 65 ( 100 % ) 45 ( 100 % ) 110 ( 100 % )

p value

0,821

Dari tabel 6.10 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang tidak memenuhi syarat sebanyak 44,6 % di bandingkan dengan responden yang memenuhi syarat yaitu sebanyak 40% Dari hasil uji statistik di dapatkan nilai p= 0,821 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara ketersediaan air bersih responden dengan kejadian penyakit

dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

6.1.2.5 Hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian penyakit dermatitis. Tabel 6.11 Hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Penyakit dermatitis Pengelolaan Sampah Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Jumlah Dermatitis 40 ( 44,9 % ) 7 ( 33,3 % ) 47 ( 42, 7 % ) Tidak dermatitis 49 ( 55,1 % ) 14 ( 66,7 % ) 63 ( 57, 3 % ) Total 89 ( 100 % ) 21 ( 100 % ) 110 ( 100 % ) p value

0,270

Dari tabel 6.11 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang pengelolaan sampah tidak memenuhi syarat sebanyak 44,9 % dibandingkan dengan yang memenuhi syarat yaitu sebanyak 33,3%. Dari hasil uji statistik di dapatkan nilai p= 0,270 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara pengelolaan sampah responden dengan kejadian penyakit

dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

40

BAB VII PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

7.1 Kejadian Dermatitis Di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung Tahun 2011. Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidemis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuema, lenifikasi ) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa ( oligomorfik ). Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis. ( Suria Djuanda dkk, 1999 ) Berdasarkan hasil penelitian kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011 sebesar 42,7 % dari jumlah responden. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan cihadung, Kecamatan Karangtanjung cukup banyak, karena kebersihan pribadinya kurang baik. Pencegahan harus dilakukan pada masyarakat setempat terutama pada responden yang mengidap penyakit dermatitis, pihak puskesmas harus sering mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang PHBS.

7.2 Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Kejadian Penyakit Dermatitis Di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Tahun 2011. Berdasrkan data tabel 6.7 menunjukkan bahwa penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang bekerja yaitu sebanyak 38,5% dibandingkan dengan yang tidak bekerja yaitu sebanyak 0%. Dalam hal ini ibu rumah tangga sangat berpengaruh karena dilihat dari pekerjaan sehari- hari seperti mencuci, membersihkan rumah dan pemakaian sabun atau ditergen memungkinkan terjadinya penyakit dermatitis tersebut. Dari hasil uji statistic dengan menggunakan rumus chi square di dapatkan nilai p= 0,764 p>0,05 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.
41

7.3 Hubungan antara pendidikan dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Pada tabel 6.8 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang berpendidikan dasar sebanyak 43,4 % di bandingkan dengan yang berpendidikan lanjutan yaitu sebanyak 25%. Dari hasil uji statistic dengan menggunakan rumus chi square di dapatkan nilai p= 0,213 p> 0,05 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara Tingkat pendidikan responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Menurut peneliti ketiadaan hubungan antara pendidikan dengan penyakit dermatitis dikarenakan penyakit menyerang manusia tidak hanya pada orang yang berpendidikan rendah tetapi yang berpendidikan tinggi juga bisa terkena penyakit tersebut, dan pendidikan tidak harus diberikan secara formal tetapi dapat pula diberikan dalam bentuk penyuluhan pada masyarakat, hal tersebut dilakukan untuk memutuskan rantai penularan penyakit dermatitis baik dilakukan keluarga mauun masyarakat sebab yang terpenting adalah mereka harus mendapat pembekalan mengenai penyakit dermatitis.

7.4 Hubungan antara kebersihan pribadi dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011 Dari tabel 6.9 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang tidak menjaga kebersihan pribadi tsebanyak 79,3 % di bandingkan dengan responden yang menjaga kebersihan pribadi yaitu sebanyak 29,6 %. Dari hasil uji statistic dengan menggunakan rumus chi square di dapatkan nilai p= 0,005 p<0,05 yang berarti bahwa ada hubungan antara kebersihan pribadi responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. maka berdasar hasil uji tersebut kemungkinan dari pemakaian handuk yang bergantian dan penggunaan sabun batang secara bergantian yang menyebabkan terjadinya penyakit dermatitis.

42

7.5 Hubungan antara Ketersediaan Air Bersih dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Dari tabel 6.10 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang tidak memenuhi syarat sebanyak 44,6 % di bandingkan dengan responden yang memenuhi syarat yaitu sebanyak 40%. Dari hasil uji statistic dengan menggunakan rumus chi square di dapatkan nilai p= 0,821 p>0,05 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara Ketersediaan Air bersih responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung,

Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Ini dikarenakan sebagian sebagian responden memiliki ketersediaan air bersih yang baik atau memenuhi syarat dan terjadi bias kuesioner, yaitu perbedaan persepsi antara pewawancara dengan responden, dan juga antar sesame kelompok dalam menanggapi jawaban yang diajukan. 7.6 Hubungan antara Pengelolaan Sampah dengan kejadian penyakit dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Dari tabel 6.11 menunjukkan bahwa kejadian penyakit dermatitis proporsinya lebih tinggi pada responden yang pengelolaan sampah tidak memenuhi syarat sebanyak 44,9 % dibandingkan dengan yang memenuhi syarat yaitu sebanyak 33,3%. Dari hasil uji statistic dengan menggunakan rumus chi square di dapatkan nilai p= 0,270 p>0,05 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara Ketersediaan Air bersih responden dengan kejadian penyakit dermatitis di kelurahan Cigadung,

Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. Hal ini mungkin karena terjadinya bias kuesioner, yaitu perbedaan persepsi antara pewawancara dengan responden, dan juga antar sesame kelompok dalam menanggapi jawaban yang diajukan.

43

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 KESIMPULAN Hasil penelitian tentang hubungan antara faktor individu ( pekerjaan, pendidikan, kebersihan pribadi ) dan faktor lingkungan ( pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih ) dengan kejadian dermatitis di Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. 2. Terdapat 42,7% responden yang terkena Penyakit Dermatitis. Hasil distribusi frekuensi faktor individu dengan kejadian penyakit dermatitis di Wilayah Kerja Kelurahan Cigadung yaitu yang bekerja 91,8%, pendidikan dasar 96,3%, dan yang menjaga kebersihan pribadi 73,6%. 3. Hasil distribusi frekuensi faktor lingkungan dengan kejadian penyakit dermatitis di Wilayah Kerja Kelurahan Cigadung yaitu dalam pengelolaan sampah, memenuhi syarat 19,1% dan sarana air bersih memenuhi syarat 90,9%. 4. Hasil analisis faktor individu menunjukkan bahwa : a. Tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian penyakit dermatitis di wilayah kerja Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (p = 0,344) b. Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian penyakit dermatitis di wilayah kerja Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (p = 0.213) c. Ada hubungan antara kebersihan pribadi dengan kejadian penyakit dermatitis di wilayah kerja Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (p = 0,005), ( OR = 3,354)

44

5.

Hasil analisis faktor lingkungan menunjukkan bahwa: a. Tidak ada hubungan antara pengolaan sampah dengan kejadian penyakit dermatitis di wilayah kerja Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (p = 0,270) b. Tidak ada hubungan antara sarana air bersih dengan kejadian penyakit dermatitis di wilayah kerja Kelurahan Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (P=0,821)

8.2 1.

SARAN Perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang tindakan pencegahan terhadap penyakit dermatitis terutama terkait dengan personal hygiene (kebersihan perorangan). Penyuluhan dapat dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan beserta Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, Kader- kader, tokoh masyarakat serta instansi terkait melalui berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik. 2. Perlu adanya peraturan daerah yang mendukung agar setiap pelaksaan kegiatan pengawasan dan pencegahan terhadap kejadian penyakit terbanyak khususnya perhatian terhadap penyakit dermatitis. 3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut secara khusus kepada responden yang pernah terkena penyakit dermatitis, dan dilakukan penelitian berulang atau lebih lanjut pada kasus yang sama agar diperoleh gambaran yang pasti tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit dermatitis.

45