Anda di halaman 1dari 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Educatio Indonesiae, Vol. 13. No. 1, Maret 2005 Hal. 43-64, ISSN. 1411-6936

Busmin Gurning

Universitas Negeri Medan

The subject of jthis paper is to explain the importance of studying English, so that the institution of education could introduce English from elementary school even kindergarten. Beside that, this paper also shorn some basic factors which should be noticed in studying English. Based on those factors, the concept of practical studying for children is being developed. Therefore, the process of studying for children need specific and interesting technical studying strategy.

Cooperative studying should be given for children with special ability. Through this inclusive studying, the differences should be controlled to achieve the same goal. Communication materi is also importance to preserve, based on the needs to improve the motivation of studying. By doing those strategy we expect the communication competence could be used to fulfilled the needs, through English (Editor).

Pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing semakin marak di berbagai lembaga

1 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

pendidikan yang menyelenggarakan sekolah dasar dan bahkan taman kanak-kanak. Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah lanjutan pertama atau pun sekolah menengah umum dan kejuruan sudah lama dilaksanakan. Yang menjadi perbincangan serius sekitar sepuluh tahun yang lalu adalah pembelajaran bahasa Inggris di SD. Di saat perbincangan belum berakhir, pembelajaran bahasa Inggris berlangsung terus. Hal ini didasari dengan pentingnya pembelajaran tersebut mengingat bahasa Inggris adalah bahasa global atau bahasa pergaulan dunia.

Perbincangan seperti disebutkan di atas merupakan pemikiran para ahli pendidikan bahasa yang mendukung dilaksanakannya pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SD dan kelompok ahli yang menolak dilaksanakannya pembelajaran bahasa Inggris di SD. Di beberapa negara seperti Malaysia dan Phillipina bahasa Inggris telah diajarkan sejak dini. Namun, perlu diingat kondisi Indonesia dengan kondisi kedua negara tersebut berbeda. Selain sebagai bahasa kedua secara umum pada kedua negara tersebut, negara tersebut telah memiliki masyarakat bahasa (language community) bahasa Inggris. Artinya, terdapat kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa Inggris, yang secara langsung dapat membantu siswa belajar bahasa di sekolah lalu mendapat latihan bagaimana menggunakan bahasa itu dalam kehidupan yang nyata setiap hari. Hal seperti ini tidak terdapat di Indonesia, sehingga apabila siswa belajar bahasa Inggris di sekolah mereka tidak pernah melatih penerapan bahasa yang dipelajari dalam kehidupan nyata akibatnya mereka tidak tahu bagaimana menggunakan bahasa itu. Keadaan ini dapat mengakibatkan pembelajaran kurang bermakna dan menjadi sia-sia di berbagai sekolah tertentu walaupun masih ada yang berhasil di sebagian sekolah. Dasar inilah yang dikhawatirkan oleh beberapa ahli disamping proses dan materi yang kurang memadai yang bisa menimbulkan kesan negatif terhadap bahasa Inggris.

Ternyata kebutuhan kelihatannya lebih mendesak daripada menunggu keputusan yang bersifat argumentatif-akademis tentang boleh tidaknya pembelajaran bahasa asing kepada anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Pada akhirnya depertemen pendidikan nasional memperbolehkan pembelajaran dilakukan sebatas muatan lokal di sekolah negeri, walaupun telah lama sebelumnya sekolah swasta telah melaksanakannya dengan pertimbangan bisnis. Kecenderungan ini tak terbendung, pada akhirnya semua sekolah negeri maupun swasta telah sepenuhnya menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Pembelajaran bahasa Inggris di SD negeri dimulai dari kelas tiga, sedang pada umumnya SD swasta pembelajaran bahasa ini dimulai dari kelas satu.

Terlepas dari pro dan kontra seperti disebutkan di atas, pembelajaran bahasa Inggris menjadi hal penting bagi para pemerhati pendidikan, guru-guru, dan bahkan lembaga penghasil guru atau LPTK. Disebutkan demikian karena pembelajaran bahasa Inggris diberikan dengan berbagai pertimbangan yang betul-betul mendasar, sehingga kekhawatiran seperti pembelajaran yang sia-sia tidak terjadi. Kekhawatiran tersebut harus diantisipasi dari berbagai

2 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

faktor yang substansial dan teknis. Hal lain yang menjadi dasar pertimbangan yang kuat dalam pembelajaran bahasa adalah sifat anak apabila belajar bahasa di usia dini dan keinginnya untuk menguasai bahasa pertama dengan baik dan menginginkan penguasaan bahasa kedua (Doman, 1987, 34). Hal ini penting karena penguasaan bahasa kedua dan ketiga berdampak positif terhadap pertumbuhan intelektual anak (Dechert, 1990, 5).

Masalah dan Tujuan Penulisan

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran bahasa Inggris di usia dini merupakan awal pengenalan bahasa asing yang memerlukan perhatian yang sesaksama. Hal ini penting, karena pembelajaran bahasa Inggris yang kurang tepat akan mengakibatkan rendahnya motivasi belajar bahasa Inggris. Oleh sebab itu pengenalan bahasa Inggris bernuansa ke-SD-an sangat perlu. Sehubungan dengan itu bagaimana sifat anak SD belajar bahasa Inggris, bagaimana strategi, dan bagaimana materi pembelajaran yang diperlukan untuk membelajarkan bahasa Inggris kepada siswa SD ?

Pemerolehan bahasa kedua atau asing ( bahasa Inggris) di sekolah dasar atau taman kanak-kanak memerlukan pembelajaran yang lebih khusus. Pembelajaran bahasa Inggris yang tidak mempertimbangkan faktor-faktor tertentu yang lebih mendasar akan menghasilkan ptoses pembelajaran yang efektif dan pada akhirnya akan berakibat negartf terhadap program itu sendiri. Pertirnbangan inilah yang mendasari penulisan makalah ini. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sifat anak belajar bahasa asing, bagaimana strategi pembelajaran bahasa asing di usia dini, dan bagaimana materi ajar yang disajikan.

Anak dalam Belajar Bahasa Inggris

Pemerolehan bahasa kedua atau asing merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam pemerolehan bahasa kedua. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa faktor umur, faktor monitor, faktor input, menjadi bahasan utama pada bagian ini yang menjadi dasar pembelajaran bahasa Inggris.

Pengaruh Umur dalam Belajar Bahasa Inggris

3 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Secara garis besar ada beberapa faktor dalam belajar bahasa Inggris yang dapat dibedakan atas iaktor internal dan eksternal (Ellis, 1986, 24). la lebih lanjut mengatakan bahwa faktor internal adalah faktor pribadi dan faktor umum. la menggolongkan faktor pribadi menjadi keaktifan kelas, sikap terhadap guru, materi pelajaran, dan teknik belajar mengajar. Faktor umum adalah umur, bakat, kemampuan kognitif, motivasi, dan kepribadian. Dari sekian banyak faktor internal dan eksternal faktor umur menjadi fokus bahasan atau isu penting yang mempengaruhi pemerolehan bahasa asing (Krashen dan Terrell, 1983, 45).

Faktor umur sebagai salah faktor yang dapat mempengaruhi pemerolehan bahasa asing. Anak-anak kelihatannya lebih cepat dan lebih mudah memperoleh bahasa asing dibandingkan dengan orang dewasa pada usia 15 tahun). Orang dewasa lebih banyak mengalami kesulitan dalam memperoleh tingkat kemahiran bahasa asing (Krashen dan Terrell, 1983, 45). Sehubungan dengan itu gejala yang secara luas teramati mengarah pada hipotesis mengenai u sia optimal atau periods kritis seperti diungkapkan oleh Lenneberg (1967) dan periode sensitif(Oyzma., 1976) dalam Dechert (1990, 40) dalam belajar bahasa kedua dan asing.

Lenneberg menguatkan bahwa belajar bahasa alamiah dapat terjadi hanya selama periode kritis dalam pemerolehan bahasa, yaitu antara umur 2 tahun dan sampai usia pubertas. la lebih lanjut mengatakan bahwa sebelum usia 2 tahun belajar bahasa tidak mungkin terjadi karena kurang kedewasaan otak. Pada saat pubertas laterisasi fungsi bahasa ke hemisfer dominan telah selesai yang mengakibatkan hilangnya plastisitas serebral yang diperlukan untuk belajar bahasa alamiah. Jadi setelah masa pubertas bahasa harus diajarkan dan dipelajari melalui usaha sadar.

Faktor biologis lain yang penting dalam pemerolehan bahasa kedua dan asing adalah peranan otot-otot alat bicara. Plastisitas otot-otot ini mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua atau asing terutama dalam pelafalan atau pengucapan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa seorang di atas umur pubertas umumnya tidak memperoleh kemahiran dalam pelafalan atau pengucapan yang baik seperti penutur asli, karena kurangnya plastisitas otot alat bicara (organs of speech).

4 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Oleh sebab itu tidak perlu guru memaksakan penghilangan aksen asing, karena tidak mungkin bagi orang dewasa untuk menguasai suatu bahasa tanpa aksen bahasa yang telah dikuasainya (Scovel, 1969). Penelitian yang dilakukan oleh Scarcella dan Higa dalam Krashen dan Terrell, (1983, 46) menunjukkan bahwa anak-anak lebih mampu melakukan percakapan dengan baik sebagai respons terhadap lingkungan walaupun anak-anak mendapatkan input yang sederhana dibandingkan dengan orang dewasa. Penjelasan di atas merupakan faktor umur yang berhubungan dengan faktor biologis.

Faktor kedua dalam hal umur ini adalah faktor kognitif. Faktor kognitif ini Krashen (1980) menyimpulkan bahwa permulaan tahapan operasi formal menandai permulaan dari akhir periode kritis atau peka (criticalperiod). Pada tahap ini seseorang mempunyai kemampuan berpikir yang lebih tinggi tentang konsep abstrak dan hipotetik di samping konsep kongkret, sehingga memungkinkan seseorang mempunyai kemampuan berpikir secara abstrak tentang bahasa, mengkonsepkan generalisasi linguistik, memanipulasi kategori-kategori linguistik, mengkonstruksikan, dan mengerti tentang teori tentang bahasa.

Faktor ketiga dalam umur ini adalah faktor afektif. Faktor ini tnerupakan keadaan ide periode kritis dengan perubahan afektif yang terjadi pada anak-anak pada permulaan pubertas. Anak-anak niemiliki kapasitas entitas yang lebih tinggi daripada orang dewasa. Mereka belum mengembangkan hambatan-hambatan tentang identitas diri, oleh karena itu tidak takut mengambil risiko ketika mereka bereksperimen dengan pengetahuan bahasa kedua atau asingnya yang masih jauh dan sempurna. Karena mereka masih muda mereka tidak terhalangi dalam belajar bahasa kedua atau asing dengan sikap negatif terhadap penutur bahasa itu. Mereka pada umumnya memiliki motivasi integratif yang kuat, percaya diri yang tinggi, memiliki tingkat kecemasan yang rendah untuk belajar bahasa (Krashen dan Terrell, 1983, 46).

Kecepatan dan keberhasilan pemerolehan bahasa kedua atau asing sangat dipengaruhi oleh faktor umur. Hal ini ditunjukkan oleh siswa yang maju paling cepat. Oyama (1976) menyelidiki kelompok kelahiran Italia yang berimigrasi ke Amerika yang berumur 5 18 tahun dan telah belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau asing. la lebih lanjut mengatakan bahwa umur pada waktu kedatangan mereka jauh lebih kuat menentukan tingkat pelafalan yang diperolehnya dibandingkan dengan lama mereka tinggal di Amerika. la juga menyelidiki pengaruh awal usia belajar bahasa dengan kesimpulan bahwa awal usia belajar mempengaruhi kecepatan belajar dan awal usia belajar mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar bahasa asing atau Inggris. Ternyata anak yang datang di Amerika pada usia muda lebih baik hasilnya ketimbang yang lebih tua, sedangkan masa usia tinggal di Amerika tidak begitu besar pengaruhnya. Dengan demikian faktor umur menjadi sesuatu hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam memulai belajar j bahasa asing atau Inggris,

5 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

karena pada usia dini ini terdapat kelenturan otak, kesensitifan atau kepekaan terhadap unsur bahasa dan keplastisitasan alat bicara yang dapat diberdayakan seoptimal mungkin dalam pembelajaran bahasa yang baik.

Pengaruh Monitor dalam Belajar Bahasa Inggris

Dalam belajar bahasa kedua atau bahasa asing monitor sangat penting. Monitor merupakan bagian dari sistem internal siswa yang berperan dalam proses pembelajaran. Apabila seseorang mempelajari sebuah buku, maka ia akan terikat pada apa yang lazim disebut sebagai pembelajaran. Dalam hal ini siswa menggunakan monitornya. Siswa kan menggunakan monitornya ketika ia sedang mengerjakan latihan-latihan atau menghafalkan suatu dialog atau bahan lainnya. Pengetahuan linguistik yang didapat melalui monitor dapat digunakan untuk menyusun kalimat dan memperbaikinya baik dalam berbicara maupun menulis. Faktor umur dan perbedaan individual mempengaruhi monitor dan juga tingkat pengelaman belajar.

Monitor akan difungsikan ketika seseorang berusaha untuk memperbaiki kehilafan-kehilafan yang mereka lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa monitor dipergunakan. Siswa dapat memonitor kosakata, tata bahasa, fonologi ketika ia menggunakan bahasa dalam interaksinya. Monitor dipakai untuk memperbaiki produksi dengan menggunakan pengetahuan. Pemakaian monitor memerlukan syarat-syarat : (1) memonitor harus memiliki waktu, (2) fokus perhatian pada bentuk bahasa,dan (3) pemonitor harus mengetahui aturan tata bahasa yang digunakan. Siswa diharapkan dapat menggunakan gramar yang benar jika banyak waktu, jika ia memfokuskan pada bentuk, ketika ia tahu akan aturan (Krashen dan Terrell, 1983, 59).

Pemakaian monitor dipengaruhi oleh perbedaan individu. Krashen dan Terrell (1983, 44) menggolongkan monitor atas tiga jenis yaitu over-use, under-use, dan optimal use. Dalam over -use siswa selalu memonitor atau mengadakan pengecekan terhadap bahasa yang dipelajari. Dalam under-use, siswa tidak selalu menggunakan alat monitornya ketika ia belajar bahasa akibatnya ada beberapa kesalahan yang dilakukan dalam gramar atau pengucapan (pronunciation), dan kosakata tanpa disadari. Siswa dalam optimal monitor selalu menggunakan monitor apabila diperlukan atau perbaikan masih bisa dilakukan dalam berbahasa, misalnya dalam manulis. Karena masih cukup waktu memperbaiki kesalahan dalam gramar, pilihan kosakata, dan ejaan maka siswa menggunakan monitor untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Berdasarkan uraian ini monitor sangat penting diberdayakan dalam din siswa ketika mereka

6 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

belajar bahasa Inggris khususnya.

Peranan Input dalam Belajar Bahasa Inggris

Dalam pandangan behaviouristik siswa sebagai mesin yang ttiemproduksi bahasa, dan lingkungan linguistik dipandang sebagai raktor penentu yang sangat penting. Teori ini mendeskripsikan tagkah laku siswa dengan menggunakan prinsip stimulus-respons. Mentalis beranggapan bahwa siswa sebagai a grand initiator, dalam hal ini input dipandang sebagai picu yang dapat mengaktifkan mekanisme internal siswa. Input dianggap sebagai pendorong saja atau pemercepat proses. Dengan demikian kehadiran input sangat berperanan penting dalarn pemerolehan bahasa kedua atau asing yang lazim disebut sebagai hipotesis input oleh Krashen, dan Terrell (1983, 40). Dengan hipotesisi input ini siswa memperoleh bahasa kedua atau asing hanya dengan satu cara yaitu dengan cara memahami makna pesan yang sampai kepadanya. Dengan kata lain bahwa siswa bisa berbahasa asing karena telah mendapat input yang bisa dimengerti maknanya. Ada pun kemampuan siswa itu bertambah baik mengikuti urutan yang tetap dan sama pada semua orang. Pemerolehan dan pembelajaran merupakan faktor utama dalam hipotesis dalam hipotesis input.

Sehubungan dengan input Ellis (1986, 137) membedakan konsep antara input dan intake. Inpu t adalah data, keterangan, bahan-bahan bahasa kedua yang didengar oleh siswa, sedangkan intake yaitu bagian dari bahasa kedua yang diasimilasikan dan disediakan dalam sistem interlanguage. Dengan demikian input adalah seperangkat data, keterangan, dan bahan-bahan bahasa kedua yang telah dipahami oleh pembelajar bahasa yang digunakan untuk mengembangkan dan memperoleh input yang lain. Pengembangan bahasa kedua dan asing . terbentuk berdasarkan interaksi antara input dengan mekanisme pemerolehan yang terbentuk dari yang telah dimiliki (Smith dalam Dechert, 1990, 223). Input tersebut didapat melalui proses pemerolehan dan pembelajaran seperti: (1) pemahaman kata, (2) konsep, (3)

7 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

kalimat, (4) struktur paragraf, dan (5) sikap dan tujuan. Pemahaman kata dapat dilatihkan dengan mempertimbangkan konteksnya, dan mencakup (1) struktur kata, (2) sinonim dan antonim, (3) bahasa figuratif, (4) dan penggtinaan kamus. Konsep merupakan hubungan yang terjadi antara pengertian dan makna dengan pengalaman.

Input merupakan sesuatu yang diperoleh sebagai hasil adanya interaksi. Input dapat diperoleh secara lisan maupun tertulis. Oleh karena itu input di lingkungan kelas berarti input yang pemerolehannya hanya melalui kegiatan di dalam kelas. Secara aksiomatik pemerolehan bahasa kedua dapat berlangsung atau terjadi secara lancar bila data bahasa kedua sebagai input dan seperangkat mekanisme internal tersedia.

Peranan Motivasi dalam Belajar Bahasa Inggris

Motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam belajar bahasa kedua atau asing. Motivasi dapat diartikan sebagai energi atau tenaga yang dapat menggerakkan suatu tindakan. Lebih lanjut Lambert (1972) dalam Brown dan Gonzo (1995, 215) mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan hasrat atau keinginan dan alasan untuk mencapai tujuan secara keseluruhan. Gardner (1985) dalam Brown dan Gonzo (1995) mengatakan bahwa motivasi belajar bahasa kedua atau asing dipengaruhi sikap yang berhubungan dengan kelompok dan konteks, keterpaduan, dan sikap terhadap situasi belajar. Secara umum motivasi dapat dikategorikan atas dua bagian yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan keinginan seseorang untuk mencapai tujuan yang bukan pemberian dari luar. Satu-satunya ganjaran adalah kepuasan seseorang karena kemampuannya melakukan sesuatu. Dalam mencapai sesuatu tujuan itu atau keinginan itu timbul hanya dari dalam diri orang itu sendiri. Kesadaran sendiri yang berperan dalam menentukan upaya yang dilakukan. Motivasi intrinsik dapat disebut juga sebagai motivasi instrumental. Dalam belajar bahasa konsep motivasi ini perlu diterapkan untuk mendorong siswa untuk belajar bahasa sebagai keinginan individu. Upaya untuk memicu motivasi intrinsik untuk aktif dalam diri siswa.

8 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Motivasi ekstrinsik atau instrumental merupakan dorongan dari luar diri siswa dalam belajar bahasa kedua atau asing. Motivasi ini sangat berperan dalam mendorong siswa belajar lebih dari pada motivasi intrinsik. Misalnya dalam belajar bahasa Inggris siswa telah rnengetahui manfaatnya apabila seseorang bisa berbahasa Inggris dengan baik ia akan mendapatkan kemudahan atau pekerjaan yang baik. Hal ini dibuktikan oleh Gardner dan Maclntyre dalam Brown dan Gonzo (1995, 213) dalam penelitian yang disimpulkan bahwa motivasi ekstinsik atau instrumental berpengaruh terhadap penguasaan materi bahasa kedua atau asing. Berdasarkan uraian motivasi ini guru diharapkan mampu mendorong siswa lebih giat belajar berdasarkan konsep motivasi ekstrinsik yang ada yang dapat berpengaruh pada diri siswa dalam belajar bahasa Inggris. Tanpa a danya motivasi (intrinsik atau ekstrinsik) dalam diri siswa mustahil siswa berhasil dalam belajar. Namun faktor motivasi tidak berdiri-sendiri tetapi motivasi berhubungan dengan faktor lainnya dalam belajar.

Materi Pembelajaran Bahasa Inggris

Dalam pembelajaran bahasa kedua atau asing materi pembelajaran merupakan salah satu yang penting untuk dipertimbangkan. Dengan memberikan materi yang tepat, berarti memberikan apa yang mereka butuhkan. Pemenuhan apa yang dibutuhkan sudah merupakan ciri pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk belajar. Mereka telah merasakan bahwa kebutuhan telah terpenuhi berdasarkan analisis kebutuhan. Materi yang telah memenuhi kebutuhan juga memiliki ciri berdasarkan usia. Materi untuk usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar tidak sama dengan materi siswa sekolah lanjutan pertama atau atas. Ciri lain materi pembelajaran adalah 'authentic' atau 'genuine'. Materi pelajaran diambil dari lingkungan sekitar siswa sehingga mereka mencoba membahasakan apa yang mereka tersebut atau pelajari dalam kehidupan nyata secara sederhana. Dengan perkataan lain mereka mencoba mengungkapkan pengalaman tentang apa yang dilakukan (doing), dirasakan (sensing), dilihat ( seing), dan sebagai apa (being) orang atau dia sendiri di sekitarnya. Otentisitas materi akan mendorong siswa secara internal dan eksternal untuk mengungkapkan pengalaman dari lingkungannya lebih percaya diri.

Dalam pembelajaran bahasa secara komunikatif materi pembelajaran yang diberikan lebih bersifat fungsional daripada penguasaan gramatika. Hal ini mengindikasikan bahwa materi pembelajaran lebih menitikberatkan pada penggunaan bahasa berdasarkan konteks berbahasa. Konteks berbahasa yang dimaksudkan dalam hal ini adalah konteks sosial A^n konteks budaya, dan aspek ideologi (Eggins, 1994, 51). Konteks sosial disebut 'register' dan konteks budaya disebut sebagai 'genre'. Di sini bahasa berfungsi sebagai bagaimana melakukan sesuatu melalui bahasa

9 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

(Brumfit dan Finacchiaro, 1986. 28). Eggins (1994) lebih lanjut mengatakan bahwa pemilihan materi bahasa berdasarkan ketiga aspek di atas lebih rnenekankan pada bagaimana orang menggunakan bahasa (how do people use language) dan bagaimana bahasa itu dibentuk untuk digunakan (how is language structured for use).

Pemilihan materi pembelajaran harus didasarkan pada bahasa yang terbentuk berdasarkan semiotik berstrata (stratified semiotics) yang terdiri dari bahasa dan konteks bahasa. Konteks meliputi situasi, budaya, dan ideologi. Konteks situasi m encakup tiga unsur yaitu "field" (topik yang sedang digunakan sebagai bahan), "mode" (peran bahasa yang dipakai dalam interaksi), dan "tenor" (peran hubungan antara orang yang berinteraksi). Konteks budaja mencakup sistem, nilai, dan struktur sosial, dan ideologi meliputi kelas, gender, etnis, generasi, nilai, dan sudut pandang.

Beberapa tahun terakhir ini di Indonesia telah terjadi perubahan paradigma dalam pengajaran bahasa Inggris. Perubahan paradigma itu adalah perubahan dari pengajaran berorientasi pada bentuk (form) ke pengajaran berorientasi pada makna (meaning). Dengan demikian, kebermaknaan (meamnsfu/n ess) merupak an tujuan utama pengajaran bahasa. Kebermaknaan merupakan kesesuaian antara makna dengan situasi berbahasa. Apabila seseorang menggunakan bahasa pada satu situasi tertentu tindak bahasa merupakan ekspresi makna. Inilah yang disebut bahasa sebagai satu sistem makna (Bloor dan Bloor, 1995, 1). Apabila seseorang berbahasa pada satu situasi tertentu ia dapat melakukan sesuatu setelah mendengar bahasa berarti ia telah memahami fungsi bahasa atau disebut fungsi komunikati/ (communicative functions) (Bloor dan Bloor, 1995, 8). Sebuah ungkapan 'Good afternoon' fungsi komunikatifnya adalah 'greeting'. Tetapi apabila seorang siswa datang terlambat ke kelas di pagi hari lalu guru mengucapkan ungkapan "Good afternoon' maka ungkapan memiliki fungsi komunikatif yang berbeda dengan fungsi komunikatif sebelumnya. Fungsi komunikatif ungkapan tersebut adalah sebagai 'sindiran' (reprimand). Dengan demikian ungkapan yang sama dapat memiliki fungsi komunikatif yang berbeda karena situasi penggunaan bahasa berbeda. Melalui pengajaran komunikatif siswa dapat menerapkan

10 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

bagaimana bahasa digunakan untuk melakukan sesuatu. Hal ini dapat berarti bahwa pemerolehan bahasa dan belajar bahasa yang terjadi di dalam kelas sesuai dengan konteks berbahasa (Krashen dan Terrel, 1983, 18-19).

Sehubungan dengan penjelasan di atas bahwa pilihan linguistik (linguistic choice) menjadi sesuatu yang penting diajarkan di sekolah. Pilihan linguistik ini didasarkan pada bagaimana bahasa bekerja (Bloor dan Bloor, 1995, 2). Ujaran misalnya What's the time ?', Tell the time, please', I'd like to know the time', The time, what is it ?'. Kalimat pertama adalah berbentuk interogarif, yang kedua berbentuk imperatif, yang ketiga berbentuk deklaratif. Keempat ujaran ini memiliki fungsi bahasa yang sama walaupun memiliki bentuk yang berbeda. Pada contoh berikut ini akan ditunjukkan fungsi bahasa dari ujaran yang kelihatan tidak berhubungan secara gramatikal tetapi berhubungan secara fungsional (Widdowson, 1979, 35). Komunikasi pada usia dini sudah menggunakan pelesapari unsur (ellipsis) dan menjadikan percakapan menarik. Bentuk seperti ini perlu dikembangkan secara alamiah bukan teoretis.

Ujaran Fungsi

A: That's the telephone Request

B: I'm in the bath Excuse

C: Okay Acceptance of excuse

11 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Materi pembelajaran tidak diberikan secara kaku tetapi alamiah seperti bagaimana penutur asli menggunakan bahasa itu. Bentuk seperti ini juga ditemukan di semua bahasa termasuk bahasa Indonesia, misalnya:

A: Jadi nggak ayahmu berangkat ke Medan kemarin?

B: Bagaimana? Jalan ke Cengkareng 'kan banjir !

C: Oh, ya, baru saya ingat!

Berikut ini akan dipapar fungsi-fungsi bahasa dalam bentuk yang sangat variatif untuk mengungkapkan makna seperti disebutkan di atas. Paparan tersebut ada pada bagian berikut.

Fungsi: Giving Order

Bentuk Kalimat: Imperative Conditional, Infinitiv, Modal, Participle

Realisasi :

"Please go now" "Perhaps it would be preferable if you went now"; "I expect you to go now" "You must go now"; "You should be going now"

Paparan tersebut menunjukkan bahwa satu fungsi bahasa dapat diungkapkan dengan berbagai jenis bentuk kalimat dan realisasinya mengikuti bentuk kalimat. Dengan cara ini siswa memiliki variasi kalimat dalam mengungkapkan satu maksud atau fungsi bahasa. Pemerkayaan bentuk ungkapan untuk menyatakan satu maksud sangat penting. Sebaliknya satu kalimat dapat bermakna lebih dari satu makna. Hal ini terjadi karena kalimat sangat bergantung pada konteks berbahasa seperti telah dibahas sebelum ini, misalnya 'Y

12 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

ou are very clever'. Ungkapan ini memiliki makna ganda. Kalimat itu boleh digunakan untuk memuji bila siswa benar pintar, dan bisa juga mengejek bila guru telah merasa kesal karena siswa belum juga mampu mengucapkan kata yang telah beberapa kali dicoba atau dilatih.

Materi pembelajaran bahasa Inggris disesuaikan dengan tingkat atau kelas. Materi meliputi keterampilan membaca, menulis, berbicara/mendengar, pragmatik, dan tata bahasa. Untuk mengembangkan keterampilan berbahasa tersebut penguasaan unsur-unsur bahasa seperti lafal, ejaan dan kosa kata diberikan. Materi tersebut diintegrasikan dalam wacana atau bacaan berupa tema-tema dan berupa gambar. Kepasihan (fluency) sudah harus menjadi fokus utama pembelajaran bahasa bukan lagi pada penguasaan tata bahasa dan membaca pemahaman.

Berdasarkan penjelasan ujaran dan fungsi di atas kompetensi komunikatif dapat berkembang. Kompetensi ini tentu didukung oleh komptensi lainnya misalnya kompetensi gramatikal, kompetensi wacana, kompetensi sosiokultural, dan kompetensi strategis. Pembentukan kalimat atau klausa dan frasa sangat penting dalam tindak rutur, walaupun kompetensi di tahap awal tidak menjadi fokus. Kesalahan tatabahasa sangat manusiawi. Kompetensi wacana sebagai realisasi hubungan antarklausa secara kohesif atau koheren sangat mungkin terjadi dan perlu dikembangkan. Secara alamiah interaksi atau transaksi terjadi sesuai dengan konteks sosial, karena bahasa adalah fenomena sosial. Kompetensi strategis masih diperlukan dalam interaksi untuk menguatkan makna yang belum jelas dengan pengulangan, keraguan (hesitation), pema kaian kata-kata yang banyak (circumlocution) dan sebagainya.

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

Pendekatan Komunikatif

Pendekatan pembelajaran yang dimaksudkan dalam hal ini adalah pendekatan komunikatif. Pendekatan ini merupakan reaksi terhadap pendekatan bahasa sebelumnya. Pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif menitik beratkan tujuan pada penggunaaan kalimat sesuai dengan konteks seperti telah disinggung pada sebelumnya. Pembelajaran didasarkan pada upaya mendeskripsikan tujuan pembelajaran bahasa pada penginkatan kemampuan komunikatif (Littlewood, 1984, 24). Artinya pendekatan komunikatif mampu menggunakan bahasa pada latar komunikasi yang sebenarnya. Savignon (1984, 57) menyebutkannya sebagai

13 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

kemampuan komunikatif.

Kemampuan yang diharapkan dari hasil pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif mengacu pada kemampuan menggunakan bahasa pada latar komunikatif atau berdasarkan konteks berbahasa (ideologi, situasi, dan budaya). Hymes (1985) dalam K.Das.(1985) memandang kemampuan komunikatif sebagai gabungan dari dua kemampuan yaitu kemampuan menggunakan aturan atau membentuk kalimat dan bagaimana menggunakan bahasa itu dalam interaksi sosial. la juga memandang bahwa kemampuan komunikatif mengacu pada pengetahuan mengunakan aturan pembentuk kalimat, menguunakan kosakata, semantik, aruran-aturan berkomunikasi dan pola-pola tingkah laku sosial linguistik masyarakat. Dengan demikian pengajaran bahasa didasarkan pada silabus bahasa yang diorganisir berdasarkan fungsi bahasa, namun pengetahuan dan keterampilan membentuk kalimat berdasarkan aturan tidak dapat diabaikan.

Littlewood dalam K. Das (1985) mengatakan bahwa ada dua dimensi yang perlu diperhatikan dalam pendekatan komunikatif, yaitu (a) dimensi baru yang berkenan dengan batasan tujuan, kemampuan yang dibutuhkan siswa tidak terbatas pada penggunaan struktur bahasa, tetapi juga mencakup keterampilan lain yang berhubungan dengan bagaimana menghubungkan struktur dengan fungsi bahasa yang komunikatif dengan cara yang tepat dan dalam situasi nyata, (b) dimensi baru yang berkembang dengan jenis aktivitas belajar yang dibutuhkan dengan tujuan belajar berkomunikasi.

Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Inggris digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep yang sesuai dengan fungsi bahasa pada situasi dan konteks yang tepat. Konsep-konsep yang dimaksudkan di sini ialah nosi, fungsi bahasa, dan kategori-kategori semantik tata bahasa (Richards, dkk dalam Subyakto, 1988, 32). Pada tahap pre-komunikatif siswa diharapkan mampu menyampaikan mengungkapkan kalimat baru berdasarkan strutkrtur dan atau kalimat yang tidak berstruktur. Pada tahap komunikatif siswa diharapkan telah mampu membentuk kalimat baru berdasarkan konteks. Pada tahap ini siswa telah mampu menguraikan kesalahan dan telah mulai menekankan kelancaran walaupun masih terhadap kesalahan secara gramatik. Dalam operasi yang lebih praksis di lapangan metode belajar kooperatif sangat penting dilakukan untuk membuat situasi kelas yang lebih kooperatif.

Pembelajaran bahasa secara fungsional memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran sebelumnya yang lebih menekankan pada penguasaan struktur. Pembelajaran bahasa dengan mengunakan pendekatan komunikatif, keempat keterampilan berbahasa diajar secara terpadu ( integrated).

14 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Ketika guru mengajarkan "Reading comprehension" ia harus melibatkan keterampilan lain yang lebih memungkinkan diberikan, misalnya keterampilan berbicara atau menulis. Keterampilan menulis dapat dilibatkan dengan menyuruh siswa menjawab pertanyaan sederhana. Demikian juga halnya dengan keterampilan berbahasa lainnya seperti mendengar dengan berbicara atau menulis dapat dilakukan sekaligus. Materi lain di luar keterampilan berbahasa tersebut juga diberikan secara terpadu untuk menunjang kesempurnaan penguasaan bahasa. Materi grammar diberikan melalui pengajaran menulis dan berbicara. Tugas atau pekerjaan siswa dikoreksi lalu siswa akan merespons umpan balik yang diberi guru. Demikian juga halnya dalam berbicara. Unsur kalimat yang lengkap tidak menjadi keharusan dalam bahasa lisan, karena sangat kontekstual seperti telah digambarkan di atas. Melalui cara ini siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa bagaimana menggunakan bahasa di dalam interaksi sosialnya untuk melatih kepasihan bukan bagaimana siswa membentuk bahasa.

Teknik Kooperatif dalam Belajar

Belajar kooperarif merupakan teknik belajar yang sangat tepat diterapkan karena siswa dapat belajar secara bersama-sama dalamj kelas yang sangat heterogen baik dalam hal kemampuan, minat, dan; motivasi. Belajar kooperatif merupakan; prektek pendidikan yang pada umumnya di ikuti dengan pemerolehan hasil belajar dan tingkah laku sosial yang dikembangkan secara mendalam bagi siswa pria dan wanita. Menurut Hill dan Hill (1990, 7) bahwa belajar kooperatif itu ; merupakan kegiatan yang terjadi ketika dua orang atau lebih bekerja untuk mencapai tujuan yang sama. Berdasarkan pengertian keduai definisi ini terdapat dua hal penting yang terkandung di dalamnyaj yaitu mulai dari tujuan yang sama dan adanya kebergantungan positif sesama anggota. Dalam mencapai tujuan yang sama untuk: mencapai hasil belajar yang baik siswa membutuhkan peran siswa lain yang memiliki kemampuan yang berbeda termasuk anak berbakat.

Dalam praktek pembelajaran komunikatif belajar secara kooperatif memberi keunggulan komparatif dengan teknik belajarj lain. Ada beberapa keunggulan belajar secara kooperatif seperti: (a) dapat meningkatkan hasil belajar, (b) mengembangkan pemahamani yang lebih mendalam, (c) menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, (d) mengembangkan keterampilan kepemimpinan, (e) mengembangkan sikap positip, (f) mengembangkan self-esteem,; (g) mengembangkan belajar inklusif, (h) menumbuhkan rasa memiliki, dan (i) menumbuhkan keterampilan yang bersifat futuristk. Keunggulan ini tidak dimiliki oleh setiap teknik belajar lain. Setiap individu dapat membangun dan mengorganisir merekaj di lingkungannya. Di samping itu, belajar kooperatif ini juga mengembangkan interaksi sosial yang mengarahkan ke pengembangan kognitif knjutan (Hill dan Hill, 1990,1-6).

15 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Dalam belajar kooperatif pembentukan kelompok belajar dilakukan dengan menempatkan siswa berbakat di dalam kelompok yang heterogen. Mereka dirninta menjadi tutor sebaya dan pelatih di dalam kelompok yang heterogen tersebut. Hal ini dilakukan karenaj di kelas tersebut terdapat sejumlah siswa yang memiliki kesempatan: belajar yang terbatas dan melatih keterampilannya daripada siswa lainnya. Guru menginginkan siswa berbakat meremodelkan dirinya dalam membantu siswa lain. Namun adakalanya kegiatan seperti ini menjadi penghambat keinginan anak berbakat untuk mengembangkan dirinya, walaupun hal seperti ini menjadi problema bagi anak berbakat dalam belajar kooperatif (Winebrener, 2001,173).

Melalui pembelajaran komunikatif dengan teknik kooperatif memanfaatkan kemampuan individu siswa yang sangat heterogen dalam mencapai tujuan yang sama. Perbedaan individu sangat dihargai, sehingga dapat memotivasi siswa untuk belajar.

Proses Pembelajaran

Pembelajaran bahasa Inggris memerlukan proses yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Proses pembelajaran harus dirancang sedemikain rupa sehingga pembelajaran itu memiliki ciri tersendiri dari pada pembelajaran di tingkat yang lebih tinggi. Nuansa ke SD annya harus dilihat sebagai satu keseluruhan (holistiK). Proses pembelajaran yang dapat dilakukan berdasarkan pendekatan komunikatif seperti: pembelajaran dengan media, bernyanyi, simul asi/role play, oral drill.

Pembelajaran kosakata melalui media merupakan salah satu proses yang sangat kondusif dalam pemerolehan bahasa Inggris. Pengenalan kata benda dilengkapi dengan penggunaannya akan sangat efektif. Media yang digunakan dapat berupa gambar atau benda asli. Pada umumnya materi pembelajaran yang sering diberikan dengan media adalah pengenalan warna, kata benda, kata sifat, dan kata lainnya. Pembentukan frasa atau kalimat sederhana atau menyebutkan kata dalam bahasa Inggris berdasarkan kejadian pada gambar, misalnya siswa membentuk frasa dari kata benda "book" menjadi:

book

my book

16 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

your book

this book

red book

thick book

Tina's book

Pada tahap ini siswa akan melatih menggunakan monitor untuk membedakan pemakaian a, my, your, this, red, dan thick dalam frasa dan input dalam dirinya untuk menghubungkan skemata yang telah ada dengan materi berikutnya. Pada frasa berikut kata benda berbeda-beda dan dimulai dengan kata sifat yang sama seperti:

my

head

my

hand

my

hair

17 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

my

knee

my

foot

my

fingers

Pembelajaran dengan bernyanyi merupakan teknik belajar yang diminati oleh banyak guru dan siswa. Seleksi terhadap bahan nyanyian menjadi penting untuk menghubungkan materi dengan tingkat kesulitan. Pembelajaran melalui nyanyian ini bertujuan untuk melatih siswa melafalkan k ata (noun, verb, adjective, adverb), ungkapan pendek, dan mengingat kosa kata dengan retensi yang baik, misalnya "Twinkle- twinkle little stars, How are wonder what you are, up above and also high, like a diamond in the sky, twinkle twinkle little star, How are wonder what you are." Nama anggota badan pun bisa dinyanyikan dengan bentuk seperti ditunjukkan di atas.

Pembelajaran dengan simulasi atau bermain peran juga sangat efektif dalam membelajarkan materi. Siswa dirninta melakonkan suatu kejadian pada satu situasi yang terjadi di dalam atau di luar kelas. Hal ini bertujuan untuk menanamkan proses pemerolehan bahasa. Simulasi dan bermain peran dilakukan untuk memerankan dialog atau gerakan yang sangat sederhana misalnya menyuruh berdiri, membuka pintu dan lain sebagainya sebagai upaya mengorganisir aktivitas dalam bentuk bahasa secara terkontrol dan berlatih berbahasa secara pre-komunikatif (Lirtlewood, 1984, 67). Dalam hal ini siswa disamping melakukan sesuatu melalui bahasa mereka juga berlatih mengucapkan kalimat sederhana agar lebih fasih. Simulasi ini dilakukan untuk menekankan pembelajaran bahasa pada makna daripada bentuk. Contoh sederhana dapat ditunjukkan pada bagian berikut ini, seperti:

Stand up!

18 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Walk there !

Turn around!

Sit down!

Come here!

Put off your shoes !

Pembelajaran dengan teknik 'oral drill' merupakan aktivitas berdasarkan tema yang telah direncanakan seblumnya. Oral drill ini digunakan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa dari tingkat yang sangat sederhana sampai pada tingkat yang lebih tinggi, dalam bentuk keterampilan berbahasa terbimbing. Teknik pembelajaran ini didasarkan pada stimulus dan respons (Finnochiaro, 1986:23), misalnya pada percakapan sederhana berikut:

A: Is it a pen ? B : Yes, it is

A: Is it black ? B: No it isn't. It is red

A: How are you ? B: I am well/fine/good/pretty good

Dalam pengembangan keterampilan berbicara siswa diperkenalkan melakukan berbagai tindak tutur yang bersifat transaksional atau interaksional seperti: memperkenalkan diri, bertemu, berpisah, menyuruh/mengajak orang melakukan sesuatu, mengungkapkan terima kasih, memuji dan memberi selamat. Demikian juga halnya dengan mengungkapkan berbagai perasaan misalnya surprise, simpati, bahagia, rasa tak percaya, kecewa, menyampaikan berita, dan lain sebagainya dengan menggunakan monolog berikut: Hello. My name's ..., Hi..., Well, I

19 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

have to go now..., Shall we start with number one?, I'm so sorry,! can't make it, Thank jou very much indeed, Congratulations!, Look at you!, Oh, really, Oh, no !, I'd like to express my deepest condolences... dst.

Demikian juga halnya dengan memberi respon terhadap tindak yang dilakukan teman berkomunikasi sangat perlu dengan tindak tutur bahasa secara transaksional atau interaksional lisan, seperti: Berkenalan, Bertemu, Berpisah, Menyetujui undangan/ajakan/tawaran, Membalas ungkapan terima kasih, Membalas pujian dan ucapan selamat, dengan ungkapan monolog berikut: Pleased to meet you too, Hello!, See you. Take care!, Thanks for the invitation, That's OK., Let's meet at four, That's alright, You're welcome, Thank you, dst.

Penutup

Pembelajaran bahasa kedua atau asing khususnya bahasa Inggris menjadi sangat penting karena kegunaannya yang sangat strategis. Oleh sebab itu institusi pendidikan menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar dan bahkan mulai dari sekolah taman kanak-kanak di beberapa sekolah swasta. Dalam pemerolehan bahasa Inggris itu pendekatan komunikatif menjadi pendekatan yang tepat dipraktekkan untuk memacu pemerolehan bahasa Inggris. Dalam hal ini teknik belajar kooperatif yang melibatkan individu yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama digunakan. Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran orang dewasa. Oleh sebab itu, materi pelajaran dan strategi pembelajaran merupakan pertimbangan yang penting dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar berdasarkan sifat anak usia dini. Peranan usia, monitor dan input dalam belajar tidak terlepas dari upaya pemerolehan bahasa Inggris bagi siswa berusia dini.

Daftar Kepustakaan

Bloor, T. & Bloor, M.,1995. The functional of analysis of English. London: OUP.

Brumfit, C. & Finocchiaro, M. 1986. Functional-notional approach. London: OUP.

20 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

Donn, G. 1986. Mengajar Bayi Anda Membaca. Terjemahan. Jakarta. Gaya Favorit Press.

Dechert,H.W. 1990. Current Trends in European Second Language Acquisition Research. Lon don:Multilingual Matters.s

Eggins, S. 1994. An Introduction to Systemic functional Linguistics. London: Pinter.

Ellis, R-, 1986. Understanding Second Language Acquisition. New York: OUP.

Finocchiaro, M. dan Practice.

Brumfit, C. 1985. The functional Notional Approach: From a Theory to Oxford: OUP.

Gardner, R.C. dan Maclntyre, P.D. 1995. "An Instrumental Motivation in Langauge Study: Who Says It Isn't Effective?. Dalam BrownH.D. dan Gonzo, S.T. (Eds). Readings on Second Language Acquition (p. 213). New York: Prentice Hall Regents, Englewood Cliffs.

Hill, S. & Hill, T., 2001. The collaborative classroom: a guide to co-operative learning. Victoria: eleanor curtain.

Krashen, S.D. & Terrel, T.D. 1983. The natural approach: language acquisition in the classroom. London: OUP.

Krashen, S.D. 1980. "The Monitor Model fro Adult Second Performance"Dalam Reading on English as a Second Language, (Ed.) Kenneth C. Cambridge: Wintrop Publisher.

Littlewood, W., 1984. Communication Language Teaching. An Introduction. London: Cambridge University Press. Littlewood, W. 1985. Integrating the New and Old is A

21 / 22

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar


Written by Educatio Indonesiae Saturday, 17 March 2012 08:48 -

communicative Approach, dalam K. Das (ed), Communicative Language Teaching (pp. 1 -13). Singapore: SEAMEO-RELC, Singapore University Press.

Savignon, S.J. 1986. Communicative Competence: Theory and Classroom Practice. Cambridg e: Massachusetts: Addison - Wesley.

Subyakto,

S.U.

1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Winebrenner, S., (ed) 2001. Teaching Gifted Kids in the Regular Classroom. Minneapolis: Free Spirit

Widdowson, H.G., 1979. Explorations in Applied Linguistics. Oxford: OUP.

22 / 22