Anda di halaman 1dari 8

Modul Seri 13 : Hukum Pajak

PPh PASAL 24

Disusun Oleh : Drs. Bambang Mudjiono, Ak, MM

PROGRAM KULIAH KARYAWAN FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVESITAS MERCUBUANA JAKARTA 2009

PPh PASAL 24
I. PENGGABUNGAN PENGHASILAN
Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut: a.Penggabungan penghasilan dari usaha yang dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut (accrual basis). b.Penggabungan penghasilan lainnya dilakukan pada tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut (cash basis) c.Penggabungan penghasilan yang berupa deviden (pasal 18 ayat 2 UU PPh) dilakukan pada tahun pajak pada saat perolehan deviden tersebut ditetapkan sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan. Contoh : PT Mandiri menerima dan memperoleh penghasilan neto dari sumber dari luar negeri tahun 2005 sebagai berikut : 1. Hasil usaha di negara Jerman dalam tahun pajak 2005 sebesar Rp 700.000.000,00 2. Di negara Belanda, memperoleh deviden atas kepemilikan sahamnya di ABC Corp,sebesar Rp 1.000.000.000,00, yaitu berasal dari keuntungan tahun 2003 yang ditetapkan RUPS tahun 2003, dan baru dibayarkan tahun 2005. 3. Di negara Inggris memperoleh deviden atas penyertaan saham sebanyak 75% di DEF Corp,sebesar Rp 2.000.000.000. Saham tersebut tidak diperdagangkan di bursa efek. Devien tersebut berasal dari keuntungan saham 2004yang berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan ditetapkan diperoleh tahun 2005 4. Penghasilan berupa bunga semester II tahun 2005 sebesar Rp 500.000.000,00 dari Bangkok Bank di Thailand. Penghasilan tersebut baru akan diterima pada bulan April 2006. Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan PT Mandiri dari dalam Negeri dalam tahun pajak 2005 adalah penghasilan pada angka 1,2 dan 3. Sedangkan penghasilan pada angka 4 digabungkan dengan penghasilan PT Mandiri dari dalam negeri dalam tahun pajak 2006.

II. BATAS MAKSIMUM KREDIT PAJAK


Batas maksimum kredit pajak diambil yang terendah diantara 3 unsur/perhitungan berikut ini: 1. Jumlah pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri. 2. (Penghasilan luar negeri : Seluruh Penghasilan Kena Pajak) x Pph atas seluruh yang dikenakan tarif pasal 17. 3. Jumlah pajak yang terutang untuk seluruh penghasilan kena pajak (dalam hal penghasilan kena pajak adalah lebih kecil daripada penghasilan luar negeri. Contoh: PT Cemara memperoleh penghasilan netto dalam tahun 2005 Sbb: 1. Penghasilan dari luar negeri Rp 5.000.000.000,00, dengan tarif pajak sebesar 40%. 2. Penghasilan usaha di Indonesia Rp 3.000.000.000,00 Maka jumlah penghasilan netto adalah: Rp 5.000.000.000,00 + Rp 3.000.000.000,00 = Rp 8.000.000.000,00 Batas maksimum kredit pajak diambil yang terendah dari 3 unsur/perhitungan berikut: 1. Pph terutang atau dibayar di luar negeri adalah: 40% x Rp 5.000.000.000,00 = Rp 2.000.000.000,00. 2. (Rp 5.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.382.500.000,00 = Rp 1.489.062.500,00 3. Pph terutang (menurut tarif pasal 17) = Rp 2.382.500.000,00 Pph terutang pasal 17 10% x Rp 50.000.000,00 15% x Rp 50.000.000,00 Total Pph Terutang Rp Rp 5.000.000,00 7.500.000,00

30% x Rp 7.900.000.000,00 Rp 2.370.000.000,00 Rp 2.382.500.000,00

Dengan demikian kredit pajak yang diperkenankan adalah pada poin 2 sebesar Rp 1.489.062.500,00

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Drs. Bambang Mujiono Ak. MM HUKUM PAJAK

BATAS MAKSIMUM KREDIT PAJAK UNTUK SETIAP NEGARA (PER COUNTRY LIMITATION)
1. Penghasilan luar negeri a. Laba di Negara A b. Laba di Negara B jumlah penghasilan luar negari Rp 2.000.000.000,00 Rp 1.000.000.000,00 Rp 3.000.000.000,00

Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka penghitungan batas maksimum kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara. Contoh 3 : PT Diaswati memperoleh penghasilan netto dalam tahun 2005 sebagai berikut : 1. Di Negara A, memperoleh penghasilan (laba) Rp 2.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 35% (Rp 700.000.000,00). 2. Di negara B, memperoleh penghasilan (laba) Rp 1.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 20% (Rp 200.000.000,00). 3. Penghasilan usaha di Indonesia Rp 5.000.000.000,00. Penghitungan kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut : 2. Penghasilan dalam negeri Rp 5.000.000.000,00 3. Jumlah penghasilan netto atau penghasilan kena pajaknya adalah : Rp 3.000.000.000,00 + Rp 5.000.000.000,00. = Rp 8.000.000.000,00 4. PPh terutang (menurut tarif pasal 17) = Rp 2.382.500.000,00 PPh terutang pasal 17 10% x Rp 50.000.000,00 15% x Rp 50.000.000,00 30% x Rp 7.900.000.000,00 Total PPh Tarutang a. Untuk negara A : (Rp 2.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.382.500.000,00 = Rp 595.625.000,00. Pajak terutang di negara A sebesar Rp 700.000.000,00 maka maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan adalah Rp 595.625.000,00. b. Untuk negara B : Rp Rp 5.000.000,00 7.500.000,00

Rp 2.370.000.000,00 Rp 2.382.500.000,00

5. Batas maksimum kredit pajak untuk masing-masing negara adalah :

( Rp 1.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.382.500.000,00 = Rp 297.812.500,00. Pajak terutang di negara B sebesar Rp 200.000.000,00 maka maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan adalah Rp 200.000.000,00. 6. jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan adalah sebesar Rp 595.925.000,00 + Rp 200.000.000,00 = Rp 795.625.000,00.

III. RUGI USAHA LUAR NEGERI


Dalam menghitung penghasilan Kena Pajak, tidak dihitung kerugian yang diderita di Luaar Negri. Contoh: PT. Fiskal memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2005 sebagai berikut : 1. Di Negara A, memperoleh penghasilan (laba) Rp. 1.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 35% (Rp. 350.000.000,00). 2. Di Negara B, memperoleh penghasilan (laba) Rp. 3.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 20% (Rp. 600.000.000,00). 3. Di negara C, menderita kerugian sebesar Rp. 2.000.000.000,00. 4. Penghasilan usaha di Indonesia Rp. 4.000.000.000,00. Perhitungan kredit pajak luar negri adalah sebagai berikut : 1. Penghasilan luar negri a. Laba di Negara A b. Laba di Negara B c. Rugi di Negara C Jumlah Penghasilan Luar Negri Rp 1.000.000.000,00 Rp 3.000.000.000,00 Rp Rp 4.000.000.000,00

2. Penghasilan dalan negri Rp. 4.000.000.000,00 3. Jumlah penghasilan neto atau penghasilan kena pajak adalah : Rp 4.000.000.000,00 + Rp 4.000.000.000,00 = Rp 8.000.000.000,00 4. PPh terutang (menurut tarif pasal 17) = 2.382.500.000,00 PPh terutang Pasal 17 Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Drs. Bambang Mujiono Ak. MM HUKUM PAJAK

10% x Rp 15% x Rp

50.000.000,00 50.000.000,00

Rp Rp

5.000.000,00 7.500.000,00 Rp 2.382.500.000,00

30% x Rp 7.900.000.000,00 Total PPh Terutang

Rp 2.370.000.000,00

5. Batas maksimum kredit pajak untuk masing-masing negara adalah : a. Untuk negara A: (Rp 1.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.382.500.000,00 = Rp 297.812.500,00 Pajak terutang di negara A sebesar Rp 350.000.000,00, maka maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan = Rp 297.812.500,00 b. Untuk negara B: (Rp 3.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.382.500.000,00 = Rp 893.437.500,00 Pajak terutang di negara B sebesar Rp 600.000.000.,00, maka maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan Rp. 600.000.000,00. c. Di negara CPT Fiskal menderita kerugian sebesar Rp 2.000.000.000,00 kerugian ini tidak dapat dimasukan dalam perhitungan penghasilan kena pajak. d. Jumlah kredit pajak luar negri yang diperkenankan adalah Rp 297.812.500,00 + Rp 600.000.000,00 = Rp 897.812.500,00.

1. PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN BERUPA SEWA TANAH DAN / ATAU BANGUNAN
Pengenaan pajak penghasilan atas penghasilan berupa sewa tanah dan/ atau banguna diatur denagan Peraturan Pemerintah Np 29 Than 1996 sebagaikman telah diubah denagn Peraturan Pemerintah No 5 Tahun 2002> Menurut ketentuan tersebut penghasilan berupa sewa tanh dn/ atau bengunan dikenakan PPh yang bersifat final. Besarnya PPh yang dipotong adalah sebesar 10% baik atas penghasialan yang diterima oleh Wajib Pajak badan maupun orang pribadi dan jumlah nilai persewaan tanah dan / atau bangunan. PPh ( final ) = 10% x Bruto

2. PAJAK ATS PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN BERUPA BUNGA ATAU DISKONTO OBLIGASI YANG DIJUAL DI BURSA EFEK
Pengenaan pajak penghsilan atas berupa bunga atau diskonto obligasi yang di jual di bursa efek diatur dengan Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2002. Menurut PP no 6 tahun 2002 ats penghasilan yang diterima Wajib Pajak berupa bunga dan diskonto obligasi yang diperdagangkan dan / atau dilaporkan di bursa efek dikenaka pajak penghasilan yang bersifat final. Besarnya Pajak Peghasilan tersebut sebagai berikut : 1. Atas bunga obligasi dengan kupon ( interest bearing bond ) a. 20% bagi Wajib Pajak dalam negeri dan BUT b. 20% atau tarif sesuai ketentuan persetujuan Penghindaran Pajak Berganda ( P3B ) yang berlaku, bagi Wajib Pajak penduduk/ berkedudukan di luar negeri. Dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan ( holding period) obligasi. 2. Ats diskonto obligasi dengankupon sebesar : a. 20% astau tarif sesuai dengan ketentuan persetujua Penghindaran Pajak Berganda (P3B ) yang berlaku, berkedudukan di luar negeri. b. 20% atau tarif sesuai ketentuan Penghindaran Pajak Berganda ( P3B ) yang berlaku bagi Wajib Pajak penduduk/ berkedudukan di luar negeri. Dari selisih harga jual obligasi atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi tidak termasukk bunga berjalan ( accrued interest ) 3. Atas diskonto obligasi tanpa bunga ( zero coupon bond ) sebesar : a. 20% bagi Wjib Pajak dalam negerio dan BUT b. 20% atau tariff sesuai dengan ketentuan persetujuan Penghindaran Pajak Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Drs. Bambang Mujiono Ak. MM HUKUM PAJAK bagi wajib Pajak penduduk /

Berganda yang berlaku bagi Wajib Pajak penduduk / berkedudukan di luar negeri. Dari selisih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi.

IV.

CARA MELAKSANAKAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI


Untuk pelaksanaan pengkreditan pajak yang terutang atau dibayar diluar negeri, Wajib Pajak wajib menyampaikan pemohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan dilampiri : 1. Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri 2. Fotokopi surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri 3. Dokumen pembayaran pajak di luar negeri Penyampaian permohonan kredit pajak yang terutang atau dibayar diluar negeri tersebut dilakukan bersamaan dengan penyampaian SPT tahunan PPh.