Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ada banyak cara yang dilakukan untuk dapat meningkatkan mutu dan pertumbuhan ikan, diantaranya adalah pemilihan induk unggul yang diperoleh dengan teknik persilangan atau hibridisasi, manipulasi kromosom atau dengan cara sex reversal untuk menghasilan benih monosex. Memproduksi ikan monosex artinya memproduksi ikan dengan satu jenis kelamin yaitu jantan atau betina saja. Hal ini didasarkan pada pola pertumbuhan ikan yang berbeda antara ikan jantan dan betina. Contohnya pada ikan gurami jantan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan ikan betina, jantan berumur 10 12 bulan dapat mencapai berat rata-rata 250 gram/ekor, sedangkan betina hanya 200 gram/ekor. Ini berarti pertumbuhan jantan 20% lebih cepat dibandingkan betina. Sehingga dengan hanya memproduksi ikan jantan saja dapat meningkatkan produksi dari usaha budidaya. Dilihat dari segi perkembangan metode ini dari hari kehari yang semakin diminati oleh para petani karena income yang didapatkan dari hasil monosex sangat menjanjikan, maka hal tersebutlah yang melatar belakangi penulis untuk membuat makalah tentang metode sex reversal 1.2 Tujuan Adapun tujuan Pembuatan makalah sex reversal ini adalah sebagai berikut : 1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang apa itu sex reversal, cara yang digunakan dalam metode sex reversal serta bahanbahan apa sajakah yang sudah umum dipergunakan dalam pembentukan kelamin tunggal ini. 2. Sebagai pemenuhan tugas matakuliah Seleksi Ikan yang diberikan pada tanggal 10 Oktober 2012. 3.

Seleksi Ikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Seleksiikandisebutjugaperbaikangenetik (Genetic improvement) merupaanaplikasigenetikdimanainformasigenetikdapatdiketahuidengancaraini untukmelakukanpemuliaan. Tujuandaripemuliaanitusendiriadalahmenghasilkanbenih yang unggul yang

diperolehdariindukhasilseleksi agar dapatmeningkatkanproduktifitas. Produktifitas dalam budidaya ikan dapat ditingkatkan dengan beberpa cara diantaranya ektensifikasi dan intensifikasi. Ektensifikasi adalah meningkatkan hasil dengan memperluas lahan budidaya, sedangkan intensifikasi ialah meningkatkan hasil persatuan luas dengan melakukan manipulasi terhadap faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Tave (1995), seleksi adalah program breeding yang memanfaatkan phenotypic variane (keragaman fenotipe) yang diteruskan dari orang tua kepada keturunannya, keragaman fenotipe merupakan penjumlahan dari keragaman genetik, keragaman lingkungan dan interaksi antara variasi lingkungan dan genetik. Pelaksanaan seleksi ikan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu seleksi terhadap fenotipe kualitatif yang dilihat dari warna tubuh, tipe sirip, polasisik dan bentuk punggung, sedangkan seleksi terhadap fenotipe kuantitatif yang dilihat dari pertumbuhan, fikunditas, daya tahan tubuh terhadap penyakit dan sebagainya. Pelaksanaan pemuliaan pada ikan dari program breeding dapat dilakukan dengan beberapa cara yang salah satunya adalah sex reversal. Sex reversal adalah suatu teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin menjadi berlawanan. Cara ini dilakukan pada waktu ikan baru menetas gonad ketika ikan belum berdiferensiasi secara jelas menjadi jantan atau betina tanpa merubah genotipnya.

Seleksi Ikan

Pada dasarnya ada dua metode yang digunakan untuk mendapatkan atau memperoleh populasi monosex (sex reversal) yaitu melalui terapi hormon (cara langsung) atau rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung, hormone androgen dan estrogen mempengaruhi fenotip tetapi tidak

mempengaruhi genotip.Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin keturunannya tidak selalu 1:1 akan tetapi 50% jantan: 50% betina pada pemijahan pertama dan 30% jantan: 50% betina. Pada metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan, apapun jenis kromosom sexnya. Hormon biasanya diberikan pada awal kehidupan ikan. Pada metode ini memiliki kelebihan utama yaitu sederhana. Selain itu juga pada dosis yang optimal kematian ikan dapat ditekan. Kelemahan dari metode yaitu keberhasilan yang didapatkan sangatlah beragam, hal ini disebabkan oleh perbandingan kelamin alamiah antara jantan dan betina tidak selalu sama.

Seleksi Ikan

BAB III PEMBAHASAN

Dalam ilmu genetika ikan, modifikasi kelamin dikenal dengan istilah sex reversal atau pengarahankelamin. Dengan metode ini, jenis kelamin dapat diarahkan sesuai dengan keinginan(menjadi jantan ataubetina). Keputusan untuk menjantankan atau membetinakan ikan dapat didasarkan kepada harga jual atau performa ikan akibat perbedaan kelamin. Untuk ikan tertentu, ikan jantan lebih diminati dan begitupun sebaliknya. Untuk melakukan kegiatan ini, beberapa jenis hormon estrogen dan androgen dapat digunakan yang kesemuanya bertujuan untuk pembetinaan atau penjantanan. Umumnya, proses sex reversal dilakukan secara oral atau melalui pakan dan melalui perendaman(dipping). Untuk fase larva, kita dapat melakukannya melalui oral dan atau dipping dan untuk fase telurdapat dilakukan dengan dipping. Pada beberapa jenis ikan yang lain, perlakuannya diterapkan pada saatsedang hamil. Untuk yang terakhir ini (biasanya pada beberapa jenis ikan hias berukuran kecil), bisa menggunakancara perendaman induk yang sedang hamil tersebut. 3.1 Sex Reversal Sex reversal adalah proses memproduksi ikan monosex atau memproduksi ikan dengan satu jenis kelamin berupa jantan saja atau betina saja. Sex reversal dengan pemberianmetiltestosterondikenal cukup efektif untuk memproduksi populasi jantan. Pemberianmetiltestosteronmelalui oral (pakan) dianggap

kurangefisien karena memerlukan dosis tinggi dan waktu pemberiannya relatif lebih lama walaupun tingkakeberhasilan merubah kelamin jantan dapat mencapai 96-100%, sedangkan pemberianmethyltestosteronmelalui metode perendaman (dipping) lebih efisien karena dosis yang diberikan relatif kecil dan waktukontaknya lebih singkat walaupun tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dibawah 96% (Zairin, 2002),hal ini didukung oleh penelitian Priambodo (1998), pada ikan nila bahwa dengan dosis 0,9-1,2 dengan lamaperendaman dua jam sudah dapat merubah jenis kelaminnya.

Seleksi Ikan

Sex reversal merupakan cara pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnyaberkelamin jantan diarahkan perkembangan gonadnya menjadi betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukanpada saat ikan belum terdiferensiasi gonadnya secara jelas antara jantang dan betina pada waktu menetas.Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya. Teknik sex reversal mulai dikenal padatahun 1937 ketika estradiol 17 disintesis untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pada mulanya teknik iniditerapkan pada ikan guppy (Poecilia reticulata). Kemudian dikembangkan oleh Yamamato di Jepang pada Ikan Medaka (Oryzias latipes). Ikan Medaka betina yang diberi metiltestosteron akan berubah menjadi jantan. Setelah melalui berbagai penelitian teknik ini menyebar keberbagai negara lain dan diterapkan padaberbagai jenis ikan. Awalnya dinyakini bahwa saat yang baik untuk melakukan sex reversal adalah beberapahari sebelum menetas (gonad belum terdiferensiasi).Teori ini pun berkembang karena adanya fakta yangmenunjukkan bahwa sex reversal dapat diterapkan melalui embrio dan induk yang sedang hamil(Masduki, 2011). Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatanbudidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal inidikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapaikan yang berjenis kelamin jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tingginamun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monosexs akan mencegah perkawinan dan pemijahan liarsehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar danseragam. Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis ikan hiasseperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan dari pada ikan betina. Dengan demikian, nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina (Masduki,2011).

Seleksi Ikan

Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui ikandapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasigonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa methyltestosteronsehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapakali sampai diperoleh ikan dengan ras murni (Masduki, 2011). Pada kasus hermaprodit, hormon yang diberikan hanya akan mempercepat proses perubahan, sedangkan pada sex reversal perubahannya benar-benar dipaksakan. Ikan yang seharusnya berkembangmenjadi betina dibelokkan perkembangannya menjadi jantan melalui proses penjantanan (maskulinisasi). Sedangkan ikan yang seharusnya menjadi jantan dibelokkan menjadi betina melalui proses pembetinaan (feminisasi), (Masduki, 2011). 3.2 Hormon Steroid Salah satu teknik sex reversal adalah dengan memberikan hormon steroid pada fase labil kelamin. Pada beberapa spesies ikan jenis teleost gonochoristic, fisiologi kelamin dapat dengan mudah dimanipulasi melalui pemberian hormon steroid (Piferrer et al. 1994). Nagy et al. (1981) menjelaskan bahwa keberhasilan manipulasi kelamin pada ikan menggunakan hormon dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis dan umur ikan, dosis hormon, lama waktu dan cara pemberian hormon serta lingkungan tempat pemberian hormon dilakukan. Ditekankan oleh Hunter dan Donaldson (1983), bahwa keberhasilan pemberian hormon sangat tergantung pada interval waktu perkembangan gonad, yaitu pada saat gonad dalam keadaan labil sehingga mudah dipengaruhi oleh hormon. Hormon steroid yang dihasilkan oleh jaringan steroidogenik pada gonad terdiri atas hormon androgen untuk maskulinisasi, estrogen untuk feminisasi dan progestin yang berhubungan dengan proses kehamilan (Hadley 1992). Namun, pada tahap perkembangan gonad belum terdiferensiasi menjadi jantan atau betina, hormon steroid belum terbentuk sehingga pembentukan gonad dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid sintetik (Hunter & Donaldson 1983). Salah satu jenis hormon steroid sintetik yang banyak digunakan untuk proses sex

Seleksi Ikan

reversal pada ikan, khususnya ikan nila, adalah hormon 17a-methyltestosterone (mt). Hormon 17a-mt. 3.3 Methyl Testosterone (MT) Hormon androgen yang paling umum digunakan dalam aplikasi sex reversal untuk maskulinisasi (pengarahan kelamin menjadi jantan) adalah 17methyltestosterone yang diperkirakanefektif digunakan pada lebih dari 25 spesies yang telah diuji. Methyl testosterone merupakan androgenyang paling sering dipakai untuk merubah jenis kelamin dan penggunaan methyltestosteron pada dosis yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda pula. 17methyltestosterone (17-MT) merupakanhormon sistetik yang molekulnya sudah dimodifikasi agar tahan lama di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan pada karbon ke17 telah ditempeli oleh gugus metal agar tahan lama (Junior, 2002). Methyl testosterone dibuat betina pada pemijahan berikutnya (Masduki, 2011), dengan cara menambahkan satu kelompok -metil pada atom karbon ke-17 di dalam gugus testosterondengan rumus bangun kimia kimia C20H30O2, berbobot molekul 302,05. Penggunaan 17-methyltestosterone saat ini sudah mulai dikurangi. Hal ini dikarenakan diduga sifat 17-metiltestosteron yang dapat menimbulkan pencemaran karena sulit terdegradasi dan karena 17-metiltestosteron dapat menyebabkan kanker pada manusia. Contreras Sanchez et. al (2001) menyatakan bahwa residu anabolik 17-methyltestosterone masih tertinggal pada sedimen kolam setelahtiga bulan penggunaan pada maskulinisasi benih ikan nila. Residu ini dikhawatirkan dapat menimbulkanekspos yang tidak diharapkan pada pekerja, ikan dan organisme lain. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon 17-methyltestosterone mampu mempengaruhi perkembangan

gonadbeberapa ikan. Percobaan pada diferensiasi seks lingkungan (ESD) di Atlantik Halibut melalui suhu pemeliharaanterkendali yang menunjukkan hasil yang samar-samar, meskipun salah satu studi menunjukkan bahwa suhutinggi terpengaruh ekspresi sitokrom P450 aromatase gen (cyp19a) (van SPN dan Andersen, 2006). Hasildari pekerjaan yang lebih baru menunjukkan bahwa suhu pemeliharaan tidak Seleksi Ikan 7

mempengaruhi rasio jeniskelamin (Hughes et al., 2008). Penggunaan steroid hormon yang efektif untuk seks disebabkan pembalikan (Hendry et al., 2003), tetapi sementara steroid disetujui untuk digunakan dalam pertanian di beberapanegara, mereka dapat menyebabkan masalah dengan konsumen persepsi di bagian lain dunia. Penggunaannon-steroid agen untuk sexs pembalikan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang mekanisme yangmengontrol

diferensiasi seks, serta menyediakan alternatif untuk pengobatan steroid. Menurut Mukti (2002), kelebihan dosis hormon methyltestosteron yang diberikan pada ikan dapatmengurangi jumlah kelamin jantan yaitu hormon methyltestosteron semakin memacu perkembangankelamin atau gonad betina ikan (bukan kelamin jantan). Semakin tinggi dosis hormon yang diberikan dapat menurunkan tingkat kelulushidupan ikan, karena adanya sifat racun (toxit) dari hormon kepada ikan. Pemberian hormon methyltestosteron pada benih ikan gurami tidak menyebabkan perubahangenetik ikan, karena hormon ini hanya akan mencapai dan mempengaruhi organ target saja dan bukankelamin ikan, diferensiasi kelamin atas pengaruh pemberian hormon mengubah fenotip kelamin, tetapitidak mengubah genotipnya (Zairin, 2002). Efektifitas pembentukan kelamin jantan sangat ditentukan olehketepatan pemberian dosis hormon methyltestosteron dan umur ikan sebelum gonad terdiferensiasi, karenadosis dan masa diferensiasi yang tepat akan menghambat pembentukan ovari dan sebaliknya pembentukan gonad jantan semakin cepat, sehingga gonad akan berkembang menjadi testis (Sunandar,2006). Pematang gonad ikan yang bekerja dibawah kendali hormon-hormon, secara umum mekanismeterjadi secara alamiah dan rekayasa (rangsangan). Mekanisme secara alamiah kerja hormon untukperkembangan dan pematangan gonad dimulai dari adanya rangsangan dari luar seperti visual untukfotoperiode, kemoreseptor untuk suhu dan metabolit yang kemudian diterima oleh susunan saraf otakmelalui reseptor-reseptor penerima rangsangan susunan saraf otak kemudian merangsang hipotalamusuntuk melepaskan Gonadropin Releasing Hormon (GnRH) untuk mestimulasi kelenjar hipofisa (pituitary) untuk mengsekresikan Gonadotropin

Seleksi Ikan

Hormon (GtH) kemudian dialirkan ke dalam darah untuk merangsangkematangan gonad akhir melalui simulasi untuk mensintesis hormon-hormon steroid pematangan (sepertihormon testoteron dan estradiol) dalam ovarium atau testis, dan mempengaruhi perkembangan kelaminsekunder (Sunandar, 2006). Mekanisme rangsangan pembentukan gonad jantan dengan menggunakan hormon methyltestosteron (hormon steroid) dimulai dari penyerapan hormon kedalam tubuh ikan secara difusi dan disekresikan melalui saluran darah (Montgomery,et all., 1983). Proses bagaimana hormon steroid tersebutdapat merangsang pemasakan oosit maupun sperma mekanismenya belum diketahui, tetapi diduga melaluitranfer kode terjemahan RNA (Darwisito, 2002). 3.4 Aromatase dan Aromatase Inhibitor Selain dengan pemberian hormon steroid, diferensiasi kelamin juga dipengaruhi oleh ekspresi dari gen yang menghasilkan enzim aromatase (Patino 1997). Aromatase adalah enzim cytochrome P-450 yang mengkatalis perubahan dari androgen menjadi estrogen. Aktivitas enzim aromatase terbatas pada daerah dengan target estradiol dan berfungsi untuk mengatur jenis kelamin, reproduksi dan tingkah laku (Callard et al. 1990). Ada 2 bentuk gen aromatase pada ikan yaitu aromatase otak dan aromatase ovari. Aromatase otak berperan sebagai pengatur perilaku sex spesifik pada mamalia dan burung (Schlinger & Callard 1990, diacu dalam Melo & Ramsdell, 2001) dan juga mengatur reproduksi pada ikan (Pasmanik et al. 1988, diacu dalam Melo & Ramsdell, 2001). Aktivitas enzim aromatase pada otak teleostei 100-1000 kali lebih tinggi dibanding pada mamalia. Aktivitas enzim aromatase ovari kurang dari 1/10 kali aktivitas enzim aromatase otak (Gelinas & Callard 1993, diacu dalam Tchaudakova & Callard 1998). Fungsi cytocrome P-450 pada determinasi jenis kelamin telah teruji karena merupakan enzim yang bertanggung jawab dalam proses aromatisasi dari androstenedione menjadi estrone atau testosterone menjadi estradiol-17 (Jeyasuria et al. 1986, diacu dalam Kwon et al. 2000). Aktivitas enzim aromatase berkorelasi dengan struktur gonad, yaitu larva dengan aktivitas aromatase rendah akan mengarah pada terbentuknya testis, sedangkan aktivitas aromatase yang tinggi akan mengarah pada terbentuknya ovari (Sever et al. 1999).

Seleksi Ikan

Pada ikan tilapia, sel yang memproduksi enzim aromatase positif terdapat pada gonad XX berumur 7 hari setelah menetas. Aromatase ini penting bagi sintesis estrogen yang selanjutnya akan mempengaruhi penentuan jenis kelamin. Aromatase diekspresikan pada gonad XX 10 hari sampai dengan 2 minggu sebelum diferensiasi ovari (Brodie 1991). Selain pada genotipe XX, aktivitas enzim aromatase juga terdeteksi pada genotipe XY dengan tingkat yang lebih rendah (DCotta et al. 2001). Aromatase inhibitor berfungsi untuk menghambat kerja enzim aromatase dalam sintesis estrogen. Adanya penghambatan ini mengakibatkan terjadinya penurunan konsentrasi estrogen yang mengarah kepada tidak aktifnya transkripsi gen aromatase sebagai feedback-nya (Sever et al. 1999). Penurunan rasio estrogen terhadap androgen menyebabkan terjadinya perubahan penampakan dari betina menjadi menyerupai jantan, dengan kata lain terjadi maskulinisasi karakteristik seksual sekunder (Davis et al. 1990). Secara umum, aromatase inhibitor menghambat aktivitas enzim melalui 2 cara, yaitu dengan menghambat proses transkripsi gen aromatase sehingga mRNA tidak terbentuk dan sebagai konsekuensinya enzim aromatase tidak ada (Sever et al. 1999). Cara kedua adalah melalui cara bersaing dengan substrat selain testosterone sehingga aktivitas enzim aromatase tidak berjalan (Brodie 1991). Pada beberapa spesies, penghambatan aromatase menyebabkan pengaruh maskulinisasi sama seperti pengaruh androgen (Kwon et al. 2000). Pada ikan salmon, penambahan aromatase inhibitor jenis imidazole mampu menghasilkan jantan fungsional sebesar 20% melalui perendaman telur selama 2 jam dengan dosis 10 mg/liter (Piferrer et al. 1994). Pada ikan nilem, perendaman telur selama 4 jam dengan dosis 45 mg/liter mampu menghasilkan 84,83% anakan berkelamin jantan (Wijayanti 2002). Pada ikan nila merah, perendaman embrio dengan dosis 30 mg/liter menghasilkan anakan berkelamin jantan sebesar 82,22% (Wulansari 2002), bahkan hasil penelitian Kwon et al. (2000) mendapatkan hasil populasiikan nila hampir 100% jantan melalui penambahan aromatase inhibitor jenis fadrozole pada pakan dengan dosis 400 dan 500 mg/kg pakan.

Seleksi Ikan

10

Pemberian aromatase inhibitor melalui perendaman pada fase larva kurang efektif karena terlalu jauh untuk mencapai organ target, yaitu otak. Perlakuan pengarahan kelamin dengan cara perendaman, hormon akan masuk ke dalam tubuh ikan melalui insang, kulit, dan gurat sisi (Zairin, 2002) sehingga dengan cara ini, tidak semua hormon masuk ke dalam tubuh ikan. Aromatase inhibitor masuk ke dalam tubuh larva melalui proses difusi karena perbedaan konsentrasi antara media perendaman dengan larva. Seperti halnya hormon (Misnawati, 1997), aromatase inhibitor diduga masuk secara difusi. Aromatase inhibitor yang masuk ke dalam sel akan langsung berhubungan dengan sisi aktif dari enzim dan mengikatnya sehingga sisi aktif tersebut tidak ditempati oleh substrat alami (testoteron) (Brodie, 1991). Fungsi aromatase dalam penentuan kelamin telah diamati, bahwa enzim yang mengkonvensi androgen menjadi estrogen adalah aromatase (cytochorome p-450 aromatase) (Callard et al., 1995). Dan menurut Jeyasuria et al. (1996 dalam Kwon, (2000) peranan cytochorome p-450 aromatase pada determinasi jenis kelamin telah diuji dan berpengaruh terhadap aromatase androstenedione menjadi estrone dan testostrone menjadi estradiol-17. Pada beberapa spesies, sifat penghambatan dari enzim ini mengakibatkan maskulinisasi, serupa dengan efek yang ditimbulkan oleh androgen (contoh, bullfrog Rana catesbriana, Yu et al., 1993: pada ayam Gallusdomesticus, Elbrecth dan Smith, 1992, Wartenburg et al., 1992; pada ikan chinook salmon Onchorhyncus tsahawytscha, Pieferrer et al., 1994). Pemberian aromatase inhibitor (imadazole) pada periode waktu 9-13 hari setelah menetas melalui pemberian pakan dengan dosis 500 mg/kg dapat menghasilkan persentase kelamin jantan sebesar 74 % (Suhanti, 2003). Dan menurut Kwon et al., (2000), masa diferensiasi ikan terjadi hingga 30 hari setelah menetas, dan waktu yang paling efektif melalui pemberian pakan karena daya serapnya lebih tinggi dan dapat langsung digunakan untuk diferensiasi kelamin pada organ target yang dibandingkan dengan perendaman larva pada umur yang sama.

Seleksi Ikan

11

Pada saat ini belum diketahui dosis yang dapat menyebabkan kematian pada ikan. Namun, perlu diperhatikan hormon streoid, misalnya 17metiltestosteron terdapat kecendrungan pemberian dosis yang terlalu rendah menyebabkan proses pengarahan jenis kelamin kurang sempurna dan sebaliknya dapat menyebabkan ikan menjadi steril, abnormalitas, dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan (Zairin, 2002). Untuk perendaman yang efektif, perlu diperhatikan hubungan konsentrasi dan lama perendaman. Umumnya perendaman dengan dosis yang tinggi membutuhkan waktu perendaman yang singkat dan sebaliknya (Hunter dan Donaldson, 1983). Selain karena dosis aromatase inhibitor dan waktu perlakuan yang kurang tepat, faktor lingkungan sangat berpengaruh terutama faktor suhu air pemeliharaan. Dari studi terbaru telah diketahui bahwa suhu merupakan faktor lingkungan yang berperan cukup besar terhadap jenis kelamin pada ikan (Strussman dan Patino, 1995), namun responnya bervariasi tergantung pada jenis ikan. Hampir dapat dipastikan bahwa perubahan jeniskelamin ikan tidak selalu karena faktor tunggal tetapi karena beberapa faktor. Faktor-faktor yang dimaksud adalah: 1. Penomena sinergis, yaitu kombinasi dari dua zat atau lebih yang bersifatmemperkuat daya racun. 2. Penomena antagonis, yaitu kombinasi antara dua zat atau lebih yang salingmenetralisir, sehingga zat-zat yang tadinya beracun berhasil dikurangi dinetralisir daya racunyasehingga tidak membahayakan. 3. Jenis ikan dan sifat polutan, yang tertarik dengan daya tahan ikan sertaadaptasinya terhadap lingkungan, serta sifat polutan itu sendiri (Sudarmadi, 1993).

Seleksi Ikan

12

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Dalam ilmu genetika ikan, modifikasi kelamin dikenal dengan istilah sex reversal atau pengarahankelamin dari jantan kebetina maupun sebaliknya. Umumnya, proses sex reversal dilakukan secara oral atau melalui pakan dan dippingatau melalui perendaman. Pemeliharaan ikan monosex akan mencegah perkawinan dan pemijahan liarsehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan yang berbeda ukuran. Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui bahwa ikandapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasigonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa methyltestosteronsehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapakali sampai diperoleh ikan dengan ras murni. Guna terciptanya ikan dengan kelamin tunggal, maka metode sex reversal ini tidak akan terlepas dari berbagai hormon-hormon penujangnya. Hormon yang lajim digunakan dalam kegiatan sex reversal adalah hormon steroid dengan methyl testoteron sebagai salah satu golongannya atau dengan menggunakan aromatase dan aromatase inhibitor

Seleksi Ikan

13

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, P. D. and S.D. Apollonia 1978.Aquatic.Animal. Department of Biological Sciencies. Ottawa.Canada. Zairin, M. 2002. Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Penebar Swadaya. Jakarta. Priambodo, B. 1998. Optimalisasi Dosis Hormon Sintetis 17 -Metiltestosteron dan Lama Perendaman Larva Ikan Nila (Oreochromis spp.) Terhadap Keberhasilan Perubahan Jenis Kelamin. Fakutas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Masduki, Endang. 2011. Sex Reversal. SUPM-bone.net Mukti, A.T., Priambodo, B., Rustidja, dan Widodo, M.S. 2002.Optimalisasi Dosis Hormon Sintetis 17 -Metiltestosteron dan Lama Perendaman Larva Ikan Nila (Oreochromis spp.) TerhadapKeberhasilan Perubahan Jenis Kelamin. Universitas Brawijaya. Malang. Sunandar, dkk. 2006. Perndaman Benih Ikan Gurami () Terhadap Keberhasilan pembentukan KelaminJantan. Jurusan Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. PKMI (1-20): 1-9 Zairin, M. 2002. Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Penebar Swadaya. Jakarta. Darwisito, S. 2002. Stretegi Reproduksi Pada Ikan Kerapu. Makalah Pengantar Falsafah Sains Program PascaSarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor Montgomery, R., Dryer. R. L., Conway, R. W., dan Spector A. A. 1983. Biokimia: Suatu Pendekatan Berorietasi-Kasus Jilid 2 Edisi Keempat . Gajah Mada Univercity. Yogyakarta. Zairin, M. Jr., Waskitaningtyas, Nasrum, dan K. Sumantadinata, 2001. Pengaruh Pemberian Artemia yang Direndam di dalam Larutan 17Metiltestosteron Berdosis Rendah terhadap Nisbah Kelamin Ikan Cupang (Betta splendens Regan), Aquaculture Indonesia, 2: 107-112.

Seleksi Ikan

14